Anda di halaman 1dari 126

SKRIPSI

FITRIA KHURNIAWATI

FORMULASI KRIM TABIR SURYA


MENGANDUNG MINYAK BIJI GANDUM (10%,
12,5%, 15%) KOMBINASI DENGAN TITANIUM
DIOKSIDA, OKTIL METOKSISINAMAT DAN
BUTIL METOKSIBENZOILMETAN

PROGRAM STUDI FARMASI


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG
2018

i
ii
KATA PENGANTAR

Syukur alhamdulillah penulis panjatkan kepada Allah SWT karena atas


limpahan rahmat, hidayah serta karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan skripsi
yang berjudul “FORMULASI KRIM TABIR SURYA MENGANDUNG
MINYAK BIJI GANDUM (10%, 12,5%, 15%) KOMBINASI DENGAN
TITANIUM DIOKSIDA, OKTIL METOKSISINAMAT DAN BUTIL
METOKSIDIBENZOILMETAN” untuk mencapai gelar Sarjana Farmasi pada
Program Studi Farmasi Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah
Malang. Dalam penulisan skripsi ini tentunya banyak pihak yang telah memberikan
bantuan kepada penulis, baik berupa moril maupun materil. Oleh karena itu penulis
ingin menyampaikan ucapan terimakasih yang tiada hingganya kepada :
1. Allah SWT yang telah memberikan kesehatan, pertolongan serta rezeki
dalam menyelesaikan skripsi ini
2. Bapak Faqih Ruhyanudin, S.Kep., Ns., M.Kep., Sp.KMB selaku Dekan
Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Malang.
3. Ibu Dian Ermawati, M.Farm., Apt. selaku Ketua Program Studi Farmasi
yang telah membantu kelancaran pengerjaan skripsi penulis.
4. Ibu Dian Ermawati, M.Farm., Apt selaku dosen pembimbing I yang dengan
penuh kesabaran memberikan pengertian, arahan, dukungan serta
bimbingan kepada penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.
5. Ibu Uswatun Chasanah M.Kes., Apt Selaku dosen pembimbing II sekaligus
sebagai dosen wali yang telah memberikan arahan, dukungan serta
bimbingan kepada penulis agar dapat menyelesaikan skripsi ini.
6. Ibu Raditya Weka N, M.Farm. Apt dan Ibu Ika Ratna Hidayati, S.Farm.,
M.Sc., Apt. selaku tim penguji atas semua kritik dan sarannya untuk
menyempurnakan skripsi ini.
7. Ibu Raditya Weka N, M.Farm. Apt selaku Kepala Laboratorium yang telah
mengijinkan penulis serta memberikan fasilitas untuk melakukan penelitian
di laboratorium tersebut.
8. Kedua orang tua saya Bapak Agus Budiono, Ibu Umi Wakhidah, tercinta
atas doa yang selalu dipanjatkan untuk kesuksesan anaknya, atas dukungan
baik secara moril maupun materil, serta segala bentuk motivasi yang telah
diberikan kepada penulis selama menempuh pendidikan sampai di tingkat
perguruan tinggi hingga mampu menyelesaikan masa pendidikan dan
penelitian pada skripsi ini.
9. Untuk kakek,nenek, kakak saya Rakhmatin, adik sofia dan zulfan yang telah
memberikan doa terbaiknya, dukungan baik moral maupun moril kepada
penulis hingga mampu menyelesaikan masa pendidikan dan penelitian pada
skripsi ini.
10. Para dosen Farmasi yang telah memberikan ilmu dan pengetahuan kepada
penulis.
11. Para laboran dari Laboratorium Kimia Terpadu II mbak Evi, mas Ferdi,
mbak Susi, Mas Dani atas bentuk bantuan dan kerja samanya selama
penelitian.
12. Biro Skripsi Amaliyah Dina Anggara dan Ibu Mutiara Titani yang telah
membantu proses dalam pelaksanaan pengujian skripsi.
13. Tim skripsi WGO Squad Danik wiluajeng, Esti Hardani dan Ravi arda
teman dan tim seperjuangan dalam penelitian skripsi yang selalu sabar
mebantu dan membimbing serta menyemangati selama proses penelitian
dan pembuatan skripsi.
14. Terima kasih untuk Febri Lusiana, Danik Wiluajeng, Arina Rahayu,
Yulinda Setyaningsih, dan Ana Maghfira yang selalu memberikan
dukungan dalam belajar, moral dan motivasi sehingga bisa sampai tahap
akhir ini. Tetap jadi partner terbaik, sahabat yang baik, yang selalu memberi
semangat dan membantu ketika dalam kondisi kesusahan
15. Terima kasih kepada Rizqi Muhammad Aziz yang selalu menjadi partner
yang baik selama ini ,yang selalu sabar, mendukung, memotivasi sampai
saat ini dan semoga selalu bisa berjuang bersama..
16. Teman terdekat saya semasa kuliah Dea, Filda, mahmuda, akbar, taufik,
annisa kus, kiki taz, ririn, winda, puput dan Semua pihak yang tidak dapat
penulis sebutkan satu persatu, yang memberikan bantuannya, baik moril
maupun material terimakasih selalu memberi semangat, dukungan, dan
do’a kepada saya
17.Teman-teman farmasi UMM 2014. Terimakasih telah menjadi keluarga
baru selama masa perkuliahan di Malang.
18.Terima kasih kepada teman-teman KKN 03 Ponorogo yang selalu memberi
support, do’a kepada saya.
19. Kepada ibu kos bendungan sempor no 29 dan seluruh penghuni kos cantik
terima kasih selama dimalang sudah diberi tempat tinggal yang layak, teman
kos yang baik, selalu memberikan semngat, dukungan dan do’a kepada
saya.

Dalam penulisan skripsi ini penulis menyadari masih banyak kekurangan,


karena itu penulis mengharapkan kritik serta saran yang membangun. Semoga
skripsi ini dapat bermanfaat bagi semua pihak, khusunya bagi penulis, para
pembaca serta di bidang kefarmasian.

Malang, Juli 2018


Penulis,

Fitria Khurniawati
RINGKASAN

FORMULASI KRIM TABIR SURYA MENGANDUNG MINYAK BIJI


GANDUM (10%, 12,5%, 15%) KOMBINASI DENGAN TITANIUM
DIOKSIDA, OKTIL METOKSISINAMAT DAN BUTIL
METOKSIDIBENZOILMETAN

FITRIA KHURNIAWATI
Sinar ultra violet (UV) dapat digolongkan menjadi UV A dengan panjang
gelombang diantara 320 – 400 nm, UV B dengan panjang gelombang 290 – 320
nm. Semua sinar UV A di emisikan ke bumi, sedangkan sinar UV B sebagian
diemisikan ke bumi (terutama yang panjang gelombangnya mendekati UV A).
Sinar UV B dengan panjang gelombang lebih pendek. Dengan demikian apabila
lapisan ozon yang ada di atmosfir rusak, sinar UV B yang masuk ke bumi akan
semakin banyak, (BPOM, 2009). Untuk melindungi kulit dari paparan sinar UV
secara langsung perlu adanya Tabir surya.. Pada penilitian ini digunakan yaitu
bahan alami dan bahan kimia, dari kombinasi tersebut diharapkan dapat
memperluas perlindungan terhadap sinar UV dan meningkatkan nilai SPF. Dimana
bahan alam yang digunakan yaitu minyak biji gandum (Wheat Germ Oil). Menurut
penelitian telah dibuktikan bahwa minyak biji gandum dapat menjadi kandidat
bahan aktif dari krim tabir surya karena dapat miningkatkan nilai SPF dan sebagai
bahan untuk mencegah penuaan dini. Dengan peningkatan konsentrasi minyak biji
gandum, nilai SPF yang diperoleh pun semakin tinggi (Suryawansih, 2016).
Kombinasi dari bahan kimia diantaranya ; Titanium dioksida atau TiO2 merupakan
tabir surya yang aman, efektif, dan berspektrum luas. Karena memiliki indeks bias
yang tinggi sehingga titanium dioksida memiliki sifat penghamburan cahaya yang
dapat dimanfaatkan dalam penggunaannya sebagai pigmen putih, biasanya
digunakan dalam sediaan dermatologis dan kosmetik, seperti tabir surya (Rowe, et
al., 2005. Oktil metoksisinamat senyawa golongan sinamat yang menyerap sinar
UV pada panjang gelombang 290-320 nm pada daerah UV-B (Setiawan, 2010);
Butil metoksibenzoil metan merupakan salah satu dari tabir surya organik yang
mempunyai mekanisme kerja mengabsorbsi radiasi sinar UV pada rentang panjang
gelombang UV-A (320-400) dan potensial memberikan spektrum yang luas untuk
perlindungan UV (Rai dan Srinivas, 2007).
Sediaan kosmetik yang mengandung tabir surya biasanya dinyatakan dalam
label dengan kekuatan SPF (Sun Protecting Factor) tertentu. Tujuan penelitian ini
yaitu mengetahui pengaruh pemberian Minyak Biji Gandum (10%, 12,5%, dan 15%)
terhadap Nilai Sun Protection Factor (SPF) dan untuk mengetahui karateristik fisik
(organoleptis, mengukur pH sediaan, daya sebar dan viskositas) sediaan krim tabir
surya yang mengandung Minyak Biji Gandum dengan bahan aktif Oktil
Metoksisinamat, Butil Metoksi Dibenzoilmetana dan Titanium Dioksida.
Berdasarkan uji karakteristik fisik (organoleptis, homogenitas dan tipe
emulsi) diperoleh hasil seluruh formula memiliki warna salem, bau khas minyak
biji gandumi dan tekstur yang lembut serta homogen dengan tipe emulsi minyak
dalam air M/A.
Pada uji viskositas didapatkan hasil rerata ± nilai SD pada formula 1
(142333.33 ± 123062.3 cPs), formula 2 (56500 ± 36561.59cPs), dan formula 3
(58000 ± 5291.503 cPs). Hasil uji statistic menunjukkan bahwa tidak terdapat
perbedaan viskositas yang bermakna antar formula atau dengan peningkatan kadar
minyak biji gandum belum mempengaruhi viskositas sediaan krim tabir surya.
Selanjutnya, hasil uji pada daya sebar didapatkan hasil rerata ± nilai SD
yaitu pada formula 1 (0,0439 g/cm ± 0,0098), formula 2 (0,0461 g/cm ± 0,0144 ),
dan formula 3 (0,0470 g/cm ± 0,0088). Sehingga dapat disimpulkan bahwa dengan
meningkatnya kadar minyak biji gandum maka dapat meningkat pula daya sebar
dari sediaan krim tabir surya. Hasil statistik menunjukkan bahwa tidak terdapat
perbedaan daya sebar yang bermakna antar formula sediaan atau dengan
meningkatnya kadar minyak biji gandum belum mepengaruhi daya sebar sediaan
krim tabir surya. Umumnya daya sebar berbanding terbalik dengan viskositas,
dimana dengan meningkatnya daya sebar maka terjadinya penurunan viskositas
sediaan.
Pada uji karakteristik kimia yaitu pengukuran pH sediaan didapatkan hasil
rerata ± nilai SD pada pH formula 1 (7,77 ± 0,02), formula 2 (7,75 ± 0,05), dan
formula 3 (7,99 ± 0,08). Pada hasil tersebut memenuhi persyaratan rentang pH
sediaan dan aman digunakan untuk kulit. Dimana semakin meningkatnya kadar
minyak biji gandum maka pH sediaan tabir surya juga meningkat. Hasil uji statistik
menunjukkan bahwa terdapat perbedaan pH yang bermakna antar formula atau
dengan meningkanya kadar minyak biji gandum bisa mepengaruhi pH sediaan krim
tabir surya.
Yang terakhir uji nilai SPF (Sun Protction Factor) secara invitro yaitu
menggunakan spektrofotomer, dari pengukuran didapatkan hasil rerata ± nilai SD
pada formula formula 1 (34.66 ± 1.79), formula 2 (35.00 ± 1.80), dan formula 3
(36.660± 3.10). Nilai SPF 30-50, memberikan perlindungan tinggi (Draelos and
Thaman, 2006). Dari hasil pengukuran nilai SPF ketiga formula masuk ke dalam
rentang tersebut, dapat disimpulkan bahwa ketiga formula dapat memberikan
perlindungan yang tinggi terhadap kulit dari paparan sinar UV. Hasil uji statistik
menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan nilai SPF yang bermakna antar
formula.
Dari hasil penelitian sediaan krim tabir surya dengan kombinasi bahan aktif
dari alam yaitu minyak biji gandum dengan bahan kimia sintesis titanium dioksida
dengan mekanisme UV blocker, oktil metoksisinamat dan butil
metoksidibenzoilmetan dengan mekanisme UV absorber mampu meningkatkan
nilai SPF dari suatu sediaan krim tabir surya dengan perlindungan tinggi sehingga
efek perlindungan lebih optimal terhadap sinar UV A maupun UV B.
ABSTRACT

FORMULATION OF SUNBLOCK CREAM CONTAINING


WHEAT GERM OIL (10%, 12, 5%, 15%) COMBINATE WITH
TITANIUM DIOXIDE, OKTIL METOXIDYCODE AND
BUTYLE METOXIDIDENZOILMETAN

Fitria Khurniawati*, Dian Ermawati, Uswatun Chasanah


Pharmacy Study Program, Faculty of Health Sciences
University of Muhammadiyah Malang
*Email : Fitriakhurniawati22@gmail.com

Background: Sunscreen is a material that can protect the skin against UV radiation,
Cosmetic preparation that contains sunscreen SPF is usually expressed in strength.
Selection of natural active ingredients to minimize side effects. The combination of
wheat germ oil as an active ingredient containing α-tocopherol may increase the
SPF value.
Objective: To determine the effect of wheat germ oil (10%, 12.5%, and 15%) on
SPF values and to determine the physical characteristics (organoleptic, pH,
spreading and viscosity) of TiO2, Octyl Methoxycinnamate and Butyl
Methoxybenzoilmethane combination.
Method: The combination of wheat germ oil cream F1 (10%), F2 (12,5%), and F3
(15%) with TiO², Octyl Methoxycinnamate and Butyl Methoxybenzoilmethan. The
analysis was done with a descriptive way (organoleptic, type of emulsion,
homogeneity) and One-Way ANOVA statistic test (viscosity, spreadablity, pH and
SPF value test done by invitro using spectrophotometer).
Results & Conclusions: The results of the research showed that all formulas have
M/A emulsion type, salmon color, typical wheat germ oil scent and soft textured
also homogenous. The only significant differences are in the statistic results of the
Ph. For viscosity results in formulas, 1, 2 and 3 the results are 142333.33 cPs; 56500
cPs; 58000 cPs. The spreadablity result are 0.0439 g / cm; 0.0461 g / cm; 0.0470 g
/ cm, pH test is 7.77; 7.75; 7.99, and the SPF score is 34.66 ± 1.79; 35.00 ± 1.80;
36,660 ± 3.10 SPF results increase but no significant difference.

Keywords: Wheat germ oil, SPF, Sunblock, Cream.


ABSTRAK
FORMULASI KRIM TABIR SURYA MENGANDUNG
MINYAK BIJI GANDUM (10%,12, 5%,15%) KOMBINASI
TITANIUM DIOKSIDA, OKTIL METOKSISINAMAT DAN
BUTIL METOKSIDIBENZOILMETAN
Fitria Khurniawati*, Dian Ermawati, Uswatun Chasanah
Program Studi Farmasi, Fakultas Ilmu Kesehatan
Universitas Muhammadiyah Malang
*Email : Fitriakhurniawati22@gmail.com

Latar Belakang : Tabir surya adalah material yang dapat melindungi kulit
terhadap radiasi sinar UV. Sediaan kosmetik yang mengandung tabir surya biasanya
dinyatakan dalam kekuatan SPF. Pemilihan bahan aktif yang alami dapat
meminimalkan efek samping. Kombinasi minyak biji gandum sebagai bahan aktif
yang mengandung α-tokoferol dapat meningkatkan nilai SPF.
Tujuan : Mengetahui pengaruh pemberian Minyak Biji Gandum
(10%, 12,5%, dan 15%) terhadap Nilai SPF dan mengetahui karateristik fisik
(organoleptis, pH, daya sebar dan viskositas) kombinasi TiO², Oktil
Metoksisinamat dan Butil Metoksidibenzoilmetan.
Metode : Kombinasi krim Minyak Biji Gandum F1 (10%), F2
(12,5%), dan F3 (15%) dengan TiO², Oktil Metoksisinamat dan Butil
Metoksidibenzoilmetan. Analisis dilakukan secara deskriptif (organoleptis, tipe
emulsi, homogenitas) dan uji statistik One-Way Anova (viskositas, daya sebar, PH
dan uji nilai SPF dilakukan secara invitro menggunakan spektrofotometer).
Hasil & Kesimpulan : Dari hasil penelitian didapat bahwa semua formula
memiliki tipe emulsi M/A, berwana salem, bau khas minyak biji gandum dan
bertekstur lembut serta homogen. Hasil statistik hanya Ph terdapat perbedaan
bermakna. Untuk hasil viskositas pada formula, 1, 2 dan 3 adalah 142333.33 cPs;
56500 cPs; 58000 cPs, uji daya sebar 0,0439 g/cm; 0,0461 g/cm; 0,0470 g/cm, uji
pH 7,77 ; 7,75 ; 7,99 , dan uji nilai SPF 34.66 ± 1.79 ; 35.00 ± 1.80 ; 36.660± 3.10
hasil SPF meningkat tetapi tidak ada perbedaan bermakna.

Kata Kunci : Minyak Biji Gandum, SPF, Tabir Surya, Krim.


DAFTAR ISI

JUDUL ............................................................................................................ i
LEMBAR PENGESAHAN ........................................................................... ii
LEMBAR PENGUJIAN ................................................................................ iii
KATA PENGANTAR .................................................................................... iv
RINGKASAN ................................................................................................. vii
ABSTRAK ...................................................................................................... ix
DAFTAR ISI .................................................................................................. xi
DAFTAR GAMBAR ..................................................................................... xiv
DAFTAR TABEL .......................................................................................... xv
DAFTAR LAMPIRAN .................................................................................. xvi
DAFTAR SINGKATAN ................................................................................ xvii
BAB I PENDAHULUAN .......................................................................... 1
1.1 Latar Belakang ................................................................................ 1
1.2 Rumusan Masalah .......................................................................... 3
1.3 Tujuan Penelitian ............................................................................ 3
1.4 Manfaat Penelitian .......................................................................... 3
1.5 Hipotesa Penelitian ......................................................................... 4
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ............................................................... 5
2.1 Tinjauan Kulit ................................................................................. 5
2.1.1 Definisi Kulit ......................................................................... 5
2.1.2 Anatomi kulit secara histopatologik ....................................... 6
2.1.3 Fungsi Kulit ........................................................................... 7
2.2 Sinar Matahari dan Efeknya Terhadap Kulit .................................. 8
2.3 Tabir Surya ..................................................................................... 10
2.4 Sun Protection Factor (SPF) ........................................................... 12
2.4.1 Perhitungan Nilai SPF ........................................................... 13
2.5 Tinjauan Krim ................................................................................ 16
2.5.1 Evaluasi Sediaan Krim .......................................................... 17
2.6 Tanaman Gandum ........................................................................... 19
2.6.1 Klasifikasi Tanaman Gandum ............................................... 19
2.6.2 Tanaman Gandum dan Kaandungan Gandum ....................... 19
2.6.3 Minyak Biji Gandum .............................................................. 22
2.7 Vitamin E ........................................................................................ 23
2.7.1 Kimiawi dan Metabolisme Vitamin E ................................. 24
2.7.2 Fungsi Vitamin E ................................................................. 25
2.7.3 Antioksidan .......................................................................... 25
2.8 Titanium Dioksida .......................................................................... 25
2.8.1 Aplikasi Titanium Dioksida ................................................... 27
2.9 Oktil Metoksisinamat ..................................................................... 29
2.10 Butil Metoksidibenzoilmetan ......................................................... 30
2.11 Tinjauan Bahan Tambahan ............................................................. 31
BAB III KERANGKA KONSEPTUAL ..................................................... 39
3.1 Kerangka Konseptual Penelitian .................................................... 39
3.2 Bagan Kerangka Konseptual .......................................................... 42
BAB IV METODE PENELITIAN ............................................................. 43
4.1 Rancangan Penelitan ....................................................................... 43
4.2 Variabel Penelitian ......................................................................... 43
4.2.1 Variabel Bebas ....................................................................... 43
4.2.2 Variabel Tergantung .............................................................. 43
4.3 Tempat dan Waaktu Penelitian ....................................................... 43
4.3.1 Tempat Penelitian ................................................................... 43
4.3.2 Waktu Penelitian .................................................................... 43
4.4 Bahan .............................................................................................. 43
4.5 Alat ................................................................................................. 44
4.6 Metode Kerja .................................................................................. 44
4.6.1 Bagan Kerja Penelitian .......................................................... 45
4.7 Pembuatan Krim ............................................................................. 46
4.7.1 Skema Pembuatan Vanishing Cream .................................... 47
4.8 Rancangan Formula ......................................................................... 48
4.8.1 Formula Krim Tabir Surya ..................................................... 48
4.9 Evaluasi Sediaan .............................................................................. 49
4.9.1 Evaluasi Tipe Emulsi .............................................................. 49
4.9.2 Evaluasi Fisika ........................................................................ 49
4.9.3 Evaluasi Kimia ....................................................................... 51
4.9.4 Uji SPF secara in vitro dengan spektrofotometer .................. 51
4.10 Analisis Data ................................................................................... 53
BAB V HASIL PENELITIAN ................................................................... 54
5.1 Hasil evaluasi karakteristik ............................................................. 54
5.1.1 Organoleptis Minyak Biji Gandum ....................................... 54
5.2 Hasil Evaluasi Tipe Emulsi ............................................................ 54
5.3 Hasil Uji Karakteristik Fisik Sediaan ............................................. 55
5.3.1 Hasil Evaluasi Organoleptis Sediaan Krim Tabir Surya ....... 56
5.3.2 Hasil Evaluasi Homogenitas Sediaan Krim Tabir Surya ....... 57
5.3.3 Hasil Pengukuran Viskositas Sediaan Krim Tabir surya ....... 59
5.3.4 Hasil Pengukuran Daya Sebar Sediaan Krim Tabir surya ..... 60
5.4 Hasil Uji Karakteristik Kimia Sediaan ........................................... 61
5.4.1 Hasil Pengukuran Ph Sediaan Krim Tabir surya .................... 62
5.5 Hasil Uji Pengukuran Nilai SPF ..................................................... 63
BAB VI PEMBAHASAN ............................................................................. 65
BAB VII KESIMPULAN ............................................................................. 72
7.1 Kesimpulan ..................................................................................... 72
7.2 Saran ............................................................................................... 72
DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................... 73
LAMPIRAN .................................................................................................... 82
DAFTAR GAMBAR

2.1 Bentuk Biji Gandum ............................................................................. 20


2.2 Senyawa Takroferol .............................................................................. 24
2.3 Struktur Oktil Metoksisinamat .............................................................. 29
3.2 Kerangka Konseptual ............................................................................ 42
4.1 Alur Kerja Penelitian............................................................................. 45
4.2 Skema Pembuatan Vanishing Cream .................................................... 47
5.1 Minyak Biji Gandum ( Wheat Germ Oil ) ............................................ 54
5.2 Hasil Pengamatan dengan Metode Pengenceran................................... 55
5.3 Hasil Pengamatan dengan Pewarnaan Methylene Blue ......................... 56
5.4 Sediaan Krim Tabir Surya Minyak Biji Gandum ............................... 56
5.5 Hasil Pengamatan Homogenitas Krim Tabir Surya .............................. 57
5.6 Histogram Harga Viskositas Krim Tabir Surya .................................... 59
5.7 Histogram Daya Sebar Sediaan Krim Tabir Surya .............................. 61
5.8 Histogram Harga Ph Krim Tabir Surya ............................................... 62
5.7 Histogram Nilai SPF Sediaan Krim Tabir Surya ................................. 64
DAFTAR TABEL

IV.1 Formula Krim ...................................................................................... 48


V.1 Hasil Evaluasi Tipe Emulsi Krim Tabir Surya ..................................... 55
V.2 Hasil Evaluasi Organoleptis Krim Tabir Surya .................................... 57
V.3 Hasil Evaluasi Homogenitas Krim Tabir Surya ................................... 58
V.4 Hasil Pengukuran Viskositas Krim Tabir Surya ................................... 59
V.5 Hasil Pengukuran Daya Sebar Krim Tabir Surya ................................. 60
V.6 Hasil Pengukuran Ph Krim Tabir Surya ............................................... 62
V.7 Hasil Pengukuran Nilai SPF Krim Tabir Surya ................................... 63
DAFTAR LAMPIRAN
Halaman

Lampiran 1 Daftar Riwayat Hidup ........................................................................ 82


Lampiran 2 Surat Pernyataan ................................................................................ 83
Lampiran 3 Sertifikat Analisis Minyak Biji Gandum .......................................... 84
Lampiran 4 Sertifikat Analisis Butyl Metoksidibenzoilmetan.............................. 85
Lampiran 5 Sertifikat Analisis Analisis Oktil Metoksisinamat ............................ 86
Lampiran 6 Perhitungan penggunaan bahan ......................................................... 87
Lampiran 7 Data Pengukuran Daya Sebar ............................................................ 90
Lampiran 8 Data Serapan Krim Tabir Surya Formula 1 ....................................... 96
Lampiran 90 Data Serapan Krim Tabir Surya Formula 2 ..................................... 97
Lampiran 10 Data Serapan Krim Tabir Surya Formula 3 ..................................... 98
Lampiran 11 Cara Perhitungan Nilai SPF ............................................................. 99
Lampiran 12 Hasil Pengukuran Statistik Uji Viskositas ..................................... 101
Lampiran 13 Hasil Pengukuran Statistik Uji Ph ................................................. 102
Lampiran 14 Hasil Pengukuran Statistik Uji Daya Sebar .................................. 103
Lampiran 15 Hasil Pengukuran Statistik Uji Nilai SPF ...................................... 104
Lampiran 16 Dokumentasi Hasil Uji Organoleptis ............................................. 105
Lampiran 17 Dokumentasi Hasil Tipe Emulsi Metode Pewarnaan .................... 106
Lampiran 18 Dokumentasi Hasil Tipe Emulsi Metode Pengenceran ................. 107
Lampiran 19 Dokumentasi Hasil Homogenitas .................................................. 108
Lampiran 20 Dokumentasi Larutan Uji SPF ....................................................... 109
Lampiran 21 Dokumentasi bahan-bahan Krim Tabir Surya ............................... 110
Lampiran 22 Daftar F Tabel ................................................................................ 111
Lampiran 23 Dokumen Basf.Simulator .............................................................. 112
DAFTAR SINGKATAN

