Anda di halaman 1dari 12

BAB I

KONSEP MEDIS

A. Definisi
Penyakit Tuberkulosis (TB) paru masih merupakan masalah kesehatan masyarakat
yang utama di dunia karena akan menyerang siapa saja, termasuk anak-anak.. Jumlah kasus
TB di Indonesia mengalami peningkatan dari tahun 2012 – 2016 (Kementerian Kesehatan
RI, 2016). Tuberkulosis adalah penyakit infeksius kronik dan berulang yang biasanya
mengenai paru, meskipun semua organ dapat terkena yang disebabkan oleh kuman TB
(Mycobacterium tuberculosis) (LeMone, Burke, & Bauldoff, 2016; Price & Wilson, 2013).
Penyakit ini ditularkan oleh droplet nuclei, droplet yang ditularkan melalui udara dihasilkan
ketika orang terinfeksi batuk, bersin, bicara, atau bernyanyi. Droplet kecil sekali dapat tetap
beredar di udara selama beberapa jam. Infeksi dapat terjadi ketika pejamu yang rentan
bernapas di udara yang mengandung droplet nuklei dan partikel terkontaminasi menghindari
pertahanan normal saluran napas atas untuk mencapai alveoli (LeMone, Burke, & Bauldoff,
2016).
B. Klasifikasi TB Paru
Klasifikasi penyakit dan tipe pasien TB meliputi 4 hal yaitu:
1. Lokasi yang sakit; paru dan ekstra paru
TB ekstra paru yaitu kuman TB yang menyerang organ selain paru. Diagnosis
berdasarkan kultur (+) atau PA pada tempat lesi
2. Berdasarkan hasil BTA
a. BTA (+)
1) Sekurangnya 2 dari 3 pemeriksaan dahak memberikan hasil (+)
2) Atau 1 kali pemeriksaan spesimen hasilnya (+) disertai gambaran radiologi yang
menunjukkan TB aktif
3) Atau 1 spesimen BTA (+) dan kultur (+)
4) Atau 1 atau lebih spesimen dahak positif setelah pemeriksaan dahak SPS
pemeriksaan sebelumnya hasinya BTA (-) dan tidak ada perbaikan setelah
pemberian antibiotik non OAT
b. BTA (-)
1) Hasil sputum BTA 3x (-)
2) Gambaran radiologi menunjukkan ke arah TB
1
3) Tidak ada perbaikan setelah pemberian antibiotik non OAT pada pasien HIV
4) Ditentukan oleh dokter untuk diberi pengobatan
3. Berdasarkan tipe pasien
Berdasarkan dari riwayat pengobatan sebelumnya :
a. Kasus baru : belum pernah meminum OAT sebelumnya atau pernah mengkonsumsi
OAT kurang dari 1 bulan
b. Kasus kambuh (relaps)
1) Pasien yang sebelumnya pernah mendapatkan OAT telah selesai pengobatan dan
dikatakan sembuh. Namun, didapatkan BTA (+) atau kultur (+) kembali dan
kembali konsumsi OAT
2) Bila BTA (-), tetapi radiologi menunjukkan lesi aktif/perburukan dan gejala klinis
(+) kemungkinannya yaitu lesi non TB (pneumonia, bronkiektasis, dll) atau TB
paru relpas ditentukan oleh dokter spesialis
c. Kasus default (setelah putus obat) yaitu pasien yang telah berobat dan putus berobat
selama ≥ 2 bulan dengan BTA (+)
d. Kasus gagal yaitu pasien dengan BTA (+) sebelumnya, tetap (+) atau kembali lagi
menjadi (+) pada akhir bulan ke 5 atau akhir pengobatan OAT
e. Kasus kronik: hasil sputum BTA tetap (+) setelah selesai pengobatan ulang (kategori
2) dengan pengawasan ketat
f. Kasus bekas TB
1) BTA (-) radiologi lesi tidak aktif atau foto serial gambaran sama, dan riwayat
minum OAT adekuat
2) Radiologi gambarannya meragukan, mendapakan OAT 2 bulan, foto toraks ulang
gambaran sama
3) Radiologi gambarannya meragukan, mendapakan OAT 2 bulan, foto toraks ulang
gambaran sama
4) Status HIV pasien (TB pada pasien HIV)

