Anda di halaman 1dari 26

RESUME KASUS GAWAT DARURAT PADA TN.

DJ DGN HIPOGLIKEMI DI
INSTALASI GAWAT DARURAT RUMAH SAKIT KEN SARAS
KABUPATEN SEMARANG

DISUSUN OLEH

NIA NANDY KHAIRUNNISAK


P1337420919024

PRODI SARJANA TERAPAN KEPERAWATAN DAN PROFESI NERS


JURUSAN KEPERAWATAN-POLTEKKES KEMENKES SEMARANG
2019

i
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Diabetes mellitus merupakan suatu kelompok penyakit metabolik dengan
karakteristik hiperglikemi yang terjadi karena kelainan sekresi insulin, kerja
insulin, atau kedua-duanya (Ernawati, 2012). Terdapat komplikasi akut yang
dapat muncul pada penderita diabetes mellitus salah satunya adalah hipoglikemi
dimana keadaan tubuh dengan kadar glukosa darah sewaktu dibawah 60 mg/dl
lebih rendah dari kebutuhan tubuh. Resiko ketidakstabilan kadar glukosa darah
terjadi karena tubuh tidak mampu menggunakan dan melepaskan insulin secara
adekuat (Irianto, 2015). Di sebabkan karena faktor keturunan, obesitas, makan
secara berlebihan, kurang olahraga, serta perubahan gaya hidup (Kusnanto,
2013).
Dengan demikian keadaan tersebut diakibatkan ketidakstabilan kadar
glukosa darah yang pertama melakukan cara edukasi, penderita harus memahami
betul-betul menganai Diabetes Mellitus (DM), cara yang kedua yaitu tentang
pembatasan diet makanan, penderita harus memahami dan mengikuti pola diet
yang di jalani tidak boleh melebihi batasan diet yang disesuaikan, selanjutnya
dengan berolahraga atau gerak badan sangat diperlukan untuk membakar kadar
gula dalam darah yang sudah berlebih, yang terakhir dengan terapi-terapi seperti
farmakologis (Santoso, 2011). Tujuan ini untuk mempertahankan kadar gula
darah dalam tubuh agar tetap dalam batas normal serta mengatasi berbagai
macam keluhan yang sering dialami oleh penderita Diabetes seperti kesemutan
dengan gangguan pada penglihatan (FKUI, 2017).
World Health Organization (WHO) pada tahun 2011 jumlah penderita
Diabetes Mellitus di dunia mencapai 200 juta jiwa. Indonesia menepati urutan ke
empat terbesar dalam jumlah penderita Diabetes Mellitus di dunia. Menurut
Laporan Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2013, Provinsi Jawa

1
Tengah merupakan salah satu wilayah di Indonesia dengan prevelensi penderita
Diabetes Mellitus sebasar 2,1% (Riskesdas, 2013). Kasus penderita Diabetes
Mellitus sebanyak 102.399 kasus (Dinkes Provinsi Jawa Tengah, 2012). Resiko
ketidakstabilan kadar glukosa darah sebabkan oleh obesitas, kurang berolahraga,
pola makan yang buruk dan gaya hidup yang tidak sehat menjadi faktor utama.

Perawat memiliki peran untuk memandirikan klien Diabetes Mellitus tipe


2 dalam mengelola penyakitnya akan tercapai pengontrolan kadar glukosa darah
dan pencegahan terhadap kejadian komplikasi. Aktivitas yang mendukung
pengelolaan Diabetes Mellitus yaitu dengan self-care. Self-care
menggambarkan perilaku individu yang dilakukan secara sadar, bersifat
universal, dan terbatas pada diri sendiri. Self-care menurut orem didefinisikan
sebagai aktivitas yang dilakukan oleh sesorang dimana individu memulai dan
melakukan suatu tindakan berdasarkan keinginannya dengan tujuan untuk
mempertahankan hidup dan kesehatan serta kesejahteraan. Dalam konsep self-
care, orem menitikberatkan bahwa setiap orang harus dapat bertanggungjawab
terhadap pelaksanaan self-care bagi dirinya sendiri dan mampu terlibat dalam
pengambilan keputusan untuk kesehatannya (Alligood & tomey, 2011).
Berdasarkan latar belakang dan fenomena diatas penulis tertarik
melakukan studi kasus hipoglikemi pada Tn. Dj dalam judul “Asuhan
Keperawatan Gawat Darurat Pada Tn. Dj Dengan Diagnose Medis Hipoglikemi
Di Rumah Sakit Ken Saras Tahun 2019”.