% = Persentase
o
C = Derajat Selsius
cm = Sentimeter
g = gram
m = Meter
mg = Milligram
mL = Mililiter
ppm = Parts per million
RPM = Rotasi Per Menit
SNI = Standar Nasional Indonesia
α = Alfa
β = Beta
WHO = World Health Organitation
TiO2 = Titanium Dioksida
BHT = Butyl Hidroksi Toluena
TEA = Trietanolamin
Na-EDTA = Natrium Edetat
M/A = Minyak/Air
DEPKES RI = Departemen Kesehatan Indonesia
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Sinar matahari menghasilkan radiasi yang tersusun dari sinar inframerah
dan cahaya tampak, serta sinar ultraviolet A dan B. Sinar ultraviolet yang
dipancarkan oleh matahari terbagi menjadi dua daerah, yaitu daerah UV A dengan
rentang panjang gelombang 320-400 nm dan daerah UVB pada rentang 290-320
nm Radiasi ultraviolet atau UV dapat menyebabkan kulit terbakar, noda-noda
cokelat, penebalan dan keringnya kulit.. Kerusakan kulit yang terjadi dalam
pemaparan jangka panjang akan memberikan efek yang bersifat kumulatif akibat
pemaparan sinar matahari berlebihan dalam jangka waktu tertentu, antara lain
adalah penuaan dini kulit dan kemungkinan kanker kulit (Gadri, dkk., 2011).
Untuk mencegah efek buruk paparan sinar matahari dapat dilakukan dengan
cara menghindari paparan sinar matahari secara langsung dan tidak terlalu lama
dibawah sinar matahari (Zulkarnain, dkk., 2013). Adanya dampak negatif sinar
matahari tersebut maka kita perlu menggunakan suatu pelindung kulit tabir surya
(suncreen). Sediaan tabir surya merupakan sediaan kosmetik yang biasanya
diaplikasikan pada permukaan kulit. Sediaan tabir surya umumnya mengandung
bahan aktif fotoprotektor. Bahan ini berfungsi menyerap atau menyebarkan sinar
matahari sehingga intensitas sinar yang mampu mencapai kulit jauh lebih sedikit
dari yang seharusnya (Wasitaatmadja, 1997).
Tabir surya umumnya mengandung tabir surya organik, atau anorganik
ataupun campuran keduanya. Parameter yang dapat digunakan untuk menentukan
apakah suatu sediaan dapat berfungsi sebagai tabir surya, dan memiliki efektivitas
tinggi adalah sun protection factor (SPF). Tabir surya yang memiliki nilai SPF
tinggi, akan memiliki kemampuan yang tinggi untuk melindungi kulit dari paparan
radiasi UV (Kaur dan Saraf, 2010). Beberapa sediaan tabir surya yang
mengandung tabir surya organik dan anorganik yang dapat dijumpai di pasaran
antara lain suncare dengan SPF 17, sebagai pelindung terhadap UV A dan UV B
mengandung oktil metoksi sinamat, TiO2 dan ZnO2. Sunblock cream dengan SPF
20, sebagai pelindung terhadap UV A dan UV B mengandung butil

1
2

metoksidibenzoil metana, etilheksil p-metoksi sinamat, oksibenzon, TiO2 dan


ZnO2.
Oksibenzon adalah bahan yang efektif menyerap UV A dan UV B, maka
disebut broad spectrum. Sedangkan oktil metoksisinamat adalah bahan yang
efektif menyerap UV B (Rosita, dkk., 2010). Oksibenzon dan oktil metoksisinamat
adalah bahan aktif yang sering digunakan dalam sediaan krim tabir surya. Selain
menggunakan bahan aktif anorganik, bisa juga dikombinasikan dengan bahan
organik lain yang sama-sama memiliki kemampuan untuk melindungi kulit,
seperti wheat germ oil (minyak biji gandum).
Wheat germ oil ( minyak biji gandum) adalah sumber yang kaya akan asam
lemak tak jenuh ganda dan vitamin E, dimana merupakan bahan alami yang
memiliki kandungan tertinggi dari α-tokoferol dengan aktivitas vitamin E
tertinggi. Wheat germ oil telah dinyatakan dapat meningkatkan ketahanan tubuh
dan menunda penuaan (Megahed, 2011). Dari macam-macam bahan aktif tersebut,
maka bisa dibuat suatu sediaan dalam satu formulasi .
Untuk mempermudah penggunaan pada kulit, maka ekstrak wheat germ oil
(minyak biji gandum),titanium dioksida, oktil metoksisinamat dan butyl
metoksibenzoilmetan perlu diformulasi menjadi suatu sediaan farmasi. Sediaan
farmasi semisolid dalam industri farmasi dapat berupa krim, gel, salep, ointment
dan lotion. Bentuk sediaan yang dipilih adalah krim. krim merupakan salah satu
bentuk sediaan kulit dengan bentuk sediaan setengah padat mengandung satu atau
lebih bahan obat terlarut atau terdispersi dalam bahan dasar yang sesuai. Istilah ini
secara tradisional telah digunakan untuk sediaan setengah padat yang mempunyai
konsistensi relatif cair diformulasi sebagai emulsi air dalam minyak atau minyak
dalam air. Sekarang ini batas tersebut lebih diarahkan untuk produk yang terdiri
dari emulsi minyak dalam air atau dispersi mikrokristal asam-asam lemak atau
alkohol berantai panjang dalam air, yang dapat dicuci dengan air dan lebih
ditujukan untuk penggunaan kosmetika dan estetika (Farmakope Edisi V, 2014).
Berdasarkan manfaat di atas dan pertimbangan yang ada, penulis ingin
melakukan penelitian ini pada formulasi krim ekstrak wheat germ oil (minyak biji
gandum) dengan konsentrasi 10%, 12,5%, dan 15% dikombinasi dengan titanium
dioksida, oktil metoksisinamat dan butyl metoksibenzoilmetan dalam membantu
3

melakukan penelitian tentang pengaruh konsentrasi wheat germ oil (minyak biji
gandum) terhadap nilai SPF pada formulasi sediaan krim tabir surya.
1.2 Rumusan Masalah
1. Bagaimana pengaruh pemberian Minyak Biji Gandum (10%, 12,5%, dan 15%)
terhadap Nilai Sun Protection Factor (SPF) sediaan krim tabir surya dengan
kombinasi bahan aktif Oktil Metoksisinamat, Butil Metoksi Dibenzoilmetana
dan Titanium Dioksida?
2. Bagaimana karateristik fisik (organoleptis, mengukur pH sediaan, daya sebar
dan viskositas) sediaan krim tabir surya yang mengandung Minyak Biji
Gandum dengan bahan aktif Oktil Metoksisinamat, Butil Metoksi
Dibenzoilmetana dan Titanium Dioksida?
1.3 Tujuan Penelitian
1. Mengetahui pengaruh pemberian Minyak Biji Gandum (10%, 12,5%, dan
15%) terhadap Nilai Sun Protection Factor (SPF) sediaan krim tabir surya
dengan kombinasi bahan aktif Oktil Metoksisinamat, Butil Metoksi
Dibenzoilmetana dan Titanium Dioksida?
2. Mengetahui karateristik fisik (organoleptis, mengukur pH sediaan, daya sebar
dan viskositas) sediaan krim tabir surya yang mengandung Minyak Biji
Gandum dengan bahan aktif Oktil Metoksisinamat, Butil Metoksi
Dibenzoilmetana dan Titanium Dioksida.
1.4 Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan memberikan informasi tentang formulasi
dan Nilai Sun Protection Factor (SPF) krim tabir surya kombinasi Titanium
Dioksida, Oktil Metoksisinamat, Butil Metoksidibenzoilmetan dengan fase
Minyak Biji Gandum.

1.5 Hipotesa
Peningkatan variasi kadar Minyak Biji Gandum (10%, 12,5%, dan 15%)
dengan kombinasi bahan aktif Oktil Metoksisinamat, Butil Metoksi
Dibenzoilmetana dan Titanium Dioksida akan memberikan pengaruh terhadap
nilaiSun Protection Factor (SPF) dan karateristik fisik.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Tinjauan Kulit


2.1.1 Definisi kulit
Kulit merupakan suatu pembungkus yang elastis yang terletak paling luar
yang melindungi tubuh dari pengaruh lingkungan hidup manusia dan merupakan
alat tubuh yang terberat dan terluas ukurannya yaitu kira-kira 15% dari berat tubuh
dan luas kulit orang dewasa 1,5 m2. Kulit adalah bagian yang sangat kompleks,
elastis dan sensitif, serta sangat bervariasi pada keadaan iklim, umur, seks, ras, dan
juga bergantung pada lokasi tubuh serta memiliki variasi mengenai lembut, tipis,
dan tebalnya. Rata-rata tebal kulit 1-2m. Paling tebal (6 mm) yakni terdapat di
telapak tangan dan kaki dan paling tipis (0,5 mm) terdapat di penis. Kulit
merupakan organ yang vital dan esensial serta merupakan cermin kesehatan dan
kehidupan (Djuanda, 2007).
Kulit memiliki fungsi vital seperti perlindungan terhadap kondisi luar
lingkungan baik dari pengaruh fisik maupun pengaruh kimia, serta mencegah
kelebihan kehilangan air dari tubuh dan berperan sebagai termoregulasi. Kulit
bersifat lentur dan elastis yang menutupi seluruh permukaan tubuh dan merupakan
15% dari total berat badan orang dewasa (Paul et al., 2011). Fungsi proteksi kulit
adalah melindungi tubuh dari kehilangan cairan elektrolit, trauma mekanik dan
radiasi ultraviolet, sebagai barier dari invasi mikroorganisme patogen, merespon
rangsangan sentuhan, rasa sakit dan panas karena terdapat banyak ujung saraf,
tempat penyimpanan nutrisi dan air yang dapat digunakan apabila terjadi
penurunan volume darah dan tempat terjadinya metabolisme vitamin D
(Richardson, 2003; Perdanakusuma, 2007).
2.1.2 Anatomi kulit secara histopatologik
Pembagian kulit secara garis besar tersusun tiga lapisan utama, yaitu
(Djuanda, 2007) :

4
5

1. Epidermis
Lapisan epidermis terdiri atas :
a. Lapisan basal atau stratum germinativum. Lapisan basal merupakan lapisan
epidermis paling bawah dan berbatas dengan dermis. Dalam lapisan basal
terdapat melanosit. Melanosit adalah sel dendritik yang membentuk melanin.
Melanin berfungsi untuk melindungi kulit terhadap sinar matahari.
b. Lapisan malpighi atau stratum spinosum. Lapisan malpighi atau disebut juga
prickle cell layer (lapisan akanta) merupakan lapisan epidermis yang paling
kuat dan tebal. Lapisan ini terdiri dari beberapa lapis sel yang berbentuk
poligonal yang besarnya berbeda-beda akibat adanya mitosis serta sel ini
makin dekat ke permukaan makin gepeng bentuknya. Pada lapisan ini banyak
mengandung glikogen.
c. Lapisan Granular atau stratum granulosum (Lapisan Keratohialin). Lapisan
granular terdiri dari 2 atau 3 lapis sel gepeng, berisi butir-butir (granul)
keratohialin yang basofilik. Stratum granulosum juga tampak jelas ditelapak
tangan dan kaki.
d. Lapisan Lusidum stratum lusidum. Lapisan lusidum terletak tepat di bawah
lapisan korneum. Terdiri dari sel-sel gepeng tanpa inti dengan protoplasma
yang berubah menjadi protein yang disebut eliedin.
e. Lapisan tanduk stratum korneum. Lapisan tanduk merupakan lapisan terluar
yang terdiri dari beberapa lapis sel-sel gepeng yang mati, tidak berinti, dan
protoplasmanya telah berubah menjadi keratin. Pada permukaan lapisan ini
sel-sel mati terus menerus mengelupas tanpa terlihat.
2. Dermis
Lapisan Dermis adalah lapisan dibawah epidermis yang jauh lebih tebal daripada
epidermis. Terdiri dari lapisan elastis dan fibrosa padat dengan elemen-elemen
selular dan folikel rambut. Secara garis besar dibagi menjadi dua bagian yakni:
a. Pars papilare, yaitu bagian yang menonjol ke epidermis dan berisi ujung
serabut saraf dan pembuluh darah.
b. Pars retikulare, yaitu bagian dibawahnya yang menonjol ke arah subkutan.
Bagian ini terdidi atas serabut-serabut penunjang seperti serabut kolagen,
6

elastin, dan retikulin. Dilapisan ini juga mengandung pembuluh darah, saraf,
rambut, kelenjar keringat, dan kelenjar sebasea.
3. Lapisan Subkutis
Lapisan ini merupakan lanjutian dari lapisan dermis, tidak ada garis
tegas yang memisahkan dermis dan subkutis. Terdiri jaringan ikat longgar berisi
sel-sel lemak di dalamnya. Sel-sel lemak merupakan sel bulat, besar, dengan inti
terdesak ke pinggir sitoplasma lemak yang bertambah. Jaringan subkutan
mengandung syaraf, pembuluh darah dan limfe, kantung rambut, dan di lapisan
atas jaringan subkutan terdapat kelenjar keringat. Fungsi jaringan subkutan adalah
penyekat panas, bantalan terhadap trauma, dan tempat penumpukan energi.
2.1.3 Fungsi Kulit
Kulit mempunyai Funsi bermacam-macam unutk menyesuaikan dengan
lingkungan. Adapun fungsi utama kulit adalah (Djuanda,2007):
1. Fungsi proteksi
Kulit menjaga bagian dalam tubuh terhadap gangguan fisik atau mekanik
(tarikan, gesekan, dan tekanan), gangguan kimia ( zat-zat kimia yang iritan),
dan gagguan bersifat panas (radiasi, sinar ultraviolet), dan gangguan infeksi
luar.
2. Fungsi Absorbsi
Kulit yang sehat tidak mudah untuk menyerap air, larutan dan benda padat
tetapi cairan yang mudah menguap lebih mudah diserap, begitupun yang larut
lemak. permeabilitas kulit terhadap O2, CO2 dan uap air memungkinkan kulit
ikut mengambil bagian pada fungsi respirasi. Kemampuan absorpsi kulit
dipengaruhi oleh suatu tebal tipisnya kulit, hidrasi, kelembaban, metabolisme
dan jenis vehikulum.
3. Fungsi Ekskresi
Kelenjar kulit mengeluarkan zat-zat yang tidak berguna lagi atau sisa
metabolisme dalam tubuh berupa NaCl, urea, asam urat, dan amonia.
4. Fungsi Persepsi
Kulit mengandung ujung-ujung saraf sensorik di dermis dan subkutis
sehingga kulit mampu mengenali rangsangan yang diberikan. Rangsangan
panas diperankan oleh oleh badan ruffini di dermis dan subkutis, rangsangan
7

dingin diperankan oleh badan krause yang terletak di dermis, rangsangan


rabaan diperankan oleh badan meissner yang terletak di papila dermis, dan
rangsangan tekanan diperankan oleh badan paccini di epidermis.
2.2 Sinar Matahari dan Efeknya Terhadap Kulit
Matahari dapat memancarkan berbagai macam sinar baik yang dapat dilihat
(visibel) maupun yang tidak dapat dilihat. Sinar matahari yang dapat dilihat adalah
sinar yang dipancarkan dalam gelombang lebih dari 400nm, sedangkan sinar
matahari dengan panjang gelombang 10nm- 400nm yang disebut dengan sinar ultra
violet tidak dapat dilihat dengan mata. Dalam beberapa hal sinar ultra violet
bermanfaat untuk manusia yaitu diantaranya untuk mensintesa Vitamin D dan juga
berfungsi untuk membunuh bakteri. Namun disamping manfaat tersebut di atas
sinar ultra violet dapat merugikan manusia apabila terpapar pada kulit manusia
terlalu lama.
Sinar ultra violet (UV) dapat digolongkan menjadi UV A dengan panjang
gelombang diantara 320 – 400 nm, UV B dengan panjang gelombang 290 – 320 nm
dan UV C dengan panjang gelombang 10 – 290 nm. Semua sinar UV A di emisikan
ke bumi, sedangkan sinar UV B sebagian diemisikan ke bumi (terutama yang
panjang gelombangnya mendekati UV A). Sinar UV B dengan panjang gelombang
lebih pendek dan sinar UV C tidak dapat diemisikan ke bumi karena diserap lapisan
ozon di atmosfir bumi. Dengan demikian apabila lapisan ozon yang ada di atmosfir
rusak, sinar UV B yang masuk ke bumi akan semakin banyak, (BPOM, 2009).
Dari ketiga sinar ultra violet yang sudah dibahas, masing – masing
memiliki ciri-ciri dan tingkat keparahan efek radiasi yang berbeda- beda. Namun
pada umumnya, sinar ultraviolet yang terpapar masuk ke bumi, baik itu sinar UV
A, UV B, maupun UV C, dapat memberikan dampak sebagai berikut, (Ana, 2014):
a. Kemerahan pada kulit, Bahaya sinar ultraviolet yang pertama adalah
memberikan efek kemerahan pada kulit. Secara umum sinar ultraviolet,
terutama sinar UV B dapat menimbulkan gejala kemerahan pada kulit.
Hal ini merupakan suatu bentuk iritasi kulit yang terpapar sinar
ultraviolet. Biasanya gejala ini disertai dengan rasa gatal pada bagian
kulit yang memerah..
8

b. Kulit terasa seperti terbakar, Sinar ultraviolet juga dapat membuat kulit
memilikii gejala seperti terbakar. Hal ini biasanya disebabkan oleh
paparan sinar UV– B.
c. Dapat menimbulkan eritema, Eritema merupakan kondisi dimana kulit
kaki mengalami kemerahan dan bengkak. Hal ini biasanya disebabkan
oleh paparan sinar UV– B.
d. Menimbulkan penyakit Katarak, Katarak merupakan kondisi mata yang
tertutupi atau terhalang selaput-selaput tertentu sehingga membuat
penglihatan menjadi berkabut dan cukup jelas. Selain faktor usia,
paparan sinar UV juga menjadi salah satu pemicu timbulnya katarak.
e. Dapat memicu pertumbuhan sel kanker, Paparan sinar UV dapat
menimbulkan terjadinya kerusakan fotokimia pada DNA dari sel-sel
yang berada di dalam tubuh. Hal ini memicu terbentuknya suatu sel
kanker, terutama kanker kulit pada manusia.
f. Radiasi sinar UV A yang menembus dermis dapat merusak sel kulit
g. Kulit dapat kehilangan elastisitas, Paparan sinar UV A yang dapat
menembus bagian demis kulit dapat merusak sel-sel yang berada pada
dermis. Hal seperti ini membuat elastisitas kulit menjadi berkurang.
h. Kerut pada bagian kulit, dan Kerutan pada kulit merupakan salah satu
efek samping dari hilangnya dan berkurangnya elastisitas kulit.
i. Beberapa jenis kanker kulit disebabkan oleh sinar UV. Sinar matahari
pada siang dan sore hari sangat riskan untuk merusak kulitsel-sel kulit
dapat memburuk akibat terkena sinar matahari.
Kulit mempunyai sistem perlindungan alami yaitu lapisan melanin. Semakin
cokelat warna kulit sesorang maka semakin tebal lapisan melanin yang terdapat
pada kulit, sehingga akan memberikan sebuah perlindungan lebih banyak untuk
kulit. Dan sebaliknya, Semakin putih kulit seseorang, maka semakin rentan
terhadap radiasi ultraviolet (UV). Mengingat bahaya dari radiasi ultraviolet (UV)
matahari, maka kulit memerlukan suatu perlindungan meski tubuh telah
menyediakan sistem perlindungan alami. Berikut ini adalah beberapa cara untuk
melindungi kulit dari bahaya sinar matahari serta bagaiamana mengurangi risiko
terkena kanker kulit, (Perempuan, 2008).
9

a. Batasi waktu terkena sianr matahari secara langsung


b. Sebelum melakukan aktifitas di luar ruangan, gunakan tabir surya atau
sunblock
c. Kenakan pakaian yang melindungi kulit seperti topi dengan bibir topi yang
lebar, kaca mata hitam dengan lensa pelindung anti UV, celana panjang,
pakaian lengan panjang, ataupun jaket.
2.3 Tabir surya
Tabir surya (sunblock) adalah suatu zat atau material yang dapat melindungi
kulit terhadap radiasi sinar UV. Sediaan kosmetik tabir surya ini terdapat dalam
bermacam-macam bentuk misalnya losion untuk dioleskan pada kulit, krim, salep,
gel atau spray yang diaplikasikan pada kulit. Sediaan kosmetik yang mengandung
tabir surya biasanya dinyatakan dalam label dengan kekuatan SPF (Sun Protecting
Factor) tertentu. Nilai SPF terletak diantara kisaran 2—60, angka ini sudah
menunjukkan seberapa lama produk tersebut mampu melindungi atau memblok
sinar UV yang menyebakan kulit terasa terbakar. Zat-zat yang dapat bersifat sebagai
screening agent (tabir surya) adalah zat-zat yang dapat menyerap sinar matahari
dengan panjang gelombang 2800-32000A. zat-zat tersebut harus mempunyai bau
yang enak dan dalam konsentrasi yang digunakan tidak boleh memberi warna pada
kulit (Hamdani, 2011). Menurut Mitsui (1997), persyaratan yang paling penting
untuk perlindungan UV pada kosmetik seperti tabir surya adalah :
a. Non toksik, dengan keamanan tinggi dan tidak menyebabkan kerusakan
kulit
b. Absorbansi UV tinggi pada range dengan panjang gelombang yang lebar
c. Tidak ada kerusakan yang disebabkan oleh suatu sinar UV dan panas
d. Mempunyai Kompaktibilitas yang bagus dengan sediaan material
kosmetik
Tabir surya sangat berguna dalam melindungi kulit dari sinar UV A dan sinar UV
B yang dapat membahayakan kulit. Ada dua macam tipe jenis tabir surya, yaitu:
1. Tabir surya kimia
Tabir surya kimia ini bekerja dengan cara menyerap sinar matahari dan
melalui proses kimiawi merubahnya menjadi panas (Iskandar, 2008). Tabir
10

surya jenis ini mengandung suatu senyawa kimia yang mempunyai gugus
kromofor dengan suatu gugus karbonil (Wilkinson dan Moore, 1982).
2. Tabir surya fisika
Tabir surya fisika bekerja dengan cara memantulkan cahaya sinar
matahari (Iskandar, 2008). Tabir surya fisika ini mengandung senyawa yang
tidak tembus cahaya dan memantulkan kebanyakan radiasi UV (Wilkinson
dan Moore, 1982). Efektivitas suatu tabir surya digambarkan dengan suatu
parameter Sun Protection Factor (SPF) dan UV A Protection Factor (UV A-
PF). Tahun 1962, Frans Greiter mengenalkan konsep SPF sebagai standar
internasional dalam menggambarkan efektivitas suatu sediaan tabir surya
yang diaplikasikan pada kulit dengan dosis 2 mg/cm2. Konsep seperti inilah
yang kini dijadikan standar uji efektifitas tabir surya oleh Food and Drug
Administration (FDA) (Osterwalder dan Herzog, 2009). SPF
menggambarkan suatu kemampuan suatu tabir surya dalam memberikan
perlindungan terhadap radiasi sinar UV B. nilai SPF dapat diperoleh dari
perbandingan nilai Minimal Erythema Dose (MED) pada kulit terlindungi
tabir surya dengan nilai MED pada kulit yang tidak terlindungi tabir surya
(Wilkinson dan Moore, 1982).
2.4 Sun Protection Factor (SPF)
Sun protection factor (SPF) adalah perbandingan antara jumlah sinar UV
yang dibutuhkan untuk menghasilkan kulit terbakar atau sunburn pada kulit yang
dilindungi oleh sediaan tabir surya dengan jumlah sinar UV yang dibutuhkan
untuk menghasilkan kulit terbakar atau sunburn pada kulit yang tidak dilindungi
sediaan tabir surya. Sun Protection Factor (SPF) adalah suatu ukuran
perlindungan sediaan krim tabir surya terhadap sinar UV B. Semakin meningkat
nilai SPF, maka efek proteksi terhadap kulit terbakar semakin meningkat juga
(FDA, 2015).
FDA telah merekomendasikan untuk menggunakan tabir surya dengan nilai
SPF minimal 15 atau lebih untuk mendapatkan efek perlindungan terhadap sinar
UV yang lebih baik. Nilai SPF mengacu kepada kemampuan suatu produk tabir
surya untuk menyaring atau memblokir sinar matahari yang berbahaya. Jumlah
radiasi ultraviolet yang diteruskan dan dengan yang diserap oleh produk tabir
11

surya pada berbagai nilai SPF. Pengukuran SPF suatu sediaan dapat dilakukan
secara in vitro dan in vivo.
Tipe-tipe kulit setiap orang bergantung pada gen dan merupakan satu dari
banyak aspek penting dalam penampilan, termasuk warna mata dan rambut.
Dengan mengetahui tipe kulit, maka kita dapat mengetahui reaksi kulit terhadap
paparan sinar matahari. Tipe kulit menurut Fitzpatrick adalah klasifikasi warna
kulit, reaksi terhadap paparan sinar matahari dan kemampuan kulit untuk terbakar
atau tidak.
Immediate Pigment Darkening (IPD), merupakan salah satu indikator
dalam menentukan nilai proteksi UV A. IPD mengarah pada warna kulit yang
menjadi kecoklatan akibat dari paparan sinar ultraviolet khususnya UV A.
Perubahan warna kulit diyakini dapat terjadi karena fotooksidasi dari prekursor
melanin. Tetapi metode IPD ini sulit dilakukan, karena kulit kecoklatan sangat
cepat menghilang, sehingga susah diperoleh hasil yang akurat (Ho, 2001).
Angka SPF menyatakan berapa kali daya tahan alami kulit seseorang dilipat
gandakan sehingga dapat terlindung dari radiasi sinar matahari tanpa terkena luka
bakar. Pengujian nilai SPF dapat dilakukan secara in vivo maupun in vitro.
Minimum Erythemal Dose (MED) didapat dari uji in vivo, namun uji in vivo
membutuhkan biaya yang mahal dan waktu yang lebih lama karena uji in vivo
menggunakan subjek manusia atau hewan seperti kelinci atau tikus. Uji in vitro
lebih mudah dan lebih hemat biaya. Namun uji in vitro memiliki kekurangan, yaitu
uji in vitro tidak dapat memberikan informasi secara kuantitatif terkait
perlindungan tabir surya ketika diaplikasikan pada kulit. Meskipun uji in vitro
memiliki kekurangan, uji in vitro yang dilakukan dengan menggunakan
spektrofotometri memiliki beberapa keuntungan, yaitu lebih murah, reproducible,
dan tidak melukai subjek manusia sehat. Selain itu, hasil dari uji in vitro juga dapat
memberikan informasi pengganti nilai SPF secara in vivo (Draelos dan Thaman,
2006).
Food and Drug Administration menyarankan senyawa yang digunakan untuk
sediaan tabir surya memiliki nilai SPF lebih dari 2. Bagaimanapun untuk
menjamin perlindungan yg cukup dan meminimalisir resiko kerusakan kulit, FDA
12

merekomendasikan penetapan nilai SPF pada sunscreen minimal 15 (Cefali dkk.,


2016).
2.4.1 Perhitungan Nilai SPF
Nilai SPF dihitung dengan menggunakan persamaan Mansur karena khusu
untuk menghitung absorbansi pada panjang gelombang UVB, seperti kita ketahui
bahwa SPF hanya menunjukkan perlindungan terhadap sinar UVB, namun pada
saat pengukuran dilakukan hingga panjang gelombang 400 nm sebagai informasi
tambahan mengenai serapan sampel hingga panjang gelombang tersebut . spektrum
serapan sampel tersebut diperoleh dengan mengukur menggunakan
spektrofotometer UV-Vis pada panjang gelombang 290-400 nm dengan
menggunakan alkohol sebagai blanko, nilai serapan dicatat tiap interval 5 nm pada
panjang gelombang 290-320 nm dan interval 10 nm pada panjang gelombang 320-
400 nm. Dimana nilai serapan yang diperoleh dikalikan dengan EE x I untuk
masing-masing interval. Nilai EE x I tiap interval dapat dilihat pada tabel 4.2 jumlah
EE x I yang diperoleh dikalikan dengan faktor koreksi akhirnya diperoleh nilai SPF
dari masing-masing sampel yang diuji.

