Anda di halaman 1dari 10

MAKALAH

HAMA PADA TANAMAN JERUK

Mata kuliah :
Hama dan Penyakit Tanaman Hortikultura

Oleh :

Santha F.C. Polakitan


17031109007

PROGRAM STUDI PROTEKSI TANAMAN


JURUSAN HAMA DAN PENYAKIT TUMBUHAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SAM RATULANGI
2019
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Jeruk merupakan komoditas buah-buahan yang mempunyai nilai ekonomi penting
dan nilai kesehatan yang berarti karena mengandung nilai gizi yang tinggi (Vitamin C
dan vitamin A). Buah jeruk dapat dikonsumsi langsung sebagai buah segar atau juice dan
dapat pula diolah menjadi sirup. Buah jeruk merupakan sumber vitamin C yang berguna
untuk kesehatan manusia. Kandungan vitamin C sangat beragam antarvarietas, berkisar
antara 27-49 mg/100 g daging buah. Makin tua buah jeruk, biasanya makin berkurang
kandungn vitamin C-nya, tetapi semakin manis rasanya. Varietas jeruk sangat banyak,
masing-masing jenis mempunyai karakteristik yang berbeda.
Jeruk merupakan salah satu komoditas unggulan yang dibudidayakan masyarakat
sebagai penunjang perekonomian rumah tangga mereka. Belakangan ini sebagian besar
kebun jeruk diserang berbagai jenis hama dan penyakit sehingga mengakibatkan
produktivitas dari tanaman jeruk tersebut menurun. Serangan hama tersebar yang
mengakibatkan serangan hama ini ribuan ton buah jeruk busuk dan gugur ke tanah,
sehingga membuat para petani mengalami kerugian yang cukup besar.
Dewasa ini kebutuhan penggunaan IPTEK dalam semua bidang semakin
meningkat, terutama pada bidang pengetahuan tentang menanganai hama penyakit dalam
ilmu hama dan penyakit. Oleh sebab itu perkembangan dilakukan untuk memenuhi
kebutuhan sehari-hari, yaitu untuk kelanjutan hidup dengan cara budidaya tanaman seprti
jeruk. Tetapi apabila tanaman jeruk mudah terserang penyakit sehingga bias dipungkiri
gagal panen yang berdampak kerugian dalam hal tenaga ataupun biaya. Untuk lebih
meminimalisasi gagal panen yang disebabkan hama penyakit bias ditindaklanjuti dengan
cara perlakuan mekanis, biologis ataupun kimiawi. Sehingga bisa mendapatkan panen
yang maksimal. Untuk lebih jelasnya lagi akan dibahas di bab berikutnya
1.2 Tujuan
Tujuan dari penyusunan makalah ini yaitu untuk mengetahui macam-macam
hama penting yang menyerang tanaman jeruk serta bagaimana gejala serangan dari hama
tersebut dan cara pengendaliannya.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Klarifikasi Tanaman Jeruk


Tanaman jeruk merupakan anggota family jeruk-jerukan (Rutaceae). Adapun
klasifikasi tanaman jeruk menurut Otto H (2015, Hlm. 2) adalah :
Kingdom : Plantae
Filum : Sprematophyta
Subfilum : Angiospermae
Kelas : Dicotyledoneae
Ordo : Rutales
Famili : Rutaceae
Subfamili : Aurantioidae
Suku : Citreae
Sub suku : Citrineae
Genus : Citrus
Species : Citrus sp
Jeruk merupakan salah satu tanaman hortikultura komoditas buah-buahan yang
sangat disukai oleh masyarakat dan dapat dikonsumsi baik dalam bentuk buah segar
maupun hasil olahan. Buah jeruk kaya akan vitamin dan mineral yang baik untuk
kesehatan tubuh. Pada jeruk manis terdapat kalori 51 kal, protein 0.9 g, lemak 0.2 g,
karbohidrat 11.4 g, mineral 0.5 g, kalsium 33 mg, fosfor 23 mg, besi 0.4 mg dan asam
askorbat 49 mg. Buah jeruk juga mengandung beta karoten dan thiamin (Anonim, 2008).
Pemenuhan kebutuhan jeruk dalam jumlah yang besar membutuhkan pengembangan
teknologi produksi yang optimal. Beberapa hal yang perlu diperhatikan untuk memenuhi
kondisi yang optimal bagi pertumbuhan dan produksi tanaman jeruk antara lain:
tersedianya bibit unggul, pemilihan lokasi lahan, persiapan lahan, sanitasi, pemupukan,
pengairan, serta pengendalian hama dan penyakit tanaman jeruk (Prasha dan Arief, 2009).

