Anda di halaman 1dari 34

BAB II

PEMBAHASAN

A. Standar Pelayanan Bagi Ibu dan Bayi Pada Masa Nifas

Tujuan:

Memberikan pelayanan kepada ibu dan bayi sampai 42 hari setelah

persalinan dan penyuluhan ASI ekslusif.

Pernyataan Standar:

Bidan memberikan pelayanan selama masa nifas melalui kunjungan

rumah pada hari ketiga, minggu kedua dan minggu keenam setelah

persalinan, untuk membantu proses pemulihan ibu dan bayi melalui

penanganan tali pusat yang benar, penemuan dini penanganan atau

rujukan komplikasi yang mungkin terjadi pada masa nifas, serta

memberikan penjelasan tentang kesehatan secara umum, kebersihan

perorangan, makanan bergizi, perawatan bayi baru lahir, pemberian ASI,

imunisasi dan KB.

1. Kunjungan rumah

a. jadwal kunjungan rumah

Kunjungan rumah postpartum di lakukan sebagai suatu tindakan

untuk pemeriksaan postpartum lanjutan.Apa pun sumbernya,

kunjungan rumah di rencanakan untuk berkerjasama dengan

keluarga dan di jadwalkan berdasarkan kebutuhan. Pada program

yang terdahulu, kunjungan bisa dilakukan sejak 24 jam setelah

pulang.

Page 1
Jarang sekali satu kunjungan rumah di tunda sampai hari ke tiga

setelah pulang ke rumah.Kunjungan berikutnya di rencanakan di

sepanjang minggu pertama jika di perlukan. Semakin

meningkatkanya angka kematian ibu di Indonesia pada saat nifas

(sekitar 60% ) mencetuskan pembuatan program dan kebijakan

teknis yang lebih baru mengenai jadwal kunjungan masa nifas.

Paling sedikit 4 kali kunjungan pada masa nifas, di lakukan untuk

menilai keadaan ibu dan bayi baru lahir untuk mencegah,

mendeteksi dan menangani masalah-masalah yang terjadi.

1) kunjungan 1 (6-8 jam setelah persalinan )

tujuan :

a) Mencegah perdarahan masa nifas karena atonia uteri,

b) Mendeteksi dan merawat penyebab lain perdarahan, rujuk

jika perdarahan berlanjut.

c) Memberikan konseling pada ibu atau salah satu anggota

keluarga, bagiamana mencegah perdarahan masa nifas

karena atonia uteri

d) Pemberian ASI awal

e) Melakukan hubungan antara ibu dan bayi baru lahir

f) Menjaga bayi tetap sehat dengan cara mencegah terjadi

hipotermi

g) Jika petugas kesehatan menolong persalinan, ia harus

tinggal dengan ibu dan bayi baru lahir untuk 2 jam

Page 2
pertama setelah kelahiran atau sampai ibu dan bayi dalam

keadaan stabil

2) Kunjungan 2 (6 hari setelah persalinan)

tujuan :

a) Memastikan involusi uterus berjalan normal, uterus

berkontraksi dengan baik, fundus di bawah umbilicus,

tidak ada perdarahan abnormal atau tidak ada bau.

b) Menilai adanya tanda-tanda demam, infeksi, atau

perdarahan abdomen.

c) Memastikan ibu cukup mendapatkan makanan, cairan dan

istirahat

d) Memastikan ibu menyusui dengan baik dan tidak

memperhatikan tanda-tanda penyulit.

e) Memberikan konseling pada ibu mengenai asuhan pada

bayi, tali pusat, menjaga bayi agar tetap hangat dan

merawat bayi sehari-hari.

3) kunjungan 3 (2 minggu setelah persalinan )

tujuan: sama dengan kunjungan II yaitu :

a) memastikan involusi uterus berjalan normal, uterus

berkontraksi dengan baik, fundus di bawah umbilicus

b) Menilai adanya tanda-tanda demam, infeksi, atau

perdarahan abnormal.

c) memastikan ibu cukup mendapatkan makanan, cairan dan

istirahat.

Page 3
d) memastikan ibu menyusui dengan baik dan tidak

memperlihatkan tanda-tanda penyulit.

e) memberikan konseling pada ibu mengenai asuhan pada

bayi, tali pusat, menjaga bayi agar tetap hangat dan

merawat bayi sehari-hari

4) Kunjungan 4 (6 minggu setelah persalinan)

tujuan:

a) menanyakan pada ibu, penyulit yang ia atau bayi alami.

b) memberikan konseling KB secara dini

b. Perencanaan kunjungan rumah

Suatu kunjungan rumah akan mendapatkan lebih banyak

kemajuan apabila di rencanakan dan diarganisasi dengan baik.

Biadan perlu meninjau kembali catatan kesehatan ibu, rencana

pengajaran, dan catatan lain yang bisa di gunakan sebagai dasar

wawancara dan pemeriksaan serta pemberian perawatan lanjutan

yag di berikan.

Perencanaan kunjungan rumah dalam memberikan asuhan

kebidanan pada perawatan postpartum di rumah, sebaiknya bidan:

1) merencanakan waktu kunjungan rumah

2) pastikan kelurga telah mengetahui rencana mengenai

kunjungan rumah dan waktu kunjungan bidan ke rumah telah

di rencanakan.

3) menjelaskan maksud dan tujuan kunjungan.

4) Rencanakan tujuan yang ingin di capai.

