Anda di halaman 1dari 20

Membangun Bangsa dengan Etika dan

Moral Pancasila
Eksistensi sebuah bangsa dapat diukur dari sejauh mana bangsa itu mampu memberikan
kontribusi yang nyata bagi kemajuan peradaban dunia. Peradaban yang maju adalah produk
dari bangsa yang maju, yang didalamnya terdapat masyarakat yang memiliki pola pikir dan
perilaku yang maju pula.

Setiap bangsa pasti memiliki adat istiadat, kebudayaan, bahasa, serta sistem kepercayaan
yang berbeda-beda antar satu dan lainnya. Meskipun berbeda, nilai-nilai dasar yang dijadikan
pedoman bagi setiap bangsa pada umumnya adalah nilai-nilai yang hampir sama. Yaitu:
sebuah nilai luhur yang berimplikasi positif bagi kemajuan umat manusia. Tak ada satupun
bangsa didunia ini yang berpedoman pada sebuah nilai yang bertentangan dengan nilai-nilai
kemanusian (nilai Universal).

Sebuah bangsa bisa disebut sebagai bangsa yang maju dan kuat apabila nilai-nilai dasar yang
menjadi pedomannya benar-benar termanifestasi dalam perilaku sehari-hari. Sehingga dalam
kehidupan berbangsa tidak ada lagi perilaku penyimpangan, penyelewengan, penjajahan,
diskriminasi dan perilaku-perilaku negatif lainnya.

Namun, dewasa ini bangsa Indonesia seolah sedang berada pada posisi yang sangat rapuh.
Berbagai permasalahan kian menjamur mengotori bangsa ini. Hampir disetiap lini dan sektor
kehidupan tidak luput dari permasalahan. Yang kesemuanya itu sudah berada pada kondisi
yang sangat kronis.

Krisis Moral dan Etika

Berbagai persoalan dan kerusakan yang ada saat ini sesungguhnya disebabkan oleh kondisi
moral dan etika masyarakat yang sudah mengalami kemerosotan. Kerapuhan moral dan etika
bangsa ini makin terlihat jelas tatkala persoalan demi persoalan bangsa semakin hari bukan
semakin hilang, tapi justru semakin meningkat tajam. Mulai dari kasus kekerasan antar
kelompok, ketidakadilan sosial dan hukum, hingga budaya korup penguasa yang makin
menggurita.

Kerapuhan ini telah menjalar kesemua lapisan masyarakat. Pelajar yang seharusnya
dipersiapkan guna menjadi insan dan calon pemimpin masa depan ternyata lebih suka
tawuran daripada belajar di bangku sekolah. Mahasiswa yang semestinya bertindak sebagai
penjaga nilai-nilai moral dan etika bangsa, ternyata terjebak dalam budaya hedonis dan
westernism yang tak jarang terjerumus dalam pergaulan bebas. Guru-guru dan pengajar yang
seharusnya menjadi suri tauladan bagi anak didiknya, ternyata sibuk mengejar sertifikasi
yang akhirnya berujung pada gaya hidup yang materialistis.

Para penyelenggara negara pun tak kalah lebih parah. Korupsi makin hari makin menggurita,
penegakan hukum makin tak terarah. Kasus demi kasus bertumpuk seperti sampah yang
sangat menjijikkan. Masyarakat setiap hari harus dihadapkan pada tontonan ketidakjujuran
para penyelenggara negara.
Jika harus mengurai permaslah kemerosotan bangsa ini satu demi satu, sungguh terlalu rumit
dan panjang. Bahkan lebih rumit daripada harus mengurai benang kusut.

Moral dan Etika Pancasila

Bagaimanapun kondisi kerapuhan bangsa ini harus segera dicarikan solusi dan dihentikan.
Oleh karenanya, diperlukan upaya serius untuk mengembalikan etika dan moral bangsa agar
bisa kembali pada nilai-nilai yang luhur. Dan untuk itu, diperlukan sebuah patokan nilai yang
bisa diterima oleh seluruh elemen bangsa yang majemuk ini. Sebuah nilai yang tidak bias dan
ambigu, melainkan nilai yang mampu mengakomodir seluruh ide-ide masyarakat.

Mengembalikan moral dan etika ditengah-tengah kondisi bangsa mejemuk yang sudah rapuh
memang bukan perkara mudah. Butuh perjuangan keras untuk mewujudkannya.

Dewasa ini, agama disebut-sebut sebagai alat yang ampuh untuk mengembalikan moral dan
etika masyarakat dalam berkehidupan berbangsa dan bernegara. Dalam hal ini Islam tentunya
harus menjadi garda depan pelurus moral dan etika yang menyimpang. Sebab, Islam adalah
agama yang diatut oleh mayoritas penduduk Indonesia.

Akan tetapi, jika melihat kondisi bangsa indonesia yang majemuk dan multi etnis,
menjadikan agama sebagai satu-satunya alat kendali bukanlah solusi final. Sebab, antara
ajaran agama yang satu dengan ajaran agama yang lain secara praktis memiliki banyak
perbedaan. Untuk itu, diperlukan upaya lanjutan untuk menginterpresikan nilai-nilai agama
dalam sebuah kodifikasi nilai-nilai dasar yang bersumber dari ajaran-ajaran agama-agama.
Yang nantinya nilai-nilai itu dapat diterima oleh seluruh lapisan masyarakat dengan tanpa
paksaan.

Dalam kontek ke-Indonesiaan, sebenarnya kodifikasi nilai-nilai itu sudah ada, yakni
“Pancasila”. Pancasila adalah sebuah ideologi khas ke-Indonesiaan yang nilai-nilai
didalamnya adalah intisari ajaran semua kepercayaan. Selain itu, spirit-spirit yang terkandung
didalamnya adalah spirit kemanusian yang luhur. Untuk itulah, pengamalan etika dan moral
pancasila dalam konteks ini menjadi penting.

Pancasila merupakan sebuah rumusan yang diambil dari nilai-nilai kebaikan serta
kemanusiaan universal. Pancasila tidak memihak pada salah satu agama atau suku tertentu.
Didalamnya terdapat nilai-nilai yang mampu diterima oleh semua lapisan masyarakat.

Moral dan etika adalah hal yang sangat krusial. Keberadaannya menjadi penentu baik atau
buruk sebuah bangsa. Jika moral dan etika masyarakatnya rusak, maka rusak pula kehidupan
berbangsa dan bernegaranya. Begitu juga sebaliknya.Peran moral dan etika dalam
pembangunan bangsa bagaikan peran hati bagi diri manusia. Jika hati rusak maka rusak
seluruhnya.

Untuk itu, agar bangsa ini terlepas dari belenggu-belenggu ketidakadilan, korupsi, dan
perilaku tidak terpuji lainnya. Maka pembanguan moral dan etika pancasila harus selalu
dioptimalkan. Karena tidak mungkin mampu mewujudkan bangsa yang beradab jika moral
dan etika masyarakatnya rusak.
sumber : http://www.berdikarionline.com/kabar-rakyat/20120716/membangun-bangsa-
dengan-etika-dan-moral-pancasila.html
Keluarga yang Membangun Bangsa

Peran Fungsi Keluarga dalam Membangun Moral Bangsa

Peranan keluarga dalam membangun moral bangsa terhadap individu masyarakat, keluarga
merupakan bagian dari masyarakat, masyarakat sangat berperan penting membentuk Negara.
Dengan maksud lain keluarga sangat berperan penting membangun karakteristik individu.

