Anda di halaman 1dari 20

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Ikterus neonatorum merupakan fenomena biologis yang timbul akibat

tingginya produksi dan rendahnya ekskresi bilirubin selama masa transisi

pada neonatus. Pada neonatus produksi bilirubin 2 sampai 3 kali lebih tinggi

dibanding orang dewasa normal. Hal ini dapat terjadi karena jumlah eritosit

pada neonatus lebih banyak dan usianya lebih pendek.

Keadaan bayi kuning (ikterus) sangat sering terjadi pada bayi baru lahir,

terutama pada BBLR (Bayi Berat Lahir Rendah). Banyak sekali penyebab

bayi kuning ini. Yang sering terjadi adalah karena belum matangnya fungsi

hati bayi untuk memproses eritrosit ( sel darah merah). Pada bayi usia sel

darah merah kira-kira 90 hari. Hasil pemecahannya, eritrosit harus diproses

oleh hati bayi. Saat lahir hati bayi belum cukup baik untuk melakukan

tugasnya. Sisa pemecahan eritrosit disebut bilirubin, bilirubin ini yang

menyebabkan kuning pada bayi. Kejadian ikterus pada bayi baru lahir (BBL)

sekitar 50% pada bayi cukup bulan dan 75% pada bayi kurang bulan (BBLR).

Kejadian ini berbeda-beda untuk beberapa negara tertentu dan beberapa klinik

tertentu di waktu tertentu.

Hal ini disebabkan oleh perbedaan dalam pengelolaan BBL yang pada

akhir-akhir ini mengalami banyak kemajuan. BBLR menjadi ikterus

disebabkan karena sistem enzim hatinya tidak matur dan bilirubin tak

1
terkonjugasi tidak dikonjugasikan secara efisien 4-5 hari berlalu. Ikterus

dapat diperberat oleh polisitemia, memar,infeksi. BBLR ini merupakan faktor

utama dalam peningkatan mortalitas, morbiditas, dan disabilitas neonatus,

bayi dan anak serta memberikan dampak jangka panjang terhadap kehidupan

di masa depan.

1.2 Tujuan

Untuk menambah ilmu pengetahuan bagi semua mahasiswa

yang membaca makalah ini. Serta mengetahui Pengertian Ikterik, Penyebab

dari Ikterik, Tanda dan gejala Ikterik, Penanganan dari Ikterik.

1.3 Rumusan Masalah

1. Apa pengertian dari Ikterik ?

2. Apa penyebab dan faktor resiko dari Ikterik ?

3. Apa tanda dan gejala dari Ikterik ?

4. Bagaimana pengananan dari Ikterik ?

2
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Pengertian

Ikterus atau Hiperbilirubinemia pada BBL adalah meningginya kadar

bilirubin didalam jaringan ekstravaskuler sehingga kulit, konjungtiva, mukosa

dan alat tubuh lainnya berwarna kuning.Ikterus pada bayi baru lahir terdapat

pada 25-50% neonatus cukup bulan dan lebih tinggi lagi pada neonatus

kurang bulan.

Ikterus pada bayi baru lahir merupakan suatu gejala fisiologis atau

dapat merupakan hal patologis. Ikterus atau warna kuning pada bayi baru

lahir dalam batas normal pada hari ke 2-3 dan menghilang pada hari ke-10.

Ikterik neonatorum dikelompokkan menjadi dua yaitu :

1. Ikterus Fisiologis

Umumnya terjadi pada bayi baru lahir, kadar bilirubin tak

terkonjugasi pada minggu pertama > 2mg/dL. Pada bayi cukup bulan yang

mendapat susu formula kadar bilirubin akan mencapai puncaknya sekitar 6 –

8 mg/dL pada hari ke-3 kehidupan dan kemudian akan menurun cepat selama

2-3 hari diikuti dengan penurunan yang lambat sebesar 1 mg/dL selama 1 – 2

minggu.

3
Pada bayi cukup bulan yang mendapat ASI kadar bilirubin puncak

akan mencapai kadar yang lebih tinggi ( 7 – 14 mg/dL ) dan penurunan terjadi

lebih lambat. Bisa terjadi dalam waktu 2 – 4 minggu bahkan dapat mencapai

waktu 6 minggu.

