Anda di halaman 1dari 18

KEPEMIMPINAN

MAKALAH

Diajukan Sebagai Salah Satu Tugas Kewirausahaan


Program Studi Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan
Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar
Oleh:

ANDI RARA PRAMEI


70600116043

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER


FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UIN ALAUDDIN MAKASSAR
2019
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT, atas segala rahmat-Nya, sehingga


penyusunan makalah dengan judul “Kepemimpinan” ini dapat terselesaikan
dengan baik. Makalah ini disusun guna memenuhi tugas mata kuliah kewirausahaan
tentang “Kepemimpinan”. Penulis menyadari dalam makalah ini masih banyak
kekeliruan dan kekurangan yang menyebabkan makalah ini masih jauh dari kata
sempurna. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dari pembaca yang bersifat
membangun demi kesempurnaan makalah ini. Harapan penulis atas terbentuknya
makalah ini, semoga makalah ini memberikan informasi bagi mahasiswa dan
bermanfaat untuk pengembangan ilmu pengetahuan bagi kita semua.

Makassar, 31 Mei 2019


Penulis,

Andi Rara Pramei

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR. ........................................................................................ i


DAFTAR ISI ....................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ....................................................................................... 1
B. Rumusan Masalah . ................................................................................. 3
C. Tujuan .................................................................................................... 3
BAB II PEMBAHASAN
A. Pengertian Kepemimpinan ...................................................................... 4
B. Tugas dan gaya kepemimpinan. .............................................................. 5
C. Fungsi kepemimpinan ............................................................................. 7
D. Tipe-tipe dalam kepemimpinan............................................................... 9
E. Kepemimpinan dalam perspektif Islam ............................................... 10
BAB III PENUTUP .......................................................................................... 14
DAFTAR PUSTAKA ....................................................................................... 15

ii
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pemimpin negara adalah faktor penting dalam kehidupan bernegara.
Jika pemimpin negara itu jujur, baik, cerdas dan amanah, niscaya rakyatnya
akan makmur. Sebaliknya jika pemimpinnya tidak jujur, korup, serta
menzalimi rakyatnya, niscaya rakyatnya akan sengsara. Oleh karena itulah
Islam memberikan pedoman dalam memilih pemimpin yang baik. Dalam
Al Qur’an, Allah SWT memerintahkan ummat Islam untuk memilih
pemimpin yang baik dan beriman:
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuh-Ku dan
musuhmu menjadi teman-teman setia yang kamu sampaikan kepada mereka
(berita-berita Muhammad),karena rasa kasih sayang; padahal sesungguhnya
mereka telah ingkar kepada kebenaran yang datang kepadamu, mereka
mengusir Rasul dan (mengusir) kamu karena kamu beriman kepada Allah,
Tuhanmu. Jika kamu benar-benar keluar untuk berjihad di jalan-Ku dan
mencari keridhaan-Ku (janganlah kamu berbuat demikian). Kamu
memberitahukan secara rahasia (berita-berita Muhammad) kepada mereka,
karena rasa kasih sayang. Aku lebih mengetahui apa yang kamu
sembunyikan dan apa yang kamu nyatakan. Dan barangsiapa di antara kamu
yang melakukannya, maka sesungguhnya dia telah tersesat dari jalan yang
lurus.”(QS. 60. Al-Mumtahanah : 1).
Pada prinsipnya menurut Islam setiap orang adalah pemimpin. Ini sejalan
dengan fungsi dan peran manusia di muka bumi sebagai khalifahtullah, yang
diberi tugas untuk senantiasa mengabdi dan beribadah kepada-Nya seperti
yang tercantum dalam Q.S Al-Baqarah : 30

1
Artinya :
Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat:"Sesungguh
nya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi." Mereka
berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumiitu
orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkandarah,
padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau
danmensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku
mengetahuiapa yang tidak kamu ketahui."

