Anda di halaman 1dari 11

RESENSI AKHLAK TASAWUF

Karya : Dr. H. Jamil M.A.

Diajukan guna memenuhi tugas kelompok dalam mata kuliah Akhlak Tasawuf

Disusun Oleh

Annisa Amalia (1716030001/0895388840421)

Dosen:
Bpk Drs. Malik Ibrahim

PRODI KIMIA
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN KALIJAGA
YOGYAKARTA
2018
KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Wr.Wb
Puji dan syukur saya panjatkan kehadirat Allah SWT yang sudah
melimpahkan rahmat dan karunia-Nya sehingga saya dapat menyelesaikan tugas
kelompok Makalah ini dengan tepat waktu. Karena tanpa pertolongan-Nya saya
tidak dapat menyelesaikan Makalah ini. Sholawat serta salam semoga terlimpah
curah kepada Nabi Muhammad SAW.
Adapun tujuan pembuatan resensi ini adalah untuk memenuhi tugas mata
kuliah Akhlak Tasawuf dan sekiranya laporan yang telah disusun ini dapat
berguna bagi saya sendiri maupun orang yang membacanya
Tak lupa saya ucapkan banyak terima kasih kepada Drs. Malik Ibrahim,
M.Ag. selaku dosen mata kuliah Akhlak Tasawuf yang telah memberikan tugas
ini kepada saya. Sebelumnya saya minta maaf apabila terdapat kesalahan kata-
kata yang kurang berkenan dan kami memohon saran yang membangun demi
perbaikan di masa depan.
Akhir kata kami ucapkan terima kasih.
Wassalamu’alaikum Wr.Wb

Yogyakarta, 16 Maret 2018

Penyusun

ii
iii
Identitas Buku
Judul Buku : Akhlak Tasawuf
Pengarang : Dr. H. Jamil, MA.
Penerbit : Referensi
ISBN : 978-979-915167-4
Edisi/cet : Pertama
Tahun Terbit : 2013
Bahasa : Indonesia
Jumlah Halaman : xii + 244 hlm.
Jumlah Bab : 12 Bab
Kategori : Agama
Design Cover : Kultural
Layout Isi : Rio QQQ
Ukuran : 14,8 x 21 cm

iv
5

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Tasawuf merupakan salah satu bidang studi Islam yang memusatkan


perhatian pada pembersihan aspek rohani manusia yang selanjutnya dapat
menimbulkan akhlak mulia. Pembersihan aspek rohani atau batin ini
selanjutnya dikenal sebagai dimensi esoterik dari diri manusia. Hal ini
berbeda dengan aspek Fiqih, khususnya bab thaharah yang memusatkan
perhatian pada pembersihan aspek jasmaniah atau lahiriah yang selanjutnya
disebut sebagai dimensi eksoterik. Islam sebagai agama yang bersifat
universal dan mencaku berbagai jawaban atas berbagai kebutuhan manusia,
selain menghendaki kebersihan lahiriah juga menghendaki kebersihan
batiniah, lantaran penilaian yang sesungguhnya dalam Islam diberikan pada
aspek batinnya. Hal ini misalnya terlihat pada salah satu syarat diterimanya
amal ibadah, yaitu harus disertai niat.
Melalui studi tasawuf ini seseorang dapat mengetahui tentang cara-cara
melakukan pembersihan diri serta mengamalkannya dengan benar. Dari
pengetahuan ini diharapkan ia akan tampil sebagai orang yang pandai
mengendalikan dirinya pada saat berinteraksi dengan orang lain, atau pada
saat melakukan berbagai aktivitas dunia yang menuntut kejujuran, keikhlasan,
tanggung jawab, kepercayaan dan sebagainya. Dari suasana yang demikian
itu, tasawuf diharapkan dapat mengatasi berbagai penyimpangan moral yang
mengambil bentuk seperti manipulasi, korupsi, kolusi, penyalahgunaan
kekuasaan dan kesempatan, penindasan.
Makalah yang sederhana ini akan dipaparkan beberapa istilah kata-kata kunci
seperti tasawuf, sufi dan tariqat, sumber dan perkembangan pemikiran
tasawuf, variasi praktek tasawuf, pendekatan utama dalam kajian tasawuf,
tokoh dan karya utama dalam kajian tasawuf, hubungan ilmu tasawuf dan
filsafat dan perkembangan mutakhir studi tasawuf.
6

