Anda di halaman 1dari 7

INFEKSI SALURAN KEMIH DAN INFEKSI MENULAR SEKSUAL

Nama : Stevano Assa


NRI : 120 111 273

A. Infeksi Saluran Kemih (ISK)


Definisi
Infeksi saluran kemih di definisikan sebagai presentasi klinis darimikroorganisme dalam
urin yang melebihi batas ambang normal mikroorganismetersebut, yang berpotensi menginvasi
pada jaringan dan struktur saluran kemih. Seseorang bisa dikatakan mengalami infeksi saluran
kemih pada salurankemihnya bila jumlah bakteri di dalam urinnya lebih dari 100.000/mL
urin.Namun pada beberapa pasien wanita, bisa dikatakan infeksi meskipun jumlahbakterinya
kurang dari 100.000/mL urin. Menurutsaluran yang terkena maka ISK dapat dibedakan menjadi
bagian atas(pielonefritis) dan bagian bawah (sisititis, prostatitis, uretritis).
ISK di bagi 2 klasifikasi dari segi klinis :
1) Infeksi saluran kemih tidak terkomplikasi (simple / uncomplicated urinarytract infection) yaitu
bila tanpa faktor penyulit dan tidak didapatkan gangguanstruktur maupun fungsi saluran kemih.
2) Infeksi saluran kemih terkomplikasi (complicated urinary tract infection)yaitu bila terdapat hal-
hal tertentu sebagai penyulit ISK dan kelainanstruktural maupun fungsional yang merubah
aliran urin.
Epidemiologi
Wanita lebih beresiko terkena infeksi saluran kemih daripada laki-lakikarena pada wanita
panjang uretranya lebih pendek dibandingkan laki-laki. Padawanita panjang uretra 1,5 inci dan
pada laki-laki panjang uretra 8 inchi (Sekitar 5-7% wanita hamil mempunyai kecenderungan
mengalamipenyakit infeksi ini, namun tidak ditemukan symptom. Dengan tidak terdeteksinya
symptom ini, di kemudian hari dapat menyebabkan infeksi dengan gejala-gejalalanjut pada wanita
hamil seperti pielonefritis, hipertensi pada wanita hamil,kelahiran premature, dan fetus mati
sebelum dilahirkan atau keguguran.
Etiologi
Kebanyakan infeksi saluran kemih disebabkan oleh mikroorganisme yangberasal dari flora
tinja usus bagian bawah. Hampir 80% infeksi yang terjadi padapenderita tidak rawat inap dan tidak
obstruksi disebabkan oleh Escherichia coli. Bakteri Gram negatif lainnya seperti klabsiella
pneumonia dan Proteus mirabilis serta coccus bakteri Gram positif seperti misalnya Enterococcus
faecalis dan Staphylococcus epidermis juga merupakan uropatogen potensial.
Proses masuknya organisme ini ke dalam saluran kemih iga rute: ascending,hematogen
(descending), dan jalur limfatik. Uretra wanita biasanya dilewati bakteriyang berasal dari flora
tinja. Panjang pendek urethra perempuan dan kedekatannyadengan daerah perirectal membuat
Kolonisasi dapat terjadi. Memijat uretra perempuan dan hubungan seksual membuatbakteri dengan
mudah mencapai kandung kemih. Sekali bakteri telah mencapaikandung kemih, organisme
berkembang biak cepat dan dapat naik ke ureter ke ginjal.Urutan kejadian lebih mungkin terjadi
jika reflux vesicoureteral (refluks urin keureter dan ginjal saat berkemih). Kenyataan bahwa ISK
lebih umum pada wanita daripada laki-laki karena perbedaan anatomi di lokasi dan panjang uretra
cenderunguntuk mendukung tingkatan rute infeksi sebagai rute akuisisi.
Patofisiologi
Rute infeksi bakteri pada ISK diketahui sebagai berikut:
1) Asenden
Seperti pada dugaan masuknya bakteri tinja ke dalam kandung kencingmelaluri uretra wanita
atau ke dalam ginjal melalui ureter
2) Hematogen
Seperti pada infeksi Staphylococcus pada korteksi ginjal
3) Perluasan langsungSeperti pada sistitis terkait dengan fistula enterovesika. Pada wanita,
pendeknya uretra dan berdekatannya antara uretra dan daerahperirektal menyebabkan
kolonisasi dari uretra. Bakteri dapat memasuki kantungkemih melalui uretra. Setelah berada di
kantung kemih, organisme akan membelahdiri dengan cepat dan dapat bergerak keatas menuju
ginjal melalui ureter
Gejala Klinis
Pasien yang terkena ISK pada umumnya tidak memberikan gejala yangberarti, namun
biasanya semuanya terkait dengan tempat dan keparahan infeksi.Gejala-gejala yang dapat timbul
meliputi berikut ini, baik sendirian maupuntimbulnya bersama-sama seperti menggigil, demam,
nyeri pinggang, dan sering mualsampai muntah, disuria, sering terburu-buru kencing, nyeri
