Anda di halaman 1dari 35

JAMUR SISTEMIK OPORTUNISTIK

6.1 Pendahuluan

Jamur oportunistik adalah jamur yang biasanya tidak

menimbulkan penyakit, tetapi dapat menyebabkan penyakit pada orang

yang mekanisme pertahanan tubuhnya terganggu. Jamur oportunistik

ini dapat menginfeksi salah satu organ atau semua organ tubuh.

Predisposisi yang sudah ada mungkin hanya memungkinkan jamur

oportunistik tertentu untuk menginfeksi inang. Jamur oportunistik

yang sering menginfeksi manusia adalah Candida, Aspergilus, Mucor,

Rhizopus.

Infeksi jamur oportunistik yang diperoleh melalui inhalasi

sebagian besar infeksi asimtomatis. Pada penyakit yang simtomatik;

infeksi dapat menyebar ke setiap organ, meskipun setiap jenis jamur

cenderung menyerang organ-organ tertentu. Jamur ini kelihatannya

menyebabkan penyakit pada orang-orang tertentu yang dapat

mengalami infeksi tersebar yang biasanya berakibat fatal.

Sejak tahun 1950-an penyebab mikosis sistemik terutama

adalah Candida albicans, A. fumigatus dan Zygomycetes yang

menyebabkan mukomikosis. Selama lebih kurang 20 tahun terakhir

179
terdapat perubahan epidemiologi infeksi Candida, spesies lain dari

Candida albicans, demikian juga Aspergillus spp, yang semakin sering

dilaporkan sebagai penyebab mikosis sistemik. Penelitian epidemiologi

infeksi Candida di Anderson Cancer Center USA selama tahun 1988-

1992 menunjukkan hanya 42% kandidemia oleh Candida albicans,

selebihnya oleh Candida tropicalis (18%), Candida parapsilosis (17%),

Candida glabrata (11%), Candida krusei (4 %).

Sifat-sifat genetik yang menyebabkan predisposisi terhadap

infeksi ini belum dimengerti dengan jelas. Semua jamur ini bersifat

dimorfik, yaitu mempunyai daya adaptasi morfologik yang unik

terhadap pertumbuhan dalam jaringan atau pertumbuhan pada suhu

370 C.

6.2 Jenis-jenis Penyakit Sistemik Oportunistik

6.2.1 Candidiasis

Candida albicans adalah suatu ragi lonjong, bertunas yang

menghasilkan pseudomiselium baik dalam biakan maupun dalam

jaringan dan eksudat. Ragi ini adalah anggota flora normal pada

permukaan selaput mukosa mulut, saluran pencernaan, dan genetalia

wanita dan lipatan kulit yang basah. Di tempat-tempat ini sel ragi dapat

menjadi dominan dan menyebabkan keadaan patologik penyakit

sistemik progresif pada penderita yang lemah atau sistem, imunnya

180
tertekan, terutama imunitasnya berperantara sel terganggu, Candida

dapat, menimbulkan invasi dalam aliran darah, tromboflebitis,

endokardistis, atau infeksi pada mata dan organ lain bila dimasukkan

secara intravena (kateter, jarum, hiperalimentasi, penyalahgunaan

narkotika dan sebagainya).

a. Morfologi dan Identifikasi

Pada sediaan eksudat, Candida tampak sebagai sel ragi

lonjong, bertunas, gram positif, berukuran 2-3 x 4-6 um. Sel-sel

bertunas, yang memanjang menyerupai hifa (pseudohifa). Pada agar

Sabouraud yang dieramkan pada suhu kamar, berbentuk koloni-

koloni lunak berwarna coklat yang mempunyai bau seperti ragi.

Pertumbuhan permukaan terdiri atas sel-sel bertunas lonjong.

Pertumbuhan di bawahnya terdiri atas pseudomiselium.

Pseudomiselieum ini terdiri atas pseudohifa yang membentuk

blastoconidia pada ujung-ujungnya. Candida alabicans meragikan

Glukosa dan maltosa, menghasailkan asam dan gas; asam dari

sukrosa, tidak meragikan laktosa. Reaksi gula ini dapat

membedakan spesies- spesies Candida lainnya.

181
Gambar 6-1. Candida albicans: A. Blastokonidia (blastospora) dan
pseudopodia dalam eksudat; B. Blastokonidia, pseudohifa,
dan klamidokonidia (klamidospora) dalam biakan pada suhu
20OC; C. Biakan mudah membentuk tabung-tabung benih bila
diletakkan dalam serum selama 3 jam pada suhu 37 OC.

b. Struktur Antigen

Tes aglutinasi dengan serum yang terabsorbsi menunjukkan

bahwa semua strain Candida albicans terbagi dalam dua grup yaitu

Grup serologik A dan B. Kelompok grup A mencakup Candida

tropicalis. Ekstraks Candida untuk tes serologi dan kulit tampaknya

terdiri atas campuran antigen. Antibodi ini dapat diketahui melalui

presipitasi, imunodifusi, imunoelektroforesis, aglutinasi lateks dan

182
tes lainnya. Tetapi pengenalan antibodi sirkualasi ini tidak terlalu

membantu dalam mendiagnosis penyakit akibat Candida. Pada

Candidiasis yang tersebar sering terdapat antigen-antigen mannan

dari Candida yang beredar, dan kadang-kadang ditemukan antibodi

presipitasi terhadap antigen non mannan. Sebenarnya semua serum

manusia normal akan mengandung antibodi IgG terhadap Candida

mannan.

c. Patogenis dan Patologi

Pada penyuntikan intravena terhadap tikus atau kelinci

suspensi pada Candida albicans menyebabkan abses yan tersebar

luas, khususnya di ginjal, dan menyebabkan kematian kurang dari

satu minggu.

