Anda di halaman 1dari 29

MAKALAH KIMIA KLINIK III

“GEJALA GANGGUAN KESEIMBANGAN CAIRAN DAN


ELEKTROLIT, PENYEBAB DAN FAKTOR YANG MENINGKATKAN
GANGGUAN KESEIMBANGAN”

DI SUSUN
OLEH
KELOMPOK II
HASNAWATI
FARADILA MAKATITA
FANI MARASABESSY
HARDIANTY SYARIEF
ERNAYANTI
GLONINDI TITARSOLE
IRAMA SELVIAN SIWALETTE
NIA SUKMAWATI WATTIHELUW

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES MALUKU
PROGRAM STUDI ANALIS KESEHATAN
AMBON
2019
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan yang Maha Esa yang telah memberikan

rahmat serta hidayah-Nya kepada kami sehingga makalah yang berjudul

“Gejala Gangguan Keseimbangan Cairan Dan Elektrolit, Penyebab Dan Faktor

Yang Dapat Meningkatkan Gangguan Keseimbangan” ini dapat diselesaikan

dengan baik.

Pembuatan makalah ini bertujuan untuk memenuhi salah satu tugas mata

kuliah Kimia Klinik III dari dosen yang bersangkutan serta membuat mahasiswa

lebih memahami tentang Gejala Gangguan Keseimbangan Cairan Dan

Elektrolit, Penyebab Dan Faktor Yang Dapat Meningkatkan Gangguan

Keseimbangan. Dalam pembuatan makalah ini, kami mendapatkan bantuan

serta bimbingan dari beberapa pihak. Untuk itu kami menyampaikan banyak

terima kasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam pembuatan

makalah ini.

Kami menyadari sepenuhnya bahwa makalah ini masih ada kekurangan

baik dari segi susunan kalimat, tata bahasa maupun isi materinya. Oleh karena

itu kami menerima segala kritik dan saran dari para pembaca agar makalah ini

dapat lebih baik lagi.

Kami berharap semoga makalah tentang “Gejala Gangguan

Keseimbangan Cairan Dan Elektrolit, Penyebab Dan Faktor Yang Dapat

i
Meningkatkan Gangguan Keseimbangan” ini dapat memberikan manfaat

terhadap pembaca.

Ambon, 03 September 2019

Kelompok II

ii
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ....................................................................................... i


DAFTAR ISI ................................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN ................................................................................. 1
A. LATAR BELAKANG ............................................................................. 1
B. RUMUSAN MASALAH ......................................................................... 2
C. TUJUAN PENULISAN .......................................................................... 2
BAB II PEMBAHASAN .................................................................................. 3
A. GANGGUAN KESEIMBANGAN CAIRAN DAN ELEKTROLIT .......... 3
1. Gangguan Keseimbangan Cairan ................................................... 3
a. Overhidrasi ................................................................................ 3
b. Dehidrasi ................................................................................... 4
2. Gangguan keseimbangan elektrolit ................................................ 5
a. Hiponatremia ............................................................................. 6
b. Hipernatremia ............................................................................ 9
c. Hipokalemia ............................................................................. 12
d. Hiperkalemia ............................................................ 14
e. Hipokalsemia ........................................................................... 17
B. PENYEBAB DAN FAKTOR YANG DAPAT MENINGKATKAN
GANGGUAN KESEIMBANGAN ....................................................... 20
1. Penyebab Gangguan Keseimbangan ........................................... 20
2. Faktor Gangguan Keseimbangan ................................................. 21
BAB III PENUTUP ........................................................................................ 23
A. KESIMPULAN .................................................................................... 23
B. SARAN ............................................................................................... 24

DAFTAR PUSTAKA

iii
BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Gangguan cairan dan elektrolit sangat umum pada periode perioperatif. Cairan

intravena dengan jumlah yang besar sering diperlukan untuk memperbaiki

defisit cairan dan mengkompensasi kehilangan darah selama operasi. Cairan

dan elektrolit di dalam tubuh merupakan satu kesatuan yang tidak dapat

terpisahkan. Komposisi cairan dan elektrolit di dalam tubuh diatur sedemikan

rupa agar keseimbangan fungsi organ vital dapat dipertahankan. Gangguan

besar dalam keseimbangan cairan dan elektrolit dapat dengan cepat

mengubah kardiovaskular, saraf, dan fungsi neuromuskular, dan penyedia

anestesi harus memiliki pemahaman yang jelas air normal dan elektrolit

fisiologi.

