Anda di halaman 1dari 8

JOURNAL READING

GEJALA DEPRESI SELAMA EPISODE SKIZOPRENIA AKUT :


FREKUENSI DAN HUBUNGAN KLINIS
DEPRESSIVE SYMPTOMPS DURING AN ACUTE SCHIZOPHRENIC
EPISODE : FREQUENCY AND CLINICAL CORRELATES

HALAMAN JUDUL
Oleh :

Gusti Ayu Teja Devi Megapuspita


(1302006027)

Pembimbing :

dr. A.A. Sri Wahyuni, Sp.KJ

DALAM RANGKA MENJALANI KEPANITERAAN KLINIK MADYA


BAGIAN/SMF PSIKIATRI FAKULTAS KEDOKTERAN UNUD
RSUP SANGLAH DENPASAR
2018
Gejala Depresi selama Episode Skizoprenia Akut : Frekuensi dan Hubungan
Klinis
Depressive Symptoms during an Acute Schizophrenic Episode : Frequency and
Clinical Correlates

Ravi Philip Rajkumar


Department of Psychiatry, Jawaharlal Institute of Postgraduate Medical Education and Research
(JIPMER), Pondicherry 605 006, India

PENDAHULUAN
Gejala depresi sering terlihat pada pasien dengan skizofrenia. Gejala-gejala ini
dapat terjadi selama fase prepsikotik atau "prodromal", selama episode awal
skizofrenia, pada pasien sakit kronis, dan bahkan pada pasien yang telah stabil
dalam pengobatan. Dalam sejumlah besar pasien, gejala-gejala ini berat dan cukup
untuk memenuhi syarat diagnosis sindrom depresi sesuai standar kriteria
diagnostik. Hal ini juga mungkin terkait dengan distress atas gejala seperti delusi
paranoid atau pengalaman stigma yang telah dialami oleh pasien.
Depresi berhubungan dengan risiko usaha bunuh diri yang lebih tinggi,
kualitas hidup yang lebih rendah, fungsional sehari-hari yang lebih buruk, dan
waktu rawat inap yang lebih lama. Oleh karena itu, penting untuk lebih
memahami variabel klinis yang terkait dengan gejala depresi pada berbagai fase
skizofrenia. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa selama episode akut
skizofrenia, depresi dikaitkan dengan gejala positif psikosis, sedangkan pada fase
kronis atau stabil lebih berkorelasi dengan gejala negatif. Penelitian ini bertujuan
untuk menambah temuan tersebut dengan menilai korelasi klinis gejala depresi
pada sampel pasien di rumah sakit yang mengalami episode akut skizofrenia.

METODE
Pengambilan sampel menggunakan teknik konsekutif dimana sampel merupakan
pasien yang datang ke layanan psikiatri dengan episode akut skizofrenia selama
periode Januari 2013 - Desember 2014. Kriteria inklusi adalah (a) pasien yang
terdiagnosis skizofrenia sesuai dengan pedoman Diagnostic and Statistical
Manual, Fourth Edition, Text Revision (DSM-IV-TR), yang didiagnosis oleh
konsultan psikiater setelah evaluasi oleh dokter residen, (b) episode akut,
didefinisikan sebagai gejala psikotik baru atau gejala psikotik berulang yang baru

