Anda di halaman 1dari 18

LAPORAN PENDAHULUAN KEBUTUHAN DASAR MANUSIA

DENGAN GANGGUAN TERMOREGULASI DI RUANG DURIAN


RSUD KLUNGKUNG

Disusun Oleh :

NI WAYAN ENY SURYANTHI

19J10189

FAKULTAS KESEHATAN
PROGRAM STUDI PROFESI NERS
INSTITUT TEKNOLOGI DAN KESEHATAN BALI

2019
LAPORAN PENDAHULUAN KEBUTUHAN DASAR MANUSIA
DENGAN GANGGUAN TERMOREGULASI DI RUANG DURIAN
RSUD KLUNGKUNG

A. Definisi Gangguan Termoregulasi


Termoregulasi merupakan salah satu hal penting dalam homeostasis.
Termoregulasi adalah proses yang melibatkan homeostatik yang mempertahankan
suhu tubuh dalam kisaran normal, yang dicapai dengan mempertahankan
keseimbangan antara panas yang dihasilkan dalam tubuh dan panas yang
dikeluarkan (Brooker, 2008).
Manusia biasanya berada pada lingkungan yang suhunya lebih dingin
daripada suhu tubuh mereka. Oleh karena itu, manusia terus menerus
menghasilkan panas secara internal untuk mempertahankan suhu tubuhnya.
Sistem termoregulasi dikendalikan oleh hipotalamus di otak, yang berfungsi
sebagai termostat tubuh. Hipotalamus mampu berespon terhadap perubahan suhu
darah sekecil 0,01oC (Sloane, 2003). Pusat termoregulasi menerima masukan dari
termoreseptor di hipotalamus itu sendiri yang berfungsi menjaga temperatur
ketika darah melewati otak (temperatur inti) dan reseptor di kulit yang menjaga
temperatur eksternal. Keduanya, diperlukan oleh tubuh unyuk melakukan
penyesuaian. Dalam individu yang sehat, suhu inti tubuh diatur oleh mekanisme
kontrol umpan balik yang menjaga hampir konstan sekitar 98,6oF (37oC)
sepanjang hari, minggu, bulan atau tahun (Sherwood, 2001).

B. Etiologi
Etiologi pada gangguan termoregulasi yaitu:
1. agens farmaseutikal (seperti pada keadaan kadar gula darah rendah atau
hipoglikemia),
2. aktivitas yang berlebihan,
3. berat badan ekstrem (berdasarkan indeks massa tubuh (IMT) kurus =
<18,5 dan obesitas = >40),
4. dehidrasi,
5. pakaian yang tidak sesuai untuk suhu lingkungan,
6. peningkatan kebutuhan oksigen,
7. perubahan laju metabolisme,
8. sepsis,
9. suhu lingkungan ekstrem,
10. usia ekstrem (bayi prematur dan lansia),
11. kerusakan hipotalamus,
12. trauma.

