Anda di halaman 1dari 9

1.

Toxoplasmosis
Etiologi

Toxoplasma gondii berasal dari bahasa Yunani yaitu tokson yang berarti lengkung dan
gondi yaitu binatang mengerat yang terdapat di Afrika Utara, Ctenodactylus gundi.
Parasit ini pertama kali ditemukan oleh Nicolle dan Manceaux tahun 1908 pada binatang
mengerat tersebut.1

Toxoplasma gondii merupakan protozoa intraselular obligat yang tergolong dalam filum
Apicomplexa dan secara taksonomi mempunyai kekerabatan dengan Plasmodium,
penyebab malaria dan Pneumocystis, penyebab pneumonia.2,3,4,5 Hospes definitif
Toxoplasma gondii adalah kucing dan hospes sementara adalah burung dan mamalia,
termasuk manusia.3

Toksoplasma gondii mempunyai 3 bentuk, (1) Ookista, yang dibentuk dalam mukosa
usus kucing. (2) Takizoit (tropozoit yang membelah dengan cepat), merupakan bentuk
yang ditemukan pada infeksi akut dalam tubuh hospes perantara. (3) Kista (mengandung
bradizoit, tropozoit yang membelah lebih lambat), yang terdapat dalam jaringan hospes
perantara, terutama di otak, otot rangka dan otot jantung. Kista dapat bertahan lama dan
menyebabkan infeksi menahun.1

Siklus hidup Toksoplasma gondii memiliki 2 fase, yaitu seksual dan aseksual. Fase
seksual terjadi dalam tubuh hospes definitif.3 Pada fase ini terjadi pembentukan ookista
dalam mukosa usus halus kucing yang akan dikeluarkan lewat tinja.3,6 Ookista sangat
stabil pada lingkungan yang lembab dan hangat, tetapi tidak mampu bertahan terhadap
iklim dingin dan kering. Ookista juga resisten terhadap banyak desinfektan.3 Ookista
dapat menyebar ke lingkungan dan mengkontaminasi air, tanah, buah-buahan, dan sayur-
sayuran,3 sehingga dapat tertelan oleh binatang lain dan manusia.2 Babi, sapi, atau
kambing yang terinfeksi dapat menyebabkan infeksi sekunder pada manusia yang
memakan daging yang tidak dimasak.2
Fase aseksual terjadi dalam tubuh hospes perantara. Pada fase ini terbentuk takizoit yang
masuk dalam peredaran darah dan menyebar ke seluruh tubuh sehingga menyebabkan
infeksi akut.3 Daya tahan tubuh akan menghambat proses infeksi dan takizoit berubah
menjadi bentuk kista yang mengandung bradizoit, yang dapat bertahan seumur hidup.3,6

Toksoplasmosis umumnya ditularkan melalui 3 cara: menelan bentuk ookista


Toksoplasma dari kotoran kucing yang melekat di tangan, memakan makanan mentah
seperti sayuran atau buah yang tidak dicuci atau daging yang kurang matang, dan dari ibu
kepada janin melalui plasenta.7,8,9 Penularan juga bisa terjadi melalui tranfusi darah dan
transplantasi organ.7,8

Ookista atau kista yang ditelan akan pecah dalam usus dan mengeluarkan tropozoit yang
akan menyerang sel tubuh dan berkembang biak dalamnya. Sel yang telah penuh dengan
tropozoit akan pecah dan menyerang sel lain disekitarnya.6 Parasit dapat menyerang
semua sel tubuh kecuali sel darah merah6,10 serta mampu melewati dinding usus, blood
brain barrier dan plasenta.3 Parasit tidak menghasilkan toxin, tetapi pertumbuhan kista
intraselular akan menyebabkan sel tubuh menjadi nekrosis.8

Empat puluh persen sampai enam puluh persen lebih wanita yang terinfeksi selama
kehamilan akan menularkan parasit kepada janin.11,12,13 Insiden penularan infeksi
berbeda-beda selama masa kehamilan. Angka penularan terbesar terdapat pada trimester
ketiga kehamilan sebesar 50-65% dan angka penularan terkecil terjadi pada trimester
pertama kehamilan sebesar 10%-20%. Wanita yang terinfeksi pada trimester kedua akan
menyebabkan infeksi pada 20-25% janin.7,11 Infeksi yang terjadi sebelum kehamilan
memiliki kemungkinan penularan pada janin sebesar 1%.3