Kebutuhan cairan dan elektrolit adalah suatu proses dinamik karena

metabolisme tubuh membutuhkan perubahan yang tetap dalam berespons

terhadap stressor fisiologis dan lingkungan. Keseimbangan cairan adalah

esensial bagi kesehatan. Dengan kemampuannya yang sangat besar untuk

menyesuaikan diri, tubuh mempertahankan keseimbangan, biasanya dengan

proses-proses faal (fisiologis) yang terintegrasi yang mengakibatkan adanya

1
2

lingkungan sel yang relatif konstan tapi dinamis. Kemampuan tubuh untuk

mempertahankan keseimbangan cairan ini dinamakan “homeostasis”.

B. RUMUSAN MASALAH

Rumusan masalah dari makalah ini adalah sebagai berikut :

1. Apa saja gejala gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit ?

2. Apa saja penyebab yang dapat meningkatkan gangguan

keseimbangan ?

3. Apa saja faktor yang dapat meningkatkan gangguan keseimbangan ?

C. TUJUAN PENULISAN

Tujuan penulisan dari malakah ini adalah sebagai barikut :

1. Untuk mengetahui gejala gangguan keseimbangan cairan dan

elektrolit.

2. Untuk mengetahui penyebab yang dapat meningkatkan gangguan

keseimbagan.

3. Untuk mengetahui faktor yang dapat meningkatkan gangguan

keseimbangan.
3

BAB II
PEMBAHASAN

A. GANGGUAN KESEIMBANGAN CAIRAN DAN ELEKTROLIT

1. Gangguan Keseimbangan Cairan Tubuh

a. Overhidrasi

Air, seperti subtrat lain, berubah menjadi toksik apabila dikonsumsi

secara berlebihan dalam jangka waktu tertentu. Intoksikasi air

sering terjadi bila cairan di konsumsi tubuh dalam kadar tinggi tanpa

mengambil sumber elektrolit yang menyeimbangi kemasukan

cairan tersebut. Overhidrasi terjadi jika asupan cairan lebih besar

daripada pengeluaran cairan. Kelebihan cairan dalam tubuh

menyebabkan konsentrasi natrium dalam aliran darah menjadi

sangat rendah. Penyebab overhidrasi meliputi, adanya gangguan

ekskresi air lewat ginjal (gagal ginjal akut), masukan air yang

berlebihan pada terapi cairan, masuknya cairan irigator pada

tindakan reseksi prostat transuretra, dan korban tenggelam. Gejala

overhidrasi meliputi, sesak nafas, edema, peningkatan tekanan

vena jugular, edema paru akut dan gagal jantung. Dari pemeriksaan

lab dijumpai hiponatremi dalam plasma. Terapi terdiri dari

pemberian diuretik(bila fungsi ginjal baik), ultrafiltrasi atau dialisis

(fungsi ginjal menurun), dan flebotomi pada kondisi yang darurat.


4

b. Dehidrasi

Dehidrasi merupakan suatu kondisi defisit air dalam tubuh akibat

masukan yang kurang atau keluaran yang berlebihan. Kondisi

dehidrasi bisa terdiri dari 3 bentuk, yaitu: isotonik (bila air hilang

bersama garam, contoh: GE akut, overdosis diuretik), hipotonik

(Secara garis besar terjadi kehilangan natrium yang lebih banyak

dibandingkan air yang hilang. Karena kadar natrium serum rendah,

air di kompartemen intravaskular berpindah ke ekstravaskular,

sehingga menyebabkan penurunan volume intravaskular),

hipertonik (Secara garis besar terjadi kehilangan air yang lebih

banyak dibandingkan natrium yang hilang. Karena kadar natrium

tinggi, air di kompartemen ekstravaskular berpindah ke

kompartemen intravaskular, sehingga penurunan volume

intravaskular minimal).

Tabel 6. Derajat Dehidrasi

Derajat % Kehilangan Air Gejala

Ringan 2-4% dari BB Rasa haus, mukosa

kulit

kering, mata cowong


5

4-8% dari BB Sda, disertai delirium,

sedang oligo uri, suhu tubuh

meningkat

Berart 8-14% dari BB Sda, disertai koma,

hipernatremi,

viskositas

plasma meningkat

Pada pemeriksaan laboratorium menunjukkan hipernatremia dan

peningkatan

hematokrit.

