Anda di halaman 1dari 16

ANOMALI KEBERAGAMAAN DALAM ISLAM

Disusn Guna Memenuhi Tugas

Mata Kuliah: Ilmu Islam Terapan

Dosen Pengampu: Mc. Mifrohul Hana M.E.Sy.

Disusun oleh:

1. Naily Yuniar P (1720210119)


2. Afifakhunnikmah (1720210127)
3. Muhammad Aslam Awwabi (1720210129)

PROGRAM STUDI EKONOMI ISLAM

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS ISLAM

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI KUDUS

2019
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Sikap keagamaan merupakan perwujudan dari pengalaman dan
penghayatan seseorang terhadap agama, dan agama menyangkut persoalan
bathin seseorang, karenanya persoalan sikap keagamaan pun tak dapat
dipisahkan dari kadar ketaatan seseorang terhadap agamanya. Sikap
keagamaan merupakan integrasi secara kompleks antara unsure kognisi
(pengetahuan), afeksi (penghayatan) dan konasi (perilaku) terhadap agama
pada diri seseorang, karenanya ia berhubungan erat dengan gejala jiwa pada
seseorang. Sikap keagamaan sangat dipengaruhi oleh faktor bawaan berupa
fithrah beragama; dimana manusia punya naluri untuk hidup beragama, dan
faktor luar diri individu, berupa bimbingan dan pengembangan hidup
beragama dari lingkungannya.
Dalam kehidupan di masyarakat, sering ditemui perilaku/ sikap
keagamaan yang menyimpang, maka dalam makalah ini dengan kajian
psikologis, akan dibahas tentang hal tersebut, pengertian anomali, pengertian
keberagamaan, penyimpangan perilaku keberagamaan, dan sebab-sebab
terjadinya penyimpangan agama.
B. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian anomali dan keberagamaan?
2. Apa saja konsep yang terdapat dalam anomali?
3. Bagaimana islam membangun persatuan dalam keberagamaan?
4. Bagaimana sikap remaja dalam beragama?
C. Tujuan
1. Dapat mengetahui pengertian anomali dan keberagamaan
2. Dapat mengetahui konsep yang terdapat dalam anomali
3. Dapat mengetahui bagaimana islam membangun persatuan dalam
keberagamaan
4. Dapat mengetahui sikap remaja dalam beragama
BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian Anomali dan Keberagamaan

Anomali adalah penyimpangan/kelainan, Ketidaknormalan.


Terminologi anomali dalam bahasa sehari-hari diartikan sebagai suatu keganjilan,
keanehan atau penyimpangan dari yang biasa atau dari keadaan normal yang
berbeda dari kondisi mayoritas. Dengan kata lain, anomali adalah penyimpangan
terhadap sesuatu yang biasa atau normal dan telah menjadi kondisi umum
atau mayoritas dalam suatu lingkungan tertentu. Dari pengertian tersebut
anomali umum ini mengandung dua dimensi, yaitu dimensi fisik dan perilaku. Dari
dimensi fisik misalnya anomali digambarkan sebagai suatu penyimpangan yang
dapat mengenai seluruh tubuh atau hanya satu bagian atau alat tubuh
manusia.Namun anomali yang dimaksud dan menjadi fokus kajian dalam studi ini
adalah dari dimensi perilaku.

Anomali dari dimensi perilaku ini lebih banyak diadaptasi khususnya


dalam ilmu psikologi, sosiologi dan ekonomi. Dalam bidang ilmu psikologi dan
sosiologi anomali merupakan suatu perilaku yang menyimpang, aneh, ganjil
dari perilaku yang biasa atau umum secara pribadi atau individu maupun
sosial (C.P. Chaplin, 1989). Dalam bidang ekonomi anomali misalnya dilihat pada
keadaan harga yang berlaku menyimpang dari harga yang seharusnya
berlaku.Adaptasi dalam ilmu politik secara konseptual masih terasa kurang, baru
sebatas pernyataan-pernyataan atau komentar para pengamat maupun ahli, karena
itu studi ini mencoba berusaha mengadaptasinya.

