Anda di halaman 1dari 15

Pengaruh Pendidikan Kesehatan ASI Ekslusif dan Penyediaan Pojok Laktasi

terhadap Pengetahuan dan Perilaku Ibu Bekerja dalam Upaya Pemberian


ASI Ekslusif

(The Influence of Exclusive ASI Health Education and Provision of Lactation


Corner to Mother Knowledge and Behavior Working in Exclusive Breast-
Feeding Efforts

Ermi Haryati1 , Ali Maulana2 , Suhaimi Fauzan3


1 Mahasiswa Program Studi Ilmu Keperawatan Universitas Tanjungpura
2
Dosen Program Studi Ilmu Keperawtan Universitas Tanjungpura
3
Dosen Program Studi Ilmu Keperawatan Universitas Tanjungpura
Email: Ermiharyati22@gmail.com

ABSTRAK
Latar Belakang Cakupan persentase bayi yang diberi ASI eksklusif di Kota
Pontianak tahun 2016 mencapai rata-rata 73,13%. Kelurahan Saigon merupakan
Kelurahan dengan angka pencapaian ASI ekslusif yang paling rendah yaitu
51,85% dari 23 Kelurahan yang ada di Kota Pontianak
Tujuan : Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh pendidikan
kesehatan ASI Ekslusif dan penyediaan pojok laktasi terhadap pengetahuan dan
perilaku ibu bekerja dalam upaya pemberian ASI ekslusif di Kelurahan Saigon
Kecamatan Pontianak Timur.
Metode: Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif dengan
menggunakan pendekatan one group pre and posttest design. Jumlah sampel
sebanyak 48 responden ibu bekerja yang mempunyai bayi usia 0 – 6 bulan.
Hasil :Berdasarkan analisis dan pembahasan didapatkan hasil (1) adanya
pengaruh pendidikan kesehatan ASI ekslusif terhadap pengetahuan ibu bekerja.
Hal ini dibuktikan dari hasil Uji Marginal Homogenity diperoleh nilai p 0,000 (p<
0,05). (2) tidak terdapat pengaruh pendidikan kesehatan ASI keslusif terhadap
perilaku ibu bekerja. Hal ini dibuktikan dari hasil Uji Mc Necmar Test diperoleh
nilai p 0,125 (p > 0,05), dan (3) adanya pengaruh penyediaan pojok laktasi
terhadap perilaku ibu bekerja. Hal ini dibuktikan dari hasil Uji Chi Square
diperoleh nilai p 0,000 (p<0,05).
Kesimpulan: pengetahuan ibu mengenai ASI ekslusif sangat penting untuk
mendukung keberhasilan dalam program perbaikan gizi pada bayi 0-6 bulan.
Dengan terpenuhi nya ASI ekslusif maka dapat menekan angka kejadian gizi
buruk pada balita
Kata kunci: Pengetahuan, Pojok Laktasi dan Pemberian ASI Ekslusif
ABSTRACT