Tata Laksana
Pada Ibu Hamil
Pengobatan pada ibu hamil Pengobatan dengan spiramisin Spiramisin merupakan
antibiotik makrolid paling aktif terhadap toksoplasmosis di bandingkan dengan
antibiotika lainnya, dengan mekanisme kerja yang serupa dengan klindamisin. Spiramisin
menghambat pergerakan mRNA pada bakteri/parasit dengan cara menghambat 50s
ribosom, sehingga sintesis protein bakteri/parasit akan terhambat dan kemudian mati.14
Penggunaan antibiotik spiramisin selama kehamilan dengan infeksi T. gondii akut
dilaporkan menurunkan frekuensi transmisi vertikal. Proteksi ini terlihat lebih nyata pada
wanita yang terinfeksi selama trimester pertama. Spiramisin tidak dapat melewati
plasenta, dan sebaiknya tidak digunakan sebagai monoterapi pada kasus yang diduga
telah terjadi infeksi pada janin. Sampai saat ini, tidak terdapat fakta bahwa obat ini
bersifat teratogenik. Pada wanita yang diduga mengalami infeksi toksoplasma akut pada
trimester pertama atau awal trimester kedua, spiramisin diberikan hingga persalinan
meskipun hasil pemeriksaan PCR negatif. Hal ini berdasarkan teori yang menyatakan
bahwa kemungkinan infeksi janin dapat terjadi pada saat kehamilan dari plasenta yang
sebelumnya telah terinfeksi di awal kehamilan.15,16 Spiramisin diberikan hingga
persalinan, juga pada pasien dengan hasil pemeriksaan cairan amnion negatif, karena
secara teoritis kemungkinan infeksi janin dapat terjadi pada kehamilan lanjut dari
plasenta yang terinfeksi pada awal kehamilan. Untuk ibu hamil yang memiliki
kemungkinan infeksi tinggi atau infeksi janin telah terjadi, pengobatan dengan spiramisin
harus ditambahkan pirimetamin, sulfadiazin, dan asam folat setelah usia kehamilan 18
minggu. Pada beberapa pusat pengobatan, penggantian obat dilakukan lebih awal (usia
kehamilan 12-14 minggu). Spiramisin sebaiknya tidak diberikan pada pasien yang
hipersensitif terhadap antibiotik makrolid. Sejumlah kecil ibu hamil menunjukkan gejala
gangguan saluran cerna atau reaksi alergi. Dosis spiramisin yang diberikan ialah 3
gram/hari.14,15

Pengobatan pada bayi


Pengobatan pada bayi Kombinasi sulfadiazin, pirimetamin, dan asam folat biasanya
diberikan untuk bayi yang lahir dari ibu dengan hasil positif pada cairan amnionnya atau
yang sangat dicurigai menderita T. gondii. Dosis pirimetamin 2 mg/kgBB/hari (maksimal
50 mg), dilanjutkan 1 mg/kgBB/hari untuk 2-6 bulan, dan setelah itu 1 mg/kgBB/hari 3
kali perminggu. Dosis sulfadiazin 50 mg/kgBB setiap 12 jam, dan dosis asam folat 5 – 20
mg 3 kali perminggu.14
3. Mikrosefali

B. EPIDEMIOLOGI
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Kaindl et al. (2010), insidensi mikrosefali
saat lahir adalah 1,3 dan 150 per 100.000 kelahiran hidup. Tingkat kejadian penyakit
tergantung pada jumlah populasi dan ambang batas yang menjadi definisi dari mikrosefali.20
Pada penelitian yang dilakukan oleh Ashwal et al. (2009) didapatkan rata-rata
prevalensi mikrosefali diantara anak-anak yang sedang dievaluasi di klinik perkembangan
saraf adalah sebesar 25%. Meskipun sebagian besar anak dengan mikrosefali berisiko
memiliki IQ yang rendah, kehadiran mikrosefali sendiri tidak berarti indikasi cacat
intelektual.21
Insidensi dan prevalensi mikrosefali di dunia sangatlah jarang, di Inggris angka kejadian
mikrosefali tahun 2002 sebanyak 1,02 per 10000 kelahiran hidup, penelitian tersebut juga
menyebutkan bahwa sebanyak 2 neonatus yang dapat lahir hidup dengan menderita
mikrosefali, sebanyak satu kasus dengan diagnosis prenatal mikrosefali yang mengalami
abortus dan tidak ada yang lahir mati dengan menderita mikrosefali. Angka kejadian
mikrosefali di Amerika Serikat pada tahun 2003 sebanyak 1 per 666.666 (0.00%) kelahiran
hidup atau sekitar 407 orang menderita mikrosefali per tahunnya dan sebanyak 33 orang per
bulan menderita mikrosefali.18

