Anda di halaman 1dari 10

BAB II

PEMBAHASAN

Pengertian Pendidikan Seumur (PSH)

Pengertian Pendidikan Seumur (PSH) adalah sebuah sistem konsep-konsep pendidikan yang
menerangakan keseluruhan peristiwa-peristiwa kegiatan belajar-mengajar yang berlangsung dalam
keseluruhan hidup manusia. Pendidikan seumur hidup adalah suatu konsep, suatu idea. Gagasan pokok
dalam konsep ini ialah bahwa pendidikan tidak hanya berlangsung selama seorang berlajar di lembaga-
lembaga pendidikan formal, bahwa seseorang masih dapat memperoleh pendidikan kalau ia mau setelah
selesai menjalani pendidikan formal.

Pendidikan seumur hidup didasarkan pada konsep bahwa seluruh individu harus memiliki
kesempatan yang sistematik, terorganisir untuk “instruktion”, studi dan “learning” disetiap kesempatan
sepanjang hidup mereka. Pendidikan seumur hidup sering pula disebut pendidikan sepanjang hidup.

Konsep pendidikan seumur hidup sebenarnya sudah sejak lama dipikirkan oleh para pakar
pendidikan dari zaman ke zaman. Apalagi bagi umat islam, jauh sebelum orang barat mengangkatnya islam
sudah mengenal pendidikan seumur hidup. Pada zaman Nabi Muhammad SAW 14 abad yang lampau, ide
dan konsep itu telah disiarkannya dalam bentuk himbauan yaitu, “Carilah ilmu dari buaian sampai liang
lahat” (HR. Muslim) “. Hakekatnya manusia selalu belajar di sepanjang hidupnya, meskipun dengan cara
yang berbeda dan melalui proses yang tidak sama. Dorongan pendidikan/ belajar sepanjang hayat itu terjadi
karena dirasakan sebagai suatu kebutuhan.

Pendidikan itu merupakan bagian integral dari hidup itu sendiri. Prinsip pendidikan seperti itu
mengandung makna bahwa pendidikan itu lekat dengan diri manusia. Pendidikan seumur hidup berfungsi
sebagai peningkatan pengetahuan masyarakat yang pada umumnya masyarakat makin lama makin
berkembang, dan pada perkembangannya itu selalu mengalami kemajuan dan makin banyak pula tuntutan.

Di dalam UUD Nomor 20 tahun 2003, penegasan tentang pendidikan seumur hidup dikemukakan
dalam pasal 13 ayat (1) yang berbunyi: “ Jalur pendidikan terdiri atas pendidikan formal, non formal, dan
informal yang dapat saling melengkapi dan memperkaya”.

Dikatakan pula oleh Silva, 1973, “ Pendidikan seumur hidup berkenaan dengan prinsip
pengorganisasian yang akhirnya memungkinkan pendidikan untuk melakukan fungsinya”. Fungsinya adalah
“ Proses perubahan yang menuntut perkembangan individu”.

Dalam garis-garis Besar Haluan Negara dikatakan :


Pendidikan berlangsung seumur hidup dan dilaksanakan di dalam lingkungan rumah tangga, sekolah, dan
masyarakat. Karena itu pendidikan adalah tanggung jawab bersama antara keluarga, masyarakat, daan
pemerintah.

Ditekankan pula dalam konsep ini, bahwa pendidikan, dalam arti kata yang sebenarnya, adalah
sesuatu yang berlangsung terus sepanjang kehidupan seseorang.

Hidup (life) mempunyai tiga komponen yang saling berhubungan satu dengan lainnya, yaitu:

(1) individu

(2) masyarakat

[Type text] Page 4


(3) lingkungan fisik

Perjalanan manusia seumur hidup (lifelong) mengandung perkembangan dan perubahan yang mencakup
tiga komponen, yaitu :

(1) tahap-tahap perkembangan individu (masa balita, masa kanak-kanak, masa sekolah, masa
remaja, dan masa dewasa).

(2) peranan-peranan sosial yang umum dan unik dalam kehidupan, yang berbeda-beda di setiap
lingkungan hidup.

(3) aspek-aspek perkembangan kepribadian (fisik, mental, sosial, dan emosional).

