Anda di halaman 1dari 28

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Biologi molekuler dapat didefinisikan sebagai ilmu yang
mempelajari fungsi dan organisasi jasad hidup (organisme) ditinjau
dari struktur dan regulasi molekular unsur atau komponen
penyusunnya. Didalamnya terdapat mengena replikasi DNA,
transkripsi, translasi, rekombinasi, translokasi serta tentang pewarisan
gen. Organisasi dan struktur rinci jasad hidup menunjukkan adanya
perbedaan-perbedaan mendasar dalam hal morfologi maupun reaksi
molekuler yang terjadi di dalam jasad bersel tunggal maupun jasad
bersel banyak.
Biologi molekular adalah studi biologi pada tingkat molekuler.
Bidang ini bertumpang tindih dengan bidang biologi dan kimia,
terutama genetika dan biokimia. Biologi molekuler terutama berkutat
memahami interaksi antara berbagai sistem sel, termasuk interaksi
antara DNA, RNA dan protein biosintesis dan juga belajar bagaimana
interaksi ini diatur.
Biologi molekuler adalah subspesialisasi ilmu yang ditujukan
untuk memahami struktur dan fungsi genom, yang lengkap DNA
(asam desoxyribonucleic), yaitu makromolekul yang berisi semua
informasi turun-temurun. Sekarang ini kita telah memasuki era biologi
molekuler. Tidak akan memakan waktu yang lama sebelum masalah
endokrin akan dijelaskan, didiagnosa dam diselesaikan pada tingkat
molekuler. Metode tradisional pengujian kadar hormon akan menjadi
praktis medis yang akan segera ditinggalkan (Fritz & Speroff, 2011).
Dalam makalah ini akan dijelaskan pengaruh biologi molekuler dalam
sistem endokrin

1
2

B. Tujuan
Tujuan dari penyusunan makalah ini adalah untuk mengetahui
tentang molekul yang mengatur reproduksi dan bagaimana mereka
terorganisir dalam konteks sistem endokrin.
3

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Biologi Molekuler dalam Endokrinologi


Sistem endokrin berkembang selama evolusi dari organisme
bersel tunggal sampai organisme multisel sebagai sarana komunikasi
melalui sinyal kimia yang mengkoordinasikan beberapa fungsi organik.
Penyelidikan sinyal kimia ini di tahun-tahun awal abad kedua puluh
memberikan awal munculnya ilmu endokrinologi, yang mengacu pada
studi tentang kelompok organ sekresi yang disebut kelenjar endokrin
yang mensekresikan hormon atau first messenger, langsung ke
dalam ruang interstitial dan masuk ke dalam system peredaran darah.
Berbeda dengan kelenjar endokrin, kelenjar eksokrin mensekresikan
produknya melalui saluran sistem pencernaan atau keluar dari tubuh
(Gardner & Shoback, 2007).
Pada awal tahun 1930, telah diketahui bahwa hormon
mempengaruhi kerja sistem saraf dan bahwa sistem endokrin
dikendalikan baik secara langsung maupun oleh tidak langsung oleh
sistem saraf. Sistem endokrin, dalam kaitannya dengan sistem saraf,
mengontrol dan memadukan fungsi tubuh. Kedua sistem ini bersama-
sama bekerja untuk mempertahankan homeostasis tubuh. Fungsi
mereka satu sama lain saling berhubungan, namun dapat dibedakan
dengan karakteristik tertentu. Misalnya, medulla adrenal dan kelenjar
hipofise posterior yang mempunyai asal dari saraf (neural). Jika
keduanya dihancurkan atau diangkat, maka fungsi dari kedua kelenjar
ini sebagian diambil alih oleh sistem saraf. Bila sistem endokrin
umumnya bekerja melalui hormon, maka sistem saraf bekerja melalui
neurotransmiter yang dihasilkan oleh ujung-ujung saraf.
Dari perspektif evolusi, sistem endokrin memberikan lingkungan
internal yang stabil pada organisme primitif. Dengan demikian,
perkembangan sistem endokrin mendahului perkembangan SSP yang
memerlukan kondisi internal yang stabil dalam menjalankan

3
4

fungsinya.. SSP mengembangkan lebih jauh sistem sensorik visual,


penciuman, pendengaran, dan persepsi taktil, yang terkait dengan
sistem endokrin. Dengan demikian, kelenjar endokrin merespon
sistem saraf dengan mengeluarkan hormon dan molekul sinyal
ekstraseluler lainnya yang berinteraksi secara kimiawi yang disebut
reseptor yang berlokasi pada organ target. Pengendalian hormon
oleh reseptor spesifik memicu reaksi yang melibatkan sintesis dan /
atau mobilisasi dari molekul kelompok kedua yang disebut intraseluler
second messenger, yang akhirnya mempengaruhi ekspresi gen dan
memperoleh respon biologis. Dari studi tentang mekanisme molekuler
dimana molekul sinyal endokrin mempengaruhi ekspresi gen maka
muncullah ilmu endokrinologi molekuler, yang didefinisikan sebagai
ilmu yang mempelajari aksi hormon pada tingkat seluler dan molekuler
(Chedrese, 2009)

B. Sistem Endokrin
Secara klasik, kelenjar endokrin meliputi hipotalamus, hipofisis,
pineal, tiroid, paratiroid, adrenal, pankreas langerhans, dan organ
reproduksi. Meskipun beberapa kelenjar ini akan tampaknya tidak
berhubungan dengan sistem reproduksi, sebagian besar dari
mereka, langsung atau tidak langsung, mempengaruhi reproduksi.
Konsep penting yang perlu dipertimbangkan adalah bahwa beberapa
sel dan non glandular jaringan dapat menghasilkan, mengubah, atau
mengeluarkan hormon atau zat seperti hormon. Selain itu, hampir
setiap organ dalam tubuh memiliki kemampuan endokrin terkait
dengan utama mereka fungsi, termasuk otak, plasenta, timus, ginjal,
jantung, pembuluh darah, kulit dan jaringan adiposa (Chedrese,
2009).
Secara umum sistem endokrin merupakan sistem yang
mengkoordinasi aspek-aspek fundamental seperti mempertahankan
lingkungan internal, metabolisme, reproduksi, perkembangan dan
pertumbuhan. Sistem endokrin terdiri dari kelenjar-kelenjar yang
5

mensekresikan sinyal kimia berupa hormon ke sistem peredaran


dalam tubuh. Fungsi dari sistem endokrin yaitu:
1. Metabolisme dan pematangan jaringan. Sistem endokrin
mengatur kecepatan metabolisme dan mempengaruhi
kematangan jaringan.
2. Regulasi ion. Sistem endokrin membantu mengatur pH darah dan
kadar Na+, K+, dan Ca2+ dalam darah.
3. Menjaga keseimbangan cairan dengan mengendalikan
konsentrasi larutan dalam darah.
4. Mengatur produksi sel imun.
5. Mengatur detak jantung dan tekanan darah.
6. Mengatur kadar gula dan zat lain dalam darah.
7. Mengatur fungsi reproduksi pada pria maupun wanita
8. Mengatur kontraksi uterus dan produksi air susu dari kelenjar
mamae pada wanita