Secara histologik berbagai lesi kulit pada manusia

menunjukkan peradangan. Berapa menyerupai pembentukan

abses, lainnya menyerupai granuloma menahun. Kadang ditemukan

Candida albicans dalam saluran pencernaan setelah pemberian

antibiotik oral, misalnya tetrasiklin tetapi hal ini biasanya tidak

menyebabkan gejala. Candida dapat dibawa oleh aliran darah ke

banyak organ, termasuk selaput otak, tetapi biasanya tidak dapat

menetap di sini dan menyebabkan abses milier kecuali bila inang

lemah. Penyebaran sepsis terjadi pada inang yang menderita sistem

imun yang lemah.

183
d. Gambaran Klinik

Faktor-faktor predisposi utama infeksi Candida albicans

adalah sebagai berikut: diabetes mellitus, kelemahan menyeluruh,

imunodefiensi, kateter intavena atau kateter kandung kemih yang

terpasang terus menerus, penyalahgunaan narkotika intravena

pemberian antibiotika yang merubah kondisi flora normal,

kortikosteroid.

 Sistem Pencernaan

Mikosis saluran pencernaan terbanyak disebabkan oleh

Candida spp, dan yang jarang adalah Actinomyces israelli. Yang

disebut sebagai kandidosis saluran pencernaan adalah infeksi

oleh Candida spp termasuk Candida albicans pada saluran

pencernaan mulai dari mulut, esofagus, gaster, usus halus, kolon,

peritoneum, hati dan limpa, sedangkan Actinomycosis abdominalis

merupakan infeksi Actinomyces israelii pada saluran pencernaan

terutama dinding usus.

Keadaan dan hal-hal tertentu sebagai faktor predisposis

kandidiasis saluran pencernaan yaitu peningkatan jumlah

kolonisasi Candida pada saluran cerna, gangguan pertahanan inang

termasuk sistem imun, gangguan ekologi saluran cerna, fisiologik

dan lain-lain. Gangguan ekologi saluran pencernaan banyak

184
dipengaruhi oleh penggunaan antibiotika yang lama, radiasi dan

lain-lain. Gangguan pertahanan inang disebabkan oleh lemahnya

sistem imun inang (misalnya karena menderita penyakit limfoma,

karsinoma), maltnutrisi (defisiensi riboflavin), penyakit

berat/kroniklain, penyakit mieloproliferatif, AIDS, penyakit endokrin

(diabetes mellitus), penggunaan obat immunosupresan seperti

kortikosteroid, obat sitotatik untuk anti kanker, gangguan pH cairan

lambung menjadi basa karena pemakai obat penekan asam

lambung, misalnya simatidin dan aperasi vagotomi. Faktor fisiologik

yang merupakan predisposisi infeksi kandidiasis yaitu kehamilan,

usia muda atau lanjut, dan siklus menstruasi. Peritonitis bakterialis

rekurens dapat menyebabkan gangguan keseimbangan kuman

dalam peritoneum, sehingga jumlah jamur bertambah.

 Mulut/oral

Manifestasi klinik dapat berupa stomatistis aftosa rekurens

atau oral thrush yang dapat dilihat dengan infeksi rongga mulut.

Komplikasi yang terjadi berupa gangguan makan, dan menelan,

serta penurunan berat badan.

Infeksi mulut (sariawan) terutama pada bayi, terjadi pada

selaput mukosa pipi dan tampak sebagai bercak-bercak putih

yang sebagian besar terdiri atas pseudomiselium dan epitel yang

terkelupas, dan hanya terdapat erosi minimal pada selaput.

185
Pertumbuhan Candida di dalam mulut akan lebih sunbur bila

disertai kortikostreoid, antbiotika, kadar glukosa tinggi dan

imunodifisiensi.

 Esofagus

Esofagus merupakan lokasi yang tersering disebabkan oleh

Candida albicans. Pada penyakit ini terdapat 2 faktor predisposisi,

yaitu endogen antara lain usia lanjut, diabetes mellitus,

keganasanan, AIDS, faktor lokal pada esofagus seperti gangguan

motilitas dan destruksi fungsional serta mekanik. Sedangkan

faktor eksogen adalah pemakaian antibiotik, steroid,

imunosupresan, terapi radiasi, dan lain-lain.

Gejala klinik pada esofagus adalah disfagia, nyeri

retrosternal, dan odinofagi, sedangkan nausea, muntah dan

hematemesis termasuk jarang terjadi. Demam dapat terjadi dalam

beberapa kasus. Banyak pasien kandidiasis esofagus juga

menderita kandidiasis oral (oral thrush), tetapi sekitar 30% hanya

menderita kandidiasis esofagus. Pasien mengalami kesulitan

makan, sehingga berat badan menurun, bahkan dapat mengalami

malnutrisi. Komplikasi infeksi ini ialah struktur kronik.

186
 Gaster

Kandidiasis gaster jarang ditemukan, biasanya terjadi bila

ada faktor predisposis dan merupakan reaksi oportunistik pada

penderita imuno kompromais.

