Anda di halaman 1dari 16

ASUHAN KEPERAWATAN PADA BY.

A (9 BULAN) DENGAN
BRONKOPNEUMONIA+ MARASMUS+DOWN SYNDROM+TB
PARU+SHORT STATURE+HIPOTIROID KONGENITAL DI RUANG
KENANGA LANTAI 1 RSUP DR. HASAN SADIKIN BANDUNG

DISUSUN OLEH:
BAGUS DWI SANTOSO 220112160132
ELVA SUJANA 220112160137

PROGRAM PROFESI NERS ANGKATAN XXXII STASE ANAK


UNIVERSITAS PADJADJARAN
FAKULTAS KEPERAWATAN
BANDUNG
2016
ASUHAN KEPERAWATAN PADA BY.A (9 BULAN) DENGAN
BRONKOPNEUMONIA+ MARASMUS+DOWN SYNDROM+TB PARU + SHORT
STATURE + HIPOTIROID KONGENITAL DI RUANG KENANGA LANTAI 1 RSUP
DR. HASAN SADIKIN BANDUNG

1. PENGKAJIAN ANAK
I. Identitas klien
Nama : By.A
No RM : 0001552114
Tanggal lahir : 6 April 2016
Umur : 9 bulan
Jenis Kelamin : Laki-laki
Agama : Islam
Kultur : Sunda
Pendidikan :-
Alamat : Gg. H. Saemin, RT 05 RW 01, Pondok pinang, Kebayoran lama,
DKI Jakarta
Diagnosa medis : Bronkopneumonenia + marasmus + down syndrome + TB Paru+
short stature + hipotiroid kongenital
Tanggal pengkajian : 18 Januari 2017
Tanggal masuk : 21 Desember 2016
II. Identitas Pananggung Jawab
Nama Ibu : Ny. I
Umur Ibu : 41 Tahun
Pekerjaan Ibu : Ibu rumah tangga
Pendidikan Ibu : SMA
Alamat : Gg. H. Saemin, RT 05 RW 01, Pondok pinang, Kebayoran lama,
DKI Jakarta
III. Keluhan utama
Klien terlihat sesak, panas badan naik turun
IV. Riwayat kesehatan sekarang
Saat ini klien dirawat untuk yang ke 4 kalinya. 1 bulan SMRS saat minum susu dengan
dot klien tersedak dan mengalami sesak napas. Kemudian klien di bawa ke RSHS, saat
dilakukan pemeriksaan brokoskopi klien mengalami penyempitan pada laring dan
kemudian didiagnosa bronkopneumonia. Setelah beberapa bulan di rawat ternyata klien
juga didiagnosa TB paru. Keluhan disertai mengorok, dan sesekali batuk. Alat bantu
nafas (oksigen) sudah dilepas sejak 2 hari yang lalu, Ibu klien mengatakan sesak yang
dialami klien hilang timbul. Sesak semakin bertambah saat klien minum menggunakan
dot. Ibu klien mengatakan takut saat memberikan susu karena takut tersedak. saat ini
panas badan anaknya naik turun.
V. Riwayat kehamilan dan kelahiran
a. Prenatal :
G3P2A0 saat kehamilan ibu mengalami preeklamsi saat usia gestasi 24 minggu. Saat
kehamilan ibu tidak melakukan antenatal care, ibu hanya melakukan pemeriksaan
rutin ke bidan didekat rumahnya.
b. Natal :
Ibu klien melahirkan dengan preeklamsi dengan ketuban pecah dini, kontraksi bayi
sudah melemah. Klien lahir melalui Caesar pada usia kehamilan 32
c. Post natal :
Pasien lahir dengan berat 2020 gram, klien lahir dengan masalah di paru-paru
sehingga harus di rawat selama ±1 bulan di NICU dan didiagnosa down syndrome.
VI. Riwayat kesehatan masa lalu
Setelah dilahirkan pasien dirawat di ruang perinatologi RS Santosa karena pasien terlihat
kesulitan dalam bernapas dan tidak ada suara ketika menangis. Kemudian setelah 3
minggu pasien di pulangkan karena kondisi yang membaik di rumah. Klien sering
dirawat karena muntah dan sesak, 3 kali dirawat di RS.Santosa. Pasien pernah dirawat di
poli endokrin RSHS karena TSH tinggi dan ke poli kardio dikatakan ada kebocoran
jantung tetepi masih kecil.
VII. Riwayat keluarga
Tidak ada juga anggota keluarga yang pernah mengalami hal yang sama dengan klien.
Tidak riwayat penyakit hipertensi, DM ataupun penyakit menular.
VIII. Riwayat Imunisasi
Klien hanya mendapatkan imunisasi 1 kali yaitu BCG karena kondisi klien yang kurang
sehat
IX. Riwayat Psikososial Spiritual
Klien tinggal di daerah padat penduduk, ibu klien mengatakan rumahnya tidak lembab,
tidak minim cahaya ataupun ventilasi kurang. Namun terkadang tetangga sering menaruh
burung peliharaan di jemurannya. Keluarga selalu berupaya melakukan pengobatan untuk
kesembuhan klien. Keluarga menganggap penyakit klien adalah takdir dari Tuhan dan
setiap penyakit ada obatnya.