2. Ikterus Patologis

Ikterus terjadi sebelum umur 24 jam. Peningkatan kadar bilirubin total

serum 0,5 mg/dL/jam. Ikterus diikuti dengan adanya tanda – tanda penyakit

yang mendasari pada setiap bayi ( muntah, letargis, malas menetek,

penurunan berat badan yang cepat, apnea, takipnea atau suhu yang tidak stabil

). Ikterus bertahan setelah 8 hari pada bayi cukup bulan atau setelah 14 hari

pada bayi kurang bulan.

2.2 Penyebab dan faktor resiko

Kuning pada bayi timbul karena adanya timbunan bilirubin (zat/

komponen yang berasal dari pemecahan hemoglobin dalam sel darah merah)

di bawah kulit. Pada saat masih dalam kandungan, janin membutuhkan sel

darah merah yang banyak karena paru-parunya belum berfungsi.

Sel darah merah mengangkut oksigen dan nutrisi dari ibu ke bayi

melalui plasenta. Sesudah bayi lahir, paru-parunya sudah berfungsi, sehingga

darah merah ini tidak dibutuhkan lagi dan dihancurkan. Salah satu hasil

pemecahan itu adalah bilirubin.

4
Ada beberapa faktor yang dapat menyebabkan terjadinya ikterus, yaitu

sebagai berikut:

1. Prahepatik (ikterus hemolitik)

Ikterus ini disebabkan karena produksi bilirubin yang meningkat pada

proses hemolisis sel darah merah (ikterus hemolitik). Peningkatan bilirubin

dapat disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya adalah infeksi, kelainan

sel darah merah, dan toksin dari luar tubuh, serta dari tubuh itu sendiri.

2. Pascahepatik (obstruktif)

Adanya obstruksi pada saluran empedu yang mengakibatkan bilirubin

konjungasi akan kembali lagi ke dalam sel hati dan masuk ke dalam aliran

darah, kemudian sebagian masuk dalam ginjal dan diekskresikan dalam urine.

Sementara itu, sebagian lagi tertimbun dalam tubuh sehingga kulit dan sklera

berwarna kuning kehijauan serta gatal. Sebagai akibat dari obstruksi saluran

empedu menyebabkan ekresi bilirubin ke dalam saluran pencernaan

berkurang, sehingga fases akan berwarna putih keabu-abuan, liat, dan seperti

dempul.

3. Hepatoseluler (ikterus hepatik)

Konjugasi bilirubin terjadi pada sel hati, apabila sel hati mengalami

kerusakan maka secara otomatis akan mengganggu proses konjugasi

bilirubin sehingga bilirubin direct meningkat dalam aliran darah. Bilirubin

5
direct mudah dieksresikan oleh ginjal karena sifatnya mudah larut dalam air,

namun sebagian masih tertimbun dalam aliran darah.

Faktor risiko untuk timbulnya ikterus neonatorum :

1. Faktor Maternal :

 Ras atau kelompok etnik tertentu (Asia, Native American,Yunani)

 Komplikasi kehamilan (DM, inkompatibilitas ABO dan Rh)

 Penggunaan infus oksitosin dalam larutan hipotonik.

 ASI

2. Faktor Perinatal :

 Trauma lahir (sefalhematom, ekimosis)

 Infeksi (bakteri, virus, protozoa)

 Faktor Neonatus : rematuritas

 Faktor genetik : Polisitemia

 Obat (streptomisin, kloramfenikol, benzyl-alkohol, sulfisoxazol)

 Rendahnya asupan ASI

 Hipoglikemia

 Hipoalbuminemia

6
2.3 Tanda dan gejala

 Fisiologis :

Ikterus fisiologis adalah ikterus normal yang dialami oleh bayi baru

lahir, tidak mempunyai dasar patologis sehingga tidak berpotensi menjadi

kern ikterus. Ikterus fisiologis ini memiliki tanda-tanda berikut:

1. Timbul pada hari kedua dan ketiga setelah bayi lahir.

2. Kadar bilirubin inderect tidak lebih dari 10 mg% pada neonatus cukup

bulan dan 12,5 mg% pada neonatus kurang bulan.

3. Kecepatan peningkatan kadar bilirubin tidak lebih dari 5 mg% per hari.

4. Kadar bilirubin direct tidak lebih dari 1 mg%

5. Ikterus menghilang pada 10 hari pertama

6. Tidak terbukti mempunyai hubungan dengan keadaan patologis

 Patologis :

Ikterus patologis adalah ikterus yang mempunyai dasar patologis

dengan kadar bilirubin mencapai suatu nilai yang disebut hiperbilirubinemia.

