Anda di halaman 1dari 89

LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI

SEKOLAH STAF DAN PIMPINAN TINGGI

STRATEGI OPTIMALISASI KERJASAMA PENEGAKAN HUKUM TINDAK PIDANA DI LAUT


GUNA MENYELAMATKAN KEKAYAAN NEGARA
DALAM RANGKA MENDUKUNG PEMBANGUNAN NASIONAL

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Indonesia merupakan negara kepulauan (archipelago state)
terbesar di dunia yang terdiri atas 17.508 pulau dengan garis pantai
sepanjang 81.000 km dan luas laut sekitar 3,1 juta km2 terdiri dari
0,8 juta km2 perairan territorial, dan 2,3 juta km2 perairan Nusantara
atau 62% dari luas teritorialnya. Sebagai negara kepulauan terbesar
di dunia, Indonesia memiliki berbagai potensi yang dapat
dimanfaatkan untuk mendukung terselenggaranya pembangunan
nasional. Dalam hal ini setidaknya terdapat 9,1% Milyar barel
cadangan minyak bumi di laut. Selain itu juga terdapat potensi
pendapatan dari sektor perikanan sebesar Rp. 365 trilyun per tahun
yang saat ini baru terealisasi kurang dari 20%. Indonesia juga
merupakan salah satu negara mega biodiversity terkaya di dunia,
sehingga total potensi ekonomi di sektor kelautan bernilai kurang
lebih $ 1,2 trilyun per tahun.
Begitu besarnya potensi yang dimiliki Indonesia dari sektor
kelautan, sehingga di era pemerintahan Joko Widodo - Jusuf Kalla
(2014-2019), telah ditetapkan konsep pembangunan Indonesia
sebagai poros maritim dunia yang disertai perumusan 5 pilar utama
yaitu : (1) Budaya maritim; (2) Pengelolaan sumber daya laut: (3)
Konekvitas maritim; (4) Diplomasi maritim; dan (5) Pertahanan
maritim1. Pembangunan kemaritiman menuju Poros Maritim Dunia
yang digagas pemerintah mencakup berbagai hal dan isu yang

1 http://maritim.go.id/berita/lima-pilar-serta-langkah-strategis-dalam-mewujudkan-indonesia-sebagai-
poros-maritim-dunia, diunduh tanggal 14 Juni 2016

1
2

kompleks, karena dalam penyelenggaraannya saat ini dihadapkan


pada berbagai tantangan dan problematika yang multidimensional,
khususnya terkait dengan kerawanan terjadinya berbagai tindak
pidana di laut yang dapat merugikan kekayaan negara.
Tindak pidana di laut yang merugikan kekayaaan negara dan
marak terjadi saat ini contohnya yaitu kegiatan penangkapan ikan
secara ilegal dan merusak lingkungan ekosistem laut yang biasa di
sebut destructive illegal fishing. Akibat kegiatan illegal fishing ini,
Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) pada tahun 2014
mencatat kerugian negara diperkirakan sebesar Rp. 101 triliun
rupiah per tahunnya2. Selain illegal fishing, kejahatan di laut lain
yang merugikan negara yaitu Illegal Logging, Illegal Mining, Illegal
Oil (Migas), dan kejahatan di bidang Konservasi Sumber Daya Alam
(KSDA), sehingga selain merugikan ekonomi, sosial, dan ekologi,
berbagai kejahatan tersebut juga merupakan tindakan yang
melemahkan kedaulatan wilayah bangsa Indonesia.
Permasalahan kerawanan kejahatan di laut semakin
bertambah bila dihadapkan dengan fakta bahwa masih banyak batas
laut yang masih belum disepakati antar Negara. Dalam hal ini,
Indonesia belum menyepakati Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE)
dengan India, Vietnam, Filipina, Thailand, Republik Palau, Timor
Leste, dan Australia. Indonesia juga masih belum bersepakat soal
batas teritorial dengan Malaysia di Laut Sulawesi dan dengan Timor
Leste serta soal three junction point antara Indonesia, Singapura,
dan Malaysia. Selanjutnya, Indonesia juga masih menghadapi
sengketa landas kontinen dengan Filipina, Republik Palau, Timor
Leste, dan Australia. Selain itu, juga belum sepenuhnya terbangun
tanda batas laut di perbatasan Indonesia dengan Papua Nugini,
Timor Leste, Malaysia, dan Singapura.

2 http://kkpnews.kkp.go.id/index.php/kerugian-negara-akibat-illegal-fishing-101-triliun-rupiah/,
diunduh tanggal 14 Juni 2016.
3

Disisi lain, upaya penegakan hukum tindak pidana di laut


yang dilaksanakan selama ini masih dirasakan kurang efektif, karena
dihadapkan pada berbagai hambatan dan kendala, seperti belum
optimalnya kerjasama antara instansi yang memiliki tugas, fungsi
dan kewenangan penegakan hukum tindak pidana di laut
diantaranya yaitu : Polri-Ditpolair, TNI-AL, PPNS Kementrian
Kelautan dan Perikanan-Ditjen PSDKP, PPNS Direktorat Jenderal
Perhubungan Laut, PPNS Kementerian Lingkungan Hidup dan
Kehutanan dan PPNS Kementerian Energi dan Sumber Daya
Mineral (ESDM). Dalam hal ini, kegiatan penegakan hukum tindak
pidana di laut masih dilaksanakan secara parsial, sehingga
efektifitas penyelamatan kekayaan negara belum dapat terwujud
secara optimal.
Disisi lain, kondisi sumber daya organisasi Polri yang meliputi
Sumber Daya Manusia (SDM), anggaran dan sarana prasarana
dalam mendukung kerjasama penegakan hukum tindak pidana di
laut juga dirasakan masih terbatas. Oleh karena itu maka diperlukan
penguatan langkah-langkah strategis dalam upaya mengoptimalkan
kerjasama penegakan hukum tindak pidana di laut, sehingga dapat
terwujud efektifitas penyelamatan kekayaan negara agar dapat
mendukung komitmen pemerintah dalam membangun Indonesia
sebagai poros maritim dunia dalam kerangka pembangunan
nasional yang berkesinambungan.

B. Permasalahan
Permasalahan yang dibahas dalam Nastrap ini adalah :
Bagaimana strategi optimalisasi kerjasama penegakan hukum
tindak pidana di laut untuk dapat menyelamatkan kekayaan
negara sehingga pembangunan nasional terwujud ?
4

C. Pokok Persoalan
1. Bagaimana kesiapan sumber daya manusia Polri dalam
mendukung kerjasama penegakan hukum tindak pidana di
laut ?
2. Bagaimana kesiapan anggaran Polri dalam mendukung
kerjasama penegakan hukum tindak pidana di laut ?
3. Bagaimana kesiapan sarana prasarana Polri dalam
mendukung kerjasama penegakan hukum tindak pidana di
laut ?
4. Bagaimana pelaksanaan kerjasama penegakan hukum tindak
pidana di laut ?

D. Ruang Lingkup
Penulisan Naskah Strategi Perorangan ini dibatasi pada
strategi optimalisasi kerjasama penegakan hukum tindak pidana di
laut guna menyelamatkan kekayaan negara dalam rangka
mendukung pembangunan nasional, dengan mengedepankan
Ditpolair yang didukung fungsi operasional lain yang terkait.
Sedangkan objek kerjasama dalam hal ini adalah instansi terkait
yang memiliki tugas, fungsi dan kewenangan penegakan hukum
tindak pidana di laut diantaranya yaitu Polri-Ditpolair, TNI-AL, PPNS
Kementrian Kelautan dan Perikanan-Ditjen PSDKP, PPNS Direktorat
Jenderal Perhubungan Laut, PPNS Kementerian Lingkungan Hidup
dan Kehutanan dan PPNS Kementerian Keuangan-Ditjen Bea Cukai
serta PPNS Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).
E. Maksud dan Tujuan
1. Maksud : Nastrap ini dimaksudkan untuk memenuhi salah
satu tugas akhir dalam mengikuti Pendidikan Sespimti Polri
Dikreg ke-25 Tahun Anggaran 2016.
2. Tujuan : Tujuan penulisan Nastrap ini diharapkan dapat
menjadi masukan bagi pimpinan Polri tentang perlunya
strategi optimalisasi kerjasama penegakan hukum tindak
5

pidana di laut guna menyelamatkan kekayaan negara dalam


rangka mendukung pembangunan nasional.

F. Metode dan Pendekatan


1. Metode yang digunakan dalam penulisan ini adalah metode
deskriptif analitis. Gambaran tersebut dituangkan dalam
bentuk narasi dan diuraikan dengan sumber data primer di
lapangan serta studi kepustakaan. Data kuantitatif dijadikan
sebagai penunjang untuk memperjelas kondisi. Data yang
terkumpul tersebut selanjutnya dianalisis sehingga diperoleh
akar permasalahan untuk dicari pemecahan masalahnya.
2. Sedangkan pendekatan yang digunakan adalah melalui :
1) Pendekatan Yuridis yaitu metode pembahasan
masalah dari sudut pandang peraturan perundang-
undangan yang mendasari penegakan hukum tindak
pidana di laut.
2) Pendekatan Manajemen yaitu pendekatan
manajemen yang berlaku dalam upaya penegakan
hukum tindak pidana di laut.
3) Pendekatan Empiris, yaitu pendekatan berdasarkan
pengalaman dan hasil observasi penulis terhadap
kegiatan penegakan hukum tindak pidana di laut.

G. Tata Urut
Bab I : Pendahuluan, pada bab ini penulis menguraikan
tentang pembahasan mengenai : Latar Belakang,
Permasalahan, Persoalan, Ruang Lingkup, Maksud
dan Tujuan, Tata Urut, Metode dan Pendekatan,
serta Pengertian.
Bab II : Kajian Kepustakaan, digunakan sebagai landasan
untuk menganalisis permasalahan dan persoalan
yang dihadapi, melalui penerapan teori-teori
berdasarkan bahan pelajaran yang diterima selama
6

mengikuti pendidikan di Sespimti, maupun landasan


konseptual lainnya.
Bab III : Kondisi Saat Ini, mengemukakan fakta-fakta yang
menjadi penyebab timbulnya masalah berdasarkan
persoalan-persoalan.
Bab IV : Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi, Berisi
permasalahan yang dibahas ditinjau dari kondisi
lingkungan (environmental scanning) meliputi faktor
Internal (kekuatan dan kelemahan) dan faktor
Eksternal (peluang dan kendala).
Bab V : Kondisi Yang Diharapkan, merupakan kondisi ideal
dari persoalan yang menjadi inti materi dalam
pembahasan Nastrap.
Bab VI : Strategi Pemecahan Masalah, Berisi konsepsi
pemecahan masalah yang dirumuskan melalui
langkah-langkah strategis dan dideskripsikan dengan
menggunakan pendekatan manajemen strategik.
Bab VII : Penutup, berisi kesimpulan yang merupakan jawaban
atas persoalan yang telah dibahas, dan rekomendasi
sebagai sumbangan pemikiran strategis untuk
dijadikan solusi penyelesaian masalah

H. Pengertian-Pengertian
1. Strategi :
Strategi adalah pendekatan untuk melaksanakan
kinerja, serta menangani permasalahan yang dihadapi.
Strategi adalah perencanaan suatu cara untuk
mengembangkan konsensus atau kesepakatan tertulis atas
apa yang akan dikerjakan para pejabat organisasi sampai
dengan kontrak tugas dapat diselesaikan oleh setiap individu
di dalam suatu unit kerja3.

3Bahan Ajaran : Analisis Strategi, oleh Dr. Budi W. Soetjipto kepada peserta Sespimti Dikreg ke 25
T.A. 2016.
7

2. Optimalisasi :
Optimalisasi berasal dari kata optimal yang berarti
terbaik; tertinggi; paling menguntungkan. Optimalisasi dapat
juga disebut mengoptimalkan yang berarti : menjadikan paling
baik; menjadikan paling tinggi4.
3. Kerjasama :
Kerjasama yaitu sebagai suatu usaha bersama antara
orang perorangan atau kelompok manusia untuk mencapai
satu atau tujuan bersama5.
4. Penegakan hukum :
Menurut Soerjono Soekanto, penegakan hukum adalah
kegiatan menyerasikan hubungan nilai-nilai yang terjabarkan
didalam kaidah-kaidah/pandangan nilai yang mantap dan
mengejewantah dan sikap tindak sebagai rangkaian
penjabaran nilai tahap akhir untuk menciptakan, memelihara
dan mempertahankan kedamaian pergaulan hidup.
Penegakan hukum secara konkret adalah berlakunya
hukum positif dalam praktik sebagaimana seharusnya patut
dipatuhi. Oleh karena itu, memberikan keadilan dalam suatu
perkara berarti memutuskan hukum in concreto dalam
mempertahankan dan menjamin ditaatinya hukum materiil
dengan menggunakan cara prosedural yang ditetapkan oleh
hukum formal6.
5. Tindak pidana :
Tindak Pidana adalah suatu perbuatan melawan
hukum berupa kejahatan atau pelanggaran yang diancam
dengan hukuman pidana penjara, kurungan atau denda7
6. Laut :
Kata “laut” yaitu merupakan kumpulan air asin yang
luas sekali di permukaan bumi yang memisahkan pulau

4 http://bahasa.kemdiknas.go.id/kbbi/index.php, diakses tgl 18 Juni 2016 (00.30 WIB)


5 Soerjono Soekanto, Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta : Raja Grafindo Persada, 2000
6 Dellyana,Shant.1988,Konsep Penegakan Hukum. Yogyakarta:
7 Pasal 1 ayat (7) Perkap No. 14 tahun 2012 tentang Manajemen Penyidikan TIndak Pidana
8

dengan pulau, benua dengan benua, sedangkan lautan


merupakan laut yang luas sekali, seperti Lautan Atlantik,
Lautan Pasifik.
Definisi kelautan yang tampak sangat luas termasuk
mencakup istilah kemaritiman. Istilah kelautan dipakai karena
istilah ini lebih luas dan bersifat publik dari pada sekedar
menggunakan istilah kemaritiman, sehingga pengertian
kelautan adalah hal-hal yang berhubungan dengan laut. Laut
dan kelautan dalam kamus tersebut tidak menunjuk kepada
Konvensi PBB tentang hukum Laut 1982 (UNCLOS). Secara
terminologi pengertian kelautan mencakup aspek yang sangat
luas yaitu termasuk ruang/wilayah udara di atas permukaan
air laut, pelagik (dari permukaan sampai 200 m kolom air),
mesopelagik (pelagik sampai kedalaman 500 m), abisal
(kedalaman 500 – 700 m) hingga mencapai dasar laut (under
the sea) yang dikenal sebagai landas kontinen.
7. Kejahatan Terhadap Kekayaan Negara :
Kejahatan terhadap kekayaan negara adalah
kejahatan yang berdampak kepada kerugian negara yang
dilakukan oleh perorangan, secara bersama-sama, dan/atau
korporasi (suatu badan)8.
8. Pembangunan nasional :
Pembangunan nasional adalah rangkaian upaya
pembangunan yang berkesinambungan yang meliputi seluruh
aspek kehidupan masyarakat, bangsa dan negara, untuk
melaksanakan tugas mewujudkan tujuan nasional
sebagaimana dirumuskan dalam Pembukaan Undang-
Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 19459.

8 Pasal 1 ayat (7) Perkap No. 7 tahun 2009 tentang Sistem Laporan Gangguan Kamtibmas
9 Dalam penjelasan atas UU RI No. 17 Tahun 2007 Tentang RPJPN Tahun 2005-2025
9

BAB II

KAJIAN KEPUSTAKAAN

Dalam penulisan Nastrap ini, Kajian Kepustakaan sangat


diperlukan untuk memberikan penguatan dan atau bahan pertimbangan
dalam proses analisis, karena akan mendukung dalam penyusunan
pemecahan masalah dan perumusan implementasi strategi. Oleh karena
itu dalam bab ini akan dijelaskan mengenai teori-teori yang akan
digunakan untuk menganalisis permasalahan dan persoalan yang
dibahas meliputi :
A. Teori Manajemen.
George R. Terry mengatakan bahwa manajemen adalah
pencapaian tujuan yang ditetapkan terlebih dahulu dengan
mempergunakan kegiatan orang lain. Kemudian manajemen adalah
ilmu dan seni mengatur proses pemanfaatan sumber daya manusia
dan sumber-sumber lainnya secara efektif dan efisien untuk
mencapai suatu tujuan tertentu. Dari definisi tersebut terdapat dua
hal pokok, yaitu adanya tujuan yang ingin dicapai, dan tujuan itu
dicapai dengan mempergunakan kegiatan orang lain. Menurut
George R. Terry bahwa terdapat 4 (empat) fungsi manajemen, yaitu
Perencanaan (Planning), Pengorganisasian (Organizing),
Pelaksanaan (Actuating) dan Pengendalian (Controlling).
Untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan diperlukan alat-
alat sarana (tools) yaitu unsur-unsur manajemen. Tools merupakan
syarat suatu usaha untuk mencapai hasil yang telah ditetapkan.
Unsur manajemen dikemukakan G.R. Terry dengan istilah the six
M`S in management (6 M didalam manajemen) yaitu man, money,
material, methode, machines and markets (SDM, Anggaran,
Sarpras, Metode, Mesin dan Pasar)10.

10 Terry, George R. 1977. Principles of Management (alih bahasa oleh Winardi, 1979). Bandung:
Alumni

9
10

B. Teori Manajemen Strategi


Sondang Siagian mengemukakan manajemen stratejik
sebagai serangkaian tindakan dan keputusan mendasar yang dibuat
oleh manajemen puncak dan diimplementasikan oleh seluruh jajaran
suatu organisasi dalam rangka pencapaian tujuan organisasi
tersebut. Benang merah yang harus tampak dalam pembahasan
tentang manajemen stratejik ialah bahwa manajemen puncak dalam
suatu organisasi harus mampu merumuskan dan menentukan
strategi organsisasi sehingga organisasi yang bersangkutan tidak
hanya mampu mempertahankan eksistensinya, akan tetapi tangguh
melakukan penyesuaian dan perubahan yang diperlukan sehingga
organisasi semakin meningkat efektifitas dan produktivitasnya.
Untuk mewujudkan situasi demikian, para anggota
manajemen puncak harus menguasai teknik-teknik desain atau
rancang bangun sistem manajemen stratejik yang tepat dan cocok
bagi organisasi yang dipimpinnya. Faktor-faktor yang harus dikenali
dan diperhitungkan antara lain adalah : 1) tipe dan struktur
organisasi; 2) gaya manajerial; 3) kompleksitas lingkungan
eksternal; 4) kompleksitas proses produksi, dan ; 5) hakikat berbagai
masalah yang dihadapi. Adapun dalam merumuskan dan
menetapkan suatu strategi berbagai tahap harus dilalui antara lain11:
a. Perumusan misi organisasi.
b. Penentuan profil organisasi.
c. Analisis dan pilihan stratejik.
d. Penetapan sasaran jangka panjang.
e. Penentuan strategi induk.
f. Penentuan strategi operasional.
g. Penentuan sasaran jangka pendek, seperti sasaran tahunan.
h. Perumusan kebijaksanaan.
i. Pelembagaan strategi.
j. Penciptaan sistem pengawasan.
k. Penciptaan sistem penilaian.

