Anda di halaman 1dari 40

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Knee joint adalah persendian yang terbentuk dari femorotibial joint

dan patellofemoral joint. Femorotibial joint adalah persendian yang

terbentuk dari femur dan tibia. Patellofemoral joint terbentuk dari patella

dan permukaan anterior dari distal femur. Fibula tidak termasuk pada

knee joint karena fibula tidak berhubungan dengan aspek apapun pada

femur. Head of fibula berhubungan dengan lateral condylus dari tibia,

yang dihubungkan oleh ligamen. Ligamen yang menghubungkan fibula

dengan lateral condylus tibia adalah fibular lateral collateral ligament atau

LCL.

Patologi yang ada pada knee joint yaitu fraktur, dislocation,

osteoarthritis, osteosarcoma, kerusakan meniscus, bursitis,

patellofemoral pain syndrome, dan tendinitis. Pada kesempatan kali ini,

penulis akan membahas tentang osteoarthritis pada knee joint.

Osteoarthritis adalah suatu kondisi yang menyebabkan sendi terasa sakit,

kaku, dan bengkak. Osteoarthritis merupakan salah satu jenis arthritis

yang paling sering terjadi.

Kasus osteoarthritis, tulang rawan akan mengalami kerusakan secara

perlahan. Tulang rawan merupakan jaringan ikat padat yang kenyal, licin,

serta elastis. Saat tulang rawan mengalami kerusakan, teksturnya akan

menjadi kasar. Seiring berjalannya waktu, tulang akan bertabrakan dan

sendi akan terganggu pergerakannya. Faktor yang mempengaruhi

1
seseorang terkena osteoarthritis yaitu usia, jenis kelamin, cedera pada

sendi, obesitas, dan faktor keturunan.

Rasa sakit pada sendi biasanya akan muncul ketika sendi digerakkan

dan akan terasa kaku apabila sendi tidak digerakkan beberapa waktu.

Gejalanya berupa kelenturan sendi yang menurun, adanya suara

gesekan saat sendi digerakkan, sendi mudah nyeri, otot melemah, dan

massa otot berkurang.

Untuk memenuhi kebutuhan diagnosa, maka perlu dilakukan

pemeriksaan radiologi. Pemeriksaan radiologi knee joint ada beberapa

proyeksi yaitu antero-posterior, oblique, lateral, antero-posterior weight

bearing bilateral, dan postero-anterior axial weight bearing metode

Rosenberg. (Bontrager 2014).

Pada Instalasi Radiologi RS Ortopedi Prof. DR. R. Soeharso

Surakarta juga memiliki prosedur pemeriksaan untuk radiologi knee joint,

yaitu antero-posterior dan lateral. Dalam beberapa kasus, ada

pemeriksaan antero-posterior weight bearing bilateral, tapi standar dari

rumah sakit tersebut apabila tidak ada keterangan antero-posterior weight

bearing bilateral dari dokter dan pasien tidak bisa berdiri, maka akan

dilakukan pemeriksaan knee joint proyeksi antero-posterior dengan posisi

pasien supine di atas meja pemeriksaan.

Pemeriksaan knee joint dengan proyeksi antero-posterior weight

bearing bilateral memiliki hasil yang berbeda dengan proyeksi antero-

posterior biasa. Proyeksi antero-posterior weight bearing bilateral lebih

memudahkan pasien yang tidak mampu untuk meluruskan knee joint

secara penuh, seperti pasien dengan indikasi arthritis. Dalam posisi

2
bilateral ini, juga dapat digunakan sebagai perbandingan antara dextra

knee dan sinistra knee. Apabila pasien dengan indikasi arthritis pada

knee joint diperiksa menggunakan proyeksi antero-posterior, maka

hasilnya akan kurang maksimal.

Penulis akhirnya memutuskan untuk mengangkat kasus ini kedalam

sebuah laporan kasus dengan judul “Teknik Pemeriksaan Knee Joint

Pada Kasus Osteoarthritis di Instalasi Radiologi Rumah Sakit Ortopedi

Prof. DR. R. Soeharso Surakarta”.

1.2 Rumusan Masalah

1.2.1 Bagaimana prosedur pemeriksaan knee joint pada Instalasi

Radiologi RS Ortopedi Prof. DR. R. Soeharso Surakarta?

1.2.2 Mengapa perlu dilakukan pemeriksaan radiologi knee joint pada

pasien dengan kasus osteoarthritis di Instalasi Radiologi RS

Ortopedi Prof. DR. R. Soeharso Surakarta?