Page 4
5) menyusun alat dan peralatan yang akan di gunakan

6) pikirkan cara yang dapat di gunakan yang baik dengan

standar pelayanan kebidanan dalam memberikan asuhan

kepada klien.

7) melakukan tindakan yang sesuai dengan standar pelayanan

kebidanan dalam memberikan asuhan kepada klien.

8) Buatlah pendokumentasian mengenai hasil kunjungan

9) sediakan sarana telepon untuk tindakan lanjut asuhan pada

klien

10) keamanan harus di pikirkan oleh bidan pada saat melakukan

kunjungan rumah tanpa menghiraukan di mana bidan

berinteraksi dengan klien.

c. keuntungan dan keterbatasan kunjungan rumah

Kunjungan rumah masa nifas memiliki keuntungan yang sangat

jelas karena membuat bidan dapat melihat dan berinteraksi

dengan anggota keluarga di dalam lingkungan yang alami dan

aman. Bidan mampu mengkaji kecukupan sumber yang ada

rumah, demikian pula keamanan di rumah dan lingkungan sekitar.

Kedua data tersebut bermanfaat untuk merencanakan pengajaran

atau konseling kesehatan.Kunjungan rumah lebih mudah di

lakukan untuk mengidentifikasi penyesuaian fisik dan psikologis

yang rumit.

Selain keuntungan , kunjungan rumah post partum juga memilii

keterbatasan yang sering di jumpai, yaitu :

Page 5
1) Besarnya biaya untuk mengunjungi pasien yang jaraknya

jauh.

2) Terbatasnya jumlah bidan dalam memberikan pelayanan

kebidanan.

3) kekhawatiran tentang keamanan untuk mendatangi pasien di

daerah tersebut.

2. Penyuluhan Masa Nifas

a. Nutrisi ibu menyusui

Diet yang diberikan harus bermutu, bergizi tinggi, cukup kalori,

tinggi protein, dan banyak mengandung cairan. Ibu harus

memenihi kebutuhan akan gizi sebagai berikut:

1) Mengonsumsi tambahan kalori, 500 kalori tiap hari.

2) Makan dengan diet seimbang untuk mendapatkan protein,

mineral, dan vitamin yang cukup.

3) Minum sediktnya 3 liter air setiap hari.

4) Tablet zat besi harus diminum untuk menambah zat gizi

setidakya selama 40 hari pascapersalinan.

5) Minum kapsul vitamin A (200.000 unit) untuk member asupan

vitamin A juga kepada bayinya, yaitu dengan ASInya.

b. Kebersihan pada ibu dan bayinya

Kebersihan ibu

1) Anjurkan kebersihan seluruh tubuh.

2) Mengajarkan ibu cara membersihkan daerah kelamin dengan

sabun dengan air. Pastikan bahwa ia mengerti untuk

Page 6
membersihkan daerah sekitar vulva terlebih dahulu, dari arah

depan kebelakang kemudian kebelakang membersihkan daerah

sekitar anus. Nasehatkan ibu untuk membersihkan diri setiap

kali selesai berkemih dan defekasi.

3) Sarankan ibu untuk mengganti pembalut atau kain pembalut

(nuatan sendiri) setidaknya 2 kali sehari.

4) Sarakan ibu untuk mencuci tangan dengan air dan sabun

sebelum dan sesudah membersihkan daerah kelaminnya.

5) Jika ada luka episiotomy atau laserasi, sarankan ibu agar

jangan menyentuh luka daerah luka.

Kebersihan bayi

Sebaiknya mencuci tangan terlebih dahulu sebelum memgang bayi.

Untuk menjaga tetap bersih, hangat, dan kering, setelah BAK popok

bayi harus segera diganti atau ganti popok minimal 4-5 kali/hari.

1) Istirahat dan tidur

a) Anjurkan ibu untuk istirahat yang cukup untuk mensegah

kelelahan yang berlebihan.

b) Sarankan ibu untuk melakukan kembali kegiatan rumah

tangga secara bertahap, tidur siang atau segera istirahat

ketika bayi tidur.

c) Kurang istirahat memengaruhi ibu dalam beberapa hal

(mengurangi produksi ASI, memperlambat involusi uterus

untuk dan memperbanyak peradarahan, menyebabkan

Page 7
depresi dan ketidakmampuan untuk merawat bayi dan

dirinya sendiri).

2) Latihan/senam nifas

Seman nifas bertujuan untuk memulihkan dan mengencangkan

keadaan dinding perut yangsudah tidak indah lagi. Untuk itu

beri ibu penjelasan pada ibu tentang beberapa hal berikut:

a) Diskusikan pentingya mengembalikan fungsi-fungsi otot

perut dan panggul kembali normal.

b) Jelaskan bahwa latihan tertentu selama beberapa menit

setiap hari sangat membantu.

c) Berdiri dengan tungkai dirapatkan. Kecangkan otot bokong

dan pinggul, tahan sampai 5 hitungan. Relaksasi otot dan

ulangi latihan sebanyak 5 kali.

d) Mulai mengerjakan 5 kali latihan untuk setiap gerakan.

Setiap minggu naikkan julah latihan 5 kali lebih banyak.

Pada minggu ke 6 setelah persalinan ibu harus mengerjakan

setiap gerakan sebanyak 30 kali.

3) Pemberian ASI

Selama bayi masih dalam kandungan dan setelah melahirkan

ibu juga sangat dianjurkan dengan mengonsumsi susu dan

makanan bergizi lainnya agar produksi ASI semakin

meningkat. Berikut ini adalah beberapa cara untuk

memberbanyak ASI:

a) Makan makanan yang di konsumsi yang bergizi.

