Anda di halaman 1dari 22

LAPORAN KASUS

“Kehamilan Ektopik Terganggu”

Dokter Pembimbing :
dr. Aranda Tri, Sp.OG

Disusun Oleh:

Isya Thulrahmi
Rizky Pratiwi

KEPANITRAAN KLINIK OBSTETRI GINEKOLOGI


FAKULTAS KEDOKTERAN DAN KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JAKARTA
RUMAH SAKIT ISLAM JAKARTA CEMPAKA PUTIH
2019

1
KATA PENGANTAR

Assalamu’ alaikum Wr. Wb.


Alhamdulillah, Puji Syukur penyusun panjatkan kehadiran Allah SWT atas
terselesaikannya laporan kasus yang berjudul “Kehamilan Ektopik Terganggu”.
Laporan kasus ini disusun dalam rangka meningkatkan pengetahuan
sekaligus memenuhi tugas kepaniteraan klinik Stase Obstetri dan Ginekologi di RS.
Islam Jakarta Pusat. Pada kesempatan ini, penyusun ingin mengucapkan terima
kasih kepada :
1. dr. Aranda Tri, Sp.OG, sebagai pembimbing
2. Orang tua, yang selalu mendoakan untuk keberhasilan penyusun
3. Teman-teman sejawat atas dukungan dan kerjasamanya.
Semoga dengan adanya referat ini dapat menambah wawasan ilmu
pengetahuan dan berguna bagi penyusun maupun peserta didik lainnya.
Penyusun menyadari bahwa referat ini masih jauh dari sempurna, oleh
karena itu, saran kritik yang membangun sangat dibutuhkan untuk membuat referat
yang lebih baik di masa yang akan datang.
Terima kasih.
Wassalamu’ alaikum Wr. Wb.

Jakarta, 6 September 2019

Penyusun

2
LAPORAN KASUS

1. Identitas Pasien
Nama : Ny. D
Usia : 20 tahun
Status : Menikah
Alamat : Jl. Tn. Tinggi Sawah 01/27 Jakarta Pusat
Agama : Islam
Pendidikan : SLTA
Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga
Tanggal MRS : 2 September 2019

2. Anamnesis
a. Keluhan Utama
Pasien hamil 5 minggu G2P1A0 datang dengan keluhan nyeri perut bagian
bawah sejak 1 hari yang lalu.

b. Keluhan Tambahan
Keluhan disertai dengan keluarnya flek kecoklatan.

c. Riwayat Penyakit Sekarang


Ibu hamil 5 minggu G2P1A0 datang dengan keluhan nyeri perut bagian
bawah sejak 1 hari yang lalu. Nyeri dirasakan berawal hanya pada perut
bagian kanan, kemudian nyeri semakin dirasakan pada seluruh perut bagian
bawah. Keluhan nyeri disertai dengan adanya keluar flek yang berwarna
kecoklatan. Pasien juga mengeluhkan adanya keluhan mual tapi tidak
muntah. BAB dan BAK dalam batas normal.

d. Riwayat Penyakit Dahulu / Operasi


Pasien belum pernah menjalani operasi sebelumnya
Riwayat penyakit Hipertensi (-), DM (-), Penyakit Jantung (-)

3
e. Riwayat Penyakit Keluarga
Pada keluarga tidak terdapat keluhan serupa dan tidak didapatkan adanya
riwayat penyakit hipertensi, diabetes mellitus maupun penyakit jantung.

f. Riwayatan Pengobatan
Pasien belum pernah berobat sebelumnya.

g. Riwayat Alergi
Pasien menyangkal adanya alergi terhadap makanan, minuman, obat-obatan
maupun cuaca.

h. Riwayat Psikososial
Pola makan 3x/hari. Kebiasaan konsumsi minuman beralkohol disangkal.
Pasien jarang berolahraga. Pasien tinggal bersama suami.

3. Status Obstetrik
a. Riwayat Perkawinan : pernikahan pertama.
b. Riwayat Haid :
- HPHT : 26 Juli 2019
- Menarche usia : 12 tahun
- Siklus : teratur, 28 hari
- Lama haid : 6-7 hari
c. Taksiran persalinan : 2 April 2020
d. Riwayat persalinan : G2P1A0 H5minggu

Gravida (2), Aterm (1), Prematur (-), Abortus (-), Anak Hidup (1), Sectio Caesarea
(-)
No Tempat Penolong Tahun Usia Jenis Penyulit JK BB Keadaan
Bersalin Ke- Persalinan (L/P) (gr)
hamilan
1 Rumah Dokter 2018 40 Spontan - L 2800 Baik
Sakit minggu

