Anda di halaman 1dari 4

C.

Kritik terhadap Al-Ghazali

Al-Ghazali tidak percaya pada falsafat, bahkan memandang filosof-filosof sebagai ahl al-
bida’yaitu tersesat dalam beberapa pendapat mereka. Di dalamTahafut al-Fasafilah, Al-Ghazali
menyalahkan filosof-filosof dalam pendapat-pendapat berikut.

a. Tuhan tidak mempunyai sifat

b. Tuhan mempunyai substansi basit dan tidak mempunyai mahiyah

c. Tuhan tidak mengetahui juz’iyat[13]

d. Tuhan tidak dapat diberi sifat al-jins dan al-fasl

e. Planet-planet adalah bintang yang bergerak dengan kemauan

f. Jiwa planet-planet mengetahuisemua juz’iyat

g. Hukum alam tidak dapat berubah

h. Pembangkitan jasmani tidak ada

i. Alam ini tidak bermula

j. Alam ini akan kekal.[14]

Al-Ghazali membuat kritikan yang sangat tajam terhadap filsafat karena dianggap telah
melenceng dari ajaran agama Islam. Oleh sebab itu, Al-Ghazali kemudian mengkafirkan sebagian
filosof yang memilki pendapat sesuai dengan tiga hal yang dikritiknya. Kritik Al-Ghazali ini
kemudian dianggap sebagai sebab matinya pemikiran filsafat pada masa berikutnya.

Tiga dari kesepuluh diatas pendapat, menurut Al-Ghazali membawa pada kekufuran yaitu:

1) Alam kekal dalam arti tidak bermula

2) Tuhan tak mengetahui perincian dari apa-apa yang terjadi di alam

3) Pembangkitan jasmani tak ada[15]

Untuk itu Ibnu Rusyd mengadakan pembelaan terhadap para filosof, dengan membuat
kritik terhadap Al-Ghazali. Jawaban Ibnu Rusyd terhadap kritik Al-Ghazali memuat tiga hal, yaitu:

1. Masalah Alam Qadim/ Kekekalan Alam

Salah satu persoalan yang menjadi pembahasan dalam filsafat islam ialah masalah
keqadiman alam. Apakah alam ini bersifat qadim (eternal) dalam arti tidak berawal dalam
penciptaannya atukah bersifat baru (temporal) yakni diciptakan dari tiada (creatio ex nihilo).
Dalam sejarah pemikiran filsafat, bahwa alam itu bersifat qadim, sudah lama dikenal. Di
kalangan filosof Yunani, misalnya Aristoteles berpendapat bahwa alam itu bersifat qadim
dalam arti tidak ada awalnya. Dan dari pemikir islam, misalnya al-Farabi dan Ibn Sina.
Pendapat bahwa alam itu qadim mendapat kritikan serius dari al-Ghazali. Ia mengkritik
pendapat filosof yang mengatakan bahwa alam itu bersifat qadim, bahkan ia menganggap
kafir para filosofis yang mempunyai pendapat yang demikian. Menurut pendapat al-Ghazali
mengatakan bahwa alam itu ada karena kehendak penciptanya yaitu Tuhan. Sebelum alam itu
ada, Tuhan yang berkehendak akan adanya alam, lalu alam diciptakan dari tiada. Karena alam
itu mustahil bersifat qadim.

Kritikan al-Ghazali terhadap pemikiran filosof tentang keqadiman alam dan pengafiran
mereka dikritik oleh Ibn Rusyd dalam bukunyaTahafut al-Tahafut. Menurut Ibn Rusyd bahwa
pemikiran al-Ghazali tidak sejalan dengan kandungan al-Qur’an. Didalam al-Qur’an dikatakan
bahwa sebelum alam diciptakan oleh Tuhan, telah ada sesuatu sebelumnya. Misalnya dalam
QS. Hud ayat 7:

ِ ‫علَى ْال َم‬


‫اء‬ َ ُ ‫شه‬ َ ‫ت َو ْاْلَ ْر‬
َ َ‫ض فِ ْي ِست َّ ِة اَي ٍَّام َو َكان‬
ُ ‫ع ْر‬ ِ ‫سمو‬ ْ ‫َو ُه َو الَّذ‬
َّ ‫ِي َخلَقَ ال‬
“Dan Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam hari dan Arsy-Nya (pada waktu
itu) berada di atas air”.

Ayat ini memberikan gambaran bahwa ketika Tuhan menciptakan langit dan bumi telah ada
terlebih dahulu disamping Tuhan tahta dan air.[16]

Dengan demikian, menurut Ibn Rusyd bahwa pendapat yang mengemukakan alam
diciptakan dari tiada tidak sesuai dengan kandungan al-Qur’an. Menurut Ibn Rusyd,
kata khalaqa di dalam al-Qur’an menggambarkan penciptaan bukan dari tiada sebagaimana
yang dikemukakan al-Ghazali. Pemkiran ini sejalan dengan penjelasan di dalam QS Al-
Mu’minun: 12

“Dan sungguh, Kami telah menciptakan manusia dari intisari tanah”. Penjelasan ini memberi
gambaran bahwa manusia bukan diciptakan dari tiada melainkan dari ada yaitu intisari tanah.