Gejala klinik kandidiasis gaster dapat asimtomatik atau

berupa gejala sindrom dispepsia, yaitu nyeri dan rasa tidak enak di

epigastrium, kembung, mual, muntah, anoreksia, sendawa, serta

cepat kenyang.

 Usus

Penyakit kandidiasis usus dapat timbul bil ada faktor

predisposi dan dapat mengenai usus halus, kolorektal dan anus.

Gejala klinik pada kandidiasis usus adanya keluhan berupa nyeri

atau kolik usus. kadang-kadang didapatkan nyeri abdomen, diare

akut sampai kronik yang berlangsung lebih 15 hari.

 Hati dan Limpa

Kandidiasis hati dan limpa sering terjadi pada penderita

leukemia, dan pada organ tersebut dapat timbul mikroabses.

Gejala klinik kandidiasis hati dan limpa adanya keluhan berupa

nyeri abdomen kanan atau kiri atas, atau pada epigastrium.

Kadang kadang tanpa keluhan atau asimtomatik.

187
 Peritoneal

Gejala yang ditimbulkan kandidiasis peritoneal mirip dengan

peritonitis bakterial, yakni nyeri abdomen, mual, muntah, adanya

demam dan pada pemeriksaan fisik didapatkan distensi abdomen

dan defans muskular. Cairan dialisat keruh (Cloudy dialisat

efluent) dan hitung leukosit dialisat > 100/mm 3 dengan sel

Polimorfonulklear >50 %. Karena gejala yang mirip dengan

peritonitis bakterial, seringkali diagnosis peritonitis fungal tidak

terpikirkan dengan akibat penundaan pengobatan.

 Urogenitalia Wanita

Jamur penyebab mikosis sistemik dan jamur oportunistik

dapat menginvasi traktus urogenital manusia. Infeksi jamur pada

saluran urogenital bagian atas, meskipun jarang, potensial dapat

menyebabkan kematian.

Faktor predisposisi kandidosis pada saluran kemih antara

lain diabetes mellitus, pemberian antibiotik spektrum luas, terapi

steroid, gangguan aliran urin, kelainan kongenital, neurogenic

bladder, katetert uretra menetap (indwelling urethral catheters) dan

ileal conduit, infeksi HIV/AIDS, gizi buruk, dan sakit berat yang

menyebabkan defisiensi imunologis.

Pertumbuhan abnormal fungal bezoar atau fungus ball.

Gumpalan jamur ini dapat terbentuk di sistem pelviokalises ginjal

188
atau di buli-buli. Bila gumpalan cukup besar dapat mengakibatkan

obtruksi sistem pelviokalises disertai gejala akut, sedangkan

dibuli-buli dapat menimbulkan retensi urin. Keadaan kronik atau

gumpalan jamur cukup besar di buli-buli dapat menyebabkan

obtruksi ureter. Pada infeksi jamur di saluran kemih bagian

bawah, sebagian besar terjadi akibat infeksi retrograd karena

pemakaian kateter yang menetap, dari kolonisasi genital atau

perianal atau infeksi interiginosa.

Gejala klinik kandisosis saluran kemih biasanya demam dan

kemih bagian bawah, umumnya atau nyeri pinggang. Pada

saluran kemih bagian atas dapat menimbulkan uropati obstruktif

akibat gumpalan jamur dan menimbulkan gejala kolik ginjal.

Kadang menyerupai pielonefritis klasik dengannyeri pinggang,

nyeri tekan/ketok, disertai demam. Pada saluran menimbulkan

gangguan berkemih menyerupai infeksi bakteri, yaitu sering

berkemih, urgensi, disuria, nyeri suprapubik, dan demam. Dapat

terjadi retensi urin dengan atau tanpa gumpalan jamur, bahkan

bisa menyebabkan obtruksi saluran kemih atas bilateral yang

mengakibatkan gagal ginjal akut dan anuria. Dapat ditemukan

hematuria dan piuria.

Kandidosis vulvoginalis merupakan bentuk yang paling

sering ditemukan pada genital bagian bawah. Pasien seringkali

mengeluh pruritus, rasa terbakar di vagina, dispareunia, dan

189
disuria eksternal. Vulvoginitis meyerupai sariawan tetapi

menimbulkan iritasi, gatal yang hebat, dan pengeluaran sekret

berwarna putih, bergumpal seperti susu pecah, dan tidak disertai

bau khas. Cairan vagina menunjukkan pH 4-4,5. Perubahan pH

asam dalam vagina merupakan predisposisi timbulnya

vulvoganiitis Candida. Dalam keadaan normal pH yang asam

dipertahankan oleh bakteri vagina. Diabetes, kehamilan,

progesteron atau pengobatan antibiotika merupakan predisposisi

penyakit ini.

 Kulit

Infeksi kulit terutama terjadi pada bagian-bagian tubuh

basah dan hangat seperti ketiak, lipat paha, skrotum atau lipatan

di bawah payudara. Infeksi paling sering terdapat pada orang

gemuk dan diabetes, daerah-daerah ini menjadi merah dan

mengeluarkan cairan dan dapat membentuk vesikel.

Infeksi Candida pada kulit antara jari-jari tangan sering

terjadi pada kulit bila tangan direndam cukup lama dalam air

secara berulang-ulang kali, ini terjadi pada pembantu rumah

tangga, tukang masak, pengurus sayuran dan ikan.