4
4. Pemeriksaan Fisik
 Keadaan umum : Sakit sedang
 Kesadaran : Composmentis
 Antropometri
Berat badan : 55 kg
Tinggi badan : 156 cm
IMT : 22,6 kg/m2
 Tanda Vital
Tekanan Darah : 100/60 mmHg
Nadi : 112 x/menit, reguler
Laju Pernapasan : 20 x/menit, spontan
Suhu : 37◦C
 Status Generalis
o Pemeriksaan Kepala
Kepala : Normocephal
Mata : Konjungtiva anemis (+/+), sklera ikterik (-/-)
Mulut : Mukosa bibir lembab, bibir pucat (+)
Leher : Pembesaran KGB (-)
o Pemeriksaan Thorax
Paru Paru
Inspeksi : Simetris (+/+)
Palpasi : Vokal fremitus (+/+)
Perkusi : Sonor (+/+)
Auskultasi : Ves (+/+), RBH (-/-), RBK (-/-),Wh (-/-)
Jantung
Inspeksi : Terlihat Ictus Cordis (-/-)
Palpasi : Teraba Ictus Cordis (-/-)
Perkusi : Redup (+/+)
Auskultasi : S1&S2 murni, regular, murmur(-), gallop(-)

5
o Pemeriksaan Abdomen
Inspeksi : cembung (-), linea nigra (-), striae gravidarum (-)
Auskultasi : bising usus 8x/menit
Palpasi : nyeri tekan abdomen (+)

x x
x

Perkusi : timpani
o Ekstremitas
Superior : Hangat (+), edema (-), sianosis (-), CRT < 2 detik
Inferior : Hangat (+), edema (-), sianosis (-), CRT < 2 detik

 Status Obstetri
TFU : belum dapat dinilai
TBJ : belum dapat dinilai
His :-
DJJ : belum dapat dinilai
Inspeksi : linea nigra (-), striae gravidarum (-)
Palpasi : nyeri tekan abdomen (+)
Leopold I :-
Leopold II :-
Leopold III :-
Leopold IV :-
Pemeriksaan Dalam / VT : tidak dilakukan

5. Pemeriksaan Penunjang :
Hasil Pemeriksaan Laboratorium 2 September 2019 pukul 16:59
Pemeriksaan Hasil Satuan Nilai Rujukan
HEMATOLOGI RUTIN
Hemoglobin 8.9 g/dL 11.7-15.5
Jumlah leukosit 11.94 103/µL 3.60-11.00

6
Hematokrit 25 % 35-47
Jumlah trombosit 253 103/µL 150-440
Eritrosit 3.08 106/µL 3.80-5.20
MCV/VER 80 fL 80-100
MCH/HER 29 pg 26-34
MCHC/KHER 36 g/dL 32-36
ENDOKRINOLOGI
REPRODUKSI-
GESTASI
Tes Kehamilan (+)

Hasil Pemeriksaan Laboratorium 2 September 2019 pukul 18:39


Pemeriksaan Hasil Satuan Nilai Rujukan
HEMATOLOGI RUTIN
Hemoglobin 8.7 g/dL 11.7-15.5
Jumlah leukosit 11.72 103/µL 3.60-11.00
Hematokrit 25 % 35-47
Jumlah trombosit 266 103/µL 150-440
Eritrosit 3.05 106/µL 3.80-5.20
MCV/VER 81 fL 80-100
MCH/HER 29 pg 26-34
MCHC/KHER 35 g/dL 32-36

Hasil Pemeriksaan Laboratorium 2 September 2019 pukul 23:14


Pemeriksaan Hasil Satuan Nilai Rujukan
HEMATOLOGI RUTIN
Hemoglobin 8.3 g/dL 11.7-15.5
Jumlah leukosit 12.72 103/µL 3.60-11.00
Hematokrit 23 % 35-47
Jumlah trombosit 225 103/µL 150-440
Eritrosit 2.89 106/µL 3.80-5.20
MCV/VER 80 fL 80-100

7
MCH/HER 29 pg 26-34
MCHC/KHER 36 g/dL 32-36

Hasil Pemeriksaan Laboratorium 3 September 2019 pukul 00:59


Pemeriksaan Hasil Satuan Nilai Rujukan
HEMATOLOGI RUTIN
Hemoglobin 7.7 g/dL 11.7-15.5
FAAL HEMOSTASIS
Masa Perdarahan (IVY) 2.00 menit 1.00 – 3.00
Masa Pembekuan 4.00 menit 4.00 – 6.00
IMUNOSEROLOGI
HEPATITIS
HBsAg (Kualitatif) (-) Negatif (-) Negatif ICT

6. Resume
Pasien ibu hamil G2P1A0 H5minggu datang dengan keluhan nyeri perut
bagian bawah sejak 1 hari yang lalu. Nyeri dirasakan berawal hanya pada perut
bagian kanan, kemudian nyeri semakin dirasakan pada seluruh perut bagian
bawah. Keluhan nyeri disertai dengan adanya keluar flek yang berwarna
kecoklatan. Pasien juga mengeluhkan adanya keluhan mual tapi tidak muntah.
Pada pemeriksaan fisik didapatkan konjungtiva anemis dan nyeri tekan
abdomen (+). Hasil pemeriksaan kehamilan dengan metode ICT menunjukkan
hasil (+).

