Anda di halaman 1dari 5

Prosiding Semirata FMIPA Universitas Lampung, 2013

ALAT PENGERING SINGKONG TENAGA SURYA TIPE


KOLEKTOR BERPENUTUP MIRING
Maksi Ginting, Minarni,Walfred Tambunan, Egi Yuliora
Jurusan Fisika, FMIPA Universitas RiauKampus bina Widya,

Abstrak. Sistem pengering tenaga surya ini digunakan untuk mengeringkan singkong yang
telah diiris membujur setebal 2 mm. Pada penelitian ini sebagai pengumpul utama panasnya
adalah kolektor yang berpenutup miring di hubungkan ke ruang pengering. Udara panas di
kolektor bergerak ke ruang pengering dan diperc epat oleh ventilator yang ada di atas ruang
pengering. Penelitian ini dilakukan untuk ruang pengering dalam keadaan kosong dan berisi
bahan. Pada saat ruang pengering kosong suhu terendah 42,5 oC terjadi pada dulang .3, saat
jam 09.00 wib dan tertinggi 50,5 oC diruang .2, ketika jam 12.00 wib..Massa bahan di dalam
ruang pengering setelah 4(empat) hari pengamatan adalah 219,5 gr dengan kandungan air
2,12 % dan di luar ruang pengering bermassa 241,8 gr dengan kandungan air 5,9 % dari
500 gram bahan yang dikeringkan dengan kandungan air 56,1 %

Kata kunci: Energi surya, Kolektor, Ruang pengering

PENDAHULUAN aman dari gangguan orang-orang dan


binatang, hasil pengeringan kurang baik
Singkong adalah salah satu hasil-hasil karena debu dan polusi udara serta yang
pertanian yang paling gampang lainnya (1,2,5). Untuk mengatasi pengeringan
perawatannya sampai menghasilkan. sistem konvensional ini, maka perlu dibuat
Singkong banyak ditanam oleh petani yang suatu alat pengering surya yang lebih
tinggal di pedesaaan dimana dibeberapa efisien. Alat pengering ini terdiri dari dua
daerah daunnya dijadikan sayur. Singkong bagian yaitu bagian kolektor surya dan
ini banyak dipasarkan setelah dikeringkan ruang pengering yang dapat secara
terlebih dahulu sehingga tahan disimpan langsung menerima energi dari matahari.
agak lama. Singkong yang dikeringkan Pembuatan dan perawatan alat pengering
biasanya dipotong dengan bentuk ini cukup sederhana serta bahannya dapat
memanjang dan melingkar, kemudian diperoleh dengan mudah. Matahari
dibuat menjadi kripik dan gaplek serta merupakan sumber energi yang sangat
tepung terigu. Kripik, gaplek dan tepung besar dan tidak pernah akan habis
terigu dari singkong ini banyak diperjual mempunyai diameter sekitar 1,39.106 km
belikan di pasaran untuk menambah dan berjarak sekitar 1,5 km dari bumi serta
kesejahteraan masyarakat khususnya petani suhu dipermukaannya sekitar 5762 K(3,4)
yang ada di pedesaan. Petani pada Bessarnya daya keluar dari permukaan
umumnya mengeringkan singkong di matahari sekitar 3,7.1023 kw, dan diterima
lapangan terbuka jika cuaca dianggap di permukaan bumi sekitar 1,7.1014 kw (1,3).
cukup cerah. Pengeringan dengan sistem Intensitas rata-rata yang diterima dari
konvensional ini mempunyai banyak matahari persatuan luas dalam arah tegak
kelemahan-kelemahan antara lain lurus radiasi datang di batas atmosfir bumi
pengeringan sering harus diklakukan pada jarak rata-rata matahari ke bumi
berulang kali sehingga dapat dikonsumsi, adalah 1353 w/m2 (3,4,)
.Intensitas yang
bahan mudah bercampur dengan bahan- sampai dipermukaan bumi makin kecil lagi
bahan kotor dari sekitarnya, pengeringan disebabkan adanya tumbukan serta
memerlukan waktu yang cukup lama, tidak penyerapan berkas radiasi oleh debu-debu

