Anda di halaman 1dari 19

MAKALAH TERAPI BERMAIN

MATA KULIAH KEPERAWATAN ANAK III

Disusun oleh : KELOMPOK III

1. RIDHA TRI ROHYANI 175070209111003


2. PRASETIYO TENTREM SUBEKTI 175070209111012
3. ANJAR SATRIA 175070209111018
4. RACHMAT FAJAR NOOR KUSUMA 175070209111031
5. YUNITA SARI 175070209111042
6. RONI HENGKI 175070209111054
7. I KADE ADI GUNAWAN 175070209111064
8. AGUS SAPUTRA 175070209111071
9. AAN TRISNAYANTI 175070209111078

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG
2017

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Ketika masa anak sudah memasuki masa bermain atau istilah lain
disebut sebagai masa todller, maka anak selalu membutuhkan kesenangan
pada dirinya disitulah anak membutuhkan suatu permainan, maka tidak
terlalu heran masa anak-anak sangat identik dengan masa bermain, karena
perkembangan anak mulai akan diasah sesuai dengan kebutuhannya di saat
tumbuh kembang. Akan tetapi banyak orang yang menganggap masa bermain
pada anak tidaklah mendapat suatu perhatian secara khusus sehingga banyak
sekali orang tua yang membiarkan anak tanpa memberikan pendidikan
terhadap permainan yang dimiliki anak. Untuk itu sebelum memahami alat
pemainan pada anak secara khusus maka lebih dahulu harus mengenal
pengertian bermain pada anak yang ditinjau dari aspek keperawatan.

Banyak ditemukan anak pada masa turnbuh kembang mengalami


perlambatan yang dapat disebabkan kurangnya pemenuhan kebutuhan pada
din anak termasuk didalamnya adalah kebutuhan bermain, yang seharusnya
masa tersebut merupakan masa bermain yang diharapkan menumbuhkan
kematangan dalam pertumbuhan dan perkembangan karena masa tersebut
tidak digunakan sebaik mungkin maka tentu akhimya mengganggu tumbuh
kembang anak.

Perhatian selama proses bermain pada anak sangat penting mengingat


dalam proses bermain dapat ditemukan kekurangan dan kebutuhan bermain
seperti kreativitas anak, perkembangan mental dan emosional yang harus
diarahkan agar sesuai dengan proses kematangan perkembangan. Anak yang
mendapatkan atau terpenuhinya kebutuhan bermain dapat terlihat pula pada
pola perkembangan.

B. Tujuan Penulisan

Tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui macam-macam


permainan sesuai tahapan usia perkembangan anak.
 Untuk mengetahui definisi bermain

 Untuk mengetahui fungsi bermain

 Untuk mengetahui faktor yang mempengaruhi bermain

 Untuk mengetahui klasifikasi bermain

C. Sistematika Penulisan

Bab I merupakan Bab Pendahuluan yang terdiri dari Latar Belakang


Masalah, Tujuan Penulisan, dan sistematika penulisan.

Dilanjutkan dengan Bab II menjelaskan tentang materi yang dibahas,


yaitu tentang Periode Perkembangan Anak.

Pada Bab III merupakan kesimpulan dari materi yang dibahas.


BAB II

PEMBAHASAN

A. DEFINISI BERMAIN

Bermain merupakan kegiatan yang dilakukan secara sukarela untuk


memperoleh kesenangan. Bermain merupakan cerminan kemampuan fisik,
intelektual, emosional, dan sosial, dan bermain merupakan media yang baik
untuk belajar karena dengan bermain, anak-anak akan berkata-kata
(berkomunikasi), beljar menyesuaikan diri dengan lingkungan, melakukan
apa yang dapat dilakukannya, dan mengenal waktu, jarak, serta suara (Wong,
2000).

Bermain sama dengan bekerja pada orang dewasa, dan merupakan


aspek terpentingdalam kehidupan anak serta merupakan satu cara yang paling
efektif untuk menurunkan stres pada anak, dan penting untuk kesejahteraan
mental emosional anak (Champbell dan Glaser, 1995).

