Anda di halaman 1dari 2

Selamat berjumpa dan bergabung dalam Tutorial online (Tuton) ketujuh mata kuliah Etika Pemerintahan (IPEM 4430).

Kami mengharapkan
Anda saat ini telah menguasai materi modul 9 Kegiatan Belajar 1.
Kompetensi yang harus Anda kuasai setelah mempelajari materi 7 ini adalah mampu menjelaskan Transparansi, Laporan Kekayaan dan
Pengawasan Penyelenggaraan Pemerintahan.

Transparansi, Laporan Kekayaan dan Pengawasan Penyelenggaraan Pemerintahan

Setiap badan publik dalam penyelenggaraan tugas dan fungsinya wajib menerapkan asas transparansi kepada masyarakat/pengguna informasi
publik. Asas transparansi yang dimaksud mencakup aspek transparansi informasi, transparansi prosedur, dan transparansi proses pengambilan
kebijakan dan pelaksanaannya. Transparansi dalam penyelenggaraan pemerintahan bertujuan untuk memberikan dan menjamin hak masyarakat
pengguna/subjek hukum untuk mendapatkan informasi publik dalam rangka meningkatkan kepercayaan publik, akuntabilitas publik, mendorong
partisipasi masyarakat, mendorong peningkatan kualitas aspirasi masyarakat dan pengetahuan masyarakat tentang alasan pembuatan kebijakan
publik. Untuk menangani masalah sengketa antara pengguna informasi dengan Badan Publik dibentuk Komisi Transparansi.
Laporan kekayaan penyelenggara negara/LKPN merupakan salah satu langkah permulaan penting yang harus dilakukan dalam mencegah,
mengurangi dan akhirnya memerangi KKN. Pelaporan dan Pemeriksaan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara merupakan upaya pencegahan
terjadinya praktik korupsi yang diatur dalam Undang-undang No. 28 Tahun 1999, tentang Penyelenggara Negara yang Bersih dan Bebas dari
Korupsi, Kolusi dan Nepotisme dan juga Undang-undang No. 30 Tahun 2002, tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi/KPK.
KPK adalah lembaga negara yang dalam melaksanakan tugas dan wewenangnya bersifat independen dan bebas dari pengaruh kekuasaan mana
pun. KPK dibentuk dengan tujuan meningkatkan daya guna dan hasil guna terhadap upaya pemberantasan tindak pidana korupsi.
Pengawasan atas penyelenggaraan pemerintahan diperlukan untuk menjamin agar pelaksanaan kegiatan pemerintahan berjalan sesuai dengan
rencana dan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Selain itu, dalam rangka mewujudkan good governance and
clean government, pengawasan juga diperlukan untuk mendukung penyelenggaraan pemerintahan yang efektif dan efisien, transparan,
akuntabel, serta bersih dan bebas dari praktik-praktik KKN. Pengawasan terhadap penyelenggaran pemerintahan tersebut dapat dilakukan
melalui pengawasan melekat, masyarakat, dan fungsional.