C. Anatomi Fisiologi
Sistem yang mengatur suhu tubuh memiliki tiga bagian penting: sensor di
bagian permukaan dan inti tubuh, integrator di hipotalamus, dan sistem efektor
yang dapat menyesuaikan produksi serta pengeluaran panas. (Kozier, 2011)
Hipotalamus, yang terletak antara hemisfer serebral, mengontrol suhu tubuh
sebagaimana thermostat dalam rumah. Hipotalamus merasakan perubahan ringan
pada suhu tubuh. Hipotalamus anterior mengontrol pengeluaran panas, dan
hipotalamus posterior mengontrol produksi panas.
Bila sel saraf di hipotalamus anterior menjadi panas melebihi set
point,implusakan dikirim untuk menurunkan suhu tubuh. Mekanisme pengeluaran
panas termasuk berkeringat, vasodilatasi (pelebaran) pembuluh darah dan
hambatan produksi panas. Darah didistribusi kembali ke pembuluh darah
permukaan untuk meningkatkan pengeluaran panas. Jika hipotalamus posterior
merasakan suhu tubuh lebih rendah dari set point, mekanisme konservasi panas
bekerja. Vasokonstriksi (penyempitan) pembuluh darah mengurangi aliran aliran
darah ke kulit dan ekstremitas. Kompensasi produksi panas distimulasi melalui
kontraksi otot volunter dan getaran (menggigil) pada otot. Bila vasokonstriksi
tidak efektif dalam pencegahan tambahan pengeluaran panas, tubuh mulai
mengigi. Lesi atau trauma pada hipotalamus atau korda spinalis, yang membawa
pesan hipotalamus, dapat menyebabkan perubahan yang serius pada kontrol suhu.
(Potter dan Perry, 2015).
D. Mekanisme Demam
Menurut Potter dan Perry (2015), mekanisme demam adalah sebagai
berikut: Hiperpireksia atau demam terjadi karena mekanisme pengeluaran panas
tidak mampu untuk memepertahankan kecepatan pengeluaran kelebihan produksi
panas, yang menyebabakan peningkatan suhu tubuh abnormal. Demam
sebenarnya merupakan akibat dari perubahan set point hipotalamus. Pirogen
seperti bakteri dan virus menyebabkan peningkatan suhu tubuh. Saat bakteri dan
virus tersebut masuk ke dalam tubuh, pirogen bekerja sebagai antigen,
memepengaruhi sistem imun. Sel darah putih diproduksi lebih banyak lagi untuk
meningkatkan pertahanan tubuh melawan infeksi. Substansi ini juga mencetuskan
hipotalamus untuk mencapai set point.
Untuk mencapai set point baru yang lebih tinggi, tubuh memproduksi dan
menghemat panas. Dibutuhkan beberapa jam untuk mencapai set point baru dari
suhu tubuh. Selama periode ini orang menggigil, gemetar dan merasa kedinginan
meskipun suhu tubuh meningkat.
Fase menggigil berakhir ketika set point baru, suhu yang lebih tinggi
tercapai. Selama fase berikutnya, masa stabil, menggigil hilang dan pasien merasa
hangat dan kering. Jika set point baru telah ‘melampaui batas’, atau pirogen telah
dihilangkan (misalnya estruksi bakteri oleh antibiotik), terjadi fase ketiga episode
febris. Set point hipotalamus turun, menimbulkan respon pengeluaran panas. Kulit
menjadi hangat dan kemerahan karena vasodilatasi. Demam merupakan
mekanisme pertahanan yang penting. Demam juga bertarung dengan infeksi
karena virus menstimulasi interfero, substansi ini yang bersifat melawan virus.
Pola demam berbeda, bergantung pada pirogen. Durasi dan derajat demam
bergantung pada kekuatan pirogen dan kemampuan individu untuk berespon.

