Anda di halaman 1dari 25

KASUS HIV/AIDS

Dosen Pengampu : Ns. Riadinni Alita, M.Kep., Sp.Kep.Mat.

Makalah ini disusun guna memenuhi tugas


Keperawatan Paliatif dan Ajal

Disusun Oleh :

Aldin Aidtya Fareza 1710711075


Nurul Fatihah Auliani 1710711076
Fenny Andriani 1710711077
Husna Maharani 1710711078
Riski Dwiana 1710711080
Ghina Regiana 1710711082
Refiana Gunawan 1710711083
Siti Lutfia Awanda 1710711084

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL “VETERAN”
JAKARTA
2019
KASUS ASKEP PASIEN PALIATIF DENGAN HIV/AIDS

Seorang perawat melakukan pengkajian pada seorang laki-laki usia 37 tahun. Pekerjaan
sebagai supir angkot, sudah menikah dengan seorang perempuan berusia 35 tahun dan saat ini
sedang hamil 28 minggu kehamilan anak ke-3. Klien mengatakan diare dan stomatitis sudah 6
bulan tidak sembuh. Badan lemas dan muka pucat. Takut dengan penyakitnya. Hasil
pemeriksaan di RSUD menunjukkan hasil positif mengidap HIV. Klien mengatakan semua
temannya sudah meninggal dunia. Ibu mengatakan klien pernah menggunakan narkoba suntik
waktu muda, ibu tampak menangis pada saat menceritakan tentang penyakit suaminya dan
khawatir menular pada kedua anaknya, dirinya, dan bayi dalam kandungannya.

PENGKAJIAN PASIEN DENGAN DIAGNOSA MEDIS


HIV / AIDS

A. Pengkajian
1. Identitas Klien
Nama : Tn. T
Umur : 37 th
No Reg : 012 68651
Ruang : Dahlia
Agama : Islam
Pekerjaan : Supir
Alamat : Jalan Burangrang Raya Lembang, Bandung
Suku Bangsa : Sunda / Indonesia
Pendidikan : SMU
MRS : 10 September 2019
Tanggal Pengkajian : 10 September 2019
DX Medis : AIDS

2. Keluhan Utama
Saat MRS : Klien dibawa ke rumah sakit dengan keluhan
diare dan stomatitis.
Saat pengkajian : Klien mengatakan badan lemas, dan muka pucat.

3. Riwayat Penyakit Sekarang


Klien datang dengan keluhan diare dan stomatitis, badan lemas serta muka pucat.

4. Riwayat Penyakit Dahulu


Dalam 6 bulan terakhir Tn. T sering mengalami diare dan stomatitis yang tidak sembuh
– sembuh. Istri klien juga mengatakan pada masa mudanya pernah menggunakan
narkoba suntik.

5. Riwayat Kesehatan Keluarga


Dari riwayat penyakit keluarga, tidak didapatkan anggota keluarga yang mengalami
kelainan, penyakit kronis, ataupun penyakit yang sama dengan Tn. T

6. Riwayat Psikososial
a. Persepsi Klien Terhadap Masalah
Tn. T mengatakan bahwa takut dengan penyakitnya. Tn. T mengatakan semua
temannya sudah meninggal dunia.

7. Pola Kesehatan Sehari-hari Selama Di Rumah dan RS


a. Pola Nutrisi dan Metabolisme
Di Rumah : makan 3x/hari, habis satu porsi dengan komposisi nasi sayur dan
telur terkadang tempe. Minum air putih 1000 cc/hari ditambah
kopi tiap pagi.
Di Rumah Sakit : saat pengkajian klien menunjukkan gejala anoreksia dan kesulitan
menelan, Makan 2x/hari tidak habis, minum air putis 300cc/jam
b. Pola Eliminasi
1) Kebiasaan Devekasi Sehari-hari
Di Rumah : klien devekasi 12-13x/hari dengan konsistensi cair, warna
kuning kecoklatan.
Di Rumah Sakit : saat pengkajian klien belum devikasi karena pasien baru
datang.
2) Kebiasaan Miksi
Di Rumah : Tn. T miksi 3-4x / hari (kira-kira 1500 cc) warna kuning,
bau khas, tidak ada kesulitan BAK, tidak terdapat darah
pada urin. Selama sakit BAK 3-4x/ hari
Di Rumah Sakit : klien BAK tanpa alat bantu ataupun kateter.
c. Pola Tidur dan Istirahat
Dirumah Klien : istirahat (tidur) kira-kira 6 jam/hari mulai jam 22.00 WIB sampai
05.00,
Di Rumah Sakit : klien tidur siang selama 40 menit
d. Pola Aktivitas
Di rumah : klien beraktifitas secara mandiri tanpa bantuan orang lain dan
tidak memiliki kebiasaan olah raga
Di rumah sakit : klien merasa mudah lelah, tidak kuat untuk mengankat beban
berat maupun sedang. Klien mendapat terapi istirahat, beberapa
aktifitasnya dibantu.

e. Pola Reproduksi dan Seksual


Klien Tn. T dengan usia 37 th memiliki 2 orang anak dan 1 anak yang sedang
dikandung oleh istrinya. Klien melakukan seksual menggunakan kondom tapi tidak
konsisten.