Meninjau banyaknya kasus pelanggaran moral dan etika diindonesia seperti kasus korupsi
pejabat Negara, sex bebas dibawah umur, tawuran antar pelajar, pembunuhan anggota keluarga,
pemerkosaan terhadap anak dibawah umur, kekerasan dalam lingkungan sekolah, dan tingkat
kejahatan yang meningkat. Seharusnya kasus-kasus kejahatan tersebut tidak akan terjadi jika peran
fungsi keluarga berjalan sesuai dengan fungsi yang diperlukan untuk membangun moral bangsa
terutama pemuda yang akan memimpin bangsa nantinya.

Menurut Depkes Ri tahun 1998 keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat yang terdiri
atas keluarga dan beberapa orang yang tinggal disatu tempat dalam keadaan saling bergantungan.
Fungsi keluarga dalam sosialisasi, membina sosial pada anak, membina norma-norma tingkah laku
sesuai dengan tingkah perkembangan anak. Jika suatu fungsi tersebut dijalankan dengan baik maka
sebenarnya dapat mengatasi masalah pembangunan moral bangsa.

Tetapi seringkali terjadi kelalaian dalam berkomunikasi, seperti kurangnya perhatian dari
orang tua dampaknya akan mempengaruhi anak dilingkungan luar. Apalagi diabad 21 ini teknologi
semakin cepat berkembang, internet misalnya jika anak tidak dibimbing menggunakan internet
banyak dampak negative yang akan terjadi contohnya kecanduan bermain game online, membuka
situs dewasa yang benggambarkan pornografi. Perlunya bekal anak dalam menghadapi masa depan
sangatlah penting. Seperti pendidikan yang baik, aqidah yang baik, nilai agama yang akan menjadi
pedoman nantinya.

Pembangunan karakter yang dapat membangun moral tidak terhindar dari peranan
keluarga. Karena keluarga sebagai komponen utama yang saling berhubungan dengan komponen
lain, keluarga pencipta sosok individual seseorang dalam membangun moral bangsa.

Saran dari saya yang sifatnya membangun moral bangsa. keluarga harus mendukung penuh
suatu individu seseorang untuk hal-hal positif. Pentingnya komunikasi yang baik menciptakan
keharmonisan dalam berkeluarga yang akan membangun moral dan dapat meningkatkan derajat
Negara kita di mata dunia.

Sumber : http://doubledparadise.blogspot.com/2012/11/keluarga-yang-membangun-
bangsa.html
Peran Fungsi Keluarga dalam Membangun Moral Bangsa

Peran Fungsi Keluarga dalam Membangun Moral Bangsa

Keluarga merupakan institusi terkecil dalam masyarakat. Masyarakat adalah unit yang membentuk
negara. Oleh karena itu, keluarga sangat berperan penting dalam pembentukan setiap karakter
individu. Karakter merupakan kunci bagi sumber daya manusia yang berkualitas. Sehingga,
pendidikan karakter sejak usia dini merupakan hal yang penting.

Berbagai masalah yang dihadapi di negara kita salah satunya diakibatkan oleh adanya krisis
karakter para pejabat negara. Misalnya saja kasus korupsi. Tidak hanya masalah pejabat negara
dengan kasus korupsinya saja, namun juga masalah generasi muda bangsa yang nampaknya sudah
jauh dari perilaku baik. Sebut saja tauran antar pelajar, sex pra nikah atau bahkan hal terkecil seperti
menyontek, berlaku tidak sopan dengan teman, orang tua maupun guru dan berbicara tidak baik.

Padahal semestinya masalah tersebut tidak akan terjadi jika keluarga melakukan fungsinya dengan
benar. Semakin hari, dapat terlihat bahwa hancurnya nilai luhur yang terkandung dalam keluarga.
Fungsi keluarga menurut Effendi 1998 khususnya fungsi psikologis adalah memberikan perhatian
diantara anggota keluarga, memberikan pendewasaan kepribadian anggota keluarga dan
memberikan identitas keluarga. Fungsi pendidikan yaitu salah satunya adalah mempersiapkan anak
untuk kehidupan dewasa yang akan datang dalam memenuhi peranannya dalam kehidupan dewasa,
serta fungsi sosialisasi yaitu membentuk norma tingkah laku sesuai dengan perkembangan anak.
Sebenarnya, bila keluarga melakukan fungsinya dengan baik, maka semua masalah yang terkait
dengan krisis karakter akan terselesaikan.

Namun, keluarga seringkali melewatkan begitu saja fase kritis dalam pembentukan sikap moral anak.
Kadangkala orang tua tidak memikirkan bagaimana perkembangan moral anaknya sehingga tidak
terlalu fokus dalam membentuk karakter anak agar menjadi seorang pribadi yang berkualitas di
masa yang akan datang.

Dengan tuntutan globalisasi dan perkembangan teknologi saat ini, komunikasi antar anggota
keluarga terkadang sangat sulit dilakukan. Dengan kesibukan orang tua yang bekerja, seringkali
keluarga hanyalah tempat untuk menginap saja. Tidak ada pendidikan dan sosialisasi yang diberikan
orang tua kepada anaknya. Sekarang, juga banyak kasus perceraian yang dapat berdampak buruk
terhadap anak. Anak broken home rentan sekali terbawa arus negatif pergaulan, apalagi anak
tersebut adalah anak remaja.

Media, khususnya media televisi juga dapat menyumbang dampak negatif dalam pengembangan
karakter individu. Sebagian besar pasti setiap keluarga mempunyai televisi di rumahnya. Sehingga
dampak yang diberikan oleh media siaran ini bisa cukup besar. Sekarang ini, sulit sekali menemukan
tayangan-tayangan yang bermanfaat khususnya tayangan untuk anak. Terkadang, tayangan untuk
anak tersebut sebenarnya tidak cocok bila ditonton oleh anak kecil. Bila tidak ada perhatian orang
tua secara khusus terhadap hal ini, anak pun dapat terkena dampak yang negatif.

Penanaman spiritual pada anak sejak dini juga penting dalam membangun karakternya. Misalnya
saja, anak diajarkan mengaji atau diberiahu tentang aturan-aturan agama dan mulai belajar
menerapkannya. Agar, saat ia remaja atau dewasa, sudah ada pengetahuan dan tertanam dalam
dirinya perilaku apa saja yang baik dan benar. Sehingga orang tua tidak akan khawatir bila anaknya
jauh dari mereka karena pribadinya sudah terbentuk sikap yang baik. Seperti menurut Ratna
Megawangi, bahwa dalam pembentukan karakter, ada tiga hal yang berlangsung secara
terintegrasi. Pertama, anak mengerti baik dan buruk, mengerti tindakan apa yang harus diambil,
mampu memberikan prioritas hal-hal yang baik. Kemudian, mempunyai kecintaan terhadap
kebajikan, dan membenci perbuatan buruk. Misalnya anak tidak mau berbohong karena berbohong
itu hal yang buruk . Ketiga, anak mampu melakukan kebajikan, dan terbiasa melakukannya.

Oleh karena itu, pembangunan karakter tidak dapat terlepas dari keluarga, sekolah dan lingkungan
sekitar individu tersebut. Keluarga merupakan hal yang terpenting, karena keluarga ibarat akar yang
menentukan akan menjadi apa dan bagaimana seorang individu tersebut. Bila keluarga menjalankan
fungsinya dengan baik, maka individu-individu yang dilahirkan akan mempunyai moral dan karakter
yang baik sehingga dapat membentuk sumber daya manusia yang berkualitas. Bukan tidak mungkin
bila negara kita dapat terlepas dari berbagai masalah krisis moral karena disusun oleh masyarakat
yang mempunyai keluarga yang berfungsi dengan baik

Sumber : http://ramavalde92.blogspot.com/2012/11/peran-fungsi-keluarga-dalam-
membangun.html
MEMBANGUN PERADABAN BANGSA
DENGAN PENDIDIKAN
BERKARAKTER MORAL

Dr. M. Ghazali Bagus Ani Putra, psi*

author note: untuk pengembangan ilmu pengetahuan, silahkan bagian dari artikel ini boleh
dikutip dengan mencantumkan sumbernya.