1.2.3 Mengapa di Instalasi Radiologi RS Ortopedi Prof. DR. R.

Soeharso Surakarta menggunakan standar proyeksi antero-

posterior dan lateral weight bearing untuk pemeriksaan radiologi

knee joint?

1.3 Tujuan Penulisan

1.3.1 Untuk mengetahui prosedur pemeriksaan knee joint di Instalasi

Radiologi RS Ortopedi Prof. DR. R. Soeharso Surakarta.

3
1.3.2 Untuk mengetahui alasan perlunya dilakukan pemeriksaan

radiologi knee joint dengan kasus osteoarthritis di Instalasi

Radiologi RS Ortopedi Prof. DR. R. Soeharso Surakarta.

1.3.3 Untuk mengetahui alasan di Instalasi Radiologi RS Ortopedi Prof.

DR. R. Soeharso Surakarta menggunakan standar proyeksi

antero-posterior dan lateral weight bearing untuk pemeriksaan

radiologi knee joint.

1.4 Manfaat Penulisan

1.4.1 Dapat digunakan sebagai tambahan referensi bahan ajar,

khususnya di bidang radiologi.

1.4.2 Dapat digunakan untuk memperdalam pengetahuan tentang teknik

pemeriksaan radiologi knee joint.

4
BAB II

TINJAUAN TEORI

2.1 Anatomi

Dalam melakukan aktivitasya, manusia menggunakan anggota

gerak bawah atau ekstremitas bawah. Pada ekstermitas bawah terdapat

persendian, salah satunya adalah knee joint yang merupakan persendian

kompleks antara femorotibial joint dengan 2 condylus dari femur dan

berhubungan dengan condylus dari tibia. (Bontrager 2014).

Gambar 2.1 Knee joint tampak lateral. (Bontrager 2014)

5
Bagian yang termasuk dalam knee joint yaitu, distal femur, patella,

proksimal cruris, fibular lateral collateral ligament, tibial medial collateral

ligament, posterior cruciate ligament, anterior cruciate ligament,

femorotibial joint, dan patellofemoral joint.

2.1.1. Distal Femur dan Patella Tampak Lateral

Gambar 2.2 Distal femur dan patella tampak lateral. (Bontrager 2014)

Dari sisi lateral, menunjukkan hubungan antara permukaan

patella dengan distal femur. Ketika anggota gerak bawah

difleksikan, maka patella akan menurun dan tertarik masuk ke

intercondylar sulcus. Fleksi 45o , seperti pada gambar,

menunjukkan patella hanya bergerak menurun sebagian. Apabila

fleksi 90o, patella akan menurun lebih jauh dari distal femur.

Pergerakan dan hubungan dari patella dengan distal femur ini

penting dalam memposisikan knee joint untuk mencari central

point dari femoropatellar joint.

6
2.1.2. Distal Femur dan Patella Tampak Axial

Gambar 2.3 Distal femur dan patella tampak axial. (Bontrager 2014)

Proyeksi axial menunjukkan hubungan dari permukaan

patella dengan intercondylar sulcus. Jarak pada femoropatellar

joint tergambar jelas pada posisi axial. Bagian lain dari distal

femur juga tergambar jelas. Bagian os intercondylar terlihat sangat

dalam pada aspek posterior dari femur. Epicondylus terlihat tidak

rata pada sisi medial dan lateral.

2.1.3. Patella

Gambar 2.4 Patella. (Bontrager 2014)

Patella adalah sebuah tulang yang berbentuk seperti

segitiga dengan diameter kurang lebih 5 cm. Patella dapat muncul

ke atas atau bawah karena apex patella terletak pada bagian

inferior, base patella terletak di superior. Bagian luar dari

permukaan anterior berbentuk cembung dan tidak rata. Bagian

7
dalam patella atau permukaan posterior lembut dan berbentuk

oval untuk sambungan dengan femur. Patella bertujuan untuk

melindungi aspek anterior dari knee joint.

Patella dapat bergerak pada posisi lebih ke atas atau

superior ketika ekstremitas bawah diekstensikan. Jika ekstremitas

bawah difleksikan, otot akan mengetat, bergerak ke arah distal,

dan mengunci posisinya. Patella hanya berhubungan dengan

femur, tidak dengan tibia.

