Anda di halaman 1dari 4

Sinergi Tiga Elemen yang Mampu Meningkatkan Indeks Literasi Mahasiswa

Pada tahun 2030 Indonesia akan mendapatkan keutungan dari bonus demografi penduduk. Indonesia
diramal masuk ke dalam lima besar negara yang memiliki pendapatan per kapita tinggi. Untuk mencapai
di titik tersebut diperlukan adanya usaha untuk mengarumi industry 4.0 yang sudah nampak di depan
mata. Perubahan dinamika laju pergerakan yang semula tersentralisasi bahwa manusia sebagai subyek
elan vital dalam tumbuh dan berkembangnya denyut nadi perekonomian telah mengalami pergeseran
secara perlahan tapi pasti tergantikan oleh otomatisasi mekanis dan digitalisasi teknologi dalam
menggerakan roda perekonomian.
Meminjam hasil penelitian dari McKinsey pada 2016 bahwa dampak dari digital tecnology menuju
revolusi industri 4.0 dalam lima (5) tahun kedepan akan ada 52,6 juta jenis pekerjaan akan mengalami
pergeseran atau hilang dari muka bumi. Hasil penelitian ini memberikan pesan bahwa setiap diri yang
masih ingin mempunyai eksistensi diri dalam kompetisi global harus mempersiapkan mental dan skill
yang mempunyai keunggulan persaingan (competitive advantage) dari lainnya. Jalan utama
mempersiapkan skill yang paling mudah ditempuh adalah mempunyai perilaku yang baik (behavioral
attitude), menaikan kompetensi diri dan memiliki semangat literasi. Bekal persiapan diri tersebut dapat
dilalui dengan jalur pendidikan (long life education) dan konsep diri melalui pengalaman bekerjasama
lintas generasi/ lintas disiplin ilmu (experience is the best teacher).
Perkembangan inovasi otomasi dengan terciptanya super-computer, robotic artificial intelegency
dan modifikasi genetik menciptakan dunia yang sangat berbeda dari dunia sebelumnya. Konsekuensi
logisnya dan harus ditanggung bersama-sama adalah perubahan dan pergeseran jenis tenaga kerja di era
sekarang (zaman now) dan mendatang. Pemandangan pergantian dan pergeseran banyaknya tenaga kerja
disektor padat karya mulai digantikan oleh otomatisasi dan digitilasi mesin sudah ada disekitar kita dan
masuk ke pelosok-pelosok desa dimana sebagai tempat komunal ketersediaan tenaga kerja. Semisal
sektor agraris, pada saat petani menanam sampai memanen padi yang selama ini dilakukan secara gotong
royong bercorak demonstratif karena banyak tenaga kerja yang dibutuhkan tapi hari ini dapat dilihat
secara seksama proses produktifitas tersebut cukup dilakukan satu (1) sampai dua (2) orang saja untuk
menggerakan mesin yang tersedia.
Perkembangan dunia yang semakin cepat menuntut orang-orang yang ingin bertahan di jamannya
untuk segera menguasai skill-skill yang dituntut. Menurut Trillling dan Fadel (2009), pembelajaran abad
21 berorientasi pada gaya hidup digital, alat berpikir, penelitian pembelajaran dan cara kerja pengetahuan.
Tiga dari empat orientasi pembelajaran abad 21 sangat dekat dengan pendidikan kejuruan yaitu cara kerja
pengetahuan, penguatan alat berpikir, dan gaya hidup digital. Cara kerja pengetahuan merupakan
kemampuan berkolaborasi dalam tim dengan lokasi yang berbeda dan dengan alat yang berbeda,
penguatan alat berpikir merupakan kemampuan menggunakan teknologi, alat digital, dan layanan, dan
gaya hidup digital merupakan kemampuan untuk menggunakan dan menyesuaikan dengan era digital.
Forum ekonomi dunia melansir, struktur keterampilan abad 21 akan mengalami perubahan. Pada tahun
2015, struktur keterampilan sebagai berikut; 1) pemecahan masalah yang kompleks; 2) kerjasama dengan
orang lain; 3) manajemen orang; 4) berpikir kritis; 5) negosiasi; 6) kontrol kualitas; 7) orientasi
layanan; 8) penilaian dan pengambilan keputusan; 9) mendengarkan secara aktif; dan 10); kreativitas.