I. Pendahuluan

Dunia memang sedang mencari keseimbangan. Ditengah maraknya fenomena perilaku


amoral yang melibatkan peserta didik sebagai pelakunya, seperti seks pra-nikah, video porno,
penyalahgunaan NAPZA dan minuman keras, tawuran, kekerasan perploncoan, penghinaan
guru dan sesama murid melalui facebook. Bahkan kasus-kasus korupsi, kolusi dan manipulasi
yang prevalensinya banyak melibatkan orang-orang terdidik dan terpelajar. Hal ini menjadi
tamparan keras bagi dunia pendidikan yang idealnya melahirkan generasi-generasi terdidik
dan beretika sekaligus menjadi musuh utama fenomena-fenomena perilaku amoral tersebut.

Mungkin hal inilah yang menjadi kekhawatiran para tokoh-tokoh dunia, seperti Mahatma
Gandhi yang memperingatkan tentang salah satu tujuh dosa fatal, yaitu “education without
character”(pendidikan tanpa karakter). Begitu pula, Dr. Martin Luther King yang pernah
berkata: “Intelligence plus character….that is the goal of true education” (Kecerdasan plus
karakter….itu adalah tujuan akhir dari pendidikan sebenarnya). Juga Theodore
Roosevelt yang mengatakan: “To educate a person in mind and not in morals is to educate a
menace to society” (Mendidik seseorang dalam aspek kecerdasan otak dan bukan aspek
moral adalah ancaman mara-bahaya kepada masyarakat). Bahkan pendidikan yang
menghasilkan manusia berkarakter ini telah lama didengung-dengungkan oleh pandita
pendidikan Indonesia, Ki Hajar Dewantara, dengan pendidikan yang berpilar kepada Cipta,
Rasa dan Karsa. Bermakna bahwa pendidikan bukan sekedar memberikan pengetahuan
(knowledge) tetapi juga mengasah afeksi moral sehingga menghasilkan karya bagi
kepentingan ummat manusia.

Berdasarkan latar belakang fenomena dan pendapat para tokoh inilah, dunia pendidikan saat
ini mencoba mengevaluasi sistem pembelajarannya untuk menghasilkan manusia berkarakter.
Proses pencarian jati diri sistem pendidikan, khususnya di Indonesia inilah yang merupakan
arah untuk mencapai keseimbangan atau kondisi homeostatic yang relatif sebagaimana setiap
manusia mempunyai keinginan untuk mencapainya. Di sinilah peran sekolah dan guru
sebagai institusi pendidikan formal sebagai posisi yang ‘tertantang’ dalam menghadapi
fenomena yang berkaitan dengan globalisasi dan degradasi moral.
II. Pemahaman Istilah

Secara etimologis, istilah karakter berasal dari bahasa Yunani, yaitu kharaseein, yang
awalnya mengandung arti mengukir tanda di kertas atau lilin yang berfungsi sebagai pembeda
(Bohlin, 2005). Istilah ini selanjutnya lebih merujuk secara umum pada bentuk khas yang
membedakan sesuatu dengan yang lainnya. Dengan demikian, karakter dapat juga
menunjukkan sekumpulan kualitas atau karakteristik yang dapat digunakan untuk
membedakan diri seseorang dengan orang lain (Timpe, 2007).

Perkembangan berikutnya, pengetahuan tentang karakter banyak dipelajari pada ilmu-ilmu


sosial. Dalam filsafat misalnya, istilah karakter biasa digunakan untuk merujuk dimensi
moral seseorang. Salah satu contoh adalah ilmuwan Aristoteles yang sering menggunakan
istilah ēthē untuk karakter yang secara etimologis berkaitan dengan “ethics” dan “morality”.
Adapun ahli psikologi pun banyak yang mengajukan definisi karakter dari berbagai
pendekatan. Ada yang menggunakan istilah karakter pada area moral saja, ada juga yang
memakainya pada domain moral dan nonmoral. Menurut Hasting et al. (2007), karakter
mempunyai domain moral dan nonmoral. Karakter berdomain moral ialah semua perilaku
yang merujuk kepada hubungan interpersonal atau hubungan dengan orang lain. Contohnya,
kasih sayang, empati, loyal, membantu dan peduli dengan orang lain (sifat-sifat feminis).
Sedangkan karakter berdomain nonmoral adalah semua perilaku yang merujuk kepada
pengembangan sifat-sifat dalam diri atau intrapersonal. Contohnya, disiplin, jujur,
bertanggung jawab, pantang menyerah dan percaya diri (sifat-sifat maskulin). Baik karakter
berdomain moral maupun nonmoral tersebut mempunyai tujuan yang sama, yaitu untuk
membentuk kepribadian yang peka terhadap kepentingan sosial (prososial).

Karakter juga terkadang dipandang sebagai kepribadian dan/atau lebih bersifat perilaku.
Banyak ilmuwan psikologi yang mengabaikan fungsi kognitif pada definisi mereka mengenai
karakter, namun ada juga yang lebih bersifat komprehensif. Bahkan ada ilmuwan yang
menyatakan bahwa karakter merupakan suatu konstruksi sosial. Menurut ahli konstruksi
sosial, karakter seseorang dipengaruhi oleh lingkungan sosialnya. Hal ini akan dijelaskan
lebih lanjut dalam perkembangan moral pada manusia.

Salah satu definisi karakter yang cukup lugas dikemukakan oleh Berkowitz (2002), yaitu
sekumpulan karakteristik psikologis individu yang mempengaruhi kemampuan seseorang dan
membantu dirinya untuk dapat berfungsi secara moral. Dikarenakan sifat karakter yang
plural, maka beberapa ahli pun membagi karakter itu ke dalam beberapa kategori. Peterson
dan Seligman (2004) mengklasifikasikan kekuatan karakter menjadi 6 kelompok besar yang
kemudian menurunkan 24 karakter, yaitu kognitif (wisdom and knowledge), emosional
(courage/kesatriaan), interpersonal (humanity), hidup bersama (justice), menghadapi dan
mengatasi hal-hal yang tak menyenangkan (temperance), dan spiritual (transcendence). Di
Indonesia, sebuah lembaga yang bernama Indonesia Heritage Foundation merumuskan nilai-
nilai yang patut diajarkan kepada anak-anak untuk menjadikannya pribadi berkarakter.
Megawangi (dalam http://ihfkarakter.multiply.com/journal) menamakannya “9 Pilar
Karakter”, yakni cinta Tuhan dan kebenaran; bertanggung jawab, kedisiplinan, dan mandiri;
mempunyai amanah; bersikap hormat dan santun; mempunyai rasa kasih sayang, kepedulian,
dan mampu kerja sama; percaya diri, kreatif, dan pantang menyerah; mempunyai rasa
keadilan dan sikap kepemimpinan; baik dan rendah hati; mempunyai toleransi dan cinta
damai.
Sedangkan pemahaman moral sendiri menurut Damon (1988) adalah aturan dalam
berperilaku (code of conduct). Aturan tersebut berasal dari kesepakatan atau konsesus sosial
yang bersifat universal. Moral yang bermuatan aturan universal tersebut bertujuan untuk
pengembangan ke arah kepribadian yang positif (intrapersonal) dan hubungan manusia yang
harmonis (interpersonal). Lebih lanjut, Nucci & Narvaes (2008) menyatakan bahwa moral
merupakan faktor determinan atau penentu pembentukan karakter seseorang. Oleh karena itu,
indikator manusia yang berkarakter moral adalah:

(1) Personal improvement; yaitu individu yang mempunyai kepribadian yang teguh
terhadap aturan yang diinternalisasi dalam dirinya. Dengan demikian, ia tidak mudah goyah
dengan pengaruh lingkungan sosial yang dianggapnya tidak sesuai dengan aturan yang
diinternalisasi tersebut. Ciri kepribadian tersebut secara kontemporer diistilahkan sebagai
integritas. Individu yang mempunyai integritas yang tinggi terhadap nilai dan aturan yang dia
junjung tidak akan melakukan tindakan amoral. Sebagai contoh, individu yang menjunjung
tinggi nilai agamanya tidak akan terpengaruh oleh lingkungan sosial untuk mencontek,
manipulasi dan korupsi.