Para filosof memang tidak menerima konsep penciptaan alam dari tiada. Tiada tidak dapat
berubah menjadi ada. Yang terjadi ialah ada dalam bentuk materi asal yang diubah oleh Tuhan
menjadi ada dalam bentuk lain, misalnya langit dan bumi. Karena itu yang qadim adalah materi
asal sedangkan langit dan bumi susunannya adalah baru.[17]

2. Masalah Tuhan Tidak Mengetahui yang Juz’iyat

Para filosof mempunyai pemikiran bahwa pengetahuan Tuhan bersifat global atau
universal (kulliy), tidak mencakup rician (juz’iy). Konsep ini tidak terlepas dari pemahaman
bahwa yang rincian (juz’i) terikat dengan perubahan misalnya perubahan waktu dari segi masa
lalu, masa sekarang dan masa yang akan datang, serta perubahan dari segi tahu misalnya tidak
tahu, tahu, dan akan tahu. Bila ilmu Tuhan dikaitkan dengan hal yang demikian maka akan
menimbulkan pengertian bahwa Tuhan akan mengalami perubahan. Hal ini mustahil bagi
Tuhan. Konsep filosof seperti ini mendapat kritikan dari al-Ghazali, karena bagi al-Ghazali
bahwa Tuhan Maha Kuasa dan Maha Mengetahui, sehingga Tuhan mengetahui segala
sesuatu.[18]
Ibnu Rusyd menjawab bahwa para filosof tidak mungkin berpandapat demikian. Oleh
karena itu, Ibnu Rusyd beranggapan bahwa Al-Ghazali keliru dalam menyimpulkan pendapat
para filosof. Karena yang demikian itu tidak pernah dikatakan oleh para filosof. Yang dikatakan
oleh para filosof, menurut Ibnu Rusyd adalah bahwa pengetahuan Tuhan tentang perincian
yang terjadi di alam ini tidak sama dengan pengetahuan manusia tentang perincian itu.[19] Ia
menjelaskan bahwa para filosof tidak membantah bahwa Tuhan mengetahui keragaman
makhluk-makhluk secara partikular. Hanya, bentuk (mode) pengetahuan tidak sama dengan
bentuk pengetahuan kita. Para filosof umumnya berpendapat bahwa pengetahuan Tuhan
tidak sama dengan bentuk pengetahuan kita. Para filosof umunya berpendapat bahwa
pengetahuan adalah sebab bagi keberdaan objek-objek itu. Sebaliknya, pengetahuan kita
adalah akibat dari keberadaan objek-objek yang diketahui (ma’lum) itu. Dengan perkataan
lain, melalui tidak mengetahui itu, Tuhan menciptakan segala sesuatu, sedangkan semua
pengetauan kita bergantung pada keberadaan segala sesuatu yang berada di luar diri kita
(external object).[20]

Ilmu manusia berbeda dengan ilmu Tuhan secara esensial. Manusia mengetaui karena ada
objek dan pengetahuan itu berbubah karena perubahan objek, sedangkan ilmu Tuhan
merupakan sebab bagi adanya sesuatu sehingga sesuatu tidak akan terjadi jika Tuhan tidak
mengetahui sejak azali.

3. Masalah Tuduhan bahwa Para Filosof Mengingkari Adanya Hari Kebangkitan Jasmani

Ibnu Rusyd balas menuduh Al-Ghazali telah mengatakan hal-hal yang saling bertentangan. Di
dalamTahafut al-Falasifah, tidak ada orang Islam yang mengatakan bahwa kebangkitan akan terjadi
hanya dalam bentuk rohani. Pernyataan ini, menurut Ibnu Rusyd, bertentangan dengan beliau tidak
menyebutkan nama buku/kitab yang dimaksudkan. Dalam buku itu Al-Ghazali menyebut bahwa
kebangkitan bagi kaum sufi, akan terjadi hanya dalam bentuk rohani dan tidak dalam bentuk jasmani.
Oleh karena itu, tidak terdapat ijma’ ulama tentang kebangkitam di hari kiamat. Dengan demikian.
Kaum filosof yang berpendapat bahwa pembangkitan jasmani itu tidak ada tidaklah dapat
dikafirkan.[21]

“Kebangkitan kembali”, tulis Ibn Rusyd, “telah dinyatakan oleh ajaran agama (syara’i) dan
dibuktikan secara demonstratif oleh para filosof.” Para filosof bersepakat bahwa manusia harus
tunduk pada ajaran-ajaran agama dan prinsip-prinsip yang disampaikan oleh para nabi, terutama
menyangkut perbuatan baik dan amal ibadah.

Kebangkitan kembali manusia setelah mati, yang memungkinkan tegaknya hukum atau
terlaksananya sanksi, merupakan ajaran yang tidak bisa dipersoalkan lagi. Satu-satunya perbedaan
antara para filosof dan kaum teolog dalam masalah ini hanyalah menyangkut “cara” kebangkitan
tersebut. para filosof berpihak pada kebangkitan spiritual (ma’ad ruhani), sedangkan para teolog
berpihak pada kebangkitan jasmani.[22]

Sungguhpun demikian, Ibnu Rusyd berpendapat bahwa bagi orang awam soal pembangkitan
itu perlu digambarkan dalam bentuk jasmani dan tidak dalam bentuk rohani, karena pembangkitan
jasmani akan mendorong mereka untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang baik dan menjauhi
perbuatan-perbuatan maksiat.[23]