Kepemimpinan dalam pandangan Al-Quran bukan sekedar


kontrak sosial antara sang pemimpin dengan masyarakatnya, tetapi
merupakan ikatan perjanjian antara dia dengan Allah swt. Sebab
kepemimpinan melahirkan kekuasaan dan wewenang yang gunanya
semata-mata untuk memudahkan dalam menjalankan tanggung jawab
melayani rakyat. Semakin tinggi kekuasaan seseorang, hendaknya
semakin meningkatkan pelayanan kepada masyarakat. Bukan
sebaliknya, digunakan sebagai peluang untuk memperkaya diri,
bertindak zalim dan sewenang-wenang. Balasan dan upah seorang
pemimpin sesungguhnya hanya dari Allah swt di akhirat kelak, bukan
kekayaan dan kemewahan di dunia.
Dengan mengetahui hakikat kepemimpinan di dalam Islam serta
kriteria dan sifat-sifat apa saja yang harus dimiliki oleh seorang
pemimpin, maka kita wajib untuk memilih pemimpin sesuai dengan
petunjuk Al-Quran dan Hadits. Kaum muslimin yang benar-benar
beriman kepada Allah dan beriman kepada Rasulullah saw dilarang keras
untuk memilih pemimpin yang tidak memiliki kepedulian dengan
urusan-urusan agama (akidahnya lemah) atau seseorang yang
menjadikan agama sebagai bahan permainan/kepentingan tertentu.
Sebab pertanggungjawaban atas pengangkatan seseorang pemimpin akan
dikembalikan kepada siapa yang mengangkatnya (masyarakat tersebut).
Dengan kata lain masyarakat harus selektif dalam memilih pemimpin

2
dan hasil pilihan mereka adalah "cermin" siapa mereka. Hal ini sesuai
dengan hadits Nabi saw yang berbunyi: "Sebagaimana keadaan kalian,
demikian terangkat pemimpin
kalian”
B. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan Kepemimpinan?
2. Apa saja tugas dan gaya kepemimpinan?
3. Apa saja fungsi kepemimpinan?
4. Apa-apa saja tipe-tipe dalam kepemimpinan ?
5. Bagaimana kepemimpinan dalam perspektif Islam?
C. Tujuan
1. Untuk mengetahui Pengertian kepemimpinan
2. Untuk mengetahui apa tugas dan gaya kepemimpinan
3. Untuk mengetahui fungsi kepemimpinan
4. Untuk mengetahui tipe-tipe dalam kepemimpinan
5. Untuk mengetahui kepemimpinan dalam perspektiif Islam

3
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Kepemimpinan
Istilah kepemimpinan, dalam kamus bahasa Indonesia berasal dari
kata “pimpin” yang mempunyai arti “dibimbing”. Sedangkan kata
pemimpin itu sendiri mempunyai makna “orang yang memimpin.” Jadi
kepemimpinan adalah cara untuk memimpin. Terkait dengan definisi ini,
Muhammad Ryaas Rasyid mengatakan bahwa pemimpin bisa diartikan
seseorang yang terus menerus membuktikan bahwa ia mampu
mempengaruhi sikap dan tingkah laku orang lain. Dari sini dapat dipahami
bahwa kepemimpinan adalah sebuah konsep yang merangkum berbagai
segi, diantaranya adalah proses interaksi antara pemimpin dan yang
dipimpin dalam mengejar tujuan bersama.
Menurut Kadarusman (2012) kepemimpinan (Leadership) dibagi
tiga, yaitu: (1) Self Leadership; (2) Team Leadership; dan (3)
Organizational Leadership. Self Leadership yang dimaksud adalah
memimpin diri sendiri agar jangan sampai gagal menjalani hidup. Team
Leadership diartikan sebagai memimpin orang lain. Pemimpinnya dikenal
dengan istilah team leader (pemimpin kelompok) yang memahami apa yang
menjadi tanggung jawab kepemimpinannya, menyelami kondisi
bawahannya, kesediaannya untuk meleburkan diri dengan tuntutan dan
konsekuensi dari tanggung jawab yang dipikulnya, serta memiliki
komitmen untuk membawa setiap bawahannya mengeksplorasi kapasitas
dirinya hingga menghasilkan prestasi tertinggi. Sedangkan organizational
leadership dilihat dalam konteks suatu organisasi yang dipimpin oleh
organizational leader (pemimpin organisasi) yang mampu memahami nafas
bisnis perusahaan yang dipimpinnya, membangun visi dan misi
pengembangan bisnisnya, kesediaan untuk melebur dengan tuntutan dan
konsekuensi tanggung jawab sosial, serta komitmen yang tinggi untuk
menjadikan perusahaan yang dipimpinnya sebagai pembawa berkah bagi
komunitas baik di tingkat lokal, nasional, maupun internasional.