190
 Kuku

Rasa nyeri, bengkak kemerahan pada lipat kuku yang

menyerupai paronikia piogenik dapat mengakibatkan penebalan

dan alur tranversal pada kuku dan akhirnya kuku terlepas.

 Paru-paru dan Organ Lain

Infeksi Candida dapat menyebabkan invasi sekunder pada

paru-paru, ginjal, organ lain yang sebelumnya telah menderita

penyakit lain seperti; Tuberculosis dan AIDS atau kanker. Pada

leukemia yang tidak terkendali dan pada imunodifisiensi imun

dapat terjadi pada banyak organ. Endokarditis Candida terutama

terjadi pada pencandu narkotika atau dengan katup prostetik.

Kadang-kadang timbul kandiduria setelah kateterisasi air kemih,

tetapi ini cenderung sembuh spontan.

 Candidiasis Mukocutan Menahun

Kelainan ini merupakan tanda defisiensi imunitas seluler

pada anak-anak.

e. Pemeriksaan Laboratorium

191
 Bahan

Bahan terdiri tas usapan dan kerokan permukaan lesi,

dahak, eksudat dan bahan yang yang dikeluarkan dari kateter

intravena.

 Pemeriksaan Mikroskopik

Dahak, eksudat, trombus dan sebagainya dapat diperiksa

dengan sediaan apus yang diwarnai dengan pewarnaan Gram,

untuk mencari pseudohifa dan sel-sel bertunas. Kerokan kulit atau

kuku diletakkan pada gelas objek dan kemudian tetesi dengan

larutan KOH 10% dilihat di bawah mikroskop.

 Biakan

Semua bahan dibiakkan pada agar Sabouraud pada suhu

kamar dan suhu 370C. Koloni-koloni khas diperiksa untuk adanya

sel-sel dan pseudomiselium yang bertunas. Pembentukan

klamidokonidia Candida albicans pada agar tepung jagung atau

perbenihan lain yang menyuburkan konidia merupakan tes

diferensiasi yang penting.

192
 Interpretasi Biakan pada Media Sabouraud

1. Hasil positif dari spesimen apus lidah dan mukosa mulut,

bila ditemukan koloni Candida ++/+++ atau koloni tumbuh

lebih dari 10 koloni.

2. Hasil positif dari spesimen mukosa esofagus, bila

ditemukan koloni Candida ++/+++ atau koloni tumbuh lebih

dari 10 koloni.

3. Hasil positif dari spesimen usus bila ditemukan koloni

Candida ++/+++ atau dengan perkiraan koloni tumbuh lebih

dari 10 koloni Candida, atau lebih dari 10.000 koloni/gram

tinja.

4. Hasil positif dari spesimen sputum dan bilasan bronkus,

tidak menunjukkan diagnosis karena Candida albicans

sangat mudah tumbuh dalam sputum dan bilasan bronkus.

 Pemeriksaan Serologi

Ekstrak karbohidrat Candida kelompok A memberikan reaksi

presipitasi yang positif dengan serum pada 50 % orang normal

dan 70 % orang dengan Candidiasis mukokutan. Pada kandidiasis

sistemik, peningkatan titer antibodi terhadap Candida dapat

ditemukan melalui macam-macam tes, tetapi tes serologi untuk

Candidiasis tidak memberikan manfaat secara klinik.

193
 Tes Kulit

Tes Candida pada orang dewasa normal hampir selalu

positif, oleh karena itu tes tersebut digunakan sebagai indikator

kompetensi imunitas seluler.

f. Imunitas

Hewan dapat diimunisasi secara aktif dan kelak resisten

terhadap kandidiasis yang menyebar. Serum manusia sering

mengandung antibodi IgG yang menggumpalkan Candida in vitro

dan mungkin bersifat kandidasidal. Dasar resistensi terhadap

kandidiasis bersifat rumit dan belum sepenuhnya dimengerti.

g. Pengobatan

Pemberian nistatin melalui mulut tidak diabsorbsi tetap

dalam usus dan tidak mempuhyai efek pada infeksi Candida

sistemik. Ketokonazol menimbulkan respon terapeutik yang jelas

pada beberapa penderita Candida sistemik, terutama Candidiasis

mukokutan. Amfoterisin B yang disuntikkan secara intravena,

merupakan usaha pengobatan efektif yang telah diterima untuk

sebagian besar bentuk kandidiasis yang mengenai organ dalam.

Amfoterisin B yang diberikan dalam kombinasi dengan flusitosin

194
melalui mulut untuk menambah efek pengobatan pada Candidiasis

disseminata.

Pada vulvovaginitis Candida terapi perawatan dengan

ketokonazol mungkin diperlukan. Candidiasis pada anak yang

tercekam imunitasnya dan kadang-kadang memberikan respon

terhadap pemberian faktor transfer yang didapat dari orang-orang

dengan reaksi perantara sel yang aktif terhadap Candida. Terapi

ketokonazol adalah obat pilihan untuk pengendalian jangka panjang

untuk Candidiasis mucocutaneus cronic.

Lesi-lesi lokal paling baik diobati dengan menghilangkan

penyebabnya yaitu menghindari basah, mempertahankan daerah-

daerah tersebut sejuk, berbedak, dan kering dan menghentikan

pemakaian antibiotika.

Gentian ungu dapat digunakan untuk pengobatan sariawan,

ester-ester asam parahidroksi benzoat, natrium propionat,

kandisidin atau mikonazol 2 % untuk vaginitis. Nistatin menekan

Candidiasis intestinal dan vaginal.