Bermain merupakan suatu aktivitas di mana anak dapat melakukan atau


mempraktikkan keterampilan memberikan ekspresi terhadap pemikiran,
menjadi kreatif mempersiapkan diri untuk berperan dan berperilaku dewasa
(Aziz Alimul, 2005)

B. FUNGSI BERMAIN

1. Perkembangan Sensoris-Motorik

Pada saat melakukan permainan, aktivitas sensoris-motorik


merupakan komponen terbesar yang digunakan anak dan bermain aktif
sangat penting untuk perkembangan fungsi otot. Misalnya, alat permainan
yang digunakan untuk bayi yang mengembangkan kemampuan sensorik-
motorik dan alat-alat permainan untuk usia todler dan prasekolah yang
banyak membantu perkembangan aktivitas motorik baik kasar maupun
halus.

2. Perkembangan Intelektual

Pada saat bermain, anak melakukan explorasi dan manipulasi


terhadapsegala sesuatu yang ada dilingkungan sekitarnya, terutama
mengenal warna, bentuk, ukuran, tekstur, dan membedakan objek. Pada
saat bemain pula anak akan melatih diri untuk memecahkan masalah. Pada
saat anak bermain mobil-mobilan, kemudian bannya terlepas dan anak
dapat memperbaikinya maka iya telah belajar memecahkan masalahnya
melalui explorasi alat mainannya dan untuk mencapai kemampuan ini,
anak menggunakan daya pikir dan imajinasinya semaksimal mungkin.
Semakin sering anak melakukan explorasi seperti ini, akan semakin
terlatih kemampuan intelektuanya.

3. Perkembangan Sosial

Perkembangan sosial ditandai dengan kemampuan berinteraksi


dengan lingkungannya. Melalui kegiatan bermain, anak akan belajar
member dan menerima. Bermain dengan orang lain akan membantu anak
untuk mengembangkan dunia sosial dan belajar untuk memecahkan
masalah dari hubungan tersebut.

Sebagai contoh di mana pada usia bayi anak akan merasakan


kesenangan terhadap kehadiran orang lain dan merasakan ada teman yang
dunianya sama, pada usia todler anak sudah mencoba bermain dengan
sesamanya dan ini sudah mulai proses sosialisasi satu dengan yang lain,
kemudian bermain peran seperti bermain berpura-pura jadi seorang guru,
jadi seorang anak, jadi seorang bapak, jadi seorang ibu dan lain-lain,
kemudian pada usia prasekolah sudah mulai menyadari akan keberadaan
teman sebaya sehingga harapan anak mampu melakukan sosialisasi dengan
teman dan orang lain.
4. Perkembangan Kreativitas

Melalui kegiatan bermain, anak akan belajar dan mencoba untuk


merealisasikan ide-idenya, di mana anak mulai belajar menciptakan
sesuatu dari permainan yang ada dan mampu memodifikasi objek yang
digunakan dalam permainan sehingga anak akan lebih kreatif melalui
model permainan ini, seperti bermain bongkar pasang mobil-mobilan.

5. Perkembangan Kesadaran diri

Melalui bermain, anak belajar dan mencoba mengembangkan


kemampuannya dalam mengatur tingkah laku. Anak juga akan belajar
mengenal kemampuannya dan membandingkannya dengan orang lain dan
menguji kemampuannya dengan mencoba peran-peran baru dan
mengetahui dampak dampak tingkah lakunya terhadap orang lain.
Misalnya, jika anak mengambil mainan anak lainnya sehingga temannya
menangis, anak akan belajar mengembangkan diri bahwa perilakunya
menyakiti teman.

6. Perkembangan Moral

Bermain juga dapat memberikan nilai moral tersendiri pada anak, hal
ini dapat dijumpai anak sudah mampu belajar benar atau salah dari budaya
di rumah, di sekolah dan ketika berinteraksi dengan temannya, dan juga
ada beberapa permainan yang memiliki aturan-aturan yang harus
dilakukan tidak boleh dilanggar.