B. Web Of Causation
Terlampir

2
BAB II
ASUHAN KEPERAWATAN GAWAT DARURAT PADA TN. DJ DI
RUMAH SAKIT KEN SARAS KABUPATEN SEMARANG

Tanggal Pengkajian: 04 September 2019, Ruang/RS: IGD-RS Ken Saras

A. PENGKAJIAN KLIEN
1. Biodata Pasien
a. Nama : Tn. Dj
b. Umur : 63 tahun 6 bulan
c. Alamat : Ngempon, RT.4/RW.4, Bergas, Semarang
d. Pendidikan : SLTA
e. Pekerjaan: : Pensiunan TNI
f. Tanggal masuk : 04 September 2019
g. Diagnosa Medis : Hipoglikemi
h. Nomor registrasi : A061329

2. Biodata Penanggung Jawab


a. Nama : Tn. W
b. Umur : 35 tahun
c. Alamat : Batang
d. Hubungan dengan klien : Anak Kandung

B. TRIAGE
1. Keluhan Utama
Keluarga klien mengatakan alasan masuk ke IGD karena terjadi
penurunan kesadaran 3 jam SMRS

2. Riwayat Penyakit Sekarang


Klien tampak pingsan disertai kejang 1 kali, keadaan umum lemas dan
sesak nafas, kesadaran somnolen, GCS: E2V4M6, memiliki riwayat
diabetes, hipertensi dan epilepsi. Keluarga mengatakan klien kelelahan
selepas acara keluarga, riwayat mondok di RS Ken Saras tanggal 27
Agustus sampai 3 September 2019.

3. TTV
 TD : 131/89 mmHg
 RR : 26 x/i
 N : 86 x/i
 S : 360c

3
 SpO2 : 94%

C. PRIMARY SURVEY
1. Airway
Tidak adanya sumbatan jalan nafas. Jalan nafas bersih.

2. Breathing
Merasa kekurangan oksigen dan napas tersengal – sengal, RR 26
x/menit, irama teratur, menggunakan otot bantu pernafasan, tampak
mengangkat bahu pada saat inspirasi.
I: bentuk dada simetris, tidak ada retraksi dinding dada
P: Vokal Vermitus lebih kuat kanan
P : Redup pada paru kiri
A : Vesikuler pada paru kanan, vesikuler melemah pada paru kiri

3. Circulation
Keringat dingin, TD: 131/89 mmHg, Nadi: 86 x/i (teraba lemah),
Suhu: :360c, akral dingin, capillary refill kembali dalam 2 detik,
konjungtiva tidak anemis

4. Disability
Terjadi penurunan kesadaran, karena kekurangan suplai nutrisi ke otak,
tingkat kesadaran somnolen, GCS : E2 V4 M6, pupil isokor besar
pupil kiri kanan isokor atau sama besar 2/2, reaksi pupil terhadap
cahaya positif. Tidak terjadi paralisis dan tingkat kekuatan otot (4)
4 4
4 4