Background: Coverage of percentage of exclusively breastfed infants in


Pontianak City in 2016 reached an average of 73.13%. Village of Saigon is
Kelurahan with the lowest achievement of exclusive ASI that is 51,85% from 23
urban village in Pontianak City.
Objective: This study aims to analyze the effect of exclusive breastfeeding
education and provision of lactation corner to the knowledge and behavior of
working mothers in exclusive breastfeeding efforts in the subdistrict of Saigon,
East Pontianak Subdistrict.
Methods: This research uses quantitative research method using one group pre
and posttest design approach. The number of samples were 48 respondents
working mothers who had babies aged 0-6 months.
Results: Based on the analysis and discussion, the results obtained (1) the
influence of exclusive breastfeeding education education on knowledge of
working mother. This is evidenced from the results of the Marginal Homogenity
Test obtained p value 0.000 (p <0.05). (2) there is no effect of exclusive
breastfeeding health education on the behavior of working mother. This is
evidenced from the results of Mc Necmar Test Test obtained p value of 0,125 (p>
0.05), and (3) the influence of provision of lactation corner to the behavior of
working mothers. This is evidenced from the results obtained Chi Square Test p
value of 0.000 (p <0.05).
Conclusions: mother's knowledge of exclusive breastfeeding is essential to
support success in the nutritional improvement program in infants 0-6 months.
With its fulfilled exclusive breastfeeding it can suppress the incidence of
malnutrition in infants
Keywords : Knowledge, Lactation Corner and Exclusive Breastfeeding
PENDAHULUAN
dapat mengurangi perdarahan setelah
Air Susu Ibu (ASI) melahirkan, mempercepat pemulihan
merupakan nutrisi yang paling tepat kesehatan ibu, menunda kehamilan,
bagi bayi. Keunggulan ASI tidak dan mengurangi resiko terkena
bisa ditandingi oleh apapun, baik kanker payudara (Roesli, 2008).
ditijau dari segi zat gizi yang Air Susu Ibu (ASI) ekslusif
dikandungnya maupun aspek merupakan intervensi yang paling
menyusui atau pemberian ASI itu efektif dan murah untuk mencegah
sendiri (Agustina, 2016). ASI kematian anak. Anak-anak yang
merupakan makanan yang memiliki mendapat ASI ekslusif 14 kali lebih
gizi sempurna sesuai dengan mungkin untuk bertahan hidup
kebutuhan bayi untuk pertumbuhan dalam enam bulan pertama
dan perkembangan yang optimal. kehidupan dibanding anak yang
ASI juga mengandung zat zat tidak diberikan ASI. Mulai menyusui
berkualitas tinggi yang berguna pada hari pertama setelah lahir
untuk perkembangan kecerdasan dan dapat mengurangi resiko kematian
kekebalan tubuh, sehingga bayi tidak baru lahir hingga 45%. Meskipun
mudah sakit dan mengalami manfaat-manfaat ASI telah
kekurangan asupan gizi. Kontak direkomendasikan diseluruh dunia,
langsung antara ibu dan bayi ini namun hanya 39% bayi dibawah
tentunya akan membantu enam bulan diseluruh dunia
pertumbuhan psikologi bayi. Manfaat mendapatkan ASI ekslusif
memberikan ASI tidak hanya (UNICEF, 2013).
menjalin kasih sayang, tetapi juga
Indonesia dengan gencar dibawah 6 bulan yang menerima ASI
mensosialisasikan pemberian ASI ekslusif, dan 23 negara yang
ekslusif melalui penetapan mencapai 60% angka kecukupan ASI
Keputusan Menteri Kesehatan No. ekslusif.Berdasarkan laporan Survei
450/Menkes/SK/2004 yang Demografi Kesehatan Indonesia
menetapkan bahwa pemberian ASI tahun 2012 pencapaian ASI ekslusif
ekslusif di Indonesia adalah dari adalah 42%, sedangkan Data Riset
bayi lahir sampai usia 6 bulan untuk Kesehatan Dasar (Riskesdas, 2013)
meningkatkan gizi bayi.Tidak ada menunjukkan bahwa bayi yang
satu pun makanan yang ideal untuk diberi ASI ekslusif secara nasional
bayi yang baru lahir selain ASI. sebesar 54,3%. Data ini masih jauh
World Health Organisation (WHO) dari target pencapaian pemerintah
dan UnitedNationsChildrensFund yaitu 80%.
(UNICEF)menganjurkan pemberian Cakupan persentase bayi
ASI secara ekslusif, yaitu bayi hanya yang diberi ASI eksklusif di Kota
diberi ASI saja sampai bayi berusia 6 Pontianak tahun 2016 mencapai rata-
bulan, tanpa tambahan makanan rata 73,13%. Kelurahan Saigon
selain ASI. merupakan Kelurahan dengan angka
World Health Organitation pencapaian ASI ekslusif yang paling
(2017) menyatakan dari194 negara rendah yaitu 51,85% dari 23
hanya ditemukan 40% bayi berusia Kelurahan yang ada di Kota
Pontianak (Dinkes Kota Pontianak, memberikan ASI ekslusif, dan 7
2016). responden yang berpengetahuan baik
Banyak faktor yang menjadi dan tidak memberikan ASI ekslusif.
kendala dalam pelaksanaan Sedangkan 15 responden yang yang
pemberian ASI ekslusif kepada bayi berpengetahuan kurang baik tentang
antara lain masalah fisik ibu, masalah pemberian ASI ekslusif , 3 responden
psikologis, masalah inisiasi yang berpengetahuan kurang baik
menyusui dini, paparansusu formula, dan memberikan ASI ekslusif dan 12
tingkat pendidikan dan pekerjaan ibu responden yang berpengetahuan
(Roesli, 2008). Beberapa tantangan kurang baik tidak memberikan ASI
dalam pemberian ASI, salah satunya secara ekslusif. Selain faktor
yang dihadapi oleh para wanita pengetahuan, pemberian ASI ekslusif
berkerja, dimana para working moms juga dipengaruhi oleh dukungan
merasa kesulitan untuk memberikan fasilitas ruang ASI yang ada di
ASI maupun memerah ASI pada tempat kerja khusus nya untuk ibu-
waktu kerja, baik dikarenakan tidak ibu yang berkerja. Penelitian yang
adanya fasilitas, cuti melahirkan dilakukan Arum (2015), dalam
yang tidak fleksibel sampai tidak penelitiaannya “Ketersediaan Ruang
diberikannya kesempatan menyusui. Menyusui Terhadap ASI Ekslusif
Padahal hak ibu bekerja untuk terus pada Ibu Berkerja” menunjukan ibu
memberikan ASI pada bayinya berkerja di tempat yang tersedia
dilidungi oleh hukum di negara ini. ruang menyusui telah memberikan
Hukum yang melindungi ASI sebanyak 69,8%, sedangkan ibu
pekerja perempuan untuk berkerja di tempat yang tidak
memberikan ASI ekslusif diatur tersedia ruang menyusui tidak
dalam Surat Keputusan Bersama tiga memberikan ASI ekslusif sebanyak
menteri, yaitu Menteri Negara 64,15%. Penelitian terkait yang
Pemberdayaan Perempuan dan dilakukan Handayani (2012),
Perlindungan Anak, Menteri Tenaga menyatakan hampir semua informan
Kerja, dan Transmigrasi dan Menteri ibu menyusui (7 dari 8) mengatakan
Kesehatan dalam SK no bahwa fasilitas pendukung ruang ASI
48/Men.PP/XII/2008, harus diperbaiki. Selain itu, faktor
noPER.27/Men/XII/2008 dan no hambatan yang dirasakan ibu
1177/Menkes/PB/ XII/2008 tentang menyusui adalah sebagian besar ibu
peningkatan pemberian Air Susu Ibu menyusui mengatakan bahwa
selama waktu kerja di tempat kerja. kendalanya adalah beban kerja yang
Berdasarkan penelitian yang banyak.
dilakukan Sringati, dkk (2016) dalam
penelitiannya “Hubungan METODE
Pengetahuan dan Motivasi Ibu Penelitiaan one group pre
terhadap Pemberian ASI Ekslusif di and posttest design. Rancangan
Desa Jono’oge Palu, dari total 32 jenis ini hanya menggunakan satu
responden terdapat 17 responden kelompok subjek ini menggunakan
yang memiliki pengetahuan baik rancangan pra eksperimen dengan
tentang ASI ekslusif, 10 responden menggunakan pendekatan
yang berpengetahuan baik
pengukuran dilakukan sebelum dan responden mengenai penelitian.
setelah perlakuaan (Saryono, 2013). Calon responden yang bersedia
Populasi merupakan menjadi responden penelitian
keseluruhan sumber data yang dapat membaca lembar
diperlukan dalam suatu penelitian pernyataan kesediaan menjadi
sangat penting dan menentukan responden (informed consent)
keakuratan hasil penelitian (Saryono, dan menandatanganinya.
2013). Populasi pada penelitian ini b. Peneliti kemudian diberikan
adalah ibu yang mempunyai bayi penjelasan mengenai cara
usia 0-6 bulan di Kelurahan Saigon pengisian kuesioner dan
Kecamatan Pontianak Timur, dianjurkan untuk bertanya jika
sejumlah 96 bayi. Teknik sampling ada yang kurang jelas.
yang digunakan adalah non c. Peneliti memberikan waktu
probability sampling dengan metode kepada responden untuk mengisi
total sampling dengan jumlah 48 kuesioner (pretest).
responden. d. Setelah responden selesai
Instrumen yang digunakan mengisi kuesioner penelitian,
pada penelitian ini adalah kuesioner maka peneliti akan memberikan
mengukur tingkat pengetahuan yang penyuluhan mengenai ASI
terdiri dari 20 item pertanyaan, ekslusif dan pojok laktasi.
kuesioner penyediaan pojok laktasi, e. Seminggu kemudian peneliti
dan kuesioner perilaku ibu dalam akan kembali untuk
pemberian ASI yang terdiri dari 11 mengevaluasi. Responden
item pertanyaan. diminta untuk kembali mengisi
Pengumpulan data dilakukan di kuesioner (posttest). Kuesioner
tempat penelitian dengan prosedur: yang telah diisi dikembalikan
a. Peneliti menemui calon kepada peneliti untuk kemudian
responden dan melakukan diolah dan dianalisa oleh
pendekatan serta memberikan peneliti.
penjelasan kepada calon

