Anda di halaman 1dari 29

DESAIN INOVATIF KEPERAWATAN KRITIS

PENERAPAN PURSED LIPS BREATHING TERHADAP SATURASI OKSIGEN


DI RS KENSARAS KABUPATEN SEMARANG

DISUSUN OLEH:

NIA NANDY KHAIRUNNISAK


P1337420919024

PROGRAM STUDI PROFESI NERS


JURUSAN KEPERAWATAN SEMARANG
POLTEKKES KEMENKES SEMARANG
2019
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Prioritas masalah yang harus segera ditangani dalam keperawatan gawat
darurat meliputi Airway, Breathing, Circulation, Disability, dan Eksposure.
Kegawatan pada pernafasan jika tidak segera ditangani akan menimbulkan
kecacatan bahkan kematian, salah satu kegawatan pernafasan adalah sesak nafas
(Dewi Kartika, 2013). Gangguan pernafasan diklasifikasikan berdasarkan etiologi,
letak anatomis, sifat kronik penyakit, dan perubahan struktur serta fungsi.
Gangguan pernafasan biasanya dapat menyebabkan disfungsi ventilasi yang
menyebabkan gagalnya proses pertukaran oksigen terhadap karbondioksida di
dalam paru. Salah satu penyebab gangguan pernapafasan adalah sesak nafas. Sesak
nafas (dyspnea) adalah perasaan sulit bernafas dimana sering dikeluhkan nafasnya
menjadi pendek atau merasa tercekik. Hal ini yang menyebabkan terjadinya
penurunan difusi oksigen sehingga akan terjadi penurunan pada saturasi oksigen
(9). Saturasi oksigen adalah jumlah oksigen yang diangkut oleh hemoglobin, ditulis
sebagai persentasi total oksigen yang terikat pada hemoglobin. Nilai normal
saturasi oksigen yang diukur menggunakan oksimetri nadi berkisar antara 95-100%
(10) (Potter and Perry, 2013).
NANDA (2012) mengungkapkan masalah keperawatan yang umum terjadi
pada penderita sesak nafas yaitu salah satunya pola napas tidak efektif dan bersihan
nafas tidak efektif. Pola napas tidak efektif diakibatkan oleh terganggunya ekspansi
paru akibat akumulasi cairan sehingga akan menimbulkan manifestasi klinis seperti
peningkatan frekuensi napas, kesulitas bernapas (dipsnea), penggunaan otot-otot
bantu pernapasan, dan kasus-kasus berat muncul seperti sianosis. World Health
Organization (WHO) tahun 2017 menyebutkan pada tahun 2015, diperkirakan 40
juta kematian terjadi akibat penyakit tidak komunikatif, terhitung 70% dari total
keseluruhan 56 juta kematian. Mayoritas kematian tersebut disebabkan oleh
keempat penyakit utama, yaitu: penyakit kardiovaskular sebanyak 17,7 juta
kematian (terhitung 45% dari semua kematian penyakit tidak komunikatif), kanker
sebanyak 8,8 juta kematian (22%), penyakit pernafasan kronis sebanyak 3,9 juta
kematian (10%). Meskipun tertahan tingkat kematian kardiovaskular dan kronis,
tapi tingkat kematian pernafasan telah meningkat secara substansial di Indonesia
sebagai negara berpenghasilan rendah dan menengah dan mereka tetap jauh lebih
tinggi dari negara berpenghasilan tinggi (Riskesdas, 2013).
Salah satu asuhan keperawatan mandiri yang dapat dilakukan untuk
mengurangi sesak nafas pada pasien dengan gangguan oksigenasi pada setiap
diagnosa medis yang mempunyai masalah pada gangguan oksigenasi dapat
diberikan penatalaksanaan non farmakologi diantaranya adalah rehabilitasi yaitu
dengan melakukan tehnik pursed lips breathing exercise yang dapat dijadikan salah
satu intervensi keperawatan mandiri (Smeltzer, 2008). Pursed Lip Breathing
Exercise merupakan latihan pernafasan untuk mengatur frekuensi dan pola
pernafasan sehingga mengurangi air trapping, memperbaiki ventilasi alveoli untuk
memperbaiki pertukaran gas tanpa meningkatkan kerja pernafasan, mengatur dan
mengkoordinasi kecepatan pernafasan sehingga bernafas lebih efektif dan
mengurangi sesak nafas (Smeltzer, 2008). Ramos dkk (2009 dalam khasanah, 2013)
melaporkan hasil penelitiannya bahwa pursed lips breathing secara signifikan dapat
menurunkan sesak nafas dan heart rate serta meningkatkan saturasi oksigen pada
pasien dengan gangguan oksigenasi dan hasil penelitian Hafiizh (2013) pursed lips
breathing dapat menurunkan respiratory rate (RR) dan meningkatkan pulse oxygen
saturation (SpO2).Pursed lips breathing dapat memperpanjang ekshalasi, hal ini
akan mengurangi udara yang terjebak di jalan nafas, serta meningkatkan
pengeluaran CO2 dan menurunkan kadar CO2 dalam darah arteri serta
meningkatkan O2 sehingga akan terjadi perbaikan homeostatis yaitu kadar
CO2 dalam darah arteri normal, ph darah juga akan menjadi normal
(Muttaqin, 2014).
B. Tujuan
1. Umum
Tujuan umum adalah untuk mengidentifikasi respon klien dengan
penerapan teknik pursed lips breathing terhadap saturasi oksigen selama
diberikan intervensi berdasar Evidence Based Practice di Ruang IGD RS
Kensaras Kabupaten Semarang.