7. Bermain Sebagai Terapi

Bermain dapat menjadikan diri anak lebih senang dan nyaman


sehingga adanya stres dan ketegangan dapat dihindarkan, mengingat
bermain dapat menghibur diri anak terhadap dunianya. Pada saat dirawat
di rumah sakit, anak mengalami berbagai perasaan yang sangat tidak
menyenangkan, sepert marah, takut, cemas, sedih, dan nyeri. Perasaan
tersebut dampak dari hospitalisasi yang dialami anak karena menghadapi
beberapa stresor yang ada dilingkungan rumah sakit. Utnuk itu, dengan
melakukan permainan anak akan terlepas dari ketegangan dan stres yang
dialaminya karena dengan melakukan permainan, anak akan dapat
mengalihkan rasa sakitnya pada permainannya (distraksi) dan relaksasi
melalui kesenangannya melakukan permainan.

C. FAKTOR YANG MEMENGARUHI AKTIVITAS BERMAIN

1. Tahap Perkembangan Anak

Aktivitas bermain yang tepat dilakukan anak, yaitu sesuai dengan


tahapan pertumbuhan dan perkembangan bayi tidak lagi efektif untuk
pertumbuhan dan perkembangan anak usia sekolah. Demikian juga
sebaliknya karena pada dasarnyan permainan adalah alat stimulasi
pertumbuhan dan perkembangan anak.

2. Status Kesehatan Anak

Untuk melakukan aktivitas bermain diperlukan energy. Walaupun


demikian, bukan berarti anak tidak perlu bermain pada saat sakit. Yang
penting pada saat kondisi anak sedang menurun atau anak terkena sakit,
bahkan dirawat dirumah sakit, orang tua dan perawat harus jeli
memilihkan permainan yang dapat dilakukan anak sesuai dengan prinsip
bermain pada saat anak yang dirawat dirumah sakit.

3. Jenis Kelamin Anak

Semua alat permainan dapat digunakan oleh anak laki-laki atau


perempuan untuk mengembangkan daya pikir, imajinasi, kreativitas, dan
kemampuan social anak. Akan tetapi, ada pendapat lain yang meyakini
bahwa permainan adalah salah satu alat untuk membantu anak mengenal
identitas diri sehingga sebagai alat permainan anak perempuan tidak
dianjurkan untuk digunakan oleh anak laki-laki. Hal ini dilator belakangi
oleh alasan adanya tuntutan perilaku yang berbada antara laki-laki dan
permpuan dan hal ini dipelajari melalui media permainan.

4. Lingkungan Yang Mendukung

Terselenggara aktivitas bermain yang baik untuk perkembangan


anak salah satunya dipengaruhi oleh nilai moral, budaya, dan lingkungan
fisik rumah. Keyakinan keluarga tentang moral dan budaya juga
memengaruhi bagaimana anak dididik melalui permainan. Sementara
lingkungan fisik sekitar rumah lebih banyak memengaruhi ruang gerak
anak untuk melakukan aktivitas fisik dan motorik. Lingkungan rumah
yang cukup luas untuk bermain memungkinkan anak mempunyai cukup
ruang gerak untuk bermain, berjalan, mondar-mandir, berlari melompat,
dan bermain dengan teman sekelompoknya.

5. Alat Dan Jenis Permainan Yang Cocok

Orang tua harus bijaksana dalam memberikan alat permainan untuk


anak. Pilih yang sesuai dengan tahapan tumbuh kembang anak. Label
yang tertera pada mainan harus dibaca terlebih dahulu sebelum
membelinya, apakah main tersebut sesuai dengan anak. Alat permainan
yang harus didorong, ditarik, dan dimanipulasi, akan mengajarkan anak
untuk dapat mengembangkan kemampuan koordinasi alat gerak.
Permainan membantu anak untuk meningkatkan kemampuan dalam
mengenal norma dan aturan serta interaksi social dengan orang lain.

D. KLASIFIKASI BERMAIN

Ada beberapa jenis permainan, baik ditinjau dari isi permainan maupun
karakter sosialnya. Berdasarkan isi permainan, ada social affective play,
sense-pleasure play, skill play, games, unoccupied behavior, dan dramatic
play, apabila ditinjau dari karakter, ada sosial onlooker play, solitary play, dan
parallel play, dan berdasarkan kelompok usia anak.

