Anda di halaman 1dari 13

PERCOBAAN 3

LAPORAN PRAKTIKUM
KIMIA FISIKA I

ANGKA ANGKUT

Yang dibina oleh:


1. Drs. Darsono Sigit, M.Pd
2. Dr. Yahmin, S.Pd., M.Si

Oleh:
Kelompok 5
1. Ike Astiyandani (170332614568)
2. Indah Oktaviani (170332614580)
3. Karina Kurnia Sari (170332614539)*

UNIVERSITAS NEGERI MALANG


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
JURUSAN KIMIA
SEPTEMBER 2019
A. JUDUL PERCOBAAN
Angka Angkut
B. TUJUAN PERCOBAAN
Menentukan angka angkut kation dan anion dengan cara hittorf.
C. DASAR TEORI
Penghantaran arus listrik dalam larutan elektrolit dilakukan oleh ion-
ion, baik ion positif maupun ion negatif. Bagian arus total yang dibawa oleh
kation disebut bilangan angkut kation (nc) sedangkan yang dibawa oleh anion
disebut bilangan angkut anion (na). Antara keduanya berlaku hubungan :
nc+ na = 1……………………………………………………………….… (1)
Bagian arus yang dibawa oleh kation dan anion bergantung pada
kecepatan gerak ion itu dalam larutan. Pada suhu tertentu hubungan antara
bilangan angkut dan kecepatan gerak ion telah dirumuskan oleh Hittorf
sebagai berikut.
uc
nc = u …………………………………………………………......… (2)
c +ua
ua
na = u ……………………………………………………………….. (3)
c +ua

Persamaan (2) dan (3) dikenal dengan aturan Hittorf


Dengan :
nc : angka angkut kation
na : angka angkut anoda
uc : mobilitas kation
ua : mobilitas anoda
Persamaan (2) dan (3) dikenal dengan aturan Hittorf
Ada beberapa cara untuk menentukan angka ngkut anion dan angka
angkut kation, antara lain dengan cara batas bergerak dan dengan cara
Hittrod. Pada cara Hittrof digunakan sel elektrolisisi yang dibagi menjadi tiga
bagian. Tiga bagian tersebut adalah ruang anoda, ruang katoda dan ruang
penghubung. Pada proses elektrolisis jumlah ekivalen kation yang terbentuk
di anoda sama dengan jumlah ekivalen atom yang terbentuk di katoda, tetapi
konsentrasi kation disekitar elektrode tidak tepat sama.
Jika penentuan bilangan angkut dengan cara Hittorf dengan didasarkan
pada penambahan kosentrasi larutan disekitar elektrodanya, maka cara gerak
batas (moving boundary method) didasarkan pada pergerakan ion-ion ketika
beda potensial diterapkan. Pergerakkan ion ini pada perbatasan dua larutan
elektrolit dapat langsung diamati
Bilangan tanspor dari setiap ion didefinisikan sebagai bagian dari arus
total yang dibawa oleh ion utama. Bilangan ini disebut juga “Bilangan
Penghantaran”. Bilangan penghantaran dihitung dengan
a) Metode Hittorf
b) Metode pembatasan yang bergerak. Dalam metode pembatas yang
𝐹 1000 𝐶𝑖 𝑑𝑣
bergerak, bilangan transport dihitung oleh 𝑡𝑖 = 𝐼 𝑑𝑡
-3
Dimana Ci adalah konsentasi ion I dalam equivalen dm , I adalah arus listrik
dalam ampere, V adalah volume melalui mana pembatas yang bergerak lewat,
dinyatakan dalam m3 dan t adalah waktu dalam detik.
Pada sel elektrolisis zat-zat dapat terurai sehingga terjadi perubahan
massa. Peruraian tersebut disebabkan oleh energi listrik yang diangkut oleh
ion-ion yang bergerak di dalam larutan elektrolit, atau karena adanya daya
gerak listrik di dalam sel tersebut. Daya gerak listrik ini merupakan
perbedaan potensial standar elektroda negatif (katoda) dan potensial standar
elektroda positif (anoda). Perbedaan potensial standar ini biasanya disebabkan
perbedaan bahan yang dipakai antara anoda dan katoda, namun dapat juga
bahan yang dipakai sama, tetapi konsentrasi larutan elektrofitnya berbeda.
Jenis yang terakhir ini disebut sel konsentrasi. Besar angka angkut ion Cu2+
dapat dihitung dengan menggunakan rumus :
𝑥−𝑧
nc = 𝑥