X. Kebutuhan dasar
Kebutuhan Sebelum dan setelah sakit
Makan dan Klien selama dirumah diberi susu formula karena ibu klien
Minum mengeluhkan asi nya tidak keluar Setelah masuk rumah sakit pasien
terpasang NGT dan diberikan susu per 3 jam dengan jumlah 70 ml
ditambah bilasan 5 ml setiap pemberian susu dan 10 ml saat minum
obat.
Eliminasi BAK: klien menggunakan pampers, sehari mengganti pampers
sekitar 5-6 kali
BAB: Klien BAB sehari sebanyak 1-2 kali selama dan sebelum
masuk rumah sakit.
Tidur Pasien terlihat tidur lelap dengan suara stridor terbangun apabila
penggantian pampers, melakukan nebulisasi, minum susu, dan
mandi. Pasien sering terbangun di malam hari. Ibu klien mengatakan
dalam sehari klien tidur ± 15 jam.

XI. Status Nutrisi Dan Kebutuhan Kalori


a. Status Nutrisi
BB= 4 Kg, TB = 62 cm, LK = 38 cm, LLA = 9,5 cm, LP = 34 cm
𝐵𝐵 𝑠𝑎𝑎𝑡 𝑖𝑛𝑖
BB/U = 𝑥 100 %
𝐵𝐵 𝑚𝑒𝑛𝑢𝑟𝑢𝑡 𝑢𝑚𝑢𝑟 𝑠𝑒𝑠𝑢𝑎𝑖 𝑠𝑡𝑎𝑛𝑑𝑎𝑟 𝑁𝐶𝐻𝑆
4
= x 100 % = 44,94 %
8,9

→ KEP berat karena < 60% baku median WHO-NHCS


→ < 3 SD gizi buruk
𝐵𝐵 𝑠𝑎𝑎𝑡 𝑖𝑛𝑖
BB/TB = 𝑥 100 %
𝐵𝐵 𝑚𝑒𝑛𝑢𝑟𝑢𝑡 𝑇𝐵 𝑠𝑒𝑠𝑢𝑎𝑖 𝑠𝑡𝑎𝑛𝑑𝑎𝑟 𝑁𝐶𝐻𝑆
4
= x 100 % = 61,53 %
6,5

→ KEP II 60-70% (NCHS)


→ < 3SD sangat kurus
𝑇𝐵 𝑠𝑎𝑎𝑡 𝑖𝑛𝑖
TB/U = 𝑥 100 %
𝑇𝐵 𝑚𝑒𝑛𝑢𝑟𝑢𝑡 𝑢𝑚𝑢𝑟 𝑠𝑒𝑠𝑢𝑎𝑖 𝑠𝑡𝑎𝑛𝑑𝑎𝑟 𝑁𝐶𝐻𝑆
62
= x 100 % = 86,11 %
72
→ < 3 SD Sangat pendek
Kesimpulan : By.A mengalami kurang gizi akut
b. Kebutuhan nutrisi
Menurut Hendarto, A & Nasar, S (2002) kebutuhan nutrisi parenteral bayi (28 hari-1
tahun) adalah sebagai berikut :
 Kebutuhan cairan dengan BB 2-10 Kg = 100 ml/kg
→ By. A = 4 x 100 = 400 ml/hari
 Kebutuhan kalori bayi usia 6-12 bulan = 80-100 kkal/kg/hari
→ By. A = 320-400 kkal/hari
 Kebutuhan protein usia 7-12 bulan = 2 gr/kg/hari
→ By. A = 2 x 4= 8 gr/hari
 Kebutuhan karbohidrat 40-50% dari kalori total
→ By.A = 40-50 % x 320-400 = 128-200 %
XII. Tahap Pertumbuhan dan Perkembangan

