Anda di halaman 1dari 27

BAB 3 PANCASILA SEBAGAI DASAR NEGARA INDONESIA

A. Konsep Negara, Tujuan Negara dan Urgensi Dasar Negara


1. Konsep Negara
Berbicara konsep negara secara umum dapat diartikan sebagai organisasi
tertinggi yang memiliki kewenangan, kewajiban utuk mengatur orang-orang dan
melindunginya serta mensejahterakannya. Prayogi (2018: 9) mengemukakan bahwa
negara merupakan sebuah organisasi kelompok atau beberapa kelompok didalam
suatu wilayah yang memiliki kekuasaan yang tertinggi dan ditaati oleh rakyatnya. Hal
tersebut berarti bahwa negara diartikan sebagai sebuah organisasi dimana ada
sebuah struktur didalamnya yang memiliki kekuasaan yang mengatur orang-orang
yang ada di dalamnya.
Dibawah ini dijabarkan mengenai beberapa pengertian negara menurut para
ahli.
a. Aristoteles
Menurut Aristoteles, negara (polis) merupakan suatu persekutuan dari keluarga
dan desa guna mencapai kehidupan sebaik-baiknya
b. Roger F Soleau
Menurut Roger F. Soleau, negara adalah alat atau wewenang yang mengatur,
mengendalikan persoalan-persoalan bersama yang diatasnamakan masyarakat.
c. Hugo de Groot
Menurut Hugo de Groot definisi negara adalah ikatan manusia yang insyaf akan
arti dan panggilan hukum kodrat
d. Jean Bodin
Menurut Jean Bodin bahwa negara merupakan persekutuan dari keluarga yang
dipimpin pemimpin yang menggunakan akal sehat dan memiliki kedaulatan.
e. George jellinek
Menurut George Jellinek bahwa negara adalah organisasi kekuasaan sekelompok
manusia yang berada di wilayah tertentu.
f. R. Kranenburg
Menurut R, Kranenburg menyatakan negara adalah organisasi kekuasaan yang
diciptakan sekelompok manusia yang disebut bangsa.
Dari beberapa para ahli diatas dapat disimpulkan bahwa negara merupakan
sebuah organisasi yang dipimpin oleh seorang atau sekelompok pemimpin untuk
kepentinganm rakyat yang berada di wilayah tertentu.
Berkaitan dengan definisi negara diatas harus ada beberapa unsur yang
harus dipenuhi dalam terbentuknya negara yakni yang terdiri dari:
a. Unsur Konstitif, yang mutlak atau yang harus dimiliki
1) Wilayah
Wilayah merupakan daerah yang menjadi kekuasaan Negara sekaligus
menjadi tempat untuk rakyat yang ada dinegara tersebut. Wilayah Negara
mencakup darat, laut, dan udara kemudian untuk batas-batas wilayah
diatur dengan perjanjian dan perundang-undangan Internasional.
2) Rakyat
Rakyat adalah semua orang yang berada atau tinggal dalam wilayah suatu
Negara dan tunduk serta patuh terhadap semua peraturan yang ada di
Negara tersebut
3) Pemerintah
Pemerintah disebut juga alat kelengkapan negara yang bertugas untuk
menjadi pengatur, membuat peraturan melalui badan-badan pemerintahan
untuk mencapai tujuan negara. Pemerintah dalam arti sempit dikaitjkan
dengan badan eksekutif, dan pemerintah dalam arti luas yakni lembaga
eksekutif, legislatif dan yudikatif.
b. Unsur Deklaratif
Unsur deklaratif yakni unsur tambahan di dalam sebuah negara yakni
pengakuan dari negara lain, baik pengakuan secara de facto pengakuan atas
fakta adanya negara sudah terbentuk berdasarkan a rakyat, wilayah, serta
pemerintahan yang berdaulat. Serta pengakuan secara de jure yakni
pengakuan didasarkan atas pernyataan resmi menurut hukum internasional,
sehingga suatu Negara mendapatkan hak dan kewajibannya sebagai anggota
atau organisasi Internasional.
Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagai sebuah negara sudah
memenuhu syarat secara konstitutuf dan deklararif serta sudah diakui secara
de facto dan de jure. Hal tersebut dibuktikan bahwa Indonesia memuliki wilayah
yang luas yang di tinggali oleh rakyat Indonesia yang memiliki beragam
keanekaragaman serta ada pemerintah berdaulat yang memimpin serta
mengaturnya. Kemudian Indonesia juga diakui dalam kancah Internasional
dengan bukti keikutsertaanya dalam organisasi PBB dan menjalin hubungan
serta kerjasama Internasional dengen negara-negara yang lainnya.

2. Tujuan Negara
Pada hakikatnya manusia hidup di bumi memiliki tujuan yang akan dicapainya atau
yang biasa disebut dengan cita-cita. Sebuah negara pasti juga memiliki tujuan atau
cita-cita yang kan dicapainya. Menurut Soehino (1998; 146) tujuan sebuah negara
sangat berkaitan dan bergantung kepada tempat, keadaan setrta sifatt dari keadaan
penguasa. Adapun pengertian tujuan negara menurut para ahli antara lain sebagai
berikut.

a. Immanuel Kant
Menurut Immanuel Kant negara bertujuan untuk membentuk serta memelihara
hak kemerdekaan warga negara (the right of citizen independence)
b. Nicollo Machiavelli,
Tujuan Negara menurut Nicollo Machiavelli bahwa negara menghimpun dan
memperbesar kekuasaan negara (the power of the state) sehingga tercipta
kemakmuran (prosperity), kehormatan (honor), kesejahteraan rakyat (prosperity).
c. Roger F. Soltau
Tujuan negara menciptakan kemungkinan rakyat suatu negara untuk berkembang
dan mengeksplorasi daya kreasi rakyatnya secara sebebas
d. Harold J. Laski
Tujuan negara menciptakan kondisi rakyat (Create conditions of the people) yang
dapat mencapai harapan dan keinginannya semaksimal.
Dari beberapa pendapat diatas dapat sipahami bahwa tujuan dari adanya negara untuk
ememnuhi semua kebutuhan rakyat dan menjamin kesejahteraan rakyat. Kesejahteraan
rakyat berarti semua kebutuhan yang diperlukan oleh rakyatnya bisa terpenuhi dan bisa
didapatkan dengan mudah seoperti pendiidkan yang baik, perekonomian yang maju,
prasarana yang memadai dan lain sebagainya.
Indonesia sebagai sebuah negara juga memiikit tujuan atau cita-cita hal tersebut
sangat jelas tertera di dalam pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik
Indonesia Tahun 1945 pada alinea keempat yang berbunyi:
...Kemudian daripada itu untuk membentuk suatu Pemerintahan Negara Indonesia
yang melindungi segenap Bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia
dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa
dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan,
perdamaian abadi dan keadilan sosial...