Terapi dehidrasi adalah mengembalikan kondisi air dan garam yang

hilang. Jumlah dan jenis cairan yang diberikan tergantung pada

derajat dan jenis dehidrasi dan elektrolit yang hilang. Pilihan cairan

untuk koreksi dehidrasi adalah cairan jenis kristaloid RL atau NaCl.

2. Gangguan Keseimbangan Elektrolit

Gangguan elektrolit adalah kondisi saat kadar elektrolit di dalam tubuh

seseorang menjadi tidak seimbang, baik terlalu tinggi atau terlalu

rendah. Ketidakseimbangan kadar elektrolit bisa menimbulkan

berbagai gangguan pada fungsi organ di dalam tubuh. Bahkan pada


6

kasus yang berat, bisa menyebabkan kejang, koma, dan gagal

jantung.

Gangguan keseimbangan elektrolit yang umum yang sering

ditemukan pada kasuskasus

di rumah sakit hanyalah beberapa sahaja. Keadaan-keadaan tersebut

adalah3:

a) Hiponatremia dan hypernatremia

b) Hipokalemia dan hyperkalemia

c) Hipokalsemia.

a. Hiponatremia

Hiponatremia selalu mencerminkan retensi air baik dari peningkatan

mutlak dalam jumlah berat badan (total body weight, TBW) atau

hilangnya natrium dalam relatif lebih hilangnya air. Kapasitas normal

ginjal untuk menghasilkan urin encer dengan osmolalitas serendah 40

mOsm / kg (berat jenis 1,001) memungkinkan mereka untuk

mengeluarkan lebih dari 10 L air gratis per hari jika diperlukan. Karena

cadangan yang luar biasa ini, hiponatremia.

hampir selalu merupakan efeknya dari akibat kapasitas pengenceran

urin tersebut (osmolalitas urin> 100 mOsm / kg atau spesifik c

gravitasi> 1,003). Kondisi hiponatremia apabila kadar natrium plasma


7

di bawah 130mEq/L. Jika < 20 mg/L maka akan timbul gejala

disorientasi, gangguan mental, letargi, iritabilitas, lemah dan henti

pernafasan, sedangkan jika kadar < 110 mg/L maka akan timbul gejala

kejang, koma. Antara penyebab terjadinya Hiponatremia adalah

euvolemia (SIADH, polidipsi psikogenik), hipovolemia (disfungsi tubuli

ginjal, diare, muntah, third space losses, diuretika), hypervolemia

(sirosis, nefrosis). Terapi untuk mengkoreksi hiponatremia yang sudah

berlangsung lama dilakukan secara perlahan-lahan, sedangkan untuk

hiponatremia akut lebih agresif.

Dosis NaCl yang harus diberikan, dihitung melalui rumus berikut:

NaCl = 0,6( N-n) x BB

N = Kadar Na yang diinginkan

n = Kadar Na sekarang

BB = berat badan dalam kg


8

Tabel 7. Gradasi Hiponatremia

Gradasi Gejala Tanda

Ringan ( Na 105-118) Haus Mukosa kering

Sedang (Na 90-104) Sakit kepala, mual, Takikardi, hipotensi

vertigo

Berat (Na <90) Apatis, koma Hipotermi

Pertimbangan Anestesi

Hiponatremia sering merupakan manifestasi dari gangguan yang

medasari sebuah

penyakit, justeru memerlukan evaluasi pra operatif yang amat teliti.

Konsentrasi natrium plasma lebih besar dari 130 mEq / L biasanya

dianggap aman untuk pasien yang menjalani anestesi umum.

Dalam sebagian besar keadaan, plasma [Na +] harus diperbaiki

untuk lebih dari 130 mEq / L untuk prosedur elektif, tanpa adanya

gejala neurologis. Konsentrasi yang lebih rendah dapat

menyebabkan edema serebral signifikan yang dapat

dimanifestasikan secara intraoperatif sebagai penurunan


9

konsentrasi alveolar minimum atau pasca operasi sebagai agitasi,

kebingungan, atau mengantuk. Pasien yang menjalani reseksi

transurethral dari prostat dapat menyerap jumlah air yang banyak

dari cairan irigasi (sebanyak 20 mL / menit) dan berada pada risiko

tinggi untuk pengembangan cepat yang mendalam keracunan air

akut.