Page 8
b) Minum susu madu.

c) Minum air putih minimal 8 gelas sehari.

d) Sayur hijau dapat membantu menghasilkan ASI (misalnya:

sayur daun katuk dan bayam, sayur jantung pisang, sayur

daun papaya).

e) Kaccang-kacangan juga bagus untuk memproduksi ASI.

f) Banyak makan buah-buahan yang mengandung air.

g) Jangan strees, sedih, marah atau perasaan-perasaan negative

lainnya.

h) Tambahkan vitamin jika perlu.

Untuk memompa ASI sebaiknya langsung memassase

payudara dengan menggunakan tangan dari pada memompa

dengan menggunakan alat, karena dengan menggunakan

tangan ASI akan semakin teransang untuk dapat berproduksi.

Hasil yang didapatkan akan lebih banyak dengan

menggunakan tangan di bandingkan dengan menggunakan

pompa.

Tentang putting terbenam, ibu harus rajin memassase dengan

menarik-narik putting kearah luar menggunakan baby oil.

Biasnya karena terlalu lama menggunakan dot,si anak menjadi

malas kembali ke ASI karena dengan bantuan dot di anak tidak

harus bersusah payah mencari putting, susu sudah mampu

keluar sendiri. Pada saat anak tidak mau kembali ke ASI,

biasa ini disebut juga sebagai ‘bingung putting’. Untuk

Page 9
mengatasi ini diperlukan kesabaran, ketelatenan dan kasih

sayang terhadap anak.

4) Perawatan payudara

a) Menjaga payudadra tetap bersih dan kering

b) Menggunakan Bra yang menyokong payudara

c) Bila putting susu lecet. Oleskan colostrums atau ASI yang

keluar pada sekitar putting susu setiap kali selesai

menyusui.

d) Bila lecet sangat berat, dapat diistirahatkan selama 24 jam.

ASI dikeluarkan dan diminumkan dan menggunakan

sendok.

e) Untuk menghilangkan nyeri, dapat minum paracetamol 1

tablet setiap 4-6 jam.

f) Apabila payudara bengkak akibat bendungan ASI, lakukan:

(1) Pengompresasn payudara menggunakan kain basah dan

selama 5 menit.

(2) Urut payudara arah pangkal menuju putting atau

menggunakan sisir untuk mengurut payudara dengan

arah “Z” menuju putting.

(3) Keluarkan ASI sebagian dari bagian depan payudara

setinggi putting susu menjadi lunak.

(4) Susukan bayi setiap 2-3 jam sekali. Apabila tidak dapat

menghisap, seluruh ASI dikeluarkan dengan tangan.

(5) Letakkan kain dingin pada payudara setelah menyusui

Page 10
(6) Payudara dikeringkan.

5) Hubungan seksual

Begitu darah berhenti ibu tidak merasakan ketidaknyamanan,

inalah saatnya untuk memulai hubungan suami-istri kapan saja

ibu siap. Banyak budaya mempunyai tradisi menunda

hubungan suami-istri sampai waktu tertentu. Misalnya setelah

40 hari/6 minggu setelah melahirkan. Keputusan mulainya

hubungan seksual bergantung pada pasangan yang

bersangkutan.

6) Keluarga berencana

Terkait metode KB, hal berikut sebaiknnya dijelaskan terlebih

dahulu pada ibu.

a) Bagaimana metode ini dapat mencegah kehamilan dan

efektivitasnya

b) Kelebihan dan keuntungan

c) Kekurangan

d) Efek samping

e) Bagaimana menggunakan metode ini

f) Kapan metode itu dapat dimulai digunakan untuk wanita

pascapersalinan yang menyusui

Jika seorang ibu atau pasangan telah memilih metode KB

tertentu, sebaiknya ibu bertemu dengannya lagi dalam 2

minggu untuk mengetahui apakah ada masalah bagi pasangan

dan apakah metode tersebut bekerja tersebut.

Page 11
7) Tanda-tanda bahaya

a) Demam tinggi melebihi 380C

b) Perdarahan vagina luar biasa/tiba-tiba bertambah banyak

(lebih dari peradarahan haid biasa/bila memerlukan

penggantian pembalut 2x dalam setengah jam), disertai

gumpalan darah yang besar-besar dan berbau busuk.

c) Nyeri perut hebat/rasa sakit dibagian bawah abdomen atau

punggung, serta ulu hati.

d) Sakit kepala parah/terus menerus dan pandangan

nanar/masalah penglihatan.

e) Pembengkakan wajah, jari-jari atau tangan.

f) Rasa sakit, merah atau bengkak di bagian betis atau kaki.

g) Payudara bengkak, kemerahan, lunak dan disertai demam.

h) Putting payudara berdarah hingga sulit untuk menyusui.

i) Tubuh lemas dan terasa seperti mau pingsan, merasa sangat

letih atau nafas terengah-engah.

j) Kehilangan nafsu makan dalam waktu lama.

k) Tidak bias buang air besar selama 3 hari atau terasa sakit

waktu buang air kecil.

l) Merasa sangat sedih atau tidak mempu mengasuh bayinya

atau diri-sendiri.

m) Depresi pada masa nifas.

Page 12
B. standar pelayanan penanganan perdarahan dalam kehamilan pada

trimester 3

Tujuan:

Mengenali dan melakukan tindakan cepat dan tepat perdarahan dalam

trimester 3 kehamilan.