Keterangan:
CF = Faktor Koreksi
EE = Spektrum Efek Erytemal
I = Spektrum Intensitas dari Matahari
Abs = Absorbansi dari Sampel
Sediaan dikatakan dapat memberikan perlindungan apabila memiliki nilai SPF 2 –
100 (Shaat, 1990).
Tabel Penilaian SPF
Tipe proteksi Nilai SPF
Proteksi minimal 1–4
Proteksi sedang 4–6
Proteksi ekstra 6–8
Proteksi maksimal 8 – 15
Proteksi ultra >15
13

Food Administration (FDA)


Setelah diketahui nilai SPF, maka selanjutnya dikategorikan berdasarkan
ketentuan dari Food and Drug Administration, sebagai berikut :
1. Minimal Sun Protection Product
Nilai SPF 2-4, memberikan perlindungan sedang dari sunburn, dapat
menyebabkan tanning.
2. Moderate Sun Protection Product
Nilai SPF 4-6, memberikan perlindungan sedang dari sunburn, dapat
menyebabkan beberapa tanning.
3. Extra Sun Protection Product
Nilai SPF 6-8, memberikan perlindungan ekstra dari sunburn, dapat
memberikan tanning yang terbatas.
4. Maximal Sun Protection Product
Nilai SPF 8-15, memberikan perlindungan maksimal dari sunburn, sedikit
atau tidak menyebabkan tanning,
5. Ultra Sun Protection Product
Nilai SPF 15 atau lebih, memeberikan perlindungan yang paling tinggi dan
tidak menyebabkan tanning.

Cara Menghitung Kekuatan SPF:


1. SPF 15 : Memiliki kekuatan (15-1)/15 yaitu 0,93% yang artinya mampu
menahan 93% sinar ultraviolet untuk masuk ke dalam kulit.
2. SPF 30 : Memiliki kekuatan (30-1)/30 yaitu 0,967% yang artinya mampu
menahan 96,7% sinar ultraviolet untuk masuk ke dalam kulit.
3. SPF 50 : Memiliki kekuatan (50-1)/50 yaitu 0,98% yang artinya mampu
menahan 98% sinar ultraviolet untuk masuk ke dalam kulit.

Menghitung Lama Perhitungan Sun Care Pada Kulit.


Lamanya perlindungan Sun Care terhadap kulit tergantung dari jenis kulit. ·
1. Kulit putih tahan 10 menit terhadap sinar matahari. ·
2. Kulit kuning langsat tahan 15 menit terhadap sinar matahari.
3. Kulit coklat sampai hitam tahan 20 menit terhadap sinar matahari
14

Orang yang memiliki kulit coklat dan hitam tahan lebih lama terhadap sinar
matahari karena lebih banyak memiliki pigmen melamin). Jika menggunakan Sun
Care dengan SPF 15, lama perlindungan Sun care dihitung dengan mengalikan nilai
SPF dengan lama kulit bertahan jika tanpa sun care.
1. Untuk kulit putih, Sun Care dengan SPF 15 mampu melindungi orang berkulit
putih, yaitu 15 x 10 menit, yaitu 150 menit.
2. Untuk kulit kuning langsat, Sun Care dengan SPF 15 mampu melindungi
orang berkulit putih, yaitu 15 x 15 menit, yaitu 225 menit.
3. Untuk kulit coklat dan hitam, Sun care ini dapat melindungi selama 15 x 20
menit, yaitu 300 menit (Food Administration).

2.5 krim
Krim adalah suatu bentuk sediaan setengah padat mengandung satu atau
lebih bahan obat terlarut atau terdispersi dalam bahan dasar yang sesuai. Istilah ini
secara tradisional telah digunakan untuk sediaan setengah padat yang mempunyai
konsistensi relatif cair diformulasi sebagai emulsi air dalam minyak atau minyak
dalam air. Saat ini batasan tersebut lebih diarahkan untuk produk yang terdiri dari
emulsi minyak dalam air atau dispersi mikrokristal asam-asam lemak atau alkohol
berantai panjang dalam air, yang dapat dicuci dengan air dan lebih ditujukan untuk
penggunaan kosmetika dan estetika. Sediaan Krim dapat digunakan untuk
pemberian obat melalui vaginal (Farmakope edisi V).
Krim merupakan suatu sistem emulsi sediaan semipadat yang mengandung
dua zat yang tidak tercampur, biasanya air dan minyak, dimana cairan yang satu
terdispersi menjadi butir-butir kecil dalam cairan lain, dimaksudkan untuk
pemakaian luar. Bahan yang digunakan mencakup zat emolien, zat sawar (barier),
zat pengental dan pembentuk lapisan tipis, zat penutup kulit yang berpori lebar, zat
pengemulsi, zat pengawet, parfum dan zat warna (Lubis, 2012).
Selain itu krim adalah sediaan setengah padat berupa emulsi kental mengandung
tidak kurang dari 60% air, dimaksudkan untuk pemakaian luar. Tipe krim ada dua
yaitu:
a. Krim tipe air-minyak (A/M) contohnya sabun polivalen, span, adeps lanae,
kolesterol dan cera.
15

b. Krim tipe minyak-air (M/A) contohnya sabun monovalen seperti


triethanolaminum stearat, natrium stearat, kalium stearat dan ammonium
stearat. (Anief, 2005)
Sifat umum sediaan semi padat terutama krim ini adalah mampu melekat
pada permukaan tempat pemakaian dalam waktu yang cukup lama sebelum sediaan
ini dicuci atau dihilangkan. Krim yang digunakan sebagai obat umumnya
digunakan untuk mengatasi penyakit kulit seperti jamur, infeksi ataupun sebagai
anti radang yang disebabkan oleh berbagai jenis penyakit (Anwar, 2012).
Keuntungan penggunaan krim adalah umumnya mudah menyebar rata pada
permukaan kulit serta mudah dicuci dengan air (Ansel, 2005). Krim dapat
digunakan pada luka yang basah, karena bahan pembawa minyak di dalam air
cenderung untuk menyerap cairan yang dikeluarkan luka tersebut. Basis yang dapat
dicuci dengan air akan membentuk suatu lapisan tipis yang semipermeabel, setelah
air menguap pada tempat yang digunakan. Tetapi emulsi air di dalam minyak dari
sediaan semipadat cenderung membentuk suatu lapisan hidrofobik pada kulit
(Lachman, 2008).
Stabilitas krim akan menjadi rusak, jika terganggu oleh sistem campurannya
terutama disebabkan perubahan suhu, perubahan komposisi dan disebabkan juga
oleh penambahan salah satu fase secara berlebihan atau pencampuran dua tipe krim
jika zat pengemulsinya tidak tercampurkan satu sama lain. Pengenceran krim hanya
dapat dilakukan jika diketahui pengencer yang cocok yang harus dilakukan dengan
teknik aseptis. Krim yang telah diencerkan harus digunakan dalam waktu satu
bulan. Dalam penandaaan sediaan krim, pada etiket harus tertera “Obat Luar” dan
pada penyimpanannya harus dalam wadah tertutup baik atau tube dan disimpan di
tempat sejuk (Depkes RI, 1979).
2.5.1 Evaluasi sediaan krim
1. Pengujian Organoleptis
Pemeriksaan organoleptis meliputi bau, warna dan homogenitas.
pemeriksaaan dilakukan dengan cara sediaan ditimbang 0,1 g kemudiaan
dioleskan secara merata dan tipis pada kaca arloji. Krim harus menunjukkan
susunan yang homogen dan tidak terlihat adanya bintik-bintik (Depkes RI,
1985).
16

2. Pemeriksaan pH
Pemeriksaaan dilakukan menggunakan pH meter. Alat tersebut
dikalibrasi terlebih dahulu sebelum digunakan. Kalibrasi dilakukan dengan
menggunakan larutan dapar pH 4 dan pH 10. Pemeriksaan dilakukan dengan
mencelupkan elektroda ke dalam 1 gram sediaan krimyang diencerkan
dengan air suling hingga 10 mL (Depkes RI, 1985).
3. Pemeriksaan daya sebar
Sediaan sebanyak 0,5 g diletakkan dengan ahti-hati di atas kaca
transparan yang dilapisi kertas grafik, dibiarkan sesaat (15 detik) dan dihitung
luas daerah yang diberikan oleh basis, lalu ditutup dengan plastik transparan.
Kemudian diberi beban tertentu diatasnya (1,3,5 dan 7 gram) dan dibiarkan
selama 60 detik. Lalu dihitung pertambahan luas yang diberikan oleh basis
(Voight, 1995).
4. Pemeriksaan tipe krim
Pemeriksaan tipe krim dilakukan dengan cara memberikan satu tetes
larutan metilen biru pada 0,1 gram krim, kemudian diamati penyebaranwarna
metilen biru dalam sediaan dibawah mikroskop. Jika warna menyebar secara
merata pada sediaan krim, berarti tipe krim adalah minyak dalam air (M/A),
tetapi jika warna hanya berupa bintik-bintik, berarti tipe krim adalah air dalam
minyak (A/M) (Depkes RI, 1985).
5. Viskositas
Viskositas berkaitan dengan konsistensi. Viskositas harus dapat
membuat sediaan mudah dioleskan dan dapat menempel pada kulit. Sediaan
dengan konsistensi lebih tinggi, maka akan berpengaruh pada aplikasi
penggunaannya. Semakin tinggi penurunan atau kenaikan viskositas krim
selama penyimpanan, maka dapat dikatakan bahwa krim tersebut semakin
tidak stabil (Zulkarnain, dkk, 2012)
Pengukuran viskositas krim tabir surya dilakukan menurut Cottrell
dan Kovacs (1980). Viskositas produk diukur dengan mengambil sampel
krim tabir surya sebanyak 50 gram ke dalam wadah, lalu diukur nilai-nya
menggunakan viskometer Brookfield tipe LV. Viskositas (cP) adalah angka
hasil pe-ngukuran dikali faktor konversi. Viskositas merupakan faktor yang
17

erat hubungannya dengan stabilitas emulsi. Semakin tinggi viskositas maka


laju pe-misahan fase terdispersi dan fase pendispersi semakin kecil (Suryani
et al., 2000). Nilai viskositas krim tabir surya berkisar 22.500-46.000 cP
(Purwaningsih, dkk, 2015).
6. Ph
Nilai pH yang terdapat pada SNI 16-4399- 1996 sebagai syarat mutu
pelembab kulit (4,5-8,0) dan kisaran pH normal kulit yaitu 4,5-6,5 (Rizky et
al., 2013). Dengan demikian krim wajah yang dihasilkan relatif aman
digunakan.Nilai pH penting untuk mengetahui tingkat keasaman dari sediaan
krim wajah agar tidak mengiritasi kulit. Hal ini sejalan dengan hasil
penelitian yang dilakukan Swastika, dkk (2013) dan Medan (2015) bahwa
pH 5-6 yang dimiliki oleh krim tidak terlalu jauh dengan pH fisiologi kulit
sehingga dapat diterima untuk digunakan pada kulit. Sediaan kosmetik harus
memiliki pH yang sesuai dengan pH kulit yaitu antara 4,5-7,5 (Faradiba,
2013).
pH digunakan untuk melihat kesesuaian derajad keasaman formula
sediaan krim agar dapat diaplikasikan pada kulit. Berdasarkan persyaratan
SNI 16-4954-1998 tentang rentang pH sediaan krim yang memenuhi
persyaratan yaitu 3,5 – 8. Produk yang memiliki nilai pH sangat tinggi atau
sangat rendah akan menye-babkan kulit teriritasi. Menurut SNI 16-4399-
1996 nilai pH produk kulit untuk tabir surya adalah berkisar antara 4,5-8,0.
2.6 Tanaman Gandum
2.6.1 Klasifikasi Tanaman Gandum
Kingdom : Plantae
Class : Monocotyledoneae
Sub class : Liliopsida
Ordo : Poales
Family : Poaceae
Sub family : Pooideae
Tribe : Triticeae
Genus : Triticum
Species : T. Aestivum (Van Slageren, 1994).
18

2.6.2 Tanaman Gandum dan Kandungan Gandum


Gandum merupakan tanaman yang berasal dari daerah subtropics. Sekarang
ini terutama melalui usaha-usaha manusia di bidang budi daya tanaman, penyebaran
tanaman gandum mulai meluas ke daerah iklim sedang dan tropis. perkembangan
gandum di Indonesia dimulai sejak Menteri Pertanian dipegang oleh Prof. Dr. Ir. H.
Thoyib Hadiwijaya dengan membentuk Tim Inti Uji Adaptasi Gandum pada tahun
1978, lokasi uji coba terletak di Kabanjahe – Sumatera Utara. Benih asal yang
digunakan adalah Cimmyt Meksiko dengan produktivitas 4 ton/ha dalam bentuk
pecah kulit (Dirjen Bina Produksi Tanaman Pangan, 2001). Gandum memiliki
potensi yang cukup besar untuk dikembangkan di Indonesia pada masa yang akan
datang, mengingat kriteria pertumbuhan tanaman gandum banyak tersebar di
Indonesia pada ketinggian > 800 m dpl. Pada daerah tropis seperti pada Indonesia
dapat dikembangkan tanaman gandum terutama di daerah pegunungan (dataran
tinggi) yang beriklim kering cocok ditanam pada ketinggian > 800 m dpl
(Direktorat Budidaya Serealia, 2008).
Gandum termasuk kelas Monocotyledoneae (tumbuhan biji berkeping satu)
dengan subclass Liliopsida, dari ordo Poales, yang dicirikan oleh bentuk tanaman
teman dengan siklus hidup semusim. Family poaceae atau lebih dikenal sebagai
Gramineae (rumput-rumputan) memiliki ciri khas berakar serabut, batang berbuku,
dan daun sejajar dengan tulang daun. Gandum merupakan tanaman seralia yang
termasuk ke dalam family poaceae dengan tribe triticea (Nevo et al, 2002).
Menurut Ballard ( 2009 : 1 ) Gandum termasuk golongan biji padi-padian
yang memiliki nutrisi terbanyak dibandingkan biji padi-padian lainnya. Biji
Gandum atau Wheat Kernel biasanya berbentuk lonjong seperti biji padi-padian
lainnya

gambar 2.1 Bentuk Biji Gandum (Gisslen, 2013)


19

Menurut Gisslen ( 2013 : 56 ) Biji Gandum memiliki tiga bagian lapisan yang
berbeda, yaitu :
1. Bran atau kulit merupakan lapisan terluar dari biji gandum yang paling keras,
Bran merupakan bagian yang dihilangkan saat penggilingan untuk pembuatan
tepung terigu. Bran memiliki kandungan serat yang tinggi, vitamin B, lemak,
protein dan mineral. Bran memiliki kandungan yang baik bagi tubuh pada
saat sedang melakukan program diet.
2. Germ atau lembaga merupakan bagian dari biji gandum yang dapat
bertumbuh menjadi tanaman gandum atau inti bibit dari gandum. Germ
memiliki kandungan lemak yang tinggi, sehingga apabila tepung yang masih
memiliki kandungan germ maka akan mudah berbau tidak sedap.
3. Endosperm merupakan bagian gandum yang tersisa dan terkandung dalam
tepung terigu setelah Bran dan Germ dihilangkan pada saat proses
penggilingan tepung terigu.
Biji gandum utuh mengandung ratusan senyawa fitokimia seperti asam fitat,
senyawa fenol, vitamin E, selenium, dan lignan, yang berfungsi sebagai
antioksidan. Biji gandum utuh terdiri dari tiga komponen utama yaitu bran (kulit
atau sekam sekitar 13%), endosperma (sekitar 85%), dan germ (sekitar 2%). Bran
merupakan lapisan kasar terluar dari biji. Bran memiliki 50% hingga 80% mineral
dalam biji, meliputi besi, seng, tembaga, dan magnesium, juga cukup banyak serat,
vitamin B, sedikit protein, senyawa fitokimia, dan komponen bioaktif lain.
Endosperma kaya akan karbohidrat dan protein ( contoh: gluten) dengan sedikit
vitamin B, sehingga memberikan asupan energi cukup besar. Germ adalah bagian
terkecil dari ketiga komponen, namun kaya akan mikro mineral, lemak tak jenuh,
vitamin B, antioksidan, dan senyawa fitokimia (Price dan Martin, 2000).
Biji gandum memiliki sumber yang kaya akan trace mineral seperti besi,
seng, mangan, dan selenium yang terkonsentrasi di lapisan luar biji (Slavin et al.,
1999). Keragaman varietas gandum menyebabkan dalam satu biji gandum utuh,
nutrisi dan senyawa fitokimia tidak seluruhnya terdistribusi secara merata di
seluruh bagian. Banyak komponen dari suatu biji gandum utuh yang berfungsi
sebagai antioksidan seperti asam fenolik vitamin E, selenium, lignan, dan asam fitat
20

(Onyeneho dan Hettiarachchy, 1992) Asam fenolik, yang diketahui sebagai asam
ferulat dan asam pkoumarat (p-coumaric acid), ditemukan dalam dinding sel
tanaman yang biasanya terikat antara selulosa dengan komponen polisakarida yang
lain (Slavin et al., 1999; Hartley dan Keene, 1984).
2.6.3 Minyak Biji Gandum (Wheat Germ Oil)
Wheat germ oil ( minyak biji gandum) merupakan sumber yang kaya akan
asam lemak tak jenuh ganda dan vitamin E, dimana merupakan bahan alami yang
memiliki kandungan tertinggi dari α-tokoferol dengan aktivitas vitamin E tertinggi.
Wheat germ oil sudah dinyatakan dapat meningkatkan ketahanan tubuh dan
menunda penuaan (Megahed, 2011). Menurut Gomez dan De La Ossa (2000), telah
ditentukan dalam minyak biji gandum terkandung 166,0-319,2 mg/g α- tokoferol
dan 66,6-121,0 mg/g β-tokoferol. Menurut Wang dan Johnson (2001) di dalam
minyak biji gandum crude terkandung 1817 mg/kg α-tokoferol dan 864 mg/kg β-
tokoferol. Sedangkan menurut Mahmoud dan kawan-kawan (2009), minyak biji
gandum mengandung 70% α-tokoferol, 19% β-tokoferol, 7% γ-tokoferol, 2% α-
tocotrienol dan 2% γ-tocotrienol (Ozcan, dkk., 2013).
Minyak biji gandum diperoleh dari bagian lembaga dari gandum. Gandum
terdiri dari endosperm (81-84%), kulit (14-16%) dan inti (2-3%). Kulit dan inti
memiliki nutrisi yang sangat baik untuk kesehatan. Minyak biji gandum biasanya
digunakan untuk meningkatkan nutrisi karena memiliki vitamin E yang sangat
tinggi. Minyak ini dapat digunakan dalam kosmetik, sediaan mandi dan
farmaseutikal. Rentang konsentrasi minyak biji gandum yang digunakan pada
produk kosmetik adalah 0,1-50%. Minyak biji gandum dapat diekstraksi melalui
beberapa teknik seperti, ekstraksi secara mekanik, ekstraksi dengan pelarut organik
dan ekstraksi cairan superkritikal dengan CO2. Minyak biji gandum yang
diekstraksi dengan pelarut organik lebih stabil dibandingkan dengan ekstraksi
secara mekanik, dimana hasil asam lemaknya lebih sedikit. Biji gandum
mengandung 15% minyak. Komposisi asam lemaknya tergantung pada jenis
gandum, keadaan pertumbuhan, metode ekstraksi dan kondisi penyimpanan. Biji
gandum terdiri dari asam lemak jenuh dan asam lemak tak jenuh (Yildirim dan
Kostem, 2014). Menurut penelitian dari Suryawansih (2016), telah dibuktikan
bahwa minyak biji gandum dapat menjadi kandidat bahan aktif dari krim tabir surya
21

karena miningkatkan nilai SPF dan sebagai bahan untuk mencegah penuaan dini.
Dengan peningkatan konsentrasi minyak biji gandum, nilai SPF yang diperoleh pun
semakin tinggi.
2.7 Vitamin E (Tokoferol)
Vitamin E adalah salah satu fitonutrien penting dalam makanan. Vitamin E
merupakan antioksidan yang larut lemak. Vitamin ini banyak terdapat dalam
membran eritrosit dan lipoprotein plasma. Sebagai antioksidan, vitamin E berfungsi
sebagai donor ion hidrogen yang mampu mengubah radikal bebas menjadi radikal
tokoferol yang kurang reaktif, sehingga tidak mampu merosak rantai asam lemak
(Winarsi, 2005).
Vitamin E terdiri atas beberapa macam diantaranya adalah α-tokoferol, β-
tokoferol, δ-tokoferol, dan γ-tokoferol. Komponen vitamin E yang paling banyak
ditemukan adalah α-tokoferol yang memiliki cincin aromatik tersubtitusi dan rantai
panjang isoprenoid sebagai rantai samping (Lehninger 1982). Peranan vitamin E
dalam sel adalah dengan cara mengikat radikal bebas. Dalam jaringan, vitamin E
menekan terjadinya asam lemak tidak jenuh yang terdapat pada membran, dengan
demikian mampu menjaga atau mempertahankan fungsi membrane (Turkoglu et al.
2006).
Vitamin E dapat mengakhiri proses reaksi berantai radikal bebas, dengan
menghambat produksi radikal bebas yang baru dan membatasi perusakan sampai
batas area membran sel. Hasil penelitian yang dipublikasikan Journal of
AmericanDietetics Association (1978) memperlihatkan, proses di atas dapat
diantisipasi dengan meningkatkan substansi pelindung termasuk antioksidan
(vitamin E) yang cenderung memperlambat proses penuaan dan memperpanjang
masa muda secara fisik. Selain sebagai "pemakan" radikal bebas, vitamin E
berperan meningkatkan ketahanan tubuh. Vitamin E melindungi vitamin A dari
kerusakan dalam tubuh dan "menyelamatkan" selenium. Vitamin E juga berperan
mencegah konversi nitrit menjadi nitrosamin (salah satu pemicu kanker) dan
meningkatkan respons kekebalan (Graha, 2008).
Pada Fluorescence detection (FLD) dan ultraviolet detection (UV)
merupakan detektor yang paling banyak digunakan untuk menganalisis vitamin E.
Vitamin E menyerap sinar UV pada panjang gelombang 290-300 nm, namun
22

absorbansi maksimal begitu kecil sehingga penyerapan UV hanya dapat digunakan


untuk sampel yang memiliki kandungan tinggi tokoferol maupun tokotrienol seperti
minyak nabati. FLD memiliki sensitifitas, selektifitas, dan spesifitas tinggi jika
dibandingkan UV (Martha, et all., )
2.7.1 Kimiawi dan metabolisme vitamin E
Vitamin ini diisolasi oleh Evans dan kawan-kawan (1936) dari wheat-germ
oil. Delapan senyawa tokoferol yang terbentuk di alam yang memiliki aktivitas
vitamin E kini telah diketahui. Bentuk yang paling aktif secara biologi adalah RRR-
α-tokoferol yang merupakan kira-kira 90% tokoferol dalam jaringan hewan dan
menunjukkan aktivitas biologis tertinggi dalam sebagian besar sistem bioasai. Salah
satu sifat kimia tokoferol yang penting adalah bahwa senyawa-senyawa ini
merupakan senyawa redoks yang bekerja sebagai antioksidan dalam beberapa
kondisi tertentu, dalam hal ini tampaknya merupakan dasar untuk sebagian besar,
tetapi mungkin tidak semua, efek vitamin E. Senyawa tokoferol rusak secara
perlahan jika terpajan udara atau sinar ultraviolet (Marcus, R., and Coulston, A.M.,
2007).

