Anda di halaman 1dari 80

LAPORAN PELAKSANAAN AKTUALISASI

PESERTA PELATIHAN DASAR


CALON PEGAWAI SIPIL GOLONGAN III
KEMENTERIAN ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL

Disusun oleh:

Nama : Rizki Ramadhani, S.T.


NIP : 199703162019021001
Jabatan : Analis Kegiatan Usaha Hilir Migas
Instansi : Direktorat Gas Bumi BPH Migas

KEMENTERIAN ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL


BADAN PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA ESDM
PUSAT PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA APARATUR
2019

1
LEMBAR PENGESAHAN
LAPORAN PELAKSANAAN AKTUALISASI
PESERTA PELATIHAN DASAR
CALON PEGAWAI SIPIL GOLONGAN III
KEMENTERIAN ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL
TAHUN 2019

Disusun oleh:
Nama : Rizki Ramadhani, S.T.
NIP : 199703162019021001
Jabatan : Analis Kegiatan Usaha Hilir Migas
Instansi : Direktorat Gas Bumi BPH Migas

Laporan Pelaksanaan Aktualisasi ini


Telah diseminarkan pada tanggal 21 Juni 2019
Bertempat di Pusat Pengembangan Sumber Daya Manusia Aparatur,
Bandung

Peserta Diklat

(Rizki Ramadhani, S.T.)


NIP: 199703162019021001

DISETUJUI:
Penguji Coach Mentor

Osmaili, S.Sos., M.M. Roni R Nugraha, S.T., M.T. Budi Rachmadi, S.T.
NIP: 196807241991031002 NIP: 197104212004111001 NIP: 198904282015031003

2
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur senantiasa penulis ucapkan kepada Tuhan YME atas
limpahan rahmat, berkah, dan karunia-Nya sehingga penulis dapat
menyelesaikan kegiatan Aktualisasi dalam rangka Latihan Dasar CPNS
Golongan III di Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral yang
dilaksanakan di Pusat Pengembangan Sumber Daya Aparatur (PPSDMA)
sebagai persiapan untuk menjalankan tugas sebagai Aparatur Sipil Negara
(ASN) di unit yang sekarang ditempati melalui internalisasi nilai-nilai dasar
ASN, wawasan kebangsaan, analisis isu kontemporer, kesiapsiagaan bela
negara, manajemen ASN, Whole of Government, dan pelayanan publik.
Dalam kesempatan ini juga penulis dapat menyusun Laporan
Pelaksanaan Aktualisasi dalam rangka habituasi terhadap budaya kerja ASN.
Laporan ini berisi kegiatan yang penulis lakukan saat pelatihan dasar off-
campus di unit kerja tempat penulis ditugaskan. Kegiatan pelatihan dasar off-
campus ini diharapkan dapat memberikan perbaikan pada unit kerja dan
secara nyata dapat meningkatkan kualitas layanan terhadap publik.
Selanjutnya penulis mengucapkan terima kasih kepada berbagai pihak
yang telah berjasa membantu penulis dalam penyusunan Laporan
Pelaksanaan Aktualisasi ini.
1. Orang tua yang selalu memberikan dukungan moral;
2. Kepala Seksi Hak Khusus Ibu Galuh Setyo Anjani, S.T., M.T.
selaku mentor yang telah membimbing dan mengawasi
pelaksanaan kegiatan aktualisasi;
3. Bapak Budi Rachmadi, S.T., selaku senior sekaligus coach
penulis yang telah membantu memonitor dan mengarahkan
penulis dalam pelaksanaan kegiatan aktualisasi;
4. Bapak Roni Rachmat Nugraha , S.T., M.T. selaku coach penulis
dari Pusat Pengembangan Sumber Daya Manusia Aparatur
(PPSDMA) yang telah membimbing penulisan Laporan
Pelaksanaan Aktualisasi;
5. Widyaiswara dari Pusat Pengembangan Sumber Daya Manusia
Aparatur (PPSDMA) yang telah menanamkan nilai dan
memperluas wawasan penulis;
3
6. Senior sekaligus rekan kerja penulis di Seksi Hak Khusus atas
ilmu dan pembelajaran serta bantuannya;
7. Rekan-rekan CPNS Kementerian Energi dan Sumber Daya
Mineral atas masukan dan dukungan selama pelaksanaan
pelatihan dasar; dan
8. Pihak lain yang tidak dapat penulis rincikan satu persatu.

Penulis menyadari bahwa penulisan Laporan Pelaksanaan Aktualisasi


ini belum sempuna. Penulis mengharapkan kritik dan saran agar dapat
memperbaiki laporan ini sehingga manfaatnya bisa lebih signifikan dan
dirasakan oleh banyak pihak.
Atas segala kekurangan dalam penulisan Laporan Pelaksanaan
Aktualisasi ini baik dari segi bahasa maupun penyusunan penulis mohon
maaf. Terlepas dari kekurangannya, semoga kegiatan yang penulis lakukan
selama masa pelatihan off-campus dapat memberikan manfaat kepada
penulis dan unit tempat penulis bertugas.

Bandung, Juni 2019

Penulis

4
DAFTAR ISI

HALAMAN SAMPUL i
HALAMAN PENGESAHAN ii
KATA PENGANTAR iii
DAFTAR ISI v
DAFTAR TABEL vi
DAFTAR GAMBAR vii
BAB I PENDAHULUAN 1
A. Latar Belakang 1
B. Deskripsi Organisasi 3
C. Identifikasi Isu (Masalah) 9
D. Perumusan dan Penetapan Isu (Masalah) 13

BAB II CAPAIAN AKTUALISASI.................................................................19


A. Jadwal Rancangan dan Realisasi Kegiatan 19
B. Role Model...................................................................................22
C. Realisasi Pelaksanaan Kegitatan.................................................23
D. Realisasi Tindak Lanjut Aktualisasi 42
BAB III AKTUALISASI NILAI-NILAI PROFESI PNS 43
A. Keterkaitan Kegiatan dengan Substansi Mata Pelatihan (Nilai-nilai
Dasar PNS dan Kedudukan Serta Peran PNS dalam NKRI) 43
B. Kontribusi terhadap Visi dan Misi Serta Tujuan Organisasi 53
C. Kontribusi terhadap Penguatan Nilai Organisasi.........................54
D. Identifikasi Dampak Kegiatan Aktualisasi (Individu, Unit Kerja,
atau Organisasi ............................................................................57
E. Pengendalian oleh Coach dan Mentor (Form Pengendalian) 59

BAB IV PENUTUP 60

DAFTAR PUSTAKA 61

LAMPIRAN 63

5
DAFTAR TABEL

Tabel 1.1 Analisis menggunakan metode USGR terhadap Solusi ............... 17

Tabel 2.1 Realisasi Rancangan Kegiatan Aktualisasi .................................. 19

Tabel 2.2 Realisasi Kegiatan 1 .................................................................... 23

Tabel 2.3 Realisasi Kegiatan 2 .................................................................... 25

Tabel 2.4 Realisasi Kegiatan 3 .................................................................... 31

Tabel 2.5 Realisasi Kegiatan 4 .................................................................... 33

Tabel 2.6 Realisasi Kegiatan 5 .................................................................... 36

Tabel 2.7 Realisasi Kegiatan 6 .................................................................... 37

Tabel 2.8 Realisasi Kegiatan 7 .................................................................... 40

6
DAFTAR GAMBAR

Gambar 1.1 Struktur Organisasi Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi
....................................................................................................................... 4
Gambar 1.2 Struktur Organisasi Direktorat Gas Bumi .................................. 7
Gambar 1.3 Fishbone Diagram ................................................................... 14
Gambar 1.4 Analisis Gap Terhadap Akar Permasalahan ........................... 17
Gambar 2.1 Koordinasi dengan Coach dan Mentor .................................... 24
Gambar 2.2 Catatan Belajar Skenario Pemberian Hak Khusus .................. 25
Gambar 2.3 Undangan Rapat Dalam Kantor Penyamaan Persepsi ........... 26
Gambar 2.4 Bahan Paparan Rapat Dalam Kantor ...................................... 27
Gambar 2.5 Dokumentasi Pelaksanaan Rapat Dalam Kantor .................... 27
Gambar 2.6 Dokumentasi Pelaksanaan Rapat Dalam Kantor .................... 28
Gambar 2.7 Pelaksanaan Peningkatan Kompetensi Teknis Bidang ........... 29
Gambar 2.8 Penilaian Kompetensi Teknis Bidang dan Umum ................... 30
Gambar 2.9 Catatan Belajar SOP menurut PermenPANRB ....................... 31
Gambar 2.10 Konsep Awal SOP Hak Khusus ............................................ 32
Gambar 2.11 Evaluasi SOP melalui WhatsApp Group ............................... 33
Gambar 2.12 Bahan Paparan Evaluasi SOP .............................................. 34
Gambar 2.13 Catatan Evaluasi SOP .......................................................... 35
Gambar 2.14 Kegiatan Evaluasi SOP ......................................................... 35
Gambar 2.15 Tampilan Perubahan SOP Hasil Evaluasi ............................. 36
Gambar 2.16 Tampilan Perubahan SOP Hasil Evaluasi ............................. 37
Gambar 2.17 Bahan Paparan Finalisasi SOP ............................................. 38
Gambar 2.18 Rapat Finalisasi SOP Hak Khusus ........................................ 38
Gambar 2.19 Evaluasi SOP Sebelum di Finalisasi ..................................... 39
Gambar 2.20 Nota Dinas Pengusulan SOP Hak Khusus ............................ 39
Gambar 2.21 Tampilan SOP Hak Khusus yang diusulkan ke Direktur ....... 40
Gambar 2.22 Hasil Input SOP Hak Khusus di etasop ................................. 41
Gambar 2.23 Contoh Output SOP Hak Khusus yang dihasilkan ................ 42

7
DAFTAR LAMPIRAN

LAMPIRAN 1. Timeline Rancangan dan Pelaksanaan Kegiatan


LAMPIRAN 2. Konsep Dasar SOP Hak Khusus Berdasarkan Peraturan
BPH no 8 tahun 2019
LAMPIRAN 3. Form Pengendalian Oleh Coach dan Mentor
LAMPIRAN 4. Bukti Kegiatan 1
LAMPIRAN 5. Bukti Kegiatan 2
LAMPIRAN 6. Bukti Kegiatan 3
LAMPIRAN 7. Bukti Kegiatan 4
LAMPIRAN 8. Bukti Kegiatan 5
LAMPIRAN 9. Bukti Kegiatan 6
LAMPIRAN 10. Bukti Kegiatan 7

8
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Aparatur Sipil Negara (ASN) memiliki peran yang strategis dalam
mewujudkan visi Negara sebagaimana tertuang dalam Pembukaan Undang-
Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yaitu memajukan
kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut
melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan perdamaian kemerdekaan,
perdamaian abadi dan keadilan sosial. Dalam menjalankan peran tersebut
ASN bertanggungjawab untuk melaksanakan tugasnya sebagai pelaksana
kebijakan publik, pelayan publik, dan perekat serta pemersatu bangsa sesuai
amanat Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara.
Untuk menjadi Aparatur Sipil Negara yang ideal dan bisa berkontribusi dalam
pencapaian visi Negara, seorang PNS harus memegang teguh nilai-nilai dasar
meliputi:
1. Akuntabilitas, kewajiban pertanggungjawaban terhadap
pemenuhan tanggung jawab yang menjadi amanahnya;
2. Nasionalisme, pemahaman mengenai nilai-nilai kebangsaan.
Menunjukkan kecintaan terhadap bangsa dan negara;
3. Etika Publik, sikap individu terhadap standar/norma dalam
menentukan baik atau butuk, benar atau salahnya perilaku,
tindakan dan keputusan dalam menetapkan kebijakan publik;
4. Komitmen Mutu, menyelenggarakan pemerintahan dengan
orientasi pelayanan prima; dan
5. Anti Korupsi, kejujuran, kepedulian, kedisiplinan, dan rasa
tanggung jawab untuk melakukan tugasnya tanpa terlibat
tindakan korupsi.

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral memiliki pandangan


sendiri tentang Aparatur Sipil Negara ideal sebagai suplemen dari nilai-nilai
dasar PNS diatas yaitu Jujur, Profesional, Melayani, Inovatif, dan Berarti.

1
Untuk dapat membentuk PNS yang memiliki dan berpegang pada
nilai-nilai luhur tersebut perlu dilaksanakan pembinaan melalui berbagai
tahapan pembinaan termasuk Pelatihan Dasar kepada Calon Pegawai Negeri
Sipil (CPNS) mengacu Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2014 pasal 63 ayat
(3) dan (4) bahwa CPNS wajib menjalani masa percobaan dan masa
percobaan yang dimaksud dilaksanakan memlalui proses pelatihan dasar
yang terintegrasi untuk membangun integritas moral, kejujuran, semangat dan
motivasi nasionalisme dan kebangsaan, karakter kepribadian yang unggul dan
bertanggung jawab, dan memperkuat profesionalisme serta komperensi
bidang. Pelatihan ini diselenggarakan secara inovatif dan terintegrasi
memadukan pembelajaran klasikal terpusat dan non-klasikal di unit kerja
masing-masing sehingga CPNS mampu menyerap teori dan nilai yang
diajarkan dan secara berkesinambungan menerapkan, mengaktualisasikan,
serta membuat nilai-nilai tersebut menjadi kebiasaan. Pada akhir kegiatan
pelatihan PNS diharapkan dapat memberikan pengaruh positif ke unit
tugasnya dan sudah memiliki karakter yang terbentuk oleh pemahaman bela
negara, nilai-nilai dasar PNS, pengetahuan tentang kedudukan dan peran
PNS dalam NKRI, serta memiliki kompetensi dalam bidang keahliannya
sehingga dapat menjalan tugas dengan baik sebagai pelayan masyarakat.

Pelatihan Dasar Calon Pegawai Negeri Sipil Golongan III


dilaksanakan berdasarkan Peraturan LAN Nomor 12 Tahun 2018 tetang
Pelatihan Dasar Calon Pegawai Negeri Sipil. Kompetensi yang dibangun
dalam pelatihan ini adalah kompetensi PNS sebagai pelayan masyarakat yang
profesional, yang dapat dilihat dari kemampuan:
1. Menunjukkan sikap perilaku bela Negara;
2. Mengaktualisasikan nilai-nilai dasar PNS dalam pelaksanaan
tugas jabatannya;
3. Mengaktualisasikan kedudukan dan peran PNS dalam kerangka
NKRI; dan
4. Menunjukkan penguasaan kompetensi teknis yang dibutuhkan
sesuai bidang tugas.