2.1.4. Proximal Tibiofibular Joint dan Ligament Knee Joint

Gambar 2.5 Knee joint dan proksimal tibiofibular joint tampak

anterior oblique. (Bontrager 2014)

Proksimal fibula bukan bagian dari knee joint karena tidak

berhubungan dengan aspek apapun dari femur, meskipun fibular

lateral collateral ligament atau LCL membentang dari femur ke

lateral proksimal fibula. Head of fibula berhubungan dengan

lateral condylus dari tibia, yang dilekatkan oleh ligament tersebut.

Ligament knee joint yang ditunjukkaan pada posisi posterior

berupa tibia medial collateral ligament atau MCL, terletak di

8
medial, posterior cruciate ligament atau PCL dan anterior cruciate

ligament atau ACL yang terletak diantara kapsul knee joint. ACL,

PCL, LCL, dan MCL biasanya digunakan untuk acuan keempat

ligament ini.

2.2 Patologi

Cedera lutut bisa terjadi pada salah satu struktur penyusun lutut

yaitu ligament, tulang rawan, atau tulang keras. Cedera lutut dapat

menghambat kegiatan penderitanya dan umunya cedera tersebut terjadi

saat berolahraga. Cedera yang sering terjadi pada persendian biasanya

dislocationi. Berikut adalah berbagai macam penyakit atau patologi yang

mungkin terjadi pada knee joint :

2.2.1. Fraktur

Fraktur atau patah tulang pada knee joint diakibatkan oleh

hantaman langsung pada knee joint. Hal ini bisa terjadi saat jatuh

dan posisi tempurung knee joint menjadi tumpuan atau penahan

bobot tubuh. Fraktur juga bisa terjadi akibat tekanan mendadak,

terutama pada orang yang sudah menderita osteoporosis.

Gambar 2.6 Fraktur knee joint

9
2.2.2. Dislocation

Dislocation pada knee joint ada 2, yaitu dislocation patella

dan dislocation sendi. Pada dislocation patella, patella ini

berpindah ke sisi lateral atau medial dari knee joint. Seringkali

disebabkan oleh cedera sat berolahraga sedangkan dislocation

sendi terjadi karena knee joint mengalami hantaman yang kuat,

sehingga pergeserannya sangat tinggi. Benturan dapat terjadi saat

berolahraga atau kecelakaan. Cedera ini mengakibatkan

kerusakan parah pada komponen penyusun knee joint. Kerusakan

dapat terjadi pada sistem syaraf maupun pembuluh darah.

Gambar 2.7 Dislocation knee joint

10
2.2.3. Osteoarthritis

Osteoarthritis adalah kondisi yang menyebabkan sendi

terasa sakit, kaku, dan bengkak. Osteoarthritis merupakan salah

satu arthritis yang paling sering terjadi. Tulang rawan akan

mengalami kerusakan secara perlahan. Saat tulang rawan

mengalami kerusakan, teksturnya menjadi kasar. Seiring

berjalannya waktu, tulang akan bertabrakan dan sendi akan

terpengaruhi.

Gambar 2.8 Osteoarthritis knee joint

Faktor yang meningkatkan resiko seseorang terkena

osteoarthritis yaitu usia, janis kelamin, cedera pada sendi,

obesitas, faktor keturunan, cacat tulang, pekerjaan, dan menderita

kondisi arthritis lainnya.

Gejala yang muncul yaitu kelenturan sendi akan menurun,

terdapat suara gesekan saat sendi digerakkan, sendi mudah nyeri,

otot melemah, dan massa otot berkurang.

11
2.2.4. Osteosarcoma

Osteosarcoma adalah kanker yang menyerang tulang.

Penyakit ini ditandai dengan gejala seperti pembengkakan

progresif disertai nyeri dan demam. Osteosarcoma cenderung

tumbuh pada femur, humerus, atau knee joint. Kanker ganas pada

knee joint paling sering ditemui.

Gambar 2.9 Osteosarcoma knee joint

Jika penyakit sudah pada stadium lanjut, harus ditangani

oleh ahli bedah ortopedi, patologi, dan radiologi untuk mengambil

jaringan dari sel tubuh untuk diperiksa, jika ditemukan keganasan

dan sudah terjadi penyebaran, akan dilakukan tindakan

pembedahan dan pengangkatan dan apabila lokasi kanker tidak

bisa diselamatkan, akan dilakukan amputasi.

12
2.2.5. Kerusakan Meniscus

Meniscus adalah cakram yang berbentuk bulan sabit dari

tulang rawan yang memiliki fungsi untuk meredam gesekan.

