Anda di halaman 1dari 7

Identifikasi Struktur Novel Sejarah “Mangir”

Kutipan Novel Sejarah Struktur Keterangan

Cerita ini terjadi antara naiknya


Panembahan Senapati menjadi raja
Mataram (1575-1601) sampai kira-kira
tahun 1577, lebih jelasnya, cerita ten tang
permusuhan Mataram-Mangir. adalah suatu Terdapat penjelasan
teka-teki sejarah mengapa Mataram, yang bahwa latar waktu dan
sejak herdirinya telah mempunyai seorang suasana dari novel ini
pujangga keraton dalam diri Tumenggung adalah pada masa
Orientasi
Mandaraka, tidak menuliskannya. Lebih kerajaan Mataram. Dan
menceritakan bahwa
mengherankan lagi ia sendiri justrn arsitek
Mangir adalah musuh
dari kerajaan Mataram, juga arsitek dari dari Kerajaan Mataram
peperangan ini. Boleh jadi di kemudian hari
akan ada yang menjawab teka-teki ini.

Peristiwa awal yang


menimbulkan berbagai
Telah berdusta istri wanabaya yaitu, putri
masalah, dan
pembayun. Ia menikah dengan putri dari Pengungkapan
pertentangan. Karena
kerajaan Mataram. Wanabaya sangat Peristiwa
putri pembayun berkata
bertentangan dengan rakyat Mataram.
jujur terhadap
wanabaya.
Tiba saatnya Putri Pambayun, Wanabaya
dan Baru klinting datang ke mataram,
menyatakan tunduk pada kekuasaan Ki
Ageng Pamanahan. Ki Ageng Wanabaya
yang merupakan musuh besar mataram
datang sebagai menantu kerajaan, hal itu d
perbincangkan oleh masyarakat hingga penulis memaparkan
warga istana. Musuh tetaplah musuh itu kehidupan politik
anggapan Tumenggung Mandaraka, susah kerajaan yang tak lepas
payah dia menghasut baginda Ki Ageng dari kekuasaan raja,
Pamanahan untuk membinasakan pengaruh politik
Wanabaya yang merupakan suami dari cicit kerajaan, sserta siasat
nya sendiri Putri Pambayun, dengan alasan Menuju Konflik perang. Mataram saat
Wanabaya dan Klinting adalah musuh besar itu yang merupakan
mataram terutama Perdikan, yang harus kerajaan. Dengan
pecah belah dan dibinasakan. Tumenggung kehancuran wanabaya
Mandaraka terus mengatakan rencana dianggap sebagai jalan
jahatnya dalam membinasakan Wanabaya, menuju kejayaan
diikuti Penembahan Senopati yang mataram.
memberikan pendapatnya dalam rencana
tersebut, sesekali menyanggah rencana yang
di usulkan Tumenggung Mandaraka.
Disusunlah rencana pembunuhan
Wanabaya.

Pada bagian ini telah


terbongkar tipu daya
Terjadi perang yang menyebabkan
salah satu tokoh
terbunuhnya Wanabaya, Baru Klinting, dan
Puncak Konflik (Senapati) yang
Demang Patalan oleh pasukan Panembahan
dibarengi dengan
Senapati.
peristiwa terbunuhnya
tokoh-tokoh lain.

pada bagian ini,


Putri Pembayun bersedih, meratapi nasib dipaparkan kehidupan
Resolusi
ditinggal orang tercinta. para tokoh setelah
konflik terjadi.

Pada bagian akhir


novel, penulis
Tumenggung Mnadaraka : Selesai sudah
memberikan
perkara Mangir. Koda
pernyataan mengenai
selesai nya peristiwa
yang terjadi
Analisis Unsur Kebahasaan Novel Sejarah “Mangir”
 Menggunakan banyak kalimat bermakna lampau.
Contoh:
a) Perdikan bisa diartikan sebuah daerah otonomi (swapraja) yang takluk pada suatu
kerajaan, tetapi dibebaskan dari kewajiban membayar upeti atau pajak, karena di
masa-masa yang lalu telah sangat berjasa pada raja atau telah membantu
seseorang sampai bisa marak jadi raja.
b) Lhahdalah dua bulan lalu Ki Ageng Mangir Muda terkena pecundang.
c) Selesai sudah perkara Mangir

 Menggunakan banyak kata yang menyatakan urutan waktu.


Contoh:
a) Setelah Baru Klinting berbentuk ular, seorang pujangga bisa menebah dada
karena hasil sanepanya yang gilang-gemilang.
b) Lalui Kedemangan Patalan bila melalui sungai Winongo, kemudian Opak dan
sungai Oya.
c) (kembali pergi ke samping). Tak salah lagi , itu telik ke tiga. (Berdiri
mencangkung bertumpu pada tongkat, mengangguk-angguk mendengarkan.
Kemudian mengisyaratkan dengan tangan menyuruh pergi .

 Menggunakan banyak kata kerja yang menggambarkan suatu tindakan (material)


Contoh:
a) Ki Ageng memenggalnya dengan keris pusaka. Ular lari menghilang
b) Sahaya hanya anak wayang di tangan Yang Maha Kuasa. Pesaing dan pelawan
Mataram tak sudi berbagi. Mataram berdiri berarti, Yang Maha Kuasa kodratkan
semua jadi miliknya. Yang melintang patah. Yang membujur gugur, yang tegar
rebah. Karena, ayahabda, tak ada gunanya Yang Maha Kuasa benarkan putranda
jadi raja, bila yang lain-lain tidak dikodratkan merangkak di bawah kakinya.
c) Kau biarkan Bapak tua lari pulang ke Mataram, mencuri kuda panglima Mangir,
untuk sampaikan segala pada bapakmu.

