Anda di halaman 1dari 25

FAKULTAS KEDOKTERAN Laporan Kasus

UNIVERSITAS HASANUDDIN Februari 2018

ILEUS OBSTRUKTIF

Oleh:

Julio Ericks M. Krey Adaptasi LN

Raja Izrul Haikal Bin Raja Ezar Ishamuddin C111 13 846

Ain Najihah Binti Mohd Najib Al-Puad C111 14 841

Pembimbing Residen

dr. Rosita

Dosen Pembimbing

dr. Nikmatia Latief, Sp.Rad(K)

DIBAWAKAN DALAM RANGKA TUGAS KEPANITERAAN KLINIK


BAGIAN RADIOLOGI FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2018

1
HALAMAN PENGESAHAN

Yang bertanda tangan di bawah ini, menyatakan bahwa:

Julio Ericks M. Krey Adaptasi LN

Raja Izrul Haikal Bin Raja Ezar Ishamuddin C111 13 846

Ain Najihah Binti Mohd Najib Al-Puad C111 14 841

Judul Laporan Kasus: Ileus Obstruktif


Telah menyelesaikan tugas dalam rangka kepaniteraan klinik pada bagian
Radiologi Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin.

Makassar, 23 Februari 2018


Konsulen Pembimbing

dr. Nikmatia Latief, Sp.Rad(K) dr. Rosita

Penguji Lisan

_________________________

Mengetahui,
Kepala Bagian Radiologi
Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin

Prof. Dr. dr. Bachtiar Murtala, Sp.Rad(K)

2
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL .................................................................................... 1


HALAMAN PENGESAHAN ...................................................................... 2
DAFTAR ISI ................................................................................................ 3
BAB 1 PRESENTASI KASUS
A. IDENTITAS PASIEN ......................................................................... 4
B. ANAMNESIS ..................................................................................... 4
C. PEMERIKSAAN FISIK …………………………………................. 5
D. PEMERIKSAAN LABORATORIUM ……………………………... 7
E. RADIOLOGI ……………………………………………….............. 8
F. DIAGNOSIS ………………………………………………............... 9
G. TERAPI …………………………………………………….............. 9
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
A. DEFINISI ...........................................................................................
B. ANATOMI DAN FISIOLOGI ........................................................... 10
C. ETIOLOGI ..........................................…............................................ 14
D. PATOMEKANISME ……………………………………………….. 16
E. RADIOLOGI ……………………………………………….............. 18
F. MANIFESTASI KLINIS .................................................................... 21
G. DIFFERENSIAL DIAGNOSIS..............................…...……………. 22
H. PENATALAKSANAAN …………………………………................ 23
I. KOMPLIKASI ……………………………………………................ 24
J. PROGNOSIS ……………………………………………………….. 24
DAFTAR PUSTAKA .................................................................................. 25

3
BAB I
LAPORAN KASUS

A. Identitas Pasien

Nama : Tn. A

Tanggal Lahir/Umur : 23 Oktober 1989 /28Tahun

No. Rekam Medis : 094043

Jenis Kelamin : Laki-laki

Alamat : Sumedang Jawa Barat

Status Pernikahan : Menikah

Tanggal MRS : 14 Februari 2018

B. Anamnesis
 Keluhan utama : Muntah
 Riwayat Penyakit Sekarang : Muntah dialami sejak tadi sore Denman
frekuensi 2 kali. Sakit ulu hati tidak Ada. Nyeri perut ada hilang timbul. Nyeri
muncul saat pasien hendak BAB terasa skit. BAB encer 2 kali nerwarna coklat
kehitaman, lender tidak ada, darah tidak ada. Riwayat BAB warna kehitaman
seperti kopi ada sejak 6 hari yang lalu. Riwayat opname di RS UNHAS dengan
keluhan yang sama sejak 6 hari yang lalu.
Nyeri perut ada dialami sejak pagi tadi, hilang timbul, nyeri muncul saat pasien
hendak BAB. Mual ada, muntah ada dengan frekuensi 2 kali yang berisi air.
Riwayat muntah hitam atau darah sebelum ini tidak ada. Nafsu maka m enurun
ada dalam sejak 6 hari yang lalu. Penurunan berat badan tidak ada. BAK lancer
warna kuning. Nyeri saat berkemih tidak ada.
 Riwayat Penyakit Sebelumnya :
- Riwayat hipertensi tidak ada
- Riwayat Diabetes Mellitus tidak ada
- Riwayat penyakit jantung sebelumnya tidak ada
- Riwayat stroke tidak ada
4
- Riwayat penyakit ginjal tidak ada
- Riwayat penyakit tuberkulosis paru dan minum obat anti tuberkulosis tidak
ada
- Riwayat asma tidak ada