Ikterus patologis memiliki tanda dan gejala sebagai berikut:

1. Ikterus terjadi dalam 24 jam pertama

2. Kadar bilirubin inderect melebihi 10 mg% pada neonatus cukup bulan atau

melebihi 12,5 mg% pada neonatus cukup bulan.

3. Peningkatan bilirubin melebihi 5 mg% per hari.

4. Ikterus menetap sesudah 2 minggu pertama

7
5. Kadar bilirubin direct lebih dari 1 mg%

6. Mempunyai hubungan dengan proses hemolitik

2.4 Penanganan

1. Ikterus fisiologis

a. Lakukan perawatan seperti bayi baru lahir normal lainnya

b. Lakukan perawatan bayi sehari-hari, seperti:

- Memandikan

- Melakukan perawatan tali pusat

- Membersihkan jalan nafas

- Menjemur bayi di bawah sinar matahari pagi, kurang lebih 30 menit

c. Jelaskan pentingnya hal-hal seperti :

- Memberikan ASI sedini dan sesering mungkin

- Menjemur bayi di bawah sinar matahari dengan kondisi telanjang selama

30 menit,15 menit dalam posisi terlentang, dan 15 menit sisanya dalam

posisi tengkurap

- Memberikan asupan makanan bergizi tinggi bagi ibu,

- Menganjurkan ibu untuk tidak minum jamu

8
d. Apabila ada tanda ikterus yang lebih parah (misalnya feses berwarna putih

keabu-abuan dan liat seperti dempul), anjurkan ibu untuk segera membawa

bayinya ke puskesmas. Anjurkan ibu untuk kontrol setelah 2 hari.

2. Hiperbilirubinemia sedang

a. Berikan ASI secara adekuat

b. Lakukan pencegahan hipotermi

c. Letakkan bayi di tempat yang cukup sinar matahari ± 30 menit, selama 3-

4 hari

d. Lakukan pemeriksaan ulang 2 hari kemudian

e. Anjurkan ibu dan keluarga untuk segera merujuk bayinya jika keadaan

bayi bertambah parah serta mengeluarkan feses bewarna putih keabu-

abuan dan liat seperti dempul

3. Hiperbilirubenemia berat

a. Berikan informer consent pada keluarga untuk segera merujuk bayinya

b. Selama persiapan merujuk, berikan ASI secara adekuat

c. Lakukan pencegahan hipotermi

d. Bila mungkin, ambil contoh darah ibu sebanyak 2,5 ml.

Bentuk terapi bermacam-macam, disesuaikan dengan kadar kelebihan yang

ada, yaitu

9
1. Terapi sinar (fototerapi)

Terapi sinar dilakukan selama 24 jam atau setidaknya sampai kadar

bilirubin dalam darah kembali ke ambang batas normal. Dengan fototerapi,

bilirubin dalam tubuh bayi dapat dipecahkan dan menjadi mudah larut dalam

air tanpa harus diubah dulu oleh organ hati. Terapi sinar juga berupaya

menjaga kadar bilirubin agar tidak terus meningkat sehingga menimbulkan

resiko yang lebih fatal.

Sinar yang digunakan pada fototerapi berasal dari sejenis lampu neon

dengan panjang gelombang tertentu. Lampu yang digunakan sekitar 12 buah

dan disusun secara paralel. Di bagian bawah lampu ada sebuah kaca yang

disebut flaxy glass yang berfungsi meningkatkan energi sinar sehingga

intensitasnya lebih efektif. Sinar yang muncul dari lampu tersebut kemudian

diarahkan pada tubuh bayi. Seluruh pakaiannya dilepas, kecuali mata dan alat

kelamin harus ditutup dengan menggunakan kain kasa.

Tujuannya untuk mencegah efek cahaya yang berlebihan dari lampu-

lampu tersbut. Seperti diketahui, pertumbuhan mata bayi belum sempurna

sehingga dikhawatirkan akan merusak bagian retinanya. Begitu pula alat

kelaminnya, agar kelak tak terjadi resiko terhadap organ reproduksi itu,

seperti kemandulan.Pada saat dilakukan fototerapi, posisi tubuh bayi akan

diubah-ubah, terlentang lalu telungkup agar penyinaran berlangsung

merata. Jika sudah turun dan berada di bawah ambang batas bahaya, maka

10
terapi bisa dihentikan. Rata-rata dalam jangka waktu dua hari sibayi sudah

boleh dibawa pulang.