Selain sebagai peredam, bagian ini juga berfungsi sebagai

bantalan halus bagi femur.

Gambar 2.10 Meniscus

2.2.6. Bursitis

Bursitis adalah peradangan akibat iritasi atau infeksi pada

kantung yang berisi cairan knee joint atau bursa. Bursa berfungsi

sebagai peredam tekanan untuk meminimalkan gerakan antar

jaringan pembentuk knee joint. Terdapat dua bursa, yaitu pada

superior patella dan ujung tibia.

Gambar 2.11 Bursitis

13
2.2.7. Patellofemoral Pain Syndrome

Patellofemoral pain syndrome adalah penyakit lutut pelari.

Ada pula yang dinamakan chondromalacia patella. Penyebabnya

adalah kerusakan berulang pada struktur knee joint yang didasari

oleh faktor genetik maupun oleh cara menggerakkan lutut yang

salah saat beraktivitas.

Gambar 2.12 Patellofemoral pain syndrome

2.2.8. Tendinitis

Tendinitis adalah radang tendon knee yang ditandai

dengan kemerahan disekitar lutut dan terasa sakit saat disentuh.

Aktivitas yang membutuhkan gerakan berulang knee joint dapat

meningkatkan resiko terkena tendinitis

2.3 Prosedur Pemeriksaan

2.3.1 Persiapan Alat dan Bahan

a. Unit pesawat sinar-x

b. Kaset ukuran 24 x 30 cm atau 35 x 43 cm

14
c. Reader

d. Workstation

e. Printer

2.3.2 Indikasi Pemeriksaan

a. Fraktur

b. Dislocation

c. Osteoarthritis

d. Osteosarcoma

e. Kerusakan meniscus

f. Bursitis

g. Patellofemoral pain syndrome

2.3.3 Persiapan Pasien

Pada pemeriksaan radiologi knee joint ini pasien tidak

memerlukan persiapan khusus.

2.3.4 Proyeksi Pemeriksaan

Pada pemeriksaan radiologi knee joint memiliki 2 proyeksi

dasar, yaitu antero-posterior dan lateral. Namun pada teorinya,

ada bermacam-macam proyeksi yang memiliki tujuan berbeda.

a. Proyeksi Antero-Posterior (AP)

Gambar 2.13 Knee joint posisi AP. (Bontrager 2014)

15
1. Posisi Pasien

a) Pasien supine di atas meja pemeriksaan.

b) Tubuh pasien diatur true AP dan pelvis diatur sehingga

tidak terjadi rotasi.

2. Posisi Objek

a) Pastikan pertengahan knee joint berada di

pertengahan meja pemeriksaan.

b) Rotasikan kaki ke arah medial 3o sampat 5o agar knee

joint true AP.

c) Beri sandbag pada pedis atau knee joint untuk

menjaga posisi agar tidak berubah lagi.

3. Central Point

Pada ½ inches atau setara 1,25 cm ke arah distal dari

apex patella.

4. Central Ray

Vertical tegak lurus dengan objek.

5. Focus Film Distance

40 inches atau setara 102 cm.

6. Kaset

Ukuran kaset yang digunakan adalah 24 x 30 cm.

7. Kolimasi

Kolimasi diletakkan pada kedua sisi, yaitu distal femur dan

proksimal cruris harus masuk.

16
8. Kriteria Radiograf

Struktur yang akan tampak pada radiograf adalah sebagai

berikut :

Gambar 2.14 Radiograf knee joint AP. (Bontrager 2014)

a) Tampak distal femur dan proksimal cruris.

b) Tidak terjadi rotasi pada knee joint.

c) Head of fibula bagian medial separuh superposisi

dengan tibia.

d) Intercondylar eminence tampak pada pertengahan os

intercondylar.

e) CR tepat pada pertengahan knee joint.

f) Faktor ekposi yang optimal ditunjukkan dengan adanya

garis dari patella yang melewati distal femur, dan head

of fibula dan neck of fibula tidak tampak overexposed.

g) Tampak detail soft tissue.

h) Tidak terjadi pergerakan sehingga semua tulang

tergambar dengan jelas.

17
b. Proyeksi Antero-Posterior Oblique (AP Oblique)

Gambar 2.15 Gambar 2.16


Knee joint posisi oblique medial Knee joint posisi oblique lateral
(Bontrager 2014) (Bontrager 2014)

1. Posisi Pasien

a) Pasien supine diatas meja pemeriksaan.

b) Tubuh pasien diatur true AP dan pelvis diatur sehingga

tidak terjadi rotasi.