8. Pemeriksaan Fisik
a. Keadaan umum : Lemah, terpasang infus RL,
Keadaan sakit : Klien sering mengeluh badan lemas
Tekanan darah : 90 / 80 mmHg
Nadi : 55 x/menit
Respirasi : 24 x/menit
Bising Usus : 20 x/menit
Suhu : 37,8˚C
Tinggi badan : 167 cm
Berat badan : 52 kg
b. Review of System (ROS)
(1) Kepala : Posisi tegak, bentuk kepala simetris, warna rambut hitam,
distribusi rambut merata, tidak terlihat bayangan pembuluh darah, tidak terdapat
luka, tumor, edema, terlihat ada ketombe, dan bau.
 Mata ; tidak terdapat vesikel, tidak ada masa, nyeri tekan, dan penurunan
penglihatan, konjungtiva anemis.
 Hidung ; ada sekret, tidak ada lesi
 Mulut ; terdapat lesi, gigi ada yang tanggal, membran mukosa kering, lidah
ada bercak-bercak keputihan, dan halitosis.
 Telinga ; tidak ada nyeri tekan
(2) Leher : trakea simetris, tidak ada pembesaran kelenjar tiroid dan vena
jugularis, tidak ada nyeri tekan.
(3) Thoraks : bentuk simetris, tidak terdapat masa,tidak ada otot bantu napas
 Paru ; bentuk dada simetris, tidak terdapat retraksi interkosta, ekspansi
kanan dan kiri sama, perkusi paru didapat suara sonor di seluruh lapang
paru, batas paru hepar dan jantung redup,
 Jantung ; ictus cordis terlihat di mid-clavicula line sinistra ICS 5,
(4) Ketiak dan Payudara ; Tidak didapatkan pembesaran kelenjar limfe dan tidak ada
benjolan, puting dan areola baik
(5) Abdomen : bentuk simetris, ada nyeri tekan, tidak ada benjolan, tidak ada
tanda pembesaran hepar, tidak didapati asites, dan hasil perkusi didapat suara
timpani,
(6) Genetalia : Tn. T adalah klien laki-laki,
 Penis ; klien di sirkumsisi, gland penis terdapat bercak, pada batang penis
ada tanda jamur, tidak ada tanda herpes, ada lesi.
 Skrotum ; tidak ada lesi, tidak ada tanda jamur, tidak ada tanda herpes
 Uretra ; tidak terdapat kelainan, tidak ada lesi
(7) Anus dan Rektum : tidak ada abses, ada hemoroid, rektum didapati sedikit
berlendir.
(8) Ekstremitas : kekuatan otot menurun, tidak terdapat oedema, tidak ada fraktur,
tidak tampak tanda atropi
(9) Integumen : warna sawo matang, tekstur kering, terdapat kemerahan pada
area, turgor buruk, terdapat tanda sianosis, akral dingin, capillary refill time >3
detik, tidak ada tanda inflamasi pada kuku, ada lesi pada kulit bagian area scapula
(10) Status Neurologis
a) Tingkat kesadaran : Kompos Mentis
b) Tanda–tanda perangsangan otak
1) Pusing
2) Suhu tubuh 37,8o C
c) Uji saraf kranial
NI : Klien tidak dapat membau dengan baik
N II : Klien dapat melihat dengan jelas
N III : Klien dapat menggerakkan bola mata
N IV : Klien dapat melihat gerakan tangan perawat baik ke samping kiri
ke kanan.
NV : Klien dapat menggerakan rahang
N VI : Klien dapat menggerakan mata kesamping
N VII : Klien dapat merasakan pahit, manis, asam, dan manis
N VIII : Klien dapat mendengarkan degan baik
N IX : Klien dapat berbicara
NX : Klien dapat mengangkat bahu
N XI : Klien dapat berbicara dengan baik
N XII : Klien dapat menggerakan lidah dan dapat berbicara dengan baik
d) Funsi Motorik
Tidak ada gerakan yang tdak disadari klien, klien mampu bergerak tanpa
perintah.
e) Fungsi Sensorik
Klien tidak merasakan usapan kapas pada area maksilaris, dapat merasakan
benda tajam, tidak dapat merasakan hangat, panas, dan dingin.
f) Refleks Pantologis
Reflek babinsky negatif, reflek cadlok negatif, reflek Gordon negatif.

9. Pemeriksaan Penunjang
a) Hasil Test Enzime Linked Sorbent Assay (ELISA) : dari hasil test ELISA yang
dilakukan, menunjukkan hasil bahwa Tn. T Positif dibuktikan dengan antibodi dalam
serum mengikat antigen virus murni di dalam enzyme-linked antihuman globulin.
b) Hasil Test Western Blot : Positif
c) P24 Antigen Test : Positif
d) Kultur HIV : Positif, dengan kadar antigen P24
Meningkat.
DATA FOKUS