Dalam GBHN 1978 dinyatakan bahwa “pendidikan berlangsung seumur hidup dan dilaksanakan di
dalam lingkungan rumah tangga, sekolah dan masyarakat. Karena itu pendidikan adalah tanggung jawab
bersama antara keluarga, masyarakat dan pemerintah.” Hal ini berarti bahwa setiap manusia Indonesia
diharapkan supaya selalu berkembang sepanjang hidup, dan di lain pihak masyarakat dan pemerintah
diharapkan agar dapat menciptakan situasi yang menantang untuk belajar. Prinsip ini berarti, masa sekolah
bukanlah satu-satunya masa bagi setiap orang untuk belajar, melainkan hanya sebagian dari waktu belajar
yang akan berlangsung seumur hidup.

Menurut Hummel pada waktu itu kehidupan seseorang dibagi menjadi tiga periode yang terpisah
satu sama lain, yaitu:

(1) sekolah dan belajar

(2) kehidupan yang aktif

(3) usia lanjut

Di sekolah seseorang ditentukan, dan yang dituangkan dalam angka-angka yang ditulis pada secarik
kertas. Keadaan inilah di beberapa negara di dunia ini, yang merupakan dorongan besar dalam menuju
pembaruan suatu sistem pendidikan. Dan muncul suatu konsep pendidikan seumur hidup (lifelong
education).

Menurut konsep lifelong education, pendidikan tidak terbatas oleh ruang dan waktu. Pendidikan
akan selalu berlangsung dalam totalitas kehidupan, di dalam keluarga, suku bangsa, melalui agama, masjid,
gereja, sekolah formal, organisasi-organisasi kerja, organisasi pemuda dan organisasi masyarakat pada
umumnya, membaca buku, mendegarkan radio, menonon televisi, dan sebagainya.

Hal ini berarti bahwa setiap manusia diharapkan supaya selalu berkembang sepanjang hidup dan di
lain pihak masyarakat dan pemerintah diharapkan agar dapat menciptakan situasi yang menantang untuk
belajar. Konsep pendidikan seumur hidup merumuskan suatu asas bahwa pendidikan adalah suatu proses
yang terus menerus (kontinu) dari bayi sampai meninggal dunia.

1. 1 Macam-Macam Pendidikan Seumur Hidup

Menurut Philip. H. Combs Pendidikan Seumur Hidup meliputi :

1. Pendidikan informal
Pendidikan informal yaitu pendidikan yang berlangsung didalam keluarga atau kehidupan sehari-hari.

2. Pendidikan formal

[Type text] Page 5


Pendidikan formal yaitu pendidikan yang berlangsung didalam sekolah dengan terprogram dan teratur.
Terdiri atas pendidikan dasar, pendidikan menengah, pendidikan atas/tinggi. Dan pendidikan ini
mencakup pendidikan umum, kejujuran, akademik profesi, vokasi, keagamaan dan khusus.

3. Pendidikan Non formal


Pendidikan non formal yaitu merupakan pendidikan yang berlangsung didalam masyarakat secara
teratur, disengaja, tetapi tidak mengikuti peraturan dan persyaratan yang ketat. Pendidikan ini
diselenggarakan bagi masyarakat yang memerlukan layanan pendidikan sebagai pengganti, penambah,
atau pelengkap pendidikan formal dalam rangka mendukung pendidikan sepanjang hayat. Pendidikan
Non formal berfungsi mengembalikan potensi peserta didik dengan penekanan pada penguasaan
pengetahuan dan ketrampilan fungsional serta mengembangkan sikap kepribadian hidup. Pendidikan ini
meliputi pendidikan anak usia dini, pendidikan kepemudaan, pendidikan pemberdayan perempuan,
pendidikan keaksaraan, pendidikan ketrampilan dan pelatihan kerja serta pendidikan lain yang ditujukan
untuk mengembangkan peserta didik.

Menurut Prof. Darji Darmodiharjo, SH. secara garis besar tahapan pendidikan yang diterima manusia
selama hidupnya adalah dengan tahapan sebagai berikut :

1. Pendidikan dalam keluarga

Tahap ini dimulai sejak manusia di dalam kandungan sampai masuk sekolah. Apapun yang
ditanamkan orang tua kepada anaknya asalkan dilakukan dengan kasih sayang dan penuh tanggung
jawab maka akan berpengaruh terhadap perkembangan anak di masa mendatang. Pendidikan
keluarga memberikan keyakinan agama, nilai budaya yang mencakup nilai moral dan aturan-aturan
pergaulan serta pandangan, ketrampilan dan sikap hidup yang mendukung kehidupan bermasyarakat,
berbangsa dan bernegara kepada anggota keluarga yang bersangkutan. Peserta didik berkesempatan
untuk mengembangkan kemampuan dirinya dengan belajar setiap saat sesuai dengan minat, bakat,
dan kemampuannya masing-masing.