Tahap Perkembangan Psychosexual (Sigmeun Freud) By. A berada pada Fase Oral (0 – 1
tahun)
Pusat aktivitas yang menyenangka di dalam mulutnya, anak diharapkan mendapat
kepuasaan saat mendapat ASI/ proses makan, kepuasan bertambah dengan aktifitas
mengisap jari dan tangannya atau benda – benda sekitarnya. Saat ini pasien bisa
berguling sendiri, dan saat tengkurap bisa mengangkat kepala sebentar. klien belum bisa
duduk sendiri, saat didudukan badan dan kepala lunglai, terkadang klien bisa mengatakn
1 kata seperti “nen atau ma”. Klien mengalami keterlambatan pertumbuhan dan
perkembangan.
XIII. Pemeriksaan fisik
a) Kesadaran : CM
b) Keadaan umum : Tampak bergerak aktif
c) TTV
 TD :-
 N : 158x/menit
 RR : 52x/menit
 S : 37,4oC
d) Pemeriksaan Head to Toe
 Kepala : Simetris, tidak ada benjolan, tidak ada lesi, LK= 38 cm
 Rambut : sedikit kering dan tipis, tidak rontok
 Mata : simetris, refleks pupil baik, akomodasi baik, konjungtiva tidak
anemis dan sclera tidak ikterik
 Hidung : simetris, tidak ada keluaran cairan, pernafasan cuping hidung (-),
pasien terpasang NGT
 Mulut : bibir kering dan tidak sianosis
 Telinga : pendengaran baik
 Leher : tidak ada pembengkakan kelenjar tiroid dan peningkatan jvp
 Dada : pengembangan dada simetris, penggunaan otot-otot tambahan
saat bernafas (+), wheezing (+), ronhi (+)
 Abdomen : simetris, sedikit cekung, peristaltic usus 11x/menit
 Genitalia : penis normal dan testis sudah turun.
 Ekstremitas : ekstremitas atas dan bawah normal sama panjang, tidak ada
bengkak, pergerakan bebas, paha dan bokong tepos (kurus)
XIV. Terapi yang diberikan
Terapi Interpretasi
 INH 1x40 mg pulvis  merupakan obat OAT untuk pengobatan TB
po  anak-anak diberi INH, rifampisin,dan pirazinamid untuk 2
 Rifampisin 1x 60 mg bulan fase intensif dilanjutkan dengan INH dan rifampisin
pulv po selama 4 bulan, jika pirazinamid tidak diberikan selama fase
 Pirazinamid 1x40 intensif, maka pemberian INH dan rifampisin dilanjutkan
mg pulv po selama 9 bulan.

 Etambutol 1x80 mg  untuk anak resiko tinggi infeksi resisten, etambutol harus
pulv po termasuk dalam pengobatan 2 bulan fase intensif
 dosis obat :
- INH : 5-15 mg/Kg/BB/hari dosis maks 500 mg/hari
- Rifampisin: 10-20 mg/Kg/BB/hari maks 600 mg/hari
- Pirazinamid : 15-30 mg/Kg/BB/hari maks 2000 mg/hari
- Etambutol : 15-20 mg/Kg/BB/hari maks 1250 mg/hari
 Efek samping : urin bewarna kemerahan, rasa panas di kaki,
mual dan muntah, nyeri sendi, anoreksia
cefixime  antibiotic yang mengobati berbagai infeksi yang disebabkan
oleh bakteri dengan cara mengganggu pembentukan dinding
sel bakteri yang diperlukan untuk bertahan hidup

XV. PEMERIKSAAN PENUNJANG


a. Pemeriksaan Laboratorium

Tanggal Jenis Pemeriksaan Hasil Nilai rujukan Satuan


Hemoglobin 14,5 11,5-13,5 g/dl
16 Jan Hematokrit 45 34-40 %
2017 Eritrosit 5,42 3,87-5,39 Juta/uL
Leukosit 15.800 6000-17.500 Mm3
Trombosit 453.000 150.000-450.000 Mm3
Index Eritrosit
MCV 83,3 75-87 fL
MCH 26,8 24-30 pg
MCHC 32,2 31-37 %
Hitung Jenis
Leukosit
Basofil 0 0-1 %
Eosinofil 2 1-6 %
Batang 0 3-5 %
Segmen 45 25-49 %
Limfosit 41 67-77 %
Monosit 12 2-10 %

b. USG tiroid, tgl pemeriksaan 16 Desember 2016


Kesan : USG tiroid kanan dan kiri dalam batas normal, tidak tampak pembesaran
KCG di bili bilateral
c. Foto Thorax, tgl pemeriksaan 22 Desember 2016
Kesan : pneumonia di paru kanan, tidak tampak kardiomegali
2. ANALISIS DATA
NO. DATA ETIOLOGI MASALAH
1. DS: Virus, bakteri, jamur (faktor Bersihan jalan napas tidak
DO: penyebab bronkopneumoni) efektif
 Suara napas
wheezing (+) Invasi saluran napas atas
 RR : 52x/menit
 Auskultasi paru Kuman berlebih di bronkus
terdapat bunyi ronhi
(+) Proses peradangan