Pasien hiponatremia amat sensitif terhadap vasodilatasi dan efek

inotropik negatif dari anestesi uap, propofol, dan agen terkait

dengan pelepasan histamin (morfin, meperidine).

Persyaratan dosis untuk obat lain juga harus dikurangi untuk

mengimbangi penurunan volume distribusi. Pasien hiponatremia

sangat sensitif terhadap blokade simpatik dari anestesi spinal atau

epidural. Jika anestesi harus diberikan sebelum koreksi yang

memadai hipovolemia,etomidate atau ketamin mungkin agen

induksi pilihan untuk anestesi umum.

b. Hipernatremia

Hiperosmolalitas terjadi setiap kali total kandungan tubuh terlarut

meningkatkan relative terhadap TBW dan biasanya, tapi tidak

selalu, berhubungan dengan hipernatremia ([Na +]> 145 mEq / L).

Hiperosmolalitas tanpa hipernatremia dapat dilihat selama

hiperglikemia ditandai atau mengikuti akumulasi zat osmotik aktif


10

normal dalam plasma. Konsentrasi natrium plasma dapat benar-

benar berkurang karena air diambil dari intraseluler ke

kompartemen ekstraseluler. Untuk setiap 100 mg peningkatan / dL

pada konsentrasi glukosa plasma, natrium plasma menurun sekitar

1,6 mEq / L. Hipernatremia hampir selalu merupakan hasil dari baik

kerugian relatif air lebih dari natrium (hipotonik cairan rugi) atau

retensi dalam jumlah besar natrium. Bahkan ketika kemampuan

berkonsentrasi ginjal terganggu, haus biasanya sangat efektif

dalam mencegah hipernatremia. Hipernatremia karena itu paling

sering terlihat pada pasien lemah yang tidak dapat minum, sangat

tua, yang sangat muda, dan pasien dengan gangguan kesadaran.

Pasien dengan hipernatremia mungkin memiliki konten natrium

tubuh total yang rendah, normal, atau tinggi.

Jika kadar natrium > 150 mg/L maka akan timbul gejala berupa

perubahan mental, letargi, kejang, koma, lemah.3 Manifestasi

neurologis akan mendominasi dahulu pada pasien dengan

hipernatremia dan umumnya diduga hasil dari dehidrasi selular.

Gelisah, lesu, dan hyperreflexia dapat berkembang menjadi kejang,

koma, dan akhirnya kematian. Gejala berkorelasi lebih dekat

dengan laju pergerakan air keluar dari sel-sel otak daripada tingkat

absolut hipernatremia. Cepat penurunan volume otak akan

menyebabkan pembuluh darah otak pecah dan mengakibatkan


11

fokus perdarahan intraserebral atau subarachnoid. Kejang dan

kerusakan saraf serius yang umum, terutama pada anak-anak

dengan hipernatremia akut ketika plasma [Na +] melebihi 158 mEq

/ L. Hipernatremia kronis biasanya ditoleransi lebih baik

berbanding dengan bentuk akut.

Hipernatremi dapat disebabkan oleh kehilangan cairan (yang

disebabkan oleh diare, muntah, diuresis, diabetes insipidus,

keringat berlebihan), asupan air kurang, asupan natrium

berlebihan.1,3,4,5,7 Pengobatan hipernatremia bertujuan untuk

mengembalikan osmolalitas plasma normal serta mengoreksi

penyebab yang mendasari. Defisit air umumnya harus diperbaiki

dalam 48 jam dengan larutan hipotonik seperti 5% dextrose dalam

air. Kelainan pada volume ekstraseluler juga harus diperbaiki.

Namun, koreksi yang cepat dari hypernatremia dapat

mengakibatkan kejang, edema otak, kerusakan saraf permanen,

dan bahkan kematian. Justru pemberian serial Na + osmolalitas

harus diperoleh selama pengobatan. Secara umum,penurunan

konsentrasi natrium plasma tidak harus melanjutkan pada tingkat

yang lebih cepat dari 0,5 mEq / L / jam.1 Terapi keadaan ini adalah

penggantian cairan dengan 5% dekstrose

dalam air sebanyak {(X-140) x BB x 0,6}: 140.