5. Exposure
Tidak terjadi hipotermi, Suhu: 360c dan tidak ditemukan adanya
luka/infeksi pada bagian tubuh klien.

6. Folley Catheter
Pasien terpasang kateter urin uk. 16 untuk memenuhi kebutuhan
eliminasi klien

7. Gastric Tube

4
Pasien tidak terpasang NGT

8. Heart Monitor
Pasien dilakukan pemeriksaan EKG dengan hasil LVH.

D. SECONDARY SURVEY
1. Anamnesis
Keluarga mengatakan pasien mengalami penurunan kesadaran 3 jam
SMRS, tidak ada riwayat alergi obat ataupun makanan, klien sedang
mengonsumsi obat-obatan seperti metformin 500mg (3x1), coditam
(2x1), cilostazol 100mg (2x1), betaserc 24mg (2x1), asam mefenamat
500mg (2x1), diminum sesudah makan dan insulin, klien sebelumnya
memiliki riwayat penyakit diabetes, hipertensi dan epilepsi, klien makan
nasi dengan sayur, terakhir sehabis maghrib kira-kira pukul 18.00 WIB.
Keluarga mengatakan klien kecapean selepas acara keluarga dan merasa
sesak setelahnya. Klien tampak pingsan disertai kejang 1 kali, keadaan
umum lemas dan sesak nafas, kesadaran somnolen, GCS: E2V4M6,
riwayat mondok di RS Ken Saras tanggal 27 Agustus sampai 3
September 2019.

2. Pemeriksaan Fisik
a. Kepala :
Muka : sianosis (-), ukuran pupil kanan/kiri 2mm/2mm, rangsang
cahaya pupil kanan/kiri +/+
Hidung : bersih, cuping hidung (-), terpasang O2 NRM 10 lpm
Telinga : simetris, bersih, serumen (-)
Leher : JVP (-), pembesaran kelenjer tiroid (-)

b. Dada :
I: bentuk dada simetris, tidak ada retraksi dinding dada
P: Vokal Vermitus lebih kuat kanan
P : Redup pada paru kiri
A : Vesikuler pada paru kanan, vesikuler melemah pada paru kiri

c. Abdomen :
I : simetris antara kanan dan kiri, terlihat gerakan diafragma, tidak ada
lesi atau luka diperut
A : bising usus 8 x/menit

5
P : tympani
P : tidak ada pembesaran hati, tidak ada distensi

d. Ekstremitas :
Atas : tangan kiri terpasang infus D10 20 tpm,
Bawah : terpasang DC no. 16, tidak terdapat memar baik dikaki kanan
ataupun kaki kiri
Kekuatan otot

4 4
4 4
Keterangan :

5 : Mampu menggerakkan persendian dalam lingkup gerak penuh,


mampu melawan gaya gravitasi, mampu melawan dengan tahan penuh
4 : Mampu menggerakkan persendian dengan gaya gravitasi, mampu
melawan dengan tahan sedang
3 :Hanya mampu melawan gaya gravitasi
2 :Tidak mampu melawan gaya gravitas {gerakkan pasif}
1 :Kontraksi otot dapat di palpasi tampa gerakkan persendian
0 :Tidak ada kontraksi otot

E. PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. Pemeriksaan GDS :
a. Hasil GDS 1 : 39 mg/dL
b. Hasil GDS 2: 87 mg/dL
c. Hasil GDS 3 : 137 mg/dL

2. Pemeriksaan EKG :
Diagnosa EKG : LVH (Left Ventrikular Hipertrophy)

6
F. PROGRAM TERAPI

Nama Terapi/
Jenis Kegunaan
Obat
Oksigen 10 lpm NRM Memenuhi kebutuhan oksigen yang adekuat
D10 (30 tpm) IVFD Untuk mengatasi hipoglikemi dan
D40 2 flash IV
kekurangan cairan
Citicoline 500mg IV Vitamin untuk saraf untuk mempertahankan
fungsi otak secara normal
Ondansentron 8mg IV Anti emetik untuk mencegah dan
mengobati mual dan muntah
Ozid 2 mg IV Mengatasi nyeri lambung dengan kerja
lebih cepat

7
G. ANALISA DATA

No Waktu Data Fokus Etiologi Problem


1. Rabu, DS : Gangguan status Ketidaksetabilan
1.Keluarga klien
04/09/2019, kesehatan fisik kadar glukosa
22.15 WIB mengatakan
(ketidakmampuan darah (00179)
masuk ke IGD
ginjal mensekresi
karena terjadi
insulin)
penurunan
kesadaran 3 jam
SMRS
2.Keluarga klien
mengatakan klien
memiliki riwayat
diabetes,
hipertensi dan
epilepsi.
DO :
1. Klien tampak
pingsan pertama
kali masuk IGD
disertai kejang 1
kali
2. Klien tampak
lemas
3. Kesadaran
somnolen ,
GCS: E2V4M6,
4. TTV :
 TD: 131/89
mmHg
 RR: 26 x/i
 N : 86 x/i

8
 S : 360c
5. Hasil
pemeriksaan
GDS 1: 39
mg/Dl
2 Rabu, DS : Keletihan Ketidakefektifan
1. Keluarga
04/09/2019, pola napas
22.15 WIB mengatakan klien
(00032)
kecapean selepas
acara keluarga dan
merasa sesak
setelahnya.