2. Pendidikan di sekolah

Pendidikan ini merupakan kelanjutan dari pendidikan dalam keluarga. Pada tahap ini
pendidik ada 2 yaitu orang tua waktu anak di rumah dan guru waktu mereka di sekolah. Terdiri atas
pendidikan dasar, pendidikan menengah, pendidikan atas/tinggi. Dan pendidikan ini mencakup
pendidikan umum, kejujuran, akademik profesi, vokasi, keagamaan dan khusus. Selain nilai dari
orang tua dan guru yang dengan teratur masuk pada anak, masih terdapat beragam nilai-nilai yang
disadari atau tidak masuk pada anak. Nilai tersebut masuk/ diterima anak dari masyarakat bebas.
Semuanya mempengaruhi perkembangan kepribadiannya.

3. Pendidikan di masyarakat

Pendidikan masyarakat diperlukan karena sekolah tidak mampu lagi dapat memenuhi
tuntutan-tuntutan perkembangan manusia akan pendidikan. Pada tahap ini terdapat 2 kelompok
manusia, yaitu :
a. Mereka yang telah tamat dari sekolah, tetapi memerlukan pendidikan lain.
b. Mereka yang karena keterbatasan daya tampung sekolah tidak terpenuhi tuntutannya akan
pendidikan di sekolah.
Kedua kelompok diatas sudah mendapatkan pendidikan dari keluarga langsung dan masyarakat.
Termasuk pendidikan pematangan profesi dan tanggung jawab kemasyarakatan sebagai warga
Negara.
Dari tiga wadah pendidikan di atas, maka antara satu dengan yang lainya harus bias disatukan dan
didekatkan secara harmonis, serta berkesinambungan.

[Type text] Page 6


1.2. Prinsip Dasar Pendidikan Seumur Hidup

Menurut Pembahasan tentang dasar pendidikan seumur hidup ini dapat diuraikan dalam dua bagian yaitu
dasar teoritis/ religios dan dasar yuridisnya:

a. Dasar Teoritis/ Religious


Dasar pendidikan seumur hidup ini pada mulanya dikemukakan oleh filosof dan pendidik
Amerika yang sangat terkenal yaitu John Dewey. Kemudian dipopulerkan oleh Paul Langrend
melalui bukunya : An Introduction to Life Long Education. Menurut John Dewey, pendidikan itu
menyatu dengan hidup. Oleh karena itu pendidikan terus berlangsung sepanjang hidup sehingga
pendidikan itu tidak pernah berakhir.
Dasar pendidikan yang tidak terbatas ini juga telah lama diajarkan oleh Islam, sebagaimana
dinyatakan dalam Hadits Nabi Muhammad Saw. yang berbunyi : “Tuntutlah ilmu sejak dari buaian
sampai liang lahat”.

b. Dasar Yuridis

Dasar pendidikan seumur hidup di Indonesia mulai dimasyarakatkan melalui kebijakan


negara yaitu melalui :
1. Ketetapan MPR No. IV/MPR/1973 Jo. TAP. No. IV/MPR/1978 tentang GBHN menetapkan
prinsip-prinsip pembangungan nasional, antara lain :
 pembangunan nasional dilaksanakan dalam rangka pembangunan manusia Indonesia
seutuhnya dan pembangunan seluruh rakyat Indonesia (Arah Pembangunan Jangka Panjang)
 Pendidikan berlangsung seumur hidup dan dilaksanakan dalam keluarga (rumah tangga),
sekolah dan masyarakat. Karena itu, pendidikan adalah tanggung jawab bersama antara
keluarga, masyarakat dan pemerintah (Bab IV GBHN Bagian Pendidikan).
2. UU No. 2 Tahun 1989 Pasal 4 : “Pendidikan nasional bertujuan mencerdaskan kehidupan bangsa
dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertakwa
kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan,
kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri, serta rasa tanggung jawab
kemasyarakatan dan kebangsaan”.
3. Di dalam UU Nomor 2 Tahun 1989, penegasan tentang pendidikan seumur hidup, dikemukakan
dalam Pasal 10 Ayat (1) yang berbunyi : “penyelenggaraan pendidikan dilaksanakan melalui dua
jalur, yaitu pendidikan luar sekolah dalam hal ini termasuk di dalamnya pendidikan keluarga,
sebagaimana dijelaskan pada ayat (4), yaitu : “pendidikan keluarga merupakan bagian dari jalur
pendidikan luar sekolah yang diselenggarakan dalam keluarga dan yang memberikan agama, nilai
budaya, nilai moral dan keterampilan.