Ajaran Ruhani pada dasarnya memfokuskan pada kehidupan ruhani,


di mana si pelaku akan memiliki sebuah entitas yang memiliki karakter-
karakter mulia. Dengan demikian, baik tasawuf dan akhlak memiliki korelasi
yang kuat. Tasawuf merupakan akhir dari akhlak dan Akhlak merupakan awal
dari taswwuf.

Pemilihan buku Akhlak Tasawuf karya Dr. H. Jamil, MA. Karena di


dalam buku tersebut memuat isi tentang akhlak tasawuf yang rinci dan mudah
di pahami.
7

BAB II

AKHLAK

2.1 Pengantar

Misi risalah yang diemban oleh Nabi Muhammad SAW adalah


menyampaikan kepada dunia tentang keesaan Allah dan upaya memperbaiki
kondisi kehidupan manusia dalam bingkai Islam sekaligus memperbaiki
kemrerosotan akhlak pada penduduk arab.

2.2 Pengertian Akhlak

Secara bahasa kata akhlak diambil dari kosakata bahasa Arab. Kata
akhlak merupakan isim mashdar (bentuk infinitive) dari kata akhlaqa,
yukhliqu, yang berarti al-thabi’at (tabiat), al-‘adat (kebiasaan), al-maru’ah
(peradaban baik), atau al-din (agama).

Secara istilah, terdapat beberapa pendapat ulama’ mengenai


pengertian akhlak yang dapat kita ketahui bahwa perbuatan yang
dikategorikan sebagai akhlak yang baik itu haruslah memenuhi kriteria
perulangan (kontinuitas) sehingga seseorang yang hanya melakukan
perbaikan sekali waktu saja tidak lantas dikatakan telah berakhlak baik.
Selain itu, akhlak yang baik harus dilakukan tanpa ada paksaan.

Akhlak berarti perbuatan tingkah laku manusia secara spontan yang


dibedakan menjadi 2, yaitu akhlak baik (akhlakul karimah) dan akhlak buruk
(akhlakul madzmudah). Etika yaitu teori tentang perbuatan manusia yang
dilihat dari baik buruknya. Sedangkan moral yaitu ajaran tentang baik
buruknya perbuatan manusia. Akhlak, etika dan moral mempunyai
persamaan, antara lain: ketiganya mengacu pada ajaran/perbuatan tentang
tingkah laku, perbuatan dan sifat yang baik; ketiganya merupakan prinsip
untuk mengukur harkat dan martabat manusia; dan ketiganya merupakan
potensi positif yang dimiliki setiap orang. Akhlak, etika dan moral juga
memiliki perbedaan, antara lain: akhlak tolok ukurnya adalah Al-Qur’an dan
8

As-Sunnah; etika tolok ukurnya adlah pikiran dan akal; moral tolok ukurnya
norma yang hidup dalam masyarakat1.

Menurut Abudin Nata, ada 5 ciri-ciri yang dikandung dari sebuah


pengertian akhlak yang didefinisikan oleh para ulama’ adalah2:

1. Akhlak merupakan perbuatan yang tertanam di dalam jiwa seseorang


secara kuat.
2. Akhlak tersebut dilakukan secara mudah tanpa memerlukan pemikiran.
3. Akhlak dilakukan tanpa paksaan atau tekanan dari luar diri seseorang.
4. Akhlak tersebut dilakukan dengan sungguh-sungguh.
5. Akhlak juga dilakukan karena ikhlas semata-mata mengharapkan ridha
Allah dan bukan pujian manusia.
2.3 Ruang Lingkup

Oleh karena akhlak merupakan sikap atau perbuatan yang muncul dari
dalam diri seseorang. Akhlak dapat dimanifestasikan ke dalam berbagai ruang
lingkup seperti:
1. Akhlak Terhadap Khaliq ( Pencipta)
Akhlak dalam lingkup ini diartikan sebagai sikap yang ditunjukan
oleh manusia kepada pencipta. Sikap ini dimanifestasikan dalam bentuk
kepatuhan menjalankan segala perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya.

