Anda di halaman 1dari 22

TUGAS

TEKNIK PENGUKURAN INDUSTRI MIGAS

Oleh:
Nama : Fany Mardiyanti
NIM : 13441004
Program Studi : Teknik Instrumentasi Kilang
Konsentrasi : Instrumentasi dan Elektronika
Diploma : 4 (Empat)

KEMENTERIAN ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL


BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL
SEKOLAH TINGGI ENERGI DAN MINERAL AKAMIGAS
STEM Akamigas
TAHUN AKADEMIK 2016/2017
Tugas 1
Teknik Pengukuran Industri Migas

6 September 2016
1. Mengapa untuk kalibrasi test volume prover dilakukan pada temperature 15°C
dengan pressure 0 kg/cm2 ?
Jawab :
Volume referensi pipa prover mempunyai volume yang didefinisikan pada
referensi temperature dan pressure tetap. Temperature referensi normalnya
adalah 15°C atau 20°C. Kalibrasi test volume prover dilakukan pada
temperature 15°C dengan pressure 0 kg/cm2 bertujuan untuk meminimalkan
koreksi ukuran volume prover.
Hal ini dikarenakan prover digunakan pada saat custody transfer yang
menggunakan standar temperature 60°F atau 68°F (15°C atau 20°C).

2. Apa yang dimaksud dengan MPF?


Jawab :
MPF (Multi Phase Flowmeter) adalah alat yang digunakan untuk mengukur
laju aliran fase individual dari fase konstituen dalam aliran tertentu (misalnya
dalam industri minyak dan gas), campuran minyak, air, dan gas yang
dihasilkan selama proses produksi minyak.
Multi Phase Flowmeter menggunakan beberapa alat ukut yang terdiri dari :
a. Venturi meter :
Alat ukur aliran yang termasuk dalam metoda pengukuran tipe Inferential.
Tempat pengukuran perbedaan tekanan diambil pada input venturi (sebelum
fluida mengalami percepatan) dan pada leher venturi.
b. Capacitance sensor :
Menggunakan kapasitor untuk mengetahui nilai energi yang tersimpan
dalam bentuk electrical field (capacitance).
c. Inductive sensor :
Menggunakan induktor untuk menyimpan dan memberikan energi berupa
arus.
d. Gamma densitometer :
Digunakan untuk mengukur total density dari aliran campuran didalam pipa.
Sumber radioaktif yang digunakan adalah Caesium 137 (Cs 137).

Fany Mardiyanti – INS-4 – 13441004 2


Teknik Pengukuran Industri Migas

3. Mengapa pada syarat pada coriolis meter 60°F 14,7 Psia untuk minyak dan
68°F 14,5Psi?
Jawab :
 60°F 14,7 Psia adalah kondisi referensi standard temperatur dan tekanan
untuk mengekspresikan volume gas, yang digunakan dalam bidang industri
dan komersial. Merupakan kondisi referensi standar yang digunakan EGIA
(Electricity and Gas Inspection Act), OPEC (Organization of the Petroleum
Inspecting Countries), U.S. EIA (U.S. Departement of Energy, Energy
Information Administration).
 68°F 14,5Psi = 20°C 100,0 kPa adalah kondisi referensi standard temperatur
dan tekanan untuk mengekspresikan volume gas, yang digunakan dalam
bidang industri dan komersial. Merupakan kondisi referensi standar yang
digunakan CAGI (Compressed Air Gas Institute).
 Pada coriolis meter menggunakan standard 60°F 14,7 Psi untuk minyak dan
68°F 14,5Psi dikarenakan coriolis meter merupakan flowmeter yang
menggunakan komponen-komponen elektrik sehingga harus memenuhi
standar EGIA, dan coriolis meter digunakan dalam pengukuran fluida baik
itu berupa minyak maupun gas sehingga menggunakan kondisi referensi
standar yang digunakan oleh OPEC dan CAGI.

4. Verifikasi terhadap analisa gas yang dilakukan chromatograph telah


memenuhi syarat sesuai standard yang diacu ASTM-D 1945.
Apa itu standar ASTM-D 1945?
Jawab :
Standard ASTM-D 1945 adalah standard metode test yang digunakan untuk
analisis gas alam menggunakan gas chromatography.
Standard ASTM-D 1945 mencakup hal-hal berikut ini :
1) Metode pengujian ini mencakup penentuan komposisi kimia dari gas alam
dan campuran gas yang sama dalam berbagai komposisi. Metode pengujian
ini dapat disingkat untuk analisis lean natural gasses yang mengandung
jumlah yang dapat diabaikan dari heksana dan hidrokarbon yang lebih
tinggi, atau untuk penentuan satu atau lebih komponen.

Fany Mardiyanti – INS-4 – 13441004 3


Teknik Pengukuran Industri Migas

2) Nilai-nilai yang dinyatakan dalam satuan SI harus dianggap sebagai standar.


Nilai yang diberikan dalam kurung adalah untuk informasi saja.
3) Standar ini tidak dimaksudkan untuk mengatasi semua masalah keamanan,
jika ada, yang terkait dengan penggunaannya. Ini adalah tanggung jawab
pengguna standar ini untuk membangun praktik keselamatan dan kesehatan
yang tepat dan menentukan penerapan pembatasan peraturan sebelum
digunakan.