Menurut pelaksanaannya Pendidikan seumur hidup memiliki dasar prinsip-prinsip sebagai berikut:

1. Peranan subyek manusia untuk mendidik dan mengembangkan diri secara wajar merupakan
kewajiban kodrati manusia
2. Lembaga penanggung jawab adalah tri pusat pendidikan
3. Proses dan waktu pendidikan berlangsung seumur hidup sejak dari kandungan sampai akhir
hayat
4. Belajar tidak ada batas waktu, sehingga tidak ada konsep terlambat belajar karena sudah tua
5. Belajar atau mendidik diri adalah proses alamiah sebagai integral atau merupakan totalitas
kehidupan

Menurut dasar pemikiran yang menyatakan bahwa pendidikan seumur hidup sangat penting. Dasar
pemikiran tersebut dapat ditinjau dari segi, antara lain :

[Type text] Page 7


1. Tinjauan Ideologis

Tinjauan Ideologis adalah hak untuk mendapatkan pendidikan dan peningkataan


pengetahuan serta keterampilan memungkinkan seseorang mengembangkan potensi-potensi sesuai
dengan kebutuhan hidupnya. Semua manusia dilahirkan ke dunia mempunyai hak yang sama,
khususnya hak untuk mendapatkan pendidikan dan peningkataan pengetahuan serta keterampilan.
Pendidikan seumur hidup akan memungkinkan seseorang mengembangkan potensi-potensi sesuai
dengan kebutuhan hidupnya.

2. Tinjauan Ekonomis

Tinjauan ekonomis Cara yang paling efektif untuk keluar dari lingkungan kemelaratan yang
menyebabkan kebodohan ialah melalui pendidikan seumur hidup. Pendidikan seumur hidup
memungkinkan seseorang untuk :
a. meningkatkan produktivitas
b. memelihara dan mengembangakan sumber-sumber yang dimiliki
c. memungkinkan hidup dalam lingkungan yang lebih menyenangkan dan sehat
d. memiliki motivasi dalam mengasuh dan mendidik anak-anaknya secara tepat sehingga peranan
pendidikan keluarga menjadi sangat besar dan penting.

3. Tinjauan Sosiologis

Tinjauan Sosiologis adalah pendidikan seumur hidup dimana orang tua belajar kembali untuk
mendapatkan pendidikan yang belum pernah didapat di pendidikan formal. Para orang tua di negara
berkembang kerap kurang menyadari pentingnya pendidikan sekolah bagi anak-anak. Karena itu
banyak anak-anak mereka yang kurang mendapatkan pendidikan sekolah. Dengan demikian
pendidikan seumur hidup bagi orang tua akan merupakan pemecah akan masalah tersebut.

4. Tinjauan Politis

Tinjauan Politis adalah suatu hak rakyat memperoleh pendidikan agar dapat memahami
pentingnya hak milik, hak berpendapat, dan fungsi pemerintah di Negara Demokrasi ini . Karena itu
pendidikan kewarganegaraan perlu diberikan kepada setiap orang. Pada negara demokrasi
hendaknya seluruh rakyat menyadari pentingnya hak milik, dan memahami fungsi pemerintah.
Karena itu pendidikan kewarganegaraan perlu diberikan kepada setiap orang. Dengan demikian,
maka inilah yang menjadi tugas pendidikan seumur hidup.

5. Tinjauan Teknologis

Tinjauan Teknologis adalah hak seseorang memperoleh pendidikan atau menciptakan ilmu
pengetahuan dan teknologi baru agar dapat menunjang dan memenuhi kebutuhuan hidup manusia
secara menyeluruh berbagai aspek. Dunia dilanda oleh eksplosit ilmu pengetahuan dan teknologi.
Para sarjana, teknisi, dan pemimpin di negara berkembang perrlu memperbarui pengetahuan dan
keterampilan mereka, seperti yang dilakukan sejawat mereka di negara maju.

