Anda di halaman 1dari 20

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kahadirat ALLAH SWT, yang telah memberikan
rahmat dan karunianya kepada kami. Sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah
mengenai “GASTROESOFAGEAL REFLUKS DISEASE”, yang merupakan salah
satu tugas untuk dapat mengikuti MOPK semester VI. Penulis menyadari bahwa
dalam penulisan dan penyusunan makalah ini banyak terdapat kekurangan dan
kesalahan, maka dari itu kami mengharapkan saran dan kriti yang membangun demi
kesempurnaan makalah ini.
Akhir kata, penulis berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi para
pembaca pada umumnya penulis kami khususnya.

Yogyakarta, 15 mei 2008

Penulis
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ………………………………………………………….. . 1


DAFTAR ISI ……………………………………………………………………. . 2
BAB I. PENDAHULUAN
I.a. Definisi GERD ………………………………………………………. .3
I.b. Etiologi dan Patogenesis GERD …………………………………….. .
I.c. Patofisiologi GERd ………………………………………………….. .
I.d. Manifestasi klinis …………………………………………………… .
I.e. Pemeriksaan penunjang ……………………………………………….
I.f. Penatalaksanaan ……………………………………………………….
BAB II. ASUHAN KEPERAWATAN
2.a. Pengkajian ……………………………………………………………
2.b. Diagnosa Keperawatan ………………………………………………
2.c. Perencanaan ………………………………………………………….
BAB III. PENUTUP
3.a. Kesimpulan …………………………………………………………..
DAFTAR PUSTAKA ……………………………………………………………..
BAB I
PENDAHULUAN

Refluk gastroesofageal merupakan fenomena fisiologis yang normal yang


dialami hampir setiap orang, terutama terjadi setelah makan. GERD terjadi ketika
sejumlah kandungan lambung yang masuk kedalam esofagus melebihi batas normal,
menyebabkan tanpa atau dengan gejala yang berhubungan dengan trauma pada
mukosa esofagus (esofagitis).
Refluk kandungan lambung dapat menimbulkan berbagai gejala diesofagus
dan ekstra esofagus. GERD yang tidak diterapi akan mengganggu kualitas hidup dan
menimbulkan komplikasi pada esofagus seperti : esofagitis, ulserasi, striktur,
pendarahan, Barret`s esofagus dengan kecenderungan menjadi maligna.
GERD pada umumnya ditemukan pada populasi dinegara Barat, tingginya
refluks pada populasi dinegara Barat diduga disebabkan karena factor diet dan
meningkatnya obesitas selain itu, manifestasi ekstra esofagus dari GERD ini
termasuk asma, batuk kronik dan laryngitis. Mengingat kemungkinan komplikasi
jangka panjang berupa ulserasi, striktur esofagus, ataupun esophagus Barret`s yang
merupakan premaligna, maka sebaiknya penyakit ini mendapatkan penatalaksanaan
yang adekuat.

I.a DEFINISI

Penyakit GERD adalah suatu keadaan patologis sebagai akibat refluks


kandungan lambung kedalam esofagus, dengan berbagai gejala yang timbul akibat
keterlibatan esofagus, faring, laring, dan saluran nafas. Telah diketahui bahwa refluks
kandungan lambung dapat menimbulkan berbagai gejala diesofagus dan ekstra
esofagus.