 Menggunakan banyak kata kerja yang menunjukkan kalimat tak langsung.


Contoh:
a) seorang pemain ketoprak profesional malah pernah mengatakan bahwa
biasanya orang menggunakan nama samaran apa saja.
b) Ini juga menunjukkan bahwa pemanahan memiliki kehandalan khusus, yang
menernpatkan dia dalarn posisi sosial tertentu di masyarakat Jawa
c) (berdiri, menuding takhta) Untuk kursi ini, membikinnya jadi pusat kehidupan
di Tanah jawa, hmm-hmm-ya-ya, hitamlah tangan ini berlumuran darah dan
nyawa.
 Menggunakan banyak kata kerja yang menyatakan sesuatu yang dipikirkan atau
dirasakan oleh tokoh (mental).
Contoh:
a) yakni persyaratan yang diberikan oleh seorang anak yang mengharapkan
pengakuan ayahnya
b) Dalam alam pikiran feodal Jawa, yang menganggap seseorang tidak bisajadi raja
kalau tidak berdarah raja, menyalahi kenyataan historis tentang Ken Arok.
c) (mencoba mendengarkan suara-suara). Dan bayangan maut buat yang lain-lain.

 Menggunakan banyak dialog.


Contoh:
a) “Takkan habis-habis, sebelum Mataram batal jadi kerajaan.”
b) “Kau melamun, adikku kekasih. Apakah tersinggung hatimu kularang menenun
dan mengantih?”
c) “Inilah Panembahan Senapati ing Ngalaga, maju kau bedebah Mangir, jangan
ragu”

 Menggunakan kata sifat


Contoh:
a) Wanabaya, Ki Ageng Mangir, pemuda , ± 23 tahun prajurit, pendekar, panglima
Mangir, tampan, tinggi, perkasa dan gagah.
b) Adisaroh! Kau sangat pandai bikin lega hati si Kakang.
c) (mengangguk-angguk puas). Ki Juru Martani, si tua renta pandai menempa
rencana.

Mengidentifikasi Nilai-Nilai dalam Novel sejarah “Mangir”

 Nilai budaya adalah nilai yang dapat memberikan atau mengandung hubungan
mendalam dengan masyarakat, kebiasaan yang dilakukan oleh suatu masyarakat..
Contoh:
Keris atau senjata pusaka demikian tidak bisa diartikan sebagai kemampuan Ki
Ageng Mangir, lebih tepat sebagai alat penurnnan benih. Jadi Barn Klinting adalah anak
di luar perkawinan syah, dan karenanya sulit untuk bisa diterima (acceptable) oleh
masyarakat lama yang dibandingkan dengan yang sekarang jauh lebih ketat berpegang
pada adat kebiasaan.

 Nilai moral/etik adalah nilai yang dapat memberikan atau memancarkan petuah atau
ajaran yang berkaitan dengan etika atau moral.
Contoh:
Wanabaya Putri Pambayun : “Inilah Ki Ageng Mangir Muda Wanabaya, datang
menggandeng tandak tanpa tandingan. (Menatap mereka seorang demi seorang).
Tak ada yang menyambut Ki Wanabaya? Baik Adisaroh yang jaya, berilah
hormat pada para tetua Perdikan.”

Aku cintai perdikan ini, aku cintai suami sendiri

 Nilai Agama, yaitu nilai dalam cerita yang berkaitan dengan unsur keagamaan.
Contoh:

Ilmu perang yang didalamnya termaktub banyak macam gelar berasal dari
Hindu, dan dengannya feodalisme Hindu telah mengalahkan republik-republik desa
di Jawa dan Sumatra pada masa pertama kedatangan dan kemudian pengembangnya.

 Nilai sosial, yaitu nilai yang berkaitan dengan tata pergaulan bermasyarakaat.
Contoh:
Ini juga menunjukkan bahwa Ki Ageng Pemanahan memiliki kehandalan khusus,
yang menernpatkan dia dalarn posisi sosial tertentu di masyarakat Jawa, sebagai
pemimpin kaumnya.

 Nilai estetis, yakni nilai yang berkaitan dengan keindahan.


Contoh:
Bunga-bunga sastra yang menggambarkan kekejaman Amangkurat I, II, maupun
III, dan seterusnya, ramai bertebaran dalam ingatan masyarakat Jawa.

Kiasan dan Pribahasa


 Baru Kliting yang dikiaskan sebagai ular karena dianggap sosok yang berbahaya.
 Sahaya hanya anak wayang ditangan Yang Maha Kuasa. Pesaing dan pelawan
Mataram tak sudi berbagi. Mataram berdiri berarti, Yang Maha Kuasa kodratkan
semua miliknya. Yang melintang patah. Yang membujur gugur. Yang tegar
rebah. Karena, ayahanda, tak ada gunanya. Yang Maha Kuasa benarka putranda
jadi raja, bila yang lain-lain tidak dikodratkan merangkak dibawah kakinya
 Seperti dua pasang tikus kedinginan (kiasan)
Cari kata kiasan dan peribahasa!!!!!!!!!