Diagnosis TB paru dan TB ekstra paru ditegakkan sebagai berikut:


1) TB paru BTA (+) yaitu minimal 1x hasil pemeriksaan dahak positif
2) TB paru BTA (-) yaitu hasil dahak negatif dan gambaran klinis-radiologis ke arah
TB atau BTA (-) dengan kultur TB (+)
3) TB ekstra paru ditegakkan dengan pemeriksaan klinis, bakteriologis dan/atau
histopatologis

2
C. Etiologi
Penyebab penyakit TB Paru adalah bakteri Mycobacteriumtuberculosis. Bakteri atau
kuman ini berbentuk batang kecil dan relative tumbuh lambat dengan kapsul luar berlilin,
yang meningkat resistensinya untuk hancur, serta ukuran panjang 1-4m dan tebal 0,3-
0,6m. Sebagian besar kuman berupa lemak/lipid, sehingga kuman tahan terhadap asam dan
lebih tahan terhadap kimia atau fisik. Sifat lain dari kuman ini adalah aerob yang menyukai
daerah dengan banyak oksigen, dan daerah yang memiliki kandungan oksigen tinggi yaitu
apikal/apeks paru. Daerah ini menjadi predileksi pada penyakit TB Paru (Somantri,2009).
Kuman ini tahan hidup pada udara kering maupun dalam keadaan dingin (dapat tahan
bertahun-tahun dalam lemari es). Hal ini terjadi karena kuman berada dalam sifat dormant.
Dari sifat dormant ini kuman dapat bangkit kembali dan menjadikan tuberkulosis aktif
kembali. Sifat lain kuman adalah aerob. Sifat ini menunjukkan bahwa kuman lebih
menyenangi jaringan yang tinggi kandungan oksigennya.
Mycobacterium tuberculosis yang menyerang paru-paru, bakteri ini menyebar melalui
udara dan masuk kedalam tubuh melalui kontak langsung dengan pasien. Sumber penularan
adalah pasien dengan TB BTA positif. Umumnya penularan terjadi dalam ruangan dimana
percikan dahak berada pada waktu yang lama. Ventilasi dapat mengurangi jumlah percikan,
sementara sinar matahari langsung dapat membunuh kuman. Daya penularan seorang pasien
ditentukan oleh banyaknya kuman yang dikeluarkan dari parunya.
Risiko infeksi oleh M. tb dipengaruhi oleh karakteristik orang yang terinfeksi, derajat
kontaminasi udara, durasi pajanan, dan kerentanan pejamu. Jumlah mikroba dalam sputum,
frekuensi, dan dorongan batuk, serta perilaku seperti mennutup mulut ketika batuk
menyebabkan produksi droplet nuclei. Pada ruang dengan ventilasi yang kecil, tertutup, atau
buruk, droplet nuclei menjadi lebih pekat, meningkatkan risiko pajanan. Kontak yang lama,
seperti tinggal di rumah yang sama dengan penderita , meningkatkan risiko. Fungsi imun
yang kurang optimal, masalah untuk orang yang berada dalam kelompok social ekonomi
rendah, pengguna obat suntik, tunawisma, alkoholik, dan orang penderita infeksi HIV,
meningkatkan kerentanan pejamu (LeMone, Burke, & Bauldoff, 2016).

3
D. Manifestasi Klinik
Infeksi awal menyebabkan beberapa gejala dan biasanya tidak disadari hingga
pemeriksaan tuberculin menjadi positif atau terkalsifikasi terlihat pada sinar-X dada.
Manifestasi perkembangan perkembangan primer atau TB reaktif sering kali terjadi secar
tiba-tiba dan awalnya tidak spesifik. Keletihan, penurunan berat badan, anoreksia, demam
derajat ringan di waktu sore, dan keringat malam umum terjadi. Terjadi batuk kering, yang
kemudian menjadi produktif dengan sputum purulent dan/atau sputum berwarna darah.
Sering kali pada tahap ini pasien mencari bantuan medis (LeMone, Burke, & Bauldoff,
2016).