DATA SUBJEKTIF DATA OBJEKTIF


1. Pasien mengatakan mengalami diare 1. Badan tampak lemas dan muka pucat.
dan stomatitis sudah 6 bulan tidak 2. Turgor kulit tampak buruk
sembuh. 3. Mata tampak cekung
2. Pasien takut dengan penyakit yang di 4. Bibir tampak kering
deritanya. 5. Bising usus : 35x/menit
3. Pasien mengatakan semua temannya 6. Hasil pemeriksaan di RSUD menyatakan
sudah meninggal dunia. pasien HIV (+)
4. Istri pasien berusia 35 tahun dan saat 7. Istri pasien tampak menangis saat
ini sedang hamil 28 minggu kehamilan menceritakan tentang penyakit suaminya.
anak ke-3. 8. Istri pasien khawatir penyakit suaminya
5. Istri pasein mengatakan pasien pernah tertular ke kedua anak, dirinya dan bayi
menggunakan narkoba suntik waktu dalam kandungannya.
muda. 9. TTV :
TD : 90/60 mmHg
RR : 23x/menit
HR : 125x/menit
Suhu : 36,6 ºC
ANALISA DATA

NO dx. DATA MASALAH ETIOLOGI


1 Data Subjektif Diare Infeksi bakteri
1. Pasien mengatakan mengalami diare ditandai dengan
(00013)
dan stomatitis sudah 6 bulan tidak keluhan diare
sembuh. selama 6 bulan
tidak sembuh
Data Objektif
1. Badan tampak lemas dan muka
pucat.
2. Hasil pemeriksaan di RSUD
menyatakan pasien HIV (+)
3. Bising usus :35x/menit
4. TTV :
TD : 90/60 mmHg
RR : 23x/menit
HR : 125x/menit
Suhu : 36,6 ºC
2 Data Subjektif Kekurangan Kehilangan Cairan
1. Pasien mengatakan mengalami diare Volume Cairan Aktif
dan stomatitis sudah 6 bulan tidak (00027)
sembuh.

Data Objektif
1. Badan tampak lemas dan muka
pucat.
2. Turgor kulit tampak buruk
3. Mata tampak cekung
4. Bibir tampak kering
5. Bising usus : 35x/menit
6. Hasil pemeriksaan di RSUD
menyatakan pasien HIV (+)
7. TTV :
TD : 90/60 mmHg
RR : 23x/menit
HR : 125x/menit
Suhu : 36,6 ºC
2 Data Subjektif Ansietas Ancaman status
1. Pasien mengatakan mengalami diare terkini (takut akibat
(00146)
dan stomatitis sudah 6 bulan tidak diare dan stomatitis
sembuh. selama 6 bulan
2. Pasien takut dengan penyakit yang tidak sembuh)
di deritanya.
3. Pasien mengatakan semua temannya
sudah meninggal dunia.
4. Istri pasien berusia 35 tahun dan
saat ini sedang hamil 28 minggu
kehamilan anak ke-3.
5. Istri pasein mengatakan pasien
pernah menggunakan narkoba
suntik waktu muda.

Data Objektif
1. Badan tampak lemas dan muka
pucat.
2. Hasil pemeriksaan di RSUD
menyatakan pasien HIV (+)
3. Istri pasien tampak menangis saat
menceritakan tentang penyakit
suaminya.
4. Istri pasien khawatir penyakit
suaminya tertular ke kedua anak,
dirinya dan bayi dalam
kandungannya.
5. TTV :
TD : 90/60 mmHg
RR : 23x/menit
HR : 125x/menit
Suhu : 36,6 ºC

DIAGNOSA KEPERAWATAN

No. Diagnosa keperawatan Tanggal ditemukan Tanggal teratasi


1. Diare b.d infeksi bakteri 9 September 2019
ditandai dengan keluhan diare 6
bulan tidak sembuh
(00013)
2. Kekurangan Volume Cairan b.d 9 September 2019
kehilangan cairan aktif
(00027)
3. Ansietas b.d Ancaman status 9 September 2019
terkini (takut akibat diare dan
stomatitis 6 bulan tidak
sembuh)
(00146)
INTERVENSI KEPERAWATAN

No. Diagnosa Tujuan dan kriteria hasil Intervensi


keperawatan
1. Diare berhubungan Setelah diberikan tindakan asuhan Manajemen Diare
dengan infeksi bakteri keperawatan selama 2x24 jam (0460)
ditandai dengan diharapkan masalah diare teratasi 1. Tentukan riwayat
keluhan diare 6 bulan dengan kriteria hasil: diare
tidak sembuh 1.Pasien BAB 2x sehari dengan 2. Evaluasi kandungan
(00013) konsistensi lembek nutrisi dari makanan
2.Pasien tidak sakit perut mulas- yang sudah di
mulas konsumsi
3.Bising usus pasien 10-15 x/menit 3. Indikasikan faktor
4.Turgor kulit elastic yang dapat
5.Mukosa bibir lembab menyebabkan diare
6.Tidak ada nyeri tekan pada (bakteri,medikasi)
abdomen sebelah kanan atas 4. Amati turgor kulit
5. Ukur diare/output
6. Monitor kulit
perineum terhadap
adanya ulserasi dan
iritasi
7. Timbang pasien
secara berkala
8. Instruksikan diet
rendah serat, tinggi
protein,tinggi kalori
sesuai kebutuhan
9. Lakukan tindakan
untuk
mengistihrahatkan
perut