na = 1- nc
dimana, nc = angka angkut kation
na = angka angkut anion
x = ekuivalen Cu yang berasal dari oksidasi anoda
z = peningkatan jumlah ekuivalen ion Cu2+ di ruang anoda
D. ALAT DAN BAHAN
Alat :
 Sumber arus DC
 Stop watch
 Buret
 Corong
 Pipet takar 5 mL
 Erlenmeyer 100 mL
 Wadah elektrolisis
Bahan :
 Elektroda Cu
 Larutan CuSO4 0,1 M
 Larutan Na2S2O3 0,1 M
 Larutan KI 0.1 M (baru)
 Indikator amilum (baru)

E. PROSEDUR PERCOBAAN
Sepasang elektroda tembaga
 Dibersihkan dengan kertas gosok
 Dicuci dengan air kemudian dan alkohol
 Ditimbang anoda dengan ketelitien 0,001 gram
 Diisikan larutan CuSO4 O,1 M kedalam wadah untuk elektrolisis
 Ditentukan volume larutan dalam ruang anoda, dengan mengukur
tinggi, panjang dan lebar larutan
 Dirangkai alat
 Dialirkan listrik selama 30 menit, dicatat kuat arus tiap 1 menit, kuat
arus dalam perhitungan adalah harga rata-rata kuat arus ini
 Diambilah 5 mL larutan disekitar anoda sebanyak tiga kali dan
tempatkan masing-masing dalam erlenmeyer
 Ditambahkan dalam masing-masing erlenmeyer, 15 mL larutan KI 0,1
M
 Dititrasi dengan larutan Na2S2O3 0,1 M sampai warna coklat hampir
hilang
 Ditambahkan indikator amilum, dan titrasi lagi sampai warna biru
hilang
 Ditentukan juga konsentrasi larutan CuSO4 yang belum dielektrolisi
dengan cara titrasi seperti diatas
 Dibersihkan anoda dengan air (jangan digosok) kemudian dengan
alkohol
 Ditimbanglah anoda tersebut bila sudah kering benar
 Hasil

F. DATA PENGAMATAN
Tabel 1. Data pengamatan
Data Pengamatan Hasil Pengamatan
Berat Anoda Awal 11,081 g
Berat Anoda Akhir 11,071 g
Volume CuSO4 sebelum elektrolisis 33,292 mL
Volume CuSO4 untuk titrasi sebelum 5 mL
elektrolisis
Volume titrasi Na2S2O3 0,1 M sebelum 0,55 mL
elektrolisis
Volume CuSO4 sesudah elektrolisis 33,292 mL
Volume CuSO4 untuk titrasi setelah 5 mL
elektrolisis
Volume titrasi Na2S2O3 0,1 M setelah 33,292 mL
elektrolisis
Tinggi larutan ruang anoda 2,9 cm
Panjang larutan ruang anoda 4 cm
Lebar larutan ruang anoda 2,8 cm
Lama elektrolisis 30 menit
Kuat arus rata-rata 0,0159 A
Lama elektrolisis 1800 detik
Tabel 2. Data Kuat Arus
Menit Kuat Arus
Ke-1 0,015 A
Ke-2 0,015 A
Ke-3 0,015 A
Ke-4 0,015 A
Ke-5 0,015 A
Ke-6 0,015 A
Ke-7 0,015 A
Ke-8 0,015 A
Ke-9 0,015 A
Ke-10 0,015 A
Ke-11 0,015 A
Ke-12 0,015 A
Ke-13 0,015 A
Ke-14 0,015 A
Ke-15 0,015 A
Ke-16 0,015 A
Ke-17 0,015 A
Ke-18 0,015 A
Ke-19 0,015 A
Ke-20 0,015 A
Ke-21 0,016 A
Ke-22 0,016 A
Ke-23 0,017 A
Ke-24 0,017 A
Ke-25 0,017 A
Ke-26 0,017 A
Ke-27 0,017 A
Ke-28 0,02 A
Ke-29 0,02 A
Ke-30 0,02 A

G. ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN


Pada percobaan yang berjudul “Penentuan Angka Angkut dengan Cara
Hittorf” ini, didasarkan pada perubahan konsentrasi elektrolit disekitar
elektroda-elektroda yang disebabkan oleh aliran listrik melalui elektrolit.
Pada proses elektrolisis jumlah ekivalen kation yang terbemtuk dianoda sama
dengan jumlah ekivalen atom yang terbentuk di katoda, tetapi kosentrasi
kation di elektroda tidaklah tepat sama.
Pada percobaan ini bertujuan untuk menentukan angka angkut kation dan
anion dengan cara Hittorf. Pada percobaan ini dilakukan penentuan angka
angkut cara Hittorf. Pada cara Hittorf digunakan sel elektrolisis yang dibagi
menjadi tiga bagian dengan menggunakan penyekat berpori. Tiga bagian
tersebut adalah ruang anode, ruang katode, dan ruang penghubung. Langkah
pertama yang dilakukan yaitu membersihkan kedua elektroda Cu
menggunakan kertas gososk, mencuci dengan aquades dan alkohol agar tidak
ada sisa-sisa zat lain yang menempel. Selanjutnya berat elektroda yang
digunakan sebagai anoda harus diketahui sebelum melakukan elektrolisis
karena reaksi redoks yang mengakibatkan adanya penambahan dan
pengurangan massa dari masing-masing elektroda.
Konsentrasi ion Cu2+ dalam larutan CuSO4 sebelum elektrolisis harus
diketahui dengan pasti agar perhitungan angka angkut akurat, untuk itu perlu
dilakukan standarisasi larutan CuSO4 dengan cara titrasi iodometri dengan
larutan Na2S2O3 0,1 M menggunakan indikator amilum sehingga diperoleh
konsentrasi awal ion Cu2+ sebelum elektrolisis.
Seperti elektrolisis pada umumnya, terjadi reaksi redoks. Pada anoda
sebagai kutub positif (+) terjadi reaksi oksidasi,
Cu(s) → Cu2+(aq) + 2e
Elektroda Cu teroksidasi menjadi ion Cu2+ sehingga, terjadi penurunan
berat pada elektroda Cu serta penambahan jumlah ion Cu2+ dalam larutan
diruang anoda. Penambahan jumlah ion Cu2+ dalam anoda mengakibatkan
konsentrasi larutan dalam anoda akan mengalami kenaikan, sedangkan
sebaliknya, pada katoda sebagai kutup negatif (-) terjadi reaksi reduksi,
Cu2+ (aq) + 2e → Cu(s)
larutan yang mengandung ion Cu2+ tereduksi ke katoda sehingga terjadi
penambahan berat elektroda.
Dengan penambahan ion Cu2+ pada larutan di daerah anoda, maka ion
Cu2+ pada larutan di daerah katoda akan berkurang karena membentuk
endapan Cu. Penambahan ion Cu2+ akibat reaksi oksidasi dan pengurangan
ion Cu2+ akibat reaksi readuksi. Migrasi ion-ion terjadi sedemikian rupa
menuju kearah elektroda yang saling berlawanan tanda dengan ion-ion
tersebut.
Setelah melakukan standarisasi dan diketahui konsentrasi CuSO4 dengan
pasti selanjutnya dilakukan proses elektrolisis selama 30 menit dengan
mencatat arus setiap menitnya. Setelah elektrolisis berlangsung selama 30
menit, larutan CuSO4 dalam ruang anoda diambil sebanyak 5 mL
ditambahkan dengan 15 mL larutan KI 0,1 M warna larutan yang semula biru
jernih menjadi coklat kekuningan, kemudian larutan dititrasi mengunakan
larutan Na2S2O3 0,1 M hingga warna coklat memudar, kemudian
ditambahkan indikator amilum, penambahan tidak dilakukan di awal
bertujuan agar amilum tidak berikatan dengan iod karena akan menyebabkan
amilum sulit dititrasi untuk kembali ke senyawa semula. Penambahan
indikator amilum bertujuan untuk mengetahui perubahan warna lrutan yang
akan dititrasi kembali. Ketika I2 dengan amilum berikatan larutan berubah
menjadi warna biru kehitaman. Kemudian titrasi dilanjutkan hingga larutan
berwarna biru kehitaman hilang menjadi larutan berwarna putih.
1) Perhitungan pengurangan berat anoda
Selisih berat anoda awal dengan berat anoda akhir
= berat anoda awal – berat anoda akhir
= 11,081 g – 11,071 g
= 0,01 g
2) Perhitungan jumlah mol ion Cu2+ yang dibentuk oleh anoda
Jumlah mol ion Cu2+ yang dibentuk anoda
𝑠𝑒𝑙𝑖𝑠𝑖ℎ 𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎 𝐶𝑢
Mol Cu2+ = 𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎 𝑚𝑜𝑙𝑎𝑟 𝐶𝑢
0,01 𝑔𝑟𝑎𝑚
= 63,546 𝑔/𝑚𝑜𝑙