5. Verifikasi terhadap analisa gas yang dilakukan chromatograph telah memenuhi


syarat sesuai standard yang diacu ASTM-D 1945.
Apa itu standar ASTM-D 1945?
6. Verifikasi terhadap analisa gas yang dilakukan chromatograph telah memenuhi
syarat sesuai standard yang diacu ASTM-D 1945.
Apa itu standar ASTM-D 1945?
7. Verifikasi terhadap analisa gas yang dilakukan chromatograph telah memenuhi
syarat sesuai standard yang diacu ASTM-D 1945.
Apa itu standar ASTM-D 1945?
8. Verifikasi terhadap analisa gas yang dilakukan chromatograph telah memenuhi
syarat sesuai standard yang diacu ASTM-D 1945.
Apa itu standar ASTM-D 1945?

9. Tera dan Kalibrasi.


a. Jelaskan tentang tera dan kalibrasi
b. Beri contoh perhitungan untuk tera dan kalibrasi
Jawab :
a. Tera dan kalibrasi
Pengertian :
 Tera (berdasarkan UU No.2 Tahun 1981 tentang Metrologi Legal) :
Hal menandai dengan tanda tera sah atau tanda tera batal yang berlaku,
atau memberikan keterangan-keterangan yang tertulis yang bertanda
tera sah atau tanda tera batal yang berlaku, dilakukan oleh pegawai-
pegawai yang berhak melakukannya berdasarkan pengujian yang

Fany Mardiyanti – INS-4 – 13441004 4


Teknik Pengukuran Industri Migas

dijalankan atas alat-alat ukur, takar, timbang, dan perlengkapannya


yang belum dipakai
 Kalibrasi (berdasarkan ISO/IEC Guide 17025 : 2005 dan Vocabulary of
International Metrology (VIM)) :
Serangkaian kegiatan yang membentuk hubungan antara nilai yang
ditunjukkan oleh instrumen ukur atau sistem pengukuran, atau nilai
yang diwakili oleh bahan ukur, dengan nilai-nilai yang sudah diketahui
yang berkaitan dari besaran yang diukur dalam kondisi tertentu.
Prinsipnya :
 Tera  Untuk kepentingan dinas perdagangan memastikan tidak ada
kecurangan dalam proses jual beli yang menggunakan alat ukur.
 Kalibrasi  Istilah di industri dalam rangka memenuhi persyaratan ISO
/ sistem jaminan mutu.
Perbedaan tera dan kalibrasi :
Parameter Tera Kalibrasi
Aturan UU No.2 1981 ISO 17025 : 2005
Sifat Aturan Wajib Suka rela
Personil Disumpah Belum ada aturan
Tujuan Transaksi yang adil Ketelusuran
Semua alat ukur yang
Jenis Peralatan Lab. Produksi, jasa
akan digunakan
Departemen
Instansi Pengelola Lab. Kalibrasi
Perdagangan
Tanda tera, Surat Label, Sertifikat
Hasil Pekerjaan
keterangan kalibrasi
Selang Waktu Diatur UU No.2 1981 Sesuai sifat alat
Pengecekan antara Tidak diketahui Antara selang kalibrasi

b. Contoh perhitungan tera dan kalibrasi :


Tera dan kalibrasi memiliki perhitungan yang sama, hanya berbeda tujuan.
Berikut ini contoh perhitungan kalibrasi dan tera Level Transmitter pada
tangki tertutup.

Jika tinggi sebuah X1 adalah 0,5 meter, X2 adalah 2 meter dan tinggi H
adalah 3 meter, di dalam tangki terdapat cairan yang memiliki density
sebesar 0,75 g/cm3 , berapakah range kalibrasi pada transmitter tersebut?
Penyelesaian :

Fany Mardiyanti – INS-4 – 13441004 5


Teknik Pengukuran Industri Migas

0,75 g⁄cm3
SG = = 0,75
1 g⁄cm3
Min Range = PHigh − PLow
Min Range = (SG x X1) − (SG x H)
Min Range = (0,75 x 0,5) − (0,75 x 3)
Min Range = 0,375 − 2,25
Min Range = −1,875 mH2 O
Max Range = PHigh − PLow
Min Range = [(SG x X1) + (SG x X2)] − (SG x H)
Min Range = [(0,75 x 0,5) + (0,75 x 2)] − (0,75 x 3)
Min Range = 1,125 − 2,25
Min Range = −1,125 mH2 O
Range = -1,875 ~ -1,125 mH2 O

10. Jelaskan tentang AGA-3, AGA7, AGA-8, dan AGA-9


Jawab :
 AGA-3 :
Panduan dalam penggunaan orifice metering gas alam dan cairan
hidrokarbon lainnya. Terdiri-dari beberapa persamaan yang digunakan
dalam menghitung aliran yang dipengaruhi oleh faktor-faktor koreksi
orifice (orifice correction factor).
 AGA-7 :
Panduan dalam pengukuran gas menggunakan turbine meter dan terbatas
pada axial-flow turbine meter. Terdiri dari konstruksi meter, instalasi, dan
aspek lain dari metering, dan persamaan yang digunakan dalam
penghitungan aliran. Konstruksi dan instalasi meter spesifik pada axial-
flow turbine meter, tetapi persamaan untuk perhitungan flow dapat
diaplikasikan ke meter linier, termasuk ultrasonic dan vortex meter.
 AGA-8 :
Merupakan panduan untuk variasi tertentu dalam komposisi gas.
AGA-8 dianjurkan untuk hal-hal berikut :
a. Gunakan Detail Characterization Method (DCM) untuk aplikasi
dengan pertemuan kondisi aliran dengan parameter berikut :

Fany Mardiyanti – INS-4 – 13441004 6


Teknik Pengukuran Industri Migas

 Temperature 32°F sampai 130°F


 Pressure 0 Psia sampai 1200 Psia
 Komposisi gas dalam kisaran normal pada tabel range untuk
karakteristik gas campuran.
b. Untuk semua penggunaan lain, gunakan Detail Characterization
Method (DCM).
 AGA-9 :
Panduan dalam pengukuran gas menggunakan multipath ultrasonic meter.
termasuk metode perhitungan volume tidak terkoreksi untuk ultrasonic
meter.