Makna yang tersirat dalam alinea ke IV pembukaan Undang-undang Dasar


Negara Republik Indonesia bahwa tujuan negara Indonesia adalah:

a. Melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia


Hal tersebut berarti bahwa negara wajib melindungi apapun yang ada di Indonesia .
Pokok-pokok wajib dilindungi semua komponen yang membentuk bangsa Indonesia,
mulai dari rakyat, kekayaan alam, serta nilai-nilai bangsa yang harusdipertahankan.
b. Memajukan kesejahteraan umum
Kesejahteraan umumberarti pensejahteraan di bidang kesejahteraan ekonomi dan
materi, namun kesejahteraan lahir dan batin. Terciptanya rasa aman, gotong royong,
saling menghormati dan menghargai hak dan kewajiban masing-masing individu,
masyarakat yang makmur dan adil sederajad.
c. Mencerdaskan kehidupan bangsa
Negara wajib melaksanakan pendidikan yang baik dan bermutu sehingga masyarakat
bisa cerdas dan dapat menciptakan sumber daya manusia yang baik serta
pembangunan dan kemajuan negara akan semakin mudah dicapai
d. Ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasar perdamaian abadi dan keadilan
sosial
Indonesia sebagai negara sudah pasti diakui di dalam kancah internasional,
kemudian Indoneisa iiut serta dalam menjaga perdamaian dunia terbukti dengan
politik luar negeri Indonesia yang bebas dan aktif.
Tujuan dari negara Indonesia itu hbarus diwujudkan agar semua yang
diharapkan bisa tercapai. Cara mewujudkan tujuan negara Indonesia perlu usaha
yang maksimal yang dapat dilakukan oleh semua kalangan,bukan hanya tugas dari
pemerintah saja tetapi rakyat juga harus ikut serta melakukan tindakan untuk
mencapai tujuan tersebut. Contoh kecil yang bisa dilakukan rakyat adalah menjaga
perdamaian antara suku bangsa, mengenyam pendidikan wajib dan masih banyak
lagi.

3. Urgensi Dasar negara


Sebelum membangun rumah harus membuat yang namanya fondasi rumah
yang bertujuan agar rumah bisa berdiri tegak, kuat serta kokoh. Begitupula dengan
negara kalau dianalogikan seperti rumah, negara harus memiliki fondasi agar
keberadaanya kuat dan kokoh. Dasar negara dapat diartikan sebagai landasan atau
sumber dalam membentuk dan menyelenggarakan negara. Dasar negara sangat
penting untuk mengatur penyelenggaraan negara. Prayogi (2018:61) menyebutkan
bahwa dasar negara merupakan peraturan dasar yang digunakan ubntuk mengatur
pelaksanaan sistem ketatanegaraan. Hakikatnya, dasar negara atau sering disebut
sebagai filsafat negara (political philosophy) yang berkedudukan sebagai sumber dari
semua sumber hukum yang ada di dalam suatu negara atau disebut juga sebagai
sumber tata tertip hukum dalam negara.
Dalam Buku Pendidikan pancasila Direktorat Jenderal Pembelajaran dan
Kemahasiswaan (2016: 80) bahwa dasar negara itu suatu norma dasar di dalam
menyenggarakan negara dan menjadi sumber hukum, hukum tertulis maupun tidak
tertulis. Pentingnya dasar negara agar kehidupan kenegaraan bisa menjadi kebih
terarah dikarenakan dasar nrgara dijadikan sebagai norma patokan dalam segala
aktivitas ketatanegaraan sehingga tujuan atau cita-cita negara tersebut tercapai.
Peranan dasar negara sangat penting dikarenakan sebagai acuan dalam
segala aktifitas kenegaraan. Sebagai contoh apabila sebuah negara telah memiliki
dasar negara segala aktivitas kenegaraan harus beracuan dengan dasar negara
tersebut. Contohnya Pancasila sebgai dasar negara Indonesia menjadi seagai acuan
dalam segala aktivitas ketatanegaraan yang ada di Indonesia misalkan di dalam
bidang hukum. Peraturan perundang-undangan yang ada di Indonesia harus
berdasarkan dengan Paabncasila. Hal tersebut dibuktikan dengan adanya Tata
perurutan Perundang-Undangan Yang ada Di Indonesia. Sebagai Dasar Negara
Pancasila memiliki kedudukan yang paling tinggi dan menjadi sumber dari segala
sumber hukum. Seperti di dalam Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang tata
Peraturan perundang-Undangan di Indonesia antara lain sebagai berikut sebagai
berikut.

a. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;


b. Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat;
c. Undang-Undang/Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang;
d. Peraturan Pemerintah;
e. Peraturan Presiden;
f. Peraturan Daerah Provinsi; dan
g. Peraturan Daerah Kabupaten/Kota

B. Alasan Diperlukannya Pancasila Sebagai Dasar Negara


Seperti yang telah dibahas pada sub bab diatas bahwasanya setiap negara
harus memiliki yang namanya dasar negara dengan tujuan untuk dijadikan landasan
dalam berkehidupan serta mencadi sebagai sumber atau tata tertip hukum di dalam
negara. Indonesia sebagai negara juga perlu dasar negara yang disebut Pancasila.
Pancasila sebagai dasar negara berari bahwa Pancasila sebagai sebuah norma yang
dijadikan acuan dan sumber dalam berkehidupan kenegaraan serta menjadi sumber
hukum bagi peratura-peraturan lainnya. Hal itu berarti bahwa kedudukan Pancasila
sebagai hukum yang tertinggi.
Bung Karno mendefiniskan Pancasila merupakan isi jiwa bangsa Indonesia
yang turun-temurun berabad-abad lama yang terpendam. Dengan demikian,
Pancasila bukan hanya falsafah negara namui lebih luas lagi yakni falsafah bagi
bangsa Indonesia. Pancasila sebagai dasar negara dikenal juga dengan
philosophische gronslag .Pancasila sebagai dasar negara indonesia tertuang di dalam
Undang-undang dasar negara Republik Indonesia Tahun 1945 pada alinea ke IV yang
berbunyi:

“maka disusunlah kemerdekaan kebangsaan Indonesia itu dalam suatu


Undang-Undang Dasar negara Indonesia, yang terbentuk dalam suatu
susunan negara Republik Indonesia yang berkedaulatan rakyat dengan
berdasar kepada :Ketuhanan Yang Maha Esa, kemanusiaan yang adil dan
beradab, persatuan Indonesia, dan kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat
kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan, serta dengan
mewujudkan suatu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”

Dalam Kaelan ( 2013:49) kata “dengan berdasarkan kepada dalam


bermakna “ secara yuridis bermalna sebagai dasar negara.Menurut Ketut Rinjin
dalam Winarno ( 2016:51) Pancasila sebagai dasar negara mengandung tiga
pengertian dan tiga tingkatan:
a. Pancasila sebagai dasar negara yabng bersifat abstrak dan universal
b. Pancasila sebagai pedoman penyelenggaraan negara
c. Sebagai petunjuk penyelenggaraan negara
Kaelan (2013: 50-53) juga memaparkan bahwa pancasila sebagai dasar
negara dan tertib Hukum di Indonesia dapatr dirincikan sebagai berikut.
a. Pancasila sebagai sumber dari sumber hukum di Indonesia
b. Pancasila meliputi suasana kebatinan (geitslicbenbintergrund) dari Undang-
Undag dasar negara Repuiblik Indonesia Tahun 1945
c. Mewujudkan cita-cita hukum di Negara Indonesia
d. Mengandung norma yang didalamnya harus dipatuhinoleh pemerintah atau
penyelenggara negara dalam menjalankan tugasnya
e. Sebagai penyemangat para penyelenggara negara agat bisa melaksanakan
tugas dan bisa membawa perubahan yang sifatnya dinamis. Agar semua
kegiatan yang dilaksanakan berasaskan pancasila
Perlunya Pancasila bagi negara Indonesia adalah pancasila itu sendiri di
kristalisasi dari keadaan masyarakat Indonesia yang beragam dan mencakup
semuanya dan menjadi Panglima tertinggi dari segala norma yang ada sehingga
kehidupan kenegaraan memikliki landasan dan menjadi memiliki arah untuk
mencapai tujuan negara. Sekaligus Pancasila sangat mencerminkan karakteristik
bangsa Indonesia