6. Tinjauan Psikologis dan pedagois

Tinjauan Psikologis dan pedagois adalah sebuah proses pendidikan yang tidak hanya
memberikan ilmu pengetahuan tetapi pendidikan yang utama mengajarkan bagaimana cara belajar,
menanamkan motivasi yang kuat dalam diri anak untuk belajar terus-menerus sepanjang hidupnya,
memberikan keterampilan kepada peserta didik untuk secara cepat dan mengembangkan daya
adaptasi dan potensi yang besar dalam diri peserta didik.

[Type text] Page 8


Perkembangan iptek yang pesat mempunyai pengaruh besar terhadap konsep, teknik dan metode
pendidikan. Selain itu, perkembangan tersebut menyebabkan makin luasnya, berkembangnya dan
kompleksnya ilmu pengetahuan. Akibatnya tidak mungkin lagi diajarkan seluruhnya kepada peserta
didik di sekolah. Karena itu, tugas pendidikan sekolah yang utama sekarang ialah mengajarkan
bagaimana cara belajar, menanamkan motivasi yang kuat dalam diri anak untuk belajar terus-
menerus sepanjang hidupnya, memberikan keterampilan kepada peserta didik untuk secara cepat dan
mengembangkan daya adaptasi dan potensi yang besar dalam diri peserta didik. Untuk itu semua
perlu diciptakan kondisi yang merupakan penerapan atas pendidikan seumur hidup.

Menurut Redja Mudyahardjo,(2001) memberikan alasan-alasan perlunya pendidikan seumur hidup


sebagai berikut:
a. Keterbatasan Kemampuan Pendidikan Sekolah
Pendidikan sekolah ternyata tidak memenuhi harapan masyarakat. Terlihat antara lain dalam:
o Banyak lulusan yang tidak dapat diserap dalam dunia kerja, yang antara lain karena mutunya
yang rendah.
o Daya serap rata-rata lulusan sekolah yang masih rendah, karena tidak dapat belajar optimal.
o Pelaksanaan pendidikan sekolah tidak efisien sehingga terjadi penghamburan pendidikan
(educational wastage).
Pendidikan sekolah perlu dilengkapi dengan pendidikan luar sekolah.

b. Perubahan Masyarakat dan Peranan-peranan Sosial

Globalisasi dan pembangunan mengakibatkan perubahan-perubahan yang cepat dalam masyarakat


termasuk perubahan-perubahan peranan-peranan sosial. Pendidikan dituntut untuk dapat
membantu individu agar selalu dapat mengikuti perubahan-perubahan sosial sepanjang hidupnya.

c. Pendayagunaan Sumber yang Masih Belum Optimal

Salah satu masalah pendidikan kita dewasa ini adalah kelangkaan sumber yang mendukung
pelaksanaan pendidikan. Hal yang perlu dilakukan adalah menghemat dan mengoptimalisasi
penggunaan sumber yang telah tersedia serta menggali sumber-sumber baru yang masih
terpendam dalam masyarakat, yang dapat dimanfaaatkan untuk memperlancar dan meningkatkan
proses pendidikan. Pendayagunaan sumber secara menyeluruh untuk pendidikan memerlukan
kerja sama luas yang bersifat lintas sektor, sehingga perlu penyelenggaraan pendidikan yang luas.

d. Perkembangan Pendidikan Luar Sekolah yang Pesat

Pada zaman modern, Pendidikan Luar Sekolah berkembang dengan pesat karena memberikan
manfaat kepada masyarakat, sehingga perlu mendapat tempat yang wajar dalam penyelenggaraan
keseluruhan pendidikan.

1.3 Tujuan Pendidikan Seumur Hidup

Pendidikan seumur hidup dimaksudkan memiliki tujuan sebagai pendidikan manusia seutuhnya. Didasarkan
beberapa alasan sebagai berikut:

a. Secara filosofis, hakekatnya kodrat martabat manusia itu merupakan kesatuan integral potensi-
potensi esensialnya sebagai makhluk pribadi, sosial, dan makhluk susila.
b. Secara psikofisik realitasnya pribadi manusia itu merupakan kesatuan dan berada dalam suatu
lingkungan, baik alamiah maupun sosial budaya.