2.2 Pengertian Hama


Hama tumbuhan adalah organisme yang menyerang tanaman budidaya sehingga
pertumbuhan dan perkembangannya terganggu. Hama dalam jumlah populasi tertentu
dapat menyebabkan kerugian ekonomi serta usaha budidaya yang dilakukan petani
menjadi sia-sia.
Masalah yang diakibatkan hama tanaman sudah tidak asing bagi para petani baik
tanaman pangan, hortikultura, maupun perkebunan (Surachman dan Suryanto, 2007).
Hama diartikan sebagai organisme baik mikroba, tanaman, dan atau binatang yang
menyebabkan luka pada manusia, hewan ternak, tanaman budidaya, bahan simpanan,
gedung, dan lainnya. Hama pada tanaman pertanian meliputi mikroba patogen penyebab
penyakit (virus, mikroplasma, bakteri, fungi), nematoda parasit tanaman, gulma,
vertebrata (rodensia, burung, mamalia), artropoda (serangga, tungau, dan millipedes),
serta moluska (Purnomo, 2010).
Serangga merupakan hewan multiseluler yang paling dominan di bumi. Serangga
memiliki enam kaki dan tubuhnya terbagi menjadi tiga bagian, yaitu kepala, toraks, dan
abdomen (Chapman, 2013). Lebih dari 700.000 spesies serangga telah diidentifikasi,
tetapi hanya 25% yang telah dipelajari secara rinci, yang sebagian kecilnya merupakan
serangga yang bertindak sebagai hama bagi tanaman yang diusahakan manusia (Purnomo,
2010).
BAB III
PEMBAHASAN

