Anda di halaman 1dari 26

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

(RPP)

Sekolah : SMA Negeri 1 Pantai Labu


Mata Pelajaran : Biologi
Kelas/Semester : XII / Genap
Materi Pokok : Pola-pola Hereditas
Alokasi Waktu : 4 Minggu x 4 Jam Pelajaran @45 Menit

I. Kompetensi Inti
 KI 3: Memahami, menerapkan, dan menganalisis pengetahuan faktual, konseptual, prosedural, dan
metakognitif berdasarkan rasa ingin tahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan
humaniora dengan wawasan kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban terkait penyebab
fenomena dan kejadian, serta menerapkan pengetahuan prosedural pada bidang kajian yang spesifik
sesuai dengan bakat dan minatnya untuk memecahkan masalah
 KI4: Mengolah, menalar, dan menyaji dalam ranah konkret dan ranah abstrak terkait dengan
pengembangan dari yang dipelajarinya di sekolah secara mandiri, bertindak secara efektif dan kreatif,
serta mampu menggunakan metode sesuai kaidah keilmuan

II. Kompetensi Dasar dan Indikator Pencapaian Kompetensi


Kompetensi Dasar Indikator
3.6 Menganalisis pola-pola hereditas pada 3.6.1 Menyimpulkan pola pewarisan sifat non Mendelian
mahluk hidup didasarkan pada hasil pengamatan adanya kenyataan
sifat-sifat pada anak yang tidak sama atau menyimpang
dari kedua orang tuanya
3.6.2 Menerapkan konsep gen letal, pautan, pautan sex,
pindah silang dan gagal berpisah dalam menyelesaikan
persoalan dengan latihan soal
3.6.3 Mengaitkan adanya perbedaan variasi dalam satu
keturunan dengan pola pewarisan sifat Mendelian
3.6.4 Menyimpulkan bahwa ada pewarisan sifat non
Mendelian
4.6 Menyajikan hasil penerapan pola-pola 4.6.1 Menerapkan pola-pola hereditas dalam perhitungan
hereditas dalam perhitungan peluang dari peluang dari persilangan yang melibatkan peristiwa
persilangan yang melibatkan peristiwa pautan dan pindah silang
pautan dan pindah silang 4.6.2 Menyajikan hasil penerapan pola-pola hereditas dalam
perhitungan peluang dari persilangan yang melibatkan
peristiwa pautan dan pindah silang

III. Tujuan Pembelajaran


Setelah mengikuti proses pembelajaran, peserta didik diharapkan dapat:
1. Menyimpulkan pola pewarisan sifat non Mendelian didasarkan pada hasil pengamatan adanya
kenyataan sifat-sifat pada anak yang tidak sama atau menyimpang dari kedua orang tuanya
2. Menerapkan konsep gen letal, pautan, pautan sex, pindah silang dan gagal berpisah dalam
menyelesaikan persoalan dengan latihan soal
3. Mengaitkan adanya perbedaan variasi dalam satu keturunan dengan pola pewarisan sifat Mendelian
4. Menyimpulkan bahwa ada pewarisan sifat non Mendelian
5. Menerapkan pola-pola hereditas dalam perhitungan peluang dari persilangan yang melibatkan peristiwa
pautan dan pindah silang
6. Menyajikan hasil penerapan pola-pola hereditas dalam perhitungan peluang dari persilangan yang
melibatkan peristiwa pautan dan pindah silang

IV. Materi Pembelajaran


HEREDITAS PADA MANUSIA

Suatu pewarisan sifat memiliki pola-pola tertentu yang dapat dibaca segala genetika. Pola-pola hereditas tersebut
antara lain meliputi pautan dan pindah silang, determinasi seks, pautan seks, gagal berpisah dan gen letal.

1. Pautan Dan Pindah Silang


Menurut Sutton, apabila gen-gen yang mengendalikan sifat benda bertempat pada kromosom yang sama, gen-
gen itu tidak dapat memisahkan diri secara bebas, terlebih gen-gen yang letak lokusnya berdekatan. Gen-gen itu
memiliki kecenderungan untuk selalu memisahkan bersama-sama. Peristiwa ini disebut pautan. Menurut hukum
Mendel, peristiwa pautan merupakan salah satu penyebab terjadinya penyimpangan pada keturunan.
Jika pada waktu meiosis pasangan kromosom mengalami pindah silang (crossing over), seperangkat kromosom
haploid tidak membawa seluruh gen-gen aslinya. Salah satu kromosom akan kekurangan gen. makin panjang
kromosom, makin banyak terjadi kemungkinan pemisahan gen (pindah silang)
Pada saat pembelahan reduksi (meiosis), tidak semua gen memisah secara bebas, tetapi cenderung selalu
bersama stau bertautan satu dengan lainnya, disebut pautan. Sementara itu, pindah silang merupakan pemisahan
dan pertukaran segmen (bagian kromatid) yang berpasangan antar kromosom homolog yang menghasilkan
kombinasi baru dari sifat tetuanya. Apabila gen letaknya berdekatan, akan terjadi pautan, sedangkan apabila
letaknya berjauhan, akan terjadi pindah silang.
Contohnya, gen GgLl menyebabkan lalat jantan berwarna abu-abu dan bersayap panjang. Adapun gen ggll
menyebabkan lalat betia berwarna hitam dan bersayap pendek. Apabila keduanya dikawinkan akan terjadi
beberapa kemungkinan
a. Tidak terjadi pautan, artinya terjadi pemisahan secara bebas dang en akan berpasangan secara bebas sehingga
akan diperoleh keturunan yang bervariasi, yang berbeda dari kedua induknya.
Perhatikan bagan perkawinan berikut ini
ggllP : GgLl
G : GL gl
Gl , gL
Gl , gl
Jadi perbandingan keturunannya adalah lalat abu-abu bersayap panjang : lalat abu-abu bersayap pendek : lalat
hitam bersayap panjang : lalat hitam bersayap pendek = 1 : 1 : 1 : 1
b. Apabila terjadi pautan, gen-gen yang terletak pada lokus yang sama akan terpaut atau tidak terpisahkan
sehingga gamet yang terbentuk hanya dua, yaitu gen G selalu berpasangan dengan L dang en g selalu
berpasangan dengan l. persilangan adalah sebagai berikut
ggllP : GgLl
G : GL dan gl gl
F1 : GgLl = lalat abu-abu bersayap panjang = 1
ggll = lalat hitam bersayap pendek = 1
c. Apabila terjadi pindah silang pada induk yang heterozigot akan terbentuk empat macam gamet. Akibatnya,
diperoleh keturunan menyimpamg dari induknya yang merupakan kombinasi kedua induknya. Perhatikan bagan
persilangan berikut ini.
ggllP : GgLl
G : GL, Gl, gL, gl gl

Jadi, perbandingan keturunan adalah lalat abu-abu bersayap panjang : lalat abu-abu bersayap pendek : lalat hitam
bersayap panjang : lalat hitam bersayap pendek =
1:1:1:1
Filial tetuanya : GgLl
ggll
Filial rekombinasi : ggLl
Ggll
Nilai pindah silang (NPS) atau disebut juga frekuensi rekombinasi (FR) dapat kita peroleh dengan rumusan
sebagai berikut.
FR =

Ketentuan nilai pindah silang :


50%, terjadi pautan.Apabila NPS
50%, terjadi pindah silangApabila NPS
Jadi, pada perkawinan antara lalat jantan dan lalat betina tersebut terjadi pindah silang.

2. Penentuan Jenis Kelamin (Determinasi Seks)


Setiap jenis organisme yang sudah dapat dibedakan jenis kelaminnya (jantan dan betina) memiliki sepasang
kromosom seks dan autosom di dalam sel-sel tubuhnya. Misalnya, kromosom lalat buah (Drosophila
melanogester) memiliki 4 pasang kromosom yang terdiri atas 3 pasang autosom dan 1 pasng kromosom seks.
Kromosom seks mempengaruhi sifat-sifat kelamin suatu organisme. Pada individu betina terdapat sepasang
kromosom berbentuk batag yang disebut kromosom X. pada individu selain terdapat kromosom X, juga terdapat
pasangan kromosom tersebut yang memiliki ujung bengkok disebut kromosom Y. individu betina diberi symbol
XX dan individu jantan diberi simbul XY. Pada lalat buah (Drosophila melanogester), lalat jantan memiliki
kromosom ZAA + XY, sedangkan lalat betina berkromosom ZAA + XX.
Berdasarkan tipe kelaminnya, ada tiga kelompok makhluk hidup yaitu sebagai berikut
a. Tipe ZW = Abrakas
Tipe ini untuk burung (unggas), kupu-kupu, ikan dan ngengat dengan ketentuan ZW = untuk betina, sedangkan
ZZ = untuk jantan. Pada kelompok ini hewan jantan bersifat homozigot, sedangkan hewan betina adalah
heterozigot.

b. Tipe XO = Protenor
Tipe ini untuk serangga dan belalang dengan ketentuan XO = untuk jantan, sedangkan XX = ubtruk betina. Pada
pengelompokan tipe ini, hewan jantan bersifat heterozigot, sedangkan yang betina bersifat homozigot.

c. Tipe XY
Tipe ini ada pada manusia dan Drosophila melanogester (lalat buah) dengan ketentuan XX = untuk betina
(wanita) dan XY = untuk jantan (pria).
Untuk menentukan jenis kelamin manusia digunakan tipe XY. Ria memiliki kromosom 22AA + XY, sedangkan
wanita memiliki 22AA + XX. Pada sel; kelamin terdapat separuh jumlah kromosom tubuh, yaitu untuk sel telur
adalah 22A + X, sedangkan untuk sperma adalah 22A + X atau 22A + Y.
Dalam percobaannnya, Morgan mengawinkan lalat jantan bermata putih dengan lalat betina bermata merah.
Ternyata, semua keturunannya bermata merah. Sifat mata merah adalah dominant. Pada pembastaran
selanjutnya, keturunan bermata merah disilangkan dengan sesamanya dan diperoleh keturunan 3 lalat bermata
merah dan 1 lalat bermata putih. Anehnya yang bermata putih semuanya jantan. Setelah melakukan percobaan
berulang-ulang, akhirnya Morgan mengambil suatu kesimpulan bahwa
a. Faktor mata dominant terhadap faktor mata putih
b. Gen yang bertanggung jawab atas warna mata itu terkandung dalam
kromosom X
c. Dalam kromosom Y, tidak terdapat alel untuk faktor warna mata. Kemudian, Morgan menyebutkan peristiwa
ini dengan sebutan pautan seks.