[Type text] Page 9


c. Dengan mengingat proses pertumbuhan dan perkembangan kepribadian manusia bersifat hidup
dinamis, maka pendidikan wajib berlangsung seumur hidup.

Intinya Tujuan pendidikan seumur hidup sebagai manusia seutuhnya terdiri atas :

1. Mengembangkan potensi kepribadian manusia sesuai dengan kodrat dan hakikatnya, yakni
seluruh aspek pembaurannya seoptimal mungkin. Dengan demikian secara potensial manusia
diisi kebutuhannya agar berkembang secara wajar.
2. Dengan mengingat proses pertumbuhan dan perkembangan kepribadian manusia bersifat hidup
dinamis, maka pendidikan wajar berlangsung seumur hidup.
1.4 Konsep Dasar Pendidikan Seumur Hidup

Pendidikan seumur hidup bermula dari laporan tahun 1972 Komisi Internasional Pengembangan
Pendidikan, dipublikasikan oleh UNESCO dan sekarang dikenal dengan istilah “LAPORAN FAURE” yang
memuat rekomendasi pertama untuk perencanaan-perencanaan pendidikan. Konsep dasar pendidikan
seumur hidup didasarkan pada :

1. Keadilan
Keadilan dalam memperoleh pendidikan seumur hidup diusahakan oleh pemerintah. Dalam konteks
keadilan pendidikan seumur hidup pada prinsipnya bertujuan untuk mengeliminasi pesanan sekolah sebagai
alat untuk melestarikan ketidakadilan. Dengan masyarakat yang berpengetahuan, secara otomatis
masyarakat akan menghasilkan kerja yang baik. Disamping itu dengan pendidikan seumur hidup maka
masyarakat akan mampu memelihara dan mengembangkan sumber-sumber yang dimiliki.

2. Faktor-faktor sosial
Pendidikan seumur hidup dapat melengkapi kerangka organisasi yang memungkinkan pendidikan
mengambil alih tugas yang dulunya pendidikan ditangani oleh keluarga. Pendidikan seumur hidup harus
berisi elemen penting yang kuat dan memainkan peranan social yang bermacam-macam untuk
mempermudah individu melakukan penyesuaian terhdap perubahan hubungan antara mereka/ orang lain.

3. Perubahan teknologi
Pertumbuhan teknologi menyebabkan meningkatnya persediaan informasi, merubah sifat-sifat
pekerja, meningkatkan urbanisasi, dan waktu luang. Ketidakpastian peranan social dan hubungan
interpersonal di masa depan. Akibatnya basis keorganisasian baru pendidikan menjadi penting dan
diperlukan dimana-mana.

4. Faktor Vocational/ pekerjaan


Pendidikan dalam rangka menghadapi perubahan mengatakan :
“ Ketrampilan atau pengetahuan yang telah diperoleh di masa sekarang, akan tidak sesuai setelah ada
perkembangan dan kemajuan zaman”. Pendidikan vocational diberikan untuk mempersiapkan tenaga
kejuruan yang handal, trampil untuk menghadapi tantangan masa depan.

5. Kebutuhan-kebutuhan orang dewasa


Orang dewasa mengalami efek cepatnya perubahan dalam bidang ketrampilan yang mereka miliki,
maka diupayakan system pendidikan yang mampu mendidik orang dewasa. Secara radikal perubahan
pandangan mengenai kapan seseorang harus disekolahkan dan sekolah apa. Hal ini memerlukan politik
pendidikan seumur hidup.

6. Kebutuhan anak-anak awal


Sebenarnya anak kecil memiliki karakter tersendiri dan bukan semata-mata hanya masa penantian
untuk menuju/ masuk periode anak-anak, remaja, dan dewasa. Masa anak-anak awal merupakan basis untuk
perkembangan kejiwaan selanjutnya meskipun dalam tingkat tertentu pengalaman-pengalaman yang datang

[Type text] Page 10


belakangan dapat memodifikasi perkembangan yang pondasinya sudah diletakkan oleh pengalaman
sebelumnya.
Hal ini sesuai dengan konsep pendidikan di Indonesia bahwa pendidikan berlangsung di dalam keluarga,
sekolah, dan masyarakat, dan berlangsung sepanjang masa/ seumur hidup.