Pernyataan Standar:

Bidan mengenali secara tepat tanda dan gejala perdarahan pada

kehamilan, serta melakukan pertolongan pertama dan merujuknya.

1. Perdarahan Antepartum

a. Definisi

Perdarahan antepartum adalah perdarahan pervaginam pada

kehamilan diatas 28 minggu atau lebih. Karena perdarahan

antepartum terjadi pada umur kehamilan diatas 28 minggu maka

sering disebut atau digolongkan perdarahan pada trimester 3.

b. Klasifikasi

Perdarahan yang ada hubungannya dengan kehamilan:

1) Plasenta previa

Adalah suatu bentuk kelainan letak pada plasenta, dimana

plasenta berimplantasi pada segmen bawah rahim sehingga

menutupi seluruh atau sebagian dari ostium uteri internum.

Implantasi plasenta yang normal adalah pada dinding depan,

dinding belakang rahim, atau didaerah fundus uteri.

a) Etiologi

Page 13
Plasenta previa meningkat kejadiannya pada keadaan-

keadaan yang endometriumnya kurang baik, misalnya

karena atrofi endometrium atau kurang baiknya

vaskularisasi desidua. Keadaan ini bisa ditemukan pada:

(1) Multipara, terutama jika jarak antara kehamilannya

pendek sehingga endometrium belum sempat tumbuh.

(2) Mioma uteri yang mengakibatkan perubahan

endometrium

(3) Kuretase yang berulang

(4) Usia lanjut hal ini disebabkan oleh tumbuh

endometrium yang kurang subur

(5) Perubahan inflamasi atau trofi misalnya pada wanita

perokok atau pemakai kokain. Hipoksemi yang terjadi

akibat karbon monoksida akan dikompensasi dengan

hipertrofi plasenta. Hal ini terjadi terutama pada

perokok berat.

b) Tanda dan gejala

(1) Darah yang keluar berwarna merah segar

(2) Perdarahan biasanya baru terjadi pada akhir trimester

kedua ke atas.

(3) Perdarahan pertama berlangsung tidak banyak dan

berhenti sendiri

(4) Perdarahan kembali terjadi tanpa suatu sebab yang

jelas setelah beberapa waktu kemudian

Page 14
(5) Perdarahan pada plasenta previa bersifat berulang-

ulang karena setelah terjadi pergeseran antara plasenta

dan dinding rahim. Oleh karena itu regangan dinding

rahim dan tarikan pada serviks berkurang, tetapi

dengan majunya kehamilan regangan bertambah lagi

dan menimbulkan perdarahan baru. Pada setiap

pengulangan terjadi perdarahan yang lebih banyak

bahkan seperti mengalir.

(6) Pada plasenta letak rendah plasenta baru terjadi pada

waktu mulai persalinan.

c) Diagnosa

(1) Anamnesis perdarahan tanpa keluhan, perdarahan

berulang, warna darah merah segar. Klinis kelainan

letak dari perabaan fornises teraba bantalan lunak

pada presentasi kepala.

(2) Pada pemeriksaan fisik obstetrik berupa palpasi

abdomen (leopold manuver) sering dijumpai kelainan

letak pada janin, tinggi fundus uteri yang rendah

karena belum cukup bulan. Juga sering dijumpai

bahwa bagian terbawah janin belum turun, apabila

letak kepala, biasanya kepala masih bergoyang,

terapung atau mengolak diatas pintu atas panggul.

(3) Pemeriksaan dalam pada plasenta previa hanya

dibenarkan bila dilakukan di kamar operasi yang telah

Page 15
siap untuk melakukan operasi segera dan donor darah.

Secara double set-ip ini hanya dilakukan apabila akan

dilakukan terapi aktif yaitu apabila kehamilan akan

diterminasi.

(4) Diagnosis plasenta previa dengan perdarahan sedikit

diterapi dengan cara ekspektatif ditegakkan dengan

pemeriksaan USG.

d) Komplikasi

Ibu hamil yang mengalami plasenta previa dapat

mengalami beberapa komplikasi berupa:

(1) Pembentukan segmen rahim terjadi secara ritmik

maka pelepasan plasenta dari tempat melekatnya di

uterus dapat berulang dan semakin banyak serta

perdarahan yang terjadi tidak dapat dicegah sehingga

penderita mengalami anemia bahkan syok.

(2) Plasenta yang berimplantasi pada segmen bawah

rahim dan sifat segmen ini yang tipis mengakibatkan

jaringan trofoblast dengan mudah menginasi

menerobos ke dalam miometrium bahkan sampai ke

perimetrium dan menjadi penyebab terjadinya

plasenta inkreta atau bahkan perkreta.

(3) Serviks dan segmen bawah rahim yang rapuh dan

kaya pembuluh darah sangat potensial untuk robek

disertai oleh perdarahan yang banyak.

Page 16
(4) Kelainan letak janin lebih sering terjadi

(5) Kelahiran prematur dan gawat janin sering tidak bisa

dihindari. Hal ini disebabkan karena tindakan

terminasi kehamilan yang terpaksa dilakukan dalam

kehamilan belum aterm.

e) Penatalaksanaan

(1) Segera melakukan operasi persalinan tujuannya untuk

menghentikan perdarahan

(2) Seksio sesarea dilakukan pada plasenta previa totalis

dan plasenta previa lainnya jika perdarahan hebat

(3) Memecahkan ketuban diatas meja operasi, hal ini

dapat dilakukan pada plasenta letak rendah, plasenta

previa marginalis, dan plasenta previa lateralis.