Akumulasi sekret di bronkus

mucus di bronkus meningkat

bersihan jalan napas tidak efektif


2. DS : ibu mengatakan Bronkopneumonia Nutrisi kurang dari
takut saat memberi susu kebutuhan tubuh
karena takut tersedak Anak mengalami perlambatan
DO : pertumbuhan dan perkembangan
 BB = 4 kg ( gizi
buruk menurut Anak belum memulai makanan
NCHS) tambahan
 klien mengalami
keterlambatan jumlah protein menurun
pertumbuhan dan
perkembangan energy menurun

kelelahan saat minum dengan dot

nafsu makan berkurang

malnutris

nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh

3. DS : Anak tampak bergerak aktif Resiko tinggi jatuh


DO :
 Anak tampak Resiko tinggi jatuh
bergerak aktif
 usia < 12 tahun

3. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1) Bersihan jalan napas tidak efektif berhubungan dengan akumulasi sekret di bronkus
ditandai wheezing (+), ronchi (+), RR= 52 x/menit.
2) Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan kelelahan ditandai dengan
sesak saat minum dengan dot, gizi buruk menurut NCHC
3) Resiko tinggi jatuh
4. PERENCANAAN

Diagnosa Perencanaan Keperawatan


Keperawatan
Tujuan dan kriteria Intervensi Rasional
hasil

Bersihan jalan Jalan napas pasien akan 1. Auskultasi bunyi napas Menetukan adekuatnya pertukaran gas dan
napas tidak paten dengan kriteria luasnya obstruksi akibat mucus.
efektif b.d. hasil jalan napas bersih,
2. Kaji karakteristik secret Infeksi ditandai dengan secret tebal dan
akumulasi batuk hilang, x ray
sekret di bersih, RR 15 – 35 3. Beri posisi untuk pernapasan kekuningan
bronkus X/menit. yang optimal yaitu 35-45 0 Meningkatkan pngembangan diafragma

4. Lakukan nebulizer, dan Nebulizer membantu menghangatkan dan


fisioterapi dada bila perlu mengencerkan secret. Fisioterapi membantu
merontokan secret untuk dikeluarkan.

Membantu mengeluarkan sekret karenabatuk


tidak efektif
5. Lakukan suctioning
Menghambat pertumbuhan mikoroorganisme
6. Beri agen antiinfeksi sesuai Cairan adekuat membantu mengencerkan secret
order sehingga mudah dikeluarkan
7. Berikan cairan per oral atau iv
line sesuai usia anak.
Nutrisi kurang Nutrisi dapat seimbang 1. Timbang berat badan dan 1. Meningkatkan intake meskipun nafsu
dari kebutuhan selama berikan makan sedikit dan makan menurun agar berat badan pasien
tubuh perawatan sering kembali normal.
berhubungan Kriteria Hasil : 2. Health Education pemenuhan 2. Memberikan pengetahuan akan kesehatan
dengan Secara umum, kriteria nutrisi sesuai kebutuhan kalori. anak supaya orang tua dapat berperan
kelelahan hasil 3. Kolaborasi : penambah nafsu dengan baik dalam merawat anak.
ditandai yang ingin dicapai ialah: makan 3. Penambah nafsu makan diberikan untuk
dengan sesak 1. Berat badan meningkatkan nafsu makan agar kebutuhan
saat minum 2. anak normal atau nutrisi terpenuhi.
dengan dot, meningkat.
gizi buruk 3. hemoglobin dan
menurut albumin normal.
NCHC 4. Tidak lemah, lesu,
maupun pucat.
5. Porsi makan habis.
Kriteria secara khusus
ialah:
a. Menunjukkan
peningkatan nafsu
makan.
b.Mempertahankan/meni
ngkatkan berat badan,
lingkar lengan atas
normal
c. Tidak adanya anoreksi