4
Kepemimpinan dapat juga diartikan sebagai proses atau kemampuan
mempengaruhi, memberi inspirasi, dan mengarahkan tindakan seseorang
atau kelompok melalui proses komunikasi untuk mencapai tujuan yang
diharapkan. Seperti yang diungkapkan Edwin A. Fleishman; "Leadership is
an attempt at influencing the activities of followers through the
communication process and toward the affair meant of some goals".
Kepemimpinan diidentikkan pula dengan proses mengarahkan dan
mempengaruhi aktivitas-aktivitas yang ada hubungannya dengan pekerjaan
para anggota kelompok. Tiga implikasi penting yang terkandung dalam hal
ini adalah, Pertama; kepemimpinan melibatkan orang lain baik itu bawahan
maupun pengikut. Kedua; kepemimpinan melibatkan pendistribusian
kekuasaan antara pemimpin dan anggota kelompok secara seimbang.
Ketiga; adanya kemampuan untuk menggunakan bentuk kekuasaan yang
berbeda untuk mempengaruhi tingkah laku pengikutnya.
Secara keseluruhan pembahasan tersebut telah mengungkap beberapa hal
penting dalam kepemimpinan yaitu :
1. Adanya pemimpin dan orang lain yang dipimpin.
2. Adanya upaya atau proses mempengaruhi dari pemimpin kepada
orang lain melalui berbagai kekuatan.
3. Adanya tujuan akhir yang ingin dicapai.
4. Kepemimpinan bisa timbul di dalam atau di luar organisasi tertentu.
5. Kepemimpinan berbeda dalam situasi tertentu baik situasi pengikut
ataupun lingkungan eksternal.
B. Tugas dan gaya Kepemimpinan
1. Tugas pemimpin
Kepemimpinan merupakan hasil organisasi sosial yang
didalamnya berlangsung dinamika interaksi sosial. Dalam struktur
masyarakat sederhana munculnya seorang pemimpin tidak pernah
jauh dari pengambilan peran yang dilakukan. Keberadaan pemimpin
sangat diperlukan dalam keadaan dimana tujuan kelompok
mengalami ancaman dari lingkungan luar. Disinilah peran

5
pemimpin sebagai pengambil keputusan diharapkan mampu
membawa kelompoknya keluar dari berbagai kesulitan.
Dalam sudut pandang sosiologis, secara keseluruhan
terdapat tiga tugas pokok pemimpin. Pertama; Memberikan suatu
kerangka pokok yang jelas dan dapat dijadikan pegangan bagi para
pengikutnya. Dengan adanya kerangka tersebut, maka dapat disusun
suatu skala prioritas mengenai keputusan-keputusan yang perlu
diambil guna menanggulangi persoalan yang dihadapi (yang
sifatnya potensial atau nyata). Apabila timbul pertentangan, maka
kerangka pokok tersebut dapat digunakan sebagai pedoman untuk
menyelesaikannya. Kedua; Mengawasi, mengendalikan serta
mengarahkan perilaku para pengikutnya. Ketiga; Bertindak sebagai
wakil kelompok kepada dunia luar.
2. Gaya kepemimpinan
Gaya kepemimpinan merupakan norma perilaku yang
digunakan pada saat seseorang mencoba mempengaruhi perilaku
orang lain. Dalam hal ini usaha menyelaraskan persepsi diantara
orang yang akan mempengaruhi dan dipengaruhi menjadi amat
penting kedudukannya. Terkait hal ini, Soerjono Soekanto
mengungkap bahwa terdapat tiga gaya kepemimpinan yang lazim
digunakan, yaitu otoriter, demokratis dan cara-cara bebas.
a. Otoriter, dengan ciri pokok
1) Pemimpin melakukan segala kegiatan kelompok secara
sepihak.
2) Pengikut sama sekali tidak diajak untuk ikut serta
merumuskan tujuan kelompok dan cara-cara untuk
mencapainya.
3) Pemimpin terpisah dan seakan-akan tidak ikut dalam proses
interaksi dalam kelompok tersebut.
b. Demokratis, dengan ciri umum