C. Sumber Yuridis, Historis, Sosiologis, Dan Politis Tentang Pancasila Sebagai


Dasar Negara
1. Sumber Yuridis
Sebagai sumber yuridis pancasila sebagai Dasar Negara maka terdapat dalam
Undang-Undang Nomor 12 tahun 2011 tentang Pembentukan Perundang-undangan
bahwa Pancasila merupakan sumber dari segala sumber hukum negara. Penempatan
Pancasila sebagai sumber dari segala sumber hukum negara, yaitu sesuai dengan
Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, bahwa
Pancasila ditempatkan sebagai dasar dan ideologi negara serta sekaligus dasar
filosofis bangsa dan negara sehingga setiap materi muatan peraturan perundang-
undangan tidak boleh bertentangan dengan nilai-nilai yang terkandung dalam
Pancasila. Pancasila sebagai Dasar Negara dilihat dari sumber Yuridis yaitu
Pancasila merupakan dasar negara Republik Indonesia yang terdapat pada
Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945 dimana
melalui Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945 sebagai
payung hukum, sehingga Pancasila perlu diaktualisasikan agar dalam praktik
berdemokrasinya tidak kehilangan arah dan dapat meredam konflik yang terjadi.
Negara Republik Indonesia merupakan Negara Hukum yaitu pemerintah yang
berdasarkan hukum (rule of law), pada dasarnya Pancasila sebagai norma dasar
negara Republik Indonesia, sehingga sila-sila yang terdapat dalam Pancasila
merupakan nilai dasar-nilai instrumental dan nilai praksis. Nilai dasar yang terdapat
dalam pancasila terdiri atas nilai ketuhanan Yang Maha Esa, nilai Kemanusiaan yang
adil dan beardab, nilai persatuan Indonesia, nilai kerakyatan yang dipimpin oleh
hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan, nilai keadilan bagi seluruh
rakyat Indonesia. Dari nilai tersebut maka dapat kita garis bawahi bahwa nilai dalam
pancasila merupakan nilai yang tercerimin dalam perilaku dan pandangan masyarakat
Indonesia, oleh karena itu nilai-nilai yang terkandung di dalamnya perlu di
implementasikan dalam kehidupan sehari-hari.

2. Sumber Historis
Secara historis pancasila dijadikan sebagai dasar negara yaitu dalam Proses
perumusan Pancasila yang diawali ketika dalam sidang BPUPKI. Dalam sidang
BPUPKI terbentuk pada tanggal 29 April 1945. Adanya Badan ini bangsa Indonesia
dapat mempersiapkan kemerdekaannya secara legal, untuk merumuskan syarat-
syarat sebagai negara yang merdeka. Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan
Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) dilantik pada tanggal 28 Mei 1945. Badan
penyelidik ini mengadakan sidang hanya dua kali. Sidang pertama tanggal 29 Mei
sampai dengan 1 Juni 1945, sedangkan sidang kedua 10 Juli sampai dengan 17 Juli
1945. Pada sidang pertama M. Yamin dan Soekarno mengusulkan tentang dasar
negara.

Perumusan dasar negara dibentuk panitia kecil atau panitia sembilan yang
pada tanggal 22 Juni 1945 berhasil merumuskan Rancangan (pembukaan) Hukum
Dasar, yang oleh Mr. Muhammad Yamin dinamakan Piagam Jakarta. Pada sidang
kedua BPUPKI yaitu menentukan perumusan Dasar Negara Melalui hasil
kesepakatan bersama. Pada masa sidang kedua ini anggota BPUPKI mengalami
penambahan anggota yaitu di dalamnya yaitu enam anggota baru. Sidang lengkap
BPUPKI pada tanggal 10 Juli 1945 dengan menerima hasil panitia kecil tersebut atau
panitia sembilan lainnya yang disebut dengan piagam Jakarta. Di samping menerima
hasil rumusan Panitia sembilan dibentuk juga panitia-panitia Hukum Dasar yang
dikelompokkan menjadi tiga kelompok panitia perancang Hukum Dasar yakni:
1) Anggota Panitia Perancang Hukum Dasar diketuai oleh Ir. Soekarno dengan
anggota berjumlah 19 orang
2) Panitia Pembela Tanah Air dengan ketua Abikusno Tjokrosujoso beranggotakan
23 orang
3) Panitia ekonomi dan keuangan dengan ketua Moh. Hatta, bersama 23 orang
anggota.
Panitia perancang Hukum Dasar kemudian membentuk lagi panitia kecil
Perancang Hukum Dasar yang dipimpin Soepomo. Panitia-panitia kecil yang dalam
rapatnya tanggal 11 dan 13 Juli 1945 telah dapat menyelesaikan tugasnya yaitu
Panitia Persiapan Kemerdekaan (Dokuritsu Zyunbi Linkai), yang sering disebut
Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI). Sidang pertama PPKI tanggal 18
Agustus 1945 berhasil mengesahkan Undang-Undang Dasar Negara Republik
Indonesia dan menetapkan: menyusun Rancangan Hukum Dasar. Selanjutnya
tanggal 14 Juli 1945 sidang BPUPKI mengesahkan naskah rumusan panitia sembilan
yang dinamakan Piagam Jakarta sebagai Rancangan Mukaddimah Hukum Dasar,
dan pada tanggal 16 Juli 1945 menerima seluruh Rancangan Hukum Dasar yang
sudah selesai dirumuskan dan di dalamnya juga memuat Piagam Jakarta.
Sidang BPUPKI tanggal 17 Juli 1945 merupakan sidang penutupan Badan
Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia dan pada tanggal 9
Agustus 1945 dibentuk Panita Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI). Sidang
pertama PPKI 18 Agustus 1945 berhasil mengesahkan Undang-Undang Dasar
Negara Republik Indonesia dan menetapkan:
1. Piagam Jakarta sebagai rancangan Mukaddimah Hukum Dasar oleh BPUPKI
pada tanggl 14 Juli 1945 dengan beberapa perubahan, disahkan sebagai
Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia.
2. Rancangan Hukum Dasar yang telah diterima oleh BPUPKI pada tanggal 16 Juli
1945 setelah mengalami berbagai perubahan, disahkan sebagai Undang-Undang
Dasar Negara Republik Indonesia.
3. Memilih Presiden dan Wakil Presiden yang pertama, yakni Ir. Soekarno dan Drs.
Moh. Hatta.
4. Menetapkan berdirinya Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) sebagai Badan
Musyawarah Darurat.
Rumusan-rumusan Pancasila secara historis terbagi dalam tiga kelompok, yaitu :
1. Rumusan Pancasila yang terdapat dalam sidang-sidang Badan Penyelidik Usaha-
usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia yang merupakan tahap pengusulan
sebagai dasar negara Republik Indonesia.
2. Rumusan Pancasila yang ditetapkan oleh Panitia Persiapan Kemerdekaan
Indonesia sebagai dasar filsafat Negara Indonesia yang sangat erat hubungannya
dengan Proklamasi Kemerdekaan.
3. Beberapa rumusan dalam perubahan ketatanegaraan Indonesia selama belum
berlaku kembali rumusan Pancasila yang terkandung dalam Pembukaan UUD
1945.
Dari tiga kelompok di atas secara lebih rinci rumusan Pancasila sampai dikeluarkannya
Dekrit Presiden tanggal 5 Juli 1959 ini ada tujuh yakni:
1. Rumusan dari Mr. Muh. Yamin tanggal 29 Mei 1945, yang disampaikan dalam
pidato “Asas dan Dasar Negara Kebangsaan Republik Indonesia” (Rumusan I).
2. Rumusan dari Mr. Muh. Yamin tanggal 29 Mei 1945, yang disampaikan sebagai
usul tertulis yang diajukan dalam Rancangan Hukum Dasar (Rumusan II).
3. Soekarno, tanggal 1 Juni 1945 sebagai usul dalam pidato Dasar Indonesia
Merdeka, dengan istilah Pancasila (Rumusan III).
4. Piagam Jakarta, tanggal 22 Juni 1945, dengan susunan yang sistematik hasil
kesepakatan yang pertama (Rumusan IV).
5. Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 tanggal 18 Agustus 1945 adalah
rumusan pertama yang diakui secara formal sebagai Dasar Filsafat Negara
(Rumusan V).
6. Mukaddimah KRIS tanggal 27 Desember 1949, dan Mukaddimah UUDS 1950
tanggal 17 Agustus 1950 (Rumusan VI).
7. Rumusan dalam masyarakat, seperti mukaddimah UUDS, tetapi sila keempatnya
berbunyi Kedaulatan Rakyat, tidak jelas asalnya (Rumusan VII).

