Anda di halaman 1dari 16

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah

Seiring berjalannya waktu, semua aspek dalam kehidupan tentunya akan mengikuti
perkembangan zaman, begitu juga dengan bidang ekonomi. Globalisasi membuat
perkembangan perekonomian di dunia menjadi semakin pesat. Oleh karena itu, perusahaan-
perusahaan yang ada di Indonesia tidak cukup hanya melakukan kegiatan operasi dan
transaksi di Indonesia saja. Fenomena globalisasi dalam dunia bisnis dewasa ini secara tidak
langsung mendorong merebaknya konglomerasi dan divisionalisasi/departementasi
perusahaan. Globalisasi telah membawa dampak semakin meningkatnya transaksi
transnasional atau cross-border transaction. Arus barang, jasa, modal, dan tenaga kerja juga
semakin mudah dan lancar antarnegara. Belum lagi dengan kehadiran WTO (World Trade
Organization) yang memfasilitasi perdagangan transnasional.
Dalam lingkungan perusahaan multinasional dan konglomerasi serta divisionalisasi
terjadi berbagai transaksi antar anggota (divisi) yang meliputi penjualan barang dan jasa,
lisensi hak dan harta tak berwujud lainnya, penyediaan pinjaman dan lain sebagainya
(Mangoting, 2000). Dengan adanya usaha konglomerasi ini, kita mengenal berbagai nama
grup perusahaan terkenal yang merambah dunia bisnis secara nasional, regional maupun
internasional (multinational corporations). Selanjutnya perusahaan-perusahaan ini
membentuk holding company untuk mengkoordinasikan bisnis mereka. Dalam perusahaan
tersebut, biasanya sebagian besar aktivitas bisnis terjadi diantara mereka sendiri. Dalam
menentukan harga, imbalan, dan lain sebagainya antar mereka biasanya ditentukan
berdasarkan kebijakan harga transfer (transfer pricing) yang ditentukan oleh holding
company yang dapat sama atau tidak sama dengan harga pasar (Gusnardi, 2009).
Praktik transfer pricing ini dulunya hanya dilakukan oleh perusahaan semata-mata hanya
untuk menilai kinerja antar anggota atau divisi perusahaan, tetapi seiring dengan
perkembangan zaman, praktik transfer pricing juga dipakai untuk meminimalkan jumlah
pajak yang harus dibayar (Mangoting, 2000). Transfer pricing ini telah menuai banyak sekali
masalah di berbagai negara karena dalam praktiknya mereka menggunakan hal-hal yang
sangat bertentangan dengan aturan yang ada.
1.2 Rumusan Masalah
1.2.1 Apa yang dimaksud dengan Transfer pricing?
1.2.2 Apa tujuan dari penetapan Transfer pricing?
1.2.3 Apa saja metode yang digunakan dalam penentuan Transfer pricing?
1.2.4 Bagaimana mekanisme Transfer pricing pada Perusahaan Multinasional?
1.2.5 Apa yang dimaksud hubungan istimewa dalam Transfer Pricing
1.3 Tujuan
1.3.1 Untuk memahami maksud dari Transfer pricing
1.3.2 Untuk mengetahui tujuan dari penetapan Transfer pricing
1.3.3 Untuk mengetahui metode apa yang digunakan dalam penetuan Transfer pricing
1.3.4 Untuk memahami mekanisme Transfer pricing pada Perusahaan Multinasional
1.3.5 Untuk menguraikan tentang hubungan istimewa dalam Transfer Pricing
1.4 Manfaat
1.3.1 Dapat memahami maksud dari Transfer pricing
1.3.2 Dapat mengetahui tujuan dari penetapan Transfer pricing
1.3.3 Dapat mengetahui metode apa yang digunakan dalam penetuan Transfer pricing
1.3.4 Dapat memahami mekanisme Transfer pricing pada Perusahaan Multinasional
1.3.5 Dapat memahami tentang hubungan istimewa dalam Transfer Pricing

BAB 2
LANDASAN TEORI
2.1 Pajak
Pajak ialah iuran dari rakyat kepada negara dengan berdasarkan undang-undang,
sehingga dapat untuk dipaksakan, dan tidak mendapat balas jasa secara langsung. Pajak
dipungut dengan berdasarkan berbagai norma hukum untuk dapat menutup biaya produksi
barang serta jasa kolektif guna mencapai kesejahteraan umum. Penolakan untuk membayar,
perlawanan, atau penghindaran terhadap pajak pada umumnya hal tersebut termasuk
pelanggaran hukum.
Pajak terdiri atas pajak langsung atau pajak tidak langsung serta dibayarkan dengan
menggunakan uang ataupun kerja yang memiliki nilai setara. Terdapat beberapa negara sama
sekali tidak mengenakan pajak, seperti United Arab Emirates. Lembaga Pemerintah yang
bertugas dalam mengelola perpajakan di Indonesia ialah Direktorat Jenderal Pajak yang
merupakan salah satu dari direktorat jenderal di bawah naungan dari Kementerian Keuangan
Republik Indonesia.

Terdapat beberapa pengertian pajak yang lainnya yang diungkapkan oleh para ahli
dibidangnya, sebagai berikut:
1. Undang-Undang No.28 Tahun 2007 Pasal 1 Tentang Perpajakan
Menurut undang-undang tersebut bahwa pengertian pajak adalah sebuah konstribusi wajib
kepada negara yang terhutang oleh setiap orang ataupun badan yang memiliki sifat memaksa,
tetapi tetap berdasarkan dengan Undang-Undang dan tidak mndapat imblaan secara langsung
serta digunakan guna kebutuhan negara dan kemakmuran rakyat.
2. Prof. Dr. MJH. Smeeths
Pajak merupakan sebuah prestasi yang dicapai oleh pemerintah yang terhutang dengan
melalui berbagai norma serta dapat untuk dipaksakan tanpa adanya kontra prestasi dari
masing-masing individual. Maksudnya adalah untuk membiayai pengeluaran pemerintah.
3. Prof. Dr. Rochmat Soemitro, SH.
Pajak merupakan iuran atau pungutan rakyat kepada pemerintah dengan berdasarkan
Undang-Undang yang berlaku atau peralihan kekayaan dari sektor swasta kepada sektor
publik yang dapat untuk dipaksakan serta yang langsung ditunjuk dan dipakai gunakan untuk
membiayai kebutuhan negara.
4. Prof. Dr. PJA Andriani
Pajak adalah iuran atau pungutan masyarakat kepada negara yang dapat untuk dipaksakan
serta akan terhutang bagi yang wajib membayarnya yang sesuai dengan peraturan Undang-
Undang dengan tidak dapat memperole imbalan yang langsung bisa ditunjuk dan dipakai
dalam pembiayaan yang diperlukan negara.
5. Dr. Soeparman Soemahamidjaya
Pajak adalah iuran wajib bagi warga atau masyarakat, baik itu dapat berupa uang ataupun
barang yang dipungut oleh penguasa dengan menurut berbagai norma hukum yang berlaku
untuk menutup biaya produksi barang dan juga jasa guna meraih kesejahteraan masyarakat.