6
1) Secara musyawarah dan mufakat pemimpin mengajak para
pengikut untuk ikut serta merumuskan tujuan serta cara-cara
mencapainya.
2) Pemimpin secara aktif memberikan saran dan petunjuk
3) Ada timbal balik kritik positif.
4) Pemimpin secara aktif ikut ambil bagian dalam
kegiatankegiatan kelompok.
c. Cara-cara bebas, dengan ciri
1) Pemimpin menjalankan perannya secara pasif
2) Penentuan tujuan yang akan dicapai sepenuhnya diserahkan
kepada kelompok.
3) Pemimpin hanya menyediakan sarana yang diperlukan
kelompok
4) Pemimpin berada ditengah-tengah kelompok, namun tidak
lebih dari seorang penonton
Kemudian yang perlu dipahami bahwa, pada hakekatnya ketiga
kategori tersebut tidak bersifat mutlak terpisah, akan tetapi secara
simultan ataupun kombinasi ketiganya dapat diterapkan, tergantung
situasi dan kondisi yang dihadapi.
C. Fungsi Kepemimpinan
Kepemimpinan dapat berjalan dengan baik apabila fungsinya telah
terpenuhi, oleh sebab itu seorang pemimpin haruslah dapat menggunakan
peran yang dimilikinya secara optimal sehingga akan dapat mewujudkan
fungsi kepemimpinan dengan kerja sama dari orang-orang yang
dipimpinnya. Fungsi pemimpin adalah memandu, menuntun, membimbing,
memotivasi, menjalin komunikasi yang baik, mengorganisasi, mengawasi,
dan membawa kelompoknya pada tujuan yang telah diterapkan.
Adapun Menurut Veithzal Rivai, secara operasional dapat dibedakan
atas:
a. Fungsi Instruktif

7
Pemimpin berfungsi komunikasi yang menentukan apa (itu
perintah), bagaimana (cara mengerjakan perintah), bilamana (waktu
memulai, melaksankan, dan melaporkan hasilnya), dan dimana
(tempat mengerjakan perintah) agar keputusan dapat diwujudkan
secara efektif sehingga fungsi orang yang dipimpin hanyalah
melaksanakan perintah.
b. Fungsi Konsultif
Pemimpin dapat menggunakan fungsi konsultif sebagai komunikasi
dua arah. Hal tersebut digunakan manakala pemimpin dalam usaha
menetapkan keputusan yang memerlukan bahan pertimbangan dan
berkonsultasi dengan orang-orang yang dipimpinnya.
c. Fungsi Partisipasi
Dalam menjalankan fungsi partisipasi pemimpin berusaha
mengaktifkan orang-orang yang dipimpinnya, baik
dalampengambilan keputusan maupun dalam melaksanakannya.
Setiap anggota kelompok memperoleh kesempatan yang sama
untuk berpartisipasi dalam melaksanakan kegiatan yang dijabarkan
dari tugas-tugas pokok, sesuai dengan posisimasing-masing.
d. Fungsi Delegasi
Dalam menjalankan fungsi delegasi, pemimpin memberikan
pelimpahan wewenang membuat atau menetapkan keputusan.
Fungsi delegasi sebenarnya adalah kepercayaan seorang pemimpin
kepada orang yang diberi kepercayaan untuk pelimpahan
wewenang dengan melaksanakannya secara bertanggung jawab.
Fungsi pendelegasian ini, harus diwujudkan karena kemajuan
perkembangan kelompok tidak mungkin diwujudkan oleh
seseorang pemimpin seorang diri.
e. Fungsi Pengendalian
Fungsi pengendalian berasumsi bahwa kepemimpinan yang efektif
harus mampu mengatur aktifitas anggotanya secara terarah dan
dalam koordinasi yang efektif, sehingga memungkunkan

8
tercapainya tujuan bersama secara maksimal. Dalam
melaksanakannya fungsi pengendalian, pemimpin dapat
mewujudkan melalui kegiatan bimbingan, pengarahan, koordinasi,
dan pengawasan.
Sedangkan menurut Sondang P. Siagian dalam bukunya “Teori dan
Praktek Kepemimpinan” menyatakan ada empat fungsi kepemimpinan yang
hakiki yaitu:
1) Pimpinan selalu penentu arah, yang akan ditempuh dalam usaha pencapaian
tujuan. Arah yang hendak ditempuh oleh organisasi menuju tujuannya harus
sedemikian rupa sehingga mengoptimalkan pemanfaatan dari segala sarana
dan prasarana.
2) Pimpinan sebagai wakil dan juru bicara organisasi dalam hubungan dengan
pihak-pihak di luar organisasi. Tidak ada organisasi yang mampu mencapai
tujaun tanpa memelihara hubungan baik dengan pihak di luar organisasi.
3) Pimpinan sebagai komunikasi yang efektif. Pada hakikatnya berkomunikasi
berarti mengalihkan suatu peran dari satu pihak kepada pihak lain dimana
dikatakan efektif bila pesan yang diinginkan disampaikan oleh sumber
pesan diterima dan diartikan oleh sasaran komunikasi dalam bentuk jiwa
dan semuanya persis yang dimaksud suatu pesan.
4) Pimpinan sebagai mediator Sebagai mediator pimpinan difokuskan pada
penyelesaian situasi konflik yang mungkin timbul dalam suatu organisasi
tanpa mengurangi pentingnya situasi konflik yang mungkin timbul dalam
hubungan keluar yang dihadapai dan diatasi.
D. Tipe-Tipe dalam Kepemimpinan
Ada 3 Tipe Kepemimpinan, yaitu:
a. Tipe Otokratis
Dalam tipe otokratis (otoriter) dibagi menjadi 3, yaitu:
1) Tipe otokratis keras, mempunyai sifat memegang
teguh/keras prinsipprinsip yang sudah ditetapkan, misalnya
“bisnis” adalah bisnis”, tidak mau mendelegasikan