suprapubik, dan hematuria.
Diagnosis
Untuk menegakkan diagnosa ISK, tidak hanya dengan mengetahui gejala-gejala yang
dialami pasien tetapi juga harus dilakukan kultur mikroorganisme pada spesimen urin untuk
membedakan bakteri yang menyebabkan infeksi sebagai berikut :
a. Urine collection
Pemeriksaan urin merupakan landasan untuk menilai ISK. Terdapat 3 metodepemeriksaan urin
yang dapat diterima. Yang pertama midstream clean-catch method. Setelah urethral
dibersihkan, kemudian 20-30 ml urin dikosongkan dan dibuang.Kemudian urin dikumpulkan
dan proses berlangsung secara bertahap (sesegeramungkin didinginkan). Spesimen yang
disimpan pada suhu ruang selama beberapa jam dapat menimbulkan kesalahan dalam
penghitungan bakteri. Midstream method merupakan metode yang didasarkan pengumpulan
urin secara rutin. Ketika spesimenurin rutin tidak dapat dikumpulkan atau terjadi kontaminasi,
maka terdapat alternativeteknik pengumpulan yang dapat digunkanMetode yang kedua dengan
menggunakan kateterisasi dan aspirasi suprapubickandung kemih. Kateterisasi dibutuhkan
pada pasien yang tidak kooperatif atau tidak dapat mengeluarkan urin secara normal. Aspirasi
suprapubic kandung kemihdilakukan dengan memasukkan jarum secar langsung ke dalam
kandung kemih untuk mengambil urine. Aspirasi suprapubic kandung kemih aman diberikan
pada neonates,bayi, paraplegics, pasien dengan penyakit yang serius, dan pasien ISK yang
sudahmenjalani metode kultur sebelumnya tetapi tidak mendapatkan hasil yangmemuaskan.
b. Perhitungan bakteri
Diagnosa ISK didasarkan pada isolasi bakteri yang signifikan dari spesimenurin. Penilaian
mikroskopik sampel urin merupakan metode yang paling mudah danmetode yang dapat
dipercaya untuk mendiagnosa adanya bakteriuria.Penilaian mikroskopik leukosit pada urine
juga digunakan untuk mengetahuipyuria. Pyuria merupakan gejala yang dapat dikaitkan
dengan adanya bakteriuria.Pyuria tidandai dengan white blood cell (WBC) lebih dari 10
WBC/mm3. Hematuria,biasanya diketahui dengan penilaian mikroskopis, biasanya dialami
pada pasien ISKtetapi nonspesifik. Hematuria mungkin menggambarkan adanya penyakit lain,
sepertirenal calculi, tumor atau glomerulonefritis. Proteinuria biasnya ditemui pada pasienyang
mengalami infeksi.
c. KulturMetode
yang paling dipercaya untuk menegakkan diagnosa adalah penilaiansecara kuantitatif kultur
urine. Secara normal, urin yang berada dalam kandung kemihsteril. Sehingga hal ini dapat
digunakan untuk mengetahui adanya kontaminasi padaurine pasien yang mengalami infeksi
yang dilakukan dengan menghitung bakteri padasampel urin. Pasien yang mengalami infeksi
biasanya didapatkan lebih dari 10 bakteri/ml urin.
Terapi / Penatalaksanaan
pengobatan ISK pada berbagai bentuk ISK antara lain:
1) Sindrom uretra akut atau sistitis
 Amoksisilin 3 gram
 Trimetoprim-sulfametoksazol 320-1600 mg
 Sulfisiksazol 2 gram
 Kanamisin 500 mg i.m
 Gentamisin 120 mg i.m
Bila fasilitas kultur tidak ada, maka pengobatan dilakukan dengan pemberian:
 Trimetoprim-sulfametoksazol 160-180 mg dua kali sehari
 Sefaleksin 500 mg empat kali sehari
 Amoksisilin 500 mg empat kali sehari
 Asam nalidiksat 1 gram empat kali sehari
 Asam pipemidik 400 mg dua kali sehari
2) Pielonefritis Akut
 Trimetoprim-sulfametoksazol 160-800 mg dua kali sehari
 Sefaleksin 500 mg empat kali sehari
 Amoksisilin 500 mg empat kali sehari
 Asam nalidiksat 1 gram empat kali sehari
 Asam pipedimik 400 mg dua kali sehari
3) Pielonefritis Kronik
pengobatan dilakukan bilamana pada biakan bakteri ditemukan bakteriuriabermakna,
yaitu dengan pemberian antimikroba yang sesuai. Bilamana adakelainan anatomi dilakukan
koreksi, bila keadaan memungkinkan.
4) Bakteriuria tak bergejala
bakteriuria tak bergejala diobati dengan antimikroba dosistunggal, kemudian dipantau selama
dua sampai empat minggu. Bilamana masihtetap ditemukan bakteriuria diberikan antimikroba
dua minggu, kemudian dipantau lagi setelah pengobatan dihentikan. Bilamana masih terjadi
rekurensi,antimikroba dilanjutkan sampai enam minggu atau sampai partus. Setelah partustiga
atau sampai empat bulan dilakukan pemantauan saluran kemih denganpielografi intravena.