DO :
1. Klien tampak
pingsan pertama
kali masuk IGD
disertai kejang 1
kali setelah itu
tampak sesak
sambil
memegang
dadanya
2. Klien tampak
lemas dan sulit
bernafas
3. RR : 26 x/i
SpO2 : 94%
4. Klien tampak
mengangkat
bahu pada saat
inspirasi
5. Adanya

9
penggunaan otot
bantu
pernafasan
6. Hasil auskultasi:
Vesikuler pada
paru kanan,
vesikuler
melemah pada
paru kiri

H. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Ketidaksetabilan kadar glukosa darah b.d gangguan status kesehatan
fisik (ketidakmampuan ginjal mensekresi insulin) (00179)
2. Ketidakefektifan pola napas b.d keletihan (00032)

I. RENCANA TINDAKAN KEPERAWATAN

NO Hari/Tang
NOC NIC
DX gal/ Jam
1 Rabu, Setelah dilakukan Management Hipoglikemia (20130)
04/09/2019, tindakan selama 1 x 2 -Monitor kadar glukosa darah
22.15 WIB
jam diharapkan kadar sesuai indikasi
glukosa darah dapat -Memantau gejala hipoglikemia
kembali normal seperti:tremor, berkeringat, gugup,
dengan kriteria hasil : takikardi, palpitasi, mengigil,
1. peningkatan kadar
perubahan perilaku, coma.
glukosa darah dalam
-Memberikan karbohidrat
batas normal
sederhana yang sesuai
2. kelemahan
-Memberikan glukosa melalui IV
berkurang

10
3. kejang berkurang -Lindungi jangan sampai cedera
atau hilang -Mengajarkan pasien dan keluarga
4. gangguan
mengenai gejala, faktor resiko,
konsentrasi berkurang
pencegahan hipoglikemia, dan
manajemen diabetes.

2. Rabu, Setelah dilakukan Airway management (3140)


04/09/2019, tindakan selama 1 x 2 -Buka jalan nafas
22.15 WIB
jam diharapkan pola -Posisikan pasien untuk
nafas kembali efektif memaksimalkan ventilasi
dengan kriteria hasil : -Lakukan fisioterapi dada jika perlu
1. Frekuensi napas
- Auskultasi suara nafas, catat
dalam rentang normal,
adanya suara tambahan
RR 16-20 kali/ menit
2.Klien tidak kesulitan
bernapas, tidak ada
otot bantu pernapasan,
Oxygen therapy (3320)
tidak ada pernapasan
-Bersihkan mulut, hidung dan
cupping hidung
3. Saturasi oksigen sekret
dalam batas normal -Pertahankan jalan nafas yang paten
-Monitor aliran oksigen
-Pertahankan posisi pasien
-Observasi adanya tanda-tanda
hipoventilasi

Vital signs monitoring (6680)


-Monitor TD, nadi, suhu, dan RR
-Catat adanya fluktuasi tekanan
darah
-Monitor sianosis perifer

11
J. IMPLEMENTASI KEPERAWATAN

Tgl/jam No/dx Implementasi Respon Paraf


Rabu, 1, 2 Melakukan pengkajian data DS :
04/09/2019 umum (Riwayat penyakit, Keluarga klien
22.15 WIB
identitas, keluhan utama, dan mengatakan klien
gaya hidup) memiliki riwayat
diabetes, hipertensi dan
epilepsi, riwayat
mondok di RS Ken
Saras tanggal 27
Agustus sampai 3
September 2019.
DO :
Keluarga klien tampak
menyampaikan
informasi dan
menanyakan kondisi
pasien