C. Pemeriksaan Fisik
Keadaaan Umum Sakit sedang/ gizi cukup/ GCS 15 (kompos mentis)
Tanda-Tanda Vital
Tekanan Darah 126/84 mmHg
Frekuensi nadi 80 kali/menit
Frekuansi napas 20 kali/menit
Suhu (aksilla) 37,0 oC
Kepala
Deformitas Tidak ada
Simetris muka Simetris
Rambut Sukar dicabut
Ukuran Mesosefal
Bentuk Normosefal
Mata
Eksoftalmus Tidak ada
Konjungtiva Anemis (-)
Kornea Refleks kornea (+)
Enoptalmus Tidak ada
Sklera Ikterus (-)
Pupil Isokor 2,5mm/2,5mm
Telinga
Pendengaran Dalam batas normal
Otorrhea Tidak ada
Hidung
Epistaksis Tidak ada
Rhinorrhea Tidak ada

5
Mulut
Bibir Kering (-)
Tonsil T1-T1 tidak hiperemis
Lidah
Kotor Tidak ada
Faring Tidak hiperemis
Leher
Kelenjar Getah Bening Tidak ada pembesaran
Kelenjar Gondok Tidak ada pembesaran
DVS R+3 cm H2O
Paru-paru
Inspeksi Simetris kiri sama dengan kanan
Palpasi Tidak ada massa, vokal fremitus simetris kiri sama
dengan kanan
Perkusi Sonor
Auskultasi Vesikuler, ronkhi tidak ada, wheezing tidak ada
Jantung
Inspeksi Tidak tampak iktus kordis
Palpasi Ictus cordis tidak teraba ,thrill(-)
Perkusi Batas kiri atas jantung ICS 2 linea parasternalis sinistra
Batas kanan atas jantung ICS 2 linea parasternalis
dextra
Batas kanan bawah jantung ICS 4 linea parasternalis
dextra
Batas kiri bawah jantung ICS 5 linea midckavicularis
sinistra

Abdomen
Inspeksi Cembung, ikut gerak nafas
Auskultasi Peristaltik(+), kesan normal

6
Palpasi Hepar dan lien tidak teraba, nyeri tekan tidak ada
Perkusi Hipertimpani
Ekstremitas Akral hangat, edema tidak ada
Tonus Sphincter Ani mencekik, ampulla

Rectal Toucher kosong,mukosa licin, tumor tidak ada, feses tidak

ada,lendir tidak ada

D. Pemeriksaan Laboratorium
 Hasil laboratorium (14/02/2018)
WBC 14,21 X 103 /ul
RBC 3,97 X 106/ul
HGB 15,5 gr/dl
HCT 36,3 %

MCV 91,4 fl
MCH 32,5 pg
MCHC 35,5 gr/dl
PLT 299 X103/ul
NEUTROFIL 70,8 %
LIMFOSIT 12,2 %
MONOSIT 6,7 %
GDS 124 mg/dl
Ur/Cr 28 mg/dl /1.0 mg/dl
SGOT/SGPT 13 U/L /22U/L
ALBUMIN 4,1 gr/dl
NATRIUM 146 mmol/l
KALIUM 3,0 mmol/l
KLORIDA 107 mmol/l
KOLESTEROL TOTAL 226

7
HDL 52
LDL 154
TRIGLISERIDA 130

Tabel 1 : Hasil pemeriksaan laboratorium

E. Radiologi

Gambar 1 : Foto Polos Abdomen 3 Posisi

Foto Polos Abdomen 3 Posisi (18/02/2018)

 Udara usus terdistribusi minimal hingga ke distal kolon.


 Tampak dilatasi central loop-loop usus, gambaran herring bone dan valvulae
conniventes
 Kedua psoas line sulit dievaluasi, kedua preperitoneal fat line baik.
 Tulang-tulang intak.

Kesan : Sesuai gambaran Ileus Obstruksi

F. Diagnosis
Ileus obstruktif

G. Terapi

8
 IVFD Ringer Lactate 28 tetes /menit
 Omeprazole 40 mg/12jam/intravena
 Rhinos RP/12jam/oral
 ardium tab/12jam/oral

H. Planning
Laparostomi-eksplorasi

9
BAB II

DISKUSI

A. Definisi

Ileus obsruktif atau disebut juga dengan istilah ileus mekanik merupakan
suatu keadaan dimana terjadinya penghambatan pengisian saluran cerna ke arah
distal atau anus yang disebabkan oleh adanya sumbatan atau hambatan mekanis
yang disebabkan kelainan dalam dinding usus atau luar usus seperti hernia,
perlekatan, atau volvulus. 1,2