HAMA PENTING PADA TANAMAN JERUK

1. Lalat Buah (Dacus dorsalis Hend.)

Sumber: http://balitjestro.litbang.pertanian.go.id/serangan-lalat-buah-pada-jeruk/
Lalat buah (Bactrocera spp), merupakan salah satu hama penting pada jeruk. Kerusakan
yang ditimbulkan oleh larvanya akan menyebabkan gugurnya buah sebelum mencapai
kematangan yang diinginkan. Hal ini sangat merugikan karena dapat menghambat
peningkatan produksi dan mutu buah. Buah yang terserang mudah dikenali dengan
adannyaperubahan warna kulit di sekitar tanda sengatan dan terjadinya pembusukan
buah dengan cepat. Pada buah yang terserang biasanya terdapat lubang kecil di bagian
tengah kulitnya/. Hal tersebut disebabkan oleh larva lalat buah yag hidup di dalam buah
yang hampir masak sehingga menyebabkan buah menjadi busuk. Apabila dibelah pada
daging buah terdapat belatung-belatung kecil yang biasanya meloncat apabila tersentuh.
Pada jeruk, lalat buah paling banyak menyerang pamelo (citrus grandis) dan sedikit
yang menyerang jeruk manis (C.sineis) serta jeruk jenis lain. Pada pamelo serangan lalat
buah menyebabkan kerugian 30-60% kadang-kadang bersamaan dengan serangan
penggerek buah (Citripestis segittiferella), sehingga agak sulit membedakan kedua hama
tersebut. Jenis lalat buah yang menyerang jeruk di Indonesia dilaporkan ada 4 jenis yairu
B. Carambolae, B. Papaye, B. Dorsalis dan B.Cucurbitae.
Pengendalian:
Berdasarkan hasil monitoring pengandalian lalat buah dapat dilakukan dengan beberapa
cara atau teknologi yang dapat diaplikasikan yaitu :
 Pengandalian fisik dengan pembungkusan buah mulai umur 1.5 bulan untuk
mencegah oviposisi(peletakan telur)pada buah. Pembungkusan dapat dilakukan
dengan menggunakan kertas semen atau kantong plastik.
 Sanitasi kebun, memusnahkan buah jeruk yang terserang baik yang masih dipohon
maupun yang sudah gugur dengan cara membenamkan ke dalam tanah atau
membakarnya, dengan tujuan mematikan larva yang ada di tanah.
 Penggunaan atraktan/perangkap lalat buah jantan dengan senyawa Methyl Eugenol
(ME) yang dikombinasikan dengan insektisida untuk menangkap lalat jantan
sekaligus mengendalikan.
 Pengendalian mekanis dengan tanah di bawah tajuk dan pengasapan secara berkala
agar pupa tidak menjadi dewasa dan untuk mengusir lalat dewasa.
 Pengendalian dengan pelepasan serangga mandul yang dihasilkan dengan teknik
radiasi. Pengendalian ini masih merupakan pengendalian yang mahal.
 Pengendalian biologi, yaitu dengan memanfaatkan parasitoid dan predator yang ada
di alam seperti Biosteres sp., Opius sp., semut dan laba-laba

2. Hama Thrips (Scirtothrips citri)


Gejala : Thrips menyerang bagian tangkai dan daun muda mengakibatkan helai daun
menebal, kedua sisi daun agak menggulung ke atas dan pertumbuhannya tidak normal.
Serangan pada buah terjadi mulai pada fase bunga dan ketika buah masih sangat muda,
dengan meninggalkan bekas luka berwarna coklat keabu-abuan yang disertai garis
nekrotis di sekeliling luka, tampak di permukaan kulit buah di sekeliling tangkai atau
melingkar pada sekeliling kulit buah. Kerusakan serangan hama ini dapat menurunkan
kualitas sebesar 30-60%.

Serangan thrips pada bunga dan buah jeruk


Sumber: http://balitjestro.litbang.pertanian.go.id/gejala-serangan-thrips-dan-pengendaliannya-pada-jeruk/

Pengendalian : Menjaga agar lingkungan tajuk tanaman tidak terlalu rapat sehingga
sinar matahari bisa menerobos sampai ke bagian dalam tajuk. Hindari penggunaan
mulsa jerami yang dapat digunakan untuk tempat bertelur. Pengendalian terhadap hama
ini pada saat tanaman sedang bertunas, berbunga dan pembentukan buah pada musim
kemarau cukup efektif mengendalikan populasi thrips. Secara kimia thrips dapat
dikendalikan dengan penyemprotan insektisida berbahan aktif
Alfametrin/Alfasipermetrin.

3. Kutu daun
Gejala: Kutu daun ini menyerang tunas dan daun muda dengan cara menghisap cairan
tanaman sehingga helaian daun menggulung. Koloni kutu ini berwarna hitam, coklat
atau hijau kekuningan tergantung spesiesnya. Kutu menghasilkan embun madu yang
melapisi permukaan daun sehingga merangsang jamur tumbuh (embun jelaga).
Di samping itu, kutu juga mengeluarkan toksin melalui salivanya sehingga timbul gejala
kerdil, deformasi dan terbentuk puru pada helaian daun.
Di antara kutu daun yang menyerang tanaman jeruk, kutu daun coklat dan hitam
merupakan yang terpenting karena kutu tersebut merupakan penular virus penyebab
penyakit Tristeza.
Kutu Daun Hitam Kutu Daun Coklat Kutu Daun Hijau
sumber: http://balitjestro.litbang.pertanian.go.id/kutu-daun-dan-pengendaliannya-pada-tanaman-jeruk/