2. Akhlak terhadap Makhluk


Dalam konteks hubunga sesama muslim, maka Rasulullah SAW
mengumpamakan bahwa hubungan tersebut sebagai sebuah anggota tubuh
yang saling terkait dan merasakan penderitaan jika salah satu organ tubuh
tersebut mengalami sakit. Manifestasi akhlak kepada manusia yang dilakukan
dengan penuh keikhlasan dan kontiunitas.

3. Akhlak Kepada Lingkungan


1
Rosihon Anwar, Akhlak Tasawuf, (Bandung: CV. Pustaka Setia, 2010), hlm. 12.
2
Abuddin Nata, Akhlak Tasawuf, (Jakarta : Raja Grafindo, 2002), hlm 13-14.
9

Akhlak kepada lingkungan adalah sikap seorang terhadap lingkungan


(alam) di sekelilingnya. Manusia adalah makhluk Allah sejak dahulu merasa
mampu melaksanakan amanah yang diberikan Allah kepadanya baik dalam
bentuk peribadahan kepada Allah maupun memelihara bumi dan langit
tersebut dari kerusakan yang dibuat oleh tangan mereka.

2.4 Perbedaan akhlak, etika dan moral

Akhlak, etika dan moral mempunyai perbedaan, definisi akhlak yang


disebutkan di awal tulisan juga sekaligus membedakan istilah akhlak dengan
etika dan moral. Menurut Abudin Nata, etika secara etimologi berarti watak
kesusilan atau adat3. Moral adalah sebuah ukuran baik dan buruk yang diakui
oleh sebuah komunitas masyarakat atau kelompok tertentu yang
menyepakatinya baik didasarkan pada agama atau tidak.

Menurut Solihin, etika dan moral pada dasarnya memiliki pembahasan


yang sama yaitu mengenai perbuatan manusia dan nilainya yang
membedakan yaitu moral digunakan untuk perbuatan yang sedang dinilai,
sedangkan etika digunakan untuk pengkajian sistem yang ada4.

2.5 Kajian Akhlak dalam Lintasan Sejarah Manusia

Kajian akhlak telah menjadi fokus perhatian manusia sejak dahulu.


Data sejarah menunujukan bahwa kajian akhlak yang terdokumentasi dapat
ditemukan pada sejarah Yunani. Kajian-kajian akhlak berkutat pada masalah
etika, moral dan tingkah laku manusia yang bersumber pada pemikiran
manusia atau tokoh-tokoh yang mengusungnya. Diantara tokoh-tokoh dalam
pembahasan mengenai wacana akhlak atau etika antara lain: Socrates (469-
399 SM), Plato (427-347 SM), Aristoteles (394-322 SM ).

Era kajian etika berbasis agama dimulai pada abad ke-3 di Eropa yang
ditandai dengan menyebarnya agama kristen dengan kitab Injil atau sebagai

3
Ibid, hlm 87.
4
M. Solihin, Akhlak Tasawuf : Manusia Etika dan Makna Hidup, (Bandung : Nuansa, 2005),
hlm. 30.
10

sumbernya. Kajian etika atau akhlak di era Islam lahir setelah Islam datang
ajaran yang menyempurnakan keberadaan agama-agama sebelumnya.
Kedatangan Islam sekaligus memposisikan keberadaan kitab suci al-Qur’an
sebagai satu-satunya sumber akhlak yang otoritatif bagi manusia. Tokoh-
tokoh yang berkomitmen pada wacana akhlak sesudah periode Rasulullah
SAW, dan sahabat adalah al-Ghazali, al-Farabi, Ibn Sina, Ibn Miskawaih.

