Anda di halaman 1dari 3

Makanan yang Mengandung Vitamin C dan Protein

Bengkoang atau Pachyrhizus erosus telah lama digunakan sebagai bahan kosmetika tradisional sejak
puluhan tahun yang lalu. Bahkan sampai sekarang banyak diproduksi sediaan kosmetik terutama untuk
perawatan kulit, pemutih serta tabir surya menggunakan bahan dasar bengkoang. Namun demikian,
informasi kandungan vitamin A, vitamin C dan alpha hydroxyl acid (AHA) yang ada dalam bengkoang
belum dipublikasikan. Senyawa-senyawa tersebut sangat bermanfaat dalam perawatan kulit karena
memiliki aktivitas sebagai pemacu regenerasi sel, antioksidan dan peeling sel kulit yang mati. Penelitian
ini bertujuan untuk memberikan informasi ketiga kandungan senyawa tersebut. Dalam penelitian ini,
vitamin A dianalisis secara spektrofotometri, vitamin C secara titrasi dan AHA dianalisis menggunakan
kromatografi gas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kandungan vitamin A dan vitamin C dalam
bengkoang berturut-turut 179,21 ± 8,19 ppm dan 0,31 ±

Berdasarkan hasil tersebut, maka bengkoang dapat dikembangkan sebagai bahan kosmetika exfoliant
dengan efek meremajakan kulit. Kandungan vitamin C dalam bengkoang telah dilakukan dengan titrasi
menggunakan 2,6diklorofenolindofenol (DCIP) dan diperoleh hasil 0,31 ± 0,06% berat kering sesuai
dengan Tabel II, sedangkan reaksi kimia antara vitamin C dan pereaksi 2,6-diklorofenolindofenol
disajikan dalam Gambar 3. Metode titrasi menggunakan 2,6diklorofenolindofenol memiliki selektifitas
rendah yaitu dapat bereaksi dengan reduktor selain vitamin C. Untuk meminimalisir interferensi
reduktor lain, maka digunakan norit. Perendaman sampel dengan asam metafosfat bertujuan untuk
mencegah kerusakan vitamin C oleh enzim pengoksidasi yang ada dalam sampel. Berdasarkan hasil
penelitian ini, bengkoang memiliki kandungan vitamin C meskipun sangat rendah, sehingga
pemanfaatan bengkoang sebagai antioksidan hanya berdasarkan kandungan vitamin C sangat
kurang menguntungkan.

https://www.google.com/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=4&cad=rja&uact=8&ved=2ahUK
Ewi6rKypytPhAhVHcCsKHQCwDiIQFjADegQIBhAC&url=https%3A%2F%2Fjurnal.ugm.ac.id%2FTradMedJ
%2Farticle%2Fdownload%2F10726%2F8059&usg=AOvVaw01FA1fPd02K4N30MvuPzvq

https://www.google.com/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=1&cad=rja&uact=8&ve
d=2ahUKEwil9JugvdPhAhVBO48KHSvaAMAQFjAAegQIAxAC&url=http%3A%2F%2Fstaff
new.uny.ac.id%2Fupload%2F130799888%2Fpenelitian%2Fsayuran.pdf&usg=AOvVaw2viyS1
CtgoazFx5zlmsUYW

https://www.google.com/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=1&cad=rja&uact=8&ve
d=2ahUKEwiPgKe6vNPhAhXMqo8KHXReA-
8QFjAAegQIBBAC&url=http%3A%2F%2Frepository.ipb.ac.id%2Fjspui%2Fbitstream%2F123
456789%2F41862%2F1%2F10-c.pdf&usg=AOvVaw1abOeAs1zXs9gajmFnYdby

Dari hasil perhitungan, kandungan asam askorbat secara berurutan dari yang tertinggi yaitu
didapatkan pada buah jeruk, jambu, apel dan pepaya dengan konsentrasi masing-masing adalah
96,8; 49,86; 49,57; 48,4 (mg/100g). Sedangkan kandungan antioksidan asam askorbat pada asam
jawa kurang lebih setara dengan mangga, yaitu 41,06 mg/100g.