Semirata 2013 FMIPA Unila |445


Marhaposan Situmorang: PENGENALAN KOMPONEN WARNA MENGGUNAKAN
SENSOR WARNA DT-SENSE BERBASIS MIKROKONTROLER ATMEGA 8535

dan gas-gas O2 ,O3 , CO2, dan H2O di Jika pada proses pengeringan tercapai
atmosfir bumi(6). Energi yang sampai kesetimbangan, maka persamaan
dipermukaan bumi dapat digunakan untuk kesetimbangannya dinyatakan sebagai
mengeringkan suatu bahan baik secara berikut.
konvensional maupun setelah mengubahnya
terlebih dahulu dengan cara menggunakan
Mw L = Ma Cp ΔT (2)
alat pengering kolektor pelat datar
berpenutup miring. Alat pengering ini
dibuat dua bagian yaitu kolektor surya dan
dimana :Mw = masssa air yang diuapkan
ruang pengering. Kolektor surya ini
dari bahan
berfungsi sebagai penguat termal sehingga
L = panas laten uap air dari
udara yang berada di dalam kolektor ini
bahan
menjadi lebih panas sehingga udara luar
Ma = masssa udara kering yang
masuk kedalam kolektor dan diteruskan ke
diserap oleh bahan
ruang pengering. Bahan yang ada di dalam
Cp= kalor jenis udra pada tekanan
ruang pengering akan mengalami
konstan
pemanasan sehingga bahan tersebut
ΔT = Perbedaan suhu awal dan
menguapkan air yang dikandung singkong
akhir dari udara kering
dan dibawa keluar melalui cerobong.
Untuk mempercepat proses pengeringan
maka di bagian atas ruang pengering Masssa uap air yang diuapkan dari bahan
dipasang ventilator, karena ventilator ini yang dikeringkan dinyatakan sebagai
berfungsi untuk menarik udara basah dari berikut.
dalam ruang pengering sehingga ruangan
menjadi lebih kering. Untuk menambah
Mw = m(Mi - Mf )/(100 –Mf ) (3)
keefektifan kolektor pemanas, maka alat
penyerap dicat hitam, sehingga radiasi
surya yang lewat melalui penutup
dimana: m = massa bahan mula-mula
teransparan diserap oleh pelat penyerap
panas dan kemudian diradiasikan kembali Mi = kadar kandungan air mula-
ke seluruh ruang antara penutup dengan
mula
pelat penyerap. Udara panas yang keluar
dari kolektor masuk ke dasar ruang Mf = kadar kandungan air akhir
pengering kemudian bersirkulasi keatas
melalui bahan yang dikeringkan. Udara
yang bergerak keatas ini akan METODE PENELITIAN
mengeringkan bahan yang berada di dalam
setiap dulang, sehingga kadar kandungan Penelitian dilakukan di lapangan
air dari bahan akan berkurang yang terbuka, sehingga energi surya dapat
besarnya dinyatakan sebagai berikut.(1) langsung mengenai alat pengering.
Pengamatan dilakukan untuk ruang
pengering dalam keadaan kosong dan berisi
M=100(Mb–Mk)/Mb (1)
bahan. Pengamatan ruang pengering dalam
dimana. M = kada kandungabn air keadaan kosong dilakukan selama 5 hari
pengamatan mulai dari jam 09.00 – 15.00
dari bahan
WIB dengan selang waktu pengukuran satu
Mb = masssa bahan basah jam. Pengamatan untuk ruang pengering
berisi bahan dilakukan selama 3 kali
Mk = massa bahan kering

446| Semirata 2013 FMIPA Unila


Prosiding Semirata FMIPA Universitas Lampung, 2013

pergantian bahan, dengan pengeringan 3. Pengukuran dilakukan setiap selang 1


setiap bahan dilakukan selama 4 hari jam sampai jam 15.00 wib, lalu tepat jam
pengamatan mulai dari jam 09.00 – 15.00 15.00 wib bahan dikeluarkan dari ruang
WIB. Langkah-langkah yang dilakukan pengering ditimbang massanya.
adalah sebagai berikut: 4. Pada hari kedua masukkan lagi bahan
1. Timbang massa bahan untuk semua kedalam ruang pengering dan lakukan
dulang dengan massa yang sama , lalu lagi pengukuran seperti no.1 s/d no.3
masukkan kedalam ruang pengering dan seperti diatas
salah satu di luar ruang pengering. 5. Lakukan seperti diatas sampai 4 hari
2.. Pada jam 09.00 wib diukur suhu pada pengeringan
setiap dulang, suhu udara masuk dan 6. Ganti bahan dan lakukan seperti no.1 s/d
keluar dari kolektor serta suhu udara 6., sampai 2 kali pergantian bahan lagi.
keluar dari ruang pengering dan
kelembaban di dalam ruang pengering.

a. b.
Gambar.1.Gambar bagan alat pengering surya. a. Ruang pengering. b. Kolektor

HASIL DAN PEMBAHASAN terjadi mendung, dan diatasnya disusun


dulang tempat mengeringkan bahan
Pada peneliatian ini dibuat ruang sebanyak 3 buah dengan jarak 25 cm satu
pengering berkerangka kayu berdinding terhadap yang lainnya. Untuk menambah
pelastik dilengkapi dengan ventilator diatas panas di dalam ruang pengering maka ruang
cerobongnya. Pada bagian alas ruang pengering dihubungkan dengan sebuah
pengering disusun batu koral yang dicat kolektor berpenutup miring beratap
hitam untuk bahan panyimpan panas bila pelastik. Suhu rata-rata dari hasil

