Anda di halaman 1dari 10

FISIKA BANGUNAN

“AKUSTIK ALAMI”

DISUSUN OLEH :

AULIA PRATIWI (D051181022)


ANDI AHAMD YUSUF YUNUS (D051181335)
ANSFRIDUS ELANG PATALAS (D051181701)

DEPARTEMEN TEKNIK ARSITEKTUR

FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS HASANUDDIN

2019
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Akustik (dari bahasa Yunani akouein = mendengar) adalah ilmu terapan yang
dimaksudkan untuk memanjakan indra pendengaran Anda di suatu ruang tertutup
terutama yang relatif besar. Arsitek Romawi dari abad ke 1 Marcus Pollio sudah mulai
melakukan pengamatan cermat tentang gema dan interferensi (getaran-getaran suara asli
dan getaran pantulan yang saling menghilangkan) dari suatu ruangan. Namun baru pada
tahun 1856 akustik ini mulai dibangun sebagai suatu ilmu oleh Joseph Henry dan
akhirnya dikembangkan penuh oleh Wallace Sabine di tahun 1900.
Akustik adalah ilmu interdisipliner yang berkaitan dengan studi dari semua
gelombang mekanik dalam gas, cairan, dan padatan termasuk getaran, USG, suara, dan
infrasonik. Akustik sendiri memiliki definisi sebagai teori gelombang suara dan
perambatannya pada suatu medium. Seorang ilmuwan yang bekerja di bidang akustik
adalah acoustician sementara seseorang yang bekerja di bidang teknologi akustik dapat
disebut seorang insinyur akustik.
Akustik merupakan satu bidang ilmu yang mempelajari tentang suara atau bunyi
yang ditimbulkan dari benda yang bergetar. Apa itu suara? Suara atau bunyi dapat
didefinisikan sebagai gelombang yan bergerak dalam medium baik gas, cair maupun
padat. Untuk menggambarkan rupa dari suatu gelombang bunyi kita dapat melakukan
percobaan dengan memberikan usikan pada air atau tali maka akan tampak aliran getaran
(energy getaran) yang merupakan gambaran dari bunyi.

1.2 Rumusan Masalah


1. Apa yang dimaksud dengan akustik dan kebisingan?
2. Apa saja faktor-faktor yang mendasari masalah akustik?
3. Apa saja jenis-jenis kebisingan itu dan darimanakah sumber kebisingan tersebut?
4. Berapa nilai ambang batas kebisingan sebenarnya?
5. Faktor alami apa saja yang menjadi penyebab sekaligus sebagai reduksi kebisingan
serta bagaimana pengaruh dan teknik pengendalian kebisingan tersebut terhadap
kesehatan?
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Akustik secara Umum

Kata akustik berasal dari bahasa Yunani ”akuostikos” yang berarti, segala sesuatu
yang bersangkutan dengan pendengaran pada suatu kondisi ruang yang dapat
mempengaruhi mutu bunyi. Akustik mempunyai tujuan untuk mencapai kondisi
pendengaran suara yang sempurna yaitu murni, merata, jelas dan tidak berdengung
sehingga sama seperti aslinya, bebas dari cacat dan kebisingan. Akustik mempunyai
ruang lingkup yang sangat luas dan menyentuh ke hampir semua segi kehidupan
manusia. Akustik lingkungan adalah menciptakan suatu lingkungan, dimana kondisi
ideal disediakan, baik dalam ruang tertutup maupun di udara terbuka.

2.2 Faktor-faktor yang Mendasari Masalah Akustik

Berikut faktor – faktor yang mendasari masalah akustik adalah :


1. Sumber suara
2. Perambatan suara
3. Penerimaan suara
4. Intensitas suara
5. Frekuensi suara

Faktor – faktor lain yang juga ikut mempengaruhi keberhasilan tata suara didalam ruang
antara lain faktor konstruksi bangunan, kualitas dan sifat bahan serta kondisi lingkungan.