I.b .ETIOLOGI DAN PATOGENESIS

GERD bersifat multi fakorial. Esofagitis dapat terjadi sebagai akibat dari
refliks gastroesofageal apabila :
1. terjadi kontak dalam waktu yang cukup lama antara bahan refluksat dengan
mukosa esophagus.
2. terjadi penurunan resistensi jaringan mukosa esofagus walaupun kontak antara
bahan refluksat dengan esophagus tidak cukup lama.
Esofagus dan gaster dipisahkan oleh zona tekanan tinggi (high pressure zone) yang
dihasilkan oleh kontraksi LES. Pada orang normal pemisah ini akan dipertahankan
kecuali pada saat terjadi aliran antegard yang terjadi pada saat menelan, aliran
retogard yang terjadi pada saat sendawa/muntah, aliran balik dari gaster ke esophagus
melalui LES, hanya terjadi apabila tonus LES tidak ada atau sangat rendah
(<3mmHg).
Refluks gastroesofageal pada penderita GERD terjadi melalui 3 mekanisme yaitu :
1. refluks spontan pada saat relaksasi LES yang tidak adekuat
2. aliran retogard yang mendahului kembalinya tonus LES setelah menelan
3. meningkatnya tekanan intra abdomen
Dengan demikian dapat diterangkan bahwa patogenesis terjadinya GERD
menyangkut keseimbangan antara faktor defensif dari esofagus dan faktor ofensif dari
bahan refluksat.
Sebagian besar penderita GERD ternyata mempunyai tonus LES yang normal. Faktor-
faktor yang dapat menurunkan tonus LES antara lain :
1. adanya hiatus hernia
2. panjang LES atau makin pendek LES makin rendah tonusnya
3. obat-obatan seperti : antikolinergik, ß adrenergik, ofiat dll
4. faktor hormonal, selama kehamilan peningkatan kadar progesterone dapat
menurunkan tonus LES

I.c PATOFISIOLOGI

Esofagus merupakan suatu organ silindris berongga dengan panjang sekitar 25


cm dan garis tengah 2 cm, terbentang dari hipofaring hingga kardia lambung.
Esofagus terletak posterior terhadap jantung dan trachea, anterior terhadap vertebra
dan berjalan melalui lubang pada diafragma tepat anterior terhadap aorta, esophagus
terutama berfungsi menghantarkan bahan yang dimakan dari faring ke lambung.

I.d MANIFESTASI KLINIS


Gejala klinik yang khas dari GERD adalah nyeri atau rasa tidak enak
diepigastrium atau retrostenal bagian bawah. Rasa nyeri dideskripsikan sebagai rasa
terbakar (heartburn) dirasakan sebagai sensasi nyeri esofagus yang sifatnya panas
terbakar atau rasa tidak nyaman dan umumnya timbul dibelakang ujung bawah
sternum. Penjalarannya keatas hingga rahang bawah dan epigastrium belakang
punggung bahkan kelengan kiri menyerupai pada angina pectoris. Timbulnya keluhan
ini diduga akibat rangsangan kemoreseptor pada mukosa esophagus.
Rasa terbakar tersebut disertai dengan sendawa mulut terasa asam dan pahit
serta merasa cepat kenyang, gejala ini kebanyakan timbul1/2-1 jam setelah makan dan
bila berbaring atau bersandar. Intensitas nyeri akan meningkat saat penderita
membungkukkan badan, berbaring/mengejan. GERD juga dapat menimbulkan
manifestasi ekstra esofageal yang atipik dan sangat bervariasi. Bentuk atau weezing
adalah gejala respiratori akibat dari respirasi isi lambung ke percabangan
trakheobronkial/berasal dari arcus refleks vagal yang menghasilkan bronkokontriksi.
Suara sesak merupakan akibat dari iritasi pita suara yang disebabkan oleh karena
refluks isi lambung. Beberapa penyakit paru dapat menjadi faktor presdisposisi untuk
timbulnya GERD karena timbulnya perubahan anatomis didaerah gastroesofageal
high pressure zone akibat penggunaan obat-obat yang menurunkan tonus LES
(misalnya teofilin). Gejala GERD biasanya berjalan perlahan-lahan sangat jarang
terjadi episode akut atau keadaan yang bersifat mengancam nyawa. Oleh sebab, itu
umumnya penderuta GERD memerlukan penatalaksanaan secara medik.