(2) Social skill; yaitu mempunyai kepekaan sosial yang tinggi sehingga mampu
mengutamakan kepentingan orang lain. Hal ini ditunjukkan dengan hubungan sosialnya yang
harmonis. Setiap nilai atau aturan universal tentunya akan mengarahkan manusia untuk
menjaga hubungan baik dengan orang lain. Contohnya, individu yang religius pasti akan
berbuat baik untuk orang lain atau mengutamakan kepentingan ummat.

(3) Comprehensive problem solving; yaitu sejauhmana individu dapat mengatasi konflik
dilematis antara pengaruh lingkungan sosial yang tidak sesuai dengan nilai atau aturan
dengan integritas pribadinya terhadap nilai atau aturan tersebut. Dalam arti, individu
mempunyai pemahaman terhadap tindakan orang lain (perspektif lain) yang menyimpang
tetapi individu tersebut tetap mendasarkan keputusan/sikap/ tindakannya kepada nilai atau
aturan yang telah diinternalisasikan dalam dirinya. Sebagai contoh, seorang murid yang tidak
mau mengikuti teman-temannya mencontek saat tidak diawasi oleh guru karena ia tetap
menjunjung tinggi nilai atau aturan yang berlaku (kejujuran). Meskipun sebenarnya ia
mampu memahami penyebab perilaku teman-temannya yang mencontek. Keluwesan dalam
berfikir dan memahami inilah dibutuhkan untuk menilai suatu perbuatan tersebut benar atau
salah.

Terminologi pendidikan memang berbeda dengan pengajaran. Perbedaan tersebut terletak


pada ranah yang ‘disentuh’ oleh pendidikan dan pengajaran. Dalam terminologi pengajaran
maka guru hanya memberikan ilmu sebatas dalam ranah pengetahuan (cognitive) kepada
muridnya. Sedangkan dalam terminologi pendidikan maka guru memberikan ilmu dalam
ranah pengetahuan (cognitive), perasaan (affective), sikap (attitude) dan tindakan (action).
Hal tersebut sebenarnya berdasarkan pemikiran filosofis dari Aristoteles (filusuf Yunani)
yang mempunyai prinsip soul & body dualism, yaitu manusia hakikatnya terdiri dari dua
elemen dasar, yaitu rohani dan ragawi. Oleh karena itu, pendidikan tidak hanya memberikan
‘asupan’ untuk raga (dalam hal ini direpresentasikan dengan otak) tetapi juga ‘asupan’ untuk
rohani berupa moralitas untuk menentukan sikap baik-buruk atau benar-salah.

Berdasarkan paparan pemahaman istilah di atas maka pemakalah mencoba mendefinisikan


pendidikan berkarakter moral sebagai proses transfer pengetahuan, perasaan, penentuan
sikap dan tindakan terhadap fenomena berdasarkan nilai atau aturan universal sehingga
peserta didik mempunyai kepribadian yang berintegritas tinggi terhadap nilai atau aturan
tersebut dan mampu melakukan hubungan sosial yang harmonis tanpa mengesampingkan
nilai atau aturan yang ia junjung tinggi tersebut. Sehingga pendidikan berkarakter moral ini
dapat membantu peserta didik memahami kebaikan, mencintai kebaikan dan menjalankan
kebaikan (know the good, love the good, and do the good). Dengan demikian, karakter
sebagai pembeda antara orang terdidik dengan orang yang tidak terdidik terlihat dengan jelas
dari tiga indikator output yang telah disebutkan. Oleh karena itu, pemakalah mempunyai
perspektif yang berbeda dengan Hasting et al. (2007) yang membedakan karakter moral dan
nonmoral. Berdasarkan definisi tersebut, justru pemakalah menggabungkan karakter domain
moral dan nonmoral menjadi tiga indikator yang tidak dapat dipisahkan ketika ingin
mengetahui ciri manusia yang berkarakter moral.

III. Perkembangan Karakter Moral Pada Manusia

Dalam psikologi perkembangan, selalu ada debat tentang masalah-masalah nature dan
nurture. Artinya, para ahli senantiasa memiliki pendapat yang berbeda tentang apakah aspek-
aspek pertumbuhan dan perkembangan manusia itu dibawa sejak lahir atau terbentuk dari
lingkungan, mana yang lebih banyak mempengaruhi seorang individu, dan pertanyaan-
pertanyaan serupa. Begitu pula halnya dengan perkembangan moral atau karakter seseorang,
apakah karakter itu merupakan sesuatu yang bersifat herediter (bawaan lahir/keturunan)
ataukah dapat dibentuk melalui didikan lingkungan. Perdebatan tersebut tidak pernah selesai
dan mungkin tidak akan pernah mendapatkan jawaban pasti. Satu hal yang jelas bahwa
memang ada interaksi antara aspek nature dan nurture dalam perkembangan karakter
individu, yang dibuktikan dengan penelitian-penelitian yang dilakukan oleh para ahli.

Faktor determinan karakter dapat berupa biologis/ herediter. Penelitian-penelitian untuk


mengungkap pengaruh ini biasanya dilakukan pada subjek anak kembar dan adopsi serta
bersifat longitudinal. Beberapa ahli telah membuktikan adanya pengaruh genetis yang cukup
kuat terhadap karakter anak (Deater-Deckard & O’Connor, 2000; Plomin and McGuffin,
2003). Beberapa dimensi karakter seperti empati dan simpati juga banyak diamati melalui
perspektif neurosains yang lebih mengarah kepada herediter (Caspi, dkk., 2003; Decety &
Chaminade, 2003; Harris, 2003)

Di sisi lain, lingkungan keluarga membawa pengaruh yang cukup penting bagi pembentukan
karakter anak. Kochanska, dkk. (2004) menyatakan bahwa kelekatan antara orangtua dan
anak merupakan aspek yang sangat penting bagi awal perkembangan moral anak. Untuk
selanjutnya, pengasuhan orangtua secara menyeluruh, meliputi relasi antara orangtua dan
anak yang hangat dan responsif disertai penerimaan, dukungan, serta pemahaman akan
membawa dampak terhadap karakter anak (Grusec, dkk., 2000; Kerr & Stattin, 2000;
Kochanska, 2002; Zhou, dkk., 2002). Di samping itu, pola disiplin yang diterapkan orangtua
juga merupakan hal yang penting (Kochanska, dkk., 2003). Dalam hal ini, disiplin akan
mengontrol perilaku anak dan biasanya dikaitkan dengan konsekuensi negatif terhadap
perilaku pelanggaran. Aspek yang paling penting dari penegakkan disiplin tersebut adalah
konsekuensi yang logis terkait dengan pelanggaran yang dilakukan. Sebagaimana yang
dinyatakan oleh Laible & Thompson (2000) bahwa disiplin yang menekankan pada penalaran
dan logika akan mempercepat terjadinya internalisasi nilai-nilai pada anak.