22.25 WIB 1, 2 -Mengkaji TTV DS :


-Mengecek kesadaran klien Klien bersedia
-Mengecek kadar GDS 1
dilakukan pemeriksaan

DO :
TTV :
TD: 131/89 mmHg
RR: 26 x/i
N: 86 x/i
S: 360c

12
Kesasadaran: somnolen
GCS E2V4M6
Hasil GDS 1: 39
mg/dL

22.30 WIB 1, 2 -Memantau gejala hipoglikemi DS:


-Memberikan glukosa melalui IV klien bersedia di
dengan memasang infus D10 pasang infus dan o2
sekaligus mengambil sampel
DO:
darah klien terpasang infus
-Memasang O2 nrm 10 lpm
D10 dengan Ivcath
N0. 20, 30 tpm, serta
sampel darah sudah
diambil
SP02: 97%, RR: 28x/i

22.35 WIB 1, 2 -Memberikan Injeksi D40 2 DS :


Klien bersedia di
flash, citicoline 500, ondan 8mg,
injeksi dan diatur
dan ozid 1 amp
-Mengatur posisi nyaman klien posisi nyaman
(semifowler) untuk
DO:
memaksimalkan ventilasi -Obat masuk melalui
-Mengauskultasi suara nafas klien
IV dan klien tampak
dan mencatat jika terdapat suara
rileks
nafas tambahan - Hasil auskultasi:
Tidak terdapat suara
nafas tambahan,
vesikuler pada paru
kanan, vesikuler
melemah pada paru kiri

22.45 WIB 1, 2 -Melakukan pemeriksaan EKG DS:


- Mengajarkan keluarga klien klien bersedia untuk di

13
mengenai gejala, faktor resiko, EKG dan keluarga
pencegahan hipoglikemia, dan klien antusias
manajemen diabetes. menyampaikan
keluhan dan meminta
saran

DO:
hasil dari pemeriksaan
EKG: LVH dan
keluarga dapat
memahami apa yang
disampaikan perawat
dan mahasiswa

23.10 WIB 1, 2 -Mengobservasi KU dan DS:


-Memonitor TTV klien tampak rileks dan
-Melakukan Cek GDS 2
pasrah ketika diperiksa

DO:
-KU: tampak lemah
-TTV
TD: 130/85 mmHg
RR: 24 x/i
N: 82 x/i
S: 360c
Hasil GDS 2: 87
mg/dL

23.15 WIB 1, 2 -Memasang DC urin ukuran 16 G DS:


klien bersedia dan
kooperatif dipasang
DC ukuran 16

DO:
klien tampak rileks

14
dan urine keluar
dengan lancar dalam
urine bag

24.00 WIB 1, 2 -Melakukan cek GDS 3 DS:


-Mengobserasi KU dan klien bersedia
memonitor TTV dilakukan pemeriksaan

DO:
- Hasil GDS 2:137
mg/dL
- KU: lemah
-TTV
TD: 130/85 mmHg
RR: 20 x/i
N: 82 x/i
S: 360c

24.05 WIB 1, 2 -Mempertahankan posisi nyaman DS:


klien dan keluarga
klien
-Mengantar klien ke ruang rawat bersedia mengikuti
inap DM A arahan

DO:
klien tampak rileks dan
dipindahkan oleh
perawat meggunakan
bed ke ruang rawat
Diamond A

K. EVALUASI KEPERAWATAN

Tanggal No/dx Evaluasi Paraf

15
Rabu, 1 S:
klien mengatakan masih lemas sedikit
04/09/2019,
24.05 WIB
O:
-Kesadaran composmentis
-Klien masih tampak lemah
-Terpasang infus D10, DC 16
-TTV
TD: 130/85 mmHg
RR: 20 x/i
N: 82 x/i
S: 360c

A:
Masalah belum teratasi sepenuhnya
(sebagian)

P:
Pertahankan intervensi seperti:
1. monitor kadar gula darah sesuai
indikasi
2. memantau gejala hipoglikemi
3. memantau tanda-tanda vital
4. berkolaborasi dalam pemberian terapi
sesuai indikasi