gambar 2.2 Senyawa Takroferol


( Goodman & Gilman, 2007 )

2.7.2 Fungsi vitamin E


Sifat-sifat antioksidan vitamin E memperbaiki kerusakan membran biologis
akibat radikal bebas. Vitamin E melindungi asam-asam lemak tak jenuh ganda
(polyunsaturated fatty acid, PUFA) dalam membran fosfolipid dan dalam
lipoprotein bersikulasi (Burton et al., 1983). Radikal-radikal peroksil (ROO •)
bereaksi 1000 kali lebih cepat dengan vitamin E dibandingkan dengan PUFA,
membentuk hydrogen peroksida organik yang sesuai dan radikal tokoferoksil
(vitamin E-O •). Selanjutnya radikal tokoferoksil berinteraksi dengan antioksidan
23

lain seperti vitamin C, yang akan membentuk kembali tokoferol (Marcus, R., and
Coulston, A.M., 2007).
Vitamin E merupakan antioksidan yang tergolong senyawa fenolik yang
larut lemak serta terletak di membran eritosit dan plasma lipoprotein. Sebagai
antioksidan dalam tubuh, vitamin E bertindak sebagai scavenger (penangkap)
radikal-radikal bebas yang masuk ke dalam tubuh atau terbentuk di dalam tubuh
dari proses metabolism normal. Vitamin E bertindak sebagai donor ion hidrogen
dan dapat mengubah radikal peroksil (hasil peroksidasi lipid) menjadi radikal
tokoferol yang kurang reaktif dan relatif stabil sehingga tidak mampu merusak
rantai asam lemak (Widjaja 1997). Agar tidak terjadi kerusakan sel oleh radikal
bebas maka untuk mencegah oksidasi/kerusakan oleh radikal bebas diperlukan
sejumlah antioksidan yang larut dalam lemak dan larut dalam air. Vitamin E
merupakan antioksidan yang larut dalam lemak. Antioksidan sendiri bekerja secara
sinergi untuk memunahkan radikal bebas tersebut (Muhillal, 2004).
Semakin tinggi asupan vitamin E, semakin tinggi kadar tokoferol dalam
tubuh seseorang. Namun demikian, kadar tokoferol dalam tubuh sangat dipengaruhi
oleh aktivitas tubuh. Selama aktivitas olah raga, vitamin E menunjukkan respon
yang bervariasi (Winarsi,H., 2007).
2.7.3 Antoksidan
Antioksidan adalah senyawa yang memiliki peranan penting dalam menjaga
kesehatan karena dapat menangkap molekul radikal bebas sehingga menghambat
reaksi oksidatif dalam tubuh yang merupakan penyebab berbagai penyakit
(Adawiah, dkk., 2015).
Tokoferol telah lama teruji sebagai antioksidan, terutama dalam kaitannya
dengan penetralan radikal yang terbentuk dalam reaksi rantai oksidasi lipid.
Oksidasi lipid secara signifikan merusak fungsi dan kesetabilan membran sel
sebagai akibat ikatan silang yang terbentuk dalam lipoprotein. Proses aging
(penuaan) disebabkan tidak adanya penghambatan terhadap degradasi oksidatif
jaringan memalui jalur radikal bebas. Dalam mekanisme menghambat oksidasi
lipid, antioksidan dibagi menjadi dua jenis: antioksidan pemutus rantai reaksi dan
antioksidan preventif. Antioksidan pemutus rantai reaksi adalah semua zat yang
menghambat tahap propagasi reaksi oksidasi, yaitu dengan mengganggu rantai
24

autoksidasi. Antioksidan dapat memiliki efek yang beragam sehingga


mekanismenya sulit untuk dimengerti. Bahkan efek antioksidan suatu senyawa
dapat berakibat prooksidatif dalam kondisi reaksi tertentu atau jumlah antioksidan
tersebut (Simamora, 2003).
α-tokoferol lebih reaktif dibandingkan β-, γ-, dan δ-tokoferol. Ini
disebabkan karena ketiga tokoferol terakhir ini kehilangan satu atau lebih gugus
metil. Gugus metil yang bertindak sebagai gugus pendorong elektron membantu
untuk menstabilkan radikal tokoferoksil sehingga meningkatkan kemampuan
tokoferol dalam mendonorkan hidrogen dari strutukturnya. Sedangkan tokotrienol
adalah gugus senyawa lain yang memiliki aktivitas seperti vitamin E. Struktur
cincin kroman pada empat buah tokotrienol mirip dengan tokoferol namun
tokotrienol memiliki 3 ikatan ganda terisolasi pada rantai fitil (Simamora, 2003).
Vitamin E sebagai antioksidan dapat mencegah proses oksidasi terhadap
omponen-komponen sel yang penting dan mencegah terbentuknya hasil oksidasi
yang toksik, sebagai contoh adalah hasil hasil peroksidasi asam lemak tidak jenuh.
Selain itu vitamin E juga berfungsi menjaga stabilitas dan intgritas membran sel
serta melindungi sel dan komponen-komponennya dari toksisitas berbagai macam
obat, logam berat, dan zat kimia lain yang akan membentuk radikal bebas
(Goodman’s and Gillman’s, 1991).

2.8 Titanium dioksida


Titanium dioksida (TiO2) merupakan logam transisi yang termasuk
golongan IV pada tabel periodik (Anonim A, 2010), disebut juga titanium
anhydride, anhidrida asam titanium, titanium oksida, atau titania yang biasanya
tersedia dalam serbuk putih. Bahan memiliki banyak keunggulan dibandingkan
bahan semikonduktor yang lainnya, sehingga menjadi perhatian dalam penelitian
sebagai fotokatalis. Sifat-sifat tersebut diantaranya (Tarr, 2003):
a. mempunyai pita terlarang (band gap) yang sesuai untuk proses fotokatalis
sehingga memudahkan terjadinya eksitasi elektron ke pita konduksi dan
pembentukan hole pada pita valensi saat diinduksikan cahaya ultraviolet.
b. Memiliki aktifitas fotokatalis yang lebih tinggi dibandingkan dengan
fotokatalis lain, seperti: ZnO, CdS, dan SnO2.
c. Mampu menyerap sinar ultraviolet dengan baik.
25

d. Memiliki kestabilan kimia dalam interval pH yang besar (0 sampai 14).


e. Tahan terhadap photodegradasi.
f. Bersifat inert dan tidak larut dalam reaksi baik secara biologis maupun kimia.
g. Tidak beracun
h. Memiliki kemampuan oksidasi yang tinggi
i. Relative murah
2.8.1 Aplikasi Titanium Dioksida
Titanium dioksida sangat stabil pada temperatur tinggi, berwarna
putih,amorf, tidak berasa dan tidak higroskopis. Tidak larut dalam H2SO4 encer,
HCl, HNO3 pelarut-pelarut organik dan air, tetapi larut dalam asam hidrofluorik
dan H2SO4 panas. Titanium dioksida memiliki indeks bias yang tinggi sehingga
titanium dioksida memiliki sifat penghamburan cahaya yang dapat dimanfaatkan
dalam penggunaannya sebagai pigmen putih dan opacifier. Kisaran cahaya yang
tersebar dapat diubah dengan memvariasikan ukuran partikel serbuk titanium
dioksida.
Titanium dioksida digunakan dalam sediaan dermatologis dan kosmetik,
seperti tabir surya (Rowe, et al., 2005). Konsentrasi maksimum titanium dioksida
yang diizinkan untuk kosmetik adalah 25% (Cawthray, 2009). Namun, secara
umum konsentrasi titanium dioksida yang biasa digunakan adalah sekitar 5%
(Melquiades, et al., 2008).
Di alam TiO2 memiliki beberapa struktur kristal, yaitu: anatase, rutil, dan
brookite. Rutil adalah fasa keseimbangan semua suhu. Sedangkan anatase dan
brookite adalah fasa metastabil yang dapat diubah menjadi rutil dengan proses
pemanasan (Greenwood and Earnshaw, 1984). TiO2 memiliki beberapa fasa
tambahan sebagai bentuk tegangan tinggi, seperti monoklinik baddelite dan
orthorombik α-PbO2 keduanya ditemukan di Ries Crater, Bavaria (Goresy et al,
2001).
TiO2 merupakan pigmen putih yang paling banyak digunakan karena
kecerahan dan indeks biasnya sangat tinggi (n = 2,4), biasanya ditemukan dalam
bentuk bubuk sebagai produk seperti cat, pelapis, kertas, tinta, makanan, obat-
obatan (pil dan tablet), serta pasta gigi; sebagai pigmen untuk memutihkan susu
skim (Phillips and Barbano, 1997); sebagai tabir surya dan penyerap UV dalam
26

kosmetik; sebagai fotokatalis karena memiliki sifat fotokatalitik (Fujishima and et


al, 2005) atau dicampur dengan ion nitrogen maupun oksida logam seperti tungsten
trioksida; sebagai media penyimpanan data elektronik.
Aplikasi lain TiO2 dapat juga diperoleh dengan cara sintesis tunggal kristal,
diantaranya:
a. TiO2 dalam larutan atau suspensi dapat digunakan untuk membelah protein
yang berisi asam amino prolin (Jones et al, 2007).
b. TiO2 tidak kompatibel dengan agen pereduksi kuat dan asam kuat. Reaksi
yang hebat atau pijar terjadi dengan logam cair yang sangat elektropositif,
misalnya kalsium, magnesium, kalium, natrium, seng dan lithium.
Titanium dioksida digunakan dalam berbagai kosmetik dan produk
perawatan pribadi yaitu makeup, sabun mandi, dan juga terdapat dalam produk-
produk sunblock. Titanium dioksida merupakan bahan yang berasal dari mineral.
Karena senyawa ini yang berasal dari tubuh bumi, kemungkinan mengandung
sejumlah kecil logam berat. Tingkat logam berat dalam Titanium dioksida diatur
oleh FDA (The Food and Drug Administration) dalam jumlah kecil dalam produk
kosmetik atau perawatan sehingga tidak mengganggu kesehatan manusia. Titanium
dioksida bekerja sebagai pelindung sinar matahari dengan memantulkan radiasi
UV. Produk ini mengurangi sengatan sinar matahari, penuaan kulit serta
mengurangi risiko untuk kanker kulit.
2.9 Oktil Metoksisinamat
Oktil Metoksisinamat atau dengan nama lain octinoxate adalah suatu
senyawa organik dengan rumus molekul C18H26O3 yang tidak larut dalam air. Oktil
Metoksisinamat berupa cairan berwarna kuning atau kuning bening yang memiliki
densitas 1.007-1,017 g/cm3, titik beku -25oC, titik didih 185-195oC pada 0,75
mmHg.

gambar 2.3 Struktur Oktil Metoksisinamat


27

Oktil Metoksisinamat (OMC) adalah filter UV-B yang paling luas


digunakan dengan perlindungan potensial yang paling bagus. OMC terdaftar
sebagai bahan kimia dengan volume produksi yang paling tinggi dalam database
informasi zat kimia Eropa. (Kyowa Hakko , 2009).
Oktil Metoksisisnamat adalah cairan yang larut dalam minyak yang
merupakan UV-filter dan dapat dengan mudah tersebar ke fase minyak dari preparat
kosmetik. OMC paling sesuai dengan bahan-bahan kosmetik. Karena OMC
merupakan turunan dari asam sinamat (asam lemak yang tidak tersaturasi),
antioksidan harus ditambahkan ke dalam komposisi kosmetik, untuk menjamin
stabilitas oksidatif dari produk. Antioksidan yang dapat digunakan sebagai contoh
vitamin E atau BHT. OMC besar pengunaannya pada berbagai jenis kosmetik
karena OMC memiliki koefisiensi yang besar sebagai filter UV-B. Hanya beberapa
reaksi fotosensitifitas dan/atau fotoalergik yang diinduksi oleh senyawa ini
(Pattanaargson dan Limbong., 2000). Maka dari itu OMC cocok digunakan sebagai
pelindung sinar matahari dan produk perlindungan bahaya sinar UV-B sehari-hari
(Kyowa Hakko, 2009).
Pemakaian topikal dari OMC ditoleransi dengan baik, dengan iritasi kulit
sedikit atau diabaikan, reaksi kontak alergi, dan efek fototoksik. Namun,
sebelumnya telah dilaporkan bahwa toksisitasnya meningkat sebagai akibat dari
kerusakan radiasi UV. Imbas kerusakan dari terkena sinar UV adalah dapat
mengganggu proses seluler atau menyebabkan kerusakan oksidatif pada kulit
manusia. OMC telah terbukti menurunkan fotosensitifitas saat terkena sinar
matahari, yang menyebabkan penurunan efisiensi serapan sinar UV.
Fotosensitifitas mungkin memiliki toksisitas lebih tinggi dari OMC itu sendiri. Efek
samping lain dari tabir surya adalah pembentukan oksigen tunggal dan berbagai
efek estrogenic setelah in vivo dan in vitro untuk paparan beberapa UV filter. Tabir
surya digunakan sebagai pertahanan utama terhadap sinar UV matahari, dan akan
mengantisipasi reduksi besar dari UV yang menyebabkan transkripsi kerusakan gen
DNA ketika sel-sel dilindungi dengan OMC (Duale, 2009). Oktil metoksisinamat
memiliki sifat yang baik untuk melarutkan UV_filter padat contohnya Butil
Metoksidibenzoil Methana. Jika ingin mencapai nilai SPF yang lebih tinggi harus
diingat, bahwa campuran UV-filter yang berbeda adalah solusinya.
28

Penggunaan lokal Oktil Metoksisinamat pada kosmetik yang direkomendasikan:


Eropa 10%
Amerika 7,5%
Jepang 20%
Australia 10%
Indonesia 10%
(Kyowa Hakko, 2009).
2.10 Butil metoksidibenzoilmetan
Berat molekul avobenzone adalah 310,4 dengan rumus molekul C20H22O3.
Avobenzone berwarna putih kekuningan, berupa serbuk kristal, berbau aromatik,
larut dalam aseton dan metanol panas serta tidak larut di dalam air (FDA
Monograph, 1999)
Avobenzone atau dikenal dengan nama lain Butil Metoksidibenzoilmetan
merupakan filter UV disetujui oleh FDA (Food and Drug Administration).
Avobenzone berupa serbuk putih yang larut dalam minyak menunjukkan absorpsi
yang besar pada UV-A dengan panjang gelombang 360 nm (Barel, dkk., 2009).
Avobenzone juga memiliki kemampuan dalam menyerap sedikit sinar UV-B.
Avobenzone bersifat tidak stabil, yaitu terdegradasi dalam waktu yang cepat saat
terpapar UV, paparan selama 15 menit menyebabkan 36% avobenzone terdegradasi
(Auerbach, 2011). Konsentrasi penggunaan minimum telah ditetapkan sebesar 2%
dan maksimum 3% (Barel, dkk., 2009).

2.11 Tinjauan Bahan Tambahan


1. Asam Stearat (Rowe et al, 2009)

Struktur kimia :
Sinonim :Acid cetylacetic; Crodacid; E570; Edernol
Rumus molekul :C18H36O2
Berat molekul :284,47
Pemerian :Kristal padat warna putih atau sedikit
kekuningan,mengkilap, sedikit berbau dan berasa
seperti lemak.
29

Kelarutan :Sangat larut dalam benzen, CCl4, kloroform, dan


eter; larut dalam etanol (95%), heksan dan propilen
glikol; praktis tidak larut dalam air. Suhu lebur : ≥
54oC.
Inkompatibilitas :Dengan logam hidroksi, obat naproxen dan bahan
pengoksidasi.
Penggunaan :Bahan pembentuk emulsi.
Asam stearat dalam sediaan topikal digunakan sebagai pembentuk
emulsi dengan konsentrasi kadar 1 – 20%. Sebagian dari asam stearat
dinetralkan dengan alkalis atau TEA untuk memberikan tekstur krim yang
elastik.
2. Trietanolamin (Rowe et al, 2009)
Sinonim :TEA;triethylolamin;rihydroxytriethylamine;
tris(hydroxyethyl)amine; trolaminum.
Rumus molekul :C6H15NO3
Berat molekul :149,19
Pemerian :cairan kental, tidak berwarna, bau lemah mirip
amoniak, sangat higroskopis.
Kelarutan :dapat bercampur dengan air, alkohol, gliserin; larut
dalam gliserin.
pH :10,5
Penggunaan :dalam formulasi terutama digunakan sebagai bahan
pembentuk emulsi. Kegunaan lain yaitu sebagai
buffer, pelarut, humektan dan polimer plasticizer.
Bila dicampur dalam proporsi yang seimbang dengan asam lemak seperti
asam stearat atau asam oleat akan membentuk sabun anionik yang berguna
sebagai bahan pengemulsi yang menghasilkan emulsi tipe o/w dengan pH 8.
3. Vaselin Putih (Rowe et al, 2009)
Sinonim : White petrolatum; white petroleum jelly.
Pemerian : berwarna putih, tembus cahaya, tidak berbau dan tidak
berasa.
30

Kelarutan : praktis tidak larut dalam aseton, etanol, gliserin dan air;
larut dalam benzene, kloroform, eter, heksan dan minyak
menguap.
Penggunaan :emolien cream, topikal emulsi, topikal ointments dengan
konsentrasi antara 10-30%.
4. Isopropyl Myristate (Rowe et al, 2009)
Nama Resmi : Isopropyl Myristate
Pemerian : Isopropyl Miristatat adalah, tidak berwarna, tidak
berbaucairan praktis, viskositas,rendah yang mengental
pada sekitar 5 oC. Ini terdiri dari esterdari propan-2-
ol dan asam lemak dengan berat molekul tinggi
jenuh, asam miristat terutama ((HPE 6th p.348)
Kegunaan : digunakan pada formulasi sediaan topikal Dapat
meningkatkan bioavailabilitas pada aplikasi topikal.
Bahanyang tahanterhadap oksidasi, hidrolisis,dan tidak
menjadi tengik. (HPE6th p.348)
Kelarutan : larut dalam aseton,kloroform, etanol (95%), etil
asetat, lemak, alkohollemak,minyak tetap hidrokarbonca
ir,toluena, danlilin. Melarutkanbanyak lilin, kolestrol,.Pr
aktis tidak larut dalamgliserin, glikol, dan
air (HPE 6thp.348)
Inkompaktibel : isopropyl miristat tidak inkompaktibel dengan
paraffin padat, menghasilkan campuran butiran,.
Tapi kompaktibel dengan oksidatif kuat
Kestabilan : isopropyl miristat tahan terhadap oksidasi dan
hidrolisis, dan tidak menjadi tengik
Penyimpanan : harus disimpan di tempat yang tertutup wadah,
ditempat yang sejuk dan kering dan terlindung dari
cahaya

Isopropil miristat adalah salah satu peningkat penetrasi yang biasa digunakan
dalam sediaan topikal. Isopropil miristat adalah pelembut tidak berminyak yang
mudah diserap oleh kulit. Bahan ini digunakan sebagai penyusun basis sediaan semi
31

padat dansebagai pelarut pada sediaan topikal dan aman bagi konsumen dengan
kulitnormal dan dalam waktu musim dingin mendorong penggunaan untuk
mencegah hilangnya kelembaban (Serra- Baldrich, 1998; Lachman dkk., Popli dan
Sharma, 1990).

5. Na-EDTA (Rowe et al, 2009)


Nama Resmi : Etilen Diamina Tetra asetat
Pemerian : Serbuk kristal putih tidak berbau dengan sedikit rasa
asam
Kegunaan : digunakan pada formulasi Untuk mencegah
kontaminasi dengan logam , sebagai chelating agent
Kelarutan : Larut dalam air (1:11), Praktis tidak larut dalam
kloroform dan eter, larut dalam etanol (95%)
Inkompaktibel : dengan pengoksidasi kuat, dan ion logam polifalen
seperti tembaga, nikel, Na EDTA merupakan asam
lemah dan bereaksi dengan logam membentuk
hidrogen.
Kestabilan : Sangat higroskopis dan harus dilindungi dari
kelembaban
Penyimpanan : harus disimpan diwadah bebas alkali, tertutup rapat
dan ditempat sejuk dan kering.
6. Gliserin(Rowe et al, 2009)

Struktur kimia :
Sinonim : glycerol, glycerin, croderol
Rumus molekul : C3H8O3
Berat molekul : 92,09
Pemerian : tidak berwarna,tidak berbau, viskos, cairan yang
higroskopis, memiliki rasa yang manis, kurang lebih
0,6 kali manisnya dari sukrosa.
32

Kegunaan : digunakan pada berbagai formulasi sediaan


farmasetika, diantaranya adalah oral, ophtamical,
topikal, dan sediaan parenteral. Pada formulasi
farmasetika sediaan topikal dan kosmetik,
gliserinutamanya digunakan sebagai humektan dan
pelembut. Rentang gliserin yang digunakan sebagai
Humektan sebesar ≤ 30%.
Stabilitas :Pada suhu 20oC. Gliserin sebaiknya ditempat yang
sejuk dan kering.
Kelarutan : Gliserin praktis tidak larut dengan Benzena,
kloroform, dan minyak, larut dengan etanol 95%,
methanol, dan air.
7. Nipagin(Rowe et al, 2009)

Struktur kimia :
Sinonim : Asam 4-hidroksibrnzoat metal ester, metal p-hidroksibenzoat,
metal parahidroksibenzoat, metal paraben.
Rumus molekul : C8H8O3
Berat molekul : 153,15
Sinonim : asam 4-hidroksibenzoat metal ester, metal
phidroksibenzoat,metal parahidroksibenzoat, metal paraben.
Rumus molekul : C8H8O3
Berat molekul : 152,15
Pemerian : Kristal tidak berwarna atau kristal serbuk kristal putih, tidak
berbau atau hampir tidak berbau dan sedikit rasa membakar.
Kelarutan : pada suhu 25oC larut dalam 2 bagian etanol, 3 bagian etanol
(95%), 6 bagian etanol (50%), 200 bagian etanol (10%), 10
bagian eter, 60 bagian gliserin, 2 bagian metanol, praktis
tidak larut dalam minyak mineral, larut dalam 200 bagian
33

minyak kacang, 5 bagian propilen glikol, 400 bagian air


(25oC), 50 bagian air (50oC) dan 30 bagian air (80oC).
Penggunaan : digunakan sebagai pengawet antimikroba sediaan
kosmetik, sendiri atau kombinasi dengan paraben atau
pengawet yang lain. Efektifitas sebagai pengawet dapat
ditingkatkan dengan penambahan 2 – 5% propilen glikol,
feniletil alkohol atau EDTA. Efek sinergis sebagai pengawet
terjadi pada penggunaan metilparaben dengan paraben lain.
Kadar metilparaben untuk sediaan topikal sebesar 0,02% –
0,3%.
Stabilitas : larutan pada pH 3 – 6 stabil (dekomposisi kurang dari 10%)
selama 4 tahun penyimpanan pada suhu ruang. Larutan pH 8
atau lebih mengalami hidrolisis (dekomposisi terjadi lebih
dari 10%) setelah penyimpanan selama 60 hari pada suhu
ruang.
Inkompatibilitas : aktivitas antimikroba berkurang dengan kehadiran
surfaktan lastic seperti polisorbat 80 karena miselisasi.
Penambahan 10% propilen glikol menunjukkan efek
potensiasi dan mencegah interaksi antara paraben dengan
polisorbat 80. Inkompatibel dengan bentonit, magnesium
trisiklat, talk, tragakan, sodium lastic , minyak esensial,
sorbitol dan lastic ; diabsorbsi oleh lastic tergantung pada
jenis lastic dan pembawa yang digunakan, botol polietilen
tidak mengabsorbsi metilparaben; mengalami perubahan
warna akibat hidrolisis dengan adanya besi, alkali lemah atau
asam kuat.
8. Nipasol(Rowe et al, 2009)

Struktur kimia :
34

Sinonim : 4-hydroxybenzoic acid propyl ester; propagin;


Propyl paraben; propyl p-hydroxybenzoate.
Rumus molekul : C10H12O3
Berat molekul : 180,20
Sinonim : 4-hydroxybenzoic acid propyl ester; propagin;
propyl paraben; propyl p-hydoxybenzoate.
Rumus molekul : C10H12O3
Berat molekul : 180,20
Pemerian : Kristal putih, tidak berbau dan tidak berasa.
Kelarutan : larut dalam aseton, eter, 1,1 bagian etanol, 5,6
bagian etanol (50%), 250 bagian gliserin, 3330
bagian mineral oil, 70 bagian minyak kacang, 3,9
bagian propilen glikol, 110 bagian propilen glikol
(50%), 4350 bagian air (15oC), 2500 bagian air, 225
bagian air (80oC).
Penggunaan : digunakan sebagai pengawet antimikroba sediaan
kosmetik, sendiri atau kombinasi dengan paraben
atau pengawet yang lain. Kadar metilparaben untuk
sediaan topical sebesar 0,01% – 0,6%.
Stabilitas : aktivitas mikroba berkurang dengan kehadiran
surfaktan nonionik seperti polisorbat 80 karena
miselisasi. Inkompatibel dengan bentonit,
magnesium trisilikat, talk, tragakan, sodium alginate,
minyak essensial, sorbitol dan atropin; diabsorbsi
oleh plastik tergantung pada jenis plastik dan
pembawa yang digunakan, botol polietilen tidak
mengabsorbsi metilparaben; mengalami perubahan
warna akibat hidrolisis dengan adanya besi, alkali
lemah atau asam kuat.
35