Beberapa jenis buah dikenal sebagai sumber vitamin C (asam askorbat).Jambu monyet dilaporkan
mengandung vitamin C sebanyak 197 mg/100 g. Sedangkan apel, jeruk manis dan mangga masing-
masing mengandung vitamin C sebesar 5 mg/100g, 49 mg/100g, dan 61 mg/100g (Aina dan
Suprayogi, 2011). Asam askorbat dikenal memiliki sifat yang mudah larut dalam air dan mudah
rusak dengan pemanasan yang terlalu lama. Beberapa faktor yang mempengaruhi konsentrasi asam
askorbat pada suatu bahan makanan adalah : jangka waktu penyimpanan, paparan sinar matahari,
dan faktor pemanasan (Sinaga, 2011). Sebagaimana dijelaskan oleh Almatsier (2004) bahwa
proses pencucian dan pemasakan buah dengan pemanasan yang terlalu lama dapat menghilangkan
kandungan asam askorbat. Mukaromah dkk, (2010) dalam kajiannya melaporkan bahwa
penambahan gula untuk memproses pembuatan sirup menggunakan buah rosella justru dapat
melindungi hilangnya asam askorbat.Hal ini disebabkan sifat vitamin C yang merupakan senyawa
reduktor, asam-asamaskorbat berada dalam keseimbangandengan asam dehidroaskorbat.Dalam
suasanaasam, cincin lakton asam dehidroaskorbat teruraidengan membentuk senyawa
diketogulonatsehingga vitamin C terlindung dengan adanya penambahan senyawa gula. Dengan
demikian, proses pengolahan bahan/buah harus senantiasa diperhatikan agar memperoleh kadar
vitamin c yang paling optimal. Pengujian kandungan asam askorbat menggunakan metode titrasi
iodium. Prinsip kerja metode ini adalah iodium memiliki potensial reduksi yang lebih tinggi
dibandingkan dengan asam askorbat, sehingga iodium akan mengoksidasi senyawa asam askorbat
dengan membentuk asam dehidroaskorbat. L-diketogulonat memiliki sifat reduktor yang lemah
dibandingkan asam askorbat dan dehidroaskorbat sehingga tidak dapat dioksidasi oleh iodium.
Pengujian dengan metode ini cukup mudah dan relatih murah, namun kurang efektif untuk
mengukur kandungan asam askorbat, karena dalam bahan pangan terdapat komponen lain selain
asam askorbat yang juga bersifat pereduksi. Senyawa tersebut mempunyai titik akhir yang sama
dengan warna titik akhir titrasi asam askorbat dengan iodin. Indikator titrasi menggunakan amilum
untuk mengetahui titik akhir titrasi dengan memberikan perubahan warna menjadi biru kehitaman
(Monalisa, dkk. 2013). Berdasarkan hasil perhitungan, kandungan asam askorbat secara berurutan
dari yang tertinggi yaitu didapatkan pada buah jeruk, jambu, apel dan pepaya dengan konsentrasi
masing-masing adalah 96,8; 49,86; 49,57; 48,4 (mg/100g). Sedangkan kandungan antioksidan
asam askorbat pada asam jawa kurang lebih setara dengan mangga, yaitu 41,06 mg/100g.
Beberapa jenis buah dikenal sebagai sumber vitamin C (asam askorbat).Jambu monyet dilaporkan
mengandung vitamin C sebanyak 197 mg/100 g. Sedangkan apel,

Simpulan

Konsentrasi asam askorbat bervariasi pada berbagai jenis buah.Nilai konsentrasi asam askorbat
tertinggi hingga terendah secara berturut-turut ditemukan pada buah jeruk, jambu, apel dan pepaya,
Sedangkan kandungan antioksidan asam askorbat pada asam jawa kurang lebih setara dengan
mangga. Konsentrasi asam askorbat juga dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu: jangka waktu
penyimpanan buah, paparan sinar matahari, dan faktor pemanasan serta pengolahan

Sumber

https://www.google.com/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=1&ved=2ahUKEwi6pN
aV1dPhAhWW7HMBHUyZBewQFjAAegQIBRAB&url=http%3A%2F%2Fjournal.uad.ac.id%
2Findex.php%2FBIOEDUKATIKA%2Farticle%2Fview%2F4130%2F0&usg=AOvVaw2WiBL
4stRWgTDP8lY1jwVr