12

Pertimbangan anestesi

Hasil kajian mendapatkan hipernatremia akan meningkatkan

konsentrasi alveolar minimum pada anestesi inhalasi pada hewan

percobaan, tetapi signifikasi klinisnya lebih mendekati dengan

defisit cairan yang terkait. Hipovolemia akan lebih terlihat pada

setiap vasodilatasi atau depresi jantung dari agen anestesi dan

predisposisi hipotensi dan hipoperfusi jaringan. Penurunan volume

distribusi untuk obat memerlukan pengurangan dosis untuk

sebagian besar agen intravena, sedangkan penurunan cardiac

output meningkatkan penyerapan anestesi inhalasi. Operasi elektif

harus ditunda pada pasien dengan hipernatremia yang signifikan (>

150 mEq / L) sampai penyebabnya didirikan dan defisit cairan

dikoreksi. Air dan defisit cairan isotonik harus diperbaiki sebelum

operasi elektif.

c. Hipokalemia

Nilai normal Kalium plasma adalah 3,5-4,5 mEq/L. Disebut

hipokalemia apabila kadar kalium <3,5mEq/L. Dapat terjadi akibat

dari redistribusi akut kalium dari cairan ekstraselular ke intraselular

atau dari pengurangan kronis kadar total kalium tubuh. Tanda dan

gejala hipokalemia dapat berupa disritmik jantung, perubahan EKG

(QRS segmen melebar, ST segmen depresi, hipotensi postural,


13

kelemahan otot skeletal, poliuria, intoleransi glukosa. Terapi

hipokalemia dapat berupa koreksi faktor presipitasi (alkalosis,

hipomagnesemia, obatobatan), infuse potasium klorida sampai 10

mEq/jam (untuk mild hipokalemia >2 mEq/L) atau infus potasium

klorida sampai 40 mEq/jam dengan monitoring oleh EKG (untuk

hypokalemia berat;<2mEq/L disertai perubahan EKG, kelemahan

otot yang hebat).

Rumus untuk menghitung defisit kalium:

K = K1 - (K0 x 0,25 x BB)

K = kalium yang dibutuhkan

K1 = serum kalium yang diinginkan

K0 = serum kalium yang terukur

BB = berat badan (kg)

Pertimbangan anestesi

Hipokalemia merupakan temuan pra operasi umum. Keputusan

untuk melanjutkan dengan operasi elektif sering didasarkan pada

plasma lebih rendah [K +] antara 3 dan 3,5 mEq/L. Keputusan,


14

bagaimanapun, juga harus didasarkan pada tingkat

perkemkembangan hipokalemia serta ada atau tidak adanya

disfungsi organ sekunder. Secara umum, hypokalemia ringan kronis

(3-3,5 mEq / L) tanpa perubahan EKG tidak meningkatkan risiko

anestesi. Namun ini mungkin tidak berlaku untuk pasien yang

menerima digoksin, yang mungkin mempunyai peningkatan risiko

mengembangkan lagi toksisitas digoxin dari hypokalemia tersebut.

Maka nilai plasma [K +] di atas 4 mEq / L yang diinginkan pada

pasien tersebut. Manajemen intraoperatif hipokalemia

membutuhkan pemantauan EKG yang teliti dan berwaspada.

Kalium intravena harus diberikan jika atrium atau ventrikel aritmia

terjadi. Solusi intravena glukosa bebas harus digunakan dan

hiperventilasi harus dihindari untuk mencegah penurunan lebih

lanjut dalam plasma [K +]. Peningkatan sensitivitas terhadap blocker

neuromuskuler (NMBS) akan dapat dilihat pada status hipokalemia,

oleh karena itu dosis NMBS harus dikurangi 25-50%, dan stimulator

saraf harus digunakan untuk mengikuti tingkat kelumpuhan dan

kecukupan reversinya.

d. Hiperkalemia

Kalium (K+) memainkan peran utama dalam elektrofisiologi dari

membran sel serta


15

karbohidrat dan protein sintesis. Potensial membran sel istirahat

biasanya tergantung pada rasio intraseluler dan ekstraseluler

konsentrasi kalium. Konsentrasi kalium intraseluler diperkirakan

140 mEq / L, sedangkan konsentrasi kalium ekstraseluler biasanya

sekitar 4 mEq/L. Dalam beberapa kondisi, redistribusi K+ antara

cairan ekstraselular dan kompartemen cairan intraselular dapat

mengakibatkan perubahan yang nyata dalam ekstraseluler K+

tanpa perubahan total konten kalium tubuh.