Pengendalian : Monitoring diutamakan pada tunas-tunas muda. Pengendalian dilakukan


apabila populasi hama ini dinilai bisa menghambat atau merusak pertumbuhan tunas.
Sebagai vektor, ambang kendali untuk kutu ini ± 25-30 ekor viruliverous. Di alam kutu
ini dikendalikan oleh predator-predator dari famili Syrpidae, Coccinellidae,
Chrysopidae. Secara kultur teknis, penggunaan mulsa jerami di bedengan pembibitan
jeruk dapat menghambat perkembangan populasi kutu. Untuk pengendalian secara
kimiawi dapat dilakukan dengan menggunakan insektisida berbahan aktif Dimethoate,
Alfametrin, Abamektin dan Sipermetrin secara penyemprotan terbatas pada tunas-tunas
yang terserang dan apabila serangan parah dapat dikendalikan dengan Imidaklopind
yang diaplikasikan melalui saputan batang.

4. Tungau Karat (Phyllocoptura oleivera Ashmed)


Gejala : Tungau menyerang permukaan atas dan bawah daun, dimana daun yang
terserang tungau berbercak –bercak berwarna putih. Serangan tungau dimulai dari
pangkal daun dan sepanjangtulang daun jeruk, kemudian menyebar ke seluruh
daun jeruk. Pada populasi tungau yang tinggi, tungau dapat berpindah atau
menyerang pada permukaan kulit buah jeruk. Hasil pengamatan di lapang
menunjukan bahwa tungau ini menyebabkan warna daun menjadi kusam dan
penampilan buah kurang menarik (burik), sehingga menurunkan kualitas buah jeruk,
menurunkan harga jual buah jeruk sehingga dampak efeknya mengurangi pendapatan
petani.
Pengendalian :
Pengendalian Hayati Tungau Karat Jeruk : Beberapa musuh alami yang dapat
menekan perkembangan populasi tungau karat jeruk adalah predator
Amblyseius victoriensi. Predator A. victoriensisdengan jumlah 40 ekor per 100
daun mampu menurunkan populasi tungau karat jeruk kurang lebih 5% dari buah
jeruk yang terserang. Pelepasan secara augmentasi A. victoriensissangat diperlukan
untuk menyeimbangkan kembali setelah aplikasi pestisida sintetik. Selain predator,
terdapat cendawan entomopatogen yang dapat menginfeksi tungau karat jeruk di
lapangan, yaitu Hirsutella thompsoniiFisher yang merupakan mycoakaricide yang
berpotensi untuk mengendalikan tungau karat jeruk.
Pengendalian Kimiawi Tungau Karat Jeruk : Di beberapa sentra produksi jeruk, yang
area nya tanaman jeruk ditanam secara monokultur dan tungau karat jeruk merupakan
hama utama, penyemprotan akarisida selama musim pertumbuhan sangat
diperlukan untuk tindakan pengendalian. Aplikasi akarisida harus dilakukan dengan hati
–hati, dianjurkan penyemprotan dilakukan secara menyeluruh pada kanopi dihindari
karena akan menyebabkan pemborosan dana pengendalian serta berpotensi
membunuh musuh alaminya. Harus diperhatikan pula ukuran dropletpada
penyemprotan, karena akan memengaruhi “run off” cairan semprot dari permukaan
bagian tanaman. Ukuran drop let yang lebih kecil akan mengurangi “run off” cairan
dari permukaan buah, sehingga cairan yang jatuh ke tanah semakin sedikit dan cairan
yang menempel pada buah, volumenya semakin banyak dan mortalitas tungau karat
jeruk lebih tinggi.