2
B. Deskripsi Organisasi
Badan Pengatur didirikan berdasarkan Undang-Undang Nomor 22
Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi. Badan Pengatur adalah suatu
badan yang dibentuk untuk melakukan pengaturan dan pengawasan terhadap
penyediaan dan pendistribusian Bahan Bakar Minyak dan Gas Bumi pada
Kegiatan Usaha Hilir. Undang-undang ini ditetapkan sebagai upaya
menciptakan kegiatan usaha minyak dan gas bumi yang mandiri, andal,
transparan, berdaya saing, efisien, dan berwawasan pelestarian fungsi
lingkungan serta mendorong perkembangan potensi dan peranan nasional
guna mewujudkan peningkatan kemakmuran dan kesejahteraan rakyat.
Pendirian Badan Pengatur diatur lebih lanjut dalam Keputusan
Presiden Nomor 86 Tahun 2002 sebagaimana diubah dalam Peraturan
Pemerintah Nomor 45 Tahun 2012 tentang Pembentukan Badan Pengatur
Penyediaan dan Pendistribusian Bahan Bakar Minyak dan Kegiatan Usaha
Pengangkutan Gas Bumi Melalui Pipa. Kedudukan, fungsi, tugasm
wewenang, dan tanggung jawab Badan Pengatur dijabarkan dalam Peraturan
Pemerintah Republik Indonesia Nomor 67 Tahun 2002 tentang Badan
Pengatur Penyediaan dan Pendistribusian Bahan Bakar Minyak dan Kegiatan
Usaha Pengangkutan Gas Bumi Melalui Pipa.
Badan Pengatur Penyediaan dan Pendistribusian Bahan Bakar
Minyak dan Kegiatan Usaha Pengangkutan Gas Bumi Melalui Pipa
selanjutnya disebut sebagai Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi
dituangkan dalam Keputusan Kepala Nomor 04/Ka/BPH Migas/12/2003.

1. Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi


a. Profil dan Struktur Organisasi
Keorganisasian Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi diatur
dalam Peraturan Pemerintah Nomor 67 Tahun 2002 sebagaimana diubah
dalam Peraturan Pemerintah Nomor 49 Tahun 2012.
Badan Pengatur terdiri atas:
a) Kepala Badan Pengatur Minyak dan Gas Bumi;
b) Komite Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi;
c) Sekretariat Badan Pengatur Minyak dan Gas Bumi;

3
d) Direktorat Bahan Bakar Minyak;
e) Direktorat Gas Bumi;
Organisasi Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi dapat dilihat
pada Gambar 1.1.

Gambar .1.1 Struktur Organisasi Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi

b. Visi dan Misi


Visi dan misi dari Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi adalah
sebagai berikut:

Visi
Terwujudnya penyediaan dan pendistribusian BBM di seluruh wilayah Negara
Kesatuan Republik Indonesia dan meningkatnya pemanfaatan Gas Bumi di
dalam negeri melalui persaingan usaha yang wajar, sehat, dan transparan
bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.

Misi
Melakukan pengaturan dan pengawasan secara independen dan transparan
atas pelaksanaan kegiatan usaha penyediaan dan pendistribusian BBM dan
peningkatan pemanfaatan Gas Bumi di dalam negeri.
c. Tugas dan Fungsi

4
Fokus utama dari Kegiatan Usaha Hilir Minyak dan Gas Bumi adalah
pada kegiatan usaha Pengolahan, Pengangkutan, Penyimpanan, dan/atau
Niaga dan diselenggarakan melalui mekanisme usaha yang wajar, sehat, dan
transparan. Akan tetapi komoditas ini termasuk kepada kategori kebutuhan
masyarakat banyak sehingga ketersediaan dan kelancaran
pendistribusiannya perlu diawasi dan diatur oleh pemerintah agar manfaatnya
bisa dirasakan oleh sebanyak-banyaknya masyarakat.

Tugas
Tugas dari Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi adalah mengatur dan
menetapkan:
a) ketersediaan dan distribusi Bahan Bakar Minyak;
b) cadangan Bahan Bakar Minyak nasional;
c) pemanfaatan fasilitas Pengankutan dan Penyimpanan Bahan Bakar
Minyak;
d) tarif Pengangkutan Gas Bumi melalui pipa;
e) harga Gas Bumi untuk ruma tangga dan pelanggan kecil;
f) pengusahaan transmisi dan distribusi Gas Bumi.

Fungsi
Fungsi Badan Pengatur adalah melakukan pengawasan terhadap
pelaksanaan penyediaan dan pendistribusian Bahan Bakar Minyak dan
Pengangkutan Gas Bumi melalui pipa, dalam suatu pengaturan agar
ketersediaan dan distribusi Bahan Bakar Minyak yang diterapkan Pemerintah
dapat terjamin di seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia serta
meningkatkan pemanfaatan Gas Bumi di dalam negeri.
Dalam menjalankan tugas sebagaimana dimaksud, Badan Pengatur
mempunyai wewenang:
a) menetapkan kewajiban Badan Usaha yang akan atau telah melakukan
penyediaan dan distribusi Bahan Bakar Minyak di Indonesia untuk
melakukan operasi di daerah yang mekanisme pasarnya belum
berjalan dan daerah terpencil;
b) menetapkan volume alokasi cadangan Bahan Bakar Minyak dari
masing-masing Badan Usaha sesuai dengan Izin Usaha untuk

5
memenuhi cadangan nasional Bahan Bakar Minyak yang ditetapkan
Pemerintah;
c) menetapkan pemanfaatan bersama atas fasilitas Pengangkutan dan
Penyimpanan Bahan Bakar Minyak serta fasilitas penunjangnya milik
Badan Usaha dalam kondisi yang sangat diperlukan dan/atau untuk
menunjang optimasi distribusi di daerah terpencil;
d) menetapkan tarif Pengangkutan Gas Bumi melalui pipa sesuai dengan
prinsip teknoekonomi;
e) menetapkan harga Gas Bumi untuk rumah tangga dan pelanggan kecil
dengan mempertimbangkan kemampuan dan daya beli masyarakat;
f) menetapkan dan memberlakukan sistem informasi pengusahaan dan
akun pengaturan pada Badan Usaha yang melakukan kegiatan usaha
Pengangkutan Gas Bumi melalui pipa;
g) menyelesaikan perselisihan yang timbul terhadap pemegang hak
khusus pengangkutan gas bumi melalui pipa dan/atau yang berkaitan
dengan pelaksanaan kegiatan Pengangkutan Gas Bumi melalui pipa;
h) mengusulkan kepada Menteri Keuangan mengenai besaran iuran
Badan Usaha yang mempunyai kegiatan usaha di bidang penyediaan
dan distribusi Bahan Bakar Minyak serta Pengangkutan Gas Bumi
melalui pipa, dan menetapkan biaya hak khusus pengangkutan gas
bumi melalui pipa;
i) memberikan hak khusus pengangkutan gas bumi melalui pipa pada
ruas tertentu dari transmisi Gas Bumi dan pada wilayah tertentu dari
jaringan distribusi Gas Bumi melalui lelang, berdasarkan Rencana
Induk Jaringan Transmisi dan Distribusi Gas Bumi Nasional.

2. Direktorat Gas Bumi

a. Profil dan Struktur Organisasi


Direktorat Gas Bumi merupakan salah satu direktorat yang terdapat di
dalam Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi. Direktorat Gas Bumi
terbagi menjadi tiga Subdirektorat sebagai berikut:
a) Subdirektorat Pengaturan Pemanfaatan Fasilitas Pengangkutan Gas
Bumi Melalui Pipa;

6
b) Subdirektorat Pengaturan Akun Tarif & Harga Gas Bumi Melalui Pipa;
c) Subdirektorat Pengawasan & Pengelolaan Informasi Gas Bumi Melalui
Pipa.

Gambar 1.2 Struktur Organisasi Direktorat Gas Bumi

b. Tugas dan Fungsi


Tugas dan fungsi Direktorat Gas Bumi Badan Pengatur Hilir Minyak dan
Gas Bumi sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri ESDM Nomor 25
Tahun 2012 tentang Organisasi dan Tata Kerja Sekretariat dan Direktorat
pada Badan Pengatur Penyediaan dan Pendistribusian Bahan Bakar Minyak
dan Kegiatan Usaha Pengangkutan Gas Bumi Melalui Pipa adalah sebagai
berikut:

Tugas
Direktorat Gas Bumi mempunyai tugas melaksanakan penyiapan pengaturan
hak khusus, pemanfaatan fasilitas pengangkutan, akun pengaturan, tarif,
harga, serta pengawasan dan pengelolaan informasi kegiatan pengangkutan
gas bumi melalui pipa dan niaga gas bumi yang memiliki fasilitas jaringan
distribusi.

7
Fungsi
Dalam melaksanakan tugas, Direktorat Gas Bumi menyelenggarakan fungsi:
a) Penyiapan perumusan pengaturan hak khusus dan pemanfaatan
fasilitas pengangkuatan pada kegiaran pengangkutan gas bumi melalui
pipa dan niaga gas bumi yang memiliki fasilitas jaringan distribusi;
b) Penyiapan perumusan akun pengaturan dan tarif pengangkutan gas
bumi melalui pipa, dan pengaturan harga gas bumi melalui pipa untuk
rumah tangga dan pelanggan kecil;
c) Pelaksanaan pengawasan kegiatan pengangkutan gas bumi melalui
pipa dan niaga gas bumi yang memiliki fasilitas jaringan distribusi; dan
d) Pengelolaan informasi kegiatan pengangkutan gas bumi melalui pipa
dan niaga gas bumi yang memiliki fasilitas jaringan distribusi.

3. Subdirektorat Pengaturan Pemanfaatan Fasilitas Pengangkutan Gas


Bumi Melalui Pipa
a. Profil dan Struktur Organisasi
Subdirektorat Pengaturan Pemanfaatan Fasilitas Pengangkutan Gas Bumi
Melalui Pipa atau biasa disingkat PPF terdiri atas dua seksi, yaitu:
a) Seksi Hak Khusus
Seksi Hak Khusus mempunyai tugas melakukan penyiapan bahan
pengaturan pemberian Hak Khusus pada kegiatan pengangkutan gas
bumi melalui pipa dan niaga gas bumi yang memiliki fasilitas jaringan
distribusi.
b) Seksi Pemanfaatan Bersama Fasilitas
Seksi Pemanfaatan Bersama Fasilitas mempunyai tugas melakukan
penyiapan bahan pengaturan pemanfaatan bersama fasilitas pada
kegiatan pengangkutan gas bumi melalui pipa dan niaga gas bumi yang
memiliki fasilitas jaringan distribusi.

b. Tugas dan Fungsi


Sesuai Peraturan Menteri ESDM Nomor 25 Tahun 2012 tentang
Organisasi dan Tata Kerja Sekretariat dan Direktorat pada Badan Pengatur

8
Penyediaan dan Pendistribusian Bahan Bakar Minyak dan Kegiatan Usaha
Pengangkutan Gas Bumi Melalui Pipa, tugas Subdirektorat Pengaturan
Pemanfaatan Fasilitas Pengangkutan Gas Bumi Melalui Pipa adalah sebagai
berikut:

Tugas
Subdirektorat Pengaturan Pemanfaatan Fasilitas Pengangkutan Gas Bumi
Melalui Pipa mempunyai tugas melaksanakan penyiapan perumusan
pengatuarn hak khusus dan pemanfaatan fasilitas pengangkutan pada
kegiatan pengangkutan gas bumi melalui pipa dan niaga gas bumi yang
memiliki fasilitas jaringan distribusi.

Fungsi
Dalam menjalankan tugas sebagaimana disebut diatas Subdirektorat
Pengaturan Pemanfaatan Fasilitas Pengangkutan Gas Bumi Melalui Pipa
menyelenggarakan fungsi:
a) penyiapan bahan pengaturan pemberian Hak Khusus pada
kegiatan pengangkutan gas bumi melalui pipa dan niaga gas
bumi yang memiliki fasilitas jaringan distribusi; dan
b) penyiapan bahan pengaturan pemanfaatan bersama fasilitas
pada kegiatan pengangkutan gas bumi melalui pipa dan niaga
gas bumi yang memiliki fasilitas jaringan distribusi.