2. Khusus
a. Mengidentifikasi gambaran respon klien sebelum diberikan penerapan
teknik pursed lips breathing
b. Mengidentifikasi gambaran respon klien setelah diberikan penerapan teknik
pursed lips breathing

C. Manfaat
1. Sebagai bahan kajian untuk meningkatkan pelayanan keperawatan di IGD.
2. Sebagai salah satu bacaan ilmiah penerapan evidence based nursing pada
keperawatan gawat darurat di IGD RS Kensaras mengenai penerapan teknik
pursed lips breathing
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Konsep Gangguan Oksigenasi


1. Definisi Oksigenasi
Kebutuhan oksigenasi merupakan kebutuhan dasar manusia yang
digunakan untuk kelangsungan metabolisme sel tubuh mempertahankan
hidup dan aktivitas berbagai organ atau sel oksigen merupakan gas tidak
berwarna dan tidak berbau yang sangat dibutuhkan dalam proses
metabolisme sel. Sebagai hasilnya, terbentuklah karbon dioksida, energi,
dan air. Akan tetapi penambahan CO2 yang melebihi batas normal pada
tubuh akan memberikan dampak yang cukup bermakna terhadap aktifitas
sel. Oksigen adalah salah satu komponen gas dan unsur vital dalam proses
metabolisme untuk mempertahankan kelangsungan hidup seluruh sel-sel
tubuh. Secara normal elemen ini diperoleh dengan cara menghirup O2
ruangan setiap kali bernapas. Terapi oksigen adalah pemberian oksigen
dengan konsentrasi yang lebih tinggi dibandingkan dengan oksigen di
atmosfer.
Konsentrasi oksigen dalam udara ruangan adalah 21%. Tujuan terapi
oksigen adalah memberikan transport oksigen yang adekuat dalam darah
sambil menurunkan upaya bernafas dan mengurangi stres pada miokardium
(Hidayat, 2010, dalam Yuliana 2016). Adanya kekurangan O2 ditandai
dengan keadaan hipoksia, yang dalam proses lanjut dapat menyebabkan
kematian jaringan bahkan dapat mengancam kehidupan. Apabila manusia
kekurangan oksigen, salah satu tindakan yang bisa dilakukan adalah
pemberian terapi oksigen dan membuka jalan nafas klien.
Saturasi oksigen yang dibawah nilai normal sebelum dilakukan intervensi
dengan sesak napas akan mengalami penyempitan jalan napas sehingga
menyebabkan pengembangan paru yang tidak optimal, terjadinya pertambahan
ruang rugi dan penurunan difusi oksigen yang akan berdampak pada penurunan
saturasi oksigen . Penurunan kapasitas vital paru menyebabkan kecilnya perbedaan
gradien tekanan gas oksigen dalam alveoli dengan kapiler. Pada pasien dengan
gangguan pola nafas terjadi resistensi saluran napas meningkat sehingga harus
diciptrakan gradien tekanan yang lebih besar untuk mempertahankan kecepatan
aliran udara yang normal. Penurunan tekanan oksigen alveoli yang lebih kecil dari
tekanan gas oksigen dalam paru ini menyebabkan terjadinya penurunan difusi
oksigen yang dapat dilihat secara sederhana melalui penurunan saturasi oksigen .
Salah satu asuhan keperawatan mandiri yang dapat dilakukan untuk
mengurangi sesak nafas pada pasien dengan gangguan oksigenasi pada
setiap diagnosa medis yang mempunyai masalah pada gangguan oksigenasi
dapat diberikan penatalaksanaan non farmakologi diantaranya adalah
rehabilitasi yaitu dengan melakukan tehnik pursed lips breathing exercise
yang dapat dijadikan salah satu intervensi keperawatan mandiri (Smeltzer,
2008).

2. Etiologi
Adapun faktor-faktor yang menyebabkan klien mengalami gangguan
oksigenasi menurut NANDA (2012), yaitu hiperventilasi, hipoventilasi,
deformitas tulang dan dinding dada, nyeri, cemas, penurunan energy atau
kelelahan, kerusakan neuromuscular, kerusakan muskoloskeletal, kerusakan
kognitif atau persepsi, obesitas, posisi tubuh, imaturitas neurologis
kelelahan otot pernafasan dan adanya perubahan membrane kapiler-alveoli.

3. Patofisiologi
Proses pertukaran gas dipengaruhi oleh ventilasi, difusi dan trasportasi.
Proses ventilasi (proses penghantaran jumlah oksigen yang masuk dan keluar
dari dan ke paru-paru), apabila pada proses ini terdapat obstruksi maka
oksigen tidak dapat tersalur dengan baik dan sumbatan tersebut akan
direspon jalan nafas sebagai benda asing yang menimbulkan pengeluaran
mukus. Proses difusi (penyaluran oksigen dari alveoli ke jaringan) yang
terganggu akan menyebabkan ketidakefektifan pertukaran gas. Selain
kerusakan pada proses ventilasi, difusi, maka kerusakan pada transportasi
seperti perubahan volume sekuncup, afterload, preload, dan kontraktilitas
miokard juga dapat mempengaruhi pertukaran gas (Potter and Perry, 2010).

4. Manifestasi klinis
Adanya penurunan tekanan inspirasi/ ekspirasi menjadi tanda gangguan
oksigenasi. Penurunan ventilasi permenit, penggunaaan otot nafas tambahan
untuk bernafas, pernafasan nafas flaring (nafas cuping hidung), dispnea,
ortopnea, penyimpangan dada, nafas pendek, posisi tubuh menunjukan posisi
3 poin, nafas dengan bibir, ekspirasi memanjang, peningkatan diameter
anteriorposterior, frekuensi nafas kurang, penurunan kapasitas vital menjadi
tanda dan gejala adanya pola nafas yang tidak efektif sehingga menjadi
gangguan oksigenasi (NANDA, 2012). Beberapa tanda dan gejala kerusakan
pertukaran gas yaitu takikardi, hiperkapnea, kelelahan, somnolen, iritabilitas,
hipoksia, kebingungan, AGS abnormal, sianosis, warna kulit abnormal
(pucat, kehitam-hitaman), hipoksemia, hiperkarbia, sakit kepala ketika
bangun, abnormal frekuensi, irama dan kedalaman nafas (NANDA, 2012).