B. Anatomi dan Fisiologi

Gambar 2. Traktus Gastrointestinal5

Sistem pencernaan terdiri atas traktus gastrointestinal dan organ aksesori


pencernaan. Saluran pencernaan merupakan suatu tuba kontinuous yang dimulai dari mulut
hingga ke anus melalui rongga toraks dan abdominopelvik. Antara organ gastrointestinal
adalah termasuk mulut, faring, esofagus, gaster, usus halus dan usus besar. Organ
aksesorius adalah gigi, lidah, kelenjar liur, hepar, kantong empedu dan pankreas. Panjang
ukuran traktus gastrointestinal adalah 5-7meter.3

10
Fisiologi sistem pencernaan atau sistem gastroinstestinal (mulai dari mulut sampai
anus) adalah sistem organ dalam manusia yang berfungsi untuk menerima makanan,
mencernanya menjadi zat-zat gizi dan energi, menyerap zat-zat gizi ke dalam aliran darah
serta membuang bagian makanan yang tidak dapat dicerna atau merupakan sisa proses
tersebut dari tubuh. Anatomi dan fisiologi sistem pencernaan yaitu :

1. Mulut
Merupakan suatu rongga terbuka tempat masuknya makanan dan air.
Mulut merupakan bagian awal dari sistem pencernaan lengkap dan jalan masuk
untuk sistem pencernaan yang berakhir di anus. Bagian dalam dari mulut dilapisi
oleh selaput lendir. Pengecapan dirasakan oleh organ perasa yang terdapat di
permukaan lidah. Pengecapan sederhana terdiri dari manis, asam, asin dan pahit.
Penciuman dirasakan oleh saraf olfaktorius di hidung, terdiri dari berbagai macam
bau. Makanan dipotong-potong oleh gigi depan (incisivus) dan di kunyah oleh gigi
belakang (molar, geraham), menjadi bagian-bagian kecil yang lebih mudah
dicerna. Ludah dari kelenjar ludah akan membungkus bagian-bagian dari makanan
tersebutdengan enzim-enzim pencernaan dan mulai mencernanya. Ludah juga
mengandung antibodi dan enzim (misalnya lisozim), yang memecah protein dan
menyerang bakteri secara langsung. Proses menelan dimulai secara sadar dan
berlanjut secara otomatis.4

2. Tenggorokan (Faring)
Merupakan penghubung antara rongga mulut dan kerongkongan. Di dalam
lengkung faring terdapat tonsil (amandel) yaitu kelenjar limfe yang banyak
mengandung kelenjar limfosit dan merupakan pertahanan terhadap infeksi, disini
terletak bersimpangan antara jalan nafas dan jalan makanan, letaknya dibelakang
rongga mulut dan rongga hidung, didepan ruas tulang belakang keatas bagian
depan berhubungan dengan rongga hidung, dengan perantaraan lubang bernama
koana, keadaan tekak berhubungan dengan rongga mulut dengan perantaraan
lubang yang disebut ismus fausium. Tekak terdiri dari bagian superior yaitu bagian
yang sama tinggi dengan hidung, bagian media yaitu bagian yang sama tinggi
dengan mulut dan bagian inferior yaitu bagian yang sama tinggi dengan laring.
Bagian superior disebut nasofaring, pada nasofaring bermuara tuba yang
menghubungkan tekak dengan ruang gendang telinga. Bagian media disebut

11
orofaring, bagian ini berbatas ke depan sampai di akar lidah. Bagian inferior
disebut laringofaring yang menghubungkan orofaring dengan laring.4

3. Kerongkongan (Esofagus)
Kerongkongan adalah tabung (tuba) berotot pada vertebrata yang dilalui
sewaktu makanan mengalir dari bagian mulut ke dalam lambung. Makanan
berjalan melalui kerongkongan dengan menggunakan proses peristaltik. Esofagus
bertemu dengan faring pada ruas ke-6 tulang belakang. Menurut histologi,
esofagus dibagi menjadi tiga bagian yaitu bagian superior (sebagian besar adalah
otot rangka), bagian tengah (campuran otot rangka dan otot halus), serta bagian
inferior (terutama terdiri dari otot halus).4

4. Lambung
Merupakan organ otot berongga yang besar, yang terdiri dari tiga bagian
yaitu kardia, fundus dan antrium. Lambung berfungsi sebagai gudang makanan,
yang berkontraksi secara ritmik untuk mencampur makanan dengan enzim-enzim.
Sel-sel yang melapisi lambung menghasilkan 3 zat penting yaitu lendir, asam
klorida (HCL), dan prekusor pepsin (enzim yang memecahkan protein). Lendir
melindungi sel–sel lambung dari kerusakan oleh asam lambung dan asam klorida
menciptakan suasanayang sangat asam, yang diperlukan oleh pepsin guna
memecah protein. Keasaman lambung yang tinggi juga berperan sebagai
penghalang terhadap infeksi dengan cara membunuh berbagai bakteri.4