11. Beri contoh perhitungan untuk soal No.10


Jawab :
a) Perhitungan AGA-3
Pada sebuah pengukuran aliran fluida menggunakan Orifice Meter,
diperoleh data-data sebagai berikut :
 Pipe Inside Diameter (D) : 102,26 mm = 4,025984 inchi
 Orifice Bore Diameter (d) : 45,54 mm = 1,793701 inchi
 Orifice Plate Temperature : 30 °C = 86 °F
 Base Pressure (Pb) : 14,7 Psia
 Base Temperature (Tb) : 20 °C = 68 °F
 Flowing Pressure (Pf) : 3,46 kg/cm2 A = 34,5128 Psig
 Flowing Temperature` (Tf) : 30,19 °C = 86,342 °F
 Differential Pressure (Hw) : 1100 mmH2O = 43,3070 inchi H2O
 Relative density gas alir(SG) : 0,7825
 Percent Mole N2 (Mn) : 0,03 %
 Percent Mole CO2 (Mc) : 5,03 %
 Specific Heat Ratio (k) : 1,32
 Letak garis lintang : 7°45’ LS = 7,75 LS
Langkah pertama adalah mencari besarnya C′ (konstanta aliran orifice)
a) Basic Orifice Factor (𝐅𝐛 )
𝑑 1,793701 𝑖𝑛𝑐ℎ𝑖
𝛽= = = 0,445531
𝐷 4,025984 𝑖𝑛𝑐ℎ𝑖

Fany Mardiyanti – INS-4 – 13441004 7


Teknik Pengukuran Industri Migas

530
B= (untuk 𝑓𝑙𝑎𝑛𝑔𝑒 tap)
√D
530 530
B= = = 264,143707
√4,025984 2,006484

E = d[(830 − 5000 ∙ β) + (9000 ∙ β2 ) − (4200 ∙ β3 ) + B]


E = 1,793701[(830 − 5000 ∙ 0,445531) + (9000 ∙ 0,4455312 )
E= −(4200 ∙ 0,4455313 ) + 264,143515]
E = 1,793701[(830 − 2227,655) + (9000 ∙ 0,198498)
E= −(4200 ∙ 0,088437) + 264,143515]
E = 1,793701[(−1397,655) + 1786,422 − 371,4354
+ 264,143515]
E = 1,793701(281,535115)
E = 504,98736
0,007 0,076 4 1 5
K e = 0,5993 + + [0,364 + ] β + 0,4 [1,6 − ]
D √D D
5
0,5 2 0,034 3
Kc = [(0,07 + ) − β] (0,009 + ) [0,5 − β]2 +
D D
65 5
Kc = + [ + 3] [β − 0,7]2
D
0,007 0,076
Kc = 0,5993 + + [0,364 + ] 0,4455314
4,025984 √4,025984
5 5
1 0,5
Kc = +0,4 [1,6 − ] [(0,07 + ) − 0,445531]
4,025984 102,26
0,034 3
Kc = − [0,009 + ] [0,5 − 0,445531]2
4,025984
65 5
Kc = + [ + 3] [0,445531 − 0,7] 2
4,0259842
Kc = 0,5993 + 0,001739 + 0,015835 + 0 + 0
Ke = 0,616873
(Bagian yang berpangkat pecahan apabila hasilnya negatif maka bagian
tersebut dianggap bernilai nol)
Ke 0,616873
K0 = =
E 504,98736
1 + [15× ] 1 + [15× ]
d×106 1,793701×106

Fany Mardiyanti – INS-4 – 13441004 8


Teknik Pengukuran Industri Migas

0,616873
Ko =
1,00422
Ko = 0,614279
Dengan rumus :
Fb = 338,178×d2 ×K 0
Fb = 338,178×1,7937012 ×0,614279 = 668,358336
b) Reynolds Number Factor (𝐅𝐫 )
0,604 0,604 0,604
K= = = = 0,616263
√1 − β4 √1 − 0,039401 0,980101
E 504,987360
b= = = 0,035593
12835×d×K 12835×1,793701×0,616263
Dengan rumus :
b
Fr = 1 +
√hw ∙ pf
b 0,035593
Fr = 1 + = 1+ = 1,000921
√Hw ∙ pf √43,3070 ∙ 34,5128
c) Expansion Factor (Y)
Hw 43,3070
X= = = 0,045289
27,707×Pf 27,707×34,5128
k = cp / cv = 1,32
Static pressure diambil dari downstream, maka:

X
Y = √1 + x − (0,41 + 0,35 ∙ β4 )√
k(1 + x)0,5

Y = √1 + 0,045289

0,045289
−(0,41 + 0,35 ∙ 0,4455314 )√
1,32(1 + 0,045289)0,5

Y = 0,944760
d) Pressure Base Factor (𝐅𝐩𝐛 )
14,73 14,73
Fpb = = = 1,002041
Pb 14,7
e) Temperature Base Factor (𝐅𝐓𝐛 )
Tb + 460 68 + 460
FTb = = = 1,015385
520 520

Fany Mardiyanti – INS-4 – 13441004 9


Teknik Pengukuran Industri Migas

f) Flowing Temperature Correction Factor (𝐅𝐓𝐟 )

520 520
FTf = √ =√ = 0,975595
460 + Tf 460 + 86,342

g) Specific Gravity Factor (𝐅𝐠 )

1 1
Fg = √ = √ = 1,130467
G 0,7825

h) Supercompressibility Factor (Fpv)


Untuk SG antara 0.76 s/d 0.95 :

Pf ×3,444×105 ×101.188×SG
Fpv = √1 +
Tf 3.825

34,5128 ×3,444×105 ×101.188×0,7825


Fpv = √1 +
86,3423.825

Fpv = 1,013242
i) Orifice Thermal Expansion Factor (Fa )
Nilai orifice thermal expansion factor ini bisa diperoleh dengan
menggunakan persamaan:
Fa = 1 + [0,0000185(°F − Tmean )]
Fa = 1 + [0,0000185(86,34 − 86)]
Fa = 1 + [0,0000185(0,342)]
Fa = 1,000006
j) Manometer Factor (𝐅𝐦 )
Karena pengukuran laju alir gas dengan orifice meter ini menggunakan
orifice meter jenis bellows, maka :
Fm = 1,000
k) Gage Location Factor (𝐅𝐥 )
Pengukuran laju alir gas dengan orifice meter ini terletak pada
latitude 7°45’ (atau sama dengan 7,75° latitude), dan ketinggian dari
permukaan laut kurang dari 100 feet, sehingga berdasarkan tabel gage
location factor :
Degrees
Sea Level
Latitude

Fany Mardiyanti – INS-4 – 13441004 10


Teknik Pengukuran Industri Migas

<100 feet mdpl


5 0,9987
10 0,9988
Maka nilai gage location factor dengan cara interpolasi :
7,75 − 5
Fl = [( ×(0,9988 − 0,9987)) + 0,9987]
10 − 5

Fl = 0,998755
Dari perhitungan-perhitungan di atas, maka akan diperoleh:
Fb = 668,358336 Fg = 1,130467
Fr = 1,000921 Fpv = 1,013242
Y = 0,944760 Fa = 1,000006
FPb = 1,002041 Fm = 1,000000
FTb = 1,015385 Fl = 0,998755
FTf = 0,975595
Sehingga diperoleh nilai konstanta aliran orifice :
C’ = (Fb )( Fr )(Y)( Fpb )( Ftb )( Ftf )( Fg )( Fpv )( Fa ) ( Fm ) ( Fl )
C’ = 717,709058
Q = C′ ×√Hw ×pf

Q = 717,709058×√43,3070×34,5128

Q = 717,709058×√1494,644437
Q = 717,709058×38,660632
Q = 27747,085487 Ft 3 /h
Q = 27747,085487 SCFH
Q = 0,027747 MMSCFH
Q = 0,027747 MMSCFH x 24 jam
Q = 0,665928 MMSCFD

b) Perhitungan AGA-7
Pada sebuah pengukuran aliran fluida menggunakan Turbin Meter, diperoleh
data-data sebagai berikut :
 Data Prover :
 Test volume prover = 6,0995 m3 (Kalibrasi pada temperatur 15°C
dengan pressure 0 kg/cm2

Fany Mardiyanti – INS-4 – 13441004 11


Teknik Pengukuran Industri Migas

 Material : Mild Steel


 Expansion Factor Y = 0,0000186
 Modulus of Elasticity E = 3·107
 Size diameter D = 45,72 cm = 18 inchi
 Wall thickness t = 2,4825 cm = 0,9775 inchi
 Pressure P = 12,75 kg/cm2 = 181,36875Psig
 Temperature T = 30°C = 86°F
 Data Liquid :
 Type : LPG
 Density : ρ = 0,581
 Rate : 105,33 m3 /jam
 Data Meter :
 Size : 6 inchi
 Pulsa per M 3 : K = 3332,78
 Data saat dilakukan proving :
Run Number of Pulse Meter Prover
No. Half Trip Round Trip kg/cm2 °C kg/cm2 °C
1. 10,155 20,310 6,8 31,82 6,6 31,38
2. 10,156 20,312 7,1 31,79 6,6 31,42
3. 10,155 20,310 7,1 31,76 6,7 31,39
4. 10,156 20,312 6,9 31,80 6,6 31,42
5. 10,155 20,310 7,1 31,78 6,5 31,39

 Total Round Trip = 101554


 Average Round Trip = (101554 : 5) = 20310,8
 Average Pressure Meter = 7 kg/cm2 = 99,575 Psig
 Average Temperature Meter = 31,79°C = 89,222°F
 Average Pressure Prover = 6,6 kg/cm2 = 93,885 Psig
 Average Temperature Prover = 31,4°C = 88,52°F
Penyelesaian :
a. Koreksi Efek Temperature terhadap logam pada Prover (CTSP)
CTSP = 1 + (T − Tbase ) · Y