Pada tahun 2020 struktur kerja berubah menjadi; 1) pemecahan masalah yang kompleks; 2) berpikir
kritis; 3) kreativitas; 4) manajemen orang; 5) kerjasama dengan orang lain 6) kecerdasan emosional; 7)
penilaian dan pengambilan keputusan; 8) orientasi layanan; 9) negosiasi; dan 10) fleksibilitas kognitif
(Irianto, 2017). Dari kesemua skill yang dipaparkan diatas, salah satu skill yang menjadi dasar pondasi
untuk menguasai skill tersebut adalah kemampuan Literasi
Budaya literasi sangatlah penting diterapkan dalam lingkup pendidikan terutama lingkup
kampus yang pemikirannya sudah masuk dalam taraf kematangan. Dalam KBBI, literasi
merupakan kemampuan menulis dan membaca. Kemampuan tersebut harus diasah sejak dini.
Namun melihat perkembangan teknologi yang pesat, membuat mahasiswa sekarang menjadi
tersisihkan oleh suatu bacaan maupun tulisan. Mereka menganggap budaya literasi merupakan
budaya kuno atau yang mereka sebut dengan jadul.
Tingkat literasi pada suatu negara berpengaruh penting dalam wawasan suatu masyarakat di
negara tersebut dan berpengaruh untuk membangun kualitas suatu bangsa. Kualitas suatu bangsa
ditentukan oleh kecerdasan dan pengetahuannya, sedangkan kecerdasan dan pengetahuan
dihasilkan oleh seberapa ilmu pengetahuan yang didapat, sedangkan ilmu pengetahuan didapat
dari informasi yang diperoleh dari lisan maupun tulisan.
Indonesia termasuk dalam negara yang tingkatan literasinya rendah, itu terbukti bahwa
generasi sekarang lebih menyukai menonton televisi atau gadget daripada membaca buku.
Berdasarkan sensus Badan Pusat Statistik (BPS) di 2006 menunjukkan 85,9 persen masyarakat
memilih menonton televisi daripada mendengarkan radio (40,3 persen) dan membaca koran (23,5
persen). Dalam lingkup kampus, mahasiswa harus mempunyai kemampuan berliterasi.
Tanpa budaya literasi yang tidak ditumbuhkan dalam diri serasa sop tanpa bumbu. Karena
dengan literasi kita bisa mendapatkan pengetahuan lebih. Seperti pepatah tanpa pengetahuan
hidup serasa mati, tak tahu arah tujuan. Dengan adanya budaya literasi, mahasiswa mampu
mengasah daya kritis akan suatu masalah yang timbul di lingkungan sekitar.
Banyak berbagai faktor yang mempengaruhi rendahnya budaya literasi di kalangan remaja,
baik dibangku kuliah maupun bangku sekolah konvensional. Kebiasaan membaca dan menulis
menjadi faktor utama kenapa budaya literasi tidak diminati oleh generasi z. Dr. Roger Farr (1984)
menyebutkan bahwa "reading is the heart of education". Seharusnya para orang tua mampu
membina dan mendidik anak-anaknya untuk terbiasa akan sebuah bacaan maupun tulisan, agar
nantinya mereka tidak buta pengetahuan. Sebab dengan membaca kita dapat membuka jendela
dunia, membuka pengetahuan seluas-luasnya untuk menuju suatu masa depan yang cerah.
Membaca merupakan kegiatan yang dilakukan untuk mendapatkan pengetahuan baru.
Dengan kegiatan membaca kita dapat mengasah susunan paragraf yang benar, menggunaan diksi
kata yang sesuai dengan EBI dan membiasakan diri dengan budaya literasi. Pembiasaan yang
terus diasah akan membuahkan hasil nantinya, dengan adanya pembelajaran tentang literasi kita
dapat mengetahui bagaimana menyusun kalimat yang benar dan sinkron. Literasi bagi mahasiswa
bermanfaat untuk penyusunan tugas akhir baik skripsi, tesis, maupun disertasi. Tanpa kita
membiasakan berliterasi kita akan kesulitan dalam penyusunan tugas akhir tersebut dan akan
membutuhkan seorang pendamping. Maka dari itu budaya literasi dalam ranah mahasiswa sangat
berperan penting dalam kelangsungan hidup mahasiswa dalam menempuh pendidikan.
Pertanyaannya adalah bagaimana meningkatkan kemampuan dan kebiasaan literasi bagi mahasiswa.
Penulis berpendapat bahwa ada tiga elemen yang harus saling berkontribusi dalam misi ini. Ketiga
elemen tersebut adalah Mahasiswa itu sendiri, pihak kampus dan Pemerintah.