3. Pautan Seks (Sex Linkage)


Pautan seks atau Pautan kelamin merupakan peristiwa pewarisan sifat oleh gen yang terdapat pada kromosom
seks. Pautan seks dapat juga dikatakan sebagai pristiwa tergabungnya (terpautnya) suatu sifat pada kromosom
seks.
Contoh pautan seks adalah hemofilia (penyakit yang ditandai darah tidak dapat membeku). Wanita penderita
hemofilia tidak mungkin hidup lama (sampai masa pubertas). Sedangkan pria penderita hemofilia lebih mampu
bertahan hidup . hal ini ternyata terkait dengan pautan seks yang terdapat pada kromosom X.
Laki-laki penderita hemofilia ilahirkan ari seorang ibu yang normal, tetapi membawa siofat hemofilia (karier).
Apabila seorang lali –laki penderita hemofilia dapat bertahan hidup hingga perkawinan, ia akan menurunkan
penyakit tersebut kepada anak-anak wanitanya. Anak-anak wanitanya norma, tetapi membawa sifat hemofilia
dari ayahnya (karier). Anak-anak wanita ini akan mewariskan penyakit hemofilia kepada anak laki-lakinya.
Perhatikan bagan perkawinan berikut
XHYP : XHXh
Ibu Normal (Karier) Ayah Normal
G : XH XH
Xh Y

Dari perkawinan tersebut, kemungkinan dilahirkan 3 anak normal (2 wanita dan 1 pria) dan 1 pria penderita
hemofilia atau 25% anaknya penderita hemofilia.
Apabila anaknya yang wanita (normal karier) menikah dengan pria pendrita mhemofilia keturunannya adalah
sebagai berikut.
XHYP : XHXh
Ibu Karier Ayah Hemofilia
G : XH Xh
Xh Y
Dari perkawinan tersebut, perbandingan jumlah anak yang normal dan yang menderita hemofilia adalah 50 : 50.
pada peristiwa ini, wanita penderita hemofilia biasanya meninggal sebelum dewasa (karena termasuk gen
subletal)
Contoh lain adalah warna mata pada lalat buah (drosophila melanogaster). Pada lalat buah, faktor mata merah
dominant terhadap mata putih. Gen yang bertanggung jawab atas warna mata terpaut pada kromosom X dan
pada kromosom Y tidak terdapat alel pembawa sifat tersebut. perhatikan bagan persilangan berikut .

XmYP : XMXM
(Mata merah) (Mata putih)
G : XM Xm dan Y
F1 : XMXm = betina mata merah
XMY = jantan mata merah
Jika sesame F1 disilangkan maka
XmYP2 : XMXm
(Mata merah) (Mata merah)
G2 : XM XM
Xm Y

Pada persilangan tersebut keturunan yang bermata merah sebanyak 75%, sedangkan yang bermata putih
sebanyak 25%. Selain itu semua betina bermata merah, sedangkan yang jantan ada yang bermata merah dan ada
yang bermata putih.
Buta warna (colour blind) adalah cacat pada mata manusia yang ditandai tidak dapat membedakan warna-warna
tertentu. Hal ini disebabkan adanya disfungsi sel-sel kerucut pada mata atau biasa disebut mata dikromat (mata
yang hanya memiliki dua sel konus). Buta warna banyak diderita oleh pria dibandingkan wanita. Hal ini
disebabkan gen pembawa sifat buta warna terpaut pada kromosom X. pria hanya memiliki satu kromosom X
sehingga apabila terdapat gen pembawa sifat buta warna, ia akan menderita buta warna. Perhatikan bagan berikut
ini.
XcYP : XcXc
(Wanita buta warna) (Pria normal)
G : Xc Xc
F1 : XCXc = (wanita normal karier) dan XcY = (pria buta warna)
Apabila wanita normal karier menikah dengan pria normal, kemungkinan keturunannya adalah
XcYP2 : XCXc
(wanita normal karier) (pria normal)
G2 : XC XC
Xc Y

Hasilnya, 50% keturunannya normal, 25% normal karier, dan 50% lagi menderita buta warna.
Pautan seks juga terjadi pada kelainan hidrosefalus (kepala membesar). Pada tahun 1949, Bickers dan Adams
meneliti tentang bayi laki-laki yang menderita hidrosefalus, yaitu kepala membesar pada waktu lahir. Perhatikan
bagan persilangan berikut ini.
XHCYP : XHcXhc
Wanita normal (karier) (Pria normal)
G : XHC XHC
Xhc Y

Dari persilangan itu, diperoleh perbandingan keturunan 75% normal dan 25% menderita hidrosefalus.
Apabila wanita yang normal karier kawin dengan pria yang hidrosefalus, kemungkinan 50% anaknya menderita
hidrosefalus dan 50% lagi normal.
Gigi cokelat, yaitu warna gigi tidak putih atau seperti warna gigi orang yang terlalu banyak merokok atau
pecandu minuman the dan kopi. Gen gigi cokelat bersifat dominant dan akan tampak dalam keadaan homozigot.
Perhatikan bagan berikut ini.
XbYP : XBXb
Wanita normal (Pria normal)
G : XB Xb
Xb Y

Dari persilangan tersebut, diperoleh keturunan 50% bergigi cokelat dan 50% lagi bergigi normal.
Hemofilia, buta warna, anodontia (ompong, tidak punya gigi, amolar (tidak punya geraham), anenamel (gigi
tidak beremail sehingga mudah rusak) ichtyosis congenital (kulit bersisik seperti ikan), muscular dystrophy (otot
kulit melemah) merupaakn contoh-contoh kelainan pada manusia yang terpaut kromosom X.
Adapun kelainan yang terpaut pada kromosom Y (sifat holandrik) antara lain hystrix gravior (pertumbuhan bulu
yang sangat kasar dan panjang mirip duri landak), webbed toes (pertumbuhan selaput diantara jari-jari seperti
katak), dan trochosis (pertumbuhan rambut yang panjang disekitar telinga.
Selain selaput pada kromosom seks, ada juga kelainan-kelainan yang terpaut pada autosom (kromosom tubuh).
Kelainan yang terpaut pada autosom, antara lain albino (tidak terbentuk pigemn dalam kulitnya sehingga kulit
tidak berwarna atau bulai) dan imbilis (idiot). Semua kelainan yang terpaut pada autosom dapat diderita baik
oleh pria maupun wanita dengan presentase yang sama

4. Gagal Berpisah (Non-Disjunction)


Gagal berpisah merupakan peristiwa gagalnya satu/lebih kromosom untuk berpisah pada waktu meiosis yang
menyebabkan jumlah kromosom tidak sama. Gagal berpisah juga merupakan peristiwa gagalnya berpisah
gonosom atau autosom yang homolog sewaktu meiosis pada anafase I atau anafase II sehingga terbentuk gamet
yang memiliki kromosom kurang dan gamet yang lain kelebihan. Peristiwa ini ditemukan oleh Calvin Bridges
pada lalat buah.
Pada percobaan lalat buah (Drosophila melanogaster) yang dilakukan oleh Calvin Bridges, yang mengalami
gagal berpisah adalah kromosom X pada ovum (betina). Persilangan yang diperoleh adalah sebagai berikut :
XYP : XX
G : XX,0 X dan Y
(Gagal berpisah)

Berdasarkan percobaannya itu, Calvin Bridges mengambil kesimpulan sebagai berikut :


a. Kromosom Y bukan merupakan kromosom yang membawa gen kejantanan, buktinya XXY = betina,
sedangkan X0 = jantan
b. Kromosom Y membawa gen kesuburan, buktinya XXY = subur (fertile), sedangkan X0 = mandul (steril)
c. Kromosom X membawa gen kehidupan, buktinya 0Y = mati (letal)
Berdasarkan kesimpulan tersebut, untuk menentukan jenis kelamin Drosophila melanogaster digunakan teori
keseimbangan seks dengan mencari indeks kelamin. Indeks kelamin adalah rasio antara banyaknya kromosom X
dengan banyaknya seperangkat autosom atau X/A seperti tercantum pada table berikut ini.

Kelainan-kelainan lain yang terdapat pada Drosophila melanogaster:


a. Lalat interseks, yaitu lalat yang autosomnya triploid sehingga formulanya 3 AAAXX. Kelainan itu terjadi
pada lalat jantan dan betina, serta bersifat steril;
b. Lalat ginandromorf, yaitu lalat yang setengah tubuhnya terdiri atas sel-sel jantan dan setengahnya lagi sel-sel
betina, lalat ini juga steril.
Peristiwa-pristiwa non-disjunction lainnya adalah aneuploidi, poliploidi, autopoliploidi, and allopoloploidi.
Menurut Suryo, pakar genetika, aneuploidi adalah suatu individu keturunan yang memiliki satu kromosom yang
dimiliki tetuanya. Trisomi dan monosomi merupakan beberapa keadaan yang temasuk dalam aneuploidi. Trisomi
adalah individu yang mempunyai tiga kromosom yang setipe (2n + 1) yang seharusnya hanya diploid. Monosomi
adalah individu yang kekurangan satu kromosom bersatu dengan gametnormal (2n – 1).
Poliploidi adalah keadaan keturunan yang memiliki kelipatan jumlah kromosom tetuanya atau tiga kali/lebih dari
setiap perangkat haploid kromosom khas yang dimiliki tetuanya. Autopoliploidi adalah perubahahn jumlah
kromosom, bertambah banyak karena salah satu atau kedua tetuanya diploid atau polploid. Contohnya, apel
triploid atau kentang tetraploid. Keadaan triploid juga dapat ditemukan pada kacang tanah, kopi dan anggur.
Buah poliploid biasanya lebih keras dan lebih besar dari tetuanya. Allopoliploidi adalah perkembangbiakan
seksual antara dua jenis tumbuhan, tetapi masih dekat kekerabatannya. Misalnya, gandum Tritichum turgidum (n
= 28) yang dikawinkan dengan gandum Tritichum tauschii (n = 14) akan menghasilkan jenis baru, yaitu gandum
Tritichum aestivum (n = 42).
Non-disjunction pada wanita mengakibatkan terbentuknya gamet dengan kromosom XX dan 0, sedangkan
apabila terjadi pada pria, gamet yang terbentuk mengandung kromosom XY dan 0. Perkawinan gamet-gamet
tersebut akan menghasilkan keturunan sebagai berikut
46P : 46
(44 + XX) (44 + XY)
Gagal berpisah normal
G : 22XX dan 22 22X dan 22Y

Peristiwa gagal berpisah pada manusia, antara lain menyebabkan hal-hal berikut.
a. XXX (wanita super = super female) dengan ciri-ciri : jumlah kromosom 47 (2n + 1) atau disebut juga
treisomik, susunan kromosom 47 XXX, tubuh kurus dan lemah, kecerdasan lemah, dan biasanya mandul.
b. X0 (sindro turner) dengan ciri-ciri : jumlah kromosom 45 (2n – 1) atau disebut juga monosomik, susunan
kromosom 45X, jenis kelamin wanita, kecerdasan di bawah rata-rata dan biasanya mandul
c. XXY (sindrom Klinefelter) dengan ciri-ciri : jumlah kromosom 47 (2n + 1) atu disebut juga trisomik, susunan
kromosom 47 XXY, jenis kelamin laki-laki, lengan dan kaki pendek, mental terbelakang, dan biasanya mandul.
d. 0Y adalah individu yang mati, bersifat letal.
e. Sindrom Down (gagal berpisah pada autosom) dengan ciri-ciri : jumlah kromosom 47, kromosm nomor 23 ada
tiga (trisomik), lengan dan kaki pendek, mental mengalami retardasi atau sering disebut ediot.