2.3 Pengertian Kebisingan

Kebisingan adalah suara di tempat kerja berubah menjadi salah satu bahaya kerja
(occupational hazard) saat keberadaannya dirasakan mengganggu atau tidak diinginkan
secara fisik (menyakitkan pada telinga pekerja) dan psikis (mengganggu konsentrasi dan
kelancaran komunikasi) yang akan menjadi polutan bagi lingkungan, sehingga
kebisingan didefinisikan sebagai polusi lingkungan yang disebabkan oleh suara (Sihar
Tigor B.T., 2005). Kebisingan adalah semua suara yang tidak dikehendaki yang
bersumber dari alat-alat proses produksi dan atau alat-alat kerja yang pada tingkat
tertentu dapat menimbulkan gangguan pendengaran (PER.13/MEN/X/2011).
2.4 Jenis – Jenis Kebisingan

Menurut Buchari (2007), kebisingan dibagi menjadi 4 jenis yaitu :

1. Kebisingan yang kontinyu dengan spektrum frekuensi yang luas, misalnya mesin-
mesin, dapur pijar, dan lain-lain.
2. Kebisingan yang kontinyu dengan spektrum frekuensi yang sempit, misalnya gergaji
serkuler, katup gas, dan lain-lain.
3. Kebisingan terputus-putus (intermitten/interuted noise) adalah kebisingan dimana
suara mengeras dan kemudian melemah secara perlahan-lahan, misalnya lalu-lintas,
suara kapal terbang di lapangan udara.

Berdasarkan pengaruhnya terhadap manusia, bising dibagi atas:

a) Bising yang mengganggu (irritating noise). Intensitas tidak terlalu keras,


misalnya mendengkur.
b) Bising yang menutupi (masking noise). Merupakan bunyi yang menutupi
pendengaran yang jelas. Secara tidak langsung bunyi ini akan mempengaruhi
kesehatan dan keselamatan pekerja, karena teriakan isyarat atau tanda bahaya
tenggelam dari bising dari sumber lain.
c) Bising yang merusak (damaging/injurious noise), adalah bunyi yang melampaui
NAB. Bunyi jenis ini akan merusak/menurunkan fungsi pendengaran.

2.5 Nilai Ambang Batas Kebisingan

NAB menurut Kepmenaker No. per-51/ MEN/ 1999, ACGIH, 2008 dan SNI 16- 7063-
2004 adalah 85dB untuk pekerja yang sedang bekerja selama 8 jam perhari atau 40 jam
perminggu. Nilai ambang batas untuk kebisingan di tempat kerja adalah intensitas
tertinggi dan merupakan rata-rata yang masih diterima tenaga kerja tanpa menghilangkan
daya dengar yang tetap untuk waktu terus-menerus tidak lebih dari 8 jam sehari atau 40
jam perminggu.
2.6 Sumber Kebisingan
Sumber bising dalam pengendalian kebisingan lingkungan dapat diklasifikasikan
menjadi dua, yaitu:
a. Bising interior,
Bising yang berasal dari manusia, alat-alat rumah tangga atau mesin-mesin gedung
yang antara lain disebabkan oleh radio, televisi, alat-alat musik, dan juga bising yang
ditimbulkan oleh mesin-mesin yang ada digedung tersebut seperti kipas angin, motor
kompresor pendingin, pencuci piring dan lain-lain.

b. Bising eksterior,

Bising yang dihasilkan oleh kendaraan transportasi darat, laut, maupun udara, dan
alat-alat konstruksi.

Sifat suatu kebisingan ditentukan oleh intensitas suara, frekuensi suara, dan waktu
terjadinya kebisingan.

2.7 Faktor Alami

Faktor-Faktor alami penyebab dan perambat (sebagai reduksi) kebisingan, yakni :

1. Jarak
Gelombang bunyi memerlukan waktu untuk merambat. Dalam kasus di permukaan
bumi, gelombang bunyi merambat melalui udara. Dalam perjalanannya, gelombang
bunyi akan mengalami penurunan intensitas karena gesekan dengan udara.

2. Serapan Udara
Udara mempunyai massa. Udara mengisi ruang kosong diatas bumi dan digunakan
oleh suara untuk merambat. Namun adanya udara juga sebagai penghambat
gelombang suara. Gelombang suara akan mengalami gesekan dengan udara. Udara
yang kering akan lebih menyerap udara daripada udara lembab, karena adanya uap
air akan memperkecil gesekan antara gelombang bunyi dengan massa udara. udara
yang bersuhu rendah akan lebih menyerap suara daripada udara bersuhu tinggi,
karena suhu rendah membuat udara menjadi lebih rapat sehingga gesekan terhadap
gelombang bunyi akan lebih besar.
3. Angin
Arah angin akan mempengaruhi besarnya frekuensi bunyi yang diterima oleh
pendengar. Arah angin yang menuju pendengar akan mengakibatkan suara terdengar
lebih keras, begitu juga sebaliknya.