Sekolah, sebagai lingkungan kedua, turut mempengaruhi konsep diri, keterampilan sosial,
nilai, kematangan penalaran moral, perilaku prososial, pengetahuan tentang moralitas, dan
sebagainya (Berkowitz, 2002). Adanya ikatan yang kuat dengan sekolah dan komunitasnya,
termasuk juga kelekatan dengan guru, merupakan dasar bagi perkembangan prososial dan
moral anak. Hawkins, dkk. (2001) menyatakan bahwa seorang anak akan menerapkan sebuah
standar atau norma bila standar tersebut jelas dan disertai dengan adanya ikatan emosi,
komitmen, dan kelekatan dengan sekolah. Dalam hal ini, sekolah perlu memiliki atmosfir
moral dalam rangka meningkatkan tanggung jawab dan mengurangi pelanggaran di sekolah
(Brugman, dkk., 2003). Di lingkungan sekolah, tentu saja anak mengalami perluasan
aktivitas. Relasi dengan teman sebaya pun akan membawa dampak terhadap pembentukan
karakter anak. Hubungan emosi yang kuat dan aktivitas bermain merupakan mediator bagi
anak untuk mengembangkan karakter mereka (Dunn & Hughes, 2001; Howe, dkk., 2002;
Killen, dkk., 2001; Theimer, dkk., 2001).

Tidak kalah pentingnya adalah pengaruh komunitas terhadap karakter anak-anak dan remaja.
Televisi, sebagai salah satu bentuk media massa di dalam masyarakat, memberikan fasilitas
peniruan melalui program-programnya. Pada umumnya, anak-anak dan remaja akan lebih
mudah menerima informasi yang dilihat dan didengar. Anak dan remaja disajikan pada
gambaran situasi tertentu yang disertai dengan reaksi yang seharusnya dilakukan, dan juga
akibat dari reaksi tersebut. Apabila anak dan remaja terus-menerus melihat adegan-adegan
negatif, maka mereka akan menganggap adegan tersebut sebagai sesuatu yang wajar. Jika hal
ini terus berlanjut, anak dan remaja akan melakukan adegan yang serupa. Dampak proses
imitasi ini telah banyak diteliti, dalam kaitannya dengan perilaku-perilaku tertentu seperti
agresi dan kekerasan (Huesmann, dkk., 2003; Robinson, dkk., 2001). Di sisi lain, televisi juga
membentuk karakter positif anak, yaitu dalam hal perilaku prososial dan altruis (Mares &
Woodard, 2005). Hal ini menunjukkan bahwa lingkungan sosial mempunyai andil dalam
pembentukan moral dan karakter anak dan remaja. Berdasarkan uraian di atas, dapat
disimpulkan bahwa pembentukan karakter moral seseorang akan dipengaruhi oleh interaksi
antara bawaan yang bersifat herediter dengan faktor-faktor yang ada di lingkungan.

IV. Peranan Sekolah Dalam Pembangunan Manusia Berkarakter Moral

Peranan pendidikan berkarakter moral di sekolah pernah dilakukan oleh Berkowitz & Bier
(2003). Mereka menyatakan bahwa penerapan pendidikan berkarakter moral mempengaruhi
peningkatan motivasi siswa dalam meraih prestasi. Bahkan kelas-kelas yang secara
komprehensif terlibat dalam pendidikan karakter menunjukan penurunan drastis pada
perilaku negatif siswa yang dapat menghambat keberhasilan akademik. Hal ini disebabkan
salah satu tujuan pendidikan karakter adalah untuk pengembangan kepribadian yang
berintegritas terhadap nilai atau aturan yang ada. Ketika individu mempunyai integritas maka
ia akan memiliki keyakinan terhadap potensi diri (self efficacy) untuk menghadapi hambatan
dalam belajar.

Beberapa tema-tema moral yang berhubungan dengan kognitif ditemukan dalam penelitian
Narvaes (2006). Peserta didik yang mendapatkan pendidikan berkarakter moral akan lebih;
(a). Mudah memahami situasi moral secara akurat dan menegakkan aturan atau nilai yang
diinternalisasi, (b). Mempunyai alat atau metode untuk memecahkan masalah moral yang
kompleks, (c). Tetap berfokus terhadap tugas-tugas akademis dan termotivasi untuk
mengatasi hambatan dalam pembelajaran, (d). Mampu memprioritaskan tujuan-tujuan etis
untuk pengembangan diri dan pemberdayaan sosial. Oleh karena itu, negara-negara maju
turut menekankan pendidikan berkarakter moral tersebut sebagai soft-skill yang mengikuti
kompetensi pembelajaran. Dengan demikian, lulusan dunia pendidikan akan lebih siap
berkompetisi dalam era global saat ini.

Meskipun sekolah merupakan lingkungan kedua bagi peserta didik dalam pembentukan
karakter namun sekolah merupakan komunitas untuk melakukan sharing nilai dengan guru,
teman sebaya dan sivitas akademika. Apalagi, fenomena kurikulum sekarang yang sarat
beban bagi peserta didik menyebabkan ia tinggal lebih lama di sekolah daripada di
lingkungan keluarga dan masyarakat. Oleh karena itu, pemakalah memberikan usulan
terhadap peran sekolah dalam membangun manusia yang berkarakter moral sebagai berikut;

1. Menyediakan pendidikan moral agama yang berbasis penyikapan terhadap kasus/


fenomena. Dalam hal ini tentunya agama tidak saja disajikan dalam pengetahuan aturan atau
tata laksana ibadah (syari’at) tetapi lebih kepada nilai-nilai agama dalam menghadapi
fenomena sosial. Nilai-nilai agama inilah yang menjadi bagian dari pembentukan karakter
moral peserta didik. Sebagai contoh, pendidikan agama Islam tidak hanya mengajarkan
syari’at sholat saja tapi nilai-nilai manfaat yang diperoleh bagi manusia itu sendiri dengan
menjalankan sholat. Begitu pula agama Kristen Protestan tidak hanya mengajarkan cara
bersembahyang tetapi bagaimana menerapkan Etika Protestan untuk keseimbangan
kehidupan dunia dan akhirat. Juga The Golden Role dalam ajaran agama Katholik agar
manusia menyebarkan kebaikan kepada sesamanya. Sebenarnya beberapa ahli pemikir Barat
membedakan antara moral dengan nilai-nilai agama. Akan tetapi, pemakalah mempunyai
pendirian bahwa nilai agama membentuk karakter moral karena nilai agama yang universal
juga mengatur hubungan antara manusia dengan Tuhan, hubungan manusia dengan dirinya
sendiri (intrapersonal) dan hubungan manusia dengan lingkungan sosialnya (interpersonal).
Tidak ada agama yang tidak mengatur ketiga hal tersebut. Bahkan secara tegas, Silberman
(2005) menyatakan bahwa ciri manusia yang religius adalah;

(a). Mampu memahami Tuhan dan melaksanakan semua ajaranNya. Pada elemen ini,
manusia yang beragama dituntut untuk memahami kekuatan Tuhan dan mengamalkan semua
ajaranNya dalam kehidupan sehari-hari.

(b). Memahami pemaknaan diri. Pada elemen ini, manusia yang mengaku beragama harus
memiliki pemahaman terhadap hakikat diri, tujuan hidup, potensi diri dan pengaruh ajaran
agama terhadap proses pembentukan jati diri. Misalnya, sebagai seorang Muslim maka ia
tahu bahwa tujuan hidupnya hanyalah untuk berbakti kepada Allah SWT, mempunyai potensi
persaudaraan sebagai sesama muslim dan ajaran Islam dijadikannya sebagai identitas dirinya.

(c). Meyakini dan memelihara hubungan dengan mahluk lain ciptaan Tuhan dan alam
semesta. Sebagai manusia yang beragama maka kita dituntut untuk membina hubungan
dengan orang lain, mahluk ghaib dan alam semesta.