5. Faktor yang Mempengaruhi Kebutuhan Oksigen


1) Faktor fisiologis
a. Penurunan kapasitas membawa oksigen
b. Penurunan konsentrasi oksigen oksigen yang diinspirasi

2) Faktor perkembangan
Saat lahir terjadi perubahan respirasi yang besar yaitu paru-paru yang
sebelumnya berisi cairan menjadi berisi udara. Bayi memiliki dada yang
kecil dan jalan nafas yang pendek. Bentuk dada bulat pada waktu bayi
dan masa kanak-kanak, diameter dari depan ke belakang berkurang
dengan proporsi terhadap diameter transversal. Pada orang dewasa thorak
diasumsikan berbentuk oval. Pada lanjut usia juga terjadi perubahan pada
bentuk thorak dan pola napas. Tahap perkembangan klien dan proses
penuaan yang normal mempengaruhi oksigenasi jaringan: Bayi Prematur,
Bayi dan Todler, Anak usia sekolah dan remaja, Dewasa muda dan
dewasa pertengahan dan Lansia.
3) Faktor lingkungan
Ketinggian, panas, dingin dan polusi mempengaruhi oksigenasi.
Makin tinggi daratan, makin rendah PaO2, sehingga makin sedikit O2
yang dapat dihirup individu. Sebagai akibatnya individu pada daerah
ketinggian memiliki laju pernapasan dan jantung yang meningkat,
juga kedalaman pernapasan yang meningkat. Sebagai respon terhadap
panas, pembuluh darah perifer akan berdilatasi, sehingga darah akan
mengalir ke kulit. Meningkatnya jumlah panas yang hilang dari
permukaan tubuh akan mengakibatkan curah jantung meningkat
sehingga kebutuhan oksigen juga akan meningkat. Pada lingkungan
yang dingin sebaliknya terjadi kontriksi pembuluh darah perifer,
akibatnya meningkatkan tekanan darah yang akan menurunkan
kegiatankegiatan jantung sehingga mengurangi kebutuhan akan
oksigen.

4) Gaya hidup
Aktifitas dan latihan fisik meningkatkan laju dan kedalaman
pernapasan dan denyut jantung, demikian juga suplay oksigen dalam
tubuh. Merokok dan pekerjaan tertentu pada tempat yang berdebu
dapat menjadi predisposisi penyakit paru.

5) Status kesehatan
Pada orang yang sehat sistem kardiovaskuler dan pernapasan dapat
menyediakan oksigen yang cukup untuk memenuhi kebutuhan tubuh.
Akan tetapi penyakit pada sistem kardiovaskuler kadang berakibat
pada terganggunya pengiriman oksigen ke sel-sel tubuh. Selain itu
penyakitpenyakit pada sistem pernapasan dapat mempunyai efek
sebaliknya terhadap oksigen darah. Salah satu contoh kondisi
kardiovaskuler yang mempengaruhi oksigen adalah anemia, karena
hemoglobin berfungsi membawa oksigen dan karbondioksida maka
anemia dapat mempengaruhi transportasi gas-gas tersebut ke dan dari
sel.

6) Narkotika
Narkotika seperti morfin dan dapat menurunkan laju dan kedalam
pernapasan ketika depresi pusat pernapasan dimedula. Oleh karena itu
bila memberikan obat-obat narkotik analgetik, perawat harus memantau
laju dan kedalaman pernapasan.

7) Perubahan/gangguan pada fungsi pernapasan


Fungsi pernapasan dapat terganggu oleh kondisi-kondisi yang dapat
mempengarhi pernapasan yaitu:
a. Pergerakan udara ke dalam atau keluar paru
b. Difusi oksigen dan karbondioksida antara alveoli dan kapiler paru
c. Transpor oksigen dan transpor dioksida melalui darah ke dan sel
jaringan.

8) Perubahan pola nafas


Pernapasan yang normal dilakukan tanpa usaha dan pernapasan ini sama
jaraknya dan sedikit perbedaan kedalamannya. Bernapas yang sulit
disebut dyspnoe (sesak). Kadang-kadang terdapat napas cuping hidung
karena usaha inspirasi yang meningkat, denyut jantung meningkat.
Orthopneo yaitu ketidakmampuan untuk bernapas kecuali pada posisi
duduk dan berdiri seperti pada penderita asma

9) Obstruksi jalan nafas


Obstruksi jalan napas lengkap atau sebagaian dapat terjadi di sepanjang
saluran pernapasan di sebelah atas atau bawah. Obstruksi jalan napas
bagian atas meliputi: hidung, pharing, laring atau trakhea, dapat terjadi
karena adanya benda asing seperti makanan, karena lidah yang jatuh
kebelakang (otrhopharing) bila individu tidak sadar atau bila sekresi
menumpuk disaluran napas. Obstruksi jalan napas di bagian bawah
melibatkan oklusi sebagian atau lengkap dari saluran napas ke bronkhus
dan paru-paru. Mempertahankan jalan napas yang terbuka merupakan
intervensi keperawatan yang kadang-kadang membutuhkan tindakan
yang tepat. Onbstruksi sebagian jalan napas ditandai dengan adanya
suara mengorok selama inhalasi (inspirasi).