Hiperkalemia adalah jika kadar kalium > 5 mEq/L. Hiperkalemia

sering terjadi karena insufisiensi renal atau obat yang membatasi

ekskresi kalium (NSAIDs, ACE-inhibitor, siklosporin, diuretik).

Tanda dan gejalanya terutama melibatkan susunan saraf pusat

(parestesia, kelemahan otot) dan sistem kardiovaskular (disritmik,

perubahan EKG). Efek paling penting dari hiperkalemia berada di

otot rangka dan jantung. Kelemahan otot rangka pada umumnya

tidak terlihat sampai plasma [K +] lebih besar dari 8 mEq / L, dan

karena depolarisasi berkelanjutan spontan dan inaktivasi kanal Na

+ membran otot, akhirnya mengakibatkan kelumpuhan. Perubahan

EKG berlaku secara berurutan dari simetris memuncak gelombang

T (sering dengan interval QT memendek) → pelebaran kompleks

QRS → perpanjangan interval P-R → hilangnya gelombang P →

hilangnya amplitudo R-gelombang → depresi segmen ST (kadang-


16

kadang elevasi) → EKG yang menyerupai gelombang sinus,

sebelum perkembangan fibrilasi ventrikel dan detak jantung.

Kontraktilitas dapat relatif baik dipertahankan sampai akhir dalam

perjalanan hiperkalemia progresif. Hipokalsemia, hiponatremia, dan

asidosis menonjolkan efek jantung hyperkalemia.

Tabel 8. Gambaran EKG berdasarkan Kadar K Plasma

Kadar K plasma Gambaran EKG

5,5-6 mEq/L Gelombang T tinggi

6-7 mEq/L P-R memanjang dan QRS

melebar

7-8 mEq/L P mengecil & takikardi ventrikel

>8 mEq/L Fibrilasi ventrikel

Bila kadar K plasma <6,5mEq/L diberikan: Diuretik, Natrium

bikarbonat, Ca glukonas, glukonas-insulin, Kayekselate. Bila dalam

6 jam belum tampak perbaikan, dilakukan hemodialisis. Bila fungsi

ginjal jelek, pertimbangkan hemodialisis lebih dini. Pada kadar K

plasma >6,5 mEq/L, segera lakukan dialisis.


17

Pertimbangan Anestesi

Operasi elektif sebaiknya tidak dilakukan pada pasien dengan

hiperkalemia signifikan. Manajemen anestesi pasien bedah

hiperkalemia diarahkan pada menurunkan konsentrasi kalium

plasma dan mencegah kenaikan lebih lanjut. EKG harus hati-hati

dipantau. Suksinilkolin merupakan kontraindikasi, seperti

penggunaan setiap solusi intravena yang menagndungi kalium

seperti injeksi Ringer laktat. Menghindari asidosis metabolik atau

respiratorik sangat penting untuk mencegah kenaikan lebih lanjut

dalam plasma [K +]. Ventilasi harus dikontrol dengan anestesi

umum, dan hiperventilasi ringan mungkin diinginkan. Terakhir,

fungsi neuromuskular harus dipantau secara ketat, karena

hyperkalemia dapat menonjolkan efek NMBS.

e. Hipokalsemia

Meskipun 98% dari total kalsium tubuh dalam tulang, pemeliharaan

konsentrasi kalsium ekstraseluler normal adalah penting untuk

homeostasis. Ion kalsium terlibat dalam fungsi biologis hampir

semua penting, termasuk kontraksi otot, pelepasan

neurotransmitter dan hormon, pembekuan darah, dan metabolisme

tulang, dan kelainan pada keseimbangan kalsium dapat

mengakibatkan derangements fisiologis yang mendalam.


18

Asupan kalsium pada orang dewasa rata-rata 600-800 mg / d.