Kelenjar endokrin melepaskan sekresinya langsung ke dalam


darah, dalam bentuk hormon.

1. Hormon
Hormon Istilah berasal dari bahasa Yunani hormaein, yang
berarti "untuk merangsang atau menggerakkan." Definisi klasik
dari hormon adalah suatu senyawa yang diproduksi oleh jaringan
khusus yang dilepaskan ke aliran darah dan berjalan jauh menuju
sel spesifik dimana hormon akan memberikan efek spesifiknya
(Chedrese, 2009).
Apa yang dulunya dianggap sebagai perjalanan sederhana
kini terungkap sebagai perjalanan panjang dan menjadi semakin
kompleks pada saat berbagai hasil penelitian di dunia tidak
mampu menjelaskannya secara rinci, bahkan pengertian hormon
yang hanya dihasilkan oleh jaringan spesifik kini menjadi sangat
dipertanyakan. Kompleks hormon dan resptornya kini
ditemukan pada organisme sel tunggal primitif, dan ini
6

menggambarkan bahwa kelenjar endokrin sebenarnya


merupakan hasil evolusi yang berkembang sangat lambat
kemudian.Kemampuan yang begitu luas dari berbagai sel untuk
memproduksi dan berreaksi terhadap hormon, menimbulkan
kenyataan yang tidaklah mengherankan apabila sel kanker dapat
menghasilkan hormon, karena pada dasarnya setiap sel memiliki
gena yang dapat mengekspresikan hormon, tergantung pada
diferensiasinya dan lingkungannya.
Kini, hormon dan neurotransmitter sebenarnya harus
dipandang sebagai alat komunikasi atau regulator kimiawi dan
signal. Peran hormon kini tidak hanya sebagai senyawa endokrin,
namun juga parakrin, autokrin atau intrakrin. Karena fungsi
komunikasinya, maka fungsi setiap signal akan dipengaruhi oleh
bagaimana signal tersebut disintesis, dilepaskan, berjalan menuju
target reseptor (transport), berikatan dengan reseptor,
menimbulkan reaksi/efek biologis dan mengalami degradasi atau
dihentikan efeknya.
Berdasarkan struktur kimianya, hormon diklasifikasikan
menjadi hormon yang larut dalam air atau yang larut dalam lemak.
Hormon yang larut dalam air termasuk polipeptida (misalnya.,
insulin, glukagon, hormon adrenokortikotropik (ACTH), gastrin)
dan katekolamin (misalnya., dopamin, norepinefrin, epinefrin).
Hormon yang larut dalam lemak termasuk steroid (misalnya.,
estrogen, progesteron, testosteron, glukokortikoid, aldosteron)
dan tironin (misalnya., tiroksin). Hormon yang larut dalam air
bekerja melalui sistem messenger-kedua, sementara hormon
steroid dapat menembus membran sel dengan bebas.
Meskipun setiap hormon adalah unik dan mempunyai fungsi
dan struktur tersendiri, namun semua hormon mempunyai
karakteristik berikut.
a. Tidak memulai fungsi yang baru, tetapi mengatur proses
seluler yang sudah ada
7

b. Mempunyai efek yang relatif singkat dan dalam konsentrasi


yang berubah-ubah, merespon dengan segera sesuai dengan
kadar fisiologis yang dibutuhkan
c. Mempunyai efek yang spesifik dan sensitif yang
mempengaruhi respon seluler yang unik pada konsentrasi
yang sangat rendah
d. Memicu “amplifying mechanism”, yang bearati bahwa dalam
jumlah yang kecil dapat memicu pelepasan sejumlah hormon
dalam jumlah yang lebih besar dan/ atau metabolisme
intraseluler di sel target sampai kebutuhan fisiologis terpenuhi
(Chedrese, 2009)

Hormon disekresi dalam salah satu dari tiga pola berikut:


a. Sekresi diurnal adalah pola yang naik dan turun dalam periode
24 jam. Kortisol adalah contoh hormon diurnal. Kadar kortisol
meningkat pada pagi hari dan turun pada malam hari.
b. Pola sekresi hormonal pulsatif dan siklik naik turun sepanjang
waktu tertentu, seperti bulanan. Estrogen adalah non siklik
dengan puncak dan lembahnya menyebabkan siklus
menstruasi.
c. Tipe sekresi hormonal yang ketiga adalah variabel dan
tergantung pada kadar subtrat lainnya. Hormon paratiroid
disekresi dalam berespons terhadap kadar kalsium serum

Hormon bekerja dalam sistem umpan balik. Loop umpan balik


dapat positif atau negatif dan memungkinkan tubuh untuk
dipertahankan dalam situasi lingkungan optimal. Hormon
mengontrol laju aktivitas selular. Hormon tidak mengawali
perubahan biokimia. Hormon hanya mempegaruhi sel-sel yang
mengandung reseptor yang sesuai, yang melakukan fungsi
spesifik. Hormon mempunyai fungsi dependen dan interdependen.
Pelepasan hormon dari satu kelenjar sering merangsang
pelepasan hormone dari kelenjar lainnya. Hormone secara konstan
8

di reactivated oleh hepar atau mekanisme lain dan diekskresi oleh


ginjal (Guyton & Hall, 2014)