C. Identifikasi Isu (Masalah)


Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi atau BPH Migas sebagai
perpanjangan tangan pemerintah memiliki fungsi untuk melakukan
pengawasan terhadap pelaksanaan penyediaan dan pendistribusian Bahan
Bakar Minyak dan Pengangkutan Gas Bumi melalui pipa, dalam suatu
peraturan agar ketersediaan dan distribusi Bahan Bakar Minyak yang
ditetapkan Pemerintah dapat terjamin di seluruh wilayah NKRI serta
meningkatkan pemanfaatan Gas Bumi di dalam negeri. Fungsi ini sejalan
dengan Visi pemerintahan yang tertuang dalam poin ketujuh Nawa Cita yaitu
“Mewujudkan kemandirian ekonomi dengan menggerakkan sektor-sektor

9
strategis ekonomi domestik”. Sektor-sektor strategis tersebut diantaranya
adalah sektor minyak dan gas bumi, Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas
Bumi sebagai regulator kegiatan hilir migas berkontribusi besar dalam
mengontrol pemanfaatan minyak dan gas bumi agar manfaatnya dapat
dirasakan seluas-luasnya dan sebesar-besarnya oleh masyarakat. Selain itu,
BPH Migas juga berkontribusi pada pendapatan negara melalui Pendapatan
Negara Bukan Pajak (PNBP) yang diperoleh dari iuran yang dibayarkan oleh
Badan Usaha hilir migas. Pada tahun 2018 BPH menyetorkan PNBP sebesar
Rp 1,35 triliun.
Indonesia sebagai negara yang besar harus selalu memperhatikan
ketahanan energi nasional. Menurut World Energy Council (WEC) & Asia
Pacific Energy Research Centre (APERC), indikator ketahanan energi yaitu
availability (ketersediaan), affordability (keterjangkauan), accessability
(kemudahan), acceptability masyarakat dan lingkungan, dan sustainability
(keberlanjutan). BPH sebagai Badan Pengatur berperan dalam mendukung
ketahanan energi nasional melalui pengaturan dan pengawasan penyediaan
dan pendistribusian Bahan Bakar Minyak dan Pengangkutan Gas Bumi
melalui pipa. BPH Migas mendorong Badan Usaha hilir untuk membangun
infrastruktur dan melakukan operasi usaha minyak dan gas di wilayah terpencil
sehingga dapat menjangkau masyarakat yang tertinggal dengan harga yang
berkeadilan. Agar masyarakat dapat menikmati energi yang lebih terjangkau
dan ramah lingkungan, BPH Migas bersama dengan unsur pemerintahan
lainnya juga memacu Badan Usaha untuk membangun infrastruktur gas bumi
mulai dari Ruas Transmisi/Wilayah Jaringan Distribusi hingga masuk ke
rumah-rumah warga melalui pengembangan jaringan gas kota (city gas).
Badan Usaha dapat melakukan kegiatan usaha transmisi dan/atau distribusi
Gas Bumi setelah memiliki Hak Khusus yang dikeluarkan oleh BPH Migas.
Hak Khusus adalah hak yang diberikan Badan Pengatur kepada Badan
Usaha untuk mengoperasikan pipa pada Ruas Transmisi dan/atau Wilayah
Jaringan Distribusi tertentu dalam rangka kegiatan usaha pengangkutan Gas
Bumi melalui Pipa dengan tujuan memperoleh keuntungan dan/atau laba
berdasarkan mekanisme lelang atau Penugasan dari Menteri. Direktorat Gas
Bumi melalui Subdirektorat Pengaturan Pemanfaatan Fasilitas Pengangkutan

10
Gas Bumi melalui Pipa khususnya Seksi Hak Khusus memiliki tugas untuk
melaksanakan penyiapan pengaturan Hak Khusus.
Identifikasi masalah yang terdapat di Seksi Hak Khusus dilakukan
dengan menggunakan metode diskusi dan konsultasi dengan coach dan
mentor. Konsultasi ini dilakukan secara informal menggunakan media sosial
karena ketidaktersediaan waktu untuk diskusi tatap muka. Identifikasi isu lebih
difokuskan pada hasil diskusi mentor dan coach sebagai pihak yang sudah
terlibat lama dan lebih berpengalaman di unit kerja. Isu penting yang muncul
dari hasil diskusi antara lain:

1. Implementasi Peraturan BPH Nomor 8 Tahun 2019 tentang Pemberian


Hak Khusus pada Ruas Transmisi dan/atau Wilayah Jaringan Distribusi
yang belum optimal.
Terbitnya Peraturan Menteri ESDM Nomor 4 Tahun 2018 tentang
Pengusahaan Gas Bumi pada Kegiatan Usaha Hilir Minyak dan Gas Bumi
menjadi faktor utama perubahan terhadap Peraturan BPH Nomor 19
Tahun 2010 Tentang Pemberian Hak Khusus Pengangkutan dan Niaga
Gas Bumi Melalui Pipa. Implementasi atas peraturan yang baru yaitu
Peraturan BPH Nomor 8 Tahun 2019 belum optimal dikarenakan belum
adanya pengertian yang setara tentang peraturan ini dan belum adanya
pedoman baku dalam menjalankan peraturan baru.
Pelaksanaan peraturan secara sporadis tanpa pedoman yang jelas
akan menimbulkan ketidakjelasan dan kebingungan baik bagi Badan
Pengatur sendiri maupun stakeholder khususnya Badan Usaha. Hal ini
menyebabkan tujuan organisasi tidak tercapai atau bahkan gagal total.
Oleh karena itu dibutuhkan pedoman yang baku dan sejalan dengan
peraturan untuk memastikan pelaksanaan peraturan berjalan secara
sistematis dan dapat diawasi dengan mudah.

2. Belum adanya standar baku mengenai kriteria penilaian Wilayah Jaringan


Distribusi eksisting dalam rangka Lelang Ruas Transmisi dan Wilayah
Jaringan Distribusi.

11
Terdapat dua jenis lelang Wilayah Jaringan Distribusi yaitu lelang
WJD baru dan lelang WJD eksisting, dalam artian dalam wilayah tersebut
belum terdapat infrastruktur perpipaan gas bumi sama sekali. Mekanisme
lelang untuk wilayah-wilayah ini berbeda dari segi penilaiannya. Pada
persyaratan teknis WJD eksisting terdapat unsur penilaian kepemilikan
infrastruktur, konsumen eksisting, rencana pengembangan, dan biaya
pengembangan. Perdebatan muncul ketika Badan Pengatur diharuskan
menentukan pemenang antara Badan Usaha yang sama-sama
mengusulkan WJD eksisting untuk menjadi wilayah kekuasaannya.
Proporsi atau bobot antara infrastruktur eksisting dan rencana
pengembangan belum jelas, apakah kemenangan lebih ditentukan oleh
kuantitas dan kualitas infrastruktur eksisting atau lebih oleh rencana
pengembangan yang matang dan memiliki nilai tambah yang besar.
Pembobotan ini harus dilakukan dengan jelas untuk menjamin
keadilan dan kepastian hukum bagi Badan Usaha sehingga Badan Usaha
yang memenangkan lelang adalah Badan Usaha yang berkualitas dan
kompeten serta mampu memberikan kontribusi paling besar terhadap
masyarakat baik kalangan industri maupun rumah tangga.

Secara umum berdasarkan kedua isu yang telah dipaparkan diatas,


apabila tidak diselesaikan akan mengakibatkan dampak negatif antara lain:
a. Terhambatnya pencapaian Visi, Misi, serta target kinerja Badan Pengatur
Hilir Minyak dan Gas Bumi;
b. Terhambatnya proyek pengembangan inftrastruktur Gas Bumi;
c. Terhambatnya kegiatan bisnis Badan Usaha;
d. Terhambatnya pengembangan kesejahteraan masyarakat;
e. Munculnya suasana persaingan usaha yang tidak sehat jika gagal
menghasilkan pembobotan yang adil;
f. Potensi pemborosan anggaran jika proyek tidak berjalan dengan baik atau
gagal ditengah jalan;
g. Terganggunya perekonomian; dan
h. Berkurangnya Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP).

12
D. Perumusan dan Penetapan Isu (Masalah)
Perumusan masalah yang akan diangkat dan diusahakan
penyelesaiannya dalam kegiatan aktualisai dilakukan dengan diskusi bersama
mentor dan coach. Dari kedua isu yang muncul dalam proses diskusi,
diputuskan bahwa isu yang penting, mendesak, dan memungkinkan untuk
diselesaikan dalam jangka waktu 30 hari adalah isu mengenai “Implementasi
Peraturan BPH Nomor 8 Tahun 2019 tentang Pemberian Hak Khusus
pada Ruas Transmisi dan/atau Wilayah Jaringan Distribusi yang belum
optimal”.
Seleksi isu untuk penugasan ini dilakukan menggunakan kriteria
analisis SMART. Analisis SMART adalah salah satu alat bantu untuk
menetapkan target dan tujuan:
a) S – Specific
Target dan tujuan yang dibuat haruslah spesifik, tidak terlalu
umum atau kurang terperinci. Kedua isu hasil diskusi memenuhi
kategori ini.
b) M – Measurable
Target yang dibuat harus mengutamakan kemajuan yang
terukur. Hal ini akan membantu pelaksanaan kegiatan tetap
fokus dan selaras dengan alokasi waktu yang tersedia. Isu
pertama memenuhi kategori ini sedangkan isu kedua tidak
karena membutuhkan koordinasi yang panjang sehingga waktu
yang diberikan kemungkinan besar tidak cukup.
c) A – Attainable
Target yang dibuat harus relistis dan dapat dicapai, tidak terlalu
mudah, tetapi tidak juga terlalu sulit sehingga terasa tidak
mungkin dicapai. Isu pertama memenuhi kategori ini karena
koordinasi cukup dilaksanakan internal unit eselon IV dan tidak
terlalu panjang.
d) R – Relevant
Target kegiatan yang dibuat harus sesuai dengan target unit
kerja secara keseluruhan sehingga benar-benar bermanfaat.

13
Kedua isu yang didiskusikan sangat relevan dengan tugas dan
fungsi unit kerja.
e) T – Timely
Pencapaian target harus dilakukan sesuai kerangka waktu
dengan acuan deadline pencapaian target. Isu pertama
memenuhi kategori ini, sedangkan isu kedua kemungkinan
besar tidak cukup waktunya.
Dari analisis SMART terlihat bahwa kedua isu sama pentingnya hanya
saja salah satu isu terkendala singkatnya waktu pelaksanaan aktualisasi
sehingga tidak realistis untuk diangkat dan diselesaikan. Isu kedua masih
harus dikaji oleh manajemen karena pengaturan mengenai mekanisme lelang
saat ini masih dalam tahap revisi sehingga untuk penetapan kriteria penilaian
masih menunggu peraturan lelang ditetapkan. Penyelesaian isu kedua ini
membutuhkan pengalaman, pengetahuan teknis serta pengetahuan dunia
usaha yang memadai, penulis sebagai CPNS belum memiliki kompetensi yang
cukup untuk memberikan solusi permasalahan ini.
Berdasarkan diskusi dan analisis isu hasil diskusi menggunakan
metode SMART isu yang menjadi prioritas untuk diselesaikan adalah
“Implementasi Peraturan BPH Nomor 8 Tahun 2019 tentang Pemberian
Hak Khusus pada Ruas Transmisi dan/atau Wilayah Jaringan Distribusi
yang belum optimal”.
Untuk menemukan akar permasalahan dari isu ini digunakan metode
analisis fishbone diagram.

Gambar 1.3 Fishbone Diagram

14
Permasalahan ini kemudian dianalisa menggunakan Analisis GAP
untuk melihat celah yang mengakibatkan suatu hal itu menjadi masalah.
Analisis GAP membandingkan antara kondisi saat ini dengan kondisi ideal
yang sehausnya terjadi. Dari analisis ini bisa diamati ketimpangan yang ada
sehingga bisa dicarikan solusi untuk menghilangkan ketimpangan tersebut.

Kondisi saat ini:


1. Mekanisme eksekusi Peraturan BPH No 8 Tahun 2019 yang belum
sistematis.
2. Pemahaman SDM tentang substansi Peraturan BPH Nomor 8 Tahun
2019 dan proses bisnis Hak Khusus secara umum masih kurang.
3. Badan Usaha belum bisa mengajukan permohonan Hak Khusus
dengan sesuai aturan.
4. Kualitas pelaksanaan Peraturan BPH No 8 Tahun 2019 belum bisa
diukur.
5. Peraturan pendukung terkait pelaksanaan Lelang Ruas Transmisi dan
Wilayah Jaringan Distribusi belum ditetapkan.

Akibat jika kondisi dibiarkan:


1. Peraturan yang dibuat tidak bisa berjalan dengan baik bahkan gagal;
2. Kinerja organisasi terganggu karena berkaitan langsung dengan Visi
Misi Organisasi;
3. Pengembangan infrastruktur gas bumi terhambat;
4. Kegiatan bisnis Badan Usaha terhambat;
5. Kemungkinan tumbuhnya suasana usaha yang tidak sehat antar Badan
Usaha Hilir Migas;
6. Terhambatnya peningkatan kesejahteraan masyarakat;

Kondisi Ideal:
1. Mekanisme eksekusi Peraturan BPH No 8 Tahun 2019 jelas dan
sistematis.
2. Pemahaman SDM tentang substansi Peraturan BPH Nomor 8 Tahun
2019 dan proses bisnis Hak Khusus secara umum baik.

15
3. Badan Usaha mampu mengajukan permohonan Hak Khusus dengan
Benar.
4. Kualitas pelaksanaan Peraturan BPH No 8 Tahun 2019 bisa diukur.
5. Peraturan pendukung terkait pelaksanaan Lelang Ruas Transmisi dan
Wilayah Jaringan Distribusi ditetapkan.

Gap Kondisi
1. Belum adanya panduan baku untuk pelaksanaan pemberian Hak
Khusus sesuai dengan Peraturan BPH Nomor 8 Tahun 2019.
2. Pemahaman SDM tentang substansi Peraturan BPH Nomor 8 Tahun
2019 dan proses bisnis Hak Khusus secara umum masih kurang.
3. Belum ada panduan dokumen yang harus diserahkan dalam
permohonan Hak Khusus.
4. Belum ada ukuran untuk memantau pelaksanaan Pemberian Hak
Khusus sesuai Peraturan BPH Nomor 8 Tahun 2019.
5. Peraturan pendukung terkait pelaksanaan Lelang Ruas Transmisi dan
Wilayah Jaringan Distribusi masih dalam pembahasan.

Solusi yang Diusulkan:


1. Pembuatan SOP Pemberian Hak Khusus sesuai Peraturan BPH Nomor
8 Tahun 2019 sebagai pedoman pelaksanaan sekaligus alat ukur
pelaksanaan peraturan.
2. Knowledge sharing untuk meningkatkan pemahaman SDM mengenai
proses bisnis Seksi Hak Khusus terutama berkaitan dengan pemberian
hak khusus.
3. Mempercepat penerbitan peraturan mengenai Lelang Ruas
Transmisi/Wilayah Jaringan Distribusi.

16
Gambar Error! No text of specified style in document..4 Analisis Gap Terhadap Akar Permasalahan

Ketiga solusi tersebut kemudian dipilah menggunakan metode USGR


untuk menemukan prioritas solusi yang akan dilakukan dalam kegiatan
aktualisasi ini. Metode ini memperhatikan urgensi pelaksanaan solusi
(Urgency), keseriusan permasalahan yang diselesaikan oleh solusi
(Seriousness), kemungkinan permasalahan menjadi lebih besar jika tidak
dipecahkan (Growth), dan kemudahan untuk melaksanakan solusi
(Rationality).
Tabel 1.1 Analisis menggunakan metode USGR terhadap Solusi

Nilai
No. Solusi Total Ranking
U S G R

Pembuatan SOP Pemberian Hak Khusus


sesuai Peraturan BPH Nomor 8 Tahun
1 4 4 5 4 17 1
2019 sebagai pedoman pelaksanaan
sekaligus alat ukur pelaksanaan
peraturan.
Knowledge sharing untuk meningkatkan
2 pemahaman SDM mengenai proses 4 4 4 4 16 2
bisnis Seksi Hak Khusus terutama
berkaitan dengan pemberian hak khusus.