Penyerapan kalsium terjadi di usus terutama di usus kecil proksimal

tetapi adalah variabel. Kalsium juga disekresi ke dalam saluran

usus, dimana sekresi ini tampaknya konstan dan independen dari

penyerapan. Hingga 80% dari asupan kalsium harian biasanya

hilang dalam feses. Ginjal bertanggung jawab untuk sebagian besar

ekskresi kalsium. Rata-rata ekskresi kalsium ginjal 100 mg / d

namun dapat bervariasi dari serendah 50 mg / d ke lebih dari 300

mg / d. Biasanya, 98% dari kalsium disaring dan diserap kembali.

Reabsorpsi kalsium paralel dengan natrium dalam tubulus ginjal

proksimal dan loop menaik Henle. Di tubulus distal, bagaimanapun,

reabsorpsi kalsium tergantung pada hormon paratiroid (PTH)

sekresi, sedangkan reabsorpsi natrium tergantung pada sekresi

aldosteron. tingkat PTH meningkat meningkatkan reabsorpsi

kalsium distal dan dengan demikian menurunkan ekskresi kalsium

urin.

90% kalsium terikat dalam albumin, sehingga kondisi hipokalsemia

biasanya terjadi pada pasien dengan hipoalbuminemia.

Hipokalsemia disebabkan karena hipoparatiroidism, kongenital,

idiopatik, defisiensi vit D, defisiensi 125(OH)2D3 pada gagal ginjal

kronik, dan hiperfosfatemia.3 Manifestasi dari hipokalsemia


19

termasuk kulit kering, parestesia, gelisah dan kebingungan,

gangguan irama jantung, laring stridor (spasme laring), tetani

dengan spasme karpopedal (tanda Trousseau), masseter spasme

(Tanda Chvostek), dan kejang. kolik bilier dan bronkospasme. 1,3

EKG dapat mengungkapkan irritasi jantung atau interval QT

perpanjangan yang mungkin tidak berkorelasi antara tingkat

keparahan dengan tingkat hipokalsemia. Penurunan kontraktilitas

jantung dapat mengakibatkan gagal jantung, hipotensi, atau

keduanya. Penurunan respon terhadap digoxin dan β-adrenergik

agonis juga dapat terjadi.

Seperti yang diketahui, hipokalsemia adalah suatu kondisi yang

gawat darurat karena menyebabkan kejang umum dan henti

jantung. Dapat diberikan 20-30 ml preparat kalsium glukonas 10%

atau CaCl 10% dapat diulang 30-60 menit kemudian sampai

tercapai kadar kalsium plasma yang optimal. Pada kasus kronik,

dapat dilanjutkan dengan terapi per oral.

Pertimbangan anestesi

Hipokalsemia yang signifikan harus diperbaiki sebelum operasi.

Kadar kalsium terionisasi harus dipantau intraoperatif pada pasien

dengan riwayat hipokalsemia. Alkalosis harus dihindari untuk

mencegah penurunan lebih lanjut dalam Ca 2+. Kalsium intravena


20

mungkin diperlukan seiring transfusi darah sitrat atau pada solusi

albumin dengan jumlah besar. Potensiasi efek inotropik negatif dari

barbiturat dan anestesi volatile harus diintipasi. Respon untuk

NMBS adalah tidak konsisten dan memerlukan pemantauan ketat

dengan stimulator saraf.

B. PENYEBAB DAN FAKTOR YANG DAPAT MENINGKATKAN

GANGGUAN KESEIMBANGAN.

1. Penyebab gangguan keseimbangan

Biasanya, seseorang akan kehilangan mineral setiap harinya.

Sejumlah kecil hilang setiap kali seseorang pergi ke kamar mandi

atau berkeringat terlalu banyak. Namun, hal ini tidak akan

menimbulkan masalah karena mineral yang hilang bisa dengan

mudah diganti, caranya dengan meminum cairan dan makan

makanan yang mengandung mineral tersebut.

Masalahnya timbul saat tubuh tidak bisa mengganti mineral yang

hilang lebih cepat daripada saat tubuh kehilangan mineral.

Contohnya, ketika seseorang kehilangan banyak darah akibat luka

traumatis. Hal ini juga bisa terjadi jika organ tubuh tidak bekerja

dengan benar karena penyakit tertentu, seperti jenis kanker dan

penyakit ginjal kronis.