Fany Mardiyanti – INS-4 – 13441004 12


Teknik Pengukuran Industri Migas

CTSP = 1 + (86 − 60) · 0,0000186


CTSP = 1,0004836
b. Koreksi Efek Tekanan terhadap Logam (CPSP)
P∙D
CPSP = 1 +
E∙t
181,36875×18
CTSP = 1 +
3×107 ×0,9775
CTSP = 1,000111
c. Koreksi Efek Temperature terhadap Liquid (CTLP dan CTLM)
CTLP dan CTLM dapat dicari dengan melihat tabel Correction Factor for
Temperature Liquid (Standard ASTM D-1250). Dari data:
 Average Temperature prover = 88,52°F
 Average Temperature meter = 89,222°F
pada kolom observed temperature °F dari pembacaan tabel diperoleh :
 Koreksi Efek Temperatur Terhadap Liquid pada Prover (CTLP)
CTLP = 0,9685
 Koreksi Efek Temperatur Terhadap Liquid pada Meter (CTLM)
CTLM = 0,9678
d. Koreksi Efek Tekanan terhadap Liquid (CPLP dan CPLM)
Dengan data :
 Equillibrium Vapor Pressure pada T Measurement, Pe1 = 93,8698 Psig
Pe2 = 99,5597 Psig
 Compressibility Factor : F = 1,215

Maka :
 Koreksi Efek Tekanan terhadap Liquid pada Prover (CPLP)
1
CPLP =
1 − (P − Pe) ∙ F
1
CPLP =
1 − (93,885 − 93,8698) ∙ 1,215
CPLP = 1,0188
 Koreksi Efek Tekanan terhadap Liquid pada Meter (CPLM)
1
CPLM =
1 − (P − Pe) ∙ F

Fany Mardiyanti – INS-4 – 13441004 13


Teknik Pengukuran Industri Migas

1
CPLP =
1 − (99,575 − 99,5597) ∙ 1,215 · 10−5
CPLP = 1,0189
e. Perhitungan Meter Correction Factor (MCF)
𝑁𝑒𝑡 𝑃𝑟𝑜𝑣𝑒𝑟 𝑉𝑜𝑙𝑢𝑚𝑒
MCF =
𝑁𝑒𝑡 𝑀𝑒𝑡𝑒𝑟 𝑉𝑜𝑙𝑢𝑚𝑒
Pada saat kalibrasi pada temperatur 15°C dengan pressure 0 kg/cm3 ,
diperoleh nilai Base Volume = 6,0995 m3
Sehingga,
 𝑁𝑒𝑡 𝑃𝑟𝑜𝑣𝑒𝑟 𝑉𝑜𝑙𝑢𝑚𝑒 = 𝐵𝑎𝑠𝑒 𝑉𝑜𝑙𝑢𝑚𝑒 x CTLP x CPLP x CTSP x CPSP
𝑁𝑒𝑡 𝑃𝑟𝑜𝑣𝑒𝑟 𝑉𝑜𝑙𝑢𝑚𝑒 = 6,0995 x 0,9685 x 1,0188 x 1,0004836
𝑁𝑒𝑡 𝑃𝑟𝑜𝑣𝑒𝑟 𝑉𝑜𝑙𝑢𝑚𝑒 = x 1,000111
𝑁𝑒𝑡 𝑃𝑟𝑜𝑣𝑒𝑟 𝑉𝑜𝑙𝑢𝑚𝑒 = 6,022 m3
Pulsa
 𝐺𝑟𝑜𝑠𝑠 𝑀𝑒𝑡𝑒𝑟 𝑉𝑜𝑙𝑢𝑚𝑒 = K
20310,8
𝐺𝑟𝑜𝑠𝑠 𝑀𝑒𝑡𝑒𝑟 𝑉𝑜𝑙𝑢𝑚𝑒 =
3332,78
𝐺𝑟𝑜𝑠𝑠 𝑀𝑒𝑡𝑒𝑟 𝑉𝑜𝑙𝑢𝑚𝑒 = 6,0942516 m3
 𝑁𝑒𝑡 𝑀𝑒𝑡𝑒𝑟 𝑉𝑜𝑙𝑢𝑚𝑒 = 𝐺𝑟𝑜𝑠𝑠 𝑀𝑒𝑡𝑒𝑟 𝑉𝑜𝑙𝑢𝑚𝑒 x CTLM x CPLM
𝑁𝑒𝑡 𝑀𝑒𝑡𝑒𝑟 𝑉𝑜𝑙𝑢𝑚𝑒 = 6,0942516 x 0,9678 x 1,0189
𝑁𝑒𝑡 𝑀𝑒𝑡𝑒𝑟 𝑉𝑜𝑙𝑢𝑚𝑒 = 6,0097 m3
Maka diperoleh nilai Meter Correction Factor :
𝑁𝑒𝑡 𝑃𝑟𝑜𝑣𝑒𝑟 𝑉𝑜𝑙𝑢𝑚𝑒
MCF =
𝑁𝑒𝑡 𝑀𝑒𝑡𝑒𝑟 𝑉𝑜𝑙𝑢𝑚𝑒
6,022 m3
MCF =
6,0097 m3
MCF = 1,002
f. Perhitungan Repeatibility
Pulsa Maksimum − Pulsa Minimum
𝑅𝑒𝑝𝑒𝑎𝑡𝑎𝑏𝑖𝑙𝑖𝑡𝑦 = x100%
Pulsa Minmum
20312 − 20310
𝑅𝑒𝑝𝑒𝑎𝑡𝑎𝑏𝑖𝑙𝑖𝑡𝑦 = x100%
20310
𝑅𝑒𝑝𝑒𝑎𝑡𝑏𝑖𝑙𝑖𝑡𝑦 = 0,009847%

