Anda di halaman 1dari 12

TUGAS

PENGUKURAN DAN PEMETAAN LANJUT

MARINE CADASTER

Indonesia sebagai Negara Maritim memiliki potensi ekonomi yang besar,


terutama dari sektor perairan/kelautan. Potensi tersebut dapat berasal dengan
memanfaatkan permukaan dan ruang atas perairan, kolom perairan, maupun dasar
perairan dan tanah di bawahnya. Laut yang merupakan sebagian besar wilayah
NKRI tersebut, sebagian telah dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan dan didirikan
bangunan, baik permanen maupun tidak permanen. Bangunan ataupun kegiatan
pastilah terletak pada suatu bidang atau persil (laut) yang merupakan terusan atau
lanjutan dari daratan. Apabila di daratan dikenal adanya kadaster, yaitu pemberian
kepastian secara hukum terhadap tanah yang ditempati untuk kegitan ataupun
bangunan, maka kadaster laut juga dapat diberlakukan untuk area yang berada di
laut. Berdasarkan Peraturan Kepala BPN Nomor 3 Tahun 2006 Tentang Organisasi
dan Tata Kerja Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia pada Pasal 196
disebutkan bahwa Direktorat Penetapan Batas Bidang Tanah dan Ruang
mempunyai tugas menyiapkan perumusan kebijakan teknis dan melaksanakan
penetapan batas bidang tanah dan ruang. Berkaitan dengan masalah tanah yang
dilekati dengan hak atas tanah, maka tanah di bawah permukaan perairan tersebut
juga perlu didaftarkan. Pendaftaran bidang tanah tersebut dibahas dalam Kadaster
Kelautan (Marine Cadaster).
Di dalam Buku Panduan Kursus Pemanfataan Software CAD Untuk
Kadaster Ruang (2013), disebutkan beberapa definisi dari Kadaster Kelautan, di
antaranya :
1. Sistem yang memberlakukan prinsip-prinsip kadaster darat di wilayah laut
melalui pendaftaran atau pengadministrasian objek dan subjek dari
penggunaan ruang laut oleh aktivitas masyarakat dan pemerintah, penataan
ruang laut untuk dilindungi dan dikonservasi (taman nasional, taman suaka
margasatwa, dan lainnya), serta penggunaan ruang laut oleh masyarakat adat
(Rais, 2002).
2. Sistem yang memungkinkan adanya pencatatan batas-batas dan kepentingan di
laut, yang diatur secara spasial dan didefinisikan secara fisik, terkait juga
dengan batas-batas hak dan kepentingan lain yang bertampalan/bersebelahan,
bukan bertujuan mendefinisikan batas-batas internasional tetapi lebih ke arah
bagaimana mengadministrasikan sumber daya kelautan sebuah negara dalam
konteks UNCLOS (PCGIAP, 2001).
Sedangkan menurut BPN & LPPM-ITB (2003), Kadaster Kelautan adalah sebuah
sistem informasi publik yang berisi catatan, daftar dan dokumen mengenai
kepentingan, hak, kewajiban dan batasannya, termasuk catatan mengenai nilai,
pajak serta hubungan hukum dan perbuatan hukum yang ada dan berkaitan dengan
penguasaan, penggunaan, dan pemanfaatan partisi atau persil laut dalam rangka
mewujudkan tertib hukum, tertib adminstrasi, tertib penggunaan dan tertib
pemeliharaan ekosistem laut serta mendukung tertib perencanaan, penataan dan
pengelolaan wilayah laut secara spasial terpadu.
Kadaster Kelautan yang dilaksanakan tersebut mempunyai tujuan sebagai
berikut :
1. Memberikan kepastian hukum dan perlindungan hukum kepada pemegang hak
atas suatu ruang perairan laut.
2. Menyediakan infrastruktur data spasial yang komprehensif (menyeluruh)
dimana batas-batas “persil” perairan laut, hak-hak yang melekat padanya
(Right), batasan pemanfaatan (Restriction), serta kewajiban dan tanggung
jawab (Responsibility) di lingkungan ruang perairan laut dapat diatur,
diadministrasikan, dan dikelola dengan baik.
3. Terselenggaranya tertib administrasi ruang perairan laut.
Sedangkan manfaat pelaksanaan Kadaster Kelautan adalah tersedianya informasi
mengenai hak-hak pemanfataan ruang perairan laut, seperti :
1. Informasi mengenai pemilik hak dari suatu ruang perairan laut.
2. Informasi mengenai hak-hak yang melekat pada ruang perairan laut tersebut
(jenis dan lamanya hak yang diberikan, batasan-batasan pemanfaatan, dan
tanggung jawab).
3. Informasi mengenai ruang perairan laut itu sendiri (posisi geografis, ukuran
dan dimensi, nilai atau harga, dan atribut lainnya sesuai keperluan).