C. PATOFISIOLOGI

Mikrosefali primer jinak berkaitan dengan faktor genetik. Mikrosefali genetik ini
termasuk mikrosefali familial dan mikrosefali akibat aberasi khromosom. Mikrosefali akibat
penutupan sutura prematur (kraniosinostosis). Jenis mikrosefali ini berakibat bentuk kepala
abnormal, namun pada kebanyakan kasus tak ada anomali serebral yang jelas.
Bakal serebrum mulai terlihat sebagai struktur yang dapat dikenali pada embrio
kehamilan 28 hari, saat ujung anterior tuba neuralis mengalami suatu ekspansi globular,
prosensefalon. Dalam beberapa hari berikutnya, prosensefalon membelah menjadi 2 perluasan
lateral yang merupakan asal hemisferium serebri dan ventrikel lateralis. Dinding ventrikel
pada stadium ini dibentuk oleh lapisan benih neuroblas yang aktif membelah. Neuroblas yang
baru terbentuk bermigrasi dari dinding ventrikel ke permukaan hemisferium primitif,
berakumulasi dan membentuk korteks serebri. Pendatang pertama membentuk lapisan bawah
korteks, dan pendatang selanjutnya melewati lapisan ini, membentuk lapisan-lapisan atas.
Diferensiasi neuroblas membentuk neuron ekstensi sel yang bertambah panjang dan akhirnya
membentuk akson dengan lumen ventrikel melalui ekstensi sel yang bertambah panjang dan
akhirnya membentuk akson substansi alba subkortikal. Akson yang menyeberang dari 1
hemisferium ke hemisferium lainnya untuk membentuk korpus kalosum, pertama kali
aterlihat pada kehamilan bulan ketiga, korpus kalosum terbentu lengkap pada bulan ke-5.
Pada saat inilah permukaan akorteks mulai memperlihatkan identasi yang terbentuk progresif
selama trimester terakhir, sehingga pada aterm, sulkus dan girus utama telah berbatas tegas.19
Otak bayi aterm memiliki seluruh komplemen neuron dewasa, tetapi beratnya hanya
sekitar sepertiga otak dewasa. Peningkatan berat postnatal adalah akibat mielinisasi substansia
alba subkortikal, perkembangan penuh prosesus saraf, baik dendrit maupun akson serta
peningkatan selb glia.19
Secara umum pengaruh abnormal sebelum kehamilan bulan ke-6 cenderung
mempengaruhi pertumbuhan struktur makroskopik otak dan mengurangi jumlah neuron total.
Pengaruh perubahan patologik pada periode perinatal cenderung lebih ringan, seperti
keterlambatan mielinisasi dan berkurangnya pembentukan dendrit. Hilangnya substansi otak
akibat lesi destruktif dapat terjadi pada akhir masa janin dan awal masa bayi, baik secara
terpisah ataupun bersama cacat perkembangan lain. 19
Primary Autosomal Recessive Microcephaly (MCPH) atau Mikrosefali Autosomal
Resesif Primer merupakan salah satu gangguan kongenital, ditandai dengan retardasi mental
dan ukuran otak yang kecil tanpa tambahan malformasi otak yang parah. Beberapa gen yang
mendasari terjadinya mikrosefali primer telah teridentifikasi. Meskipun protein yang
dikodekan memiliki fungsi yang beragam, penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa
terdapat gangguan proses pembelahan mitosis dari struktur kortikal selama masa
perkembangan embrionik. Selama tahap awal perkembangan kortikal, sel progenitor yang
memiliki kemampuan pembelahan secara simetris sangat penting untuk menghasilkan sel
dengan jumlah yang cukup dan secara bersama-sama berfungsi sebagai inti proses
neurogenesis berkelanjutan. Proses proliferasi dan diferensiasi ini terutama terjadi pada