B. Infeksi Menular Seksual (IMS)

Definisi
infeksi yang menyebar terutama melalui kontak seksual orang-ke-orang. Ada bakteri
menular seksual lebih dari 30 yang berbeda,virus dan parasit. Beberapa, dalam HIV tertentu dan
sifilis, juga dapat ditularkan dariibu ke anak selama kehamilan dan persalinan, dan melalui produk
darah dan transfer jaringan.
Epidemiologi
Menurut tahun 1999 WHO memperkirakan, 340 juta kasus baru PMS dapatdisembuhkan
(sifilis, gonore, klamidia dan trikomoniasis) terjadi setiap tahun diseluruh dunia pada orang dewasa
berusia 15-49 tahun. (Ini adalah data yang tersediayang terbaru. Baru perkiraan sampai dengan
tahun 2005 sedang dalam pengembanganuntuk publikasi menjelang akhir 2007.) Di negara-negara
berkembang, IMS dan komplikasi mereka di peringkat lima terataskategori penyakit yang dewasa
mencari perawatan kesehatan. Infeksi dengan IMSdapat menyebabkan gejala akut, infeksi kronis
dan konsekuensi tertunda serius sepertiinfertilitas, kehamilan ektopik, kanker leher rahim dan
kematian mendadak bayi danorang dewasa.
Penyakit – penyakit menular seksual

 Gonorea ( Kencing Nanah )


 Sifilis ( Raja Singa )
 Ulkus Molle ( Chancroid )
 Limfogranuloma Verenium
 Kondiloma Akuminata ( Jengger Ayam )
 Herpes Genitalis
 Klamidia
 HIV/AIDS
GONOREA ( Kencing Nanah )

 Penyebab : bakteri Neisseria Gonorrhoea


 Tanda-tanda/gejala : - sakit pada waktu kencing - keluar nanah kental berwarna kuning
hijau - setelah beberapa hari keluar nanah sedikit encer dan rasa nyeri berkurang pada
pagi hari ( morning drop )
 Akibat : peradangan pada mata,persendian,selaput otak,saluran telur,kebutaan pada bayi
dan kemandulan
 Masa tunas : 3 sampai 5 hari
SIFILIS ( Raja Singa )
 Penyebab : bakteri Treponema Pallidum
 Masa tunas : stadium I : 3 minggu, stadium II : 6-8 minggu, stadium III : 3-10 th
 Gejala :
 Sifilis stadium I (dalam waktu 3 minggu )
Mulai dengan papul yang erosif dan hanya satu buah,tidak radang,tidak
sakit, bentuk bulat dengan dasar bersih. Pembesaran kelenjar regional
bagian medial,padat, kenyal pada perabaan,tidak nyeri,soliter dan tidak
melekat di dasarnya.
 Stadium II ( 6– 8 minggu)
stadium I sudah sembuh, nyeri kepala, panas subfebril,anoreksia,nyeri
tulang, nyeri leher, Bentuk : makula, papula (kondiloma lata) yang
menjadi pustula, pecah menjadi ulkus
 Stadium III: ( 3–7 thn)
Gumma : nekrosis sentral dikelilingi jaringan granulasi dan pada bgn luar
jaringan fibrosa, sifat destruktif. Gumma dapat pecah meninggalkan
sebuah ulkus berwarna kuning putih. Ditemukan pada lambung,hepar,
lien,paru-paru,testis,dll

ULKUS MOLLE ( Chancroid )

 Penyebab : bakteri Haemophillus Ducreyi


 Tanda-tanda/gejala: - timbul benjolan yang merah - nyeri dan lunakpada alat kelamin
 Akibat : pembesaran kelenjar lipat paha
 Masa tunas : 3 sampai 5 hari
KONDILOMA AKUMINATA ( Jengger Ayam )

 Penyebab : - virus Papilloma Virus


 Tanda-tanda/gejala : - terjadi pada alat kelamin seperti : timbul kutildaerah vagina dan
penis yang mudah luka - terjadi bintil-bintil berwarna pucat dengan permukaan sepert
bunga kol yang makin lama makin membesar
 Akibat : dapat terjadi kerusakan alat kelamin, mempercepat pertumbuhan bayi yang dapat
menghalangi lahirnya bayi, perdarahan pasca persalinan dan timbul papilomatosis larings
( kutil pada saluran pernafasan ) pada bayi baru lahir
 Masa tunas : 2 sampai 3 bulan
HERPES GENITALIS