9. Butylated Hydroxytoluen
Butylated hidroxytoluene (C45H24O) memilik sinonim Agidol; BHT;
butylhydroxytoloene; butylhydroxytoluenum; Dalpac; dibutylated
hydroxytoluene; E321; Embanox BHT; mpruvol; Ionol CP; Nipanox BHT;
Sustane; Tenox BHT; Topanol; Vianol, dengan berat molekul 220,35.
Berbentuk padatan kristal putih atau pucat kuning atau bubuk dengan
aroma fenolik karakteristik samar. BHT praktis tidak larut dalam air, gliserin,
propilenglikol, larutan hidroksida alkali, dan asam mineral encer. Bebas larut
dalam aseton, benzena, etanol (95%), eter, metanol, toluena, minyak tetap,
dan minyak mineral. Lebih mudah larut daripada BHA dalam minyak dan
lemak makanan. BHT digunakan sebagai antioksidan dalam kosmetik,
makanan, dan obat-obatan. BHT dalam sediaan topikal digunakan sebagai
antioksidan dengan konsentrasi kadar 0,0075-0,1% (Rowe et.al, 2009).
10. Aquadest
Sinonim dari aquadest adalah Aqua, Aqua purificata, Hydrogen
Oxide. Pemerian jernih, tidak berwarna, tidak berasa. Suhu lebur 0OC.
Inkompatibilitas Metal alkali, dan oksidanya seperti kalsium oksida, dan
magnesium oksida, garam anhydrous, bahan organik dan kalsium karbid.
Penggunaa sebagai pelarut.
Aquadest ini merupakan H2O murni, Karena sifatnya yang murni ini,
aquadest (suling) sering digunakan dalam laboratorium untuk menghindari
kontaminasi zat maupun galat-galat yang akan ditimbulkan dalam penelitian.
36
BAB III
KERANGKA KONSEPTUAL

Paparan sinar matahari secara berlebih merupakan mediator eksogen utama


yang memberikan Efek buruk jika terpapar sinar UV, jika terlalu lama dapat
menyebabkan terjadinya kanker kulit, terbakar surya, penuaan kulit secara
prematur, pigmentasi, eritema, dan kerusakan sistem imun (Cefali dkk., 2016;
Kockler dkk., 2012, Kulkarni dkk., 2014).
Kulit manusia pada dasarnya memiliki mekanisme tersendiri untuk
melindungi dari bahaya sinar UV, yaitu dengan melakukan pembentukan butir butir
pigmen (melanin) yang akan memantulkan kembali sinar UV. Jika kulit terpapar
sinar matahari, maka akan timbul dua tipe reaksi melanin, seperti penambahan
melanin secara cepat ke permukaan kulit dan pembentukan tambahan melanin baru.
Akan tetapi, apabila kulit terpapar sinar UV secara terus menerus dapat
mengakibatkan hiperpigmentasi yang dapat memicu timbulnya noda hitam pada
kulit dan kerusakan kulit lainnya, seperti penuaan dini dan kanker kulit (Trenggono
dkk., 2007). Oleh karena itu, untuk menjaga kulit dari efek buruk radiasi sinar UV,
maka diperlukan perlindungan menggunakan tabir surya (Balakhrishnan dan
Narayanasmamy, 2011).
Tabir surya merupakan sediaan kosmetik yang digunakan dengan maksud
memantulkan atau menyerap secara aktif cahaya matahari terutama pada daerah
dengan emisi gelombang ultraviolet dan inframerah, sehingga dapat mencegah
terjadinya gangguan kulit karena sinar UV (Draelos dan Thaman, 2006). Bahan
aktif yang akan digunakan adalah kombinasi dari bahan sintetis Butil metoksi
dibenzoil metana (BMDM) dan Octyl methoxycinnamate (OMC). OMC merupakan
senyawa kimia yang mengabsorbsi sinar UV sehingga penetrasi sinar UV ke dalam
lapisan epidermis kulit menjadi terhambat. Senyawa tabir surya ini paling sering
digunakan karena resiko alergi yang ditimbulkan kecil dan efektif dalam
konsentrasi yang rendah (Berset, G et al.,1996).

Selain dengan bahan aktif tersebut ada Penambahan Titanium dioksida


sebagai bahan yang mengandung bahan aktif fotoprotektor. Bahan ini berfungsi
menyerap atau menyebarkan sinar matahari sehingga intensitas sinar yang mampu

36
37

mencapai kulit jauh lebih sedikit dari yang seharusnya. Titanium dioksida (TiO2)
adalah contoh tabir surya fisik yang umum digunakan dan telah disetujui oleh Food
and Drug Administration (FDA).
Tabir surya fisik adalah partikel yang memantulkan energi dari radiasi UV.
Dalam jumlah yang cukup, tabir surya jenis ini mampu berfungsi sebagai pelindung
fisik terhadap paparan UV dan cahaya tampak. Senyawa ini memiliki fotostabilitas
yng tinggi dan tingkat toksisitas yang rendah. Penggunaan TiO2 tabir surya
bertujuan meningkatkan perlindungan terhadap bahaya yang disebabkan oleh
radiasi UV-A karena umumnya sediaan tabir surya yang hanya mengandung UV
filter kimia tidak dapat menahan radiasi sinar UV ke kulit (Setiawan, 2010).
Tidak banyak sediaan tabir surya yang menggunakan bahan aktif yang
dikombinasikan dengan bahan alam. Oleh karena itu peneliti bermaksud untuk
membuat sediaan tabir surya menggunakan senyawa aktif bahan alam yang diambil
dari minyak biji gandum (Wheat germ oil). Minyak Biji Gandum (Wheat germ oil)
adalah sumber yang kaya akan asam lemak tak jenuh ganda dan vitamin E, dimana
merupakan bahan alami, yang memiliki kandungan tertinggi dari α-tokoferol
dengan aktivitas vitamin E tertinggi. Minyak Biji Gandum telah dinyatakan dapat
meningkatkan ketahanan tubuh dan menunda penuaan (Megahed, 2011). Menurut
Gomez dan De La Ossa (2000), telah ditentukan dalam minyak biji gandum
terkandung 166,0-319,2 mg/g α-tokoferol dan 66,6-121,0 mg/g β-tokoferol.
Sediaan tabir surya dapat diformulasikan dalam berbagai bentuk seperti
krim, gel, losion. Karena sediaan krim telah sering dipakai untuk sediaan topical
tabirsurya, maka dipilih bentuk sediaan tersebut dengan krim tipe m/a karena bahan
aktif akan terlarut dalam basis dan terlepas pada saat penetrasi di kulit, mudah
diaplikasikan dikulit, penyebaran dan penetrasi dikulit sangat baik dan mudah
dibersihkan. Basis yang dipilih adalah vanishing cream (Djajadisastra, 2004).

Berdasarkan uraian diatas maka akan dilakukan optimasi formula krim m/a
dengan bahan aktif TiO2, Butil Metoksidibenzoil metana (BMDM) dan Octyl
methoxycinnamate (OMC) dengan kombinasi dengan minyak biji gandum pada
konsentrasi 10%, 12,5%, dan 15% dalam basis vanishing cream.
38

Tabir Surya Organik Memiliki Tabir Surya Anorganik memiliki


mekanisme sebagai UV-Absorben mekanisme UV-Blocking

Oktil Metoksisinamat (UV-B) Titanium Dioksida (TiO₂) (UV-A


& UV-B)
Butil metoksidibenzoilmetana
(UV-A)

Dikombinasikan dengan Minyak Biji


Gandum dengan kadar yang bervariasi
(10%; 12,5%; dan 15%).

Dibuat sediaan semi solida jenis


krim dengan tipe m/a.

Fase minyak yang digunakan


adalah minyak biji gandum
karena memiliki mekanisme
penghambat sinar UV yang
alami.

Pengaruh kadar Minyak Biji


Gandum terhadap karakteristik
fisika, nilai SPF dan stabilitas
pada sediaan krim tabir surya.

Bagan 3.1 Kerangka Konseptual


BAB IV
METODE PENELITIAN

4.1 Rancangan Penelitian


Penelitian ini dilaksanakan menggunakan rancangan penelitian kuantitatif
(eksperimental), membandingkan pengaruh peningkatan kadar Minyak Biji
Gandum sebagai fase minyak dengan bahan aktif TiO2, Butil Metoksidibenzoil
metana (BMDM) dan Octyl methoxycinnamate (OMC) dalam basis krim terhadap
karakteristik fisik (organoleptis, homogenitas, viskositas, dan dayasebar),
karakteristik kimia (pH), serta stabilitas sediaan krim tabir surya.
4.2 Variabel Penelitian
4.2.1 Variabel Bebas
Variabel bebas dalam penelitian ini adalah penggunaan fase minyak adalah
Minyak Biji Gandum pada kadar 10%, 12,5%, dan 15%.
4.2.2 Variabel Tergantung
Variabel tergantung pada penelitian ini adalah karakteristik fisik
(organoleptis, homogenitas, viskositas, dan daya sebar), stabilitas,
karakteristik kimia (pH) serta uji SPF.
4.3 Tempat dan Waktu Penelitian
4.3.1 Tempat Penelitian
Tempat penelitian ini dilakukan di Laboratorium Teknologi Sediaan
Farmasi Sintesis Program Studi Farmasi Fakultas Ilmu Kesehatan
Universitas Muhammadiyah Malang.
4.3.2 Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan pada bulan Mei 2018 sampai dengan Juli 2018.
4.4 Bahan
Bahan penelitian yang digunakan yaitu Minyak biji gandum,
Titanium dioksida, Butil Metoksidibenzoil Metana (BMDM) dan Octyl
methoxycinnamate (OMC), TiO2, Asam stearat, Trietanolamin, Isopropil
Miristat, Vaselin album, BHT, Gliserin, Na-EDTA, serta Nipasol dan
Nipagin.

39
40

4.5 Alat
Alat- alat yang digunakan dalam penelitian ini meliputi pH meter
Basic20+(Crison), neraca analitik digital (Metler toledo), peralatan uji daya
sebar,peralatan uji viskositas (Brookfield Engineering Labs. Inc),steroglass
hot plate (Daihan Labtech CO., LTD), waterbath, cawan penguap,mortir,
stamper, dan alat-alat gelas (Gelas,corong, beker glass, batang
pengaduk,labu ukur, gelas arloji).
4.6 Metode Kerja
Pada penelitian pengaruh penambahan Minyak Biji Gandum pada
karateristik fisik, dan nilai SPF sediaan krim. Terdapat 3 formula yang akan
diuji karateristik fisik dan nilai SPF. Formula I (F1) mengandung Minyak
Biji Gandum (10%), formula II (F2) mengandung Minyak Biji Gandum
(12,5%), formula III (F3) mengandung Minyak Biji Gandum (15%).
41

Minyak Biji Gandum, Oktil metoksisinamat,


Butil metoksidibenzolmetana, Titanium dioksida

Preparasi

Pembuatan sediaan krim oktil metoksisinamat, butyl


metoksidibenzoilmetana, titanium dioksida dengan penambahan minyak
biji gandum

Formula I dengan Formula II dengan Formula III dengan


kadar minyak biji kadar minyak biji kadar minyak biji
gandum (10%) gandum (12,5%) gandum (15%)

Uji tipe emulsi

Uji Krakteristik fisik Sediaan : Uji SPF secara in vitro


-Organoleptis (warna, bau, tekstur) dengan
- Mengukur pH sediaan spektrofotometer
- Daya sebar
- Viskositas

Sediaan yang aseptabel

Analisis data

Gambar 4.1 Alur Kerja Penelitian


42

4.7 Pembuatan krim


Proses pembuatan krim tipe M/A dengan bahan aktif minyak biji
gandum, oktil metoksisinamat, butyl metoksidibenzoilmetana, dan titanium
dioksida. Pertama-tama semua fase minyak: asam stearat, iso propilmiristat,
titanium dioksida, vaselin putih, BHT, nipasol, dan minyak biji gandum
dilebur menjadi satu diatas water bath ad mencair pada suhu 70°C. Oktil
metoksisinamat dan butil metoksidibenzoilmetan dimasukkan kedalam fase
minyak tersebut, aduk ad homogen. Kemudian fase air: TEA, gliserin,
nipagin, Na-EDTA, dan aquadest dilebur menjadi satu dalam cawan
kemudian dipanaskan diatas water bath pada suhu 70°C sama seperti fase
minyak. Setelah melebur masukkan fase air kedalam fase minyak diatas
water bath, aduk ad homogen. Turunkan cawan dari water bath, masukkan
dalam mortir panas, aduk konstan ad homogen dan membentuk massa krim
M/A yang baik.

.
43

Timbang bahan (TEA, Nipagin, Nipasol, Isopropil Miristat,


Gliserin, BHT, Na-EDTA, TiO₂, Asam Stearat, Vaselin Putih,
Oktil Metoksisinamat, Butil Metoksidibenzoilmetan, dan
Minyak Biji Gandum)

Fase air: Fase minyak:


TEA + Nipagin + Gliserin + Na- TiO₂ + Isopropil Miristat + Asam
EDTA + Aquadest Stearat + Vaselin Putih + Nipasol +
BHT + Minyak Biji Gandum

Masukkan bahan-bahan kedalam Masukkan bahan-bahan kedalam


cawan dan lebur diatas WB ad cawan dan lebur diatas WB ad
mencair sampai suhu ± 70°C mencair sampai suhu ± 70°C

Masukkan Oktil Metoksisinamat dan


Butil Metoksidibenzoilmetan dalam
fase minyak diatas WB, aduk ad
homogen

Masukkan fase air kedalam fase minyak diatas WB, aduk hingga
homogen. Setelah itu turunkan cawan diatas WB, masukkan
campuran ke dalam mortir hangat aduk konstan ad homogen dan ad
membentuk massa krim M/A yang baik

Gambar 4.2 Cara Pembuatan Krim


47

4.8 Rancangan Formula


Dalam penelitian ini terdapat 4 formula krim tabir surya TiO2, Butil
Metoksidibenzoil metana (BMDM) dan Octyl methoxycinnamate (OMC)
dengan variasi kadar Minyak Biji Gandum yang dapat dilihat pada tabel 1
berikut :

4.8.1 Formula krim Tabir Surya


Proses pembuatan sediaan krim TiO2, Butil Metoksidibenzoil metana
(BMDM) dan Octyl methoxycinnamate (OMC) dengan variasi kadar
Minyak Biji Gandum dengan variasi kadar 10%, 12,5% dan 15 % Dibuat
sediaan untuk scale up sebanyak 100 g. Jumlah bahan yang digunakan dapat
dilihat pada tabel IV.I.

Tabel IV.I Formula Krim (anggraini, dkk 2013)

Konsentrasi %
Bahan Fungsi
F1 F2 F3
Minyak Biji Gandum Bahan aktif 10 12,5 15

Titanium Dioksida Bahan aktif 3 3 3

Oktil Metoksisinamat Bahan aktif 5 5 5


Butil Metoksidibenzoil metana Bahan aktif 3 3 3
Vaselin Album Basis 2 2 2

Asam Stearat Emulgator 10 10 10

Trietanolamin Emulgator 1,5 1,5 1,5

Isopropil Miristat Emolient 10 10 10


Butil Hidroksi Toluen Antioksidan 0,1 0,1 0,1

Gliserin Humektan 8 8 8

Nipagin Pengawet 0,18 0,18 0,18


Nipasol Pengawet 0,02 0,02 0,02
48

Konsentrasi %
Bahan Fungsi
F1 F2 F3
Na-EDTA Chellating 0,1 0,1 0,1
agent
Aquadest Pelarut 47,1 44.6 42.1

4.9 Evaluaasi Sediaan


4.9.1 Evaluasi Tipe Emulsi (m/a)
Penelitian tipe emulsi dilakukan menggunakan metode pewarnaan
dengancara metilen biru dtitambahkan pada sediaan, kemudian diaduk
sampai homogen. Jika sediaan terlihat bintik-bintik warna biru kehijauan
maka sediaan termasuktipe m/a dan sebaliknya jika warna sediaan homogen
maka termasuk tipe a/m(dilakukan replikasi sebanyak 3 kali). Selain itu juga
dilakukan uji tipe emulsi dengan cara pengenceran dengan air, bila mudah
larut dalam air maka sediaan termasuk tipe m/a dan sebaliknya jika sukar
larut maka sediaan termasuk tipe a/m (dilakukan replikasi sebanyak 3 kali).
4.9.2 Evaluasi Fisika
1. Organoleptis
Pemeriksaan organoleptis yang dilakukan meliputi warna, bau dan
tekstur. Tekstur yang diamati adalah konsistensi dari sediaan (kaku atau
lembut) (Sharon, et al., 2013).
2. Viskositas
Pengukuran viskositas sediaan dilakukan menggunakan alat viscometer
cup and bob. Masukan sediaan dalam beker glass 100 mL kemudian alat
viscometer dinyalakan, memilih rotor yang sesuai lalu sediaan dimasukan ke
dalam rotor. Rotor dipasang pada alat, tombol pemutar alat dinyalakan, lalu
jarum penunjuk viskositas dibaca. Jika telah konstan, segera dicatat
(dilakukan replikasi sebanyak 3 kali) (Elya, et al.,2013).
3. Daya Sebar
Pengamatan daya sebar bertujuan untuk melihat kemampuan krim
menyebar pada permukaan kulit sehingga dapat diketahui penyebaran krim
yang dibuat (Lucyani, 2014). Penentuan daya sebar dilakukan dengan alat
49

sepasang lempeng kaca transparan dengan tebal masing-masing 3 mm yang


mula-mula sudah ditimbang bobotnya. Metode penentuan daya sebar dengan
menimbang krim sebanyak 5 gram, diletakkan di atas lempeng kaca
transparan dimana bagian bawahnya diberi alas kertas mili meter dengan
diameter 20 cm. Kemudian kaca penutup diletakkan di atas krim, dibiarkan
selama 1 menit. Diameter penyebaran basis diukur dengan mengambil
panjang rata-rata diameter dari beberapa sisi. Beban tambahan seberat 50
gram diletakkan di atas sediaan krim, didiamkan selama 1 menit. Percobaan
diteruskan tiap kali dengan penambahan beban seberat 50 gram dan dicatat
diameter penyebaran krim selama 1 menit. Dilanjutkan beban berikutnya
sambil ditunggu sampai tiga beban dengan diameter konstan. Semakin lebar
diameternya, maka semakin baik penyebaran krimnya. Selanjutnya dibuat
grafik antara beban vs luas sebaran krim (Dilakukan replikasi tiga kali)
(Shovyana dan Zulkarnain, 2013).
4. Homogenitas
Uji homogenitas dengan cara ditimbang 1 gram krim pada bagian atas,
tengah, dan bawah kemudian dioleskan pada sekeping kaca transparan. Krim
harus menunjukkan susunan yang homogen dan tidak terlihat adanya bintik-
bintik (Depkes RI, 1985). Pemeriksaan dilakukan terhadap krim yang baru
dibuat dan yang telah disimpan selama hari ke 7,14, 21, dan hari ke-28
(Agustin, 2013).
4.9.3 Evaluasi Kimia
Pengukuran pH
Pengukuran pH sediaan dilakukan dengan alat pH metler Basic20+.
Elektroda dicuci dengan aquadest dan dikeringkan dengan tisu,dilakukan
kalibrasi dengan larutan buffer standart pH 7,0, kemudian elektroda dicuci
dan dikeringkan kembali. Ditimbang sebanyak 5 gram sediaan krim,
kemudian diencerkan dengan aquadest bebas CO2 sampai 50 ml. Selanjutnya
dilakukan pengukuran pH sediaan dengan caraelektroda dimasukkan ke
dalam sediaan dan melihat angka yang ditunjukkan alat (dilakukan replikasi
sebanyak 3 kali) (Aswal, et al.,2013). Menurut SNI 16-4399-1996, syarat pH
sediaan tabir surya adalah 4,5-8,0.
50

4.9.4 Uji SPF secara in vitro dengan spektrofotometer


1. Penyiapan sampel
Sebanyak 1 g krim tabir surya ditimbang seksama lalu dimasukkan kedalam
labu ukur 100 mL dan diencerkan menggunakan alkohol 96% ad tanda, larutan
dikocok lalu disaring menggunakan kertas saring. 10 mL filtrat pertama dibuang.
Sebanyak 5,0 mL larutan alikuot dipipet, kemudian dimasukkan kedalam labu
ukur 50 ml kemudian diencerkan dengan alkohol 96% ad tanda. Sebnyak 5,0 mL
larutan alikuot dipipet kembali, kemudian dimasukkan kedalam labu 25 mL
kemudian diencerkan dengan alkoho 96% ad tanda, akan diperoleh 200 ppm
(Dutra et al, 2004).
2. penentuan nilai SPF
Nilai SPF dihitung dengan menggunakan persamaan Mansur karena khusu
untuk menghitung absorbansi pada panjang gelombang UVB, seperti kita
ketahui bahwa SPF hanya menunjukkan perlindungan terhadap sinar UVB,
namun pada saat pengukuran dilakukan hingga panjang gelombang 400 nm
sebagai informasi tambahan mengenai serapan sampel hingga panjang
gelombang tersebut . spektrum serapan sampel tersebut diperoleh dengan
mengukur menggunakan spektrofotometer UV-Vis pada panjang gelombang
290-400 nm dengan menggunakan alkohol sebagai blanko, nilai serapan dicatat
tiap interval 5 nm pada panjang gelombang 290-320 nm dan interval 10 nm pada
panjang gelombang 320-400 nm. Dimana nilai serapan yang diperoleh dikalikan
dengan EE x I untuk masing-masing interval. Nilai EE x I tiap interval dapat
dilihat pada tabel 4.2 jumlah EE x I yang diperoleh dikalikan dengan faktor
koreksi akhirnya diperoleh nilai SPF dari masing-masing sampel yang diuji.

Keterangan:
CF = Faktor Koreksi
EE = Spektrum Efek Erytemal
I = Spektrum Intensitas dari Matahari
Abs = Absorbansi dari Sampel
51

Tabel IV.2 Nilai EE x I (Spektrum efek erytemal x spektrum


intensitas dari matahari)
Panjang Gelombang (nm) EE x I
290 0,0150
295 0,0817
300 0,2874
305 0,3278
310 0,1864
315 0,0839
320 0,0180
Total 1

Nilai EE x I dan faktor koreksi adalah suatu konstanta dimana nilai EE x I dari
panjang gelombang 290-320 nm dan setiap 5 nm dan faktor koreksi 10 telah
ditentukan oleh Sayre dan kawan-kawan (1979), seperti pada tabel 4. Diatas.
Untuk mengetahui adanya perbedaan nilai SPF yang bermakna antar formula
dilakukan uji statistik menggunakan metode ANOVA (Analysis of Variance)
dengan program SPSS (Statistical Package for the Social Sciences) dengan taraf
tingkat kepercayaan 95%.

4.10 Analisis Data


Analisis pemeriksaan organoleptis secara visual dengan mengamati
sediaankrim secara langsung meliputi bau, warna, dan tekstur yang
dilakukan satu harisetelah pembuatan, untuk analisa uji karakteristik fisik
(homogenitas, viskositas, daya sebar), karakteristik kimia (pH) dan uji
stabilitas sediaan menggunakan ujiOne-Way Anova. Dari data yang
didapatkan dilakukan analisa statistik dengan derajat kepercayaan α = 0,05.
Untuk mengetahui formula mana yang mempunyai perbedaan bermakna,
dilihat dari harga F hitung dan F tabel. Apabila hasil yang diperoleh f
hitung > f tabel, maka menunjukkan adanya perbedaan yang bermakna,
sehingga dilanjutkan dengan uji Honestly Significant Difference (HSD)
untuk mengetahui data mana yang berbeda.
BAB V
HASIL PENELITIAN

5.1 Hasil Evaluasi Karakteristik


5.1.1 Organoleptis Minyak Biji Gandum (Wheat Germ Oil)
Dari hasil pemeriksaan organoleptis didapatkan hasil bahwa minyak biji
gandum (Wheat Germ Oil) mempunyai warna kuning, bau khas aroma minyak biji
gandum, dan berupa cairan agak kental. Minyak biji gandum dapat dilihat pada
gambar 5.1

Gambar 5.1 Minyak Biji Gandum (Wheat Germ Oil)

5.2 Hasil Evaluasi Tipe Emulsi


Pada penelitian ini dibuat dengan 3 macam formula. Formula (1)
merupakan sediaan krim tabir surya dengan bahan aktif TiO₂, Oktil
Metoksisinamat, Butil Metoksidibenzoil metana dengan kadar minyak biji
gandum 10% ; Formula (2) merupakan sediaan krim tabir surya dengan bahan aktif
TiO₂, Oktil Metoksisinamat, Butil Metoksidibenzoil metana dengan kadar minyak
biji gandum 12,5% ; Formula (3) merupakan sediaan krim tabir surya dengan
bahan aktif TiO₂, Oktil Metoksisinamat, Butil Metoksidibenzoil metana dengan
kadar minyak biji gandum 15%. Uji tipe emulsi dilakukan dengan pereaksi
methylene blue dan Pengenceran Aquadest dapat dilihat pada gambar 5.2 dan Hasil
evaluasi dengan menggunakan metode methylene blue dapat dilihat pada gambar
5.3.

52
53

Formula Replikasi Hasil


1
F1 2 +
3 M/A
1
F2 2 +
3 M/A
1
F3 2 +
3 M/A
Tabel V.1 Hasil Evaluasi Tipe Emulsi Krim Tabir Surya

Keterangan
(+) : sediaan bisa diencerkan dengan aquadest dan methylene blue
termasuk tipe emulsi minyak dalam air (M/A).
Formula 1 : Sediaan krim tabir surya minyak biji gandum kadar 10%
Formula 2 : Sediaan krim tabir surya minyak biji gandum kadar 12,5%
Formula 3 : Sediaan krim tabir surya minyak biji gandum kadar 15%

F1 F2 F3

Gambar 5.2 Hasil evaluasi Krim Tabir Surya dengan Metode


Pengenceran Aquadest. Menunjukkan hasil yang homogen dan masuk dalam
tipe emulsi M/A.
54

F1 F2 F3

Gambar 5.3 Hasil Evaluasi Krim Tabir Surya dengan Pewarnaan


Methylene blue. Menunjukkan hasil yang homogen dan masuk dalam tipe emulsi
M/A.