Konsep anomali umum atau yang biasa ini apabila diadaptasi dalam bidang
politik dapat dipahami dan dilihat dari misalnya dalam lingkungan kondisi
mayoritas yang korup, atau suatu tindakan korup telah menjadi sesuatu hal yang
biasa dan dilakukan oleh mayoritas, maka orang yang tidak melakukan perbuatan
korup akan dianggap anomali. Namun konsep anomali umum ini mengandung
kelemahan yaitu kurang memiliki kekuatan untuk bisa melakukan perubahan ketika
kondisi mayoritas tersebut diperhadapkan pada norma, yaitu ketentuan aturan,
hukum maupun toleransi sosial yang berlaku. Oleh karena itu dalam kaitan dengan
tema permasalahan studi, konsep anomali umum ini tidak sepenuhnya mampu
menjelaskan anomali yang terjadi pada institusi legislatif, karena
anomali legislatif lebih berkaitan dengan penyimpangan terhadap norma.

Anomali dengan demikian menjadi relevan untuk diterjemahkan tidak


sekedar penyimpangan dari yang biasa/umum atau kondisi mayoritas, tapi lebih
luas mencakup penyimpangan yang terjadi pada fungsi-fungsi pemerintahan dan
pelayanan publik yang dilakukan oleh para pejabat pemerintahan, termasuk
didalamnya wakil rakyat (anggota legislatif). Penyimpangan terhadap fungsi-
fungsi pemerintahan tersebut berkaitan dengan norma hukum yang berlaku, karena
itu dalam kaitan studi ini sangat penting untuk memahami konsep anomali terhadap
norma tersebut.1

Keberagamaan atau religiusitas merupakan tingkat pengetahuan,


keyakinan, pelaksanaan dan penghayatan seseorang atas ajaran agama yang
diyakininya, atau suatu sikap penyerahan diri kepada suatu kekuatan yang ada di
luar dirinya yang diwujudkan dalam aktivitas dan perilaku individu sehari-hari.

Dalam pendapat lain keberagamaan (religiosity) adalah perilaku yang


bersumber langsung atau tidak langsung kepada nash. Di pihak lain,
keberagamaan menunjuk pada rangkaian perbuatan, perilaku dan kegiatan
orang beriman yang telah melaksanakan ajaran tersebut, di dalam kehidupan
konkret mereka.

B. Konsep Anomali Umum dan Anomali Terhadap Norma

1
https;//osf.oi/rn69/download(diakses 21 maret 2019,pukul 21;10)
1. Anomali Umum

Terminologi anomali dalam bahasa sehari-hari diartikan sebagai


suatu keganjilan, keanehan atau penyimpangan dari yang biasa atau dari
keadaan normal yang berbeda dari kondisi mayoritas. Dengan kata lain
anomali adalah penyimpangan terhadap sesuatu yang biasa atau normal
dan telah menjadi kondisi umum atau mayoritas dalam suatu lingkunngan
tertentu. Dari pengertian tersebut anomali umum ini mengandung dua
dimmensi, yaitu dimensi fisik dan perilaku. Dari dimensi fisik misalnya
anomali digambarkan sebagai suatu penyimpangan yang dapat mengenai
seluruh tubuh atau hanya satu bagian atau alat tubuh manusia. Namun
anomali yang dimaksut dan menjadi fokus kajian dalam studi ini adalah
dari dimensi perilaku.