2. Target Hormon
Saat hormon mencapai jaringan target, mereka berinteraksi
dengan molekul reseptor yang spesifik hormon. Reseptor tersebut
mempunyai daya tarik yang tinggi untuk hormon dan mempunya
kemampuan untuk memilih diantara ratusan molekul regulator lain
yang bersikulasi di dalam aliran darah dan yang tersebar di
seluruh tubuh. Daya tarik reseptor terhadap hormon harus cukup
tinggi dalam hubungannya dengan konsentrasi hormon dalam
darah. Jumlah hormon yang terikat pada reseptornya akan
berubah sebagai respon berubahnya level hormon dalam
sirkulasi.
Hormon mempunya tingkat kekhususan yang tinggi, walaupun
hormon diditsribusikan secara luas, reseptor dapat memperoleh
respon biologi yang spesifik dalam ruang yang terbatas tanpa
mempengaruhi jaringan yang lain. Oleh karena itu, definisi
hormon secara klasik diperluas meliputi molekul sinyal
ekstraseluler yang lain, seperti pengatuaran peptida, growth
factor, dan neurotransmitter yang disntesis secara lokal dan tidak
akan bereaksi dengan cara pensinyalan endokrin klasik. Pada
umumnya, semua hormon termasuk ke dalam molekul sinyal
ekstraseluler, tetapi tidak semua molekul ekstraseluler merupakan
hormon. Oleh karena itu, sebagai penambahan cara klasik sinyal
endokrin ekstraseluler, interaksi antara molekul sinyal
ekstraseluler dan targetnya meliputi cara pensinyalan yang lain
yaitu parakrin, neurokrin, autokrin, juxtakrin, intrakrin dan
kriptokrin (Chedrese, 2009).
9

Gambar. 1. Sinyal dalam endokrin / sistem reproduksi. (A) Pensinyalan: sinyal


yang dilepaskan ke dalam darah dan beraksi di tempat yang jauh. (B) parakrin
sinyal: sinyal menyebar dari satu jenis sel ke sel target yang pada jarak yang
dekat dekat dalam organ yang sama. (C) Neurocrine (atau synaptic) sinyal:
sinyal dapat disekresikan baik oleh neuron, sebagai neurotransmitter, atau
oleh kelenjar endokrin sebagai hormon klasik. (D) sinyal autokrin: sinyal yang
dihasilkan oleh kelompok sel utntuk mengatur kelompok sel itu sendiri. (E)
Juxtacrine sinyal: sinyal berupa membran plasma yang berikatan dengan
peptida yang mengikat reseptor pada sel dengan jarak yang dekatt. (F)
Intracrine sinyal: sebuah prekursor inaktiv endokrin (Hi) yang dihasilkan
dalam satu organ mencapai organ target dimana diubah menjadi senyawa aktif
endokrin (Ha). (G) Cryptocrine sinyal: molekul sinyal disintesis dan
diberikannya aksinya ke lingkungan selular tertutup tanpa dilepaskan kes
ekstraseluler. (H) Pherocrine dan photocrine sinyal: dalam sistem pherocrine,
feromon disekresikan ke lingkungan menargetkan individu-individu dengan
spesies yang sama. Dalam sistem photocrine, siang hari mempengaruhi
struktur dalam mata dan sinyal tersebut dikirimkan ke otak yang
mempengaruhi siklus reproduksi

Saat homon bekerja pada sel tetangga, aksi tersebut


dinamakan parakrin. Parakrin dapat digambarkan oleh aksi
hormon seks steroid pada ovarium dan angiotensin II pada ginjal.
Jenis lain dari aksi ini adalah hormon peptida dapat tertinggal dan
berikatan dengan satu membran sel dan beraksi dengan reseptor
pada sel yang bersebelahan. Ini disebut dengan pengaturan
10

juxtakrin. Ketika hormon dilepaskan dan beraksi pada lokasi pada


sel yang sama, hal ini dinamakan dengan autokrin. Autokrin
penting dalam mendukung pertumbuhan sel kanker yang tidak
teratur. Hormon juga dapat beraksi di dalam sel tanpa dilepaskan
atau dikeluarkan terlebih dahulu, ini disebut dengan efek intrakrin
(Gardner & Shoback, 2007)
a. Parakrin
Sel yang memproduksi molekul sinyal ekstraseluler yang dekat
dengan sel target. Contohnya hormon steroid androgenic
testoteron yang disintesis oleh sel Leydig dari testis dan
menstimulasi spermatogenesis di tubulus seminiferus, dan
hormon insulin polipeptida yang disentesis di sel β dari
pankreas langerhans dan menstimulasi sekresi glucagon yang
diproduksi oleh sel α.
b. Neurokrin
Molekul sinyal ekstraseluler adalah peptida atau amino yang
disekresi oleh neuron sebagai neurotransmitter atau
neurohormon. Contoh klasik dari neurosekresi adalah
hypotalamus-releasing hormon, gonadotropin releasing
hormon (GnRH) yang mencapai kelenjar hipofisis melewati
sirkulasi portal hipofisis dan merangsang sel gonadotropin
untuk mensintesis dan melepaskan Follicle Stimulating
Hormon (FSH) dan luteinizing hormon (LH). Contoh lain dari
pengaturan neurosekretori meliputi neuropeptida yang
disekresi oleh lobus posterior dari kelenjar hipofisis. Mereka
meliputi vasopresin, juga disebut antideuretik hormon (ADH),
dan oksitosin, dimana keduanya disintesis oleh neuron
hipotalamus dan ditransportasikan ke lobus kelenjar hipofisis.
Mereka juga dikeluarkan oleh hormon ke dalam sirkulasi
umum untuk mengatur fungsi di organ yang jauh. ADH
meningkat kan reabsorbsi air pada uterus selama partus dan
pengeluaran air susu di kelenjar payudara selama menyusui.
11