4. Permukaan Bumi
Permukaan bumi yang berupa tanah dan rumput, merupakan barrier yang sangat
alami. Suara yang datang akan terserap langsung. Sebaliknya, permukaan yang
tertutup aspal jalan atau konblok akan langsung memantulkan bunyi.

2.8 Pengaruh Paparan Bising Terhadap Kesehatan

Sanders dan Mc Cormick, 1987, dan Pulat, 1992, dalam Tarwaka (2004) menyatakan
bahwa pengaruh pemaparan kebisingan secara umum ada dua berdasarkan tinggi
rendahnya intensitas kebisingan dan lamanya waktu pemaparan, yaitu:

1. Pengaruh kebisingan intensitas tinggi (di atas NAB)

a) Pengaruh kebisingan intensitas tinggi terjadinya kerusakan pada indera


pendengaran yang dapat menurunkan pendengaran baik yang bersifat sementara
maupun permanen atau ketulian.
b) Pengaruh kebisingan akan sangat terasa apabila jenis kebisingannya terputus-
putus dan sumbernya tidak diketahui.
c) Secara fisiologis, kebisingan dengan intensitas tinggi dapat menyebabkan
gangguan kesehatan seperti, meningkatnya tekanan darah (± 10 mmHg),
peningkatan nadi, konstriksi pembuluh darah perifer terutama tangan dan kaki.
d) Serta dapat menyebabkan pucat, gangguan sensoris dan denyut jantung, risiko
serangan jantung meningkat, dan gangguan pencernaan.

2. Pengaruh kebisingan intensitas rendah (di bawah NAB)


Secara fisiologis intensitas kebisingan yang masih di bawah NAB tidak
menyebabkan kerusakan pendengaran, namun demikian kehadirannya sering dapat
menurunkan performasi kerja, sebagai salah satu penyebab stres dan gangguan
kesehatan lainnya. Stres yang disebabkan karena pemaparan kebisingan dapat
menyebabkan antara lain:
a) Stres menuju keadaan cepat marah, sakit kepala, dan gangguan tidur. Seperti
halnya dampak dari bising intensitas tinggi, bising intensitas rendah juga dapat
merangsang situasi reseptor vestibular dalam telinga yang akan menimbulkan
efek pusing/vertigo. Perasaan mual, susah tidur, dan sesak nafas disebabkan oleh
rangsangan bising terhadap sistem saraf, keseimbangan organ, kelenjar endokrin,
tekanan darah, sistem pencernaan, dan keseimbangan elektrolit.
b) Gangguan reaksi psikomotorik.
c) Kehilangan konsentrasi.
d) Gangguan konsentrasi antara lawan bicara. Biasanya disebabkan masking effect
(bunyi yang menutupi pendengaran yang kurang jelas) atau gangguan kejelasan
suara. Komunikasi pembicaraan harus dilakukan dengan berteriak. Gangguan ini
mengakibatkan terganggunya pekerja, sampai pada kemungkinan terjadinya
kesalahan karena tidak mendengar isyarat atau tanda bahaya. Gangguan
komunikasi ini secara tidak langsung membahayakan keselamatan seseorang.
e) Penurunan performasi kerja yang kesemuanya itu akan bermuara pada kehilangan
efisiensi dan produktivitas.

2.9 Pengendalian Kebisingan


Secara konseptual teknik pengendalian kebisingan yang sesuai dengan hirarki
pengendalian risiko (Tarwaka, 2008) adalah :

1) Eliminasi
Eliminasi merupakan suatu pengendalian risiko yan bersifat permanen dan harus
dicoba untuk diterapkan sebagai pilihan prioritas utama. Eliminasi dapat dicapai
dengan memindahkan objek kerja atau sistem kerja yang berhubungan dengan
tempat kerja yang kehadirannya pada batas yang tidak dapat diterima oleh ketentuan,
peraturan dan standart baku K3 atau kadarnya melebihi Nilai Ambang Batas (NAB).