E. Fakor Yang Mempengaruhi Suhu Tubuh


Menurut Potter dan Perry (2015), faktor-faktor yang mempengaruhi suhu
tubuh antara lain:
1. Usia
Pada bayi dan balita belum terjadi kematangan mekanisme pengaturan suhu
sehingga dapat terjadi perubahan suhu tubuh yang drastis terhadap lingkungan.
Regulasi suhu tubuh baru mencapai kestabilan saat pubertas. Suhu normal akan
terus menurun saat seseorang semakin tua. Mereka lebih sensitif terhadap suhu
yang ekstrem karena perburukan mekanisme pengaturan, terutama pengaturan
vasomotor (vasokonstriksi dan vasodilatasi) yang buruk, berkurangnya jaringan
subkutan, berkurangnya aktivitas kelenjar keringat, dan metabolisme menurun.
2. Olahraga
Aktivitas otot membutuhkan lebih banyak darah serta peningkatan
pemecahan karbohidrat dan lemak. Berbagai bentuk olahraga meningkatkan
metabolisme dan dapat meningkatkan produksi panas terjadi peningkatan suhu
tubuh.
3. Kadar Hormon
Umumnya wanita mengalami fluktuasi suhu tubuh yang lebih besar. Hal ini
karena ada variasi hormonal saat siklus menstruasi. Kadar progesteron naik dan
turun sesuai siklus menstruasi. Variasi suhu ini dapat membantu mendeteksi masa
subur seorang wanita. Perubahan suhu tubuh juga terjadi pada wanita saat
menopause. Mereka biasanya mengalami periode panas tubuh yang intens dan
perspirasi selama 30 detik sampai 5 menit. Pada periode ini terjadi peningkatan
suhu tubuh sementara sebanyak 40C, yang sering disebut hot flashes. Hal ini
diakibatkan ketidakstabilan pengaturan vasomotor.
4. Irama Sirkadian
Suhu tubuh yang normal berubah 0,5 sampai 10C selama periode 24 jam.
Suhu terendah berada diantara pukul 1 sampai 4 pagi. Pada siang hari, suhu tubuh
meningkat dan mencapai maksimum pada pukul 6 sore, lalu menurun lagi sampai
pagi hari. Pola suhu ini tidak mengalami perubahan pada individu yang bekerja di
malam hari dan tidur di siang hari.
5. Stress
Stress fisik maupun emosional meningkatkan suhu tubuh melalui stimulasi
hormonal dan saraf. Perubahan fisiologis ini meningkatkan metabolisme, yang
akan meningkatkan produksi panas.
6. Lingkungan
Lingkungan mempengaruhi suhu tubuh. Tanpa mekanisme kompensasi yang
tepat, suhu tubuh manusia akan berubah mengikuti suhu lingkungan.
Selain itu sejumlah faktor yang berpengaruh terhadap produksi panas tubuh yang
lain menurut Kozier, et al., (2011) antara lain :
1. Laju Metabolisme Basal (BMR)
Laju metabolisme basal (BMR) merupakan lagi penggunaan energi yang
diperlukan tubuh untuk mempertahankan aktivitas penting seperti bernapas. Laju
metabolisme akan meningkat seiring dengan peningkatan usia. Pada umumnya,
semakin muda usia individu, semakin tinggi BMR-nya.
2. Aktivitas otot
Aktivitas otot , termasuk menggigil akan meningkatkan laju metabolisme.
3. Sekresi tiroksin
Peningkatan sekresi tiroksin akan meningkatkan laju metabolisme sel di
seluruh tubuh. Efek ini biasanya disebut sebagai termogenesis kimiawi, yaitu
stimulasi untuk menghasilkan panas di seluruh tubuh melalui peningkatan
metabolisme seluler.
4. Stimulasi epinefrin, norepinefrin, dan simpatis.
Hormon ini segera bekerja meningkatkan laju metabolisme seluler di banyak
jaringan tubuh. Epinefrin dan norepinefrin langsung bekerja mempengaruhi sel
hati dan sel otot, yang kemudian akan meningkatkan laju metabolisme seluler.
5. Demam
Demam dapat meningkatkan laju metabolisme dan kemudian akan meningkatkan
suhu tubuh.