Dikutip dari website vionews.id, Sejak tahun 2016 Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
menggiatkan Gerakan Literasi Nasional (GLN). Dari sisi anggaran, tak kurang Rp10 triliun
dialokasikan untuk pengembangan literasi perbukuan. Dalam Undang-undang Nomor 3 Tahun 2017
tentang Sistem Perbukuan disebutkan buku pendidikan di Indonesia harus bermutu, harga
terjangkau dan merata. Untuk itu, sebagai upaya mendukung Gerakan Literasi Nasional (GLN),
Kemendikbud dan Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) pada Selasa (2/04) menandatangani nota
kesepahaman tentang pengembangan literasi dalam rangka meningkatkan fungsi dan peran buku
dalam pendidikan dan kebudayaan di Indonesia. Memang benar upaya yang dilakukan pemerintah
yaitu menggiatkan kembali literasi ditingkat pendidikan. Upaya kreatif yang perlu ditingkatkan adalah
penggunaan teknologi dalam misi tersebut. Teknologi dapat diterapkan dengan wujud literasi digital.
Adaptasi gerakan literasi baru dapat diintegrasi dengan melakukan penyesuaian kurikulum dan sistem
pembelajaran sebagai respon terhadap era industri 4.0. Respon pembelajaran yang perlu dikembangkan
untuk SMK adalah pembelajaran abad 21.
Pihak kampus dapat berupaya memberikan stimulasi dan dorongan kepada mahasiswa untuk
mau tidak mau harus meningkatkan kemampuan literasinya. Kampus diharapkan lebih giat lagi
mengadakan dan mendorong kompetisi yang dapat memacu kebiasaan literasi mahasiswa. Pada
kegiatan belajar mengajar dapat ditambahkan tugas-tugas yang dapat menambah pengalaman
mahasiswa dalam dunia literasi secara wajib.
Salah satu elemen yang paling berpengaruh dalam misi ini adalah elemen mahasiswa itu sendiri.
Mahasiswa perlu sadar akan pentingnya literasi agar dapat lebih cepat berkembang dan mampu
menguasai komptensi serta skill yang nantinya akan membatnunya dalam bersaing di era revolusi
industry 4.0. Lingkungan merupakan salah satu elemen penting yang membentuk kepribadian dan
kebiasaan seseorang. Ketika seorang mahasiswa ingin meingkatkan kompetensinya terutama di
bidang literasi, maka mahasiswa tersebut harus mencari lingkungan yang mampu memberi dorongan
yang positif untuk mewujudkan misi ini.
Jika penulis dapat simpulkan tulisan ini, maka Revolusi industri saat ini memasuki fase
keempat. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sangat pesat memberikan dampak yang
besar terhadap kehidupan manusia. Banyak kemudahan dan inovasi yang diperoleh dengan adanya
dukungan teknologi digital. Layanan menjadi lebih cepat dan efisien serta memiliki jangkauan koneksi
yang lebih luas dengan sistem online. Hidup menjadi lebih mudah dan murah. Namun demikian,
digitalisasi program juga membawa dampak negatif. Peran manusia setahap demi setahap diambil alih
oleh mesin otomatis. Akibatnya, jumlah pengangguran semakin meningkat. Hal ini tentu saja akan
menambah beban masalah lokal maupun nasional. Oleh karena itu, untuk memanfaatkan peluang dan
menjawab tantangan revolusi industri 4.0, para pemangku kepentingan (stake holders) wajib membuat
terobosan dalam meningkatkan kemampuan literasi data, teknologi dan manusia pada SDM Indonesia.
Ada tiga elemen penting yang seharusnya dapat mewujudkan misi ini. Pihak pemerintah yang
menggalakkan budaya literasi akan mampu menggaungkan manfaat literasi di kalangan pelajar. Pihak
kampus akan memberikan dorongan secara moral kepada mahasiswa didiknya, dan tentunya
mahasiswa yang menjadi penentunya.
Sumber:
Trilling, B &Fadel, C. (2009). 21st-century skills: learning for life in our times. US: Jossey-Bass A
Wiley Imprint.

Irianto, D. (2017). Industry 4.0; The Challenges of Tomorrow. Disampaikan pada Seminar Nasional
Teknik Industri, Batu- Malang.

https://www.bps.go.id/ data BPS 2006 tingkat literasi, diakses tgl 30/8/2019 pukul 20.00
https://www.voinews.id/indonesian/index.php/component/k2/item/8126-meningkatkan-minat-
baca-melalui-gerakan-literasi-nasional diakses tgl 30/8/2019 pukul 20.30