(d). Keyakinan terhadap hari depan, yaitu keyakinan yang harus dimiliki oleh manusia
religius terhadap kehidupan masa depan, kehidupan setelah kehidupan di dunia, seperti
kematian, alam kubur, hari berbangkit atau kiamat, syurga dan neraka. Oleh karena itu,
manusia yang religius menjadikan kehidupan di dunia ini sebagai investasi dalam kehidupan
di masa mendatang, termasuk kehidupan akhirat kelak.

Berdasarkan ciri manusia yang religius atau mempunyai nilai-nilai agama tersebut maka
sebenarnya sama dengan tujuan pendidikan berkarakter moral yang mengembangkan
interpersonal dan intrapersonal. Dengan demikian, pendidikan moral agama lebih ditekankan
kepada kasus-kasus atau fenomena yang harus dipecahkan oleh peserta didik berdasarkan
pertimbangan nilai atau moral agama. Hal ini yang disebut sebagai pembelajaran berbasis
masalah (problem based learning).

2. Menyiapkan guru, kakak kelas, sivitas akademika, alumni sebagai role model.
Sebagaimana definisi pendidikan berkarakter moral sebagai proses transfer, khususnya
tindakan terhadap fenomena berdasarkan nilai atau aturan universal maka dibutuhkan figur
teladan dalam menegakkan nilai atau aturan tersebut. Figur teladan ini sesuai dengan filosofi
pendidik yang dikemukakan oleh Ki Hadjar Dewantara, yaitu ing ngarso sung tulodho
(seorang guru harus mampu memberikan keteladanan sikap dan tindakan), khususnya
keteladanan moral. Apalagi, guru merupakan sosok digugu lan ditiru (dipatuhi dan dicontoh
tindakannya). Jika guru hanya memberikan pengajaran moral tanpa mendidik (memberi
keteladanan moral) maka akan terjadi kebingungan pada diri peserta didik. Sosok guru yang
ideal ialah guru yang bermoral. Ketika guru melakukan tindakan amoral, seperti pelecahan
seksual, kekerasan, tindak pidana dan lain sebagainya maka fenomena ini disebut sebagai
moral hypocrisy, yaitu sosok yang idealnya bermoral namun melakukan tindakan tidak
bermoral. Tidak hanya guru, kakak kelas dan alumni pun sebagai figur teladan dalam
penegakan moral. Jika kakak kelas dan alumni berkomitmen untuk membantu penegakan
moral di lingkungan sekolah maka aktivitas yang tidak bermoral, seperti kekerasan dalam
masa orientasi dan tawuran dapat diminimalisasi.

3. Menyediakan perangkat nilai dan aturan yang jelas, rasional dan konsisten. Sekolah
yang mempunyai aturan jelas menyebabkan tidak ada ambiguitas peserta didik dalam
memahaminya. Aturan yang jelas juga dimaksudkan agar peserta didik tidak mencari celah
kelemahan aturan dan memanfaatkan celah tersebut untuk pelanggaran. Selain itu, yang
dimaksudkan dengan aturan atau nilai yang rasional ialah segala aturan tersebut bukan saja
bertujuan untuk mengarahkan atau melarang suatu tindakan tetapi lebih kepada penguatan
alasan mengapa aturan atau nilai tersebut ditegakkan. Tentunya hal ini membutuhkan
sosialisasi kepada peserta didik dan sivitas akademika agar memahami latar belakang
ditegakkannya nilai atau aturan tersebut. Rasionalitas atau alasan tentang penegakan nilai
moral tersebut perlu dilakukan karena dalam psikologi perkembangan, seorang remaja mulai
berfikir operasional kongkret yang mencari rasional dalam setiap tindakan. Dengan
pemahaman nilai atau aturan yang rasional tersebut maka peserta didik akan menjalankan
aturan dan nilai tersebut karena terdorong untuk kebaikan mereka sendiri. Hal ini
menandakan aturan atau nilai yang rasional/ mempunyai alasan yang tepat akan
menumbuhkan motivasi intrinsik atau motivasi dalam diri. Sedangkan penegakan nilai atau
aturan yang konsisten untuk semua pihak diharapkan akan menjadi perangkat aturan untuk
kepentingan bersama (keadilan distributif).

4. Membangun sinergitas antara pihak sekolah, keluarga, masyarakat dan pemerintah.


Sebagaimana kita ketahui kebijakan publik tidak dapat dijalankan jika tidak ada sinergi antara
pihak terkait. Meskipun sekolah telah menerapkan pendidikan berkarakter moral di
lingkungan belajar namun hal ini tidak akan efektif jika tidak didukung keterlibatan pihak
keluarga, masyarakat dan pemerintah. Jika kita kembali merujuk definisi pendidikan
berkarakter moral maka pendidikan tersebut sesungguhnya merupakan suatu PROSES.
Maknanya, pendidikan berkarakter moral merupakan transfer secara bertahap dan
berkelanjutan. Sayangnya, kebijakan pemerintah tentang ujian nasional (UNAS) mempunyai
dampak bahwa pendidikan lebih menekankan kepada hasil suatu sistem dan bukan kepada
proses. Padahal sebenarnya pendidikan lebih menekankan kepada proses suatu sistem. Oleh
karena itu, disarankan agar pemerintah tidak membuat suatu kebijakan yang bertentangan
dengan filosofi pendidikan berkarakter moral.

5. Pendidikan berkarakter moral dimasukkan dalam kegiatan intra, ekstra dan ko-
kulikuler sebagai hidden curriculum. Dalam kegiatan intra-kurikuler dan ko-kurikuler,
setiap mata pelajaran perlu memberikan pesan moral khusus berkaitan dengan topik
pembelajaran. Contohnya, pelajaran Biologi tentang reproduksi manusia perlu diberikan
sosialisasi tentang dampak negatif seks pra-nikah jika organ reproduksi belum siap
digunakan. Jadi, tidak sekedar pengetahuan seks tetapi juga menyisipkan pesan moral yang
rasional. Begitu pula, dalam kegiatan ekstra-kurikuler perlu diperbanyak aktivitas yang
membina karakter moral peserta didik, seperti Pramuka, PMR, Dokter Kecil, Olah Raga dan
lain sebagainya. Bahkan ide untuk mendirikan dan melestarikan “Kantin Kejujuran” perlu
diwujudkan.

6. Menyajikan story telling melalui multi media dengan melibatkan peran sebagai role
model karakter moral. Menurut Sheldon (2004), story telling adalah salah satu metode yang
tepat untuk menyampaikan pesan moral melalui peran tokoh-tokoh dalam suatu cerita sebagai
role model. Dengan demikian, story telling memiliki kemampuan untuk menyampaikan nilai-
nilai moral karena anak dan remaja lebih mudah menerima informasi melalui audio-visual.
Oleh karena itu, disarankan story telling disajikan dalam multi media sehingga menarik
keterlibatan afeksi dan kognisi peserta didik dalam menginternalisasi nilai moral yang
disampaikan. Sebagai contoh, story telling dengan tema budaya lokal, seperti Malin Kundang
disampaikan melalui tayangan film atau parodi sehingga pesan moral tentang berbakti kepada
orang tua lebih efektif disampaikan kepada peserta didik.

V. Penutup

Pendidikan berkarakter moral adalah kunci untuk perbaikan sosial dan kemajuan peradaban
bangsa yang menjunjung tinggi integritas nilai dan kemanusiaan. Harapan dari pendidikan
berkarakter moral adalah tercapainya keseimbangan antara pengetahuan dan moral. Salah
satu pendekatan dalam pendidikan berkarakter moral ialah dengan pendidikan moral agama
yang diterapkan dalam setiap kehidupan akademis. Jika pengetahuan dan moral agama dapat
diintegrasikan maka berkembanglah kesempurnaan ilmu berlandaskan moralitas (excellent
with morality). “Ilmu tanpa agama akan buta, agama tanpa ilmu akan lumpuh.”