5. Usus halus (usus kecil)


Usus halus atau usus kecil adalah bagian dari saluran pencernaan yang
terletak di antara lambung dan usus besar. Dinding usus kaya akan pembuluh darah
yang mengangkut zat-zat yang diserap ke hati melalui vena porta. Dinding usus
melepaskan lendir (yang melumasi isi usus) dan air (yang membantu melarutkan
pecahan-pecahan makanan yang dicerna). Dinding usus juga melepaskan sejumlah
kecil enzim yang mencerna protein, gula dan lemak. Lapisan usus halus terdiri dari
lapisan mukosa (sebelah dalam), lapisan otot melingkar, lapisan otot memanjang
dan lapisan serosa. Usus halus terdiri dari tiga bagian yaitu usus dua belas jari
(duodenum), usus kosong (jejunum), dan usus penyerapan (ileum).4

12
6. Usus Dua Belas Jari (Duodenum)
Usus dua belas jari atau duodenum adalah bagian dari usus halus yang
terletak setelah lambung dan menghubungkannya ke usus kosong (jejunum).
Bagian usus dua belas jari merupakan bagian terpendek dari usus halus, dimulai
dari bulbo duodenale dan berakhir di ligamentum treitz. Usus dua belas jari
merupakan organ retroperitoneal, yang tidak terbungkus seluruhnya oleh selaput
peritoneum. PH usus dua belas jari yang normal berkisar pada derajat sembilan.
Pada usus dua belas jari terdapat dua muara saluran yaitu dari pankreas dan
kantung empedu. Lambung melepaskan makanan ke dalam usus dua belas jari
(duodenum), yang merupakan bagian pertama dari usus halus. Makanan masuk ke
dalam duodenum melalui sfingter pilorus dalam jumlah yang bisa di cerna oleh
usus halus. Jika penuh, duodenum akan megirimkan sinyal kepada lambung untuk
berhenti mengalirkan makanan.4

7. Usus Kosong (Jejenum)


Usus kosong atau jejunum adalah bagian kedua dari usus halus, di antara
usus dua belas jari(duodenum) dan usus penyerapan(ileum). Pada manusia dewasa,
panjang seluruh usus halus antara 2-8 meter, 1-2 meter adalah bagian usus kosong.
Usus kosong dan usus penyerapan digantungkan dalam tubuh dengan
mesenterium. Permukaan dalam usus kosong berupa membran mukus dan terdapat
jonjot usus(vili), yang memperluas permukaan dari usus.4

8. Usus Penyerapan (Illeum)


Usus penyerapan atau ileum adalah bagian terakhir dari usus halus. Pada
sistem pencernaan manusia ileum memiliki panjang sekitar 2- 4m dan terletak
setelah duodenum dan jejunum, dan dilanjutkan oleh usus buntu. Ileum memiliki
pH antara 7 dan 8 (netral atau sedikit basa) dan berfungsi menyerap vitamin B12
dan garam empedu.4

9. Usus Besar (Kolon)


Usus besar atau kolon adalah bagian usus antara usus buntu dan rektum.
Fungsi utama organ ini adalah menyerap air dari feses. Usus besar terdiri dari kolon
asendens (kanan), kolon transversum, kolon desendens (kiri), kolon sigmoid
(berhubungan dengan rektum). Banyaknya bakteri yang terdapat di dalam usus
besar berfungsi mencerna beberapa bahan dan membantu penyerapan zat-zat gizi.

13
Bakteri di dalam usus besar juga berfungsi membuat zat-zat penting, seperti
vitamin K. Bakteri ini penting untuk fungsi normal dari usus. Beberapa penyakit
serta antibiotik bisa menyebabkan gangguan pada bakteri-bakteri didalam usus
besar. Akibatnya terjadi iritasi yang bisa menyebabkan dikeluarkannya lendir dan
air, dan terjadilah diare.4

10. Rektum dan Anus


Rektum adalah sebuah ruangan yang berawal dari ujung usus besar
(setelah kolon sigmoid) dan berakhir di anus. Organ ini berfungsi sebagai tempat
penyimpanan sementara feses. Biasanya rektum ini kosong karena tinja disimpan
di tempat yang lebih tinggi, yaitu pada kolon desendens. Jika kolon desendens
penuh dan tinja masuk ke dalam rektum, maka timbul keinginan untuk buang air
besar (BAB). Mengembangnya dinding rektum karena penumpukan material di
dalam rektum akan memicu system saraf yang menimbulkan keinginan untuk
melakukan defekasi. Jika defekasi tidak terjadi, sering kali material akan
dikembalikan ke usus besar, di mana penyerapan air akan kembali dilakukan. Jika
defekasi tidak terjadi untuk periode yang lama, konstipasi dan pengerasan feses
akan terjadi. Orang dewasa dan anak yang lebih tua bisa menahan keinginan ini,
tetapi bayi dan anak yang lebih muda mengalami kekurangan dalam pengendalian
otot yang penting untuk menunda BAB. Anus merupakan lubang di ujung saluran
pencernaan, dimana bahan limbah keluar dari tubuh. Sebagian anus terbentuk dari
permukaan tubuh (kulit) dan sebagian lannya dari usus. Pembukaan dan penutupan
anus diatur oleh otot sphinkter. Feses dibuang dari tubuh melalui proses defekasi
(buang air besar) yang merupakan fungsi utama anus.4