3. Sumber Sosiologis Pancasila Sebagai Dasar Negara


Bangsa Indonesia yang menjunjung semboyan Bhineka Tunggal Ika
merupakan Negara yang beragam dengan kekayaan Budaya, Bahasa, Suku, Agama,
keberagaman ini merupakan sumber kekayaan yang berada di dalamnya. Secara
sosiologis Pancasila mengandung nilai-nilai yang di dalamnya merupakan bagian dari
(materil, formal, dan fungsional) yang ada dalam masyarakat Indonesia. Hal tersebut
berkaitan dengan Kenyataan objektif tersebut menjadikan Pancasila sebagai dasar
yang mengikat dan mencerminkan setiap warga bangsa untuk taat pada nilai-nilai
instrumental yang berupa norma atau hukum tertulis (peraturan perundang-
undangan, yurisprudensi, dan traktat) maupun yang tidak tertulis seperti adat istiadat,
kesepakatan atau kesepahaman, dan konvensi. Kebhinekaan atau pluralitas yang
terdapat pada masyarakat bangsa Indonesia yang tinggi, dimana agama, ras, etnik,
bahasa, yang penuh perbedaan, menyebabkan ideologi Pancasila bisa diterima
sebagai ideologi pemersatu masyarakat Indonesia. Selanjutnya Bangsa Indonesia
yang plural secara sosiologis menjadi ideologi pemersatu Pancasila. Oleh karena itu
nilai-nilai yang terdapat Pancasila perlu dilestarikan dari generasi ke generasi untuk
menjaga keutuhan masyarakat bangsa.
Sejalan dengan pernyataan Bung karno yang menegaskan bahwa nilai-nilai
pancasila digali dari bumi pertiwi Indonesia, dari pernyataan tersebut ditegaskan
bahwa nilai-nilai Pancasila berasal dari kehidupan sosiologis masyarakat Indonesia,
sehingga secara sosiologis nilai-nilai Pancasila adalah merupakan sumber nilai
lahirnya kemerdekaan bangsa Indonesia, hal ini sejalan dengan dengan makna Alinea
III Pembukaan UUD 1945.

4. Sumber Politis Pancasila sebagai Dasar Negara


Sumber politis Pancasila sebagai dasar negara tertuang ke dalam alinea yang
terdapat dalam Sila-Sila pancasila, hat tersebut tertulis sebagai berikut:

1) Nilai Ketuhanan
Nilai Ketuhanan adalah nilai yang berhubungan dengan nilai individu dengan
sesuatu yang dianggapnya memiliki kekuatan sakral, suci, agung dan mulia.
Memahami nilai Ketuhahan sebagai pandangan hidup adalah mewujudkan
masyarakat yang beketuhanan, yakni membangun masyarakat Indonesia yang
memiliki jiwa maupun semangat untuk mencapai ridlo Tuhan dalam setiap
perbuatan baik yang dilakukan. Nilai ketuhanan ini tercermin dalam Pasal 29 UUD
1945 pada ayat 1 dan 2. Dalam Pasal 29 Ayat 1 berbunyi “ Negara berdasar
Ketuhanan Yang Maha Esa”. Dan dalam Pasal 29 Ayat 2 berbunyi “ Negara
Menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-
masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu”. Hal
tersebut menunjukan bahwa Negara menjamin Warga Negaranya dalam
beragama.
2) Nilai Kemanusiaan
Nilai Kemanusiaan adalah Nilai Kemanusiaan yang adil dan beradab,
pembentukan suatu kesadaran tentang keteraturan, sebagai asas kehidupan,
potensi untuk menjadi manusia sempurna, yaitu manusia yang beradab. Dalam
Nilai Kemanuasiaan ini tercermin dalam Pasal 28 A sampai Pasal 28J. dalam pasal
tersebut menyebutkan bahwa setiap orang berhak untuk hidup serta berhak
mempertahankan hidup dan kehidupannya. Makna isi tersebut adalah bahwa
setiap manusia terutama warga negara Indonesia mempunyai hak yang sama
dalam hidup dan mempertahankan kehidupannya.
3) Nilai Persatuan Indonesia
Nilai Persatuan Indonesia adalah Nilai yang terdiri atas beberapa bagian yang
terdapat dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia, Semboyan Bhineka
Tunggal Ika adalah cerminan dari Bangsa Indonesia yang terdiri dari berbagai
Suku, Ras, Ethis, Agama, Bahasa, Budaya dan yang lainnya. Bangsa Indonesia
hadir untuk mewujudkan kasih sayang kepada segenap suku bangsa dari Sabang
sampai Marauke demi mewujudkan dan mempersatukan bangsa Indonesia.
4) Nilai Permusyawaratan dan Perwakilan
Nilai Permusyawaratan dan Perwakilan menunjukan manusia saling
membutuhkan, dalam pandangan hidup dengan orang lain, dalam interaksi terjadi
kesepakatan, dan saling menghargai satu sama lain atas dasar tujuan dan
kepentingan bersama. Prinsip kerakyatan yang menjadi cita-cita utama untuk
membangkitkanbangsa Indonesia, mengerahkan potensi mereka dalam dunia
modern.
5) Nilai Keadilan Sosial
Nilai keadilan di sini adalah nilai yang menjunjung tinggi norma berdasarkan
keadilan, kesetaraan, serta pemerataan terhadap masyarakat. Mewujudkan
keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia merupakan yan terdapat dalam
Pembukaan UUD 1945 merupakan cita-cita bernegara dan berbangsa. bermakna
mewujudkan keadaan masyarakat yang bersatu dalam kehidupan, dimana
mempunyai kesetaraan yang sama untuk tumbuh dan berkembang di dalam
Negara.
Perkembangan Pancasila Sebagai Ideologi Politik adalah nilai-nilai dasar
yang terkandung dalam Pancasila dan UUD 1945. Contoh Nilai Pancasila Dalam
bidang politik, antara lain:
1. Sikap menghindari dan memaksakan pendapat diri sendiri
2. Dalam penyelenggara negara dan warga negara mewujudkan nilai ke
tuhanan, kemanusiaan, kebangsaan, serta kerakyatan dan keadilan sosial
bagi seluruh rakyat Indonesia.
3. Meyakini bahwa nilai-nilai Pancasila dan UUD 1945 sebagai nilai yang
mengandung jati diri bangsa Indonesia.