Rabu, 2 S:
klien mengatakan sesaknya sudah mulai
04/09/2019,
24.05 WIB berkurang

O:
-Klien masih tampak lemah
- Masih terpasang NRM 8 lpm
-RR: 20 x/i

16
SPO2: 98%

A:
Masalah belum teratasi sepenuhnya
(sebagian)

P:
Pertahankan intervensi seperti:
1. pertahankan jalan nafas yang adekuat
dan beri posisi nyaman
3. memantau tanda-tanda vital
4. observasi tanda-tanda hipoventilasi
5. berkolaborasi dalam pemberian terapi
sesuai indikasi

- -

BAB III
PEMBAHASAN

A. Analisa Kasus

Studi kasus dilakukan di RS Ken Saras pada hari Rabu, tanggal 04


September 2019 di ruang IGD. Pasien yang dirawat berinisial Tn. Dj, umur 63
tahun, jenis kelamin laki-laki, agama Islam, alamat Ngempon, RT.4/RW.4,
Bergas, Semarang, No Register A061329. Masuk rumah sakit pukul 22.15
dengan diagnosa medik hipoglikemi, sumber informasi dari keluarga klien dan

17
dalam hal ini penanggung jawab yaitu anak kandung klien. Keluarga klien
mengatakan alasan masuk ke IGD karena terjadi penurunan kesadaran 3 jam
SMRS. Klien tampak pingsan disertai kejang 1 kali, keluarga klien mengatakan
klien kelelahan selepas acara keluarag, keadaan umum lemas dan sesak nafas,
kesadaran somnolen, GCS: E2V4M6, , riwayat diabetetes, hipertensi dan epilepsi,
riwayat mondok di RS Ken Saras tanggal 27 Agustus sampai 3 September 2019.
Hasil GDS 1: 39 mg/dL.
Hipoglikemia (shock insulin) adalah suatu sindrome yang komplek
berawal dari suatu gangguan metabolisme glukosa, dimana konsentrasi serum
glukosa menurun sampai tidak dapat memenuhi kebutuhan metabolisme sistem
saraf. Hipoglikemia merupakan keadaan dimana kadar gula darah rendah secara
abnormal, terjadi jika gula darah turun dibawah 50-60mg/dl (2,7 sampai 3,3
mmol/L) (Smeltzer & Bare, 2015).
Rendahnya kadar gula darah disebabkan oleh proses autoimun, kerja
pankreas sedikit masuk dalam sel, hal tersebut dapat menyebabkan kelemahan
dengan kadar glukosa darah meningkat, selain itu tubuh akan menurunkan
penggunaan glukosa otot, lemak dan hati serta peningkatan produksi glukosa
oleh hati dengan pemecahan lemak terhadap kelaparan sel, meningkatnya jumlah
urine yang berakibat meningkatnya rasa haus. Menurut Adib (2013) dalam
Mustika (2015) mengatakan bahwa makanan tertentu jika dikonsumsi dapat
menaikan kadar gula dalam darah, karena itu klien harus berhati- hati memilih
makanan, bahkan pangan kaya karbohidrat membuat kerja organ pankreas
menjadi lebih berat, karbohidrat akan segera diubah menjadi glukosa akibatnya
kadar gula meningkat, selanjutnya pankreas bereaksi mengeluarkan insulin agar
dapat menarik gula dalam darah dan penyimpanannya dalam otot sebagai
cadangan energi. Pola makan adalah tingkah laku, jadi pola makan adalah
tingkah laku atau cara makan klien diabetes melitus dapat hidup dengan
membutuhkan konsentrasi penuh kadang peyebab tidak teratur pola makanan ,
sedangkan menurut Rusman (2014) stress dan diabetes melitus memiliki
hubungan yang sangat erat terutama pada pola hidup yang tidak sehat. Tekanan

18
kehidupan dan gaya hidup tidak sehat sangat berpengaruh, berbgai penyakit yang
sedang diderita, menyebabkan penurunan kondisi seseorang sehingga memicu
terjadinya stress yang berakibat gangguan pada kadar gula darah tidak terkontrol.