Kadaster Kelautan merupakan kadaster tiga dimensi yang mencakup ruang
horizontal di permukaan laut dan ruang vertikal laut, seperti kedalaman laut.
Penggunaan ruang laut dalam satu bentuk persil laut apabila dilihat secara vertikal
maka akan memungkinkan terdiri atas berbagai kepentingan. Menurut BPN-RI dan
LPPM-ITB (2003), batasan persil pada Kadaster Kelautan mencakup :
1. Batas dari zona maritim yang terdapat dalam UNCLOS 1982, yang meliputi
perairan pedalaman (internal water), perairan kepulauan (archipelagic
waters), laut territorial (territorial sea), zona tambahan (contiguous zone), zona
ekonomi eksklusif (ZEE), dan landas kontinen.
2. Batas laut daerah yang terdapat dalam UU Nomor 32 Tahun 2004 Tentang
Pemerintahan Daerah yang mencakup wilayah yuridis laut provinsi dan laut
kabupaten atau kota.
3. Wilayah-wilayah laut berdasarkan hak, misalnya konsesi minyak dan gas,
perikanan, perumahan, penelitian, pelayaran, pariwisata laut, hak ulayat, dan
lain-lain.
Adapun visualisasi ruang perairan (laut) secara tiga dimensi dapat ditunjukkan
pada Gambar 1 berikut ini.
Gambar1. Ruang Laut Tiga Dimensi
(Sumber : Rais, 2002 Dalam Buku Panduan Kursus Pemanfataan Software CAD
Untuk Kadaster Ruang).
Kadaster Kelautan dapat dipahami sebagai sebuah sistem informasi kelautan
yang mencakup hak-hak, batas, dan tanggung jawab pengelolaan ruang laut untuk
kesejahteraan bersama dan dapat dipertanggujawabkan secara yuridis dalam skala
lokal, regional, dan internasional. Menurut Yuwono (2006) di dalam Jurnal
Pemanfaatan Survai Dan Pemetaan Laut Untuk Menyongsong Kadaster Laut
(Marine Cadaster), Kadaster Kelautan penting dilakukan karena pemanfataan laut
sampai pada masa sekarang ini, baik yang berada di tepi pantai maupun yang berada
di tengah laut sering kurang memperhatikan aturan tata ruang laut ataupun
peruntukan lahan laut tersebut. Hal tersebut dapat menimbulkan adanya konflik di
laut yang terkait dengan ruang yang disebabkan oleh adanya (Rais, 2006) :
1. Tidak jelasnya batas-batas geografi antara kawasan-kawasan
penggunaan/pemanfaatan ruang laut.
2. Tidak adanya hak-hak yang melekat pada penggunaan /pemanfaatan ruang laut
untuk publik, perorangan/ masyarakat untuk kawaasan perlindungan,
konservasi, ekonomis dan kawasan lainnya.
3. Hak adat (ulayat) di wilayah laut yag lebih imajiner.
4. Tidak adanya lembaga yang mengadministrasikan ruang laut.
Menurut modul pembelajaran ITB, implementasi Kadaster Kelautan mencakup 3
(tiga) aspek utama, yaitu Aspek Legal, Aspek Teknis, dan Aspek Kelembagaan.
1. Aspek Legal
Dilihat dari aspek legal ini, implementasi Kadaster Kelautan dikembangkan
berdasarkan peraturan/perundang-undangan yang mengharuskan negara
melalui pemerintahnya untuk melakukan perlindungan dan pengelolaan
terhadap lingkungan dan sumber daya kelautan. Dasar hukum tersebut
diharapkan dapat menghasilkan produk hukum yang dapat mengakomodasi
pengelolaan yang lebih luas dari implementasi Kadaster Kelautan tersebut.
Namun, di Indonesia belum tersedia peraturan perundang-undangan yang
mengatur Kadaster Kelautan tersebut secara spesifikasi. Yang ada hanya
beberapa peraturan untuk mendukung terlaksananya implementasi Kadaster
Kelautan, di antaranya :
a. UUD Tahun 1945 Pasal 33 Ayat 3, yang berbunyi “Bumi dan air dan
kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan
dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat”.
b. UU Nomor 5 Tahun 1960 (UUPA) Pasal 2 Ayat 2 yang menjelaskan
wewenang negara dalam menguasai bumi, air, dan ruang angkasa.
c. UU Nomor 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintahan Daerah Pasal 18 yang
menyatakan bahwa daerah yang memiliki wilayah laut diberikan
kewenangan untuk mengelola sumber daya di wilayah laut (ayat 1) dan
kewenangan untuk mengelola sumber daya di wilayah laut paling jauh 12
mil laut diukut dari garis pantai kea rah laut lepas dan/atau ke arah perairan
kepulauan untuk provinsi dan 1/3 dari wilayah kewenangan provinsi untuk
kabupaten/kota (ayat 4).
d. UU Nomor 6 Tahun 1996 Tentang Perairan Indonesia Pasal 3 ayat 1 yang
menyatakan bahwa wilayah Perairan Indonesia meliputi laut territorial