1
memulai pengobatan antipsikotik, memerlukan perubahan dalam terapi
sebelumnya, atau yang memerlukan rawat inap, (c) usia 18 hingga 60 tahun, dan
(d) mendapat persetujuan tertulis dari pasien atau keluarga. Pasien dengan
gangguan skizoafektif sebanyak 3 sampel di eksklusi, karena gejala afektif yang
ditunjukkan oleh pasien ini akan mengacaukan interpretasi hasil.
Sebanyak 72 pasien dilibatkan dalam penelitian ini. Informasi demografis
dasar (usia, jenis kelamin, dan status perkawinan dan pendidikan) dan rincian
perjalanan penyakit pasien, seperti usia onset dan jumlah episode, diperoleh
dengan mewawancarai pasien dan keluarga, dilengkapi dengan catatan medis
yang ada. Semua gejala psikotik pasien dinilai menggunakan PANSS dan fungsi
dalam kehidupan sehari-hari dinilai dengan Global Assessment of Functioning
Scale (GAF). Gejala depresi dinilai menggunakan Skala Depresi CDSS.
Instrumen ini secara khusus dirancang untuk mengukur depresi pada pasien
dengan skizofrenia, untuk menghindari tumpang tindih dengan gejala negatif atau
efek samping ekstrapiramidal yang diinduksi obat antipsikotik.
Skor 6 atau lebih pada CDSS digunakan sebagai nilai cut-off untuk
menunjukkan gejala depresi yang signifikan secara klinis. Pasien dengan skor di
atas dan di bawah cut-off dibandingkan pada variabel kategori (seperti jenis
kelamin atau subtipe diagnostik) menggunakan uji chi-square dengan koreksi
Bonferroni, dan pada variabel berkelanjutan (seperti PANSS dan GAF skor)
dengan menggunakan sampel independen 𝑡-tes. Korelasi antara skor depresi dan
ukuran psikopatologi lainnya dinilai dengan menggunakan koefisien korelasi
Spearman. Semua tes merupakan two-tailed, dan nilai 𝑝 <0,05 dianggap
signifikan.

HASIL
Sampel penelitian terdiri dari 72 pasien, 42 wanita dan 30 pria. Mayoritas sampel
(𝑛 = 60, 83,3%) dirawat di rumah sakit pada saat penelitian. Usia rata-rata sampel
adalah 32,68 ± 8,24 tahun (kisaran 18-53 tahun), dan mayoritas pasien (𝑛 = 53,
73,6%) mengalami episode pertama skizofrenia saat evaluasi. Rata-rata skor
CDSS responden adalah 2,76 namun, skor ini tidak terdistribusi normal, dan
minoritas substansial (𝑛 = 11 pasien, 15,3%) memiliki skor CDSS 6 atau lebih

2
besar, menunjukkan gejala depresi yang relevan secara klinis. Perbandingan
antara pasien tersebut dan sisa sampel penelitian dirangkum dalam Tabel 1. Pasien
dengan gejala depresi yang signifikan memiliki tingkat upaya bunuh diri dengan
kekerasan yang lebih tinggi (𝑝 <0,01 dalam kedua kasus, uji Fisher exact) dan
membuat lebih banyak upaya bunuh diri seumur hidupnya (Mann-Whitney 𝑈 =
599,5, 𝑝 <0,01). Mereka memiliki skor yang lebih tinggi secara signifikan pada
subnilai psikopatologi umum dan PANSS positif, tetapi bukan pada total skor
PANSS. Indeks psikopatologi PANSS, dihitung menggunakan rumus (skor positif
PANSS - skor negatif PANSS), juga secara signifikan lebih tinggi pada pasien ini.
Meskipun kedua kelompok memiliki tingkat fungsi yang rendah karena gejala
psikotik aktif mereka, kelompok dengan gejala depresi yang signifikan memiliki
fungsi yang lebih buruk (Mann-Whitney 𝑈 = 175,0, 𝑝 = 0,012).
Selain analisis pada Tabel 1, penulis juga memeriksa korelasi antara total
skor CDSS dan ukuran psikopatologi dan fungsi. Skor CDSS berkorelasi positif
dengan positif PANSS (Spearman's 𝜌 = 0,335, 𝑝 <0,01) dan psikopatologi umum
(Spearman 𝜌 = 0,272, 𝑝 = 0,021) subscores; di sisi lain, itu secara signifikan
berkorelasi negatif dengan subset sindrom negatif PANSS (Spearman's 𝜌 =
−0.365, 𝑝 <0,01). Item umum PANSS G6 (depresi) berkorelasi sangat positif
dengan skor CDSS, menunjukkan konvergensi yang baik antara dua ukuran
depresi (Spearman's 𝜌 = 0,522, 𝑝 <0,01). Total skor GAF dan total skor CDSS
berkorelasi terbalik satu sama lain (Spearman 𝜌 = −0,317, 𝑝 <0,01)

3
Tabel 1
Perbandingan antara pasien dengan dan tanpa gejala depresi yang signifikan
secara klinis.
Variabel Pasien Variabel dengan gejala Pasien tanpa gejala depresi
depresi yang signifikan (𝑛 = yang signifikan
11) (𝑛 = 61)
Usia saat presentasi, tahun 32,9 (8,41) 32,63 (8,28)
Jenis kelamin
Pria 5 (45%) 25 (41%)
Wanita 6 (55%) 36 (59%)