2.2 Transfer pricing


Transaksi transfer pricing memiliki 2 dimensi pengertian, yaitu :
1. Dimensi netral
Dalam dimensi ini, pengertian transaksi transfer pricing adalah strategi, taktik, dan motif
pengurangan beban pajak. Menurut Gunadi “Transfer Pricing adalah penentuan harga atau
imbalan sehubungan dengan penyerahan barang, jasa, atau pengalihan teknologi antar
perusahaan yang mempunyai hubungan istimewa.” Sedangkan menurut Sopar Lumbantoruan
“Transfer Pricing adalah penentuan harga balas jasa suatu transaksi antar divisi dalam suatu
perusahaan dalam satu grup.”

2. Dimensi pejoratif
Dalam dimensi ini, pengertian transaksi transfer pricing adalah suatu upaya untuk menghemat
beban pajak dengan cara menggeser laba ke perusahaan yang memiliki jumlah laba lebih
kecil sehingga jumlah pajak yang dikenakan lebih kecil atau ke negara yang tarif pajaknya
lebih rendah. Menurut Gunadi “Transfer Pricing adalah suatu rekayasa manipulasi harga
secara sistematis dengan maksud mengurangi laba secara artifisial, membuat seolah-olah
perusahaan rugi sehingga perusahaan dapat menghindari pajak.

Adapun pengertian transfer pricing menurut para ahli secara umum yaitu :
 Transfer pricing Organization for Economic Co-operation
andDevelopment (OECD) mendefinisikan transfer pricing sebagai harga yang
ditentukandalam transaksi antar anggota grup dalam sebuah perusahaan multinasional dimana
harga transfer yang ditentutkan tersebut dapat menyimpang dari harga pasar wajar
sepanjang cocok bagi grupnya. Mereka dapat menyimpang dari harga pasar wajar
karena posisi mereka yang berada dalam keadaan bebas untuk mengadopsi prinsip
apapun yang tepat bagi korporasinya.
 Menurut Simamora dalam Mangoting (2000:70), transfer pricing didefinisikan sebagai nilai
atau harga jual khusus yang dipakai dalam pertukaran antar divisional untuk mencatat
pendapatan divisi penjual (selling division) dan biayadivisi pembeli (buying division).
 Menurut Yeni Mangonting, Aspek Perpajakan Dalam Praktik Transfer pricing . Transfer
pricing juga disebut dengan intracompany pricing, intercorporate
pricing, interdivisional atau internal pricing yang merupakan harga yang
diperhitungkanuntuk keperluan pengendalian manajemen atas transfer barang dan
jasa antar anggota. Transfer pricing biasanya ditetapkan untuk produk-
produk intermediet yang merupakan barang-barang dan jasa yang dipasok oleh divisi penjual
kepada divisi pembeli.
 Gunadi, dalam Santoso (2004:127), mengatakan bahwa dalam arti yang lebih luas, transfer
pricing termasuk penentuan harga antara beberapa entitas yang secara hukum pemiliknya
bisa sama ataupun berbeda.
 Jerry M. Rosenburg dalam Santoso (2004:126) mengungkapkan bahwa transfer
pricing adalah the price charged by one segment an organization for a product or service it
supplies to another part of the same firm “transfer pricing adalah harga yang ditentukan
olehsatu bagian dari sebuah organisasi atas penyerahan barang atau jasa yangdilakukannya
kepada bagian lain dari organisasi yang sama”. Imam Santoso, op. cit., hal.127
Berdasarkan beberapa pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa transfer
pricing adalah suatu kebijakan perusahaan dalam menentukan harga transfer suatu transaksi
baik itu barang, jasa, harta tak berwujud, atau pun transaksi finansial yang dilakukan oleh
perusahaan. Bila dicermati secara lebih lanjut, transfer pricing dapat menyimpang secara
signifikan dari harga yang disepakati. Oleh karena itu transfer pricing juga sering dikaitkan
dengan suatu rekayasa harga secara sistematis yang ditujukan untuk mengurangi laba yang
nantinya akan mengurangi jumlah pajak atau bea dari suatu negara.
2.3 Tujuan Transfer Princing
Tujuan penetapan harga transfer adalah untuk mentransmisikan data keuangan di antara
departemen-departemen atau divisi-diisi perusahaan pada waktu mereka saling menggunakan
barang dan jasa satu sama lain (Henry Simamora, 1999:273) Selain tujuan tersebut, transfer
pricing terkadang digunakan untuk mengevaluasi kinerja divisi dan memotivasi manajer
divisi penjual dan divisi pembeli menuju keputusan-keputusan yang serasi dengan tujuan
perusahaan secara keseluruhan. A transfer pricing system should satisfy three objectives:
acurate performance evaluation, goal congruence, and preservation of divisional
autonomy (Joshua Ronen and George McKinney, 1970:100-101) Sedangkan dalam lingkup
perusahaan multinasional, transfer pricingdigunakan untuk, meminimalkan pajak dan bea
yang mereka keluarkan diseluruh dunia.Transfer pricing can effect overall corporate incame
taxes. This is particulary true for multinational corporations (Hansen and Mowen, 1996:496)
Jadi, dapat disimpulkan bahwa tujuan penetapan transfer pricing ialah :
1. Memaksimalkan penghasilan global setelah dikurangi pajak.
2. Mengamankan posisi kompetitif.
3. Evaluasi kinerja anak/cabang perusahaan mancanegara.
4. Mengurangi risiko moneter.
5. Mengatur cash flow anak/cabang perusahaan yang memadai.
6. Mengurangi beban pengenaan pajak, dan bea masuk.
7. Mengurangi risiko pengambilalihan pemerintah.
2.4 Metode Transfer pricing
Prinsip dasar dalam penetapan harga transfer adalah bahwa harga transfer sebaiknya
serupa dengan harga yang akan dikenakan seandainya produk tersebut dijual ke konsumen
luar atau dibeli dari pemasok luar. Jika ditinjau dari segi ekonomi dan manajemen, konsep
dasar harga transfer meliputi :
1. Dari segi ekonomi Hirshleifer dalam Cox, Howe, dan Boyd, transfer price should be
themarginal cost of the selling division in order to maximaze the firm’s profit as a
whole (Cox et al. 1997:20-29). Jadi prinsip dasar dari transfer harga adalah memaksimalkan
laba perusahaan. James Cox, F. Howe, dan Lynn H Boyd, Transfer pricing Effects
on Locally Measured Organizations (Industrial Management,1997), hal. 20-29. Sehingga,
perusahaan harus secraa berkala menjual produk sampai dengan titik dimana tambahan biaya
karena adanya tambahan unit yang diproduksi dan dijual disebutmarginal cost lebih lebih
rendah dibandingkan dengan penghasilan yang diperoleh dari penjualan unit tersebut
(marginal revenue).Dalam hal penentuan hara untuk perusahaan yang terintegrasi, harga
harus ditentukan berdasarkan marginal cost produsen.
2. Dari segi manajemen Robert dan Govindarajan, dalam Santoso (2004:129),
mendefinisikan bahwa the term of transfer pricing is a value placed on a transfer of goods
and services between in transaction in which at least one of the two partiesinvolved is a
profit center (Robert and Govindarajan, 1998). Sehingga, transfer pricing lebih ditujukan
untuk mengukur kinerja divisi, laba perusahaan secraa keseluruhan, dan otonomi divisi dan
menilai motivasi dan performance setiap divisi/unit bersangkutan dalam rangka mencapai
tujuan perusahaan. Dalam penentuan tersebut, perusahaan-
perusahaan divisionalisasi/ departementasi menggunakan beberapa metode, diantaranya :
 Harga Transfer atas Dasar Biaya (Cost-Based Transfer pricing)Perusahaan yang
menggunakan metode transfer atas dasar biaya menetapkan harga transfer atas dasar biaya
variable dan tetap yang bisa dalam 3 pemeliharaan bentuk, yaitu biaya penuh (full cost),
biaya penuh ditambahkan mark-up (full cost plus mark-up), dan gabungan antara biaya
variable dan tetap (variable cost plus fixed fee). Imam Santoso,op. cit.,hal.129
 Harga Transfer atas Dasar Harga Pasar (Market Basis Transfer pricing)
Apabila ada suatu pasar sempurna, metode transfer pricing atas dasar harga pasar inilah yang
merupakan ukuran paling memadai karena sifatnya yang independen. Namun, keterbatasan
informasi pasar terkadang menjadi kendala dalam menggunakan transfer pricing yang
berdasarkanharga pasar.
 Harga Transfer Negosiasi (Negotiated Transfer pricing)
Dalam ketiadaan harga, beberapa perusahaan memperkenan kandivis-divisi dalam
perusahaan yang berkepentingan dengan transfer pricing untuk menegosiasikan harga
transfer yang diinginkan. Harga transfer negosiasi mencerminkan perspektif kontrolabilitas
yang intern dalam pusat-pusatpertanggungjawaban karena setiap divisi yang berkepentingan
tersebut pada akhirnya yang akan bertanggung jawab atas harga transfer yang dinegosiasikan.
Berikut ini akan diberikan kasus singkat, yang akan menggambarkan masalahtransfer
pricing apabila digunakan sebagai alat untuk mengukur kinerja divisi dalam perusahaan. PT
ABC diasumsikan mempunyai dua divisi yaitu divisi penjual dan divisi pembeli, data-data
berikut akan menggambarkan lebih lanjut mengenai aktivitas dari dua divisi :