5. Gen Lental
Gen lental merupakan gen yang menyebabkan kematian jika dalam keadaan homozigot. Artinya, apabila
individu memiliki gen letal dalam keadaan homozigot, baik yang dominant ataupun resesif, akan mengakibatkan
kematian pada individu tersebut. Macamnya ada gen letal dominant dan gen letal resesif.

a. Gen lental dominan


Gen lental dominan artinya apabila dalam keadaan homozigot dominan, gen tersebut akan menyebabkan
kematian individu yang memilikinya. Misalnya, gen dominan yang menyebabkan warna kuning pada tikus.
Perhatikan bagan persilangan berikut.
Kk (kuning )P : Kk (kuning)
G : K,k K,k
F1 :
KK = mati (letal)
Kk = kuning
Kk = kuning
Kk = bukan kuning
Perbandingan tikus kuning : tikus bukan kuning = 2 : 1

Contoh gen letal dominan pada ayam "creeper" (memiliki ciri-ciri tubuh normal, tetapi kaki pendek)
Cc (creeper)P : Cc (creeper)
G : C,c C,c
F1 :
CC = letal
Cc = creeper
Cc = creeper
cc = normal
Perbandingan ayam creeper : normal = 2 : 1
Contoh gen letal dominan pada sapi dexter (sapi berkaki pendek)
Dd (dexter)P : Dd (dexter)
G : D,d D,d
F1 :
DD = dexter
Dd = dexter
Dd = dexter
dd = normal
Perbandingan sapi dexter : normal 2 : 1
Contoh gen letal dominan pada manusia adalah brakidaktili (jari tangan pendek)
BbP : Bb
(brakidaktili) (brakidaktili)
G : B,b B,b
F1 :
BB = letal
Bb = brakidaktili
Bb = brakidaktili
bb = normal
Perbandingan anak brakidaktili : normal = 2 : 1
b. Gen Letal Resesif
Gen Letal Resesif, artinya apabila dalam keadaan homozigot resesif, gentersebut akan menyebabkan kematian
individu yang memilikinya.
Misalnya, pada tanaman jagung berdaun kuning.
Hh (kuning)P : Hh (kuning)
G : H,h H,h
F1 :
HH = hijau
Hh = kuning
Hh = kuning
hh = bulai akan mati
Perbandingan tanaman jagung berdaun kuning : berdaun hijau = 2 : 1. contoh gen letal resesif pada manusia
adalah ichtyosis congenital (bayi yang kulitnya tebal, banyak luka berupa sobekan terutama daerah lekukan
sehingga biasanya bayi mati dalam kandungan atau sewaktu lahir)
Ii (normal)P : Ii (normal)
G : I,i I,i
F1 :
II = normal
Ii = normal
Ii = normal
ii = ichtyosis congenital (letal)
Perbandingan bayi normal : mati = 3 : 1
Adapun contoh gen letal resesif pada hewan adalah kelinci pelger (pembentukan granulosit dalam sumsum
tulang dan pertumbuhan tulang tidak normal) dengan genotype PP = pelger, Pp = normal, dan pp = mati sebelum
lahir.
Selain gen letal, ada juga gen subletal. Gen subletal artinya gen yang menyebabkan kematian, tetapi individu
yang memilikinya diberi kesempatan untuk hidup (sementara). Misalnya, pada wanita penderita hemofilia.
XhYP : XHXh
Wanita Karier Pria Hemofilia
G : XH, Xh Xh, Y
F1 :
XHXh = Wanita Karier
XhY = Pria normal
XhXh = Wanita hemofilia
XhY = pria hemofilia
Hemofilia adalah kelainan pada system pembekuan darah manusia karena secara genetik orang tersebut tidak
memiliki keeping-keping darah (trombosit) sehingga apabila terjadi luka, akan mengakibatkan perndaharan.
Karena tidak memiliki trombosit, jika terjadi luka tidak akan terbentuk trombokinase (yang akan membentuk
benang-benag fibrin) sehingga darah akan mengucur terus. Jika hal itu terjadi, penderita akan mengalami
kekurangan darah dalam jumlah yang banyak. Jika tidak segera ditolong, akan mengakibatkan kematian orang
tersebut. apabila seorang wanita memiliki gen hemofilia homozigot, dia kemungkinan masih dapat hidup, tetapi
hanya sampai masa pubertas pertama. Secara alamiah, wanita itu akan mengalami menstruasi dan hal itu dapat
mengakibatkan kematian wanita tersebut.
Sifat-sifat manusia yang diturunkan kepada keturunannya mengiuti pola polka tertentu. Pola pewarisan dapat
juga dilihat dari peta silsilah yang dapat diruntut adanya kelainan genetik pada generasi pendahulunya. Peta
silsilah disebut juga pedigree. Peta silsilah ini juga dapat digunakan untuk merancang keturunan mendatang,
bagaimana supaya penyakit genetik tidak dialami oleh generasi berikutnya atau sedapat mungkin dapat ditekan
(dihindari)

1. Cacat Dan Penyakit Menurun


Pada umumnya cacat atau penyakit menurun secara generatif bersifat resesif. Ciri-ciri penyakit menurun adalah
tidak dapat disembuhkan, artinya meskipun diobati dengan alat canggih, penyakit ini tidak akan sembuh; tidak
menular, artinya penyakit genetik tidak dapat ditularkan hanya dengan bergaul atau bersentuhan dengan
penderita; biasanya dikemdalikan oleh gen resesif yang muncul dalam keadaan homozigot. Karena dipengaruhi
oleh gen resesif, jumlah orang yang menderita penyakit keturunan hanya sedikit dan pada generasi berikutnya
dapat diusahakan terhindar dari penyakit tersebut. pencegahannya dapat dilakukan dengan memahami hukum
genetika serta penerapan dalam kehidupan berkeluarga.
Cacat atau penyakit menurun dibedakan menjadi cacat yang bersifat resesif dan cacat yang bersifat dominan.

a. Cacat Menurun Yang Bersifat Resesif


Cacat menurun yang bersifat resesif, misalnya Albino. Albino adalah penyakit menurun yang menyebabkan kulit
tidak memiliki pigmen sehingga kulitnya akan tidak berwarna. Akibatnya, apabila terkena sinar matahari, kulit
akan memerah karena sinar matahari (terutama sinar ultraviolet) langsun mengenai bagian dermis (kulit) dan
menyebabkan rasa sakit.
aa (albino)AA (normal)
G:Aa
F1 : Aa(normal karier)
Apabila orang yang normal heterozigot melakukan perkawinan dengan sesamanya, akan menghasilkan
keturunan yang menderita albino seperti pada persilangan berikut.
Aa (normal)P2 : Aa (normal)
G2 : A dan a A dan a

Cacat atau penyakit menurun yang bersifat resesif lainnya adalah alkaptonuria, galaktosemia, sistis fibrosis,
fenilketonuria, dan Tay-Sachs. Alkaptonuria adalah kelainan yang disebabkan oleh gen homozigot resesif hh.
Pada penderita alkaptonuria, urinenya akan berwarna hitan atau cokelat begitu bersentuhan dengan udara. Hal itu
disebabkan tiubuhnya tidak mampu membentuk enzim asam homogensilin (alkapton) menjadi asam
maleylasetoasetat hingga menjadi H 2 O dan CO2. Galaktosemia merupaak kelainan metabolisme pada bayi
yang disebabkan oleh gen homozigot resesif gsgs. Penyakit ini mengakibatkan bayi tidak dapat mengubah
glukosa pada air susu ibu (ASI). Sistis fibrosis adalah penyakit menurun yang ditandai dengan adanya kelainan
dalam metabolisme protein yang mengakibatkan kerusakan atau kemunduran pada beberapa organ (misalnya
pancreas) serta infeksi paru-paru. Selain itu, saluran pancreas dan paru paru tersumbat oleh lender yang kental
sehingga menghalangi aliran enzim yang diperlukan untuk pencernaan makanan di dalam usus serta
menyukarkan pernafasan. Penyakit ini disebabkan oleh gen homozigot resesif cfcf. Fenilketonuria adalah
kelainan hidroksilase sehingga fenilalalnin tidak diubah menjadi tirosin. Penderita memiliki genotype homozigot
resesif pp. Tay-Sachs merupakan penyakit yang disebabkan oleh kerusakan system saraf pusat yang dapat
mengakibatkan kebutaan dan retardasi (kemunduran) menta. Penyakit ini banyak diderita oleh orang yahudi dari
Eropa Timur.

b. Cacat Menurun Yang Bersifat Dominan


Cacat bawaan yang bersifat dominan, artinya dalam keadaan homozigot dominan akan tampak ekspresinya.
Misalnya sindaktili (jari-jari saling berlekatan ) yang disebabkan gen homozigot (Karier) melakukan perkawinan
dengan sesamanya, kemungkinan anaknya adalah
Ss(normal karier)P : Ss(normal karier)
G : A dan a S,s
F1 :
SS = sindaktili
Ss = normal karier
Ss = normal karier
Ss = normal
Dari perkawinan tersbut, kemungkinan anaknya yang normal dan yang menderita sindaktili adalah 3 : 1.
Penyakit atau cacat menurun yang bersifat homozigot dominan lainnya adalah anemia sel sabit (sickle cell
anemia) dan talasemia. Penakit anemia sel sabit ditandai dengan sel-sel darah merah penderita berbentuk sabit
dengan molekul hemoglobin (Hb) yang abnormal (disebut hemoglobin S). sel-sel darah merah bentuk sabit ini
dapat menghalangi aliran darah pada kapiler dan tidak dapat menjalankan fungsinya dengan baik dalam
mengangkut O2 dan CO2. penyakit ini disebabkan oleh gen HbS HbS.
Sementara itu, talasemia adalah penyakit keturunan yang ditandai dengan sel-sel darah merah mengalami
hemolisis (pecah). Pada penderita talasemia, sel-sel darah merahnya berbentuk tidak teratur dan mengandung
hanya sedikit hemoglobin. Talasemia ditentukan oleh gen dominan Th. Gen dominan homozigot Th Th
menyebabkan kematian pada bayi. Gen heterozigot Thth menyebabkan talasemia minor, yaitu anemia yang tidak
terlalu parah, tetapi biasanya memerlukan transfuse darah seumur hidup.
Untuk mengatasi masalah penyakit menurun, dapat diusahakan dengan cara eugenetika dan euteknik.

a. Eugenetika
Eugenetika ialah melakukan perbaikan generasi mendatang dengan penggunaan hukum hereditas. Hal itu
bertujuan untuk memperoleh keturunan yang baik pada generasi mendatang. Perkawinan antara saudara dekat
biasanya akan menghasilkan keturunan yang cacat.
Beberapa saran yang dapat digunakan sebagai acuan untuk menerapkan augenetika pada generasi mendatang,
antara lain sebagai berikut :
1) Melakukan penyuluhan pada warga masyarakat, terutama pada generasi muda untuk memahami hukum-
hukum hereditas, bagaimana hukum ini bekerja.
2) Sedapat mungkin masyarakat tidak mendukung adanya perkawinan "antara orang sakit", misalnya,
perkawinan antara orang idiot.
3) Apabila akan melangsungkan pernikahan, calon-calon pasangan muda harus mengetahui tentang asal-usul
pasangan ataupun riwayat kesehatannya, agar tidak menyesal di kemudian hari.

b. Eutrenika
Eutenika merupakan usaha perbaikan generasi mendatang dengan peningkatan mutu lingkungan, misalnya
dengan pemberian makanan yang bergizi, fasilitas pendidikan yang maju, dan fasilitas pendukung kehidupan
lainnya. Generasi sekarang sudah lebih baik dan lebih pandai dari pada generasi sebelumnya. Dengan eutenika,
orang makin mudah memperoleh kemajuan terutama teknologi yang bertujuan untuk kesejahteraan manusia.
Olah raga dan rekreasi juga merupakan usaha manusia untuk memperbaiki generasi berikutnya.
Perbaikan yang dilakukan dalam eutenika merupakan pertanda perkembangan suatu Negara. Apabila banyak
rakyatnya maju, dapat diambil kesimpulan bahwa pelaksanaan eutenika di suatu Negara berhasil. Naming,
apabila suatu Negara memiliki rakyat yang masih di bawah garis kemiskinan, itu berarti Negara tersebut
melaksanakan eutenika dengan baik.