5.3. Hasil Uji Karakteristik Fisik Sediaan


5.3.1 Hasil Evaluasi Organoleptis Sediaan Krim Tabir Surya
hasil pemeriksaan organoleptis sediaan krim tabir surya yang meliputi
tekstur warna, dan bau dengan kandungan bahan aktif TiO₂, Oktil Metoksisinamat,
Butil Metoksidibenzoil metana, dengan variasi kadar minyak biji gandum (Wheat
Germ Oil). Dapat dilihat pada gambar 5.4 dan tabel 5.2

F1 F2 F3

Gambar 5.4 Hasil Pembuatan Sediaan Krim Tabir Surya mengandung


Minyak Biji Gandum (Wheat Germ Oil). Menunjukkan hasil yang homogen.
Keterangan
Formula 1 : Sediaan krim tabir surya minyak biji gandum kadar 10%
Formula 2 : Sediaan krim tabir surya minyak biji gandum kadar 12,5%
Formula 3 : Sediaan krim tabir surya minyak biji gandum kadar 15%.
55

Tabel V.2 Hasil Pengamatan Sediaan Krim Tabir Surya Minyak Biji Gandum
(Wheat Germ Oil).

Formula Replikasi Tekstur Warna Bau


F1 1
2 Lembut Salem Khas minyak
3 biji gandum
F2 1
2 Lembut Salem Khas minyak
3 biji gandum
F3 1
2 Lembut Salem Khas minyak
3 biji gandum

Keterangan
Formula 1 : Sediaan krim tabir surya minyak biji gandum kadar 10%
Formula 2 : Sediaan krim tabir surya minyak biji gandum kadar 12,5%
Formula 3 : Sediaan krim tabir surya minyak biji gandum kadar 15%
Berdasarkan tabel 5.2 dan gambar 5.4 pada evaluasi organoleptis sediaan
dapat diketahui bahwa sediaan krim tabir surya formula I, II, dan III memiliki
tekstur yang lembut, berwarna salem, dan memiliki aroma khas minyak biji
gandum.
5.3.2 Hasil Evaluasi Homogenitas Sediaan Krim Tabir Surya
Hasil evaluasi homogenitas sediaan krim tabir surya dengan bahan aktif
TiO₂, Oktil Metoksisinamat, Butil Metoksidibenzoil metana, dengan variasi kadar
minyak biji gandum (Wheat Germ Oil) ditunjukkan pada tabel 5.3 dan gambar 5.5
56

Tabel V.3 Hasil Evaluasi Homogenitas Krim Tabir Surya

Formula Replikasi Hasil


1
F1 2 +
3
1
F2 2 +
3
1
F3 2 +
3

Keterangan
(+) : hasil positif menunjukkan sediaan krim tabir surya yang homogen
Formula 1 : Sediaan krim tabir surya minyak biji gandum kadar 10%
Formula 2 : Sediaan krim tabir surya minyak biji gandum kadar 12,5%
Formula 3 : Sediaan krim tabir surya minyak biji gandum kadar 15%

F1 F2 F3

Gambar 5.5 Hasil Pengamatan Homogenitas Krim Tabir Surya menunjukkan


hasil yang homogen.

Dari tabel 5.3 dan gambar 5.5 pada evalusi homogenitas sediaan krim tabir
surya dapat diketahui bahwa sediaan formula 1,2,3 menunjukkan susunan krim
yang homogen dan tidak terlihat adanya bintik-bintik.
57

5.3.3 Hasil Pengukuran Viskositas Krim Tabir Surya


Hasil pengukuran viskositas sediaan krim tabir surya dengan bahan
aktif TiO₂, Oktil Metoksisinamat, Butil Metoksidibenzoil metana, dengan variasi
kadar minyak biji gandum (Wheat Germ Oil) ditunjukkan pada tabel 5.4.
Tabel V.4 Hasil Pengukuran Viskositas Krim Tabir Surya

Formula Replikasi Viskositas (cps) Rerata ± SD


1 104000
F1 2 280000 142333.33 ± 123062.3
3 43000
1 90000
F2 2 62000 56500 ± 36561.59
3 17500
1 60000
F3 2 52000 58000 ± 5291.503
3 62000

Keterangan
Formula 1 : Sediaan krim tabir surya minyak biji gandum kadar 10%
Formula 2 : Sediaan krim tabir surya minyak biji gandum kadar 12,5%
Formula 3 : Sediaan krim tabir surya minyak biji gandum kadar 15%

300000
VISKOSITAS (Cps)

250000
RATA-RATA

200000
150000
100000
50000
0
1 2 3
FORMULA

Gambar 5.6 Histogram Harga Viskositas sediaan Krim Tabir Surya.


Hasil viskositas sediaan krim tabir surya dengan variasi minyak biji gandum
(Wheat Germ Oil) ditunjukkan pada tabel 5.4 dan gambar 5.5.dari analisi statistic
One-Way Anova dengan kepercayaan α = 0,05 didapatkan P hitung 0,336 > P α
0,05. sehingga dapat disimpulkan bahwa penambahan konsentrasi tidak
berpengaruh terhadap daya sebar.
58

5.3.4 Hasil Pengukuran Daya Sebar Krim Tabir Surya


Hasil pengukuran daya sebar sediaan krim tabir surya dengan bahan aktif
TiO₂, Oktil Metoksisinamat, Butil Metoksidibenzoil metana, dengan variasi kadar
minyak biji gandum (Wheat Germ Oil) ditunjukkan pada tabel 5.5 dan
Gambar 5.7
Tabel V.5 Hasil Pengukuran Daya Sebar Krim Tabir Surya

Formula Replikasi Persamaan Daya Rerata ± SD


Sebar
(cm/g)
1 y = 0,0471x + 11,1703 0,0471
R² = 0,9162
0,0439 ± 0,0098
F1 2 y = 0,0329x + 10,5374 0,0329
R² = 0,8767

3 y = 0,0518x + 10,6314 0,0518


R² = 0,7878

1 y = 0,0319x +9,5667 0,0319


R² = 0,8655

F2 2 y = 0,0608x +11,1909 0,0608


R = 0,8519 0,0461± 0,0144

3 y = 0,0457x + 11,0200 0,0457


R² = 0,8716

1 y = 0,0571x + 11,4714 0,0571


R² = 0,8571

F3 2 y = 0,0419x + 11,0095 0,0419 0,0470 ± 0,0088

3 y = 0,0419x + 11,0096 0,0419


R² = 0,8453

Keterangan
Formula 1 : Sediaan krim tabir surya minyak biji gandum kadar 10%
Formula 2 : Sediaan krim tabir surya minyak biji gandum kadar 12,5%
Formula 3 : Sediaan krim tabir surya minyak biji gandum kadar 15%
59

0.07

0.06

0.05
DAYA SEBAR ( g/cm)

0.04

0.03

0.02

0.01

0
1 2 3
FORMULA

Gambar 5.7 Histogram hasil rata-rata Daya Sebar Sediaan Krim Tabir Surya

Hasil daya sebar sediaan krim tabir surya minyak biji gandum ditunjukkan
pada tabel 5.5 dan gambar 5.6 dari hasil statistic One-Way Anova dengan
kepercayaan α=0,05 didapatkan nilai P hitung 0,944 > P α=0,05. sehingga dapat
disimpulkan bahwa penambahan konsentrasi tidak berpengaruh terhadap daya
sebar.
5.4 Hasil Uji Karakteristik Kimia Sediaan
5.4.1 Hasil Pengukuran 𝐩𝐇 Sediaan Krim Tabir Surya
Hasil pengukuran pH sediaan krim tabir surya dengan bahan aktif TiO₂,
Oktil Metoksisinamat, Butil Metoksidibenzoil metana, dengan variasi kadar
minyak biji gandum (Wheat Germ Oil) ditunjukkan pada tabel 5.6 dan Gambar
5.7.
Tabel V.6 Hasil Pengukuran pH Sediaan Krim Tabir Surya
Formula Replikasi pH Rerata ± SD
1 7,75
F1 2 7,77 7,77 ± 0,02
3 7,79
1 7,70
F2 2 7,72 7,75 ± 0,05
3 7,80
1 7,90
F3 2 8,03 7,99 ± 0,08
3 8,06
60

Keterangan
Formula 1 : Sediaan krim tabir surya minyak biji gandum kadar 10%
Formula 2 : Sediaan krim tabir surya minyak biji gandum kadar 12,5%
Formula 3 : Sediaan krim tabir surya minyak biji gandum kadar 15%

8.2

8.1

7.9
Ph

7.8

7.7

7.6

7.5
1 2 3
FORMULA

Gambar 5.7 Histogram rata-rata Harga pH Krim Tabir Surya yang mengandung
Minyak Biji Gandum.

Hasil pengukuran pH sediaan krim tabir surya dengan variasi minyak biji
gandum (Wheat Germ Oil) ditunjukkan pada tabel 5.5 dan gambar 5.7 dari analisi
statistic One-Way Anova dengan kepercayaan α= 0,05 didapatkan P hitung 0,03 <
P α=0,005 sehingga dapat disimpulkan bahwa perbedaan konsentrasi berpengaruh
terhadap kenaikan pH.

5.5 Hasil Uji Pengukuran Nilai SPF

Hasil pengukuran nilai SPF dari sediaan krim tabir surya dengan bahan aktif
TiO2, oktil metoksisinamat, Butil metoksidibenzoil metana, dengan variasi kadar
minyak biji gandum ( Wheat Germ Oil) ditunjukkan pada tabel 5.7 dan Gambar
5.8.
61

Tabel V.7 Hasil Pengukuran Nilai SPF Krim Tabir Surya

Formula Replikasi Nilai SPF Rerata ± SD


1 32,6197
F1 2 35,1084 34.66 ± 1.79
3 36,1888
1 32,9602
F2 2 35,7123 35.00 ± 1.80
3 36,3500
1 33,1241
F3 2 37, 6231 36.660± 3.10
3 39,0597

Keterangan
Formula 1 : Sediaan krim tabir surya minyak biji gandum kadar 10%
Formula 2 : Sediaan krim tabir surya minyak biji gandum kadar 12,5%
Formula 3 : Sediaan krim tabir surya minyak biji gandum kadar 15%

45
40
35
RATA-RATA

30
25
20
15
10
5
0
1 2 3
FORMULA

Gambar 5.8 Histogram rata-rata Nilai SPF Krim Tabir Surya yang mengandung
Minyak Biji Gandum.

Hasil pengukuran nilai SPF dari sediaan krim Tabir Surya minyak biji
gandum ditunujukkan pada tabel 5.7 dan gambar 5.8 dari hasil statictic one-Way
Anova dengan kepercayaan a=0.05 didapatkan nilai P hitung 0.576 > a=0.05.
sehingga didapatkan kesimpulan bahwa dengan penambahan konsentrasi minyak
biji gandum tidak terdapat perbedaan yang bermakna antar formula dari sediaan
krim tabir surya.
62

Perhitungan Nilai SPF Kontrol Negatif dengan Minyak Biji Gandum (0%)
- SPF = 10x ( (0,953x0,0150) + (3,135x0,0817) + (3,135x0,2874) +
( 3,436x0,3278) + (3,436x0,1864) + (3,436x9,0839) + (1,270x0,0180) )
= 32,481
BAB VI

PEMBAHASAN

Telah dilakukan penelitian untuk menetukan efektivitas minyak biji gandum


(Wheat Germ Oil ) sebagai krim tabir surya dengan kadar ( 10%, 12,5% dan 15%)
kombinasi dengan Titanium dioksida, oktil metoksisinamat dan Butil
metoksidibenzoilmetan dalam basis vanishing cream terhadap karakteristik fisik ,
kimia dan uji nilai SPF secara in vitro menggunakan spektrofotometer dari sediaan
tabir surya, serta menentukan kadar berapakah yang dapat memberikan
karakteristik fisika kimia serta nilai SPF yang baik terhadap sediaan.
Pada penelitian ini, sediaan krim tabir surya minyak biji gandum (Wheat
Germ Oil ) kombinasi dengan titanium dioksida, oktil metoksisinamat dan butyl
metoksidibenzoilmetan diformulasikan dengan basis vanishing cream, karena
dengan basis ini diperoleh sediaan yang tidak lengket di kulit dan mudah dicuci
dengan air sehingga memberikan efek yang lebih nyaman pada penggunaannya.
Sediaan dengan basis vanishing cream juga mempunyai kekurangan yakni mudah
terjadi penguapan fase air pada basis, sehingga untuk mengatasi hal tersebut pada
sediaan ini perlu untuk ditambahkan humektan. Pada penelitian ini, digunakan
gliserin sebagai humektan karena merupakan bahan yang dapat mengikat air pada
sediaan agar tidak menguap, menstabilkan sediaan dan dapat melembutkan di kulit.
Zat aktif dikombinasikan dengan titanium dioksida sebagai UV blocker, oktil
metoksisinamat dan butyl metoksidibenzoilmetan sebagai UV absorbent.
Kemudian UV blocker dan UV absorbent ini akan dikombinasikan dengan
penambahan minyak biji gandum yang mempunyai aktifitas a-takoferol yang
tinggi, dalam penelitian yang dilakukan oleh Suryawansih (2016) telah
membuktikan bahwa minyak biji gandum bisa meningkatkan nilai SPF. kombinasi
minyak biji gandum ini diharapkan dapat meningkatkan nilai SPF dengan kadar
yang berbeda.
Emulgator yang digunakan dalam penelitian ini adalah emulgator nonionik
;trietanolamin yang dikombinasikan dengan asam stearat sebagai bahan pengemulsi
anionik untuk menghasilkan emulsi M/A yang homogen dan stabil. Dipilih Asam
stearat karena dapat berfungsi sebagai emulgator dalam pembuatan krim jika
direaksikan dengan basa (KOH) atau trietanolamin untuk menetralkannya (Idson &

63
64

Lazarus 1986) dan emulgator ini bersifat netral dan stabil dengan adanya asam/basa
dari komponen krim. Penggunaan emulgator ini untuk menghindari terjadinya
interaksi antara emulgator dan zat didalam bahan aktif yang digunakan, agar tidak
mengiritasi kulit ketika diaplikasikan pada kulit.
Emollient yang dipilih isopropyl myristate yaitu jenis emmolient ester yang
mempunyai sifat tidak terlalu berminyak dan tingkatnya ringan sampai sedang bila
dirasakan pada kulit, dapat meningkatkan tekstur dan viskositas pada sunscreen
cream ( Barel, 2009). Emollient ini juga dikenal sebagai pelembut yang paling baik
penyerapannya pada kulit (Abraham, 2005) dan sangat sedikit menyebabkan
peradangan pada kulit pada paparan sinar UV di siang hari bila dibandingkan
dengan pelembut lainnya (Campbell,2004).
Penambahan vaselinum album berpengaruh pada stabilitas fisik
sediaan,sebagai pelican dan basis dalam krim. Semakin kecil konsentrasi vaselinum
album maka kekentalan krim semakin kecil (Rokhmatunisa, 2010). Pada Formula
ini tanpa menggunakan kombinasi basis, karena vaselin dengan jumlah kecil saja
sudah memberikan kekentalan yang baik pada sediaan krim.
Untuk mencegah terjadinya oksidasi pada sediaan krim, diperlukan
penambahan antioksidan, meskipun pada minyak biji gandum merupakan sumber
vitamin E yang berfungsi sebagai antioksidan tetap memerlukan penambahan. Pada
penelitian ini menggunakan BHT sebagai antioksidan yang mampu mencegah
terjadinya oksidasi. Selain itu untuk mencegah terjadinya reaksi antar bahan dengan
logam dibutuhkan suatu chealthing agent, pada penelitian ini dipilih Na-EDTA
sebagai chelathing agent. Pada formula dilakukan penambahan bahan pengawet
yaitu dengan menggunakan kombinasi nipagin dan nipasol sebagai pengawet.
Konsentrasi nipagin yang terpilih adalah 0,02%, karena pada rentang konsentrasi
0,02-0,3% nipagin dapat menghambat pertumbuhan mikroba, dan untuk
konsentrasi terpilih nipasol yang terpilih adalah 0,18% karena berfungsinya nipasol
sebagai pengawet pada rentang konsentrasi 0,01-0,6% (Rowe, Sheskey, and Owen,
2009).
Pada pembuatan krim ini, terlebih dahulu dilakukan optimasi dengan tujuan
untuk mengetahui jumlah yang sesuai dari masing-masing bahan tambahan dalam
satu formula dan untuk mengetahui perlunya tambahan bahan lain agar diperoleh
65

krim dengan karakteristik fisik yang memenuhi persyaratan. Berdasarkan hasil


optimasi yang dilakukan didapatkan formula dengan kadar minyak biji gandum (
wheat germ oil ) yang digunakan adalah 10% ( Formula 1 ), 12,5% ( Formula 2 ),
15% (Formula 3). Setelah dilakukan optimasi dengan masing-masing Formula
sebanyak 20g dan hasil optimasi skala kecil sesuai dengan persyaratan kemudian
dilanjutkan dengan pembuatan krim Formula, 1, 2 dan 3 masing-masing sebanyak
200g. jumlah ini disesuaikan dengan pengujian karakteristik fisik dan efektivitas
sediaan. Pada masing-masing formula dilakukan replikasi sebanyak 3 kali. Sebelum
dilakukan evaluasi, sediaan krim harus didiamkan 1 hari agar system krim yang
terbentuk sudah stabil.
Tahap pertama pemeriksaan sediaan yang dilakukan setelah selesai
pembuatan formula adalah penentuan uji tipe emulsi sediaan krim menggunakan
metode pewarnaan dan pengenceran dengan air. Metode pewarnaan menggunakan
pereaksi methylene blue untuk memastikan bahwa sediaan krim termasuk tipe m/a,
dapat dilihat pada saat krim diberi methylene blue menghasilkan warna biru yang
homogen dan pada metode pengenceran menggunakan aquadest krim dapat larut
dengan aquadest tanpa terjadi pemisahan. Hasil dapat dilihat pada gambar 5.2 serta
tabel 5.1.
Setelah uji tipe emulsi, kemudian dilanjutkan dengan pemeriksaan
organoleptis terhadap sediaan. Hasil yang didapat Formula 1, 2 dan 3 rata-rata
mempunyai tekstur yang lembut dengan ketiga sediaan krim berwarna salem dan
mempunyai aroma yang khas dari minyak biji gandum. Tekstur krim yang halus
dan homogen menunjukkan tercampurnya fase minyak dengan fase air dengan baik
(suryani dkk,2000). Semakin tinggi penambahan kadar minyak biji gandum
menjadikan krim semakin lembut dan hasil yang baik. Hasil dapat dilihat pada
gambar 5.4 dan tabel 5.2.
Tahap evaluasi berikutnya yaitu uji homogenitas sediaan krim tabir surya.
Didapatkan hasil untuk formula 1,2 dan 3 menunjukkan ketiga formula tersebut
mempunyai susunan yang homogeny dan tidak terlihat adanya bintik-bintik.
Homogenitas menunjukkan tingkat kehalusan dan keseragaman dari tekstur krim
tabir surya yang dihasilkan. Homogenitas dalam system emulsi dipengaruhi oleh
teknik atau cara pencampuran yang dilakukan pada saat proses pembuatan sediaan.
66

Pada penelitian ini menunjukkan bahwa sediaan krim tabir surya sudah memenuhi
persyaratan sesuai dengan SNI 16-4399-1996 penampakan krim yang homogen.
Kemudian dilakukan pemeriksaan uji PH sediaan krim untuk mengetahui
tingkat keasaman sediaan krim (Wasitaatmadja, 1997). Derajat keasaman (PH)
merupakan parameter yang sangat penting dalam suatu sediaan kosmetik kerena pH
mempengaruhi daya absorbs kulit. Rentang pH standar SNI berkisar antar 4,5-8,0.
Hasil Ph sediaan krim pada tiap-tiap formula menunjukkan rerata ± SD Formula I
(7,77 ± 0,02), Formula II (7,75 ± 0,05), Formula III (7,99 ± 0,08). Kemudian uji
statistik menggunakan One-way Anova didapatkan hasil yang signifikan 0,03 <
α=0,05 dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan konsentrasi yang bermakna
dan dapat berpengaruh terhadap kenaikan PH. Krim telah memenuhi persyaratan
dan masuk rentang PH sediaan sehingga aman digunakan untuk kulit. Semakin
meningkatnya kadar minyak biji gandum maka pH sediaan juga meningkat.
Pengujian daya sebar pada sediaan krim dilakukan dengan melakukan
pengamatan pada 2 lempeng kaca yang diberi sediaan sebanyak 0,5 gram kemudian
ditutup dengan kaca dan ditambahkan beban bertahan. Dihitung dari beban
0,5,10,15 dan seterusnya sampai konstan diameter tidak berubah dengan jarak antar
beban satu menit. Kemudian setiap penambahan beban diukur diameter penyebaran
krim . Nilai diameter rata-rata yang diperoleh merupakan hasil penyebaran krim
yang menunjukkan daya sebar krim saat diaplikasikan pada kulit. Uji daya sebar
sediaan krim tabir surya dari masing-masing formula diperoleh rata-rata formula I
(0,0439± 0,0098), formula II (0,0461 ± 0,0144), formula III (0,0470 ± 0,0088).
Untuk mengetahui adanya pengaruh peningkatan kadar ekstrak minyak biji gandum
( wheat germ oil ) yang digunakan pada sediaan terhadap daya sebar sediaan krim
dilakukan analisis statistik dengan One-way Anova didapatkan hasil signifikan
0,944 >0,05 yang berarti menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan daya sebar
yang bermakna antar formula sediaan krim minyak biji gandum. dan dapat
disimpulkan bahwa dengan meningkatnya kadar bahan aktif maka meningkat pula
daya sebar dari sediaan. Umumnya daya sebar berbanding terbalik dengan
viskositas, dimana dengan meningkatnya daya sebar maka terjadinya penurunan
viskositas sediaan.
67

Evaluasi viskositas menjadi hal yang penting untuk diperhatikan karena


berpengaruh terhadap kemudahan penggunaan pada kulit. Sediaan krim tabir surya
yang baik mempunyai kekentalan yang cukup untuk pemakaian topikal sehingga
memudahkan penyebaran di permukaan kulit. Viskositas merupakan pengujian
yang dilakukan untuk menentukan nilai kekentalan suatu zat. Semakin tinggi nilai
viskositasnya semakin tinggi pula tingkat kekentalannya (Ardana, 2017). Pengujian
viskositas sediaan dilakukan dengan menggunakan alat viscometer brook-field
dengan menggunakan spindle 64 dan speed 6 dengan faktor pengoreksi 1000. Hasil
yang diperoleh adalah terjadi penurunan pada viskositas tiap formula. Formula 1
dengan konsentrasi Minyak Biji Gandum 10% didapatkan hasil rata-rata dan Sd
142333.33Cps ± 1231.3, formula 2 dengan konsentrasi Minyak Biji Gandum 12,5%
didapatkan hasil rata-rata dan sd 56500 Cps ± 3656.6, formula 3 dengan konsentrasi
Minyak Biji Gandum 15% didapatkan hasil 58000 Cps ± 5291.50. Untuk
mengetahui adanya perbedaan pada masing-masing formula dilakukan analisis data
menggunakan uji One Way-Anova didapatkan signifikan 1,316 > 5,14 F Tabel yang
berarti tidak terdapat perbedaan viskositas yang bermakna. Sesuai dengan teori
bahwa viskositas akan menurun ketika daya sebar meningkat, hasil menunjukkan
bahwa terjadi penurunan viskositas pada sediaan. Pada analisis data hasil
menunjukkan tidak terdapat perbedaan yang bermakna, hal ini bisa disebabkan
karena bisa dari rentang antar tiap formula yang terlalu dekat, sehingga tidak bisa
menunjukkan hasil yang signifikan.
Evaluasi yang terakhir yaitu pengukuran nilai SPF (Sun protection Factor)
dari suatu sediaan tabir surya. Tabir surya (sunblock) adalah suatu zat atau material
yang dapat melindungi kulit terhadap radiasi sinar UV. Sediaan kosmetik yang
mengandung tabir surya biasanya dinyatakan dalam label dengan kekuatan SPF
tertentu. Nilai SPF terteltak diantara kisaran 2-60, angka ini menunjukkan berapa
lama produk mampu melindungi atau memblok sinar UV yang dapat menyebabkan
kulit terbakar. Sun protection Factor (SPF) adalah ukuran perlindungan sediaan
krim tabir surya terhadap sinar UV B semakin meningkat nilai SPF, maka efek
proteksi terhadap kulit terbakar semakin meningkat juga (FDA,2015). FDA
merekomendasikan menggunakan tabir surya dengan nilai SPF minimal 15 atau
lebih untuk mendapatkan efek perlindungan terhadap sinar UV yang lebih baik.
68

Angka SPF menyatakan berapa kali daya tahan alami kulit sesorang dilipat
gandakan sehingga dapat terlindung dari radiasi sinar matahri tanpa terkena luka
bakar. Pengujian nilai SPF dapat dilakukan secara in vivo maupun in vitro.
Minimum Erythemal Dose ( MED) didapat dari uji in vivo, namun uji in vivo
membutuhkan biaya yang mahal dan waktu yang lebih lama karena uji in vivo
menggunakan subjek manusia atau hewan seperti kelinci atau tikus. Uji in vitro
lebih mudah dan lebih hemat biaya. Namun uji in vitro memiliki kekurangan, yaitu
uji in vitro tidak dapat memberikan informasi secara kuantitatif terkait perlindungan
tabir surya ketika diaplikasikan kulit. Meskipun uji in vitro memiliki kekurangan,
uji in vitro dilakukan dengan menggunakan spektrofotometri memiliki beberapa
keuntungan, yaitu lebih murah, reproducible, dan tidak melukai subjek manusia
sehat. Selain itu, hasil dari uji in vitro juga dapat memberikan informasi pengganti
nilai SPF secara in vivo ( Draelos dan Thaman, 2006).
Pada penelitian ini pengukuran nilia SPF dilakukan secara in vitro dengan
alat spektrofotometer agar didaptkan hasil yang akurat. Dari hasil pengukuran nilai
SPF didapatkan hasil yaitu dengan Rerata ± SD formula 1 (34.66 ± 1.79), formula
2 (35.00 ± 1.80), formula 3 (36.660± 3.10). nilai SPF 30-50 dapat memberikan
perlindungan tinggi pada kulit. Dari hasil pengukuran nilai SPF ketiga formula
tersebut masuk kedalam rentang tersebut. Dapat disimpulkan bahwa formula dapat
memberikan perlindungan yang tinggi terhadap kulit dari paparan sinar UV secara
langsung. Untuk mengetahui adanya pengaruh peningkatan kadar minyak biji
gandum pada sediaan tabir surya dilakukan anlisis statistika dengan one Way
Annova dengan kepercayaan a=0,05 didapatkan nilai P hitung 0.576 > a=0.05.
sehingga didapatkan kesimpulan bahwa dengan penambahan konsentrasi minyak
biji gandum tidak terdapat perbedaan yang bermakna antar formula dari sediaan
krim tabir surya. Hasil dapat dilihat pada table 5.7 dan gambar 5.8
Dari hasil penelitian sediaan krim tabir surya dengan kombinasi bahan aktif
dari alam minyak biji gandum dengan bahan kimia titanium dioksida dengan
mekanisme UV Blocker, oktil metoksisinamat dan butyl metoksidibenzilmetan
dengan mekanisme UV absorber mampu meningkatkan nilai SPF dari suatu sediaan
krim tabir surya dengan perlindungan tinggi sehingga efek perlindungan lebih
optimal terhadpa sinar UV A ataupun UV B. sedangkan menurut basf.simulator
69

ketika dihitung bahan aktif tanpa menggunakan minyak biji gandum didapatkan
hasil SPF sebesar 16,7 yang berarti ketika ditambahkan minyak biji gandum
semakin meningkat kadar SPF sediaan. Dan dibandingkan dengan control negatif
dapat disimpulkan tidak ada perbedaan yang bermakna meskipun mengalami
peningkatan nilai SPF karena perbedaan kadar yang tidak terlalu besar, sehingga
tidak berpengaruh.
BAB VII
KESIMPULAN DAN SARAN

7. 1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil dari penelitiaan dapat disimpulkan bahwa:


1. Minyak biji gandum tidak dapat meningkatkan nilai SPF sediaan krim tabir
surya kombinasi dengan bahan aktif oktil metoksisinamat, butyl
metoksidibenzoilmetan dan titanium dioksida.
2. Uji karakteristik fisik dari sediaan memiliki hasil yang tidak jauh berbeda.
Ketiga formula memiliki warna putih tulang sampai warna salem, bau khas
minyak biji gandum, tekstur lembut dan homogen dengan tipe emulsi
ketiganya menunjukkan tipe minyak dalam air atau M/A ; Uji viskoitas
menunjukkan adanya penurunan dan uji daya sebar menunjukkan adanya
peningkatan diameter. Dimana nilai viskositas berbanding terbalik dengan
daya sebar. Hasil uji karakteristik kimia (PH) memiliki nilai yang tidak jauh
berbeda. Dimana dengan meningkatnya kadar bahan aktif maka pH dari
sediaan akan meningkat.