195
6.2.2 Kriptokokosis

Kriptokokosis disebabkan oleh Cryptococcus neoformans adalah

suatu ragi yang ditandai oleh adanya simpai karbohidrat yang tebal

dalam biakan dan dalam cairan jaringan. Ragi ini didapatkan secara

meluas di alam dan ditemukan dalam jumlah besar pada tinja burung

merpati yang kering. Penyakit pada manusia biasanya berkaitan dengan

fungsi imun yang tertekan atau keganasan tetapi kadang-kadang

terlihat pada inang normal.

a. Morfologi dan Identifikasi

Dalam cairan spinal atau jaringan, organisme berbentuk bulat

atau lonjong, garis tengahnya 4-12 m, sering bertunas dan

dikelilingi oleh simpai yang tebal . Pada agar Sabouraud pada suhu

kamar koloninya berwarna kecoklatan, mengkilat dan mukoid.

Biakan tidak meragi karbohidrat tetapi mengasimilasi glukosa,

maltosa, sukrosa, dan galaktosa tetapi tidak terhadap laktosa. Urea

dihidrolisis. Dapat tumbuh dengan baik dalam media yang tidak

mengandung sikloheksamida. Pencampuran serotipe A dan D atau

B dan C menyebabkan timbulnya miselium dan basidiospora

Filobasidiella neoformans var neoformans atau Filobasidiella

neoformans var gatti.

196
Gambar 6-2. Cryptococcus neoformans. Sediaan Tinta India
dari Cairan Spinal

b. Struktur Antigen

Empat tipe serologik dari polisakarida simpai A,B,C, dan D

telah diidentifikasi. Antigen simpai dapat larut dalam cairan spinal,

serum atau air kemih dan dapat dideteksi dengan antiserum

spesifik terhadap karbohidrat dengan aglutinasi lateks. Penemuan

antigen simpai Cryptococcus secara diagnostik dapat dipercaya.

c. Patogenitas

Infeksi pasda manusia terjadi melalui saluran pernafasan dan

asimtomatik atau dihubungkan dengan tanda dan gejala paru-paru

197
nonspesifik. Penghirupan sel-sel dalam jumlah yang sangat banyak

dapat mengakibatkan penyakit sistemik progresif pada organ

normal. Namun biasanya Criptococcosis suatu penyakit

oportunistik. Pada orang yang mengalami imunodefisiensi atau

imunosupresi, infeksi paru-paru dapat menyebar secara sistemik

dan menetap dalam susunan syarat pusat dan organ lainnya.

secara histologik, reaksi bervariasi dari peradangan ringan sampai

pembentukan granuloma yang khas.

d. Gambaran Klinik

Infeksi Cryptococcus neoformans dapat tetap subklinik. Infeksi

menyebar secara hematogen ke organ lain dan system saraf pusat.

Gejala yang terlihat dapat seperti tuberculosis, meningitis, abses

otak, atau tumor cerebri. Manifestasi klinik dapat dibedakan atas:

1. Kriptokokosis paru primer, biasanya asimtomatik,

kadang didapatkan batuk dengan sputum mukoid dan demam

yang tidak tinggi.

2. Kriptococcus meningitis, meliputi 67 – 85 % bentuk

kriptokokosis. Gejala yang timbul hampir sama dengan gejala

meningitis pada umumnya, yaitu sakit kepala, demam,

didapatkan tanda-tanda rangsang meningeal, dan dapat terjadi

perubahan status mental. Bila ditemukan kriptokokosis

meningitis, umumnya organ paru sudah terlibat.

198
3. Kriptokokosis diseminata, terdapat demam dan toksik dengan

keterlibatan paru yang luas, dapat terjadi gagal nafas serta

cepat terjadi penyebaran ke meningens. Penyebaran cepat

secara hematogen ke tulang dan kulit, sering terjadi pada

pasien dengan penekanan sistem imun dan AIDS.

e. Tes Diagnosis Laboratorium

Spesimen pemeriksaan: Spesimen pemeriksaan terdiri atas

cairan spinal, eksudat, dahak, air kemih dan serum.

f. Pemeriksaan Mikroskopik

Spesimen diperiksa dalam keadaan basah, baik secara

langsung maupun setelah dicampur dengan tinta India (yang

membuat simpai yang besar menonjol di sekitar sel; bertunas).

Pewarnaan imunofluoresensi digunakan pada sediaan

mikroskopik yang kering. Filtrasi cairan serebrospinal melalui

saringan Millipore dapat mengungkapkan organisme.

 Biakan

Pertumbuhan cepat pad suhu 20-37o C pada agar Sabouraud

dan perbenihan laboratorium lainnya yang tidak mengandung

sikloheksamin. Urea dihidrolisis. Koloni Cryptococcus

199
menghasilkan pigmen coklat yang bersifat diagnostik pada

perbenihan benih unggas (benih Niger).

 Serologi

Tes-tes antigen kapsular polisakarida Cryptococcus dapat

dilakukan pada cairan serebrospinal dan serum. Aglutinasi lateks

menunjukkan positif 90 % pada infeksi meningitis Cryptococcus.

g. Pengobatan

Terapi kombinasi amfoterisin B dengan flusitosin diduga

merupakan pengobatan pilihan untuk meningitis Cryptococcs.

h. Epidemiologi dan Pencegahan

Kotoran burung terutama merpati yang mengandung

Cryptococcus adalah sumber utama infeksi pada hewan dan

manusia. Organisme tubuh dengan subur dalam eskreta burung

merpati, tetapi burung itu tidak terinfeksi.