2. Kekurangan Volume Setelah diberikan tindakan asuhan Manajemen Cairan


(4120
Cairan b.d kehilangan keperawatan selama 2x24 jam
1. Jaga intake/asupan
cairan aktif diharapkan masalah defisit volume yang akurat dan catat
output (pasien)
(00027) cairan teratasi dengan kriteria hasil:
2. Monitor tanda-tanda
1. keseimbangan caian vital pasien
3. Berikan terapi IV ,
 Tekanan darah seperti yang di
 Berat badan stabil tentukan
4. Distribusikan asupan
 Turgor kulit cairan selama 24 jam
 Kelembaban membran 5. Monitor status hidrasi
(misalnya membran
mukosa mukosa lembab)
2. Nafsu makan 6. Timbang berat badan
setiap hari dan
 Intake makanan monitor status pasien
 Intake cairan 7. Monitor
makanan/cairan yang
dikonsumsi dan
hitung asupan kalori
harian
3. Ansietas b.d Ancaman Setelah diberikan tindakan asuhan Pengurangan
status terkini (takut keperawatan selama 2x24 jam Kecemasan (5820)
akibat diare dan diharapkan masalah ansietas teratasi 1. Gunakan pendekatan
stomatitis 6 bulan dengan kriteria hasil : yang tenang dan
tidak sembuh)  Perasaan gelisah berkurang meyakinkan
(00146)  Rasa takut yang disampaikan 2. Pahami situasi krisis
secara lisan
 Rasa cemas yang disampaikan yang di alami dari
seara lisan perspektif klien
3. Dengarkan klien
4. Berikan informasi
yang faktual kepada
pasien
5. Dorong verbalisasi
perasaan, persepsi
dan ketakutan
6. Berada disisi klien
untuk meningkatkan
rasa aman dan
mengurangi
ketakutan
7. Instruksikan klien
menggunakan teknik
relaksasi

Teknik Menenangkan
(5880)
1. Pertahankan sikap
yang tenang dan hati-
hati
2. Pertahankan kontak
mata
3. Identifikasi orang-
orang terdekat klien
yang bisa membantu
klien
4. Instruksikan klien
untuk menggunakan
metode mengurangi
kecemasan ( teknik
relaksasi nafas dalam,
distraksi, visualisasi,
relaksasi oto
progresif, mendengar
musik)
PERAN DAN FUNGSI PERAWAT BERDASARKAN KASUS

1. Care Giver
Sebagai pemberi asuhan, perawat dapat memberikan pelayanan keperawatan kepada
klien. Peran utamanya adalah memberikan asuhan keperawatan yang meliputi melakukan
pengkajian, menegakkan diagnosa, merencanakan tindakan keperawatan, melaksanakan
tindakan sesuai dengan intervensi dan melakukan evaluasi. Kasus : Perawat melakukan
pengkajian terhadap pasien, tanyakan keluhan, latar belakang pasien, riwayat penyakit dan
sebagainya. Perhatikan juga tanda-tanda yang kira-kira bisa dijadikan data untuk
menegakkan diagnosa. Tegakkan diagnosa yang sesuai dengan data yang telah didapatkan,
baik objektif maupun subjektif. Setelah itu tetapkan intervensi yang akan dilaksanakan.
Kemudian laksanakan tindakan-tindakan yang sudah direncanakan. Terakhir lakukan
evaluasi untuk menilai apakah intervensi telah dicapai atau belum.
2. Advocate
Sebagai advokat klien, perawat berfungsi sebagai penghubung antara klien dengan tim
kesehatan lain dalam upaya pemenuhan kebutuhan klien, membela kepentingan klien dan
membantu klien memahami semua informasi tentang dirinya dan upaya yang akan diberikan
kepadanya. Kasus : Perawat bisa dijadikan sebagai penghubung antara klien dengan dokter
untuk menentukan upaya terbaik untuk klien. Selain itu juga klien berhak tahu tentang
apapun yang dideritanya dan semua tentang informasinya. Perawat juga harus melindungi
privasi klien dengan tidak memberitahu tentang penyakit HIV yang dideritanya kepada orang
yang tidak berhak tahu.
3. Counsellor
Tugas utama perawat sebagai konselor adalah mengidentifikasi perubahan pola interaksi
klien terhadap keadaan sehat sakitnya. Kasus : Perawat bisa mengidentifikasi pola hidup
klien sejak terdiagnosa terinfeksi HIV. Contohnya, apabila ada perubahan pada kehidupan
sosialnya, kita berikan konseling agar klien dapat beradaptasi dengan kondisinya. Perawat
juga harus selalu mendengarkan apapun yang diceritakan klien.
4. Educator
Sebagai pendidik klien, perawat membantu klien meningkatkan kesehatannya melalui
pemberian pengetahuan yang terkait dengan keperawatan dan tindakan medic yang diterima
sehingga klien/keluarga dapat menerima tanggung jawab terhadap hal-hal yang diketahuinya.
Kasus : Perawat harus memberikan pengetahuan tentang penyakit yang dideritanya, baik
penyebab, pencegahan, maupun tindakan yang akan dilakukan untuk menangani
penyakitnya. Beritahu kepada isteri pasien, bahwa sebaiknya ketika melakukan hubungan
seksual gunakan alat kontrasepsi untuk menghindari risiko penularan, serta berikan
pendidikan tentang penularan virus HIV.
5. Collaborator
Perawat berkerja sama dengan tim kesehatan yang lain serta keluarga dalam menentukan
rencana maupun pelaksanaan asuhan keperawatan guna memenuhi kebutuhan klien. Kasus :
Perawat berkerjasama dengan dokter untuk menentukan upaya apa yang akan dilakukan
untuk menangani penyakit HIV yang diderita pasien.
6. Coordinator
Perawat memanfaatkan semua sumber-sumber dan potensi yang ada, baik materi maupun
kemampuan klien secara terkoordinasi sehingga tidak ada intervensi yang terlewatkan
maupun tumpang tindih. Kasus : Perawat harus memastikan tindakan yang sudah
direncanakan untuk pasien sudah terlaksana dan tidak tumpang tindih.
7. Change Agent
Sebagai pembaru, perawat mengadakan inovasi dalam cara berpikir, bersikap, bertingkah
laku dan meningkatkan keterampilan klien/keluarga agar menjadi sehat. Kasus : Setelah
memberi pendidikan tentang penyakitnya, kita bisa menganjurkan klien untuk membagikan
ilmu yang telah didapatnya kepada orang-orang terdekat klien agar tidak ada lagi orang yang
terkena penyakit yang sama dengan klien. Anjurkan juga agar klien menghentikan perilaku
buruknya di masa lalu, seperti menggunakan alat suntik narkoba secara bersamaan.
8. Consultant
Perawat adalah sumber informasi yang berkaitan dengan kondisi spesifik klien. Elemen
ini secara tidak langsung berkaitan dengan permintaan klien terhadap informasi tentang
tujuan keperawatan yang diberikan. Kasus : Perawat sebaiknya menjelaskan dengan detail
saat klien bertanya tentang penyakit HIV yang dideritanya, serta penanganan apa yang akan
dilakukan.
KEBIJAKAN TEKNIS DALAM PENANGGULANGAN HIV & AIDS

