Anda di halaman 1dari 31

TUGAS MAKALAH

SISTEM PELUMASAN PADA TURBIN UAP

UNIVERSITAS INDONESIA

Oleh

Bina Restituta Barus 1806243323

PROGRAM STUDI MAGISTER TEKNIK KIMIA


DEPARTEMEN TEKNIK KIMIA
FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS INDONESIA
DEPOK 2018
1 ABSTRAK
2 DAFTAR ISI
3 DAFTAR TABEL
4 DAFTAR GAMBAR
5 BAB I. PENDAHULUAN

Latar Belakang
Pada suatu peralatan atau mesin dapat dipastikan bahwa terdapat banyak
komponen yang bergerak baik dalam bentuk angular maupun bentuk linear.
Gerakan relatif antar komponen mesin akan menimbulkan gesekan, dimana
gesekan ini dapat menurunkan efisiensi mesin, meningkatkan temperature,
keausan dan berbagai dampak negatif lainnya. Gesekan antara komponen mesin
tersebut salah satunya dapat diminimalkan dengan menggunakan sistem.

Turbin merupakan sebuah alat yang salah satunya digunakan untuk


membangkitkan suatu energi. Dalam aplikasinya, terdapat berbagai macam
turbin seperti turbin uap (steam turbine), turbin gas (gas turbine), dan turbin air
(water turbine). Salah satu manfaat turbin adalah

Tujuan
Tujuan dari penulisan makalah ini adalah:
1. Mempelajari pentingnya sistem pelumasan untuk kinerja dan ketahanan
operasi suatu mesin,
2. Mempelajari sistem pelumasan pada komponen-komponen yang bekerja
pada turbin uap.

Batasan Masalah
Sistematika Penulisan
6 BAB II. PEMBAHASAN

Deskripsi Turbin Uap


Turbin uap (steam turbine) merupakan suatu penggerak mula yang mengubah
energi potensial uap menjadi energi kinetik dan selanjutnya diubah menjadi
energi mekanis dalam bentuk putaran poros turbin.

Poros turbin, langsung atau dengan bantuan roda gigi reduksi, dihubungkan
dengan mekanisme yang akan digerakkan. Tergantung pada jenis mekanisme
yang digunakan, turbin uap dapat diaplikasikan pada berbagai bidang, seperti
pada bidang industri, pembangkit listrik, dan transportasi. Pada proses
perubahan energi potensial menjadi energi mekanismenya yaitu dalam bentuk
putaran poros dilakukan dengan berbagai cara.

Gambar 1. Penampang Turbin Uap


(sumber: Wikipedia, 2018)

Sebuah sistem turbin uap – generator yang digunakan untuk pembangkit tenaga
listrik tenaga uap (PLTU) berfungsi untuk mengkonversikan energi panas dari
uap menjadi energi listrik. Proses yang terjadi adalah energi panas yang
ditunjukkan oleh gradien atau perubahan temperatur dikonversikan oleh turbin
menjadi energi kinetik dan sudu-sudu turbin mengkonversikan energi kinetik ini
menjadi energi mekanik pada poros/shaft. Pada akhirnya, generator
mengkonversikan energi mekanik menjadi energi listrik. Panas dari uap air yang
tidak terkonversi menjadi energi mekanis, terdisipasi/dibuang di kondenser oleh
air pendingin.

Gambar 2. Ilustrasi Turbin Uap


(sumber: Mako-Lube, 2018)

Umumnya, PLTU menggunakan turbin uap tipe multistage, yaitu turbin uap yang
terdiri atas lebih dari satu stage turbin (High Pressure Turbin, Intermediate
Pressure, dan Low Pressure). Uap air lewat jenuh (superheated steam) yang
dihasilkan oleh boiler, masuk ke turbin high pressure (HP), dan keluar pada sisi
exhaust menuju ke boiler lagi untuk proses reheater. Uap air yang dipanaskan
kembali ini dimasukkan kembali ke turbin uap sisi intermediate pressure (IP), dan
uap yang keluar dari turbin IP akan langsung masuk ke turbin low pressure (LP).
Selanjutnya uap air yang keluar dari turbin LP masuk ke dalam kondenser untuk
mengalami proses kondensasi. Siklus kerja turbin uap dapat dilihat pada Gambar
3.

Komponen-komponen Turbin Uap


Berikut adalah beberapa bagian penting dari turbin uap yaitu:
1. Shaft Seal
Shaft seal adalah bagian dari turbin atara poros dengan casing yang berfungsi
untuk mencegah uap air keluar dari dalam turbin melewati sela-sela antara
poros dengan casing akibat perbedaan tekanan dan juga untuk mencegah
udara masuk ke dalam turbin (terutama turbin LP karena tekanan uap air yang
lebih vakum) selama turbin uap beroperasi.

Gambar 3. Siklus Kerja Turbin Uap


(sumber: Wikipedia, 2018)

Turbin uap menggunakan sistem labyrinth seal untuk shaft seal. Sistem ini
berupa bagian yang berkelok-kelok pada poros dan casing-nya yang kedua
sisinya saling bertemu secara berselang-seling. Antara labyrinth poros
dengan labyrinth casing ada sedikit rongga dan jarak tertentu. Sistem ini
bertujuan untuk mengurangi tekanan uap air di dalam turbin yang masuk ke
sela-sela labyrinth sehingga tekanan antara uap air dengan udara luar akan
mencapai nilai yang sama pada titik tertentu. Selain adanya sistem labyrinth
seal, ada satu sistem tambahan bernama sistem seal dan gland steam.
Sistem ini bertugas untuk menjaga tekanan di labyrinth seal pada nilai tertentu
terutama pada saat start up atau shut down turbin dimana pada saat tersebut
tidak ada uap air yang masuk ke dalam turbin uap.

2. Turbine Bearings
Bantalan (bearing) pada turbin uap memiliki fungsi sebagai berikut:
 Menahan diam komponen rotor secara aksial
 Menahan berat dari rotor
 Menahan berbagai macam gaya yang tidak stabil dari uap air terhadap
sudu turbin
 Menahan gaya kinetik akibat dari sisa-sisa ketidakseimbangan atau
ketidakseimbangan karena kerusakan sudu (antisipasi)
 Menahan gaya aksial pada beban listrik yang bervariasi

Jenis bearing yang digunakan dalam desain turbin uap yaitu thrust bearing,
journal bearing, dan kombinasi antara keduanya. Selain itu, juga dibutuhkan
sebuah sistem pelumasan menggunakan oli yang secara terus menerus
disirkulasi dan didinginkan untuk melumasi bearing yang terus mengalami
pergesekan pada saat turbin uap beroperasi normal.

3. Balance Piston
Pada turbin uap, ada 50% gaya reaksi dari sudu yang berputar menghasilkan
gaya aksial terhadap sisi belakang dari silinder pertama turbin, gaya inilah
yang perlu dilawan oleh sistem balance piston.

4. Turbine Stop Valves


Atau disebut juga Emergency Stop Valve karena berfungsi untuk mengisolasi
turbin dari suplai uap pada keadaan darurat untuk menghindari kerusakan
ataupun overspeed.

5. Turbine Control Valve


Berfungsi untuk mengontrol suplai dari uap air yang masuk ke dalam turbin
sesuai dengan sistem kontrol yang bergantung pada besar beban listrik.

6. Turning Device
Adalah suatu mekanisme untuk memutar rotor dari turbin pada saat start up
atau setelah shut down untuk mencegah terjadinya distorsi/bending akibat
dari proses pemanasan atau pendinginan yang tidak seragam pada rotor.
Prinsip Kerja Turbin Uap
Turbin uap terdiri dari sebuah cakram yang dikelilingi oleh daun-daun cakram
yang disebut sudu-sudu. Sudu-sudu ini berputar karena tiupan dari uap
bertekanan yang berasal dari turbin uap, yang telah dipanasi terlebih dahulu
dengan menggunakan bahan bakar padat, cair, ataupun gas.

Uap tersebut kemudian dibagi dengan menggunakan control valve yang akan
dipakai untuk memutar turbin yang dikopelkan langsung dengan pompa dan juga
sama halnya dikopel dengan sebuah generator sinkron untuk menghasilkan
energi listrik.

Setelah melewati turbin uap, uap yang bertekanan dan bertemperatur tinggi tadi
berganti menjadi uap bertekanan rendah. Panas yang sudah diserap oleh
kondenser menyebabkan uap berubah menjadi air yang kemudian dipompakan
kembali menuju boiler. Sisa panas dibuang oleh kondenser mencapai setengah
jumlah panas semula yang masuk. Hal ini mengakibatkan efisiensi
termodinamika suatu turbin uap bernilai lebih kecil dari 50%. Turbin uap yang
modern mempunyai temperatur boiler sekitar 5000-6000oC dan temperatur
kondenser 200-300oC.

Sistem Pelumasan Turbin Uap

Prinsip Dasar Pelumasan


Dua benda yang permukaannya saling berkontak antara satu dengan yang lain
akan menimbulkan gesekan. Gesekan adalah gaya yang cenderung
menghambat atau melawan gerakan. Apabila gesekan dapat mengakibatkan
kedua benda tersebut tidak dapat bergerak relatif satu terhadap lainnya, maka
jenis gesekannya disebut ‘gesekan statis’, contohnya antara mur dan baut.
Sedangkan apabila kedua benda masih dapat bergerak relatif satu terhadap
lainnya, maka dinamakan ‘gesekan dinamis’ atau ‘gesekan kinetik’, seperti
gesekan antara poros dengan bantalan. Gesekan dinamik akan menimbulkan
keausan material.
Keausan material dapat dikurangi dengan mengurangi besarnya gaya akibat
gesekan yaitu dengan cara menghindarkan terjadinya kontak langsung antara
dua permukaan benda yang bergesekan. Salah satu cara untuk menghindarkan
kontak langsung antara dua benda yang bergesekan adalah dengan
‘menyisipkan’ minyak pelumas di antara kedua benda tersebut. Cara ini
dinamakan ‘melumasi’ atau memberi pelumas.

Fungsi Utama Bahan Pelumas


Penggunaan minyak pelumas yang tepat merupakan syarat yang mutlak agar
kinerja mesin tetap konstan. Fungsi utama dari bahan pelumas antara lain:
(1) Mengurangi gesekan dan keausan
Mengurangi gesekan dan keausan dilakukan dengan memberikan lapisan
(film) untuk menghindari kontak langsung bagian-bagian mesin yang saling
bergesekan sehingga melindungi permukaan logam yang bersinggungan baik
yang meluncur atau yang menggelinding dari keausan. Hal ini merupakan
fungsi utama dari bahan pelumas.

(2) Memindahkan panas


Panas yang timbul akibat pergesekan seperti pada bantalan-bantalan atau
roda gigi dapat dipindahkan oleh minyak pelumas asalkan apabila tersedia
aliran minyak yang mencukupi. Demikian juga panas yang terjadi akibat dari
pembakaran. Minyak pelumas menjadi komponen pendingin dari piston,
silinder liner, dan lainnya dari panas pembakaran. Di samping itu, minyak
pelumas juga mendinginkan panas akibat gesekan. Panas yang diserap akan
mengakibatkan turunnya viskositas minyak pelumas.

(3) Menjaga sistem agar tetap bersih


Pelumas juga sebaiknya dapat mencegah terjadinya fouling serpihan-
serpihan yang dihasilkan dari proses mekanis, dari hasil degradasi pelumas
itu sendiri maupun dari hasil proses pembakaran. Deposit yang dimaksud
seperti karbon padat, varnish atau endapan. Hal ini dapat mengganggu
proses pengoperasian alat, misalnya ring piston tidak dapat bergerak ataupun
terjadinya penyumbatan aliran minyak, serta prtikel-partikel logam yang
akibat faktor keausan dan material abu yang berasal dari sisa pembakaran.
Seluruh impuriti tersebut harus dapat dibersihkan oleh suatu bahan pelumas.

(4) Melindungi sistem


Beban kejut dapat terjadi pada komponen mesin, di antaranya pada roda gigi.
Lapisan minyak pelumas akan memperkecil benturan di antara permukaan
roda gigi yang saling bersinggungan, sehingga dapat meredam getaran dan
noise.

(5) Mengurangi korosi


Pelumas dapat mengurangi laju korosi karena membentuk lapisan pelindung
pada permukaan logam sehingga kontak langsung antara zat penyebab
korosi dengan permukaan logam dapat dihindari atau dikurangi.

Jenis-jenis Pelumasan
(a) Pelumasan Hidrodinamis (Hydrodynamic Lubrication)
Pada pelumasan hidrodinamis, permukaan yang saling bergesekan baik
dalam gerakan meluncur atau menggelinding, dipisahkan oleh pelumas
secara sempurna. Tekanan pada lapisan tipis pelumas dibangkitkan oleh
gerakan relatif oleh kedua permukaan itu sendiri. Contoh aplikasi: gerakan
rotasi pada journal bearing.

Gambar 4. Ilustrasi Lubrikasi Hidrodinamis


(sumber: Mako-Lube, 2018)
(b) Pelumasan Hidrostatis
Pelumasan hidrostatis menggunakan pompa tekanan tinggi untuk mendorong
minyak pelumasan ke bagian-bagian yang bergerak. Pelumasan ini tidak
memerlukan gerakan relatif dan biasanya digunakan pada mesin-mesin yang
bagian bergeraknya berat seperti turbin (kapasitas besar). Untuk melakukan
suatu gerakan diperlukan tekanan besar pada minyak pelumas di antara
poros dan bantalan. Tekanan demikian dapat diperoleh dengan
menggunakan pompa tekanan tinggi yang akan menekan minyak pelumas ke
bagian-bagian yang bergesekan. Pompa tekanan rendah hanya berfungsi
sebagai pendistribusi atau sirkulasi minyak pelumas. Pelumasan hidrostatis
disebut juga pelumasan tekanan luar karena tekanan yang timbul diakibatkan
pengaruh kerja dari luar sistem. Setelah poros berputar dengan kecepatan
tinggi, biasanya pompa tekana tinggi akan dihentikan, berganti dengan
pompa tekanan rendah mulai bekerja untuk mendistribusikan minyak
pelumas.

Gambar 5. Ilustrasi Pelumasan Hidrostatis


(sumber: Mako-Lube, 2018)

(c) Pelumasan Elastohidrodinamis (Elastohydrodynamic Lubrication)


Pelumasan antara kedua permukaan yang bergerak sangat kecil seperti
kontak garis sehingga akan timbul tekanan yang besar pada lapisan tipis
tersebut. Pelumasan tipe ini mirip dengan pelumasan hidrodinamis.

Gambar 6. Ilustrasi Pelumasan Elastohidrodinamis


(sumber: Mako-Lube, 2018)
(d) Pelumasan Batas (Boundary Lubrication)
Adalah pelumasan dimana permukaan kedua benda yang saling bergesekan
dipisahkan oleh lapisan pelumas yang sangat tipis, sehingga pada beberapa
lokasi masih terjadi gesekan di antara kedua benda tersebut.

Gambar 7. Ilustrasi Pelumasan Batas


(sumber: oliindustriwordpress, 2018)

(e) Pelumasan Padat


Sistem pelumasan dimana antara permukaan kontak saling melumasi sendiri
oleh material padat yang dilapisi dan kadang menyatu pada elemen tersebut.

Gambar 7. Ilustrasi Pelumasan Padat


(sumber: microGLEIT product, 2018)

(f) Pelumasan Tekanan Ekstrim


Penggunaan pelumas jenis ini diperlukan pada kondisi kerja ekstrim, seperti
pemotongan logam atau roda gigi yang mengalami beban kejut. Pelumas
tekanan ekstrim ini merupakan senyawa minyak yang dapat larut dan
biasanya mengandung sulfur, klorin atau fosfor yang bereaksi dengan
permukaan bantalan pada temperatur tinggi, pelumasan terjadi saat lapisan
tipis minyak pelumas pecah, membentuk zat lapisan tipis yang titik lelehnya
tinggi, antara permukaan-permukaan yang berkontak. Pada proses
pelumasan tekanan ekstrim, sedikit keausan tidak dapat dielakkan antara
permukaan yang bergerak, namun tidak pada permukaan yang bergerak
relatif.

Jenis Pelumas
Pelumas dapat berwujud gas, cair, maupun padat. Semua jenis pelumas ini dapat
dibedakan menjadi dua yaitu pelumas alam dan pelumas buatan (sintetik). Dalam
aplikasinya, pelumas cair adalah jenis pelumas yang paling banyak digunakan.
Pelumas cair memiliki kelebihan yaitu kekuatan geser yang rendah dan tekanan
tekanan yang tinggi. Pelumas padat biasanya digunakan pada kondisi dimana
pelumas cair tidak dapat bertahan pada permukaan atau pada situasi khusus
seperti pada temperatur yang sangat rendah atau sangat tinggi. Sedangkan
pelumas berwujud gas atau udara digunakan pada kondisi yang sangat khusus
dimana dibutuhkan koefisien gesekan yang sangat rendah.

Tabel 1. Jenis-jenis Pelumas Cair


Karakteristik Penting untuk Pelumas Cair
Beberapa parameter penting yang dibutuhkan supaya proses pelumasan dapat
berfungsi dengan baik, antara lain:
 Viskositas
Viscosity atau kekentalan suatu minyak pelumas adalah pengukuran dari
mengalirnya bahan cair dari minyak pelumas, dihitung dalam ukuran
standard. Makin besar perlawanannya untuk mengalir, berarti makin tinggi
viscosity-nya, begitu juga sebaliknya.
 Viscosity Index
Tinggi rendahnya indeks ini menunjukkan ketahanan kekentalan minyak
pelumas terhadap perubahan suhu. Makin tinggi angka indeks minyak
pelumas, makin kecil perubahan viscosity-nya pada penurunan atau kenaikan
suhu. Nilai viscosity index ini dibagi dalam 3 golongan, yaitu:
 HVI (High Viscosity Index) di atas 80.
 MVI (Medium Viscosity Index) 40 – 80.
 LVI (Low Viscosity Index) di bawah 40.
 Flash Point
Flash point atau titik nyala merupakan suhu terendah pada waktu minyak
pelumas menyala seketika. Pengukuran titik nyala ini menggunakan alat-alat
yang standard, tetapi metodenya berlainan tergantung dari produk yang
diukur titik nyalanya.
 Pour Point
Merupakan suhu terendah dimana suatu cairan mulai tidak bisa mengalir dan
kemudian menjadi beku. Pour point perlu diketahui untuk minyak pelumas
yang dalam pemakaiannya mencapai suhu yang dingin atau bekerja pada
lingkungan udara yang dingin.
 Total Base Number (TBN)
Menunjukkan tinggi rendahnya ketahanan minyak pelumas terhadap
pengaruh pengasaman, biasanya pada minyak pelumas baru (fresh oil).
Setelah minyak pelumas tersebut dipakai dalam jangka waktu tertentu, maka
nilai TBN ini akan menurun. Untuk mesin bensin atau diesel, penurunan TBN
ini tidak boleh sedemikian rupa hingga kurang dari 1, lebih baik diganti dengan
minyak pelumas baru, karena ketahanan dari minyak pelumas tersebut sudah
tidak ada.
 Carbon Residue
Merupakan jenis persentasi karbon yang mengendap apabila oli diuapkan
pada suatu tes khusus.
 Density
Menyatakan berat jenis oli pelumas pada kondisi dan temperatur tertentu.
 Emulsification dan Demulsibility
Sifat pemisahan oli dengan air. Sifat ini perlu diperhatikan terhadap oli yang
kemungkinan bersentuhan dengan air.

Selain ciri-ciri fisik yang penting seperti telah dijelaskan sebelumnya, minyak
pelumas juga memiliki sifat-sifat penting, yaitu:
 Sifat kebasaan (alkalinity)
Untuk menetralisir asam-asam yang terbentuk karena pengaruh dari luar (gas
buang) dan asam-asam yang terbentuk karena terjadinya oksidasi.
 Sifat detergency dan dispersancy
Sifat detergency, untuk membersihkan saluran-saluran maupun
bagian-bagian dari mesin yang dilalui minyak pelumas, sehingga tidak
terjadi penyumbatan.
Sifat dispersancy, untuk menjadikan kotoran-kotoran yang dibawa oleh
minyak pelumas tidak menjadi mengendap, yang lama-kelamaan
dapat menjadi semacam lumpur (sludge). Dengan sifat dispersancy ini,
kotoran-kotoran tadi dipecah menjadi partikel-partikel yang cukup
halus serta diikat sedemikian rupa sehingga partikel-partikel tadi tetap
mengembang di dalam minyak pelumas dan dapat dibawa di dalam
peredarannya melalui sistem penyaringan. Partikel yang bisa tersaring
oleh filter, akan tertahan dan dapat dibuang sewaktu diadakan
pembersihan atau penggantian filter elemennya.
 Sifat tahan terhadap oksidasi
Untuk mencegah minyak pelumas cepat beroksidasi dengan uap air yang
pasti ada di dalam karter, yang pada waktu suhu mesin menjadi dingin akan
berubah menjadi embun dan bercampur dengan minyak pelumas. Oksidasi
ini akan mengakibatkan minyak pelumas menjadi lebih kental dari yang
diharapkan, serta dengan adanya air dan belerang sisa pembakaran maka
akan bereaksi menjadi H2SO4 yang sifatnya sangat korosif.

Aditif Minyak Pelumas


Aditif atau bahan tambahan yang dicampurkan ke dalam minyak pelumas
bertujuan untuk memperbaiki sifat pelumas tersebut. Aditif yang dapat digunakan
antara lain:
 Pour point depressants, bertujuan untuk menurunkan titik tuang.
 Oxidation inhibitor, adalah zat antioksidan agar minyak pelumas tidak
membentuk asam yang akan mengakibatkan korosi dan meningkatkan
kekentalannya.
 Viscosity index improver, digunakan untuk memperbaiki indeks viskositas.
 Antifoam agent, adalah zat aditif yang dapat memecah gelembung udara yang
timbul pada minyak pelumas, terutama pada sistem sirkulasinya.
 Rust and corrosion inhibitor, untuk mengurangi timbul karat dan korosi.
 Extreme pressure additive, berguna untuk meningkatkan kemampuan minyak
pelumas dalam menahan desakan, sehingga lapisan minyak pelumas tidak
mudah terdesak meninggalkan permukaan yang perlu mendapatkan
pelumasan.

Purifikasi Minyak Pelumas


Pada sistem pelumasan selalu terbuka kemungkinan tercemarnya pelumasan
oleh kontaminasi sehingga terjadi penurunan minyak pelumas. Agar kondisinya
tetap baik dan memperpanjang masa pakai, maka minyak pelumas harus dirawat
dengan baik.
Beberapa metode perawatan untuk pemurnian minyak pelumas, yaitu:
a) Penggantian sebagian minyak pelumas secara periodik
b) Filtrasi, dilakukan dengan cara mengeluarkan seluruh minyak pelumas dari
sistem pelumasan, untuk selanjutnya sistem diisi minyak pelumas baru atau
minyak lama yang sudah difiltrasi.
c) Oil conditioning, menggunakan oil conditioner yang berupa instalasi pemulih
kondisi minyak pelumas. Instalasi ini dapat dipasang secara tetap dan
menjadi bagian dari sistem pelumasan. Komponen yang ada dalam instalasi
oil conditioner antara lain pompa sirkulasi, mesh filter, magnetic filter, heater,
gas extractor, dan centrifuge. Instalasi oil conditioner dihubungkan dengan
tangki minyak pelumas pada sistem pelumasan. Secara kontinu sebagian
kecil minyak pelumas disirkulasikan melalui instalasi oil conditioner. Minyak
yang sudah bersih dikembalikan ke tangki atau disimpan dalam tangki
cadangan. Apabila level minyak pelumas di dalam tangki turun, maka
ditambahkan minyak pelumas baru atau minyak pelumas yang telah
dibersihkan.

Komponen Utama Penyuplai Pelumasan Turbin Uap

Sistem pelumasan pada turbin uap dikenal dengan istilah Lube Oil System yang
berfungsi untuk melakukan pelumasan secara kontinu pada setiap komponen
turbin uap. Sistem pelumasan bertugas untuk mensuplai minyak pelumas yang
bersih dengan tekanan dan temperatur tertentu ke dalam bantalan turbin,
bantalan kompresor, bantalan load gear, sistem kontrol, sistem pengaman, dan
lainnya. Turbin uap tidak dapat beroperasi tanpa adanya pelumasan atau
lubrikasi. Oleh karena itu, lube oil system steam turbine harus dirancang,
dioperasikan, dan dipelihara untuk keandalan ekstrim operasi.

Komponen utama penyuplai pelumasan yang biasanya dipasang pada engine


bedplate yang terdiri dari:
(1) Oil tank (lube oil reservoir)
Oil tank berfungsi sebagai penampung suplai pelumas ke sistem, tempat
sementara minyak pelumas yang bersirkulasi untuk sistem, menyediakan
kondisi penghisapan yang memadai untuk semua oil pump, dan menampung
pelumas pada saat terjadi trip dalam sistem.
(2) Oil cooler
Oil cooler berfungsi untuk mendinginkan minyak pelumas yang panas supaya
temperaturnya kembali ke keadaan semula. Media pendingin oli yang
umumnya digunakan adalah air. Temperatur keluar bantalan berkisar antara
62-65oC dan turun menjadi sekitar 45oC setelah didinginkan.
(3) Pompa
Pada turbin uapm terdapat 4 unit pompa yang digunakan untuk menyuplai
minyak pelumas untuk kepeluan lubrikasi, yaitu:
 Main lube oil pump, merupakan pompa utama yang digerakkan oleh HP
shaft pada gear box yang mengatur tekanan discharge lube oil.
 Auxilary lumb oil pump, merupakan pompa lube oil yang digerakkan oleh
tenaga listrik, beroperasi apabila tekanan dari main pump turun.
 Emergency lube oil pump, merupakan pompa yang beroperasi apabila
kedua pompa di atas tidak mampu menyuplai lube oil.
 Jack oil pump, berfungsi untuk mengangkat poros turbin pada saat turbin
akan diputar dan memberikan pelumasan pada journal bearing.
(4) Filter system
Oil filter berfungsi agar kondisi minyak pelumas selalu bersih, sehingga dalam
sirkulasinya filter membersihkan pelumas secara periodik.
(5) Valving system
Berfungsi sebagai instrumen pengontrol laju aliran minyak pelumas untuk
memenuhi sistem lubrikasi sebuah turbin uap.
(6) Instrumen untuk oli
Beberapa instrumen pendeteksi juga diinstalasikan untuk memonitor
temperatur, tekanan, dan level sesuai dengan yang ditetapkan. Di samping
detektor-detektor tersebut, dilengkapi juga dengan signal alarm dan peralatan
trip. Salah satu contoh batasan temperatur dan tekanan minyak pelumas
pada turbin uap adalah sebagai berikut:
 Temperatur minyak pelumas dalam reservoir : min. 27oC
 Temperatur minyak pelumas masuk bearing : maks. 70oC
 Temperatur minyak pelumas keluar bearing : maks. 90oC
 Tekanan minyak pelumas masuk bearing : 1.5 bar (normal)
: min. 1 bar (alarm)
: 0.8 bar (trip)
Gambar 8. Komponen Sistem Pelumasan Turbin Uap

Mekanisme Kerja Sistem Pelumasan

Dalam melakukan sirkulasi untuk pelumasan, sistem bekerja dengan mekanisme


sebagai berikut:
1. Minyak pelumas yang tersimpan dalam oil tank didinginkan, difiltrasi,
didistribusikan ke alat terakhir dan kembali ke oil tank,
2. Oil tank dipanaskan untuk pengkondisian awal (initial condition) dengan
temperatur lokal/esksisting,
3. Oil tank juga berfungsi untuk settling column untuk mencegah kotoran dan air
terikut dalam sistem suplai dan sirkulasi,
4. Waktu tinggi minyak pelumas dalam oil tank umumnya selama 10 menit dari
aliran normal dan total volume di bawah level operasi minimum,
5. Level rundown, yaitu level tertinggi minyak dalam oil tank yang diizinkan
selama sistem tidak bekerja,
6. Sistem pelumasan dilengkapi dengan pompa minyak utama dan katup
kendali, dengan kapasitas pompa harus 10-15% lebih besar dari pemakaian
sistem maksimum.

Komponen Turbin Uap yang Memerlukan Pelumasan


1. Journal dan Thrust Bearing
Journal dan thrust bearing merupakan jenis sliding bearing yang memerlukan
geseran langsung dari elemen yang membawa beban pada tumpuannya.
 Journal bearing, yang bentuknya silindris dan menahan beban radial
(tegak lurus terhadap sumbu poros),
 Thrust bearing, yang bentuknya datar, dimana pada kasus poros yang
berputas, dapat menahan beban yang searah dengan sumbu poros.

Pada kasus poros yang berputar, bagian poros yang berkontak dengan
bantalan disebut journal. Bagian yang datar pada bantalan yang melawan
gaya aksial disebut thrust surfaces. Bantalan ini sendiri dapat disatukan
dengan rumah atau crankcase, tetapi biasanya berupa shell tipis yang dapat
diganti dengan mudah dan yang menyediakan permukaan bantalan yang
terbuat dari material tertentu seperti babbit atau bronze.

Gambar 9. Contoh Konstruksi Journal Bearing dan Thrust Bearing


Fungsi lube oil pada bearing adalah untuk:
 Menghilangkan panas yang dihasilkan pada bearing,
 Menghilangkan debris/impuritis dari load area.

2. Roda Gigi (Gear)


Pentingnya pelumasan pada gear dikarenakan beban kejut dan beban
berlebih yang ditimpakan pada bagian ini. Sehingga menimbulkan tekanan
ekstrim yang menyebabkan adanya persyaratan khusus minyak pelumas
untuk aplikasi gear. Gear harus terlumasi secara kontinu dan dalam kondisi
bersih. Pelumasan pada gear harus bekerja secara memuaskan untuk gear
system dan gear bearing. Parameter viskositas menjadi faktor paling penting
dalam pemilihan pelumas untuk gear. Hal ini disebabkan karena viskositas
berkaitan dengan beban, kecepatan, dan temperatur. Faktor lainnya adalah
penambahan aditif tekanan ekstrim (EP/extreme pressure), indeks viskositas
(berkaitan dengan temperatur), dan stabilitas oksidasi (berkaitan dengan
temperatur dan kontaminasi). Ketebalan film minyak pelumas berfungsi untuk
mempertahankan kecepatan operasi. Dari beberapa sumber disebutkan
bahwa gear unit dengan kecepatan tinggi (di atas 5000 rpm) kerap
membutuhakn minyak heaver yang lebih berat dari ISO grade 100.

Gambar 10. Unit Gear pada Steam Turbine


3. Governour
Setelah turbin beroperasi, oil control menuju ke spindle katup throttle yang
dikendalikan oleh governour, yang memungkinkan banyak atau sedikitnya oil
ke spindle throttle, serta mengatur kecepatan aliran minyak pelumas.

Pilihan Minyak Pelumas untuk Turbin Uap

Pelumas turbin harus memiliki ketahanan termal dan oksidasi yang sangat baik
pada temperatur minyak bearing turbin uap mendekati 100oC. Pelumas turbin
harus mengendalikan karat dan korosi yang dapat merusak permukaan presisi,
menahan foaming , dan entrainment udara yang dapat menyebabkan degradasi
pelumas dan kerusakan peralatan, serta memiliki indeks viskositas tinggi yang
memungkinkan kinerja pelumas yang lebih homogen pada berbagai temperatur
operasi. Lainnya, harus mudah difiltrasi tanpa mengurangi kandungan aditif.
Pelumas turbin harus serba guna, dapat berfungsi baik sebagai oli pelumas dan
cairan hidrolik untuk berbagai steam turbin, generator, unit gear, dan komponen
tambahan lainnya. Produk pelumas yang diminati dalam industri turbin adalah
nilai ISO 32,46, dan 68. TERSSTIC GT 32 adalah contoh yang baik dari pelumas
turbin super-premium berbasis minyak bumi (mineral) untuk turbin uap dan turbin
gas. Dimana produsen turbin juga menawarkan minyak viskositas yang lebih
tinggi seperti ISO 46, 68, atau 77.
Minyak pelumas turbin uap juga diharapkan dapat memberikan layanan operasi
tahunan tanpa masalah. Berikut rekomendasi dalam pemilihan spesifikasi
minyak pelumas, yaitu:
 Kandungan nilai asam maks. 0.3 mg KOH/gr sampel
 Kandungan air (maksimum 200 ppm)
 Cleanliness, diperlukan untuk mengetahui sumber partikulat seperti minyak,
debu, dll.
 Uji oksidasi bom rotary (RBOT), kurang dari setengah nilai hasil uji minyak
pelumas baru.
7 BAB III. KESIMPULAN
DAFTAR PUSTAKA
Persyaratan Pelumasan

Komponen bearing turbin harus dilumasi untuk mencegah kerusakan yang


diakibatkan keausan atau kenaikan temperatur, untuk mengangkat shaft/poros
generator turbin sebelum perputaran shaft. Sistem jacking oil diperlukan untuk
menyediakan fungsi ini.

Tujuan lubrikasi bearing adalah sebagai berikut:


 Menyediakan bantalan minyak hidrodinamis antara bearing dan shaft,
 Menyediakan aliran minyak untuk menjaga logam putih pada bearing di bawah
110oC. Panas pada bearing dihasilkan oleh:
 Konduksi termal
 Friksi antara lapisan minyak, journal (bagian shaft di dalam bearing), dan
logam putih pada bearing
 Turbulensi dalam minyak sendiri

Temperatur minyak yang meninggalkan bearing umumnya dibatasi sekitar 71oC.


turbin uap model lama menggunakan minyak yang sama untuk pelumasan,
kontrol dan proteksi turbin (fig. 8.1). Sedangkan turbin uap modern menggunakan
fire-resistant fluid (FRF) dengan tekanan 7-17.5 MPa untuk sistem kontrol turbin.
Gambar 8.2 mengilustrasikan sistem minyak pelumas untuk modern unit. Pompa
sentrifugal mendorong minyak pada tekanan 1.1 MPa. Minyak dari pompa ini
mengalir melalui turbin minyak. Tekanan minyak dikurangi saat melewati turbin
menjadi 0.3 MPa. Turbin minyak menggerakkan pompa booster yang menyuplai
minyak dari tangka utama ke suction pompa sentrifugal. Sistem ini diproteksi
untuk mencegah overpressure dengan memasang relief valve pada tangki
minyak. Relief valve dihubungkan ke saluran penyuplai minyak bearing. Selama
operasi normal, pompa minyak utama menyediakan suplai minyak pelumas.
Pompa minyak auxiliary AC menyediakan pelumasan selama start-up dan
shutdown. Pompa minyak auxiliary DC menyediakan pelumasan saat shutdown
emergency (jika AC tidak dapat menyuplai) atau ketika AC pump gagal suplai.
Minyak pelumas juga disuplai untuk seal hydrogen generator dari sistem ini.
Kebanyakan TU modern memiliki sistem seal oil terpisah untuk mencegah
kontaminasi minyak utama dengan hydrogen. Pada unit ini, suplai dari minyak
pelumas utama digunakan sebagai backup untuk sistem seal oil. Pada unit
modern, sistem minyak pelumas menyuplai komponen berikut:
 Semua journal bearing dari turbin, generator, dan exciter
 Main thrust surge bearing
 Generator hydrogen seal (suplai utama atau sistem backup)
 Bearing pada turbin-driven boiler feed pump (di pabrik yang memiliki fitur ini)
 Sistem minyak pelumas juga memiliki filter, strainer, cooler dan vent tangki

Insert to fig. 8.1 dan 8.2

Tangki minyak pelumas terhubung dengan unit berikut:


 Clean-oil tank
 Dirt-oil tank
 Oil purification system

Pompa dan perpipaan melayani bagian berikut:


 Dari clean-oil tank ke unit oil tank melalui oil purification unit
 Dari used-oil tank ke unit oil tank melalui oil purification unit
 Untuk drain semua minyak dalam sistem ke unit oil tank
 Untuk mentransfer semua minyak dari unit oil tank ke station used-oil tank
 Untuk mentransfer semua minyak dari road oil tanker ke station clean-oil
tank
 Untuk mentransfer semua minyak dari station used-oil tank ke road oil
tanker
 Untuk memproses minyak dalam unit tank atau minyak dalam station
clean-oil tank melalui purifier
 Untuk memproses minyak dalam unit tank atau station clean-oil tank
melalui unit purifier minyak portable
Fig. 8.3 mengilustrasikan skema peralatan.

Pompa (Pump)
Pompa Minyak Pelumas Utama (Main Lubricating Oil Pump)
Pompa Booster Minyak Penggerak Turbin (Turbine-Driven Booster Pump)
Pompa Minyak Auxiliary Penggerak Motor AC dan DC (AC and DC Motor-Driven
Auxiliary Oil Pumps)
Jacking Oil Pumps dan Priming Pumps

Tangki Minyak (Oil Tanks)

Perpipaan (Piping)
Pendingin Minyak (Oil Coolers)
Oil Strainer dan Filter

Oils dan Greases


Minyak (Oils)
Penggunaan minyak untuk turbin uap harus menyediakan fungsi berikut:
 Penurunan panas
 Penghilangan impurity dari bearing
 Meminimalisir korosi dan oksidasi
Persyaratan minyak pelumas turbin ditunjukkan dalam table 8.1. minyak
mengandung sejumlah aditif untuk mencegah oksidasi, korosi, dan busa.
1. Oxidation inhibitor, fungsi menstabilkan laju oksidasi, juga melapisi logam
yang dapat mengkatalisis kenaikan laju oksidasi. Inhibitor ini dijaga memiliki
tingkat keasaman yang rendah (angka netral) dalam minyak selama waktu
tahunan.
2. Rust inhibitor, fungsi melindungi permukaan CS dari karat ketika berkontak
dengan air (water entrained) pada minyak.
3. Detergent additives, fungsi mengurangi laju oksidasi temperature tinggi,
formasi sludge pada temperature rendah, dan pembentukan
kontaminan.
4. Viscosity index improvers, fungsi mereduksi penurunan minyak akibat
kenaikan temperature.
5. Pour-point depressants, fungsi mengurangi solidifikasi temperature minyak.
6. Antifoaming agents fungsi menekan busa akibat aerasi minyak, juga
membantu pelepasan udara dari minyak.

Minyak pelumas baru umumnya memiliki keasaman (total) sekitar 0.02-0.1 mg


KOH/g. keasaman minyak baru akan perlahan meningkat jika minyak
mengandung sejumlah aditif. Selama operarasi, TAN min meningkat. Hal ini
disebabkan oleh fakta bahwa minya teroksidasi menjadi asam organic. Tingkat
keasaman minyak merupakan indicator utama untuk menilai kondisi/kualitas
minyak. Hal ini dibutuhkan untuk proses purifikasi dan conditioning minyak
berdasarkan tingkat keasaman. Paparan air dalam minyak turbin merupakan
masalah yang umum terjadi. Kontaminasi ini tampak seperti material kuning atau
hitam, mirip grease. Pertumbuhan ini terjadi pada sedimen dalam sistem minyak
dan sulit untuk menghilangkannya dari sistem.
Hal yang perlu diperhatikan:
 Meminimalisir kandungan air dalam minyak dengan menggunakan sistem
purifikasi minyak. Konsentrasi air dalam minyak harus dijaga kurang dari
0.05%.
 Menghilangkan sludge dari dasar sistem pelumasan secara regular.
 Jika pertumbuhan bakteri atau jamur terjadi, gunakan sejumlah biocide.