1. Berdasarkan isi permainan

a. Permainan affective social

Inti permainan ini adalah adanya hubungan interpersonal yang


menyenangkan antara anak dan orang lain. Misalnya, bayi akan
mendapatkan kesenangan dan kepuasan dari hubungan yang
menyenangkan dengan tuanya dan atau orang lain. Permainan yang
biasa dilakukan adalah “ ciluk ba “, berbicara sambil tersenyum /
tertawa, atau sekedar memberi tangan pada bayi untuk
menggenggamnya, tetapi dengan diiringi berbicara sambil tersenyum
dan tertawa. Sifat dari bermain ini adalah orang lain yang berperan aktif
dan anak hanya berespons terhadap stimulasi sehingga akan
memberikan kesenangan dan kepuasan bagi anak.

b. Sense of pleasure play

Permainan ini menggunakan alat yang dapat menimbulkan rasa


senang pada anak dan biasanya mengasyikan. Misalnya, dengan
menggunakan pasir, anak akan membuat gunung-gunungan atau benda-
benda apa saja yang dapat dibentuknya dengan pasir. Bisa juga dengan
menggunakan air anak akan melakukan macam-macam permainan,
misalnya memindah-mindah air ke botol, bak, atau tempat lain. Ciri
khas permainan ini adalah anak akan semakin lama semakin asik
bersentuhan dengan alat permainan ini dan dengan permainan yang
dilakukannya sehingga susah dihentikan.
c. Skill play

Sesuai dengan sebutannya, permainan ini akan meningkatkan


keterampilan anak, khususnya motorik kasar dan halus. Sifat permainan
ini adalah bersifat aktif di mana anak selalu ingin mencoba kemampuan
dalam keterampilan tertentu.

Misalnya, bayi akan terampil memegang benda-benda kecil,


memindahkan benda dari satu tempat ke tempat lain dan anak akan
terampil naik sepeda. bermain dalam bongkar pasang gambar, di sini
anak selalu dipacu untuk selalu terampil dalam meletakkan gambar
yang telah dibongkar, kemudian bermain latihan memakai baju dan
lain-lain.

d. Games atau permainan

Game atau permainan adalah jenis permainan yang menggunakan


alat tertentu yang menggunakan perhitungan dan atau skor. Sifatnya
adalah aktif, anak akan memberikan respons kepada temannya sesuai
dengan jenis permainan dan akan berfungsi memberikan kesenangan
yang dapat mengembangkan perkembangan emosi pada anak.
Misalnya, ular tangga, congklak, puzzle dll.

e. Anoccupied behaviour

Pada saat tertentu, anak sering terlihat mondar-mandir, tersenyum,


tertawa, jinjit-jinjit, bungkuk-bungkuk, memainkan kursi, meja, atau
apa saja yang ada di sekelilingnya. Jadi, sebenarnya anak tidak
memainkan alat permainan tertentu, dan situasi atau objek yang ada di
sekelilingnya yang digunakannya sebagai alat permainan. Anak tampak
senang, gembira, dan asik dengan situasi serta lingkungannya tersebut.
f. Dramatic Play

Macam bermain ini dapat dilakukan anak dengan mencoba


melakukan berpura-pura dalam berperilaku seperi anak memperankan
sebagai seorang dewasa. Sifat dari permainan ini adalah anak dituntut
aktif dalam memerankan sesuatu. Permainan dramatik ini dapat
dilakukan apabila anak sudah mampu berkomunikasi dan mengenal
kehidupan sosial.

Anak berceloteh sambil berpakaian meniru orang dewasa, misalnya


ibu guru, ibunya, ayahnya, kakaknya dan sebagainya yang ingin ia tiru.
Apabila anak bermain dengan temannya, akan terjadi percakapan di
antara mereka tentang peran orang yang mereka tiru.