D. Dinamika dan Tantangan Pancasila Sebagai Dasar Negara


Penetapan Pancasila sebagai Dasar Negara memberikan pemahaman bahwa
negara Indonesia adalah Negara Pancasila dengan semboyan Bhineka Tunggal Ika.
Hal itu mengandung arti bahwa negara Negara Indonesia memiliki berbagai kekayaan
yang terdapat didalamnya,sehingga menjadikan Negara Indonesia yang Adil dan
Makmur. Memahami Pancasila dari sejarahnya dapat diketahui bahwa Pancasila
memuat nilai-nilai yang dijunjung tinggi oleh semua masyarakat Indonesia. Nilai-nilai
Pancasila tersebut telah Secara Konsisten dilakukan sejak awal kemerdekaan sampai
dengan sekarang ini. Penetapan Pancasila sebagai dasar negara mempunyai satu
semboyan empiris khas Indonesia yang dinyatakan dalam seloka “Bhinneka Tunggal
Ika”. Maka Pancasila merupakan semboyan untuk mengatasi keanekaragaman
dalam masyarakat Indonesia.
Tantangan Pendidikan Pancasila saat ini adalah dikutip dari pernyataan
Abdulgani (1979:14) menyatakan bahwa Pancasila adalah Leitmotive dan Leitstar,
dengan dorongan pokok dan bintang petunjuk jalan. Tanpa Adanya Leitmotive dan
Leitstar Pancasila ini, kekuasaan negara akan menyeleweng. Oleh karena itu,
segala bentukj penyelewengan itu harus di cegah dengan cara mendahulukan
Pancasila dasar filsafat dan dasar moral. Agar Pancasila dijadikan sebagai
dorongan pokok dan bintang penunjuk jalan bagi generasi penerus.
Tantangan lain yang akan di hadapi dalam Pancasila yaitu kita sebagai
bagian bangsa Indonesia, melalui Sila Ketuhanan Yang Maha Esa harus dimaknai
bersama-sama dengan sila-sila lainnya. Sebagai bangsa yang bertuhan, meyakini
kebenaran Tuhan dan memaknai niali toleransi sebagai bagian dari nilai
Pancasila. Pancasila sebagai Dasar Negara harus dijadikan sebagai pondasi
dalam menghadapi tantangan. Tantangan terhadap Pancasila diantaranya yaitu
tantangan dar dalam dan dari luar. Tantangan dari dalam yaitu bagaimana,
masyarakat Indonesia memaknai nilai Pancasila itu sendiri, sehingga Pancasila
bmenjadikan bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Indonesia.
Pancasila juga kini tengah dihadapkan dengan tantangan eksternal yaitu
globalisasi Pancasiladi jadikan sebagai benteng dalam menyaring hal-hal negatif
yang dihadapi oleh Negara, menghadapi tantangan yang cukup berat ini adalah
menjadikan Pancasila sebagai bagian dari bangsa ini. Globalisasi yang
berbasiskan pada perkembangan teknologi informasi, komunikasi, dan
transportasi, bisa dijadikan sebagai kemajuan yang terjadi saat ini.

E. Esensi dan Urgensi Pancasila sebagai Dasar Negara


1. Esensi dan Urgensi Pancasila sebagai Dasar Negara.
Pancasila menjadi sebuah kesepakatan telah diresmikan menjadi dasar
dan ideologi negara Indonesia sejak 18 Agustus 1945. Eksistensi Pancasila
sebagai dasar dan ideologi bangsa Indonesia secara keseluruhan akan menajdi
pedoman dan patokan bernegara dalam merumuskan program pencapaian
cita-cita bangsa dan mengarahkan haluan negara ini ke depannya.
Pancasila sebagai dasar negara menurut pasal 2 Undang-Undang
Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2011 tentang pembentukan Peraturan
Perundang-undangan, merupakan sumber dari segala sumber hukum negara
Indonesia. Pada penjelasan lainnya, dinyatakan bahwa Pancasila menjadi
landasafan filosofis dan normatif bagi setiap peraturan yang ada di Indonesia,
hal ini menunjukkan bahwa setiap peraturan tidak boleh ada yang bertentangan
dengan Pancasila, baik substansi maupun prosedural normatif pembentukan
peraturan tersebut
Pancasila adalah substansi esensial yang mendapatkan kedudukan
formal yuridis dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik
Indonesia Tahun 1945. Oleh karena itu, rumusan Pancasila sebagai dasar
negara adalah sebagaimana terdapat dalam Pembukaan Undang-Undang
Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Perumusan Pancasila yang
menyimpang dari pembukaan secara jelas merupakan perubahan secara tidak
sah atas Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun
1945 (Kaelan, dalam Buku Pendidikan Pancasila ,Dirjen Belmawa 2016).
Posisi dan eksistensi Pancasila sebagai dasar negara dapat dijabarkan
sebagai berikut:
1) Pancasila sebagai dasar negara adalah sumber dari segala sumber tertib
hukum Indonesia. Dengan demikian, Pancasila merupakan asas
kerohanian hukum Indonesia yang dalam Pembukaan Undang-Undang
Negara Republik Indonesia dijelmakan lebih lanjut ke dalam empat pokok
pikiran.
2) Meliputi suasana kebatinan (Geislichenhintergrund) dari UUD 1945.
3) Mewujudkan cita-cita hukum bagi dasar negara (baik hukum dasar tertulis
maupun tidak tertulis).
4) Mengandung norma yang mengharuskan UUD mengandung isi yang
mewajibkan pemerintah dan lain-lain penyelenggara negara (termasuk
penyelenggara partai dan golongan fungsional) memegang teguh cita-
cita moral rakyat yang luhur.
5) Merupakan sumber semangat abadi UUD 1945 bagi penyelenggaraan
negara, para pelaksana pemerintahan. Hal tersebut dapat dipahami
karena semangat tersebut adalah penting bagi pelaksanaan dan
penyelenggaraan negara karena masyarakat senantiasa tumbuh dan
berkembang seiring dengan perkembangan zaman dan dinamika
masyarakat (Kaelan, dalam Buku Pendidikan Pancasila, Dirjen
Belmawa:2016)
Rumusan Pancasila secara normatif dan mengikat seluruh aspek kehidupan
berbangsa dan bernegara haruslah dilaksanakan secara sadar dan
konsekuen oleh seluruh warga negara bangsa Indonesia. Hal ini merupakan
proses internalisasi ideologi secara massif dan merupakan bukti nyata bahwa
Pancasila diterima sebagai ideologi karena kesadaran dan kebutuhan
sebagai warga negara bukan sekadar indoktrinasi ideologi sebagaimana
halnya ideologi di negara lain.
Kedudukan Pancasila sebagai sumber dari sumber hukum sudah selayaknya
menjadi jiwa yang hidup dari berbagai peraturan yang ada di Indonesia.
Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945
yang ditegaskan dalam alinea keempat terdapat kata “berdasarkan” yang
berarti, Pancasila merupakan dasar negara kesatuan Republik Indonesia.
Pancasila sebagai dasar negara mengandung makna bahwa nilai-nilai
Pancasila harus menjadi landasan dan pedoman dalam membentuk dan
menyelenggarakan negara, termasuk menjadi sumber dan pedoman dalam
pembentukan peraturan perundang-undangan.
Dari pernyataan di atas dapat diketahui bahwa para aparatur negara dan
penyelenggara pemerintahan wajib mengimplementasikan spirit Pancasila
sebagai ideologi bangsa dan negara. Apabila semangat Pancasila dapat
dilaksanakan secara berkelanjutan dan konsisten, maka akan menghasilkan
sistem tata kelola pemerintahan yang baik. Sebagai tujuan akhirnya, harapan
akan perwujudan tujuan bangsa dan negara ini dapat dicapai melalui usaha
dan ikhtiar yang mantap dan konsekuen.