= 1,5736 x 10-4 mol


Mol ekivalen ion Cu2+ = 1,5736 x 10-4 mol x 2 ekivalen
= 3,1472 x 10-4 mol ekivalen
3) Perhitungan jumlah muatan listrik yang digunakan dalam elektrolisis,
kemudian dikonversi menjadi mol elektron
Q=Ixt
= 0,0156 A x 1800 detik
= 28,08 C
F = 28,08 C / (96500 C/F)
= 2,909 x 10-4 mol
Eukivalen = 2,909 x 10-4 mol x ½ = 1,4549 x 10-4 mol ekivalen
Jadi, x cara 1 = 3,1472 x 10-4 mol ekivalen
Dan, x cara 2 = 1,4549 x 10-4 mol ekivalen
4) Menentukan konsentrasi Cu2+ sebelum elektrolisis
Persamaan reaksi :
2CuSO4(aq)+ 2KI(aq) → 2Cu(s) + I2(aq) + 2K2SO4aq)
Reduksi : 2e + Cu2+(aq) → Cu(s)
Oksidasi : 2I- (aq) → I2 + 2e(s)
I2 (aq)+ 2Na2S2O3(aq) → 2I-(aq)+ S4O62-(aq) + 4Na+ (aq)
Reduksi : 2e + I2(aq) → 2I-(aq)
Oksidasi : 2S2O32-(aq) → S4O62-(aq) + 2e
Miod x Viod = Mnatrium tiosulfat x Vnatrium tiosulfat x 2 ekivalen
Miod x 15 mL = 0,1 M x 0,55 mL x 2 ekivalen
Miod = 0,0073 M
Mtembaga(II) sulfat x Vtembaga(II) sulfat = Miod x Viod
Mtembaga(II) sulfat x 5 mL = 0,0073 M x 15 mL
Mtembaga(II) sulfat = 0,0219 M
5) Menentukan konsentrasi ion Cu2+ pada ruang anoda setelah elektrolisis
Persamaan reaksi :
2CuSO4(aq)+ 2KI(aq) → 2Cu(s) + I2(aq) + 2K2SO4aq)
Reduksi : 2e + Cu2+(aq) → Cu(s)
Oksidasi : 2I- (aq) → I2 + 2e(s)
I2 (aq)+ 2Na2S2O3(aq) → 2I-(aq)+ S4O62-(aq) + 4Na+ (aq)
Reduksi : 2e + I2(aq) → 2I-(aq)
Oksidasi : 2S2O32-(aq) → S4O62-(aq) + 2e
Miod x Viod = Mnatrium tiosulfat x Vnatrium tiosulfat x 2 ekivalen
Miod x 15 mL = 0,1 M x 0,65 mL x 2 ekivalen
Miod = 0,0086 M
Mtembaga(II) sulfat x Vtembaga(II) sulfat = Miod x Viod
Mtembaga(II) sulfat x 5 mL = 0,0086 M x 15 mL
Mtembaga(II) sulfat = 0,0258 M
6) Perhitungan peningkatan ion Cu2+ di ruang anoda (z)
Konsentrasi total ion Cu2+
= konsentrasi ion Cu2+ setelah elektrolisis - konsentrasi ion Cu2+ sebelum
elektrolisis
= 0,0258 M - 0,0219 M
= 0,0039 M
Peningkatan jumlah ion Cu2+ diruag anoda (z)
z = konsentrasi total ion Cu2+ x Volume ruang anoda
= 0,0039 M × 33,292 cm3
= 0,0039 M × 0,033292 𝐿
= 1,2983 × 10-4 mol ekivalen
7) Menentukan angka angkut kation (nc) dan angka angkut anion (na)
𝑥−𝑧 3,1472 x 10−4 mol ekivalen − 1,2983 × 10−4 mol ekivalen
nc = = = 0,619
𝑥 3,1472 x 10−4 mol ekivalen