7. Implikasi dari pendidikan seumur hidup


Selain itu, konsep pendidikan seumur hidup juga berimplikasi. Implikasai di sini diartikan sebagai
akibat langsung atau konsekuensi dari suatu keputusan. Maksudnya adalah sesuatu yang merupakan
tindak lanjut atau follow up suatu kebijakan atau keputusan tentang pelaksanaan pendidikan seumur
hidup. Implikasinya adalah pada program pendidikan sebagaimana yang dikemukakan oleh W.P. Guruge
dalam bukunya Toward Better Educatinal Management, yang terbagi dalam 6 jenis program pendidikan
terdiri atas:

A. Pendidikan baca tulis fungsional

Program ini sangat penting bagi pendidikan seumur hidup dikarenakan relefansinya yang
ada pada Negara-negara berkembang dengan sebab masih banyaknya penduduk yang buta huruf,
mereka lebih senang menonton TV, mendengarkan Radio, dari pada membaca. Meskipun cukup
sulit untuk membuktikan peranan melek huruf fungsional terhadap pembangunan sosial ekonomi
masyarakat, namun pengaruh IPTEK terhadap kehidupan masyarakat misalnya petani, justru
disebabkan oleh karena pengetahuan-pengetahuan baru pada mereka.
Pengetahuan baru ini dapat diperoleh melalui bahan bacaan utamanya.Melek huruf
fungsional disamping merupakan isi program sekalius juga merupakan sarana terlaksananya
pendidikan seumur hidup. Namun kemampuan membaca menulis apabila tidak ditunjang oleh
tersedianya bahan-bahan bacaan tidak ada artinya.
Oleh sebab itu, realisasi baca tulis fungsional minimal memuat dua hal, yaitu:

I. Memberikan kecakapan membaca, menulis, menghitung (3M) yang fungsional bagi anak
didik.

II. Menyediakan bahan-bahan bacaan yang diperlukan untuk mengembangkan lebih lanjut
kecakapan yang telah dimilikinya.

B. Pendidikan vokasional.

Pendidikan vokasional adalah program pendidikan diluar sekolah bagi anak diluar batas usia
sekolah, ataupun sebagai pengganti pendidikan formal dan non formal, sebab itu program
pendidikan yang bersifat remedial agar para lulusan sekolah tersebut menjadi tenaga yang
produktif menjadi sangat penting dan bersifat kontinue. Namun yang lebih penting ialah bahwa
pendidikan vokasional ini tidak boleh dipandang sekali jadi lantas selesai. Dengan terus
berkembang dan majunya ilmu pengetahuan dan teknologi serta makin meluasnya industrialisasi,
menuntut pendidikan vokasiaonal itu tetap dilaksanakn secara kontinue.

C. Pendidikan professional

Pendidikan professional adalah program pendidikan dimana golongan profesional harus


mengikuti berbagai kemajuan dan perubahan menyangkut metodologi, perlengkapan, teknologi
dan sikap profesionalnya agar tidak ditinggalkan kemajuan dan perkembangan. Apa yang berlaku
bagi pekerja dan buruh, berlaku pula bagi professional, bahkan tantangan buat mereka lebih tinggi
jabatannya.

[Type text] Page 11


Mereka berusaha keras terus-menerus dan bergerak cepat agar tidak ditinggalkan oleh
kemajuan. Sebab itu tiap-tiap profesi hendaknya telah tercipta Built in Mechanism yang
memungkinkan golongan profesional itu selalu mengikuti berbagai kemajuan dan perubahan
menyangkut metodologi, perlengkapan, teknologi dan sikap profesionalnya. Ini merupakan realisasi
dari pendidikan seumur hidup.

D. Pendidikan ke arah perubahan dan pembangunan

Pendidikan ke arah perubahan dan pembangunan adalah program pendidikan yang


berlangsung secara kontinue (lifelong education) bagi anggota masyarakat dari berbagai golongan
usia agar mereka mampu mengikuti perubahan sosial dan pembangunan. Terjadi akibat globalisasi
informasi yang ditandai dengan pesatnya perkembangan IPTEK, telah mempengaruhi berbagai
dimensi kehidupan masyarakat.
Diakui bahwa globalisasi informasi yang ditandai dengan pesatnya perkembangan IPTEK,
telah mempengaruhi berbagai dimensi kehidupan masyarakat, dari cara masak, sampai dengan cara
menerobos angkasa luar. Kenyataan ini tentu saja mengandung konsekuensi program pendidikan
yang berlangsung secara kontinue (lifelong education). Pendidikan bagi anggota masyarakat dari
berbagai golongan usia agar mereka mampu mengikuti perubahan sosial dan pembangunan
merupakan konsekuensi penting dari asas pendidikan seumur hidup.
E. Pendidikan kewarganegaraan dan kedewasaan politik