Pendidikan berkarakter moral dikatakan efektif apabila telah mencapai tujuan untuk
menjadikan manusia yang mempunyai karakter; kemampuan sosial (social skill),
pengembangan kepribadian (personal improvement) dan pemecahan masalah secara
komprehensif (comprehensive problem solving).

Pendidikan berkarakter moral memerlukan figur teladan sebagai role model untuk
menegakkan nilai atau aturan yang telah disepakati bersama. Di sinilah peran pendidik,
khususnya guru, orang tua, masyarakat dan pemerintah sebagai figur teladan agar peserta
didik mampu melakukan imitasi terhadap perilaku moral. Oleh karena semua pihak dituntut
untuk terlibat aktif maka perlu adanya sinergisitas diantara elemen tersebut sehingga
pendidikan berkarakter moral dapat terus dilakukan secara berkelanjutan. Sinergi semua
elemen inilah yang mengingatkan kita kepada kata-kata bijak, “Tidak ada keberhasilan
individu, yang ada adalah keberhasilan kolektif.”
Sumber: http://pks.psikologi.unair.ac.id/coretan-kami/membangun-peradaban-bangsa-dengan-
pendidikan-berkarakter-moral/

Utamakan Moral dalam Membangun


Bangsa
Harian SOLOPOS (Jumat, 22 Februari 2013). Hampir setiap hari kita disuguhi dengan berita
tentang korupsi, suap, narkoba, minuman keras, pelecehan seksual, perselingkuhan,
prostitusi, aborsi, bentrok antar kelompok masyarakat. Negara seolah tidak berdaya
mengatasi persoalan itu.

Banyak pakar menyampaikan opini mereka di surat kabar, internet, radio, dan televisi, namun
tidak satupun akar permasalahan secara komprehensif. Mereka hanya menyodorkan solusi
untuk mengatasi persoalan di permukaan dan bersifat parsial. Seolah mereka tidak tahu, atau
tidak mau tahu kalau akar permasalahan segala macam hiruk pikuk yang terjadi di negeri ini
adalah kerusakan moral.

Mereka yang korupsi, mencuri uang rakyat, sebab utamanya adalah tidak punya rasa takut
kepada Allah. Seandainya mereka takut kepada Allah, maka mereka tidak akan mencurinya.
Mereka yang mengkonsumsi dan memperdagangkan miras dan narkoba, sebab utamanya
juga tidak takut kepada Allah. Seandainya mereka takut kepada Allah, maka mereka akan
menjauhinya. Mereka yang melakukan perselingkuhan dan prostitusi, sebab utamanya sama,
karena tidak takut kepada Allah. Seandainya mereka takut kepada Allah, maka mereka akan
melakukan hubungan intim dengan cara yang terhormat, melalui pernikahan.

Mereka yang melakukan aborsi, sebab utamanya karena tidak takut kepada Dzat yang
menghidupkan dan mematikan yakni Allah. Mereka yang melakukan bentrok antar kelompok
atau ribut sengketa pilkada, sebab utamanya adalah juga karena tidak takut kepada Allah.

Karena sebab utama atau akar permasalahan yang menyebabkan berbagai macam persoalan
bangsa adalah kerusakan moral, yang berupa hilangnya rasa takut kepada Allah sehingga
banyak komponen bangsa ini nekat berbuat maksiat, maka solusinya adalah perbaikan
kwalitas moral.

Yang terjadi selama ini ibarat memperbaiki mobil yang jalannya tersendat seharusnya
karburatornya yang dibersihkan karena kotor, tetapi malah businya diganti berkali-kali.

Ada dua cara untuk memperbaiki kerusakan moral bangsa ini.

Yang pertama adalah mengadopsi jiwa dan semangat syariat Islam. Umat Islam
memang tidak bisa memaksakan berlakunya syariat Islam di tengah bangsa yang plural ini.
Apalagi di di kalangan awam ada rasa phobi terhadap syariat dan di kalangan pejabatpun ada
rasa takut dituduh ekstrim untuk memberlakukan syariat.

Namun seandainya jiwa dan semangat syariat diadopsi ke dalam hukum positif, maka hukum
positif yang diwarnai syariat itu akan memberikan efek jera kepada para penjahat. Para
penjahat akan takut berbuat jahat karena resikonya berat, sehingga memilih bertobat. Mereka
yang belum pernah berbuat jahat, akan takut resiko yang berat, sehingga tidak berani
mencoba-coba berbuat jahat. Dalam hal ini diperlukan pemimpin yang pemberani untuk
mengadopsi jiwa dan semangat syariat ke dalam hukum positif dan tulus ikhlas
membebaskan bangsa ini dari kerusakan moral.

Cara yang ke dua adalah dengan menegakkan dakwah. Melalui jalan dakwah inilah umat
Islam yang populasinya sekitar 88% itu difahamkan akan agama mereka sendiri, lalu mereka
dihasung, didorong dan diciptakan bi’ah untuk mengamalkan tuntunan Islam dengan baik.

Karena tidak ada tuntunan Islam yang tidak baik, maka mereka yang belajar Islam dan
mengamalkannya dengan sungguh–sungguh akan menjadi orang baik (berakhlak mulia).
Bangsa ini akan menjadi bangsa yang berakhlak mulia bila masing-masing individunya juga
berakhlak mulia. Oleh karena itu pemerintah beserta seluruh jajarannya dan masyarakat
beserta seluruh komponennya hendaknya bantu membantu demi lancarnya dakwah Islam
yang sesuai dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Meskipun belum ada pakar yang
menyuarakan cara ini di televisi, tetapi cara inilah yang dikehendaki Allah dan diterapkan
dari nabi ke nabi untuk memperbaiki kerusakan moral manusia.

Mari kita mulai memperbaiki bangsa ini dari diri kita sendiri, lalu menularkannya kepada
keluarga, kerabat dan sahabat dekat. Semoga virus kebaikan yang kita tularkan menjadi titik
awal perbaikan moral bangsa dengan pertolongan Allah, aamiin.

Sumber : http://www.mta.or.id/2013/02/22/utamakan-moral-dalam-membangun-bangsa/
Membangun Moral Bangsa

Oleh : Dr. Tarmizi Taher*

Dari mana kita mulai membangun bangsa ini? Pembangunan kembali negeri ini harus mulai
dari etika, moral, dan nilai. Prof Sutan Takdir Alisyahbana, pemikir hebat Indonesia, waktu
dikejar oleh Bung Karno membuat tesis di Stanford University dengan judul Values as
Integrating Forces in Personality, Society and Culture.

Oleh : Dr. Tarmizi Taher*

Dari mana kita mulai membangun bangsa ini? Pembangunan kembali negeri ini harus mulai
dari etika, moral, dan nilai. Prof Sutan Takdir Alisyahbana, pemikir hebat Indonesia, waktu
dikejar oleh Bung Karno membuat tesis di Stanford University dengan judul Values as
Integrating Forces in Personality, Society and Culture.

Kebudayaan dapat dipandang sebagai kumpulan nilai-nilai. Kebudayaan adalah etika dan
moral serta budi pekerti masyarakat. Dalam bahasa barat, culture dan civilization tidak ada
hubungan langsung dengan mind, moral,atau ethics. Hanya bahasa Indonesia yang
mempunyai hubungan langsung antara budi dan kebudayaan. Jelas sekali bahwa bagi bangsa
Indonesia kebudayaan dipengaruhi budi-daya.