Meski relatif efektif, tetaplah waspada terhadap dampak fototerapi.

Ada kecenderungan bayi yang menjalani proses terapi sinar mengalami

dehidrasi karena malas minum. Sementara, proses pemecahan bilirubin justru

akan meningkatkan pengeluaran cairan empedu ke organ usus. Alhasil,

gerakan peristaltik usus meningkat dan menyebabkan diare. Memang tak

semua bayi akan mengalaminya, hanya pada kasus tertentu saja. Yang pasti,

untuk menghindari terjadinya dehidrasi dan diare, orang tua mesti tetap

memberikan ASI pada bayi.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan terapi sinar

ialah :

a. Lampu yang dipakai sebaiknya tidak digunakan lebih dari 500 jam, untuk

menghindarkan turunnya energi yang dihasilkan oleh lampu yang

digunakan.

b. Pakaian bayi dibuka agar bagian tubuh dapat seluas mungkin terkena

sinar.

c. Kedua mata ditutup dengan penutup yang dapat memantulkan cahaya

untuk mencegah kerusakan retina. Penutup mata dilepas saat pemberian

minum dan kunjungan orang tua untuk memberikan rangsang visual pada

neonatus. Pemantau iritasi mata dilakukan tiap 6 jam dengan membuka

penutup mata.

11
d. Daerah kemaluan ditutup, dengan penutup yang dapat memantulkan

cahaya untuk melindungi daerah kemaluan dari cahaya fototerapi.

e. Posisi lampu diatur dengan jarak 20-30 cm di atas tubuh bayi, untuk

mendapatkan energi yang optimal

f. . Posisi bayi diubah tiap 8 jam, agar tubuh mendapat penyinaran seluas

mungkin.

g. Suhu tubuh diukur 4-6 jam sekali atau sewaktu-waktu bila perlu.

h. Pemasukan cairan dan minuman dan pengeluaran urine, feses dan muntah

diukur, dicatat dan dilakukan pemantauan tanda dehidrasi.

i. . Hidrasi bayi diperhatikan, bila perlu konsumsi cairan ditingkatkan.

j. Lamanya terapi sinar dicatat.

Apabila dalam evaluasi kadar bilirubin berada dalam ambang batas

normal, terapi sinar dihentikan. Jika kadar bilirubin masih tetap atau tidak

banyak berubah, perlu dipikirkan adanya beberapa kemungkinan, antara lain

lampu yang tidak efektif atau bayi yang menderita dehidrasi, hipoksia, infeksi,

gangguan metabolisme dan lain-lain. Keadaan demikian memerlukan tindakan

kolaboratif dengan tim medis.

Pemberian terapi sinar dapat menimbulkan efek samping. Namun, efek

samping tersebut bersifat sementara yang dapat dicegah atau ditanggulangi

dengan memperhatikan tata cara penggunaan terapi sinar dan diikuti dengan

pemantauan keadaan bayi secara berkelanjutan.

12
Kelainan yang mungkin timbul pada neonatus yang mendapat terapi sinar

adalah :

a. Peningkatan kehilangan cairan yang tidak teratur (insensible water loss)

Energi fototerapi dapat meningkatkan suhu lingkungan dan

menyebabkan peningkatan penguapan melalui kulit, terutama bayi premature

atau berat lahir sangat rendah. Keadaan ini dapat diantisipasi dengan

pemberian cairan tambahan.

b. Frekuensi defekasi meningkat

Meningkatnya bilirubin indirek pada usus akan meningkatkan

pembentukan enzim laktase yang dapat meningkatkan peristaltic

usus. Pemberian susu dengan kadar laktosa rendah akan mengurangi timbulnya

diare.

c. Timbul kelainan kulit “flea bite rash” di daerah muka badan dan ekstrimitas

Kelainan ini akan segera hilang setelah terapi dihentikan. Dilaporkan

pada beberapa terjadi “Bronze baby syndrom” hal ini terjadi karena tubuh

tidak mampu mengeluarkan dengan segera hasil terapi sinar. Perubahan warna

kulit ini bersifat sementara dan tidak mempengaruhi proses tumbuh kembang

bayi.

d. Peningkatan suhu

Beberapa neonatus yang mendapat terapi sinar, menunjukkan kenaikan

suhu lingkungan yang meningkat atau gangguan pengaturan suhu tubuh bayi

pada bayi premature fungsi termostat atau yang belum matang. Pada keadaan

ini fototerapi dapat dilanjutkan dengan mematikan sebagian lampu yang

13
digunakan dan dilakukan pemantauan suhu tubuh neontus dengan jangka

waktu (unterval) yang lebih singkat.

e. Kadang ditemukan kelainan, seperti gangguan minum, lateragi, dan iritabilitas.