F. Pengeluaran Panas
Menurut Potter dan Perry (2015), pengeluaran dan produksi panas terjadi
secara konstan, pengeluaran panas secara normal melalui radiasi, konduksi,
konveksi, dan evaporasi.
1. Radiasi
Adalah perpindahan panas dari permukaan suatu objek ke permukaan objek
lain tanpa keduanya bersentuhan. Panas berpindah melalui gelombang
elektromagnetik. Aliran darah dari organ internal inti membawa panas ke kulit
dan ke pembuluh darah permukaan. Jumlah panas yang dibawa ke permukaan
tergantung dari tingkat vasokonstriksi dan vasodilatasi yang diatur oleh
hipotalamus. Panas menyebar dari kulit ke setiap objek yang lebih dingi
disekelilingnya. Penyebaran meningkat bila perbedaan suhu antara objek juga
meningkat.
2. Konduksi
Adalah perpindahan panas dari satu objek ke objek lain dengan kontak
langsung. Ketika kulit hangat menyentuh objek yang lebih dingin, panas hilang.
Ketika suhu dua objek sama, kehilangan panas konduktif terhenti. Panas
berkonduksi melalui benda padat, gas, cair.
3. Konveksi
Adalah perpindahan panas karena gerakan udara. Panas dikonduksi pertama
kali pada molekul udara secara langsung dalam kontak dengan kulit. Arus udara
membawa udara hangat. Pada saat kecepatan arus udara meningkat, kehilangan
panas konvektif meningkat.
4. Evaporasi
Adalah perpindahan energi panas ketika cairan berubah menjadi gas. Selama
evaporasi, kira-kira 0,6 kalori panas hilang untuk setiap gram air yang menguap.
Ketika suhu tubuh meningkat, hipotalamus anterior member signal kelenjar
keringat untuk melepaskan keringat. Selama latihan dan stress emosi atau mental,
berkeringat adalah salah satu cara untuk menghilangkan kelebihan panas yang
dibuat melalui peningkatan laju metabolik. Evaporasi berlebihan dapat
menyebabkan kulit gatal dan bersisik, serta hidung dan faring kering.
5. Diaforesis
Adalah prespirasi visual dahi dan toraks atas. Kelenjar keringat berada
dibawah dermis kulit. Kelenjar mensekresi keringat, larutan berair yang
mengandung natrium dan klorida, yang melewati duktus kecil pada permukaan
kulit. Kelenjar dikontrol oleh sistem saraf simpatis. Bila suhu tubuh meningkat,
kelenjar keringat mengeluarkan keringat, yang menguap dari kulit untuk
meningkatkan kehilangan panas. Diaphoresis kurang efisien bila gerakan udara
minimal atau bila kelembaban udara tinggi.
G. Gangguan Termoregulasi
Menurut Potter dan Perry (2015), gangguan pada termoregulasi antara lain
sebagai berikut:
1. Kelelahan akibat panas
Terjadi bila diaphoresis yang banyak mengakibatkan kehilangan cairan dan
elektrolit secara berlebihan. Disebabkan oleh lingkungan yang terpejan panas.
Tanda dan gejala kurang volume caiaran adalah hal yang umum selama kelelahan
akibat panas. Tindakan pertama yaitu memindahkan klien kelingkungan yang
lebih dingin serta memperbaiki keseimbangan cairan dan elektrolit.
2. Hipertermia
Peningkatan suhu tubuh sehubungan dengan ketidakmampuan tubuh untuk
meningkatkan pengeluaran panas atau menurunkan produksi panas adalah
hipertermi.
3. Heatstroke
Pajanan yang lama terhadap sinar matahari atau lingkungan dengan suhu
tinggi dapat mempengaruhi mekanisme pengeluaran panas. Kondisi ini disebut
heatstroke, kedaruratan yang berbahaya panas dengan angka mortalitas yang
tinggi. Heatstroke dengan suhu lebih besar dari 40,50C mengakibatkan kerusakan
jaringan pada sel dari semua organ tubuh.
4. Hipotermia
Pengeluaran panas akibat paparan terus-menerus trehadap dingin
mempengaruhi kemampuan tubuh untuk memproduksi panas., mengakibatkan
hipotermi. Dalam kasus hipotermi berat, klien menunjukkan tanda klinis yang
mirip dengan orang mati (misal tidak ada respon terhadap stimulus dan nadi serta
pernapasan sangat lemah).
5. Radang beku (frosbite)
Terjadi bila tubuh terpapar pada suhu dibawah normal. Kristal es yang
terbentuk di dalam sel dapat mengakibatkan kerusakan sirkulasi dan jaringan
secara permanen. Intervensi termasuk tindakan memanaskan secara bertahap,
analgesik dan perlindungan area yang terkena.
H. Tanda dan Gejala
Hipertermi:
1. Vasodilatasi (pelebaran pembuluh darah),
2. Takipnea (nafas lebih dari 24 x/menit),
3. Takikardi (nadi lebih dari 100x/menit),
4. kulit kemerahan,
5. kulit terasa hangat,
6. kejang,
7. gelisah,
8. suhu diatas 37,5oC.

Sedangkan hipotermi:
1. bradikardi (nadi kurang dari 60x/menit),
2. sianosis,
3. hipoksia,
4. kulit dingin,
5. CRT lambat,
6. menggigil,
7. pengkatan konsumsi oksigen,
8. penurunan ventilasi,
9. takikardi,
10. vasokontriksi perifer,
11. suhu di bawah 36,5oC
I. Patofisiologi dan Clinical Pathway

1. agens farmaseutikal, 7. perubahan laju metabolisme,


2. aktivitas yang berlebihan, 8. sepsis,
3. berat badan ekstrem, 9. suhu lingkungan ekstrem,
4. dehidrasi, 10. usia ekstrem (bayi prematur dan
5. pakaian yang tidak sesuai untuk suhu lansia),
lingkungan, 11. kerusakan hipotalamus,
6. peningkatan kebutuhan oksigen, 12. trauma.