2) Subtitusi
Pengendalian ini dimaksudkan untuk menggantikan bahan-bahan dan peralatan yang
berbahaya dengan bahan-bahan dan peralatan yang kurang berbahaya atau yang
lebih aman, sehingga pemaparannya selalu dalam batas yang masih bisa ditoleransi
atau dapat diterima.
3) Engineering Control
Pengendalian dan rekayasa tehnik termasuk merubah struktur objek kerja untuk
menceganh seseorang terpapar kepada potensi bahaya, seperti pemberian pengaman
pada mesin.

4) Isolasi
Isolasi merupakan pengendalian risiko dengan cara memisahkan seseorang dari
objek kerja. Pengendalian kebisingan pada media propagasi dengan tujuan
menghalangi paparan kebisingan suatu sumber agar tidak mencapai penerima,
contohnya : pemasangan barier, enclosure sumber kebisingan dan tehnik
pengendalian aktif (active noise control) menggunakan prinsip dasar dimana
gelombang kebisingan yang menjalar dalam media penghantar dikonselasi dengan
gelombang suara identik tetapi mempunyai perbedaan fase 1800 pada gelombang
kebisingan tersebut dengan menggunakan peralatan control.

5) Pengendalian Administratif
Pengendalian administratif dilakukan dengan menyediakan suatu sistem kerja yang
dapat mengurangi kemungkinan seseorang terpapar potensi bahaya. Metode
pengendalian ini sangat tergantung dari perilaku pekerja dan memerlukan
pengawasan yang teratur untuk dipatuhinya pengendalian secara administratif ini.
Metode ini meliputi pengaturan waktu kerja dan waktu istirahat, rotasi kerja untuk
mengurangi kelelahan dan kejenuhan.

6) Alat Pelindung Diri


Alat pelindung diri secara umum merupakan sarana pengendalian yang digunakan
untuk jangka pendek dan bersifat sementara, ketika suatu sistem pengendalian yang
permanen belum dapat diimplementasikan. APD (Alat Pelindung Diri) merupakan
pilihan terakhir dari suatu sistem pengendalian risiko tempat kerja. Antara lain dapat
dengan menggunakan alat proteksi pendengaran berupa : ear plug dan ear muff. Ear
plug dapat terbuat dari kapas, spon, dan malam (wax) hanya dapat digunakan untuk
satu kali pakai. Sedangkan yang terbuat dari bahan karet dan plastik yang dicetak
(molded rubber/ plastic) dapat digunakan berulang kali. Alat ini dapat mengurangi
suara sampai 20 dB(A).
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Kata akustik berasal dari bahasa Yunani ”akuostikos” yang berarti, segala sesuatu
yang bersangkutan dengan pendengaran pada suatu kondisi ruang yang dapat
mempengaruhi mutu bunyi. Akustik mempunyai tujuan untuk mencapai kondisi
pendengaran suara yang sempurna yaitu murni, merata, jelas dan tidak berdengung
sehingga sama seperti aslinya, bebas dari cacat dan kebisingan. Faktor – faktor yang
mendasari masalah akustik adalah Sumber suara, Perambatan suara, Penerimaan
suara, Intensitas suara, dan Frekuensi suara.

NAB menurut Kepmenaker No. per-51/ MEN/ 1999, ACGIH, 2008 dan SNI 16-
7063-2004 adalah 85dB untuk pekerja yang sedang bekerja selama 8 jam perhari atau
40 jam perminggu. Sumber kebisingan terbagi atas dua yaitu bising interior atau
bising dari manusia itu sendiri dan bising eksterior atau bising yang bersumber dari
luar diri manusia seperti kendaraan, angina dan sebagainya.

Adapun reduksi faktor-faktor alami yang menjadi penyebab kebisingan antara lain
jarak, serapan udara, angin, dan permukaan bumi. Secara konseptual teknik
pengendalian kebisingan terdiri dari eliminasi, subtitusi, engineering control, isolasi,
pengendalian administrative, dan alat pelindung diri.
DAFTAR PUSTAKA

 http://docplayer.info/36674204-Pengaruh-vegetasi-dalam-meredam-tingkat-kebisingan-
lalu-lintas-jalan-raya-di-kawasan-taman-wisata-alam-twa-punti-kayu-
palembang.html#download_tab_content

 https://nanudz.blog.uns.ac.id/2011/09/16/noise-and-silencer-material/

 http://zahrawania.blogspot.com/2011/05/akustik-alami.html