B. Analisa Intervensi Keperawatan


Tahap perencanaan keperawatan ada tahap goal, objektif, Nursing
Outcome Clasification (NOC) dan Nursing Intervantion Classification (NIC)
(Gloria, 2016), diagnosa keperawatan yang mungkin muncul adalah
ketidaksetabilan kadar glukosa darah b.d gangguan status kesehatan fisik.
Ketidakstabilan kadar glukosa darah adalah rentan terhadap variasi kadar
glukosa/gula darah dari rentang normal yang dapat mengganggu kesehatan.
Masalah ketidastabilan kadar glukosa darah pada klien diabetes mellitus tipe 2
disebabkan karena oleh obesitas, kurang berolahraga, pola makan yang buruk
dan gaya hidup yang tidak sehat. Intervensi keperawatan yang dilakukan pada
studi kasus ini mengarah Nursing Outcome Classifation (NOC) dan Nursing
Income classifation (NIC) yang meliputi monitor kadar glukosa darah, monitor
tanda dan gejala hipoglikemi, beri terapi sesuai resep, identifikasi kemungkinan
penyebab hiperglikemi, dorong pemantauan sendiri kadar glukosa darah,
monitor status caiaran intake output sesuai kebutuhan . Intervensi yang diberikan
untuk klien dengan masalah keperawatan ketidakstabilan kadar glukosa darah
meliputi managemen hipoglikemi untuk mengontrol kadar glukosa darah.
Implementasi keperawatan yang dilakukan NIC adalah: Manajemen
hipoglikemi monitor kadar glukosa darah, monitor tanda dan gejala hipoglikemi,
beri insulin sesuai resep, identifikasi kemungkinan penyebab hipoglikemi,
dorong pemantauan sendiri kadar glukosa darah, monitor TTV. Berdasarkan
implementasi sesuai NIC yang diberikan kepada klien Diabetes Mellitus
diharapkan kadar glukosa darah klien dapat terkontrol dan tidak menyebabkan
terjadinya masalah-masalah kesehatan yang lain. Sedangkan dalam tindakan
keperawatan pada diagnosa kedua terkait dengan kebutuhan oksigenasi:
ketidakefektifan pola nafas yang merupakan kegiatan inspirasi dan ekspirasi

19
yang tidak memberi ventilasi yang adekuat yaitu airway management dengan
pemberian posisi semi fowler dapat mengurangi sesak nafas dan memonitor
status respirasi klien. Saat sesak napas, pasien lebih nyaman dengan posisi
setengah duduk, sehingga posisi semi fowler memberikan kenyamanan dan
membantu memperingan kesukaran bernapas. Menurut Supadi (2013) dalam
Mustika (2015) saat terjadi serangan sesak biasanya klien merasa sesak dan
tidak dapat tidur dengan posisi berbaring. Melainkan harus dalam posisi
duduk atau setengah duduk untuk meredakan penyempitan jalan napas dan
memenuhi O2 dalam darah.
Selain itu, perawat juga dapat melibatkan keluarga dalam perawatan pasien
hipoglikemia. Hal ini didukung oleh Maslikah (2018) yang menyatakan peran
keluarga sangat penting dalam menentukan perilaku penderita diabetes melitus,
diharapkan keluarga memberikan dukungan moral dalam penatalaksanaan
diabetes melitus. Mustika (2015) juga menyatakan bahwa keluarga juga turut
serta dalam mencegah terjadinya hipoglikemi pada pasien diabetes mellitus dan
merawatnya.
Evaluasi yang dilakukan tidak jauh berbeda dengan evaluasi pada teori.
Perawat melakukan pengukuran kadar gula darah kembali setelah diberikan
terapi D 40 per-IV dan memantau keadaan umum serta TTV pasien. Evaluasi ini
didukung oleh Maughton (2011) yang menyatakan bahwa pemberian dekstrosa
per-IV merupakan terapi pertama yang dapat meningkatkan kadar glukosa darah
selama 30-60 menit. Oleh karena itu, sebaiknya dilakukan pengukuran kadar
gula darah kembali setelah pemberian dekstrosa per-IV. Sedangkan ada beberapa
intervensi pada teori tetapi belum bisa diimplementasikan pada pasien Tn. Dj
seperti memantau kadar gula darah
yang akan dilakukan di ruang perawatan karena pemantauan kadar gula darah
membutuhkan waktu yang lama dan dilakukan secara teratur. Evaluasi untuk
penderita Diabetes Mellitus dapat berkurang dengan melakukan manajemen
hipoglikemi. Evaluasi dari manajemen hipoglikemi bisa membantu klien untuk
menstabilkan kadar glukosa darah.