11 Prof. Dr. Sondang P, Siagian, MPA. 2011. Manajemen Stratejik, Jakarta : PT. Bumi Aksara
11

l. Penciptaan sistem umpan balik.


Berdasarkan teori diatas, maka perumusan manajemen
strategis dalam naskah ini akan dibatasi pada perumusan visi, misi,
tujuan, sasaran, kebijakan, strategi dan action plan.

C. Analisis SWOT (EFAS, IFAS, dan SFAS)


Kualitas seorang pemimpin ditentukan oleh seberapa baik
dan berkualitasnya keputusan-keputusan yang ia hasilkan. Dan
dalam upaya pengambilan keputusan terdapat banyak teori yang
dapat digunakan, namun menurut analisis terhadap efektivitas
berbagai teori tersebut, terdapat satu teori yang dinilai lebih unggul
daripada teori yang lainnya yaitu analisis SWOT. Analisis SWOT
adalah sebuah teori yang memberikan penilaian terhadap kondisi
organisasi berdasarkan kekuatan (strength), kelemahan (weakness),
peluang (opportunities) dan kendala (threat) yang ada.
Selanjutnya analisa SWOT ini dapat digunakan pada model
EFAS (External Factors Analysis Summary) dan IFAS (Internal
Factors Analysis Summary) melalui langkah-langkah12:
a. Menyusun daftar faktor‐faktor internal dan eksternal kedalam
tabel EFAS dan IFAS yang mempunyai dampak penting pada
sukses tidaknya suatu aktivitas institusi
b. Menentukan bobot dari setiap faktor
c. Tentukan rating pada setiap critical factor
d. Kalikan setiap bobot faktor dengan peringkat untuk
menentukan nilai yang dibobot.
Setelah mendapat jumlah skor dari IFAS dan EFAS maka
dibuat cell atau mapping posisi organisasi dalam lingkungan internal
dan eksternal. Pada mapping posisi organisasi ini, terdapat
beberapa cell yang memuat strategi berdasarkan posisi organisasi
tersebut yakni :
a. Growth, strategi ini menekankan pada penambahan atau
perluasan produk, pasar, dan fungsi‐fungsi institusi lainnya,

12Bahan Pelajaran Analytic Hierarchy Process, oleh DR. Setyo Riyanto, SE, MM kepada Peserta
Sespimti Polri Dikreg ke-25 T.P. 2016
12

sehingga aktivitasnya meningkat. Dengan strategi ini


diharapkan dapat diraih benefit yang lebih besar. Namun
perlu disadari bahwa strategi ini mengandung resiko yang
tidak kecil. Strategi Pertumbuhan meliputi konsentrasi
(ekspansi dari institusi yang sekarang – Sel 1, 2, 5a) dan
diversifikasi (pertumbuhan yang diperoleh dari luar institusi
yang sekarang – Sel 7 dan 8).
b. Carefully, strategi ini menekankan pada tidak bertambahnya
produk, pasar, dan fungsi‐fungsi institusi lainnya. Institusi
berusaha untuk meningkatkan kinerja dan benefit yang ada.
Strategi ini menunjukkan pilihan untuk mempertahankan misi
dan tujuan yang sekarang tanpa perubahan yang signifikan
dalam arah strategis (Sel 4 dan 5b).
c. Retrenchment, strategi yang dimaksudkan untuk melakukan
pengurangan produk yang dihasilkan atau pengurangan
pasar, atau pengurangan fungsi‐fungsi lainnya di dalam
institusi. Strategi ini mensyaratkan adanya pengurangan
dalam lingkup dan ukuran upaya‐upaya institusi (Sel 3, 6, 9).
Langkah terakhir adalah cara penetapan “Time Frame” dalam
SFAS dengan cara mengambil faktor strategi kunci baik dari analisis
faktor eksternal maupun internal yang paling berpengaruh terhadap
organisasi untuk kemudian dilakukan pembobotan ulang.

D. Teori Kerjasama
Kerjasama memiliki derajat yang berbeda, mulai dari
komunikasi dan koordinasi sampai pada derajat yang lebih tinggi
yaitu kolaborasi. Dimana perbedaan terletak pada kedalaman
interaksi, integrasi, komitmen dan kompleksitas. Comunication
terletak pada tingkatan yang paling rendah sedangkan collaboration
pada tingkatan yang paling tinggi. Kerjasama timbul karena orang
menyadari bahwa mereka mempunyai kepentingan-kepentingan
yang sama dan pada saat yang bersamaan mempunyai cukup
pengetahuan dan pengendalian terhadap diri sendiri untuk
13

memenuhi kepentingan tersebut; kesadaran akan adanya


kepentingan-kepentingan yang sama dan adanya organisasi
merupakan fakta-fakta penting dalam kerjasama yang berguna 13
Adapun bentuk-bentuk kerjasama tersebut meliputi:
a. Kerukunan yang mencakup gotong royong dan tolong
menolong.
b. Bargaining, yaitu pelaksanaan perjanjian mengenai
pertukaran barang dan jasa antara dua organisasi atau lebih.
c. Kooptasi (Co-optation), yakni suatu proses penerimaan unsur
baru dalam kepemimpinan atau pelaksanaan politik dalam
suatu organisasi, sebagai salah satu cara untuk menghindari
terjadinya kegoncangan dalam stabilitas organisasi yang
bersangkutan.
d. Koalisi (Coalition), yaitu kombinasi antara dua organisasi atau
lebih yang mempunyai tujuan yang sama. Koalisi dapat
menghasilkan keadaan yang tidak stabil untuk sementara
waktu karena dua organisasi atau lebih tersebut kemungkinan
mempunyai struktur yang tidak sama antara satu dengan
lainnya. Akan tetapi karena maksud utama adalah untuk
mencapai satu atau beberapa tujuan bersama, maka sifatnya
adalah kooperatif.
e. Join-Venture, yaitu kerjasama dalam pengusahaan proyek-
proyek tertentu, misalnya pengeboran minyak, pertambangan
batubara, perfilman, perhotelan, dan sebagainya

E. Teori Kompetensi
Menurut Spencer and Spencer dalam Abdussamad
(2011:95), kompetensi adalah sebagai karakteristik yang mendasari
seseorang dan berkaitan dengan efektifitas kinerja individu dalam
pekerjaannya (an underlying characteristic’s of an individual which is
causally related to criterion – referenced effective and or superior
performance in a job or situation). Underlying Characteristics

13 Soerjono Soekanto, Sosiologi Suatu Pengantar (2000).


14

mengandung makna kompetensi adalah bagian dari kepribadian


yang mendalam dan melekat kepada seseorang serta perilaku yang
dapat diprediksi pada berbagai keadaan dan tugas pekerjaan.
Causally Related memiliki arti kompetensi adalah sesuatu yang
menyebabkan atau memprediksi perilaku dan kinerja. Criterion
Referenced mengandung makna bahwa kompetensi sebenarnya
memprediksi siapa yang berkinerja baik, diukur dari kriteria atau
standar yang digunakan.
Kompetensi dapat didefenisikan sebagai kapasitas yang ada
pada seseorang yang bisa membuat orang tersebut mampu
memenuhi apa yang disyaratkan oleh pekerjaan dalam suatu
organisasi sehingga organisasi tersebut mampu mencapai hasil
yang diharapkan. Hutapea dan Thoha (2008:28) mengungkapkan
bahwa ada tiga komponen utama pembentukan kompetensi yaitu
pengetahuan yang dimiliki seseorang, kemampuan, dan perilaku
individu. Pengetahuan (knowledge) adalah informasi yang dimiliki
seseorang karyawan untuk melaksanakan tugas dan tanggung
jawabnya sesuai bidang yang digelutinya (tertentu). Pengetahuan
karyawan turut menentukan berhasil tidaknya pelaksanaan tugas
yang dibebankan kepadanya, karyawan yang mempunyai
pengetahuan yang cukup meningkatkan efisiensi perusahaan.
Keterampilan (skill) merupakan suatu upaya untuk
melaksanakan tugas dan tanggung jawab yang diberikan
perusahaan kepada seseorang karyawan dengan baik dan
maksimal. Disamping pengetahuan dan kemampuan karyawan, hal
yang paling perlu diperhatikan adalah sikap perilaku karyawan.
Sikap (attitude) merupakan pola tingkah laku seseorang karyawan di
dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya sesuai dengan
peraturan perusahaan. Apabila karyawan mempunyai sifat
mendukung pencapaian organisasi, maka secara otomatis segala
tugas yang dibebankan akan dilaksanakan sebaik-baiknya14.

14Hutapea, Parulian dan Nurianna Thoha. 2008. Kompetensi Plus. Jakarta: PT Gramedia
Pustaka Utama
15

BAB III

KONDISI KERJASAMA PENEGAKAN HUKUM TINDAK PIDANA DI


LAUT SAAT INI

A. Situasi Umum
Masalah kejahatan terhadap kekayaan negara yang terjadi di
laut selama ini telah menjadi satu isu nasional yang sangat
penting, mengingat kerugian yang dialami negara sangat besar
sehingga mempengaruhi pelaksanaan kebijakan pemerintah dalam
mewujudkan konsep negara Indonesia sebagai poros maritim dunia.
Adapun kejahatan terhadap kekayaan negara yang terjadi di laut
tersebut meliputi illegal fishing, Illegal Logging, Illegal Mining, Illegal
Oil (Migas), dan kejahatan Konservasi Sumber Daya Alam KSDA,
sedangkan tingginya kerawanan wilayah laut Indonesia dari
berbagai ancaman kejahatan terhadap kekayaan negara dapat
dilihat dari pemetaan titik rawan pelanggaran hukum di laut sebagai
berikut.
Gambar 3.1.
Titik rawan pelanggaran hukum di perairan Indonesia dan perairan yurisdiksi Indonesia

15
16

Dari gambar diatas dapat dilihat bahwa terdapat banyak titik


rawan pelanggaran hukum di wilayah laut Indonesia. Adapun
keberhasilan penegak hukum atau dalam hal ini Dit Polair Baharkam
Polri terhadap berbagai kejahatan di laut pada tahun 2013 sampai
dengan tahun 2015 dapat dilihat dari data berikut:
Tabel 3.1
Rekapitulasi Data Penanganan Kejahatan Terhadap Kekayaan Negara Di Laut oleh
Direktorat Kepolisian Perairan tahun 2013 s-d 2015
2013 2014 2015
No JENIS PERKARA Ket
CT CC CT CC CT CC
1. Illegal Logging 84 44 44 30 60 29
2. Illegal Fishing 123 59 141 109 372 279
3. Illegal Mining 13 3 13 8 25 10
4. Illegal Oil (Migas) 112 33 125 87 98 65
5. KSDA/KSDH 28 12 14 8 24 17
360 151 337 242 579 400

Dari data diatas dapat dilihat bahwa tingkat kejahatan di laut


yang merugikan kekayaan negara selalu mengalami peningkatan
setiap tahunnya dengan jumlah yang cukup signifikan, terutama
pada kasus illegal fishing dan illegal oil.

Grafik 3.1
Perbandingan penyelesaian perkara kejahatan di laut

600

500

400

300

200

100

0
CT CC % CT CC % CT CC %
2013 2014 2015
17

Dari grafik diatas dapat dilihat bahwa tingkat penyelesaian


perkara kejahatan terhadap kekayaan negara di laut pada tahun
2013 sebesar 41,94 %, tahun 2014 sebesar 71,81 % dan tahun
2015 sebesar 69,08 %. Dari kondisi tersebut pada dasarnya tingkat
penyesaian perkara telah cukup baik khususnya pada tahun 2014
dan tahun 2015 dimana keberhasilan penyelesaian perkara berada
diatas 50 %.
Namun bila melihat jumlah kasus yang terus meningkat setiap
tahun maka hal ini tentunya harus mendapatkan perhatian tidak
hanya dari Polri namun juga dari institusi lain yang memiliki
kewenangan dalam melakukan penegakan hukum di wilayah
yurisdiksi laut nasional agar dapat bersinergi mewujudkan langkah-
langkah penegakan hukum tindak pidana di laut secara
komprehensif, terintegrasi dan dalam satu kesamaan visi dan misi.
Disisi lain, penyelenggaraan kerjasama penegakan hukum
tindak pidana di laut tentunya harus didukung dengan kesiapan
sumber daya organisasi yang memadai. Dalam hal ini, Polri sebagai
salah satu organisasi yang memiliki struktur dan bidang tugas
menyelenggarakan perlindungan dan pelayanan serta penegakan
hukum di seluruh wilayah perairan NKRI dituntut untuk memiliki
kesiapan dari segi SDM, anggaran, sarana prasarana yang mampu
menunjang fungsi dan perannya dalam upaya penegakan hukum
tindak pidana di laut.
Demikian juga instansi terkait lain yang memiliki kewenangan
di laut seperti TNI-AL, PPNS Kementrian Kelautan dan Perikanan-
Ditjen PSDKP, PPNS Direktorat Jenderal Perhubungan Laut, PPNS
Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan dan PPNS
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) juga dituntut
untuk mampu menjalankan fungsi dan perannya secara maksimal
dalam kerangka kerjasama yang tidak saling bersinggungan atau
tumpang tindih kewenangan.
18

B. Kesiapan sumber daya manusia Polri dalam mendukung


kerjasama penegakan hukum tindak pidana di laut.
Dalam mendukung pelaksanaan kerjasama penegakan
hukum tindak pidana di laut, Polri telah memiiki struktur Direktorat
Polair yang berada di bawah Baharkam Polri (tingkat Mabes) dan
Direktorat Polair yang berada di bawah Kapolda (tingkat Polda) serta
Satpolair yang berada di bawah Kapolres (tingkat Polres).
Keberadaan struktur Polair diharapkan dapat menjawab segala
bentuk tuntutan dan tantangan tugas Polri di wilayah laut
sehubungan dengan semakin meningkatnya kompleksitas
permasalahan yang dihadapi.
Dalam pelaksanaan tugas di lapangan, keberadaan struktur
Polair masih dihadapkan pada berbagai kendala khususnya dari
aspek sumber daya manusia yang dapat dijelaskan dari aspek
kuantitas dan aspek kualitas seperti sebagai berikut :
1. Kuantitas :
Untuk mengetahui kondisi personel Dit Polair
Baharkam Polri dan Polda jajaran dari segi jumlah maka
dapat dilihat dari data berikut :
Tabel 3.2
Data personel Ditpolair Baharkam Polri dan Polda Jajaran
Kuat pers
No Kesatuan Pamen Pama Brigadir Jumlah
DSP RIIL DSP RIIL DSP RIIL DSP RIIL
1. Mabes Polri 65 70 222 222 925 1260 1553 1388
2. Polda Jajaran 465 117 806 35 1805 3561 2735 3877
Jumlah 530 187 1028 257 2730 4821 4288 5265
Dari data diatas dapat dilihat bahwa secara
keseluruhan jumlah personel Ditpolair Baharkam Polri dan
Polda jajaran sudah cukup memadai. Namun bila dilihat dari
segi kepangkatan masih terdapat kekurangan yang cukup
besar dari segi kepangkatan terutama pada kepangkatan
Pamen dan Pama.
19

Hal tersebut tentunya dapat mempengaruhi dinamika


pelaksanaan tugas pokok Ditpolair terutama di Polda jajaran,
karena peran Pamen dan Pama sebagai first dan middle line
supervisor sangat penting keberadaannya untuk menerapkan
sistem dan manajemen kinerja yang baik terutama dalam hal
menjalin kerjasama dengan instnasi terkait di bidang
penegakan hukum tindak pidana di laut.
2. Kualitas
Untuk mengetahui gambaran kualitas personel Dit
Polair Baharkam Polri dan Polda jajaran maka dapat dilihat
dari data berikut :

Tabel 3.3
Data pendidikan umum dan kepolisian personel Ditpolair Baharkam Polri dan
Polda Jajaran
Kuat pers
Umum Kepolisian

DASTA POLAIR
HARWAT PAL

TA MKNK UD
DAS PA AIR

No Kesatuan
PA ANT-V

BA ANT-V

SEBASA
PA IDIK
BA IDIK

LAN BA
DASBA
PA NK

BA NK

TA NK
BA TK

TA TK
PHB

1. Mabes Polri 113 132 102 116 - 67 57 101 105 - - 26 1 162 - - -


2. Polda Jajaran 127 119 217 107 228 328 126 153 24 17 19 115 79 225 17 7 6
Jumlah
Dari data diatas dapat dilihat bahwa masih banyaknya
personel yang belum memiliki latar belakang pendidikan
kejuruan di bidang Polair, sehingga mempengaruhi tingkat
kompetensi para personel tersebut dalam mendukung
terwujudnya kerjasama penegakan hukum tindak pidana di
laut bersama dengan instansi terkait.
Adapun bila ditinjau melalui pendekatan Teori
Kompetensi, kondisi faktual kualitas personel dapat dijelaskan
dari aspek-aspek berikut :
a. Pengetahuan :
Masih kurangnya pemahaman dan penguasaan
terhadap peraturan dan perundang-undangan yang
20

berkaitan dengan penegakan hukum tindak pidana di


laut yang merugikan kekayaan negara seperti :
1) Illegal Fishing : UU No. 45 tahun 2009 tentang
Perikanan,
2) Illegal Loging : UU No. 41 Tahun 1999 tentang
Kehutanan dan UU No. 18 Tahun 2013 tentang
Pencegahan dan Pemberantasan Perusakan
Hutan (P3H)
3) Illegal Mining : UU No. 4 tahun 2009 tentang
Pertambangan Mineral dan Batubara
4) Illegal Oil : UU No. 22 tahun 2001 tentang
Minyak Dan Gas Bumi
5) KSDA : UU No. 5 tahun 1990 tentang Konversi
Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya
Selain undang-undang diatas juga masih
terbatasnya pemahaman terhadap undang-undang
pendukung lainnya seperti UU No. 27 tahun 2007
tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau
Kecil, UU No. 5 tahun 1983 tentang ZEE Indonesia,
UU No. 17 tahun 1985 tentang Konvensi PBB Hukum
Laut, UU No. 6 tahun 1996 tentang Perairan Indonesia
dan UNCLOS tahun 1982.
b. Ketrampilan :
1) Masih banyak anggota yang kurang memiliki
bekal kemampuan seperti taktik dan teknik
pengamanan, taktik dan teknik patroli, taktik dan
teknik penyelidikan, taktik dan teknik
penangkapan, taktik dan teknik penggeledahan,
taktik dan teknik penyitaan, taktik dan teknik
pengamanan barang bukti, taktik dan teknik
pengamanan tersangka.
21

2) Masih terbatasnya anggota yang memilki


keterampilan bahasa asing dan bahasa daerah
untuk mendukung kegiatan operasional
lapangan.
3) Masih terbatasnya kemampuan dalam bidang
Kepelautan dengan spesialisasi kemampuan
Nautika dan Tehnika (technical skill) untuk
mengoperasionalkan kapal dengan ketentuan
navigasi laut, prosedur operasi peralatan
permesinan
c. Perilaku :
Masih adanya anggota yang kurang proaktif
dalam menindaklanjuti adanya informasi tentang
terjadinya gangguan keamanan di wilayah laut dan
kurang proaktif untuk menjalin koordinasi lintas
sektoral dalam menangani kasus-kasus kejahatan di
laut.
Selain itu masih ada perilaku anggota yang
kurang humanis dan protagonist sehingga belum
mendapatkan simpati dan dukungan masyarakat untuk
berpartisipasi terhadap pelaksanaan tugas pokok Polri
khususnya fungsi Polair.