c. Autokrin
Molekul sinyal ekstraseluler diproduksi oleh kelompok sel yang
juga mengatur kelompok sel yang sama. Dengan kata lain
bekerja pada hormon yang mensintesis hormon itu sendiri
(Greensten & Wood, 2010). Dalam sistem reproduksi, 17β-
estradiol, disintesis oleh sel granulosa dari folikel ovarium,
mengatur sintesis sintesis progesteron dan pertumbuhan sel di
sel granulosa pada kelompok yang sama (Chedrese, 2009).
Contoh lain dari autokrin adalah insulin –like growth factor
(IGF-1) yang menstimulasi pembelahan sel di dalam sel yang
memproduksihormon tersebut. (Greensten & Wood, 2010).
Sel tumor memerlukan kontrol pertumbuhan autokrin dengan
memproduksi hormon growth factor mereka sendiri, membuat
sel mandiri dalam mengatur proliferasi (Chedrese, 2009).
d. Juxtakrin
Molekul sinyal ekstraseluler adalah membran yang berikatan
dengan peptida yang terikat pada sel reseptor di lokasi yang
dekat. Komunikasi interseluler ditransmisikan melalui
komponen membran dan pensinyalan bisa mempengaruhi
baik sel pemancar atau transmembran yang berbatasan
dengan sel. Tidak seperti cara-cara dalam pensinyalan sel,
pensinyalan juxtakrine memerlukan kontak fisik antara sel-sel
yang terlibat. Peptida harus bersentuhan dengan membran,
jika tidak maka aktifitas sinyal akan hilang. Sinyal juxtakrine
ektraseluler meliputi banyak growth factor seperti epidermal
growth factor (EGF), transforming growth factor –α (TGF-α),
tumor necrosis factor-α (TNF-α) dan colony stimulating factor-
1 (CSF-1)
e. Intrakrin
Enzim endocrine-active pada sel target mengubah molekul
sinyal ekstraseluler. Endocrine active pada sel target tidak
12

hanya mengekspresikan enzim yang mensintesis hormon aktif


tapi juga mengekspresikan enzim yang menginkatifkan
hormon. Oleh karena itu pensinyalan intrakrin mengatur
konsentrasi hormon sesuai dengan kebutuhan jaringan.
Contoh dari pensinyalan intrakrin adalah aktifitas biologi
hormon tiroksin (T4), yang disekresikan oleh kelenjar thiroid
dan diubah oleh iodothyronine deidodinase tipe 1 dan tipe 2
menjadi bentuk yang aktif yaitu triiodothyronine (T3).
Endocrine-active pada jaringan perifer juga mengekspresikan
enzim yang mengikatifkan aktifitas biologi pensinyalan
ekstraseluler seperti sulfotransferase. Contohnya adalah
perubahan dari T3 menjadi T4 menjadi tidak aktif oleh
iodothyronine deidodinase type 3 yang ditemukan terutama
pada jaringan fetal dan plasenta.
f. Kriptokrin
Molekul pensinyalan ekstraseluler disensitesis ke lingkungan
seluler yang tertutup tanpa pelepasan ektraseluler. Sistem ini
memerlukan asosiasi yang intim antara sel yang memproduksi
sinyal dan sel target. Selanjutnya pensinyalan molekul
ekstraseluler dapat mempengaruhi fungsi dari sel yang
kekurangan reseptor spesifik. Contohnya hubungan antara sel
sertoli dan spermatid dan transfer second messenger seperti
siklus nukelotida atau inositol trifosfat melewati gap junction
antara sel yang berdekatan.
g. Ferokrin dan fotokrin
Sistem endokrin juga merespon terhadap sinyal endokrin dari
lingkungan eksternal meliputi air-bone hormone atau hormone-
like molecules yang ada pada lingkungan dan sinyal cahaya
yang disebut ferokrin dan fotokrin
Sinyal ferokrin berhubungan dengan pengaruh sekresi
feromon ke lingkungan saat akan berpasangan secara
seksual. Sinyal feromon ditemukan pada mencit, tikus, babi,
13

domba dan monyet dan diasumsikan juga terdapat pada


manusia. Feromon dirasakan oleh jenis kelamin yang berbeda
pada spesies tersebut. Contoh sinyal ferokrin pria adalah
androgenic metabolic 3α-androstenol yang diproduksi pda
kelenjar saliva submaxilaris dan 5α-androstenone yang ada
pada lemak dan jaringan lain pada babi hutan lokal. Pada
banyak spesiea flora bakteri pada vagina memproduksi
feromon wanita dalam bentuk asam lemak rantai pendek.
Aktivitas dari flora vagina berubah sejalan dengan perubahan
tingakat sirkulasi estrogen dan progesteron dan dipercaya
bahwa asam lemak adalah olfactory stimuli yang dipancarkan
selama estrus (musim kawin), menyediakan informasi untuk
pria tentang keadaan fisiologis wanita.
Pensinyalan fotokrin mengacu pada pengaruh panjang siang
hari atau photoperiod pada struktur di mata. Sinyal siang hari
ditransmisikan ke otak dan mempengaruhi siklus reproduksi
pada sejumlah spesies. Jalur SSP meliputi penterjemahan
cahaya meliputi retina, suprachiasmathic nucleus, superior
servical ganglion dan kelenjar pineal yang memproduksi
hormon melatonin sebagai respon dari kegelapan. Walaupun
melatonin telah diketahui merupakan hormon anti-gonad, tapi
fungsinya dalam photoperiod masih kontroversi karena baik
fase gelap yang panjang maupun yang pendek mempunyai
efek yang berbeda padasiklus reproduksi pada banyak spesie
termasuk kuda, domba, kambing dan kucing (Chedrese,
2009).

3. Struktur Kimia dan Sintesis Hormon


Terdapat 3 golongan umum hormon :
a. Protein dan polipeptida, mencakup hormon-hormon yang
disekresikan oleh kelenjar hipofisis anterior dan posterior,
14

pankreas (insulin dan glukagon), kelenjar paratiroid (hormon


paratiroid), dan banyak hormon lainnya.
b. Steroid yang disekresikan korteks adrenal (kortisol dan
aldosteron), ovarium (estrogen dan progesteron), testis
(testosteron) dan plasenta (estrogen dan progesteron).
Struktur kimia hormon steroid mirip dengan struktur kimia
kolesterol dan pada sebagian besar keadaan, hormon
hormon tersebut disintesis dari kolesterol itu sendiri. Hormon
steroid bersifat larut lemak dan terdiri atas tiga cincin
siklopentil yang bergabung menjadi sebuah struktur.
Meskipun sel endokrin penghasil steroid memiliki sedikit
simpanan hormon steroid, sejumlah besar simpanan
ester kolesterol dapat dmobiolisasi secara cepat untuk
mensintesis steroid adalah adanya stimulus. Banyak
klesterol di sel penghasil steroid yang berasal dari
plasma, namun sintesis kolesterol de novo juga terjadi di
sel penghasil steroid. Karena steroid sangat larut dalam
lemak, melalui mebran sel dan memasuki cairan intertisial
dan kemudian akan masuk ke dalam darah.
c. Turunan asam amino tirosin yang disekresikan oleh kelenjar
tiroid (tiroksin dan triidotironin) dan medula adrenal
(epinefrin dan norepinefrin) (Guyton & Hall, 2014).