(4) Pada plasenta previa lateralis yang plasentanya

terletak dibelakang lebih baik dilakukan seksio

sesarea

(5) Pemecahan ketuban dapat menghentikan perdarahan

karena setelah pemecahan ketuban, uterus

mengadakan retraksi hingga kepala anak menekan

pada plasenta tidak tertahan lagi oleh ketuban dan

dapat mengikuti gerakan dinding rahim hingga tidak

terjadi pergeseran antara plasenta dan dinding rahim.

Dalam melakukan rujukan penderita plasenta previa sebaiknya

dilengkapi dengan:

Page 17
a) Pemasangan infus untuk mengimbangi perdarahan

b) Sedapat mungkin diantar oleh petugas

c) Dilengkapi keterangan secukupnya

d) Dipersiapkan donor darah untuk transfusi darah

2) Solusio plasenta

Adalah terlepasnya plasenta sebelum waktunya dengan

implantasi normal pada kehamilan trimester ketiga. Terlepasnya

plasenta sebelum waktunya menyebabkan timbunan darah antara

plasenta dan dinding rahim yang dapat menimbulkan gangguan

penyulit terhadap ibu maupun janin.

a) Penyebab

(1) Trauma langsung terhadap uterus hamil:

(a) Terjatuh terutama tertelungkup

(b) Tendangan anak yang sedang digendong

(c) Atau trauma langsung lainnya

(2) Trauma kebidanan artinya solusio plasenta terjadi karena

tindakan kebidanan yang dilakukan :

(a) Setelah versi luar

(b) Setelah memecahkan ketuban

(c) Persalinan anak kedua hamil kembar

(3) Dapat terjadi pada kehamilan dengan tali pusat yang

pendek. Faktor predisposisi terjadinya solusio plasenta

adalah:

(a) Hamil pada usia tua

Page 18
(b) Mempunyai tekanan darah tinggi

(c) Bersamaan dengan preeklampsia dan eklampsi

(d) Tekanan vena cava inferior yang tinggi

(e) Kekurangan asam folat

b) Gambaran klinis

(1) Solusio plasenta ringan

Pada solusio plasenta ringan tidak ada gejala kecuali

hematoma yang berukuran beberapa sentimeter terdapat

pada permukaan maternal plasenta. Rasa nyeri pada perut

masih ringan dan darah yang keluar masih sedikit,

sehingga belum keluar melalui vagina. Tanda-tanda vital

dan keadaan umum ibu ataupun janin masih baik. Pada

inspeksi dan auskultasi tidak dijumpai kelainan kecuali

pada palpasi sedikit terasa nyeri lokal pada tempat

terbentuk hematom dan perut sedikit tegang tapi bagian-

bagian janin masih bisa teraba.

(2) Solusio plasenta sedang

Gejala-gejala sudah jelas seperti rasa nyeri pada perut

yang terus menerus, denyut jantung janin biasanya telah

menunjukkan gawat janin, perdarahan tampak keluar lebih

banyak, takikardia, hipotensi, kulit dingin dan keringatan,

oliguria mulai ada, kadar fibrinogen berkurang antara 150

sampai 250 mg/100 ml dan mungkin kelainan pembekuan

darah dan gangguan fungsi ginjal sudah mulai ada. Rasa

Page 19
nyeri dan tegang perut jelas sehingga bagian-bagian janin

sulit teraba. Rasa nyeri akut, perdarahan pervaginam

berwarna kehitaman, penderita pucat karena mulai syok

sehingga keringat dingin. Keadaan janin biasanya sudah

gawat.

(3) Solusio plasenta berat

Perut sangat nyeri dan tegang serta keras seperti papan

disertai perdarahan yang berwarna hitam. Sehingga

palpasi bagian-bagian janin tidak mungkin lagi dilakukan.

Fundus usteri lebih tinggi daripada seharusnya hal ini

terjadi karena penumpukan darah didalam rahim. Jika

dalam masa observasi tinggi fundus bertambah lagi berarti

perdarahan baru masih berlangsung. Pada inspeksi rahim

kelihatan membulat dan kulit diatasnya kencang dan

berkilat. Pada auskultasi DJJ tidak terdengar lagi akibat

gangguan anatomik dan fungsi plasenta. Keadaan umum

menjadi buruk disertai syok. Hipofibrinogemia atau

rendahnya kadar fibrinogen di dalam darah dan oliguria

telah terjadi sebagai akibat komplikasi pembekuan darah

intravaskular yang luas dan gangguan fungsi ginjal. Kadar

fibrinogen darah rendah yaitu kurang dari 1150 mg% dan

telah ada trombositopenia.

c) Diagnosa

Page 20
Diagnosis solusio plasenta dapat ditegakkan dengan

melakukan:

(1) Anamnesa

(a) Terdapat perdarahan disertai rasa nyeri

(b) Terjadi spontan atau karena trauma

(c) Perut terasa nyeri

(d) Diikuti penurunan sampai terhentinya gerakan janin

dalam rahim

(2) Pemeriksaan

Pemeriksaan fisik umum

(a) Keadaan umum penderita tidak sesuai dengan jumlah

perdarahan

(b) Tekanan darah menurun, nadi dan pernafasan

meningkat

(c) Penderita tampak anemis

Pemeriksaan khusus

(a) Palpasi abdomen

(1) Perut tegang terus menerus

(2) Terasa nyeri saat palpasi

(3) Bagian janin sukar ditentukan

(b) Auskultasi

Denyut jantung janin bervariasi dari asfiksia ringan

sampai berat.