2. Pewaris Penggolongan Darah Pada Manusia


Golongan darah system ABO memiliki empat macam fenotipe penggolongan darah dan enam genotype yang
berbeda. Perhatikan table berikut. Macam fenotipe dan genotype golongan darah system ABO.
Contoh
Apabila orang yang bergolongan darah A heterozigot melakukan perkawinan dengan orang yang bergolongan
darah B heterozigot, persilangannya adalah
IB iP : IA I
Golonga darah A Golonga darah B
G : IA, i IB , i
F1 :
IAIB = Golonga darah AB
IA I = Golonga darah A heterozigot
IB i = Golonga darah B heterozigot
ii = Golonga darah O
Ada kaitan yang erat antara proses pembelahan sel pada pewaris sifat. Pada pembelahan mitosis, setiap
kromosom dalam sel disuplikasi dan satu perangkat lengkap kromosom disistribusikan kepada setiap nucleus sel
anak. Jadi, sifat-sifat diwariskan tanpa mengalami pengurangan dari sel induk kepada sel anak. Pada pembelahan
meiosis, setiap sel anak hanya mengandung setengah jumlah kromosom sel induk.
Pewaris sifat dari generasi ke generasi memiliki pola tertentu yang disebut pola-pola hereditas. Pada persilangan
monohibrida akan dihasilkan keturunan dengan perbandingan 3:1, tetapi apabila terjadi intermediet
perbandingannya menjadi 1 : 2 :1. persilangan dihibrida akan menghasilkan perbandingan 9 : 3 : 3 : 1.
Pada persilangan dihibrida kadang terjadi penyimpangan semu dari hukum Mendel, yaitu polomeri dengan
perbandingan 15 : 1, krip-tomeri dengan perbandingan 9:3:4, epistasis dan hipostasis dengan perbandingan
12:3:1, genkomplementer dengan perbandingan 9:7, gen dominan rangkap dengan perbandingan 9:6:1, serta
inhibiting gene dengan perbandingan 13 : 3.
Apabila gen-gen letaknya berdekatan akan terjadi pautan. Sedangkan apabila gen-gen letaknya berjauhan, akan
terjadi pindah silang. Determinasi seks merupakan penentuan jenis kelamin pada makhluk hidup, miaslnya pada
manusia, XX merupakan lambing untuk wanita, sedangkan lambing untuk pria adalah XY.
Sex linkage atau disebut pautan seks merupakan suatu kelainan yang sangat erat hubungannya dengan
kromosom kelamin, misalnya hemofilia. Seorang wanita dikatakan menderita hemofilia jika kedua kromosom X-
nya membawa gen hemofilia. Sementara itu, jiak kromosom X-nya membawa sifat hemofilia, seorang pria
dikatakan sudah menderita hemofilia.
Gen letal adalah gen yang menyebabkan kematian apabila dalam keadaan homozigot baik, homozigot dominan
maupun homozigot resesif. Contohnya pada hewan sapi dexter, ayam creeper, kelinci pelger, sedangkan pada
manusia, misalnya hemofilia.
Gagal berpisah (non-disjuction) merupakan peristiwa gagalnya segregasi gen-gen dalam gamet sehingga dalam
salah satu gamet memiliki kelebihan kromosom, saementara yang lainh mengalami kekurangan kromosom.
Apabila gamet yang mengalami gagal berpisah itu ,melakukan perkawinan, akan terbentuk makhluk hidup yang
mengalami kelainan kromosom.
Hereditas pada manusia terkait dengan adanya pewarisan penyakit menurun. Penyakit menurun tidak dapat
disembuhkan, tidak menular, dan biasanya bersifat resesif. Untuk menghindari penyakit keturunan dapat
diterapkan prinsip eugenetik dan eutenika.
Peta silsilah atau disebut juga pedigree merupakan asal-usul suatu keturunan atau dinasti. Peta silsilah digunakan
untuk meruntut (melacak) adanya kelainan yang terdapat pada keturunannya. Sebagai contoh, pasangan suami
dan istri yang normal ternyata mempunyai anak yang menderita buta warna, hal ini dapat terjadi karena
kemungkinan besar si ibu adalah karier buta warna. Peta silslah juga digunakan untuk meruntut golongan darah
seseorang.

V. Metode Pembelajaran
Model Pembelajaran : Discovery Learning
Metode : Tanya jawab, wawancara, diskusi dan bermain peran

VI. Media Pembelajaran


Media :
 Worksheet atau lembar kerja (siswa)
 Power point
 LCD Proyektor dan laptop
 Smartphone

VII. Sumber Belajar


 Buku Biologi SMA/MA Kelas XII, Irnaningtyas , penerbit Erlangga Tahun 2018 Hal 170-216
 Buku Biologi Siswa SMA/MA Kelas XII, sulistyowati dkk, Intan parawara, Tahun 2016
 https://www.gurupendidikan.co.id/pautan-dan-pindah-silang/
 http://biologimanzapo.blogspot.com/2011/10/pola-hereditas.html
 Lingkungan setempat

VIII. Langkah-Langkah Pembelajaran


1. Pertemuan Ke-1 (4 x 45 Menit)
Kegiatan Pendahuluan (15 Menit)
Guru :
Orientasi
● Melakukan pembukaan dengan salam pembuka, memanjatkan syukur kepada Tuhan YME dan berdoa
untuk memulai pembelajaran
● Memeriksa kehadiran peserta didik sebagai sikap disiplin
● Menyiapkan fisik dan psikis peserta didik dalam mengawali kegiatan pembelajaran.
Aperpepsi
● Mengaitkan materi/tema/kegiatan pembelajaran yang akan dilakukan dengan pengalaman peserta didik
dengan materi/tema/kegiatan sebelumnya
● Mengingatkan kembali materi prasyarat dengan bertanya.
● Mengajukan pertanyaan yang ada keterkaitannya dengan pelajaran yang akan dilakukan.
Motivasi
● Memberikan gambaran tentang manfaat mempelajari pelajaran yang akan dipelajari dalam kehidupan
sehari-hari.
● Apabila materitema/projek ini kerjakan dengan baik dan sungguh-sungguh ini dikuasai dengan baik,
maka peserta didik diharapkan dapat menjelaskan tentang materi :
Pautan & pindah silang,

● Menyampaikan tujuan pembelajaran pada pertemuan yang berlangsung


● Mengajukan pertanyaan
Pemberian Acuan
● Memberitahukan materi pelajaran yang akan dibahas pada pertemuan saat itu.
● Memberitahukan tentang kompetensi inti, kompetensi dasar, indikator, dan KKM pada pertemuan yang
berlangsung
● Pembagian kelompok belajar
● Menjelaskan mekanisme pelaksanaan pengalaman belajar sesuai dengan langkah-langkah
pembelajaran.
Kegiatan Inti ( 150 Menit )
Sintak Model
Kegiatan Pembelajaran
Pembelajaran
Stimulation KEGIATAN LITERASI
(stimullasi/ Peserta didik diberi motivasi atau rangsangan untuk memusatkan perhatian pada topik
pemberian materi Pautan & pindah silang, dengan cara :
rangsangan)
→ Melihat (tanpa atau dengan Alat)
Menayangkan gambar/foto/video yang relevan.
→ Mengamati
● Lembar kerja materi Pautan & pindah silang,
● Pemberian contoh-contoh materi Pautan & pindah silang, untuk dapat dikembangkan
peserta didik, dari media interaktif, dsb
→ Membaca.
Kegiatan literasi ini dilakukan di rumah dan di sekolah dengan membaca materi dari
buku paket atau buku-buku penunjang lain, dari internet/materi yang berhubungan
dengan Pautan & pindah silang,
→ Menulis
Menulis resume dari hasil pengamatan dan bacaan terkait Pautan & pindah silang,
→ Mendengar
Pemberian materi Pautan & pindah silang, oleh guru.
→ Menyimak
Penjelasan pengantar kegiatan secara garis besar/global tentang materi pelajaran
mengenai materi :
Pautan & pindah silang,

untuk melatih rasa syukur, kesungguhan dan kedisiplinan, ketelitian, mencari


informasi.
Problem CRITICAL THINKING (BERPIKIR KRITIK)
statemen Guru memberikan kesempatan pada peserta didik untuk mengidentifikasi sebanyak
(pertanyaan/ mungkin pertanyaan yang berkaitan dengan gambar yang disajikan dan akan dijawab
identifikasi melalui kegiatan belajar, contohnya :
masalah)
→ Mengajukan pertanyaan tentang materi :
Pautan & pindah silang,
yang tidak dipahami dari apa yang diamati atau pertanyaan untuk mendapatkan informasi
tambahan tentang apa yang diamati (dimulai dari pertanyaan faktual sampai ke pertanyaan
yang bersifat hipotetik) untuk mengembangkan kreativitas, rasa ingin tahu, kemampuan
merumuskan pertanyaan untuk membentuk pikiran kritis yang perlu untuk hidup cerdas
dan belajar sepanjang hayat.
Data KEGIATAN LITERASI
collection Peserta didik mengumpulkan informasi yang relevan untuk menjawab pertanyan yang
(pengumpulan telah diidentifikasi melalui kegiatan:
data)
→ Mengamati obyek/kejadian
Mengamati dengan seksama materi Pautan & pindah silang, yang sedang dipelajari
dalam bentuk gambar/video/slide presentasi yang disajikan dan mencoba
menginterprestasikannya.
→ Membaca sumber lain selain buku teks
Secara disiplin melakukan kegiatan literasi dengan mencari dan membaca berbagai
referensi dari berbagai sumber guna menambah pengetahuan dan pemahaman tentang
materi Pautan & pindah silang, yang sedang dipelajari.
→ Aktivitas
Menyusun daftar pertanyaan atas hal-hal yang belum dapat dipahami dari kegiatan
mengmati dan membaca yang akan diajukan kepada guru berkaitan dengan materi
Pautan & pindah silang, yang sedang dipelajari.
→ Wawancara/tanya jawab dengan nara sumber
Mengajukan pertanyaan berkaiatan dengan materi Pautan & pindah silang, yang
telah disusun dalam daftar pertanyaan kepada guru.

COLLABORATION (KERJASAMA)
Peserta didik dibentuk dalam beberapa kelompok untuk:
→ Mendiskusikan
Peserta didik dan guru secara bersama-sama membahas contoh dalam buku paket
mengenai materi Pautan & pindah silang,
→ Mengumpulkan informasi
Mencatat semua informasi tentang materi Pautan & pindah silang, yang telah
diperoleh pada buku catatan dengan tulisan yang rapi dan menggunakan bahasa
Indonesia yang baik dan benar.
→ Mempresentasikan ulang
Peserta didik mengkomunikasikan secara lisan atau mempresentasikan materi dengan
rasa percaya diri Pautan & pindah silang, sesuai dengan pemahamannya.
→ Saling tukar informasi tentang materi :
Pautan & pindah silang,

dengan ditanggapi aktif oleh peserta didik dari kelompok lainnya sehingga diperoleh
sebuah pengetahuan baru yang dapat dijadikan sebagai bahan diskusi kelompok kemudian,
dengan menggunakan metode ilmiah yang terdapat pada buku pegangan peserta didik atau
pada lembar kerja yang disediakan dengan cermat untuk mengembangkan sikap teliti,
jujur, sopan, menghargai pendapat orang lain, kemampuan berkomunikasi, menerapkan
kemampuan mengumpulkan informasi melalui berbagai cara yang dipelajari,
mengembangkan kebiasaan belajar dan belajar sepanjang hayat.
Data COLLABORATION (KERJASAMA) dan CRITICAL THINKING (BERPIKIR
processing KRITIK)
(pengolahan Peserta didik dalam kelompoknya berdiskusi mengolah data hasil pengamatan dengan cara
Data) :
→ Berdiskusi tentang data dari Materi :
Pautan & pindah silang,
→ Mengolah informasi dari materi Pautan & pindah silang, yang sudah dikumpulkan
dari hasil kegiatan/pertemuan sebelumnya mau pun hasil dari kegiatan mengamati dan
kegiatan mengumpulkan informasi yang sedang berlangsung dengan bantuan
pertanyaan-pertanyaan pada lembar kerja.
→ Peserta didik mengerjakan beberapa soal mengenai materi Pautan & pindah silang,
Verification CRITICAL THINKING (BERPIKIR KRITIK)
(pembuktian) Peserta didik mendiskusikan hasil pengamatannya dan memverifikasi hasil pengamatannya
dengan data-data atau teori pada buku sumber melalui kegiatan :
→ Menambah keluasan dan kedalaman sampai kepada pengolahan informasi yang
bersifat mencari solusi dari berbagai sumber yang memiliki pendapat yang berbeda
sampai kepada yang bertentangan untuk mengembangkan sikap jujur, teliti, disiplin,
taat aturan, kerja keras, kemampuan menerapkan prosedur dan kemampuan berpikir
induktif serta deduktif dalam membuktikan tentang materi :
Pautan & pindah silang,

antara lain dengan : Peserta didik dan guru secara bersama-sama membahas jawaban
soal-soal yang telah dikerjakan oleh peserta didik.
Generalization COMMUNICATION (BERKOMUNIKASI)
(menarik Peserta didik berdiskusi untuk menyimpulkan
kesimpulan)
→ Menyampaikan hasil diskusi tentang materi Pautan & pindah silang, berupa
kesimpulan berdasarkan hasil analisis secara lisan, tertulis, atau media lainnya untuk
mengembangkan sikap jujur, teliti, toleransi, kemampuan berpikir sistematis,
mengungkapkan pendapat dengan sopan.
→ Mempresentasikan hasil diskusi kelompok secara klasikal tentang materi :
Pautan & pindah silang,