2.6 Kedudukan Akhlak dalam Ajaran Islam

Banyak yang mengkaitkan bahwa akhlak dengan konsep ihsan dalam


Islam sebagaimana diketahui bahwa ajaran Islam terdiri dari 3 komponen
yaitu Islam, Iman, dan Ihsan. Konsep ini sendiri didasarkan pada hadits Nabi
yang menceritakan peristiwa datangnya Jibril kepada Rasul. Ketiga
komponen dalam hadits di atas baik Islam, Iman dan Ihsan saling terkait dan
dapat dianggap sebagai sebuah tindakan akhlak yang terpuji.

2.7 Akhlak Terpuji dan Tercela

Akhlak dapat dibagi 2 jenis yaitu akhlak terpuji (mahmudah) dan


akhlak tercela (madzmumah) mencakup karakter-karakter yang diperintahkan
Allah dan Rasul untuk dimiliki dan dijauhi, seperti: Rasa belas kasihan lemah
lembut (ar-Rahman), Pemaaf dan mau bermusyawarah (al-afwu), Sikap mau
dipercaya dan dapat menepati janji (amanah), Manis muka dan tidak sombong
(anisatun), Tekun dan merendahkan diri di hadapan Allah SWT (khusyu’ dan
tadharu’), Sifat malu (haya’), Persaudaraan dan perdamaian (al-ikhwan dan
al-islabi), dengki (hasad), Berbuat kerusakan, Berlebih-lebihan (al-israf),
berbuat zalim (al-zulm), dan berbuat dosa besar (al-fawahisy)

2.8 Kriteria Seseorang telah mencapai tingkatan Akhlak Terpuji

Menurut Imam al-Ghazali ukuran yang digunakan dalam hal


menentukan tingkat akhlak yang dimiliki seseorang dapat dipakai
berdasarkan kriteria induk akhlak ada 4 sikap yaitu: Bijaksana (al-hikmah),
Menjaga kesucian diri (al-iffah), Berani (al-syaja’ah), adil (al-‘adl).
11

2.9 Hubungan Akhlak dan Tasawuf

Baik tasawuf dan akhlak memiliki hubungan yang kuat. Tujuan akhlak
pada dasarnya baru merupakan tujuan awal dari tasawuf. Tasawuf sendiri
pada hakikatnya bertujuan untuk mencapai keridhaan Allah swt. Sebagian
ulama’ sufi juga mengatakan bahwa akhlak merupakan awal perjalanan
tasawuf, sedang tasawuf merupakan akhir perjalanan akhlak. Untuk mencapai
tujuan tadi, para ahli tasawuf menyarankan agar manusia selalu berupaya
untuk memperbaiki akhlak dengan cara melatih dirinya (riyadhah).

2.10 Urgensi Akhlak di Jaman Modern

Untuk konteks modern, akhlak memiliki urgensi teramat penting.


Kehidupan modern yang cenderung bisa menyebabkan dehumanisasi
(tercerabutnya niali-nilai kemanusiaan) dan alienasi (merasa terasing dalam
kehidupan) memerlukan terapi konkret berupa keharusan manusia untuk
dekat kepada Allah dan memperbaiki hubungan sosialnya dengan manusia
lain. Dalam hal ini, maka akhlak menjadi sebuah hal yang harus dimiliki.

2.11 Akhlak dalam Kehidupan Keluarga

Keluarga sebagai organisasi sosial terkecil memainkan peranan yang


signifikan dalam meyebarkan nilai-nilai akhlak kepada masyarakat. Islam
menekankan pentingnya peran sebuah keluarga sebagai ketenangan jiwa bagi
anggotanya sekaligus pembinaan akhlak mereka. Keluarga yang dimulai
dengan sebuah ikatan suci antara laki-laki dan perempuan diharapkan akan
menjadi sebuah wadah pembentukan generasi Islami yang memiliki akhlak
mulia.

Beri Nilai