 Penyebab : - Virus Herpes Simpleks 1 & 2 Type 1 keganasan rendah, yang diserang bagian
mulut Type 2 ganas, yang diserang alat kelamin
 Tanda-tanda/gejala : - di daerah kemaluan gerombolan vesikel, berwarna kemerahan, rasa
nyeri dan bila pecah meninggalkan bekas - terjadi pembesaran kelenjar yang nyeri - dapat
kambuh bila terjadi kelelahan fisik dan stres mental
 Akibat : - wanita hamil abortus
- kematian janin
- menyebabkan kanker serviks
 Masa tunas : 3 sampai 5 hari
KLAMIDIA

 Penyebab : bakteri Chlamydia Trachomatis


 Tanda-tanda/gejala : - timbul peradangan pada alat reproduksi laki- laki dan perempuan -
pada perempuan : keluarnya cairan dari alat kelamin yang berwarna kuning kecoklatan (
keputihan encer ),rasa nyeri rongga pinggul, perdarahan setelah hubungan seksual - pada
laki-laki : keluarnya cairan bening dari saluran kencing rasa nyeri saat kencing dan bisa
terjadi banyak keluar cairan bercampur nanah
 Masa tunas : 7 sampai 21 hari
LIMFOGRANULOMA VENERIUM

 Penyebab : Chlamydia Trachomatis


 Tanda-tanda/gejala : - terjadi luka yang sembuh sendiri tanpa pengobatan - pembengkakan
kelenjar getah bening - tumor tampak merah dan nyeri
 Akibat : - penyakit dapat meluas ke kelenjar getah bening di rongga panggul
 Masa tunas : 1 sampai 4 minggu
A I D S ( Acquired Immuno Deficiency Syndrome )

 Penyakit ini adalah kumpulan gejala akibat menurunnya system kekebalan tubuh karena
terinfeksi
 Penyebab : virus H I V ( Human Immunodeficiency Virus ) Virus ini tergolong unik
karena hidupnya. Diluar tidak bisa berkembang biak,tetapi jika hinggap di sel hidup, ia
akan mengubah sel tersebut menjadi pabrik virus
 Masa tunas : 5 sampai 10 tahun
 Tanda-tanda/gejala : - semula penderita nampak sehat
- setelah tahun ke 5 timbul : diare berulang, sering sariawanmulut,
penurunan berat badan secara mendadak, terjadi pembengkakan
di daerah getah bening
 Akibat : - Kekebalan tubuh semakin lemah dan akhirnya penderita mudah tejangkit
berbagai macam penyakit
- Dengan lemahnya kekebalan tubuh lama kelamaan meninggal dunia
 Cara penularan : 1. berganti-ganti pasangan seksual
2. pemakaian jarum suntik bekas orang yang terinfeks virus HIV
3. Menerima transfusi darah yang tercemar virus HIV
4. ibu hamil terinfeksi virus HIV bisa menularkan ke bayinya
5. Cairan susu ibu ( ASI )
6. HIV dapat menularkan hanya lewat sperma ( air mani),darah dan cairan
vagina
DAFTAR PUSTAKA
- Ananthanarayam, R.C.K.2000.Textbook of microbiology 6th edition. Orient LongmanLimited,
Himayatnagar.Hyderabad. 251,254.
- Anonim. 1999.Kapita Selekta Kedokteran. Edisi III. Media Aeculapius. Jakarta : UIpress. 478
- Dipiro, Joseph T (editor), 2005 Pharmacotherapy: A Pathophisiology approach, 3rd edition,
McGraw Hill, New
- York.Katzung, B G. 2001.Farmakologi Dasar Dan Klinik . Salemba medika.
- Mangatas AM, Ketut suwitra,2004 . Diagnosis Dan Penatalaksanaan InfeksiSaluran Kemih
Terkomplikasi,availableathttp://www.dexamedica.com/test/htdoes/dexamedica/article_files/isk.P
df
- Price, S. Anderson. Lorraine McCathy Wilson. 1994. Patofisiologis Konsep KlinisProses-Proses
Penyakit , edisi ke empat, diterjemahkan oleh Peter Anigrah.Jakarta: EGC.
- Shulman, Standford T.John P Phair. 1975. Dasar Biologis Dan Klinis Penyakit
Infeksiditerjemahkan oleh Samik wahab, Yogyakarta. UGM press.
- Suyono, Salmet. 2001.Buku Ajar Penyakit Dalam edisi ke tiga. Jakarta: UI press.