E. Komplikasi
Empiema tuberculosis dan fistula bronkopleura adalah komplikasi TB pulmonal yang
paling serius. Ketika lesi TB rupture, basili dapat mengontaminasi ruang pleura. Ruptur juga
dapat memungkinkan udara masuk ke ruang pleura dari paru, menyebabkan pneumotoraks
(LeMone, Burke, & Bauldoff, 2016).

F. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan diagnostik yang dilakukan pada klien dengan TB paru, yaitu :
1. Laboratorium darah rutin : LED normal/ meningkat, limfositosis
2. Pemeriksaan sputum BTA: untuk memastikan diagnostik TB paru, namun pemeriksaan
ini tidak spesifik karena hanya 30 – 70% pasien yang dapat di diagnosis berdasarkan
pemeriksaan ini
3. Tes PAP (Peroksidase Anti Peroksidase): uji serologi imuneperoksidase memakai alat
histogen staining untuk menentukan adanya IgG spesifik terhadap basil TB
4. Tes Mantoux/tuberkulin: uji serologi imuneperoksidase memakai alat histogen staining
untuk menentukan adanya IgG spesifik terhadap basil TB
5. Tekhnik Polymerase Chain Reaction: deteknsi DNA kuman secara spesifik melalui
amplifikasi dalam meskipun hanya satu mikroorganisme dalam spesimen juga dapat
mendeteksi adanya resistensi
6. Becton Dickinson diagnostic instrument sistem (BACTEC)
7. MYCODOT
8. Pemeriksaan radiologi: Rontgen Thorax PA dan lateral

4
G. Penatalaksanaan
1. Obat Anti Tuberkulosis (OAT)
2. Paduan dari OAT
3. Pengobatan suportif/simptomatik
4. Terapi pembedahan
5. Tindakan invasif : bronkoskopi, punksi pleura, WSD
6. Kriteria sembuh
a. BTA mikroskopik negatif dua kali (pada akhir fase intensif dan akhir pengobatan)
dan telah mendapatkan pengobatan yang adekuat
b. Pada foto toraks, gambaran radiologi serial tetap sama/perbaikan
c. Bila ada fasilitas biakan, maka kriteria ditambah biakan negatif

5
BAB II
KONSEP KEPERAWATAN

A. Pengkajian Keperawatan
1. Pengkajian
Anamnesa meliputi identifikasi klien, identifikasi faktor risiko potensial
termasuk riwayat praktik social dan penggunaan obat injeksi IV. Kaji status fisik dan
psikologis. Secara keseluruhan gali faktor-faktor yang mempengaruhi fungsi system
imun (Smeltzer, 2013).
2. Status Nutrisi
 Dapatkan riwayat diet.
 Identifikasi faktor-faktor yang dapat mengganggu asupan oral, seperti anoreksia,
mual, mntah, nyeri oral atau kesulitan menelan.
 Kaji kemampuan pasien untuk membeli dan mempersiapkan makanan.
 Ukur status nutrisi berdasarkan berat badan, pengukuran antropometri (pengukuran
lipatan kulit trisep), dan nitrogen urea darah (BUN), protein serum, albumin, dan
kadar transferrin.
3. Membran Kulit dan mukosa
 Inspeksi adanya lecet, ulserasi, dan infeksi setiap hari.
 Pantau rongga mulut terhadap adanya kemerahan, ulserasi dan bercak krem
keputihan (kandidiasis)
 Kaji adanya ekskoriasis dan inspeksi pada area perinatal
 Dapatkan kultur luka untuk mengidentifikasi organisme penginfeksi.
4. Status pernapasan
 Pantau batuk, produksi sputum, sesak napas, ortopnea, takipnea, dan nyeri dada kaji
suara napas.
 Kaji parameter fungsi paru yang lain (foto rontgen dada, gas darah arteri, oksimetri
denyut nadi, pemeriksaan fungsi pulmonal/paru).
5. Status neurologi
 Kaji status mental sedini mungkin sebagai data dasar. Catat tingkat kesadaran dan
orientasi terhadap orang, tempat, dan waktu serta kejadian kehilangan memori.
 Pantau defisit sensori, seperti perubahan visual, sakit kepala dan kebas serta
kesemutan pada ekstremitas.

