Anda di halaman 1dari 8

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Berdasarkan ilmu Petrologi dikenal dengan tiga macam tipe batuan yaitu
batuan beku merupakan batuan yang terbentuk akibat adanya proses pembekuan
magma, sedimen merupakan batuan yang terbentuk akibat adanya proses litifikasi
ataupun detritus dari batuan lain, dan metamorf merupakan batuan yang terbentuk
akibat adanya perubahan tekanan serta temperatur yang tinggi. Obsidian merupakan
salah satu jenis batuan beku vulkanik yang terbentuk akibat adanya proses ekstruktif
magma felsik yang mendingin dengan sangat cepat. Akibat dari proses
pendinginannya yang terlalu cepat maka jarang terjadi pembentukan kristal di
dalamnya, jadi tidak ada struktur kristal di dalam batu obsidian seperti batu mineral
lainnya.
Sejak zaman batu, obsidian telah dimanfaatkan oleh sebagian masyarakat.
Salah satunya digunakan sebagai pisau tajam atau arrowheads. Hal ini dikarenakan
sifat obsidian yang bisa retak. Obsidian dulunya juga digunakan untuk membuat
cermin pertama. Pada zaman pra mesoamericans penggunaan obsidian pun semakin
luas dan canggih. Obsidian mulai diukir dan dijadikan sebagai alat-alat dan benda-
benda dekoratif. Obsidian juga dibuat untuk berbagai macam jenis tobak dengan
baling-baling obsidian yang dipasang dalam tubuh kayu.
Hingga sekarang dengan sistem pengolahan yang lebih baik obsidian telah
dimanfaatkan di berbagai bidang. Diantaranya sebagai bahan bangunan, karena
sifatnya yang keras dan sangat resisten, obsidian dapat dimanfaatkan sebagai fondasi
bangunan. Bahan batu mulia karena sifatnya yang kompak, beberapa jenis berwarna
terang dan transparan obsidian dapat dibentuk menjadi batu mulia. Bahan pembuatan
batuan lainnya, seperti perlit rekayasa/artificial ferlit. Bahkan sebagai perhiasan.
Variasi dan keindahan warna yang dimiliki obsidian mampu menjadikan perhiasan
tampak lebih elegan.

1
Selain itu banyak manfaat lain dari batu obsidian. Dengan adanya
pengetahuan dasar dan cara mengelolah batu obsidian dengan baik, makapemanfaatan
bahan galian ini akan semakin meningkat. Dalam makalah ini akan dibahas beberapa
hal yang berkaitan dengan batu obsidian yaitu genesa atau proses terbentuknya,
karakteristik, keterdapatan cadangan di Indonesia, teknik pertambangan, pengolahan,
serta pemanfaatan obsidian.
1.2 Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dari penulisan makalah ini adalah :
1. Bagaimana proses terbentuknya obsidian?
2. Dimana keterdapatan cadangan obsidian di Indonesia?
3. Bagaimana karakteristik bahan galian obsidian?
4. Bagaimana proses penambangan bahan galian obsidian?
5. Bagaimana teknik dan cara pengolahan obsidian?
6. Apa manfaat dari bahan galian obsidian?
1.3 Tujuan Penulisan
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini antara lain:
1. Untuk menambah pengetahuan tentang proses terbentuknya obsidian.
2. Untuk mengetahui tempat keterdapatan cadangan obsidian di Indonesia.
3. Untuk mengetahui karakteristik obsidian.
4. Untuk mengetahui proses penambangan obsidian.
5. Untuk mengetahui cara pengolahan obsidian.
6. Untuk mengetahui pemanfaatan obsidian
1.4 Manfaat Penulisan
Penulisan makalah ini ditulis supaya bermanfaat untuk:
1. Mahasiswa, sebagai tambahan ilmu pengetahuan dan wawasan mengenai
obsidian.
2. Tenaga pengajar sebagai bahan referensi terhadap mata kuliah yang
bersangkutan dan materi yang diajarkan.
3. Masyarakat, sebagai ilmu pengetahuan umum tentang obsidian.

2
BAB II
ISI
2.1 Genesa Obsidian
Obsidian merupakan jenis batuan vulkanik yang secara keseluruhan tersusun
atas kaca amorf dan sedikit kristal feldspar, mineral hitam dan kuarsa. Secara genesa
proses terbentuknya obsidian dari ekstruktif lava felsik yang mendingin dengan
sangat cepat tanpa adanya waktu untuk pertumbuhan kristal. Hal ini menyebabkan
inklusi batu yang bening dan tanpa serat. Ada pula yang memiliki gelembung atau
buih di dalam batu, tetapi dengan susunan yang jarang.
Pada umumnya obsidian ditemukan dalam bagian tempat aliran larva rhyolitic
yang dikenal sebagi lava obsidian yang mengalir. Obsidian ini kurang memiliki
struktur kristal atau mineral, namun obsidian memiliki molekul yang sangat tipis.
Obsidian memiliki sifat yang metastabil pada permukaan bumi, sehingga tidak
ada obsidian yang telah ditemukan memiliki umur yang lebih tua daripada batu kapur.
Pembentukan obsidian dipercepat oleh keberadaan air. Obsidian segar memiliki
kandungan air yang rendah, biasanya kandungan kurang dari 1% air jika
dibandingkan dengan beratnya. Menurut teori banyak obsidian yang dihasilkan oleh
letusan gunung berapi yang luar.