Status pernikahan
Single 4 (36%) 29 (48%)
Menikah 6 (55%) 30 (49%)
Cerai atau terpisah 1 (9%) 2 (3%)
Tahun pendidikan formal 10.45 (3.86) 9.67 (3.44)
Tempat tinggal
Urban 7 (64%) 31 (51%)
Rural 4 (36%) 30 (49%)
Usia saat onset, tahun 27,45 (4,5) 27,03 (8,18)
Durasi penyakit, tahun 2 (0,5-22) 4 (0,5-30) †
Jumlah rawat inap 1,55 (1,51) 1,16 (0,69)
Total durasi rawat inap, hari 36,6 (33,67) 25,61 (19,8) ¶
Episode pertama skizofrenia 9 (82%) 44 (72%)
Subtipe skizofrenia
Paranoid 9 (82%) 27 (44%)
Catatonic - 6 (10%)
Hebephrenic - 2 (3%)
Tidak dibedakan 2 (18%) 26 (43%)
Kehadiran gejala psikotik tertentu
Delusi,
11 (100%)
44 (72%)
Halusinasi, 8 (73%) 48 (79%)
Gejala katatonik - 17 (28%)
Pidato atau pemikiran yang tidak 1 (9%) 5 (8%)
terorganisir
Perilaku tidak terorganisir 2 (18%) 23 (38%)
Skor PANSS
Subskala positif 23,27 (3,16) 19,38 (4,66) ∗∗
Subskala negatif 15,81 (6,71) 19,87 (7,84)
Psikopatologi umum subskala 47.18 (9.25) 39.9 (7.82) ∗∗
Indeks psikopatologi 7.45 (6.76) −0.49 (10.0) ∗∗
Total 86.27 (14.01) 79.14 (14.73)
Upaya bunuh diri, seumur hidup 9 (82%) 11 (18%) ∗∗
Upaya bunuh diri yang keras, 7 (64%) 7 (12%) ∗∗
seumur hidup
Jumlah percobaan bunuh diri 1,91 (1,64) 0,33 (0,87) ∗∗
Skor GAF 23,55 (6,25) 29,28 (6,36) ∗
Indeks massa tubuh, kg / m2 23,97 (4,35) 22,92 (4,24)
Diagnosis komersil
Gangguan obsesif-kompulsif 2 (18%) -
Ketergantungan nikotin 3 (27%) 11 (18%)
Ketergantungan alkohol - 2 (3%)

4
Semua nilai diberikan sebagai rata-rata (standar deviasi) atau frekuensi (persentase).
PANSS: Skala Sindrom Positif dan Negatif untuk Skizofrenia; GAF: Penilaian Global Skala
Fungsional.
∗ Signifikan pada 𝑝 <0,05.
∗∗ Signifikan di 𝑝 <0,01.
¶ Dihitung untuk total 64 pasien yang telah dirawat di rumah sakit, 54 tanpa dan 10 dengan depresi
yang signifikan.
† Diberikan sebagai median (kisaran).

DISKUSI
Responden umumnya memiliki tingkat gejala depresif yang rendah, jika
dibandingkan dengan hasil CDSS pada populasi umum. Namun, lebih dari 15%
dari mereka memiliki gejala depresi yang relevan secara klinis. Pasien dengan
tingkat depresi yang signifikan memiliki tingkat perilaku bunuh diri yang lebih
tinggi secara signifikan, meskipun ini didefinisikan secara kategoris dalam hal
jumlah upaya bunuh diri. Gejala depresi memiliki hubungan dengan dimensi
psikosis dalam sampel pasien penulis. Hubungan ini telah ditemukan dalam studi
sebelumnya pada pasien dengan psikosis aktif. Disampaikan sebelumnya bahwa
gejala berbasis suasana hati tertentu, seperti rasa bersalah, mengarah pada
pengembangan delusi paranoid. Namun, kita tidak bisa menetapkan arah kausal
hubungan antara depresi dan delusi dalam penelitian ini karena penelitian ini
hanya menggunakan metode cross-sectional.
Gejala depresi dan delusi dapat saling mempengaruhi karena memiliki
korelasi positif. Sebaliknya, depresi berbanding terbalik dengan ukuran gejala
negatif. Ini adalah temuan yang tidak terduga, gejala negatif telah ditemukan
berkorelasi positif dengan depresi pada pasien stabil dengan skizofrenia kronis.
Penjelasan yang mungkin untuk ini adalah bahwa gejala negatif dapat mewakili
mekanisme pertahanan penghindaran terhadap tekanan psikologis dan trauma
yang disebabkan oleh pengalaman gejala psikotik positif dan gejala depresi
mungkin muncul ketika pertahanan tersebut gagal.
Gejala depresi dikaitkan dengan fungsi yang buruk, temuan yang tetap
signifikan meskipun skor rata-rata GAF rendah di seluruh sampel. Hal ini sesuai
dengan literatur sebelumnya yang menunjukkan bahwa depresi dikaitkan dengan