Divisi Penjual Divisi Pembeli


Harga jual Rp. 2.600 Rp.2.100
Biaya variabel 800 400
Permintaan dari luar untuk produk 1000 unit 2000 unit
Kapasistas produksi divisi penjual 3000 unit

Divisi penjual akan menghasilkan 3000 unit, dengan harga jual Rp. 1.200 dimana 1000
unit untuk memenuhi kebutuhan internal perusahaan dan sisanya untuk memenuhi kebutuhan
eksternal perusahaan. Selanjutnya akan dihitung jumlah marjin kontribusi untuk masing-
masing divisi.

Produk dijual ke luar oleh divisi penjual :


Pendapatan penjualan Rp 2.400.000
(2000 unit @ Rp. 1.200/unit)
Biaya variabel (800.000)
(2000 unit @ Rp. 400/unit)
Marjin kontribusi Rp. 1.600.000
Produk dijual ke dalam oleh divisi penjual :
Pendapatan penjualan Rp 1.200.000
(1000 unit @ Rp 1.200/unit)
Biaya variabel (400.000)
(1000 unit @ Rp 400/unit)
Marjin kontribusi Rp. 800.000

Dari penjelasan di atas dapat terlihat bahwa dengan harga jual Rp 1.200 yang diberikan
oleh divisi penjual, total marjin kontribusi yang diperoleh oleh perusahaan sebesar Rp
3.000.000. Apabila terjadi peningkatan permintaan atas produk yang dihasilkan oleh divisi
penjual, sedangkan permintaan dari divisi pembeli tetap. Andai kata harga yang ditawarkan
oleh divisi penjual Rp 2.000, sama dengan harga pasar, maka bisa dikatakan divisi pembeli
tidak akan sanggup dengan pembelian. Hal ini dapat dibuktikan dengan perhitungan sebagai
berikut :

Marjin kontribusi divisi pembeli pada harga transfer Rp 2.000


Pendapatan penjualan Rp 2.600.000
(1000 unit @Rp 2.600/unit)
Biaya variabel (800.000)
(1000 unit @Rp 800/unit)
Harga transfer (2.000.000)
(1000 unit @ Rp 2.000)
Marjin kontribusi (Rp 200.000)