4. Mekanisme Kerja Hormon


Kerja suatu hormon adalah pengikatan hormon pada reseptor
spesifik di sel target. Sel yang tidak memiliki reseptor untuk
hormon tersebut tidak akan berespons. Reseptor untuk beberapa
hormon terletak pada membran sel target, sedangkan reseptor
hormon yang lain terletak di sitoplasma atau di nukleus. Ketika
hormon terikat pada reseptornya, hal tersebut biasanya akan
menginisiasi serangkaian reaksi yang semakin teraktivasi
sehingga jumlah kecil konsentrasi hormon bahkan dapat
15

mempunyai pengaruh yang besar. Reseptor hormon merupakan


protein berukuran besar, dan setiap sel yang distimulasi biasanya
memiliki sekitar 2000 sampai 100.000.
Lokasi berbagai jenis reseptor hormon secara garis besar
adalah di dalam permukaan atau pada permukaan membran sel,
di dalam sitoplasma sel dan di dalam nukleus sel.
Jumlah reseptor di sel target biasanya tidak konstan dari hari
ke hari, atau bahkan dari menit ke menit. Reseptor protein itu
sendiri dalam fungsinya sering kali dinonaktifkan atau
dihancurkan dan pada waktu yang lain, reseptor tersebut
diaktifkan kembai atau reseptor yang baru dibuat oleh mekanisme
pembentukan protein. Contohnya,, peningkatan kadar hormon
dan penambahan ikatan hormon dengan reseptor sel targetnya
kadang-kadang menimbulkan pengurangan jumlah reseptor yang
aktif.
Down regulation dari reseptor ini dapat terjadi sebagai akibat
dari inaktivasi sejumlah molekul reseptor, inaktivasi sejumlah
molekul sinyal protein intrasel, sekuestrasi reseptor untuk
sementara waktu ke dalam sel, yang jauh dari tempat kerja
hormon yang berinteraksi dengan reseptor membran sel,
destruksi reseptor oleh lisosom setelah reseptor tersebut masuk
ke dalamnya atau pengurangan produksi reseptor. Di setiap
keadaan, down regulation reseptor akan mengurangi respons
jaringan target terhadap hormon.
Sejumlah hormon menimbulkan up-regulation reseptor dan
protein pemberi sinyal intrasel yaitu hormon penstimulasi memacu
pembentukan reseptor atau molekul sinyal intrasel oleh perangkat
pembentukan protein sel target dalam jumlah yang melebihi
normal atau lebih banyak ketersediaan reseptor untuk berinteraksi
dengan hormon.
Hormon steroid dan tiroid beredar dalam darah terutama
dalam bentuk ikatan dengan protein plasma. Akan tetapi, hormon
16

yang terikat pada protein tidak dapat berdifusi dengan mudah


menyebrangi kapiler dan mencapai jaringan targetnya dan
karenanya, tidak memiliki aktifitas biologis sampai hormon
tersebut berdisosiasi dari protein plasma (Guyton & Hall, 2014).

5. Konsep Umpan Balik


Kebanyakan sel endokrin merupakan produsen sekaligus
target dari molekul sinyal ekstraseluler dan beraksi secara
bersama-samar untuk menghasilkan respon terpadu terhadap
perubahan lingkungan eksternal maupun internal. Jaringan
neuroendokrin memiliki kemampuan untuk melihat perubahan dan
kemudian secara selektif menghasilkan sinyal yang mengontrol
dan mengkoordinasikan sintesis hormon. Mekanisme paling
sederhana dari regulasi hormone adalah umpan balik negative
dan umpan balik positif. Dalam umpan balik negatif, hormon yang
disekresi oleh kelenjar target mensinyalkan produsen kelenjar
untuk mengurangi aktivitasnya. Dalam umpan balik positif,
hormone diproduksi oleh sinyal kelenjar target mensinyalkan
kelenjar penghasil untuk meningkatkan sekresi.
Kontrol konsentrasi hormon tiroid merupakan contoh dari
umpan balik negatif. Saat hipotalamus dibawah pengaruh
rangsangan mengeluarkan hormon TRH (Thyrotropin Releasing
Hormone) akan merangsang hipofisis untuk mengeluarkan TSH
(Thyroid Stimulating Hormone). Peningkatan TSH akan
merangsang kelenjar tiroid untuk memproduksi tiroksin dan salah
satu efek dari tiroksin adalah menekan hipotalamus dan hipofisis
memproduksi TRH dan TSH (Hinson, Raven, & Chew, 2010).
Umpan balik negatif menjamin bahwa jika sekresi kelenjar tiroid
telah “dinyalakan” oleh TSH, maka sekresi tersebut tidak akan
berlanjut tetapi akan “dipadamkan” jika kadar hormon bebas
dalam darah telah mencapai tingkat yang ditentukan (Sherwood,
2012)
17

Gambar 2. Umpan Balik Negatif Kelenjar Tiroid

Umpan balik positif terjadi ketika produk umpan kembali


untuk meningkatkan produksi sendiri. Hal ini menyebabkan
kondisi menjadi semakin ekstrim. Contoh dari umpan balik positif
adalah produksi susu oleh seorang ibu untuk bayinya. Saat bayi
menyusu, pesan saraf dari puting menyebabkan kelenjar pituitari
mensekresi prolaktin. Prolaktin, pada gilirannya, merangsang
kelenjar susu untuk menghasilkan susu, sehingga bayi menyusu
lagi. Hal ini menyebabkan lebih banyak prolaktin yang akan
dikeluarkan dan lebih banyak susu yang diproduksi. Contoh ini
merupakan salah satu mekanisme umpan balik positif beberapa di
tubuh manusia
Pengaturan aktivitas gonad oleh aksis hipotalamus hipofisis
merupakan contoh lain dari umpan balik negative dan positif.
Neuron hipotalamus mensekresi GnRH. Produksi GnRH akan
diikuti oleh produksi gonadotropin, terutama LH dan pada tingkat
lebih rendah FSH. Kedua gonadotropin mengikat reseptor spesifik
dalam sintesis gonad mengatur hormone steroid.
18