1. PROGRAM KOMUNIKASI PUBLIK

Program komunikasi publik menjadi salah satu dari delapan program pencegahan dalam
dokumen strategi nasional HIV dan AIDS yang dirancang oleh KPAN. Dokumen tersebut
menyatakan, komunikasi publik dapat menurunkan derajat kerentanan dari kelompok–kelompok
yang memang sudah rentan. Strategi ini didukung oleh Family Health International (FHI).
Strategi promosi ini bertumpu pada petugas penjangkauan dan kader masyarakat sebagai
penyampai pesan dan alat pencegahan kepada kelompok populasi kunci, melalui beberapa event
seperti pekan kondom nasional, edutainment, dan iklan layanan masyarakat.

2. PROGRAM Harm Reduction (HR)

Banyak instrumen regulasi yang mampu mendukung pelaksanaan penyediaan layanan ini,
termasuk di antaranya pedoman pelaksanaan terapi rumatan metadon, distribusi alat suntik steril,
pelibatan komunitas pengguna napza suntik di dalam pengambilan keputusan strategis di KPA
Nasional, serta pendanaan lokal puskesmas untuk program harm reduction.

Perubahan perilaku ini dapat mengurangi risiko tertular/ menularkan HIV lewat jarum
suntik. Temuan ini menunjukkan keberhasilan program pengurangan dampak buruk melalui
jarum suntik di kalangan penasun.

3. PROGRAM PENCEGAHAN PENULARAN HIV MELALUI TRANSMISI


SEKSUAL(PMTS)
Program pencegahan penularan HIV melalui transmisi seksual (PMTS) kegiatan
pokoknya menargetkan 80% populasi kunci terjangkau program yang efektif dan 60%
populasi kunci berperilaku hidup sehat yang menggunakan kondom setiap hubungan seks
berisiko. Tujuan utamanya adalah menurunkan prevalensi IMS dengan pemakaian kondom
secara konsisten dan pengobatan IMS.
Pada dasarnya, intervensi penularan HIV melalui transmisi seksual diarahkan pada
tingkat komunitas dibandingkan tingkat individu (pekerja seks). Sejak tahun 2006, Indonesia
mengadopsi “Program Penggunaan Kondom 100%” (PPK 100%) yang mengikuti “model”
yang sangat sukses di Thailand.
Dengan dorongan dari WHO dan dukungan teknis dari berbagai mitra, pendekatan ini
dikembangkan secara serius di Indonesia. Kebijakan ini terus dikembangkan hingga
munculnya konsep penanggulangan HIV dan AIDS secara komprehensif dimulai dari
wilayah kecamatan di bawah koordinasi Puskesmas. Penetapan kerangka kerja komprehensif
diinisasi oleh FHI/USAID (2008- 2010) dan direplikasi oleh KPAN melalui dana GF (2010-
2015), kemudian diadopsi oleh konsep Layanan Komprehensif Berkesinambungan (LKB)
yang dirumuskan dalam Permenkes No. 21/2013 tentang Penanggulangan HIV dan AIDS.