7. Diagnosis Banding
- Abortus Insipiens
Pasien dicurigai mengalami abortus insipiens dikarenakan gejala yang
dialami yaitu adanya nyeri perut bagian bawah. Namun, diagnosis
abortus insipiens disingkirkan karena perdarahan yang dialami pasien
hanya berupa flek kecoklatan, sedangkan untuk abortus insipiens darah
yang keluar cukup banyak.

8
- Pelvic Inflammatory Disease (PID)
Radang panggul memiliki gejala salah satunya adalah nyeri perut
bagian bawah, tetapi pada radang panggul biasanya didapatkan saat
haid dan jarang terjadi setelah amenorea.
- Appendicitis
Lokasi nyeri pada appendicitis sama dengan permulaan nyeri yang
diarasakan oleh pasien yaitu nyeri pada perut bagian bawah. Pada
appendicitis juga

8. Rencana Tindakan
- Laparotomi
- Penyediaan PRC 500cc
Sebelum dilakukan laparotomi, pasien disarankan untuk diperiska melalui
USG agar diagnosis yang telah ditetapkan berdasarkan anamnesis,
pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang melalui hematologi rutin dapat
dipertajam dengan hasil dari USG. Hasil dari USG akan memberikan gambaran
yang pasti pasien mengalami kehamilan ektopik terganggu. Hasil yang
diharapkan adalah adanya kantung gestasi yang terdapat di luar kavum uterus.
Selain pemeriksaan USG, pemeriksa harus melakukan pemeriksaan dalam
untuk memeriksa apakah adanya pembukaan dan keadaan serviks. Pada hasil
pemeriksaan dalam untuk pasien KET, akan didapatkan nyeri goyang porsio
(+) serta pada kavum Douglasi didapatkan adanya penonjolan.

9. Diagnosis Kerja
G2P1A0 H5 minggu dengan abdominal pain susp. KET + anemia

10. Prognosis
Quo Ad Vitam : ad Bonam
Quo Ad Functionam : Dubia ad Bonam
Quo Ad Sanationam : Dubia ad Bonam

9
11. Laporan Operasi
Tanggal operasi : 3 Agustus 2019
Waktu Operasi : 08.00 – 09.00 WIB (60 menit)
Diagnosa pre-operatif : G2P1A0 H5 minggu dengan abdominal pain susp.
KET + anemia
Diagnosa post-operatif : P1A1 dengan abdominal pain ec KET + anemia
Tindakan pembedahan : Laparotomi

12. Follow Up

Tanggal/Jam Follow Up

03– 09– 2019 S : - Post laparotomi

(17.00 WIB) - nyeri pada bekas luka jahitan

O : - TD : 100/70 mmHg

- HR : 111 x/menit

- RR : 24 x/menit

- T : 36,6 ºC

A : post laparotomi KET

P : - Ketorolac iv 3x1

- Ceftriaxone iv 1x2gr

- Transfusi darah

Tanggal/Jam Follow Up

04– 09– 2019 S : - nyeri bekas luka jahitan

(06.00 WIB) - kentut (-), BAB (-)

O : - TD : 110/80 mmHg

- HR : 100 x/menit

10
- RR : 20 x/menit

- T : 36,6 ºC

A : post laparotomi KET

P : - Ketorolac iv 3x1

Tanggal/Jam Follow Up

04– 09– 2019 S : - nyeri bekas luka jahitan

(10.00 WIB) O : - TD : 110/70 mmHg

- HR : 110 x/menit

- RR : 18 x/menit

- T : 37 ºC

A : post laparotomi ec KET

P : - Ketorolac iv

Tanggal/Jam Follow Up

04– 09– 2019 S : - nyeri bekas luka jahitan

(17.00 WIB) - mules namun tidak bisa BAB

O : - TD : 100/70 mmHg

- HR : 115 x/menit

- RR : 20 x/menit

- T : 36,5ºC

A : post laparotomi ec KET

P : - Ketorolac iv

11
Tanggal/Jam Follow Up

05– 09– 2019 S : - nyeri bekas luka jahitan

(05.30 WIB) - belum bisa BAB

O : - TD : 110/70 mmHg

- HR : 98 x/menit

- RR : 18 x/menit

- T : 37,2ºC

A : post laparotomi ec KET

P : rencana pulang

12
TINJAUAN PUSTAKA

Definisi
Ialah suatu kehamilan yang pertumbuhan sel telur yang telah dibuahi tidak
menempel pada dinding endometrium kavum uteri. Lebih dari 95% berada di
saluran telur.