C. Etiologi

Ileus obstruktif sering dijumpai dan merupakan penyebab terbesar


pembedahan pada akut abdomen. Hal ini terjadi ketika udara dan hasil
sekresi tak dapat melewati lumen intestinal karena adanya sumbatan yang
menghalangi. Obstruksi mekanik dari lumen intestinal biasanya
disebabkan oleh tiga mekanisme ;
1. blokade intralumen (obturasi)
2. intramural atau lesi intrinsik dari dinding usus,

14
3. kompresi lumen atau konstriksi akibat lesi ekstrinsik dari intestinal.
Berbagai kondisi yang menyebabkan terjadinya obstruksi intestinal
biasanya terjadi melalui satu mekanisme utama. Satu pertiga dari seluruh
pasien yang mengalami ileus obstruktif, ternyata dijumpai lebih dari satu
faktor etiologi yang ditemukan saat dilakukan operasi.

Penyebab terjadinya ileus obstruktif beragam jumlahnya berdasarkan


umur dan tempat terjadinya obstruksi. Adhesi post operatif merupakan
penyebab utama dari terjadinya obstruksi usus halus. Pada pasien yang
tidak pernah dilakukan operasi laparotomi sebelumnya, adhesi karena
inflamasi dan berbagai hal yang berkaitan dengan kasus ginekologi
harus dipikirkan. Adhesi, hernia, dan malignansi merupakan 80 %
penyebab dari kasus ileus obstruktif. Pada anak-anak, hanya 10 %
obstruksi yang disebabkan oleh adhesi; intususepsi merupakan
penyebab tersering dari ileus obstruktif yang terjadi pada anak-anak.
Volvulus dan intususepsi merupakan 30 % kasus komplikasi dari
kehamilan dan kelahiran. Kanker harus dipikirkan bila ileus obstruktif
ini terjadi pada orang tua. Metastasis dari genitourinaria, kolon,
pankreas, dan karsinoma gaster menyebabkan obstruksi lebih sering
daripada tumor primer di intestinal. Malignansi, divertikel, dan
volvulus merupakan penyebab tersering terjadinya obstruksi kolon,
dengan karsinoma kolorektal.

15
D. Patomekanisme

Respon Usus Halus Terhadap Obstruksi

Normalnya, sekitar 2 L asupan cairan dan 8 L sekresi dari gaster, intestinal


dan pankreaticobilier ditansfer ke intestinal setiap harinya. Meskipun aliran cairan
menuju ke intestinal bagian proksimal, sebagian besar cairan ini akan diabsorbsi
di intestinal bagian distal dan kolon. Ileus obstruktif terjadi akibat akumulasi
cairan intestinal di proksimal daerah obstruksi disebabkan karena adanya
gangguan mekanisme absorbsi normal proksimal daerah obstruksi serta kegagalan
isi lumen untuk mencapai daerah distal dari obstruksi.

Akumulasi cairan intralumen proksimal daerah obstruksi terjadi dalam


beberapa jam dan akibat beberapa faktor. Asupan cairan dan sekresi lumen yang
terus bertambah terkumpul dalam intestinal. Aliran darah meningkat ke daerah
intestinal segera setelah terjadinya obstruksi, terutama di daerah proksimal lesi,
yang akhirnya akan meningkatkan sekresi intestinal. Hal ini bertujuan untuk
menurunkan kepekaan vasa splanknik pada daerah obstruksi terhadap mediator
vasoaktif. Pengguyuran cairan intravena juga meningkatkan volume cairan
intralumen. Sekresi cairan ke dalam lumen terjadi karena kerusakan mekanisme
absorpsi dan sekresi normal. Distensi lumen menyebabkan terjadinya kongestif
vena, edema intralumen, dan iskemia.

Gas intestinal juga mengalami akumulasi saat terjadinya ileus obstruktif.


Sebagian kecil dihasilkan melalui netralisasi bikarbonat atau dari metabolisme
bakteri. Gas di Intestinal terdiri atas Nitrogen (70%), Oksigen (12%), dan Karbon
Dioksida (8%), yang komposisinya mirip dengan udara bebas. Hanya karbon
dioksida yang memiliki cukup tekanan parsial untuk berdifusi dari lumen.