4. PERAWATAN, DUKUNGAN DAN PENGOBATAN (PDP)


Perawatan, Dukungan dan Pengobatan (PDP) Kegiatan pokok PDP dalam SRAN adalah
penguatan dan pengembangan layanan kesehatan serta koordinasi antar layanan dengan
target tersedianya layanan kesehatan yang berkualitas dan sesuai dengan kebutuhan
masyarakat; pencegahan dan pengobatan infeksi oportunistik (IO) dengan target 100%
ODHA yang memerlukan pencegahan dan pengobatan IO dapat mengakses layanan
kesehatan sesuai kebutuhan; pengobatan antiretroviral (ARV) dengan target memberikan
pengobatan ARV kepada orang terinfeksi HIV yang membutuhkan sesuai dengan standar
WHO untuk kualitas hidup yang lebih produktif; dukungan psikologi sosial dengan target
pengembangan perawatan komunitas untuk memberikan dukungan psikologis dan sosial;
serta pendidikan dan pelatihan ODHA dengan target meningkatkan kapasitas ODHA.
Secara umum, hasil dari kebijakan ini bisa dilihat dengan semakin banyaknya layanan
terkait dengan PDP, semisal ketersediaan ARV dan rumah sakit sebagai site ARV treatment
di 14 provinsi (mencakup 278 rumah sakit dan 68 puskesmas). Jumlah ini menunjukkan
peningkatan yang signifikan dibandingkan sebelum adanya kebijakan PDP.
Program PDP untuk ODHA saat ini sudah menunjukkan kemajuan. Jumlah rumah sakit
dan puskesmas serta klinik yang menyediakan layanan HIV meningkat pesat sejalan dengan
naiknya temuan kasus. Berbagai kebijakan dibuat untuk memperbaiki penyediaan layanan,
misalnya kebijakan ART yang menunjuk beberapa rumah sakit dan puskesmas sebagai pusat
layanan ART dalam usaha meningkatkan akses layanan ODHA. Beberapa kesenjangan yang
masih ada terkait PDP adalah akses ke pelayanan, SDM, penyediaan layanan, dan pendanaan.
Hal ini berkaitan erat dengan isu kecukupan, kemerataan, dan kualitas. Sedangkan
kesenjangan pendanaan mencakup masalah sumber dana, peruntukan, dan kecukupan.
Masalah lain yang masih ditemui dalam PDP adalah stigma dan diskriminasi yang dialami
ODHA dan populasi kunci.

5. MITIGASI DAMPAK
Mitigasi dampak merupakan upaya mengurangi dampak kesehatan dan sosial ekonomi
bagi ODHA. Kebijakan yang terkait ini adalah Permenkes tentang Penanggulangan HIV dan
AIDS No. 21/2013 Pasal 40. Sementara itu, di dalam SRAN disebutkan, strategi untuk
mengurangi dampak negatif epidemi HIV ini dengan meningkatkan akses program mitigasi
sosial bagi mereka yang membutuhkan dengan cara menyediakan kesempatan bagi ODHA
dan yang terdampak, misalnya anak yatim, orang tua tunggal, dan janda untuk mendapatkan
akses dukungan peningkatan pendapatan, pelatihan keterampilan, dan program pendidikan
peningkatan kualitas hidup. Hal ini sejalan dengan upaya Kementerian Sosial yang juga
memberikan layanan berupa bantuan/penyediaan shelter bagi ODHA dan orang yang
terdampak AIDS.
Kegiatan yang dilakukan dalam upaya ini biasanya bersifat pemberdayaan jangka
panjang pada populasi kunci, misalnya kegiatan peningkatan keterampilan dan
pemberdayaan ekonomi, dan ada bantuan yang berjangka pendek seperti bantuan asupan gizi
bagi ODHA. Beberapa OMS juga menyediakan rumah singgah bagi ODHA untuk
mendapatkan perawatan sampai kondisi tubuhnya lebih stabil atau tinggal sementara agar
bisa mengakses rumah sakit dengan mudah bila rumah mereka jauh.

6. MENETAPKAN PRIORITAS TARGET GEOGRAFIS


Kriteria pemilihan ini didasarkan pada tingkat risiko penularan HIV dan beban penyakit
HIV dan AIDS tertinggi, serta kesiapan infrastruktur dan komitmen pemerintah kabupaten/
kota. Kabupaten/ kota yang lebih berhasil menunjukkan dampak upaya penanggulangan yang
signifikan, mempunyai ciri-ciri sebagai berikut: (1) berada di kota dengan jumlah penduduk
yang relatif banyak, jumlah populasi kunci dan jumlah ODHA juga termasuk yang tertinggi
di Indonesia, (2) memiliki infrastruktur yang relatif kuat serta ditunjang dengan komitmen
daerah, baik dari pemerintah maupun dari masyarakat sipilnya, sehingga dapat menunjukkan
kinerja yang tinggi, dan (3) memiliki manajemen pencatatan dan pengolahan data epidemi
setempat yang lebih baik sehingga dapat digunakan sebagai dasar perencanaan dan
pemantauan dampak epidemiologis upaya penanggulangan.

NASKAH ROLEPLAY

Pada suatu hari ada seorang bapak dibawa oleh keluarganya ke suatu RSUD. Khawatir
karna kondisi bapak itu yang sangat lemas, pihak keluarga meminta kepada petugas dirumah
sakit untuk segera menanganinya.

(DI UGD RSUD)

Keluarga : “Selamat pagi sus.”

Perawat UGD : “Selamat pagi, ada yang bisa saya bantu?”

Keluarga : “Iya sus. Ini suami saya diare nggak sembuh-sembuh”

Perawat UGD : “Sudah berapa lama bu mengalami diarenya?”