→ Mengemukakan pendapat atas presentasi yang dilakukan tentanag materi Pautan &
pindah silang, dan ditanggapi oleh kelompok yang mempresentasikan.
→ Bertanya atas presentasi tentang materi Pautan & pindah silang, yang dilakukan dan
peserta didik lain diberi kesempatan untuk menjawabnya.

CREATIVITY (KREATIVITAS)
→ Menyimpulkan tentang point-point penting yang muncul dalam kegiatan
pembelajaran yang baru dilakukan berupa :
Laporan hasil pengamatan secara tertulis tentang materi :
Pautan & pindah silang,

→ Menjawab pertanyaan tentang materi Pautan & pindah silang, yang terdapat pada
buku pegangan peserta didik atau lembar kerja yang telah disediakan.
→ Bertanya tentang hal yang belum dipahami, atau guru melemparkan beberapa
pertanyaan kepada siswa berkaitan dengan materi Pautan & pindah silang, yang
akan selesai dipelajari
→ Menyelesaikan uji kompetensi untuk materi Pautan & pindah silang, yang terdapat
pada buku pegangan peserta didik atau pada lembar lerja yang telah disediakan secara
individu untuk mengecek penguasaan siswa terhadap materi pelajaran.
Catatan : Selama pembelajaran Pautan & pindah silang, berlangsung, guru mengamati sikap siswa
dalam pembelajaran yang meliputi sikap: nasionalisme, disiplin, rasa percaya diri, berperilaku jujur,
tangguh menghadapi masalah tanggungjawab, rasa ingin tahu, peduli lingkungan
Kegiatan Penutup (15 Menit)
Peserta didik :
● Membuat resume (CREATIVITY) dengan bimbingan guru tentang point-point penting yang muncul
dalam kegiatan pembelajaran tentang materi Pautan & pindah silang, yang baru dilakukan.
● Mengagendakan pekerjaan rumah untuk materi pelajaran Pautan & pindah silang, yang baru
diselesaikan.
● Mengagendakan materi atau tugas projek/produk/portofolio/unjuk kerja yang harus mempelajarai pada
pertemuan berikutnya di luar jam sekolah atau dirumah.
Guru :
● Memeriksa pekerjaan siswa yang selesai langsung diperiksa untuk materi pelajaran Pautan & pindah
silang,
● Peserta didik yang selesai mengerjakan tugas projek/produk/portofolio/unjuk kerja dengan benar diberi
paraf serta diberi nomor urut peringkat, untuk penilaian tugas
● Memberikan penghargaan untuk materi pelajaran Pautan & pindah silang, kepada kelompok yang
memiliki kinerja dan kerjasama yang baik.

2. Pertemuan Ke-2 (4 x 45 Menit)


Kegiatan Pendahuluan (15 Menit)
Guru :
Orientasi
● Melakukan pembukaan dengan salam pembuka, memanjatkan syukur kepada Tuhan YME dan berdoa
untuk memulai pembelajaran
● Memeriksa kehadiran peserta didik sebagai sikap disiplin
● Menyiapkan fisik dan psikis peserta didik dalam mengawali kegiatan pembelajaran.
Aperpepsi
● Mengaitkan materi/tema/kegiatan pembelajaran yang akan dilakukan dengan pengalaman peserta didik
dengan materi/tema/kegiatan sebelumnya
● Mengingatkan kembali materi prasyarat dengan bertanya.
● Mengajukan pertanyaan yang ada keterkaitannya dengan pelajaran yang akan dilakukan.
Motivasi
● Memberikan gambaran tentang manfaat mempelajari pelajaran yang akan dipelajari dalam kehidupan
sehari-hari.
● Apabila materitema/projek ini kerjakan dengan baik dan sungguh-sungguh ini dikuasai dengan baik,
maka peserta didik diharapkan dapat menjelaskan tentang materi :
Gagal berpisah, dan gen letal.

● Menyampaikan tujuan pembelajaran pada pertemuan yang berlangsung


● Mengajukan pertanyaan
Pemberian Acuan
● Memberitahukan materi pelajaran yang akan dibahas pada pertemuan saat itu.
● Memberitahukan tentang kompetensi inti, kompetensi dasar, indikator, dan KKM pada pertemuan yang
berlangsung
● Pembagian kelompok belajar
● Menjelaskan mekanisme pelaksanaan pengalaman belajar sesuai dengan langkah-langkah
pembelajaran.
Kegiatan Inti ( 150 Menit )
Sintak Model
Kegiatan Pembelajaran
Pembelajaran
Stimulation KEGIATAN LITERASI
(stimullasi/ Peserta didik diberi motivasi atau rangsangan untuk memusatkan perhatian pada topik
pemberian materi Gagal berpisah, dan gen letal. dengan cara :
rangsangan)
→ Melihat (tanpa atau dengan Alat)
Menayangkan gambar/foto/video yang relevan.
→ Mengamati
● Lembar kerja materi Gagal berpisah, dan gen letal.
● Pemberian contoh-contoh materi Gagal berpisah, dan gen letal. untuk dapat
dikembangkan peserta didik, dari media interaktif, dsb
→ Membaca.
Kegiatan literasi ini dilakukan di rumah dan di sekolah dengan membaca materi dari
buku paket atau buku-buku penunjang lain, dari internet/materi yang berhubungan
dengan Gagal berpisah, dan gen letal.
→ Menulis
Menulis resume dari hasil pengamatan dan bacaan terkait Gagal berpisah, dan gen
letal.
→ Mendengar
Pemberian materi Gagal berpisah, dan gen letal. oleh guru.
→ Menyimak
Penjelasan pengantar kegiatan secara garis besar/global tentang materi pelajaran
mengenai materi :
Gagal berpisah, dan gen letal.

untuk melatih rasa syukur, kesungguhan dan kedisiplinan, ketelitian, mencari


informasi.
Problem CRITICAL THINKING (BERPIKIR KRITIK)
statemen Guru memberikan kesempatan pada peserta didik untuk mengidentifikasi sebanyak
(pertanyaan/ mungkin pertanyaan yang berkaitan dengan gambar yang disajikan dan akan dijawab
identifikasi melalui kegiatan belajar, contohnya :
masalah)
→ Mengajukan pertanyaan tentang materi :
Gagal berpisah, dan gen letal.

yang tidak dipahami dari apa yang diamati atau pertanyaan untuk mendapatkan informasi
tambahan tentang apa yang diamati (dimulai dari pertanyaan faktual sampai ke pertanyaan
yang bersifat hipotetik) untuk mengembangkan kreativitas, rasa ingin tahu, kemampuan
merumuskan pertanyaan untuk membentuk pikiran kritis yang perlu untuk hidup cerdas
dan belajar sepanjang hayat.
Data KEGIATAN LITERASI
collection Peserta didik mengumpulkan informasi yang relevan untuk menjawab pertanyan yang
(pengumpulan telah diidentifikasi melalui kegiatan:
data)
→ Mengamati obyek/kejadian
Mengamati dengan seksama materi Gagal berpisah, dan gen letal. yang sedang
dipelajari dalam bentuk gambar/video/slide presentasi yang disajikan dan mencoba
menginterprestasikannya.
→ Membaca sumber lain selain buku teks
Secara disiplin melakukan kegiatan literasi dengan mencari dan membaca berbagai
referensi dari berbagai sumber guna menambah pengetahuan dan pemahaman tentang
materi Gagal berpisah, dan gen letal. yang sedang dipelajari.
→ Aktivitas
Menyusun daftar pertanyaan atas hal-hal yang belum dapat dipahami dari kegiatan
mengmati dan membaca yang akan diajukan kepada guru berkaitan dengan materi
Gagal berpisah, dan gen letal. yang sedang dipelajari.
→ Wawancara/tanya jawab dengan nara sumber
Mengajukan pertanyaan berkaiatan dengan materi Gagal berpisah, dan gen letal.
yang telah disusun dalam daftar pertanyaan kepada guru.

COLLABORATION (KERJASAMA)
Peserta didik dibentuk dalam beberapa kelompok untuk:
→ Mendiskusikan
Peserta didik dan guru secara bersama-sama membahas contoh dalam buku paket
mengenai materi Gagal berpisah, dan gen letal.
→ Mengumpulkan informasi
Mencatat semua informasi tentang materi Gagal berpisah, dan gen letal. yang telah
diperoleh pada buku catatan dengan tulisan yang rapi dan menggunakan bahasa
Indonesia yang baik dan benar.
→ Mempresentasikan ulang
Peserta didik mengkomunikasikan secara lisan atau mempresentasikan materi dengan
rasa percaya diri Gagal berpisah, dan gen letal. sesuai dengan pemahamannya.
→ Saling tukar informasi tentang materi :
Gagal berpisah, dan gen letal.

dengan ditanggapi aktif oleh peserta didik dari kelompok lainnya sehingga diperoleh
sebuah pengetahuan baru yang dapat dijadikan sebagai bahan diskusi kelompok kemudian,
dengan menggunakan metode ilmiah yang terdapat pada buku pegangan peserta didik atau
pada lembar kerja yang disediakan dengan cermat untuk mengembangkan sikap teliti,
jujur, sopan, menghargai pendapat orang lain, kemampuan berkomunikasi, menerapkan
kemampuan mengumpulkan informasi melalui berbagai cara yang dipelajari,
mengembangkan kebiasaan belajar dan belajar sepanjang hayat.
Data COLLABORATION (KERJASAMA) dan CRITICAL THINKING (BERPIKIR
processing KRITIK)
(pengolahan Peserta didik dalam kelompoknya berdiskusi mengolah data hasil pengamatan dengan cara
Data) :
→ Berdiskusi tentang data dari Materi :
Gagal berpisah, dan gen letal.