Intestinal, normalnya, berusaha untuk membebaskan obstruksi mekanik


dengan cara meningkatkan peristaltik. Periode yang terjadi ialah berturut-turut:
terjadinya hiperperistaltik, intermittent quiescent interval, dan pada tingkat akhir
terjadi ileus. Bagian distal obstruksi segera menjadi kurang aktif. Obstruksi
mekanik yang berkepanjangan menyebabkan penurunan dari frekuensi gelombang
16
- lambat dan kerusakan aktivitas gelombang spike, namun intestinal masih
memberikan respon terhadap rangsangan. Ileus dapat terus menetap bahkan
setelah obstruksi mekanik terbebaskan.

Tekanan intralumen meningkat sekitar 20 cmH2O, sehingga menyebabkan


aliran cairan dari lumen ke pembuluh darah berkurang dan sebaliknya aliran dari
pembuluh darah ke lumen meningkat. Perubahan yang serupa juga terjadi pada
absorbsi dan sekresi dari Natrium dan Khlorida. Namun, peningkatan tekanan
intralumen tidak selalu terjadi dan mungkin terdapat mekanisme lain yang
menyebabkan perubahan pada mekanisme sekresi. Peningkatan sekresi juga
dipengarui oleh hormon gastrointestinal, seperti peningkatan sirkulasi vasoaktif
intestinal polipeptida, prostaglandin, atau endotoksin.

Peningkatan volume intralumen menyebabkan terjadinya distensi


intestinal di bagian proksimal obstruksi, yang bermanifestasi pada mual dan
muntah. Proses obstruksi yang berlanjut, kerusakan progresif dari proses absorbsi
dan sekresi semakin ke proksimal. Selanjutnya, obstruksi mekanik ini mengarah
pada peningkatan defisit cairan intravaskular yang disebabkan oleh terjadinya
muntah, akumulasi cairan intralumen, edema intramural, dan transudasi cairan
intraperitoneal. Hipokalemia, hipokhloremia, alkalosis metabolik merupakan
komplikasi yang sering dari obstruksi letak tinggi. Hipovolemia yang tak
dikoreksi dapat mengakibatkan terjadinya insufisiensi renal, syok, dan kematian.
Stagnasi isi intestinal dapat memfasilitasi terjadinya proliferasi bakteri. Bakteri
Aerob dan Anaerob berkembang pada daerah obstruksi. Koloni berlebihan dari
bakteri dapat merangsang absorbtif dan fungsi motorik dari intestinal dan
menyebabkan terjadinya translokasi bakteri dan komplikasi sepsis.

Klasifikasi Ileus Obstruktif


Berdasarkan penyebabnya ileus obstruktif dibedakan menjadi tiga kelompok :
1. Lesi-lesi intraluminal, misalnya fekalit, benda asing, bezoar, batu empedu.
2. Lesi-lesi intramural, misalnya malignansi atau inflamasi.

17
3. Lesi-lesi ekstramural, misalnya adhesi, hernia, volvulus atau intususepsi.

Berdasarkan Lokasi Obstruksi :


 Letak Tinggi : Duodenum-Jejunum
 Letak Tengah : Ileum Terminal
 Letak Rendah : Colon-Sigmoid-rectum

Ileus obstruktif dibagi lagi menjadi tiga jenis dasar (Sjamsuhidajat & Jong, 2005):

1. Ileus obstruktif sederhana, dimana obstruksi tidak disertai dengan


terjepitnya pembuluh darah.
2. Ileus obstruktif strangulasi, dimana obstruksi yang disertai adanya
penjepitan pembuluh darah sehingga terjadi iskemia yang akan berakhir
dengan nekrosis atau gangren yang ditandai dengan gejala umum berat
yang disebabkan oleh toksin dari jaringan gangren.
3. Ileus obstruktif jenis gelung tertutup, dimana terjadi bila jalan masuk dan
keluar suatu gelung usus tersumbat, dimana paling sedikit terdapat dua
tempat obstruksi.

Untuk keperluan klinis dan berdasarkan letak sumbatan, ileus obstruktif dibagi
dua:

1. Ileus obstruktif usus halus, yaitu obstruksi letak tinggi dimana mengenai
duodenum, jejunum dan ileum
2. Ileus obstruktif usus besar, yaitu obstruksi letak rendah yang mengenai
kolon, sigmoid dan rectum.