Gambar 3. Umpan Balik Positif Proses Menyusui

Pada pria, LH merangsang sintesis androgen, yang mengikat


reseptor androgen baik pada hipotalamus maupun kelenjar
hipofisis dan melepaskan umpan balik negative dengan
mengurangi frekuensi produksi LH. Estradiol, yang diproduksi di
hipotalamus oleh aromatisasi dari androgen, mengikat reseptor
estrogen di hipotalamus dan kelenjar hipofisis dan mengurangi
produksi LH.
19

Pada wanita, gonadotropin merangsang sintesis estrogen


dan menginduksi ovulasi. Pada awal fase folikel, estrogen
diproduksi oleh sel granulose ovarium yang menghasilkan umpan
balik negatif pada aksis hipotalamus hipofisis. Namun, pada akhir
fase folikuler, peningkatan kadar estrogen menyebabkan umpan
balik positif pada aksis hipotalamus hipofisis, yang merespon
dengan peningkatan jumlah GnRH diikuti oleh dilhasilkannya
ovulasi akibat dari dari lonjakan gonadotropin (Chedrese, 2009).

Gambar. 4 Umpan balik regulasi testis (A) dan fungsi ovarium(B)

C. Kelenjar Endokrin
1. Hipotalamus dan Kelenjar Pituitari atau Hipofisis
Dua kelenjar endokrin yang utama ádalah hipotalamus dan
hipofise. Aktivitas endokrin dikontrol secara langsung dan tak
langsung oleh hipotalamus, yang menghubungkan sistem
persarafan dengan sistem endokrin. Dalam berespons terhadap
input dari area lain dalam otak dan dari hormon dalam dalam
darah, neuron dalam hipotalamus mensekresi beberapa hormon
realising dan inhibiting. Hormon ini bekerja pada sel-sel spesifik
20

dalam kelenjar pituitary yang mengatur pembentukan dan sekresi


hormon hipofise. Hipotalamus dan kelenjar hipofise dihubungkan
oleh infundibulum.
Hormon yang disekresi dari setiap kelenjar endokrin dan
kerja dari masing-masing hormon. Perhatikan bahwa setiap
hormon yang mempengaruhi organ dan jaringan terletak jauh dari
tempat kelenjar induknya. Misalnya oksitosin, yang dilepaskan
dari lobus posterior kelenjar hipofise, menyebabkan kontraksi
uterus. Hormon hipofise yang mengatur sekresi hormon dari
kelenjar lain disebut hormon tropik. Kelenjar yang dipengaruhi
oleh hormon disebut kelenjar target.
Kadar hormon dalam darah juga dikontrol oleh umpan balik
negatif manakala kadar hormon telah mencukupi untuk
menghasilkan efek yang dimaksudkan, kenaikan kadar hormon
lebih jauh dicegah oleh umpan balik negatif. Peningkatan kadar
hormon mengurangi perubahan awal yang memicu pelepasan
hormon. Misalnya peningkatan sekresi ACTH dari kelenjar pituitari
anterior merangsang peningkatan pelepasan kortisol dari korteks
adrenal, menyebabkan penurunan pelepasan ACTH lebih banyak.
Kadar substansi dalam darah selain hormon juga memicu
pelepasan hormon dan dikontrol melalui Sistem umpan balik.
Pelepasan insulin dari pulau langerhan di pankreas didorong oleh
kadar glukosa darah.
Manakala hormon mencapai sel target, hormon akan
mempengaruhi cara sel berfungsi dengan satu atau dua metoda,
pertama melalui penggunaan mediator intraselular dan kedua
mengaktifkan gen-gen di dalam sel. Salah satu mediator
intraselular adalah cyclic adenosine monophosphate (cAMP),
yang berikatan dengan permukaan dalam dari membran sel.
Ketika hormon melekat pada sel, kerja sel akan mengalami sedikit
perubahan. Misalnya, ketika hormon pankreatik glukagon
berikatan dengan sel-sel hepar, kenaikan kadar AMP
21

meningkatkan pemecahan glikogen menjadi glukosa. Jika hormon


mengaktifkan sel dengan berinteraksi dengan gen, gen akan
mensitesa mesenger RNA (mRNA) dan pada akhirnya protein
(mis., enzim, steroid). Substansi ini mempengaruhi reaksi dan
proses selular.
Hipotalamus terletak di batang otak tepatnya di dienchepalon,
dekat dengan ventrikel otak ketiga (ventrikulus tertius)
Hipotalamus sebagai pusat tertinggi sistem kelenjar endokrin
yang menjalankan fungsinya melalui humoral (hormonal) dan
saraf. Hormon yang dihasilkan hipotalamus sering disebut faktor
R dan I mengontrol sintesa dan sekresi hormon hipofise anterior
sedangkan kontrol terhadap hipofise posterior berlangsung
melalui kerja saraf. Pembuluh darah kecil yang membawa sekret
hipotalamus ke hipofise disebut portal hipotalamik hipofise.
Hormon yang dihasilkan oleh hipotalamus adalah:
a. Growth Hormone-Releasing Hormone (GHRH) berfungsi
meningkatkan sekresi Growth Hormone (GH) atau hormon
pertumbuhan dari kelenjar pituitari anterior.
b. Growth Hormone-Inhibiting Hormone (GHIH) atau disebut juga
somatostatin adalah hormon yang menghambat sekresi
hormon pertumbuhan (Growth Hormone) dari kelenjar pituitari
anterior.
c. Thyroid-releasing hormone (TRH) berfungsi untuk
merangsang sekresi TSH (Thyroid-stimulating hormone)
d. Corticotropin-releasing hormone (CRH) berfungsi merangsang
sekresi hormon ardenokortikotropik (ACTH)
e. Gonadotropin-releasing hormone (GnRH) berfungsi
merangsang sekresi LH (Luteinizing Hormone) dan FSH
(Follicle-stimulating hormone).
f. Prolactin-releasing hormone (PRH) merangsang sekresi
prolaktin
22