I.e PEMERIKSAAN PENUNJANG

Disamping anamnesis dan pemeriksaan fisik yang seksama beberapa


pemeriksaan penunjang dapat dilakukan untuk menegakkan diagnosis GERD yaitu :
1. Endoskopi saluran cerna bagian atas
Pemeriksaan saluran cerna bagian atas merupakan standar baku untuk
diagnosis GERD dengan ditemukannya mucosal break diesofagus (esofagus
refluks). Dengan pemeriksaan endoskopi dapat dinilai perubahan mikroskopik
dari mukosa esofagus serta dapat menyingkirkan keadaan patologis lain yang
dapat menimbulkan gejala GERD
2. Sintigrafi gastroesofageal
Pemeriksaan ini menggunakan cairan yang dicampur makanan yang dilabel
dengan radioisotope, biasanya echnetium yang digunakan untuk mengukur
refluks
3. Manometri esophagus
4. Biopsi mukosa
5. Pemantauan PH 24 jam

I.f PENATALAKSANAAN

Terapi GERD yang efektif sebaiknya memenuhi 3 tujuan antaran lain :


- Pengobatan terutama ditujukan untuk mengontrol simtom, dan sebagian besar
penderita mengalami pengurangan gejala dengan terapi yang sesuai
- Terapi yang efektif sebaiknya juga menyembuhkan kerusakan mukosa
esophagus (esofagitis erosit)
- Terapi yang efektif sebaiknya dapat mencegah komplikasi refluks yang kronik
meliputi striktur esophagus, ulserasi, dan perdarahan
Pada prinsip penatalaksanaan GERD terdiri dari : modifikasi gaya hidup, terapi
medikamentosa, terapi bedah serta akhir-akhir ini mulai dilakukan terapi endoskopi.
Modifikasi gaya hidup :
- Meninggikan posisi kepala pada saat tidur serta menghindari makan sebelum
tidur dengan tujuan meningkatkan bersihan asma selama tidur serta mencegah
refluks asam dari lambung ke esofagus karena refluks pada posisi telentang
merupakan penyebab tersering dari gejala GERD
- Berhenti merokok dan mengkonsumsi alcohol karena keduanya dapat
menurunkan tonus LES
- Menurunkan berat badan
- Modifikasi diet, penderita sebaiknya dinasehati untuk mengevaluasi diet dan
menghilangkan agen-agen yang dapat menimbulkan gejala, mengurangi
konsumsi lemak
- Menghindari obat-obatan yang dapat menurunkan tonus LES seperti :
antikolinergik, teofilin, diazepam, opiat, antagonis kalsium, agonis ß
adrenergik, dan progesterone
Obat-obatan yang digunakan pada terapi medikamentosa :
- Antasida
dosis pemberian = 4 x1 sendok makan sehari
- Agen prokinetik
- metoklopramid, dosis pemberian = 3x10 mg sehari
- domperidon, dosis pemberian = 3x10-20 mg sehari
- cisapride, dosis pemberian = 3x10 mg sehari
- Antagonis reseptor H (ARH )
ARH ini mengikat reseptor histamin-2 penderita esofagitis gejala
sedang/berat dapat diberikan dengan dosis 2x lebih tinggi sehari.
Simetidin = 2x800 mg / 4x400 mg
Ranitidine = 4x150 mg
Famotidin = 2x20 mg
Nizatidin = 2x150 mg
Terapi bedah :
Terapi pembedahan dianjurkan pada stadium yang awal untuk mencegah sekuele yang
dapat menyebabkan kematian. Tujuan terapi pembedahan pada GERD adalah untuk
memulihkan mukosa barier anti refluks tanpa menciptakan obstruksi bolus makanan,
pada umumnya, pembeahan yang dilakukan adalah fundoplikasi
BAB II
ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN PENYAKIT
GASTROESOFAGEAL REFLUKS DISEASE

2.a. PENGKAJIAN
Tanggal pengkajian : ……
Jam : ……
Dx : Gastroesofageal refluks disease