Di Indonesia kejadian 5-6 per seribu kehamilan. Patofisiologi tersering


terjadinya kehamilan ektopik karena sel telur yang sudah dibuahi dalam
perjalanannya menuju endometrium tersendat sehingga embrio sudah berkembang
sebelum mencapai kavum uteri dan akibatnya akan tumbuh di luar rongga rahim.
Bila tempat nidasi tersebut tidak dapat menyesuaikan diri dengan besarnya buah
kehamilan, akan terjadi ruptur dan menjadi kehamilan ektopik yang mengganggu.

Berdasarkan lokasinya, dapat dibagi menjadi 5 sebagai berikut:


a. Kehamilan tuba, meliputi > 95% yang terdiri atas: pars ampularis (55%),
pars ismika (25%), pars fimbriae (17%), dan pars interstisialis (2%).
b. Kehamilan ektopik lain (<5%) antara lain terjadi di serviks uterus, ovarium,
atau abdominal.
c. Kehamilan intraligamenter, jumlahnya sangat sedikit.
d. Kehamilan heterotopik, merupakan kehamilan ganda di mana satu janin
berada di kavum uteri sedangkan yang lain merupakan kehamilan ektopik.
Kejadian sekitar 1 per 15.000-40.000 kehamilan.
e. Kehamilan ektopik bilateral. Jarang terjadi.

Etiologi
Faktor-faktor yang menyebabkan tejadinya hambatan dalam nidasi embrio
ke endometrium menjadi penyebab kehamilan ektopik, antara lain :
a. Faktor tuba
Adanya peradangan atau infeksi pada tuba menyebabkan lumen tuba
menyempit atau buntu. Keadaan uterus yang mengalami hipoplasia dan saluran
tuba yang berkelok-kelok panjang dapat menyebabkan fungsi silia tuba tidak

13
berfungsi dengan baik. Juga pada keadaan pascaoperasi rekanalisasi tuba dapat
merupakan predisposisi terjadinya kehamilan ektopik.
Faktor tuba yang lain ialah adanya kelainan endometrosiosis tuba atau
divertikel saluran tuba yang bersifat kongenital.
Adanya tumor di sekitar saluran tuba, misalnya mioma uteri atau tumor ovarium
yang menyebabkan perubahan bentuk dan patensi tuba, juga dapat menjadi
etiologi kehamilan ektopik.

b. Faktor abnormalitas dari zigot


Apabila tumbuh terlalu cepat atau tumbuh dengan ukuran besar, maka zigot
akan tersendat dalam perjalanan pada saat melalui tuba, kemudian terhenti dan
tumbuh di saluran tuba.

c. Faktor ovarium
Bila ovarium memproduksi ovum dan ditangkap oleh tuba yang
kontralateral, dapat membutuhkan proses khusus atau waktu yang lebih panjang
sehingga kemungkinan terjadinya kehamilan ektopik lebih besar.

d. Faktor hormonal
Pada akseptor, pil KB yang hanya mengandung progesteron dapat
mengakibatkan gerakan tuba melambat. Bila terjadi pembuahan dapat
menyebabkan terjadinya kehamilan ektopik.

e. Faktor lain
Termasuk pemakai IUD di mana proses peradangan yang dapat timbul pada
endometrium dan endosalping dapat menyebabkan terjadinya kehamilan
ektopik. Faktor umur penderita yang sudah menua dan faktor perokok juga
sering dihubungkan dengan terjadinya kehamilan ektopik.

Patologi
Proses implantasi ovum yang dibuahi, yang terjadi di tuba pada dasarnya
sama dengan halnya di kavum uteri. Telur di tuba bernidasi secara kolumner atau