→ Mengolah informasi dari materi Gagal berpisah, dan gen letal. yang sudah
dikumpulkan dari hasil kegiatan/pertemuan sebelumnya mau pun hasil dari kegiatan
mengamati dan kegiatan mengumpulkan informasi yang sedang berlangsung dengan
bantuan pertanyaan-pertanyaan pada lembar kerja.
→ Peserta didik mengerjakan beberapa soal mengenai materi Gagal berpisah, dan gen
letal.
Verification CRITICAL THINKING (BERPIKIR KRITIK)
(pembuktian) Peserta didik mendiskusikan hasil pengamatannya dan memverifikasi hasil pengamatannya
dengan data-data atau teori pada buku sumber melalui kegiatan :
→ Menambah keluasan dan kedalaman sampai kepada pengolahan informasi yang
bersifat mencari solusi dari berbagai sumber yang memiliki pendapat yang berbeda
sampai kepada yang bertentangan untuk mengembangkan sikap jujur, teliti, disiplin,
taat aturan, kerja keras, kemampuan menerapkan prosedur dan kemampuan berpikir
induktif serta deduktif dalam membuktikan tentang materi :
Gagal berpisah, dan gen letal.

antara lain dengan : Peserta didik dan guru secara bersama-sama membahas jawaban
soal-soal yang telah dikerjakan oleh peserta didik.
Generalization COMMUNICATION (BERKOMUNIKASI)
(menarik Peserta didik berdiskusi untuk menyimpulkan
kesimpulan)
→ Menyampaikan hasil diskusi tentang materi Gagal berpisah, dan gen letal. berupa
kesimpulan berdasarkan hasil analisis secara lisan, tertulis, atau media lainnya untuk
mengembangkan sikap jujur, teliti, toleransi, kemampuan berpikir sistematis,
mengungkapkan pendapat dengan sopan.
→ Mempresentasikan hasil diskusi kelompok secara klasikal tentang materi :
Gagal berpisah, dan gen letal.

→ Mengemukakan pendapat atas presentasi yang dilakukan tentanag materi Gagal


berpisah, dan gen letal. dan ditanggapi oleh kelompok yang mempresentasikan.
→ Bertanya atas presentasi tentang materi Gagal berpisah, dan gen letal. yang
dilakukan dan peserta didik lain diberi kesempatan untuk menjawabnya.

CREATIVITY (KREATIVITAS)
→ Menyimpulkan tentang point-point penting yang muncul dalam kegiatan
pembelajaran yang baru dilakukan berupa :
Laporan hasil pengamatan secara tertulis tentang materi :
Gagal berpisah, dan gen letal.

→ Menjawab pertanyaan tentang materi Gagal berpisah, dan gen letal. yang terdapat
pada buku pegangan peserta didik atau lembar kerja yang telah disediakan.
→ Bertanya tentang hal yang belum dipahami, atau guru melemparkan beberapa
pertanyaan kepada siswa berkaitan dengan materi Gagal berpisah, dan gen letal.
yang akan selesai dipelajari
→ Menyelesaikan uji kompetensi untuk materi Gagal berpisah, dan gen letal. yang
terdapat pada buku pegangan peserta didik atau pada lembar lerja yang telah
disediakan secara individu untuk mengecek penguasaan siswa terhadap materi
pelajaran.
Catatan : Selama pembelajaran Gagal berpisah, dan gen letal. berlangsung, guru mengamati sikap
siswa dalam pembelajaran yang meliputi sikap: nasionalisme, disiplin, rasa percaya diri, berperilaku
jujur, tangguh menghadapi masalah tanggungjawab, rasa ingin tahu, peduli lingkungan
Kegiatan Penutup (15 Menit)
Peserta didik :
● Membuat resume (CREATIVITY) dengan bimbingan guru tentang point-point penting yang muncul
dalam kegiatan pembelajaran tentang materi Gagal berpisah, dan gen letal. yang baru dilakukan.
● Mengagendakan pekerjaan rumah untuk materi pelajaran Gagal berpisah, dan gen letal. yang baru
diselesaikan.
● Mengagendakan materi atau tugas projek/produk/portofolio/unjuk kerja yang harus mempelajarai pada
pertemuan berikutnya di luar jam sekolah atau dirumah.
Guru :
● Memeriksa pekerjaan siswa yang selesai langsung diperiksa untuk materi pelajaran Gagal berpisah,
dan gen letal.
● Peserta didik yang selesai mengerjakan tugas projek/produk/portofolio/unjuk kerja dengan benar diberi
paraf serta diberi nomor urut peringkat, untuk penilaian tugas
● Memberikan penghargaan untuk materi pelajaran Gagal berpisah, dan gen letal. kepada kelompok
yang memiliki kinerja dan kerjasama yang baik.

3. Pertemuan Ke-3 (4 x 45 Menit)


Kegiatan Pendahuluan (15 Menit)
Guru :
Orientasi
● Melakukan pembukaan dengan salam pembuka, memanjatkan syukur kepada Tuhan YME dan berdoa
untuk memulai pembelajaran
● Memeriksa kehadiran peserta didik sebagai sikap disiplin
● Menyiapkan fisik dan psikis peserta didik dalam mengawali kegiatan pembelajaran.
Aperpepsi
● Mengaitkan materi/tema/kegiatan pembelajaran yang akan dilakukan dengan pengalaman peserta didik
dengan materi/tema/kegiatan sebelumnya
● Mengingatkan kembali materi prasyarat dengan bertanya.
● Mengajukan pertanyaan yang ada keterkaitannya dengan pelajaran yang akan dilakukan.
Motivasi
● Memberikan gambaran tentang manfaat mempelajari pelajaran yang akan dipelajari dalam kehidupan
sehari-hari.
● Apabila materitema/projek ini kerjakan dengan baik dan sungguh-sungguh ini dikuasai dengan baik,
maka peserta didik diharapkan dapat menjelaskan tentang materi :
Penentuan jenis kelamin

● Menyampaikan tujuan pembelajaran pada pertemuan yang berlangsung


● Mengajukan pertanyaan
Pemberian Acuan
● Memberitahukan materi pelajaran yang akan dibahas pada pertemuan saat itu.
● Memberitahukan tentang kompetensi inti, kompetensi dasar, indikator, dan KKM pada pertemuan yang
berlangsung
● Pembagian kelompok belajar
● Menjelaskan mekanisme pelaksanaan pengalaman belajar sesuai dengan langkah-langkah
pembelajaran.
Kegiatan Inti ( 150 Menit )
Sintak Model
Kegiatan Pembelajaran
Pembelajaran
Stimulation KEGIATAN LITERASI
(stimullasi/ Peserta didik diberi motivasi atau rangsangan untuk memusatkan perhatian pada topik
pemberian materi Penentuan jenis kelamin dengan cara :
rangsangan)
→ Melihat (tanpa atau dengan Alat)
Menayangkan gambar/foto/video yang relevan.
→ Mengamati
● Lembar kerja materi Penentuan jenis kelamin
● Pemberian contoh-contoh materi Penentuan jenis kelamin untuk dapat dikembangkan
peserta didik, dari media interaktif, dsb
→ Membaca.
Kegiatan literasi ini dilakukan di rumah dan di sekolah dengan membaca materi dari
buku paket atau buku-buku penunjang lain, dari internet/materi yang berhubungan
dengan Penentuan jenis kelamin
→ Menulis
Menulis resume dari hasil pengamatan dan bacaan terkait Penentuan jenis kelamin
→ Mendengar
Pemberian materi Penentuan jenis kelamin oleh guru.
→ Menyimak
Penjelasan pengantar kegiatan secara garis besar/global tentang materi pelajaran
mengenai materi :
Penentuan jenis kelamin

untuk melatih rasa syukur, kesungguhan dan kedisiplinan, ketelitian, mencari


informasi.
Problem CRITICAL THINKING (BERPIKIR KRITIK)
statemen Guru memberikan kesempatan pada peserta didik untuk mengidentifikasi sebanyak
(pertanyaan/ mungkin pertanyaan yang berkaitan dengan gambar yang disajikan dan akan dijawab
identifikasi melalui kegiatan belajar, contohnya :
masalah)
→ Mengajukan pertanyaan tentang materi :
Penentuan jenis kelamin

yang tidak dipahami dari apa yang diamati atau pertanyaan untuk mendapatkan informasi
tambahan tentang apa yang diamati (dimulai dari pertanyaan faktual sampai ke pertanyaan
yang bersifat hipotetik) untuk mengembangkan kreativitas, rasa ingin tahu, kemampuan
merumuskan pertanyaan untuk membentuk pikiran kritis yang perlu untuk hidup cerdas
dan belajar sepanjang hayat.
Data KEGIATAN LITERASI
collection Peserta didik mengumpulkan informasi yang relevan untuk menjawab pertanyan yang
(pengumpulan telah diidentifikasi melalui kegiatan:
data) → Mengamati obyek/kejadian
Mengamati dengan seksama materi Penentuan jenis kelamin yang sedang dipelajari
dalam bentuk gambar/video/slide presentasi yang disajikan dan mencoba
menginterprestasikannya.
→ Membaca sumber lain selain buku teks
Secara disiplin melakukan kegiatan literasi dengan mencari dan membaca berbagai
referensi dari berbagai sumber guna menambah pengetahuan dan pemahaman tentang
materi Penentuan jenis kelamin yang sedang dipelajari.
→ Aktivitas
Menyusun daftar pertanyaan atas hal-hal yang belum dapat dipahami dari kegiatan
mengmati dan membaca yang akan diajukan kepada guru berkaitan dengan materi
Penentuan jenis kelamin yang sedang dipelajari.
→ Wawancara/tanya jawab dengan nara sumber
Mengajukan pertanyaan berkaiatan dengan materi Penentuan jenis kelamin yang telah
disusun dalam daftar pertanyaan kepada guru.

COLLABORATION (KERJASAMA)
Peserta didik dibentuk dalam beberapa kelompok untuk:
→ Mendiskusikan
Peserta didik dan guru secara bersama-sama membahas contoh dalam buku paket
mengenai materi Penentuan jenis kelamin
→ Mengumpulkan informasi
Mencatat semua informasi tentang materi Penentuan jenis kelamin yang telah
diperoleh pada buku catatan dengan tulisan yang rapi dan menggunakan bahasa
Indonesia yang baik dan benar.
→ Mempresentasikan ulang
Peserta didik mengkomunikasikan secara lisan atau mempresentasikan materi dengan
rasa percaya diri Penentuan jenis kelamin sesuai dengan pemahamannya.
→ Saling tukar informasi tentang materi :
Penentuan jenis kelamin

dengan ditanggapi aktif oleh peserta didik dari kelompok lainnya sehingga diperoleh
sebuah pengetahuan baru yang dapat dijadikan sebagai bahan diskusi kelompok kemudian,
dengan menggunakan metode ilmiah yang terdapat pada buku pegangan peserta didik atau
pada lembar kerja yang disediakan dengan cermat untuk mengembangkan sikap teliti,
jujur, sopan, menghargai pendapat orang lain, kemampuan berkomunikasi, menerapkan
kemampuan mengumpulkan informasi melalui berbagai cara yang dipelajari,
mengembangkan kebiasaan belajar dan belajar sepanjang hayat.
Data COLLABORATION (KERJASAMA) dan CRITICAL THINKING (BERPIKIR
processing KRITIK)
(pengolahan Peserta didik dalam kelompoknya berdiskusi mengolah data hasil pengamatan dengan cara
Data) :
→ Berdiskusi tentang data dari Materi :
Penentuan jenis kelamin

→ Mengolah informasi dari materi Penentuan jenis kelamin yang sudah dikumpulkan
dari hasil kegiatan/pertemuan sebelumnya mau pun hasil dari kegiatan mengamati dan
kegiatan mengumpulkan informasi yang sedang berlangsung dengan bantuan
pertanyaan-pertanyaan pada lembar kerja.
→ Peserta didik mengerjakan beberapa soal mengenai materi Penentuan jenis kelamin
Verification CRITICAL THINKING (BERPIKIR KRITIK)
(pembuktian) Peserta didik mendiskusikan hasil pengamatannya dan memverifikasi hasil pengamatannya
dengan data-data atau teori pada buku sumber melalui kegiatan :
→ Menambah keluasan dan kedalaman sampai kepada pengolahan informasi yang
bersifat mencari solusi dari berbagai sumber yang memiliki pendapat yang berbeda
sampai kepada yang bertentangan untuk mengembangkan sikap jujur, teliti, disiplin,
taat aturan, kerja keras, kemampuan menerapkan prosedur dan kemampuan berpikir
induktif serta deduktif dalam membuktikan tentang materi :
Penentuan jenis kelamin

antara lain dengan : Peserta didik dan guru secara bersama-sama membahas jawaban
soal-soal yang telah dikerjakan oleh peserta didik.
Generalization COMMUNICATION (BERKOMUNIKASI)
(menarik Peserta didik berdiskusi untuk menyimpulkan
kesimpulan)
→ Menyampaikan hasil diskusi tentang materi Penentuan jenis kelamin berupa
kesimpulan berdasarkan hasil analisis secara lisan, tertulis, atau media lainnya untuk
mengembangkan sikap jujur, teliti, toleransi, kemampuan berpikir sistematis,
mengungkapkan pendapat dengan sopan.
→ Mempresentasikan hasil diskusi kelompok secara klasikal tentang materi :
Penentuan jenis kelamin

→ Mengemukakan pendapat atas presentasi yang dilakukan tentanag materi Penentuan


jenis kelamin dan ditanggapi oleh kelompok yang mempresentasikan.
→ Bertanya atas presentasi tentang materi Penentuan jenis kelamin yang dilakukan dan
peserta didik lain diberi kesempatan untuk menjawabnya.