g. Prolactin-inhibiting hormone (PIH) menghambat sekresi


prolaktin.
Kelenjar pituitari dibagi menjadi 2 bagian utama, yaitu pituitari
posterior (neurohipofisis) dan pituitari anterior (adenohipofisis).
Hipotalamus sebagai bagian dari sistem endokrin mengontrol
sintesa dan sekresi hormon-hormon hipofise. Hipofise anterior
dikontrol oleh kerja hormonal sedang bagian posterior dikontrol
melalui kerja saraf.
Hipofise terletak di sella tursika, lekukan os spenoidalis basis
cranii. Berbentuk oval dengan diameter kira-kira 1 cm dan dibagi
atas dua lobus Lobus anterior, merupakan bagian terbesar dari
hipofise kira-kira 2/3 bagian dari hipofise. Lobus anterior ini juga
disebut adenohipofise. Lobus posterior, merupakan 1/3 bagian
hipofise dan terdiri dari jaringan saraf sehingga disebut juga
neurohipofise. Hipofise stalk adalah struktur yang
menghubungkan lobus posterior hipofise dengan hipotalamus.
Struktur ini merupakan jaringan saraf.
Lobus intermediate (pars intermediate) adalah area diantara
lobus anterior dan posterior, fungsinya belum diketahui secara
pasti, namun beberapa referensi yang ada mengatakan lobus ini
mungkin menghasilkan melanosit stimulating hormon (MSH).
Secara histologis, sel-sel kelenjar hipofise dikelompokan
berdasarkan jenis hormon yang disekresi yaitu:
a. Sel-sel somatotrof bentuknya besar, mengandung granula
sekretori, berdiameter 350-500 nm dan terletak di sayap lateral
hipofise. Sel-sel inilah yang menghasilkan hormon
somatotropin atau hormon pertumbuhan.
b. Sel-sel lactotroph juga mengandung granula sekretori, dengan
diameter 27-350 nm, menghasilkan prolaktin atau laktogen.
c. Sel-sel Tirotroph berbentuk polihedral, mengandung granula
sekretori dengan diameter 50-100 nm, menghasilkan TSH.
23

d. Sel-sel gonadotrof diameter sel kira-kira 275-375 nm,


mengandung granula sekretori, menghasilakan FSH dan LH.
Ssel-sel kortikotrof diameter sel kira-kira 375-550 nm,
merupakan granula terbesar, menghasilkan ACTH.
e. Sel nonsekretori terdiri atas sel kromofob. Lebih kurang 25%
“sel kelenjar hipofise tidak dapat diwarnai dengan pewarnaan
yang lazim digunakan dan karena itu disebut sel-sel kromofob.
Pewarnaan yang sering dipakai adalah carmosin dan
erytrosin. Sel foli-kular adalah sel-sel yang berfolikel.Hipofise
menghasilkan hormon tropik dan nontropik. Hormon tropik
akan mengontrol sintesa dan sekresi hormon kelenjar sasaran
sedangkan hormon nontropik akan bekerja langsung pada
organ sasaran. Kemampuan hipofise dalam mempengaruhi
atau mengontrol langsung aktivitas kelenjar endokrin lain
menjadikan hipofise dijuluki master of gland.
a. Neurohipofisis
Neurohipofisis terhubung dengan otak. Sekresi yang
dihasilkan disebut neurohormon karena merupakan ekstensi
dari sistem saraf. Neurohipofisis (pituitari posterior)
mensekresikan hormon antidiuretik dan hormon oxytosin.
Hormon antidiuretik (Antidiuretic Hormon (ADH)) atau
vasopresin disintesis oleh badan sel neuron dalam inti
supraoptik hipotalamus dan diangkut oleh akson ke pituitari
posterior untuk kemudian disimpan dalam akson terminal.
ADH dilepaskan oleh akson terminal dan melalui darah
dibawa ke jaringan target, yaitu ginjal, untuk melaksanakan
fungsinya yaitu reabsorpsi air dan mengurangi volume urine.
Kekurangan ADH menyebabkan diabetes insipidus.
Oxytosin disintesis oleh nuklei paraventrikuler di
hipotalamus. Oxytosin berfungsi untuk merangsang kontraksi
otot polos uterus dan merangsang sekresi air susu melalui
kontraksi otot polos di kelenjar mamae.
24

b. Adenohipofisis
Adenohipofisis dibagi menjadi tiga bagian, yaitu pars
tuberalis, pars distalis, dan pars intermedia. Hormon yang
disekresikan dari pituitari anterior ini disebut tropic hormone
yang mempengaruhi sekresi hormon dair kelenjar endokrin
yang lain. Hormon tropik ini meliputi GH, ACTH, LH, FSH,
Prolaktin, dan TSH. GH atau somatotropin berfungsi untuk
mengatur pertumbuhan pada hampir semua jaringan.
Hiposekresi dari ADH menyebabkan dwarfisme, kekerdilan
karena tulang lambat bertumbuh. Hipersekresi ADH
menyebabkan gigantisme dan akromegali. ACTH berfungsi
untuk merangsang sekresi hormon terutama cortisol di
korteks adrenal. LH dan FSH berfungsi untuk merangsang
pembentukan gamet dan mengatur produksi hormon
reproduksi. Prolaktin berfungsi untuk merangsang
pembentukan air susu di kelenjar mamae pada wanita.
Sedangkan TSH berfungsi untuk merangsang sintesis dan
sekresi hormon tiroid dari kelenjar tiroid.

2. Kelenjar Tiroid
Kelenjar tiroid terdiri dari dua lobus yang dihubungkan oleh
jaringan yang disebut isthmus. Kelenjar tiroid mempunyai banyak
folikel, yang tiap lumennya terisi oleh protein yang disebut
tiroglobulin yang merupakan tempat penyimpanan hormon tiroid.
Sel parafolikuler tersebar di antara folikel-folikel membentuk
dinding folikel. Sel tersebut mensekresikan calcitonin yang
berfungsi untuk mengatur kadar kalsium dan fosfat dalam darah.
Hormon tiroid mencakup Triiodotironin (T3) yang berfungsi dan
Tetraiodotironin (T4) atau tiroksin. Hormon tiroid diangkut melalui
plasma protein di sistem peredaran. Sekitar 70% - 75% diikat oleh
thyroxin-binding globulin (TBG) yang disintesis di hati dan sisanya
diikat oleh protein plasma lain, termasuk albumen.
25

Hormon tiroid berfungsi untuk meningkatkan kecepatan


metabolisme dan berperan dalam proses pertumbuhan.
Hipersekresi hormon tiroid disebut hipertiroidisme, mencakup
penyakit Grave, tumor atau kanker, tiroiditis, thyroid storm.
Hiposekresi hormon tiroid atau disebut hypothyroidism mencakup
defisiensi iodin, goiter, kretinisme, penyakit Hashimoto.