9
wewenang dan tidak menyenangi inisiatif/ masukan dari
bawahan.
2) Tipe otokratis baik, mempunyai sifat selain otokratis, ada
beban pikiran lain untuk berbuat dan bertanggung jawab,
baik terhadap bawahan/karyawan.
3) Tipe otokratis inkompeten, mempunyai sifat berusaha
mendominasi orang lain, berusaha untuk berkuasa mutlak,
tidak imbang jiwanya, tingkah lakunya tergantung emosi
sesaat, memaksa bawahan/karyawan mematuhi semua
perintahnya tanpa mempertimbangkan kemampuan
bawahannya.
b. Tipe Demokratis dibagi menjadi 2, yaitu:
1) Tipe demokratis tulen, mempunyai sifat mau mendengarkan
masukan dari bawahannya, menekankan rasa tanggung
jawab, dan kerja sama yang baik pada setiap anggota
(bawahan)
2) Tipe demokratis palsu, mempunyai sifat berusaha untuk
menjadi demokratis. Kedemokratisanya tergantung pada
emosi dan banyaknya beban pikran (masalah) yang
dihadapi.
c. Tipe laiser faire, mempunyai sifat karakter lemah, tidak punya
pendirian yang kokoh, tidak dapat mengendalikan anak buah, tidak
mampu mengkoordinasikan bawahan, dan tidak bisa menciptakan
suasana kerja yang kooperatif
E. Kepemimpinan dalam perspektif Islam
Di dalam Islam konsep kepemimpinan sering disebut dengan
khalifah yang berarti wakil. Namun kemudian mengalami pergeseran
dengan masuknya kata amir atau penguasa. Oleh sebab itu kedua istilah ini
dalam bahasa Indonesia sering diasumsikan sebagai pemimpin formal.
Akan tetapi, apabila merujuk kepada firman Allah swt. Dalam surat al
Baqarah ayat 30 yaitu :

10
Artinya :
“ (Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat,
"Sesungguhnya Aku Hendak menjadikan seorang Khalifah di muka Bumi".
(Al Baqarah: 30)
Maka kedudukan nonformal dari seorang khalifah juga tidak bisa
dipisahkan lagi. Perkataan khalifah dalam ayat tersebut tidak hanya
ditujukan kepada para khalifah sesudah Nabi, tetapi adalah penciptaan Nabi
Adam a.s. yang disebut sebagai manusia dengan tugas untuk memakmurkan
bumi dan meliputi tugas menyeru orang lain berbuat amar ma'ruf dan
mencegah perbuatan mungkar.
Ayat ini mengisyaratkan bahwa, pada prinsipnya boleh-boleh saja
seseorang memohon kepada Allah agar dijadikan imam (pemimpin). Karena
ia memohon kepada Allah maka harus menjalankan kepemimpinannya
sesuai kemauan Allah. Yang dilarang adalah orangorang meminta jabatan
dan tidak dapat menjalankan, karena tidak mempunyai potensi dan
kemampuan.
Ibnu Khaldun berpendapat bahwa khalifah merupakan beban bagi
umat sepanjang pandangan syara’ untuk kemaslahatan akhirat dan dunia
yang akan kembali lagi. Sebab hal yang bersifat duniawi menurut syara’
semuanya dapat diibaratkan untuk kemaslahatan akhirat. Maka dari sini
dipahami bahwa dalam hakekatnya khalifah adalah pengganti pemimpin
syari’at (Nabi Muhammad saw) dalam memelihara Agama dan dunia.
Dalam hadis Rasulullah saw. Istilah pemimpin dijumpai dalam kata
Ra'in, seperti dalam sebuah hadits ..... ‫ )راع كلكم‬Setiap orang diantara kamu
adalah pemimpin). Dari uraian al-Qur'an dan Hadis di atas hal yang dapat
digaris bawahi, adalah bahwa kepemimpinan Islam merupakan kegiatan
menuntun, membimbing, memandu dan menunjukkan jalan yang diridloi
Allah swt. Kemudian dalam rangka memahami dasar konseptual