HASIL DAN PEMBAHASAN


Hasil Analisa Univariat
Tabel 4.1. Hasil Distribusi Frekuensi Responden berdasarkan Karakteristik
Demografi di Kelurahan Saigon Kecamatan Pontianak Timur Tahun 2018
Karakteristik Responden N %
Umur
<20 tahun 0 0
20 – 30 tahun 33 68,8 %
>30 tahun 15 31,3 %
Pendidikan
SMA 43 89,6%
S1 5 10,4%
Pekerjaan
Swasta 43 89,6%
PNS 5 10,4%
Penyediaan Pojok Laktasi
Tersedia 13 27,1%
Tidak Tersedia 35 72,9%
Perilaku Pemberian ASI
Ekslusif 18 37,5%
Tidak Ekslusif 30 62,5%

Berdasarkan tabel 4.1 dan mayoritas bekerja sebagai


menunjukkan karakteristik responden karyawan swasta sebanyak 43 orang
berdasarkan usia responden, (89,6%), dan responden yang
pendidikan, pekerjaan, penyediaan menyatakan bekerja ditempat yang
pojok laktasi ditempat kerja, dan tersedia pojok laktasi hanya 13 orang
pemberian ASI ekslusif. Didapatkan (27,1%) dan 35 responden (72,5%)
hasil dari 48 responden mayoritas responden bekerja ditempat yang
dalam rentang usia 20 – 30 tahun tidak tersedia pojok laktasi.
sebanyak 33 orang (68,8 %), dan Sedangkan menurut pemberian ASI
responden yang berumur >30 tahun sebagian besar ibu bekerja tidak
sebanyak 15 responden (31,3%), memberikan ASI ekslusif kepada
mayoritas responden dalam bayi sebanyak 30 responden (62,5%),
penelitian berpendidikan tamatan dan ibu yang memberikan ASI
Sekolah Menengah Atas (SMA) ekslusif hanya sebanyak 18
yaitu sebanyak 43 orang (89,6%), responden (37,5%)
Analisa Bivariat
Tabel 4.2 Hasil Distribusi Pengaruh Pendidikan Kesehatan ASI Ekslusif
terhadap Pengetahuan Ibu Bekerja dengan menggunakan Uji Marginal
Homogenity
Pengetahuan sesudah
penyuluhan Total
Baik Cukup Kurang

Pengetahuan Baik 7 0 0 7
sebelum (14,6%) (0%) (0%) (14,6%) 0,000
penyuluhan Cukup 38 0 0 38
(79,2%) (0%) (0%) 79,2%)
Kurang 3 0 0 3
(6,0%) (0%) (0%) (6,0%)
Total 48 0 0 48
(100%) (0%) (0%) (100%)

Berdasarkan hasil penelitian tabel 4.2 pengetahuan dibagi menjadi 3


kategori : pengetahuan hasil sebanyak 7 responden
baik, pengetahuan cukup, (14,6%) berpengetahuan baik
pengetahuan kurang. Peneliti ke baik, 38 responden (79,2%)
melakukan penyuluhan berpengetahuan cukup ke baik,
sebelum dan sesudah untuk dan 3 responden (6,0%)
mengetahui sejauh mana berpengetahuan kurang ke
pengetahuan responden baik.
mengenai ASI ekslusif. Dari Hasil diatas
hasil penelitian di dapatkan menggunakan uji Marginal
homogenity dimana angka pendidikan kesehatan asi
significancy menunjukkan ekslusif terhadap pengetahuan
angka 0,000 ( <0,05) yang ibu bekerja.
berarti terdapat pengaruh
Tabel 4.3 Hasil Distribusi Pengaruh Pendidikan Kesehatan ASI
Ekslusif terhadap Perilaku Ibu Bekerja dengan menggunakan Mc
Nemar Test

Perilaku sesudah penyuluhan


Total

Ekslusif Tidak
Ekslusif
Perilaku Ekslusif 18 0
sebelum (37,5%) (0%)
penyuluhan Tidak Ekslusif 4 26 0,125
(8,3%) (54,2%)
Total 22 26
(45,8%) (54,2%)

Berdasarkan tabel 4.3 penyuluhan tidak memberikan


pengaruh pendidikan kesehatan ASI ekslusif.
ASI ekslusif terhadap perilaku Hasil penghitungan uji
ibu bekerja didapatkan hasil Mc Nemar test dimana angka
sebelum dan sesudah significancy menunjukkan
penyuluhan, didapatkan hasil angka 0,125 (p>0,05).
18 responden yang Berdasarkan kriteria tersebut
memberikan ASI ekslusif menunjukkan bahwa hipotesis
sebelum dan sesudah nol diterima, yang secara
penyuluhan, 4 responden yang statistik berarti tidak terdapat
sebelum penyuluhan tidak pengaruh pendidikan kesehatan
memberikan ASI ekslusif ASI ekslusif terhadap perilaku
setelah diberikan penyuluhan ibu bekerja dalam pemberian
berubah menjadi memberikan ASI ekslusif diKelurahan
ASI ekslusif dan 26 responden Saigon.
sebelum dan sesudah

Tabel 4.3. Hasil Distribusi Pengaruh Penyediaan Pojok Laktasi terhadap


Perilaku Ibu Bekerja menggunakan Uji Chi Square
Perilaku Pemberian ASI
Total
Ekslusif Tidak
Ekslusif
Penyediaan Tidak Tersedia 6 29 35
Pojok (60,4%) (72,9%)
Laktasi Tersedia 12 1 13
(25,0%) (2,1%) (27,1%) 0,000
Total 18 30 48
(37,5%) (62,5%) (100%)

Berdasarkan hasil yang Hasil penghitungan pengaruh


disajikan pada tabel 4.4 hasil penyediaan pojok laktasi terhadap
pengaruh penyediaan pojok laktasi perilaku ibu bekerja menggunakan
terhadap perilaku ibu bekerja dalam uji Chi square dimana angka
upaya pemberian ASI ekslusif significancy menunjukkan angka
didapatkan hasildari 35 responden 0,000( <0,05) yang berarti ada
(79,2%) yang bekerja ditempat yang pengaruh penyediaan pojok laktasi
tidak tersedia pojok laktasi, terdapat terhadap perilaku ibu bekerja dalam
6 responden (12,5%)memberikan upaya pemberian ASI ekslusif.
ASI ekslusif, dan 29 responden Berdasarkan kriteria tersebut
(60,4%) tidak memberikan ASI menunjukan bahwa hipotesis nol
ekslusif. Sedangkan 13 responden ditolak, yang secara statistik berarti
yang bekerja ditempat yang tersedia adanya pengaruh penyediaan pojok
ASI ekslusif, 12 responden (25,0%) laktasi terhadap perilaku ibu dalam
memberikan ASI ekslusif dan 1 pemberian ASI ekslusif.
responden (2,1 %) tidak memberikan
ASI ekslusif pada bayinya.
PEMBAHASAN tangkap dan pola pikirnya, sehingga
Usia pengetahuan dan pengalaman yang
Berdasarkan tabel 4.1 diperoleh tentang ASI ekslusif
menunjukkan bahwa responden semakin membaik.
dengan rentang usia 20 – 30 tahun Usia responden pada penelitian
yaitu sebanyak 33 responden ini menunjukkan bahwa responden
(68,8%), dan untuk usia >30 tahun dalam usia yang matang dan dewasa.
sebanyak 15 responden (31,3%).Hal Ibu pada usia 20-30 tahun
ini menunjukkan bahwa sebagian merupakan kelompok individu yang
besar usia responden adalah usia telah mencapai kematangan dalam
produktif. Hal ini juga seseuai mengasuh dan membimbing
dengan Soedtjiningsih (2004) dimana anaknya. Hubungan umur dengan
usia ibu produktif yaitu pada usia 20- tingkat kematangan ibu dikemukakan
35 tahun. Tetapi biasanya ibu oleh Nurjanah (2003) yang
berusia 19-23 tahun produksi ASI mengemukakan bahwa ibu dengan
lebih banyak dari ibu berusia diatas usia diatas 19 tahun telah mencapai
30 tahun ( Proverawati, 2010). usia produktif dimana seseorang
Seperti yang telah di sebutkan oleh mencapai tingkat kematangan dalam
Baskoro (2008) bahwa umur juga hal produktivitasnya yang berupa
mempengaruhi terhadap daya rasional maupun motorik.
tangkap dan pola pikir seseorang. Pendidikan
Semakin bertambah usia akan Dari hasil penelitian
semakin berkembang pula daya menunjukkan sebagian besar jenjang
pendidikan responden penelitian di timbulnya konflik peran sebgai
Kelurahan Saigon, yaitu SMA karyawan dan sebagai ibu rumah
sebanyak 43 responden (89,6 %) dan tangga. Lebih lanjut dikemukakan
5 responden (10,4%) dengan bahwa wanita bekerja menghabiskan
pendidikan S1. rata-rata 7 sampai 9 jam dalam satu
Dari hasil penelitian hari, atau 42 sampai 54 jam dalam
menunjukkan rata-rata ibu satu minggu ditempat kerja.
mempunyai pendidikan yang baik. Konsekuensi yang harus dihadapi
Dalam penelitian ini sebagian besar adalah terbaginya waktu dan
ibu berpendidikan tamatan SMA. perhatian antara urusan rumah
Menurut Wawan dan Dewi (2011) tanggan dan urusan pekerjaan
pendidikan formal akan memperoleh ditempat kerja.
pengetahuan. Pengetahuan sangat Ketersediaan Pojok Laktasi
erat hubungannya dengan Hasil karakteristik responden
pendidikan, diharapkan dengan berdasarkan penyediaan pojok laktasi
pendidikan yang sangat tinggi akan atau ruang ASI, hanya 13 responden
memperluas pengetahuan dan (27,1%) yang menyatakan bekerja di
mempermudah menerima informasi tempat yang menyediakan pojok
sehingga akan berpengaruh terhadap laktasi, sedangkan 35 responden
perilaku. Dalam hal ini khususnya (72,9%) lainnya menyatakan
perilaku ibu dalam pemberian ASI ditempat mereka bekerja tidak
untuk bayinya. menyediakan pojok laktasi atau
Pekerjaan ruang ASI.
Deskripsi pekerjaan Tidak tersedianya ruang
responden menunjukkan sebagian menyusui ditempat kerja membuat
besar adalah karyawan swasta ibu mengalami kesulitan dalam
sebanyak 43 orang (86%) dan menemukan tempat yang nyaman
distribusi terendah adalan PNS untuk memeras ASI, maka perlu
sebanyak 5 orang (10%). Distribusi menjadi perhatian bagi pihak PT
responden menurut pekerjaan untuk memberikan ruang pojok ASI
menunjukkan sebagian besar ditempat kerja agar ibu tetap dapat
merupakan ibu yang bekerja sebagai memberikan ASI ekslusif pada
karyawan swasta dan buruh pabrik. bayinya
Sebagai pekerja diluar rumah, Pengaruh Pendidikan Kesehatan
tentunya akan terjadi pengurangan ASI Ekslusif Terhadap Perilaku
waktu dan peran ibu dalam Ibu Bekerja dalam Upaya
mengurusi keluarga dan salah Pemberian ASI Ekslusif
satunya mengurusi bayinya. Berdasarkan tabel 4.3
Penelitian Dewi (2004) pengaruh pendidikan kesehatan ASI
mengemukakan bahwa kebutuhan ekslusif terhadap perilaku ibu bekerja
perusahaan akan dukungan tenaga didapatkan hasil sebelum dan
kerja wanita relatif besar. Kondisi ini sesudah penyuluhan, didapatkan
disatu sisi menguntungkan bagi hasil sebanyak 18 responden (37,5%)
perempuan karena memperluas yang memberikan ASI ekslusif
peluang kerja, namun disisi lain sebelum penyuluhan dan tetap
menimbulkan konflik internal, yaitu memberikan ASI ekslusif setelah
dilakukan penyuluhan. Sedangkan tidak tersedia pojok laktasi, terdapat
responden yang tidak memberikan 6 responden (12,5%)memberika ASI
ASI ekslusif yaitu sebanyak 30 ekslusif, dan 29 responden (60,4%)
responden (62,5%) , dan setelah tidak memberikan ASI ekslusif.
dilakukan penyuluhan tetap Sedangkan 13 responden yang
dikategorikan tidak memberikan ASI bekerja ditempat yang tersedia ASI
ekslusif. ekslusif, 12 responden (25,0%)
Hasil penghitungan uji Mc memberikan ASI ekslusif dan 1
Nemar test dimana angka responden (2,1 %) tidak memberikan
significancy menunjukkan angka ASI ekslusif pada bayinya.
0,125( >0,05) Berdasarkan kritria Hasil penghitungan pengaruh
tersebut menunjukkan bahwa penyediaan pojok laktasi terhadap
hipotesis nol diterima, yang secara perilaku ibu bekerja menggunakan
statistik berarti tidak terdapat uji Chi square dimana angka
pengaruh pendidikan kesehatan ASI significancy menunjukkan angka
ekslusif terhadap perilaku ibu bekerja 0,000 ( <0,05) yang berarti ada
di Kelurahan Saigon. pengaruh penyediaan pojok laktasi
Berdasarkan hasil penelitian terhadap perilaku ibu bekerja dalam
sebagian besar ibu yang bekerja upaya pemberian ASI ekslusif.
diluar rumah mayoritas tidak Berdasarkan kriteria tersebut
memberikan ASI ekslusif, meskipun menunjukan bahwa hipotesis nol
pengetahuan dan perilaku mereka ditolak, yang secara statistik berarti
dikatakan cukup baik dalam adanya pengaruh penyediaan pojok
pemberian ASI ekslusif hanya saja, laktasi terhadap perilaku ibu dalam
ibu yang bekerja diluar rumah pemberian ASI ekslusif.Hal ini
merasa kesulitan atau jarak tempat sejalan dengan penelitian yang
tinggal mereka dan tempat bekerja dilakukan Arum (2015), dalam
cukup jauh, serta tidak adanya penelitiannya yang berjudul
fasilitas ruang ASI di tempat bekerja, “Ketersediaan Ruang Menyusui
sehingga hal tersebut menjadi alasan terhadap ASI Ekslusif pada Ibu
ibu untuk memilih memberikan Bekerja di Sleman Yogyakarta”,
tambahan susu formula atau MP-ASI pemberian ASI ekslusif oleh ibu
kepada banyinya untuk memenuhi bekerja ditempat yang tersedia ruang
asupan nutrisi bagi bayi mereka. menyusui mayoritas memberikan
ASI sebnyak 37 ibu (69, 8%)
Pengaruh Penyedian Pojok sedangkan ibu yang bekerja di
Laktasi Terhadap Perilaku Ibu tempat yang tidak tersedia ruang
Bekerja dalam Upaya Pemberian menyusui mayoritas tidak
ASI Ekslusif memberikan ASI ekslusif sebanyak
Berdasarkan hasil yang 34 ibu ( 64, 15%). Hasil uji statistik
disajikan pada tabel 4.4 hasil Chi Square diperoleh p value = 0,000
pengaruh penyediaan pojok laktasi artinya ada pengaruh ketersediaan
terhadap perilaku ibu bekerja dalam ruang menyusui terhadap pemberian
upaya pemberian ASI ekslusif ASI ekslusif. Ketersediaan ruang
didapatkan hasil dari 35 responden menyusui memperkuat pemberian
(79,2%) yang bekerja ditempat yang
ASI ekslusif memperkuat pemberian KESIMPULAN
ASI pada ibu bekerja. Kesimpulan yang dapat
Ketersedian ruang ASI adalah diperoleh dalam penelitian ini
tersedianya rungan ketika ibu mencakup karakteristik responden
menyusui, memerah ASI ditempat
dan pengaruh pendidikan kesehatan
kerja yang memiliki syarat-syarat
khusus dan membuat ibu menyusui ASI ekslusif dan penyediaan pojok
merasa nyaman menggunakan laktasi terhadap pengetahuan dan
ruangan tersebut. Penelitian yang perilaku ibu bekerja.
dilakukan Janet Danso (2014) dalam
penelitiannya “Examining the Karakteristik responden seperti
Practice of Exclusive Breastfeeding usia, pendidikan, pekerjaan, dan
among Professional Working penyediaan pojok laktasi. Dimana
Mothers in Kumasi Metroplis of usia, dan pendidikan responden
Ghana” studi ini meneliti praktik memberikan pengaruh terhadap
pemberian ASI ekslusif dikalangan
kematang berfikir dan menerima
ibu yang bekerja, desain yang
digunakan dalam penelitian ini informasi. Sedangkan pekerjaan dan
adalah cross sectional, dengan ketersedian pojok laktasi dapat
populasi terdiri dari ibu bekerja medukung untuk terlaksananya ASI
profesional yang berusia 40 atau ekslusif pada ibu-ibu yang bekerja.
lebih muda yang bekerja penuh
waktu dan bekerja dikota Berdasarkan hasil penelitian
metropolitan Kumasi, Ghana. Dari yang dilakukan pada analisa bivariat
hasil penelitian tersebut 48% ibu peneliti melihat pengaruh pendidikan
bekerja mampu mempraktekkan
ASI ekslusif terhadap pengetahuan
pemberian ASI ekslusif, dan 52%
tidak bisa melakukan praktik ibu bekerja didapatkan hasil adanya
pemberian ASI ekslusif , jadi pengaruh dari pendidikan ASI
disimpulkan bahwa ibu bekerja ekslusif terhadap pengetahuan ibu
merasa sulit untuk melakukan bekerja, untuk pengaruh pendidikan
pemberian ASI secara ekslusif kesehatan ASI ekslusif terhadap
kepada bayi mereka, dikarenakan perilaku ibu bekerja dalam
status pekerjaan dalam waktu penuh
pemberian ASI, didapatkan hasil
dan kurangnya dukungan keluarga
terhadap pemberian ASI ekslusif. tidak ada pengaruh pendidikan ASI
Peneliti menganjurkan kepada ekslusif terhadap perilaku ibu bekerja
pemerintah untuk lebih menjamin dalam pemberian ASI ekslusif,
tempat kerja menyediakan fasilitas sedangkan untuk pengaruh
menyusui yang sesuai standart penyediaan pojok laktasi terhadap
kebersihan, dan memberi perilaku ibu berkerja menunjukkan
kenyamanan ibu dalam praktik
hasil adanya pengaruh penyediaan
pemberian ASI ekslusif
pojok laktasi terhadap perilaku ibu
dalam pemberian ASI ekslusif.
SARAN terhadap pemberian ASI ekslusif
diharapkan untuk penelitian
Bedasarkan kesimpulan dari hasil selanjutnya dapat menambah
penelitian diatas, maka disarankan variabel tentang dukungan keluarga
hal-hal sebagai berikut : terhadap pemenuhan ASI ekslusif
a. Untuk Masyarakat dan ibu pada ibu bekerja dengan metode
bekerja yang berbeda, dan dengan jumlah
1. Ibu bekrja sebaiknya lebih sampel yang lebih banyak.
memperkaya informasi
mengenai ASI ekslusif dan
penggunaan ASI perah sebagai DAFTAR PUSTAKA
solusi. Sehingga pemberian
Abdullah, S. D. Hastuti, U.
ASI ekslusif oleh ibu bekerja
Sumarwan. (2004). Pengambilan
dapat teraplikasikan. Keputusan Pemberian ASI
2. Keluarga sebaiknya Eksklusif Kepada Bayi di Kota
memberikan dukungan pada Bogor Afifah.
ibu yang bekerja untuk tetap
Afifah, D.N. (2007). Faktor yang
memberikan ASI ekslusif.
Berperan Dalam Kegagalan
3. Ibu bekrja sebaiknya dapat Praktik Pemberian ASI Ekslusif.
menjadi role model untuk ibu- Tesis. Program Pascasarjana
ibu yang lain dalam Universitas Diponegoro.
memberikan ASI ekslusif. Semarang.
4. Dalam memberikan ASI
Agustina, Irma. (2016). Gambaran
ekslusif dalam bentuk ASI Pengetahuan dan Sikap Ibu
perah ibu sebaiknya Bekerja terhadap Upaya
memperhatikan cara memerah, Pemenuhan Kebutuhan ASI
menyimpan, dan memberikan Ekslusif di SMK Negeri 6
ASI perah pada bayi. Makassar. Makasar: Fakultas
b. Untuk Prodi Keperawatan Kedokteran dan Ilmu Kesehatan
Universitas Islam Negeri
Diharapkan peranan dari
Alauddin.
mahasiswa dan mahasiswi
keperawatan untuk selalu Andayani, R, S. Eko, M. (2013).
melakukan sosialisasi mengenai Hubungan Pengetahuan Ibu
pentingnya ASI ekslusif bagi tentang ASI Ekslusif dengan
Praktik Pemberian ASI Ekslusif
bayi berumur 0-6 bulan pada ibu
pada Ibu Bekerja di Kelurahan
yang bekerja. Sehingga semua Ngempon Kecamatan Bergas
ibu yang bekerja dapat berupaya Kabupaten Semarang. Skripsi
memberikan ASI-nya. Tidak Dipublikasikan Akademik
c. Untuk penelitian selanjutnya Kebidanan Ngudi Waluyo
Pada penelitian ini hanya berupa Ungaran.
pengetahuan dan perilaku ibu bekerja
Baskoro, A. (2008).ASI Panduan Lemeshow, S. (1997). Besar Sampel
Praktis Menyusui. Jogjakarta: Dalam Penelitian Kesehatan.
Banyu Media. Yogyakarta: Gajah Mada
University Press. Hal : 46-55.
Cadwell, K & Turner-Maffei, C.
(2011). Manajemen Laktasi : Machfoedz. (2013). Metodologi
Buku Saku. Jakarta : EGC. penelitian (kuantitatif dan
kualitatif): Bidang kesehatan,
Cadwell,K.,Cindy,Tuner. (2011). keperawatan, kebidanan,
Manajemen Laktasi. Alih kedokteran (Ed. rev).
Bahasa: Estu Tiar. Jakarta : Yogyakarta: Fitramaya
EGC.
Madani, Amriani, dkk. (2014).
Dewi, Rosiana. (2007). Mengatasi “Faktor Yang Berhubungan
Konflik Peran Sebagai Pemberian ASI Eksklusif Di
Karyawan dan Ibu Rumah Wilayah Kerja Puskesmas
Tangga Pada Tenaga Kerja Pakkae Kabupaten Barru”.