Semirata 2013 FMIPA Unila |447


Marhaposan Situmorang: PENGENALAN KOMPONEN WARNA MENGGUNAKAN
SENSOR WARNA DT-SENSE BERBASIS MIKROKONTROLER ATMEGA 8535

pengukuran saat pengujian alat dalam dulang No. 4 memiliki massa terkering
keadaan kosong ditunjukkan pada tabel.1, 241,83 gram .
dan arafik antara suhu terhadap jam Berdasarkan Gambar 4., massa bahan
pangamatan ditunjukkan pada pada dulang di dalam alat pengering
gambar,2Pada gambar.2. nampak bahwa mengalami penurunan massa hingga hari
suhu di dalam ruang pengering lebih besar kedua pengamatan, tetapi pada pengukuran
dari pada diluar ruang pengering, hal ini hari ketiga, massa bahan yang dikeringkan
disebabkan udara panas pada kolektor di dalam ruang pengering menjadi naik
dialirkan ke dalam ruang pengering. Suhu pada malam hari, hal ini terjadi karena
didalam ruang pengering tertinggi tercapai bahan tersebut telah menyerap uap air yang
pada jam 12.00 WIB dan menurun ke jam ada di dalam ruang pengering pada malam
13.00 WIB disebabkan suhu di luar ruang hari.
pengering menurun dan naik lagi pada jam
13.00 WIB, jadi diperkirakan suhu di dalam KESIMPULAN DAN SARAN
rung pengering mencapai maksimum antara
jam 12.00 s/d jam13.00 WIB jika suhu Kesimpulan
disekitar tetap konstan. Suhu pada setiap Dari hasil-hasil eksperimen, pembahasan
dulang didalam ruang pengering hampir dan analisa pada penelitian ini maka dapat
homogen karena udara panas yang ada di disimpulkan bahwa :
dalam ruang pengering ditarik oleh 1. Telah berhasil dibuat alat pengering
ventilator keluar melewati cerobong yang surya menggunakan kolektor
ada diatas ruang pengering. Harga rata-rata berpenutup miring.
perubahan suhu, kelembaban dan radiasi 2. Suhu rata-rata tertinggi saat ruang
surya dapat dilihat pada tabel.2. Perubahan pengering berisi bahan adalah 46 oC
rata-rata suhu dulang di dalam dan di luar ketika kelembabannya 51,0 % ketika
alat pengering untuk dulang berisi singkong intensitas radiasi 4,29 MJ/m2.
setiap waktu pengamatan di tunjukkan pada 3. Massa bahan kering paling kecil terjadi
Gambar.3. pada penelitian menggunakan alat
Massa bahan singkong terkering setelah pengering surya ini yaitu sebesar 219,5
empat hari pengamatan dan tiga kali gram sedangkan pengeringan secara
pergantian bahan, adalah sebesar 219,5 g. konvensional
Massa ini digunakan sebagai massa kering ( memiliki massa bahan kering sebesar
mk ) untuk menentukan kadar kandungan 241,83 g ram
air bahan ( M ). Perubahan massa bahan 4 .Kadar air bahan setelah tiga hari
yang ditimbang pagi dan sore hari untuk pengamatan menggunakan alat
dulang No.1,2, dan 3 tetap berada di dalam pengering surya lebih kecil
ruang pengering dan dulang No.4 dibandingkan secara konvensional,
dimasukkan ke dalam rumah pada malam yaitu sebesar 2,12 %, sedangkan secara
hari dapat dilihat pada Tabel .4. Grafik konvensional sebesar 5,9 % .
perubahan massa setiap dulang terhadap
waktu pengeringan dapat dilihat pada Saran
Gambar.4. Berdasarkan Tabel .4. dan Perlu dilakukan penelitian menggunakan
Gambar.4. untuk dulang berisi singkong, kolektor dengan penutup terbuat dari bahan
terlihat bahwa massa bahan kering terkecil yang lebih baik (misalnya kaca transparan)
terjadi pada dulang No. 1 sebesar 219,5 g dan ruang pengering dengan dinding juga
dan massa tertinggi dari semua dulang yang terbuat dari kaca, agar suhu semakin tinggi .
berada di dalam alat pengering adalah
223,83 g yaitu pada dulang no.3, sedangkan

448| Semirata 2013 FMIPA Unila


Prosiding Semirata FMIPA Universitas Lampung, 2013

Daftar Pustaka Ted.J. Jansen, Prof. Wiranto Arismunandar,


Teknologi Rekayasa Surya, Hak Cipta
Technology for Solar Energy Utilazation Edisi Bahasa Indonesia pada PT. Pradya
Development and Transfer of Paramita Jakarta, Cetakan pertama 1995
Technology, Series no.5 United Nation M. Ginting, Pembuatan dan pengujian alat
New York (1979) pp 75-131 pengering menggunakan kolektor
S.P. Sukhatme, Solar Energy, Copyright © palungan mengeringkan ubi jalar, Jurnal
Tata Mc Graw Hill Publishing Komunikasi Fisika Indonesia ISSN
Company Limited New Delhi (1989) 14122960, Vol.7. No.1.Th.2009.
John A. Duffie and William A. Beckman, M.Ginting, Minarni dan Walfred
SolarEngineering of Thermal Processes, Tambunan, Pembuatan dan Karakterisasi
© by John Willey & Son Inc (1980) Pemanas Air Tenaga Surya, Lap.
Penelitian Berbasis Lab Th.2011

Semirata 2013 FMIPA Unila |449