6
 Pantau kerusakan motoric, seperti perubahan gaya berjalan dan paresis.
 Pantau aktivitas kejang.
6. Status cairan dan elektrolit
 Kaji turgor dan kekeringan kulit dan membrane mukosa.
 Kaji dehidrasi dengan mengobservasi peningkatan rasa haus, penurunan haluaran
urine, tekanan darah rendah, nadi lemah dan cepat, atau mengkaji berat jenis urine.
 Pantau ketidakseimbangan elektrolit. (Studi laboratorium menunjukkan rendahnya
kadar natrium serum, kalium, kalsium, magnesium dan klorida).
 Kaji tanda dan gejala deficit elektrolit, termasuk perubahan status mental, kedutan
otot, kram otot, denyut nadi tak teratur, mual dan muntah, serta pernapasan dangkal.
7. Tingat pengetahuan
 Evaluasi pengetahuan pasien mengenai penyakit dan penyebarannya.
 Kaji tingkat pengetahuan keluarga dan teman.
 Gali reaksi pasien terhadap diagnosis infeksi HIV atau AIDS.
 Gali bagaimana pasien menghadapi penyakit dan stressor kehidupan mayor di masa
lalu.
 Identifikasi sumber-sumber dukungan pasien.
8. Penggunaan terapi alternative
 Tanyakan pasien mengenai penggunaan terapi alternative.
 Anjurkan pasien untuk melaporkan setiap penggunaan terapi alternative kepenyedia
layanan kesehatan primer.
 Kenali kemungkinan efek samping dari terapi alternatif jika efek samping diduga
terjadi akibat terapi alternatif, diskusikan bersama pasien dan penyedia layanan
kesehatan primer dan alternatif.
 Pandang terapi alternative dengan pikiran terbuka, dan coba pahami pentingnya
terapi tersebut bagi pasien.

B. Diagnosa Keperawatan
1. Ketidakefektifan bersihan jalan napas (Domain 11, kelas 2; 00031)
2. Gangguan pertukaran gas (Domain 3, kelas 4;00030)
3. Hipertermia (Domain 11, kelas 6;00007)
4. Ketidakseimbangan nutrisi; kurang dari kebutuhan tubuh (Domain 2, kelas 1;00002)
5. Risiko infeksi (Domain 11 kelas 1; 00004)

7
C. Rencana/Intervensi Keperawatan
Diagnosa Keperawatan Tujuan/kriteria Hasil Intervensi
Ketidakefektifan NOC NIC
bersihan jalan napas Setelah dilakukan tindakan - Kenali ada tidaknya kontra indikasi
(Domain 11, kelas 2; keperawatan selama 3x24 jam dilakukannya fisioterapi dada (mis.
00031) diharapkan: PPOK, eksaserbasi akut, dll)
- Mendemonstrasikan batuk - Lakukan fisioterapi dada minimal 2
efektif dan suara napas jam setelah makan
yang bersih, tidak ada - Jelaskan tujuan dan prosedur
sianosis dan dyspnoe tindakan fisioterapi dada kepada
- Mampu mengeluarkan pasien
sputum, mampu bernapas - Dekatkan alat-alat yang diperlukan
dengan mudah - Monitor status respirasi dan
- Mampu mengidentifikasi kardiologi
dan mencegah faktor yang - Tentukan segmen paru mana yang
dapat menghambat jalan berisi sekret berlebihan
napas - Posisikan segmen paru yang akan
dilakukan fisioterapi dada diatas,
atau memodifikasi posisi pasien
- Gunakan bantal untuk menopang
posisi pasien
- Tepuk dada dengan teratur dan cepat
dengan menggunakan telapak tangan
yang dikuncupkan di atas area yang
telah ditentukan selama 305 menit
- Lakukan getaran apply pneumatic,
acoustical or electrical chest
- Getarkan dengan cepat dan kuat
dengan telapak tangan, jaga agar
bahu dan lengan tetap lurus,
pergelangan tangan kencang pada
area yang akan dilakukan fisioterapi
dada ketika pasien akan
menghembuskan napas atau batuk 3-
4 kali
- Instruksikan pasien untuk
mengeluarkan dahak dengan teknik
napas dalam
- Anjurkan untuk batuk selama dan
setelah tindakan
- Sedot sputum