2. Hubungan Pancasila dengan Proklamasi Kemerdekaan RI.


Dalam kenyataannya, Proklamasi 17 Agustus 1945 bukanlah merupakan
tujuan semata-mata, melainkan merupakan suatu sarana, isi, dan arti yang
pada pokoknya memuat dua hal, sebagai berikut:
a. Pernyataan kemerdekaan bangsa Indonesia, baik pada dirinya sendiri
maupun terhadap dunia luar;
b. Tindakan-tindakan yang segera harus diselenggarakan berhubung
dengan pernyataan kemerdekaan itu (Kaelan, 1993: 62). Setelah
proklamasi dibacakan pada 17 Agustus 1945, kemudian keesokan
harinya, yaitu 18 Agustus 1945, disusun suatu naskah Undang-Undang
Dasar yang didalamnya memuat Pembukaan.
Di dalam Pembukaan UUD 1945 tepatnya pada alinea ke-3 terdapat
pernyataan kemerdekaan yang dinyatakan oleh Indonesia, maka dapat
ditentukan letak dan sifat hubungan antara Proklamasi Kemerdekaan 17
Agustus 1945 dengan Pembukaan UUD 1945, sebagai berikut:
a. Disebutkan kembali pernyataan kemerdekaan dalam bagian ketiga
Pembukaan menunjukkan bahwa antara Proklamasi dengan
Pembukaan merupakan suatu rangkaian yang tidak dapat dipisah-
pisahkan;
b. Ditetapkannya Pembukaan pada 18 Agustus 1945 bersama-sama
ditetapkannya UUD, Presiden dan Wakil Presiden merupakan
realisasi bagian kedua Proklamasi;
c. Pembukaan hakikatnya merupakan pernyataan kemerdekaan yang
lebih rinci dari adanya cita-cita luhur yang menjadi semangat
pendorong ditegakkannya kemerdekaan, dalam bentuk negara
Indonesia merdeka, berdaulat, bersatu, adil, dan makmur dengan
berdasarkan asas kerohanian Pancasila;
d. Dengan demikian, sifat hubungan antara Pembukaan dan Proklamasi,
yaitu: memberikan penjelasan terhadap dilaksanakannya Proklamasi
pada 17 Agustus 1945, memberikan penegasan terhadap
dilaksanakannya Proklamasi 17 Agustus 1945, dan memberikan
pertanggungjawaban terhadap dilaksanakannya Proklamasi 17
Agustus 1945 (Kaelan, 1993: 62-64).
3. Hubungan Pancasila dengan Pembukaan UUD 1945
Notonagoro (1982:24-26) menegaskan bahwa Undang-Undang Dasar tidak
merupakan peraturan hukum yang tertinggi. Di atasnya, masih ada
dasardasar pokok bagi Undang-Undang Dasar, yang dinamakan pokok
kaidah negara yang fundamental (staatsfundamentalnorm).
Beberapa hubungan Pancasila dengan Pembukaan UUD 1945 adalah
sebagai berikut.
1. Pembukaan UUD 1945 memenuhi syarat unsur mutlak sebagai
staatsfundamentalnorm. Oleh karena itu, kedudukan Pembukaan
merupakan peraturan hukum yang tertinggi di atas Undang-Undang
Dasar. Implikasinya, semua peraturan perundang-undangan dimulai dari
pasal-pasal dalam UUD 1945 sampai dengan Peraturan Daerah harus
sesuai dengan Pembukaan UUD 1945.
2. Pancasila merupakan asas kerohanian dari Pembukaan UUD1945
sebagai staatsfundamentalnorm. Secara ilmiah-akademis, Pembukaan
UUD 1945 sebagai staatsfundamentalnorm mempunyai hakikat
kedudukan yang tetap, kuat, dan tak berubah bagi negara yang dibentuk,
dengan perkataan lain, jalan hukum tidak lagi dapat diubah (Notonagoro
dalam Buku Pendidikan Pancasila, Dirjen Belmawa, 2016)
Dalam kaitan itu, silakan disimak ketentuan dalam Pasal 37 ayat (1)
sampai ayat (5) UUD 1945 pasca amandemen ke-4, dalam Pasal 37
tersebut hanya memuat ketentuan perubahan pasal-pasal dalam UUD
1945, tidak memuat ketentuan untuk mengubah Pembukaan UUD 1945.
Hal ini dapat dipahami karena wakil-wakil bangsa Indonesia yang
tergabung dalam Majelis Permusyawaratan Rakyat memahami kaidah
ilmiah, terkait kedudukan Pembukaan UUD 1945 yang sifatnya permanen
sehingga mereka mengartikulasikan kehendak rakyat yang tidak
berkehendak mengubah Pembukaan UUD 1945.
4. Penjabaran Pancasila dalam Pasal-Pasal UUD NRI 1945.
Kita tentu mengetahui bahwa setelah Amandemen atau Perubahan ke-4
(dalam 2002), Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945
terdiri atas Pembukaan dan Pasal-pasal (lihat Pasal II Aturan Tambahan UUD
1945). Meskipun Penjelasan UUD 1945 101 sudah bukan merupakan hukum
positif, tetapi penjelasan yang bersifat normatif sudah dimuat dalam pasal-
pasal UUD 1945. Selain itu, dalam tataran tertentu penjelasan UUD 1945
dapat menjadi inspirasi dalam kehidupan bernegara bagi warga negara.
Pancasila merupakan asas kerohanian dari Pembukaan UUD 1945 sebagai
staatsfundamentalnorm. Apabila disederhanakan, maka pola pemikiran
tersebut dapat diuraikan sebagai berikut:
1. Pancasila merupakan nilai dan norma dasar dalam peraturan dan
perundang-undangan yang berlaku
2. Pembukaan UUD 1945 menjadi kristalisasi Pancasila yang berwujud pokok
pikiran sebagai landasan keidupan berbangsa dan bernegara.
3. Pokok-pokok pikiran yang terkandung dalam Pembukaan UUD 1945
dioperasionalisasikan melalui pasal-pasal UUD 1945.
Hubungan antara penjabaran Pancasila yang terdapat pada pasal-pasal UUD
1945 perlu ditekankan kembali bahwa Pancasila merupakan nilai dasar yang
bersifat mutlak dan konsisten secara filosofis akademis, dan jika ditelaah dalam
perspektif ilmu hukum, nilai-nilai Pancasila tidak tergantikan karena menjadi
perwujudan asas kerohanian yang menjadi inti dari Pembukaan UUD 1945
sebagai kaidah negara yang bersifat fundamental.
Dapat dikatakan bahwa pasal demi pasal yang terrdapat dalam UUD NRI 1945
tidak seluruhnya merupakan penjabaran yang eksplisit dari UUD NRI 1945 itu
sendiri, akan tetapi bersifat ekstraksi dari nilai-nilai Pancasila secara universal
dan integral. Hal ini merupakan bukti bahwa Pancasila merupakan nilai filosofis
yang menjiwai seluruh peraturan dan tata tertib kehidupan berbangsa dan
bernegara yang harus ditaati oleh seluruh bangsa Indonesia
5. Implementasi Pancasila dalam Perumusan Kebijakan
Pancasila bukan hanya sekadar ideologi yang terpasung pada tataran
normatif saja, akan tetapi Pancasila hadir dalam setiap dimensi kehidupan
berbangsa dan bernegara yang diharapkan menjadi jiwa atau ruh setiap nafas
hidup bangsa dalam menjalani kehidupan. Beberapa contoh di bawah ini
merupakan bidang kehidupan yang tidak lepas dari eksistensi Pancasila
sebagai dasar dan ideologi bangsa dan negara Indonesia.
a. Bidang Politik
Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara seperti di Indonesia,
dibutuhkan wadah atau ruang untuk saling mengkomunikasikan aspirasi atau
gagasan mengenai dinamika kehidupan bangsa Indonesia. Salah satu ruang
publik yang khas dimiliki oleh bangsa Indonesia adalah musyawarah.
Musayawarah menjadi tempat beradu gagasan, ide, aspirasi, maupun
harapan yang dituangkan melalui perdebatan dan dinamika yang ada.
Narasi di atas merupakan saah satu wujud konkret pengamalan
Pancasila dalam perumusan keputusan dan kebijakan dalam bidang politik
yang terjadi di lingkungan daerah tempat kita hidup sebagai bangsa
Indonesia. Idealnya spirit Pancasila menggerakan ide dan pikiran kita untuk
saling berdiskusi dan saling menerima pendapat dari para anggota
musyawarah bukan dengan menunjukkan suara terbanyak dalam suatu
musyawarah.
Dari paparan di atas, seluruh aspirasi dan kepentingan warga negara
secara keseluruhan menjadi prioritas dalam perumusan kebijakan politis oleh
pemerintah. Implementasi nilai-nilai Pancasila dapat diwujudkan
berdasarkan sistem tata kelola pemerintahan yang mengacu kepada asas
kedaulatan rakyat berdasar konstitusi negara.
Asas inilah yang menjadi inti dari paham konstitusionalisme, dimana
wewenang semua unsur dalam sistem kebijakan politik diatur oleh UUD
1945, dengan bertujuan mencegah terjadinya penyalahgunaan wewenang
oleh pihak siapapun. Dengan demikian, para aparatur negara akan menjauhi
dan terselamatkan dari perilaku abuse of power, terutama dalam perumusan
dan pengesahan kebijakan publik yang berwujud undang-undang atau
peraturan yang lainnya serta masyarakat sebagai pihak yang wajib mematuhi
peraturan dan kebijakan pun akan terhindar dari praktek dan tindakan di luar
hukum untuk menuntut hak serta aspirasinya sebagai warga negara.