17
Mempercepat penerbitan peraturan
3 mengenai Lelang Ruas 4 4 4 1 13 3
Transmisi/Wilayah Jaringan Distribusi.

Dari ketiga solusi tersebut, solusi nomor satu dan dua akan dijalankan
dalam kegiatan aktualisasi ini. Solusi pertama akan berdampak langsung
terhadap kinerja organisasi karena terkait pelaksanaan kebijakan yang
dikeluarkan. Solusi kedua akan sangat bermanfaat dilakukan sebagai
pembelajaran berkelanjutan mengingat adanya peraturan baru yang
diterbitkan. Solusi ketiga sama pentingnya namun tidak realistis untuk
dikerjakan penulis sebagai CPNS dan terlalu banyak melibatkan pimpinan
tinggi dan unit lain.

18
BAB II
CAPAIAN AKTUALISASI

A. Jadwal Rancangan dan Realisasi Kegiatan

Pada masa off-campus Pelatihan Dasar CPNS Golongan III periode 1-


29 April 2019 penulis telah melakukan perancangan terhadap kegiatan yang
dilakukan pada masa habituasi. Kegiatan tersebut dirancang untuk
memecahkan permasalahan atau isu yang sudah diidentifikasi. Dalam
pelaksanaannya, semua kegiatan dapat dilaksanakan dengan output yang
diinginkan tercapai dengan baik. Kendala yang terjadi adalah adanya
perubahan timeline kegiatan dikarenakan harus menyesuaikan dengan
pekerjaan rutin harian penulis di unit kerja dan kesibukan atasan penulis dan
sedikit revisi terhadap tahapan kegiatan. Secara rinci realisasi dari rancangan
kegiatan dapat dilihat pada tabel berikut.

Tabel 2.1. Realisasi Rancangan Kegiatan Aktualisasi


No Rencana Realisasi
Kegiatan Tahapan Kegiatan Kegiatan Tahapan
Kegiatan
1 Mempelajari Diskusi dengan coach Tidak ada Tidak ada
proses bisnis dan mentor mengenai perubahan perubahan
pemberian Hak sasaran Pelatihan Dasar
Khusus CPNS KESDM
berdasarkan P-
BPH Nomor 8
Tahun 2019

Pemahaman alur Tidak ada


pemberian Hak Khusus perubahan
berdasarkan P-BPH
Nomor 8 Tahun 2019
2 Knowledge Menyiapkan Undangan Tidak ada Tidak ada
sharing Rapat Dalam Kantor perubahan perubahan
mengenai
proses bisnis
keseluruhan
Membuat Bahan Tidak ada
Seksi Hak
Paparan RDK perubahan
Khusus.
Rapat Dalam Kantor Tidak ada
mengenai Proses Bisnis perubahan
Hak Khusus

19
Evaluasi Pembelajaran Tidak ada
Bagi CPNS perubahan
Menyiapkan Mempelajari format Tidak ada Tidak ada
Draft Standar baku penyusunan SOP perubahan perubahan
Operasional sesuai dengan
Prosedur PermenPANRB
Pemberian hak
Khusus

3 Melakukan evaluasi Tidak ada


terhadap SOP perubahan
Pemberian Hak Khusus
lama
Menyusun konsep dasar Tidak ada
SOP pemberian Hak perubahan
Khusus baru
berdasarkan P-BPH
Nomor 8 Tahun 2019
Membuat Rancangan Tidak ada
SOP Pemberian Hak perubahan
Khusus baru
Evaluasi Draft Membuat Bahan Tidak ada Tidak ada
Standar Paparan rancangan SOP perubahan perubahan
Operasional Pemberian Hak Khusus
Prosedur
Pemberian hak
Khusus

4 Menyiapkan undangan Tidak perlu


rapat dalam rangka dilakukan, rapat
Paparan rancangan SOP dilakukan
Pemberian Hak Khusus internal tanpa
undangan rapat
Mempresentasikan Tidak ada
rancangan SOP perubahan
Pemberian Hak Khusus
Evaluasi dan diskusi hasil Tidak ada
rancangan SOP perubahan
Pemberian Hak Khusus
Membuat Notulensi Tidak ada
evaluasi rancangan SOP perubahan
Pemberian Hak Khusus

20
5 Memperbaiki Melakukan pemetaan Tidak ada Tidak ada
rancangan permasalahan terhadap perubahan perubahan
Standar hasil evaluasi yang telah
Operasional dilakukan
Prosedur
pemberian Hak
Khusus sesuai
Hasil Evaluasi
Menyusun rancangan Tidak ada
SOP Pemberian Hak perubahan
Khusus sesuai dengan
hasil evaluasi yang telah
dilakukan
6 Finalisasi dan Membuat Bahan Tidak ada Tidak ada
Pegusulan Paparan Final rancangan perubahan perubahan
Persetujuan SOP Pemberian Hak
Standar Khusus
Operasional
Prosedur
Pemberian Hak
Khusus
berdasarkan P-
BPH Nomor 8
Tahun 2019

Menyiapkan undangan Tidak perlu


rapat dalam rangka dilakukan, rapat
Paparan Final rancangan dilakukan
SOP Pemberian Hak internal tanpa
Khusus undangan rapat
Mempresentasikan Tidak ada
rancangan SOP perubahan
Pemberian Hak Khusus
Menyiapkan Nota Dinas Tidak ada
persetujuan SOP perubahan
Pemberian Hak Khusus
dari Kasubdit kepada
Direktur
Pengusulan Persetujuan Tidak ada
SOP Pemberian Hak perubahan
Khusus oleh Direktur

21
7 Memasukkan Input data SOP Tidak ada Tidak ada
hasil finalisasi Pemberian Hak Khusus perubahan perubahan
Standar ke aplikasi SOP online
Operasional (etasop)
Prosedur
Pemberian Hak
Khusus ke SOP
Online

Perubahan yg dilakukan pada subkegiatan pembuatan Undangan


Paparan Rancangan SOP berdasarkan konsultasi dengan senior dan atasan
bahwa untuk kegiatan internal eselon IV undangan tidak dibutuhkan, cukup
dengan koordinasi verbal.

Timeline kegiatan aktualisasi ini mengalami perubahan mengingat


kesibukan Direktorat Gas Bumi dan Seksi Hak Khusus sehingga dilakukan
beberapa penyesuaian dalam eksekusi dan perencanaan kegiatan.
Pelaksanaan aktualisasi di bulan Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri juga
cukup signifikan mempengaruhi pelaksanaan kegiatan dikarenakan adanya
pelaksanaan Posko Idul Fitri dan Monitoring BBM pra dan pasca Idul Fitri.
Timeline rancangan dan pelaksanaan dapat dilihat pada Lampiran 1 dalam
satuan waktu hari.

B. Role Model

Dalam pelaksanaan aktualisasi, penulis banyak berinteraksi dengan staf


senior dan atasan terutama dari Seksi Hak Khusus dan Subdirektorat
Pengaturan Pemanfaatan Fasilitas Pengangkutan Gas Bumi Melalui Pipa.
Dari interaksi tersebut banyak pelajaran yang bisa penulis ambil dari masing-
masing individu terutama dari segi karakter, peran dan etika kerja yang dimiliki.
Menurut penulis ada 2 orang yang dapat dijadikan role model dalam kegiatan
aktualisasi ini yaitu:
1. Galuh Setyo Anjani, S.T., M.T.I
Beliau saat ini menjabat sebagai Kepala Seksi Hak Khusus.
Kepemimpinan beliau membawa suasana yang santai dalam
bekerja bagi para staf namun tetap terkontrol dengan pengawasan

22
dan follow-up yang rutin dilakukan. Dalam mengambil keputusan
metode musyawarah lebih diutamakan sehingga terbangun
komunikasi yang baik dan keputusan yg dibuat lebih komprehensif
karena memperhitungkan pendapat dari seluruh staf. Beliau juga
sangat mendukung penulis dalam melaksanakan kegiatan
aktualisasi di unit kerja.

2. Budi Rachmadi, S.T.


Beliau adalah salah satu staf senior di Seksi Hak Khusus.
Pengetahuan yang baik dan pengalaman yang cukup lama sebagai
staf membuat beliau sebagai staf yang sangat dipehitungkan dan
sering dilibatkan dalam diskusi-diskusi penting. Kemauan untuk
belajar dan wawasan yang luas juga menjadi pendukung dalam
bekerja secara efektif dan efisien.

C. Realisasi Pelaksanaan Kegiatan

Realisasi pelaksanaan kegiatan yang penulis lakukan selama masa


aktualisasi penulis uraikan pada tabel Realisasi Kegiatan sebagai berikut.
Tabel 2.2. Realisasi Kegiatan 1
Kegiatan 1 Mempelajari proses bisnis pemberian Hak Khusus
berdasarkan P-BPH Nomor 8 Tahun 2019
Tahapan Kegiatan 1. Diskusi dengan coach dan mentor mengenai
sasaran Pelatihan Dasar CPNS KESDM
2. Pemahaman alur pemberian Hak Khusus
berdasarkan P-BPH Nomor 8 Tahun 2019
Waktu 2-3 Mei 2019
Output Foto dan Resume
Tingkat Pencapaian Tercapai
Uraian Kegiatan:
a. Kegiatan dimulai dengan koordinasi bersama mentor dan coach
perihal target pelaksanaan Pelatihan Dasar CPNS KESDM dengan
tujuan untuk menyamakan persepsi dan mengintegrasikan
pelaksanaan pelatihan dasar dengan pekerjaan rutin sehari-hari
Seksi Hak Khusus. Tidak terdapat revisi kegiatan yang akan

23
dilakukan, tetapi pelaksanaannya diharapkan dapat menyesuaikan
dengan kesibukan anggota Seksi Hak Khusus lainnya. Disamping
itu juga dibahas alur pemberian Hak Khusus berdasarkan
Peraturan BPH Nomor 8 Tahun 2019 tentang Pemberian Hak
Khusus pada Ruas Transmisi dan/atau Distribusi yang baru
diterbitkan. Dari diskusi tersebut disimpulkan bahwa konsekuensi
dari peraturan baru ini adalah adanya empat skenario pemberian
Hak Khusus yaitu skenario penyesuaian dan/atau perpanjangan
hak khusus, skenario pemberian hak khusus hasil lelang, skenario
pemberian hak khusus pengangkutan, dan skenario pemberian hak
khusus hasil penugasan oleh menteri.
b. Koordinasi dengan coach menghasilkan kesimpulan bahwa
skenario hak khusus tersebut akan dituangkan dalam empat SOP
terpisah karena memiliki perbedaan mendasar dari tahapan awal
kegiatan dan mutu baku yang dibutuhkan.

Gambar 2.1. Koordinasi dengan Coach dan Mentor

24
Gambar 2.2. Catatan Belajar Skenario Pemberian Hak Khusus

Tabel 2.3. Realisasi Kegiatan 2


Kegiatan 2 Knowledge sharing mengenai proses bisnis
keseluruhan Seksi Hak Khusus.
Tahapan Kegiatan 1. Menyiapkan Undangan Rapat Dalam
Kantor
2. Membuat Bahan Paparan RDK
3. Rapat Dalam Kantor mengenai Proses
Bisnis Hak Khusus
4. Evaluasi Pembelajaran Bagi CPNS
Waktu 3 Mei – 18 Juni 2019
Output Foto, Surat undangan, Notulen, Nilai
Tingkat Pencapaian Tercapai

25
Uraian Kegiatan:
a. Dalam rangka peningkatan pemahaman terhadap Peraturah BPH
Nomor 8 Tahun 2019 tentang Pemberian Hak Khusus pada Ruas
Transmisi dan/atau Distribusi dilakukan Rapat Dalam Kantor
bersama Direktorat Gas Bumi dan Sekretariat BPH Migas. Dalam
rapat tersebut dijelaskan mengenai substansi peraturan hak
khusus yang baru diterbitkan serta perbandingannya dengan
peraturan lama. Dari diskusi bersama dengan Direktur Gas Bumi
dan peserta lainnya yang hadir, muncul rencana untuk
mengadakan sosialisasi lebih luas yaitu sampai external BPH
Migas terutama kepada Badan Usaha yang menjadi objek
penerapan peraturan ini.
b. Persiapan RDK dimulai dengan menyusun undangan
mengajukannya kepada Direktur Gas Bumi. Selanjutnya dilakukan
penyusunan bahan rapat.

Gambar 2.3. Undangan Rapat Dalam Kantor Penyamaan Persepsi

26
Gambar 2.4. Bahan Paparan Rapat Dalam Kantor
c. Pelaksanaan RDK
Rapat dalam kantor dilakukan pada hari Selasa, 28 Mei 2019.

Gambar 2.5 Dokumentasi Pelaksanaan Rapat Dalam Kantor

27
d. Notulensi RDK

Gambar 2.6. Dokumentasi Pelaksanaan Rapat Dalam Kantor

Notulen RDK menjelaskan hal-hal yang dipaparkan selama


pelaksanaan rapat meliputi Konsep Hak Khusus, Pengaturan RT
dan WJR, masa berlaku hak khusus, kewajiban iuran, penyesuaian
dan perpanjangan Hak Khusus, Pelaporan, Pengawasan, Sanksi,
serta ketentuan peralihan sebelum peraturan dapat diterapkan
sepenuhnya. Sebagai tindaklanjut dari rapat ini direncanakan akan
dilakukan sosialisasi eksternal kepada Badan Usaha. Sosialisasi ini
perlu dilakukan agar badan usaha menyadari perubahan regulasi
yang ada sehingga tidak kebingungan dalam mengurus Hak
Khusus yang merupakan syarat integral dalam melakukan kegiatan
usaha.

28
e. Selain melaksanakan rapat mengenai penyamaan persepsi
peraturan. Penulis juga mengikuti pengembangan kompetensi
mengenai tugas dan fungsi Direktorat Gas Bumi dan Direktorat
BBM serta beberapa knowledge sharing mengenai fungsi Seksi
Hak Khusus tempat penulis ditugaskan.

Gambar 2.7. Pelaksanaan Peningkatan Kompetensi Teknis Bidang

29
f. Penilaian dilakukan sebagai hasil dari pekerjaan sehari-hari,
pelatihan teknis umum/administrasi dan pelatihan teknis bidang.