Indonesia, perairan kepulauan, dan perairan pedalaman.
e. UU Nomor 26 Tahun 2007 Tentang Penataan Ruang, terutama menyangkut
rencana tapak yang berada dalam kawasan lindung/konservasi, untuk
melindungi kelestarian hidup.
f. UU Nomor 27 Tahun 2007 Tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan
Pulau-Pulau Kecil, terutama Pasal 1 ayat 7 yang menyatakan bahwa
Perairan Pesisir adalah laut yang berbatasan dengan daratan meliputi
perairan sejauh 12 mil laut diukur dari garis pantai, perairan yang
meghubungkan pantai dan pulau-pulau, estuary, teluk, perairan dangkal,
rawa payau, dan laguna.
g. UU Nomor 43 Tahun 2008 Tentang Wilayah Negara Pasal 1 ayat 1 yang
berbunyi Wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia, yang selanjutnya
disebut dengan Wilayah Negara, adalah salah satu unsur negara yang
merupakan satu kesatuan wilayah daratan, perairan pedalaman, perairan
kepulauan dan laut territorial beserta dasar laut dan tanah di bawahnya,
serta ruang udara di atasnya, termasuk seluruh sumber kekayaan yang
terkandung di dalamnya. Ayat 2 dijelaskan tentang Wilayah Perairan
adalah perairan pedalaman, perairan kepulauan, dan laut territorial.
2. Aspek Teknis
Peta yang harus dibuat untuk kepentingan Kadaster Kelautan meliputi (Ilova,
2009) :
a. Peta Dasar Pendaftaran Laut, yaitu peta yang memuat semua dasar teknik
dan semua atau sebagian unsur-unsur geografi.
b. Gambar Ukur, yaitu dokumen tempat mencantumkan gambar suatu persil
di laut dan situasi sekitar serta data hasil pengukuran persil di laut baik
berupa jarak, sudut, azimuth ataupun sudut jurusan.
c. Peta Pendaftaran Laut, yaitu peta yang menggambarkan satu persil di laut
atau lebih yang batas-batasya telah ditetapkan oleh pejabat yang berwenang
untuk keperluan Kadaster Kelautan. Peta ini berisi informasi letak, luas,
dan batas setiap persil laut.
d. Surat Ukur/Gambar Situasi, yaitu dokumen yang membuktikan data fisik
hak suatu persil laut yang telah didaftarkan dalam bentuk peta dan uraian
agar mendapatkan kepastian hukum mengenai letak, batas, dan luas persil
laut yang dimohonkan.
3. Aspek Kelembagaan
Aspek kelembagaan dalam konteks Kadaster Kelautan tidak mensyaratkan satu
lembaga, tetapi lebih ke arah pengorganisasian lembaga-lembaga yang ada dan
memiliki kewenangan dalam pengelolaan kelautan. Aktivitas tersebut
merupakan lintas sektoral yang membutuhkan koordinasi antarlembaga dalam
mengelola aktivitas kelautan, secara khusus yang berkaitan dengan obyek-
obyek ruang perairan. Sebagai contoh adalah pada aktivitas kelautan di bidang
pariwisata yang membutuhkan koordinasi instansi terkait, misalnya
Kementerian Pariwisata, Kementerian Dalam Negeri, Kementerian
Perhubungan, pihak asing/swasta, Badan Pertanahan Nasional RI, dll.
Pada aspek-aspek implementasi Kadaster Kelautan seperti yang disebut di
atas,perlu dilakukan kegiatan pengukuran dan pemetaan yang melalui beberapa
tahap, di antaranya adalah :
1. Pembuatan Kerangka Dasar Geodetik
a. Kerangka Dasar Horisontal
Titik-titik yang akan dijadikan sebagai referensi harus diikatkan pada titik
dasar yang merupakan bagian dari jarring kerangka geodesi nasional
(TDT).
b. Kerangka Dasar Vertikal
Dalam konteks pengukuran untuk kepentingan Kadaster Kelautan, datum
vertikal yang digunakan adalah MSL (mean sea level).
2. Pengukuran Kedalaman dan Pengamatan Pasut
a. Pengukuran Kedalaman (Pemeruman)
Proses ini merupakan proses pengambilan data kedalaman laut untuk
memperoleh gambaran bentuk permukaan dasar laut. Gambaran
permukaan dasar laut disajikan dalam bentuk kontur di dalam peta. Proses
pengukuran kedalaman dilakukan dengan metode akustik, yaitu
penggunaan alat perum gema (echosounder) yang memancark.an
gelombang akustik dan menerima pantulannya kembali dalam selang
waktu tertentu. Kedalaman yang diperoleh adalah setengah dari perkalian
antara kecepatan gelombang akustik dan selang waktu pantulan dengan
pemancaran gelombang akustik tersebut
du = ½ tv du = kedalaman dasar laut
t = selang waktu tempuh pemancaran dan
pantulan gelombang akustik
v = kecepatan gelombang akustik (secara
umum sebesar 1500 m/s)