11
kepemimpinan dalam perspektif Islam paling tidak harus digunakan tiga
pendekatan yaitu normatif, historis dan teoritis.
Seorang pemimpin merupakan sebuah perisai yang melindungi
kaummnya, kedudukan seorang pemimpin sangatlah penting. Bahkan
digambarkan dalam sejarah Islam (Tarikh Islam) mengenai pentingnya
kedudukan pemimpin dalam kehidupan ummat muslim. Kita lihat dalam
sejarah, ketika Rasulullah saw. wafat, maka para shahabat segera
mengadakan musyawarah untuk menentukan seorang khalifah. Hingga
jenazah Rasulullah pun harus tertunda penguburanya selama tiga hari. Para
shahabat ketika itu lebih mementingkan terpilihnya pemimpin pengganti
Rasulullah, karena kekhawatiran akan terjadinya ikhlilaf (perpecahan) di
kalangan ummat muslim kala itu. Hingga akhirnya terpilihlah Abu Bakar
sebagai khalifah yang pertama setelah Rasulullah saw wafat.
Pemimpin ideal adalah pemimpin yang memiliki sifat-sifat sebagai
berikut:
a. Adil, yaitu yang meletakkan segala sesuatu secara proporsional,
tertib, dan disiplin. Pemimpin yang tidak berat sebelah, tidak pili-
pilih bulu, dan bijaksana dalam mengambil keputusan.
b. Amanah, artinya jujur, bertanggung jawab, dan mempertanggung
jawabkan seluruh titipan aspirasi masyarakat atau karywannya.
Tidak melakukan pengkhianatan kepada rakyatnya atau
karyawannya.
c. Fathonah, memiliki kecerdasan.
d. Tabliq, artinya menyampaikan segala hal dengan benar, tidak ada
yang ditutup-tutupi, terbuka, dan menerima saran atau kritik dari
bawahannya/karyawnnya.
e. Shiddiq, artinya benar, sebagai ciri dari perilaku pemimpin yang
adil, apa yang dikatakan sama dengan apa yang dilakuka.
f. Qona’ah, Artinya menerima apa adanya, tidak serakah, dan pandai
berterima kasih kepada Tuhan. Pemimpin yang qana’ah adalah

12
pemimpin yang tidak akan melakukan korupsi dan merugikan uang
negara, mengambinghitamkan masyarakat dan anak buahnya.
g. Siasah, adalah pemimpin yang pandai mengatur strategi guna
memperoleh kemaslahatan bagi masyarakat atau anak
buahnya/karywannya.
h. Sabar, artinya pandai mengendalikan hawa nafsu dan menyalurkan
seluruh tenaga serta pikiran dengan kecerdasan emosional yang
optimal.

13
BAB III
PENUTUP

Menjadi pemimpin adalah amanah yang harus dilaksanakan dan dijalankan


dengan baik oleh pemimpin tersebut, karena kelak Allah akan meminta
pertanggung jawaban atas kepemimpinannya itu.
Pemimpin merupakan titik sentral dan penentu kebijakan dari kegiatan yang
akan dilaksanakan dalam organisasi. Kepemimpinan Islam adalah suatu proses atau
kemampuan orang lain untuk mengarahkan dan memotivasi tingkah laku orang lain,
serta ada usaha kerjasama sesuai dengan Al-Qur’an dan Hadis untuk mencapai
tujuan yang diinginkan bersama.

14
DAFTAR PUSTAKA

1. Maimunah. 2017. Kepemimpinan Dalam Perspektif Islam Dan Dasar


Konseptualnya. Univeristas Islam Indragiri. Jurnal Al-Afkar. Vol. V, No. 1,
2. Miftah Thoha. 2004. Kepemimpinan dan Manajemen. Jakarta: PT
RajaGrafindo Persada
3. Sondang P. Siagian. 20013. Teori dan Praktek Kepemimpinan. Rineke
Cipta. Jakarta
4. Fridayana, Yudiaatmaja. 2013. Kepemimpinan:konsep, teori dan
karakternya. Media Komunikasi FIS Vol 12.No 2

15