Termoreseptor sentral (di


Termoreseptor hipotalamus bagian lain SSP dan
perifer (kulit) organ abdomen

Pusat integrasi
termoregulasi
hipotalamus

Adaptasi Neuron Sistem saraf Sistem saraf


perilaku motorik simpatis simpatis

Otot rangka Pembuluh Kelenjar


darah keringat
Kontrol
produksi
panas/penguran Kontrol Kontrol pengurangan
gan panas produksi panas panas

Hipertermi Hipotermi Termoregulasi


tidak efektif
J. Konsep Dasar Asuhan Keperawatan pada Pasien dengan Gangguan
Termoregulasi
1. Pengkajian Keperawatan
a. Identitas
Mendapatkan data identitas pasien meliputi nama, umur, jenis kelamin,
pendidikan, pekerjaan, alamat, nomor registrasi, dan diagnosa medis.
b. Riwayat kesehatan

1) Keluhan utama : Keluhan yang paling dirasakan pasien untuk


mencari bantuan
2) Riwayat kesehatan sekarang: Apa yang dirasakan sekarang
3) Riwayat penyakit dahulu
4) Apakah kemungkinan pasien belum pernah sakit seperti ini atau
sudah pernah
5) Riwayat kesehatan keluarga
Meliputi penyakit yang turun temurun atau penyakit tidak menular
c. Kebutuhan Bio-Psiko-Sosial-Spiritual
Kebutuhan Bio-Psiko-Sosial-Spiritual meliputi bernapas, makan,
minum, eleminasi, gerak dan aktivitas, istirahat tidur, kebersihan diri,
pengaturan suhu, rasa aman dan nyaman, sosialisasi dan komunikasi,
prestasi dan produktivitas, pengetahuan, rekreasi dan ibadah.
d. Pemeriksaan fisik
1) Keadaan Umum
 Keadaan umum meliputi: kesan umum, kesadaran, postur tubuh,
warna kulit, turgor kulit, dan kebersihan diri.
 Gejala Kardinal
Gejala cardinal meliputi: suhu, nadi, tekanan darah, dan respirasi.
 Keadaan Fisik
Keadaan fisik meliputi pemeriksaan dari kepala sampai ekstremitas
bawah.
1) Inspeksi : kaji kulit, warna membran mukosa, penampilan umum,
keadekuatan sirkulasi sitemik, pola pernapasan, gerakan dinding dada.
2) Palpasi : daerah nyeri tekan, meraba benjolan atau aksila dan
jaringan payudara, sirkulasi perifer, adanya nadi perifer, temperatur
kulit, warna, dan pengisian kapiler.
3) Perkusi : mengetahui cairan abnormal, udara di paru-paru, atau kerja
diafragma.
4) Auskultasi : bunyi yang tidak normal, bunyi murmur, serta bunyi
gesekan, atau suara napas tambahan.