Dalam kondisi seperti divisi penjual akan menjual seluruh produknya kepada pembeli di
luar perusahaan. Tindakan ini tentunya akan memberikan hasil yang terbaik bagi perusahaan
karena marjin kontribusi yang dihasilkan jauh lebih besar,dibandingkan dengan menjual ke
divisi pembeli dengan harga tetap. Dari kasus di atas dapat dilihat bahwa transfer
pricing akan sangat berpengaruh terhadap kinerja perusahaan apabila kinerja tersebut diukur
dengan marjin kontribusi yang dihasilkan.
2.6 Praktik Transfer pricing Perusahaan Multinasional
Keputusan bisnis sebuah perusahaan sebagian besar juga dipengaruhi oleh pajak, baik
secara langsung maupun tidak langsung. Upaya meminimalisasi beban pajak dapat dilakukan
dengan berbagai cara, mulai dariyang masih berada dalam bingkai peraturan perpajakn
sampai dengan yangmelanggar peraturan perpajakan. Meminimalisasi pajak secara
baik yang berarti tidak melanggar peraturan perpajakan sering disebut dengan perencanaan
pajak atau tax planning atau tax sheltering.
Perencanaan pajak merujuk pada suatu proses rekayasa usaha dan transaksi wajib
pajak agar utang pajak berada dalam jumlah yang minimal, tetapi masih dalam
bingkai peraturan perpajakan. Perencanaan pajak seperti ini masuk dalam
kategori taxavoidance.
Natawisastra (2006:5) dalam tesisnya menuliskan bahwa transfer pricing merupakan
bentuk perencanaan pajak yang tidak melanggar ketentuan perpajakan. Namun, disisi lain
praktik transfer pricing dikategorikan sebagai tindak pidana perpajakan, sebagaimana diatur
dalam Bab VIII tentang Ketentuan Pidana. Hal ini mempertegas bahwa praktik transfer
pricing dapat dikategorikan sebagai penghindaran pajak yang tidak melanggar
ketentuan perpajakan dalam rangka perencanaan pajak yang baik dan juga merupakan praktik
illegal yang semata-mata menghindari pajak untuk merugikan negara. Semuanya tergantung
dari hasil pemeriksaan lapangan.
Praktik transfer pricing sebenarnya telah terjadi di banyak perusahaan, baik perusahaan
domestic maupun multinasional asalkan perusahaan tersebut melakukan produksi atau
kegiatannya dalam departemen-departemen atau divisi-divisi. Hanya saja, efek terhadap
pajak dalam hal ini tidak sama. Perusahaan yang hanya beroperasi di satu negara saja tidak
akan memeberikan efek ke pajak yang sangat signifikan dalam rangka transfer pricing.
Hal ini karena tarif pajak yang digunakan adalah sama. Lain halnya jika dilakukan oleh
perusahaan multinasional dengan beberapa cabang di berbagai negara. Transfer pricing ini
akan sangat signifikan pengaruhnya dalam penerimaan pajak. Hal ini karena perbedaan tariff
pajak yang ada di berbagai negara. Suatu transfer pricing dapat terjadi karena suatu
hubungan istimewaatau afiliasi antara anggota dalam suatu grup perusahaan multinasional.
Suatu transfer pricing sedikitnya melibatkan dua pihak yang melakukan transaksi, yaitu
pihak yang melakukan transfer atau transfer dan pihak yang menerima transfer
atau transferee.
Dengan adanya hubungan istimewa ini, perusahaan multinasional sebagaimana metode
yang digunakan dalam penentuan harga yakni metode negosiasi dapat melakuakn negosiasi
dalam penentuan harga transaksinya.
Ada dua tujuan transfer pricing yang ingin dicapai oleh perusahaan multinasional yaitu :
1. Performance Evaluation.
Salah satu alat yang dipakai oleh banyak perusahaan dalam menilai kinerjanya adalah
menghitung berapa tingkat ROI-nya atau Return On Investment. Terkadang tingkat ROI
untuk satu divisi dengan divisi lainnya dalam satu perusahaan yang sama berbeda satu
dengan yang lain. Misalnya divisi penjual menginginkan harga transfer yang tinggi yang akan
meningkatkan income, yang secara otomatis akan meningkatkan ROI-nya, tetapi di sisi lain,
divisi pembeli menuntut harga transfer yang rendah yang nantinya akan berakibat pada
peningkatan income, yang berarti juga peningkatan dalam ROI. Hal semacam inilah yang
terkadang membuat transfer pricing itu berada di posisi yang terjepit. Oleh karena itu untuk
mengatasi permasalahan seperti ini, induk perusahaan akan sangat berkepentingan dalam
penentuan harga transfer.
2. Optimal Determination of Taxes
Tarif pajak antar satu negara dengan negara yang lain berbeda. Perbedaan ini disebabkan
oleh lingkungan ekonomi, sosial, politik dan budaya yang berlaku dalam negara tersebut.
Afrika misalnya, karena tingkat investasi rendah, tarif pajak yang berlaku di negara tersebut
juga rendah. Tetapi apabila kita berbicara tentang Amerika, tidak mungkin tarif pajak yang
berlaku di negara tersebut sama dengan di negara Afrika. Hal ini jelas, karena di negara maju
seperti Amerika tingkat investasi sangat tinggi, yang dibuktikan dengan tingkat pertumbuhan
badan usaha yang semakin meningkat. Atas dasar inilah tarif pajak yang ditetapkan di negara
yang bersangkutan tinggi.
Berikut ini akan diberikan sebuah ilustrasi untuk memperjelas praktek transfer
pricing yang biasanya dilakukan oleh perusahaan-perusahaan multinasional. Perusahaan
induk (parent company) yang terletak di Belgia memproduksi suatu produk, dengan harga
pokok Rp 100. Tarif pajak yang berlaku di negara tersebut adalah 42%. Untuk menghindari
pengenaan pajak dengan tarif yang tinggi, perusahaan induk memutuskan untuk menjual
produk tersebut ke anak perusahaan yang ada di Puerto Rico dengan harga transfer yang sama
dengan harga pokok yaitu Rp 100, sehingga pajak yang terutang atas transaksi penjualan
antara perusahaan induk dan anak perusahaan adalah Rp 0. Hal ini disebabkan karena harga
transfer yang digunakan sama dengan harga pokok produk, sehingga atas transaksi ini tidak
menimbulkan laba yang akan dikenakan pajak.
Rekayasa atas harga transfer ini dibuat untuk menghindari pajak dengan tarif yang tinggi
yang berlaku di Negara tempat perusahaan induk berada. Kemudian barang yang sudah
dibeli, dijual oleh anak perusahaan di Puerto Rico ke anak perusahaan lain yang ada di
Amerika dengan harga transfer Rp 200. Tarif pajak yang berlaku di negara Puerto Rico
adalah 0%. Transaksi penjualan ini menimbulkan laba sebesar Rp 200. Atas laba yang timbul,
seharusnya terutang pajak. Tetapi karena tarif pajak yang berlaku di negara tersebut
0%, maka pajak yang terutang atas laba yang dihasilkan adalah sebesar Rp 0. Kemudian
barang yang sudah dibeli oleh anak perusahaan yang ada di Amerika dijual kembali ke
perusahaan yang tidak mempunyai hubungan istimewa di negara yang sama, dengan harga
jual Rp 200.
Kebijaksanaan menetapkan harga jual ini dimaksudkan untuk menghindari pajak dengan
tarif yang tinggi yang berlaku di negara yang bersangkutan. Asumsi tarif pajak yang berlaku
di negara Amerika 35%. Selanjutnya dapat dihitung bahwa pajak terutang atas transaksi
penjualan ini adalah sebesar Rp 0. Hal ini disebabkan karena harga jual atas produk tersebut
sama dengan harga pokok pembelian barang, sehingga laba yang timbul atas transaksi ini
adalah Rp 0. Tabel di bawah ini akan memperjelas ilustrasi di atas.

Masalah transfer pricing ini perlu mendapatkan perhatian lebih lanjut dari pemerintah
setempat, karena terkadang anak perusahaan yang didirikan dalam suatu negara, hanya
bersifat sebagai transit place atau tempat persingahan semata. Suatu survey yang dilakukan
oleh Ernst & Young LLp, 1999 menemukan bahwa masalah transfer pricing merupakan
masalah utama dalam bidang perpajakan selama kurun waktu 2 tahun terakhir yang terjadi
pada perusahaan-perusahaan multinasional di seluruh dunia. Oleh karena itu banyak kantor
akuntan publik melakukan audit compliance, untuk melakukan pemeriksaan atas
masalahtransfer pricing ini yang memang berpengaruh terhadap jumlah pajak yang harus
dibayarkan.
Biasanya cegah tangkal yang dilakukan oleh negara-negara dengan adanya transfer
pricing adalah membuat suatu kewenangan, dimana pemerintah diberikan wewenang untuk
menentukan kembali dengan cara me-realokasikan kembali jumlah laba dan biaya-biaya yang
timbul di perusahaan multinasional yang notabene punya beberapa divisi, sehingga laba dan
biaya-biaya yang timbul sebagai hasil transaksi antar divisi tersebut yang ditengarai sebagai
suatu praktek transfer pricing yang bisa meminimalkan pajak terutang dapat di cegah. U.S.-
Based multinationals are subject to Internal Revenue Code Section 482 on the pricing of
intercompany transactions. This section gives the IRS the authority to reaalocate income and
deductions among divisions if it believes that such reallocation will reduce potentiak tax
evasion. (Hansen and Mowen, 1996:543). Lebih lanjut ditegaskan bahwa dalam IRS, apabila
terjadi transaksi antar divisi dalam perusahaan multinasional atau terjadi transaksi dalam
perusahaan yang mempunyai hubungan istimewa, maka harga yang berlaku adalah harga
yang timbul apabila transaksi tersebut dilakukan dengan pihak-pihak di luar perusahaan atau
dengan kata lain, transaksi dilakukan dengan pihak-pihak yang tidak punya hubungan
istimewa.
2.5 Hubungan Istimewa dan Kekurangwajaran Dalam Transfer Pricing
Sebenarnya praktek transfer pricing ini sudah banyak dilakukan oleh banyak perusahaan.
Hanya saja, tidak terlalu terasa efek pengurangan pajaknya apabila dilakukan antar divisi
dalam satu perusahaan yang sama. Lain halnya apabila transfer pricing itu digunakan untuk
menilai kinerja divisi. Pertanyaan yang timbul adalah mengapa transfer pricing tidak terlalu
berarti dari sisi pajak apabila dipraktekkan pada divisi yang sama dalam satu perusahaan.
Jawabannya, adalah hal ini disebabkan karena praktek transfer pricingakan memberikan hasil
maksimal dalam hal ini meminimalkan jumlah pajak yang terutang, apabila timbul pengenaan
tarif yang berbeda. Oleh karena itu apabila praktek tersebut dilakukan antar divisi tidak
memberikan hasil yang maksimal, karena tarif pajak yang berlaku sama.
Adanya hubungan istimewa merupakan faktor penyebab utama timbulnya
praktektransfer pricing. Hubungan istimewa adalah hubungan kepemilikan antara satu
perusahaan dengan perusahaan lain dan hubungan ini terjadi karena adanya keterkaitan,
pertalian atau ketergantungan satu pihak dengan pihak yang lain yang tidak terdapat pada
hubungan biasa, faktor kepemilikan atau penyertaan, adanya penguasaan melalui manajemen
atau penggunaan teknologi, adanya hubungan darah atau karena perkawinan merupakan
faktor penyebab utama timbulnya hubungan istimewa. Oleh karena itu faktor hubungan
istimewa akan menjadi penting dalam menentukan besarnya penghasilan dan/atau biaya yang
akan dibebankan untuk menghitung penghasilan kena pajak.
Pasal 18 ayat (3) Undang-Undang Perpajakan No. 10 Tahun 1994 menyebutkan bahwa
hubungan istimewa ada apabila :
a. Wajib Pajak mempunyai penyertaan modal langsung atau tidak langsung sebesar 25% (dua
puluh lima persen) atau lebih pada wajib pajak lain, atau hubungan antara Wajib Pajak
dengan penyertaan 25% (dua puluh lima persen) atau lebih pada dua Wajib Pajak atau lebih
yang disebut terakhir; atau
b. Wajib Pajak menguasai Wajib Pajak lainnya, atau dua atau lebih Wajib Pajak berada di
bawah penguasaan yang sama baik langsung maupun tidak langsung; atau
c. Terdapat hubungan keluarga baik sedarah maupun semenda dalam garis keturunan lurus
dan/atau kesamping satu derajat. (Didapatkan dari Tax Center Universitas Pembangunan
Jaya)

Praktek transfer pricing ini dapat mengakibatkan terjadinya pengalihan penghasilan atau
dasar pengenaan pajak dan/atau biaya dari satu Wajib Pajak ke Wajib Pajak yang lainnya,
yang dapat direkayasa untuk menekan keseluruhan jumlah pajak terutang atas Wajib Pajak-
Wajib Pajak yang mempunyai hubungan istimewa tersebut. Sebenarnya kekurang-wajaran
yang bisa timbul karena adanya praktek transfer pricing dapat terjadi antar Wajib Pajak
dalam negeri atau antara Wajib Pajak dalam Negeri dengan pihak luar negeri, terutama yang
berkedudukan di Tax Haven Countries (negara yang tidak memungut/memungut pajak lebih
rendah dari Indonesia).
Direktorat Jenderal Pajak, melalui Surat Edaran Dirjen Pajak N0. SE04/PJ.7/1993
Tanggal 3 Maret 1993 menyebutkan bahwa kekurang-wajaran dari adanya praktektransfer
pricing dapat terjadi atas :
1. Harga penjualan
2. Harga pembelian
3. Alokasi biaya administrasi dan umum (overhead cost)
4. Pembebanan bunga atas pemberian pinjaman oleh pemegang saham (shareholder loan)
5. Pembayaran komisi, lisensi, franchise, sewa, royalti, imbalan atas jasa manajemen, imbalan
atas jasa teknik dan imbalan atas jasa lainnya
6. Pembelian harta perusahaan oleh pemegang saham (pemilik) atau pihak yang mempunyai
hubungan istimewa yang lebih rendah dari harga pasar
7. Penjualan kepada pihak luar negeri melalui pihak ketiga yang kurang/tidak mempunyai
substansi usaha (misalnya dummy company, letter box company atau reinvoicing center).
(Didapatkan dari Tax Center Universitas Pembangunan Jaya)
Berikut ini akan diberikan beberapa contoh dari kasus yang menyebabkan timbulnya
kekurangwajaran yang timbul dari praktek transfer pricing.
1. Kekurang-wajaran Harga Penjualan
PT A memiliki 25% saham PT B. Atas penyerahan barang PT A ke PT B, PT A
membebankan harga jual Rp 160 per unit, berbeda dengan harga yang diperhitungkan atas
penyerahan barang yang sama kepada PT X (tidak ada hubungan istimewa) yaitu Rp 200 per
unit. Dalam contoh di atas, harga pasar sebanding (comparable uncontrlled price) atas barang
yang sama adalah yang dijual kepada PT X yang tidak ada hubungan istimewa. Dengan
demikian harga yang wajar (arm's length price) adalah Rp 200 per unit. Harga inilah yang
dipakai sebagai dasar penghitungan penghasilan dan/atau pengenaan pajak.
2. Kekurang-wajaran Harga Pembelian
H Ltd Hongkong memiliki 25% saham PT B. PT B mengimpor barang produksi H Ltd
dengan harga Rp 3.000 per unit . Produk tersebut dijual kembali kepada PT Y (tidak ada
hubungan istimewa) dengan harga Rp 3.500 per unit. Pada contoh tersebut di atas, pertama-
tama dicari harga pasar sebanding untuk barang yang sama, sejenis atau serupa atas
pembelian/impor dari pihak yang ada hubungan istimewa atau antar pihak-pihak yang tidak
ada hubungan istimewa. Apabila ditemui kesulitan, maka pendekatan harga jual minus dapat
diterapkan, yaitu dengan mengurangkan laba kotor (mark up) yang wajar ditambah biaya
lainnya yang dikeluarkan Wajib Pajak dari harga jual barang kepada pihak yang tidak punya
hubungan istimewa. Apabila laba wajar yang diperoleh adalah Rp 750 maka, harga wajar
secara fiskal atas pembelian barang dari H Ltd Hongkong adalah Rp 2.750 (Rp 3.500 - Rp
750). Harga ini merupakan dasar perhitungan harga pokok PT B dan selisih Rp 250 antara
pembayaran utang ke H Ltd Hongkong dengan harga pokok seharusnya diperhitungkan
sebagai pembayaran deviden terselubung.
3. Kekurang-wajaran alokasi biaya administrasi dan umum (overhead cost)
Kantor pusat perusahaan (head office) di luar negeri dari BUT di Indonesia sering
mengalokasikan biaya administrasi dan umum (overhead cost) kepada BUT tersebut. Biaya
yang dialokasikan tersebut antara lain : a. Biaya training karyawan BUT di Indonesia yang
diselenggarakan kantor pusat di luar negeri; b. Biaya perjalanan dinas direksi kantor pusat
tersebut ke masing-masing BUT; c. Biaya administrasi/manajemen lainnya dari kantor pusat
yang merupakan biaya penyelenggaraan perusahaan; d. Biaya riset dan pengembangan yang
dikeluarkan kantor pusat Alokasi biaya-biaya tersebut di atas diperbolehkan sepanjang
sebanding dengan manfaat yang diperoleh masing-masing BUT dan bukan merupakan
duplikasi biaya.
4. Kekurang-wajaran pembebanan bunga atas pemberian pinjaman oleh pemegang
saham.
H Ltd di Hongkong memiliki 80% saham PT C dengan modal yang belum disetor sebesar Rp
200 juta. H Ltd juga memberikan pinjaman sebesar Rp 500 juta dengan bunga 25% atau Rp
125 juta setahun. Tingkat bunga yang berlaku adalah 20%. Sehubungan dengan transaksi di
atas, diharuskan untuk menentukan kembali jumlah utang PT C. Pinjaman sebesar Rp 200
juta dianggap sebagai penyetoran modal terselubung, sehingga besarnya hutang PT C yang
dapat diakui adalah sebesar Rp 300 juta (Rp 500 juta - Rp 200 juta). Biaya bunga yang boleh
dibebankan atas transaksi pinjam-meminjam di atas adalah sebesar Rp 60 juta (20% x Rp 300
juta) yang berarti timbul koreksi positif.
5. Kekurang-wajaran pembayaran komisi, lisensi, franchise, sewa, royalti, imbalan atas
jasa manajemen, imbalan atas jasa teknik dan imbalan jasa lainnya.
PT A perusahaan komputer, memberikan lisensi kepada PT X (tidak ada hubungan istimewa)
sebagai distributor tunggal di negara X untuk memasarkan program komputernya dengan
membayar royalti 20% dari penjualan bersih. Selain itu PT B di negara B (ada hubungan
istimewa) sebagai distributor tunggal dan membayar royalti 15% dari penjualan bersih. Atas
transaksi di atas maka royalti PT B juga harus 20%. Hal ini disebabkan karena program
komputer yang dipasarkan PT B sama dengan yang dipasarkan PT X.
6. Pembelian harta perusahaan oleh pemegang saham atau oleh pihak yang mempunyai
hubungan istimewa dengan harga yang lebih rendah dari harga pasar.
A adalah pemegang 50% saham PT B. Harta perusahaan PT B berupa kendaraan dibeli A
dengan harga Rp 10 juta. Nilai buku kendaraan tersebut adalah Rp 10 juta. Harga pasaran
kendaraan sejenis dalam keadaan yang sama Rp 30 juta. Dari transaksi di atas dapat dilihat
bahwa harga pasar sebanding untuk kendaraan tersebut adalah Rp 30 juta, maka penghasilan
kena pajak PT B dikoreksi positif Rp 20 juta (Rp 30 juta - Rp 10 juta). Sedangkan bagi A
selisih harga Rp 20 juta merupakan penghasilan berupa deviden yang oleh PT B harus
dipotong PPh pasal 23.
7. Penjualan kepada pihak luar negeri melalui pihak ketiga yang tidak mempunyai
substansi usaha (letter box company).
PT I di Indonesia yang mempunyai hubungan istimewa dengan H Ltd di Hongkong, dua-
duanya adalah anak perusahaan K di Korea. Dalam usahanya PT I mengekspor barang yang
langsung dikirim ke X di Amerika Serikat atas permintaan H Ltd di Hongkong. Harga pokok
barang tersebut adalah Rp 100 dan PT I di Indonesia selalu menagih dengan harga Rp 110.
Sedang H Ltd Hongkong menagih X di Amerika Serikat. Informasi yang diperoleh dari
Amerika Serikat menunjukkan bahwa X membeli barang dengan harga Rp 175. Keterangan
lebih lanjut menunjukkan bahwa H Ltd Hongkong hanya berupa Letter Box Company
(reinvoicing centre) tanpa substansi bisnis. Oleh karena tarif pajak di Hongkong lebih rendah
dari di Indonesia, maka terdapat petunjuk adanya usaha Wajib Pajak untuk mengalihkan laba
kena pajak dari Indonesia ke Hongkong agar diperoleh penghematan pajak. Dengan
memperhatikan fungsi (substansi bisnis) dari H Ltd Hongkong, maka perantara transaksi
demikian (untuk penghitungan pajak) dianggap tidak ada, sehingga harga jual PT I di
Indonesia dikoreksi sebesar Rp 65 (Rp 175 - Rp 110)
Untuk mencegah terjadinya penghindaran pajak antara lain melalui penentuan harga
yang tidak wajar (non arm's length price), dalam perundang-undangan perpajakan telah
terdapat ketentuan-ketentuan yang pada dasarnya memberikan wewenang kepada aparat
pajak untuk melakukan koreksi terhadap transaksi-transaksi yang tidak wajar dengan pihak
lain yang mempunyai hubungan istimewa.
Pasal 18 ayat (1), (2) dan (3) Undang-Undang Perpajakan No. 10 Tahun 1994 mengatur
bahwa :
1. Menteri Keuangan berwenang mengeluarkan keputusan mengenai besarnya perbandingan
antara utang dan modal perusahaan untuk keperluan penghitungan pajak berdasarkan undang-
undang ini.
2. Menteri Keuangan berwenang menetapkan saat diperolehnya deviden oleh Wajib Pajak
dalam negeri atas pneyertaan modal pada badan usaha di luar negeri selain badan usaha yang
menjual sahamnya di bursa efek, dengan ketentuan sebagai berikut :
a. Besarnya penyertaan modal Wajib Pajak dalam negeri tersebut sekurangkurangnya 50%
(lima puluh persen) dari jumlah saham yang disetor atau
b. Secara bersama-sama dengan Wajib Pajak dalam negeri lainnya memiliki penyertaan modal
sebesar 50% (lima puluh persen) atau lebih dari jumlah saham yang disetor. (Didapatkan dari
Tax Center Universitas Pembangunan Jaya)
3. Dalam pasal ini berbunyi Direktur Jendral Pajak berwenang menentukan kembali besarnya
penghasilan dan pengurangan serta menentukan utang sebagai modal untuk menghitung
besarnya Penghasilan Kena Pajak bagi Wajib Pajak yang mempunyai hubungan istimewa
dengan Wajib Pajak lainnya sesuai dengan kewajaran dan kelaziman usaha yang tidak
dipengaruhi oleh hubungan istimewa.
Selanjutnya Pasal 2 ayat (1) Undang-Undang Perpajakan No. 11 Tentang Pajak
Pertambahan Nilai juga mengatur tentang transaksi yang berhubungan dengan transfer
pricing. Pasal ini berbunyi : Dalam hal harga jual atau penggantian dipengaruhi oleh
hubungan istimewa, maka harga jual atau penggantian dihitung atas dasar harga pasar wajar
pada saat penyerahan Barang Kena Pajak atau Jasa Kena Pajak itu dilakukan. (Didapatkan
dari Tax Center Universitas Pembangunan Jaya)
Keputusan Direktur Jendral Pajak Nomor : KEP-01/PJ.7/1993 tentang Pedoman
Pemeriksaan Pajak Terhadap Wajib Pajak yang Mempunyai Hubungan Istimewa juga
dimaksudkan untuk menanggulangi menurunnya jumlah pajak yang disetor yang dilakukan
lewat praktek transfer pricing. Dalam Surat Keputusan ini diatur mengenai tahap-tahap
pemeriksaan yang perlu dilakukan oleh pihak yang berwenang berkaitan dengan adanya
praktek transfer pricing yaitu :
1. Mempelajari berkas Wajib Pajak dan berkas data. Tahap ini dilakukan dengan mempelajari
akte notaris dan perubahannya. Harus diteliti apakah dari struktur pemilikan saham-saham
Wajib Pajak yang diperiksa tampak adanya hubungan istimewa sebagaimana yang dimaksud
dalam pasal 18 ayat (4) Undang-Undang Pajak Penghasilan No. 10 Tahun 1994 dan Undang-
Undang No. 11 tentang Pajak Pertambahan Nilai pasal 2 ayat (1). Tujuan yang ingin dicapai
adalah untuk mengetahui gambaran umum Wajib Pajak yang antara lain adalah :
 Mengenai usaha dan karakteristik perusahaan
 Mengenai struktur kepemilikan saham, apakah ada kemungkinan hubungan istimewa antara
pemegang saham dan Wajib Pajak yang diperiksa.
 Mempelajari struktur organisasi perusahaan terkait. Sedapat mungkin diusahakan
menggambarkan bagan organisasi perusahaan-perusahaan yang mempunyai hubungan
istimewa dan hubungan ekonomis dengan wajib pajak yang diperiksa yang memberikan
gambaran dan lokasi kegiatan
 Mempelajari sifat dan jenis kegiatan usaha Wajib Pajak. Sedapat mungkin digambarkan
aktivitas usaha Wajib Pajak sejak adanya order hingga penyelesaian order, baik itu mengenai
pembelian maupun mengenai penjualan.
 Mempelajari kemungkinan over/under invoicing. Pembelian/impor maupun
penjualan/ekspor yang dilakukan oleh Wajib Pajak yang mempunyai hubungan istimewa
dengan pemasok maupun pelanggan yang terutama berkedudukan di Tax Heaven Countries,
harus dipelajari kemungkinan adanya over dan under invoicing
 Mempelajari laporan pemeriksaan terdahulu. Hal ini bertujuan untuk mengetahui hal-hal
sebagaimana yang dimaksud dalam hurf b, c dan huruf d di atas sehingga dapat dijadikan
petunjuk di dalam pemeriksaan yang akan dilaksanakan.
2. Menganalisa SPT dan Laporan Keuangan Wajib Pajak. Tujuan dilaksanakan analisa ini
adalah untuk mendeteksi ketidak-wajaran harga penjualan atau pembelian di antara pihak
yang mempunyai hubungan istimewa tersebut. Untuk melakukan hal ini digunakan analisa
rasio yang berlaku secara umum. (Didapatkan dari Tax Center Universitas Pembangunan
Jaya)
Bab III dalam Surat Keputusan ini mengatur tentang metode-metode pemeriksaan yang
digunakan dalam menentukan harga pasar (market price atau arm's length price) dalam
hubungan istimewa. Metode-metode tersebut adalah :
1. Metode Harga Pasar Sebanding.
Metode ini dapat digunakan dalam hal :
 Terdapat penjualan/pembelian kepada pihak yang ada hubungan istimewa, maupun kepada
pihak yang tidak punya hubungan istimewa
 Jenis produk sebagai objek transaksi relatif sama.
Hal-hal yang harus diperhatikan dalam menggunakan metode ini adalah :
 Pasar-pasar yang berbeda secara geografis
 Mata rantai penjualan dari produsen ke konsumen
 Potongan harga dan potongan kuantitas (diskon dan rabat)
 Kualitas barang
 Asuransi
2. Metode Harga Jual Minus.
Metode ini dapat dipakai dalam hal :
 Tidak ada transaksi denga pihak yang tidak ada hubungan istimewa yang dapat digunakan
sebagai pembanding misalnya pada sistem pemasaran dengan keagenan tunggal
 Terdapat data harga penjualan kembali barang yang tidak dipengaruhi hubungan istimewa
 Tidak terdapat proses perubahan barang yang menambah nilai
 Pihak pembeli dan penjual dalam hubungan istimewa tidak menambah harga yang besar
pengaruhnya terhadap nilai barang tersebut.
3. Metode Harga Pokok Plus.
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam penggunaan metode ini adalah :
 Alokasi biaya terhadap harga pokok
 Penentuan metode biaya langsung (direct costing) dalam penentuan harga jual
 Penggunaan teknologi yang dapat menghemat bahan baku dan jam kerja
 Permintaan harga dari pemesan.

BAB 3
METODE PENELITIAN
3.1 Jenis Penelitian
Penelitian ini termasuk jenis penelitian studi literatur dengan mencari referensi teori yang
relefan dengan kasus atau permasalahan yang ditemukan. Referensi teori yang diperoleh
dengan jalan penelitian studi literatur dijadikan sebagai fondasi dasar dan alat utama bagi
praktek penelitian ditengah lapangan.
3.2 Waktu dan Tempat Penelitian
Penulisan karya ilmiah dilakukan di Universitas Pembangunan Jaya, Bintaro dan di
rumah penulis. Penelitian ini dilakukan mulai tanggal 14 April 2018 sampai tanggal 7 Mei
2018.
3.3 Metode Pengumpulan Data
Literatur yang dipakai dalam penelitian ini, penulis dapatkan dari berbagai sumber. Data
yang digunakan penulis merupakan data sekunder yaitu data yang diperoleh dari beberapa
media perantara yang telah di publikasikan melalui website ataupun buku-buku. Adapun
sumber data tersebut diantaranya, Data Tax Center UPJ, Perpustakaan, Jurnal-Jurnal
Penelitian terdahulu, Buku-Buku Perpajakan yang penulis jadikan refensi dalam penentuan
tema, fenomena, rumusan, sampai dengan kesimpulan dari Makalah Perpajakan 1 ini.

3.3.1 Dokumentasi
Dokumentasi merupakan metode untuk mencari dokumen atau data-data yang dianggap
penting melalui artikel koran/majalah, jurnal, pustaka, brosur, buku dokumentasi serta
melalui media elektronik yaitu internet, yang ada kaitannya dengan diterapkannya penelitian
ini.

3.3.2 Studi Literatur


Studi literatur adalah cara yang dipakai untuk menghimpun data-data atau sumber-
sumber yang berhubungan dengan topik yang diangkat dalam suatu penelitian. Studi literatur
bisa didapat dari berbagai sumber, jurnal, buku dokumentasi, internet dan pustaka. (Prabha
Girinda, 2016)

3.3.3 Kualitatif
Data yang dinyatakan dalam bentuk kata-kata atau bukan dalam bentuk angka. Data ini
biasanya menjelaskan karakteristik atau sifat. Sebagai contoh: kondisi barang
(jelek,sedang,bagus), pekerjaan (petani,pengusaha,pedagang),tingkat kepuasan ( tidak puas,
puas, sangat puas),dll. Data kualitatif terdiri dari data nominal dan ordinal.
3.4 Metode Analisis Data
Data-data yang sudah diperoleh kemudian dianalisis dengan metode analisis deskriptif.
Metode analisis deskriptif dilakukan dengan cara mendeskripsikan fakta-fakta yang
kemudian disusul dengan analisis, tidak semata-mata menguraikan, melainkan juga
memberikan pemahaman dan penjelasan secukupnya. (Prabha Girinda, 2016)

BAB 4
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Faktor utama terjadinya praktek Transfer Pricing yaitu dengan adanya hubungan
istimewa, namun hal tersebut menyebabkan terjadinya beberapa ketidakwajaran dalam
praktek transfer pricing. Oleh karena itu dibuat beberapa kebijakan mengenai
pelaksanaantransfer pricing agar ketidakwajaran tersebut tidak lagi terjadi. Untuk
menentukan harga transfer terdapat 3 metode yang sering digunakan yaitu metode atas dasar
biaya, pasar, dan negoisasi. Namun kebanyakan perusahaan menggunakan metode pasar
karena sifatnya yang independen, tetapi keterbatasan informasi pasar terkadang menjadi
kendala dalam menggunakan transfer pricing berdasarkan harga pasar.
Praktek transfer pricing sering digunakan oleh banyak perusahaan sebagai alat untuk
meminimalkan jumlah pajak yang harus dibayar. Adanya hubungan istimewa merupakan
kunci dari dilakukannya praktek transfer pricing dalam bidang perpajakan. Hubungan
istimewa dalam perpajakan ditandai dengan adanya hubungan antara dua atau lebih Wajib
Pajak yang berada di bawah pemilikan atau penguasaan yang sama baik secara langsung
maupun tidak langsung, adanya hubungan antara Wajib Pajak yang mempunyai penyertaan
25% atau lebih pada pihak yang lain. Hubungan istimewa juga ditandai dengan adanya
hubungan keluarga baik sedarah dan semenda dalam garis keturunan lurus dan/atau ke
samping satu derajat.
Kekurang-wajaran dari harga transfer (non arm's length price) yang ditimbulkan dengan
adanya praktek transfer pricing dapat terjadi atas: harga penjualan; harga pembelian; alokasi
biaya administrasi dan umum (overhead cost); pembebanan bunga atas pemberian pinjaman
oleh pemegang saham (shareholder loan); pembayaran komisi, lisensi, franchise, sewa,
royalti, imbalan atas jasa manajemen, imbalan atas jasa teknik dan imbalan atas jasa lain;
pembelian harta perusahaan oleh pemegang saham (pemilik) atau pihak yang mempunyai
hubungan istimewa yang lebih rendah dari harga pasar; penjualan kepada pihak luar negeri
melalui pihak ketiga yang kurang/tidak mempunyai substansi usaha.
Masalah transfer pricing ini diatasi dengan memberikan wewenang kepada menteri
keuangan dan dirjen pajak untuk menentukan kembali besarnya penghasilan dan pengurangan
serta menentukan utang sebagai modal untuk menentukan besarnya Penghasilan Kena Pajak
bagi pihak yang mempunyai hubungan istimewa. Selain itu untuk memeriksa adanya
praktek transfer pricing, Departemen Keuangan Republik Indonesia Direktorat Jendral Pajak
menerbitkan Pedoman Pemeriksaan Pajak terhadap Wajib Pajak yang Mempunyai Hubungan
Istimewa

DAFTAR PUSTAKA
Land, E. J. (January 2000). , “Tax Matters”. Journal Of Accountancy, 81-90.

Mangoting, Y. (Mei 2000). Aspek Perpajakan Dalam Praktek


Transfer Pricing. Jurnal Akuntansi & Keuangan Vol. 2, No. 1, 69-82.

Rahayu, S. (2016, Oktober 6). Seputar Pengertian. Pengertian dan Tujuan Transfer Pricing
(http://seputarpengertian.blogspot.co.id/2016/10/pengertian-dan-tujuan transfer-pricing.html,
diakses pada 27 April 2018)

Rahmayani. (2013, November 19). Chandis Q. Makalah Transfer Pricing


(http://mychandis.blogspot.co.id/2013/11/tugas-makalah-transfer pricing.html, diakses pada
26 April 2018)

SE, N. I. (2016, Januari 16). Management System. Penentuan Transfer Pricing.


(http://www.jtanzilco.com/blog/detail/307/slug/penentuan-transfer-pricing, diakses pada 27
April 2018)

Sentika, K. (2011, Desember 10). Transfer Pricing.


(https://sentika.wordpress.com/2011/12/10/transfer-pricing/, diakses pada 28 April 2018)

Setiawan, R. P. (2017, Mei 17). Metode yang digunakan untuk menentukan harga transfer tang
wajar.
(https://www.dictio.id/t/metode-yang-digunakan-untuk-menentukan-harga-transfer-transfer-
pricing-yang-wajar/8182, diakses pada 25 April 2018)

Waluyo. (2013). Perpajakan Indonesia. Jakarta: Salemba Empat.

Yovi, M. (2015). WooCara. 15 Pengertian Pajak Menurut Para Ahli dan Unsur-Unsur Pajak
(http://woocara.blogspot.co.id/2015/12/pengertian-pajak-dan-unsur-unsur-`pajak.html,
diakses pada 26 April 2018)

Sukman. (2016). Gudang Ilmu. Makalah Penentuan Harga Transfer


(http://sukman21.blogspot.co.id/2015/06/makalah-penentuan-harga transfer.html, diakses
pada 27 April 2018)

Rifchita, A. (2016). Kejahatan dalam Transfer Pricing


(http://audyrifchita.blogspot.co.id/2016/11/makalah-kejahatan-dalam-pajak-transfer.html,
diakses pada 1 Mei 2018)
Sasmitha, M. (2015). Aspek perpajakan dalam Transfer Pricing
(http://mei270593.blogspot.co.id/2015/06/aspek-perpajakan-dalam-transfer-
pricing.html, diakses pada 1 Mei 2018)

Larashati, N. (2011). Transfer Pricing dalam Perpajakan Internasional


(http://nilamlaras.blogspot.co.id/2011/06/transfer-pricing-dalam-perpajakan.html, diakses
pada 1 Mei 2018)

Septarini, N. (2012). Regulasi Dan Praktik Transfer Pricing Di Indonesia Dan Negara
Maju.
(http://jurnalmahasiswa.unesa.ac.id/index.php/jurnalakuntansi/article/view/282, dia
kses pada 2 Mei 2018)