5. Kutu Dompolan (Pseudococcus citri Risso)


Gejala serangan: Kutu menyerang tangkai buah dan meninggalkan bekas berwarna
kuning kemudian kering sehingga banyak buah yang gugur. Pada bagian tanaman yang
terserang tampak dipenuhi oleh kutu-kutu putih seperti kapas.
Cara pengendalian
 Pengendalian secara bercocok tanam/kultur teknis, meliputi cara-cara yang mengarah
pada budidaya tanaman sehat yaitu : terpenuhinya persyaratan tumbuh (suhu, curah
hujan, angin, ketinggian tempat, tanah), pengaturan jarak tanam, pemupukuan,
pengamatan sekitar 20 % populasi tanaman khususnya pada buah (10 buah/tanaman
secara acak) yang mengandung kutu.
 Pengendalian mekanis dan fisik, dilakukan dengan menjaga kebersihan kebun dengan
mengadakan sanitasi gulma, cabang-cabang dan buah terserang berat dan
memusnahkannya.
 Pengendalian biologi, dengan memanfaatkan musuh alami :
Predator dari famili Coccinelidae, Scymnus apiciflavus Mits., S. Roepkei DeFl., Brumus
saturalis F., Coccinella repanda (C. Transversalis F.) dan Cocodiplosis smithi De Mey.
Parasitoid Anagrus greeni How. dan Leptomastix trilongifasciatus Gir.
 Pengendalian kimiawi, dengan menggunakan insektisida selektif dan efektif sesuai
rekomendasi, khususnya yang sistemik, bila buah terserang 5 %.
BAB IV
PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Jeruk merupakan komoditas buah-buahan yang mempunyai nilai ekonomi penting
dan nilai kesehatan yang berarti karena mengandung nilai gizi yang tinggi (Vitamin C dan
vitamin A).
Ada macam-macam hama menyerang tanaman jeruk. Serangan hama-hama
tanaman jeruk tersebut dapat mengakibatkan penurunan produktivitas hasil bahkan dapat
menyebabkan kerugian bagi para petani jeruk. Cara pengendalian hama tersebut dapat
dilakukan dengan cara preventif (pencegahan), mekanis (secara manual), biologis
(dengan memanfaatkan patogen dan parasitoid), dan kimiawi (penggunaan pestisida).
Pengendalian secara kimiawi merupakan tindakan terakhir untuk pengendalian hama dan
penyakit apabila sudah tidak dapat dikendalikan menggunakan ketiga cara lainnya, karena
pengendalian secara kimiawi memiliki banyak dampak negatif bagi lingkungan, seperti
pencemaran lingkungan serta juga membunuh musuh alami hama.
DAFTAR PUSTAKA

http://repository.uin-suska.ac.id/5775/3/BAB%20II%20TINJAUAN%20PUSTAKA.pdf di
akses pada 18 agustus 2019
http://etheses.uin-malang.ac.id/987/4/04520003%20Bab%202.pdf di akses pada 18 agustus
2019
http://repository.unpas.ac.id/31120/5/15.%20Bab%20II%20Ikhsan%20gatot%20A.P.pdf di
akses pada 18 agustus 2019
http://e-journal.uajy.ac.id/12522/3/BL014062.pdf di akses pada 18 agustus 2019
https://studylibid.com/doc/231032/makalah-dbt-hama-dan-penyakit-jeruk di akses pada 18
agustus 2019
http://balitjestro.litbang.pertanian.go.id/serangan-lalat-buah-pada-jeruk/ di akses pada 18
agustus 2019

http://balitjestro.litbang.pertanian.go.id/kutu-daun-dan-pengendaliannya-pada-tanaman-jeruk/
di akses pada 18 agustus 2019

http://balitjestro.litbang.pertanian.go.id/gejala-serangan-thrips-dan-pengendaliannya-pada-
jeruk/ di akses pada 18 agustus 2019

http://ditlin.hortikultura.pertanian.go.id/index.php?option=com_content&view=article&id=10
7&Itemid=87 di akses pada 18 agustus 2019

https://docplayer.info/51315880-Tungau-karat-jeruk-phyllocoptruta-oleivora.html di akses pada 18


agustus 2019