Sudah menjadi kewajiban setiap penyelenggara negara untuk melaporkan daftar kekayaan mereka sebelum dan sesudah menjabat sesuai dengan
semangat reformasi yang bergulir sejak tahun 1998. Semangat yang mendasari kewajiban laporan harta kekayaan para penyelenggara negara
adalah pemberantasan dan pencegahan korupsi serta transparansi dalam pengelolaan negara. Jika aset pejabat diketahui sebelum dan sesudah
mengabdi ke negara, bisa dinilai wajar dan tidaknya kenaikan harta benda yang bersangkutan. Kewajiban seperti ini jika berjalan baik akan
membuat mereka yang berniat korupsi harus berpikir ulang, karena pasti diketahui masyarakat jika ada kenaikan tidak wajar dalam nilai
kekayaannya.
Sudah hampir 12 tahun program yang sangat bagus ini diterapkan, tetapi tampaknya belum kuat mengakar sebagai budaya kerja dan kewajiban
moral para pejabat tinggi negara. Kita khawatir bahwa kalau demikian halnya, pejabat yang melaporkan harta kekayaan juga tidak diwajibkan
untuk melakukannya secara jujur dan transparan. Artinya bisa saja angka-angka yang disampaikan asal saja, harta yang bernilai besar
disembunyikan karena tidak ada konsekuensi hukumnya, yang penting sudah melapor ke Komisi Pemberantasan Korupsi.
Dan semestinya peningkatan harta kekayaan yang tidak wajar bisa menjadi alat bukti yang sah untuk memulai penyidikan korupsi atas pejabat
terkait, dengan demikian kewajiban pelaporan harta ini bisa bermanfaat bagi upaya pemberantasan korupsi. Langkah ini penting karena
merupakan tindakan awal dari suatu pembuktian terbalik kasus korupsi.
LHKPN ini bisa menjadi indikasi bila terjadi kejanggalan harta yang dimiliki oleh aparat. Kejanggalan ini yang akan menjadi kecurigaan.
Mereka yang dicurigai nantinya harus membuktikan bahwa jumlah harta dan kekayaan yang lebih besar dibandingkan gaji yang diperoleh bukan
karena penyelewengan atas jabatan.
Kewajiban mengumumkan laporan Kakayaan Penyelenggra Negara merupakan kewajiban dari penyelenggara negara. Kewajiban ini ditetapkan
dalam pasal 5 ayat 3 UU No.28/1999. Ayat 3 menyebutkan setiap penyelenggra negara berkewajiban untuk melaporkan dan mengumumkan
kekayaan sebelum dan setelah menjabat.]
Kewenangan KPKPN mengumumkan Laporan Harta Kakayaan Penyelenggara Negara dan memuatnya dalam Tambahan Berita Negara selama
ini berdasarkan pasal 17 ayat 1,2, dan 3 UU No.28 tahun 1999. Kewenangan ini kemudian dilaksanakan melalui Peraturan Pemerintah
No.65/1999. Kewenangan ini kemudian dikukuhkan dengan Keputusan Presiden No.127/1999 pasal 11 yang menetapkan tugas komisi
pemeriksa adalah menetapkan dan mengumumkan hasil pemeriksaan kekayaan Penyelenggara Negara dalam Tambahan Berita Negara Republik
Indonesia.