8
- Monitor kemampuan pasien sebelum
dan sesudah prosedur dan tingkat
kenyamanan pasien

1. Gangguan NOC NIC


pertukaran gas Setelah dilakukan tindakan - Monitor rata –rata, kedalaman,
(Domain 3, kelas keperawatan selama 3x24 jam irama dan usaha respirasi
4;00030) diharapkan: - Catat pergerakan dada, amati
- Mendemonstrasikan kesimetrisan, penggunaan otot
peningkatan ventilasi dan tambahan, ratraksi otot
iksigenasi yang adekuat supraclavicular dan intercostal
- Memelihara kebersihan - Monitor suara napas seperti dengkur
paru dan bebas dari tanda - Monitor pola napas : bradipnea,
distress pernapasan takipnea, kusmaul, hiperventilasi,
- Tanda – tanda vital dalam chyne stoke
keadaan normal - Auskultasi suara napas, catat area
penurunan/tidak adanya ventilasi
dan suara tambahan
2. Hipertermia NOC NIC
(Domain 11, kelas Setelah dilakukan tindakan - pantau suhu dan tanda – tanda vital
6;00007) keperawatan selama 3x24 jam lainnya
diharapkan: - monitor warna kulit dan suhu
- Suhu tubuh dalam rentang - monitor asupan dan keluaran, sadari
normal perubahan kehilangan cairan yang
- Nadi dan RR dalam tak dirasakan
rentang normal - beri obat atau cairan IV (mis
- Tidak ada perubahan antipiretik, anti bakteri, dll)
warna kulit dan tidak ada - tutup pasien dengan selimut atau
rasa pusing pakaian ringan, tergantung pada fase
demam
- dorong konsumsi cairan
- fasilitasi untuk istirahat, terapkan
pembatasan aktivitas; jika
diperlukan
- berikan oksigen yang sesuai
- tingkatkan sirkulasi udara
- pastikan langkah keamanan pasien
yang gelisah atau mengalami
delirium
- lembabkan bibir dan mukosa hidung
yang kering
3. Ketidakseimbangan NOC NIC
nutrisi; kurang dari - BB pasien dalam rentang normal

9
kebutuhan tubuh Setelah dilakukan tindakan - Monitor adanya penurunan berat
(Domain 2, kelas keperawatan selama 3x24 jam badam
1;00002) diharapkan: - Monitor tipe dan jumlah aktivitas
- Adanya peningkatan berat yang biasa dilakukan
badan sesuai dengan - Monitor lingkungan selama makan
tujuan - Jadwalkan pengobatan dan tindakan
- Berat badan ideal sesuai tidak selama jam makan
dengan tinggi badan - Monitor kulit kering dan perubahan
- Mampu mengidentifikasi pigmentasi
kebutuhan nutrisi; tidak - Monitor turgot kulit
ada tanda-tanda malnutrisi - Monitor kekeringan, rambut kusam,
- Menunjukkan peningkatan dan mudah patah
fungsi pengecapan dari - Monitor mual dan muntah
menelan - Monitor kadar albumin, total
- Tidak terjadi penurunan protein, Hb, dan kadar Ht
berat badan yang berarti - Monitor pucat, kemerahan dan
kekeringan jaringan konjungtiva
- Catat adanya edema, hiperemik,
hipertonik papila lidaj dan cavitas
oral
- Catat jika lidah berwarna magenta,
scarlet
4. Risiko infeksi NOC NIC
(Domain 11 kelas 1; Setelah dilakukan tindakan - Tentukan obat apa yang diperlukan,
00004) keperawatan selama 3x24 jam dan kelola menurut resep atau
diharapkan: protokol
- Klien bebas dari tanda dan - Monitor pasien mengenai efek
gejala infeksi terapeutik obat
- Mendeskripsikan proses - Monitor tanda dan gejala toksisitas
penularan penyakit, faktor obat
yang mempengaruhi - Monitor efek smaping obat
penularan serta - Monitor level serum darah
penatalaksanaan - Fasilitasi perubahan pengobatan
- Jumlah leukosit dalam dengan dokter
batas normal - Pantau kepatuhan mengenai regimen
obat
- Pertimbangkan faktor yang dapat
menghalangi pasien untuk
memgkonsumsi obat yang
diresepkan
- Ajarkan pasien/keluarga mengenai
metode pemberian obat yang sesuai