2. Berdasarkan karakter sosial

a. Onlooker Play

Pada jenis permainan ini, anak hanya mengamati temannya yang


sedang bermain, tanpa ada inisiatif untuk ikut berpartisipasi dalam
permainan. Jadi, anak tersebut bersifat pasif, tetapi ada proses
pengamatan terhadap permainan yang sedang dilakukan temannya.

b. Solitary Play

Pada permainan ini anak tampak berada dalam kelompok


permainan, tetapi anak bermain sendiri dengan anak alat permainan
yang dimilikinya. Sifatnya adalah aktif akan tetapi bentuk stimulasi
tambahan kurang, karena dilakukan sendiri dalam perkembangan
mental pada anak, kemudian dapat membantu untuk memciptakan
kemandirian pada anak.
c. Parallel Play

Pada permainan ini, anak dapat menggunakan alat permainan yang


sama, tetapi antara satu anak dengan anak lain tidak terjadi kontak satu
sama lain sehingga antara anak satu dengan anak lain tidak ada
sosialisasi satu sama lain. Biasanya permainan ini dilakukan oleh anak
usia todler. Sifat dari bermain ini adalah anak aktif secara sendiri tetapi
masih dalam satu kelompok, dengan harapan kemampuan anak dalam
menyelesaikan tugas mandiri dalam kelompok tersebut terlatih dengan
baik.

d. Associative Play

Pada permainan ini sudah terjadi komunikasi antara satu anak


dengan anka lain, tetapi tidak terorganisasi, tidak ada pemimpin atau
yang memimpin permainan, dan tujuan permainan anak tidak jelas.
Comtoh permainan jenis ini adalah bermain boneka, bermain hujan-
hujanan, dan bermain masak-masakan.

e. Cooperative Play

Aturan permainan dalam kelompok tampak lebih jelas pada


permainan jenis ini, juga tujuan damn pemimpin permainan. Anak yang
memimpin Permainan mengatur dan mengarahkan anggotanya untuk
bertindak dalam permainan sesuai dengna tujuan yang diharapkan
dalam permainan tersebut. Sifat dari bermain ini adalah aktif, anak akan
selalu menumbuhkan kreativitasnya dan melatih anak pada peraturan
kelompok sehingga anak dituntut selalu mengikuti peraturan. Misalnya,
pada permainan sepak bola, ada anak yang memimpin permainan,
aturan main harus dijalakan oleh anak dan mereka harus dapat
mencapai tujuan bersama, yaitu memenangkan permainan dengan
memasukan bola ke gawang lawan mainnya.
3. Berdasarkan usia anak

a. Anak usia bayi

Permainan untuk anak usia bayi dibagi menjadi bayi usia 0-3
bulan, 4-6 bulan dan 7-8 bulan. Karakteristik permainan anak usia bayi
adalah sense of pleasure play.

Bayi usia 0-3 bulan. Seperti disinggung pada uraian sebelumnya,


karakterstik khas permainan bagi usia bayi adalah adanya interaksi
sosial yang menyenangkan antara bayi dan orang tua / orang dewasa
sekitarnya. selain itu, perasaan senang juga menjadi ciri khas dari
permainan untuk bayi usia ini. Alat permainan yang biasa digunakan,
misalnya mainan gantung yang berwarna terang dengan bunyi musik
yang menarik. Dari permainan tersebut, secara visual bayi diberi objek
yang berwarna terang dengan tujuan menstimulasi penglihatannya. Oleh
karena itu, bayi harusditidurkan atau diletakkan pada posisi yang
memungkinkan agar dapat memandang bebas ke sekelilingnya. Secara
auditori ajak bayi berbicara, beri kesempatan untuk mendengar
pembicaraan, musik, dan nyanyian yang menyenangkan.

Bayiusia 4-6 bulan. Untuk menstimulasi penglihatan, dapat


dilakukan permainan, seperti mengajak bayi menonton TV, memberi
mainan yang mudah dipegangnya dan berwarna terang, serta dapat pula
dengan cara memberi cermin dan meletakkan bayi di depannya
sehingga memungkinkan bayi dapat melihat bayangan dicermin.