14
interkolumner. Pada yang pertama telur berimplantasi pada ujung atau sisi jonjot
endosalping. Perkembangan telur selanjutnya dibatasi oleh kurangnya vaskularisasi
dan biasanya telur mati secara dini dan kemudian diresobsi. Pada nidasi secara
interkolumner telur bernidasi antara 2 jonjot endosalping. Setelah tempat nidasi
tertutup, maka telur dipisahkan dari lumen tuba oleh lapisan jaringan yang
menyerupai desidua yang dinamakan pseudokapsularis. Karena pembentukan
desidua di tuba tidak sempurna malahan kadang – kadang tidak tampak, dengan
mudah villi korialis menembus endosalping dan masuk ke dalam lapisan otot – otot
tuba dengan merusak jaringan dan pembuluh darah. Perkembangan janin
selanjutnya bergantung pada beberapa faktor, seperti tempat implantasi, tebalnya
dinding tuba, dan banyaknya perdarahan yang terjadi oleh invasi trofoblas.
Di bawah pengaruh hormone estrogen dan progesterone dari korpus luteum
graviditatis dan trofoblas, uterus menjadi besar dan lembek, endometrium dapat
berubah pula menjadi desidua. Dapat ditemukan pula perubahan – perubahan pada
endometrium yang disebut fenomena Arias – Stella. Sel epitel membesar dengan
intinya hipertrofik, hiperkromatik, lobuler, dan berbentuk tak teratur. Sitoplasma
sel dapat berlubang – lubang atau berbusa, dan kadang – kadang ditemukan mitosis.
Perubahan tersebut hanya ditemukan pada sebagian kehamilan ektopik.
Setelah janin mati, desidua dalam uterus mengalami degenerasi dan
kemudian dikeluarkan berkeping – keeping, tetapi kadang – kadang dilepaskan
secara utuh. Perdarahan yang dijumpai pada kehamilan ektopik terganggu berasal
dari uterus dan disebabkan oleh pelepasan desidua yang degeneratif.
Mengenai nasib kehamilan dalam tuba terdapat beberapa kemungkinan.
Karena tuba bukan tempat untuk pertumbuhan hasil konsepsi, tidak mungkin janin
bertumbuh secara utuh seperti dalm uterus. Sebagian besar kehamilan tuba
terganggu pada umur kehamilan antara 6 sampai 10 minggu.
Pada proses awal kehamilan apabila embrio tidak bisa mencapai
endometrium untuk proses nidasi, maka embrio dapat tumbuh di saluran tuba dan
kemudian akan mengalami beberapa proses seperti pada kehamilan pada umumnya.
Karena tuba bukan merupakan suatu media yang baik untuk pertumbuhan embrio
atau mudigah, maka pertumbuhan dapat mengalami beberapa perubahan dalam
bentuk:

15
 Hasil konsepsi mati dini atau diresorbsi
Pada implantasi secara kolumner, ovum yang dibuahi cepat mati karena
vaskularisasi kurang, dan dengan mudah terjadi resobsi total. Dalam keadaan ini
penderita tidak mengeluh apa – apa, hanya haidnya terlambat untuk beberapa hari.
 Abortus ke dalam lumen tuba (Abortus tubaria)
Perdarahan yang terjadi karena pembukaan pembuluh – pembuluh darah
oleh villi koriales pada dinding tuba di tempat implantasi dapat melepaskan
mudigah dari dinding tersebut bersama – sama dengan robeknya pseudokapsularis.
Pelepasan ini dapat terjadi sebagian atau seluruhnya, tergantung pada derajat
perdarahan yang timbul. Bila pelepasan meneyeluruh, mudigah dengan selaputnya
dikeluarkan dalam lemen tuba dan kemudian didorong oleh darah ke arah
ostiumtuba abdominal. Frekuensi abortus dalam tuba tergantung pada impalantasi
telur yang dibuahi. Abortus ke lumen tuba lebih sering terjadi pada kehamilan pars
ampullaris, sedangkan penembusan dinding tuba oleh villi koriales ke arah
peritoneum biasanya terjadi pada kehamilan pars ismika. Perbedaan ini disebabkan
karena lumen pars ampullaris lebih luas, sehingga dapat mengikuti lebih mudah
pertumbuhan hasil konsepsi dibandingkan dengan bagian ismus dengan lumen
sempit.
Pada pelepasan hasil konsepsi yang tak sempurna pada abortus, perdarahn
akan terus berlangsung, dari sedikit – sedikit oleh drah, sehingga berubah menjadi
mola kruenta. Perdarahan yang berlangsung terus menyebabkan tuba membesar dan
kebiru – biruan (hematosalping), dans elanjutnya darah mengalir ke rongga perut
melalui ostium tuba. Darh ini akan berkumpul di kavum douglas dan akan
membentuk hematokel retrouterina.
Ruptur dinding tuba
Ruptur tuba sering terjadi bila ovum berimplantasi pada ismus dan biasanya
pada kehamilan muda. Sebalikya rupture pada pars interstisialis terjadi pada
kehamilan yang lebih lanjut. Faktor utama yang menyebabkan rupture adalah
penembusan villi koriales ke dalam lapisan muskularis tuba terus ke peritoneum.
Ruptur dapat terjadi secara spontan, atau karena trauma ringan seperti koitus dan
pemeriksaan viginal. Dalam hal ini akan terjadi perdarahan dalam rongga perut,
kadang – kadang sedikit, kadang – kadang banyak, sampai menimbilkan syok dan