B. Konsep Pursed Lip Breathing Exercise


1. Pengertian
Pursed Lip Breathing merupakan salah satu teknik latihan
pernafasan yang melibatkan pernafasan melalui perlawanan yang
diciptakan dengan penyempitan bibir. Efek dari pursed lips breathing
adalah meningkatkan volume tidal dan volume akhir ekspirasi paru dan
dampaknya adalah meningkatkam kapasitas otot-otot pernafasan untuk
memenuhi kebutuhan dalam memberikan tekanan pernafasan
(Ambrosino & Serradori, 2013). Pursed Lip Breathing adalah pernapasan
melalui bibir (Pursed Lip) yang dapat membantu memperlambat ekspirasi
mencegah kolaps jalan nafas kecil, dan mengontrol kecepatan serta
kedalaman pernafasan; pernapasan ini juga meningkatkan relaksasi
(Brunner & Suddarth, 2015).
Pursed Lip Breathing Exercise merupakan latihan pernapasan dengan
cara penderita duduk dan inspirasi dalam saat ekspirasi penderita
menghembuskan melalui mulut hampir tetutup seperti bersiul (Smeltzer,
2008). Pursed Lip Breathing merupakan salah satu teknik latihan
pernafasan yang melibatkan pernafasan melalui perlawanan yang
diciptakan dengan penyempitan bibir. Efek dari pursed lips breathing
adalah meningkatkan volume tidal dan volume akhir ekspirasi paru dan
dampaknya adalah meningkatkam kapasitas otot-otot pernafasan untuk
memenuhi kebutuhan dalam memberikan tekanan pernafasan
(Ambrosino & Serradori, 2013). Pursed Lip Breathing adalah pernapasan
melalui bibir (Pursed Lip) yang dapat membantu memperlambat ekspirasi
mencegah kolaps jalan nafas kecil, dan mengontrol kecepatan serta
kedalaman pernafasan; pernapasan ini juga meningkatkan relaksasi
(Brunner & Suddarth, 2015).
2. Tujuan
Tujuan dari Pursed Lip Breathing Exercise untuk mencapai ventilasi
yang lebih terkontrol dan efisien serta mengurangi kerja pernapasan,
meningkatkan inflasi alveolar maksimal, relaksasi otot dan menghilangkan
ansietas dan mencegah pola aktivitas otot pernapasan yang tidak berguna,
melambatkan frekuensi pernapasan, mengurangi uadara yang terperangkap,
serta mengurangi kerja bernafas (Smeltzer, 2015). Pursed Lip Breathing
Exercise dapat mencegah atelektasis dan meningkatkan fungsi ventilasi pada
paru, pemulihan kemampuan otot pernafasan akan meningkatkan compliance
paru sehingga ventilasi lebih adekuat dan menunjang oksigenasi jaringan
(Westerdhal, 2009 dalam Bakti, 2015). Latihan pernafasan denganPursed Lip
Breathing Exercise memmbantu meningkatkan compliance paru untuk
melatih kerja otot pernafasan berfungsi dengan baik serta mencegah distress
pernafasan (Ignantivus dan Workman, 2009 dalam Bakti, 2015).

3. Langkah – langkah tindakan Pursed Lip Breathing Exercise


Langkah-langkah atau teknik pursed lip breathing exercise
diantaranya meliputi: mengatur posisi pasien dengan duduk ditempat tidur
atau kursi, meletakkan satu tangan pasien di abdomen (tepat dibawah
proc.sipodeus) dan tangan lainnya ditengah dada untuk merasakan gerakan
dada dan abdomen saat bernafas, kemudian menarik nafas dalam melalui
hidung selama 4 detik sampai dada dan abdomen terasa terangkat maksimal
lalu jaga mulut tetap tertutup selama inspirasi dan tahan nafas selama 2 detik,
dan hembuskan nafas melalui bibir yang dirapatkan serta sedikit terbuka
sambil mengkontraksikan otot-otot abdomen selama 4 detik dalam sehari
dilkakuakn 1 kali dengan 5 kali pengulangan (Smeltzer, 2010).

Pursed Lip Breathing Exercise adalah suatu latihan bernafas yang


terdiri dari dua mekanisme yaitu inspirasi secara dalam serta ekspirasi aktif
dalam dan panjang. Proses ekspirasi seacara normal merupakan proses
mengeluarkan nafas tanpa menggunakan energi berlebih. Bernafas Pursed
Lip Breathing Exercise melibatkan proses ekspirasi secara panjang. Inspirasi
dalam dan ekspirasi panjang tentunya akan menigkatkan kekuatan kontraksi
otot intra abdomen sehingga tekanan intra abdomen meningkat melebihi
pada saat ekspirasi pasif. Tekanan intra abdomen yang meningkat lebih kuat
lagi tentunya akan meningkatkan pergerakan diafragma ke atas membuat
rongga thorak semakin mengecil. Rongga thorak yang semakin mengecil ini
menyebabkan tekanan intra alveolus semakin meningkat sehingga melebihi
takanan udara atmosfer. Kondisi tersebut akan menyebabkan udara mengalir
keluar dari paru ke atmosfer. Ekspirasi panjang saat bernafas Pursed Lip
Breathing Exercise juga akan menyebabkan obstruksi jalan nafas dihilangkan
sehingga resistensi pernafasan menurun. Penurunan resistensi pernafasan
akan memperlancar udara yang dihirup dan dihembuskan sehinggga akan
mengurangi sesak nafas (Smeltzer, 2010). Berikut prosedur pelaksanaanya:

1. Mengatur posisi pasien dengan condong 450 atau duduk ditempat tidur
atau kursi.
2. Menginstruksikan pasien untuk rileks dengan melemaskan otot-otot
leher dan bahu
3. Meletakkan satu tangan pasien di abdomen (tepat diba-
wah proc.sipodeus) dan tangan lainnya ditengah dada untuk merasakan
gerakan dada dan abdomen saat bernafas
4. Menarik nafas dalam melalui hidung selama 4 detik sampai dada dan
abdomen terasa terangkat maksimal lalu jaga mulut tetap tertutup
selama inspirasi dan tahan napas selama 2 detik.
5. Hembuskan nafas melalui bibir dirapatkan dan sedikit terbuka seperti
meniup/bersiul sambil mengkontraksikan otot-otot abdomen selama 4
detik.
6. Menginstruksikan pasien untuk melakukan Pursed Lips Breathing
selama ±1 menit, tiap siklus sebanyak 5 kali pernapasan dengan jeda
antar siklus 2 detik,
7. Dilakukan sehari 1 kali dengan 5 kali pengulangan (Smeltzer, 2015).
Gambar 3.1

Teknik menghirup dan menghembuskan napas

B. Alat Ukur Evaluasi dari Aplikasi Tindakan Berdasarkan Riset


Lembar observasi yang didalamnya adalah :

1. Frekuensi normal pernapasan 16-24 kali per menit (Muttaqin, 2014).


2. Penggunaan otot bantu pernapasan (Ganong, 2013) :
a. Musculus Strenokleidomastoideus
b. Musculus Scalenus
c. Musculus Pektoralis Mayor
d. Musculus Serratus Anterior
e. Musculus Abdominalis

BAB III
METODE PENULISAN

A. Rancangan Solusi Yang Ditawarkan


Step 0: Menumbuhkan semangat berpikir kritis (bertanya dan menyelidiki)
Perancang mengobservasi teknik pursed lip breathing exercise di ruang IGD RS
Kensaras.