2. Posisi Objek

a) Medial : Knee dirotasikan ke arah internal sehingga

condylus femur membentuk sudut 40o – 45o terhadap

bidang film.

b) Lateral : Knee dirotasikan ke arah eksternal

sebesar 40o – 45o terhadap bidang film.

c) Pastikan pertengahan knee joint berada di

pertengahan meja pemeriksaan.

d) Beri sandbag pada pedis atau knee joint untuk

menjaga posisi agar tidak berubah lagi.

18
3. Central Point

Pada ½ inches atau setara 1,25 cm ke arah distal dari

apex patella.

4. Central Ray

Vertical tegak lurus dengan objek.

5. Focus Film Distance

40 inches atau setara 102 cm.

6. Kaset

Ukuran kaset yang digunakan adalah 24 x 30 cm.

7. Kolimasi

Kolimasi diletakkan pada kedua sisi, yaitu distal femur dan

proksimal cruris harus masuk.

8. Kriteria Radiograf

Struktur yang akan tampak pada radiograf adalah sebagai

berikut :

a) Medial :

Caput fibullar terbebas superposisi dengan tibia.

Celah knee joint tampak membuka.

Soft tissue pada knee tampak.

b) Lateral :

Tampak profil medial condylus.

Caput fibullar, collum superposisi.

Tampak knee joint posisi oblique

19
c) Faktor ekposi yang optimal ditunjukkan dengan adanya

garis dari patella yang melewati distal femur, dan head

of fibula dan neck of fibula tidak tampak overexposed.

d) Tidak terjadi pergerakan sehingga semua tulang

tergambar dengan jelas.

Gambar 2.17 Gambar 2.18


Radiograf knee oblique medial Radiograf knee oblique lateral
(Bontrager 2014) (Bontrager 2014)

c. Proyeksi Lateral

20
Gambar 2.19 Lateral knee joint. (Bontrager 2014)

1. Posisi Pasien

a) Posisikan badan dan kaki pasien true lateral.

b) Pelvis diatur sehingga true lateral dan salah satu femur

menempel pada meja pemeriksaan.

2. Posisi Objek

a) Knee joint true lateral dan difleksikan.

b) Bagian yang akan diperiksa, menempel pada meja

pemeriksaan. Sedangkan yang tidak diperiksa,

difleksikan ke belakang.

c) Pastikan pertengahan knee joint berada di

pertengahan meja pemeriksaan.

3. Central Point

Pada ½ inches atau setara 1,25 cm ke arah distal dari

apex patella.

4. Central Ray

Vertical tegak lurus dengan objek.

5. Focus Film Distance

40 inches atau setara 102 cm.

6. Kaset

Ukuran kaset yang digunakan adalah 24 x 30 cm.

7. Kolimasi

Kolimasi diletakkan pada kedua sisi, yaitu distal femur dan

proksimal cruris harus masuk.

21
8. Kriteria Radiograf

Struktur yang akan tampak pada radiograf adalah sebagai

berikut :

Gambar 2.20 Radiograf knee lateral. (Bontrager 2014)

a) Tampak lateral dari distal femur, proksimal cruris, dan

patella.

b) Femoropatellar dan knee joint terbuka.

c) Knee joint true lateral tanpa rotasi ditunjukkan dengan

batas posterior condylus femur yang superposisi.

d) Tampak patella dengan femoropatellar joint yang

terbuka.

e) Tidak terjadi pergerakan sehingga semua tulang

tergambar dengan jelas dan soft tissue juga tampak.

22
d. Proyeksi Antero-Posterior Weight Bearing Bilateral

Gambar 2.21 AP weight bearing. (Bontrager 2014)

1. Posisi Pasien

a) Pasien erect di depan bucky stand dan posisikan

bucky stand dengan tinggi pasien.

b) Kedua kaki lurus ke depan, berat badan dibebankan

pada kedua kaki.

2. Posisi Objek

a) Kedua kaki lurus ke depan dan diberi jarak antar kedua

knee.

b) Kaki dirotasikan ke arah internal 15o sehingga knee

true AP.

3. Central Point

23
Pada pertengahan antara 2 knee setinggi ½ inches atau

setara 1,25 cm di bawah apex patella.

4. Central Ray

Horizontal tegak lurus dengan objek.

5. Focus Film Distance

40 inches atau setara 102 cm.

6. Kaset

Ukuran kaset yang digunakan adalah 35 x 43 cm.