CREATIVITY (KREATIVITAS)
→ Menyimpulkan tentang point-point penting yang muncul dalam kegiatan
pembelajaran yang baru dilakukan berupa :
Laporan hasil pengamatan secara tertulis tentang materi :
Penentuan jenis kelamin

→ Menjawab pertanyaan tentang materi Penentuan jenis kelamin yang terdapat pada
buku pegangan peserta didik atau lembar kerja yang telah disediakan.
→ Bertanya tentang hal yang belum dipahami, atau guru melemparkan beberapa
pertanyaan kepada siswa berkaitan dengan materi Penentuan jenis kelamin yang akan
selesai dipelajari
→ Menyelesaikan uji kompetensi untuk materi Penentuan jenis kelamin yang terdapat
pada buku pegangan peserta didik atau pada lembar lerja yang telah disediakan secara
individu untuk mengecek penguasaan siswa terhadap materi pelajaran.
Catatan : Selama pembelajaran Penentuan jenis kelamin berlangsung, guru mengamati sikap siswa
dalam pembelajaran yang meliputi sikap: nasionalisme, disiplin, rasa percaya diri, berperilaku jujur,
tangguh menghadapi masalah tanggungjawab, rasa ingin tahu, peduli lingkungan
Kegiatan Penutup (15 Menit)
Peserta didik :
● Membuat resume (CREATIVITY) dengan bimbingan guru tentang point-point penting yang muncul
dalam kegiatan pembelajaran tentang materi Penentuan jenis kelamin yang baru dilakukan.
● Mengagendakan pekerjaan rumah untuk materi pelajaran Penentuan jenis kelamin yang baru
diselesaikan.
● Mengagendakan materi atau tugas projek/produk/portofolio/unjuk kerja yang harus mempelajarai pada
pertemuan berikutnya di luar jam sekolah atau dirumah.
Guru :
● Memeriksa pekerjaan siswa yang selesai langsung diperiksa untuk materi pelajaran Penentuan jenis
kelamin
● Peserta didik yang selesai mengerjakan tugas projek/produk/portofolio/unjuk kerja dengan benar diberi
paraf serta diberi nomor urut peringkat, untuk penilaian tugas
● Memberikan penghargaan untuk materi pelajaran Penentuan jenis kelamin kepada kelompok yang
memiliki kinerja dan kerjasama yang baik.

4. Pertemuan Ke-4 (4 x 45 Menit)


Kegiatan Pendahuluan (15 Menit)
Guru :
Orientasi
● Melakukan pembukaan dengan salam pembuka, memanjatkan syukur kepada Tuhan YME dan berdoa
untuk memulai pembelajaran
● Memeriksa kehadiran peserta didik sebagai sikap disiplin
● Menyiapkan fisik dan psikis peserta didik dalam mengawali kegiatan pembelajaran.
Aperpepsi
● Mengaitkan materi/tema/kegiatan pembelajaran yang akan dilakukan dengan pengalaman peserta didik
dengan materi/tema/kegiatan sebelumnya
● Mengingatkan kembali materi prasyarat dengan bertanya.
● Mengajukan pertanyaan yang ada keterkaitannya dengan pelajaran yang akan dilakukan.
Motivasi
● Memberikan gambaran tentang manfaat mempelajari pelajaran yang akan dipelajari dalam kehidupan
sehari-hari.
● Apabila materitema/projek ini kerjakan dengan baik dan sungguh-sungguh ini dikuasai dengan baik,
maka peserta didik diharapkan dapat menjelaskan tentang materi :
Pautan seks

● Menyampaikan tujuan pembelajaran pada pertemuan yang berlangsung


● Mengajukan pertanyaan
Pemberian Acuan
● Memberitahukan materi pelajaran yang akan dibahas pada pertemuan saat itu.
● Memberitahukan tentang kompetensi inti, kompetensi dasar, indikator, dan KKM pada pertemuan yang
berlangsung
● Pembagian kelompok belajar
● Menjelaskan mekanisme pelaksanaan pengalaman belajar sesuai dengan langkah-langkah
pembelajaran.
Kegiatan Inti ( 150 Menit )
Sintak Model
Kegiatan Pembelajaran
Pembelajaran
Stimulation KEGIATAN LITERASI
(stimullasi/ Peserta didik diberi motivasi atau rangsangan untuk memusatkan perhatian pada topik
pemberian materi Pautan seks dengan cara :
rangsangan)
→ Melihat (tanpa atau dengan Alat)
Menayangkan gambar/foto/video yang relevan.
→ Mengamati
● Lembar kerja materi Pautan seks
● Pemberian contoh-contoh materi Pautan seks untuk dapat dikembangkan peserta
didik, dari media interaktif, dsb
→ Membaca.
Kegiatan literasi ini dilakukan di rumah dan di sekolah dengan membaca materi dari
buku paket atau buku-buku penunjang lain, dari internet/materi yang berhubungan
dengan Pautan seks
→ Menulis
Menulis resume dari hasil pengamatan dan bacaan terkait Pautan seks
→ Mendengar
Pemberian materi Pautan seks oleh guru.
→ Menyimak
Penjelasan pengantar kegiatan secara garis besar/global tentang materi pelajaran
mengenai materi :
Pautan seks

untuk melatih rasa syukur, kesungguhan dan kedisiplinan, ketelitian, mencari


informasi.
Problem CRITICAL THINKING (BERPIKIR KRITIK)
statemen Guru memberikan kesempatan pada peserta didik untuk mengidentifikasi sebanyak
(pertanyaan/ mungkin pertanyaan yang berkaitan dengan gambar yang disajikan dan akan dijawab
identifikasi melalui kegiatan belajar, contohnya :
masalah)
→ Mengajukan pertanyaan tentang materi :
Pautan seks

yang tidak dipahami dari apa yang diamati atau pertanyaan untuk mendapatkan informasi
tambahan tentang apa yang diamati (dimulai dari pertanyaan faktual sampai ke pertanyaan
yang bersifat hipotetik) untuk mengembangkan kreativitas, rasa ingin tahu, kemampuan
merumuskan pertanyaan untuk membentuk pikiran kritis yang perlu untuk hidup cerdas
dan belajar sepanjang hayat.
Data KEGIATAN LITERASI
collection Peserta didik mengumpulkan informasi yang relevan untuk menjawab pertanyan yang
(pengumpulan telah diidentifikasi melalui kegiatan:
data)
→ Mengamati obyek/kejadian
Mengamati dengan seksama materi Pautan seks yang sedang dipelajari dalam bentuk
gambar/video/slide presentasi yang disajikan dan mencoba menginterprestasikannya.
→ Membaca sumber lain selain buku teks
Secara disiplin melakukan kegiatan literasi dengan mencari dan membaca berbagai
referensi dari berbagai sumber guna menambah pengetahuan dan pemahaman tentang
materi Pautan seks yang sedang dipelajari.
→ Aktivitas
Menyusun daftar pertanyaan atas hal-hal yang belum dapat dipahami dari kegiatan
mengmati dan membaca yang akan diajukan kepada guru berkaitan dengan materi
Pautan seks yang sedang dipelajari.
→ Wawancara/tanya jawab dengan nara sumber
Mengajukan pertanyaan berkaiatan dengan materi Pautan seks yang telah disusun
dalam daftar pertanyaan kepada guru.

COLLABORATION (KERJASAMA)
Peserta didik dibentuk dalam beberapa kelompok untuk:
→ Mendiskusikan
Peserta didik dan guru secara bersama-sama membahas contoh dalam buku paket
mengenai materi Pautan seks
→ Mengumpulkan informasi
Mencatat semua informasi tentang materi Pautan seks yang telah diperoleh pada buku
catatan dengan tulisan yang rapi dan menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan
benar.
→ Mempresentasikan ulang
Peserta didik mengkomunikasikan secara lisan atau mempresentasikan materi dengan
rasa percaya diri Pautan seks sesuai dengan pemahamannya.
→ Saling tukar informasi tentang materi :
Pautan seks
dengan ditanggapi aktif oleh peserta didik dari kelompok lainnya sehingga diperoleh
sebuah pengetahuan baru yang dapat dijadikan sebagai bahan diskusi kelompok kemudian,
dengan menggunakan metode ilmiah yang terdapat pada buku pegangan peserta didik atau
pada lembar kerja yang disediakan dengan cermat untuk mengembangkan sikap teliti,
jujur, sopan, menghargai pendapat orang lain, kemampuan berkomunikasi, menerapkan
kemampuan mengumpulkan informasi melalui berbagai cara yang dipelajari,
mengembangkan kebiasaan belajar dan belajar sepanjang hayat.
Data COLLABORATION (KERJASAMA) dan CRITICAL THINKING (BERPIKIR
processing KRITIK)
(pengolahan Peserta didik dalam kelompoknya berdiskusi mengolah data hasil pengamatan dengan cara
Data) :
→ Berdiskusi tentang data dari Materi :
Pautan seks

→ Mengolah informasi dari materi Pautan seks yang sudah dikumpulkan dari hasil
kegiatan/pertemuan sebelumnya mau pun hasil dari kegiatan mengamati dan kegiatan
mengumpulkan informasi yang sedang berlangsung dengan bantuan pertanyaan-
pertanyaan pada lembar kerja.
→ Peserta didik mengerjakan beberapa soal mengenai materi Pautan seks
Verification CRITICAL THINKING (BERPIKIR KRITIK)
(pembuktian) Peserta didik mendiskusikan hasil pengamatannya dan memverifikasi hasil pengamatannya
dengan data-data atau teori pada buku sumber melalui kegiatan :
→ Menambah keluasan dan kedalaman sampai kepada pengolahan informasi yang
bersifat mencari solusi dari berbagai sumber yang memiliki pendapat yang berbeda
sampai kepada yang bertentangan untuk mengembangkan sikap jujur, teliti, disiplin,
taat aturan, kerja keras, kemampuan menerapkan prosedur dan kemampuan berpikir
induktif serta deduktif dalam membuktikan tentang materi :
Pautan seks

antara lain dengan : Peserta didik dan guru secara bersama-sama membahas jawaban
soal-soal yang telah dikerjakan oleh peserta didik.
Generalization COMMUNICATION (BERKOMUNIKASI)
(menarik Peserta didik berdiskusi untuk menyimpulkan
kesimpulan)
→ Menyampaikan hasil diskusi tentang materi Pautan seks berupa kesimpulan
berdasarkan hasil analisis secara lisan, tertulis, atau media lainnya untuk
mengembangkan sikap jujur, teliti, toleransi, kemampuan berpikir sistematis,
mengungkapkan pendapat dengan sopan.
→ Mempresentasikan hasil diskusi kelompok secara klasikal tentang materi :
Pautan seks

→ Mengemukakan pendapat atas presentasi yang dilakukan tentanag materi Pautan


seks dan ditanggapi oleh kelompok yang mempresentasikan.
→ Bertanya atas presentasi tentang materi Pautan seks yang dilakukan dan peserta didik
lain diberi kesempatan untuk menjawabnya.