Step 1: Menanyakan pertanyaan klinik dengan menggunakan PICO/PICOT format


P : Gangguan Oksigenasi
I : teknik pursed lip breathing exercise
C : Tidak ada pembanding / intervensi lain
O : Keefektifan Pola Nafas /sesak yang berkurang
T : ketika sesak meningkat atau dilakukan 1-3 kali dalam 5 siklus
Step 2: Mencari dan mengumpulkan bukti-bukti (artikel penelititan) yang paling
relevan dengan PICO/PICOT
Perancang mencari artikel mengenai Suction dan Hiperoksigenasi dari jurnal dan
buku

Step 3: Melakukan penilaian kritis terhadap bukti-bukti (artikel penelititan)


Menerapkan kritisi jurnal dengan prinsip validity, reability, importance pada format
critical appraisal yang terlampir dengan yes 9.

Step 4: Mengintegrasikan bukti-bukti (artikel penelititan) terbaik dengan


pandangan ahli di klinik serta memperhatikan keinginan dan manfaatnya bagi
pasien dalam membuat keputusan atau perubahan
Perancang menentukan keputusan dengan konsultasi bersama pembimbing klinik,
sesuai kebutuhan pasien dan artikel penelitian yang terbaik.

Step 5: Mengevaluasi outcome dari perubahan yang telah diputuskan berdasarkan


bukti-bukti.
Perancang melakukan evaluasi intervensi dan mengkaji ulang manfaat intervensi
dalam perubahan pelayanan berdasar EBP dengan kualitas baik.

Step 6: Menyebarluaskan hasil dari EBP


Perancang menyusun proposal hingga presentasi laporan hasil dari intervensi yang
telah dilakukan sebagai penerapan EBP.

B. Target Dan Luaran


Target ditujukan pada klien yang mengalami gangguan kepatenan jalan
napas dengan gangguan oksigenasi. Luaran dengan (kriteria hasil) adalah tidak ada
suara tambahan paru, frekuensi pernapasan 12-20x/menit, irama napas reguler,
tidak menggunakan otot bantu pernapasan.

C. Prosedur Pelaksanaan
1. Tahap Awal
Memilih pasien untuk dijadikan responden berdasarkan kriteria inklusi yaitu
pasien dengan gangguan oksigenasi
2. Tahap Pelaksanaan
a. Pra Intervensi
1) Melakukan informed consent pada responden
2) Melakukan kontrak waktu
3) Memberikan kesempatan bertanya
4) Melakukan pengkajian untuk mengetahui keluhan pasien terkait pola
nafas
b. Tahap Intervensi
Melakukan teknik pursed lip breathing exercise pada pasien dengan
gangguan oksigenasi ketika sesak klien meningkat dengan tetap
mempertahankan kenyamanan klien.

c. Post Intervensi
Melakukan observasi kembali untuk mengetahui RR (Respiratory Rate)
klien setelah intevensi dan tidak ada suara tambahan paru, frekuensi
pernapasan 12-20x/menit, irama napas reguler, tidak menggunakan otot
bantu pernapasan serta mengevaluasi.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

A. HASIL
1. Pengkajian
Hasil pengkajian dari pasien kelolaan yang mengalami gangguan oksigenasi
pada Tn. Dj. Yang mengalami penurunan kesadaran, dengan diagnosa medis
hipoglikemi. Berikut biodata klien:
a. Nama : Tn. Dj
b. Umur : 63 tahun 6 bulan
c. Alamat : Ngempon, RT.4/RW.4, Bergas, Semarang
d. Pendidikan : SLTA
e. Pekerjaan: : Pensiunan TNI
f. Tanggal masuk : 04 September 2019
g. Diagnosa Medis : Hipoglikemi
h. Nomor registrasi : A061329

Primary Survey: ABCDEFGH


1. Airway
Tidak adanya sumbatan jalan nafas. Jalan nafas bersih.
2. Breathing
Merasa kekurangan oksigen dan napas tersengal – sengal,
RR 26 x/menit, SPO2: 94%, irama teratur, menggunakan
otot bantu pernafasan, tampak mengangkat bahu pada saat
inspirasi.
I: bentuk dada simetris, tidak ada retraksi dinding dada
P: Vokal Vermitus lebih kuat kanan
P : Redup pada paru kiri
A : Vesikuler pada paru kanan, vesikuler melemah pada
paru kiri

3. Circulation
Keringat dingin, TD: 131/89 mmHg, Nadi: 86 x/i (teraba lemah),
Suhu: :360c, akral dingin, capillary refill kembali dalam 2 detik,
konjungtiva tidak anemis
4. Disability
Terjadi penurunan kesadaran, karena kekurangan suplai nutrisi ke
otak, tingkat kesadaran somnolen, GCS : E2 V4 M6, pupil isokor
besar pupil kiri kanan isokor atau sama besar 2/2, reaksi pupil
terhadap cahaya positif. Tidak terjadi paralisis dan tingkat
kekuatan otot (4)
4 4
4 4
5. Exposure
Tidak terjadi hipotermi, Suhu: 360c dan tidak ditemukan adanya
luka/infeksi pada bagian tubuh klien.
6. Folley Catheter
Pasien terpasang kateter urin uk. 16 untuk memenuhi kebutuhan
eliminasi klien
7. Gastric Tube
Pasien tidak terpasang NGT
8. Heart Monitor
Pasien dilakukan pemeriksaan EKG dengan hasil LVH.