Jenis
Tujuan Strategi/Metoda Jumlah Tempat
No Standar Kompetensi Penguatan Mata Pelatihan Nilai
Penguatan Penguatan JP/Hari Pelaksanaan
Kompetensi
1 2 3 4 5 6 7 8 9
Mengetahui
mengenai
pengelolaan Sekretariat
Ceramah, Diskusi, Administrasi
1. Administrasi Kepegawaian Klasikal SDM di 2JP Jenderal 85
Tanya Jawab Kepegawaian
lingkungan KESDM
Kementerian
ESDM
Mengetahui
mengenai
pengelolaan Sekretariat
Ceramah, Diskusi, Manajemen
2. Manajemen Perkantoran Klasikal SDM di 2JP Jenderal 85
Tanya Jawab Perkantoran
lingkungan KESDM
Kementerian
ESDM
Mengetahui
mengenai
pengelolaan Sekretariat
Ceramah, Diskusi, Administrasi
3. Administrasi Keuangan Klasikal SDM di 2JP Jenderal 85
Tanya Jawab Keuangan
lingkungan KESDM
Kementerian
ESDM
Mengetahui
mengenai
pengelolaan Sekretariat
Ceramah, Diskusi, Organisasi dan
4. Organisasi dan Tata Laksana Klasikal SDM di 2JP Jenderal 85
Tanya Jawab Tata Laksana
lingkungan KESDM
Kementerian
ESDM
Memahami Kantor BPH
Tugas dan
Tugas dan Ceramah, Diskusi, Migas
5. Tugas dan Fungsi Direktorat BBM Klasikal Fungsi 2JP 91
Fungsi Tanya Jawab
Direktorat BBM
Direktorat BBM
Memahami Kantor BPH
Tugas dan
Tugas dan Migas
Tugas dan Fungsi Direktorat Gas Ceramah, Diskusi, Fungsi
6. Klasikal Fungsi 2JP 93
Bumi Tanya Jawab Direktorat Gas
Direktorat Gas
Bumi
Bumi
7. Peraturan Perundangan Terkait Klasikal Memahami Pelatihan tutorial Peraturan 1 jam Kantor BPH 88
Hak Khusus Peraturan dan praktek Perundangan per hari Migas
Perundangan Terkait Hak
Terkait Hak Khusus
Khusus
8. Peraturan Perundangan Terkait Klasikal Memahami Pelatihan tutorial Peraturan 1 jam Kantor BPH 90
Lelang RT WJD dlm Rangka Peraturan Perundangan per hari Migas
Pemberian Hak Khusus Perundangan Terkait Lelang
Terkait Lelang RT WJD dlm
RT WJD dlm Rangka
Rangka Pemberian Hak
Pemberian Hak Khusus
Khusus
9. Pemetaan Spasial Infrastruktur Klasikal dan Memahami dan Pelatihan tutorial Pemetaan 1 jam Kantor BPH 90
Pipa Gas Bumi Non Klasikal dapat dan praktek Spasial per hari Migas dan
membuat peta Infrastruktur lapangan
spasial Pipa Gas Bumi
infrastruktur
pipa gas bumi
10 Bisnis Proses Penerbitan Hak Klasikal dan Memahami dan Pelatihan tutorial Bisnis Proses 1 jam Kantor BPH 88
Khusus Non Klasikal memproses dan praktek Penerbitan Hak per hari Migas dan
penerbitan Hak Khusus lapangan
Khusus

11. Perencanaan dan Anggaran Klasikal Memahami Pelatihan tutorial Perencanaan 1 jam Kantor BPH 85
perencanaan dan Anggaran per hari Migas
dan
penganggaran
NILAI TOTAL (RATA-RATA) (TANPA NILAI DARI POIN 1-4) 87.7
NILAI AKHIR (20%) 17.5

Gambar 2.8. Penilaian Kompetensi Teknis Bidang dan Umum

30
Tabel 2.4. Realisasi Kegiatan 3
Kegiatan 3 Menyiapkan Draft Standar Operasional Prosedur
Pemberian hak Khusus
Tahapan Kegiatan 1. Mempelajari format baku penyusunan SOP
sesuai dengan PermenPANRB
2. Melakukan evaluasi terhadap SOP
Pemberian Hak Khusus lama
3. Menyusun konsep dasar SOP pemberian
Hak Khusus baru berdasarkan P-BPH
Nomor 8 Tahun 2019
4. Membuat Rancangan SOP Pemberian Hak
Khusus baru
Waktu 3 Mei – 27 Mei 2019
Output Konsep Standar Operasional Prosedur
Tingkat Pencapaian Tercapai
Uraian Kegiatan: Pembuatan SOP untuk Administrasi Pemerintahan
diatur dalam PermenPANRB 35 Tahun 2012. SOP Administasi
Pemerintahan terdiri atas SOP Administratif yang meliputi kegiatan umum
dan tidak terperinci dan dilaksanakan oleh lebih dari 1 orang, sedangkan
SOP Teknis meliputi instruksi kegiatan yang rinci dan hanya dijalankan
oleh 1 peran jabatan. SOP Pemberian Hak Khusus yang dibuat termasuk
SOP Administrasi karena secara umum hanya dikerjakan oleh staf seksi
hak khusus meskipun terdapat beberapa koordinasi dengan pihak lain,
tahapan kegiatan yang dilakukan oleh pihak lain diatur dalam SOP yang
berbeda.

Gambar 2.9. Catatan Belajar SOP menurut PermenPANRB

31
a. SOP Hak Khusus yang lama dibuat berdasarkan Peraturan BPH
Nomor 19 Tahun 2010 tentang Pemberian Hak Khusus
Pengangkutan Niaga Gas Bumi Melalui Pipa. SOP ini perlu
disesuaikan karena peraturan yang baru tidak lagi menyebutkan
Hak Khusus diberikan atas pengangkutan dan niaga namun
diberikan atas penguasaan Ruas Transmisi dan/atau Transmisi.
Penguasaan bisa didapatkan badan usaha melalui dua jalur yaitu
melalui lelang yang akan dilakukan oleh BPH Migas dan melalui
penugasan yang diberikan oleh Menteri ESDM. Alur perizinannya
pun berubah, menurut peraturan lama Hak Khusus diberikan
setelah Badan Usaha mendapatkan Izin dari Direktorat Jenderal
Migas. Sedangkan menurut Peraturan BPH Nomor 8 Tahun 2019
Hak Khusus diberikan terlebih dahulu kepada Badan Usaha setelah
memenangkan lelang atau setelah mendapatkan penugasan dari
Menteri ESDM. Selain substansinya yang sudah berbeda, SOP
Hak Khusus Berdasarkan Peraturan BPH Nomor 19 Tahun 2010
dianggap terlalu luas dan tidak ringkas sehingga pelaksanaan
pemberian hak khusus cenderung lama dan tidak terkontrol. Pada
SOP tersebut belum rinci waktu pelaksanaan tiap kegiatannya.
b. Konsep dasar SOP berdasarkan Peraturan BPH Nomor 8 Tahun
2019 secara detail dapat dilihat pada Lampiran 2.

Gambar 2.10. Konsep Awal SOP Hak Khusus

32
Tabel 2.5. Realisasi Kegiatan 4
Kegiatan 4 Evaluasi Draft Standar Operasional Prosedur
Pemberian hak Khusus
Tahapan Kegiatan 1. Membuat Bahan Paparan rancangan SOP
Pemberian Hak Khusus
2. Mempresentasikan rancangan SOP
Pemberian Hak Khusus
3. Evaluasi dan diskusi hasil rancangan SOP
Pemberian Hak Khusus
4. Membuat Notulensi evaluasi rancangan SOP
Pemberian Hak Khusus
Waktu 14 Juni 2019
Output File Presentasi, Foto Kegiatan, Notulen Evaluasi
SOP
Tingkat Pencapaian Tercapai
Uraian Kegiatan:
a. Kegiatan ini dilakukan dengan melakukan pembahasan bersama
Kepala Seksi Hak Khusus dan staf senior baik secara formal
maupun informal melalui media sosial.

Gambar 2.11. Evaluasi SOP melalui WhatsApp Group


b. Bahan Paparan Evaluasi SOP Pemberian Hak Khusus
Bahan ini dibuat dengan tujuan untuk memudahkan pemaparan
alur pemberian Hak Khusus dalam bentuk SOP.

33
Gambar 2.12. Bahan Paparan Evaluasi SOP
c. Pembahasan bersama Kepala Seksi Hak Khusus dan staf senior
menghasilkan beberapa poin evaluasi sebagai berikut:
Untuk SOP Penyesuaian dan Perpanjangan Hak Khusus:
- Pelaksanaan Cek Fisik Terhadap Pipa di lapangan dilakukan
hanya jika diperlukan;
- Tambahkan caption ya/tidak pada setiap alur yang melibatkan
pengambilan keputusan;
- Libatkan Sekretariat BPH dalam evaluasi rancangan Surat
Keputusan Pemberian Hak Khusus;

34
- Dll

Gambar 2.13. Catatan Evaluasi SOP

Gambar 2.14. Kegiatan Evaluasi SOP

35
Tabel 2.6. Realisasi Kegiatan 5
Kegiatan 5 Memperbaiki rancangan Standar Operasional
Prosedur pemberian Hak Khusus sesuai Hasil Evaluasi
Tahapan Kegiatan 1. Melakukan pemetaan permasalahan terhadap
hasil evaluasi yang telah dilakukan
2. Menyusun rancangan SOP Pemberian Hak
Khusus sesuai dengan hasil evaluasi yang telah
dilakukan

Waktu 17 Juni 2019


Output Tampilan Perubahan SOP, SOP hasil perbaikan
Tingkat Pencapaian Tercapai
Uraian Kegiatan:
Kegiatan ini dilakukan sebagai tindaklanjut dari evaluasi SOP yang telah
dilakukan. Perubahan SOP dilihat dengan Spreadsheet SOP yang ditandai
dengan highlight merah untuk tahap yang dihilangkan dan huruf merah untuk
tahapan yang perlu diubah tata letak atau penulisannya.
a. Tampilan Perubahan SOP

Gambar 2.15. Tampilan Perubahan SOP Hasil Evaluasi

36
b. SOP yang telah diubah

Gambar 2.16. Tampilan Perubahan SOP Hasil Evaluasi

Pada tampilan ini poin-poin yang dikoreksi saat evaluasi telah diubah.

Tabel 2.7. Realisasi Kegiatan 6


Kegiatan 6 Finalisasi dan Pegusulan Persetujuan Standar
Operasional Prosedur Pemberian Hak Khusus
berdasarkan P-BPH Nomor 8 Tahun 2019
Tahapan Kegiatan 1. Membuat Bahan Paparan Final rancangan
SOP Pemberian Hak Khusus
2. Mempresentasikan rancangan SOP
Pemberian Hak Khusus
3. Menyiapkan Nota Dinas persetujuan SOP
Pemberian Hak Khusus dari Kasubdit kepada
Direktur
4. Pengusulan ersetujuan SOP Pemberian Hak
Khusus oleh Direktur
Waktu 18 Juni 2019
Output Rancangan SOP yang diusulkan, Nota Dinas, Bahan
Presentasi, Foto Kegiatan, Notulensi
Tingkat Pencapaian Tercapai
Uraian Kegiatan:
SOP Hak Khusus yang telah dievaluasi dipaparkan kembali kepada Kepala
Seksi Hak Khusus dan staf untuk dikaji lebih lanjut sebelum diajukan untuk
persetujuan Direktur Gas Bumi.

37
Gambar 2.17. Bahan Paparan Finalisasi SOP

Gambar 2.18. Rapat Finalisasi SOP Hak Khusus


Pengusulan SOP ke Direktur Gas Bumi memerlukan Nota Dinas yang
ditandatangani Kepala Subdirektorat PPF dan diparaf oleh Kepala Seksi Hak
Khusus dilampiri rancangan final SOP. Bahan yang diusulkan kepada

38
Direktur ini masih bisa dikoreksi nantinya jika Direktur ada masukan terhadap
SOP

Gambar 2.19. Evaluasi SOP Sebelum di Finalisasi

Gambar 2.20. Nota Dinas Pengusulan SOP Hak Khusus

39
Gambar 2.21. Tampilan SOP Hak Khusus yang diusulkan ke Direktur

Tabel 2.8. Realisasi Kegiatan 7


Kegiatan 7 Memasukkan hasil finalisasi Standar Operasional
Prosedur Pemberian Hak Khusus ke SOP Online
Tahapan Kegiatan 1. Input data SOP Pemberian Hak Khusus ke
aplikasi SOP online (etasop)
Waktu 18-19 Juni 2019
Output Hasil input SOP Pemberian Hak Khusus di web app
etasop
Tingkat Pencapaian Tercapai
Uraian Kegiatan:

40
Untuk mendukung reformasi birokrasi dan inovasi di bidang IT yang dilakukan
oleh BPH Migas dan Kementerian ESDM. Penggunaan web app memudahkan
pengajuan SOP untuk disetujui oleh atasan namun penggunaannya masih
belum optimal. Web app mengurangi penggunaan kertas dan prosesnya lebih
cepat karena telah dilakukan melalui aplikasi komputer. Aplikasi tersebut juga
mempercapat penyusunan karena format SOP yang diinginkan bisa langsung
didapatkan, akan tetapi fungsi ini belum optimal karena format SOP yang
dihasilkan belum terlalu rapi.

Gambar 2.22. Hasil Input SOP Hak Khusus di etasop

41
Gambar 2.23. Contoh Output SOP Hak Khusus yang dihasilkan SOP

D. Rencana Tindak Lanjut Aktualisasi

Tindak lanjut untuk kegiatan aktualisasi ini adalah dengan


melakukan uji coba terhadap SOP Pemberian Hak Khusus yang telah
dibuat dan disahkan oleh Direktur Gas Bumi. Pelaksanaan Pemberian Hak
Khusus selanjutnya diharapkan dapat dilakukan mengikuti standar mutu
baku yang telah dibuat sehingga pelayanan terhadap permohonan Hak
Khusus lebih baik dan terkontrol. Mutu baku yang telah dibuat bermanfaat
sebagai ukuran terhadap pelayanan yang dilakukan.
Standar Operasional Prosedur yang dibuat juga memudahkan
evaluasi kinerja pelaksana kegiatan khususnya Seksi Hak Khusus. Jika
nanti diperlukan adanya perbaikan proses dan mutu baku, revisi SOP ini
akan dibuat dan diusulkan perbaikan secepat mungkin.

