Anda di halaman 1dari 5

Pengertian Ilm al-Uslub atau Stilistika

Ilm al-Uslub atau Stilistika merupakan suatu disiplin ilmu yang mempelajari penggunaan efek
bahasa dan efek yang ditimbulkannya.1 Apabila dianalisis mengenai asal-usul pembentukan
katanya, maka dapat diketahui bahwa term ilm al-Uslub merupakan serapan dari bahasa Arab,2
sedangkan term stilistika berasal dari serapan bahasa Inggris atau bahasa Prancis.3 Namun
demikian, perbedaan asal-usul pembentukan kata tersebut tidak begitu berpengaruh terhadap
objek kajiannya mengingat di dunia Arab maupun di dunia Barat sendiri telah memiliki tradisi
keilmuan yang mirip yang kemudian sama-sama saling dikembangkan.
Ilm al-Uslub terdiri dari dua kata, yaitu ilm dan al-uslub. Kata ilm berasal dari kata ‘alima-
ya’lamu-‘ilman berarti pengetahuan. Berdasarkan Oxford Dictionary, ilmu didefinisikan
sebagai aktivitas intelektual dan praktis yang meliputi studi sistemastis tentang struktur dan
perilaku dari dunia fisik dan alam melalui pengamatan dan percobaan. Sedangkan menurut
Ralp Ross dan Ernest Van Den Haag, ilmu adalah yang empiris, rasional, umum dan sistematik,
dan keempatnya serentak. Ashley Montagu menyimpulkan bahwa ilmu adalah pengetahuan
yang disusun dalam satu system yang berasal dari pengamatan, studi dan percobaan untuk
menentukan hakikat prinsip tentang hal yang sedang dikaji. Dengan demikian dapat
disimpulkan bahwa ilmu adalah pengetahuan yang rasional, sistematik, konfrehensif,
konsisten, dan bersifat umum tentang fakta dari pengamatan yang telah dilakukan. 4
Kata al-uslub, bentuk jamaknya: asaaliib secara etimologi berasal dari akar kata salaba (asy-
syai’) yang berarti mencabut sesuatu, mengambilnya lalu menguasainya.5 Kata uslub dapat
berarti jalan yang membentang atau deretan barisan pohon kurma. Selain itu, uslub juga
mengandung makna jalan, wajah, dan aliran serta seni dan teknik.6
Sedangkan secara terminologi, menurut al-Zarqani, uslub adalah cara penuturan yang ditempuh
penutur dalam menyusun kalimat dan memilih kosakatanya. Atau cara tuturan yang khas yang
ditempuh penutur dalam menyampaikan makna dan maksud dari tuturannya.7 Artinya, uslub
merupakan metode yang digunakan oleh penutur dalam menyampaikan isi pesan, makna atau
maksud dari tuturannya.
Syukri Muhammad ‘Ayyad memberi tiga catatan terhadap definisi uslub. Pertama, kata uslub
merupakan kata yang elastis, yang memungkinkan dapat digunakan sewaktu seseorang
membicarakan narasi pendek, cuplikan lengkap, sekumpulan puisi atau prosa. Selain itu, kata
uslub juga merujuk pada cara penyusunan kata atau makna dan cara menarasikannya. Kedua,
kata uslub mengandung nilai suatu karya sastra sehingga dalam penggunaannya terkadang
disebut sastra dengan uslub yang baik atau sastra dengan uslub yang jelek. Namun, jika kata
ini tidak disertai dengan kata sifat, maka kata uslub bermakna gaya bahasa yang baik. Ketiga,
kata uslub terkadang merujuk pada karya yang khas. Artinya, ketika seseorang berbicara
tentang uslub, maksudnya ialah uslub yang khas yang berbeda dari uslub lain. Tatkala