Resiko tinggi Setelah dilakukan asuhan 1. Identifikasi faktor yang 1. Faktor-faktor tersebut menjadi acuan
jatuh keperawatan selama 15 mempengaruhi kebutuhan intervensi selanjutnya.
menit tidak terjadi resiko keamanan, misal : defisit 2. Lingkungan sekitar klien dapat menjadi
jatuh pada klien dengan motorik/sensorik, perubahan penyebab cedera klien apabila tidak
kriteria hasil: status fisik, tingkat kesadaran diperhatikan keamanannya.
 Kesadaran optimal klien. 3. Bed plang yang dipasang di kanan-kiri klien
 Tanda-tanda vital 2. Identifikasi faktor lingkungan dapat mengurangi risiko cedera/jatuh.
dalam batas normal yang memungkinkan resiko
 Klien tidak jatuh jatuh (posisi pasien senyaman
mungkin).
3. Pasang bed plang dan ingatkan
orang tua
5. IMPLEMENTASI DAN EVALUASI
Nama Pasien : By. A Ruangan : Kenanga 1
No. Medrek : 0001552114 Nama Mahasiswa : Elva Sujana & Bagus dwi santoso
Diagnosa Implementasi Evaluasi Paraf
1,2,3  melakukan Auskultasi bunyi napas Wheezing (+), ronhi (+), RR=44 x/menit, tampak penggunaan
otot-otot pernafasan saat bernafas.
 memberikan agen antiinfeksi sesuai Obat dimasukan melalui NGT dengan bilasan 10 ml, demam (-
order ), muntah (-)
- INH 1x40 mg pulvis po
- Rifampisin 1x 60 mg pulv po
- Pirazinamid 1x40 mg pulv po
- Etambutol 1x80 mg pulv po

Susu formula diberikan melalui NGT 70 ml, tersedak (-),


 memberikan cairan per oral
- memberikan susu formula 70 muntah (-)
ml/3 jam melalui NGT Bed plang klien terpasang

 Memasang bed plang klien


6. CATATAN PERKEMBANGAN
Nama Pasien : By. A Ruangan : Kenanga 1
No. Medrek : 0001552114 Nama Mahasiswa : Elva Sujana & Bagus dwi santoso
No.Dx Tgl/jam SOAP Paraf
1,2,3 19-01-2017 S: Klien tenang, kesadaran CM
13.00 O:
 TD = -, HR= 142x/menit, RR=44x/menit, S= 37,2oC, wheezing (+), ronhi (+)
 Terpasang NGT
 Klien tampak bergerak aktif, sering tidur
A:
 Bersihan jalan nafas tidak efektif
 Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
 resiko tinggi jatuh
P:
 Observasi Tanda-tanda vital
 observasi bunyi nafas
 Monitor intake nutrisi
 memasang bed plang
 Kolaborasi pemberian antibiotic
I:
 melakukan Auskultasi bunyi napas
 memberikan agen antiinfeksi sesuai order
- INH 1x40 mg pulvis po
- Rifampisin 1x 60 mg pulv po
- Pirazinamid 1x40 mg pulv po
- Etambutol 1x80 mg pulv po
 memberikan cairan per oral
- memberikan susu formula 70 ml/3 jam melalui NGT
 Memasang bed plang klien
E:
Wheezing (+), ronhi (+), RR=44 x/menit, tampak penggunaan otot-otot pernafasan saat
bernafas, Obat dimasukan melalui NGT dengan bilasan 10 ml, demam (-),Susu formula
diberikan melalui NGT 70 ml, tersedak (-), muntah (-),Bed plang klien terpasang
R:
Kesadaran CM, klien tampak tenang, terpasang NGT, Weezing (+), ronhi (+),
RR=44x/menit, HR= 135x/menit, S= 37,4oC
DAFTAR PUSTAKA

Hendarno, A & Nasar, S.S.,(2002). Aspek Praktis Nutrisi Parenteral pada Anak. Subbagian Gizi & Metabolik bag Ilmu

Kesehatan Anak FKUI RSCM. Sari Pediatri, Vol 3, No.4

Herdman, T.H. & Kamitsuru, S. (Eds). (2014). NANDA International Nursing Diagnoses : Definitions & Classifications,

2015-2017. Oxford : Wiley Blackwell

Kyle, T & Carman, S. (2014). Buku Ajar Keperawatan Pediatrik (Edisi 1). Jakarta : EGC

(2014). Buku Ajar Keperawatan Pediatrik (Edisi 2). Jakarta : EGC


Muttaqin, A. (2011). Asuhan Keperawatan Gangguan Sistem Perkemihan. Jakarta: Salemba Medika.
Wilkinson, J.M. (2016). Diagnosis Keperawatan : Diagnosa NANDA-I, Intervensi NIC, hasil NOC, Ed 10. Jakarta : EGC