Wanita di Indonesia. Jurnal Stikes Nani Hasanuddin, Vol 3
Kesehatan. Volume XXIII No. 2 No.6.http://www.library.stikesnh
April – Juni 2007. .ac.id/files/disk1/9/elibrary%20st
ikes%20 nani%20hasanuddin--
Depkes. RI. (2005). Kebijakan
amrianimad-416-1-36146572-
Departemen Kesehatan tentang
1.pdf.
Peningkatan Pemberian Air
Susu Ibu (ASI) Pekerja Wanita. Mensah,A,O. (2011). The Influence
Jakarta: Pusat Kesehatan Kerja of Workplace Facilities on
Depkes RI Lactating Working Mothers’Job
Satisfaction and Organizational
Dharma, K.K. (2011). Metodelogi
Commitment: A Case Study of
Penelitian Keperawatan.
Lactating Working Mothers in
Jakarta: Trans Info Media
Accra,
Danso, Janet. (2014). Examining the
Notoadmodjo, S. (2007). Pendidkan
Practice of Exclusive
dan Perilaku Kesehatan. Jakarta
Breastfeeding among
: Rineka Cipta.
Professional Working Mothers
in Kumasi Metropolis of Ghana. Nurkhayati, (2014). Hubungan
International Journal of Nursing Antara Pengetahuan Ibu
Tentang ASI Eksklusif Dengan
Handayani, Heni. (2012). Kendala
Motivasi Pemberian ASI
Pemanfaatan Ruang ASI dalam
Eksklusif. Fakultas Psikologi.
Penerapan ASI Ekslusif di
Universitas Muhammadiyah.
Kementrian Pemberdayaan
Surakarta
Perempuan dan Perlindungan
Anak. Jakarta: Fakultas Peraturan Pemerintah RI no 33
Kesehatan Masyarakat, tahun 2012 tentang pemberian
Universitas Indonesia. ASI eksklusif. Peraturan Mentri
Kesehatan no 15 tahun 2013
tentang Tata Cara Penyediaan Rafaela, Eley. (2014). Hubungan
Fasilitas Menyusui dan atau Pengetahuan, Status Perkerjaan,
Memerah ASI dan Paparan Susu Formula
dengan Pemberian Air Susu Ibu
Perinasia. (2009). Bahan Bacaan (ASI) pada Bayi Usia 6-12
Manajemen Laktasi, Cetakan ke Bulan di Wilayah Kerja
2, Program Manajemen Laktasi. Puskesmas Saigon. Pontianak:
Jakarta :Perinasia Program Studi Keperawatan
Fakultas Kedokteran Universitas
Potter, PA dan Perry AG. (2005).
Tanjungpura
Buku Ajar Fundamental
Keperawatan : Konsep, Proses, Roesli U., (2012). Panduan Inisiasi
dan Praktik Ed. 4 vol.1. Jakarta : Menyusui Dini Plus ASI
EGC Eksklusif. Jakarta: Pustaka
Bunda Soetjiningsih., 2012. ASI
Prasetyono, Dwi Sunar. (2009). Buku
petunjuk Tenaga Kesehatan.
Pintar ASI Eksklusif, Jogjakarta:
Jakarta. EGC
Diva Press
Roesli, U. (2013). Mengenal ASI
Priyoto, (2014). Teori Sikap Dan
Eksklusif. Jakarta : PT
Perilaku Dalam Kesehatan,
PustakaPembangunan Swadaya
Yogyakarta: NuhaMedika.
Nusantara
Proverawati, A., Eni, R. (2010).
Roesli, Utami. (2000). Mengenal ASI
Kapita Selekta ASI dan
Ekslusif. Jakarta: Trubus
Menyusui. Yogyakarta : Nuha
Agriwidya
Medika. Purwanti, H.S. 2004.
Konsep Penerapan ASI Roesli, Utami. (2005). Panduan
Eksklusif. Jakarta : EGC. Praktis Menyusui. Jakarta:
Puspawara.
Puri, A.I.M. (2013). Hubungan
Antara Pengetahuan Ibu Setyowati, Exsi. (2007). Hubungan
Berkerja tentang Manajemen Pengetahuan Kesehatan Tentang
Laktasi dan Dukungan Perilaku Asi Eksklusif Dengan
Ibu dalam Pemberian ASI di Kemampuan Memberikan
Wilayah Kerja Puskesmas Pendidikan Kesehatan Asi
Kartasura. Surakarta: Fakultas Eksklusif pada Ibu Prenatal di
Kesehatan Ilmu Kesehatan Puskesmas II Kartasura. Skripsi,
Universitas Muhammadiyah. Surakarta : UMS.
Rachmaniah, Nova. (2014). Singh, B. (2010). Knowledge,
Hubungan Tingkat Pengetahuan Attitude an Practice of Breast
Ibu tentang ASI dan Tindakan Feeding – A Case Study. ISSN
ASI Ekslusif. Surakarta: Fakultas 1450-216X Vol.40 No.3.
Kedokteran Universitas European Journal of Scientific
Muhammadiyah. Research.
Siregar, A. (2009). Pemberian ASI
Ekskusif dan Faktor-faktor yang
Mempengaruhinya. Jurnal :
Universitas Sumatra Utara.
Sugiyono. 2012. Statistika
untuk Penelitian. Bandung
:Alfabeta.
Soetjiningsih. (2004). Tumbuh
Kembang Remaja dan
Permasalahannya. Jakarta; PT.
Rhineka Cipta .
Sutrisno, Arum.H. (2015).
Ketersediaan Ruang Menyusui
terhadap ASI Ekslusif pada Ibu
Bekerja di Sleman. Yokyakarta:
Program Studi Bidan
Pendidikan Jenjang DIV
Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan
Aisyiyah.
Sringati, dkk. (2016). Hubungan
Pengetahuan dan Motivasi Ibu
Terhadap Pemberian ASI
Ekslusif di Desa Jono’oge. Palu:
Program Studi Ilmu
Keperawatan, Sekolah Tinggi
Ilmu Kesehatan Widya
Nusantara.
UNICEF. (2013). ASI Adalah
Penyelamat Hidup yang Paling
Murah Di Dunia.
Wawan, Dewi. (2011). Teori dan
Pengukuran Pengetahuan,
Sikap, dan Perilaku Manusia.
Yogyakarta: Nuha Medika
Zuldafrial. (2012). Penelitian
kuantitatif. Yogyakarta: Media
Prakasa.