Keluarga : “Sudah 6 bulan sus, selain itu suami saya juga sariawan sudah tapi nggak
sembuh-sembuh, badannya juga kelihatan semakin kurus selama tiga bulan ini, saya bingung sus
kok diare sama sariawan sampai 6 bulan nggak sembuh-sembuh padahal saya sudah kasih buah-
buah yang mengandung vitamin C sampai obat untuk sariawan tapi nggak ada perubahan, malah
berat badan suami saya turun”

Perawat UGD : “Kalau begitu, siapa nama suami ibu?”

Keluarga : “Bima Prasetyo, sus”

Perawat UGD : “Usianya?”

Keluarga : “42 tahun sus,”

Perawat UGD : “Baiklah ibu, saya akan memeriksa keadaan suami ibu terlebih dahulu, ibu
silahkan ke bagian administrasi terlebih dahulu untuk mengisi identitas pasien, dokter sebentar
lagi akan datang untuk memeriksa pak Bima”

Keluarga : “Iya sus”

Kemudian dokter datang…

Perawat UGD : “Dokter, ini ada pasien baru bernama Tn.Bima Prasetyo, usia nya 42
tahun, datang dengan keluhan sariawan dan diare selama 6 bulan, berat badannya semakin
mernurun dalam 3 bulan terakhir, setelah saya periksa TTV nya, TD : 100/60 mmHg, Suhu : 39,8
C. Nadi : 76 x/mnt, RR : 26 x/mnt, BB : 55kg”

Dokter langsung memeriksa kondisi Tn. Bima Prasetyo

Dokter : “sudah berapa lama sariawan dan diarenya?”

Tn. Bima : “sudah 6 bulan ini saya sariawan dan diare dok, saya bingung kenapa nggak
sembuh-sembuh”

Dokter : “coba bapak buka mulutnya” (sambil memeriksa keadaan pasien).

Dokter : “bu karna kondisi bapak 6 bulan mengalami diare, sehingga sudah banyak
kehilangan cairan maka kami harus melakukan tindakan pemasangan infuse dan kami sarankan
kepada bapak untuk di rawat, karna keadaan bapak sudah sangat lemas , bapak juga harus
melakukan pemeriksaan laboraturium”

Keluarga : “yaudah dok, gapapa dirawat aja yang penting suami saya bisa sembuh”

Perawat UGD : “Bagaimana dok apakah pasien sudah bisa dipindahkan ke rawat ini”

Dokter : “Ya, silahkan sus”

------------------------------------------------Hari Kedua---------------------------------------------

Dokter : “Sus, konfirmasi ke bagian lab untuk mengambil sampel darah Tn. Bima
Prasetyo.”

Perawat Ranap 1 : “Iya dok” (bergegas menelefon bagian lab untuk melakukan pengambilan
sampel darah Tn. Bima Prasetyo)

(Dikamar Tn. Bimo Prasetyo)

Petugas LAB : “selamat pagi pak, saya Nina petugas lab yang bertugas hari ini, saya disini akan
melakukan pengambilan sampel darah bapak, tujuannya untuk mengetahui diagnose penyakit
bapak”

Tn. Bima : “iya sus”

Petugas LAB : “baik pak, ditahan sedikit ya, ini agak sakit, pada saat saya ambil darahnya bapak
bisa tarik nafas untuk meringankan sakitnya” (sambil melakukan tindakan pengambilan sampel
darah)

Tn. Bima : "iya sus”

Petugas LAB : “Sudah selesai ya pak, hanya tinggal menunggu hasilnya saja. Nanti hasilnya
saya berikan kepada perawat ya pak. Saya tinggal ya pak”
Tn. Bima : “Iya, terimakasih ya sus”

(2 jam kemudian pada saat perawat memberikan obat dan mengobservasi TTV pasien)

Tn. Bima : “Sus gimana hasil lab saya?”

Perawat Ranap 1 : “hasil labnya belum keluar pak, nanti kalau sudah keluar saya langsung
infokan pak” (Sambil memberikan obat dan mengobservasi TTV)

Tn. Bima : “kasih tau saya ya sus saya sakit apa, saya capek sakit seperti ini, tidak sembuh-
sembuh”

Perawat ranap 1 : “iya pak pasti saya infokan, TD bapak 100/ 70 ya pak suhu bapak: 39,5° C.
Ini obatnya diminum dulu pak ”

Tn. Bima : “Iya sus” (sambil meminum obat yang diberikan oleh perawat)

Perawat ranap 1 : “sudah ya pak, sekarang bapak bisa istirahat. Saya tinggal ya pak”

(Pukul 16.00 hasil lab sudah diterima oleh perawat 2, perawat bergegas menginformasikan
kepada dokter bahwa hasil lab Tn. Bima sudah keluar & menyatakan Tn. Bima positif terjangkit
penyakit HIV/AIDS)

Perawat ranap 2 : “dok ini hasil lab Tn. Bima sudah keluar, hasilnya Tn. Bima positif
terjangkit HIV/AIDS”

Dokter : “baik sus, tolong panggilkan keluarga Tn. Bima”

Perawat ranap 2 : “baik dok” (bergegas keluar untuk memanggil keluarga Tn. Bima)

(Saat dikamar Tn.Bima, kondisi Tn.Bima Sedang tertidur)


Perawat ranap 2 : “selamat sore bu, mari ikut saya ke nurse station ada yang ingin
diinformasikan oleh dokter tentang penyakit bapak”

Keluarga : “baik sus”

(Nurse Station)