42
BAB III
AKTUALISASI NILAI-NILAI PROFESI PNS

A. Keterkaitan Kegiatan dengan Substansi Mata Pelatihan (Nilai-nilai Dasar


PNS dan Kedudukan serta Peran PNS dalam NKRI)

Untuk menjadi Aparatur Sipil Negara yang baik dan dapat memberikan
manfaat sebesar-besarnya bagi masyarakat dibutuhkan pemahaman yang
mendalam mengenai peran PNS dalam kehidupan berbangsa antara lain:

1. Pelaksana Kebijakan Publik


2. Pelayanan Publik
3. Perekat dan Pemersatu Bangsa

PNS juga diharapkan dapat menanamkan nilai-nilai dasar ASN untuk


menjadikan individu tersebut sebagai ASN yang kompeten, berintegritas, dan
berkarakter. Nilai-nilai tersebut antara lain:

1. Akuntabilitas
Akuntabilitas adalah kewajiban pertanggungjawaban yang harus
dicapai oleh individu. Akuntabilitas terkait dengan kewajiban setiap
individu, kelompok, atau institusi untuk memenuhi tanggung jawab
yang menjadi amanahnya. Bagi seorang ASN, amanah yang
diemban adalah menjamin terlaksananya nilai-nilai publik.
Akuntabilitas ditunjukkan dengan dengan:
a. Adanya transparansi, yaitu ASN bisa mempertanggungjawabkan
apa yang telah dilakukan dengan memberikan informasi dan
pelaporan yang relevan;
b. Adanya keterlibatan masyarakat dalam pengambilan kebijakan;
c. Peraturan dan prosedur pelaksanaan yang jelas dan lengkap;
d. Pihak terkait dapat melakukan pengawasan secara mudah agar
tidak terjadi penyimpangan.

Akuntabilitas memiliki beberapa aspek antara lain:

43
a. Akuntabilitas adalah sebuah hubungan. Hubungan yang terjadi
adalah hubungan yang saling bertanggungjawab;
b. Akuntabilitas berorientasi kepada hasil. Setiap pihak dituntut
untuk melaksanakan tugas dan kewajibannya serta selalu
berupaya untuk mencapai hasil yang maksimal;
c. Akuntabilitas membutuhkan adanya laporan. Laporan
dibutuhkan untuk membuktikan akuntabilitas. Dengan adanya
lapora kinerja berarti mampu menjelaskan dan
mempertanggungjawabkan setiap tindakan dan hasil yang
dicapai serta mampu membuktikan dengan nyata proses yang
terlah dilakukan;
d. Akuntabilitas memerlukan konsekuensi. Konsekuensi dari
akuntabilitas berupa penghargaan atau sanksi;
e. Akuntabilitas memperbaiki kinerja. Tujuan utama dari
akuntabilitas adalah untuk meninjau kinerja yang terlah
dilakukan sehingga bisa dilakukan perbaikan kedepannya.

Dalam pelaksanaannya akuntabilitas didukung oleh 9 nilai dasar


yaitu;

a. Kepemimpinan
b. Transparansi
c. Integritas
d. Tanggung jawab
e. Keadilan
f. Kepercayaan
g. Keseimbangan
h. Kejelasan
i. Konsisten

2. Nasionalisme
Nasionalisme adalah pemahaman mengenai nilai-nilai kebangsaan.
Nasionalisme dapat ditumbuhkan dengan memahami nilai-nilai
Pancasila, pengamalan nilai-nilai luhur yang terkandung didalamnya

44
oleh setiap penyelenggara negara. Nasionalisme ASN ditunjukkan
dengan mengedepankan kepentingan nasional. Nasionalisme
merupakan perwujudan dari PNS yaitu sebagai perekat dan
pemersatu bangsa. Nilai-nilai dasar nasionalisme adalah sebagai
berikut:
a. Loyalitas terhadap hukum
b. Kompetensi
c. Kepatuhan terhadap etika profesi
d. Tidak diskriminatif
e. Berusaha membangun kepercayaan publik
f. Menjaga persatuan bangsa
g. Menjadi pengawal kedaulatan negara
h. Menciptakan kondisi aman dan damai.

3. Etika Publik
Etika Publik adalah penerapan tentang standar dan norma yang
menentukan baik dan buruk, benar dan salah perilaku, tindakan dan
keputusan mengarahkan kebijakan publik dalam rangka
menjalankan tugas pelayanan publik. Etika merupakan sistem
penilaian perilaku serta keyakinan untuk menentukan perbuatan
yang pantas guna menjamin adanya perlindungan hak-hak individu,
mencakup cara-cara dalam mengambil keputusan untuk
membedakan hal yang baik dan buruk. Menurut pasal 4 Undang-
undang Nomor 5 tahun 2014 tentang ASN nilai-nilai etika publik
antara lain;
a. Memegang teguh nilai dalam ideologi Negara Pancasila;
b. Setia dan mempertahankan UUD 1945;
c. Mengabdi kepada negara dan rakyat Indonesia;
d. Menjalankan tugas secara profesional dan tidak berpihak;
e. Membuat keputusan berdasarkan prinsip keadilan;
f. Menciptakan lingkungan kerja yang non diskriminatif;
g. Memelihara dan menjunjung tinggi standar etika yang luhur;

45
h. Mempertanggungjawabkan tindakan dan kinerjanya kepada
publik;
i. Memiliki kemampuan dalam melaksanakan kebijakan dan
program pemerintah;
j. Memberikan layanan kepada publik secara jujur, tanggap, capat,
tepat, akurat, berdaya guna, dan santun;
k. Mengutamakan kepemimpinan berkualitas tinggi;
l. Menghargai komunikasi, konsultasi, dan kerjasama;
m. Mengutamakan pencapaian hasil dan mendorong kinerja
pegawai;
n. Mendorong kesetaraan dalam pekerjaan; dan
o. Meningkatkan efektivitas sistem pemerintahan yang demokratis
sebagai perangkat sistem karir.

4. Komitmen Mutu
Pemerintahan pada negara yang ingin maju harus dilakukan
dengam baik dan bersih. Komitmen mutu merupakan pemahaman
konsep mengenai efektivitas, efisiensi, inovasi, dan mutu
penyelenggaraan pemerintahan. Efektivitas merupakan sejauh
mana sebuah organisasi dapat mencapai tujuan yang ditetapkan.
Efisien merupakan jumlah sumberdaya yang digunakan untuk
mecapai tujuan organisasi. Nilai-nilai dasar komitmen mutu adalah
efektivitas, efisiensi, inovasi, dan berorientasi pada mutu. Nilai-nilai
dasar komitmen mutu antara lain:
a. Jujur dan benar
b. Cepat tanggap
c. Ketepatan
d. Akurat
e. Efektif
f. Efisien
g. Santun
h. Keandalan
i. Kompetensi

46
j. Kemudahan akses
k. Keramahan
l. Komunikasi
m. Kepercayaan
n. Keamanan
o. Pemahaman pelanggan

5. Anti Korupsi
Anti Korupsi adalah sikap dan perilaku untuk tidak mendukung
adanya upaya untuk merugikan keuangan negara dan
perekonomian negara. Anti korupsi perlu ditanamkan untuk
membentuk kesadaran dengan sepenuh hati terhadap dampak
korupsi, sehingga terbentuk kemauan yang kuat dan semangat yang
tinggi untuk menghindari diri dari perilaku dan tindak pidana korupsi.
Menurut UU No. 20 Tahun 2001, terdapat 7 kelompok tindak pidana
korupsi antara lain;
a. Kerugian keuangan negara;
b. Suap-menyuap;
c. Pemerasan;
d. Perbuatan curang;
e. Penggelapan dalam jabatan;
f. Benturan kepentingan dalam pengadaan;
g. Gratifikasi.

Nilai-nilai dasar anti korupsi yang harus diterapkan ASN antara lain:

a. Sikap jujur
b. Peduli
c. Mandiri
d. Disiplin
e. Tanggung jawab
f. Kerja keras
g. Sederhana
h. Berani

47
i. Adil.

ASN yang profesional harus mampu menghindari tindak pidana


korupsi dengan cara mengambil keputusan dengan bijak dan melalui
perencanaan yang matang. Menghindari pendapatan yang bukan
haknya. Menjaga jarak hubungan dengan stakeholder sehingga
dapat menghasilkan kebijakan yang tidak bias dan adil. Melakukan
setiap tugas jabatan sesuai arahan yang diberikan tanpa menutupi
kesalahan yang dilakukan baik sengaja ataupun tidak.

Kegiatan yang dilakukan dalam aktualisasi ini bertujuan untuk


memraktekkan nilai-nilai dasar PNS dan penanaman kesadaran mengenai
peran PNS dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. Nilai-nilai PNS yang
harus terkandung dalam setiap kegiatan yaitu akuntabilitas, nasionalisme,
etika publik, komitmen mutu, dan anti korupsi.

1. Mempelajari proses bisnis pemberian Hak Khusus berdasarkan P-BPH


Nomor 8 Tahun 2019.
Pelaksanaan kegiatan ini berkaitan dengan penanaman nilai:
a) Akuntabilitas, dinilai dari pelaksanaan kegiatan dengan jujur
yang dapat dibuktikan dengan dokumentasi berupa foto.
Pembuktian yang benar dan jelas membiasakan ASN untuk
menerapkan nilai-nilai akuntabilitas;
b) Etika Publik, menanamkan nilai etika kesopanan ketika
berinteraksi dengan atasan dan rekan kerja yang lebih senior.
Komunikasi dilakukan dengan sopan, jelas, dan santun
meskipun dilakukan melalui media yang tidak formal.
Komunikasi yang baik dengan mentor dan coach serta
pemahanan yang mumpuni mengenai peraturan juga dapat
meningkatkan kualitas aktualisasi, selaras dengan nilai dasar
etika publik, mengutamakan pencapaian hasil dan mendorong
kinerja.
c) Komitmen Mutu, penekanan terhadap sasaran latsar membantu
mengarahkan kegiatan aktualisasi sehingga tidak melenceng

48
dari tujuan. Mutu pelaksanaan kegiatan dapat ditingkatkan.
Komunikasi awal yang baik juga membantu agar target dapat
dicapai dengan tepat tanpa pemborosan sumber daya. Selain itu
mutu dari hasil kegiatan dijelaskan diawal sehingga dapat
dikontrol oleh mentor sebagai pengawas;
d) Nasionalisme, peraturan yang dikeluarkan oleh BPH Migas
adalah produk hukum nasional sehingga membantu
pelaksanaan peraturan tersebut agar berjalan dengan baik
adalah bentuk dukungan terhadap kemajuan bangsa. Nilai
nasionalisme lainnya yang diterapkan disini adalah kompetensi.
e) Anti Korupsi; pelaksanaan kegiatan dengan jujur termasuk
dalam penanaman anti korupsi, selain itu penulis juga didorong
untuk bisa mandiri menginisiasi kegiatan. Pelaksanaan kegiatan
yang berbarengan dengan pelaksanaan tugas harian
mengajarkan tanggung jawab untuk tetap menjalankan tugas
utama yang diberikan oleh negara.
f) Manajemen ASN, berkaitan dengan pengembangan kompetensi
ASN melalui pengajaran informal berupa coaching dan
mentoring.

2. Knowledge sharing mengenai proses bisnis keseluruhan Seksi Hak


Khusus.
Pelaksanaan kegiatan ini berkaitan dengan penanaman nilai:
a) Akuntabilitas, dinilai dari pelaksanaan kegiatan dengan jujur
yang dapat dibuktikan dengan dokumentasi berupa foto,
notulensi, dan bukti bahan paparan. Dalam kegiatan ini juga
menekankan aspek-aspek akuntabilitas sebagai sebuah
hubungan dimana setiap pihak saling mengawasi kegiatan yang
dilakukan. Pelaksanaan knowledge sharing dapat membantu
meningkatkan kompetensi sehingga memperbaiki kinerja unit
secara umum.
b) Etika Publik, menanamkan nilai etika kesopanan ketika
berinteraksi dengan atasan dan rekan kerja yang lebih senior;

49
nilai etika publik yang dihasilkan dari kegiatan ini pada jangka
panjang adalah membantu setiap individu di unit kerja untuk
memiliki kemampuan dalam melaksanakan kebijakan dan
program pemerintah, karena telah diperkaya pengetahuannya.
c) Komitmen Mutu, knowledge sharing dilakukan agar semua
anggota paham dan bisa memberikan pelayanan yang lebih
baik. Dengan pemahaman yang baik dapat meningkatkan
efisiensi pelayanan dan pengguanaan sumber daya.
d) Nasionalisme; menjadi individu yang berkompeten dan memiliki
pemahaman hukum yang baik merupakan salah satu bentuk
kecintaan terhadap tanah air. Pelaksana kebijakan yang paham
hukum dapat memperbaiki pelayanan terhadap masyarakat.
e) Anti Korupsi, Nilai anti korupsi yang ditekankan disini adalah
kejujuran dalam pelaksanaan kegiatan dan penggunaan
anggaran pada RDK.
f) Manajemen ASN, berkaitan dengan pengembangan kompetensi
ASN melalui pengajaran informal berupa diskusi dan berbagi
pengetahuan dalam agenda knowledge sharing.