Salah satu pengendalian adalah mengurangi populasi merpati

dan dekontaminasi tempat burung merpati dengan alkali.

Penelitian menunjukkan bahwa orang yang telah terpapar dengan

Cryptococcus dan diduga mengalami infeksi subklinik.

200
 Sistem Pernafasan

Penyebab kriptokokosis ialah Cryptoccoccus neoformans.

Infeksi menyebar secara hematogen ke organ lain dan sistem saraf

pusat. Gejala yang terlihat dapat seperti tuberkulosis, meningitis,

abses otak, atau tumor cerebri.

Manifestasi klinis dapat dibedakan atas:

1. Kriptokokosis paru primer; biasanya asimtomatik, kadang-

kadang didapatkan batuk dengan sputum mukoid dan demam

yang tidak tinggi.

2. Kriptokokosis meningitis; meliputi 67-85 % bentuk

kriptokokosis. Gejala yang timbul hampir sama dengan gejala

meningitis pada umumnya, yaitu sakit kepala, demam,

didapatkan tanda-tanda rangsang meningeal, dan dapat terjadi

perubahan status mental. Bila ditemukan kriptokokosis

meningitis, umumnya organ paru sudah terlibat.

3. Kriptokokosis diseminata; terdapat demam dan toksik dengan

keterlibatan paru yang luas, dapat terjadi gagal nafas serta cepat

terjadi penyebaran ke meningens. Penyebaran cepat secara

hematogen ke tulang dan kulit, sering terjadi pasien dengan

penekanan sistem imun dan AIDS.

201
i. Pemeriksaan Penunjang

1. Pemeriksaan foto toraks; Pemeriksaan kriptokokosis paru primer

dengan foto toraks didapatkan gambaran infiltrat terlokalisir di

lobus bawah tanpa pembesaran kelenjar hilus. Infiltrat dapat

berbentuk massa soliter dengan ukuran lebih besar dari 6-10

cm. Pada kasus yang sembuh, infiltrat menghilang tanpa

meninggalkan bekas.

2. Biopsi: Pemeriksaan biopsi paru dan pemeriksaan histopatologi

serta antigen jamur dalam serum mempunyai nilai diagnostik

yang penting.

3. Uji kulit; Pemeriksaan uji kulit serta pemeriksaan jamur pada

sputum baik secara langsung maupun biakan tidak bermanfaat.

j. Tatalaksana

Kriptokokosis paru primer dapat diberikan flukonazol 200

mg/hari. Untuk kasus berat seperti kriptokokosis meningitis

diberikan amfoterisin B 0,3 mg/kg berat badan/hari dikombinasi

dengan fluorosirtosin 150 mg/Kg berat badan/hari selama 4-6

,minggu . Apabila pemberian amfoterisin B tidak memungkinkan,

dapat diberikan flukonazol intravena sebagai alternatif, karena daya

penetrasinya ke dalam cairan serebrospinal cukup baik.

Tataklaksana kriptokokosis paru pada pasien HIV positif dengan

gejala ringan sampai sedang atau spesimen dengan kultur positif

202
adalah dengan flukonazaol 3-6 mg/kg/hari seumur hidup atau

itrakonazol 3-6 mg/kg/hari seumur hidup.

6.2.3 Aspergilosis

Aspergilosis merupakan penyakit jamur yang disebabkan oleh

berbagai spesies Aspergillus terutama Aspergillus fumigatus, Aspergillus

flavus dan Aspergilus niger yang sering ditemukan di alam bebas

sebagai saprofit. Di samping faktor ketiga di atas juga terdapat faktor

predisposisi seperti kandidiasis, penyakit infeksi lain keganasan,

diabetes mellitus dan pengobatan dengan obat imunosupresif.

Penyakit ini sering mengenai kulit, kuku, dan alat dalam terutama paru

dan otak. Jamur ini menjadi penyerang oportunistik pada orang

dengan imunudefisiensi misalnya pada penderita granulomatosa kronis

kecuali pada penderita AIDS atau pada individu kelainan anatomik

pada saluran pernapasan.

a. Morfologi dan Identifikasi

Dalam jaringan, eksudat atau sputum spesies Aspergillus

terdapat sebagai filamen. Struktur bersepta yang biasanya

bercabang secara dikotom. Biakan pada agar Sabouraud yang

dieramkan pada suhu 37-40 0C tumbuh sebagai koloni bewarna

203
kelabu hijau dengan kubah konidiofora di tengah, yang menyokong

rantai-rantai konidia yang memanjang secara khas. Ekstrak biakan

terutama karbohidrat digunakan sebagai antigen untuk berbagai tes

serologik. Bentuk aspergilosis yang berbeda akan menimbulkan

hasil serologik yang berbeda pula dan akan terlihat kenaikan titer

antibodi.