Tetapi kenapa saat-saat ini kebudayaan kita bisa dikatakan cukup kacau. Kita bangsa yang
dengan ”Ketuhanan Yang Maha Esa”,tetapi kenapa media elektronik atau media cetak kita
penuh dengan kesyirikan. Para kiai yang tampil di acara mengajar keagamaan kalah populer
dengan ”kiai-kiai” yang mengejar hantu setiap malam di televisi. Kita mempercayai Tuhan
Yang Mahagaib,tapi kenapa beberapa kiai kita menjadikan agama Islam sebagai ”agama
misteri” bukan agama yang rasional.

Umat Islam saat ini mengalami pembodohan yang luar biasa secara teknologis. Dalam era
globalisasi ini,setiap umat dan bangsa memasuki era kompetisi di bidang ilmu dan teknologi,
sedangkan bangsa dan umat Islam di Indonesia, asyik mendalami dan mengejar tempat
misteri dan sakti. Mari kita bangkit dari terpuruk menjadi manusia massal (istilah Adlers).
Umat Islam harus kembali kepada nilai-nilai Islam supaya tidak tergelincir dalam
kemajemukan bangsa dan hedonisme serta pornografi dunia dan media.

Saya menawarkan nilai atau etika dari Alquran surat Al-Mukminun 1–10.Dalam awal surat
ini Allah menjamin kesuksesan hidup hamba-Nya atau masyarakat yang mempunyai sifat-
sifat atau nilai-nilai: (1) Selalu memegang relasi vertikal; (2) Selalu produktif dalam hidup;
(3) tidak terbawa arus hura-hura; (4) Selalu dermawan; (5) Selalu menjaga tindakan
seksualnya secara sehat; (6) Selalu menjaga amanah (uang, jabatan, dan kepemimpinan).

Kalau kita sistematiskan, pesan Allah dalam surat Al-Mukminun itu, maka relasi yang secara
moral dipegang manusia adalah human to God relations dan human relations.
Dalammasyarakat Barat dengan sekularisme mereka,yang dijaga hanya human relations,
sedangkan ”God was dead”. Namun, dengan era revival of religion(dari 1980 sampai
kini),ternyata Barat makin yakin bahwa manusia tidak bisa bahagia tanpa agama. Selain itu,
menurut Daniel Goleman, Emotional Intelligence adalah suatu publikasi psikologi,bagaimana
jiwa anak-anak sejak kecil sudah harus disentuh (touch) dengan rasa keagamaan.
Dari Emotional Intelligence saat ini berlanjut ke spiritual intelligence.Menurut ahli
manajemen Barat,saat ini yang tepat,”Leading the people with your soul.” Barat makin
mendekati spiritualitas dengan ilmiah,sedang bangsa dan umat Islam makin mendekati
spiritualitas dengan ”orang pintar”yang secara intelektual tak pintar,alias dukun. Dalam
menghadapi tantangan ini, marilah menjadikan Alquran dan Sunah sebagai referensi utama
kejiwaan dalam membangkitkan Islam dan bangsa yang cerdas dan beriman. Dalam Surat Al-
Mujaadilah ayat 11, Allah berfirman, ”Derajat umat Islam akan meningkat dengan iman dan
ilmu.

” Karena itu,di dalam mendidik dan mengatasi problema dan constraints bangsa Indonesia,
kita harus sabar dan berpikir jernih serta sistematis. Tidak perlu kita putus asa dan pesimis
terhadap dampak buruk dari globalisasi. Umat dan bangsa ternyata tidak meletakkan ‘values’
sebagai integrating forces dalam membangun kepribadian masyarakat dan kebudayaan
”sebagai prioritas”.

Kita patut bersyukur bahwa para psikiater di negeri ini telah memulai memutar prioritas
”values” etika dan moral itu dalam membangun budaya masyarakat madani pada khazanah
Negara Kesatuan Republik Indonesia. Terakhir, marilah kita membangun dan membina
persatuan umat dan bangsa, membangun persatuan dan kesatuan dalam masyarakat majemuk
sulit dan butuh kesabaran serta keadilan.Jangan ciptakan tirani mayoritas atau tirani minoritas
dengan cara-cara tak sehat.

*Mantan Menteri Agama RI Ketua Umum Pimpinan Pusat Dewan Masjid Indonesia

Sumber : http://widyainspira.wordpress.com/2008/09/20/membangun-moral-bangsa/
MemBangun baNgsa dEngan mOraliTas dan buDaya
Ditulis oleh Odhe Junandha Riady dan telah dikomentari sebanyak 84 buah

Bangsa yang makmur sejahtera dan penuh dengan kedamaian menjadi dambaan seluruh masyarakat
Indonesia. Namun tidak dapat dipungkiri, semua itu tidak akan dapat terwujud dengan mudah.
Terciptanya perdamaian dan kemakmuran bangsa tidak bisa dilepaskan dari masyarakat yang
berbudaya dan bermoralitas, dan bersifat transformatif.

Budaya dan moral, kedua itu sangat penting untuk menopang tegaknya bangsa dan negara. Suatu
negara tidak hanya memerlukan pemerintahan yang baik, tetapi juga masyarakat yang berbudaya
dan bermoral. Masyarakat kita kaya dengan khazanah budaya lokal yang diturunkan oleh nenek
moyang. Bangsa ini juga terkenal dengan spiritualitasnya yang tinggi, meski seringkali kurang dalam
implementasinya.

Untuk mewujudkan moralitas bangsa, tidak cukup dengan pengajaran tentang moral saja. Perlu
adanya pendidikan moral yang sarat dengan aplikasi, disesuaikan dengan realitas yang ada.
Kehancuran moralitas kita banyak dipengaruhi oleh moralitas bangsa luar yang tidak sesuai dengan
moralitas yang kita miliki. Salah satunya, kapitalisme. Semuanya berorientasi pada kepentingan
individu. Kapitalisme, sangat tidak sesuai dengan ajaran moral yang telah diajarkan kakek nenek kita,
nerimo ing pandum. Namun sayangnya, kapitalisme ini sudah merasuk ke lapisan masyarakat
terbawah hingga tertinggi.

Selain moral, yang tidak kalah penting dalam membangun bangsa adalah budaya. Budaya adalah
kebiasaan yang mempengaruhi tingkah laku manuisa dalam kehidupan sehari-hari, atau dengan kata
lain, pembentuk perilaku manusia. Jika budaya kita sudah tidak sesuai dengan tatanan sosial yang
ada, maka akan terjadi ketimpangan dalam kehidupan sosial.

Sudah menjadi tugas kita untuk menjaga tatanan budaya leluhur agar tidak terpengaruh oleh budaya
luar yang tidak sesuai. Sadar atau tidak, sekarang kita terjajah lagi, meskipun tidak tampak secara
langsung. Penjajahan ini berupa penjahaan ideologi dan ekonomi. Penjajahan ideologi berdampak
pada cara pandang kita. Sementara penjajahan ekonomi berdampak pada finansial.

Penjajahan ideologi bersumber dari pengaruh televisi. Banyak tayangan telivisi luar yang
mendominasi siaran, dan sayangnya, banyak yang mengajarkan kekerasan, meskipun dalam bentuk
film kartun.

Penjajahan ekonomi, terjadi karena bangsa kita tergantung pada hutang luar negeri. Mau tak mau,
kita harus mengikuti sistem yang dibentuk oleh negara-negara adikuasa. Semua keputusan yang
berkaitan dengan ekonomi harus menganut sistem internasional, padahal tak semuanya cocok
diberlakukan di Indonesia. Karenanya, kita harus berani memutus hubungan dengan mereka, meski

sulit pada awalnya. Tapi, kita harus berubah.

Sumber : http://odhe.myflexiland.com/68241/membangun-bangsa-dengan-moralitas-dan-budaya