3. Menyiapkan Draft Standar Operasional Prosedur Pemberian hak


Khusus.
Pelaksanaan kegiatan ini berkaitan dengan penanaman nilai:
a) Akuntabilitas, ditanamkan melalui pelaksanaan kegiatan yang
disertai dengan pertanggungjawaban dengan pembuktian
berupa draft SOP yang telah disiapkan. Nilai lainnya yaitu cermat
dan teliti, pembuatan SOP tidak bisa dilakukan sembarangan
karena harus mengikuti peraturan yang ada baik secara
pembuatan/format maupun substansinya.
b) Etika Publik, dilihat dari etika berinteraksi dengan atasan dan
rekan kerja yang telah senior, penulis belajar menerapkan
koordinasi yang baik dengan siapapun secara sopan.
c) Komitmen Mutu, Penyusunan SOP yang mengacu pada standar
baku terbaru menunjukkan kemauan untuk menerima

50
perubahan yang mengarah pada peningkatan mutu. Proses
yang dirancang dalam SOP dibuat sesederhana mungkin
sehingga dapat meningkatkan mutu pelayanan.
d) Anti Korupsi, Pebuatan SOP memperhatikan prinsip kebenaran
dan kesesuaian dengan hukum yang berlaku sehingga
pelaksanaan nantinya tidak melanggar peraturan.
e) Nasionalisme. SOP yang dirancang adalah bentuk dukungan
agar hukum/peraturan yang dikeluarkan oleh lembaga negara
berjalan dengan baik demi kebaikan bangsa Indonesia sendiri.
f) Pelayanan Publik. SOP dibuat agar pelayanan BPH Migas
secara umum terhadap stakeholder dapat dilaksanakan dengan
baik dan terkontrol.

4. Evaluasi Draft Standar Operasional Prosedur Pemberian Hak Khusus.


Pelaksanaan kegiatan ini berkaitan dengan nilai:
a) Akuntabilitas, dinilai dari keterbukaan dan kebersediaan untuk
dinilai hasil pekerjaannya oleh rekan kerja. Penulis juga berlatih
cermat untuk meminimalkan kesalahan. Pelaksanaan evaluasi
SOP yang dilakukan secara bersama menunjukkan keterbukaan
informasi sekaligus meningkatkan kesadaran staf akan
substansi SOP sehingga pelaksanaannya bisa lebih baik dan
teratur.
b) Etika Publik, berhubungan erat dengan sikap dan perilaku ASN
selama melakukan tahapan-tahapan kegiatan. Saat diskusi,
penulis berkomunikasi langsung dengan atasan dan belajar
mengemukakan argumen dengan baik.
c) Komitmen mutu, menerima masukan dari rekan kerja sehingga
hasil pekerjaan lebih bermutu. SOP yang dibuat harus selalu
dikaji dan diperbaiki karena memengaruhi mutu pelayanan
terhadap publik.
d) Anti Korupsi, mekanisme evaluasi memungkinkan SOP yang
dibuat sesuai dengan peraturan sehingga mengurangi
kemungkinan penyimpangan pada saat pelaksanaan.

51
e) Nasionalisme. SOP yang dirancang adalah bentuk dukungan
agar hukum/peraturan yang dikeluarkan oleh lembaga negara
berjalan dengan baik demi kebaikan bangsa Indonesia sendiri.

5. Memperbaiki rancangan Standar Operasional Prosedur pemberian Hak


Khusus sesuai Hasil Evaluasi.
Kegiatan ini berkaitan erat dengan nilai-nilai:
a) Akuntabilitas, dinilai dari pelaksanaan perbaikan rancangan
SOP yang sesuai hasil evaluasi berupa analisis perubahan SOP
sebelum dan setelah evaluasi;
b) Etika Publik, berkaitan dengan tingkah laku dan cara interaksi
selama berdiskusi dan meminta saran dalam upaya
memperbaiki rancangan SOP.
c) Komitmen mutu, perbaikan yang dilakukan terhadap SOP
menunjukkan pengerjaan yang tidak asal-asalan dan
mementingkan mutu;
d) Anti Korupsi, keterbukaan atas kesalahan yang diperbuat dan
kebersediaan untuk memperbaiki kesalahan pada SOP
sehingga dihasilkan SOP yang sistematis memperkecil peluang
penyimpangan.
e) Nasionalisme. SOP yang dirancang adalah bentuk dukungan
agar hukum/peraturan yang dikeluarkan oleh lembaga negara
berjalan dengan baik demi kebaikan bangsa Indonesia sendiri.

6. Finalisasi dan Pengusulan Persetujuan Standar Operasional Prosedur


Pemberian Hak Khusus berdasarkan P-BPH Nomor 8 Tahun 2019.
Kegiatan ini menekankan nilai-nilai dasar antara lain:
a) Akuntabilitas, SOP yang telah diperbaiki kembali dipaparkan
untuk memastikan kesesuaiannya dengan standar baku dan
peraturan yang berlaku, serta memastikan usulan perbaikan
saat evaluasi telah dimasukkan ke dalam SOP final.
b) Etika Publik, ditunjukkan pada saat pemaparan melalui tata cara
pemaparan yang baik dan sopan.

52
c) Komitmen mutu, pemaparan kembali SOP setelah perbaikan
untuk memastikan SOP yang dihasilkan sesuai standar baku.
d) Anti Korupsi, ditunjukkan dengan proses persetujuan yang
transparan dan terbuka sesuai prosedur, dibuktikan dengan nota
dinas bahwa proses tidak menyimpang.
e) Nasionalisme, SOP yang dirancang adalah bentuk dukungan
agar hukum/peraturan yang dikeluarkan oleh lembaga negara
berjalan dengan baik demi kebaikan bangsa Indonesia sendiri.
7. Memasukkan hasil finalisasi Standar Operasional Prosedur Pemberian
Hak Khusus ke SOP Online.
Kegiatan ini mengandung substansi dasar antara lain:
a) Akuntabilitas, memasukkan SOP ke sistem pengelolaan online
memungkin pengawasan untuk dilakukan oleh lebih banyak
pihak sehingga akuntabilitas bisa dibuktikan.
b) Etika Publik, menyediakan informasi yang sebenarnya, jika ada
kebutuhan SOP untuk dibukakan kepada pihak luar, mereka
mendapatkan informasi yang sebenarnya.
c) Komitmen mutu, pelaksanaan kegiatan ini mendukung
implementasi inovasi.
d) Anti Korupsi, SOP yang dibuat telah dibukakan kepada banyak
pihak dan sekaligus diperlihatkan pertanggungjawabannya.
e) Nasionalisme. SOP yang dirancang adalah bentuk dukungan
agar hukum/peraturan yang dikeluarkan oleh lembaga negara
berjalan dengan baik demi kebaikan bangsa Indonesia sendiri.
f) Whole of Government, sebagai bentuk peran serta dan
kolaborasi mendukung program unit lain.

B. Kontribusi terhadap Visi dan Misi serta Tujuan Organisasi

Pemberian Hak Khusus kepada Badan Usaha merupakan tahapan


penting dalam kegiatan bisnis Gas Bumi. Adanya perubahan regulasi usaha
hilir yang dikeluarkan oleh Kementerian ESDM melalui Permen ESDM Nomor
4 Tahun 2018 menuntut penyesuaian pada mekanisme pemberian Hak
Khusus oleh Badan Pengatur. Munculnya Peraturan Menteri ini ditindak lanjuti
53
oleh BPH Migas dengan mengeluarkan Peraturan BPH Nomor 8 Tahun 2019
tentang Pemberian Hak Khusus pada Ruas Transmisi dan/atau Wilayah
Jaringan Distribusi.
Standar Operasional Prosedur yang dibuat ini akan sangat membantu
Seksi Hak Khusus sebagai pelaksana peraturan tersebut dalam melayani
Badan Usaha sebagai stakeholder secara bersamaan mempertimbangkan
kebermanfaatan kegiatan usaha yang diberikan Hak Khususnya demi
perkembangan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat. Pelayanan yang
prima dalam proses pemberian Hak Khusus ini akan sangat menunjang Visi
Misi BPH Migas dalam upaya “... peningkatan pemanfaatan Gas Bumi di
dalam negeri” dan pelaksanaan tugas BPH Migas untuk “Mengatur dan
menetapkan pengusahaan transmisi dan distribusi gas bumi”.
Standar Operasional Prosedur yang dibuat juga memudahkan Seksi
Hak Khusus untuk melakukan evaluasi terhadap proses bisnis yang
diterapkan sehinga memungkinkan perbaikan yang tepat sasaran karena
dapat dilihat tahapan-tahapan yang bermasalah, perlu diperbaiki, atau ada
tahapan yang harus dimasukkan dengan mengkaji alur pada SOP.

C. Kontribusi terhadap Penguatan Nilai-Nilai Organisasi

Nilai-nilai organisasi yang dianut oleh Kementerian Energi dan Sumber


Daya Mineral mengacu pada Keputusan Menteri ESDM Nomor 1808
K/07/MEM/2015 tentang Nilai-Nilai Kementerian Energi dan Sumber Daya
Mineral yang meliputi: jujur, profesional, melayani, inovatif, dan berarti. Setiap
kegiatan yang dijalankan dalam tahap aktualisasi ini berkontribusi terhadap
nilai-nlai tersebut.

1. Mempelajari proses bisnis pemberian Hak Khusus berdasarkan P-BPH


Nomor 8 Tahun 2019.
Pelaksanaan kegiatan ini mendorong penanaman nilai jujur,
profesional, inovatif, dan berarti. Jujur ditunjukkan dalam pelaksanaan diskusi
dan evaluasi yang menjunjung tinggi kode etik, integritas, dan kode etik, juga
ditunjukkan pada pelaksanaan evaluasi yang transparan disertai bukti berupa

54
penilaian dari atasan. Profesionalitas ditunjukkan dengan bekerja secara
cermat dalam menyerap pembelajaran yang diberikan dalam Knowledge
sharing disertai dengan bukti dokumentasi dan notulensi dan dilaksanakan
cermat dan disiplin sesuai perencanaan. Inovasi ditunjukkan pada proses
diskusi dengan membahas permasalahan yang ada dan mencari pemecahan
dari masalah tersebut. Keberartian kegiatan ini ditunjukkan dengan dampak
kegiatan yang sangat mendukung kinerja organisasi yang tentunya akan
berdampak pada pemerintahan dan masyarakat.

2. Knowledge sharing mengenai proses bisnis keseluruhan Seksi Hak


Khusus.
Pelaksanaan kegiatan ini mendorong pembudayaan nilai-nilai
organisasi KESDM yaitu jujur, profesional, inovatif, dan berarti. Kejujuran
ditunjukkan dengan pembuktian setiap kegiatan. Profesionali ditunjukkan
dengan kemauan untuk belajar demi meningkatkan kompetensi. Inovasi
ditunjukkan dengan gagasan pelaksanaan knowledge sharing untuk
menyamakan pemahaman mengenai proes bisnis. Berarti dapat dinilai dari
kegiatan yang berkaitan dengan tugas dan fungsi unit sehingga menunjang
kinerja.

3. Menyiapkan Draft Standar Operasional Prosedur Pemberian hak Khusus.


Nilai-nilai jujur, profesional, dan berarti sangat ditanamkan pada tahap
ini. Jujur dinilai dari pelaksanaan kegiatan dengan baik sesuai amanah
diklatsar dan kepercayaan atasan untuk menyelesaikan masalah ini dengan
baik. Profesional dinilai dari kegiatan yang menuntut untuk terus belajar
sehingga terjadi pengembangan kompetensi, bekerja dengan cermat
menghindari kesalahan, menyelesaikan pekerjaan sesuai dengan jadwal yang
telah dibuat dan hasilnya dapat dipertanggungjawabkan. Keberartian kegiatan
ini ditunjukkan dari manfaat pemecahan masalah yang dapat mendukung
kinerja organisasi.

55
4. Evaluasi Draft Standar Operasional Prosedur Pemberian hak Khusus.
Nilai-nilai jujur, profesional, melayani, inovasi dan berarti sangat
ditanamkan pada tahap ini. Kejujuran dinilai dari rancangan SOP yang dibuat
mengacu pada standar yang berlaku. Profesional dapat dilihat dari pengerjaan
kegiatan yang selalu memacu pengembangan kompetensi baik dari segi
teknis peraturan, teknis pembuatan SOP, kemampuan untuk bekerja dalam
tim, dan tidak segan menerima masukan dari rekan kerja selama bertujuan
untuk penyempurnaan hasil kerja. Nilai melayani dinilai dari kegiatan yang
ditujukan untuk menyusun standar kegiatan sehingga organisasi berjalan
efektif dalam lingkup SOP, memahami kebutuhan pimpinan akan kualitas dan
isi dari SOP yang dibuat, SOP yang dibuat menjadikan pelayanan tidak
berbelit-belit, dan maksud dari peraturan terlaksana dengan baik. Inovasi
dapat dipicu dengan mengevaluasi SOP hak khusus yang lama dan melihat
celah-celah untuk melakukan perubahan. Nilai berarti dapat dilihat pada
kemauan untuk menghargai pendapat orang lain sama dengan pendapat diri
sendiri dalam evaluasi SOP yang dibuat dan kebermanfaatan SOP nantinya
untuk menunjang kinerja organisasi.

5. Memperbaiki rancangan Standar Operasional Prosedur pemberian Hak


Khusus sesuai Hasil Evaluasi.
Nilai-nilai jujur, profesional, dan berarti sangat ditanamkan pada tahap
ini. Jujur dinilai dari pelaksanaan kegiatan yang dilakukan sesuai dengan
peraturan yang berlaku dan secara terbuka menunjukkan bahwa perubahan
telah dilakukan. Profesional dinilai dari perbaikan yang terus dilakukan setiap
proses kegiatannya sehingga terjadi pengembangan kompetensi dan
kemampuan bekerja dalam tim. Keberartian kegiatan ini dapat dilihat dari
kemauan menghargai pendapat untuk perbaikan rancangan yang dibuat
sehingga bisa berkontribusi dalam memberikan manfaat bagi diri sendiri dan
organisasi.

6. Finalisasi dan Pengusulan Persetujuan Standar Operasional Prosedur


Pemberian Hak Khusus berdasarkan P-BPH Nomor 8 Tahun 2019.

56
Nilai-nilai jujur, profesional, melayani dan berarti sangat ditanamkan
pada tahap ini. Jujur ditunjukkan dalam pelaksanaan persetujuan dan finalisasi
secara terbuka dan sesuai mekanisme yang standar. Profesional berkaitan
dengan pengembangan kompetensi penulis dalam pembuatan SOP dari tahap
penyusunan awal hingga finalisasi. Melayani terlihat dari penyusunan standar
operasi sederhana yang akan sangat membantu pelayanan kepada
stakeholder. Berarti dinilai dari manfaat SOP yang dihasilkan ini terhadap
kinerja organisasi.