Fany Mardiyanti – INS-4 – 13441004 14


Teknik Pengukuran Industri Migas

c) Perhitungan AGA-8
Sebuah gas dengan dengan kondisi :
 kandungan N2 : 40%
 kandungan CO2 : 25%
 Specific Gravity : 0,60
 Tekanan alir : 250 Psia
 Temperatur alir : 240°F
 Tekanan dasar : 14,7 Psia
 Temperatur dasar : 60°F
Penyelesaian :
Untuk gas hidrokarbon dengan SG = 0,60 nilai supercompressibility factor
dapat dilihat pada grafik berikut :

Zb =1,000
Zf =1,006

Dari grafik diperoleh nilai :


 Zb = 1,000
 Zf = 1,006
Sehingga :

𝑍𝑏 1,000
𝐹𝑃𝑉 = √ =√ = √0,994036 = 0,985156
𝑍𝑓 1,006

Fany Mardiyanti – INS-4 – 13441004 15


Teknik Pengukuran Industri Migas

d) Perhitungan AGA-9
Data pengukuran aliran fluida menggunakan Multipath Ultrasonik Meter :
 Spesifikasi Body Meter :
 Diameter dalam meter pada kondisi standar Dr = 3,8525 inchi
 Modulus young Ultrasonik Meter Em = 30·106 Psia
 Wall Thickness Wt = 0,325 inchi
 Faktor ekspansi thermal meter αm = 6·105
 Data aliran :
 Tekanan dasar Pb = 14,73 Psia
 Tekanan pada kondisi aktual Pf = 825,48 Psig
P = 840,21 Psia
 Temperatur dasar Tb = 60°F = 520°R
 Temperatur pada kondisi aktual Tf = 62°F = 522°R
 Faktor kompressibilitas pada kondisi dasar Zb = 1,1272
 Faktor kompressibilitas pada kondisi aktual Zf = 1,0768
 Pada penampang meter dengan 4-path, terdapat nilai weighting factor
sebesar:
𝑤𝑎 = 0,1382 𝑤𝑏 = 0,3618
𝑤𝑑 = 0,1382 𝑤𝑐 = 0,3618
 Data transit time :
Transducer Chord A Chord B Chord C Chord D
t du 380,462 𝜇s 381,236 𝜇s 380,455 𝜇s 380,412 𝜇s
t ud 375,217 𝜇s 375,231 𝜇s 376,012 𝜇s 375,178 𝜇s
 Data transducer ultrasonik meter :
Transducer Chord A Chord B Chord C Chord D
Panjang Chord (L) 0,50217 ft 0,50312 ft 0,50308 ft 0,50285 ft
Jarak antara
0,25713 ft 0,25726 ft 0,25742 ft 0,25731 ft
transducer (X)
Penyelesaian :
Karena data transit time tiap chord telah diketahui, maka tahap selanjutnya
dalam menentukan volume flow rate pada kondisi dasar yang akan dikirimkan
ke konsumen adalah sebagai berikut :

Fany Mardiyanti – INS-4 – 13441004 16


Teknik Pengukuran Industri Migas

 Menentukan flow velocity tiap chord


 Menentukan mean flow velocity
 Menentukan volume flow rate pada kondisi aliran
 Menentukan volume flow rate pada kondisi dasar
 Menentukan Flow Velocity tiap chord
Dapat dihitung menggunakan persamaan :
L2 t du − t ud
V= [ ]
2X t du ×t ud
Pada Chord A,
0,502172 380,462 − 375,217
VA = [ · 106 ]
2 · 0,25713 380,462×375,217
VA = 18,016 ft⁄s
Pada Chord B,
0,503122 381,236 − 375,231
VB = [ · 106 ]
2 · 0,25726 381,236×375,231
VA = 20,652 ft⁄s
Pada Chord C,
0,503082 380,455 − 376,012
VC = [ · 106 ]
2 · 0,25742 380,455×376,012
VA = 15,268 ft⁄s
Pada Chord D,
0,502852 380,412 − 375,178
VD = [ · 106 ]
2 · 0,25731 380,412×375,178
VA = 18,019 ft⁄s
NB : dikalikan 106 karena
ft 2 μs ft ft
∙ = = ∙ 106
ft (μs)2 μs s

 Menentukan Mean Flow Velocity


Untuk mendapatkan kecepatan aliran rata-rata, digunakan weighting factor.
Vm = (wa ∙ VA ) + (wb ∙ VB ) + (wc ∙ VC ) + (wd ∙ VD )
Vm = (0,1382 ∙ 18,016) + (0,3618 ∙ 20,652) + (0,3618 ∙ 15,268) +
Vm = (0,1382 ∙ 18,019)