Keadaan ini bersifat sementara dan akan hilang dengan sendirinya.

f. Gangguan pada mata dan pertumbuhan

Kelainan retina dan gangguan pertumbuhan ditemukan pada binatang

percoban. Pada neonatus yang mendapat terapi sinar, gangguan pada retina dan

fungsi penglihatan lainnya serta gangguan tumbuh kembang tidak dapat

dibuktikan dan belum ditemukan, walupun demikian diperlukan kewaspadaan

perawat tentang kemungkinan timbulnya keadaan tersebut.

2. Terapi Transfusi

Jika setelah menjalani fototerapi tak ada perbaikan dan kadar bilirubin

terus meningkat hingga mencapai 20 mg/dl atau lebih, maka perlu dilakukan

terapi transfusi darah. Dikhawatirkan kelebihan bilirubin dapat menimbulkan

kerusakan sel saraf otak (kern ikterus). Efek inilah yang harus diwaspadai

karena anak bisa mengalami beberapa gangguan perkembangan. Misalnya

keterbelakangan mental, cerebrel palsy, gangguan motorik dan bicara, serta

gangguan penglihatan dan pendengaran. Untuk itu, darah bayi yang sudah

teracuni akan dibuang dan ditukar dengan darah lain.

Penggantian darah sirkulasi neonatus dengan darah dari donor dengan

cara mengeluarkan darah neonatus dan masukkan darah donor secara berulang

dan bergantian melalui suatu prosedur. Jumlah darah yang diganti sama dengan

14
yang dikeluarkan. Pergantian darah bisa mencapai 75-85% dari jumlah darah

neonatus.

Tujuan transfusi tukar adalah untuk menurunkan kadar bilirubin

indirek, mengganti eritrosit yang dapat dihemolisis, membuang antibody yang

menyebabkan hemolisis, dan mengoreksi anemia.

3. Terapi Obat-obatan

Terapi lainnya adalah dengan obat-obatan. Misalnya phenobarbital atau

luminal untuk meningkatkan pengikatan bilirubin di sel-sel hati sehingga

bilirubin yang sifatnya indirect berubah menjadi direct. Ada juga obat-obatan

yang mengandung plasma atau albumin yang berguna untuk mengurangi

timbunan bilirubin dan mengangkut bilirubin bebas ke organ hati.

Biasanya terapi ini dilakukan bersamaan dengan terapi lain, seperti

fototerapi. Jika sudah tampak perbaikan, maka terapi obat-obatan ini dikurangi

bahkan dihentikan. Efek sampingnya adalah mengantuk dan akibatnya bayi

jadi banyak tidur dan kurang minum ASI sehingga dikhawatirkan terjadi

kekurangan kadar gula dalam darah yang justru memicu peningkatan bilirubin.

Oleh karena itu, terapi obat-obatan bukan menjadi pilihan utama untuk

menangani hiperbilirubin karena biasanya dengan fototerpi si kecil sudah bisa

ditangani.

15
4. Menyusui Bayi dengan ASI

Bilirubin juga dapat pecah jika bayi banyak mengeluarkan feses dan urine,

untuk itu bayi harus mendapatkan cukup ASI. Seperti diketahui, ASI memiliki

zat-zat terbaik bagi bayi yang dapat memperlancar buang air besar dan buang

air kecilnya. Akan tetapi, pemberian ASI juga harus di bawah pengawasan

dokter karena pada beberapa kasus, ASI justru meningkatkan kadar bilirubin

bayi (breast milk jaundice).

Kejadian ini biasanya muncul di minggu pertama dan kedua setelah bayi

lahir dan akan berakhir pada minggu ke-3. Biasanya untuk sementara ibu tidak

boleh menyusui bayinya. Setelah kadar bilirubin bayi normal, baru boleh

disusui lagi.

5. Terapi Sinar Matahari

Terapi dengan sinar matahari hanya merupakan terapi tambahan.

Biasanya dianjurkan setelah bayi selesai dirawat di rumah sakit. Caranya, bayi

dijemur selama setengah jam dengan posisi yang berbeda-beda. Caranya

seperempat jam dalam keadaaan terlentang, misalnya, seperempat jam

kemudian telungkup. Lakukan antara jam 07.00 sampai 09.00. Inilah waktu

dimana sinar surya efektif mengurangi kadar bilirubin.