7. Memasukkan hasil finalisasi Standar Operasional Prosedur Pemberian


Hak Khusus ke SOP Online.
Nilai-nilai jujur, profesional, melayani, inovatif dan berarti sangat
ditanamkan pada tahap ini. Jujur dapat dinilai dengan memasukkan SOP yang
sudah dirancang secara benar. Profesional dilihat dari pengembangan
kompetensi sesuai tuntutan pekerjaan yang akan sangat berguna nantinya.
Melayani dinilai dari pemenuhan kebutuhan atasan terhadap adanya SOP.
Inovatif dinilai dari kemauan untuk menerima teknologi baru dalam hal ini SOP
Online. Keberartian dapat dinilai dari dampak positif SOP terhadap
keberhasilan pencapaian tujuan organisasi.

D. Identifikasi Dampak Pemecahan Isu (Individu, Unit Kerja, atau


Organisasi)

Dampak penyelesaian isu pada kegiatan aktualisasi ini hendaknya


dapat dirasakan baik dari sisi individu, unit kerja, hingga organisasi. Dampak
tersebut dapat dijabarkan sebagai berikut;

1. Dampak terhadap Individu


Dampak terhadap individu yang paling bisa dirasakan adalah
peningkatan kompetensi penulis sebagai CPNS. Dengan melakukan
kegiatan coaching dan Knowledge sharing dengan staf senior yang
telah berpengalaman, penulis semakin paham dengan tugas dan fungsi
unit kerja sehingga dapat bekerja dengan lebih baik kedepannya.

57
Penulis juga menjadi terbiasa untuk mengambil peran aktif
dalam pelaksanaan tugas sehari-hari maupun dalam menyelesaikan
masalah yang muncul sewaktu-waktu. Metode analisis masalah yang
dipraktekkan dalam aktualisasi ini bisa digunakan kapan saja. Secara
berkepanjangan diharapkan pengetahuan ini dapat penulis tunjukkan
dengan kinerja yang baik dan kontribusi lebih terhadap unit kerja.

2. Dampak terhadap Unit Kerja/Organisasi


Unit kerja secara langsung dapat merasakan dampak dari
pemecahan isu ini karena Standar Operasional Prosedur Pemberian
Hak Khusus ini sangat dibutuhkan agar unit kerja bisa menjalankan
tugas dan fungsinya dengan baik, efektif, dan efisien secara sistematis.
Peningkatan kompetensi penulis juga secara keseluruhan diharapkan
akan mengangkat kinerja unit menjai lebih baik daripada sebelumnya.

Pemecahan masalah ini akan mendorong peningkatan kinerja


organisasi secara umum. Pelaksanaan pemberian Hak Khusus yang
sesuai prosedur dan selaras dengan peraturan yang berlaku dapat
menghemat penggunaan anggaran untuk kegiatan yang tidak perlu.
Memberikan pelayanan yang pasti kepada setiap stakeholder tanpa
mengunggulkan sebagian pihak. Adanya Standar Operasional
Prosedur Pemberian Hak Khusus ini juga berkontribusi besar dalam
pencapaian Visi, Misi, dan Tujuan organisasi. Selain itu, pelaksanaan
aktualisasi ini menghasilkan peningkatan kompetensi sumber daya
manusia dalam organisasi.

Akan tetapi jika kegiatan ini tidak dilaksanakan akan menimbulkan beberapa
dampak negatif yang dapat dijabarkan sebagai berikut:

1. Dampak Terhadap Individu


Pengembangan kompetensi penulis dapat terhambat karena
kegiatan ini sangat memacu penulis untuk memahami peraturan yang
berlaku dan menjadi acuan kerja di Seksi Hak Khusus. Selain itu
penulis juga akan mengalami hambatan dalam beradaptasi dengan

58
rekan kerja di kantor, dengan adanya kegiatan ini penulis berinteraksi
dengan banyak pihak yang belum pernah sebelumnya.

2. Dampak Terhadap Unit Kerja/Organisasi


Unit kerja tidak akan merasakan dampak positif dari Standar
Operasional Prosedur yang dibuat. Meskipun belum sempurna, penulis
menilai SOP ini sangat membantu dalam menyediakan panduan dalam
melaksanakan peraturan yang baru diterbitkan. Jika tidak ada panduan,
sangat mungkin terjadi kebingungan dalam melaksanakan tugas
sehingga pelayanan menjadi kurang maksimal.
Tidak adanya SOP juga berarti tidak adanya ukuran
keberjalanan kegiatan. Ukuran tersebut diperlukan untuk melakukan
perbaikan dan evaluasi proses kedepannya.

E. Pengendalian Oleh Coach dan Mentor

Dalam melaksanakan kegiatan aktualisasi, penulis diawasi dan dibimbing oleh


coach dan mentor yang secara rutin memantau tahapan kegiatan, produk
kegiatan, serta ketercapaian dari setiap tahapan kegiatan. Pelaporan penulis
lakukan secara bertahap setelah masing-masing kegiatan selesai dilakukan.
Pengendalian oleh coach dan mentor juga sangat membantu dalam perbaikan
pelaksanaan kegiatan. Selain itu, pengawasan yang dilakukan membantu
memastikan semua kegiatan terlaksana dengan baik dan targer yang
diinginkan dapat tercapai.
Form Pengendalian oleh coach dan mentor dapat dilihat pada Lampiran 3.

59
BAB IV
PENUTUP

Demikianlah Laporan Pelaksanaan Aktualisasi ini penulis susun,


semoga penulis dapat menerapkan nilai-nilai yang didapatkan selama
kegiatan di unit kerja serta dapat mengembangkan kompetensi sekaligus
beradaptasi dengan budaya kerja PNS, jika memungkinkan dapat
memberikan perubahan lebih besar terhadap budaya kerja dan kualitas
pelayanan di unit tugas penulis.
Ucapan terima kasih penulis ucapkan kepada segenap pihak yang
terlibat dalam pelaksanaan Pelatihan Dasar CPNS KESDM mulai dari proses
belajar, pelaksanaan habituasi, hingga evaluasi akhir yaitu pengelola diklat
PPSDMA, para Widyaiswara, coach dan mentor dari BPH Migas, rekan kerja
Seksi Hak Khusus, serta teman-teman peserta Pelatihan Dasar CPNS
KESDM 2019.
Penulis menyadari penulisan Laporan Pelaksanaan Aktualisasi belum
bisa dikatakan sempurna utamanya disebabkan oleh kurangnya pengetahuan
penulis. Oleh karena itu, penulis mohon kritik dan saran untuk perbaikan
laporan serta tindak lanjut kegiatan aktualisasi setelahnya. Akhirnya, penulis
mengharapkan kegiatan aktualisasi ini dapat memberikan manfaat lebih besar
dan pelajaran yang penulis peroleh dapat membantu pengembangan diri
penulis sebagai ASN kedepannya.

60
DAFTAR PUSTAKA

Lembaga Administrasi Negara. 2015. Modul Pelatihan Dasar Calon PNS


Wawasan Kebangsaan dan Nilai-Nilai Bela Negara. Jakarta: Lembaga
Administrasi Negara.
Lembaga Administrasi Negara. 2015. Modul Pelatihan Dasar Calon PNS
Analisis Isu Kontemporer. Jakarta: Lembaga Administrasi Negara.
Lembaga Administrasi Negara. 2015. Modul Pelatihan Dasar Calon PNS
Kesiapsiagaan Bela Negara. Jakarta: Lembaga Administrasi Negara.
Lembaga Administrasi Negara. 2015. Modul Pelatihan Dasar Calon PNS
Akuntabilitas. Jakarta: Lembaga Administrasi Negara.
Lembaga Administrasi Negara. 2015. Modul Pelatihan Dasar Calon PNS
Nasionalisme. Jakarta: Lembaga Administrasi Negara.
Lembaga Administrasi Negara. 2015. Modul Pelatihan Dasar Calon PNS Etika
Publik. Jakarta: Lembaga Administrasi Negara.
Lembaga Administrasi Negara. 2015. Modul Pelatihan Dasar Calon PNS
Komitmen Mutu. Jakarta: Lembaga Administrasi Negara.
Lembaga Administrasi Negara. 2015. Modul Pelatihan Dasar Calon PNS Anti
Korupsi. Jakarta: Lembaga Administrasi Negara.
Undang-Undang No. 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara.
Undang-Undang No. 22 Tahun 2001 tentang Pengaturan Kegiatan Hilir
Minyak Dan Gas Bumi.
Peraturan Pemerintah No. 67 Tahun 2002 jo Peraturan Pemerintah No. 86
Tahun 2002 tentang Badan Pengatur Penyediaan dan Pendistribusian
Bahan Bakar Minyak dan Kegiatan Usaha Pengangkutan Gas Bumi
Melalui Pipa.
Peraturan Menteri ESDM No. 25 Tahun 2012 tentang Organisasi dan Tata
Kerja Sekretariat dan Direktorat Pada Badan Pengatur Penyediaan dan
Pendistribusian Bahan Bakar Minyak dan Kegiatan Usaha
Pengangkutan Gas Bumi Melalui Pipa.
Peraturan Menteri ESDM No. 4 Tahun 2018 Tentang Pengusahaan Gas Bumi
pada Kegiatan Usaha Hilir Minyak dan Gas Bumi.

61
Peraturan LAN Nomor 12 Tahun 2018 tentang Pelatihan Dasar Calon Pegawai
Negeri Sipil.
Keputusan Kepala Nomor 04/Ka/BPH Migas/12/2003 tentang Sebutan Badan
Pengatur. Hilir Minyak dan Gas Bumi.
Peraturan BPH Nomor 8 Tahun 2019 tentang Pemberian Hak Khusus pada
Ruas Transmisi dan/atau Wilayah Jaringan Distribusi.
Badan Pengatur Hilir Migas
https://bphmigas.go.id
Erick Hutrindo. 2019. Slide “Whole of Government”. Bandung: Badan
Pengembangan Sumber Daya Manusia KESDM.
Hendris Agung Prasojo. 2019. Slide “Manajemen ASN”. Bandung: Badan
Pengembangan Sumber Daya Manusia KESDM.
Ahmad Helmi. 2019. Slide “Penjelasan Aktualisasi - Habituasi”. Bandung:
Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia KESDM.

62
LAMPIRAN
LAMPIRAN 1. Timeline Rancangan dan Pelaksanaan Kegiatan
Rencana Waktu Pelaksanaan (Tahun 2019)
No Kegiatan Tahapan Kegiatan A Mei Juni
30 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19
1 2 3 4 5 6
Diskusi dengan coach dan mentor
Mempelajari proses bisnis 1 mengenai sasaran Pelatihan Dasar x
pemberian Hak Khusus CPNS KESDM
1
berdasarkan P-BPH Nomor 8
Tahun 2019
Pemahaman alur pemberian Hak
2 Khusus berdasarkan P-BPH Nomor 8
Tahun 2019
x Rancangan Kegiatan
3
Menyiapkan Undangan Rapat Dalam
x x x x x x
x Pelaksanaan
Kantor
Knowledge sharing
mengenai proses bisnis
2 4 Membuat Bahan Paparan RDK x x x x x x x x x x
keseluruhan Seksi Hak
Rapat Dalam Kantor mengenai
Khusus. 5 x
Proses Bisnis Hak Khusus
6 Evaluasi Pembelajaran Bagi CPNS x

Mempelajari format baku penyusunan


7 x
SOP sesuai dengan PermenPANRB
Melakukan evaluasi terhadap SOP
8 x
Menyiapkan Draft Standar Pemberian Hak Khusus lama
3 Operasional Prosedur Menyusun konsep dasar SOP
Pemberian hak Khusus pemberian Hak Khusus baru
9 x x x
berdasarkan P-BPH Nomor 8 Tahun
2019
Membuat Rancangan SOP
10 x x x x x x x x x
Pemberian Hak Khusus baru
Membuat Bahan Paparan rancangan
11 x
SOP Pemberian Hak Khusus
Menyiapkan undangan rapat dalam
12 rangka Paparan rancangan SOP
Evaluasi Draft Standar Pemberian Hak Khusus
4 Operasional Prosedur Mempresentasikan rancangan SOP
13 x
Pemberian hak Khusus Pemberian Hak Khusus
Evaluasi dan diskusi hasil rancangan
14 x
SOP Pemberian Hak Khusus
Membuat Notulensi evaluasi
15 rancangan SOP Pemberian Hak x
Khusus

Melakukan pemetaan permasalahan


16 terhadap hasil evaluasi yang telah x
Memperbaiki rancangan
dilakukan
Standar Operasional
5
Prosedur pemberian Hak
Menyusun rancangan SOP
Khusus sesuai Hasil Evaluasi
Pemberian Hak Khusus sesuai
17 x
dengan hasil evaluasi yang telah
dilakukan

Membuat Bahan Paparan Final


18 rancangan SOP Pemberian Hak x
Khusus

Menyiapkan undangan rapat dalam


Finalisasi dan Persetujuan 19 rangka Paparan Final rancangan
Standar Operasional SOP Pemberian Hak Khusus
6 Prosedur Pemberian Hak Mempresentasikan rancangan SOP
20 x
Khusus berdasarkan P-BPH Pemberian Hak Khusus
Nomor 8 Tahun 2019
Menyiapkan Nota Dinas persetujuan
21 SOP Pemberian Hak Khusus dari x
Kasubdit kepada Direktur

Pengusulan ersetujuan SOP


22 x
Pemberian Hak Khusus oleh Direktur

Memasukkan hasil finalisasi


36
Input data SOP Pemberian Hak
Standar Operasional
7 23 Khusus ke aplikasi SOP online x x
Prosedur Pemberian Hak
(etasop)
Khusus ke SOP Online
LAMPIRAN 2. Konsep Dasar SOP Hak Khusus Berdasarkan Peraturan BPH no 8 tahun 2019

LAMPIRAN 2. Konsep Dasar SOP Hak Khusus Berdasarkan Peraturan BPH no 8 tahun 2019

37
LAMPIRAN 3. Form Pengendalian Oleh Coach dan Mentor

LAMPIRAN 3. Form Pengendalian Oleh Coach dan Mentor

38
LAMPIRAN 4. Bukti Kegiatan 1

39
LAMPIRAN 5. Bukti Kegiatan 2

40
LAMPIRAN 6. Bukti Kegiatan 3

41
LAMPIRAN 7. Bukti Kegiatan 4

42
LAMPIRAN 8. Bukti Kegiatan 5

43
LAMPIRAN 9. Bukti Kegiatan 6

44
LAMPIRAN 10. Bukti Kegiatan 7

45