7. Kolimasi

Kolimasi pada kedua knee joint, termasuk distal femur dan

proksimal cruris.

8. Kriteria Radiograf

Struktur yang akan tampak pada radiograf adalah sebagai

berikut :

Gambar 2.20 Radiograf AP weight bearing. (Bontrager 2014)

a) Tampak kedua distal femur, proksimal cruris, dan

femorotibial joint.

24
b) Tidak ada rotasi pada kedua knee yang ditunjukkan

dengan kesimetrisan antara condylus femur dan tibia.

c) Celah sendi tampak membuka.

d) Patella pada pertengahan film.

e) Tidak ada pergerakan yang ditunjukkan dengan

adanya soft tissue dan trabekula yang terlihat jelas dan

tajam.

e. Proyeksi Postero-Anterior Axial Weight Bearing

Gambar 2.23 PA axial weight bearing. (Bontrager 2014)

1. Posisi Pasien

a) Pasien erect menghadap bucky stand.

b) Berat badan dibebankan pada kedua kaki.

2. Posisi Objek

a) Knee fleksi 45o dan patella menempel pada bucky

stand.

b) Pastikan pertengahan kedua knee berada pada

pertengahan bucky stand.

25
3. Central Point

Pada pertengahan antara 2 knee setinggi ½ inches atau

setara 1,25 cm di bawah apex patella.

4. Central Ray

Horizontal menyudut 10o ke arah caudad.

5. Focus Film Distance

40 inches atau setara 102 cm.

6. Kaset

Ukuran kaset yang digunakan adalah 35 x 43 cm.

7. Kolimasi

Kolimasi pada kedua knee joint, termasuk distal femur dan

proksimal cruris.

8. Kriteria Radiograf

Struktur yang akan tampak pada radiograf adalah sebagai

berikut :

Gambar 2.24 PA axial. (Bontrager 2014)

a) Tampak kedua distal femur, proksimal cruris,

femorotibial joint, dan os intercondylar.

26
b) Tidak ada rotasi pada knee yang ditunjukkan dengan

kesimetrisan condylus femur dan tibia.

c) Intercondylar tampak terbuka.

d) Knee joint tampak terbuka apabila penyudutannya

tepat dan tibia fleksi 45o.

e) Faktor ekposi yang optimal ditunjukkan dengan

tampaknya os intercondylar dan proksimal yang

tebuka.

f) Trabekula pada tulang tampak jelas dan tajam yang

menunjukkan tidak ada pergerakan.

BAB III

HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1. Hasil

3.1.1. Identitas Pasien

Nama Pasien : Bp. PT

Jenis Kelamin : Laki-laki

Umur : 72 tahun

Alamat : Sinduharjo, Ngaglik, DIY

Dokter Pengirim : dr. Anung B. Satriadi, SpOT(K)

Nomor RM : 322134

Poli : Orthopedic

Pemeriksaan : Knee bilateral AP dan Lateral berdiri

Tgl Pemeriksaan : 5 November 2018

3.1.2. Riwayat Klinis

27
Pasien datang ke Instalasi Radiologi RS Ortopedi Prof.

DR. R. Soeharso Surakarta dengan keluhan sakit pada knee dan

tidak kuat apabila berdiri terlalu lama. Lalu dokter yang

menangani memberikan surat permintaan pemeriksaan radiologi

knee joint bilateral posisi antero-posterior dan lateral berdiri.

3.1.3. Prosedur Pemeriksaan

a. Persiapan Alat dan Bahan

Pada pemeriksaan radiologi ini, alat dan bahan yang

digunakan adalah :

1. Unit pesawat rontgen dengan klasifikasi :

a) Merk : TOSHIBA

b) Type : DRX-1603B

c) Nomor Seri : 17G1428F

d) Kondisi Maks : 150kV

2. Kaset ukuran 35 x 43 cm

3. Reader

4. Workstation

5. Printer

b. Indikasi Pemeriksaan

Osteoarthritis knee bilateral

c. Persiapan Pasien

Pada pemeriksaan radiologi knee joint ini pasien tidak

memerlukan persiapan khusus.

d. Proyeksi Pemeriksaan

28
1. Proyeksi Antero-Posterior Weight Bearing

a) Posisi Pasien

1) Pasien erect di depan bucky stand dan posisikan

bucky stand dengan tinggi pasien.

2) Kedua kaki lurus ke depan, berat badan

dibebankan pada kedua kaki.

b) Posisi Objek

1) Kedua kaki lurus ke depan dan diberi jarak antar

kedua knee.