7. 2 Saran

1. Diperlukan penelitian lebih lanjut dengan memodifikasi kadar dari bahan


aktif yang digunakan untuk mendapatkan sediaan yang lebih bagus.
2. Disarankan kepada peneliti selanjutnya agar dapat melakukan pengujian nilai
SPF secara in vivo untuk dibandingkan dengan hasil secara in vitro sehingga
hasil yang didapatkan lebih akurat.

70
DAFTAR PUSTAKA

Abate, M. dan Abel, S. K. 2006. Remington: The Science and Practice of


Pharmacy, 21st Ed., 916. Lippincott Williams and Wilkins. University of
Sciences, Philadelphia.

Abdillah, M.N., Sunarti, Fuji., dan Idar. 2000. Penetapan Kadar Oktilmetoksi
Sinamat Dalam Krim Tabir Surya Menggunakan Spektrofotometri Uv.
Jurnal Farmasi Galenika. Volume 4 No. 2: 57-61.

Adawiah., Sukandar, Dede., Dan Muawanah, Anna. 2015. Aktivitas Antioksidan


Dan Kandungan Komponen Bioaktif Sari Buah Namnam. Jurnal Kimia
Valensi: Jurnal Penelitian Dan Pengembangan Ilmu Kimia. Vol. 1, No.2:
130-136.

Agustina, N.E.S., dan Suryaningsih, B.E. 2013. Pengaruh Penggunaan Krim


Pemutih Kulit Terhadap Terjadinya Teleangiektasis Pada Pada Mahasiswa
Fakultas Kedokteran UII. JKKI. Vol. 5, No.1:40-46.

Anief M , 2005, Farmasetika, Yogyakarta, Gadjah Mada University press

Anggraini, T. D., Djajadisastra, J., dan Hayum. 2013. Uji Stabilitas Fisik Dan
Penentuan Nilai SPF Secara Invitro Dari Krim Tabir Surya Yang
Mengandung Butil Metoksidibenzoilmetan Dan Oktil Metoksisinamat
Dengan Penambahan Titanium Dioksida. Fakultas Farmasi. Universitas
Indonesia.

Anonim, Farmakope Indonesia Edisi V,Jakarta: Departemen Kesehatan Republik


Indonesia, 2014.

Ansel, H.C, 2005, Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi, Penerjemah: Farida


Ibrahim, Edisi Keempat , 255, UI Press , Jakarta
Arpi, Normalina. 2014. Kombinasi Antioksidan Alami Α-Tokoferol Dengan Asam
Askorbat Dan Antioksidan Sintetis Bha Dengan Bht Dalam Menghambat
Ketengikan Kelapa Gongseng Giling (U Neulheu) Selama Penyimpanan.
Jurnal Teknologi dan Industri Pertanian Indonesia. Vol. 6, No.2: 7-13.

Astuti, R.T. 2015. Sintesis Material Fotokatalis Tio2 Untuk Penjernihan Limbah
Tekstil. Jurnal Fisika Unand. Vol. 4, No. 1: 91-96.

Astuti, R., 1997. Fotostabilitas Oktil Metoksisinamat dan Pengaruhnya terhadap


Fotostabilitas Triptofan. Tesis. Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

Anwar, 2012, Eksipien Dalam Sediaan Farmasi Karakterisasi dan Aplikasi, Dian
Rakyat, Jakarta.

71
72

Badan POM RI, 2009, Bahan Berbahaya Dalam Kosmetik, In: Kosmetik Pemutih
Whitening, Naturakos, Vol. III No.8. Edisi Agustus 2008, Jakarta.

Barrel, O.A., Paye, M., Maicbach, H.I. 2009. Handbook of Cosmetics Science and
Technology third ed. New York: informa healthcare.
Barry, B.W. 1983. Dermatological Formulations, Mercel Dekker inc., New York,
p. 304.

Boonme P, Amnuaikit T. Effect of cream formulas on SPF values of sunscreen


creams containing bemotrizinol and titanium dioxide as the actives. Isan J
Pharm Sci 2013; 9(1): 218.

Block, L. H., 1996, Pharmaceutical Emulsions and Microemulsions, in Lieberman,


H. A,, Lachman, L., Schwatz, J. B., (Eds.), Pharmaceutical Dosage Forms :
Disperse System, Vol. 2, 2nd Ed., 67-69, Marcel Dekker Inc., New York.

Cadenas E and Packer L. 2001. Vitamin E Bioavaiability, Biokinetics, and


Metabolism. . Handbook of Antioxidants, Second Edition Revised and
Expanded. USA: Marcel Dekker Inc.

Cefali LC, Ataide JA, Moriel P, Foglio MA, Mazzola PG. 2016. Plant-based active
photoprotectants for sunscreens. Int J Cosmet Sci. Aug;38(4):346-53.

Depkes. RI., 2014. Farmakope Indonesia. Edisi ke-5. Jakarta: Departemen


Kesehatan RI.

Ditjen POM.. 1985. Formularium Kosmetika Indonesia. Jakarta: Departemen


Kesehatan RI. Hal. 83-86, 195-197.

Direktorat Budidaya Serealia, 2008, Inventarisasi Pengembangan Gandum.,


Departemen Pertanian, Jakarta

Dirjen Bina Produksi Tanaman Pangan, 2001, Teknologi Produksi Gandum,


Departemen Pertanian, Jakarta,

Djajadisastra, Joshita. 2004. Seminar Setengah Hari Hiki. Cosmetic Stability.


Jakarta.

Draelos, D.Z., dan Thaman, L.A. 2006. Cosmetic Formulation of Skin Care
Products. Vol. 30. New York and Francis Group, LLC.

Droge W. 2002. Free Radicals in the Physiological Control of Cell Function.


NCBI. 82(1):47-95.

Elya, B., Dewi, R., Budiman, M. H. 2013. Antoxidant Cream Of Solanum


lycopersium L. International Journal Of Pharmtech. Vol. 5, No. 1: 233-
238.
73

Erungan, A.C., Purwaningsih, S., dan Anita, S.B. 2009. Aplikasi Karaginan Dalam
Pembuatan Skin Lotion. Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia.
Vol. 12, No. 2: 128-143.

Fitri, Nyoman. 2013. Butylated hydroxyanisole sebagai Bahan Aditif Antioksidan


pada Makanan dilihat dari Perspektif Kesehatan. Badan Litbangkes. Vol.4,
No.1:41-50.

Fitzpatrick, T.B. & Freedberg, I.M., 2008, Fitzpatrick's dermatology in General


Medicine, 7𝑡ℎ Ed., 52, Mc Graw-Hill Companies Inc., New York.

Gadri, Amila.,Darijono, S.T., Mauludin, R., dan Iwo, M.I. 2012. Formulasi Sediaan
Tabir Surya dengan Bahan Aktif Nanopartikel Cangkang Telur Ayam
Broiler. Jurnal Matematika & Sains. Vol. 17, No.3: 89-97.

Garoli, D., Pelizzo, M.G., Nicolossi, P., Peserico, A., Tonin, E., Alaibac, M., 2009,
Effectiveness of Different Substrate Materials for In Vitro Sunscreen Test,
Journal of Dermatological Science, 56, Issue 2, 89-98.

Goodman And Gilman’s, 1991, The Pharmacological Basis Of Therapeutics


Volume 2 Eighth Edition, New York : Mcgraw-Hill, Inc.

Graha, S.A. 2008. Manfaat Masase Wajah Dan Vitamin E pada Atlet.
Medikora.Vol. 4, No. 1:123-149.

Green, A., William, G., and Neale, R., 1999, Does Daily Use of Sunscreen or β
carotene Supplements Prevent Skin cancer in Healthy Adults, 354, 723-729,
Lancet.

Guzman, C., Javier R., Singh, R ., Autrique, E., Dreisigacker, S., Crossa, J.,
Rutkoski, J., Poland, J., dan Battenfield, S. 2006. Wheat quality
improvement at CIMMYT and the use of genomic selection on it. Applied &
Translational Genomics. 3–8.

Harry, R.G. 1982. Harry’s Cosmeticology. Seventh Edition. London: Leonard Hill
Book.

Hartley, RD. dan Keene, A S 1984. Aromatic Aldehyde Constituents of


Graminaceous Cell Walls. Phytochemistry, 23: 1305-1307.

Herni Kusantati. 2008. Tata Kecantikan Kulit Jilid 3. Jakarta:Direktorat Pembinaan


Sekolah Menengah Kejuruan.

Isfardiyana, S.H dan Safitri, S.R. 2014. Pentingnya Melindungi Kulit Dari Sinar
Ultraviolet Dan Cara Melindungi Kulit Dengan Sunblock Buatan Sendiri.
Jurnal Inovasi dan Kewirausahaan. Vol.3, No.2: 126-133.
74

Ismail, Isriany., Handayany, G.N., Wahyuni, Dwi., dan Juliandri. 2014. Formulasi
Dan Penentuan Nilai Spf (Sun Protecting Factor) Sediaan Krim Tabir Surya
Ekstrak Etanol Daun Kemangi (Ocimum Sanctum L.). JF FIK UINAM.
Vol.2 No.1: 6-12.

Kalangi, S.J.R. 2013. Histofisiologi Kulit. Jurnal Biomedik (JBM). Volume 5,


Nomor 3, hlm. S12-20.

Kaur, C. D dan S. Saraf. 2009. In Vitro Sun Protection Faktor Determination of


Herbal Oils Used in Cosmetics. Pharmacognosy Research. 2:22-23.

Kiswanti, E.A.D dan Pratapa, Suminar. 2013. Sintesis Titanium Dioksida (TiO2)
Menggunakan Metode Logam-Terlarut Asam. Jurnal Sains Dan Seni
Pomits. Vol. 3, No.2:2337-3520.

Kumar, CT, Reddy, VK, Prasad, M, Thyagaraju, K, Reddanna, P. 1992. Dietary


supplementation of vitamin E protects heart tissue from exercise induced
oxidant stress. Mol Cell Biochem 111: 109–115.

Kyowa Hakko Europe GmbH. 2010. Butim Metoxydibenzoilmetane. Germany:


Daichi Fine Chemical Division.

Lachman, L., Lieberman, H.A., Kanig, J.L. 1994. Teori dan Praktek Industri
Farmasi II, Edisi III, diterjemahkan oleh Siti Suyatmi dan Iis Aisyah.
Jakarta: Universitas Indonesia Press.

Laila Sari, Astuti. 2013. Pengaruh Nanopartikel Titanium Dioksida Pada Resin
Sebagai Material Transparan Anti UV Dan Self Cleaning. Jurnal Fisika
Unand. Vol. 2, No. 1: 20-25.

Lamid, Astuti. 1995. Vitamin E Sebagai Antioksidan. Media Litbangkes. Vol. 5,


No. 1: 14-16.

Lee, A., & Kaplan, M.D., 1992, Suntan, Sunburn, and Sun Protection, Journal of
Wildernes Medicine 3, 174-175, 179.

Lucyani, Neni. 2014. Uji Aktivitas Antibakteri Sediaan Krim Type M/A Dari
Minyak Atsiri Kulit Buah Jeruk Pontianak (Citrus Nobilis
Lour.Var.Microcarpa) Terhaap Isolat Propionibacterium Acnes Secara
Invitro [Skripsi]. Pontianak, Fakultas Kedokteran, Universitas
Tanjungpura.

Lung, J.K.S dan Destiani, D.P. 200. Uji Aktivitas Antioksidan Vitamin A, C, E
dengan metode DPPH. Suplemen. Vol. 15, No.1: 53-63.

McKinlay A. & Diffey, B., 1987, A Refference Spectrum for Ultraviolet Induced
Erythema In Human Skin, CIE, 6: 17-22
75

Megahed G. M., El-Shahat H. A. N. And Shaheen M. S. 2011. Study on stability of


wheat germ oil and lipase activity of wheat germ during periodical storage,
Agriculture and Biology Journal of North America. 2(4): 680.

Mitsui, T., 1997, New Cosmetic Science, 32-38, 142, Elsevier Science B.V.,
Netherlands.

Mulyani., Putri, P., dan Wahidatullail, Nurul. Penentuan Nilai Spf (Sun Protecting
Factor) Ekstrak N-Heksan Etanol (1:1) Dari Rice Bran (Oryza Sativa)
Secara In Vitro Dengan Metode Spektrofotometri Uv-Vis

Nachbar, F., & Korting, H, C., 1995. The Role of Vitamin E in Normal and
Damaged Skin. Journal of Molecular Medicine. Vol.73, No.1: 7-17.

Nevo, E., A.B. Korol, A. Beiles, and T. Fahima. 2002. Evolution of wild emmer and
wheat improvement: population genetics, genetic resources, and genome
organization of wheat’s progenitor, triticum dicoccoides. Springer, Berlin.
p. 364.

Newmann, M. D., M. Stotland, and Ellis, J.I., 2009. The Safety of Nanosized
Particles in Titanium Dioxide and Zinc Oxide Based Sunscreen.
J.Am.Acad.Dermatol. 61:4, 687-692.

Onyeneho, S. N., dan Hettiarachchy, N. S. 1992. Antioxidant Activity of Durum


Wheat Bran. Journal Agriculture Food Chemistry, 49:1496-1500.

Okamoto K.I., Yamamoto Y., Tanaka H., Tanaka M. and Itaya A., (1985),
Heterogeneous photocatalytic decomposition of phenol over TiO2powder,
Bull. Chem. Soc. Jpn., 58, 2015-2022.

Oroh, E. & Harun, E.S., 2001, Tabir Surya (Sunscreen), Berkala llmu Penyakit
Kulit & Kelamin, 13(1), 1.

Osterwalder, U., and Herzog, B., Chemistry and Properties of Organic and
Inorganic UV Filters. In: Lim, H.W., and Draelos, Z.D., ed., 2009, Clinical
Guide to Sunscreens and Photoprotection, Informa Healthcare USA, Inc.,
New York.

Ozcan, M.M., Antonella, R., Maria, A.D., Bruno, M., Alessandra, P., dan Fahad,
Y.I.A. 2013. Quality of Wheat Germ Oil Obtained by Cold Pressing and
Supercritical Carbon Dioxide Extraction. Czech J. Food Science. Vol.31,
No.3:236-240.

Pamela, R.D. 2012. Pengaruh Stres Psikologis terhadap Fungsi Pertahanan Kulit.
CDK-194. Vol. 39,No. 6: 420-422.
76

Pathak, M.A., 1982, Sunscreens: Topical and Systemic Approaches for Protection
of Human Skin Against Harmful Effects of Solar Radiation, J Am Acad
Dermatol, 7, 285- 312.

Poskitt, E.M., Cole, T.J., Lawson, D.E., 1979, Diet, Sunlight, and 25-hydroxy-
Vitamin D in Healthy Children and Adults. Brit Med,1, 221.

Prasiddha, I.J., Laeliocattleya, R.A., Estiasih, T., dan Maligan, J.M. 2016. Potensi
Senyawa Bioaktif Rambut Jagung (Zea mays L.) Untuk Tabir Surya Alami.
Kajian Pustaka. Jurnal Pangan dan Agroindustri. Vol. 4, No. 1:40-45.

Pratt, Harry., Hassanin, Kareem., Troughton, L.D., Czanner, Gabriela., Zheng,


Yalin., McCormick, A.G., and Hamill, K.J. 2017. UV imaging reveals facial
areas that are prone to skin cancer are disproportionately missed during
sunscreen application. Plos One. Vol. 12, No. 10: 1-14.

Pratama, R.H., dan Hermanto. 2016. Gandum Peluang Pengembangan di


Indonesia. Jakarta: IAARD Press. Hal: 41-47.

Pratama, W.A dan Zulkarnain, A.K. 2015. Uji Spf In Vitro Dan Sifat Fisik
Beberapa Produk Tabir Surya Yang Beredar Di Pasaran. Majalah
Farmaseutik. Vol. 11 No.1: 275-283.

Price, K. dan Martin, S. 2000. Whole Grains and Chronic Disease: A Self-Study
Guide for Health Professionals. Minneapolis: General Mills, The.

Purwaningsih, Sri., Salamah, Ella., dan Adnin, M.N. 2015. Efek Fotoprotektif Krim
Tabir Surya Dengan Penambahan Karaginan Dan Buah Bakau Hitam
(Rhizopora mucronata Lamk.). Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis.
Vol. 7, No. 1, Hlm. 1-14.

Purwaningsih S., Salamah E., Budiarti T.A., 2014, Formulasi Skin Lotion dengan
Penambahan Karagenan dan Antioksidan Alami dari Rhizophora
mucronata Lamk.

Rai, R.., dan Srinivas, C.R. 2007. Photoprotection. Indian J Dermatol Venerol
Leprol. Vol.73: 72-76.

Rahmatiyah, 2012. Penggunaan Butil Hidroksi Toluen Untuk Menghambat


Ketengikan Minyak Kelapa Hasil Olahan Petani. Universitas Terbuka.
Vol.13, No. 2:88-93.

Rauf, Afrisusnawati., SuryaNingsi., dan Yasin, R.A. 2017. Penentuan Aktivitas


Potensi Tabir Surya Ekstrak Kulit Buah Jeruk Nipis (Citrus aurantifolia)
Secara In Vitro. JF FIK UINAM. Vol.5 No.3: 193-198.

Rieger, M. 2000. Harry’s Cosmeticology. 8th ed. Chemical Publishing Co. Inc.
New York. 986p.
77

Rokitzki, L, Logemann, E, Huber, G, Keck, E, Keul, J. 1994. Alpha-Tocopherol


supplementation in racing cyclistsduring extreme endurance training. Int J
Sport Nutr. 4: 253–264.

Rosita, Noorma., Purwanti, Tutiek ., dan Agustin. 2010. Stabilitas Fisik Dan
Efektivitas Sediaan Tabir Surya Kombinasi Oksibenson Dan Oktil
Metoksisinamat Dengan Penambahan Asam Glikolat. Majalah Ilmu
Kefarmasian. Vol. VII, No. 2:16-26.

Rowe, R.C. et Al. (2009). Handbook Of Pharmaceutical Excipients, 6th Ed, The
Pharmaceutical Press, London.

Saewan, N. dan Jimtaisong, A., 2013. Photoprotection of natural flavonoids.


Journal of Applied Pharmaceutical Science Vol, 3: 129–141.

Savoye, Isabelle., Olsen, CM., Whiteman, D.C., Bijon, Anne., Wald, Lucien.,
Dartois, Laureen., Chapelon, F.C., Christine, Marie., Ruault, Boutron and
Kvaskoff, Marina. 2017. Patterns of Ultraviolet Radiation Exposure and
Skin Cancer Risk. Journal of Epidemiology. Vol.1, No.66: 1-7.

Setiawan, T., 2010, Uji Stabilitas Fisik dan Penentuan Nilai SPF Krim Tabir Surya
yang Mengandung Ekstrak Daun Teh Hijau (Camellia sinensis L.), Oktil
Metoksisinamat dan TiO2, Skripsi, FMIPA Program Studi Farmasi, UI,
Depok.

Schuller, R., Romanowski, P. 2003. Multifunctional Cosmetic, Enhancing Product


Functionally with Sunscreens. Marcel Dekker. New York, 152-153.

Simamora, Adelia. 2003. Efek Tokoferol Pada Peroksida Lipid. Meditek. Vol. 11,
No. 28: 44-54.

Sharon, N., Anam, S., Yuliet. 2013. Formulasi Krim Ekstrak Etanol Bawang Hutan
(Eleutherine Palmifolia L. Merr). Online Jurnal Of Natural Science. Vol. 2,
No.3: 111-122.

Shovyana, H. H And Karim, Zulkarnain. 2013. Physical Stability And Activity Of


Cream W/O Etanolic Fruit Extrac Of Mahkota Dewa (Phaleria
Macrocarpada (Scheff.) Boerl) As A Sunscreen. Trand Med Journal. Vol.
18, No. 2: 108-117.

Slavin, J. L., Martini, M. C, Jacobs Jr., D. R., dan Marquart, L. 1999. Plausible
Mechanisms For The protectiveness of Whole Grains. Journal Clinical
Nutrition, 70: 459S-63S.

Standar Nasional Indonesia 01 – 2881 – 1996. Nata dalam Kemasan. Jakarta:


Badan Standarisasi Nasional-BSN.
78

Stanfield, J. W. 2003. Sun Protection: Enhancing Product Functionality with


Sunscreens, in Schuller, R. And Romanowski, P., Multifunctional
Cosmetics. Marcell Dekker Inc, New York, p. 145-150.

Sugihartini, Nining. 2011. Optimasi Komposisi Tepung Beras Dan Fraksi Etanol
Daun Sendok (Plantago major, L) Dalam Formulasi Tabir Surya Dengan
Metode Simplex Lattice Design. Jurnal Ilmiah Kefarmasian. Vol. 1, No. 2:
63 – 70.

Suryani, A., I. Sailah, dan E. Hambali. 2000. Teknologi emulsi. Institut Pertanian
Bogor. Bogor. 117hlm.
Suryani dkk, Isti, Agus Santoso, dan M.Juffrie. 2010. Penambahan Agar-Agar dan
Pengaruhnya Terhadap Kestabilan dan Daya Terima Susu Tempe pada
Mahasiswa Politeknik Kesehatan Jurusan Gizi. Yogyakarta: Jurnal Gizi
Klinik Indonesia Vol. 7, No. 2 hal: 85-91.

Suryawanshi, J.A.S. 2016. In-Vitro Determination Of Sun Protection Factor And


Evaluation Of Herbal Oils. International Journal of Pharmacology
Research. Vol.6, No. 1: 37-43.

Susanti, M., Dachriyanus., dan Putra, D.P. 2012. Aktivitas Perlindungan Sinar Uv
Kulit Buah Garcinia mangostana Linn Secara In Vitro. Pharmacon. Vol.
13, No. 2:61-64.

Swastika, A, Mufrod & Purwanto., 2013, Aktivitas Antioksidan Krim Ekstrak Sari
Tomat (Solanum lycopersicum L.),Trad Med Journal, 18(3),132-140.

Tandi, Joni dan Novrianto, K.G. 2017. Formulasi Tabir Surya Zink Oksida Dalam
Sediaan Krim Dengan Variasi Konsentrasi Ekstrak Anggur Hitam (Vitis
vinivera L.). Jurnal Sains dan Kesehatan. Vol 1. No 7: 352-365.