20
BAB IV
PENUTUP

A. KESIMPULAN
Setelah dilakukakan asuhan keperawatan hipoglikemi pada Tn. Dj diruang
Instalasi Gawat Darurat RS Ken Saras pada tanggal 04 September 2019 kemudian
membandingkan antara teori dan kasus, dapat disimpulkan sebagai berikut:
1. Pada saat pengkajian klien masuk rumah sakit pukul 22.15 dengan diagnosa
medik hipoglikemi, sumber informasi dari keluarga klien dan dalam hal ini
penanggung jawab yaitu anak kandung klien. Keluarga klien mengatakan
alasan masuk ke IGD karena terjadi penurunan kesadaran 3 jam SMRS. Klien

21
tampak pingsan disertai kejang 1 kali, keadaan umum lemas dan sesak nafas,
kesadaran somnolen, GCS: E2V4M6, , riwayat diabetetes, hipertensi dan
epilepsi, riwayat mondok di RS Ken Saras tanggal 27 Agustus sampai 3
September 2019. Hasil GDS 1: 39 mg/dL.
2. Berdasarkan hasil analisa data didapatkan diagnosis keperawatan yang utama
yaitu ketidaksetabilan kadar glukosa darah b.d gangguan status kesehatan fisik
dan diagnosa kedua adalah ketidakefektifan pola nafas b.d keletihan.
3. Perencanaan keperawatan dirumuskan berdasarkan prioritas masalah dan
kondisi klien. Pada saat penulis melakukan pengkajian serta kemampuan
keluarga dalam kerja sama dengan penulis, dalam melakukan asuhan
keperawatan pada Tn. Dj, penulis telah berusaha melakukan tindakan
keperawatan sesuai dengan rencana keperawatan yang telah ditujukan untuk
mengatasi masalah yang dialami klien dengan melakukan manajemen
hipoglikemi dan mengatasi masalah keperawatan lainnya.
4. Implementasi yang dilakukan penulis sudah sesuai dengan intervensi yang
telah direncanakan, evaluasi keperawatan pada Tn. Dj menggambarkan
kondisi Tn. Dj sudah mulai membaik ditandai kadar gula darah dalam
keadaan stabil dan tidak terjadi penurunan kesadaran.
5. Hasil evaluasi pada kasus nyata didapatkan tidak adanya kesenjangan antara
teori dan kasus. Dimana masalah keperawatan dapat teratasi, ini
dikarenakan perubahan keadaan pasien setelah dilakukan tindakan
keperawatan sudah teratasi sehingga pencapaian tujuan dan kriteria hasil dari
diagnosis keperawatan tersebut tercapai.

B. SARAN
a. Bagi Rumah Sakit
Pada saat memberikan asuhan keperawatan pada klien dengan
hipoglikemi hendaknya perawat ruangan memberikan pembekalan penanganan
dirumah supaya keluarga dapat merawat pasien saat pasien sudah pulang seperti
menasehati pasien untuk mengkonsumsi makanan sesuai diit, rutin meminum obat
sesuai jadwal dan sering mengontrol gula darah di fasilitas kesehatan.

b. Bagi Pasien

22
Diharapkan sebagai pedoman untuk mengetahui lebih lanjut penyakit yang
dialami dan dapat mengendalikan serta mengontrol gula darahnya.

c. Bagi Penulis
Hasil penelitian membuat pengalaman belajar dalam meningkatkan
pengetahuan dan ketrampilan berkaitan dengan pasien hipoglikemi dan
menambah wawasan sebagai acuan bagi peneliti selanjutnya dalam
mengembangkan penelitian lanjutan terhadap pasien yang menderita
hipoglikemi.

23
24
25

Anda mungkin juga menyukai