2. Diagnosa Keperawatan
a. Hipertermia berhubungan dengan proses penyakit dan respon trauma
yang ditandai dengan suhu tubuh meningkat, pasien menggigil, kulit
teraba panas, nadi meningkat, RR meningkat.
b. Hipoternia berhubungan dengan transfer panas, trauma yang ditandai
dengan suhu tubuh menurun, pasien kepanasan.
c. Termoregulasi tidak efektif berhubungan dengan trauma, usia ekstrem
yang ditandai suhu tubuh naik turun, pasien gelisah.
3. Rencana Keperawatan
Diagnosa Keperawatan TUJUAN DAN KRITERIA HASIL INTERVENSI
1. Hipertermia Setelah dilakukan asuhan keperawatan 3x24 jam Manajemen Hipertemia
Faktor yang berhubungan diharapkan hipertermi pasien dapat berkurang  Identifikasi penyebab hipertemia (mis. Dehidrasi, terpapar
 Dehidrasi dengan kriteria hasil: lingkungan panas, penggunaan inkubator).
 Terpapar lingkungan pnas  Suhu tubuh dalam rentang normal  Monitor suhu tubuh
 Proses penyakit (mis, infeksi,  Nadi dan RR rentang normal  Monitor kadar elektrolit
kanker)  Tidak ada perubahan warna kulit  Monitor haluan urine
 Ketidaksesuaian pakaian  Monitor komplikasi akibat hipertermia
dengan suhu lingkungan  Sediakan lingkungan yang dingin
 Peningkatan laju metabolisme  Longgarkan atau lepaskan pakaian
 Respon trauma  Basahi dan kipasi permukaan tubuh
 Aktivitas berlebihan  Berikan cairan oral
 Penggunakan inkubator  Lakukan pendinginan eksternal (mis. Selimut atau kompres
hangat pada dahi, dada, abdomen dan aksila)
 Berikan oksigen jika perlu
 Anjurkan pasien untuk tirah baring
 Kolaborasi pemberian cairan dan elektrolit intravena, jika
perlu.
2. Hipotermia Termoregulasi Perawatan Hipotermi
Faktor yang berhubungan Dengan kriteria hasil:  Monitor suhu pasien, menggunakan alat pengukur dan rute
 Agens farmaseutikal  Suhu tubuh dalam rentang normal yang paling tepat
 Berat badan ekstrem  Nadi dan RR rentang normal  Bebaskan pasien dari lingkungan yang dingin
 Ekonomi rendah  Tidak ada perubahan warna kulit  Bebaskan pasien dari pakaian yang dingin dan basah
 Kerusakan hipotalamus  Dorong pasien yang mengalami hipotermia uncomplicated
 Konsumsi alkohol untuk mengkonsumsi cairan hangat, tinggi karbohidrat tanpa
 Kurang pengetahuan pemberi alkohol atau kafein
asuhan tentang pencegahan  Berikan pemanas yang pasif (misalnya selimut, pakaian
hipotermia hangat, tutup kepala)
 Kurang suplai lemak subkutan  Berikan pengobatan dengan hati-hati
 Lingkungan bersuhu rendah  Monitor adanya gejala-gejala yang berhubungan dengan
 Malnutrisi hipotermia ringan
 Pemakaian pakaian yang tidak  Monitor adanya syok pemanasan kembali
adekuat  Monitor warna kulit dan suhu kulit
 Penurunan laju metabolisme  Identifikasi faktor medis, lingkungan dan faktor lain yang
 Terapi radiasi mungkin memicu hipotermia
 Tidak beraktivitas
 Transfer panas (mis.,
konduksi, konveksi,
evaporasi, radiasi)
 Trauma
 Usia ekstrem
3. Termoregulasi tidak efektif Termoregulasi Monitor tanda-tanda vital
Faktor yang berhubungan Dengan kriteria hasil:  Monitor tekanan darah, nadi, suhu, dan status pernafasan
 Fluktuasi suhu lingkungan  Suhu tubuh dalam rentang normal dengan tepat
 Penyakit  Nadi dan RR rentang normal  Monitor dan laporkan tanda dan gejala hipotermia dan
 Trauma  Tidak ada perubahan warna kulit hipertermia
 Usia yang ekstrem  Monitor irama dan laju pernafasan
 Monitor suara paru
 Monitor pola pernapasan abnormal
 Monitor warna kulit, suhu, kelembaban
 Monitor sianosis sentral dan perifer
4. Pelaksanaan
Pelaksanaan merupakan tahap keempat dalam proses keperawatan
dengan melaksanakan berbagai strategi keperawatan (tindakan
keperawatan yang telah di rencanakan).

5. Evaluasi
Evaluasi perkembangan pasien dapat dan hasilnya, tujuannya adalah
untuk mengetahui sejauh mana tujuan perawatan dapat dicapai dan
memberikan umpan balik terhadap asuhan keperawatan yang
diberikan.
Daftar Pustaka
Brooker, Chris. 2008. Ensiklopedia Keperawatan. Jakarta: EGC.
Kozier. 2011. Buku Ajar Fundametal Keperawatan: Konsep, Proses & praktik,
edisi 7, volume 1.Jakarta: EGC
Potter&Perry.2015.Buku Ajar Fundamental Keperawatan vol.2 Konsep Proses
dan Praktik Edisi 4.Jakarta:EGC
Sherwood, L. 2001. Fisiologi Manusia: dari Sel ke Sistem. Jakarta: EGC.
Sloane, Ethel. 2003. Anatomi dan Fisiologi untuk Pemula. Jakarta: EGC.
Tim Pokja SDKI DPP PPNI. (2017). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia
Definisi dan Indikator Diagnostik. Jakarta : DPP Persatuan Perawat
Nasional Indonesia
Tim Pokja SIKI DPP PPNI. (2018). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia
Definisi dan Tindakan Keperawatan. Jakarta : DPP Persatuan Perawat
Nasional Indonesia
Tim Pokja SLKI DPP PPNI. (2018). Standar Luaran Keperawatan Indonesia
Definisi dan Kriteria Hasil Keperawatan. Jakarta : DPP Persatuan Perawat
Nasional Indonesia.