Fany Mardiyanti – INS-4 – 13441004 17


Teknik Pengukuran Industri Migas

Vm = 17,9758 ft⁄s
 Menentukan Volume Flow Rate pada kondisi aliran
Terlebih dahulu kita harus menentukan besar Diameter Dalam Ultrasonik
Meter, yang dapat dicari menggunakan persamaan :
D = Dr×CTS×CPS
CTS = 1 + (αm(Tf − Tb))
CTS = 1 + (0,00006(62 − 60))
CTS = 1,00012
1⁄ (Pf − Pb)Dr
CPS = 1 + ( 3 )
Em×Wt
1⁄ (840,21 − 14,73)3,8525
CTS = 1 + ( 3 )
3 · 107 ×0,325

CTS = 1,0001087234
Sehingga, D = Dr×CTS×CPS
D = 3,8525×1,00012×0,0001087234
D = 3,8534 inchi
D = 0,3211 feet
Maka, Volume Flow Rate pada kondisi aliran adalah :
πD2
Qf = Vm [ ]
4
3,14 · 0,32112
Qf = 17,9758 [ ]
4
3
Qf = 1,4549 ft ⁄s
3
Qf = 5237,717 ft ⁄hr
 Menentukan Volume Flow Rate pada kondisi dasar
Qb = Qf×Fpm×Fpb×Ftm×Ftb×S
Pf 14,73 Tb Tb Zb
Qb = Qf× × × × ×
Pb Pb Tf 520 Zf
840,21 14,73 520 520 1,1272
Qb = 5237,717× × × × ×
14,73 14,73 522 520 1,0768
Qb = 311548,683 SCFH

Fany Mardiyanti – INS-4 – 13441004 18


Teknik Pengukuran Industri Migas

Jadi, Volume Flow Rate per hari adalah


Qb = 311548,683 SCFH×24 jam
Qb = 7,477 MMSCFD

12. Jelaskan dan beri contoh perhitungan untuk PD Meter!


Jawab :
Pada sebuah pengukuran aliran fluida menggunakan PD Meter, diperoleh data-
data sebagai berikut :
 Data Prover :
 Test volume prover = 8,28562 m3 (Kalibrasi pada temperatur 15°C
dengan pressure 0 kg/cm3 )
 Material : Mild Steel
 Expansion Factor Y = 0,0000186
 Modulus of Elasticity E = 3·107
 Size diameter D = 50,8 cm = 20 inchi
 Wall thickness t = 2,4892 cm = 0,98 inchi
 Pressure P = 10,2 kg/cm2 = 145,095Psig
 Temperature T = 30°C = 86°F
 Data Liquid :
 Type : Solar
 Density : ρ = 844,9 (pada 60°F)
 Rate : 865,2 m3 /jam
 Data Meter :
 Size : 10 inchi
 Pulsa per M 3 : K = 2895,75
 Data saat dilakukan proving :
Run Number of Pulse Meter Prover
No. Half Trip Round Trip kg/cm2 °C kg/cm2 °C
1. 11969 23938 1,82 40,91 1,566 40,54
2. 11969 23938 1,8 40,92 1,566 40,53
3. 11968 23936 1,81 40,90 1,572 40,53
4. 11968 23936 1,79 40,92 1,565 40,56
5. 11967 23934 1,82 40,88 1,556 40,57

Fany Mardiyanti – INS-4 – 13441004 19


Teknik Pengukuran Industri Migas

 Total Round Trip = 119862


 Average Round Trip = (119862 : 5) = 23936,4
 Average Pressure Meter = 1,808 kg/cm2 = 25,7188 Psig
 Average Temperature Meter = 40,906°C = 105,6308°F
 Average Pressure Prover = 1,565kg/cm2 = 22,262125 Psig
 Average Temperature Prover = 40,546°C = 104,9828°F
Penyelesaian :
a. Koreksi Efek Temperature terhadap logam pada Prover (CTSP)
CTSP = 1 + (T − Tbase ) · Y
CTSP = 1 + (30 − 15) · 0,0000186
CTSP = 1,000279
b. Koreksi Efek Tekanan terhadap Logam (CPSP)
P∙D
CPSP = 1 +
E∙t
145,095×20
CTSP = 1 +
3×107 ×0,98
CTSP = 1,0000987
c. Koreksi Efek Temperature terhadap Liquid (CTLP dan CTLM)
Untuk menghitung koreksi efek temperatur terhadap liquid, terlebih dahulu
menentukan nilai Alpha constant yang dapat diperoleh dengan
menggunakan nilai K 0 dan K1 yang diperoleh dari tabel :
K 0 = 186,9696
K1 = 0,4862
K 0 + K1 ∙ ρ 186,9696 + 0,4862 ∙ 844,9
∝= = = 0,000837
ρ2 844,92
 Koreksi Efek Temperatur Terhadap Liquid pada Prover (CTLP)
CTLP = Exp[−∝∙ (T − Tbase )(1,0 + 0,8 ∙ α(T − Tbase ))]
CTLP = Exp[−0,000837 ∙ (40,546 − 15)(1,0 + 0,8 ∙ 0,000837
CTLP = (40,546 − 15))]
CTLP = 0,978478
 Koreksi Efek Temperatur Terhadap Liquid pada Meter (CTLM)
CTLM = Exp[−∝∙ (T − Tbase )(1,0 + 0,8 ∙ α(T − Tbase ))]
CTLP = Exp[−0,000837 ∙ (40,906 − 15)(1,0 + 0,8 ∙ 0,000837
CTLP = (40,906 − 15))]
CTLP = 0,978172

Fany Mardiyanti – INS-4 – 13441004 20


Teknik Pengukuran Industri Migas

d. Koreksi Efek Tekanan terhadap Liquid (CPLP dan CPLM)