Anomali dari dimensi perilaku ini lebih banyak diadaptasi


khususnya dalam ilmu psikologi, sosiologi, dan ekonomi. Dalam bidang
ilmu psikologi dan sosiologi anomali merupakan suatu perilaku yang
menyimpang, aneh, ganjil, dari perilaku yang biasa atau umum secara
pribadi atau individu maupun sosial. Dalam bidang ekonomi anomali
misalnya dilihat pada keadaan harga yang berlaku menyimpang dari harga
yang seharusnya berlaku. Adaptasi dalam ilmu politik secara konseptual
masih terasa kurang, baru sebatas pernyataan-pernyataan atau komentar
para pengamat maupun ahli.

Konsep anomali umum atau yang biasa ini apabila diadaptasi


dalam bidang politik dapat dipahami dan dilihat dari misalnya dalam
lingkungan kondisi mayoritas yang korup, atau suatu tindakan korup telah
menjadi sesuatu hal yang biasa dilakukan oleh mayoritas, maka orang
yang tidak melakukan perbuatan korup akan dianggap anomali. Namun
konsep anomali umum ini mengandung kelemahan yaitu kurang memiliki
kekuatan untuk bisa melakukan perubahan ketika kondisi mayoritas
tersebut dihadapkan pada norma, yaitu ketentuan aturan, hukum maupun
toleransi sosial yang berlaku.

2. Anomali Terhadap Norma

Para ilmuwan sosial mengartikannya sebagai perilaku yang


dilarang, dibatasi, disensor, diancam hukuman, atau yang dianggap buruk,
sehingga istilah ini sering di dipadankan dengan pelanggaran aturan.
Pengertian dasar tentang anomali yang dimaksud yaitu bahwa anomali
adalah suatu bentuk perilaku yang menyimpang dari norma yang
seharusnya, sesuai aturan ketentuan, hukum maupun toleransi sosial
dalam suatu lingkungan tertentu. Istilah anomali dengan demikian
dapat dipakai untuk menunjukkan adanya perilaku anggota maupun
legislatif secara lembaga yang menyimpang dari norma kelembagaan
legislatif dalam menjalankan peran dan fungsinya sebagai institusi
perwakilan politik rakyat. 2

C. Islam Membangun Persatuan Dalam Keberagamaan

Dalam kaitannya dengan agama, islam merupakan petujuk bagi manusia


menuju jalan yang lurus, benar dan sesuai dengan tuntutan kitab suci Al-
Quran yang telah diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW. Kalau dikaitkan
dengan konteks perubahan zaman sekarang, bagaimana islam memandang
keberagamaan atau pluralitas yang ada di negeri ini, bahkan di dunia. Islam
sangat menjunjung keberagamaan atau pluralitas, karena keberagamaan
atau pluralitas merupakan sunnatullah, yang harus kita junjung tinggi dan
kita hormati keberadaannya.

2
Muhsin Albantani, Konsep Anomali. pdf
Dengan adanya keberagamaan ini, bukan berarti menganggap kelompok,
madzab, ataupun keberagamaan yang lain sejenisnya menganggap
kelokpoknyalah yang paling benar. Yang harus kita ketahui disini adalah,
keberagamaan sudah ada sejak zaman para sahabat, yaitu ketika Nabi wafat,
para sahabat saling mengklaim dirinyalah yang pantas untuk menjadi
pengganti Nabi. Ajaran islam mengutamakan persaudaraan atau ukhuwah
dalam menyikapi keberagamaan.

Ketegasan syariah islam memberikan gambaran betapa perhatiannya


Islam terhadap permasalahan keberagamaan, dengan mengutamakan
persaudaraan, keharmonisan, dan perdamaian.