16
kematian. Bila pseudokapsularis ikut pecah, maka terjadi pula perdarahn dalam
lumen tuba. Darah dapat mengalir ke dalam rongga perut melalui ostium tuba
abdominale.
Bila pada abortus dalam tuba ostium tuba tersumbat,, rupture sekunder dapat
terjadi. Dalam hal ini dinding tuba, yang telah menipis oleh invasi trofoblas, pecah
karena tekanan darah dalam tuba. Kadang – kadang rupture tejadi di arah
ligamentum latum dan terbentuk hematoma intraligamenter antara 2 lapisan
ligamentum itu. Jika janin hidup terus, terdapat kehamilan intraligamenter.
Pada rupture ke rongga perut seluruh janin dapat keluar dari tuba, tetapi bila
robekan tuba kecil, perdarahan terjadi tanpa hasil konsepsi dikeluarkan dari tuba,
tetapi bila robekan tuba kecil, perdarahn terjadi tanpa hasil konsepsi dikeluarkan
dari tuba. Bila penderita tidak dioperasi, penderita dapat meninggal karena
peradarahan, nasib janin bergantung pada kerusakan yang diderita dan tuanya
kehamilan. Bila janin mati dan masih kecil, dapat diresobsi seluruhnya, bila besar
kelak dapat diubah menjadi litopedion.
Janin yang dikeluarkan dari tuba dengan masih diselubungi oleh kantong
amnion dan denga plasenta masih utuh, kemungkinan tumbuh terus dalm rongga
perut, sehingga akan terjadi kehamilan abdominal sekunder. Untuk mencukupi
kebutuhan makanan bagi janin, palsenta dari tuba akan meluaskan impalntasinya
ke jaringan sekitarnya, mislanya ke sebagian uterus, ligamentum latum, dasar
panggul dan usus.

Gambaran Klinik
Pada umumnya penderita menunjukkan gejala-gejala kehamilan muda, dan
mungkin merasa nyeri sedikit di perut bagian bawah yang tidak seberapa. Pada
pemeriksaan vaginal uterus membesar dan lembek walaupun mungkin tidak sebesar
tuanya kehamilan. Tuba yang mengandung hasil konsepsi karena lembeknya sukar
diraba pada pemeriksaan bimanual. Pada pemeriksaan USG sangat membantu
menegakkan diagnosis kehamilan ini apakah intrauterus atau kehamilan ektopik.
Untuk itu memeriksakan kehamilan muda sebaiknya dilakukan pemeriksaan USG.
Bila kehamilan ektopik mengalami penyulit atau terjadi ruptur pada tuba
tempat lokasi nidasi kehamilan ini akan memberi gejala dan tanda yang khas yaitu

17
timbulnya sakit perut mendadak yang kemudian disusul dengan syok atau pingsan.
Ini adalah pertanda khan terjadinya kehamilan ektopik yang terganggu.
Gejala dan tanda bergantung pada lamanya kehamilan ektopik terganggu,
abortus atau ruptur tuba, tuanya kehamilan, derajat perdarahan yang terjadi,
keadaan umum penderita sebelum hamil.
Nyeri merupakan keluhan utama pada kehamilan ektopik terganggu. Pada
ruptur tuba nyeri perut bagian bawah terjadi secara tiba-tiba dan intensitasnya
disertai dengan pedarahan yang menyebabkan penderita pingsan dan masuk ke
dalam syok. Biasanya pada abortus tuba nyeri tidak seberapa hebat dan tidak terus-
menerus. Rasa nyeri mula-mula terdapat pada satu sisi, tapi setelah darah masuk ke
dalam rongga perut, rasa nyeri menjalar ke bagian tengah atau ke seluruh perut
bawah. Darah dalam rongga perut dapat merangsang difragma, sehingga
menyebabkan nyeri bahu dan bila membentuk hematokel retrouterin, menyebabkan
defekasi nyeri.
Perdarahan pervaginam juga tanda penting kedua pada kehamilan ektopik
yang terganggu. Hal ini menunjukkan kematian janin, dan berasal dari kavum uteri
karena pelepasan desidua. Perdarahan yang berasal dari uterus biasanya tidak
banyak dan berwarna coklat tua. Frekuensi perdarahan dari 51 – 93 %. Perdarahan
berarti gangguan pembentukan human chorionic gonadotropin.
Amenorea juga merupakan tanda penting walaupun sering tidak jelas,
karena gejala dan tanda bisa langsung terjadi beberapa saat setelah terjadi nidasi
pada saluran tuba yang kemudian disusul dengan ruptur tuba karena tidak bisa
menampung peertumbuhan mudigah selanjutnya. Lamanya amenorea bergantung
pada kehidupan janin, sehingga dapat bervariasi. Sebagian penderita tidak
mengalami ameorea karena kematian janin terjadi sebelum haid berikutnya.
Frekuensi berkisar 23 – 97 %.
Pada kehamilan ektopik terganggu ditemukan pada pemeriksaan vaginal
bahwa usaha menggerakkan serviks uteri menimbulkan rasa nyeri, yang disebut
dengan nyeri goyang (+) atau slinger pijn. Juga kavum Douglasi menonjol dan nyeri
pada perabaan oleh karena terisi oleh darah.