2) Kaki dirotasikan ke arah internal 15o sehingga

knee true AP.

c) Central Point

Pada pertengahan antara 2 knee setinggi ½ inches

atau setara 1,25 cm di bawah apex patella.

d) Central Ray

Horizontal tegak lurus dengan objek.

e) Focus Film Distance

40 inches atau setara 102 cm.

f) Kaset

Ukuran kaset yag digunakan adalah 35 x 43 cm.

g) Kolimasi

Kolimasi pada kedua knee joint, termasuk distal femur

dan proksimal cruris.

h) Kriteria Radiograf

29
Struktur yang akan tampak pada radiograf adalah

sebagai berikut :

Gambar 3.21 Radiograf proyeksi antero-posterior

weight bearing knee joint pasien Tn. PT

1) Tampak distal femur, proksimal cruris, dan

femorotibial joint.

2) Tidak ada rotasi pada kedua knee yang

ditunjukkan dengan kesimetrisan antara condylus

femur dan tibia.

3) Celah sendi tampak membuka.

4) Tidak ada pergerakan yang ditunjukkan dengan

adanya soft tissue dan trabekula yang terlihat jelas

dan tajam.

2. Proyeksi Lateral Standing

a) Posisi Pasien

1) Pasien erect di depan bucky stand dan posisikan

bucky stand dengan tinggi pasien.

30
2) Pasien dirotasikan sampai true lateral dengan knee

yang akan diperiksa menempel pada bucky stand.

b) Posisi Objek

1) Lateral dextra : kaki sebelah dextra menempel

pada bucky stand, sedangkan yang sebelah

sinistra dimundurkan ke belakang agar tidak

superposisi.

2) Lateral sinistra : kaki sebelah sinistra

menempel pada bucky stand, sedangkan yang

sebelah dextra dimundurkan ke belakang agar

tidak superposisi.

3) Knee diatur true lateral.

c) Central Point

Setinggi ½ inches atau setara 1,25 cm di bawah apex

patella.

d) Central Ray

Horizontal tegak lurus dengan objek.

e) Focus Film Distance

40 inches atau setara 102 cm.

f) Kaset

Ukuran kaset yag digunakan adalah 35 x 43 cm.

g) Kolimasi

Kolimasi diatur pada knee joint, termasuk distal femur

dan proksimal cruris.

h) Kriteria Radiograf

31
Struktur yang akan tampak pada radiograf adalah

sebagai berikut :

Gambar 3.22 Radiograf proyeksi lateral standing

knee joint Tn. PT

1) Tampak lateral distal femur, proksimal cruris, dan

femorotibial joint.

2) Femoropatellar dan knee joint terbuka.

3) Knee joint true lateral tanpa rotasi ditunjukkan

dengan batas posterior condylus femur yang

superposisi.

4) Tampak patella dengan femoropatellar joint yang

terbuka.

32
5) Tidak terjadi pergerakan sehingga semua tulang

tergambar dengan jelas dan soft tissue juga

tampak.

3.2. Pembahasan

3.2.1. Di Instalasi Radiologi RS Ortopedi Prof. DR. R. Soeharaso

Surakarta, pemeriksaan knee joint dilakukan dengan dua proyeksi

dasar, yaitu antero-posterior dan lateral. Semua itu tergantung juga

dengan permintaan dokter yang mengirim apabila dokter meminta

pemeriksaan radiologi knee joint antero-posterior weight bearing dan

lateral standing, maka diperlukan peninjauan lagi dengan kondisi

pasien. Memungkinkan untuk berdiri, maka akan diposisikan berdiri,

namun apabila pasien tidak kuat berdiri lama, maka hanya proyeksi

antero-posterior yang dikerjakan, sedangkan proyeksi lateral

dikerjakan dengan posisi pasien supine diatas meja pemeriksaan.

Proyeksi lateral, dikerjakan secara satu persatu pada satu kaset,

tidak bersamaan. Tujuan dikerjakan satu persatu juga demi

kenyamanan pasien dan untuk mengurangi kemungkinan objeknya

terpotong.

3.2.2. Menurut hasil radiograf yang didapat, pada knee dextra tampak

antero-posterior maupun lateral terjadi union fracture os patella

dalam fixasi internal wire, union fracture tibia proximal, dan OA knee

grade 3 dengan penyempitan joint space, facies articularis yang

irregular disertai osteofit prominent.