b. Pengamatan Pasang-Surut (Pasut)


Pengamatan pasut dilakukan dengan merekam data tinggi muka air laut
setiap interval waktu tertentu menggunakan rambu/palem. Pengamatan
pasut dilakukan selama 15 atau 29 piantan (1 piantan = 25 jam) dengan
interval perekaman data 15, 30, atau 69 menit. Berdasarkan Special
Publication (SP) No.44 dari International Hydrographic Organization
(IHO) Edisi ke-5 Tahun 2008, dijelaskan bahwa data pasut selama 30 hari
sudah cukup digunakan untuk keperluan pendefinisian titik ketinggian nol
(MSL) bagi keperluan pengukuran ketinggian obyek ruang perairan.

Gambar 2. Pengikatan Kedudukan Muka Laut Hasil Pengamatan


Terhadap TDT Ruang Perairan
(Sumber Data : Sidabutar, 2012)

b = bacaan skala pada Palem Pasut


b – a = hB + h A
a = bacaan skala pada Rambu Ukur di A (TDT-RP)
hB = ketinggian titik B terhadap MSL (bernilai
negatif karena berada di bawah MSL)
hA = ketinggian titik A (TDT-RP) terhadap MSL
(bernilai positif karena berada di atas MSL)
3. Pengukuran Batas Ruang Perairan dan Detil Situasi
Tahapan ini bertujuan untuk memperoleh informasi mengenai detil/situasi
daerah dan batas obyek ruang perairan yang akan dipetakan. Terdapat dua
metode, yaitu :
a. Metode Terestris (Trigonometris)
Besaran yang diukur adalah arah / sudut dan jarak dari titik kerangka dasar
atau dari titik bantu ke titik detil dan ujung-ujung dari tapak obyek ruang
perairan.

Gambar 3. Pengukuran Titik-titik Detil Metode Trigonometri


(Sumber Data : Modul Pembelajaran ITB)

BM = titik berdiri alat yang sudah diketahui koordinatnya


1,2,3 = titik detil
α1, α2, α3 = sudut antara titik detil terhadap arah utara
d1, d2, d3 = jarak antara BM terhadap titik detil

b. Metode Ekstraterestris
Metode ini dilakukan menggunakan perangkat receiver GPS dengan teknik
pengukuran Statik, Stop and Go, Rapid Static, atau Real Time Kinematic
(RTK). Misalnya pada pengukuran detil obyek ruang perairan yang
menggunakan teknik Stop and Go, sedangkan untuk pengukuran detil garis
pantai dapat menggunakan teknik RTK karena perekaman data secara
kontinu sepanjang garis pantai yang diukur.
4. Pembuatan Peta
Penyediaan data dan informasi yang telah didapat, disusun sebagai sebuah peta
untuk memenuhi kebutuhan terkait dengan bidang kelautan dan pesisir. Peta
yang dibuat juga harus mempunyai spesifikasi peta kadaster pertanahan pada
umumnya, di antaranya mencakup skala peta, sistem proyeksi peta, referensi
geografi, dll. Jenis peta yang digunakan dalam kadaster kelautan tujuan
serbaguna dirancang khusus peta laut untuk navigasi dan keselamatan
pelayaran. Dalam peta laut diperlihatkan poin dasar, garis pantai, baseline,
batas-batas wilayah perairan, morfologi pantai dan konfigurasi,termasuk
kedalaman laut, dan membatasi hak kepemilikan untuk tujuan kadaster
DAFTAR PUSTAKA

Buku Panduan Kursus Pemanfataan Software CAD Untuk Kadaster Ruang. 2013.

http://digilib.itb.ac.id/ (Diakses pada Hari Kamis, 17 Desember 2015 Pk.05.00


WIB).

Yuwono. 2006. Jurnal Pemanfaatan Survai Dan Pemetaan Laut Untuk


Menyongsong Kadaster Laut (Marine Cadaster).