Anda di halaman 1dari 17

PENDIDIKAN PANCASILA

STUDI KASUS SILA PERSATUAN INDONESIA


“ASA TOLIKARA DEMI SATUKAN PAPUA dan BANGSA”

Dosen Pengampu :
Rina Arum Prastyanti, SH., MH

Disusun Oleh:
1. Muhammad Nur Kholis DP
2. Irham Ali
3. Yasmin Samir
4. Dian Muhammad Yusuf
5. Fahmi Firmansyah

TEKNIK INFORMATIKA “B”


STMIK DUTA BANGSA SURAKARTA
TAHUN PELAJARAN 2015
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Bangsa Indonesia dikenal sebagai bangsa majemuk, ditandai dengan banyaknya etnis,
suku, agama, budaya, kebiasaan, di dalamnya. Di sisi lain, masyarakat Indonesia dikenal
sebagai masyarakat multikultural, masyarakat yang anggotanya memiliki latar belakang
budaya beragam. Kemajemukan dan multikulturalitas memunculkan adanya perbedaan. Bila
dikelola secara benar, maka kemajemukan dan multikulturalitas menghasilkan energi yang
hebat. Sebaliknya, bila tidak dikelola secara benar, kemajemukan dan multikulturalitas bisa
menimbulkan kerusakan yang fatal.
Sifat Kebangsaan dan Pembentukan karakter yang luhur sebagai cita-cita membentuk
kebudayaan nasional sebagai wahana pemersatu bangsa cenderung belum terwujud.
Tergambar dengan kasus belakangan ini terjadi kesenjangan dan konflik horisontal antara
kaum agama kristen mayoritas di Tolikara dan kaum agama Islam minoritas di tempat yang
sama pula, yang pada dasarnya mereka adalah dalam satu kesukuan. Padahal semangat dalam
ikatan kesukubangsaan seharusnya bisa lebih mengutamakan kebersamaannya individu-
individu yang ada dalam kesukuan tersebut walaupun mereka ada dalam pemikiran yang
berbeda dan dalam agama yang berlainan.
Pedoman kehidupan berbangsa dan bernegara yang sarat dengan itikad menjaga,
melindungi, mempersatukan dan membangun bangsa seharusnya bisa dimulai dengan lingkup
kecil dalam sebuah kesukuan yang bersifat majemuk pula, adanya tenggang rasa dan saling
menghormati antar umat beragama adalah hal yang wajib adanya. Manifesto kultural
Bhinneka Tunggal Ika yang merupakan tekad untuk membentuk kohesi sosial dan integrasi
sosial, serta menyiratkan landasan mutualisme (kebersamaan, dalam perasaan maupun
perilaku) dan kerjasama yang didasarkan atas kepentingan bersama dan perasaan
kebersamaan, itu pun semakin pudar. Padahal makna dari manifesto kultural itu adalah
ternanamnya perasaan saling memiliki dan menghargai sesama warganegara Indonesia, meski
dengan latar belakang agama dan pemikiran yang berbeda-beda.
Dalam Pancasila sila ke tiga, di sana terlafalkan " Persatuan Indonesia " yang dalam
dua kata ini tersirat makna dan cita-cita yang luhur, yang tercantum dalam butir-butirnya
dalam Tap MPR no. I/MPR/2003 dengan 45 butir Pancasila. Yang secara sepesifik terdapat
tujuh butir untuk sila ketiga serta dilambangkan dengan Pohon Beringin yaitu :
1. Mampu menempatkan persatuan, kesatuan, serta kepentingan dan keselamatan bangsa dan
negara sebagai kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi dan golongan.
2. Sanggup dan rela berkorban untuk kepentingan negara dan bangsa apabila diperlukan.
3. Mengembangkan rasa cinta kepada tanah air dan bangsa.
4. Mengembangkan rasa kebanggaan berkebangsaan dan bertanah air Indonesia.
5. Memelihara ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan
keadilan sosial.
6. Mengembangkan persatuan Indonesia atas dasar Bhinneka Tunggal Ika.
7. Memajukan pergaulan demi persatuan dan kesatuan bangsa.
Dan juga dalam Pasal 25A yg berbunyi Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah
sebuah negara kepulauan yang berciri Nusantara dengan wilayah yang batas-batas dan hak-
haknya ditetapkan dengan undang-undang.
Dari kedua landasan diatas yaitu Pancasila sila ketiga yang tertuang dalam butir-
butirnya serta undang-undang yang tercantum dalam pasal 25 A, seharusnya kasus kerusuhan
dan disintegrasi antara minoritas penduduk beragama Islam dan mayoritas penduduk kristen
(GIDI) di Tolikara tidak terjadi, apalagi sampai dengan tindakan anarkisme melakukan
pembakaran dan sampai ada jatuhnya korban luka-luka serta korban jiwa.