1. BIODATA
a. IDENTITAS KLIEN
Nama :
Umur :
Jenis kelamin :
Agama :
Alamat :
Suku bangsa :
Pekerjaan :
Pendidikan :
b. PENANGGUNG JAWAB
Nama :
Umur :
Jenis kelamin :
Agama :
Alamat :
Suku bangsa :
Pekerjaan :
Pendidikan :
Hub. dengan pasien :
2. RIWAYAT KEPERAWATAN
a. Keluhan utama :
Pada pasien GERD terdapat demam disertai nyeri perut
b. Riwayat Penyakit Sekarang :
Pasien mengeluh demam disertai nyeri kepala, pasien juga mengatakan
cepat lelah, nafsu makan menurun, dan pasien tampak lelah. Pasien
dibawa kerumah sakit dan didiagnosa menderita penyakit GERD
c. Riwayat Kesehatan Dahulu :
Pasien belum pernah menderita penyakit ini sebelumnya
d. Riwayat Kesehatan Keluarga :
Dari anggota keluarga tidak ada yang menderita penyakit seperti ini
e. Riwayat Kesehatan Lingkungan :
Pasien mengatakan lingkungan disekitar rumahnya berdebu
f. Genogram

Keterangan :
: Laki-laki meninggal : Saudara kandung

: Perempuan meninggal : Tinggal serumah

: Laki-laki : Perempuan

: Pasien : Menikah
3. POLA FUNGSI KESEHATAN

a. Pola Persepsi Kesehatan


Apabila sakit pasien biasanya berobat kedokter dekat rumahnya dan
pasien tadak pernah mengkonsumsi obat selain dari dokter
b. Pola Aktivitas Latihan
AKTIVITAS 0 1 2 3 4
Mandi
Berpakaian
Eliminasi
Mobilitas ditempat tidur
Pindah
Ambulasi
Makan

Keterangan :
0 : Mandiri
1 : Menggunakan alat Bantu
2 : Dibantu orang lain
3 : Dibantu orang lain dan alat
4 : Tergantung punuh/total
c. Pola Istirahat
Pasien susah tidur karena nyeri dan peningkatan suhu tubuh serta pasien
mudah lelah
d. Pola Nutrisi
Pasien mengatakan nafsu makan menurun
e. Pola Eliminasi
Pasien tidak mengalami gangguan eliminasi baik BAB maupun BAK
f. Pola Kognitif perceptual
Saat pengkajian dan pasien dalam keadaan sadar mengatakan tidak ada
gangguan pendengaran maupun penglihatan

g. Pola Konsep Diri


Pasien gelisah dan cemas karena takut akan penyakitnya
h. Pola Koping
Pasien mengatakan selalu optimis agar cepat sembuh dan bila ada masalah
pasien selalu bercerita pada ibunya
i. Pola Seksual reproduksi
Pasien tidak tidak ada masalah dengan menstruasinya
j. Pola Peran Hubungan
Dalam kehidupan sehari-hari pasien memiliki hubungan yang supel, baik
dengan anggota keluarga, masyarakat, dan teman-temannya
k. Pola Nilai dan Kepercayaan
Pasien beragama islam, taat beribadah, selalu sholat 5 waktu, dan tidak
pernah melaggar larangan agama
4. PEMERIKSAAN FISIK
a. Tanda-tanda vital :
- TD : Hipotensi
- Suhu : Hipertermi
- Nadi : Takikardi
- RR : Takipnea
b. Keadaan Umum
- Kesan umum : baik
- Wajah : Menahan nyeri perut
- Kesadaran : Composmentis
- Pakain bersih, penampilan rapi
c. Pemeriksaan head to-toe
 Kulit, Rambut, dan Kuku
- Ispeksi : warna kulit kuning langsat, rambut hitam, panjang dengn persebaran
merata, dan kuku normal, bersih
- Palpasi : kulit teraba hangat, turgor kulit baik
 Kepala
- Bentuk wajah simetris, bentuk tengkorak bulat, rambut hitam, kulit kepala
bersih, tidak terdapat benjolan (haematoma)