Pendidikan kewarganegaraan dan kedewasaan politik adalah program pendidikan untuk


mengenal dasar negara, hukum-hukum yang berlaku, dan hak-hak mengeluarkan pendapat secara
bertanggung jawab. Disamping tuntutan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK),
dalam kondisi sekarang dimana pola pikir masyarakat yang semakin maju dan kritis maka
diperlukan pendidikan kewarganegaraan dan kedewasaan politik bagi setiap warga Negara; baik
rakyat biasa maupun para pemimpin masyarakat. Untuk itu program pendidikan kewarganagaraaan
dan kedewasaan politik merupakan bagian yang penting dari pendidkan seumur hidup.

F. Pendidikan kultural dan pengisian waktu luang

Pendidikan kultural dan pengisian waktu luang adalah program pendidikan memahami dan
menghargai sejarah, kesusastraan, agama, filsafat hidup, seni dan budaya bangsa sendiri. Secara
umum adalah mempelajari kekayaan nilai-nilai kultural yang terkandung dalam warisan budaya
masyarakat sendiri.

Spesialisasi yang berlebih-lebihan dalam masyarakat, bahkan yang telah dimulai pada usia
muda dalam program pendidikan formal di sekolah, menjadikan manusia berpandangan sempit
pada bidangnya sendiri, buta kekayaan nilai-nilai kultural yang terkandung dalam warisan budaya
masyarakat sendiri. Seorang yang disebut “educated man” harus memahami dan menghargai
sejarah, kesusastraan, agama, filsafat hidup, seni dan budaya bangsa sendiri. Sebab itu pendidikan
kultural dan pengisian waktu senggang secara kultral dan konstruktif merupakan bagian penting
dari pendidikan seumur hidup.

[Type text] Page 12


BAB III

PENUTUP

1. Kesimpulan

Pendidikan Seumur Hidup (PSH) adalah sebuah sistem konsep-konsep pendidikan yang
menerangakan keseluruhan peristiwa-peristiwa kegiatan belajar-mengajar yang berlangsung dalam
keseluruhan hidup manusia.Asas pendidikan seumur hidup merumuskan bahwa proses pendidikan
merupakan suatu proses kontinu , dan tidak terbatas oleh waktu seperti pendidikan formal. Proses belajar
seumur hidup tidak hanya dilakukan seorang yang terpelajar tetapi semua lapisan masyarakat bisa
melaksanakanya.

Secara teoritis konsep ini dikemukakan oleh filosof amerika setelah perang dunia II, dan sebenarnya
telah dikenal islam melalui sabda nabi: “Tuntutlah ilmu sejak dari buaian sampai liang lahat”. Sedangkan
secara yuridist tercantum dalam: Ketetapan MPR No. IV/MPR/1973 JO TAP. NO. IV/MPR/1978 tentang
GBHN; UU No. 2 Tahun 1989 Pasal 4; dan UU Nomor 2 Tahun 1989.
Tujuan pendidikan seumur hidup adalah untuk mengembangkan potensi kepribadian manusia
sesuai dengan kodrat dan hakikatnya, yakni seluruh aspek pembaurannya seoptimal mungkin. Dalam
seluruh aspek kehidupan antara lain dalam bidang sosial, ekonomi, politik, teknologi dan lain-lain, manusia
di tuntut untuk selalu bergerak dan mengembangkan diri. Terlebih di era modern ini dimana pengaruh
globalisasi mengakibatkan perubahan-perubahan sosial sehingga perlunya pendidikan sepanjang hidup.
Penerapan cara berfikir menurut azas pendidikan seumur hidup akan mengubah pandangan kita
tentang status dan fungsi sekolah, dimana tugas utama pendidikan sekolah adalah mengajar anak didik
bagaimana caranya belajar, peranan guru terutama adalah sebagai motifator, stimulator dan penunjuk
jalan anak didik dalm hal belajar, sekolah adalah pusat kegiatan belajar masyarakat sekitar. Sehingga dalam
rangka pandangan mengenai pandidikan seumur hidup, maka semua orang secara potensial merupakan
anak didik.

[Type text] Page 13