b. Bidang Ekonomi
Keberadaan koperasi di sekitar tempat tinggal kita memang pernah
dan masih dirasakan sebagai bagian dari bentuk usaha perekonomian
rakyat Indonesia. Memang bentuk badan usaha dalam sistem ekonomi
nasional bukan hanya koperasi, melainkan juga ada bentuk badan usaha
milik perseorangan atau swasta, dan badan usaha milik negara. Ketiga
bentuk badan usaha tersebut diakui keberadaannya bahkan menempati
posisi yang sama pentingnya dalam meningkatkan ekonomi nasional
danmeningkatkan kesejahteraan rakyat.
Akan tetapi, bentuk wujud usaha koperasi memiliki porsi yang cukup
signifikan berdasarkan Pasal 33 ayat (1) UUD 1945. Namun, jika ditelaah
ketentuan dalam Pasal 27 ayat (2), maka terdapat titik penekanan bahwa
BUMN bekerjasama dengan perusahaan swasta juga memiliki posisi yang
menentukan untuk mengembangkan ekonomi negara serta peningkatan
perekonomian rakyat. Pada sisi lainnya, ketentuan dalam Pasal 33 ayat (2)
dan ayat (3) UUD 1945, maka Badan Usaha Milik Negara juga menempati
posisi yang strategis dalam meningkatkan ekonomi nasional dan
meningkatkan kesejahteraan rakyat.
Hal senada juga terdapat ketentuan yang berdasar pada Pasal 34
ayat (1), (2), (3), dan ayat (4) UUD 1945, negara Indonesia berkewajiban
mengembangkan sistem jaminan sosial, memberdayakan masyarakat yang
lemah, serta memelihara kelompok marginal, khususnya fakir miskin dan
anak terlantar.
Semangat ekonomi kerakyatan terdapat dalam Pasal 33, Pasal 27
ayat (2), dan Pasal 33 ayat (1), (2), (3), (4), dan (5), serta Pasal 34 UUD
1945 adalah wujud pengejawantahan nilai Pancasila dalam sektor
perekonomian bangsa dan negara Indonesia. Kondisi perekonomian bangsa
Indonesia terkini memang diisi oleh bentuk badan usaha yang selain BUMN,
terdapat pula perusahaan swasta yang mencerminkan nilai –nilai Pancasila
terutama sila kelima dalam hal pemerataan sektor perekonomian bangsa
dan negara Indonesia sekaligus memperkokoh nilai dan semangat
kemandirian bangsa melalui badan usaha yang dimiliki oleh negara. Di
tengah semangat kemandirian, terdapat pula nilai kompetitif yang wajib
dimiliki oleh bangsa Indonesi dengan menghadirkan perusahaan swasta
dalam hal ini perusahaan asing untuk meningkatkan spirit kreatifitas
perusahaan negara untuk dapat bersaing di kancah perekonomian secara
global.
Internalisasi nilai Pancasila sebagai nilai filosofis sekaligus norma
dasar negara Indonesia menghendaki tercapainya semangat untuk
mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Oleh karenanya,
kebijakan ekonomi negara haruslah mengacu pada asas keselarasan,
keseimbangan, dan kesesuaian antara peran swasta, BUMN, pemerintah
sebagai pemangku kebijakan, dalam mengejawantahkan hal tersebut.
Selain itu negara juga memiliki kewajiban untuk menumbuhkembangkan
sistem jaminan sosial bagi seluruh bangsa Indonesia serta melakukan
pemberdayaan masyarakat yang lemah secara ekonomi.