C. Kesiapan sarana prasarana Polri dalam mendukung kerjasama


penegakan hukum tindak pidana di laut.
Karakteristik tugas pokok Polair yang melaksanakan fungsi
kepolisian perairan menjadikan sarana prasarana yang memadai
sebagai salah satu kebutuhan yang paling penting, terutama sarana
transportasi perairan yang digunakan untuk menyelenggarakan
kegiatan patroli perairan, penegakan hukum di perairan, pembinaan
masyarakat pantai dan perairan lainnya. Dari fakta yang ada
diketahui bahwa sebagian besar kesatuan Polair Polri dihadapkan
22

pada keterbatasan sarana prasarana khususnya sarana seperti


dapat dilihat dari data berikut :

Tabel 3.4
Kapal Polisi Ditpolair Baharkam Polri dan Polda Jajaran Klas Standar
Kapal Patroli Kondisi
No Kesatuan Jml
A2 A3 B2 B3 C1 C2 C3 BB RR RB
1. Ditpolair 2 11 17 18 19 7 0 74 72 2 0
2. Polda Jajaran - - - 5 49 130 355 539 394 99 46
Jumlah 2 11 17 23 68 137 355 613 466 101 46

Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa dari segi jumlah maupun
kondisi, kapal patroli Ditpolair Mabes Polri maupun Polda jajaran
saat ini masih belum memenuhi kebutuhan ideal sehingga
menghambat kinerja para personel Polair dalam menjalankan tugas
pokok dan fungsinya di wilayah perairan.

Tabel 3.5
Kapal Polisi Ditpolair Baharkam Polri dan Polda Jajaran Non-Klas Standar
Non Kelas Kondisi
No Kesatuan Jml
SB PK JS NS BB RR RB
1. Ditpolair 2 104 2 0 108 85 0 23
2. Polda Jajaran 39 195 5 45 284 113 83 88
Jumlah 41 299 7 45 392 198 83 111

Dari data-data diatas dapat dijelaskan bahwa dari segi


kuantitas jumlah Kapal Polair relatif banyak namun bila ditinjau dari
segi kualitas kapal-kapal tersebut mayoritas merupakan kapal
dengan klasifikasi kelas C yang hanya mampu mendukung
pelaksanaan patroli perairan pedalaman dan pesisir pantai. Untuk
kapal yang mampu melakukan patroli di laut teritorial hanya
sejumlah 74 unit dan seluruhnya berada di Ditpolair Mabes Polri.
Selain sarana kapal yang kurang memadai sebagaimana
dijelaskan diatas, terdapat pula keterbatasan sarana prasarana lain
yang dihadapi yaitu diantaranya :
23

1. Fasilitas pemeliharaan, perawatan dan perbaikan atau


galangan kapal serta perlengkapan perbengkelan lainnya
untuk saat ini hanya berada di Ditpolair Mabes Polri, sehingga
bila terjadi kerusakan kapal atau pengedokan kapal maka
banyak melibatkan jasa perbengkelan atau shipyard milik
masyarakat.
2. Dukungan teknologi informasi dan komunikasi untuk
mendukung tugas operasional Polair masih terbatas bila
dihadapkan pada semakin kompleksnya masalah kejahatan di
laut yang dalam penanggulangannya membutuhkan sistem
komunikasi yang baik dengan instansi terkait.
3. Masih terbatasnya markas komando kesatuan Polair
khususnya dalam bentuk pos polair yang disertai
kelengkapan sarana dan fasilitas di berbagai wilayah
perairan.
4. Materiil dan logistik dalam bentuk peralatan utama maupun
khusus untuk menunjang operasional Polair belum memiliki
standar merata pada seluruh satuan kewilayahan.
5. Masih adanya sebagian kesatuan Polair di kewilayahan yang
tidak memiliki markas komando, dermaga dan asrama,
sehingga mempengaruhi upaya pengerahan kekuatan secara
insidentil/mendadak dalam menghadapi kondisi kontijensi.

D. Kesiapan anggaran Polri dalam mendukung kerjasama


penegakan hukum tindak pidana di laut.
Dalam implementasi manajemen anggaran pada organisasi
Polri, sebagaimana organisasi pemerintahan lainnya, telah dikenal
prinsip anggaran berbasis kinerja, yaitu suatu pendekatan dalam
sistem penganggaran yang memperhatikan keterkaitan antara
pendanaan dan kinerja yang diharapkan, serta memperhatikan
efisiensi dalam pencapaian kinerja tersebut. Yang dimaksud kinerja
adalah prestasi kerja yang berupa keluaran dari suatu kegiatan atau
hasil dari suatu program dengan kuantitas dan kualitas yang terukur.
24

Namun faktanya, masih terjadi sistem penyediaan anggaran


kegiatan yang masih menggunakan prinsip budget oriented yang
sudah tidak sesuai lagi dengan tuntutan tugas yang dihadapi.
Standarisasi dukungan anggaran untuk menyelenggarakan kegiatan
pada berbagai unit kerja organisasi Polri telah ditetapkan oleh
Kapolri, namun dalam kenyataannya belum disosialisasikan dan
dijadikan pedoman oleh unsur pelaksana kewilayahan, sehingga
hambatan pelaksanaan tugas selalu dipengaruhi oleh keterbatasan
anggaran.
Tabel 3.6.
Anggaran Ditpolair Baharkam Polri tahun 2013 sampai dengan tahun 2015
ANGGARAN
NO PROGRAM KET
T.A 2013 T.A 2014 T.A 2015
Program peningkatan sarana dan
1. Rp. 70.621.328.000,- Rp. 113.227.170.000,- Rp. 67.992.882.000,-
prasarana aparatur Polri
Pengembangan peralatan Polri Rp. 70.621.328.000,- Rp. 113.227.170.000,- Rp. 67.992.882.000,-
Program Pendidikan dan Latihan
2. Rp. 570.400.000,- Rp. 570.400.000,- Rp. 570.400.000,-
aparatur Polri
Penyelenggaraan pendidikan dan
Rp. 570.400.000,- Rp. 570.400.000,- Rp. 570.400.000,-
latihan Polri
3. Program Harkamtibmas Rp. 129.462.771.000,- Rp. 269.478.072.000,- Rp. 126.062.205.000,-
Dukungan manajemen dan teknis
Rp. 84.775.665.000,- Rp. 178.759.475.000,- Rp. 88.054.894.000,-
Harkamtibmas
Penyelenggaraan Kepolisian
Rp. 44.687.106.000,- Rp. 90.718.597.000,- Rp. 38.007.311.000,-
Perairan
Program Penyelidikan dan
4. Rp. 2.021.348.000,- Rp. 1.890.878.000,- Rp. 1.886.676.000,-
Penyidikan tindak pidana
Penindakan Tindak pidana umum Rp. 1.120.488.000,- Rp. 2.021.348.000,- Rp. 985.816.000,-
Pembinaan operasional
penyelidikan dan penyidikan tindak Rp. 562.172.000,- Rp. 562.172.000,- Rp. 562.172.000,-
pidana
Koordinasi dan pengawasan PPNS Rp. 338.688.000,- Rp. 338.688.000,- Rp. 338.688.000,-
Jumlah Total Rp. 202.675.847.000 Rp. 385.166.520.000,- Rp. 196.512.163.000,-

Dari data diatas dan dibandingkan dengan kondisi faktual di


lapangan, maka terdapat beberapa hambatan dan kendala
mengenai kondisi anggaran yang dapat dijelaskan sebagai berikut :
1. Terdapat penurunan jumlah dukungan anggaran dari tahun
2013 ke tahun 2014 dan juga ke tahun 2015, terutama
program penyelidikan dan penyidikan tindak pidana sehingga
25

dapat menghambat pelaksanaan penegakan hukum tindak


pidana dilaut.
2. Adanya penurunan pada mata anggaran yang dapat
mendukung kegiatan penegakan hukum tindak pidana di laut
seperti anggaran program peningkatan sarana dan prasarana
aparatur Polri dan anggaran pengembangan peralatan Polri
3. Adanya penurunan pada mata anggaran Pendidikan dan
Latihan yang dapat menghambat terwujudnya peningkatan
kompetensi personel dalam melaksanakan penegakan hukum
tindak pidana di laut.
4. Adanya penurunan pada mata anggaran anggaran Program
Harkamtibmas dan angggaran Penyelenggaraan Kepolisian
Perairan sehingga dapat menghambat kegiatan-kegiatan
seperti kegiatan pemberdayaan potensi masyarakat
perbatasan, pesisir dan pulau-pulau kecil terluar, kegiatan
patroli perairan maupun anggaran pelaksanaan kerjasama
dengan instansi terkait.

E. Pelaksanaan kerjasama penegakan hukum tindak pidana di laut.


Jika ditinjau dari kelembagaan, jumlah institusi atau instansi di
Indonesia yang memiliki tugas pokok dan fungsi serta kewenangan
dalam menegakan hukum tindak pidana di laut tergolong banyak
dibandingkan dengan negara-negara lain di dunia. Sampai dengan
saat ini ada 14 institusi dengan tugas dan fungsi yang berkaitan
dengan penegakan hukum di laut. Namun, dari ke 14 instansi
tersebut, hanya 6 instansi yang memiliki unsur patroli di laut yaitu
TNI-AL, Bakamla, Polair Polri, Bea Cukai, KPLP dan KKP.
Sedangkan terkait dengan upaya penegakan hukum
kejahatan terhadap kekayaan negara di laut, terdapat lembaga-
lembaga yang memiliki kewenangan yang diantaranya Ditpolair
Polri, TNI-AL, PPNS Kementrian Kelautan dan Perikanan-Ditjen
PSDKP, PPNS Direktorat Jenderal Perhubungan Laut, PPNS
26

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan dan PPNS


Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).
Diberikannya kewenangan kepada berbagai kementerian dan
lembaga tersebut diatas dalam menegakan hukum tindak pidana di
laut pada satu sisi dapat meningkatkan efektifitas penegakan hukum
di laut. Namun bila melihat kondisi saat ini, dapat disimpulkan bahwa
kerjasama penegakan hukum tindak pidana di laut masih belum
berjalan secara sinergis, dimana masing-masing instansi,
kementerian dan lembaga masih menjalankan peran dan fungsinya
secara sektoral sehingga mengurangi efektifitas dan efisiensi
penegakan hukum yang dilakukan.
Selain kerjasama dalam negeri melalui kementerian dan
lembaga diatas, kerjasama juga dilakukan dengan pihak luar negeri
baik regional maupun internasional dalam bentuk kegiatan seperti
capacity building, bantuan peralatan, sharing information dan patroli
bersama di perbatasan. Dalam pelaksanaanya, kegiatan kerjasama
luar negeri juga dirasakan masih kurang mampu mendorong
terwujudnya efektifitas penegakan hukum, terutama dalam upaya
penyelamatan aset / kekayaan negara yang telah dicuri dan dilarikan
ke luar negeri.
Adapun berbagai kondisi faktual terkait kerjasama penegakan
hukum tindak pidana di laut saat ini dapat dijelaskan secara lebih
mendalam melalui pembahasan pada aspek-aspek berikut :
1. Pada aspek komunikasi
a. Belum optimalnya komunikasi yang intensif antar
instansi baik secara formal maupun informal untuk
menyamakan persepsi dan komitmen bersama dalam
menghadapi berbagai kompleksitas permasalahan
dalam penegakan hukum tindak pidana di laut. Dalam
hal ini belum terwujud kesamaan komitmen dalam
membangun mekanisme penegakan hukum secara
terkoordinasi dan berkesinambungan.
27

b. Komunikasi yang dilakukan saat ini masih cenderung


dilakukan secara reaktif dan insidentil serta belum
melembaga dalam suatu hubungan kerjasama yang
terpadu. Komunikasi saat ini hanya dilakukan apabila
terdapat keadaan yang mengharuskan dilakukannya
koordinasi, dan belum dilakukan secara optimal dalam
bentuk kegiatan yang dapat meningkatkan kedekatan
seperti Focus Group Discussion (FGD), Cofee Break,
dan kegiatan lainnya.
c. Komunikasi yang berjalan saat ini juga masih sangat
terbatas terutama dalam hal diseminasi informasi untuk
meningkatkan kecepatan dalam melakukan tindakan
terhadap adanya suatu pelanggaran hukum di wilayah
perairan.
d. Pelaksanaan komunikasi dengan kepolisian negara
asing baik regional maupun internasional dalam bentuk
sharing information masih terbatas karena adanya
pengaruh kepentingan politik negara-negara tersebut
terhadap wilayah perairan Indonesia.
2. Pada aspek koordinasi
a. Belum optimalnya koordinasi dengan untuk
memetakan permasalahan dalam pelaksanaan
kerjasama, terutama dalam pembagian tugas dan
tanggung jawab guna mengatasi permasalahan
kerawanan tumpang-tindih kewenangan karena
adanya peraturan perundang-undangan yang
memberikan kewenangan kepada berbagai instansi
pemerintah untuk menegakkan hukum di laut.
b. Dalam penegakan hukum tindak pidana diwilayah laut
indonesia, terkait dengan wewenang masing-masing
institusi yang secara yuridis formal diberi kewenangan
untuk melakukan penyidikan, terlihat belum adanya
28

sinergi antar institusi. Keadaan yang demikian ini


terlihat dalam pelaksanaan operasi keamanan di laut
yang lebih sering dilaksanakan sendiri-sendiri oleh
masing-masing instansi, dimana hal ini sangat
mempengaruhi pola operasi dan penggelaran
kekuatan, oleh karena itu sangat mungkin terjadi di
satu wilayah atau kawasan terdapat penumpukan
kapal patroli sementara di wilayah atau kawasan lainya
tidak ada unsur patroli
c. Berbagai peraturan perundang-undangan belum
mengatur secara tegas dan jelas pembagian
kewenangan, serta pengaturan mekanisme kerja yang
pasti, sehingga berbagai instansi yang memiliki tugas
pokok di wilayah perairan dapat menyatakan
berwenang dalam penegakan hukum tanpa adanya
keterpaduan sistem dalam pelaksanaannya.
Pengaturan yang demikian ini dapat menimbulkan
kerawanan adanya perbedaan penafsiran peraturan
perundang-undangan dan perbedaan pola penegakan
hukum diantara sesama aparat, bahkan timbul
kekhawatiran akan adanya ketidak harmonisan atau
gesekan antar aparat dalam pelaksanaan operasi
penegakan hukum dilaut.
d. Masih terbatasnya koordinasi untuk meningkatkan
intensitas dan jangkauan kegiatan patroli sampai
dengan ZEE dalam wadah operasi bersama.
e. Belum optimalnya koordinasi dalam pelaksanaan
patroli bersama dengan Polisi/coast guard masing-
masing negara tetangga.
f. Belum optimalnya kerjasama pertukaran informasi
melalui IMB (Internasional Maritime Beaurau) guna
29

mempercepat penanganan suatu tindak pidana yang


terjadi di laut.
3. Pada aspek kolaborasi
a. Meskipun telah dilakukan berbagai kegiatan terpadu,
seperti melalui Gelar Patroli Keamanan Laut oleh Polri
dengan instansi terkait, namun dalam pelaksanaannya
masih belum optimal karena hanya bersifat rutinitas
tanpa adanya terobosan-terobosan inovatif.
Sedangkan dalam penanganan kasus terhadap
kejahatan di laut dalam pelaksanaanya cenderung
berjalan sendiri-sendiri secara sektoral.
b. Belum terselenggaranya kesamaan persepsi dalam
menanggulangi kejahatan di laut hingga kepada upaya
penyelamatan aset kekayaan negara di laut yang telah
menjadi objek kejahatan melalui penerapan peraturan
perundang-undangan di bidang tindak pidana
pencucian uang.
c. Dalam penanganan kasus terhadap kejahatan di laut
dalam pelaksanaanya cenderung berjalan sendiri-
sendiri secara sektoral. Idealnya penyidikan kasus
keamanan di laut tidak dilakukan secara sektoral / dari
satu institusi saja, melainkan secara komprehensif
agar suatu tindak pelanggaran disidik dengan
menggunakan multi dimensi perundangan.
d. Belum terselenggaranya kebersamaan dalam menjalin
hubungan kerjasama secara regional maupun
internasional untuk mengoptimalkan penegakan hukum
tindak pidana di laut, terutama dalam hal upaya
penyelamatan aset kekayaan negara dengan
penerapan Mutual Legal Assistance (MLA) dalam
forum kerjasama Interpol dan Aseanapol.
30

F. Implikasi belum optimalnya kerjasama penegakan hukum tindak


pidana di laut terhadap upaya menyelamatkan kekayaan negara
dan terhadap pembangunan nasional
1. Implikasi terhadap upaya menyelamatkan kekayaan
negara.
a. Penegakan hukum tindak pidana di laut kurang
berjalan dengan efektif, sehingga kurang memberikan
efek jera kepada para pelaku kejahatan di laut.
b. Semakin maraknya intensitas kejahatan di laut karena
lemahnya komitmen dan kebersamaan yang sinergis
dalam menegakkan hukum di laut yang pada akhirnya
semakin merugikan kekayaan negara.
2. Implikasi terhadap pembangunan nasional.
a. Semakin besarnya kerugian yang harus ditanggung
oleh Negara akibat maraknya kejahatan di laut
sehingga menghambat pembangunan nasional
b. Komitmen pemerintah mewujudkan Indonesia sebagai
Poros Maritim Dunia terancam tidak berhasil dan
berdampak pula terhadap stabilitas lingkungan
strategis nasional baik di bidang sosial, ekonomi, politik
dan terutama keamanan.
31

BAB IV

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI

Pada bab ini akan diuraikan faktor-faktor yang mempengaruhi


strategi optimalisasi kerjasama penegakan hukum tindak pidana di laut
guna menyelamatkan kekayaan negara dalam rangka mendukung
pembangunan nasional. Selanjutnya faktor-faktor yang mempengaruhi
tersebut dianalisis melalui pendekatan analisis SWOT. Melalui analisis
SWOT ini dapat dilakukan identifikasi berbagai faktor yang mempengaruhi
secara sistematis untuk selanjutnya dirumuskan strategi pencapaian tujuan
organisasi.
Analisis SWOT didasarkan pada logika yang dapat memaksimalkan
kekuatan (strength) dan peluang (opportunities). Namun secara bersamaan
dapat meminimalkan kelemahan (weakness) dan ancaman (threat). Proses
pengambilan keputusan strategis selalu berkaitan dengan pengembangan
misi, tujuan, strategi dan kebijakan organisasi Polri. Dengan demikian,
perencanaan strategis (strategic planning) harus menganalisa faktor-faktor
strategis organisasi dalam kondisi yang ada saat ini15. Hal tersebut
dijabarkan sebagai berikut yaitu :
A. Pengaruh perkembangan lingkungan strategis
1. Global
Bahwa kemampuan dan kekuatan maritim masih akan
terus memainkan peranan strategis dalam percaturan
geopolitik global, baik dalam konteks kerjasama maupun
sengketa antar Negara. Negara-negara berkembang yang
tengah tumbuh menjadi kekuatan baru berupaya
meneguhkan keberadaannya dengan memperkuat kekuatan
maritim melalui penambahan kekuatan angkatan laut maupun
pengembangan armada niaga yang melayani jalur
perdagangan global.

15Fredy Rangkuti. 2004. Analisis SWOT Teknik Membedah Kasus BisnIs, Reorientasi Konsep Perencanaan Strategis
untuk Abad 21 PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta

31
32

Namun disisi lain, perkembangan lingkungan strategis


global yang berbasis dunia maritim juga menyimpan ancaman
yang cenderung eskalatif dan meluas jika tidak diantisipasi
sejak dini. Salah satu kasus menonjol yaitu pada
permasalahan kehadiran kekuatan maritim asing di wilayah
perairan Indonesia dengan alasan mengamankan kapal-kapal
niaga dari ancaman keamanan. Oleh karena itu perlu adanya
pembenahan dalam meningkatkan kekuatan dan kemampuan
maritim Indonesia dalam merespon dan mengantisipasi
situasi tersebut untuk menjamin penegakan kedaulatan
hukum serta melindungi dan mengamankan kapal-kapal asing
yang melintas di wilayah Indonesia secara sah.
Sebagai bagian dari industri maritim dunia, Indonesia
memiliki kewajiban dalam melaksanakan pengamanan dan
memberikan jaminan keselamatan bagi kapal-kapal asing
yang melintas di wilayah perairan yurisdiksi nasional
berdasarkan legalitas hukum laut internasional. Bila hal
tersebut tidak dilaksanakan dapat mengakibatkan penurunan
kepercayaan negara-negara pengguna laut terhadap
Indonesia. Bahkan, negara-negara tersebut akan
mengirimkan kekuatan militer untuk melindungi kapal-kapal
niaganya di wilayah Indonesia.
2. Regional
Perkembangan lingkungan strategis regional yang saat
ini mengemuka yaitu sengketa di Laut Cina Selatan,
khususnya sengketa atas kepemilikan Kepulauan Spratly dan
Kepulauan Paracel. Penguasaan kepulauan ini telah
melibatkan banyak negara di antaranya Inggris, Prancis,
Jepang, RRC dan Vietnam. Selanjutnya sengketa ini
melibatkan pula Malaysia, Brunei, Filipina dan Taiwan.
Sengketa territorial di kawasan ini bukan hanya terbatas pada
masalah kedaulatan atas kepemilikan pulau-pulau, tetapi
bercampur dengan masalah hak berdaulat atas landas
33

kontinen dan ZEE, serta menyangkut masalah penggunaan


teknologi baru penambangan laut dalam yang menembus
kedaulatan negara.
Disisi lain, pada bidang ekonomi terdapat
kecenderungan dimana negara-negara regional akan
mengembangkan kekuatan dan kemampuan maritim mereka
untuk memanfaatkan potensi sumber kekayaan alam dan
sumber daya alam Indonesia demi kepentingan
perekonomian negaranya, sehingga hal ini perlu mendapat
perhatian dari seluruh pemangku kepentingan di Indonesia.
Adapun untuk merespon dinamika maritim global,
ASEAN kini sedang memantapkan diri sebagai organisasi
keamanan kawasan melalui perwujudan ASEAN Security
Community (ASC) pada 2015. ASEAN terus mempromosikan
kerjsama keamanan di kawasan Asia Pasifik secara luas,
termasuk kerjasama di bidang pertahanan dan keamanan
maritim. Kerjasama ini diharapkan dapat memberikan
kontribusi positif dalam berbagai upaya mewujudkan stabilitas
kawasan dalam rangka menjawab tantangan keamanan
maritim regional.
3. Nasional
a. Aspek geografi
Karakteristik geografis Indonesia mengandung
tantangan multidimensional sehingga menuntut adanya
strategi pertahanan keamanan negara yang tepat
untuk mengamankan wilayah. Tugas untuk melindungi
dan mengamankan Indonesia dengan karakteristik
sebagai negara kepulauan mengisyaratkan tantangan
yang kompleks dan berimplikasi pada tuntutan
pembangunan dan pengelolaan sistem keamanan
negara agar ddapat menghasilkan daya tangkal yang
memadai.
34

Dalam hal ini, terdapat sejumlah isu yang


menonjol dalam aspek keamanan namun yang menjadi
fokus dalam hal ini adalah maraknya kejahatan
terhadap kekayaan negara yang terjadi di laut. Hal ini
disebabkan wilayah laut yurisdiksi nasional sangat luas
yang memerlukan suatu sarana pengawasan dan
pengendalian laut secara nasional yang tepat. Namun,
sampai saat ini pengawasan dan pengendalian laut
masih dilakukan secara sektoral oleh para stakeholder
terkait sesuai peran, tugas dan fungsi masing-masing
kementerian / lembaga.
b. Aspek demografi
Jumlah penduduk Indonesia yang saat ini
sebanyak + 238 juta jiwa merupakan modal utama bagi
peningkatan usaha pembangunan sektor kemaritiman.
Namun karena keterbatasan kualitas SDM dalam
penguasaan bidang kemaritiman maka kondisi ini
belum sepenuhnya dapat dikelola secara optimal untuk
menjadi faktor penguat dalam penyelenggaraan
program pembangunan nasional.
Keterbatasan kualitas SDM dalam penguasaan
bidang kemaritiman dapat dilihat dari kegiatan
masyarakat pesisir pada umumnya dalam mencari ikan
masih banyak yang menggunakan metode yang dapat
menimbulkan kerusakan lingkungan dan merugikan
negara. Oleh karena itu seluruh pemangku
kepentingan yang terkait di bidang kemaritiman
diharapkan memiliki sinergitas dalam upaya sosialisasi
penegakan hukum di laut, termasuk keamanan dan
keselamatan di laut sehingga dapat meningkatkan
kesadaran masyarakat agar dalam menyelenggarakan
kegiatannya di laut senantiasa mematuhi peraturan
35

perundang-undangan demi meningkatkan taraf hidup


dan kesejahteraan.
c. Aspek sumber kekayaan alam
Sumber kekayaan alam Indonesia terdiri atas
berbagai jenis dan jumlah yang melimpah. Namun
potensi alam tersebut masih belum dapat dikelola
dengan baik, justru di berbagai wilayah perairan
kekayaan alam tersebut banyak dimanfaatkan oleh
pihak-pihak tertentu secara ilegal, seperti illegal fishing,
Illegal Logging, Illegal Mining, Illegal Oil (Migas),
kejahatan Konservasi Sumber Daya Alam KSDA,
karantina laut, kejahatan di bidang pengelolaan
wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil, serta kejahatan
di bidang perlindungan dan pengelolaan lingkungan
hidup.
d. Aspek ideologi
Bahwa keberadaan masyarakat khususnya
masyarakat perbatasan, pesisir dan pulau-pulau kecil
terluar yang jauh dari akses pemerintahan dan akses
terhadap kepentingan masyarakat umum lainnya
sangat rentan menjadi disusupi pemahaman ideologi
yang menyimpang dari ideologi Pancasila, sehingga
rasa nasionalisme mereka khususnya terhadap
kepedulian dalam menjaga lingkungan sekitar
perbatasan, pesisir dan pulau-pulau kecil terluar dari
ancaman kejahatan di laut relatif rendah.
e. Aspek politik
Bahwa pelaksanaan pengamanan dilaut saat ini
dilakukan oleh beberapa institusi negara yang dalam
penyelenggaraannya belum memberikan kontribusi
yang maksimal dalam mewujudkan penyelematan
kekayaan negara dari ancaman kejahatan di laut. Oleh
karena itu diperlukan suatu sarana pengawasan dan
36

pengendalian laut secara nasional yang tepat guna


serta dapat bersinergi untuk menjaga kredibilitas
bangsa dan negara di mata dunia. Hal ini dilakukan
agar wilayah perairan nasional terbebas dari kegiatan
ilegal dalam rangka menciptakan stabilitas keamanan
maritim nasional. Sehingga diperlukan keputusan
politik negara untuk mewujudkan sinergitas paradigma
lintas sektoral bidang kemaritiman dalam rangka
penguatan kemampuan dan kekuatan maritim
nasional.
f. Aspek ekonomi
Kehidupan ekonomi masyarakat Indonesia
khususnya di wilayah perbatasan, pesisir / pantai dan
pulau-pulau kecil terluar masih relatif tertinggal, yang
disebabkan berbagai faktor antara lain lokasi yang
terisolasi dengan tingkat aksesibilitas yang rendah,
rendahnya taraf sosial ekonomi masyarakat, dan
langkanya informasi pemerintah tentang ekonomi dan
pembangunan bagi masyarakat di kawasn tersebut.
Hal ini kemudian mempengaruhi pola kehidupan
ekonomi masyarakat tersebut yang tidak sedikit
melakukan kegiatan-kegiatan perekonomiannya secara
ilegal.
g. Aspek sosial budaya
Tingkat pendidikan masyarakat di wilayah
perbatasan, pesisir / pantai dan pulau-pulau kecil
terluar masih relatif rendah. Hal ini menyebabkan
tingkat nasionalisme masyarakat menjadi rentan untuk
terkikis yang pada akhirnya berdampak pada
rendahnya partisipasi dan kesadaran masyarakat
untuk memberikan kontribusi bagi penyelenggaraan
kegiatan usaha-usaha kelautan yang sesuai dengan
peraturan perundang-undangan.
37

h. Aspek pertahanan keamanan


Lingkungan strategis nasional Indonesia dilihat
dari sudut pandang pertahanan dan keamanan masih
belum mampu mengatasi permasalahan yang terjadi di
laut. Oleh karena itu kekuatan dan kemampuan
maritim nasional mutlak diwujudkan dalam menegakan
kedaulatan dan hukum RI di perairan yurisdiksi
nasional. Seluruh komponen bangsa dan para
pemangku kepentingan laut harus berperan aktif
sesuai peran, tugas dan fungsinya dalam
melaksanakan pengendalian di sektor laut secara
bersinergi dan terpadu.
B. Faktor Internal
1. Kekuatan
a. Telah digelarnya Renstra Polri 2015-2019 sebagai
penjabaran Nawacita dengan salah satu sasaran
strategis yaitu Tergelarnya Kekuatan Polri Di Wilayah
Perbatasan Dan Pulau Terluar Berpenghuni Serta
Sebagai Poros Maritim Secara Berkelanjutan.
b. Tergelarnya kekuatan satuan Polair di seluruh wilayah
perairan yang bertugas melaksanakan fungsi
kepolisian perairan, yang meliputi patroli perairan,
penegakan hukum di perairan, pembinaan masyarakat
pantai dan perairan lainnya, serta SAR.
c. Program prioritas Kapolri yang diantaranya yaitu
Program peningkatan perlindungan terhadap warga
negara untuk peningkatan rasa aman, Program
membangun partisipasi publik dalam pengamanan
lingkungan dan Program mengintensifkan sinergitas
polisional dengan kementerian/lembaga.
d. Adanya kebijakan strategis Polri di bidang
pembangunan kerjasama dengan berbagai pihak
dalam mendukung kegiatan operasi kepolisian.
38

e. Tersedianya peraturan dan perundang-undangan yang


berkaitan dengan penegakan hukum tindak pidana
yang merugikan kekayaan negara di laut seperti :
1) Illegal Fishing : UU No. 45 tahun 2009 tentang
Perikanan,
2) Illegal Loging : UU No. 41 Tahun 1999 tentang
Kehutanan dan UU No. 18 Tahun 2013 tentang
Pencegahan dan Pemberantasan Perusakan
Hutan (P3H)
3) Illegal Mining : UU No. 4 tahun 2009 tentang
Pertambangan Mineral dan Batubara
4) Illegal Oil : UU No. 22 tahun 2001 tentang
Minyak Dan Gas Bumi
5) KSDA : UU No. 5 tahun 1990 tentang Konversi
Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya
6) Undang-undang pendukung lainnya seperti UU
No. 27 tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah
Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil, UU No. 5 tahun
1983 tentang ZEE Indonesia, UU No. 17 tahun
1985 tentang Konvensi PBB Hukum Laut, UU
No. 6 tahun 1996 tentang Perairan Indonesia
dan UNCLOS tahun 1982.
2. Kelemahan
a. Belum optimalnya pedoman atau mekanisme yang
dapat mendukung kerjasama yang sinergis antara Polri
dengan instansi terkait dalam penegakan hukum tindak
pidana di laut, baik dalam bentuk Standard Operating
Procedure (SOP) maupun Hubungan Tata Cara Kerja
(HTCK) dalam lingkup HTCK vertikal, HTCK horizontal
dan HTCK lintas sektoral.
b. Masih terbatasnya jumlah dan kualitas anggota Polri
yang ditugaskan di Dit Polair maupun di wilayah
39

perbatasan atau pulau terluar Indonesia yang rawan


terjadi kejahatan di laut.
c. Belum optimalnya pemberdayaan pos-pos polisi
perairan di berbagai lokasi yang strategis terutama di
pulau-pulau terluar yang berbatasan langsung dengan
negara lain.
d. Masih terbatasnya dukungan anggaran dan sarana
prasarana pendukung kegiatan anggota Polri dalam
penegakan hukum tindak pidana di laut.
e. Kegiatan kepolisian di perairan yang dilakukan masih
sebatas rutinitas tanpa mengkaji dan menganalisis
terhadap permasalah-permasalahan yang timbul
terutama dikaitkan dengan hakekat ancaman.
C. Faktor Eksternal
1. Peluang
a. Komitmen pemerintah untuk mewujudkan Indonesia
sebagai poros maritim dunia yang termuat dalam visi
dan misi Presiden Joko Widodo yaitu : mewujudkan
keamanan nasional yang mampu menjaga kedaulatan
wilayah, menopang kemandirian ekonomi dengan
mengamankkan sumber daya maritim, yang
mencerminkan kepribadian Indonesia sebagai negara
kepulauan.
b. Adanya berbagai instansi terkait yang memiliki
kewenangan dan tanggung jawab di bidang penegakan
hukum tindak pidana di laut.
c. Adanya potensi masyarakat yang dapat diberdayakan
sebagai pengawas kegiatan di wilayah pesisir pantai /
kelautan.
d. Sistem informasi dan teknologi yang semakin
meningkat dan canggih dapat dimanfaatkan dalam
penggunaan sarana prasarana kepolisian guna
40

mendukung efektifitas penegakan hukum tindak pidana


di laut.
e. Adanya kerjasama antara Polri dengan Kepolisian
Negara tetangga dalam upaya penegakan hukum
tindak pidana di laut.
2. Kendala
a. Masih adanya ego sektoral dalam upaya penegakan
hukum tindak pidana di laut.
b. Masih adanya tumpang tindih kewenangan antar
aparat penegak hukum kelautan yang berdampak pada
lemahnya upaya penegakan hukum tindak pidana di
laut.
c. Luasnya wilayah laut yang menjadi yurisdiksi Indonesia
sedangkan kemampuan Polri dan instansi terkait masih
terbatas dibandingkan kebutuhan untuk mengawasi
daerah rawan kejahatan di laut
d. Adanya perjanjian Batas-Batas Dasar Laut Tertentu
dan Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) yang belum
mencapai kesepakatan / belum diratifikasi
mengakibatkan keragu-raguan bagi anggota Polri dan
instansi terkait untuk melakukan penegakan hukum
tindak pidana di laut.
e. Masih rendahnya kesadaran masyarakat untuk
berpartisipasi menjaga keamanan di wilayah perairan
dari ancaman kejahatan di laut.
41

BAB V

KONDISI KERJASAMA PENEGAKAN HUKUM TINDAK PIDANA DI


LAUT YANG DIHARAPKAN

A. Situasi Umum
Telah disebutkan bahwa penegakan hukum merupakan salah
satu prasyarat untuk mengantar Indonesia sebagai poros maritim
dunia. Berbicara penegakan hukum, hal ini masih merupakan
pekerjaan rumah yang berat bagi pemerintah dan para pemangku
kepentingan yang memiliki kewenangan dalam melaksanakan
penegakan hukum tindak pidana di laut untuk memastikan
keamanan dan perlindungan terhadap yurisdiksi Indonesia.
Diberikannya kewenangan pada institusi lain untuk
melakukan penyidikan, di satu sisi akan memudahkan dalam
pengungkapan suatu kasus tindak pidana mengingat banyaknya
kendala yang dihadapi oleh aparat penyidik kepolisian dalam
melaksanakan tugas penyidikan, seperti kendala sumber daya
manusia, sarana-prasarana, anggaran, dan sebagainya, sehingga
keterlibatan institusi tersebut dalam tugas penyidikan dapat
membantu proses penegakan hukum. Namun di sisi lain hal tersebut
dapat menimbulkan kondisi disharmonis yang memicu terjadinya
tarik menarik kewenangan antar institusi, dan bermuara pada
terhambatnya proses penegakan hukum.
Apabila kondisi di atas tidak segera dibenahi dikhawatirkan
akan menimbulkan ketidakjelasan arah penegakan hukum, tidak
saja dikalangan masyarakat pencari keadilan tetapi juga dikalangan
institusi penyidik itu sendiri, karena masing-masing institusi penyidik
takut melakukan tindakan hukum, yang pada akhirnya akan
berakibat pada munculnya kelambatan dalam pemeriksaan dan
penuntutan suatu tindak pidana.
Disisi lain, kondisi geografis Indonesia membawa tantangan
tersendiri dalam penegakkan hukum di laut. Dalam hal ini, DR. Iur.
Damos dalam kegiatan Diskusi Terbatas dengan tema "Penegakan

41
42

Hukum dalam Pembangunan Maritim: Lesson Learned dari


Belanda"16 menggarisbawahi setidaknya ada lima tantangan dalam
penegakan hukum di laut, antara lain masalah perbatasan yang
belum terselesaikan, perbedaan perspektif dalam ancaman
keamanan maritim, perbedaan interpretasi dan implementasi hukum
internasional, kurangnya kapasitas dalam mencegah dan menangani
ancaman keamanan maritim, serta koordinasi antarlembaga
penegak hukum.
Sebagai gambaran, permasalahan perbatasan laut Indonesia
dengan 9 dari 10 negara belum tuntas pembahasannya. Selain itu,
Dr. Iur. Damos menyampaikan bahwa untuk mengatasi perbedaan
interpretasi dan implementasi hukum internasional diperlukan
adanya sebuah perangkat hukum tambahan seperti provisional
arrangement yang disepakati kedua negara. Sebagai contoh antara
Indonesia dan Malaysia melalui penandatanganan Memorandum of
Understanding (MOU) on Common Guidelines Concerning
Treatment of Fishermen by Maritime Law Enforcement Agencies of
Malaysia and the Republic of Indonesia.
Terkait single agency dalam penegakan hukum di laut,
Profesor Soons menanggapi bahwa berdasarkan pengalaman
Belanda di wilayah Laut Utara dan Laut Karibia serta situasi di
negara-negara lain, penegakkan hukum laut tidak harus dilakukan
oleh single agency. Sehubungan dengan hal tersebut, Profesor
Soons menggarisbawahi pentingnya kesamaan visi antar lembaga
dan adanya koordinasi, baik pada tataran kebijakan maupun
operasional.
Penegakan hukum di laut sebaiknya tidak hanya dilihat
sebagai sebuah upaya menanggulangi ancaman keamanan tetapi
secara jangka panjang sebagai sebuah langkah untuk menjamin

16 Diskusi Terbatas “Penegakkan Hukum dalam Pembangunan Maritim: Lesson Learned dari
Belanda” yang diselenggarakan Pusat Pengkajian dan Pengembangan Kebijakan (P2K2) Amerika
dan Eropa, Badan Pengkajian dan Pengembangan Kebijakan (BPPK), Kementerian Luar Negeri,
bekerja sama dengan Kedutaan Besar Belanda di Jakarta pada 10 Februari 2016
43

kemakmuran rakyat Indonesia melalui pengelolaan sumber daya


dan menjaga kelestarian lingkungan.
Berdasarkan penjelasan tersebut diatas, dapat ditarik
kesimpulan bahwa hendaknya para pemangku kepentingan yang
memiliki kewenangan di bidang penegakan hukum tindak pidana di
laut menjadikan konsep sinergi sebagai langkah utama dalam
mewujudkan efektifitas penegakan hukum di laut, sehingga
diperlukan kesamaan komitmen yang tercermin dari kesamaan
gerak dan langkah tidak hanya dalam wacana dan kebijakan namun
lebih konkrit yaitu dalam pelaksanaan kegiatan operasional di
lapangan. Oleh karena itu, sehubungan dengan hal tersebut maka
perlunya upaya-upaya tindak lanjut khususnya dari Polri untuk
mewujudkan peran dan eksistensinya dalam kerangka kerjasama
penegakan hukum tindak pidana di laut melalui pembinaan dan
pembangunan kekuatan sumber daya organisasi pendukung yang
meliputi sumber daya manusia, anggaran dan sarana prasarana
serta peningkatan mekanisme kerjasama dengan Kementerian dan
Lembaga yang memiliki kewenangan penegakan hukum tindak
pidana di laut.

B. Kesiapan sumber daya manusia Polri dalam mendukung


kerjasama penegakan hukum tindak pidana di laut.
Bahwa kebijakan pemerintah yang tertuang dalam Nawacita
telah dijabarkan oleh Polri melalui penetapan Rencana Strategis
(Renstra) Polri tahun 2015-2019. Dalam Renstra tersebut terdapat
salah satu Sasaran Strategis Polri yaitu Tergelarnya Kekuatan Polri
Di Wilayah Perbatasan Dan Pulau Terluar Berpenghuni Serta
Sebagai Poros Maritim Secara Berkelanjutan. Untuk mewujudkan
pencapaian tersebut, maka strategi yang akan dilakukan diantaranya
adalah meningkatkan kemampuan Polri untuk mengamankan
wilayah perairan pada poros maritim dengan memperkuat Satuan
Polair baik ditingkat pusat maupun kewilayahan
44

Berkaitan dengan hal tersebut diatas, upaya peningkatan


peran Ditpolair merupakan komitmen Polri dalam mendukung
penegakan hukum tindak pidana di laut. Namun dalam
pelaksanaannya, upaya peningkatan peran Ditpolair masih
dihadapkan pada berbagai kendala terutama pada aspek sumber
daya manusia. Hal ini kemudian berdampak pada kurang optimalnya
hasil yang dicapai dalam upaya penegakan hukum tindak pidana di
laut.
Oleh karena itu, sejalan dengan semakin meningkatnya
tuntutan publik terhadap peran Polri tersebut maka diharapkan
setiap Satuan Polair dapat didukung oleh ketersediaan sumber daya
manusia yang memadai, sebagaimana yang dapat diuraikan pada
pembahasan berikut.
1. Kuantitas :
Terpenuhinya sebaran jumlah personel Polair secara
merata, yang disertai dengan penyesuaian kepangkatan
terutama pada kepangkatan Pamen dan Pama sebagai first
dan middle line supervisor yang sangat penting
keberadaannya untuk menerapkan sistem dan manajemen
kinerja yang baik.
2. Kualitas
a. Pengetahuan :
Setiap personel Ditpolair memiliki pemahaman
dan penguasaan terhadap peraturan dan perundang-
undangan yang berkaitan dengan penegakan hukum di
laut seperti :
1) Illegal Fishing : UU No. 45 tahun 2009 tentang
Perikanan,
2) Illegal Loging : UU No. 41 Tahun 1999 tentang
Kehutanan dan UU No. 18 Tahun 2013 tentang
Pencegahan dan Pemberantasan Perusakan
Hutan (P3H)
45

3) Illegal Mining : UU No. 4 tahun 2009 tentang


Pertambangan Mineral dan Batubara
4) Illegal Oil : UU No. 22 tahun 2001 tentang
Minyak Dan Gas Bumi
5) KSDA : UU No. 5 tahun 1990 tentang Konversi
Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya
Selain undang-undang diatas juga masih
diharapkan agar setiap personel memiliki pemahaman
terhadap undang-undang pendukung lainnya seperti
UU No. 27 tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah
Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil, UU No. 5 tahun 1983
tentang ZEE Indonesia, UU No. 17 tahun 1985 tentang
Konvensi PBB Hukum Laut, UU No. 6 tahun 1996
tentang Perairan Indonesia dan UNCLOS tahun 1982.
b. Ketrampilan :
1) Setiap personel Ditpolair memiliki bekal
kemampuan seperti taktik dan teknik
pengamanan, taktik dan teknik patroli, taktik dan
teknik penyelidikan, taktik dan teknik
penangkapan, taktik dan teknik penggeledahan,
taktik dan teknik penyitaan, taktik dan teknik
pengamanan barang bukti, taktik dan teknik
pengamanan tersangka.
2) Setiap personel Ditpolair memiliki penguasaan
bahasa asing dan bahasa daerah untuk
mendukung kegiatan operasional lapangan.
3) Setiap personel Ditpolair diharapkan memiliki
kualifikasi kemampuan dalam bidang
Kepelautan dengan spesialisasi kemampuan
Nautika dan Tehnika (technical skill) untuk
mengoperasionalkan kapal dengan ketentuan
46

navigasi laut, prosedur operasi peralatan


permesinan.
c. Perilaku :
Setiap personel Ditpolair dapat menunjukan
sikap proaktif dalam menindaklanjuti adanya informasi
tentang terjadinya gangguan keamanan di wilayah laut
dan proaktif untuk menjalin koordinasi lintas sektoral
dalam menangani kasus-kasus kejahatan di laut.
Selain itu setiap personel Ditpolair juga
diharapkan dapat menampilkan sikap dan perilaku
humanis dan protagonis sehingga mampu
mendapatkan simpati dan dukungan masyarakat untuk
berpartisipasi terhadap pelaksanaan tugas pokok Polri
khususnya fungsi Polair.

C. Kesiapan sarana prasarana Polri dalam mendukung kerjasama


penegakan hukum tindak pidana di laut
Selain pada aspek sumber daya manusia, faktor pendukung
lain yang dapat menentukan keberhasilan dalam upaya
mengoptimalkan kerjasama penegakan hukum tindak pidana di laut,
yaitu terpenuhinya kesiapan dukungan sarana dan prasarana
sehingga diharapkan mampu menunjang pelaksanaan tugas di
lapangan.
Adapun beberapa sapras yang hendaknya menjadi prioritas
untuk segera dilakukan pembenahan antara lain :
1. Penambahan kuantitas dan pengembangan kualitas kapal
patroli Klas A2, A3, B2 dan B3 untuk dilakukan penyebaran di
setiap Polda yang memiliki wilayah perairan.
2. Dilakukannya pembangunan fasilitas pemeliharaan,
perawatan dan perbaikan atau galangan kapal serta
perlengkapan perbengkelan lainnya untuk Polda jajaran.
47

3. Dilakukannya pengembangan dan pembangunan sarana


teknologi informasi dan komunikasi untuk mendukung tugas
operasional Polair dan mendukung sistem komunikasi yang
baik dengan instansi terkait. Dalam hal ini upaya yang dapat
dilakukan yaitu pembangunan pusat pemantau perairan
Indonesia berbasis radar dan satelit serta pemanfaatan
sistem informasi secara online melalui penggunaan alat
monitoring, control dan surveilance di mana salah satunya
adalah dengan menggunakan VMS (Vessel Monitoring
Systems). Secara sederhana sistem ini terdiri dari sistem
basis data yang berbasis pada Sistem Informasi Geografis
(SIG), sehingga operator VMS dapat memantau seluruh
posisi kapal di wilayah perairan tertentu. Dengan demikian
suatu tindak pidana yang terjadi di wilayah perairan dapat
segera diidentifikasi untuk dapat diambil tindakan selanjutnya.
4. Dilakukannya pembangunan dan pengembangan pos polair di
setiap titik rawan kejahatan yang disertai kelengkapan sarana
dan fasilitas yang memadai.
5. Terpenuhinya kebutuhan materiil dan logistik dalam bentuk
peralatan utama maupun khusus untuk menunjang
operasional Polair disertai dengan penyesuaian standar yang
merata pada seluruh satuan kewilayahan.
6. Setiap kesatuan Polair di kewilayahan memiliki markas
komando, dermaga dan asrama, sehingga dapat
meningkatkan kecepatan dalam upaya pengerahan kekuatan
secara insidentil/mendadak dalam menghadapi kondisi
kontijensi.

D. Kesiapan anggaran Polri dalam mendukung kerjasama


penegakan hukum tindak pidana di laut.
Seiring dengan telah ditetapkannya 3 (tiga) pilar yang terkait
dengan manajemen keuangan, yaitu Undang-undang No. 17 tahun
2003 tentang keuangan Negara, UU No. 1 tahun 2004 tentang
48

Perbendaharaan Negara dan UU No. 15 tahun 2004 tentang


Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara,
maka organisasi Polri khususnya di tingkat Polres yang saat ini
memiliki otorisasi dalam pengelolaan dan penggunaan anggaran
secara otonom, harus mampu memperbaiki sistem pengelolaan
anggaran agar dapat dilakukan secara profesional, transparan,
akuntabel dan dapat diukur kinerjanya. Sehingga dengan
terwujudnya manajemen anggaran dan keuangan yang baik,
diharapkan dapat mendukung terselenggaranya kegiatan kepolisian
secara optimal.
Pada aspek anggaran ini, kondisi yang diharapkan berkaitan
dengan upaya kerjasama penegakan hukum tindak pidana di laut
adalah terselenggaranya manajemen pengelolaan anggaran secara
transparan dan akuntabel, sehingga setiap kegiatan memiliki alokasi
anggaran yang memadai dan digunakan secara tepat guna dan
tepat sasaran, khususnya dukungan anggaran seperti sebagai
berikut :
1. Adanya peningkatan dukungan anggaran yang signifikan
sehingga dapat memenuhi kebutuhan riil kegiatan operasi
penegakan hukum tindak pidana di laut.
2. Terpenuhinya kebutuhan anggaran yang dapat mendukung
kegiatan penegakan hukum tindak pidana di laut seperti
anggaran program peningkatan sarana dan prasarana
aparatur Polri dan anggaran pengembangan peralatan Polri
3. Terpenuhinya kebutuhan anggaran Pendidikan dan Latihan
yang dapat mendukung terwujudnya peningkatan kompetensi
personel dalam melaksanakan penegakan hukum tindak
pidana di laut.
4. Terpenuhinya kebutuhan anggaran Program Harkamtibmas
dan angggaran Penyelenggaraan Kepolisian Perairan
sehingga dapat mendukung kegiatan-kegiatan seperti
kegiatan pemberdayaan potensi masyarakat perbatasan,
49

pesisir dan pulau-pulau kecil terluar, kegiatan patroli perairan


maupun anggaran pelaksanaan kerjasama dengan instansi
terkait.
Adapun untuk mengoptimalkan manajemen pengelolaan
anggaran tersebut, maka diharapkan dapat dilakukan langkah-
langkah seperti sebagai berikut :
a. Dalam penyusunan rencana anggaran, setiap unit kerja Polair
dapat memberikan partisipasinya, terutama untuk
memberikan input tentang kebutuhan riil yang diperlukan
seperti anggaran harwat dan anggaran kegiatan operasional
(patroli laut, Gakkum dan Bimmas pantai), sehingga setiap
mata anggaran yang disusun dalam rencana anggaran dapat
mengakomodasi kebutuhan seluruh kegiatan pada Polair di
kewilayahan.
b. Penyusunan rencana anggaran dimanfaatkan sebagai media
untuk meningkatkan efektifitas realisasi anggaran agar sesuai
dengan kebutuhan riil sehingga dalam pelaksanaannya dapat
benar-benar menerapkan prinsip penganggaran berbasis
kinerja.
c. Optimalnya koordinasi antar satker Sat Polair dengan fungsi
perencanaan untuk menyampaikan data-data yang diperlukan
bagi penyusun untuk melakukan perencanaan anggaran.
d. Rencana anggaran dan realisasi anggaran tahun sebelumnya
dapat dijadikan dasar perencanaan dan penganggaran untuk
tahun berikutnya sehingga setiap kegiatan terdukung oleh
anggaran.
e. Dilaksanakannya pengawasan dan pengendalian terhadap
pelaksanaan perencanaan anggaran sehingga tidak
ditemukan lagi kesalahan administrasi dan data-data
perencanaan yang kurang akurat.
f. Pengawasan juga dilakukan oleh pimpinan secara
menyeluruh terhadap setiap proses dari mulai proses
50

penyusunan rencana anggaran, pendistribusian anggaran,


penggunaan anggaran hingga pertanggungjawaban anggaran
yang digunakan.
E. Pelaksanaan kerjasama penegakan hukum tindak pidana di laut.
Berdasarkan Konvensi Hukum Laut PBB (UNCLOS) tahun
1982, karakter laut telah menjadi faktor yang memberikan pengaruh
kuat pada aspek keamanan maritim nasional. Sebagai
konsekuensinya, keamanan laut secara umum menjadi tanggung
jawab dari semua negara untuk menjaganya dari segala bentuk
ancaman kejahatan di laut. Semakin luas wilayah perairan suatu
negara, maka semakin besar pula tugas dan tanggung jawab negara
yang bersangkutan baik secara nasional maupun internasional.
Oleh karena itu, dalam menyelenggarakan kerjasama
penegakan hukum tindak pidana di laut, hendaknya diperhatikan
mengenai berbagai faktor yang mempengaruhi keberhasilan operasi
penegakan hukum tersebut yang diantaranya meliputi :
1. Alat utama yang digunakan harus mampu untuk bertahan
pada karakteristik perairan daerah operasi penegakan hukum.
2. Pola dan sistem strategi operasi penegakan hukum harus
terpadu dan mampu menjangkau seluruh aspek keselamatan
laut.
3. Pelaksanaan operasi penegakan hukum harus diperkuat
dengan data intelijen dan early warning system yang
dihasilkan dari teknologi surveillance canggih
4. Persiapan Personel Operasi yang handal dan tangguh serta
didukung dengan logistik yang cukup untuk melaksanakan
seluruh kegiatan dalam operasi penegakan hukum.
Untuk mewujudkan kondisi sebagaimana diatas, maka
diperlukan langkah-langkah kerjasama yang tercermin dari aspek-
aspek sebagai berikut :
1. Pada aspek komunikasi
51

a. Terselenggaranya komunikasi yang intensif antar


instansi baik secara formal maupun informal untuk
menyamakan persepsi dan komitmen bersama dalam
menghadapi berbagai kompleksitas permasalahan
dalam penegakan hukum tindak pidana di laut. Dalam
hal ini perlunya kesamaan komitmen dalam
membangun mekanisme penegakan hukum tindak
pidana di laut secara terkoordinasi baik di bidang
preemtif, preventif maupun penegakan hukum agar
dapat mendukung komitmen pemerintah dalam
membangun Indonesia sebagai poros maritim dunia
dalam kerangka pembangunan nasional yang
berkesinambungan.
b. Terselenggaranya kegiatan komunikasi yang rutin dan
terprogram sehingga dapat melembaga dalam suatu
hubungan kerjasama yang terpadu. Komunikasi yang
diharapkan yaitu dalam bentuk kegiatan yang dapat
meningkatkan kedekatan seperti Focus Group
Discussion (FGD), Cofee Break, olahraga bersama
dan kegiatan lainnya.
c. Meningkatnya komunikasi terutama dalam hal
diseminasi informasi untuk meningkatkan kecepatan
dalam melakukan tindakan terhadap adanya suatu
pelanggaran hukum di wilayah perairan.
d. Meningkatnya intensitas dan kualitas pelaksanaan
komunikasi dengan kepolisian negara asing baik
regional maupun internasional dalam bentuk sharing
information terkait dengan kerawanan terjadinya
pelanggaran hukum di wilayah perairan yang dapat
mengganggu stabilitas keamanan antar negara.
2. Pada aspek koordinasi
52

a. Optimalnya koordinasi dengan untuk memetakan


permasalahan dalam pelaksanaan kerjasama,
terutama dalam pembagian tugas dan tanggung jawab
guna mengatasi permasalahan kerawanan tumpang-
tindih kewenangan karena adanya peraturan
perundang-undangan yang memberikan kewenangan
kepada berbagai instansi pemerintah untuk
menegakkan hukum di laut.
b. Terwujudnya sinergi antar instansi dalam
pemberantasan tindak pidana diwilayah perairan
Indonesia, dengan penentuan pola operasi dan
penggelaran kekuatan yang dikoordinasikan sehingga
tidak terjadi penumpukan kapal patroli di satu wilayah
sementara di wilayah atau kawasan lainya tidak ada
unsur patroli.
c. Adanya kejelasan tentang pembagian kewenangan,
serta pengaturan mekanisme kerja yang pasti,
sehingga berbagai instansi yang memiliki tugas pokok
di wilayah perairan dapat menjalankan tugas pokoknya
tanpa secara sinergis dengan didukung adanya sistem
dan prosedur yang terpadu.
d. Meningkatnya koordinasi untuk meningkatkan
intensitas dan jangkauan kegiatan patroli sampai
dengan ZEE dalam wadah operasi bersama.
e. Optimalnya koordinasi dalam pelaksanaan patroli
bersama dengan Polisi/coast guard masing-masing
negara tetangga.
f. Optimalnya kerjasama pertukaran informasi melalui
IMB (Internasional Maritime Beaurau) guna
mempercepat penanganan suatu tindak pidana yang
terjadi di laut.
3. Pada aspek kolaborasi
53

a. Dilakukannya pengembangan pola dan metode


kegiatan terpadu seperti melalui Gelar Patroli
Keamanan Laut yang diselenggarakan secara rutin
dan berkesinambungan.
b. Terselenggaranya kesamaan persepsi dalam
menegakan hukum tindak pidana di laut hingga kepada
upaya penyelamatan aset kekayaan negara di laut
yang telah menjadi objek kejahatan melalui penerapan
peraturan perundang-undangan di bidang tindak
pidana pencucian uang.
c. Dalam penanganan kasus terhadap tindak di laut
diharapkan tidak dilakukan secara sektoral / dari satu
institusi saja, melainkan secara komprehensif agar
suatu tindak pelanggaran disidik dengan menggunakan
multi dimensi perundangan.
d. Terselenggaranya kebersamaan dalam menjalin
hubungan kerjasama secara regional maupun
internasional untuk mengoptimalkan penegakan hukum
tindak pidana di laut, terutama dalam hal upaya
penyelamatan aset kekayaan negara melalui
penerapan Mutual Legal Assistance (MLA) dalam
forum kerjasama Interpol dan Aseanapol.

F. Kontribusi optimalnya kerjasama penegakan hukum tindak


pidana di laut terhadap upaya menyelamatkan kekayaan negara
dan terhadap pembangunan nasional
1. Kontribusi terhadap upaya menyelamatkan kekayaan
negara.
a. Penegakan hukum tindak pidana di laut berjalan
dengan efektif, sehingga dapat memberikan efek jera
kepada para pelaku kejahatan di laut.
b. Terselenggaranya pengamanan kekayaan laut dari
berbagai ancaman kejahatan sehingga dapat
54

mendukung terselenggaranya upaya pemerintah dalam


memanfaatkan potensi laut sebagai salah satu sumber
utama pembangunan nasional.
2. Kontribusi terhadap pembangunan nasional.
a. Terselenggaranya pemanfaatan potensi laut sebagai
salah satu sektor utama pembangunan nasional.
b. Terselenggaranya komitmen pemerintah dalam
mewujudkan Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia.
G. Indikator keberhasilan kerjasama penegakan hukum tindak
pidana di laut terhadap upaya menyelamatkan kekayaan negara
dan terhadap pembangunan nasional
1. Terwujudnya sinergitas antara Polri dengan instansi dan
kementerian / lembaga terkait dalam penegakan hukum
tindak pidana di laut, yang tercermin dari penyelenggaraan
komunikasi, koordinasi dan kolaborasi.
2. Terselenggaranya penegakan hukum tindak pidana di laut
khususnya yang meliputi illegal fishing, Illegal Logging, Illegal
Mining, Illegal Oil (Migas), dan kejahatan Konservasi Sumber
Daya Alam KSDA, sehingga dapat memberikan kepastian
hukum yang tercermin dari meningkatnya kecepatan
penyelesaian perkara dan pemberian sanksi pidana secara
maksimal terhadap para pelaku kejahatan.
3. Penegakan hukum tindak pidana di laut dapat disertai dengan
upaya penelusuran dan pengembalian aset hasil tindak
pidana yang dilarikan ke luar negeri sehingga dapat
meminimalisir terjadinya kerugian negara.
4. Terselenggaranya stabilitas keamanan di wilayah perairan
Indonesia sehingga dapat menjamin terselenggaranya
komitmen pemerintah dalam mewujudkan konsep
pembangunan negara Indonesia sebagai poros maritim dunia.
55

BAB VI

STRATEGI OPTIMALISASI KERJASAMA PENEGAKAN HUKUM TINDAK PIDANA


DI LAUT GUNA MENYELAMATKAN KEKAYAAN NEGARA
DALAM RANGKA MENDUKUNG PEMBANGUNAN NASIONAL

A. Analisis IFAS, EFAS dan SFAS

Sebagaimana telah dijelaskan bahwa kualitas seorang


pemimpin ditentukan oleh seberapa baik dan berkualitasnya
keputusan-keputusan yang ia hasilkan. Dan dalam upaya
pengambilan keputusan terdapat banyak teori yang dapat
digunakan, namun menurut analisis terhadap efektivitas berbagai
teori tersebut, terdapat satu teori yang dinilai lebih unggul daripada
teori yang lainnya yaitu analisis SWOT. Analisis SWOT adalah
sebuah teori yang memberikan penilaian terhadap kondisi organisasi
berdasarkan kekuatan (strength), kelemahan (weakness), peluang
(opportunities) dan kendala (threat) yang ada.

Selanjutnya analisa SWOT ini dapat digunakan pada model


EFAS (External Factors Analysis Summary) dan IFAS (Internal
Factors Analysis Summary). Analisa EFAS, IFAS, dan SFAS
merupakan instrument yang sering digunakan untuk menganalisis
suatu strategi yang tepat digunakan oleh suatu organisasi.
Keampuhan tersebut terletak pada kemampuan penentuan strategi
organisasi untuk memaksimalkan peran faktor kekuatan dan
pemanfaatan peluang sehingga dapat dijadikan sebagai alat untuk
meminimalisasi kelemahan yang terdapat dalam tubuh organisasi
dan menekan dampak ancaman yang timbul dan harus dihadapi.

Dengan demkian untuk mengoptimalkan strategi optimalisasi


kerjasama penegakan hukum tindak pidana di laut guna
menyelamatkan kekayaan negara dalam rangka mendukung
pembangunan nasional dapat dianalisis melalui pendekatan Analisis
SWOT atau analisa EFAS, IFAS, dan SFAS sebagai pisau analisa,
sebagai berikut :

55
56

1. IFAS (Internal Factors Analysis Summary)


Tabel 6.1.
IFAS (Internal Factors Analysis Summary)
No. Faktor Strategik Internal Bobot Rating Skor
Kekuatan
1 Telah digelarnya Renstra Polri 2015-2019 sebagai 0.065 6 0.390
penjabaran Nawacita dengan salah satu sasaran
strategis yaitu Tergelarnya Kekuatan Polri Di Wilayah
Perbatasan Dan Pulau Terluar Berpenghuni Serta
Sebagai Poros Maritim Secara Berkelanjutan.
2 Tergelarnya kekuatan satuan Polair di seluruh 0.137 8 1.096
wilayah perairan yang bertugas melaksanakan fungsi
kepolisian perairan, yang meliputi patroli perairan,
penegakan hukum di perairan, pembinaan
masyarakat pantai dan perairan lainnya, serta SAR.
3 Program prioritas Kapolri yang diantaranya yaitu Program 0.057 6 0.342
peningkatan perlindungan terhadap warga negara untuk
peningkatan rasa aman, Program membangun partisipasi
publik dalam pengamanan lingkungan dan Program
mengintensifkan sinergitas polisional dengan
kementerian/lembaga.
4 Adanya kebijakan strategis Polri di bidang 0.160 9 1.440
pembangunan kerjasama dengan berbagai pihak
dalam mendukung kegiatan operasi kepolisian.
5 Tersedianya peraturan dan perundang-undangan yang 0.081 7 0.567
berkaitan dengan pengamanan dan penegakan hukum di
laut
Jumlah 0.50 3.835
Kelemahan
1 Belum optimalnya pedoman atau mekanisme yang dapat 0.056 5 0.280
mendukung kerjasama yang sinergis antara Polri dengan
instansi terkait dalam penegakan hukum tindak pidana di
laut, baik dalam bentuk SOP maupun HTCK dalam
lingkup HTCK vertikal, HTCK horizontal dan HTCK lintas
sektoral.
2 Masih terbatasnya jumlah dan kualitas anggota Polri 0.123 2 0.246
yang ditugaskan di Dit Polair maupun di wilayah
perbatasan atau pulau terluar Indonesia yang rawan
terjadi kejahatan di laut.
3 Belum optimalnya pemberdayaan pos-pos polisi perairan 0.071 4 0.284
di berbagai lokasi yang strategis terutama di pulau-pulau
terluar yang berbatasan langsung dengan negara lain.
4 Masih terbatasnya dukungan anggaran dan sarana 0.145 1 0.145
prasarana pendukung kegiatan anggota Polri dalam
menanggulangi kejahatan di laut.
5 Kegiatan kepolisian di perairan yang dilakukan masih 0.105 3 0.315
sebatas rutinitas tanpa mengkaji dan menganalisis
terhadap permasalah-permasalahan yang timbul
terutama dikaitkan dengan hakekat ancaman.
Jumlah 0.50 1.270
Total 5.105
57

2. EFAS (External Factors Analysis Summary)


Tabel 6.2.
EFAS (External Factors Analysis Summary)
No. Faktor Strategik Eksternal Bobot Rating Skor
Peluang
1 Visi dan misi Presiden Joko Widodo yaitu : 0.053 6 0.318
mewujudkan keamanan nasional yang mampu
menjaga kedaulatan wilayah, menopang
kemandirian ekonomi dengan mengamankkan
sumber daya maritim, yang mencerminkan
kepribadian Indonesia sebagai negara
kepulauan.
2 Adanya berbagai instansi terkait yang 0.130 8 1.040
memiliki kewenangan dan tanggung jawab di
bidang penegakan hukum tindak pidana di
laut.
3 Adanya potensi masyarakat yang dapat 0.063 6 0.378
diberdayakan sebagai pengawas kegiatan di
wilayah pesisir pantai / kelautan.
4 Sistem informasi dan teknologi yang semakin 0.103 7 0.721
meningkat dan canggih dapat dimanfaatkan
dalam penggunaan sarana prasarana kepolisian
guna mendukung efektifitas pengamanan di
wilayah laut.
5 Adanya kerjasama antara Polri dengan 0.151 9 1.359
Kepolisian Negara tetangga dalam upaya
penegakan hukum tindak pidana di laut.
Jumlah 0.50 3.816
Kendala
1 Masih adanya ego sektoral dalam upaya 0.147 1 0.147
penegakan hukum tindak pidana di laut.
2 Masih adanya tumpang tindih kewenangan 0.146 2 0.292
antar aparat penegak hukum kelautan yang
berdampak pada lemahnya upaya penegakan
hukum tindak pidana di laut.
3 Luasnya wilayah laut yang menjadi yurisdiksi 0.052 5 0.260
Indonesia sedangkan kemampuan Polri dan
instansi terkait masih terbatas dibandingkan
kebutuhan untuk mengawasi daerah rawan
kejahatan di laut
4 Adanya perjanjian Batas-Batas Dasar Laut 0.065 4 0.260
Tertentu dan Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE)
yang belum mencapai kesepakatan / belum
diratifikasi mengakibatkan keragu-raguan bagi
anggota Polri dan instansi terkait untuk
melakukan penegakan hukum tindak pidana di
laut.
5 Masih rendahnya kesadaran masyarakat untuk 0.090 3 0.270
berpartisipasi menjaga keamanan di wilayah
perairan dari ancaman kejahatan di laut.
Jumlah 0.50 1.229
Total 5.045
58

3. Posisi Organisasi Polri

5.105

5.045

Matriks diatas menunjukkan bahwa posisi organisasi


Polri berada pada sel 5a : Growth, “Konsentrasi melalui
Integrasi Horisontal”. Strategi ini menekankan pada
penambahan atau perluasan produk, pasar, dan fungsi‐fungsi
institusi lainnya, sehingga aktivitasnya meningkat dan
organisasi dapat meraih benefit yang lebih besar. Oleh
karena itu, terkait dengan strategi optimalisasi kerjasama
penegakan hukum tindak pidana di laut guna menyelamatkan
kekayaan negara dalam rangka mendukung pembangunan
nasional, maka perlu didukung dengan :
a. Mengoptimalkan kesiapan sumber daya manusia Polri
dalam mendukung kerjasama penegakan hukum
tindak pidana di laut.
b. Mengoptimalkan kesiapan anggaran Polri dalam
mendukung kerjasama penegakan hukum tindak
pidana di laut.
59

c. Mengoptimalkan kesiapan sarana prasarana Polri


dalam mendukung kerjasama penegakan hukum
tindak pidana di laut.
d. Mengoptimalkan pelaksanaan kerjasama penegakan
hukum tindak pidana di laut.
4. SFAS (Strategic Factors Analysis Summary)
Tabel 6.3. SFAS
Jangka
Faktor Pering- Waktu
Bobot Skor
No Strategik Kunci kat
Kadek Kadang Kajang
1. Tergelarnya kekuatan satuan 0.120 8 0.960
Polair di seluruh wilayah perairan
yang bertugas melaksanakan
fungsi kepolisian perairan
2. Adanya kebijakan strategis Polri di 0.092 9 0.828
bidang pembangunan kerjasama
dengan berbagai pihak dalam
mendukung kegiatan operasi
kepolisian
3. Masih terbatasnya jumlah dan 0.052 2 0.104
kualitas anggota Polri yang
ditugaskan di Dit Polair maupun di
wilayah perbatasan atau pulau
terluar Indonesia yang rawan
terjadi kejahatan di laut.
4. Masih terbatasnya dukungan 0.053 1 0.053
anggaran dan sarana prasarana
pendukung kegiatan anggota Polri
dalam menanggulangi kejahatan di
laut.
5. Adanya berbagai instansi terkait 0.079 8 0.632
yang memiliki kewenangan dan
tanggung jawab di bidang
penegakan hukum tindak pidana di
laut
6. Adanya kerjasama antara Polri 0.177 9 1.593
dengan Kepolisian Negara
tetangga dalam upaya penegakan
hukum tindak pidana di laut
7. Masih adanya ego sektoral dalam 0.198 1 0.198
upaya penegakan hukum tindak
pidana di laut
8. Masih adanya tumpang tindih 0.229 2 0.458
kewenangan antar aparat penegak
hukum kelautan yang berdampak
pada lemahnya upaya penegakan
hukum tindak pidana di laut.
Total Skor 100
60

Didalam menentukan pentahapan strategi adalah dari


skor bobot yang tertinggi (1.593) dikurangi dengan skor bobot
terendah (0.053) kemudian hasil selisih tersebut di bagi 3
(1.540 : 3 = 0.513). Sehingga pentahapan strateginya dapat
ditentukan sebagai berikut :

a. Jangka pendek : 0.053 + 0.513 = 0.566 (0.053 sampai


dengan 0.566)

b. Jangka panjang : 1.593 - 0.513 = 1.080 (untuk skor


yang berada di atas 1.080)

c. Sisanya adalah jangka sedang : dari 0.566 sampai


dengan 1.080

Berdasarkan kondisi faktual, faktor-faktor yang


mempengaruhi, serta kondisi ideal yang diharapkan, maka pada bab
ini akan dirumuskan konsepsi pemecahan masalah guna menjawab
persoalan-persoalan yang telah dibahas. Adapun konsepsi
pemecahan masalah dilakukan melalui langkah-langkah translation
process dengan mengimplementasikan proses manajemen strategi
mulai dari penentuan visi, misi, tujuan, sasaran, kebijakan, strategi
dan action plan.

B. Visi.

Visi adalah cara pandang jauh ke depan, yaitu kemana


instansi pemerintah harus dibawa agar dapat eksis, antisipatif dan
inovatif. Visi adalah suatu gambaran menantang tentang keadaan
masa depan yang diinginkan dan dihadapkan pada perkembangan
lingkungan strategis.

Rumusan visi pada setiap tingkat organisasi pada umumnya


mengacu kepada visi organisasi yang lebih besar dan dikaitan
dengan masyarakat yang dilayani serta permasalahan yang ditulis.
Oleh karena itu, berdasarkan permasalahan yang menjadi pokok
bahasan dalam naskah ini, maka visi yang dirumuskan adalah :
61

“Terdukungnya pembangunan nasional dengan


menyelamatkan kekayaan negara melalui strategi optimalisasi
kerjasama penegakan hukum tindak pidana di laut.”

C. Misi.

Misi adalah hal-hal yang harus dilaksanakan oleh organisasi


agar visi dapat terwujud dan berhasil dengan baik. Dengan kata lain,
misi merupakan penjabaran dari visi dan berupaya untuk
mewujudkan visi organisasi. Oleh karena itu maka untuk
mewujudkan visi sebagaimana dimaksud diatas, maka dirumuskan
misi sebagaimana berikut :

1. Mengoptimalkan kesiapan sumber daya manusia Polri dalam


mendukung kerjasama penegakan hukum tindak pidana di
laut.

2. Mengoptimalkan kesiapan anggaran Polri dalam mendukung


kerjasama penegakan hukum tindak pidana di laut.

3. Mengoptimalkan kesiapan sarana prasarana Polri dalam


mendukung kerjasama penegakan hukum tindak pidana di
laut.

4. Mengoptimalkan pelaksanaan kerjasama penegakan hukum


tindak pidana di laut.

D. Tujuan

Tujuan merupakan penjabaran / implementasi dari


pernyataan misi. Tujuan adalah sesuatu (apa) yang akan dicapai
atau dihasilkan pada jangka waktu tertentu. Mengacu pada visi dan
misi diatas maka yang menjadi tujuannya adalah :

1. Terwujudnya kesiapan sumber daya manusia Polri dalam


mendukung kerjasama penegakan hukum tindak pidana di
laut.
62

2. Terwujudnya kesiapan anggaran Polri dalam mendukung


kerjasama penegakan hukum tindak pidana di laut.

3. Terwujudnya kesiapan sarana prasarana Polri dalam


mendukung kerjasama penegakan hukum tindak pidana di
laut.

4. Terselenggaranya kerjasama penegakan hukum tindak


pidana di laut.

E. Sasaran

Sasaran yaitu sesuatu yang akan dicapai / dihasilkan dalam


jangka waktu tertentu. Sasaran merupakan penjabaran dari strategi
yang telah ditetapkan. Adapun sasaran-sasaran yang ingin dicapai
dalam strategi optimalisasi kerjasama penegakan hukum tindak
pidana di laut guna menyelamatkan kekayaan negara dalam rangka
mendukung pembangunan nasional yaitu :

1. Pada jangka pendek, sasaran yang ingin dicapai yaitu :


optimalnya pembinaan dan pembangunan kekuatan SDM Dit
Polair Polri, optimalnya kesiapan dukungan anggaran dan
sarana prasarana dan meningkatnya hubungan komunikasi,
koordinasi dan kolaborasi dengan instansi dan kementerian /
lembaga terkait yang memiliki kewenangan dan tanggung
jawab di bidang penegakan hukum tindak pidana di laut.

2. Pada jangka sedang, sasaran yang ingin dicapai yaitu :


optimalnya penggelaran kekuatan satuan Polair di seluruh
wilayah perairan, optimalnya penerapan mekanisme
kerjasama penegakan hukum tindak pidana di laut,
optimalnya kerjasama di bidang pembangunan kapasitas
kelembagaan dalam penegakan hukum tindak pidana di laut
dan optimalnya kerjasama pelaksanaan kegiatan operasi
penegakan hukum tindak pidana di laut.
63

3. Pada jangka panjang, sasaran yang ingin dicapai yaitu :


optimalnya kerjasama antara Polri dengan Kepolisian Negara
tetangga dalam upaya penegakan hukum tindak pidana di
laut.

F. Kebijakan

Pada hakikatnya kebijakan merupakan suatu keputusan


strategis yang berisi rumusan umum untuk mengarahkan semua
langkah yang perlu dilaksanakan dalam rangka mencapai tujuan dan
sasaran yang telah ditetapkan. Kebijakan merupakan suatu
penggarisan ketentuan, bersifat sebagai pedoman, pegangan atau
bimbingan untuk mencapai kesepahaman dalam maksud, cara dan
atau sarana, sehingga terjadi dinamisasi gerak tindak yang terpadu,
sehaluan dan seirama dalam mencapai tujuan tertentu secara
bersama-sama. Disamping itu, suatu kebijakan harus mengandung
ciri-ciri utama, yaitu harus masuk akal/tergapai bukan sekedar
angan-angan, dapat dilaksanakan secara nyata dan dinyatakan
secara tertulis dengan bahasa yang mudah dimengerti, sehingga
mudah dijabarkan menjadi beberapa strategi.

Berkaitan dengan penjelasan tersebut, maka kebijakan yang


diambil untuk mendukung strategi optimalisasi kerjasama
penegakan hukum tindak pidana di laut guna menyelamatkan
kekayaan negara dalam rangka mendukung pembangunan nasional
adalah :

1. Menjabarkan Renstra Polri 2015-2019 khususnya pada


sasaran strategis yaitu Tergelarnya Kekuatan Polri Di Wilayah
Perbatasan Dan Pulau Terluar Berpenghuni Serta Sebagai
Poros Maritim Secara Berkelanjutan melalui pembinaan dan
pembangunan kekuatan satuan Polair di seluruh wilayah
perairan.

2. Menjabarkan program prioritas Kapolri yang berhubungan


dengan upaya peningkatan kerjasama dengan instansi terkait
64

dan kementerian/lembaga dalam upaya penegakan hukum


tindak pidana di laut.

3. Menjabarkan komitmen pemerintah untuk mewujudkan


Indonesia sebagai poros maritim dunia melalui upaya untuk
keamanan nasional yang mampu menjaga kedaulatan
wilayah, menopang kemandirian ekonomi dengan
mengamankkan sumber daya maritim, yang mencerminkan
kepribadian Indonesia sebagai negara kepulauan.

G. Strategi

Strategi merupakan langkah atau cara menggunakan daya,


dana, sarana dan prasarana (kekuatan) dalam menyukseskan
kebijakan yang telah ditetapkan sebelumnya dengan pengaturan
skala prioritas, pada setiap sasaran yang ingin dicapai dan
dijabarkan menjadi beberapa upaya. Untuk mengetahui pilihan
strategi yang akan diambil dalam strategi optimalisasi kerjasama
penegakan hukum tindak pidana di laut guna menyelamatkan
kekayaan negara dalam rangka mendukung pembangunan nasional,
maka sebagaimana hasil analisis IFAS, EFAS dan SFAS rumusan
strategi dimaksud adalah sebagai berikut :

1. Strategi Jangka Pendek ( 1 tahun )

a. Mengoptimalkan pembinaan dan pembangunan


kekuatan SDM Dit Polair Polri untuk mendukung
kerjasama penegakan hukum tindak pidana di laut.

b. Mengoptimalkan kesiapan dukungan anggaran dan


sarana prasarana untuk mendukung kerjasama
penegakan hukum tindak pidana di laut.

c. Meningkatkan hubungan komunikasi, koordinasi dan


kolaborasi dengan instansi dan kementerian / lembaga
terkait yang memiliki kewenangan dan tanggung jawab
di bidang penegakan hukum tindak pidana di laut
65

d. Mengoptimalkan kerjasama pelaksanaan kegiatan


operasi penegakan hukum tindak pidana di laut.

2. Strategi Jangka Sedang ( 3 tahun )

a. Mengoptimalkan penggelaran kekuatan satuan Polair


di seluruh wilayah perairan untuk melaksanakan tugas
patroli perairan, penegakan hukum di perairan,
pembinaan masyarakat pantai dan perairan lainnya.

b. Mengoptimalkan penerapan mekanisme kerjasama


penegakan hukum tindak pidana di laut.

c. Mengoptimalkan kerjasama di bidang pembangunan


kapasitas kelembagaan dalam kerjasama penegakan
hukum tindak pidana di laut.

3. Strategi Jangka Panjang ( 5 tahun )

Mengoptimalkan kerjasama antara Polri dengan


Kepolisian Negara tetangga dalam upaya penegakan hukum
tindak pidana di laut.

H. Implementasi Strategi

1. Strategi Jangka Pendek ( 1 tahun )

a. Mengoptimalkan pembinaan dan pembangunan


kekuatan SDM Dit Polair Polri untuk mendukung
kerjasama penegakan hukum tindak pidana di laut.

1) Dirpolair Baharkam Polri mengarahkan kepada


Dir Polair Polda untuk melakukan penempatan
personel Polair secara selektif prioritas
berdasarkan pemetaan kerawanan wilayah
perairan sehingga dapat meningkatkan
efektifitas sebaran personel yang ditugaskan di
perairan.
66

2) Dirpolair Baharkam Polri mengarahkan kepada


Dir Polair Polda untuk melakukan penyesuaian
kepangkatan pada setiap struktur Polair
sehingga setiap jabatan strategis dapat diemban
oleh personel yang sesuai dengan kepangkatan
dan kompetensinya melalui uji kompetensi atau
assessment.

3) Dirpolair Baharkam Polri mengarahkan kepada


Dir Polair Polda untuk mengikutsertakan para
personel Polair kepada pendidikan kejuruan
secara berjenjang dan bertahap sehingga
seluruh personel memiliki kualifikasi pendidikan
kejuruan terutama di bidang-bidang berikut :

a) Bidang Kepelautan dengan spesialisai


kemampuan Nautika dan Tehnika :

(1) Mampu mengoprerasionalkan


kapal dengan ketentuan navigasi
laut, prosedur operasi peralatan
permesinan, komlek,persenjataan
dan peralatan keselamatan kapal.

(2) Mampu melakukan administrasi


penggunaan spare part kapal
sesuai jam operasinya.

(3) Memahami dan menguasai


petunjuk / manual book peralatan
kapal baik untuk navigasi maupun
permesinan / teknika.

(4) Memiliki Kompetensi Pendidikan


Kejuruan Spesialisasi kepelautan
Polair :
67

(a) Menguasai Teknik olah


gerak kapal dan
peralatannya sesuai
dengan Spesialisasi
kejuruan nautika atau
teknika.

(b) Menguasai Peraturan


keselamatan kapal dan
peralatannya sesuai azas
kelaikan kapal dan regulasi
internasional.

(c) Mampu menganalisa


persoalan yang dihadapi

b) Bidang penegakan hukum di perairan :

(1) Kompetensi Pendidikan Kejuruan


Dasar :

(a) Mampu
mengoprerasionalkan Kapal
untuk Patroli, pengejaran,
penghentian, pemeriksaan,
pengawalan dan mendekati
kapal sasaran.

(b) Mampu melakukan


penyelidikan tanpa
menggunakan kapal
(Pengamatan,
pembuntutan, identifikasi,
olah TKP, Interogasi/Teknik
dan taktik Pemeriksaan);
68

(c) Mampu melakukan


Penyidikan (mampu
melakukan teknik dan taktik
penangkapan, penahanan,
penggeledahan, penyitaan,
pemeriksaan dan
pemberkasan);

(d) Memahami dan menguasai


Administrasi Penyidikan;

(e) Memahami dan menguasai


Perundang-undangan dan
aturan secara internal di
lingkungan Polri.

(2) Kompetensi Pendidikan Kejuruan


Spesialisasi :

(a) Menguasai Teknik dan


Taktik Penyelidikan dan
Penyidikan Tindak Pidana
sesuai dengan Spesialisasi
kejuruan;

(b) Menguasai Perundang-


undangan yang bersifat
khusus sesuai dengan
spesialisasi kejuruan;

(c) Mampu menganalisa


persoalan yang dihadapi;

(d) Pendidikan pengembangan


spesialisasi meliputi :
69

- Kejuruan Penanganan
Kejahatan Money
Laundring;

- Kejuruan penanganan
Kejahatan Illegal Mining;

- Kejuruan Penanganan
Kejahatan Illegal
Logging;

- Kejuruan Penanganan
Kejahatan Illegal
Fishing;

- Kejuruan Penanganan
Kejahatan Lingkungan
Hidup;

- Kejuruan Operasional
Teknologi Informasi;

- Kejuruan Penanganan
Kejahatan bidang Migas;

- Kejuruan Laboratorium
Forensik;

- Kejuruan Identifikasi.

4) Dirpolair Baharkam Polri mengarahkan kepada


Dir Polair Polda untuk meningkatkan intensitas
pelatihan rutin kepada anggota yang ditugaskan
pada Direktorat Polair Polda atau di wilayah
perbatasan dan pulau terluar Indonesia, dengan
menekankan pada peningkatan kemampuan
seperti taktik dan teknik pengamanan, taktik dan
teknik patroli, taktik dan teknik penyelidikan,
70

taktik dan teknik penangkapan, taktik dan teknik


penggeledahan, taktik dan teknik penyitaan,
taktik dan teknik pengamanan barang bukti,
taktik dan teknik pengamanan tersangka,
penguasaan bahasa asing dan bahasa daerah,
kemampuan menggunakan peralatan
pendukung seperti Global Positioning System
(GPS), membaca peta, menggunakan alat
komunikasi dan menggunakan senjata api.

5) Dirpolair Baharkam Polri mengarahkan kepada


Dir Polair Polda untuk melaksanakan kegiatan
pembinaan disiplin dan mental secara rutin,
minimal 1 kali sebulan untuk memelihara
integritas personel dalam melaksanakan tugas
pokoknya.

6) Dirpolair Baharkam Polri mengarahkan kepada


Dir Polair Polda untuk menegakan pembinaan
disiplin secara tegas dan objektif terhadap
terjadinya pelanggaran disiplin oleh anggota

b. Mengoptimalkan kesiapan dukungan anggaran dan


sarana prasarana untuk mendukung kerjasama
penegakan hukum tindak pidana di laut.

1) Anggaran

a) Dirpolair Baharkam Polri mengarahkan


kepada Dir Polair Polda untuk
mengoptimalkan koordinasi dengan
fungsi perencanaan dalam menginput
kebutuhan anggaran setiap unit kerja
Polair untuk dimasukan kedalam
penyusunan rencana kerja anggaran.
71

b) Dirpolair Baharkam Polri mengarahkan


kepada Dir Polair Polda untuk
berkoordinasi dengan fungsi
perencanaan guna memprioritaskan
pendataan tentang kebutuhan anggaran
yang dialokasikan untuk kegiatan
operasional Polair terutama :

(1) Anggaran kegiatan pemberdayaan


potensi masyarakat perbatasan,
pesisir dan pulau-pulau kecil
terluar.

(2) Anggaran patroli perairan.

(3) Anggaran pemeliharaan dan


perawatan kapal

(4) Anggaran pelaksanaan kerjasama


dengan instansi terkait.

c) Dirpolair Baharkam Polri mengarahkan


kepada Dir Polair Polda untuk
melaksanakan pengawasan berjenjang
dalam pengelolaan, pendistribusian
hingga penggunaan anggaran guna
meningkatkan efektifitas penyerapan
anggaran secara transparan dan
akuntabel.

2) Sarana prasarana

a) Dirpolair Baharkam Polri mengarahkan


kepada Dir Polair Polda untuk melakukan
inventarisasi kebutuhan sarana
prasarana Polair untuk dilakukan
perencanaan / pengusulan pengadaan
72

khususnya sarana transportasi air (kapal


tipe A, tipe B dan tipe C, speed boat atau
sejenisnya).

b) Dirpolair Baharkam Polri mengarahkan


kepada Dir Polair Polda untuk
berkoordinasi dengan Karo Sarpras guna
melengkapi Kapal – kapal Polisi dengan
telepone satelit untuk mempermudah
dalam melaksanakan koordinasi dalam
rangka tukar menukar informasi dan
pelaksanaan patroli.

c) Dirpolair Baharkam Polri mengarahkan


kepada Dir Polair Polda untuk mendirikan
pos-pos Polair di setiap titik rawan
kejahatan di wilayah perairan.

d) Dirpolair Baharkam Polri mengarahkan


kepada Dir Polair Polda untuk
mengoptimalkan penyediaan dan
pengalokasian BBM untuk mendukung
operasional kapal dan ranmor Polair
dalam melaksanakan tugas

e) Dirpolair Baharkam Polri mengarahkan


kepada Dir Polair Polda untuk
berkoordinasi dengan Karo Sarpras guna
pengembangan alut/alsus khususnya
seperti radar, komlek, sistem komunikasi
satelit untuk mendukung mobilitas
anggota yang ditugaskan pada Direktorat
Polair Polda atau di wilayah perbatasan
dan pulau terluar Indonesia yang rawan
kejahatan.
73

c. Meningkatkan hubungan komunikasi, koordinasi dan


kolaborasi dengan instansi dan kementerian / lembaga
terkait yang memiliki kewenangan dan tanggung jawab
di bidang penegakan hukum tindak pidana di laut

1) Aspek komunikasi :

a) Dirpolair Baharkam Polri mengarahkan


kepada Dir Polair Polda untuk
meningkatkan intensitas kegiatan
komunikasi yang rutin dan terprogram
sehingga dapat melembaga dalam suatu
hubungan kerjasama yang terpadu
seperti melalui kegiatan Focus Group
Discussion (FGD), Cofee Break, dan
kegiatan lainnya.

b) Dirpolair Baharkam Polri mengarahkan


kepada Dir Polair Polda untuk
meningkatkan komunikasi terutama
dalam hal diseminasi informasi untuk
meningkatkan kecepatan dalam
melakukan tindakan terhadap adanya
suatu pelanggaran hukum di wilayah
perairan.

c) Dirpolair Baharkam Polri berkoordinasi


dengan Divhubinter untuk meningkatkan
intensitas dan kualitas pelaksanaan
komunikasi dengan kepolisian negara
asing baik regional maupun internasional
dalam bentuk sharing information terkait
dengan kerawanan terjadinya
pelanggaran hukum di wilayah perairan
74

yang dapat mengganggu stabilitas


keamanan antar negara

2) Aspek koordinasi :

a. Dirpolair Baharkam Polri mengarahkan


kepada Dir Polair Polda untuk
melaksanakan rapat kerja rutin dan
terkoordinasi dengan instansi terkait
minimal 3 bulan sekali dengan agenda
pembahasan tentang pembagian sektor
kewenangan masing-masing instansi
dalam penegakan hukum tindak pidana di
laut.

b. Dirpolair Baharkam Polri mengarahkan


kepada Dir Polair Polda untuk
mengoptimalkan koordinasi dalam
penentuan pola operasi dan penggelaran
kekuatan yang dikoordinasikan sehingga
tidak terjadi penumpukan kapal patroli di
satu wilayah sementara di wilayah atau
kawasan lainya tidak ada unsur patroli.

c. Dirpolair Baharkam Polri mengarahkan


kepada Dir Polair Polda untuk koordinasi
untuk meningkatkan intensitas dan
jangkauan kegiatan patroli sampai
dengan ZEE dalam wadah operasi
bersama.

d. Dirpolair Baharkam Polri mengarahkan


kepada Dir Polair Polda untuk koordinasi
dalam pelaksanaan patroli bersama
dengan Polisi/coast guard masing-
masing negara tetangga.
75

e. Dirpolair Baharkam Polri berkoordinasi


dengan Divhubinter untuk melaksanakan
kerjasama pertukaran informasi melalui
IMB (Internasional Maritime Beaurau)
guna mempercepat penanganan suatu
tindak pidana yang terjadi di laut.

3) Pada aspek kolaborasi

a) Dirpolair Baharkam Polri mengarahkan


kepada Dir Polair Polda untuk
pengembangan pola dan metode
kegiatan terpadu seperti melalui Gelar
Patroli Keamanan Laut yang
diselenggarakan secara rutin dan
berkesinambungan.

b) Dirpolair Baharkam Polri mengarahkan


kepada Dir Polair Polda untuk melakukan
pembuatan komitmen bersama / Nota
Kesepahaman untuk mengedepankan
upaya penyelamatan aset kekayaan
negara di laut yang telah menjadi objek
kejahatan melalui penerapan peraturan
perundang-undangan di bidang tindak
pidana pencucian uang.

c) Dirpolair Baharkam Polri berkoordinasi


dengan instansi terkait dan Kementerian /
Lembaga untuk bekerjasama dengan
kepolisian negara asing dalam rangka
penerapan Mutual Legal Assistance
(MLA) dalam penegakan hukum tindak
pidana di laut.
76

d. Mengoptimalkan kerjasama pelaksanaan kegiatan


operasi penegakan hukum tindak pidana di laut.

1) Dirpolair Baharkam Polri mengarahkan kepada


Dir Polair Polda untuk mengoptimalkan
kerjasama dengan dalam kegiatan operasi atau
patroli terpadu di wilayah kelautan yang rawan
terjadi pelanggaran hukum

2) Dirpolair Baharkam Polri mengarahkan kepada


Dir Polair Polda untuk melakukan upaya
penertiban dengan instansi terkait melalui
pemeriksaan secara rutin di pelabuhan-
pelabuhan terhadap kapal-kapal penangkap
ikan serta pemantauan berkala, hal ini akan
membantu dalam meningkatkan ketertiban dan
keamanan pemanfaatan sumber daya perikanan

3) Dirpolair Baharkam Polri mengarahkan kepada


Dir Polair Polda untuk mengoptimalkan
kerjasama dengan unsur CJS untuk
memaksimalkan proses penegakan hukum
terhadap pelaku agar dapat mengungkap aktor
utama pelanggaran hukum dilaut, baik itu
korporasi, jaringan atau sindikat internasional
maupun para oknum pejabat serta penegak
hukum yang terlibat.

2. Strategi Jangka Sedang ( 3 tahun )

a. Mengoptimalkan penggelaran kekuatan satuan Polair


di seluruh wilayah perairan untuk melaksanakan tugas
patroli perairan, penegakan hukum di perairan,
pembinaan masyarakat pantai dan perairan lainnya.
77

1) Dirpolair Baharkam Polri mengarahkan kepada


Dir Polair Polda untuk melakukan pembentukan
jaringan Intel Maritim yang menguasai data dan
informasi-informasi Maritim dengan cepat dan
akurat yang diselenggarakan melalui langkah
berikut :

a) Melaksanakan rekrutmen jaringan


dengan memperhatikan faktor-faktor
penting seperti diri pribadi calon agen,
mulai dari psikologi atau kejiwaan,
keadaan fisik, kesehatan badan,
wawasan pengetahuan, keterampilan
atau keahlian yang dimiliki, dan faktor
penting lainnya.

b) Melaksanakan pembinaan jaringan Intel


Maritim secara simultan, melalui
pemberian pelatihan kemampuan intelijen
terbatas kepada setiap jaringan untuk
meningkatkan kemampuan dalam
mencari data dan informasi bahan
keterangan.

c) Mengarahkan para pengguna atau user


jaringan untuk membuat laporan,
pertemuan dan pengawasan secara
langsung terhadap jaringan Intel Maritim.

d) Melakukan pembinaan dan pengendalian


secara optimal terhadap pelaksanaan
kinerja jaringan Intel Maritim dalam
pelaksanaan deteksi dan pulbaket
sehingga dalam pengumpulan informasi
dapat dilakukan dengan cepat, tepat,
78

akurat dan selanjutnya dapat disajikan


kepada pimpinan.

2) Dirpolair Baharkam Polri mengarahkan kepada


Dir Polair Polda untuk mengupayakan
pembangunan Posko Pengendalian Kegiatan
Sat Polair baik secara stationer maupun secara
mobile sebagai media pengawasan dan
pelaporan pelaksanaan tugas rutin sekaligus
sebagai perangkat pembantu pengendali pola
penegakan hukum tindak pidana yang
dilengkapi dengan dengan peta wilayah, data-
data ploting personel, dan data panel lainnya
serta peralatan komunikasi pendukung.

3) Dirpolair Baharkam Polri mengarahkan kepada


Dir Polair Polda untuk membuat sistem
pelaporan / pengaduan masyarakat terkait
dengan adanya kegiatan ilegal dalam usaha
pencarian ikan yang dapat direspon secara
cepat oleh Satuan Polair, seperti dengan
memberikan nomor telpon hotline atau dengan
memberikan contact person petugas Sat Polair.

b. Mengoptimalkan penerapan mekanisme kerjasama


penegakan hukum tindak pidana di laut.

1) Dirpolair Baharkam Polri berkoordinasi dengan


instansi terkait untuk melakukan pembuatan
MoU atau merevitalisasi MoU yang sudah ada
antara Polri dengan instansi terkait disesuaikan
dengan hakekat perkembangan situasi yang
terjadi.

2) Dirpolair Baharkam Polri mengarahkan kepada


Dir Polair Polda untuk membuat SOP dan HTCK
79

sebagai standar pedoman pelaksanaan


kerjasama bagi satuan unsur pelaksana tugas di
lapangan.

3) Dirpolair Baharkam Polri mengarahkan kepada


Dir Polair Polda untuk melaksanakan koordinasi
untuk menginventarisir dan mendiskusikan
berbagai ketentuan perundang-undangan yang
berpotensi menimbulkan tumpang tindih
kewenangan dan menghambat terwujudnya
kelancaran penegakan hukum tindak pidana di
laut.

c. Mengoptimalkan kerjasama di bidang pembangunan


kapasitas kelembagaan dalam penegakan hukum
tindak pidana di laut.

1) Dirpolair Baharkam Polri mengarahkan kepada


Dir Polair Polda untuk menyelenggarakan
kerjasama di bidang edukasi SDM seperti
melalui pelatihan bersama, seminar, coaching
clinic dan sebagainya.

2) Dirpolair Baharkam Polri mengarahkan kepada


Dir Polair Polda untuk mengoptimalkan
kerjasama dengan instansi terkait untuk
mengintegrasikan sistem informasi, termasuk
dalam penggunaan Vessel Monitoring System
(VMS) untuk memantau dan mengawasi
kegiatan di perairan berbasis satelit, memonitor
posisi kapal, kecepatan kapal, jalur lintasan
kapal, waktu terjadinya pelanggaran serta untuk
berbagai macam kepentingan lainnya.

3) Dirpolair Baharkam Polri mengarahkan kepada


Dir Polair Polda untuk menyelenggarakan rapat-
80

rapat koordinasi guna membahas masalah yang


sedang berkembang serta permasalahan yang
dihadapi khususnya yang berkaitan dengan
penegakan hukum tindak pidana di laut.

3. Strategi Jangka Panjang ( 5 tahun )

Mengoptimalkan kerjasama antara Polri dengan


Kepolisian Negara tetangga dalam upaya penegakan hukum
tindak pidana di laut.

a. Dirpolair Baharkam Polri berkoordinasi dengan


Divhubinter untuk melakukan kerjasama di bidang
penyelamatan aset kekayaan negara di laut yang telah
menjadi objek kejahatan melalui penerapan peraturan
perundang-undangan di bidang tindak pidana
pencucian uang.

b. Dirpolair Baharkam Polri berkoordinasi dengan


Divhubinter untuk melakukan kerjasama dengan
kepolisian negara asing regional maupun internasional
untuk mengoptimalkan penegakan hukum tindak
pidana di laut, terutama dalam hal upaya
penyelamatan aset kekayaan negara melalui
penerapan Mutual Legal Assistance (MLA) baik melalui
forum kerjasama Interpol maupun Aseanapol.

c. Dirpolair Baharkam Polri berkoordinasi dengan


Divhubinter untuk melakukan melaksanakan koordinasi
dengan kepolisian negara asing untuk bekerjasama
dalam melakukan joint investigation terhadap
kejahatan di laut yang melintasi yurisdiksi antar
negara.

d. Dirpolair Baharkam Polri berkoordinasi dengan


Divhubinter untuk melakukan melaksanakan koordinasi
81

dengan kepolisian negara asing untuk membangun


sistem pertukaran informasi yang memuat ringkasan
trend dan modus operandi kejahatan di laut.

e. Dirpolair Baharkam Polri berkoordinasi dengan


Divhubinter untuk melakukan melaksanakan patroli
dan/atau operasi gabungan secara rutin dengan
melibatkan instansi lain baik dalam negeri maupun
pihak kepolisian asing / negara tetangga secara rutin
dan dilakukan sepanjang tahun
82

BAB VII

PENUTUP

A. Kesimpulan

1. Kesiapan sumber daya manusia Polri dalam mendukung


kerjasama penegakan hukum tindak pidana di laut saat ini
dirasakan masih belum cukup optimal. Dari segi kuantitas
dapat dilihat bahwa secara keseluruhan jumlah personel
Ditpolair Baharkam Polri dan Polda jajaran sudah cukup
memadai. Namun bila dilihat dari segi kepangkatan masih
terdapat kekurangan yang cukup besar dari segi kepangkatan
terutama pada kepangkatan Pamen dan Pama. Dari segi
kualitas, data yang ada menunjukkan bahwa masih banyak
personel yang belum memiliki latar belakang pendidikan
kejuruan di bidang Polair, sehingga mempengaruhi tingkat
kompetensi para personel tersebut yang tercermin dari
kurangnya pemahaman dan penguasaan terhadap peraturan
dan perundang-undangan yang berkaitan dengan penegakan
hukum tindak pidana di laut yang merugikan kekayaan
negara, masih banyak anggota yang kurang memiliki bekal
kemampuan seperti taktik dan teknik penyidikan tindak pidana
di laut, terbatasnya keterampilan bahasa asing dan bahasa
daerah serta kemampuan dalam bidang Kepelautan dengan
spesialisasi kemampuan Nautika dan Tehnika. Dari aspek
perilaku yaitu masih adanya anggota yang kurang proaktif
dalam menindaklanjuti adanya informasi tentang terjadinya
gangguan keamanan di wilayah laut dan kurang proaktif untuk
menjalin koordinasi lintas sektoral dalam menangani kasus-
kasus tindak pidana di laut.

Adapun upaya-upaya yang dapat dilakukan untuk


mengoptimalkan kesiapan SDM Polri dalam mendukung
kerjasama penegakan hukum tindak pidana di laut antara lain

82
83

melalui : penempatan personel Polair secara selektif prioritas,


penyesuaian kepangkatan pada setiap struktur Polair,
mengikutsertakan para personel Polair kepada pendidikan
kejuruan, meningkatkan intensitas pelatihan rutin,
melaksanakan kegiatan pembinaan disiplin dan mental
secara rutin serta menegakan pembinaan disiplin secara
tegas dan objektif.

2. Kesiapan sarana prasarana Polri dalam mendukung


kerjasama penegakan hukum tindak pidana di laut saat ini
masih belum optimal, hal ini dapat ditinjau dari terbatasnya
fasilitas pemeliharaan, perawatan dan perbaikan atau
galangan kapal serta perlengkapan perbengkelan lainnya,
terbatasnya dukungan teknologi informasi dan komunikasi
untuk mendukung tugas operasional Polair, terbatasnya pos
polair yang disertai kelengkapan sarana dan fasilitas di
berbagai wilayah perairan, terbatasnya materiil dan logistik
dalam bentuk peralatan utama maupun khusus untuk
menunjang operasional Polair serta masih adanya sebagian
kesatuan Polair di kewilayahan yang tidak memiliki markas
komando, dermaga dan asrama, sehingga mempengaruhi
upaya pengerahan kekuatan secara insidentil/mendadak
dalam menghadapi kondisi kontijensi.

Adapun upaya-upaya yang dapat dilakukan untuk


mengoptimalkan kesiapan sarana prasarana Polri dalam
mendukung kerjasama penegakan hukum tindak pidana di
laut antara lain melalui : perencanaan / pengusulan
pengadaan khususnya sarana transportasi air, melengkapi
Kapal – kapal Polisi dengan telepone satelit, mendirikan pos-
pos Polair, mengoptimalkan penyediaan dan pengalokasian
BBM serta pengembangan alut/alsus khususnya seperti
radar, komlek, sistem komunikasi satelit.
84

5. Kesiapan anggaran Polri dalam mendukung kerjasama


penegakan hukum tindak pidana di laut saat ini masih
terbatas, hal ini tercermin dari adanya penurunan dukungan
anggaran dari tahun 2013, 2014 hingga ke tahun 2015
sehingga masih terdapatnya kekurangan dalam memenuhi
kebutuhan riil kegiatan operasi penegakan hukum tindak
pidana di laut, termasuk didalamnya mata anggaran program
peningkatan sarana dan prasarana aparatur Polri dan
anggaran pengembangan peralatan Polri, mata anggaran
Pendidikan dan Latihan, mata anggaran Program
Harkamtibmas dan angggaran Penyelenggaraan Kepolisian
Perairan.

Adapun upaya-upaya yang dapat dilakukan untuk


mengoptimalkan kesiapan anggaran Polri dalam mendukung
kerjasama penegakan hukum tindak pidana di laut antara lain
melalui : koordinasi dengan fungsi perencanaan dalam
menginput kebutuhan anggaran, memprioritaskan pendataan
tentang kebutuhan anggaran yang dialokasikan untuk
kegiatan operasional Polair, dan melaksanakan pengawasan
berjenjang dalam pengelolaan, pendistribusian hingga
penggunaan anggaran guna meningkatkan efektifitas
penyerapan anggaran secara transparan dan akuntabel.

3. Pelaksanaan kerjasama penegakan hukum tindak pidana di


laut saat ini belum optimal. Dari aspek komunikasi yaitu
belum optimalnya komunikasi yang intensif antar instansi baik
secara formal maupun informal, selain itu komunikasi yang
dilakukan saat ini masih cenderung dilakukan secara reaktif
dan insidentil, komunikasi yang berjalan saat ini juga masih
sangat terbatas terutama dalam hal diseminasi informasi.
Adapun dengan kepolisian negara asing baik regional
maupun internasional, komunikasi juga belum terselenggara
dengan baik terutama dalam bentuk sharing information.
85

Pada aspek koordinasi yaitu belum optimalnya koordinasi


untuk memetakan permasalahan dalam pelaksanaan
kerjasama, belum optimalnya koordinasi dalam penentuan
pola operasi dan penggelaran kekuatan, adanya perbedaan
penafsiran peraturan perundang-undangan dan perbedaan
pola penegakan hukum, terbatasnya koordinasi untuk
meningkatkan intensitas dan jangkauan kegiatan patroli,
belum optimalnya koordinasi dalam pelaksanaan patroli
bersama dengan Polisi/coast guard negara tetangga serta
belum optimalnya kerjasama pertukaran informasi melalui
IMB (Internasional Maritime Beaurau). Pada aspek kolaborasi
yaitu Gelar Patroli Keamanan Laut hanya bersifat rutinitas,
belum terselenggaranya kesamaan persepsi dalam upaya
penyelamatan aset kekayaan negara di laut, penanganan
kasus cenderung berjalan sendiri-sendiri secara sektoral,
serta belum terselenggaranya kebersamaan dalam menjalin
hubungan kerjasama secara regional maupun internasional.

Adapun upaya-upaya yang dapat dilakukan untuk


mengoptimalkan kerjasama penegakan hukum tindak pidana
di laut antara lain melalui : kegiatan Focus Group Discussion
(FGD), Cofee Break, dan kegiatan lainnya, meningkatkan
komunikasi terutama dalam hal diseminasi informasi, sharing
information, rapat kerja rutin, koordinasi dalam penentuan
pola operasi dan penggelaran kekuatan, meningkatkan
intensitas dan jangkauan kegiatan patroli, pembuatan
komitmen bersama / Nota Kesepahaman, penerapan Mutual
Legal Assistance (MLA), pelatihan bersama, seminar,
coaching clinic dan sebagainya, penggunaan Vessel
Monitoring System (VMS), kerjasama di bidang penyelamatan
aset kekayaan negara di laut, joint investigation serta
membangun sistem pertukaran informasi.
86

B. Rekomendasi

1. Rekomendasi kepada Kapolri Up. Ass SDM untuk


mengoptimalkan pembangunan kekuatan SDM satuan Polair
di setiap kewilayahan melalui penetapan standar kompetensi
personel Polair serta peningkatan kesempatan bagi personel
Polair untuk mengikuti jenjang pendidikan kejuruan /
pengembangan.

2. Rekomendasi kepada Kapolri Up. Assrena dan Assarpras


untuk mengoptimalkan peremajaan dan penambahan sarana
transportasi air (kapal tipe A, tipe B dan tipe C, speed boat
atau sejenisnya) dengan spesifikasi mesin dan fitur teknologi
yang mampu mengimbangi tingginya kerawanan terjadinya
kejahatan di laut, disertai dengan anggaran operasional dan
anggaran logistik sehingga dapat meningkatkan jangkauan dan
frekuensi kegiatan operasional kapal-kapal tersebut.

3. Rekomendasi kepada Kapolri Up. Ass Ops Kapolri agar


bekerjasama dengan instansi, kementerian dan lembaga
yang memiliki kewenangan penegakan hukum di laut untuk
membentuk satuan tugas (task force) penegakan hukum
tindak pidana di laut yang disertai pembuatan MoU, SOP dan
HTCK serta usulan pembuatan Perpres kepada pemerintah
agar pembentukan Satgas memiliki landasan hukum yang
kuat, dimana Polri berperan sebagai leading sector dalam
mengkoordinir kegiatan yang dilaksanakan dalam wadah
satuan tugas namun tanpa mereduksi atau membatasi
kewenangan instansi terkait lainnya.

4. Rekomendasi kepada Kapolri Up. Ass Ops Kapolri dan


Kadivhubinter untuk mengoptimalkan kerjasama dengan
instansi terkait di bidang penyelamatan aset kekayaan negara
di laut yang telah menjadi objek kejahatan melalui penerapan
peraturan perundang-undangan di bidang tindak pidana
pencucian uang dan melalui kerjasama dengan kepolisian
87

negara asing regional maupun internasional melalui forum


kerjasama Interpol dan Aseanapol.

5. Rekomendasi kepada Kapolri Up. Ass Ops Kapolri dan


Assarpras Kapolri untuk melakukan kerjasama dengan
Instansi dan kementerian / Lembaga terkait di bidang
pengembangan dan pembangunan sarana teknologi informasi
dan komunikasi berupa pembangunan pusat pemantau
perairan Indonesia berbasis radar dan satelit serta
pemanfaatan sistem informasi secara online melalui
penggunaan alat monitoring, control dan surveilance atau
VMS (Vessel Monitoring Systems), yang merupakan data
yang berbasis pada Sistem Informasi Geografis (SIG),
sehingga operator VMS dapat memantau seluruh posisi kapal
di wilayah perairan tertentu. Dengan demikian suatu tindak
pidana yang terjadi di wilayah perairan dapat segera
diidentifikasi untuk dapat diambil tindakan selanjutnya.

Lembang, September 2016

JAYADI, S.IK., M.H.


NO SERDIK. 201603001029
88

DAFTAR PUSTAKA

Buku dan Makalah :


Dr. Budi W. Soetjipto. 2016. Analisis Strategi. Bahan Ajaran kepada
peserta Sespimti Dikreg ke 25 T.A. 2016.
Dellyana,Shant.1988,Konsep Penegakan Hukum. Yogyakarta
DR. Setyo Riyanto, SE, MM. 2016. Analytic Hierarchy Process. Bahan
Pelajaran kepada Peserta Sespimti Polri Dikreg ke-25 T.P. 2016
Hutapea, Parulian dan Nurianna Thoha. 2008. Kompetensi Plus. Jakarta:
PT Gramedia Pustaka Utama
Prof. Dr. Sondang P, Siagian, MPA. 2011. Manajemen Stratejik, Jakarta :
PT. Bumi Aksara
Soerjono Soekanto. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta : Raja Grafindo
Persada, 2000
Terry, George R. 1977. Principles of Management (alih bahasa oleh
Winardi, 1979). Bandung: Alumni
Landasan Hukum :
Peraturan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia Nomor 14 tahun
2012 tentang Manajemen Penyidikan Tindak Pidana
Peraturan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia Nomor 7 tahun
2009 tentang Sistem Laporan Gangguan Kamtibmas
Peraturan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia Nomor 21 tahun
2010 tentang SOTK Polri tingkat Mabes
Peraturan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia Nomor 22 tahun
2010 tentang SOTK Polri tingkat Polda
Peraturan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia Nomor 23 tahun
2010 tentang SOTK Polri tingkat Polres dan Polsek
Undang-Undang Negara Republik Indonesia Nomor. 45 tahun 2009 tentang
Perikanan
Undang-Undang Negara Republik Indonesia Nomor 41 Tahun 1999
tentang Kehutanan
89

Undang-Undang Negara Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 2013


tentang Pencegahan dan Pemberantasan Perusakan Hutan
Undang-Undang Negara Republik Indonesia Nomor 4 tahun 2009 tentang
Pertambangan Mineral dan Batubara
Undang-Undang Negara Republik Indonesia Nomor 22 tahun 2001 tentang
Minyak Dan Gas Bumi
Undang-Undang Negara Republik Indonesia Nomor 5 tahun 1990 tentang
Konversi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya
Undang-Undang Negara Republik Indonesia Nomor 27 tahun 2007 tentang
Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil
Undang-Undang Negara Republik Indonesia Nomor 5 tahun 1983 tentang
ZEE Indonesia
Undang-Undang Negara Republik Indonesia Nomor 17 tahun 1985 tentang
Konvensi PBB Hukum Laut
Undang-Undang Negara Republik Indonesia Nomor. 6 tahun 1996 tentang
Perairan Indonesia
Undang-Undang Negara Republik Indonesia Nomor. 17 Tahun 2007
Tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional Tahun
2005-2025
Website :

http://maritim.go.id/berita/lima-pilar-serta-langkah-strategis-dalam-
mewujudkan-indonesia-sebagai-poros-maritim-dunia, diunduh
tanggal 14 Juni 2016
http://kkpnews.kkp.go.id/index.php/kerugian-negara-akibat-illegal-fishing-
101-triliun-rupiah/ diunduh tanggal 14 Juni 2016
http://bahasa.kemdiknas.go.id/kbbi/index.php, diakses tgl 18 Juni 2016
(00.30 WIB)