Gambar 2.1 Proses terbentuknya obsidian

3
2.2 Karakteristik Obsidian
Obsidian berbentuk seperti mineral akan tetapi tidak dapat dikatakan sebagai
mineral karena teksturnya seperti kaca. Obsidian dapat diklasifikasikan sebagai
mineraloid. Pada umumnya obsidian memiliki warna gelap namun obsidian
merupakan batuan beku felsik. Obsidian terdiri dari SiO2 (silicon dioksida) yang
bisanya memiliki kandungan silika sekitar 70% atau bahkan lebih. Berat jenis
obsidian berkisar dari 2.3 – 3.0, memiliki pecahan choncoidal. tekstur kaca atau gelas,
struktur massive, dan kadar kekerasan bekisar 5 - 5.5 skala Mohs.
Obsidian mimiliki warna yang bervariasi tergantung pada kehadiran pengotor.
Seperti kehadiran besi dan magnesium yang menjadi pengotor membuat obsidian
berwarna hijau tua menjadi cokelat ke warna hitam. Dalam beberapa batu,
dimasukkannya kecil, putih, kristal berkumpul radial kristobalit di kaca hitam
menghasilkan pola-pola kepingan salju (kepingan salju obsidian). Pola-pola tersebut
mungkin juga mengandung gelembung gas yang tersisa dari aliran lava, sejajar
sepanjang lapisan diciptakan sebagai batuan cair mengalir sebelum didinginkan.
Gelembung ini dapat menghasilkan efek yang menarik seperti emas kemilau (kilau
obsidian) atau kilau pelangi (rainbow obsidian).

Gambar 2.2 Mineral Obsidian

4
2.3 Tempat Ditemukan Obsidian di Indonesia
Kebanyakan obsidian didapatkan sebagai batuan beku luar pada gua api
Indonesia yang berumur relatif muda (Pleistosen Kuarter). Tempat ditemukannya
obsidian antara lain:
1. Sumatera Barat: Koto Aur Malintang Nagari III Pariaman
2. Jambi: Gua Gantung, Sungai Purgut dan Sungai Penuh (pada batuan lava
andesit)
3. Jawa Barat: Nagreg Kabupaten Bandung (berupa sisipan dan bongkah pada
batuan tras); Gua Ciamis Kabupaten Garut (terdapat selang-seling dengan
perlit diatas andesit); Ciasmara Kabupaten Bogor: Leuwiliang, Gua
Kiaraberes, kurang lebih 6 km sebelah barat Gua Salak (merupakan lava dan
kurang lebih panjang 2 km dan aliran lava yang merupakan susunan balok
berwarna abu-abu dengansteroida); Terogog, Priangan (singkapan 100 – 150
panjang, tebal 1 – 5 m); Anyer, Gua Barengkong sebelah selatan/barat
Barengkok, Banten.
4. Lampung: Pulau Krakatau, Pulau Panjang, Wai Seputih (merupakan
singkapan bulat sepanjang 1 km).
5. Kalimantan: Sampit
6. Sulawesi Utara: Tataaran, Tomohon Kabupaten Minahasa
7. Irian Barat: P. Namotote

Gambar 2.3 Peta ditemukannya obsidian

5
2.4 Teknik Penambangan
Teknik Penambangan Dilakukan dengan sistem kuari dengan peralatan
sederhana. Karena obsidian merupakan tubuh batuan yang keras, pada tahap awal
penambangan untuk memperoleh blok-blok yang cukup besar dimulai proses
peledakan. Tahap-tahap penambangan obsidian:
1. Persiapan lahan
Penambangan batu obsidian dimulai dengan penyiapan lahan, meliputi
aktivitas pembukaan lahan, pembersihan vegetasi, pengupasan tanah pucuk atau tanah
penutup, penyiapan sarana dan prasarana. Pembukaan lahan dilakukan dengan
penebangan pohon-pohon yang ada dikawasan tambang, baik berupa vegetasi hutan
primer, hutan sekunder, ataupun perkebunan. Kegiatan ini diikuti dengan
pembersihan vegetasi dan pengupasan tanah pucuk di areal tambang yang bertujuan
untuk menyingkap deposit batu obsidian. Sebagian dari areal yang telah dibuka
digunakan untuk membangun sarana dan prasarana seperti jalan proyek, kantor,
bengkel, instalasi pengolahan, kantin, penginapan, tempat penumpukan, dan lainlain.
2. Penggalian (eksploitasi)
Tahapan kegaitan berikutnya adalah penambangan/penggalian batu obsidian,
kegiatan ini didahului dengan pengeboran untuk membuat lubang ledak. Ukuran
diameter lubang ledak disesuaikan dengan dalam lubang dan ukuran pecahan hasil
peledakan yang akan dihasilkan. Peledakan diawali dengan pengeringan lubang bor
dengan kompresor, setalah kering lubang ledak diisi dengan bahan peledak. Pada saat
peledakan, kawasan tambang dikosongkan kecuali pekerja bagian peledakan.
Seringkali dari peledakan primer (primary blasting) masih tersisa bongkahan
bongkahan dengan ukuran besar yang harus dilakukan peledakan sekunder
(secondary blasting) sebelum bongkahan batu tersebut masuk ke dalam mesin
pemecah.
3. Pemuatan dan Pengangkutan
Selanjutnya tumpukan bongkahan batuan obsidian hasil peledakan dimuat ke
dalam dump truck kemudian dibawa ke pusat pengolahan (pemecahan).