B. Rumusan Masalah
Untuk membahas tentang Persatuan Indonesia dengan mengangkat tema "Perdamaian
Tolikara demi Perdamaian Papua dan Persatuan Bangsa" terdapat rumusan masalah sebagai
berikut:
1. Apa pengertian persatuan dan kesatuan bangsa?
2. Bagaimana makna dan pentingnya persatuan dan kesatuan bangsa?
3. Apa prinsip-prinsip persatuan dan kesatuan Indonesia?
4. Apa yang di maksud dengan Bhineka Tunggal Ika?
5. Bagaimana hubungan sila ke 3 dengan perbedaan agama di Indonesia?
6. Konflik apa yang terjadi di Tolikara Papua?
7. Solusi apa yang di berikan pancasila terhadap konflik?
8. Bagaimana peran Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Pemersatu Bangsa ?
9. Bagaimana Upaya mempertahankan Persatuan dak Kesatuan NKRI?

C. Tujuan Pembahasan
Sejalan dengan rumusan masalah diatas, makalah ini disusun dengan tujuan untuk
mengetahui dan mendeskripsikan:
1. Persatuan dan kesatuan bangsa;
2. Makna dan pentingnya persatuan dan kesatuan bangsa;
3. Bhinneka Tunggal Ika;
4. Perbedaan agama di Indonesia;
5. Mengetahui Sejauh mana konflik horizontal dapat ditangani dengan tuntas.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Persatuan dan Kesatuan Bangsa


Persatuan/kesatuan berasal dari kata satu yang berarti utuh atau tidak terpecah-belah.
Persatuan/kesatuan mengandung arti “bersatunya macam-macam corak yang beraneka
ragam menjadi satu kebulatan yang utuh dan serasi.”. Indonesia mengandung dua
pengertian, yaitu pengertian Indonesia ditinjau dari segi geografis dan dari segi bangsa.
Dari segi geografis, Indonesia berarti bagian bumi yang membentang dari 95° sampai 141°
Bujur Timur dan 6° Lintang Utara sampai 11o Lintang Selatan atau wilayah yang
terbentang dari Sabang sampai Merauke.
Indonesia dalam arti luas adalah seluruh rakyat yang merasa senasib dan
sepenanggungan yang bermukim di dalam wilayah itu. Persatuan dan kesatuan Bangsa
Indonesia berarti persatuan bangsa yang mendiami wilayah Indonesia. Persatuan itu
didorong untuk mencapai kehidupan yang bebas dalam wadah negara yang merdeka dan
berdaulat.

B. Makna dan Pentingnya Persatuan Dan Kesatuan Bangsa


Kesatuan bangsa Indonesia yang kita rasakan saat ini, itu terjadi dalam proses yang
dinamis dan berlangsung lama, karena persatuan dan kesatuan bangsa terbentuk dari proses
yang tumbuh dari unsur-unsur sosial budaya masyarakat Indonesia sendiri, yang ditempa
dalam jangkauan waktu yang lama sekali.
Unsur-unsur sosial budaya itu antara lain seperti sifat kekeluargaan dan jiwa gotong-
royong. Kedua unsur itu merupakan sifat-sifat pokok bangsa Indonesia yang dituntun oleh
asas kemanusiaan dan kebudayaan. Karena masuknya kebudayaan dari luar, maka terjadi
proses akulturasi (percampuran kebudayaan). Kebudayaan dari luar itu adalah kebudayaan
Hindu, Islam, Kristen dan unsur-unsur kebudayaan lain yang beraneka ragam. Semua unsur-
unsur kebudayaan dari luar yang masuk diseleksi oleh bangsa Indonesia. Kemudian sifat-sifat
lain terlihat dalam setiap pengambilan keputusan yang menyangkut kehidupan bersama yang
senantiasa dilakukan dengan jalan musyawarah dan mufakat.
Hal Itulah yang mendorong terwujudnya persatuan bangsa Indonesia. Jadi makna dan
pentingnya persatuan dan kesatuan bangsa dapat mewujudkan sifat kekeluargaan, jiwa
gotong-royong, musyawarah dan lain sebagainya.
Tahap-tahap pembinaan persatuan bangsa Indonesia itu yang paling menonjol ialah
sebagai berikut:
1. Perasaan Senasib Sepenanggungan
2. Kebangkitan Nasional
3. Sumpah Pemuda
4. Proklamasi Kemerdekaan

C. Prinsip-prinsip Persatuan dan Kesatuan Indonesia


Hal-hal yang berhubungan dengan arti dan makna persatuan Indonesia apabila dikaji
lebih jauh, terdapat beberapa prinsip yang juga harus kita hayati serta kita pahami lalu kita
amalkan. Prinsip-prinsip tersebut adalah:
1. Prinsip Bhineka Tunggal Ika
Prinsip ini mengharuskan kita mengakui bahwa bangsa Indonesia merupakan bangsa
yang terdiri dari berbagai suku, bahasa, agama dan adat kebiasaan yang majemuk. Hal ini
mewajibkan kita bersatu sebagai bangsa Indonesia.
2. Prinsip Nasionalisme Indonesia
Kita mencintai bangsa kita, tidak berarti bahwa kita mengagung-agungkan bangsa
kita sendiri. Nasionalisme Indonesia tidak berarti bahwa kita merasa lebih unggul daripada
bangsa lain. Kita tidak ingin memaksakan kehendak kita kepada bangsa lain, sebab
pandangan semacam ini hanya mencelakakan kita. Selain tidak realistis, sikap seperti itu
juga bertentangan dengan sila Ketuhanan Yang Maha Esa dan Kemanusiaan yang adil dan
beradab.
3. Prinsip Kebebasan yang Bertanggungjawab
Manusia Indonesia adalah makhluk ciptaan Tuhan Yang Maha Esa. Ia memiliki
kebebasan dan tanggung jawab tertentu terhadap dirinya, terhadap sesamanya dan dalam
hubungannya dengan Tuhan Yang maha Esa.
4. Prinsip Wawasan Nusantara
Dengan wawasan itu, kedudukan manusia Indonesia ditempatkan dalam kerangka
kesatuan politik, sosial, budaya, ekonomi, serta pertahanan keamanan. Dengan wawasan
itu manusia Indonesia merasa satu, senasib sepenanggungan, sebangsa dan setanah air,
serta mempunyai satu tekad dalam mencapai cita-cita pembangunan nasional.
5. Prinsip Persatuan Pembangunan untuk Mewujudkan Cita-Cita Reformasi
Dengan semangat persatuan Indonesia kita harus dapat mengisi kemerdekaan serta
melanjutkan pembangunan menuju masyarakat yang adil dan makmur

D. Bhineka Tunggal Ika


Arti Bhinneka Tunggal Ika adalah berbeda-beda tetapi satu jua yang berasal dari buku
atau kitab sutasoma karangan Empu Tantular. Secara mendalam Bhineka Tunggal Ika
memiliki makna walaupun di Indonesia terdapat banyak suku, agama, ras, kesenian, adat,
bahasa, dan lain sebagainya namun tetap satu kesatuan yang sebangsa dan setanah air.
Dipersatukan dengan bendera, lagu kebangsaan, mata uang, bahasa dan lain-lain yang
sama. Kata-kata Bhinneka Tunggal Ika juga terdapat pada lambang negara Republik
Indonesia yaitu Burung Garuda Pancasila. Di kaki Burung Garuda Pancasila
mencengkram sebuah pita yang bertuliskan Bhinneka Tunggal Ika. Kata-kata tersebut
dapat pula diartikan : Berbeda-beda tetapi tetap satu jua.
Bhinneka Tunggal Ika adalah motto atau semboyan Indonesia. Frasa ini berasal dari
bahasa Jawa Kuno dan seringkali diterjemahkan dengan kalimat “Berbeda-beda tetapi
tetap satu”. Kalimat ini merupakan kutipan dari sebuah kakawin Jawa Kuno yaitu kakawin
Sutasoma, karangan Mpu Tantular semasa kerajaan Majapahit sekitar abad ke-14.
Kakawin ini istimewa karena mengajarkan toleransi antara umat Hindu Siwa dengan
umat Buddha.
Sejak Negara Republik Indonesia ini didirikan (merdeka), para pendiri bangsa dengan
dukungan penuh seluruh rakyat telah sepakat mencantumkan kalimat “Bhinneka Tunggal
Ika” pada lambang negara Garuda Pancasila. Kalimat itu sendiri diambil dari falsafah
Nusantara yang sejak jaman Kerajaan Majapahit juga sudah dipakai sebagai motto
pemersatu wilayah di kawasan Nusantara. Ini artinya, bahwa sudah sejak dulu sekali, jauh
sebelum jaman menjadi modern seperti sekarang, jauh sebelum bangsa ini menjadi
terdidik dengan tingkat intelektualitas tinggi seperti sekarang, kesadaran akan hidup
bersama di dalam keberagaman sudah tumbuh dan menjadi jiwa serta semangat anak-anak
bangsa di negeri ini.
E. Hubungan sila ke 3 dengan perbedaan Agama di Indonesia
Keberagamaan menjamin kehormatan antar manusia di atas perbedaan, dari seluruh
prinsip ilmu pengetahuan yang berkembang di dunia, baik ilmu ekonomi, politik, hukum
dan sosial. Hak asasi manusia memperoleh tempat terhormat di dunia, hak memperoleh
kehidupan, kebebasan dan kebahagiaan yang di rumuskan oleh MPR dan ketika
amandemen UUD 1945, pasal 28, di tambah menjadi 10 ayat dengan memasukan
substansi hak pencapaian tujuan di dalam pembukaan UUD 45, pancasila digali dan
dirumuskan para pendiri bangsa ini adalah sebuah rasionalitas yang telah teruji. Pancsila
adalah rasionalitas kita sebagai sebuah bangsa yg majemuk, yang multi agama, multi
budaya, dan multi ras yang bernama Indonesia
Dalam sila Persatuan Indonesia terkandung bahwa negara adalah sebagai penjelmaan
sifat kodrat manusia monodualis yaitu sebagai makhluk individu dan sosial. Negara adalah
suatu persekutuan hidup bersama diantara elmen-elemen yang membentuk negara di
antara suku, ras, golongan, maupun kel agama. Oleh karena itu perbedaan adalah kodrat
manusia dan juga merupakan ciri khas elemen-elemen yg membentuk negara.
Konsekuensinya negara adalah beranekaragam tetapi satu, yang di tulis Bhineka Tunggal
Ika.
Kebhinekaan yang kita miliki harus dijaga sebaik mungkin. Kebinekaan yang kita
inginkan adalah kebhinekaan yg bermartabat, yang berdiri tegak diatas moral dan etika
bangsa kita sesuai dengan keragaman budaya kita sendiri. Untuk menjaga kebhinekaan
yang bermartabat itu lah, maka berbagai hal yang mengancam kebinekaan harus di tolak,
dan yang mengancam moral bangsa harus dibetantas. Karena kebhinekaan yang
bermartabat di atas moral bangsa yang kuat pastilah menjunjung eksistensi dan martabat
manusia berbeda.

F. Konflik yang terjadi di Tolikara Papua


Indonesia merupakan Negara majemuk yang terdiri dari berbagai suku, ras, dan agama.
kemajemukan ini menjadi ciri khas identitas nasional bangsa Indonesia akan tetapi terkadang
perbedaan keyakinan yang terjadi di masyarakat sering menimbulkan konflik sosial
dimasyarakat dan salah satu keberagaman yang kuat yang terjadi di Indonesia adalah tentang
keberagaman agama. Indonesia berlandaskan atas asar pancasila sila pertama yang berbunyi
Ketuhanan Yang Maha Esa dengan demikian jelas bahwa 5 agama yang ada di Indonesia (
Islam, Kristen, Katholik, Hindu, Budha) berlandaskan pada pengesaan tuhan, namun hanya
cara kita saja yang berbeda dalam memuja tuhannya.
Akan tetapi sekarang ini dengan berkembangnya zaman dan semakin bertambahnya
keegoisan manusia banyak masyarakat yang mempertahankan kepercayaan justru malah
mengundang konflik sosial.
Sebagian kalangan masih beranggapan bahwa ketika salah satu agama menjadi
mayoritas dalam suatu kelompok mereka masih dijadikan pedoman dalam seluruh
kegiatan mereka bersifat sewenang-sewenang terhadap kalangan minoritas sehingga
sering terjadi konflik
Dalam kasus Tolikara yang mayoritas penduduk disana adalah Kristen GIDI yang
menyerang Umat Islam pada pelaksanaan Shalat Ied Fitri dan membakar masjid di
Tolikara, karena mereka tidak mau umat Islam melaksanakan shalat Ied di Tolikara, dan
mereka juga menutup salah satu gereja yang bukan beraliran GIDI dan mengharuskan
beribadah di GIDI.
Perbedaan kebudayaan agama yang terjadi dimasyarakat sangat jelas sekali, mereka
beribadah dengan cara mereka masing-masing dan terkadang mereka tidak
memperdulikan lingkungan bahkan mereka sering bersikap intoleran.
Terminologi konflik agama ini sering kali menjebak kita dalam melihat persoalan
yang sesungguhnya. Hal ini sangat jelas terlihat ketika konflik Ambon dan Poso. Di
beberapa daerah juga kita melihat betapa konflik politik dan atau ekonomi senantiasa
hadir dengan wajah agama. Misalnya kasus komunitas Syi’ah di Sampang, kasus
pembangunan masjid di Batulpat, Kupang, dan juga kasus gereja HKBP Filadelfia dan
GKI Yasmin di Bekasi dan Bogor. Dalam teori konflik, kita juga meyakini bahwa
sumber konflik tidak selalu tunggal. Melihat kasus Tolikara, kembali kita dipertontonkan
sebuah konflik yang menampilkan simbol agama: Shalat Ied tidak diizinkan, masjid
terbakar, jilbab dilarang. Apakah ini konflik agama? Melihat konteks kekinian Papua,
maka terlalu sederhana jika kita menyebut bahwa kasus Tolikara ini adalah konflik
agama.
Dari sisi sosial, daerah ini cukup rentan dengan berbagai isu. Seperti daerah lain di
pegunungan tengah Papua, isu utamanya adalah terkait dengan keamanan. Karena itu ada
yang mensinyalir bahwa apapun bisa dianggap sebagai pembenar atas wacana
pembangunan Mako Brimob di Wamena, kabupaten Jayawijaya, yang secara geografis
berbatasan dengan Tolikara. Jika pembangunan Mako Brimob di Wamena (yang
sebelumnya ditentang oleh banyak kalangan masyarakat sipil di Papua) berhasil
dilakukan, maka ‘penguasa’ di daerah ini adalah Brimob. Dana pengamanan wilayah
akan langsung mengucur ke saku kepolisian. Apakah kita bisa menerima analisa itu? Jika
yang dibutuhkan setelah kasus Tolikara adalah ‘rasa aman’, maka anggapan ini bisa
mendapatkan ‘pembenaran’. Namun jika merunut sejumlah fakta yang terjadi sekitar satu
minggu sebelum dan setelah peristiwa Tolikara, maka kita akan mendapatkan perspektif
lain atas kasus ini.
Dari sejumlah informasi di lapangan, disebutkan bahwa tembusan surat edaran GIDI
yang tertanggal 11 Juli 2015 itu, yang diperuntukkan kepada pihak Polres Tolikara, baru
diterima pada tanggal 13 Juli 2015. Itupun setelah Kapolres Tolikara memerintahkan
anak buahnya untuk mengambil surat tembusan di pos Kopasus yang berada di Tolikara.
Disinyalir, surat (tembusan) yang diperuntukan kepada polres Tolikara inilah yang
banyak beredar luas lewat media massa. Karena pada bagian tembusan surat edaran
tersebut yang dilingkari adalah pihak Polres Tolikara. Disampaikan pula, bahwa revisi
atas surat edaran tidak pernah disampaikan kepada pihak Polres Tolikara. Informasi lain
di lapangan menyebutkan bahwa, seminggu pascaperistiwa, yang aktif melakukan
‘pengamanan’ di Karubaga adalah pihak TNI. Sedangkan personil kepolisian hanya
duduk-duduk saja. Pihak TNI juga yang aktif mendorong proses ‘perdamaian’ antara
penyerang dari jemaat GIDI dengan kelompok muslim di Tolikara. Prosesnya adalah
bukan mediasi, namun ‘perintah’ kepada kaum muslim untuk harus melakukan proses
damai. Hingga dua minggu pascakejadian, kita belum mendengar pihak kepolisian
mengumumkan uji balistik terhadap serpihan peluru yang telah menewaskan seorang
anak berusia 15 tahun, dan melukai 11 orang lainnya.
Kapolda Papua sendiri hanya menyampaikan belum ada satu pun anggotanya yang
diperiksa mengakui melakukan penembakan. Sedangkan Kapolri menyampaikan bahwa
polisi dalam melakukan tugasnya telah sesuai dengan prosedur tetap penanganan
kerusuhan. Setelah perintah pemerintah pusat untuk segera membangun kembali masjid
dan sejumlah kios yang terbakar, maka seluruh barang bukti dan lokus kejadian, baik
lokasi masjid maupun kios-kios yang terbakar, kini telah diratakan dengan tanah oleh
personil TNI. Dalam kaitan dengan ini, Presiden Joko Widodo memang telah
memerintahkan Panglima TNI untuk segera menyelesaikan pembangunan masjid dan 85
kios dalam waktu secepatnya.
Tapi apakah dengan cara menggusur semua tempat kejadian perkara tanpa
sebelumnya dilakukan olah TKP oleh lembaga yang berwenang? Ada yang menarik dari
pernyataan Pangdam Cenderawasih, Mayjen Fransen Siahaan dalam pertemuan antara
tokoh agama dan tokoh masyarakat dengan Menkopolhukam di Sasana Krida kantor
Gubernur Papua, tanggal 25 Juli 2015 lalu menyampaikan sejumlah hal. Di antaranya
terkait dengan korban yangmengalami penembakan. Menurutnya, serpihan peluru masih
terdapat dalamtubuh korban hingga saat ini (Sabtu, 25 Juli 2015). Pangdam juga
menyampaikan kekhawatiran pihak RSUD Jayapura jika serpihan peluru dikeluarkan
dari tubuh korban, maka akan berpengaruh terhadap syaraf lainnya.
Namun keberadaan serpihan peluru tersebut di dalam tubuh korban tidak akan
mengganggu jiwa korban. Pihak RSUD melalui Direktur RSUD Jayapura, dr. Yermia
Msen, menyampaikan bahwa keterlambatan pelaksanaan operasi terhadap korban karena
harus melalui proses pemeriksaan radiologi. Karena itu, pihak RSUD Jayapura juga
melibatkan dokter spesialis syaraf dan tulang dalam pengambilan proyektil tersebut. Hal
ini bertentangan dengan pernyataan Rony Wenda, Kepala Seksi Penerimaan dan
Pengeluaran Obat di Dinas Kesehatan kabupaten Tolikara, yang mendampingi korban di
RSUD Jayapura. Disampaikan bahwa keterlambatan pihak RSUD menangani korban
karena dokter di RSUD Jayapura masih libur lebaran.
Pertanyaannya, kenapa pihak kepolisian langsung menyampaikan bahwa polisi tidak
ada yang mengeluarkan tembakan? Kenapa investigasi polisi terhadap personilnyahanya
dilakukan dan juga percaya melalui pengakuan anggotanya? Kenapa pernyataan tersebut
dilakukan tanpa menunggu serpihan proyektil yang menembus korban dikeluarkan
terlebih dahulu? Hal ini menjadi sangat penting, karena dari uji balistik ini, dan juga olah
TKP tentunya, akan lebih mudah menentukan siapa pemilik peluru tersebut.
Mungkin jika kebutuhan rasa aman adalah yang paling utama usai peristiwa
Tolikara, apakah jaminan atas kebutuhan itu bisa dilakukan dengan membangun Mako
Brimob, atau membentuk pos pengamanan TNI yang baru? Atau memperkuat pos TNI
yang sudah ada? Selain analisa terkait dengan perspektif keamanan tersebut, kita juga
mendapatkan kenyataan lain terkait dengan perkembangan GIDI di Papua. Diduga, GIDI
dalam melakukan ekspansi gereja telah melakukan cara-cara yang melukai hati jemaat
gereja lain di Papua. Seorang pendeta yang bertugas di salah satu gereja di kabupaten
Jayapura, menyampaikan bahwa dirinya mendapatkan informasi dari sejumlah jemaatnya
terkait dengan aktivitas GIDI. Disampaikan bahwa sejumlah jemaat yang mengikuti
ibadah di gereja GIDI senantiasa diberikan (diiming-imingi) sembako setelah mengikuti
ibadah. Hal ini tentu menimbulkankekhawatiran pada sejumlah kalangan gereja yang
jauh sebelumnya telah eksis di daerah tersebut.Pada saat yang sama, pertumbuhan gereja
GIDI ini tidak saja dalam konteks jumlah persebaran.
Namun kini pimpinan-pimpinannya telah menguasai sejumlah sumberdaya politik
dan ekonomi lokal di provinsi Papua. Untuk diketahui bahwa Lukas Enembe, Gubernur
Provinsi Papua saat ini adalah jemaat GIDI. Selain itu, mantan Ketua Sinode GIDI,
Pendeta Lipiyus Biniluk telah diangkat menjadi Komisaris Utama Bank Papua[19].
Pendeta Lipius Biniluk juga merupakan salah satu pendiri Lembaga Pengembangan
KeagamaanPapua (LPKP). Lembaga ini dibentuk dan ditunjuk oleh pemerintah provinsi
Papua untuk menyalurkan dana pengembangan lembaga keagamaan dan umat di tanah
Papua.
Lembaga nonstruktural pemerintahan ini diberikan tanggung jawab untuk mengelola
puluhan milyar uang negara setiap tahunya. Dana-dana pengembangan lembaga
keagamaan di seluruh tanah Papua yang awalnya dikelolah oleh Biro Mental Spiritual
Provinsi Papua, kini beralih ke tangan LPKP ini.Situasi-situasi sebagaimana disebutkan
di atas, bisa saja menjadi lahan yang subur untuk selanjutnya dimanfaatkan oleh
kepentingan-kepentingan tertentu menjadi sebuah konflik. Ketegangan antarumat dan
terbakarnya rumah ibadah bukan yang pertama. Orang Papua yang masih kental
memegang adat istiadat senantiasa memandang rumah-rumah ibadah sebagai hal yang
suci dan tabu untuk diganggu. Bagi mereka, rumah ibadah, entah gereja atau masjid,
adalah tempat-tempat keramat. Demikian Pastor Neles Tebay menyampaikan
tanggapannya terkait kasus Tolikara. Menurut beliau, kasus ‘pembakaran’ masjid di
Tolikara ini adalah peristiwa pembakaran rumah ibadah yang pertama kali terjadi di
Papua.
Proses damai diklaim telah dilakukan dengan difasilitasi oleh sejumlah pejabat
pemerintah, terutama pihak TNI, namun bibit kebencian dan dendam tersebut masih ada.
Hal ini diakui sendiri oleh Pangdam Cenderawasih pada pertemuan dengan
Menkopolhukam di Sasana Krida kantor Gubernur Papua, tanggal 24 Juli 2015 lalu.
Dalam pernyataannya, Pangdam menyampaikan bahwa bara api dendam masih
tersimpan dan belum ada perdamaian yang menyeluruh di masyarakat Tolikara. Dia juga
menyitir tradisi adat yang umumnya terjadi di daerah pegunungan tengah Papua, bahwa
jika terjadi kematian seperti itu, maka pihak pelaku harus membayar denda adat kepada
keluarga korban. Dalam pandangan adat ketika terjadi perang, korban meninggal harus
imbang di kedua belah pihak. Jika tidak, maka perang masih ‘harus’ terus berlangsung.
G. Solusi yang diberikan Pancasila terhadap konflik
Lihat Tanggapan Pastor Neles Tebay, Rohaniawan Katholik sekaligus Koordinator
Jaringan Damai Papua, terkait kasus Tolikara. ini adalah menyebarluaskan rasa kasih sayang,
kerukunan, kedamaian, persatuan dan kesatuan. Tak hanya antar-sesama manusia, tetapi juga
pada makhluk-makhluk Allah lainnya, seperti binatang, tumbuh-tumbuhan, air, bumi, hutan,
dan lain sebagainya. Karena itu sulit dipahami jika manusia yang satu dengan yang lainnya
tidak berusaha mewujudkan perdamaian. Misi perdamaian Islam juga tercermin dalam kata
‘Islam’ itu sendiri yang berarti selamat, sejahtera, aman, dan damai. Tetapi menyatakan Islam
berarti “salam” damai saja tak cukup.
Setiap individu Muslim harus membuktikan tak hanya dengan perkataan, tetapi lebih
penting lagi dengan amal perbuatan, bahwa Islam dan kaum Muslimin adalah cinta damai dan
betul-betul mengorientasikan diri menuju ke “Dar al-Salam” dengan cara damai pula.
Menegakkan amar ma’ruf nahi munkar merupakan perintah Islam, tetapi nahi munkar harus
dilakukan dengan cara-cara ma’ruf, yakni cara-cara yang baik, damai, persuasif, hikmah,
kebijaksanaan dan pengajaran yang baik, bukan dengan cara yang justru mengandung
kemungkaran, seperti pemaksaan, kekerasan, apalagi terorisme.
Membangun Persatuan dan kesatuan mencakup upaya memperbaiki kondisi kemanusiaan
lebih baik dari hari kemarin. Semangat untuk senantiasa memperbaiki kualitas diri ini amat
sejalan dengan perlunya menyiapkan diri menghadapi tantangan masa depan yang kian
kompetitif. Untuk dapat memacu diri, agar terbina persatuan dan kesatuan paling kurang
terdapat sepuluh hal yang perlu dilakukan ;
1. Berorientasi ke depan dan memiliki perspektif kemajuan;
2. Bersikap realistis, menghargai waktu, konsisten, dan sistematik dalam bekerja;
3. Bersedia terus belajar untuk menghadapi lingkungan yang selalu berubah;
4. Selalu membuat perencanaan;
5. Memiliki keyakinan, segala tindakan mesti konsekuensi;
6. Menyadari dan menghargai harkat dan pendapat orang lain;
7. Rasional dan percaya kepada kemampuan iptek;
8. Menjunjung tinggi keadilan;
9. Berorientasi kepada produktivitas, efektivitas dan efisiensi; dan
10. Menjunjung tinggi kebhinekaan
H. Peran Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Pemersatu Bangsa
Bahasa Indonesia bagi bangsa Indonesia adalah sebagai pemersatu suku-suku bangsa di
Republik Indonesia yang beraneka ragam. Setiap suku bangsa yang begitu menjunjung nilai
adat dan bahasa daerahnya masing-masing disatukan dan disamakan derajatnya dalam sebuah
bahasa persatuan yaitu bahasa Indonesia, dan memandang akan pentingnya persatuan dan
kesatuan bangsa Indonesia, maka setiap suku bangsa di Indonesia bersedia menerima bahasa
Indonesia sebagai bahasa Nasional. Selain itu, fungsi dari bahasa Indonesia adalah sebagai
bahasa ibu yang dapat digunakan sebagai alat komunikasi bagi yang yang tidak bisa bahasa
daerah. Seiring perkembangan zaman, sebagian besar warga negara Indonesia melakukan
transmigrasi atau pindah dari daerah dia berasal ke daerah lain di Indonesia, sehingga di
sinilah peran dan fungsi bahasa Indonesia sebagai alat komunikasi antar suku bangsa yang
berbeda, agar mereka tetap dapat saling berinteraksi.
Kedudukan bahasa Indonesia di negara Republik Indonesia itu selain sebagai bahasa
persatuan juga sebagai bahasa negara atau bahasa Nasional dan sebagai budaya. Kedudukan
bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan, maksudnya sudah jelas karena fungsi dari bahasa
Indonesia itu sendiri adalah sebagai pemersatu suku bangsa yang beraneka ragam yang ada di
Indonesia. Kedudukan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan, maksudnya sudah jelas
karena fungsi dari bahasa Indonesia itu sendiri adalah sebagai pemersatu suku bangsa yang
beraneka ragam yang ada di Indonesia.
Bahasa Indonesia sebagai bahasa negara atau bahasa Nasional, maksudnya bahasa
Indonesia itu adalah bahasa yang sudah diresmikan menjadi bahasa bagi seluruh bangsa
Indonesia. Sedangkan bahasa Indonesia sebagai budaya maksudnya, bahasa Indonesia itu
merupakan bagian dari budaya Indonesia dan merupakan ciri khas atau pembeda dari bangsa
yang lain.

I. Mempertahankan Persatuan dan Kesatuan NKRI


Dalam menjaga keutuhan persatuan dan kesatuan NKRI diperlukan sikap-sikap:
1. Cinta Tanah Air
Sebagai warga negara Indonesia kita wajib mempunyai rasa cinta terhadap tanah air.
Cinta tanah air dan bangsa dapat diwujudkan dalam berbagai hal
2. Membina Persatuan dan Kesatuan
Pembinaan persatuan dan kesatuan harus dilakukan di manapun kita berada, baik di
lingkungan keluarga, sekolah, masyarakat, bangsa, dan negara

3. Rela Berkorban
Sikap rela berkorban adalah sikap yang mencerminkan adanya kesediaan dan
keikhlasan memberikan sesuatu yang dimiliki untuk orang lain.
4. Pengetahuan Budaya dalam Mempertahankan NKRI
Era globalisasi yang ditandai dengan perkembangan kemajuan ilmu pengetahuan,
teknologi, komunikasi, dan informasi telah mendorong perubahan dalam aspek
kehidupan manusia, baik pada tingkat individu, tingkat kelompok, maupun tingkat
nasional. Untuk menghadapi era globalisasi agar dapat dimanfaatkan semaksimal
mungkin dan ditangkap secara tepat serta memerlukan perencanaan yang matang dalam
era globalisasi.
5. Sikap dan Perilaku Menjaga Kesatuan NKRI
Berikut beberapa sikap dan perilaku mempertahankan NKRI :
 Menjaga wilayah dan kekayaan tanah air Indonesia, artinya menjaga seluruh
kekayaan alam yang terkandung di dalamnya.
 Menciptakan ketahanan nasional, artinya setiap warga negara menjaga keutuhan,
kedaulatan Negara dan mempererat persatuan bangsa.
 Menghormati perbedaan suku, budaya, agama dan warna kulit. Perbedaan yang ada
akan menjadi indah jika terjadi kerukunan, bahkan menjadi sebuah kebanggaan
karena merupakan salah satu kekayaan bangsa.
 Mempertahankan kesamaan dan kebersamaan, yaitu kesamaan memiliki bangsa,
bahasa persatuan, dan tanah air Indonesia, serta memiliki pancasila, Undang-Undang
Dasar 1945, dan Sang saka merah putih. Kebersamaan dapat diwujudkan dalam
bentuk mengamalkan nilai-nilai pancasila dan UUD 1945.
BAB III
PENUTUP

A. Simpulan
Dari berbagai uraian di atas dapat disimpulkan sebagai berikut ;
1. Persatuan dan kesatuan Bangsa Indonesia berarti persatuan bangsa yang mendiami
wilayah Indonesia. Persatuan itu didorong untuk mencapai kehidupan yang bebas
dalam wadah negara yang merdeka dan berdaulat.
2. makna dan pentingnya persatuan dan kesatuan bangsa dapat mewujudkan sifat
kekeluargaan, jiwa gotong-royong, musyawarah dan lain sebagainya.
3. Prinsip Bhineka Tunggal Ika, nasionalisme Indonesia, kebebasan bertanggung jawab,
wawasan nusantara dan prinsip untuk mewujudkan cita-cita pada era reformasi.
4. Meningkatkan keadilan dan tidak membedabedakan antar suku bangsa.
5. Arti Bhinneka Tunggal Ika adalah berbeda-beda tetapi satu jua yang berasal dari buku
atau kitab sutasoma karangan Empu Tantular. Secara mendalam Bhineka Tunggal Ika
memiliki makna walaupun di Indonesia terdapat banyak suku, agama, ras, kesenian,
adat, bahasa, dan lain sebagainya namun tetap satu kesatuan yang sebangsa dan
setanah air.
6. Membangun Persatuan dan kesatuan mencakup upaya memperbaiki kondisi
kemanusiaan lebih baik dari hari kemarin. Semangat untuk senantiasa memperbaiki
kualitas diri ini amat sejalan dengan perlunya menyiapkan diri menghadapi tantangan
masa depan yang kian kompetitif.
7. bangsa Indonesia terdiri dari kolektifitas kelompok-kelompok masyarakat yang
bersifat majemuk. Dari segi etnitasnya terdapat 656 suku bangsa (Hidayat, 1997)
dengan tidak kurang dari 300 jenis bahasa-bahasa daerah, dan di Irian Jaya saja lebih
200 bahasa-bahasa sukubangsa (Koentjaraningrat,1993). Penduduknya sudah
mencapai 200 juta, yang menempatkan Indonesia pada urutan keempat dunia. Suatu
masyarakat yang multikultural tidak dapat disamakan dengan masyarakat yang
memiliki unit-unit kekerabatan yang bersifat segmenter, akan tetapi sekaligus juga
tidak dapat disamakan pula dengan masyarakat yang memiliki diferensiasi atau
spesialiasi yang tinggi.
8. multikultural bangsa sebagai sesuatu yang lebih dari hanya keragaman kebudayaan.
Masyarakat yang benar-benar bersifat plural hanyalah apabila ada sesuatu
keanekaragaman yang resmi (diakui) di dalam sistem dasar dari kelembagaan-
kelembagaan yang diwajibkan.
9. Multikultural dapat terjadi di Indonesia karena Letak geografis Indonesia, perkawinan
campur dan iklim.

B. Saran
Indonesia memang suatu bangsa yang multikultural, bangsa yang berdiri dari bebagai
macam suku, budaya, ras dan berbagai bahasa. Namun hal tersebut tidak menutup
kemungkinan bagi kita sebagai bangsa indonesia untuk bersatu dan berjuang untuk bangsa
yang terdiri dari bermacam-macam kultur ini. Kita harus bersatu agar duduk sama rendah dan
berdiri sama dengan bangsa yang lain dan bersama-sama, bergotong royong untuk
mengangkat martabat bangsa Indonesia di mata dunia.
DAFTAR PUSTAKA

Kartodirdjo, Sartono. 1999. Pembangunan Bangsa: Etos Nasionalisme dan Negara


Kesatuan. Yogyakarta: Kanisius
Ade Makmur Kartawinata. 1999. Persatuan dan Kesatuan Bangsa: Suatu renungan
Pembentukan Indonesia Merdeka Ke Arah Kebudayaan Kebangsaan. Bandung: Primaco
Akademika
Deddy Mulyasa dan Jalaluddin Rakhmat. 2001. Komunikasi Antar Budaya, Panduan
Berkomunikasi dengan Orang-orang Berbeda Budaya. Bandung: Rosda
Nasikun. 2000. Sistem Sosial Indonesia. Jakarta: Raja Grafindo Persada
Hidayat, Zulyani. 1997. Eksklopedi Suku Bangsa Indonesia. Jakarta: LP3ES
Www.google.co.id
http://nasional.tempo.co/read/news/2015/08/04/063688976/kasus-tolikara-presiden-gidi-
diperiksa-polisi-papua
http://pertamax7.com/2015/07/24/kronologis-kasus-tolikara-papua-saat-sholat-idul-fitri-dari-
divisi-humas-mabes-polri/
http://www.wahidinstitute.org/wi-id/indeks-berita/305-membaca-kasus-tolikara.html
www.cnnindonesia.com/nasional/20150718165415-12-67075/presiden-gidi-tolikara-tak-
benar-kami-larang-muslim-salat-id/