(c) Pemeriksaan dalam

Page 21
(1) Terdapatnya pembukaan

(2) Ketuban tegang dan menonjol

(3) Pemeriksaan penunjang dengan USG, dijumpai

perdarahan antara plasenta dan dinding abdomen.

d) Komplikasi

a) Penyulit komplikasi ibu

(1) Perdarahan yang dapat menimbulkan variasi turunnya

tekanan darah sampai keadaan syok, perdarahan yang

terjadi tidak sesuai dengan keadaan penderita anemis

sampai syok, dan kesadaran penderita dari baik sampai

koma.

(2) Gangguan pembekuan darah, disebabkan karena

masuknya tromboplastin ke dalam sirkulasi darah

menyebabkan pembekuan darah intravaskular dan

disertai hemolisis. Selain itu juga terjadi penurunan

fibrinogen dapat mengganggu pembekuan darah.

(3) Oliguria

Hal ini terjadi karena terdapatnya sumbatan glomelurus

ginjal dan dapat menimbulkan produksi urin makin

berkurang.

b) Penyulit pada janin

Perdarahan yang tertimbun dibelakang plasenta

mengganggu sirkulasi dan nutrisi ke arah janin sehingga

dapat menimbulkan asfiksia ringan sampai berat dan

Page 22
kematian di dalam rahim. Kematian janin tergantung dari

seberapa bagian plasenta telah lepas dari implantasinya di

fundus uteri.

(1) Penanganan solusio plasenta harus dilakukan rawat

inap dirumah sakit yang memadai

(2) Cek kadar Hb dan golongan darah serta gambaran

pembekuan darah

(3) Jika diagnosis belum jelas dan janin masih hidup tanpa

tanda-tanda gawat janin observasi ketat dengan

kesiagaan dan fasilitas yang bisa segera diaktifkan

untuk intervensi jika sewaktu-waktu muncul

kegawatan.

(4) Persalinan mungkin pervaginam atau juga mungkin

perabdominal tergantung pada banyaknya perdarahan,

telah ada tanda-tanda persalinan spontan atau belum,

dan tanda-tanda gawat janin.

(5) Penanganan terhadap solusio plasenta bisa bervariasi

sesuai berat ringannya penyakit, usia, ibu, serta keadaan

ibu dan janinnya.

(6) Jika janin masih hidup dan cukup bulan serta belum ada

tanda-tanda persalinan pervaginam maka dilakukan

bedah cesar.

(7) Pada perdarahan yang cukup banyak segera lakukan

resusitasi dengan pemberian transfusi darah dan

Page 23
kristaloid yang cukup diikuti persalinan yang cepat

untuk mengendalikan perdarahan dan menyelamatkan

ibu dan janin

(8) Bedah caesar dilakukan pada kasus yang berat atau

telah terjadi gawat janin

(9) Jika janin telah mati dalam rahim maka lebih sering

dipilih persalinan pervaginam kecuali jika ada

perdarahan berat yang tidak teratasi dengan transfusi

darah atau ada indikasi obstetrik untuk melakukan

persalinan abdominal.

C. Standar Pelayanan Penanganan Kegawatan Dan Eklampsia

Tujuan:

Mengenali secara dini tanda-tanda dan gejala preeklampsia berat dan

memberikan perawatan yang tepat dan segera dalam penanganan

kegawatdaruratan bila eklampsia terjadi.

Pernyataan Standar:

Bidan mengenali secara tepat tanda dan gejala eklampsia mengancam,

serta merujuk dan atau memberikan pertolongan pertama.

1. Definisi

Preeklamsi adalah keadaan dimana hipertensi di sertai dengan

proteinuria dan atau dengan odem patologis yang timbul akibat

kehamilan setelah 20 minggu.

Page 24
Eklampsi adalah bila pada wanita dengan kriteria klinis preeklamsi,

timbul kejang yang bukan di sebabkan oleh penyakit neurologis lain

seperti epilepsy.

2. Penyebab

Penyebab preeklamsi dan eklamsi belum di ketahui secara pasti,

tetapi pada umumnya di sebabkan oleh vasospasme arteriola.

Faktor-faktor penyebab yang mempengaruhi timbulnya preeklamsi

antara lain :

a. Primigravida

b. Hiperplasentosis(molahidratidosa,kehamilan ganda,DM, bayi

besar)

c. Usia ibuhamil kurang dari 18 tahun atau lebih dari 35 tahun

d. Riwayat keluarga yang pernah eklamsia dan preeklamsia

e. Penyakit ginjal dan hipertensi yang sudah ada sebelum hamil

f. Obesitas

3. Patosiologi

a. Pada beberapa wanita hamil terjadi peningkatan sensitivitas

vascular terhadap angiotensi II,peningaktan ini menyababkan

hipeetensi dan kerusakan vascular. Akibatnya, akan terjadi

vsospasme pembuluh darah arteri, vasospasme mengakibatkan

diamter pembuluh darah mengecil yang akan berpengaruh

terhadap suplay darah ke organ-organ seperti otak,ginjal,hati dan

plasenta menurun 40-60%

Page 25
b. Gangguan plasenta menimbulkan degenerasi pada plasenta dan

kemungkinana terjadi IUFD dan IUGR.

c. Aktivitas uterus dan sensitivitas terhadap oksitosin meningkat

d. Penurunan perfusi ginjal menurun GFR dan menimbulkan

perubahan gromerulus, proein keluar melalui urine, asam urat

menurun, garamdan air di tahan, tekanan osmotic plasma

menurun, cairan keluar dari intravasculer menyabakan

homokonsentrasi . peningkatan fikositas dan edema jaringan

berat, serta peningkatan hemokratis.