Perawat ranap 2 : “dok ini istri dari Tn. Bima”

Dokter : “sus, mari kita jelaskan tentang hasil lab dan kondisi penyakit yang dialami oleh
Tn. Bima ke istrinya” “jadi gini bu, berdasarkan hasil lab. Tn. Bima didiagnosis positif mengidap
HIV/AIDS”

Keluarga : “kok bisa dok?HIV itu apa? Bisa disembuhin ga dok”

Perawat ranap 2 : “jadi gini bu, HIV adalah virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh.
Saat ini penyakit HIV/AIDS belum ada obatnya”

Keluarga : “terus saya harus bagaimana sus? Saya takut, tolong jangan beritahu suami saya
tentang hal ini ya”

Dokter : “Tidak bisa bu, bagaimana pun suami ibu memiiki hak untuk mengetahui apa
penyakit yang di deritanya, dan berhak untuk memutuskan pengobatan yang akan dia terima”

Keluraga : (sambil menangis) “saya takut suami saya sedih dan depresi Dok, tolong saya.
Jangan beritahu masalah ini ke suami saya”

Dokter : “baik bu untuk saat ini kami tidak memberitahukan kondisi suami ibu. Tapi
secepatnya suami ibu harus mengetahui tentang penyakitnya”

Keluarga : “iya terimakasih dok” (sambil menangis)

(saat memberikan obat ke Tn. Bima)

Perawat ranap 2 : “selamat sore pak. Ini ada obat yang harus segera bapa minum, obat ini
untuk mengatasi sariawan bapak”
Tn. Bima : (setelah minum obat) “sus, hasil lab saya sudah keluar kan? bagaimana hasil lab
saya ? saya sakit apa sus, saya capek seperti ini tidak sembuh sembuh. Tolong sus beritahu saya
sakit apa”

perawat ranap 2 : “benar pak, hasil lab bapak sudh keluar. Tapi maaf pak yang memiliki
wewenang untuk memberikan informasi tentang penyakit bapak adalah dokter. Jadi maaf saya
tidak bisa menginfomarsikan apa pun tentang hasil lab bapak”

Tn.Bima : “baik sus”

perawat ranap 2 : “yasudah pak saya tinggal dulu ya, selamat beristirahat pak”

Tn.Bima : “iya terimakasih sus”

----------------------------------------keesokan harinya------------------------------------------------

Keesokan hari setelah hasil laboratoriun Tn. Bima keluar, perawat dan dokter memutuskan untuk
menginfokan diagnose penyakit ke Tn. Bima, atas persetujuan keluarga, dengan di dampingi
oleh perawat, dokter datang ke kamar Tn. Bima

dokter : (sambil memeriksa keadaan Tn. Bima) “selamat pagi pak, gimana istirahatnya
semalam?”

Tn. Bima : “saya tidak bisa tidur dok, saya terbangun terus. Bagaimana hasil lab saya dok?
Saya sakit apa?”

Dokter : “iya pak, hasil laboratorium bapa sudah keluar. Kita buka hasil laboratorium
bersama-sama ya pak. (membuka hasil). Apakah bapak sudah siap mengetahui hasil tesnya pak?”

Tn.Bima : “iya dok, insyallah saya sudah siap.”

Dokter : “Bapak, hasil labnya menyatakan bapak positif mengidap HIV/AIDS.


HIV/AIDS adalah penyakit yang menyerang sistem pertahanan tubuh bapak, jadi mudah untuk
terkena penyakit lain pak.” (Beri waktu bapak untuk menerima kabar)
Tn. Bima : (sambil menangis) “Apa dok ? lalu apa yang harus saya lakukan dok?”

Dokter : “Untuk saat ini HIV/AIDS ini belum ada obat yang bisa menyembuhkan pak.
Kami hanya bisa mengobati gejala-gejala yang muncul saja, yaitu dengan cara terapi ARV.
Terapi ARV ini harus dilakukan secara rutin mbak jangan sampai terputus karena akan
memberikan dampak yang lebih buruk”

Tn.Bima : “Apakah ada cara lain sus ?”

Perawat : “Untuk saaat ini seperti yang telah di katakan dokter , kami hanya
merekomendasikan bapak utuk segera mengikuti terapi ARV, untuk mencegah
perkembangan penyakit lebih lanjut. Saya harap bapak bisa segera mengikuti dan
mematuhi program terapi ARV ini. Selain itu, saya mengerti ini berat untuk
bapak, tetapi bapak mencoba menerima dengan lapang dada dan berserah kepada
Tuhan YME pak.”

Dokter : “Benar pak apa yang di katakan perawat, kami selaku tenaga medis akan
berusaha untuk mengatasi gejala-gejala yang muncul dari penyakit bapak tersebut
dengan semaksimal mungkin “

Tn.Bima : (hanya terdiam dan sesenggukan menangis)

Keluarga : “Terimakasih dok, sus” (sambil sesenggukan menangis)

Setelah dokter menginfokan diagnose penyakit Tn. Bima, Tn. Bima dan keluarga tampak sedih,
perawat memberikan motivasi dan semangat, setelah beberapa menit akhirnya dokter dan
perawat memutuskan untuk meninggalkan Tn. Bima dan keluraga dikamar, memberikan sedikit
waktu bagi mereka agar tetap tenang.