204
Gambar 6-3. Aspergillus fumigatus: A. Culture on Sabouraud’s glucose agar, 6
days, at room temperature. B.Conidiophores from Sabouraud’s
glucose agar. X 825

b. Patologis dan Gambaran Klinis

Penyebab aspergilosis paru pada manusia yang paling sering

adalah jamur Aspergillus fumigatus (95%). Spesies lain yang dapat

menginfeksi manusia adalah Aspergillus fumigatus, Aspergillus

niger, Aspergillus clavatus dan Aspergillus nidulans. Aspergilosis

paru-paru dapat terlihat secara nyata berupa bentuk bola jamur

yang tumbuh pada rongga yang sebelumnya sudah ada (misalnya

rongga tuberkulosis, sinus para nasalis, bronkiektasis) di mana

Aspergillus tidak memasuki jaringan. Manifestasi klinis aspergilosis

paru dapat dibedakan dalam beberapa bentuk yakni:

 Aspergiloma

Gejala klinis yang paling utama ialah batuk darah dan gejala

lain bergantung pada underlying disease, sering ditemukan pada

205
pasien dengan kelainan paru berupa kavitas yang berhubungan

dengan saluran nafas. Kavitas tersebut merupakan lesi residu

sekunder pada bekas TB paru atau TB paru.

Aspergiloma paru tidak berespons terhadap terapi anti jamur

dan paling diobati dengan tindakan konservatif, kecuali jika

terlihat hemoptisis yang masif, pada kasus seperti ini diperlukan

reseksi pembedahan dan sering kali bisa menyembuhkan.

Aspergiloma paranasal berespons baik terhadap reseksi

pembedahan. Aspergiloma dapat merupakan akibat dari respons

antibodi terhadap antigen Aspergillus.

Aspergiloma paranasal berespons baik terhadap reseksi

pembedahan. Aspergiloma dapat merupakan akibat dari respons

anti bodi terhadap antigen Aspergillus.

 Aspergilosis Invasif

Didapatkan pada pasien dengan neutropenia. Penyakit ini

bersifat progresif dan kematian dapat terjadi dalam waktu 1-3

minggu (bergantung pada beratnya supresi sistem imun pasien).

Bentuk kedua granuloma invasif aktif ini dengan Aspergillus yang

menyebar dalam paru-paru, menimbulkan pneumonia nekrotik,

hemoptisis, dan penyebaran sekunder ke organ-organ lain. Hal ini

terutama terjadi pada orang dengan imunodefisiensi atau

imunosupresi dan memerlukan pengobatan aktif dengan obat anti

206
jamur berupa flusitosin dan amfoterisin B. (Flusitosin kadang-

kadang ditambahkan, tetapi keuntungannya masih diragukan).

 Aspergilosis Nekrotikans

Merupakan bentuk antara aspergiloma dan aspergilosis

invasif. Gejala klinis dapat berupa sesak nafas, batuk kronik,

demam, penurunan berat badan, keringat malam dan batuk darah

berulang. Aspergilosis nekrotikans menimbulkan aspergilosis

paru-paru alergik, disertai asma, eosinofilia, titer IgE serum yang

tinggi, dan invasi jaringan minimal tetapi bronkogram abnormal.

Infeksi umumnya terjadi pada pasien perokok lama yang

mengalami kerusakan jaringan paru. Jamur tumbuh pada rongga

udara yang abnormal dan perlahan-lahan menginvasi dan merusak

jaringan paru, mengakibatkan terbentuknya kavitas fibrotik.

Penyakit ini bersifat kronik dan menjadi progresif dalam beberapa

tahun. Alergic Bronchopulmonary Aspergilosis (ABPA), merupakan

bentuk reaksi alergi dan biasanya ditemukan pada pasien dengan

asma dan fibrosis kistik. Aspergillus berproliferasi pada mukus

yang pekat dan menimbulkan respons imun. Antibodi terhadap

Aspergillus mungkin dapat ditemukan tetapi hanya mempunyai

manfaat diagnostik yang kecil. Ada yang menyatakan bahwa

antigen galaktomannan yang ditemukan dalam peredaran darah

207
merupakan bukti adanya aspergilosis invasif. Kortikosteroid

bermanfaat untuk mengurangi gejala.

Pada selaput lendir terutama pada sinus maksilaris dan

sinus frontalis terjadi karena jamur tersebut yang hidup di rongga

hidung masuk ke dalam sinus. Pada gambar rontgen terlihat

gumpalan dalam sinus yang merupakan suatu aspergiloma. Gejala

yang ditimbulkan menyerupai gejala sinusitis karena sebab lain.

Aspergillus dapat merusak tulang dan dapat menembus ke rongga

mata dan rongga kepala.

Pada alat dalam lain, dari paru Aspergillus dapat menyebar

kealat dalam lain melalui darah. Hal ini sering terjadi pada

penderita leukemia, keganasan lain, transplantasi organ dan pada

defisiensi imun misalnya AIDS. Alat dalam yang sering terkena

adalah otak, jantung dan ginjal.

 Sistem Saraf Pusat

Infeksi jamur pada sistem saraf pusat dari 57 kaus yang

dilaporkan Walsh dkk, diketahui 27 kasus disebabkan Candida

albicans, 16 % kasus oleh Aspergillus dan 14 % kasus oleh

Cryptococcus. Di antara penyakit jamur oportunistik, 90-95 %

disebabkan oleh jamur Aspergillus dan Candida.

Sudah diketahui bahwa aspergilosis terdapat dua tipe yaitu

primer dan sekunder. Aspergilosis primer hanya menyerang paru

208
dan nasofaring, sedangkan aspergilosis sekunder menyerang organ

lain, termasuk Sistem saraf pusat, melalui penyebaran hematogen

dari fokus primer yang berda di paru. Lesi pada sistem saraf pusat

dapat terbentuk abses, atau arteritis karena invasi jamur ke

pembuluh darah.