Stimulasi pendengaran dapat dilalukan dengan cara selalu


membiasakan memanggil namanya, mengulangi suara yang
dikeluarkannya, dan sering berbicara dengan bayi, serta meletakkan
mainan yang berbunyi di dekat telinganya. Untuk stimulasi taktil,
berikan mainan yang dapat digenggamnya, lembut, dan lentur atau pada
saat memandikan, biarkan bayi bermain air di dalam bak mandinya.
Bayi usia 7-9 bulan. Untuk stimulasi penglihatan, dapat dilakukan
dengan memberikan mainan yang berwarna terang, atau berikan
kepadanya kertas dan alat tulis, biarkan ia mencoret-coret sesuai
keinginnannya. Stimlasi pendengaran dapat ilakukan dengan menberi
bayi boneka yang berbunyi, mainan yang bisa dipegang dan berbunyi
jika digerakan. Untuk itu, alat permainan yang dapat diberikan pada
bayi, misalnya buku dengan warna yang terang dan mencolok, gelas
dan sendok yang tidak pecah, bolayang besar, berbagai macam boneka,
dan mainan ynag dapat didorong.

b. Anak usia todler (>1 tahun sampai 3 tahun)

Anak usia todler seperti telah dijelaskan pada kegiatan belajar 2


menunjukkan karakteristik yang khas, yaitu banyak bergerak, tidak bisa
diam,dan mulai mengembangkan otonomi dan kemampuannya untuk
dapat mandiri. Oleh karena itu, dalam melakukan permainan, anak lebih
bebas, spontan, dan menunjukkan otonomi baik dalam memilih mainan
maupun dalam aktivitas bermainnya. Anak mempunyai rasa ingin tahu
yang benar. Oleh karena itu, sering kali mainannya dibongkar pasang,
bahkan dirusaknya. Untuk itu harus diperhatikan keamanan dan
keselamatan anak dengan cara tidak memberikan alat permainan yang
tajam dan menimbulkan perlukaan.

Jenis permainan yang epat dipilih anak usia todler adalah solitary
play dan parallel play. Pada anak 1 sampai 2 tahunlebih jelas terlihat
anak melakukan permainan sendiri dengan mainnya sendiri, sedangkan
pada usia lebih dari 2 tahun sampai 3 tahun, anak mulai dapat melakuka
permainan secara paralel karena sudah dapat berkumunikasi dalam
kelompoknya walaupun belumbegitu jelas karena kemampuan
berbahasa belum begitu lancar. Jenis alat permainan yang tepat
diberikan adalah boneka, kereta api, truk, sepda roda tiga, alat
memasak, alat menggambar,bola, pasir, tanah liat dan lilin warna warni
yang dapat dibentuk benda macam-macam.

c. Anak usia prasekolah (>2 tahun sampai 6 tahun)

Sejalan dengan pertumbuhan dan perkembangannya, anak usia


prasekolah mempunyai kemampua motorik kasar danhalus yang lebih
matang daripada anak usia todler. Anak sudah lebih aktif, kreatif, dan
imajinatif. Demikian juga kemampuan berbicara dan berhubungan
sosial dengan temannya semakin meningkat.

Oleh karena itu, jenis permainan yang sesuai adalah


associativeplay, dramatic play, dan skill play. Anak melakukan
permainan bersama-sma dengan temannya dengan berkomunikasi yang
sesuai engan kemampuan bahasanya. Anak juga sudh mampu
memainkan peran orang tertentu yang diidentifikasinya, seperti ayah,
ibu dan bapak atau ibu gurunya. Permainan yang menggunakan
kemampuan motorik(skill play) banyak dipilih anak usia prasekolah.
Untuk itu, jenis alat permainan yang tepat diberikan pada anak,
misalnya sepeda, mobil-mobilan, alat olahraga, berenang, dan
permainan balok-balok besar.

d. Anak usia sekolah (6 sampai 12 tahun)