Penyebab munculnya perbedaan aliran antara lain:

1. Adanya pergolakan politik dalam negeri


2. Mengalirnya pemikiran non-muslim
3. Akibat proses perubahan kultural dan politik, dari masyarakat
tradisional ke modern dan dari politik regional ke dunia

Islam memberikan beberapa prinsip dasar dalam menyikapi dan


memahami pluralisme ini

1. Prinsip keberagamaan yang lapang

Salahlah satu masalah yang serius dalam menyikapi


keberagamaan adalah masalah klaim kebenaran. Oleh sebab itu sikap
kelapangan dalam mencapai kebenaran ini bisa dikatakan sebagai
makna terdalam keislaman itu sendiri. Diceritakan dalam hadits Nabi
bersabda kepada sahabat Utsman bin Mazhun “Dan sesungguhnya
sebaik-baik agama disisi Allah adalah semangat pencarian kebenaran
yang lapang” (Al Hanafiyah Al Samhah).
2. Keadilan yang obyektif

Keadilan mencakup pandangan maupun tindakan kita terhadap


pemeluk agama lain. Kedangkalan dalam tindakan sering kali karena
kita tidak suka dan menganggap orang lain sebagai bukan bagian dari
kelompok kita maka kita bisa berbuat tidak adil terhadap mereka
dalam memutuskan hukum, interaksi sosial maupun hal-hal lain. Islam
mengajarkan bahwa kita harus menegakkan keadilan dalam sikap dan
pandangan ini dengan obyektif terlepas dari rasa suka atau tidak suka.

3. Menjauhi kekerasan dalam berinteraksi dengna pemeluk agama


lain termasuk ketika melakukan dakwah

Dalam berdakwah kita harus mengutamakan dialog,


kebijaksanaan dan cara-cara argumentatif lainnya. Tiap agama
mempunyai logikanya sendiri dalam memahami tuhan dan firmannya,
kedua bahwa dialog bukanlah dimaksudkan untuk saling menyerang
tetapi adalah upaya untuk mencapai kesepahaman, dan
mempertahankan keyakinan kita.

4. Menjadikan keragaman agama tersebut sebagai kompetisi positif


dalam kebaikan

Ketika da pemeluk agama lain berbuat amal sosial dengan


semisal melakukan advokasi terhadap masyarakat tertindas seperti
kaum buruh, pelecehan seksual, dan sebagainya maka kita tidak boleh
begitu mencurigainya sebagai gerakan permutadan atau bahkan
berusaha menggagalkannya tetapi hal tersebut haruslah menjadi
pemacu bagi kita kaum muslimin untuk berusaha menjadi lebih baik
dari mereka dalam hal amal sosial.
Kalau keempat prinsip ini bisa kita pegang Insya Allah akan tercipta
hubungan yang lebih harmonis antar umat beragama, hubungan yang
dilandasi oleh sikap saling menghargai, menghormati dan saling
membantu dalam kehidupan sosial. Sehingga kehadiran agama (khususnya
Islam) tidak lagi menjadi momok bagi kemanusiaan tetapi malah menajdi
rahmat bagi keberadaan tidak hanya manusia tetapi sekaligus alam
semesta ini. Manusia terbaik adalah yang bermanfaat terhadap yang
lainnya. 3

D. Sikap Remaja Dalam Beragama

Manusia pada waktu lahir belum membawa sikap, karena sikap itu
timbul dari hasil belajar yang diperoleh melalui pengalaman dan interaksi
serta komunikasi individu terus menerus dengan lingkungan sekitarnya.
Sikap termasuk salah satu bentuk kemampuan jiwa manusia yang berupa
kecenderungan terhadap suatu obyek. Kecenderungan itu dipengaruhi oleh
penilaian subjek terhadap obyek, penilaian itu sendiri didalamnya
mengandung pengetahuan-pengetahuan tentang obyek. Begitu juga sikap
remaja terhadap agama yang dipengaruhi oleh pengetahuan yang
dimilikinya.