E. Radiologi
Diagnosis ileus obstruksi dapat ditegakkan dengan foto abdomen 3 posisi.
3 posisi tersebut adalah left lateral decubitus, supine(AP) dan tegak(PA). dapat

18
juga dilakukan foto PA toraks untuk melihat pneumoperitoneum yang merupakan
komplikasi dari ileus obstruksi.
Gambaran utama dari ileus obstruktif adalah dilatasi usus halus proksimal
dari obstruksi dan dekompresi usus halus distal dari obstruksi.8

Gambar 5. Foto BNO 3 posisi (supine) dengan gambaran distensi usus halus.8

Panjang normal usus halus rata-rata adalah 6,5m. Dari foto polos abdomen,
dikatakan terjadi dilatasi usus halus apabila diameter usus lebih dari 3cm, proksimal
kolon lebih dari 9cm dan sigmoid kolon lebih dari 5 cm.7

Posisi lateral dekubitus kiri dapat membantu identifikasi distribusi udara


bebas di intraperitoneum. Pasien akan diposisikan miring selama 5-10menit untuk
memastikan semua udara bebas terkumpul di bagian atas usus. 7

19
Gambar 6. Posisi lateral dekubitus kiri dengan gambaran air fluid
level yang menandakan udara terpisah dari cairan dalam usus.8

Pada posisi tegak, dapat dilihat distensi usus dan air fluid level yang
memberi gambaran seperti stepladder.

Gambar 7. Foto BNO 3 posisi (tegak) yang memberi


gambaran multiple air fluid level.8
20
F. Manifestasi Klinis
1. Obstruksi sederhana
Obstruksi usus halus merupakan obstruksi saluran cerna tinggi, artinya
disertai dengan pengeluaran banyak cairan dan elektrolit baik didalam lumen
usus bagian oral dari obstruksi, maupun melalui muntah. Gejala penyumbatan
usus meliputi nyeri kram pada perut dengan disertai kembung. Pada obstruksi
usus halus proksimal akan timbul gejala muntah yang banyak. Nyeri bisa berat
dan menetap. Nyeri abdomen sering dirasakan sebagai perasaan tidak enak di
perut bagian atas. Semakin distal sumbatan, maka muntah yang dihasilkan
semakin fekulen.2
Tanda vital normal pada tahap awal, namun akan berlanjut dengan
dehidrasi akibat kehilangan cairan dan elektrolit. Suhu tubuh bisa normal
sampai demam. Distensi abdomen dapat dapat minimal atau tidak ada pada
obstruksi proksimal dan semakin jelas pada sumbatan di daerah distal. Bising
usus yang meningkat dan metallic sound dapat didengar sesuai dengan
timbulnya nyeri pada obstruksi di daerah distal.2

2. Obstruksi disertai proses strangulasi


Gejalanya seperti obstruksi sederhana tetapi lebih nyata dan disertai
dengan nyeri hebat. Hal yang perlu diperhatikan adalah adanya skar bekas
operasi atau hernia. Bila dijumpai tanda-tanda strangulasi berupa nyeri iskemik
dimana nyeri yang sangat hebat, menetap dan tidak menyurut, maka dilakukan
tindakan operasi segera untuk mencegah terjadinya nekrosis usus.2

3. Obstruksi mekanis di kolon.


Timbul perlahan-lahan dengan nyeri akibat sumbatan biasanya
terasa di epigastrium. Nyeri yang hebat dan terus menerus menunjukkan
adanya iskemia atau peritonitis. Konstipasi atau obstipasi adalah gambaran
umum obstruksi komplit. Muntah lebih sering terjadi pada penyumbatan
usus besar. Muntah timbul kemudian dan tidak terjadi bila katup ileosekal
mampu mencegah refluks. Bila akibat refluks isi kolon terdorong ke dalam

21
usus halus, akan tampak gangguan pada usus halus. Muntah fekal akan
terjadi kemudian. Pada keadaan valvula Bauchini yang paten, terjadi
distensi hebat dan sering mengakibatkan perforasi sekum karena
tekanannya paling tinggi dan dindingnya yang lebih tipis. Pada pemeriksaan
fisis akan menunjukkan distensi abdomen dan timpani, gerakan usus akan
tampak pada pasien yang kurus, dan akan terdengar metallic sound pada
auskultasi. Nyeri yang terlokasi, dan terabanya massa menunjukkan adanya
strangulasi.2

G. Diferensial Diagnosis

1. Ileus paralitik
Keadaan dimana usus gagal atau tidak mampu melakukan kontraksi
peristaltik untuk menyalurkan isinya. Ileus paralitik hampir selalu dijumpai
pada pasien pasca operasi abdomen yang biasanya berlansung antara 24-72 jam.
Kelainan retroperitoneal seperti hematoma retroperitoneal, terlebih lagi bila
disertai fraktur vertebra sering menimbulkan ileus paralitik yang berat. Begitu
juga sekiranya terjadi kelainan pada rongga dada seperti pneumonia paru bagian
bawah, empiema, dan infark miokard dapat disertai paralisis usus. Gejala klinis
yang didapatkan adalah seperti perut kembung (abdominal distention) yang
tidak disertai dengan nyeri kolik abdomen yang paroksismal, anoreksia, mual,
dan obstipasi. Muntah mungkin ada. Pada pemeriksaan auskultasi abdomen
didapatkan suara atau bunyi yang sangat melemah dan jarang bahkan
menghilang pada ileus paralitik. Sebaliknya pada ileus obstruksi kadang
terdengar suara peristaltik dengan nada yang tinggi dan suara logam (metallic
sound). Pada foto polos abdomen akan ditemukan distensi lambung usus halus
dan usus besar. Air fluid level berupa suatu gambaran line up (segaris).9

22
Gambar 8. Foto abdomen yang menunjukkan
gambaran ileus paralitik.9

H. Penatalaksanaan
Tujuan utama penatalaksanaan adalah dekompresi bagian yang mengalami
obstruksi untuk mencegah perforasi. Tindakan operasi biasanya selalu diperlukan.
Menghilangkan penyebab obstruksi adalah tujuan kedua. Kadang-kadang suatu
penyumbatan sembuh dengan sendirinya tanpa pengobatan, terutama jika
disebabkan oleh perlengketan. Penderita penyumbatan usus harus di rawat di
rumah sakit.2
1. Persiapan
Pipa lambung harus dipasang untuk mengurangi muntah, mencegah
aspirasi dan mengurangi distensi abdomen (dekompresi). Pasien
dipuasakan, kemudian dilakukan juga resusitasi cairan dan elektrolit untuk
perbaikan keadaan umum. Setelah keadaan optimum tercapai barulah
dilakukan laparatomi. Pada obstruksi parsial atau karsinomatosis abdomen
dengan pemantauan dan konservatif.2

23
2. Operasi
Operasi dapat dilakukan bila sudah tercapai rehidrasi dan organ-organ
vital berfungsi dengan baik. Tetapi yang paling sering dilakukan adalah
pembedahan sesegera mungkin. Tindakan bedah dilakukan bila Strangulasi,
Obstruksi lengkap, Hernia inkarserata, dan Tidak ada perbaikan dengan
pengobatan konservatif (dengan pemasangan selang nasogastrik, infus,
oksigen dan kateter). 2

3. Pasca Bedah
Pengobatan pasca bedah sangat penting terutama dalam hal cairan dan
elektrolit. Kita harus mencegah terjadinya gagal ginjal dan harus
memberikan kalori yang cukup. Perlu diingat bahwa pasca bedah usus
pasien masih dalam keadaan paralitik.2

I. Komplikasi
Pada obstruksi kolon dapat terjadi dilatasi progresif pada sekum yang berakhir
dengan perforasi sekum sehingga terjadi pencemaran rongga perut dengan akibat
peritonitis umum.8

J. Prognosis
Mortalitas ileus obstruktif ini dipengaruhi banyak faktor seperti umur,
etiologi, tempat dan lamanya obstruksi. Jika umur penderita sangat muda ataupun
tua maka toleransinya terhadap penyakit maupun tindakan operatif yang dilakukan
sangat rendah sehingga meningkatkan mortalitas. Pada obstruksi kolon
mortalitasnya lebih tinggi dibandingkan obstruksi usus halus.6

Pleura Hiperlusen
l Avaskuler
White
Line

24
DAFTAR PUSTAKA

1. W.A. Newman Dorland. Kamus Kedokteran Dorland Ed.31. EGC 2012


2. Indrayani M, “Diagnosis dan Tatalaksana Ileus Obstruktif”, Bagian/SMF
Ilmu Bedah Fakultas Kedokteran Universitas Udayana/Rumah Sakit Umum
Pusat Sanglah Denpasar.
3. Tortora, Gerard J, Derrickson B,(2011) Principles of Anatomy and
Physiology ,12th ed “Overview of the Digestive System” pg 924-930.
4. Saladin K.S.2004.Anatomy &Physiology,McGraw-Hill.Third Edition.pg
940
5. Netter, Frank H (2011) Atlas of Human Anatomy, 5th ed “Greater omentum
and Abdominal Viscera”,plate 261, PA: Saunders/Elsevier
6. Bordeianou L, Yeh Daniel D, (2017) “Epidemiology, clinical features and
diagnosis of Mechanical small bowel obstruction in adults” retrieved from
https://www.uptodate.com/contents/epidemiology-clinical-features-and-
diagnosis-of-mechanical-small-bowel-obstruction-in-adults
7. John W.L, Michael T.H,2005, Upper Gastrointestinal Surgery, “the
Anatomy and Physiology of the Small Bowel”, pp39-44, Springer.
8. Paulson K.E, Thompson W.M, 2015, “Review of Small Bowel Obstruction
: The Diagnosis and When to worry” Vol 275(2) retrieved from
http://pubs.rsna.org/doi/full/10.1148/radiol.15131519
9. Ali D., Ari F. Buku Ajar Penyakit Dalam. Jilid 1. Jakarta: BP FKUI; 2014.
10.

25