Untuk menentukan koreksi efek tekanan terhadap liquid, perlu diketahui :
 Equillibrium Vapor Pressure pada T Measurement, Pe = 25,7097 Psig
 Compressibility Factor pada temperatur 105°F dan API Gravity, yang
dapat dihitung dengan persamaan :
C Dt
A+B+ 2 + 2
F = (e ρ ρ ) ×104

Dimana A = -1,62080
B = 0,00021592
diperoleh dari tabel MPMS
C = 0,87096
D = 0,0042092
Maka
C Dt
A+B+ 2 + 2
F = (e ρ ρ ) ×104

0,87096 0,0042092×0,98
−1,62080+0,00021592+ +
F = (e 844,92 844,92 ) ×104

F = 1,97783×10−5
Sehingga :
 Koreksi Efek Tekanan terhadap Liquid pada Prover (CPLP)
1
CPLP =
1 − (P − Pe) ∙ F
1
CPLP =
1 − (22,262125 − 25,709) ∙ 1,97783 · 10−5
CPLP = 0,9999318
 Koreksi Efek Tekanan terhadap Liquid pada Meter (CPLM)
1
CPLM =
1 − (P − Pe) ∙ F
1
CPLP =
1 − (25,7188 − 25,709) ∙ 1,97783 · 10−5
CPLP = 1,00000018
e. Perhitungan Meter Correction Factor (MCF)
𝑁𝑒𝑡 𝑃𝑟𝑜𝑣𝑒𝑟 𝑉𝑜𝑙𝑢𝑚𝑒
MCF =
𝑁𝑒𝑡 𝑀𝑒𝑡𝑒𝑟 𝑉𝑜𝑙𝑢𝑚𝑒
Pada saat kalibrasi pada temperatur 15°C dengan pressure 0 kg/cm3 ,
diperoleh nilai Base Volume = 8,28562 m3

Fany Mardiyanti – INS-4 – 13441004 21


Teknik Pengukuran Industri Migas

Sehingga,
 𝑁𝑒𝑡 𝑃𝑟𝑜𝑣𝑒𝑟 𝑉𝑜𝑙𝑢𝑚𝑒 = 𝐵𝑎𝑠𝑒 𝑉𝑜𝑙𝑢𝑚𝑒 x CTLP x CPLP x CTSP x CPSP
𝑁𝑒𝑡 𝑃𝑟𝑜𝑣𝑒𝑟 𝑉𝑜𝑙𝑢𝑚𝑒 = 8,28562 x 0,978478 x 0,9999478
𝑁𝑒𝑡 𝑃𝑟𝑜𝑣𝑒𝑟 𝑉𝑜𝑙𝑢𝑚𝑒 = x 1,0000279 x 1,0000987
𝑁𝑒𝑡 𝑃𝑟𝑜𝑣𝑒𝑟 𝑉𝑜𝑙𝑢𝑚𝑒 = 8,109802 m3
Pulsa
 𝐺𝑟𝑜𝑠𝑠 𝑀𝑒𝑡𝑒𝑟 𝑉𝑜𝑙𝑢𝑚𝑒 = K
23936,4
𝐺𝑟𝑜𝑠𝑠 𝑀𝑒𝑡𝑒𝑟 𝑉𝑜𝑙𝑢𝑚𝑒 =
2895,75
𝐺𝑟𝑜𝑠𝑠 𝑀𝑒𝑡𝑒𝑟 𝑉𝑜𝑙𝑢𝑚𝑒 = 8,266045 m3
 𝑁𝑒𝑡 𝑀𝑒𝑡𝑒𝑟 𝑉𝑜𝑙𝑢𝑚𝑒 = 𝐺𝑟𝑜𝑠𝑠 𝑀𝑒𝑡𝑒𝑟 𝑉𝑜𝑙𝑢𝑚𝑒 x CTLM x CPLM
𝑁𝑒𝑡 𝑀𝑒𝑡𝑒𝑟 𝑉𝑜𝑙𝑢𝑚𝑒 = 8,266045 x 0,978172 x 1,00000018
𝑁𝑒𝑡 𝑀𝑒𝑡𝑒𝑟 𝑉𝑜𝑙𝑢𝑚𝑒 = 8,085619 m3
Maka diperoleh nilai Meter Correction Factor :
𝑁𝑒𝑡 𝑃𝑟𝑜𝑣𝑒𝑟 𝑉𝑜𝑙𝑢𝑚𝑒
MCF =
𝑁𝑒𝑡 𝑀𝑒𝑡𝑒𝑟 𝑉𝑜𝑙𝑢𝑚𝑒
8,109802 m3
MCF =
8,085619 m3
MCF = 1,00299
f. Perhitungan Repeatibility
Pulsa Maksimum − Pulsa Minimum
𝑅𝑒𝑝𝑒𝑎𝑡𝑎𝑏𝑖𝑙𝑖𝑡𝑦 = x100%
Pulsa Minmum
23938 − 23934
𝑅𝑒𝑝𝑒𝑎𝑡𝑎𝑏𝑖𝑙𝑖𝑡𝑦 = x100%
23934
𝑅𝑒𝑝𝑒𝑎𝑡𝑎𝑏𝑖𝑙𝑖𝑡𝑦 = 0,016713%

Fany Mardiyanti – INS-4 – 13441004 22