Gejala meningitis, antara lain sakit kepala, mual, muntah,

kaku kuduk. Ensefalitis ringan ditandai dengan gangguan

kesadaran yaitu disorientasi, confuse dan gangguan memori, serta

edemapail, kelumpuhan saraf, atau kejang.

 Aspergilosis pada Ginjal

Infeksi Aspergilus spp dapat meluas secara hematogen ke

ginjal. Pada sedikit kasus prostat, dan testis dapat terkena.

Kontaminasi secara langsung dari luka, misalnya selama prosedur

bedah sistem urogenital, dapat terjadi aspergilosis urogenital

primer.

Aspergillus pada ginjal dapat menimbulkan infark ginjal

akibat okulasi pembuluh darah oleh hipa, atau uropati obtruktif

akibat gumpalan jamur (fungus ball). Keluhan dapat berupa nyeri

pinggang dan nyeri tekan ginjal, disertai demam. Hematuria dan

piuria dapat juga terjadi. Sedangkan pada prostat sangat

menyerupai gejala dan tanda obtruksi infravesikal akibat

pembesaran prostat.

209
c. Diagnosis

Bahan klinis yang diperlukan ialah kerokan kulit, kuku,

sputum, bilasan bronkus. Pada pemeriksaan langsung dengan KOH

ditemukan spora atau hifa dan pada biakan akan tumbuh jamur

penyebab. Untuk menekan pertumbuhan kuman ditambahkan

antibiotik pada medium agar Sabouroud dektrosa. Untuk

memperkuat diagnosis dilakukan pemeriksaan serologis.

Diagnosis aspergilosis sebagian besar bergantung pada

adanya fragmen hifa dalam jaringan biopsi dengan pewarnaan

metenamin-perak. Pengobatan aspergilosis invasif pada penderita

dengan imunosupresi hanya memberi hasil sedikit. Hal yang sama

berlaku pula untuk endoftalmitis Aspergillus setelah pembedahan,

yang mesti jarang ditemukan, biasanya cepat mengakibatkan

kehilangan mata yang terinfeksi. Aspergilosis prostat dapat dideteksi

dengan pemeriksaan jamur dari jaringan prostat maupun urin,

dengan pewarnaan Gomori Methenamine Silver Stain (GMS) atau

Periodic-acid Schiff (PAS).

d. Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan radiologi: Dengan pemeriksaan BNO-IVP atau

CT-scan.

210
e. Pengobatan

Sebelum ditemukan obat polyene, pengobatan aspergilosis

dilakukan dengan larutan KJ secara oral. Pengobatan topikal pada

kulit dan kuku dilakukan dengan larutan azol. Obat pilihan untuk

aspergilosis sistemik ialah amfoterisin-B yang diberikan secara

intravena seperti pasa histoplasmosis dan intrakonazol dengan dosis

2 x 100 mg sehingga penyembuhan tercapai yaitu gejala hilang dan

hasil pemeriksaan serologis negatif.

Derivat triazol yang dapat dgunakan untuk aspergilosis

sistemik ialah itrakonazol. Obat tersebut dapat diberikan 11-2 x 200

mg/hari hingga gejala hilang dan pemeriksaan serologik menjadi

negatif.

f. Prognosis dan Epidemiologi

Prognosis biasanya baik pada aspergilosis paru bila faktor

predisposisi dapat diatasi. Tetapi bila keadaan telah lanjut prognosis

menjadi buruk. Bila batuk darah tidak dapat diatasi, diperlukan

pembedahan.

Aspergillus terdapat di alam sebagai saprofit dan hampir

semua bahan dapat ditumbuhi jamur tersebut, terutama di daerah

tropik dengan kelembaban yang tinggi. Sifat ini memudahkan jamur

ini menimbulkan penyakit bila terdapat faktor predisposisi.

211
6.2.4 Zigomikosis

Zigomycetes saprofit rumpun Mukorales misalnya Mucor,

Rhizopus. Zigomycetes ini kadang-kadang menginfeksi sekelompok

inang spesifik. Predisposisi zigomikosis di antaranya pasien diabetes

mellitus yang disertai asidosis, luka bakar yang luas, leukemia,

limfoma, pasien yang diobati dengan deferoksamin, penyakit kronis

lainnya.

Rhizopus dan spesies lainnya masuk ke dalam tubuh dan

berproliferasi dalam dinding pembuluh darah dan menimbulkan

trombosis. Hal ini sering terjadi sebagai mukormiokosis rinoserebral;

dimana organisme ini masuk melalui selaput mukosa palatum atau

nasal atau sinus paranasalis. Biasanya sering menyebar ke daerah

retroorbital, sinus-sinus lain, arteri karotidregional dan internal dan

otak. Terjadi nekrosis iskemik dengan penghancuran jaringan yang

masif. Walaupun jarang dapat terjadi zigomikosis pulmoner,

gastrointestinal dan menyebabkan penghancuran jaringan dengan

cepat.

Dalam jaringan terdapat hifa yang lebar, tidak bersepta, dan

ireguler di dalam pembuluh atau sinus yang dipenuhi trombosis dengan

dikelilingi oleh sel datia dan leukositik. Pemberian amfoterisin B

sistemik dan pembuangan secara pembedahan yang agresif terhadap

212
jaringan yang terinfeksi menghasilkan perbaikan dan kadang-kadang

penyembuhan.

213