e. Vasospasme arteriola dan penurunan aliran darah ke retina

menimbulkan symptom visual seperti skotoma(blind spot) dan

penerangan kabur, patologi yang sama menimbulkan edema

serebral dan hemorhagik serta peningkatan iritabilias susuan

syaraf pusat sehingga menimbulkan gejala sakit kepala,

hiperfleksia,clonus pergelangan kaki dan kejang serta

perubahan efek)

4. Tanda Dan Gejala

Kriteria Tekanan Darah :

a. Preeklampsia Ringan : ≥140/90 mmHg

b. Preeklampsia Berat : ≥160/110 mmHg

c. Eklampsia : Preeklampsia Berat disertai kejang

Kriteria Protein Urin Positif

a. Preeklampsia Ringan : samar (trace) sampai +1

b. Preeclampsia Berat : +2 persisten atau lebih

Page 26
Kenaikan berat badan berlebih jika berat badab naik 500 gr per

minggu atau 2000 gr perbulan.

5. Gejala

Preeklampsia Ringan

a. Kenaikan tehkanan darah sistol 30 mmHg atau lebih, diastole 15

mmHg atau lebih, dari tekanan darah sebelumnya (sebelumnya

usia kehamilan 20 mg) Atau kenaikan TD systole ≥140 mmHg

dan diastole ≥90 mmHg

b. Protein urin samar (trace)sampai +1

Gejala Preeklamsia Berat

a. Kenaikan TD systole/ diastole ≥160/110 mmHg

b. Terjadi peningkatan enzim hati dan atau kulit tampak ikterik

c. Pada pemeriksaan trombosit >˂ 100.000/mm3

d. Oligouri ˂ 400 ml/24 jam

e. Protein urin +2 persisten atau lebih

f. Nyeri epigastrium

g. Gangguan visual atau pandangan kabur

h. Perdarahan retina

i. Edema pulmonum

j. Nyeri frontal yang berat

Gejala Eklampsi:

Konvulsi eklampsi dibagi menjadi 4 tingkat, yaitu :

Page 27
a. Tingkat awal → kejang berlangsung kira-kira 30 detik, mata

terbuka tanpa melihat kelopak mata dan tangan bergetar,kepala

diputar kekanan dan kekiri

b. Kejang Tonik → berlangsung 30 detik, seluruh otot menjadi

kaku, wajah terlihat kaku, tangan menggenggam dan kaki

membengkok ke dalam, pernafasan berhenti, wajah ,menjadi

sianosis dan lidah sering tergigit.

c. Kejang Klonik → berlangsung 1-2 menit, spasmus tonik

menghilang, semua otot berkontraksi, dan merulang-ulang

dalam tempo yang cepat, mulut membuka dan menutup, bola

mata menonjol, dari mulut keluar ludah yang berbusa, muka

menunjukkan kongesti dan sianosis, penderita tidak sadar,

penderita tidak sadar, penderita dapat terjatuh dari tempat tidur,

setelah kejang berhenti penderita menarik nafas secara

mendengkur.

d. Tingkat Koma → dalam keadaan koma pasien dapat terjadi

kejan berulang. Untuk tersadar dari koma masing-masing pasien

berbeda. Selama serangan berlangsung TD meningkat, nadi

cepat, suhu 40oC, solusio plasenta, perdarahan otak, gangguan

pernapasan dan trauma.

6. Pelaksanaan

Penatalaksaan umum yang dapat dilakukan bidan dalam kasus baik

preeklamsi maupun eklampsi antara lain :

a. Memberitahu hasil pemeriksaan baik kondisi ibu maupun janin

Page 28
b. Melakukan KIE tentang penyebab dan factor penyebab

terjadinya preeklamsi serta penatalaksaan kasus tersebut

c. Memberi dukungan pada ibu dan keluarga kalau ibu bisa

menjalani kehamilan dan persalinannya dengan baik.

d. Melakukan kolaborasi dengan dokter untuk pelaksanaan dan

medikamentosa.

Pre Eklampsi Ringan

Penanganan preeklamsi ringan dapat dilakukan dua cara tergantung

dari segala yang timbul yaitu:

a. Menganjurkan ibu untuk banyak istirahat dan berbaring miring

ke kiri

b. Diet cukup protein. Rendah karbohidrat, rendah garam dan

rendah lemak

c. Pemberian terapy atas instruksi dokter yaitu Phenobarbital 3x30

mg selam 7 hari

d. Kunjungan ulang 1 minggu sekali

e. Pemeriksaan laboratorium: haemoglobin, hemotokrit, trombosit,

urin lengkap, asam urat, fungsi hati, fungsi ginjal

Rawat inap dianjurkan jika:

a. Dilakukan setelah 2 minggu pengobatan rawat jalan tidak

menimbulkan gejala perbaikan

b. Kenaikan BB ibu 1 kg/minggu selama 2 minggu menjadi 2 kg

c. Timbul salah satu gejala preeklamsi berat

Page 29
d. Bila 1 mg perawatan tidak ada perbaikan maka dianggap sebagai

preeklamsi berat

e. Jika 1 minggu perawatan sudah ada perbaikan maka dilanjutkan

dengan rawat jalan

f. Jika preeklamsi ringan stabil maka di pantau sampai usia

kehamilan 37 mg atau sampai tanggal taksirah persalinan

g. Cara persalinan bisa dengan persalinan spontan dengan

memperpendek kala ll

Pre Eklamsi Berat

Ditinjau dari usia kehamilan, preeklampsi dapat dibagi menjadi:

a. Perawatan aktif yaitu diakhiri dengan terminasi dan pengobatan

medikamentosa

b. Perawatan konservatif yaitu kehamilan tetap dipertahankan

ditambah dengan pengobatan medis.