c. Bidang Sosial Budaya


Pada hakikatnya, bangsa Indonesia memiliki ciri khas hidup untuk
bergotong royong sebagaimana halnya pola hidup masyarakat di pelosok
pedesaan yang masih dapat kita temui hari ini. Namun dalam kondisi hidup
terkini, terutama kehidupan di perkotaan sudah semakin terlihat gejala
individualistik yang menyebabkan sikap dan semangat hidup bergotong
royong semakin memudar. Jika hal ini dibiarkan tanpa ada solusi dan
perubahan sikap serta karakter yang kembali pada ciri khas yang pertama,
gejala disintegrasi bangsa akan mulai muncul seperti halnya yang terjadi
akhir-akhir ini. Hal inilah yang memunculkan kekhawatiran sebagai
perwujudan warga negara yang baik, seyogyanya agar seluruh komponen
bangsa dapat berfikir solutif dan konstruktif, yakni melihat keragaman
sebagai potensi persatuan dan persaudaraan sesama anak bangsa, bukan
melihat sebagai potensi ancaman keragaman hidup sebagai bangsa
Indonesia.
Metode dan cara yang tepat diperlukan pemerintah untuk
memperkuat integrasi bangsa melalui pembangunan kapasitas modal sosial
dan potensi kebudayaan mengacu pada Pasal 31 ayat (5) dan Pasal 32 ayat
(1) dan ayat (2) UUD 1945. Berdasarkan ketentuan dalam Pasal 31 ayat (5)
UUD 1945, disebutkan bahwa “ Pemerintah memajukan ilmu pengetahuan
dan teknologi dengan menjunjung tinggi nilainilai agama dan persatuan
bangsa untuk kemajuan peradaban serta kesejahteraan umat manusia”. Di
sisi lain, menurut Pasal 32 ayat (1) UUD 1945, dinyatakan bahwa “Negara
memajukan kebudayaan nasional Indonesia di tengah peradaban dunia
dengan menjamin kebebasan masyarakat dalam memelihara dan
mengembangkan nilai-nilai budayanya.” Sejalan dengan hal itu, menurut
Pasal 32 ayat (3) UUD 1945, ditentukan bahwa “Negara menghormati dan
memelihara bahasa daerah sebagai kekayaan budaya nasional.”
Budaya bangsa Indonesia dapat dikembangkan dan didorong oleh
gagasan dan harapan melalui aspirasi masyarakat dengan tambahan unsur
pengembangan teknologi. Peran negara dalam hal pengembangan budaya
hanya sebatas membantu memfasilitasi aspirasi dalam bentuk wadah atau
komunitas pengembangan budaya. Berkaca dari hal di atas, jelaslah bahwa
terdapat simbiosis yang positif antara kebudayaan daam konteks
masyarakat di satu pihak dengan peran serta kehadiran negara dalam
konteks fasilitasi kebudayaan di pihak lain.
Jika simbiosis di atas dapat terwujud dengan baik, maka akan tercipta
harmonisasi yang dapat membantu mempercepat pencapaian tujuan
nasional bangsa Indonesia. Begitu pula sebaliknya, jika antara kedua pihak
saling bersitegang maka akan muncul keadaan yang sebaliknya. Hal inilah
yang harus diwaspadai sebagai bangsa Indonesia agar tujuan nasional
dapat tercapai dengan cara yang demokratis.
Berdasarkan uraian di atas, semua kebijakan sosial budaya yang
perlu dikembangkan dalam kehidupan bermasyarakat adalah dengan
memupuk rasa kebersamaan yang dilandasi dengan jiwa gotong royong
karena hal inilah yang dapat meningkatkan kualitas kehidupan yang
berkebudayaan sebagai ciri khas bangsa Indonesia dengan memperhatikan
dinamika teraktual kehidupan bangsa dan negara.

d. Bidang Hankam
Kita sudah tidak asing lagi mendengar istilah bela negara, istilah
pertahanan, dan istilah keamanan negara. Istilah ketiganya erat berkaitan
dengan eksistensi dan kehadiran Pancasila dalam bidang pertahanan dan
keamanan negara. Pancasila menjadi jiwa dalam setiap upaya pembelaan
negara dalam menjaga pertahanan dan keamanan di negara kita yang diatur
dalam Pasal 27 ayat (3) dan Pasal 30 ayat (1), (2), (3), (4), dan ayat (5) UUD
1945. Berdasarkan ketentuan dalam Pasal 27 ayat (3) UUD 1945, “Setiap
warga negara berhak dan wajib ikut serta dalam upaya pembelaan negara”.
Sebuah keniscayaan sebagai warga negara yang baik, upaya dalam
mewujudkan bela negara tidak hanya disikapi sebagai sebuah kewajiban,
akan tetapi merupakan sebuah kebanggaan dan kehormatan sebagai
bagian dari bangsa Indonesia. Bela negara dapat diartikan sebagai segala
perilaku dan sikap warga negara yang dilandasi oleh semangat kebangsaan
dan rasa cinta tanah air untuk menjaga eksistensi bangsa dan negara
berdasarkan nilai Pancasila dalam upaya mewujudkan tujuan bangsa dan
negara Indonesia.
Implementasi peran serta warga negara dalam mewujudkan bela
negara dalam kondisi damai tanpa peperangan dapat diwujudkan dalam
banyak bentuk, salah satunya adalah upaya yang mencerminkan jiwa
mengabdi sesuai profesi termasuk upaya bela negara. Dalam semua bentuk
profesi mampu menjadi ruang untuk berupaya dalam membela negara
sepanjang diliputi rasa kebangsaan dan semangat pengabdian serta
dikokohkan dengan rasa cinta kepada tanah air.
Deskripsi di atas memperlihatkan bahwa jiwa dan sosok
kepahlawanan tidak hanya muncul dari perjuangan secara fisik dan raga
semata, namun sosok dan jiwa kepahlawanan mampu dilahirkan dari segala
macam upaya profesional setiap warga negara. Contohnya, dalam bidang
teknologi mampu melahirkan pahlawan dalam bidang sains dan teknologi.
Begitu juga dengan bidang-bidang non militer lainnya, seperti bidang
pendidikan, ekonomi, budaya dan segala macam bidang kehidupan yang
dapat dijadikan sebagai upaya yang melahirkan sosok pahlawan dalam
bidang masing-masing.
Usaha untuk membangun kekuatan pertahanan adalah daya upaya
negara dalam meningkatkan dan menggunakan kekuatan bangsa dalam
mengatasi ancaman dari dalam dan luar negeri serta ancaman lainnya yang
bisa mengancam kesatuan dan persatuan nasional. Selain yang dijelaskan
di atas, ada juga upaya membangun kekuatan dalam bidang keamanan
yang merujuk pada usaha negara untuk menggunakan kekuatan bangsa
dalam mengatasi ancaman terhadap kondusifitas serta ketertiban
masyarakat dan upaya penegakan hukum.

Tugas
1. Deskripsikan urgensi pancasila sebagai dasar negara di mata mahasiswa
sebagai generasi milenial!
2. Bagaimana menurut kalian cara menanamkan ideologi Pancasila dengan
cara teraktual?

Tugas Kelompok
Buatlah sebuah video blog kreatif di laman Youtube yang berisi ajakan untuk lebih
menumbuhkan kesadaran mengenal dan memahami ideologi Pancasila !
Daftar Pustaka

Kaelan. 2013. Negara Kebangsaan Pancasila Kultural, Historis, filosofis, Yuridis dan
Aktualisasinya. Yogyakarta: Paradigma

Prayogi, Agus Sarwo. 2018. Pendidikan Kewarganegaraan Untuk Perguruan Tinggi .


Yogyakarta: Pustaka Baru Press.

Soehino. 1998. Ilmu Negara. Yogyakarta: Liberty.

Winarno. 2016. Paradigma Baru Pendidikan Pancasila. Jakarta: Bumi Aksara

Abdulgani, Roeslan. 1979. Pengembangan Pancasila Di Indonesia. Jakarta : Yayasan


Idayu
Direktorat Jendral Pembelajaran dan Kemahasiswaan, 2016. Pendidikan Pancasila untuk
Perguruan Tinggi. Jakarta : Kementrian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi