Anda di halaman 1dari 4

1

Irfa
ETIKA ENTERPRISE, KEPATUHAN, DAN PEMERINTAHAN
Banyak penelitian yang menyatakan bahwa perilaku tidak etis manajer menyebabkan kegagalan
bisnis yang tinggi. Sehingga, perusahaan dari semua ukuran dan bidang bisnis saat ini harus
menetapkan fungsi etika yang efektif, termasuk pernyataan misi dan kode etik.
1. Etika langkah pertama: mengembangkan pernyataan misi
Sebuah pernyataan misi menjadi sumber arah, bagi para pemangku kepentingan
untuk tahu apa yang menjadi dasar perusahaan
Sebuah pernyataan misi yang baik harus membuat pernyataan positif tentang suatu
perusahaan dan menginspirasi para pemangku kepentingan perusahaan untuk
memanfaatkan energi mereka, semangat, dan komitmen untuk mencapai tujuan dan
sasaran. Idenya adalah untuk menciptakan rasa tujuan dan arah yang akan dibagi di seluruh
perusahaan.
Kemudian, pernyataan misi tersebut dipublikasikan dengan baik kepada seluruh
anggota perusahaan. Audit internal dapat mengambil peran yang lebih aktif dalam
membantu untuk melaksanakannya.

FIfi

2. Memahami lingkungan risiko etika


Audit internal berperan dalam menilai sikap dan risiko etika melalui temuan audit
maupun sikap karyawan dalam praktik.
3. Temuan etika terkait dari audit masa lalu atau audit khusus
Pemeriksaan ulang dari hasil kertas kerja dan laporan audit temuan atau
bahkan tanggapan dapat memberikan wawasan sikap etis keseluruhan.
Audit internal mungkin juga mempertimbangkan meluncurkan audit khusus
untuk menilai sikap etis tersebut. Ini akan menjadi tinjauan kepatuhan overing di
beberapa bidang utama lintas perusahaan atau ulasan yang sangat terfokus di satu
departemen atau kelompok. Jenis audit internal-review memberikan penilaian
secara keseluruhan sikap etis dalam perusahaan.
4. survei etika sikap Karyawan dan pemangku kepentingan.
Survei akan mencakup beberapa pertanyaan umum, tetapi setiap kelompok
juga akan menerima pertanyaan spesifik ditujukan kepada tanggung jawabnya.
Survei etika akan memungkinkan audit internal, tim etika kantor yang
ditunjuk, atau orang lain untuk mendapatkan pemahaman umum tentang
lingkungan etika dalam perusahaan.
5. Meringkas etika survei hasil: apakah kita punya masalah?
Hasil survei sikap etika atau penilaian dari audit internal masa lalu mungkin
memberikan beberapa jaminan bahwa hal-hal yang cukup baik di seluruh perusahaan.

Vika
24.2 KODE ETIK PERUSAHAAN
Sementara pernyataan misi adalah kunci untuk terus bersama struktur keseluruhan tata
kelola perusahaan, kode etik perusahaan menyediakan bimbingan pendukung bagi para stakeholder.
Audit internal adalah peserta kunci dalam kedua membantu untuk meluncurkan kode dan kemudian
menentukan bahwa kode mempromosikan praktek bisnis yang etis di seluruh perusahaan.
6. Isi kode etik : apa pesan kode itu?
Sebuah kode etik harus jelas, tidak ambigu set aturan yang menguraikan apa yang
diharapkan dari semua pemangku kepentingan perusahaan, petugas, karyawan, kontraktor,
vendor, dan lain-lain. Kode harus didasarkan pada kedua nilai-nilai dan masalah hukum
seputar perusahaan. Jika perusahaan sudah memiliki kode etik, audit internal mungkin ingin
2

menjadwalkan tinjauan dari waktu ke waktu untuk meninjau kembali kode tersebut. Kode
etik bagi perusahaan yang berbeda terlihat berbeda dalam hal gaya, format, dan ukuran.

Dea

7. Komunikasi terhadap stakeholders, dan memastikan Kepatuhan


Perusahaan haruslah menyampaikan kode etik tesebut ke seluruh stakeholders
perusahaan. Hal ini dapat dilakukan dengan berbagai tahapan, yang pertama
menyampaikannya pada unit atau level yang lebih kecil dalam perusahaan, barulah ke
stakeholder. Bukan hanya sekedar membuat aturan tertulis mengenai kode etik tersebut,
tetapi perusahaan harus memiliki upaya formal untuk menampilkan kode etik tersebut
dalam suatu cara yang dapat menarik perhatian.
Suatu kode etik yang baru dapat dikomunikasikan oleh CEO melalui video, website,
pelatihan, dan cara-cara lainnya untuk menekankan bahwa kode etik itu merupakan sesuatu
yang penting. Perusahaan haruslah memastikan seluruh stakeholders telah mengetahui dan
mematuhi kode etik yang ada.
8. Pelanggaran Kode Etik dan Tindakan Perbaikan (Korektif)
Suatu perusahaan haruslah membuat suatu cara untuk membuat karyawan atau
pihak luar dapat melaporkan pelanggaran-pelanggaran yang potensial terjadi atas kode etik
tersebut, melalui cara yang aman dan rahasia. Banyak cara pelaporan tersebut dapat
dilakukan melalui whistleblower.
Kebanyakan pelanggaran terhadap kode etik ini dapat ditangani melalui prosedur
normal bagian HRD perusahaan, yang mana harus menciptakan proses tindak lanjut, yang
pertama – tama dapat dilakukan melalui peringatan verbal, atau bisa dengan kemungkinan
pemutusan hubungan kerja untuk pelanggaran yang telah dilakukan berulang kali. Beberapa
pelanggaran, harus dilaporkan kepada pihak yang berwajib di luar perusahaan.
Win
9. Menjaga Kode Etik Tetap Dilaksanakan
Perusahaan haruslah melakukan peninjauan kembali terhadap kode etik yang telah
dipublikasi secara berkala, paling tidak satu kali dalam dua tahun, untuk memastikan bahwa
petunjuk atau arahan itu masih bisa berlaku dan masih dapat diterima pada saat ini. Setiap
perubahan atau revisi yang dilakukan terhadap kode etik perusahaan, haruslah disampaikan
kepada semua pihak termasuk stakeholders dengan proses yang sama jelasnya seperti pada
saat kode etik itu pertama kali dipublikasikan.
Perusahaan harus menjaga konsistensi dari kode etik dan aturan–aturan yang ada
didepan seluruh stakeholders di setiap saat. Hal ini dapat tercapai melalui poster bulletin
board yang ditempelkan di area–area tertentu dalam perusahaan, dimasukkan dalam
segment tertentu saat ada pelatihan karyawan.
Internal auditor harus memainkan peranan penting dalam mendorong berlakunya
kode etik ini dan memonitor kepatuhan tiap anggota perusahaan melalui review, serta
kontak berkelanjutan terhadap perusahaan. Internal auditor harus sangat waspada terhadap
kode etik perusahaan, dan menggunakannya sebagai dasar dalam pelaporan adanya
pelanggaran, serta dalam membuat rekomendasi sepanjang melakukan internal audit.

Risma
1. MENDESAIN MEKANISME WHISTLEBLOWER YANG SESUAI DENGAN PERUSAHAAN
Kenapa mekanisme Whistleblower dianggap penting?
KPK dan LPSK adalah contoh institusi pemerintahan yang menerapkan whistleblower
dengan menerima laporan dari masyarakat.
Memang saat ini belum ada peraturan yang mewajibkan keberadaan mekanisme
“Whistleblower” dalam sebuah organisasi, namun Indonesia sudah memiliki Undang-Undang
tentang Perlindungan Saksi dan Korban (UU No.13/2006) untuk menjamin perlindungan kepada
3

saksi korban dalam semua tahap proses peradilan pidana walaupun memang perlindungan ini
belum mencakup saksi pelapor dan tidak memberikan insentif seperti pengurangan hukuman
bagi pelapor yang terlibat dalam sebuah tindakan fraud.
Selain sebagai salah satu alat untuk mendeteksi fraud, sebenarnya mekanisme
whistleblower juga bermanfaat sebagai alat untuk mendeteksi berbagai permasalahan yang ada
dalam organisasi, seperti diskriminasi, pelecehan, atau penyimpangan perilaku lainnya yang
tidak sesuai dengan standar etika yang berlaku di organisasi. Sehingga, jika diimplementasikan
dengan serius, mekanisme whistleblower ini juga dapat berfungsi sebagai salah satu alat
pengendalian dan pengawasan, yang dapat membantu meningkatkan perilaku etis dalam
organisasi, yang juga dapat mendorong perubahan kultur organisasi ke arah yang lebih baik.
Deama
Mekanisme whistleblower adalah suatu sistem yang dapat dijadikan media bagi saksi
pelapor untuk menyampaikan informasi mengenai tindakan penyimpangan yang diindikasi
terjadi di dalam suatu organisasi.
Mekanisme whistleblower, umumnya harus dapat menerima informasi dari pelapor
tanpa identitas (anonymous). Alasannya tentu saja agar pelapor dapat lebih bebas dan tidak
takut untuk menyampaikan informasi. Namun walaupun tanpa identitas, diharapkan pelapor
menyampaikan informasi secara obyektif dan bertanggung jawab. Oleh karena itu perlu ada
sebuah sistem yang dirancang dengan baik, agar informasi yang dilaporkan dapat disaring
dengan benar, sehingga tidak menimbulkan dugaan yang tidak beralasan atau bahkan rekayasa
untuk menjatuhkan seseorang untuk kepentingan pribadi – serta untuk menjaga keamanan
pelapor.
Rina
Pedoman tata kelola perusahaan yang baik (GCG) di Indonesia merekomendasikan
kepada setiap perusahaan untuk menyusun peraturan yang menjamin perlindungan terhadap
individu yang melaporkan terjadinya pelanggaran terhadap etika bisnis, pedoman perilaku,
peraturan perusahaan dan peraturan perundang-undangan. Idealnya, mekanisme
“whistleblower” mencakup adanya “hotline” yang menyediakan akses 24 jam – 365 hari
setahun yang dilengkapi dengan interviewer yang handal.
Untuk hasil terbaik dan untuk menyederhanakan komunikasi, organisasi harus
menyediakan hanya satu mekanisme untuk melaporkan berbagai permasalahan yang ada
dalam organisasi, termasuk fraud, pelecehan, maupun diskriminasi. Dengan sentralisasi
pelaporan, informasi kemudian akan disalurkan ke para pihak yang paling sesuai.
Pedoman GCG Indonesia juga merekomendasikan bahwa Dewan Komisaris
berkewajiban untuk menerima dan memastikan pengaduan atau pelaporan tentang
pelanggaran terhadap etika bisnis, pedoman perkilaku, peraturan perusahaan dan peraturan
perundang-undangan, diproses secara wajar dan tepat waktu.
Agar sesuai dengan rekomendasi ini, Dewan Komisaris dapat saja mendelegasikan
aktivitas ini kepada perangkatnya, misalnya kepada Komite Audit. Namun, ada baiknya
pelaporan tidak hanya diterima oleh satu pihak karena dapat mengurangi risiko
penyembunyian informasi tertentu dengan sengaja dan tentu saja menjaga integritas
mekanisme pelaporan.
Agar mekanisme whistleblower ini efektif, tentu perlu dilakukan sosialisasi. Sosialisasi
mengenai keberadaan mekanisme whistleblower, juga dapat membantu menciptakan kondisi
kerja yang dilandasi etika, melalui adanya deskripsi yang jelas mengenai berbagai jenis perilaku
yang diharapkan untuk diterapkan di dalam organisasi. Mekanisme tersebut harus
diinformasikan kepada seluruh pemangku kepentingan, termasuk karyawan, mitra kerja, dan
investor.
Karina
2. MENINGKATKAN PENERAPAN TATA KELOLA PERUSAHAAN
10. Etika yang kuat secara keseluruhan
4

11. auditor internal harus menyadari kebutuhan untuk tata kelola perusahaan secara
keseluruhan di seluruh perusahaan dan kebijakan etika.
12. Auditor Internal harus memiliki etika yang kuat dan program kepatuhan di dalam grup audit
internal mereka sendiri dan harus mencari praktek-praktek serupa dalam perusahaan total.
Praktek ini dianjurkan untuk dilaksanakan tetapi juga membawa kekhawatiran tentang
praktek akuntansi dan keuangan yang menjadi perhatian manajemen. Pernyataan kebijakan
tersebut juga harus menekankan bahwa manajemen tidak akan mentolerir pembalasan
terhadap karyawan yang menimbulkan kekhawatiran. Kebijakan ini dapat membantu
mendorong terbukanya proses untuk menangani isu-isu dengan efektif.
13. Auditor Internal harus menyadari praktek-praktek ini sebagai bagian dari CBOK mereka dan
harus memainkan peran kunci dalam membantu baik untuk memulai dan untuk meninjau
proses ini.