Perawatan aktif

Dilakukan pemeriksaan fetal assasement yaitu dengan cara

pemeriksaan nonstrestest (NST) dan USG (ultrasonografi). Dnegan

indikasi salah satu atau lebih yaitu :

a. Usia kehamilan >37mg disertai tanda gejala eklamsia, kegagalan

therapy konservasip, terjadi desakan darah setelah 6-24 jam

perawatan medis, perawatan yang dilakukan tidak ada

perbaikan.

Page 30
b. Hasil NST/CTG menunjukkan fetal distress dan atau USG atau

nampak IUGR

c. Hasil laboratorium menunjukan tanda HELP syndrome yaitu

hemolysis, peningkatan fungsi hepar dan trombositopenia

Perawatan konservatif

a. Rawat inap untuk memberikan tindakan seperti memasang infus

dan pemberian MgSO4, observasi TTv tiap 30 menit, Refleks

patella tiap 1 jam, therapy antasida, therapy diuretic jika

ditemukan edema paru, payah jantung dan edema, diet cukup

protein, rendah karbohidrat, rendah garam dan rendah lemak,

tirah baring miring ke kiri.

b. Antihipertensi diberikan jika TD sistol >180 mmHg dan daistole

>110mmHg

c. Konsultasi dengan bagian lain seperti dokter penyakit dalam,

jatung dan mata

d. Jika disertai dengan demam dan nyeri pasien boleh diberikan

antipiretik dan analgetik ditambah dengan antibiotic

Pre Eklampsi Berat pada persalinan

Penanganan ibu dengan preeklampsia berat pada persalinan,

dilakukan tindakan seperti :

a. Istirahat total

b. Beri oksigen

c. Diet cukup protein, rendah karbohidrat,rendah garam dan rendah

lemak

Page 31
d. Beri infus D5%RL

e. Beri dosis awal therapy anti kejang MgSO4 40% sebanyak 4

gr/IV dicampur dengn aquabides 1:1 selama 20 menit. Jika IV

sulit berikan secara IM masing-masing 5 gr

f. Lanjut dosis pemeliharaan 6 gr MgSO4 40% drip Kolf 1 habis

dalam 6 jam. (Dosis pemeliharaan MgSO4 sebanyak 1 gr perjam

secara drip, untuk tetesan disesuaikan dengan jam pemberian

MgSO4).

g. Pemberian MgSO4 dihentikan bila :

a. Ada tanda-tanda intoksias

b. Setelah 24 jam pascapersalinan atau 24jam setelah kejang

terakhir

h. Perhatikan syarat pemberian MgSO4 yaitu tersedia antidotum

calcium glukonas 10% 1 gr IV selama 3 menit, refleks patella

positif kuat, frekuensi pernapasan >16x/menit, produksi urin

30cc/jam (0,5cc/kg BB/jam).

i. Beri Antihipertensi diberikan jika TD sistol >180mmHg dan

diastole >110mmHg, analgetik jika diperlukan

j. Lakukan pemeriksaan laboratorium : hemoglobin, hemotokrit,

rombosit,urin lengkap, asam urat, fungsi hati, fungsi ginjal.

k. Observasi TTv tiap 30 menit dan reflek patella tiap 1 jam

l. Obseravasi pengeluaran urin tiap 1 jam (30cc/jam)

m. Observasi kemajuan persalinan tiap 4 jam atau bila ada indikasi

n. Observasi His dan Djj

Page 32
Catatan :

 Jika ibu belum memasuki inpartu, terminasi dapat dilakukan

dengan induksi persalinan dan atau section caesaria

 Jika ibu memasuki kala 1, terminasi dapat dilakukan dengan

induksi dan memecahkan ketuban, atau dengan section caesaria

memperpendek

 Jika ibu memasuki kala 2, persalinan dilakukan dengan

memperpendek kala 2 seperti tindakan forcep atau vakum

 Jika janin IUFD maka tindakan induksi dan persalinan pervaginam

dapat dilakukan

 Pemberian therapy diteruskan sampai 24 jam postpartum

 Efek samping dari MgSO4 adalah tokolitik sehingga sering

pemberiannya disertai dengan induksi pada persalinan dan

pemberian oksitosin drip, serta efek terasa panas pada seluruh

tubuh.

Penatalaksanaan Eklampsi

1. Jaga ibu dari trauma. Hindari pasien terjatuh, bebaskan jalan nafas

dengan memberi tongspatel pada lidah dari jatuhnya pangkal lidah ke

tenggorokan

2. MgSO4 dapat mengurangi kepekaan terhadap SSP sehingga

menyebabkan vasodilatasi pembuluh darah.

3. Litic koktail yang terdiri atas petidin 100 mg, kloromazin100 mg, dan

prometezin 50 mg drip bersamaan dengan Dekstrosa 5%

Page 33
4. Posisi berbaring trendelenburg pada ruang isolasi dan jangan tinggalkan

ibu sendirian

5. Kalori adekuat diberikan untuk menghindari katabolisme jaringan dan

asidosis

6. Observasi ketat tiap 30 menit.

Page 34