Kemampuan sosial anak usia sekolah semakin meningkat. Mereka


lebih mampu bekerja sama dengan teman seper,ainannya. Sering kali
pergaulan dengan teman menjadi tempat belajar mengenal norma baik
dan buruk. Dengan demikian, permainan pada anak usia sekolah tidak
hanya bermanfaat untuk meningkatkan keterampilan fisik atau
intelektualnya, tetapijuga dapat mengembangkan sensitivitasnya untuk
terlibat dalam kelompok dan bekerja sama dengan sesamanya. Mereka
belajar norma kelompok sehingga dapat diterima dalam kelompoknya.
Sisi lain manfaat bermain bagi anak usia sekolah adalah
mengembangkan kemampuannya untuk bersaing secara sehat.
Bagaimana anak dapat menerima kelebihan orang lain melalui
permainan yang ditujukkannya.

Karakteristik permainan untuk anak usia sekolah dibedakan


menurut jenis kelaminnya. Anak laki-laki lebih tepat jika diberikan
mainan jenis menarik yang akan menstimulasi kemampuan
kreativitasnya dalam berkreasi sebagai seorang laki-laki, misalnya
mobil-mobilan. Anak perempuan lebih tepat diberikan permainan yang
dapat menstimulasinya untukmengembangkan perasaan, pemikiran dan
sikapnya dama menjalankan peran sebagai seorangperempuan,
misalnya alat untuk memasak dan boneka.

e. Anak usia remaja (13 sampai 18 tahun)

Seperti setelah dibahas pada kegiatan belajar 2 tentang konsep


pertumbuhan dan perkembnagan, anak remaja berada dalam suatu fase
peralihan, yaitu di satu sisi akan meninggalkan masa kanak-kanak dandi
sisi lain masuk pada usia dewasa dan bertindak sebagai individu. Oleh
karen itu, dikatakan bahwa anak remaja akan mengalmi krisis identitas
dan apabila tidak sukses melewatinya, anak akan mencari komensasi
pada hal yang berbahaya, seperti mengkonsumsi obat-obatan terlarang,
minuman keras, dan seks bebas. Anak sering kali menyendiri, berkhayal
atau melamun, di sisi lain mereka mempunyai geng sesama anak
remaja. Di sisipentingnya keberadaan orang tua sebagai teman bicara
dan sebagai orang tua yang mengetahui kebutuhan mereka.

Melihat karakteristik anak remaja demikian, mereka perlu megisi


kegiatan yang konstruktif, misalnya dengan melakukakn permainan
berbagai macam olahraga, mendengarkan dan bermain musik serta
melakukan kegiatan organisasi remaja yang positif, seperti kelompok
basket, sepak bola, karang taruna, dan lain-lain. Prisipnya, kegiatan
bermain bagi anak remaja tidak hanya sekedar mencari kesenangan
danmeningkatkan perkembangan fisioemosional, tetapi juga lebih ke
arah menyelurberbagai macam alat olahraga, alatuh minat, bakat, dan
aspirasi serta membantu remaja untuk menemukan identitas pribadinya.
Untuk itualat permainan yang tepat bisa berupa berbagai macam alat
olahraga, alat musik danalat gambar atau lukis.
BAB III

KESIMPULAN

A. Kesimpulan

Bermain adalah kegiatan yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan


anak-anak sehari-hari karena bermain sama dengan bekerja pada orang
dewasa, yang dapat menurunkan stress anak, media yang baik bagi anak
untuk belajar berkomunikasi dengan lingkungannya, menyesuaikan diri
terhadap lingkungan, belajar mengenal dunia sekitar kehidupannya, dan
penting untuk meningkatkan kesejahteraan mental serta sosial anak.

Permainan pada anak disesuaikan dengan tahap perkembangan anak,


baik itu dari isi permainan, karakter permainan dan usia dari anak tersebut.
Karena tahapan perkembangan setiap usianya berbeda maka permainan pun
harus disesuaikan.
DAFTAR PUSTAKA

Supartini,Yupi.2004.Konsep Dasar Keperawatan Anak.Jakarta:EGC

Alimul,Aziz.2005.Pengantar Ilmu Keperawatan Anak 1.Jakarta:Salemba Medika