Di bawah jam tujuh, sinar ultraviolet belum cukup efektif, sedangkan

di atas jam sembilan kekuatannya sudah terlalu tinggi sehingga akan merusak

kulit. Hindari posisi yang membuat bayi melihat langsung ke matahari karena

dapat merusak matanya. Perhatikan pula situasi di sekeliling, keadaan udara

harus bersih

16
BAB III

TINJAUAN KASUS ICHTERIK

3.1. Data subjektif

Nama Bayi : by. Nasriah

Nama Ibu :Nasriah

Nama Ayah :Usman

Tanggal lahir : 4-8-2019

Jam : 12:45 Wib

Jenis kelamin : Laki-Laki

Alamat : Mns. Peukan kota sigli

Suku/Bangsa : Aceh/Indonesia

3.2. Data objektif

Keluhan umum : lemah dan tubuh tampak kuninng

TB : 53 cm

BB : 4100 kg

RR : 46 x/m

HR : 133 x/m

17
N : 126 x/m

S : 37,5 C

3.3. Assesment

Hiperbilirubin(meningkatnya kadar bilirubin dalam tubuh)

3.4. Planning

Perencanaan dan Pelaksanaan

a. Memantau tanda vital pada bayi.

b. Menjaga kehangatan bayi dengan membedung bayi dan meletakkannya

dalam inkubator

c. Melakukan perawatan mata.

d. Mengatur posisi bayi senyaman mungkin.

e. Mengontrol cairan infus.

f. Memberi asi/pasi bayi dengan OGT(pemberian asi/pasi lansung ke dalam

lambung bayi melalui selang) 10 cc/3 j.

g. Kolaborasi dengan tim medis dalam pemberian thrapy : IVFD dexa 10 %

( micro) 15 tts/m, Ij.viccilin 200 mg/12 j, Ij.gentamicid 20 mg/36 j,ogt

paracetamol sirup 3 kali sehari dengan dosis 0,8 cc.

h. Melakukan fototerapi(terapi sinar)untuk menstabilkan kadar bilirubin.

i. Memantau o2 dengan tekanan 1-2 mg

j. Melakukan vital sign 3 kali sehari

18
BAB IV

PENUTUP

4.1 Kesimpulan

Ikterus adalah keadaan dimana meningginya kadar bilirubin didalam

jaringan ekstravaskuler sehingga kulit, konjungtiva, mukosa dan alat tubuh

lainnya berwarna kuning. Ini disebabkan oleh karena adanya timbunan

bilirubin (zat/ komponen yang berasal dari pemecahan hemoglobin dalam

sel darah merah) di bawah kulit.

Ikterus dikelompokkan menjadi dua yaitu Ikterus fisiologis yang

biasanya timbul pada hari kedua dan ketiga dan tanpa ada dasar patologis

sedangkan Ikterus patologis muncul pada 24 jam pertama bayi lahir dan

akan menetap selama 2 minggu dan kadar bilirubinnya melampaui batas

kadar hiperbilirubinemia. Penanganan pada bayi ikterus bermacam-macam

sesuai tingkatan dan kadar bilirubinnya.

4.2 Saran

Dalam pembuatan makalah ini , masih banyak terdapat kekurangan.

Oleh karena itu, sangat diperlukan kritik dan saran yang membangun agar

dalam pembuatan makalah selanjutnya lebih baik lagi. Selain itu, makalah

ini disarankan pula untuk dijadikan tolak ukur dalam pembuatan makalah-

makalah selanjutnya.

19
DAFTAR PUSTAKA

FKUI .1985. Ilmu Kesehatan Anak Jilid I. Jakarta: EGC

Mansjoer, A dkk. 2002. Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta : FKUI

Ngastiyah. 1997. Perawatan Anak Sakit. Jakarta: EGC

Pelatihan PONED Komponen Neonatal 28-30 Oktober 2004)

Saifudin, Sbdul Bari. 2002. Buku Acuan National Pelayanan Kesehatan Maternal

dan Neonatal. Jakarta: JNPKKR-POGI

Sarwono. 2005. Ilmu Kebidanan. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono

Salman. 2006. Asuhan Antenatal. Jakarta: EGC

Manuaba, Ida Bagus Gde. Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan dan KB untuk

Pendidikan Bidan. Jakarta: EGC

20