6
4. Pengolahan
Proses-proses dalam pengolahan batu obsidian yaitu proses pemecahan
(crushing), pengayakan (screening) yang memisahkan batuan dengan berbagai
ukuran, pengangkutan (transporting) dan penumpukan (stock pilling).

2.5 Pemanfaatan Obsidian


Berdasarkan sifat fisik dan kimia, obsidian dapat dimanfaatkan dalam
berbagai bidang yaitu sebagai berikut:
1) Obsidian mempunya warna indah dan keras, disamping itu mudah dibentuk.
Pada jaman prasejarah, manusia purba memanfaatkan obsidian untuk
senjata/kapak atau “titikan” penimbul api.
2) Sebagai bahan bangunan, karena sifatnya yang keras dan sangat resisten,
obsidian dapat dimanfaatkan sebagai fondasi bangunan. Obsidian tidak
porous, hal ini mengakibatkan daya rekat semen menjadi berkurang. Obsidian
bila dipecah mempunyai sifat konkodial dengan pinggiran yang tajam. Oleh
karenanya dalam pengerjaan harus hati-hati.
3) Bahan batu mulia karena sifatnya yang kompak, beberapa jenis berwarna
terang dan transparan obsidian dapat dibentuk menjadi batu mulia. Menurut
klasifikasi Kinge, obsidian termasuk batu mulia tanggung (Halfedestenen)
batu kelas IV.
4) Bahan perlit rekayasa/artificial ferlit Perlit artificial dapat direkayasa dengan
bahan baku dari obsidian (Sukandarrumidi, 1983)

7
BAB III
SIMPULAN
Obsidian merupakan jenis batuan vulkanik yang secara keseluruhan tersusun
atas kaca amorf dan sedikit kristal feldspar, mineral hitam dan kuarsa. Secara genesa
proses terbentuknya obsidian dari ekstruktif lava felsik yang mendingin dengan
sangat cepat tanpa adanya waktu untuk pertumbuhan kristal. Pada umumnya obsidian
ditemukan dalam bagian tempat aliran larva rhyolitic yang dikenal sebagi lava
obsidian yang mengalir.
Obsidian dapat diklasifikasikan sebagai mineraloid. Walaupun memiliki
warna yang gelap namun obsidian merupakan batuan beku asam. Obsidian terdiri dari
SiO2 (silikon dioksida) yang bisanya memiliki kandungan silika sekitar 70% atau
bahkan lebih. Berat jenis obsidian berkisar dari 2.3 – 3.0, memiliki pecahan
choncoidal. tekstur kaca atau gelas, struktur massive, dan kadar kekerasan bekisar 5 -
5.5 skala Mohs. Obsidian mimiliki warna yang bervariasi tergantung pada kehadiran
pengotor.
Kebanyakan obsidian didapatkan sebagai batuan beku luar pada gua api
Indonesia yang berumur relatif muda (Pleistosen Kuarter). Dikarenakan bahan galian
ini tergelong keras maka teknik penambangannya dapat dilakukan dengan sistem
penambangan kuari menggunakan peralatan sederhana. Pada tahap awal
penambangan untuk memperoleh blok-blok yang cukup besar dimulai proses
peledakan.
Berdasarkan sifat fisik dan kimia obsidian dimanfaatkan sebagai bahan
bangunan, karena sifatnya yang keras dan sangat resisten, obsidian dapat
dimanfaatkan sebagai fondasi bangunan. Bahan batu mulia karena sifatnya yang
kompak, beberapa jenis berwarna terang dan transparan obsidian dapat dibentuk
menjadi batu mulia. Bahan pembuatan batuan lainnya, seperti perlit rekayasa/artificial
ferlit. Bahkan sebagai perhiasan. Variasi dan keindahan warna yang dimiliki obsidian
mampu menjadikan perhiasan tampak lebih elegan.