Secondary Survey: AMPLE


Keluarga mengatakan pasien mengalami penurunan kesadaran 3
jam SMRS, tidak ada riwayat alergi obat ataupun makanan, klien sedang
mengonsumsi obat-obatan seperti metformin 500mg (3x1), coditam (2x1),
cilostazol 100mg (2x1), betaserc 24mg (2x1), asam mefenamat 500mg
(2x1), diminum sesudah makan dan insulin, klien sebelumnya memiliki
riwayat penyakit diabetes, hipertensi dan epilepsi, klien makan nasi dengan
sayur, terakhir sehabis maghrib kira-kira pukul 18.00 WIB.
Keluarga mengatakan klien kecapean selepas acara keluarga
dan merasa sesak setelahnya. Klien tampak pingsan disertai kejang 1 kali,
keadaan umum lemas dan sesak nafas, kesadaran somnolen, GCS:
E2V4M6, riwayat mondok di RS Ken Saras tanggal 27 Agustus sampai 3
September 2019.
2. Analisis Keperawatan
No Waktu Data Fokus Etiologi Problem
1 Rabu, DS : Keletihan Ketidakefektifan
1. Keluarga
04/09/2019, pola napas
22.15 WIB mengatakan klien
(00032)
kecapean selepas
acara keluarga dan
merasa sesak
setelahnya.

DO :
1. Klien tampak
pingsan pertama
kali masuk IGD
disertai kejang 1
kali setelah itu
tampak sesak
sambil
memegang
dadanya
2. Klien tampak
lemas dan sulit
bernafas
3. RR : 26 x/i
SpO2 : 94%
4. Klien tampak
mengangkat
bahu pada saat
inspirasi
5. Adanya
penggunaan otot
bantu
pernafasan
6. Hasil auskultasi:
Vesikuler pada
paru kanan,
vesikuler
melemah pada
paru kiri

3. Diagnosis Keperawatan
Diagnosa keperawatan yang muncul pada klien salah satunya mengenai
gangguan oksigenasi yakni: Ketidakefektifan Pola Nafas b.d keletihan

4. Intervensi Keperawatan
Berikut adalah intervensi keperawatan yang disusun dalam laporan kasus
menurut NANDA NIC NOC.
NO Hari/Tang
NOC NIC
DX gal/ Jam
2.. Rabu, Setelah dilakukan Airway management (3140)
04/09/2019, tindakan selama 1 x 2 -Buka jalan nafas
22.15 WIB
jam diharapkan pola -Posisikan pasien untuk
nafas kembali efektif memaksimalkan ventilasi
dengan kriteria hasil : -Lakukan fisioterapi dada jika perlu
- Auskultasi suara nafas, catat
1. Frekuensi napas
adanya suara tambahan
dalam rentang normal,
RR 16-20 kali/ menit
2.Klien tidak kesulitan Oxygen therapy (3320)
bernapas, tidak ada -Bersihkan mulut, hidung dan
otot bantu pernapasan, sekret
tidak ada pernapasan -Pertahankan jalan nafas yang paten
cupping hidung -Monitor aliran oksigen
3. Saturasi oksigen
-Pertahankan posisi pasien
dalam batas normal
-Observasi adanya tanda-tanda
hipoventilasi
Vital signs monitoring (6680)
-Monitor TD, nadi, suhu, dan RR
-Catat adanya fluktuasi tekanan
darah
-Monitor sianosis perifer

5. Implementasi
Implementasi yang dilakukan sesuai dengan intervensi yang telah
direncakan disertai dengan pengaplikasian desain inovatif yang dibuat yaitu
menerapkan teknik pursed lips breathing dengan memastikan kondisi klien
dalam keadaan membaik dan mengajarkan teknik tersebut lalu
menganjurkan untuk mengikuti teknik tersebut berdasarkan prosedur
dengan tetap mempertahankan kenyamanan klien (atur posisi yang
nyaman).

6. Evaluasi
Tanggal No/dx Evaluasi Paraf
Rabu, 2 S:
klien mengatakan sesaknya sudah mulai
04/09/2019,
24.05 WIB berkurang
O:
-Klien masih tampak lemah
- terpasang kanul 5 lpm
-RR: 20 x/i
SPO2: 98%
A:
Masalah belum teratasi sepenuhnya
(sebagian)
P:
Pertahankan intervensi seperti:
1. pertahankan jalan nafas yang adekuat
dan beri posisi nyaman
3. memantau tanda-tanda vital
4. observasi tanda-tanda hipoventilasi
5. berkolaborasi dalam pemberian terapi
sesuai indikasi
-

Dapat dilihat dari evaluasi yang ada dengan melakukan observasi


kembali, didapat hasil yang lumayan significan, yakni salah satunya terjadi
perubahan RR and SP02, walaupun belum sepenuhnya teratasi.

B. Pembahasan
Kegawatan pada pernafasan (gangguan oksigenasi) jika tidak segera
ditangani akan menimbulkan kecacatan bahkan kematian, salah satu kegawatan
pernafasan adalah sesak nafas yang dapat terjadi pada penyakit kronis. Salah
satu asuhan keperawatn mandiri yang dapat dilakukan untuk mengurangi sesak
nafas yaitu dengan penerapan teknik pursed lips breathing untuk meningkatkan
saturasi oksigen dan menurunkan frekuensi nafas. Masalah keperawatan yang
muncul pada kasus ini adalah ketidakefektifan pola nafas b.d keletihan.
Ketidakefektifan pola nafas adalah inspirasi atau ekspirasi yang tidak
memberikan ventilasi yang adekuat (Nurarif, 2013). Pada kondisi tertentu
seperti kelelahan akan terjadi hiperventilasi. Hiperventilasi merupakan
peningkatan jumlah udara yang masuk ke dalam paru-paru karena kecepatan
ventilasi melebihi kebutuhan metabolik untuk pembuangan karbondioksida yang
ditandai dengan peningkatan denyut nadi, nafas pendek, penggunaan otot bantu
pernafasan, nyeri dada dan penurunan konsentrasi karbodioksida (Jamilah,
2013).
Pada diagnosa ketidakefektifan pola nafas berhubungan dengan
keletihan, yang tujuannya dalam waktu 3 kali 24 jam setelah diberikan intervensi
diharapkan sesak nafas berkurang atau hilang dengan kriteria hasil berdasarkan
NOC (Nursing Outcomes Classification) : pasien menunjukan jalan nafas yang
paten (irama nafas teratur, frekuensi pernafasan dalam rentang normal), tidak
ada pernafasan cuping hidung, tidak ada penggunaan otot bantu pernafasan dan
tanda-tanda vital dalam rentang normal (tekanan darah, nadi, pernafasan, suhu)
(Nurarif, 2013). Berdasarkan tujuan dan kriteria hasil tersebut kemudian penulis
menyusun intervensi keperawatan berdasarkan NIC (Nursing Intervention
Classification) : airway management (3140) : observasi tanda–tanda vital
(tekanan darah, nadi pernapasan dan suhu) pasien dengan rasional untuk
mengetahui tanda-tanda vital pasien dalam rentang normal atau tidak, posisikan
pasien untuk memaksimalkan ventilasi misal posisi semi fowler dengan rasional
untuk membantu pengembangan rongga dada secara maksimal, ajarkan tehnik
non farmakologi pursed lips breathing exercise dengan rasional menurunkan
tingkat sesak nafas, kolaborasi dengan dokter dalam pemberian terapi obat.
Menurut Smeltzer (2015) bahwa tehnik pursed lips breathing exercise
dapat dijadikan salah satu intervensi keperawatan mandiri dengan tujuan untuk
mencapai ventilasi yang lebih terkontrol dan efisien serta mengurangi kerja
pernapasan, meningkatkan inflasi alveolar maksimal, relaksasi otot dan
menghilangkan ansietas dan mencegah pola aktivitas otot pernapasan yang tidak
berguna, melambatkan frekuensi pernapasan, mengurangi uadara yang
terperangkap, serta mengurangi kerja bernafas. Dari pemberian pursed lips
breathing exercise selama di IGD dilakukan 1 kali dalam sehari dengan 5
pengulangan didapatkan hasil 2 x 24 jam sebagai berikut : klien mengatakan
sesaknya sudah mulai berkurang, dan klien masih tampak lemah, namun sudah
diganti dengan nasal kanul 5 lpm, RR: 20 x/i, SPO2: 98%.
Pursed Lip Breathing Exercise adalah suatu latihan bernafas yang terdiri
dari dua mekanisme yaitu inspirasi secara dalam serta ekspirasi aktif dalam dan
panjang. Proses ekspirasi seacara normal merupakan proses mengeluarkan nafas
tanpa menggunakan energi berlebih. Bernafas Pursed Lip Breathing Exercise
melibatkan proses ekspirasi secara panjang. Inspirasi dalam dan ekspirasi
panjang tentunya akan meningkatkan kekuatan kontraksi otot intra abdomen
sehingga tekanan intra abdomen meningkat melebihi pada saat ekspirasi pasif.
Tekanan intra abdomen yang meningkat lebih kuat lagi tentunya akan
meningkatkan pergerakan diafragma ke atas membuat rongga thorak semakin
mengecil. Rongga thorak yang semakin mengecil ini menyebabkan tekanan intra
alveolus semakin meningkat sehingga melebihi takanan udara atmosfer. Kondisi
tersebut akan menyebabkan udara mengalir keluar dari paru ke atmosfer.
Ekspirasi panjang saat bernafas Pursed Lip Breathing Exercise juga akan
menyebabkan obstruksi jalan nafas dihilangkan sehingga resistensi pernafasan
menurun. Penurunan resistensi pernafasan akan memperlancar udara yang
dihirup dan dihembuskan sehinggga akan mengurangi ssesak nafas (Smeltzer,
2015).
Teknik Pursed Lip Breathing Exercise yaitu, mengatur posisi pasien
dengan duduk ditempat tidur atau kursi, meletakkan satu tangan pasien di
abdomen (tepat dibawah proc.sipodeus) dan tangan lainnya ditengah dada untuk
merasakan gerakan dada dan abdomen saat bernafas, kemudian menarik nafas
dalam melalui hidung selama 4 detik sampai dada dan abdomen terasa terangkat
maksimal lalu jaga mulut tetap tertutup selama inspirasi dan tahan nafas selama
2 detik, dan hembuskan nafas melalui bibir yang dirapatkan serta sedikit terbuka
sambil mengkontraksikan otot-otot abdomen selama 4 detik. Latihan ini
dilakukan sehari 1 kali dengan 5 kali pengulangan (Smeltzer, 2008; Bakti, 2015).
Berdasarkan hasil pembahasan diatas, tindakan pemberian pursed lip
breathing exercise yang dilaksanakan pada Tn. Dj sudah sesuai jurnal yang
mendukung. Pasien mengalami penurunan tingkat sesak nafas yang dilihat dari
penurunan frekuensi pernafasan dan saturasi. Selain dari teknik tersebut, hal ini
juga dipengaruhi oleh faktor pemasukan oksigen, pengaturan posisi dan
peningkatan kadar gula dalam darah, sehinhgga pola nafas pun kembali efektif,
walaupun untuk masalah lainnya masih tetap belum teratasi (Lestari, 2016)
BAB V
PENUTUP

A. Kesimpulan
Berdasarkan dari hasil penelitian yang telah dilakukan serta diuraikan pada
pembahasan yang terpapar di bab 4, maka penulis dapat memberikan
kesimpulan bahwa implementasi teknik pursed lip breathing terhadap saturasi
oksigen dapat mengurangi sesak nafas dan menurunkan saturasi serta RR pada
klien yang memiliki gangguan pada pemenuhan oksigen.

B. Saran
1. Bagi Pasien
Penulis berharap teknik pursed lip breathing ini dapat menjadi pilihan terapi
non farmakologis yang diaplikasikan secara mandiri oleh pasien dan dapat
dibantu keluarga dalam upaya menurunkan sesak nafas.

2. Bagi Perawat/Rumah Sakit


Perawat diharapkan dapat meningkatkan asuhan keperawatan pada pasien
dengan gangguan pola nafas dengan cara menerapkan dan membuat inovasi
baru dalam pemenuhan kebutuhan oksigenasi.

3. Bagi Institusi Pendidikan


Diharapkan penelitian ini dijadikan referensi dan digunakan bagi mahasiswa
untuk menambah pengetahuan dibidang kesehatan yaitu dengan memberikan
dan senantiasa menerapkan teknik pursed lip breathing terhadap gangguan
oksigenasi.

DAFTAR PUSTAKA

Alsagaff, Hood dan Mukty A. 2008. Dasar-Dasar Ilmu Penyakit Paru. Surabaya:
Airlangga University Press. pp: 143-154

Ambarwati, Fitri Respati. (2014). Konsep Kebutuhan Dasar Manusia. Yogyakarta: Dua
Satria Offset.
Asmadi. (2008). Teknik Prosedural Keperawatan : Konsep dan Aplikasi Dasar
Kebutuhan Dasar Klien. Jakarta : Salemba medika.

Hariyono, Rudi. 2017. The Influence of Pursed Lip Breathing on Dyspnea, Oxygen
Saturation and Activity Tolerance on COPD Patient: Systematic Review. (online),
vol. 3 no. 2, (http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0/ diakses tanggal 07
Agustus 2019).

Indarti, Eni Sri. 2016. Posisi Condong Ke Depan 450 dan Teknik Pernafasan Pursed
Lips Breathing Pada Pasien PPOK Terhadap Gangguan Pola Nafas Di IGD rsud
K.R.M.T Wongsonegoro Kota Semarang. (online), vol.9 no. 2,
(https://www.repository-smg.ac.id, diakses tanggal 07 Agustus 2019).

Lestari, Dwi. 2016. Pemberian Pursed Lip Breathing Exercise Terhadap Penurunan
Tingkat Sesak Napas Pada Asuhan Keperawatan Tn. A Dengan Penyakit Paru
Obstruksi Kronik (Ppok) Di Ruang Anggrek 1 Rsud Dr. Moewardi Surakarta.
(online), vol.9 no. 2, (https://www.scholar.google.id, diakses tanggal 07 Agustus
2019).

Mertha, I Made. 2018. Pengaruh Pemberian Deep Breathing Exercise Terhadap


Saturasi Oksigen. (online), vol.2 no.9, (https://www.scholar.google.id, diakses
tanggal 07 Agustus 2019).

NANDA, NIC & NOC, (2010), Pengantar Proses Keperawatan, EGC, Jakarta

Potter, P. A. & Perry, A. G., (2010). Fundamental keperawatan. Ed. 7. Jakarta: Salemba
Medika.

Riskedas. 2013. Riset Kesehatan Dasar; RISKESDAS. Jakarta: Balitbang Depkes RI

Smeltzer, S.C., & Bare, B.G., (2015). Buku ajar keperawatan medikal bedah Brunner
Suddarth. Edisi 8. Volume 2. Jakarta: EGC.

STANDAR PROSEDUR OPERASIONAL (SPO)


TEKNIK PURSED LIP BREATHING
PENGERTIAN Pursed lips breathing merupakan breathing control yang
dapat memberikan perasaan relaksasi dan mengurangi
dipsnea, membantu bernapas lebih efektif dan dapat
meningkatkan saturasi oksigen pada penderita dengan
gangguan oksigenasi (Reid & Chung, 2013).
TUJUAN 1. Untuk mencapai ventilasi yang lebih terkontrol dan
efisien serta mengurangi kerja pernafasan.
2. Meningkatkan inflasi alveolar maksimal, relaksasi
otot dan menghilangkan ansietas.
3. Mencegah pola aktifitas otot pernafasan yang tidak
berguna, melambatkan frekuensi pernafasan,
mengurangi udara yang terperangkap, serta
mengurangi kerja bernafas (Smeltzer , 2015).
INDIKASI Pada pasien dengan gangguan pernafasan (PPOK,
COPD, ISPA) dan penyakit kronis lain yang
menyebabkan gangguan pada pemenuhan oksigenasi

KONTRAINDIKASI Pasien yang mengalami hipersensitivitas.

PROSEDUR KERJA A. Tahap Pra Interaksi

1. Mencuci tangan

2. Memastikan identitas klien dan persetujuan klien

B. Tahap Orientasi
1. Memberikan salam sebagai pendekatan terapeutik
2. Memperkenalkan diri
3. Menjelaskan secara ringkas tujuan dan
prosedur tindakan yang akan dilakukan

C. Tahap kerja
1. Mengatur posisi klien dengan condong 450 atau
duduk di tempat tidur atau kursi
2. Menginstruksikan pasien untuk rileks dengan
melemaskan otot-otot leher dan bahu.
3. Meletakkan satu tangan pasien di abdomen (tepat
dibawah proc.sipoideus) dan tangan lainnya
ditengah dada untuk merasakan gerakan dada dan
abdomen saat bernafas
4. Menarik nafas dalam melalui hidung selama 4 detik
sampai dada dan abdomen terasa terangkat
maksimal lalu jaga mulut tetap tertutup selama
inspirasi dan tahan nafas selama 2 detik
5. Hembuskan nafas melalui bibir yang dirapatkan dan
sedikit terbuka sambil mengkontraksikan otot – otot
abdomen selama 4 detik.
6. Menginstruksikan pasien untuk melakukan Pursed
Lips Breathing selama ± 1 menit, tiap siklus
sebanyak 5 kali pernapasan dengan jeda antar siklus
2 detik, kemudian mengevaluasi kondisi responden
setelah dilakukan intervensi
7. Pursed Lips Breathing dilakukan 1-3 kali dalam
sehari dengan 5 kali pengulangan (ketika sesak)

Gambar 3.1
Teknik menghirup dan menghembuskan napas
D. Tahap Terminasi

1. Evaluasi respon klien

2. Mengecek kembali RR dan Saturasi

3. Mencuci tangan

4. Kontrak selanjutnya