10
BAB III

WEB OF CATION (WOC)

Mycrobacterium Masuk melalui Menempel pada


Droplet infection
tuberkulosa jalan napas paru

Terjadi proses Menetap di Dibersihkan oleh


peradangan jaringan paru makrofag

Pengeluaran zat Tumbuh dan berkembang Keluar dari tracheobronchial


pirogen di sitosplasma makrofag bersama sekret

Mempengaruhi Fokus ghon


Sembuh tanpa
hipothalamus
pengobatan

Mempengaruhi Kompleks primer Limfangitis lokal Limfadinitis regional


sel point

hipertemia Menyebar ke organ lain (paru Sembuh sendiri Sembuh dengan


lain, saluran pencernaan, tulang) tanpa pengobatan bekas fibrosis
melalaui media bronchogen,
Radang tahunan di percontinuitum, hematogen,
bronkus yang dapat limfogen)
Kerusakan
menghancurkan membran alveolar
jaringan ikat Pertahanan tidak Pembentukan
adekuat tuberkel
Alveolus mengalami
Bagian tengah
konsolidasi dan
nekrosis membentuk Pembentukan eksudasi
jaringan keju sputum berlebihan
Ketidakefektifan
Menurunnya
bersihan jalan
Sekret keluar permukaan paru
napas
saat batuk
Mual,muntah
Gangguan
Batuk produktif Distensi abdomen pertukaran gas
Intake nutrisi
kurang
Droplet infection Risiko Infeksi
Ketidakseimbangan
nutrisi kurang dari
kebutuhan

11
DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2012. Asuhan Keperawatan Tb Paru, diakses tanggal 30 Oktober 2012 jam 09.03 dari
http://akperpemprov.jatengprov.go.id/
Anonim. 2002. Tuberkulosis Pedoman diagnosis & Penatalaksanaan Di Indonesia. diakses
tanggal 30 Oktober 2012 jam 10.15 dari http://www.klikpdpi.com/ konsensus/tb/tb.pdf
2002
Bulechek, G. M., Butcher, H. K., Dochterman, J. M., & Wagner, C. M. (2013). Nursing
intervention classifikation . Indonesia : Elsevier .
Dewi, Kusma . 2011. Laporan Pendahuluan Pada Pasien Dengan Tuberkulosis Paru. Diakses
tanggal 30 Oktober 2012 jam 10.15 dari http://www.scribd.com /doc/52033675/
Herdman, T. H., & Kamitsuru, S. (2015). Diagnosisi Keperawatan definisi dan klasifikasi .
Jakarta: EGC.
LeMone, P., Burke, K.M., & Bauldoff, G. 2016. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah, vol.5.
Ed.5. Jakarta: EGC
Moorhead, S., Johnson, M., Maas, M. L., & Swanson, E. (2013). Nursing outcomes
classification . Indonesia : Elsevier .
Mansjoer,Arif. 1999. Kapita Selekta Kedokteran Jilid I. Jakarta:Media Aeculapius
Price, S. A., & Wilson, L. W. (2013). Patofisiologi konsep klinis proses-proses penyakit, edisi
6 . Jakarta : EGC.
Smeltzer, C.S.2001. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner dan Suddarth. Edisi 8.
Jakarta : EGC
Sudoyo dkk. 2007. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid II Edisi IV. Jakarta:FKUI.

12