3. Kelenjar paratiroid
Kelenjar paratiroid menempel di bagian posterior dari masing-
masing lobus kelenjar tiroid. Kelenjar ini mensekresikan
parathyroid hormone (PTH), yang berperan dalam mengatur kadar
kalsium dan fosfat dalam cairan tubuh. Sel ini menghasilkan
kalsitonin yang berfungsi menghambat resopsi kalsium tulang.
Tulang, ginjal, dan usus adalah jaringan target utamanya.

4. Kelenjar adrenal
Kelenjar adrenal disebut juga kelenjar suprarenal terletak di
ginjal bagian ujung superior. Kelenjar adrenal terdiri dari bagian
dalam yang disebut medulla dan bagian luar yang disebut korteks.
Medulla terdiri dari sel-sel polihedral yang terletak di pusat
kelenjar, sedangkan korteks dibagi menjadi 3 bagian, yaitu zona
glomerulosa bagian paling luar, zona fasciculata bagian tengah
dan yang paling tebal, dan zona reticularis bagian yang paling
dalam.
Bagian medulla menghasilkan hormon adrenalin
(epinephrine) yang berfungsi untuk meningkatkan kadar gula
darah dengan memecah glikogen, mempercepat pemecahan
glikogen dalam otot serta lemak pada jaringan adiposa, dan
noradrenalin. Adrenalin dan noradrenalin (norepinephrine)
berfungsi untuk meningkatkan detak jantung.
Bagian korteks mensekresi hormon mineralocorticoid (zona
glomerulosa) yang berfungsi untuk meningkatkan reabsorpsi Na +
26

dan ekskresi K+ dan H+; glucocorticoid (zona fasciculata) yang


berfungsi untuk meningkatkan pemecahan protein dan lemak,
meningkatkan produksi glukosa, dan menghambat respon imun;
dan androgen (zona reticularis) yang berfungsi untuk merangsang
pertumbuhan rambut pubik dan aksilaris pada wanita.

5. Pankreas
Pankreas terletak di belakang peritoneum di antara cekung
lambung terbesar dan duodenum. Pankreas merupakan kelenjar
eksokrin sekaligus kelenjar endokrin. Bagian endokrin yaitu pulau
Langerhans yang terdiri dari alpha cell yang menghasilkan
glukagon (berfungsi meningkatkan perombakan glikogen dan
melepaskan glukosa ke sistem sirkulasi), beta cell menghasilkan
insulin (meningkatkan penggunaan glukosa dan sistesis glikogen),
dan delta cell yang mensekresikan somatostatin (menghambat
sekresi glukagon dan insulin) (Guyton & Hall, 2014).
27

BAB III
PENUTUP

Endokrinologi molekuler, didefinisikan sebagai studi tentang


hormon aksi di tingkat seluler dan molekuler, muncul dari studi tentang
mekanisme molekuler dimana hormon dan molekul sinyal ekstraseluler
lainnya mempengaruhi ekspresi gen. Hormon disintesis oleh khusus sel-
sel endokrin organ / kelenjar dan disekresikan ke dalam aliran darah untuk
mengerahkan biokimia spesifik mereka efek pada sel target di tempat
yang jauh, yang dikenal sebagai sinyal endokrin. . Definisi klasik hormon
diperluas mencakup sinyal ekstraseluler lainnya molekul (yaitu, faktor
pertumbuhan, neurotransmiter) yang tidak berasal dari organ-organ
endokrin / kelenjar dan bertindak oleh mode sinyal lain termasuk parakrin,
neurocrine, autokrin, juxtacrine, intracrine, cryptocrine, pherocrine, dan
photocrine. Secara umum sistem endokrin merupakan sistem yang
mengkoordinasi aspek-aspek fundamental seperti mempertahankan
lingkungan internal, metabolisme, reproduksi, perkembangan dan
pertumbuhan.
Terdapat dua tipe kelenjar yaitu eksokrin dan endokrin. Kelenjar
eksokrin melepaskan sekresinya ke dalam duktus pada permukaan tubuh,
sebaliknya, kelenjar endokrin melepaskan sekresinya langsung ke dalam
darah. Kelenjar endokrin termasuk pulau langerhans pada pankreas,
gonad (ovarium dan testis), kelenjar adrenal, hipofise, tiroid dan paratiroid,
serta timus
Hormon diklasifikasikan sebagai hormon yang larut dalam air atau
yang larut dalam lemak. Hormon yang larut dalam air termasuk polipeptida
(mis., insulin, glukagon, hormon adrenokortikotropik (ACTH), gastrin) dan
katekolamin (mis., dopamin, norepinefrin, epinefrin)Hormon yang larut
dalam lemak termasuk steroid (mis., estrogen, progesteron, testosteron,
glukokortikoid, aldosteron) dan tironin (misalnya tiroksin).

27
28

DAFTAR PUSTAKA

Chedrese, P. J. (2009). Repoductive Endocrinology: A Molecular


Approach. Canada: Springer Science.
Fritz, M. A., & Speroff, L. (2011). Clinical Gynecologic Endocrinology and
Infertility 8th Edition. USA: Wolter Kluwer Health.
Gardner, D. G., & Shoback, D. (2007). Greenspan's Basic & Clinical
Endocrinology 8th Edition. USA: McGraw-Hill Company.
Greensten, B., & Wood, D. F. (2010). At a Glance Sistem Endokrin.
Jakarta: Erlangga.
Guyton, & Hall. (2014). Buku Ajar Fisiologi Kedokteran Edisi 12.
Singapura: Elsevier.
Hinson, J., Raven, P., & Chew, S. (2010). The Endocrine System Basic
Science and Clinical Condition 2nd Edition. British: Elsevier.
Sherwood, L. (2012). Fisiologi Manusia dari Sel ke Sistem Edisi 6. Jakarta:
EGC.

28