1
Syihabuddin Qalyubi, Kontribusi Ilmu Uslub (Stilistika) Dalam Pemahaman Komunikasi Politik, dalam Jurnal
THAQAFIYYAT, Vol. 14, No.2, 2013. Hlm. 310.
2
Syihabuddin Qalyubi, Ilm al-Uslub: Stilistika Bahasa dan Sastra Arab, (Yogyakarta: Karya Media, 2013),
hlm. 14. Dijelaskan bahwa stilistika dalam tradisi keilmuan Arab disebut dengan ‘ilmu al-Uslub atau al-
Uslubiyyah.
3
Syihabuddin Qalyubi, Ilm al-Uslub: Stilistika Bahasa dan Sastra Arab, (Yogyakarta: Karya Media, 2013),
hlm. 1.
4
Ivan Eldes Dafrita, Ilmu dan Hakekat Ilmu Pengetahuan dalam Nilai Agama, hlm. 159-162 dalam
https://jurnaliainpontianak.or.id diakses tanggal 11 Sptember 2019 pukul 01.22 WIB.
5
Majma’ al-Lughah al-‘Arabiyyah, al-Mu’jam al-Wasit, Istanbul: Dar al-Da’wah, cet. II.
6
Syihabuddin Qalyubi, Stilistika dalam Orientasi Studi Al-Qur’an, (Yogyakarta: Belukar, 2007), hlm 21.
7
Al-Zarqani, Manabil al’Irfan fi Ulum al-Qur’an, (t.tp: t.p,t.t), j.2.
seseorang berkata, “Fulan indahu uslub”, maka yang dimaksudkan tidak hanya metode
penulisannya yang baik, tetapi juga metode tulisannya yang khas yang berbeda dari yang
lainnya.8 Dengan demikian, menurut Syukri, uslub adalah metode tuturan yang khas yang
digunakan seseorang dalam karya nonsastra maupun sastra.
Dengan merujuk pendapat al-Zarqani dan Syukri, maka dapat disimpulkan bahwa ilm al-Uslub
adalah sebuah disiplin ilmu yang membahas tentang cara penuturan maupun penulisan yang
ditempuh penutur atau penulis dalam menyusun kalimat dan memilih kosakata sehingga
makna, pesan, atau maksud yang ingin disampaikan memiliki ciri yang khas.
Secara etimologi, kata “stilistika” merupakan serapan dari kata stylistic dalam bahasa Inggris
atau stylistique dalam bahasa Perancis yang merupakan turunan dari kata style. Kata style
sendiri merupakan serapan dari kata stilus dari bahasa Latin, yaitu semacam alat untuk menulis
pada lempengan lilin. Keahlian menggunakan alat ini akan mempengaruhi jelas tidaknya
tulisan pada lempengan tadi. Kata stilus juga berasal dari akar kata 'sti-' berarti mencakar atau
menusuk. Dalam bahasa Yunani dikenal dengan istilah stylos berarti pilar atau rukun yang
dikaitkan dengan tempat untuk bersemadi atau bersaksi.9
Dalam kamus Cambridge Learner’s Dictionary, style mengandung tujuh makna, pertama, a
way of doing something, especially one which is typical of a person, group of people, place or
period (cara melakukan sesuatu, terutama cara khas yang dipakai seseorang atau sekelompok
orang, maupun cara khas yang dipakai pada suatu tempat atau masa). Kedua, fashion,
especially in clothing (fasion). Ketiga, a particular shape or design, especially of person’s hair,
clothes, or a piece of furniture (bentuk atau desain tertentu, terutama mengenai rambut,
pakaian, atau perkakas). Keempat, (approving) high quality in appearance (memenuhi)
kualitas tinggi dalam penampilan. Kelima design. Keenam behavior (perilaku). Ketujuh,
specialized the middle section of the carpel (female reproductive part of a flower, connecting
the ovary to the stigma (putik bunga).10
Dalam kamus Oxford, style (n) memiliki enam mana. Pertama, the particular way in which
something is done (cara khas melakukan sesuatu). Kedua, a particular design of something,
especially clothes (desain tertentu untuk sesuatu, terutama pakaian). Ketiga, the quality of being
fashionable in the clothes that you wear (kualitas fasion pakaian yang anda pakai). Keempat,
the quality of being elegant and made to high standard (tingkat elegansi yang dijadikan standar
tinggi). Kelima, the features of a book, painting, building, etc. That make it typical of a
particular author, artist, historical period, etc. (kekhasan sebuah buku, lukisan, dan lain-lain
yang menjadikannya ciri seorang pengarang, seniman atau ciri khas sebuah periode historis
dan sebagainya). Keenam, the correct use of language (penggunaan yang benar atas bahasa).11