33
Pada knee sinistra, terjadi OA knee grade 2 dengan penyempitan

joint space, bentukan osteofit terutama di os patella aspect superior

disertai fabella.

OA knee grade 2 masih termasuk dalam tahap ringan. Hasil

radiograf menunjukkan pertumbuhan tulang yang lebih besar, tapi

tulang rawan masih pada ukuran normal. Pada tahap ini, cairan

synovial masih dalam tingkat yang cukup untuk pergerakan sendi

secara normal.

OA knee grade 3 tergolong tahap sedang. Pada tahap ini,

menunjukkan kerusakan yang cukup jelas dan joint space

mengalami penyempitan. Orang yang menderita OA knee grade 3

cenderung mengalami nyeri saat beraktivitas. Knee juga terasa kaku

setelah duduk terlalu lama atau saat bangun tidur.

3.2.3. Berdasarkan pembahasan di atas, penulis setuju atas prosedur

yang digunakan oleh Instalasi Radiologi RS Ortopedi Prof. DR. R.

Soeharso Surakarta. Indikasi yang tertulis adalah OA, maka

dilakukan pemeriksaan antero-posterior dan lateral namun dalam

posisi standing atau berdiri.

Ketika pasien dalam posisi berdiri, maka kaki digunakan untuk

bertumpu dan celah sendi akan tampak terbuka dan gambaran

terlihat semakin jelas, maka dapat diketahui tingkatan osteoarthritis

knee joint.

34
BAB IV

PENUTUP

4.1. Kesimpulan

4.1.1. Di Instalasi Radiologi RS Ortopedi Prof. DR. R. Soeharso

Surakarta memiliki standar pemeriksaan radiologi knee joint kasus

OA dengan proyeksi antero-posterior dan lateral weight bearing atau

35
berdiri. Apabila pada surat permintaan dokter tidak memberi

keterangan berdiri, maka akan dilakukan pemeriksaan dengan posisi

pasien supine di atas meja pemeriksaan.

4.1.2. Pada kasus osteoarthritis, pemeriksaannya dilakukan dengan

posisi pasien berdiri yaitu agar celah sendi pada knee tampak

terbuka. Hasil radiograf yang ditampilkan antara posisi pasien supine

dengan berdiri juga akan tampak berbeda.

4.2. Saran

4.2.1.Apabila pada surat permintaan dokter tertera berdiri namun pasien

tidak kuat berdiri terlalu lama, maka yang hanya dikerjakan

proyeksi antero-posterior. Sedangkan proyeksi lateral dikerjakan

dengan posisi pasien supine di atas meja pemeriksaan.

4.2.2.Saat mengerjakan pemeriksaan radiologi knee joint posisi antero-

posterior dan lateral jangan lupa diberi marker agar saat editing

tidak terjadi kesalahan marker

4.2.3.Sebelum pasien diposisikan, sebaiknya siapkan terlebih dahulu

alat yang akan digunakan. Mulai dari menyiapkan kaset, mengatur

arah sinar menjadi horizontal, dan mengatur faktor eksposi, jadi

saat pasien masuk ke dalam ruang pemeriksaan, semua sudah

siap lalu pasien langsung diposisikan supaya pemeriksaan lebih

cepat.

36
DAFTAR PUSTAKA

Bontrager, Kneeth L & John P. Lampignano: Textbook of Radiographic

Positioning and Related Anatomy, 8th Edition. St. Louis 2014, by Mosby, Inc.,

an imprint of Elsevier Inc,

Kompas.com. “Osteosarkoma, Paling Sering Menyerang Lutut”.

37
https://nasional.kompas.com/read/2009/01/01/07095387/osteosarkoma.palin

g.sering.menyerang.lutut . 21 November 2018.

Jones, Oliver. “The Knee Joint”.

https://teachmeanatomy.info/lower-limb/joints/the-knee-joint/ .

21 November 2018.

dr. Marianti. “Osteoarthritis”.

https://www.alodokter.com/osteoarthritis.html . 21 November 2018.

dr. Kevin Andrian. “Sendi Sakit Akibat Cedera Lutut, Tangani Secepatnya”.

https://www.alodokter.com/sendi-sakit-akibat-cedera-lutut-segera-tangani-

secepatnya.html . 21 November 2018.

MD, William Morrison. “Stages of Osteoarthritis of The Knee”.

https://www.healthline.com/health/osteoarthritis-stages-of-oa-of-the-knee

21 November 2018.

LAMPIRAN

38
39
40