5
hasil fungsional yang lebih buruk dan menekankan perlunya pemahaman yang
lebih baik dan manajemen yang lebih efektif dari sindrom depresi ini pada pasien
dengan skizofrenia. Penelitian ini memiliki beberapa keterbatasan. Pertama,
penulis hanya menilai variabel predisposisi yang menarik, seperti trauma masa
kanak-kanak yang terkait dengan gejala depresi pada psikosis. Kedua, penulis
tidak memeriksa pengaruh potensial dari pengobatan, seperti antipsikotik tipikal
atau atipikal, baik dalam depresi memburuk atau memperbaiki. Ketiga, penulis
tidak melakukan penilaian mendalam tentang tilikan, yang merupakan korelasi
penting dari depresi pada skizofrenia. Keempat, penulis tidak menilai kualitas
hidup pasien yang subjektif atau obyektif, yang juga diketahui dipengaruhi oleh
depresi. Kelima, karena bersifat cross-sectional penelitian ini tidak dapat menilai
hubungan antara gejala depresi dan dimensi gejala psikotik lainnya dari waktu ke
waktu. Karena ukuran sampel yang kecil, kesimpulan yang dapat ditarik dari data
ini terbatas. Sebagai kesimpulan, penelitian ini menggarisbawahi fakta bahwa
gejala depresi adalah masalah klinis yang signifikan pada pasien yang mengalami
episode psikotik akut dan memiliki hubungan khusus dengan domain
psikopatologi lainnya. Mekanisme psikologis yang mungkin mendasari hubungan
ini masih tetap spekulatif tetapi layak untuk dieksplorasi lebih lanjut. Hal ini dapat
menjadi acuan perbaikan dalam pengelolaan gejala depresi, yang mengarah ke
peningkatan fungsi dan mengurangi risiko bunuh diri.

KESIMPULAN
Gejala depresi merupakan hal yang umum terjadi pada skizofrenia dan
berhubungan dengan fungsi sehari-hari yang lebih buruk, kualitas hidup yang
lebih rendah, dan peningkatan risiko perilaku bunuh diri. Sejumlah 72 pasien yang
sakit akut dengan skizofrenia yang dinilai gejala depresinya menggunakan Skala
Depresi Calgary untuk Skizofrenia (CDSS) dengan skor cut-off ≥6 untuk
mengidentifikasi gejala depresi yang signifikan secara klinis memperoleh hasil 11
(15,3%) pasien memiliki gejala depresi yang signifikan secara klinis. Pasien-
pasien ini mendapat skor lebih tinggi pada skala psikopatologi positif dan umum
dari PANSS dan memiliki tingkat perilaku bunuh diri yang lebih tinggi dan fungsi
yang lebih buruk. Tingkat keparahan gejala depresi berkorelasi positif dengan

6
subskala positif PANSS dan berkorelasi negatif dengan subskala negatif PANSS.
Penelitian ini mengkonfirmasi bahwa bahwa gejala depresi adalah masalah klinis
yang signifikan pada pasien yang mengalami episode psikotik akut dan memiliki
hubungan khusus dengan domain psikopatologi lainnya. Gejala depresi pada
skizofrenia aktif terkait dengan tingkat keparahan gejala psikotik positif dan
merupakan faktor risiko untuk perilaku bunuh diri.