Zakiah Daradjat membagi sikap remaja terhadap agama kepada


beberapa bagian, sebagaimana dibawah ini:

1. Percaya atau beragama turut-turutan

Suatu keluarga yang taat menjalankan agamanya,


menunjukkan bahwa ibu, bapak dan keluarganya taat dalam
beragama, sementara para remaja yang tinggal disekitarnya hanya

3
Muhammad Irpan, Bagaimana islam membangun persatuan dalam keberagamaan
(Muhmdirpan.wordpress.com)
ikut-ikutan melaksanakan ibadah dan mengamalkan ajaran-ajaran
agama. Kepercayaan dan pengalaman ibadah remaja yang tinggal
di sekitar orang taat beragama itu disebut dengan percaya turut-
turutan. Beragama seperti itu adalah lanjutan dari cara beragama
pada masa anak-anak yang bersifat meniru terhadap orang tuanya
seolah-olah pada diri remaja tidak terjadi perubahan dalam
beribadah dan kepercayaannya dalam beragama.

Setelah pemikiran remaja bertambah luas, dan pengalamannya


semakin banyak maka timbullah keinginan untuk mengkoreksi
kembali kepercayaan dan amalan-amalan agama pada waktu kecil.
Maka ketika itu muncullah kesadaran bahwa cara beragamanya itu
belum mempunyai dasar, sehingga ia menjadi bersemangat sekali
untuk berubah cara beragama pada semasa anak-anak, biasanya
peristiwa seperti ini dapat menimbulkan sikap ragu-ragu remaja
terhadap agamanya.

2. Percaya dengan kesadaran

Masa remaja adalah masa perubahan dan masa terjadinya


kegoncangan pada dirinya, terutama perubahan jasmani dan jauh
dari keseimbangan dan keserasian. Hal ini penyebab remaja
tertarik untuk memperhatiakn dirinya, tetapi perhatian itu disertai
oleh perasaan cemas dan takut, perasaan ini menentang orang tua,
dan dorongan seksual. Kondisi jiwa remaja yang gelisah, cemas,
dan ketakutan itu bercampur dengan rasa bangga, dan senang
diseratai bermacam-macam pemikiran dan khayalan. Kondisi ini
disebabkan kecerdasan remaja semakin meningkat sehingga
perhatian kepada ilmu pengetahuan dan soal-soal sosial semakin
terbangun, hanya saja kemajuan itu tidak dibarengi dengan nilai-
nilai agama, sehingga remaja menjadi acuh tak acuh terhadap
agama.

3. Kebimbangan remaja dalam beragama

Kebimbangan beragama mulai menyerang remaja setelah


pertumbuhan dan kecerdasannya mencapai tingkat kematangan,
sehingga remaja bisa mengkritik, menerima atau menolak sesuatu
yang disampaikan kepadanya. Karena ajaran-ajaran agama yang
diterima waktu kecil berbeda dengan kehidupan agama di waktu
remaja. Hal ini disebabkan karena pada masa remaja keyakinan
beragama mereka lebih dikuasai dan beda sehingga remaja bisa
mengkritik, menerima atau menolak sesuatu yang disampaikan
kepadanya. Karena ajaran-ajaran agama yang diterima waktu kecil
berbeda dengan kehidupan agama di waktu remaja.

4. Tidak percaya kepada tuhan

Masa remaja akhir timbul rasa resah, gelisah, gundah gulana


dalam hidupnya, merupakan pantulan dari jiwa remaja yang tidak
mempercayai adanya Tuhan secara mutlak. Disamping itu
keingkaran remaja terhadap Tuhan berasal dari keadaan
masyarakat yang dilanda penderitaan, kemerosotan moral,
kekacauan, dan kebingungan.