Mengenal LHKPN

Sumber : http://www.kpk.go.id/modules/edito/content_lhkpn.php?id=32

A. Peraturan Mengenai LHKPN


Kewajiban Penyelenggara Negara untuk melaporkan harta kekayaan diatur dalam:
1. Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggara Negara Yang Bersih Dan Bebas Dari Korupsi, Kolusi Dan Nepotisme;
2. Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pindana Korupsi; dan
3. Keputusan Komisi Pemberantasan Korupsi Nomor: KEP. 07/KPK/02/2005 tentang Tata Cara Pendaftaran, Pemeriksaan dan Pengumuman
Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara.
B. Sejarah Singkat LHKPN
Sebelum dibentuknya Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), penanganan pelaporan kewajiban LHKPN dilaksanakan oleh Komisi Pemeriksa
Kekayaan Penyelenggara Negara (KPKPN). Namun setelah diberlakukannya Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2002, maka KPKPN dibubarkan
dan menjadi bagian dari bidang pencegahan KPK.
C. Kewajiban Penyelenggara Negara Terkait LHKPN
Berdasarkan ketentuan di atas, maka Penyelenggara Negara berkewajiban untuk:
a. Bersedia diperiksa kekayaannya sebelum, selama dan sesudah menjabat;
b. Melaporkan harta kekayaannya pada saat pertama kali menjabat, mutasi, promosi dan pension.
c. Mengumumkan harta kekayaannya.
D. Ruang Lingkup Penyelenggara Negara
Adapun Penyelenggara Negara sebagaimana dimaksud dalam pasal Pasal 2 Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1999 adalah sebagai berikut:
1. Pejabat Negara pada Lembaga Tertinggi Negara;
2. Pejabat Negara pada Lembaga Tinggi Negara;
3. Menteri;
4. Gubernur;
5. Hakim;
6. Pejabat negara yang lain sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku; dan
7. Pejabat lain yang memiliki fungsi strategis dalam kaitannya dengan penyelenggaraan negara sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-
undangan yang berlaku, yang meliputi:
a. Direksi, Komisaris dan pejabat structural lainnya sesuai pada Badan Usaha Milik Negara dan Badan Usaha Milik Daerah;
b. Pimpinan Bank Indonesia;
c. Pimpinan Perguruan Tinggi Negeri;
d. Pejabat Eselon I dann pejabat lain yang disamakan di lingkungan sipil, militer dan Kepolisian Negara Republik Indonesia;
e. Jaksa;
f. Penyidik;
g. Panitera Pengadilan; dan
h. Pemimpin dan Bendaharawa Proyek (usul: sebaiknya dihapuskan)
E. Jabatan Lainnya Yang Juga Diwajibkan Untuk Menyampaikan LHKPN
Dalam rangka untuk menjaga semangat pemberantasan korupsi, maka Presiden menerbitkan Instruksi Presiden Nomor 5 Tahun 2004 tentang
Percepatan Pemberantasan Korupsi. Berdasarkan intruksi tersebut, maka Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara (MenPAN) menerbitkan
Surat Edaran Nomor: SE/03/M.PAN/01/2005 tentang Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara NegaraTentang Laporan Harta Kekayaan
Penyelenggara Negara (LHKPN) (link);, yang juga mewajibkan jabatan-jabatan di bawah ini untuk menyampaikan LHKPN yaitu:
1. Pejabat Eselon II dan pejabat lain yang disamakan di lingkungan instansi pemerintah dan atau lembaga negara;
2. Semua Kepala Kantor di lingkungan Departemen Keuangan;
3. Pemeriksa Bea dan Cukai;
4. Pemeriksa Pajak;
5. Auditor;
6. Pejabat yang mengeluarkan perijinan;
7. Pejabat/Kepala Unit Pelayanan Masyarakat; dan
8. Pejabat pembuat regulasi
Masih untuk mendukung pemberantasan korupsi, MenPAN kemudian menerbitkan kembali Surat Edaran Nomor: SE/05/M.PAN/04/2005 (link)
dengan perihal yang sama. Berdasarkan SE ini, masing-masing Pimpinan Instansi diminta untuk mengeluarkan Surat Keputusan tentang
penetapan jabatan-jabatan yang rawan Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN) di lingkungan masing-masing instansi yang diwajibkan untuk
menyampaikan LHKPN kepada KPK.

Selain itu, dalam rangka untuk menjalankan perintah undang-undang serta untuk menguji integritas dan tranparansi, maka Kandidat atau Calon
Penyelenggara tertentu juga diwajibkan untuk menyampaikan LHKPN kepada KPK, yaitu antara lain Calon Presiden dan Calon Wakil Presiden
serta Calon Kepala Daerah dan Calon Wakil Kepala Daerah.
F. Kelalaian Dalam Memenuhi Kewajiban LHKPN
Bagi Penyelenggara Negara yang tidak memenuhi kewajiban LHKPN sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1999, maka
berdasarkan Pasal 20 undang-undang yang sama akan dikenakan sanksi administratif sesuai dengan perundang-undangan yang berlaku.

Bahan utama sebagai rujukan dalam pembahasan ini dapat Anda peroleh dari modul 9 Buku Materi Pokok (BMP) Etika Pemerintahan dan buku
lainnya yang relevan.
Setelah Anda materi 7 dan berpartisipasi aktif dalam forum diskusi, Silahkan Anda mempelajari materi yang akan dibahas pada materi 8 :
"Peniup Peluit (whistle blower) dan Pemberlakuan Peraturan dalam Pengendalian Etika" yang akan datang!