CREATIVITY (KREATIVITAS)
→ Menyimpulkan tentang point-point penting yang muncul dalam kegiatan
pembelajaran yang baru dilakukan berupa :
Laporan hasil pengamatan secara tertulis tentang materi :
Pautan seks
→ Menjawab pertanyaan tentang materi Pautan seks yang terdapat pada buku pegangan
peserta didik atau lembar kerja yang telah disediakan.
→ Bertanya tentang hal yang belum dipahami, atau guru melemparkan beberapa
pertanyaan kepada siswa berkaitan dengan materi Pautan seks yang akan selesai
dipelajari
→ Menyelesaikan uji kompetensi untuk materi Pautan seks yang terdapat pada buku
pegangan peserta didik atau pada lembar lerja yang telah disediakan secara individu
untuk mengecek penguasaan siswa terhadap materi pelajaran.
Catatan : Selama pembelajaran Pautan seks berlangsung, guru mengamati sikap siswa dalam
pembelajaran yang meliputi sikap: nasionalisme, disiplin, rasa percaya diri, berperilaku jujur, tangguh
menghadapi masalah tanggungjawab, rasa ingin tahu, peduli lingkungan
Kegiatan Penutup (15 Menit)
Peserta didik :
● Membuat resume (CREATIVITY) dengan bimbingan guru tentang point-point penting yang muncul
dalam kegiatan pembelajaran tentang materi Pautan seks yang baru dilakukan.
● Mengagendakan pekerjaan rumah untuk materi pelajaran Pautan seks yang baru diselesaikan.
● Mengagendakan materi atau tugas projek/produk/portofolio/unjuk kerja yang harus mempelajarai pada
pertemuan berikutnya di luar jam sekolah atau dirumah.
Guru :
● Memeriksa pekerjaan siswa yang selesai langsung diperiksa untuk materi pelajaran Pautan seks
● Peserta didik yang selesai mengerjakan tugas projek/produk/portofolio/unjuk kerja dengan benar diberi
paraf serta diberi nomor urut peringkat, untuk penilaian tugas
● Memberikan penghargaan untuk materi pelajaran Pautan seks kepada kelompok yang memiliki kinerja
dan kerjasama yang baik.

IX. Penilaian, Pembelajaran Remedial dan Pengayaan


1. Teknik Penilaian (terlampir)

a. Pengetahuan
- Tertulis Uraian dan atau Pilihan Ganda

- Penugasan
Tugas Rumah
a. Peserta didik menjawab pertanyaan yang terdapat pada buku peserta didik
b. Peserta didik memnta tanda tangan orangtua sebagai bukti bahwa mereka telah mengerjakan
tugas rumah dengan baik
c. Peserta didik mengumpulkan jawaban dari tugas rumah yang telah dikerjakan untuk
mendapatkan penilaian.

b. Sikap
- Penilaian Observasi
Penilaian observasi berdasarkan pengamatan sikap dan perilaku peserta didik sehari-hari, baik
terkait dalam proses pembelajaran maupun secara umum. Pengamatan langsung dilakukan oleh
guru. Berikut contoh instrumen penilaian sikap
Aspek Perilaku yang Dinilai Jumlah Skor Kode
No Nama Siswa
BS JJ TJ DS Skor Sikap Nilai
1 Soenarto 75 75 50 75 275 68,75 C
2 ... ... ... ... ... ... ...

Keterangan :
• BS : Bekerja Sama
• JJ : Jujur
• TJ : Tanggun Jawab
• DS : Disiplin

Catatan :
1. Aspek perilaku dinilai dengan kriteria:
100 = Sangat Baik
75 = Baik
50 = Cukup
25 = Kurang
2. Skor maksimal = jumlah sikap yang dinilai dikalikan jumlah kriteria = 100 x 4 = 400
3. Skor sikap = jumlah skor dibagi jumlah sikap yang dinilai = 275 : 4 = 68,75
4. Kode nilai / predikat :
75,01 – 100,00 = Sangat Baik (SB)
50,01 – 75,00 = Baik (B)
25,01 – 50,00 = Cukup (C)
00,00 – 25,00 = Kurang (K)
5. Format di atas dapat diubah sesuai dengan aspek perilaku yang ingin dinilai

- Penilaian Diri
Seiring dengan bergesernya pusat pembelajaran dari guru kepada peserta didik, maka peserta
didik diberikan kesempatan untuk menilai kemampuan dirinya sendiri. Namun agar penilaian
tetap bersifat objektif, maka guru hendaknya menjelaskan terlebih dahulu tujuan dari penilaian
diri ini, menentukan kompetensi yang akan dinilai, kemudian menentukan kriteria penilaian yang
akan digunakan, dan merumuskan format penilaiannya Jadi, singkatnya format penilaiannya
disiapkan oleh guru terlebih dahulu. Berikut Contoh format penilaian :
Jumlah Skor Kode
No Pernyataan Ya Tidak
Skor Sikap Nilai
Selama diskusi, saya ikut serta
1 50
mengusulkan ide/gagasan.
Ketika kami berdiskusi, setiap
2 anggota mendapatkan kesempatan 50
250 62,50 C
untuk berbicara.
Saya ikut serta dalam membuat
3 50
kesimpulan hasil diskusi kelompok.
4 ... 100

Catatan :
1. Skor penilaian Ya = 100 dan Tidak = 50
2. Skor maksimal = jumlah pernyataan dikalikan jumlah kriteria = 4 x 100 = 400
3. Skor sikap = (jumlah skor dibagi skor maksimal dikali 100) = (250 : 400) x 100 = 62,50
4. Kode nilai / predikat :
75,01 – 100,00 = Sangat Baik (SB)
50,01 – 75,00 = Baik (B)
25,01 – 50,00 = Cukup (C)
00,00 – 25,00 = Kurang (K)
5. Format di atas dapat juga digunakan untuk menilai kompetensi pengetahuan dan
keterampilan

- Penilaian Teman Sebaya


Penilaian ini dilakukan dengan meminta peserta didik untuk menilai temannya sendiri. Sama
halnya dengan penilaian hendaknya guru telah menjelaskan maksud dan tujuan penilaian,
membuat kriteria penilaian, dan juga menentukan format penilaiannya. Berikut Contoh format
penilaian teman sebaya :

Nama yang diamati : ...


Pengamat : ...

Jumlah Skor Kode


No Pernyataan Ya Tidak
Skor Sikap Nilai
1 Mau menerima pendapat teman. 100
Memberikan solusi terhadap
2 100
permasalahan.
Memaksakan pendapat sendiri 450 90,00 SB
3 100
kepada anggota kelompok.
4 Marah saat diberi kritik. 100
5 ... 50

Catatan :
1. Skor penilaian Ya = 100 dan Tidak = 50 untuk pernyataan yang positif, sedangkan untuk
pernyataan yang negatif, Ya = 50 dan Tidak = 100
2. Skor maksimal = jumlah pernyataan dikalikan jumlah kriteria = 5 x 100 = 500
3. Skor sikap = (jumlah skor dibagi skor maksimal dikali 100) = (450 : 500) x 100 = 90,00
4. Kode nilai / predikat :
75,01 – 100,00 = Sangat Baik (SB)
50,01 – 75,00 = Baik (B)
25,01 – 50,00 = Cukup (C)
00,00 – 25,00 = Kurang (K)

c. Keterampilan
- Penilaian Unjuk Kerja
Contoh instrumen penilaian unjuk kerja dapat dilihat pada instrumen penilaian ujian
keterampilan berbicara sebagai berikut:

Instrumen Penilaian
Sangat Kurang Tidak
Baik
No Aspek yang Dinilai Baik Baik Baik
(75)
(100) (50) (25)
1 Kesesuaian respon dengan pertanyaan
2 Keserasian pemilihan kata
3 Kesesuaian penggunaan tata bahasa
4 Pelafalan

Kriteria penilaian (skor)


100 = Sangat Baik
75 = Baik
50 = Kurang Baik
25 = Tidak Baik
Cara mencari nilai (N) = Jumalah skor yang diperoleh siswa dibagi jumlah skor maksimal dikali
skor ideal (100)

Instrumen Penilaian Diskusi


No Aspek yang Dinilai 100 75 50 25
1 Penguasaan materi diskusi
2 Kemampuan menjawab pertanyaan
3 Kemampuan mengolah kata
4 Kemampuan menyelesaikan masalah

Keterangan :
100 = Sangat Baik
75 = Baik
50 = Kurang Baik
25 = Tidak Baik

2. Pembelajaran Remedial dan Pengayaan


a. Remedial
Bagi peserta didik yang belum memenuhi kriteria ketuntasan minimal (KKM), maka guru bisa
memberikan soal tambahan misalnya sebagai berikut :
1) Jelaskan tentang Sistem Pembagian Kekuasaan Negara!
2) Jelaskan tentang Kedudukan dan Fungsi Kementerian Negara Republik Indonesia dan
Lembaga Pemerintah Non Kementerian!
3) Jelaskan tentang Nilai-nilai Pancasila dalam Penyelenggaraan pemerintahan!

CONTOH PROGRAM REMIDI

Sekolah : ……………………………………………..
Kelas/Semester : ……………………………………………..
Mata Pelajaran : ……………………………………………..
Ulangan Harian Ke : ……………………………………………..
Tanggal Ulangan Harian : ……………………………………………..
Bentuk Ulangan Harian : ……………………………………………..
Materi Ulangan Harian : ……………………………………………..
(KD / Indikator) : ……………………………………………..
KKM : ……………………………………………..

Nama Indikator yang Bentuk


Nilai Nilai Setelah
No Peserta Belum Tindakan Keterangan
Ulangan Remedial
Didik Dikuasai Remedial
1
2
3
4
5
6
dst

b. Pengayaan
Guru memberikan nasihat agar tetap rendah hati, karena telah mencapai KKM (Kriteria Ketuntasan
Minimal). Guru memberikan soal pengayaan sebagai berikut :
1) Membaca buku-buku tentang Nilai-nilai Pancasila dalam kerangka praktik
penyelenggaraan pemerintahan Negara yang relevan.
2) Mencari informasi secara online tentang Nilai-nilai Pancasila dalam kerangka praktik
penyelenggaraan pemerintahan Negara
3) Membaca surat kabar, majalah, serta berita online tentang Nilai-nilai Pancasila dalam
kerangka praktik penyelenggaraan pemerintahan Negara
4) Mengamati langsung tentang Nilai-nilai Pancasila dalam kerangka praktik
penyelenggaraan pemerintahan Negara yang ada di lingkungan sekitar.

……………, 25 Juli 2017

Mengetahui
Kepala SMAN …………. Guru Mata Pelajaran

…………………………………… …………………………………….
NIP/NRK. NIP/NRK.

Catatan Kepala Sekolah


.....................................................................................................................................................................................
.....................................................................................................................................................................................
.....................................................................................................................................................................................
.................................................................................................................

Anda mungkin juga menyukai