Sedangkan menurut Geoffrey Leech N, style adalah cara penggunaan bahasa dari seseorang
dalam konteks cara penggunaan bahasa dari seseorang dalam konteks tertentu dan untuk
tujuan tertentu.12 Lain halnya menurut Aminuddin (1995: 4) yang menyatakan style sebagai
teknik serta bentuk gaya bahasa seseorang dalam memaparkan gagasan sesuai dengan ide dan
norma yang digunakan sebagaimana ciri pribadi pemakainya. Mengkaji gaya bahasa

8
Syukri Muhammad ‘Ayyad, Madkhal ila Ilm al-Uslub, (Riiyadh: Dar al-Ulum li al-Tiba’ah wa al-Nasyr,
1982), hlm. 14.
9
Nyoman Kutha Ratna, Stilistika, Analisis Puitika Bahasa, Sastra, dan Budaya, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar,
2009), hlm. 9.
10
Syihabuddin, ‘Iilmu al-Uslub Stilistika Bahasa dan Sastra Arab, Yogyakarta: Idea Press, 2017, hlm.2.
11
Ibid.
12
Mursalim, Gaya Bahasa Pengulangan Kisah Nabi Musa As. Dalam
Al-Qur’an: Suatu Kajian Stilistika, dalam jurnal LENTERA, Vo. 1, No. 1, Juni, 2017. Hlm. 87.
memungkinkan dapat menilai pribadi, karakter, dan kemampuan pengarang dalam
menggunakan bahasa. Sebelum memiliki stilistika, bahasa dalam karya sastra memang
telah memiliki gaya. Gaya merupakan pilihan kata dalam berbagai eksistensinya, pilihan
citra, dan imajinasi dalam berbagai manifestasinya.13

Secara terminologi stilistika adalah kajian tentang gaya bahasa (dirasah uslubiyah),
sementara gaya bahasa adalah pilihan-pilihan bahasa yang mencakup aspek leksikal,
gramatikal dan semantis dari seorang pengarang yang dianggap utama daripada yang lain,
baik disengaja maupun tidak disengaja.14 Hal itu senada dengan pendapat Joanna Thornborrow
dan Shan Wareing dalam bukunya Patterns in Language yang menyatakan bahwa stilistika
adalah cabang linguistik yang mempelajari karakteristik penggunaaan bahasa yang secara
situsional berbeda, secara khusus merujuk pada bahasa sastra, dan berusaha dapat menjelaskan
pemilihan-pemilihan khas oleh individu-individu manusia atau kelompok-kelompok
masyarakat dalam menggunakan bahasanya. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa
stilistika adalah ilmu yang mempelajari gaya bahasa.
Ilm al-Uslub tumbuh subur dalam dua tradisi yakni Barat dan Arab. Dalam tradisi Barat kajian
stilistika dipelopori Charless Bally (1865-1947) dengan teori stilistika descriptive
expresivenya. Ia sendiri adalah murid Ferdinand de Saussure (1857-1913) yang juga dikenal
sebagai peletak linguistik modern, sedangkan Bally adalah peletak stilistika modern.15