Taufikkurohmah, T., 2005, Sintesis p-Metoksi sinamil p-Metoksi sinamat dari Etil
p-Metoksi sinamat Hasil Isolasi Rimpang Kencur (Kaempferia galanga L)
sebagai Kandidat Tabir Surya, Indo. J. Chem., 5 (3), 193 – 197.

Tranggono, R.I., dan Latifah, F., 2007. Buku Pegangan Ilmu Pengetahuan
Kosmetik. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama. Hal: 81-83.

Triana, Vivi. 2006. Macam-Macam Vitamin Dan Fungsinya Dalam Tubuh


Manusia. Jurnal Kesehatan Masyarakat. Vol. 1, No.1: 40-47.

Voigt, R. 1994. Buku Pelajaran Teknologi Farmasi. Edisi 5. Universitas Gadjah


Mada. Yogyakarta.

Wasitaatmadja, S.M. 1997. Penuntun Ilmu Kosmetik. Jakarta: UI Press, 3-5, 117-
121.
79

Wardani, S., Wirnas, D., dan Wahyu, Y. 2015. Seleksi Segregan Gandum (Triticum
aestivum L.) pada Dataran Tinggi. J. Agron. Indonesia. 43 (1) : 45 – 51.
Wilkinson, J.B. & Moore, R.J., 1982, Harry’s Cosmeticology (7th edition), New
York: Chemical Publishing Company, 3, 231-232, 240-241, 248.

Willis, I., & Cylus, L., 1977, UVA Erythema in Skin: Is It a Sunburn?, J Invest
Dermato. 9, 68,128 cit Lee, A., Kaplan, M.D., 1992, Suntan, Sunburn, and
Sun Protection, Journal of Wildernes Medicine 3, 174-175, 179.

Wood, C., E. Murphy. (2000). Sunscreens efficacy, Vol. 167. Glob.Cosmet. Ind.,
Duluth. Hal: 38-44.

Wungkana, Injilia., Suryanto, Edi., dan Momuat, Lidya. 2013. Aktivitas


Antioksidan Dan Tabir Surya Fraksi Fenolik Dari Limbah Tongkol Jagung
(Zea mays L.). Jurnal Ilmiah Farmasi UNSRAT. Vol. 2, No. 04: 149-155.

Yildirim, K. dan Kostem, A.M., 2014. A Technical Glance On Some Cosmetic Oils.
European Scientific Journal, 10: 425-435.

Zulkarnain, A.K., Ernawati, Novi Nu., dan Sukardani, N.I. 2013. Activities Of Yam
Starch (Pachyrrizus Erosus (L.) Urban) As Sunscreen In Mouse And The
Effect Of Its Concentration To Viscosity Level. Traditional Medicine
Journal. Vol. 18, No.1: 1-8.
80

Lampiran 1

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

Nama : Fitria Khurniawati


NIM : 201410410311216
Tempat/TglLahir : Mojokerto / 21 Januari 1996
Alamat : Dsn. Sampang, Ds.Sampang Agung, RT001/RW001,
Kutorejo,Mojokerto
No Hp : 082146520242
Alamat Email : Fitriakhurniawati22@gmail.com
Riwayat Pendidikan :
TK Dharma Wanita 2001-2002
SDN Sampang Agung 1 2002-2008
SMPN 1 Pacet 2008-2011
SMA N 1 Kutorejo 2011-2014
Ps. Farmasi-Universitas Muhammadiyah Malang 2014- Sekarang

Malang, 26 Juli 2018

Fitria Khurniawati
81

Lampiran 2

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
PROGRAM STUDI D3 dan S1 KEPERAWATAN, PROGRAM STUDI
FARMASI
KampusII : Jl. BendunganSutami No. 188-A Tlp. (0341) 551149Pst (144-145)
Fax. (0341) 582060 Malang 65145

SURAT PERNYATAAN

Yang bertanda tangan dibawah ini:


- Nama : Fitria Khurniawati
- NIM : 201410410311216
- Program Studi : Farmasi
- Fakultas : ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

Dengan ini menyatakan dengan sebenar-benarnya bahwa:


1. Tugas akhir dengan judul :
FORMULASI KRIM TABIR SURYA MENGANDUNG MINYAK BIJI GANDUM (10%, 12,5%, 15%)
KOMBINASI DENGAN TITANIUM DIOKSIDA, OKTIL METOKSISINAMAT DAN
BUTIL METOKSIBENZOILMETAN.
Adalah hasil karya dan dalam naskah ini tidak terdapat karya ilmiah yang pernah
diajukan oleh orang lain untuk memperoleh gelar akademik di suatu perguruan tinggi,
dan tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang
lain, baik sebagian ataupun seluruhnya, kecuali yang secara tertulis dikutip dalam
naskah ini dan disebutkan dalam sumber kutipan dan daftar pustaka.Apabila ternyata
di dalam naskah skripsi ini dapat dibuktikan LAMPIRAN 2
2. Terdapat unsur-unsur PLAGIASI, saya bersedia SKRIPSI ini DIGUGURKAN dan
GELAR AKADEMIK YANG TELAH SAYA PEROLEH DIBATALKAN, serta
3. diproses sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku.
4. Skripsi ini dapat dijadikan sumber pustaka yang merupakan HAK BEBAS ROYALTY
NON EKSKLUSIF.

Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya untuk dipergunakan sebagaimana
mestinya.

Malang, 26 Juli 2018


Yang menyatakan,

Fitria Khurniawati
82

Lampiran 3. Certificate of Analysis Wheat Germ Oil


83

Lampiran 4. Certificate of Analysis Butil Metoksidibenzoilmetan


84

Lampiran 5. Certificate of Analysis Oktil Metoksisinamat


85

Lampiran 6. Perhitungan Penggunaan Bahan


I. Perhitungan Bahan Formula I
 Total Jumlah Bahan Aktif (scale up 100 g)
1. Minyak Biji Gandum
10
x 100g = 10 g
100

2. Titanium Dioksida
3
x 100g = 3 g
100
3. Oktil Metoksisinamat
5
x 100g = 5 g
100
4. Butil Metoksidibenzoilmetan
3
x 100g = 3 g
100
 Total Jumlah Bahan Tambahan (scale up 100 g)
10
1. Asam Stearat : 100 × 100g = 10 g
1,5
2. Trietanolamin : 100 × 100g = 1,5 g
2
3. Vaselin Album : 100 × 100g = 2 g
10
4. Isopropil Miristat : 100 × 100g = 10 g
0.1
5. Butil Hidroksi Toluen: 100 × 100g = 0,1 g
8
6. Gliserin : 100 × 100g = 8 g
0,18
7. Nipagin : × 100g = 0,18 g
100
0,02
8. Nipasol : × 100g = 0,02 g
100
0,1
9. Na-EDTA : 100 × 100g = 0,1 g

10. Aquadest : ad 100

II. Perhitungan Bahan Formula II


 Total Jumlah Bahan Aktif (scale up 100 g)
1. Minyak Biji Gandum
86

12,5
x 100g = 12,5 g
100

2. Titanium Dioksida

3
x 100g = 3 g
100

3. Oktil Metoksisinamat

5
x 100g = 5 g
100

4. Butil Metoksidibenzoilmetan

3
x 100g = 3 g
100

 Total Jumlah Bahan Tambahan (scale up 100 g)


10
1. Asam Stearat : 100 × 100g = 10 g
1,5
2. Trietanolamin : 100 × 100g = 1,5 g
2
3. Vaselin Album : 100 × 100g = 2 g
10
4. Isopropil Miristat : 100 × 100g = 10 g
0.1
5. Butil Hidroksi Toluen: 100 × 100g = 0,1 g
8
6. Gliserin : 100 × 100g = 8 g
0,18
7. Nipagin : × 100g = 0,18 g
100
0,02
8. Nipasol : × 100g = 0,02 g
100
0,1
9. Na-EDTA : 100 × 100g = 0,1 g

10. Aquadest : ad 100


III. Perhitungan Bahan Formula III
 Total Jumlah Bahan Aktif (scale up 100 g)
1. Minyak Biji Gandum

15
x 100g = 15 g
100

2. Titanium Dioksida
87

3
x 100g = 3 g
100

3. Oktil Metoksisinamat

5
x 100g = 5 g
100

4. Butil Metoksidibenzoilmetan

3
x 100g = 3 g
100

 Total Jumlah Bahan Tambahan (scale up 100 g)


10
1. Asam Stearat : 100 × 100g = 10 g
1,5
2. Trietanolamin : 100 × 100g = 1,5 g
2
3. Vaselin Album : 100 × 100g = 2 g
10
4. Isopropil Miristat : 100 × 100g = 10 g
0.1
5. Butil Hidroksi Toluen: 100 × 100g = 0,1 g
8
6. Gliserin : × 100g = 8 g
100
0,18
7. Nipagin : × 100g = 0,18 g
100
0,02
8. Nipasol : × 100g = 0,02 g
100
0,1
9. Na-EDTA : 100 × 100g = 0,1 g

10. Aquadest : ad 100


88

Lampiran 7 Data Pengukuran Daya Sebar

FORMULA 1 (kadar 10 %)
Bobot
Replikasi 1 Replikasi 2 Replikasi 3
(gram)
0 10.5 cm 9.3 cm 10.3 cm
5 11.3 cm 9.8 cm 11.5 cm
10 11.8 cm 10 cm 12.1 cm
15 12.1 cm 10.2 cm 12.6 cm
20 12.4 cm 10.2 cm 13 cm
25 12.5 cm 10.5 cm 13.4 cm
30 12.8 cm 10.5 cm 13.6 cm
35 13 cm 10.5 cm 13.9 cm
40 13 cm 14.1 cm
45 13.4 cm 14.3 cm
50 13.6 cm 14.3 cm
55 13.6 cm 14.5 cm
60 13.6 cm 14.5 cm
65 14.5 cm
Rata-rata 12.58 cm 10.13 cm 13.33
Nilai SD 0.959 0.420 1.291

16
14
12
DIAMETER

10
8
6
4
2
0
0 5 10 15 20 25 30 35 40 45 50 55 60 65
BOBOT

Gambar 1. Kurva Daya Sebar Formula I Replikasi 1


89

10.6
10.4
10.2
10

DIAMETER
9.8
9.6
9.4
9.2
9
8.8
8.6
0 5 10 15 20 25 30 35 40 45 50 55 60 65
BOBOT

Gambar 2. Kurva Daya Sebar Formula I Replikasi 2

16
14
12
DIAMETER

10
8
6
4
2
0
0 5 10 15 20 25 30 35 40 45 50 55 60 65
BOBOT

Gambar 3. Kurva Daya Sebar Formula I Replikasi 3


90

FORMULA 2 (kadar 12.5 %)


Bobot
Replikasi 1 Replikasi 2 Replikasi 3
(gram)
0 10 cm 10.5 cm 11 cm
5 10.5cm 11.5 cm 12.1 cm
10 11 cm 12 cm 13 cm
15 11.3 cm 12.3 cm 13.5 cm
20 11.5 cm 12.5 cm 14 cm
25 11.5 cm 13.3 cm 14.5 cm
30 11.6 cm 13.3 cm 14.7 cm
35 11.8 cm 13.4 cm 15 cm
40 12 cm 13.4 cm 15.3 cm
45 12 cm 13.4 cm 15.5 cm
50 12.2 cm 15.5 cm
55 12.2 cm 15.5 cm
60 12.2 cm
65
Rata-rata 11.523 12.56 14.13
Nilai SD 0.683 0.998 1.472
91

14
12
10

DIAMETER
8
6
4
2
0
0 5 10 15 20 25 30 35 40 45 50 55 60 65
BOBOT

Gambar 4. Kurva Daya Sebar Formula II Replikasi 1

16
14
12
DIAMETER

10
8
6
4
2
0
0 5 10 15 20 25 30 35 40 45 50 55 60 65
BOBOT

Gambar 5. Kurva Daya Sebar Formula II Replikasi 2

20

15
DIAMETER

10

0
0 5 10 15 20 25 30 35 40 45 50 55 60 65
BOBOT

Gambar 5. Kurva Daya Sebar Formula II Replikasi 3


92

FORMULA 3 (kadar 15 %)
Bobot
Replikasi 1 Replikasi 2 Replikasi 3
(gram)
0 9.1 cm 10 cm 9.8 cm
5 10.7 cm 11 cm 11 cm
10 11.4 cm 11.5 cm 11.5 cm
15 11.9 cm 12 cm 11.9 cm
20 12.3 cm 12.3 cm 12.1 cm
25 12.5 cm 12.5 cm 12.5 cm
30 12.5 cm 12.8 cm 12.6 cm
35 12.6 cm 13 cm 12.9 cm
40 13 cm 13 cm 13 cm
45 13 cm 13.2 cm 13.1 cm
50 13.2 cm 13.4 cm 13.2 cm
55 13.4 cm 13.5 cm 13.4 cm
60 13.4 cm 13.7 cm 13.5 cm
65 13.4 cm 13.7 cm 13.6 cm
70 13.7 cm 13.6 cm
75 13.6 cm
Rata-rata 12.31 12.62 12.58
Nilai SD 1.220 1.095 1.085

15

10
DIAMETER

0
0 5 10 15 20 25 30 35 40 45 50 55 60 65 70 75
93

Gambar 6. Kurva Daya Sebar Formula III Replikasi 1

Replikasi 2
15
DIAMETER

10

0
0 5 10 15 20 25 30 35 40 45 50 55 60 65 70 75
BOBOT

Gambar 7. Kurva Daya Sebar Formula II Replikasi 2

Replikasi 3
15
DIAMETER

10
5
0
0 5 10 15 20 25 30 35 40 45 50 55 60 65 70 75
BOBOT

Gambar 8. Kurva Daya Sebar Formula III Replikasi 3

Lampiran 8. Data Serapan Krim Tabir Surya Formula I (10%)


94

Replikasi 1
Wavelength Absorbance
290 0.908
295 3.436
300 3.436
305 3.436
310 4.000
315 4.000
320 1.193

Replikasi 2
Wavelength Absorbance
290 0.897
295 3.436
300 3.612
305 3.612
310 4.000
315 4.000
320 1.189

Replikasi 3
Wavelength Absorbance
290 0.655
295 3.135
300 3.135
305 3.135
310 3.913
315 3.913
320 0.938
95

Lampiran 9. Data Serapan Krim Tabir Surya Formula II (12,5%)


Replikasi 1
Wavelength Absorbance
290 0.950
295 3.612
300 3.612
305 3.612
310 4.000
315 4.000
320 1.242

Replikasi 2
Wavelength Absorbance
290 0.985
295 3.436
300 3.436
305 3.612
310 4.000
315 4.000
320 1.279

Replikasi 3
Wavelength Absorbance
290 0.682
295 3.135
300 3.135
305 3.214
310 3.913
315 3.913
320 0.968
96

Lampiran 10. Data Serapan Krim Tabir Surya Formula III (15%)
Replikasi 1
Wavelength Absorbance
290 1.170
295 3.913
300 4.000
305 4.000
310 4.000
315 4.000
320 1.485

Replikasi 2
Wavelength Absorbance
290 1.066
295 3.913
300 3.612
305 3.913
310 4.000
315 4.000
320 1.370

Replikasi 3
Wavelength Absorbance
290 0.682
295 3.135
300 3.135
305 3.214
310 4.000
315 3.913
320 0.978
97

Lampiran 11. Cara perhitungan


Perhitungan konsentrasi kuvet 0,02% (200 ppm)
Ditimbang 1 gram krim kedalam labu ukur 100 ml dan larutkan dengan etanol
sampai batas tanda hingga didapatkan konsentrasi larutan:
1 𝑔𝑟𝑎𝑚
= 1% (LIB I)
100 𝑚𝑙

Dipipet 5 ml dari LIB 1 ke dalam labu ukur 50 ml dan diencerkan dengan etanol
96% sampai batass tanda sehingga didapatkan konsentrasi larutan:
5 𝑚𝑙
x 1% = 0,1% (LIB II)
50 𝑚𝑙

Dipipet 5 ml dari LIB II ke dalam labu ukur 25 ml dan diencerkan dengan etanol
96% sampai batass tanda sehingga didapatkan konsentrasi larutan uji:
5 𝑚𝑙
x 1% = 0,02% = 200 ppm
25 𝑚𝑙

Perhitungan nilai SPF dengan metode Mansur et al., (1986) untuk formula 1
SPF = CF ∑290
320 Abs x EE x 1

Formula 1 (10%)
Replikasi 1
- SPF = 10 x {(0,908 × 0,0150) + (3,436 × 0,0817) + (3,436 × 0,2874) +
(3,436 × 0,3278) + (4,000 × 0,1864) + (4,000 × 0,0839) + (1,193 ×
0,0180)}
= 35,1084
Replikasi 2
- SPF = 10 x {(0,897 × 0,0150) + (3,436 × 0,0817) + (3,612× 0,2874) +
(3,612 × 0,3278) + (4,00 × 0,1864) + (4,00 × 0,0839) + (1.189 × 0,0180)}
= 36, 1888
Replikasi 3
- SPF = 10 x {(0,655 × 0,0150) + (3,135 × 0,0817) + (3,135 × 0,2874) +
(3,135 × 0,3278) + (3,913 × 0,1864) + (3,913 × 0,0839) + (0,938×
0,0180)}
= 32,6917
Rata-Rata Nilai SPF Kadar 10 % = (35,1084+36, 1888+32,6917) : 3 = 34,6630
98

Formula 2 (12,5%)
Replikasi 1
- SPF = 10 x {(0,950 × 0,0150) + (3,612 × 0,0817) + (3,612 × 0,2874) +
(3,612 × 0,3278) + (4,00 × 0,1864) + (4,00 × 0,0839) + (1,242 × 0,0180)}
= 36,3500
Replikasi 2
- SPF = 10 x {(0,985 × 0,0150) + (3,436 × 0,0817) + (3,436 × 0,2874) +
(3,612 × 0,3278) + (4,00 × 0,1864) + (4,00 × 0,0839) + (1,279 × 0,0180)}
= 35,7123
Replikasi 3
- SPF = 10 x {(0,682 × 0,0150) + (3,135 × 0,0817) + (3,135 × 0,2874) +
(3,214 × 0,3278) + (3,913 × 0,1864) + (3,913 × 0,0839) + (0,968 ×
0,0180)}
= 32,9602
Rata-Rata Nilai SPF Kadar 15 % = (36,3500+35,7123+32,9602) : 3 = 35,0075
Formula 3 (15%)
Replikasi 1
- SPF = 10 x {(1,170 × 0,0150) + (3,319 × 0,0817) + (4,00 × 0,2874) +
(4,00 × 0,3278) + (4,00 × 0,1864) + (4,00 × 0,0839) + (1,485 × 0,0180)}
= 39,0597
Replikasi 2
- SPF = 10 x {(1,066× 0,0150) + (3,913 × 0,0817) + (3,612 × 0,2874) +
(3,913 × 0,3278) + (4,00 × 0,1864) + (4,00 × 0,0839) + (1,370 × 0,0180)}
=37,6231
Replikasi 3
- SPF = 10 x {(0,682 × 0,0150) + (3,135 × 0,0817) + (3,135 × 0,2874) +
(3,214 × 0,3278) + (4,00 × 0,1864) + (3,913 × 0,0839) + (0,978 ×
0,0180)}
= 33,1241
Rata-Rata Nilai SPF Kadar 15 % = (39,0597+37,6231+33,1241) : 3 = 36,6023
99

Lampiran 12. Hasil Pengukuran Statistik Uji Viskositas

Test of Homogeneity of Variances


VISKOSTAS

Levene Statistic df1 df2 Sig.

6.619 2 6 .030

ANOVA
VISKOSTAS

Sum of Squares df Mean Square F Sig.

14481722222.2 2 7240861111.11 1.316 .336


Between Groups
22 1
33018166666.6 6 5503027777.77
Within Groups
67 8
47499888888.8 8
Total
89

Multiple Comparisons
Dependent Variable: VISKOSTAS
Tukey HSD

(I) FORMULA (J) FORMULA Mean Std. Error Sig. 95% Confidence Interval
Difference (I-J) Lower Bound Upper Bound

FORMULA_2 85833.33333 60569.67216 .391 -100011.0538 271677.7205


FORMULA_1
FORMULA_3 84333.33333 60569.67216 .402 -101511.0538 270177.7205
FORMULA_1 -85833.33333 60569.67216 .391 -271677.7205 100011.0538
FORMULA_2
FORMULA_3 -1500.00000 60569.67216 1.000 -187344.3871 184344.3871
FORMULA_1 -84333.33333 60569.67216 .402 -270177.7205 101511.0538
FORMULA_3
FORMULA_2 1500.00000 60569.67216 1.000 -184344.3871 187344.3871
100

Lampiran 13. Hasil Pengukuran Statistik Uji pH

Test of Homogeneity of Variances


PH

Levene Statistic df1 df2 Sig.

4,508 2 6 ,064

ANOVA
PH

Sum of Squares df Mean Square F Sig.

Between Groups ,111 2 ,056 18,207 ,003


Within Groups ,018 6 ,003
Total ,130 8

Multiple Comparisons

Dependent Variable:PH
(I) F (J) F
95% Confidence Interval
Mean
Difference (I-J) Std. Error Sig. Lower Bound Upper Bound
Tukey HSD FORMULA_1 FORMULA_2 ,02333 ,04513 ,866 -,1151 ,1618
FORMULA_3 -,22333* ,04513 ,006 -,3618 -,0849
FORMULA_2 FORMULA_1 -,02333 ,04513 ,866 -,1618 ,1151
FORMULA_3 -,24667* ,04513 ,004 -,3851 -,1082
FORMULA_3 FORMULA_1 ,22333* ,04513 ,006 ,0849 ,3618
FORMULA_2 ,24667* ,04513 ,004 ,1082 ,3851
Bonferroni FORMULA_1 FORMULA_2 ,02333 ,04513 1,000 -,1250 ,1717
FORMULA_3 -,22333* ,04513 ,008 -,3717 -,0750
FORMULA_2 FORMULA_1 -,02333 ,04513 1,000 -,1717 ,1250
FORMULA_3 -,24667* ,04513 ,005 -,3950 -,0983
FORMULA_3 FORMULA_1 ,22333* ,04513 ,008 ,0750 ,3717
FORMULA_2 ,24667* ,04513 ,005 ,0983 ,3950
*. The mean difference is significant at the 0.05 level.
101

Lampiran 14. Hasil Pengukuran Statistik Uji Daya Sebar

Test of Homogeneity of Variances


DAYA SEBAR

Levene Statistic df1 df2 Sig.

.257 2 6 .782

ANOVA
DAYA SEBAR

Sum of Squares df Mean Square F Sig.

Between Groups .000 2 .000 .058 .944


Within Groups .001 6 .000
Total .001 8

Multiple Comparisons
Dependent Variable: DAYA SEBAR
Tukey HSD

(I) FORMULA (J) FORMULA Mean Std. Error Sig. 95% Confidence Interval
Difference (I-J) Lower Bound Upper Bound

FORMULA_2 -.00220 .00922 .969 -.0305 .0261


FORMULA_1
FORMULA_3 -.00303 .00922 .943 -.0313 .0253
FORMULA_1 .00220 .00922 .969 -.0261 .0305
FORMULA_2
FORMULA_3 -.00083 .00922 .996 -.0291 .0275
FORMULA_1 .00303 .00922 .943 -.0253 .0313
FORMULA_3
FORMULA_2 .00083 .00922 .996 -.0275 .0291
102

Lampiran 15. Hasil Pengukuran Statistik Uji Nilai SPF

Test of Homogeneity of Variances


NILAI SPF

Levene Statistic df1 df2 Sig.

1.068 2 6 .401

ANOVA
NILAI SPF

Sum of Squares df Mean Square F Sig.

Between Groups 6.534 2 3.267 .606 .576


Within Groups 32.369 6 5.395
Total 38.903 8

Multiple Comparisons
Dependent Variable: NILAI SPF
Tukey HSD

(I) FORMULA (J) FORMULA Mean Std. Error Sig. 95% Confidence Interval
Difference (I-J) Lower Bound Upper Bound

FORMULA_2 -.36853 1.89646 .979 -6.1874 5.4503


FORMULA_1
FORMULA_3 -1.96333 1.89646 .584 -7.7822 3.8555
FORMULA_1 .36853 1.89646 .979 -5.4503 6.1874
FORMULA_2
FORMULA_3 -1.59480 1.89646 .694 -7.4137 4.2241
FORMULA_1 1.96333 1.89646 .584 -3.8555 7.7822
FORMULA_3
FORMULA_2 1.59480 1.89646 .694 -4.2241 7.4137
103

Lampiran 16. Dokumentasi Hasil Uji Organoleptis

F1 F2 F3

Replikasi 1

F1 F2 F3

Replikasi 2

F1 F2 F3

Replikasi 3
104

Lampiran 17. Dokumentasi Hasil Tipe Emlusi Metode Pewarnaan Methylene


Blue

F1 F3
F2

Replikasi 1

F1 F2 F3

Replikasi 2

F1 F2 F3

Replikasi 3
105

Lampiran 18. Dokumentasi Hasil Tipe Emlusi Metode Pengenceran dengan


Aquadest

F1 F2 F3

Replikasi 1

F2
F1 F3

Replikasi 2

F1 F2 F3

Replikasi 3
106

Lampiran 19. Dokumentasi Hasil Homogenitas

F1 F3
F2

Replikasi 1

F1 F3
F2

Replikasi 2

F1 F2 F3
Replikasi 3
107

Lampiran 20. Dokumentasi Larutan Uji Nilai SPF

Replikasi 1

Replikasi 2

Replikasi 3
108

Lampiran 21. Dokumentasi Bahan-bahan Krim Tabir Surya

1.Proses peleburan fase


minyak dan fase air 2.Proses pencampuran
fase minyak dan fase air

3.Proses penggerusan didalam


mortar panas ad dingin ad
terbentuk masa krim yang baik
109

Lampiran 22. Daftar F Tabel


110

Lampiran 23. Basf.simulator