Faktor utama yang dapat menyelamatkan manusia dari


kekufuran atau atheis adalah akhlak, karena dalam akhlak terdapat
bentuk-bentuk tuntunan dalam kehidupan manusia, misalnya
akhlak terhadap dirinya sendiri, akhlak terhadap sesama manusia
dan akhlak manusia terhadap Tuhan. Kerusakan akhlak akan
membawa manisia kepada rasa anti agama. Akhlak manusia yang
rusak inilah menjadi sebagai penyebab Allah mengutus
Muhammad untuk menjadi Rasul dimuka bumi ini yaitu untuk
memperbaiki akhlak manusia yang rusak. Pembinaan sikap, mental
dan akhlak jauh lebih penting daripada menghafal dalil-dalil dan
hukum- hukum agama, yang tidak diresapi, dihayati dan diamalkan
dalam kehidupan.4

4
Syaiful Hamali, Anomali sikap remaja dalam beragama, Al-Adyan vol.9 No.1, Januari, 2014, hal. 7
BAB III
PENUTUP

A. Simpulan
1. Anomali adalah penyimpangan/kelainan, Ketidaknormalan.
Terminologi anomali dalam bahasa sehari-hari diartikan sebagai suatu
keganjilan, keanehan atau penyimpangan dari yang biasa atau dari
keadaan normal yang berbeda dari kondisi mayoritas. Dengan kata lain,
anomali adalah penyimpangan terhadap sesuatu yang biasa atau normal
dan telah menjadi kondisi umum atau mayoritas dalam suatu lingkungan
tertentu.
Keberagamaan atau religiusitas merupakan tingkat pengetahuan,
keyakinan, pelaksanaan dan penghayatan seseorang atas ajaran agama
yang diyakininya, atau suatu sikap penyerahan diri kepada suatu
kekuatan yang ada di luar dirinya yang diwujudkan dalam aktivitas dan
perilaku individu sehari-hari.
2. a. Anomali umum
anomali umum ini mengandung dua dimmensi, yaitu dimensi
fisik dan perilaku. Dari dimensi fisik misalnya anomali
digambarkan sebagai suatu penyimpangan yang dapat mengenai
seluruh tubuh atau hanya satu bagian atau alat tubuh manusia.
Anomali dari dimensi perilaku ini lebih banyak diadaptasi
khususnya dalam ilmu psikologi, sosiologi, dan ekonomi
b. Anomali terhadap norma
Pengertian dasar tentang anomali yang dimaksud yaitu bahwa
anomali adalah suatu bentuk perilaku yang menyimpang dari
norma yang seharusnya, sesuai aturan ketentuan, hukum
maupun toleransi sosial dalam suatu lingkungan tertentu.
3. Dalam kaitannya dengan agama, islam merupakan petujuk bagi manusia
menuju jalan yang lurus, benar dan sesuai dengan tuntutan kitab suci
Al-Quran yang telah diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW. Kalau
dikaitkan dengan konteks perubahan zaman sekarang, bagaimana islam
memandang keberagamaan atau pluralitas yang ada di negeri ini,
bahkan di dunia. Islam sangat menjunjung keberagamaan atau
pluralitas, karena keberagamaan atau pluralitas merupakan sunnatullah,
yang harus kita junjung tinggi dan kita hormati keberadaannya. Ajaran
islam mengutamakan persaudaraan atau ukhuwah dalam menyikapi
keberagamaan.
4. Zakiah Daradjat membagi sikap remaja terhadap agama kepada
beberapa bagian, sebagaimana dibawah ini:
a. Percaya atau beragama turut-turutan
b. Percaya dengan kesadaran
c. Kebimbangan remaja dalam beragama
d. Tidak percaya kepada tuhan
B. Saran

Dalam penulisan makalah ini jauh dari kata sempurna karena minimnya
pengetahuan dari penulis, oleh karena itu penulis mengharap kritik dan saran
yang membangun supaya penulis dapat memperbaikinya.
DAFTAR PUSTAKA

https;//osf.oi/rn69/download(diakses 21 maret 2019,pukul 21;10)

Muhsin Albantani, Konsep Anomali. pdf

Muhammad Irpan, Bagaimana islam membangun persatuan dalam


keberagamaan (Muhmdirpan.wordpress.com)

Syaiful Hamali, Anomali sikap remaja dalam beragama, Al-Adyan vol.9 No.1,
Januari, 2014,