Dalam tradisi Arab ilm al-Uslub mengalami perkembangan. Berawal ada masa pra-Islam
dengan dikenalnya karya-karya puisi bernilai tinggi yang mereka gelar di pasar 'Ukaz ataupun
di sekitar Ka'bah. Pada masa Islam, bahasa indah terhimpun dalam al-Quran turun dengan
bahasa lisan yang banyak memilih kata-kata dan gaya/style penuturan yang lebih mengena
dan memudahkan dalampenghafalan, seperti pengulangan kata atau kalimat,penggunaan
lawan kata, keserasian bunyi akhir, dan sebagainya.16 Pemilihan kata dan style penuturan
yang khas ini banyak mengejutkan para pujangga Arab saat itu. Di antara pujangga Arab yang
terkagum dengan kekhasan style al-Quran adalah al-Walid bin al-Mugirah.

Pada masa penyebaran Islam, masuklah berbagai suku bangsa untuk memeluk agama
Islam, lalu terjadilah dialog antara budaya dan agama-agama di sekitar mereka dengan ajaran
al-Quran. Dari dialog ini, muncul beberapa permasalahan antara lain apakah firman Allah
itu makhluk (diciptakan) atau qadim(ada sejak dahulu), dan apakah firman Allah itu sifat-
Nya atau fi'il-Nya. Untuk menjawab permasalahanpermasalahan tersebut, para ulama
mencari jawabannya dari al-Quran dengan cara menganalisis aspek-aspek kebahasaannya.
Aktivitas ini dilakukan terutama oleh para pemikir kalam (Mu'tazilah dan 'Asy'ariyyah).17
Dengan demikian, stilistika dalam budaya Arab bermula dari apresiasi mereka terhadap
puisi dan pidato, lalu pembahasan aspek-aspek kebahasaan dalam al-Quran. Di antara

13
Nina Yuliawati, Herman J. Waluyo, Yant Mujiyanto, Analisis Stilistika Dan Nilai Pendidikan Novel Bumi
Cinta Karya Habiburrahman El Shirazy, dalam BASASTRA Jurnal Penelitian Bahasa, Sastra Indonesia dan
Pengajarannya Volume 1 Nomor 1, Desember 2012, ISSN I2302-6405.
14
Hasan Gazalah, Maqalat fi al-tarjamah wa al-Uslubiyah, Cet. I; (Beirut: Dar al-‘Ilm li
al-Malayin, 2004), 141
15
Sihabuddin Qalyubi, Kontribusi Ilmu Uslub (Stilistika) Dalam Pemahaman Komunikasi Politik, dalam Jurnal
THAQAFIYYAT, Vol. 14, No.2, 2013. Hlm. 310.
16
Muhammad Karim al-Kawwaz, Kalam Allah, al-Janib asy-Syfahi min az -Zahirah al-Quraniyyah, (London:
Dar as-Saqi, 2002), hlm. 33-40.
17
Ahmad Amin, Duha al-Islam, (Cairo: Maktabah al-Nahdah al-Misriyyah, 1952), hlm. 163.
mereka, yang paling getol memperhatikan aspek retorika al-Quran adalah al-Jahiz (abad
ke-3 H).

Menurut Ibn Qutaibah (w. 267 H.), style ditentukan oleh tuntutan konteks, tema, dan
penutur itu sendiri. Style menurutnya merupakan sekumpulan daya pengungkapan kata
atau kalimat yang bergantung pada tujuan tertentu dari tujuan-tujuan tuturan. Dengan
kalimat lain, langkah awal dari style adalah penentuan medan makna yang luas, lalu
pemilihan metode yang cocok untuk menggabungkan kosakata-kosakata sehingga mampu
mentransfer pemikiran yang ada pada benak si penutur. Dengan demikian, banyaknya
style tergantung pada banyaknya situasi dan kondisi, medan makna, dan kemampuan
pribadi untuk menyusun tuturan.18

Al-Khattabi (abad ke-4 H.), dalam bukunya Bayan I'jaz al-Qur'an telah menjelaskan style
dan makna. Menurutnya banyaknya style disebabkan berubah-ubahnya tujuan, maka setiap
tujuan berubah, berubah pula stylenya. Demikian pula, perubahan style mengikuti
perubahan metode atau cara yang ditempuh penuturnya.19

Pada paruh kedua abad ke-4 al-Baqilani berpendapat bahwa style sangat berhubungan
dengan penuturnya. Tuturan itu dapat memberikan gambaran tentang tujuantujuan yang
ada pada diri penutur, tetapi tujuan-tujuan tersebut hanya dapat diketahui melalui tuturan-
tuturan. Dengan demikian, menurutnya, style berfungsi sebagai pengungkap tujuan-tujuan
tersebut.20

Abdul Qahir al-Jurjani (w.471 H.), sebagaimana ulama-ulama lainnya, membahas style dalam
konteks I'jaz al-Qur'an. Di antara teorinya adalah tentang nazm yang ia kemukakan dalam
Kitab Dala'il al-I'jaz. Ia telah menganalisis fungsi bunyi, kata dalam kalimat, dan fungsi dalam
mengantarkan makna. Di dalamnya juga diterangkan tentang pemilihan huruf, pemilihan kata,
dan fungsi kalimatnya. Dengan cara kerjanya yang cermat, tak ayal Abdul Qahir al-Jurjani
dianggap sebagai peletak pondasi srilistika.

Perkembangan Ilm al-Uslub klasik-Baru

Secara umum, ilm al-Uslub (Stilistika Arab) dan Stilistika pada umumnya tidak ada perbedaan
yang begitu mencolok. Ranah kajian ilm al-Uslub adalah teks Arab dan historisitas
kemunculannya akibat adanya keinginan para ahli bahasa untuk memahami teks-teks sastra
sehingga dikenal uslub al-Qassah, uslub al-Uqsusah, uslub asy-syi’ri dan uslub teks-teks
agama, seperti Uslub al-Quran, uslub al-Hadis an-Nabawiy, dan lainya.21 sedangkan Stilistika
pada umumnya dilatarbelakangi oleh pemikiran filsafat, khususnya Filsafat Aristoteles.

Dalam perkembangannya, baik ilm al-Uslub maupun Stilistika hampir tidak bisa dibedakan
apalagi setelah buku-buku Stilistika Barat banyak diterjemahkan ke dalam bahasa Arab, antara
lain, oleh Ahmad Sulaiman dan Sholah Fadlol. Dengan demikian, ilm al-Uslub bisa digunakan
untuk mengkaji teks-teks non Arab. Begitu pula sebaliknya, teori dan analisis Stilistika Barat
bisa diaplikasikan untuk mengkaji teks-teks Arab. Kini, ilm al-Uslub pun dapat digunakan juga

18
Ibn Qutaibah, Ta’wil Musykil al-Qur’an, (Cairo: al-Halabi, 1977I, hlm 11.
19
Al-Khattabi, Bayan I’jaz al-Qur’an, (Cairo: Dar al-Ma’rif, 1968), hlm 66.
20
Muhammad Abd. Latif, Qadaya al-Hadasah 'inda 'Abd al-Qahir alJurj niy, (Cairo: tt ), hlm. 38.
21
Sihabuddin Qalyubi, Kontribusi Ilmu Uslub (Stilistika) Dalam Pemahaman Komunikasi Politik, dalam Jurnal
THAQAFIYYAT, Vol. 14, No.2, 2013. Hlm. 313 & 315.
untuk mengkaji berbagai wacana, misal wacana komunikasi politik.22Dengan demikian, dapat
disimpulkan bahwa ilm al-Uslub mengalami perkembangan yang dinamis seiring berjalannya
waktu.

22
Sihabuddin Qalyubi, Kontribusi Ilmu Uslub (Stilistika) Dalam Pemahaman Komunikasi Politik, dalam Jurnal
THAQAFIYYAT, Vol. 14, No.2, 2013. Hlm. 315.