 Mata
- Bola mata bulat, konjungtiva pucat, skera putih, pergerakan bola mata normal
dan pupil juga normal
 Telinga
- Inspeksi : daun telinga simetris, liang telinga bersih
- Palpasi : tadak ada nyeri tekan pada prosessus mastoideus
 Hidung
- Bentuk hidung simetris, tidak terdapat nyeri tekan, tidak ada lesi dan tiadak
ada ingus
- Tidak terdapat sumbatan, sinus-sinus normal dan tadak ada polip
 Mulut
- Bentuk bibir normal, gigi lengkap dan bersih
- Tidak ada perdarahan dan bengkak pada gusi
 Leher
Bentuk leher simetris, tidak ada pembesaran kelenjar tiroid serta tidak
ada nyeri tekan
 Dada
Bentuk dada normal, pergerakan otot dada simetris, dan tidak terdapat
nyeri tekan
 Abdomen
Bentuk abdomen simetris, tidak terdapat lesi / benjolan, dan terdapat
nyeri tekan
 Anus dan Rektum
Anus dan rektum tidak terdapat hemoroid
 Alat kelamin
Pada daerah kelamin tidak ada lesi dan bersih

4 4
4 4
Keterangan :
0 (zero) : tidak ada kontraksi saat dipalpasi
1 (brance) : terasa ada kontraksi otot tetapi tidak ada gerakan
2 (poor) : dengan bantuan penyangga atau sendi dapat melakukan ROM
penuh
3 (pair) : dapat melakukan ROM penuh dengan melawan gravitasi
tetapi tidak dapat melawan tahanan
4 (good) : dapat melakukan ROM penuh dan dapat melawan tahanan
yang sedang
5 (normal) : gerakan ROM penuh
0. Ekstremitas
- Atas : terkoordinasi dengan baik
- Bawah : terkoordinasi dengan baik

2.b DIAGNOSA KEPERAWATAN


1.Data Fokus
Data Obyektif :
- Pasien tampak lemah
- Pasien gelisah dan cemas
- TTV :
TD : Hipotensi
Suhu : hipertermi
RR : Takipnea
Nadi : Takikardi
- Kulit teraba hangat
- Konjungtiva pucat
- Pasien susah tidur
- Nyeri pada perut

2. ANALISA DATA.
NO SYMPTOM PROBLEM ETIOLOGI
1 DO : Nyeri akut Trauma/lesi pada
- Pasien nyeri di perut mukosa esophagus
- Pasien tampak
menahan nyeri
- Pasien lemah dan
gelisah
2 DO : Hipertermi Penyakit (GERD)
- Tubuh teraba hangat
- Suhu : Hipertermi
- RR : Takipnea
- Nadi : Takikardi
3 DO : Gangguan pola Demam
- Pasien lemah tidur
- Pasien susah tidur
- Konjungtiva pucat
4 DO : Cemas Perubahan status
- Pasien gelisah dan kesehatan
cemas
- Pasien susah tidur

DIAGNOSA KEPERAWATAN DAN PRIORITAS MASALAH


1.Nyeri akut berhubungan dengan trauma/lesi pada mukosa esophagus
2.Hipertermi berhubungan dengan penyakit (GERD)
3.Gangguan pola tidur berhubungan dengan demam
4.Cemas berhubungan dengan perubahab status kesehatan