21

Kemungkinan penyebab lainnya, seperti:

 Penyalahgunaan alkohol

 Pola makan buruk yang rendah nutrisi dan mineral

 Penyakit yang menyebabkan diare, muntah, dan demam

 Ketidakmampuan menyerap nutrisi dari makanan karena

masalah pencernaan

 Meminum obat tertentu untuk pengobatan penyakit tertentu.

2. Faktor gangguan keseimbangan

Gangguan elektrolit bisa menyerang siapa saja, tetapi orang

dengan kondisi di bawah ini lebih rentan untuk mengalaminya,

antara lain:

 Gangguan makan, seperti anoreksia atau bulimia

 Gangguan tiroid dan paratiroid

 Gangguan kelenjar adrenal

 Gagal jantung

 Kecanduan alkohol

 Luka bakar

 Penyakit ginjal

 Patah tulang
22

 Sirosis.
23

BAB III

PENUTUP

A. KESIMPULAN
Secara normal, tubuh bisa mempertahankan diri dari ketidakseimbangan

cairan dan elektrolit. Namun, ada kalanya tubuh tidak bisa mengatasinya.

Ini terjadi apabila kehilangan tterjadi dalam total banyak sekaligus, seperti

pada muntah-muntah, diare, berkeringat luar biasa, terbakar,

luka/pendarahan dan sebagainya. Cairan dan elektrolit (zat lerlarut)

didalam tubuh merupakan suatu kesatuan yang tidak terpisahkan. Bentuk

gannguan keseimbangan cairan yang umum terjadi adalah lebeihan atau

kekurang cairan iaitu air. Kelebihan cairan disebut overhidrasi, sebaliknya

kekurang airan disebut dehidrasi. Zat terlarut yang ada dalam cairan tubuh

terdiri dari elektrolit dan nonelektrolit. Non elektrolit adalah zat terlarut yang

tidak terurai dalam larutan dan tidak bermuatan listrik, seperti protein, urea,

glukosa, oksigen, karbon dioksida dan asam-asam organik. Sedangkan

elektrolit tubuh mencakup natrium (Na+), kalium (K+), kalsium (Ca++),

magnesium (Mg++), klorida (Cl-), bikarbonat(HCO3-), fosfat (HPO42-),

sulfat (SO42-). Elektrolit yang utama yang sering menyebabkan gangguan

pada hemodinamik tubuh adalah natrium, kalium, dan kalsium Pasien

yuang mengalami gangguan cairan dan elektrolit sebaiknya segera

ditangani karena sebagian besar dalam tubuh manusia terdiri dari cairan
24

dan elektrolit dan apabila tidak segera ditangani akan menyebabkan

kematian.

B. SARAN

Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi para pembaca terutama untuk

mahasiswa Analis Kesehatan yang ada di Poltekkes Maluku.


DAFTAR PUSTAKA

Butterworth JF, Mackey DC, Wasnick JD. Management of Patients with Fluid
and Electrolyte Disturbances. Dalam Morgan & Mikhail’s Clinical
Anesthesiology 5th ed. New York: Mc-Graw Hill. 2013; 4 (49): h. 1107 – 40.
Hines RL, Marschall KE. Fluid, Electrolytes, and Acid-Base Disorders. Dalam
Handbook for Stoelting’s Anesthesia and Co-Existing Disease 4th ed.
Philadelphia: Elsevier Inc. 2013; 18: h.216 – 230.
Mangku G, Senapathi TGA. Keseimbangan Cairan dan Elektrolit. Dalam Buku
Ajar Ilmu Anestesia dan Reanimasi. Jakarta: Indeks; 2010. 6 (5) : h.272 –
98.
Hahn RG. Crystalloid Fluids. Dalam Clinical Fluid Therapy in the Perioperative
Setting. Cambridge: Cambridge University Press. 2012; 1 : h. 1 – 10.
Stoelting RK, Rathmell JP, Flood P, Shafer S. Intravenous Fluids and
Electrolytes. Dalam Handbook of Pharmacology and Physiology in
Anesthetic Practice 3rd ed. Philadelphia: Wolters Kluwer Health. 2015; 17 :
h. 341 – 49.
Voldby AW, Branstrup B. Fluid Therapy in the Perioperative Setting. Journal of
Intensive Care. 2016; 4 : h.27 – 39.