na = 1- nc = 1- 0,619 = 0,381
Pada perhitungan data yang diperoleh pada percobaan, angka angkut anion
sebesar 0,381 sedangkan angka angkut kation sebesar 0,619. Berdasarkan
data yang diperoleh dapat diketahui bahwa kation mengangkut jumlah listrik
yang lebih banyak atau arus yang lebih banyak melalui larutan CuSO4 dalam
waktu 30 menit karena angka angkut yang diperoleh kation lebih besar
daripada anion.
H. KESIMPULAN
Berdasarkan hasil percobaan elektrolisi larutan CuSO4 dengan elektroda
tembaga menggunakan cara Hittrof, harga angka angkut kation lebih besar
daripada angka angkut anion baik menggunakan perhitungan x sebagai
muatan maupun sebagai berat perubahan anion. Angka angkut kation sebesar
0,619 dan angka angkut anion sebesar 0,381.

I. DAFTAR PUSTAKA
Atkins, Peter dan Julio de Paula. 2010. Physical Chemistry 9th Edision. New
York: W. H. Freeman and Company
Sumari dan Nazriati. 2019. Petunjuk Praktikum Kimia Fisika ll. Malang:
Universitas Negeri Malang
Isana, Yatiman P., dan Suharti. 2002. Laporan Praktikum Kimia Fisika II.
Yogyakarta : Universitas Negeri Yogyakarta

J. PERTANYAAN
1. Tuliskan reaksi elektrolisis larutan CuSO4 dengan elektrode Cu.
Anode : Cu(s) Cu2+(aq) + 2e
Katode : Cu2+(aq) + 2e Cu(s)

2. Tuliskan reaksi yang terjadi pada titrasi larutan CuSO4 pada percobaan ini.
2CuSO4(aq) + 4KI(aq) 2CuI(s) + I2(aq) + 2K2SO4(aq)
I2(aq) + 2S2O32-(aq) 2I-(aq) + S4O62-(aq)
K. LAMPIRAN

Massa anoda Proses elektrolisis Pengambilan larutan


sebelum CuSO4 setelah
elektrolisis elektrolisis

Larutan setlah Titrasi dengan Larutan setelah


penambahan larutan larutan natrium titrasi namun
KI 15 mL tiosulfat belum diberi
amilum
Larutan setelah Larutan setelah
diberi amilum dititrasi

Massa anoda Katoda setelah


setelah elektrolisis
elektrolisis