B.3 PERENCANAAN
Tgl Jam No.Dx Tujuan/NOC Intervensi/NIC
1 Setelah dilakukan tindakan PAIN MANAGEMENT
keperawatan selama….x 24 (1400)
jam skala nyeri dapat - Gunakan tindakan
berkurang dengan kriteria kontrol nyeri
hasil : sebelum nyeri
PAIN CONTROL (1605) hebat
(160501) Mengendalikan - Laksanakan
factor penyebab nyeri pemberian
(160502) Mampu analgetik pada
mengeenali kapan terjadinya pasien jika
serangan diperlukan
(160503) Mampu - Sediakan
menggunakan tindakan pengurangan nyeri
pencegahan optimal personal
(160504) Mampu dengan
menggunakan tindakan non menentukan
analgetik untuk mengurangi analgetik yang
nyeri tepat
(160505) Mampu - Pertimbangkan tipe
menggunakan analgetik dan sumber dari
yang sesuai nyeri ketika
(160506) Mampu memilih strategi
menggunakan tanda nyeri
peringatan untuk mencari - Evaluasi
bantuan keefektifan dari
(160507) Mencatat gejala tindakan
untuk tindakan keperawatan pemberian
yang professional analgetik pada
(160508) Mampu pasien jika
menggunakan bantuan yang diperlukan
ada di sekitarnya - Laksanakan dan
(160509) Mampu mengenali modifikasi
gejala dari nyeri tindakan kontrol
(160510) Mampu nyeri dasar dari
menggunakan catatan nyeri respon nyeri
(160511) Mencatat kontrol - Berikan informasi
nyeri atau berkurang yang akurat untuk
meningkatkan
Dengan keterangan : pengetahuan
1 = tidak menunjukkan keluarga dan
2 = jarang menunjkkan respon dari
3 = setiap saat menunjukkan pengalaman nyeri
4 = sering menunjukkan
5 = secara terus-menerus
menunjukkan

2 Setelah dilakukan tindakan TEMPERATURE


keperawat selama…..x 24 REGULATION (3900)
jam diharapkan suhu tubuh - monitor temperatur
pasien dalam rentang setiap 2 jam sekali
normal, jika diperlukan
Dengan criteria hasil : - Monitor perubahan
THERMOREGULATION temperatur sampai
(0800) stabil
(080001) Suhu kulit dalam - Monitor TD, nadi
rentang normal dan pernafasan jika
()80002) Suhu tubuh dalam diperlukan
rentang normal - Monitor warna
(080003) Tidak teasa sakit kulit dan suhunya
kepala - Monitor laporan
(080006) Tidak tampak lagi tanda dan gejala
perasaan ngantuk dari hipotermi dan
(080007) Tidak tampak hipertermi
perubahan warna kulit - Naikkan masukan
(080010) Dapat berkeringat cairan dan
saat panas makanan yang
(080011) Tidak menggigil adekuat
saat dingin - Ajarkan indikasi
(080012) Nadi dalam dari hipertermi dan
rentang normal jika diperlukan
(080013) Respirasi dalam gunakan treatmen
rentang normal darurat
(080015) Mampu mencatat - Sesuaikan suhu
kenyamanan terhadap panas lingkungan sesuai
yanh diinginkan
Dengan keterangan : pasien
1 = pningkatan yang sangat - Kolaborasikan
tinggi dengan dokter
2 = peningkatan yang besar untuk obat
3 = peningkatan yang cukup antipiretik yang
4 = peningkatan yang ringan dibutuhkan
5 = tidak terjadi