18
Diagnosis
Kesukaran membuat diagnosis yang pasti pada kehamilan ektopik belum
terganggu demikian besarnya, sehingga sebagian besar penderita mengalami
abortus tuba atau ruptur tuba sebelum keadaan menjadi jelas. Bila diduga ada
kehamilan ektopik yang belum terganggu, penderita segera dirawat di rumah sakit.
Alat bantu diagnostik yang dapat digunakan ialah ultrasonografi, laparoskopi, atau
kuldoskopi.
Pada jenis mendadak tidak banyak mengalami kesukaran, tapi pada jenis
menahun atau atipik bisa sulit sekali. Untuk mempertajam diagnosis, maka pada
tiap perempuan dalam masa reproduksi dengan keluhan nyeri perut bagian bawah
atau kelainan haid, kemungkinan kehamilan ektopik harus dipikirkan. Umumnya
dengan anamnesis yang teliti dan pemeriksaan yang cermat diagnosis dapat
ditegakkan, walaupun biasanya alat bantu diagnostik seperti kuldosentesis, USG,
dan laparoskopi masih diperlukan anamnesis. Haid biasanya terlambat untuk
beberapa waktu dan kadang-kadang terdapat gejala subjektif kehamilan muda.
Nyeri perut bagian bawah, nyeri bahu, tenesmus, dapat dinyatakan. Perdarahan
pervaginam terjadi setelah nyeri perut bagian bawah.
Pemeriksaan laboratorium dilakukan dengan pemeriksaan hemoglobin dan
jumlah sel darah merah berguna dalam menegakkan diagnosis kehamilan ektopik
terganggu, terutama bila ada tanda-tanda perdarahan dalam rongga perut.
Pemeriksaan hemoglobin dan hematokrit dapat dilakukan secara serial dengan jarak
satu jam selama 3 kali berturut-turut. Bila ada penurunan hemoglobin dan
hematokrit dapat mendukung diagnosis kehamilan ektopik terganggu. Pada jenis
ini kasus tidak mendadak ditemukan anemia; tapi penurunan hemoglobin baru
terlihat setelah 24 jam.
Bila leukosit meningkat, menunjukkan adanya perdarahan. Untuk membedakan
kehamilan ektopik dari infeksi pelvik, dapat diperhatian jumlah leukosit. Jumlah
leukosit yang melebihi 20.000 biasanya menunjuk pada keadaan yang terakhir.
Diagnosis kehamilan ektopik sering keliru dengan abortus insipiens atau abortus
inkompletus yang kemudian dilakukan kuretase. Bila hasil kuretase meragukan
jumlah sisa hasil konsepsinya, maka kita perlu curiga terjadinya kehamilan ektopik
yang gejala dan tandanya tidak khas.

19
Kuldosintesis adalah suatu cara pemeriksaan untuk mengetahui apakah
dalam kavum Douglas ada darah. Cara ini sangat berguna dalam membantu
membuat diagnosis kehamilan ektopik. Kuldosentesis dilaksanakan dengan urutan:
- Penderita dibaringkan dalam posisi litotomi
- Vulva dan vagina dibersihkan dengan antiseptik
- Spekulum dipasang dan bibir belakang porsio dijepit dengan cunam serviks;
dengan traksi ke depan sehingga forniks posterior tampak.
- Jarum spinal no. 18 ditusukkan ke dalam kavum Douglas dan dengan
semprit 10 ml dilakukan pengisapan.
- Bila ada pengisapan ditemukan darah, maka isinya disemprotkan pada kain
kasa dan perhatikan darah yang dikeluarkan:
o Darah segar berwarna merah yang dalam beberapa menit akan
membeku, darah ini berasal dari arteri atau vena yang tertusuk.
o Darah tua berwarna coklat sampai hitam yang tidak membeku, atau
yang berupa bekuan kecil-kecil; darah ini menunjukkan adanya
hematokel retrouterina.
Laparoskopi hanya digunakan sebagai alat bantu diagnostik terakhir untuk
kehamilan ektopik apabila hasil penilaian prosedur diagnostik yang lain
meragukan. Melalui prosedur laparoskopik, alat kandungan bagian dalam dapat
dinilai. Secara sistematis dinilai keadaan uterus, ovarium, tuba, kavum Douglas,
dan ligamentum latum. Adanya darah dalam rongga pelvis mungkin mempersulit
visualisasi alat kandungan, tetapi hal ini menjadi indikasi untuk dilakukan
laparotomi. Diganosis Differential dari Kehamilan ektopik yaitu :
1. Infeksi pelvic
Gejala yang menyertai infeksi pelvic biasanya timbul waktu haid dan jarang
setelah mengalami amenore. Nyeri perut bagian bawah dan tahanan yang dapat
diraba pada pemeriksaan viginal pada umumnya bilateral. Pada infeksi pelvic
perbedaan suhu rectal dan ketiak melebihi 0,5 derajat celcius, selain itu
leukositosis lebih tinggi daripada kehamilan ektopik dan tes kehamilan
negative.