3 Setelah dilakukan SLEEP


keperawatan selama……x ENHANCEMENT
24 jam, diharapkan pasien (1850)
dapat tidur dengan nyaman - Tentukan aktivitas
Dengan criteria hasil : pasien
REST (0063) - Perkirakan waktu
( 000301) Mampu tidur pasien yang
mengontrol jumlah waktu teratur
tidur - Tentukan efek dari
(000302) Mampu pengobatan
mengontrol pola tidur pasien terhadap pola tidur
(000303) Mampu - Monitor pola tidur
mengontrol kualitas tidur dan lama tidur
pasien pasien dalam jam
(000304) Mampu - Bantu untuk
mengontrol kemampuan membuang factor
fisik pasien untuk tidur stress sebelum tiba
(000305) Mampu waktu tidur
menyatakan perasaan segar - Monitor makanan
setelah bangun tidur sebelum tidur dan
selingan yang tepat
Dengan keterangan : dengan tidur
1 = secara terus-menerus - Kaji rencana
menunjukkan administrasi
2 = sering menunjukkan pengobatan untuk
3 = setiap saat menunjukkan mendukung tidur
4 = jarang menunjukkan pasien
5 = tidak menunjukkan
4 Setelah dilakukan tindakan ANXIETY REDCTION
keperawatan selama…..x 24 (5820)
jam diharapkan pasien dapat - Ciptakan
menghilangkan rasa cemas ketenangan,
terhadap penyakitnya. mendatangkan
Dengan kriteria hasil : ketentraman
ANXIETY CONTROL - Anjurkan pasien
(1402) untuk tinggal
(140201) monitor intensitas dengan
cemas anaknya,jika
(140202) Eliminasi tanda diperlukan
penyebab cemas - Anjurkan tidak
(140204) Mencari informasi melakukan
untuk menurunkan aktivitas yang
kecemasan berat
(140205) Merencanakan - Ciptakan suasana
strategi koping untuk situasi nyaman dari
cemas fasilitas rumah
(140207) Menggunakan sakit
tahnik relaksasi untuk - Kaji perubahan
menurunkan cemas dari atau tingkatan
(140208) Mencatat durasi cemas
penurunan dari episode - Kontrol stimulasi
cemas jika diperlukan
(140217) Mampu apabila pasien
mengontrol respon dari membutuhkan
kecemasan - Intruksikan pasien
untuk
Dengan keterangan : menggunakan
1 = tidak menunjukkan tahnik relaksasi
2 = jarang menunjukkan - Bantu pasien untuk
3 = setiap saat menunjukkan mengidentifikasi
4 = sering menunjukkan situasi dan persepsi
5 = secara terus-menerus cemas
menunjukkan - Kuatkan dari
perlakuan
- Berikan
pengobatan meis
untuk
menghilangkan
cemas

BAB III
PENUTUP

3.a KESIMPULAN
GERD meliputi segala konsekuensi dari asam lambung atau iritasi lain yang
berasal dari lambung kedalam esofagus. Penyebab utama adalah inkompentensi dari
pemisah anti refluks pada esophagogastric juction. Refluks gastroesofagus terjadi
ketika tekanan LES lebih rendah disbanding tekanan dalam lambung. Pengobatan dari
penyakit refluks ini ditujukan pada penekanan asam lambung dengan tujuan
menurunkan efek trauma dari bahan refluksat terhadap mukosa esophagus. Modifikasi
gaya hidup sangat efektif untuk terapi ataupun untuk menurunkan gejala dari GERD,
tetapi sebagian besar penderita GERD memerlukan terapi famakologik. Antasida
untuk terpi GERD yang bergejala ringan, ARH2 untuk terapi GERD yang bergejala
sedang, dan PPI untuk terapi GERD yang bergejala berat.
Diagnosa yang mungkin muncul pada pasien dengan GERD ini adalah
1. Nyeri akut berhubungan dengan trauma/lesi pada mukosa esophagus
2. Hipertemi berhubungan dengan GERD
3. Gangguan pola tidur berhubungan dengan demam
4. Cemas berhubungan dengan perubahan status kesehatan

DAFTAR PUSTAKA

Buku ajar penyakit dalam. Balai Penerbit FKUI, jilid I edisi 4.2006
Santoso, budi. 2005-2006. Panduan Diagnosa Keperawatan NANDA. Jakarta : Prima
Medika
Johnson, Marion dan Maridean mass. 2004. NOC. USA : Mosby- year book
Mc Loskey, Joanne C dan Gloria M. Bulechec.2004.NIC.USA : Mosby-year book
Archive. GERD.http://klinik medis.com/