20
2. Abortus imminens atau insipiens
Perdarahan lebih banyak dan lebih merah sesudah amenore, rasa nyeri yang
lebih kurang berlokasi di daerah median dan bersifat mules lebih menunjukkan
kearah abortus imminens atau permulaan abortus insipiens. Pada abortus tidak
dapat diraba tahanan di smaping atau di belakang uterus, dan gerakan serviks
uteri tidak menimbulkan rasa nyeri.
3. Ruptur korpus luteum
Peristiwa ini biasanya terjadi pada pertengahan siklus haid. Perdarahan
pervaginam tidak ada dan tes kehamilan negative.
4. Torsi kista ovarium dan appendicitis
Gejala dan tanda kehamilan muda, amenore, dan perdarahan pervaginam
biasanya tidak ada. Tumor pada kista ovarium lebih besar dan lebih bulat
daripada kehamilan ektopik. Pada appendicitis tidak ditemukan tumor dan nyeri
pada gerakan serviks tidak seberapa nyata seperti pada kehamilan ektopik.
Nyeri perut bagian bawah pada appendicitis terletak pada titik McBurney.
Kesalahan diagnosis pada kedua keadaan ini tidak menjadi soal karena
keduanya memerlukan operasi juga.

Pengelolaan Kehamilan Ektopik


Umumnya adalah laparotomi. Hal yang harus diperhatikan dan
dipertimbangkan dalam tindakan; kondisi penderita saat itu, keinginan penderita
akan fungsi reproduksinya, lokasi kehamilan ektopik, kondisi anatomik organ
pelvis, kemampuan teknik bedah mikro dokter operator, dan kemampuan teknologi
fertilisasi invitro setempat. Hal ini menentukan apakah perlu dilakukan
salpingektomi pada kehamilan tuba, atau dapat dilakukan pembedahan konservatif
dalam arti hanya dilakukan salpingostomi atau reanastomosis tuba. Bila penderita
dalam keadaan syok, lebih baik dilakukan salpingektomi.

Prognosis
Kematian karena kehamilan ektopik cenderung turun dengan diagnosis dini
dan persediaan darah yang cukup. Akan tetapi bila pertolongan terlambat, angka
kematian dapat tinggi.

21
Umumnya kelainan yang menyebabkan kehamilan ektopik bersifat
bilateral. Sebagian perempuan menjadi steril setelah mengalami kehamilan ektopik
lagi pada tuba yang lain. Angka kehamilan ektopik berulang dilaporkan antara 0%-
14,6%.

Macam-Macam Kehamilan Ektopik


 Kehamilan pars interstisialis tuba
 Kehamilan ektopik ganda
 Kehamilan ovarial
 Kehamilan servikal
 Kehamilan ektopik kronik (hematokel)

Pemeriksaan USG pada Kehamilan Ektopik


Struktur kantong gestasi intrauterin dapat dideteksi mulai kehamilan 5 minggu,
diameter sudah mencapai 5 – 10 mm. Gambar USG kehamilan ektopik sangat
bervariasi bergantung pada usia kehamilan, ada tidaknya gangguan kehamilan
(ruptur, abortus), serta banyak dan lamanya perdarahan intraabdomen.
Diagnosis pasti kehamilan ektopik secara USG hanya bisa ditegakkan bila
terlihat kantong gestasi berisi mudigah/janin hidup yang letaknya di luar kavum
uteri. Uterus mungkin besarnya normal, atau mengalami sedikit pembesaran
yang tidak sesuai dengan usia kehamilan. Endometrium menebal ekogenik
sebagai akibat reaksi desidua.

22