ventrikel dan zona subventrikular yang melapisi rongga otak. Sel progenitor bagian asimetris
saraf menghasilkan sel induk dan anak dengan hasil yang berbeda. Gangguan dari divisi
simetris dapat menyebabkan menipisnya inti progenitor sel saraf, penurunan selanjutnya di
tingkat proliferasi dan tingkat neuron dapat mengurangi produksi sel. Hasil akhirnya adalah
otak yang lebih kecil dari biasanya dan mikrosefalus. Malformasi otak yang parah biasanya
tidak terdapat pada MCPH.18
Mikrosefali sekunder terhadap atrofi serebral. Mikrosefali sekunder dapat disebabkan
oleh infeksi intrauterin seperti penyakit inklusi sitomegalik, rubella, sifilis, toksoplasmosis,
dan herpes simpleks; radiasi, hipotensi sistemik maternal, insufisiensi plasental; anoksia;
penyakit sistemik maternal seperti diabetes mellitus, penyakit renal kronis, fenilketonuria; dan
kelainan perinatal serta pascanatal seperti asfiksia, infeksi, trauma, kelainan jantung kronik,
serta kelainan paru-paru dan ginjal. Jenis mikrosefali ini berhubungan dengan retardasi mental
dalam berbagai tingkat.18
Perkembangan susunan saraf dimulai dengan terbentuknya neural tube yaitu induksi
daerah dorsal yang terjadi pada minggu ke 3 masa gestasi. Setiap gangguan pada masa ini
mengakibatkan kelainan congenital seperti kranioskisis,totalis,dsb. Fase selanjutnya terjadi
proliferasi neuron yang terjadi pada masa gestasi. Gangguan pada masa ini dapat
menyebabkan mikrosefali.17
Sifilis menginfeksi dengan cara melalui kontak langsung dengan lesi. Disebabkan
bakteri Treponema malibu melalui selaput lendir yang utuh/kulit dengan lesi kemudian masuk
ke peredaran darah dan semua organ dalam tubuh (salah satunya otak) ke janin. Rubella
menginfeksi embrio pd 3 bulan pertama kehamilan. Menyebabkan malformasi mata,telinga
bagian dalam,jantung dan gigi.18
Herpes menginfeksi bayi lahir lewat vagina (ibu terkena herpes) sehingga bayi jadi
terinfeksi. Sitomegalovirus merupakan organisme yang ada di mana-mana serta pada
hakekatnya menginfeksi sebagian besar manusia, bukti adanya infeksi janin ditemukan di
antara 0,5 –2 % dari semua neonatus. Sesudah terjadinya infeksi primer yang biasanya
asimtomatik, 10 % infeksi pada janin menimbulkan simtomatik saat kelahiran dan 5-25 %
meninggalkan sekuele. Pada beberapa negara infeksi CMV 1 % didapatkan infeksi in utro dan
10-15 % pada masa prenatal. Virus tersebut menjadi laten dan terdapat reaktivasi periodik
dengan pelepasan virus meskipun ada antibodi di dalam serum. Antibodi humoral diproduksi,
namun imunitas yang diperantarai oleh sel tampaknya merupakan mekanisme primer untuk
terjadinya kesembuhan, dan keadaan kekebalan yang terganggu baik terjadi secara alami
maupun akibat pemakaian obat-obatan akan meningkatkan kecenderungan timbulnya infeksi
sitomegalovirus yang serius. Diperkirakan bahwa berkurangnya surveilans imun yang
diperantarai oleh sel, menyebabkan janin-bayi tersebut berada dalam risiko yang tinggi untuk
terjadinya sekuele pada infeksi ini. Sedangkan, Rubeinstein-Taybi Syndrome terjadi karen
ketiadaan gen yang menyebabkan ketidaknormalan pada protein pengikat CREB.18

9. Hubungan Toxoplamosis dengan pertumbuhan dan perkembangan anak

Infeksi toxoplasma yang merupakan bagian dari TORCH (Toxoplasma, Other disease,
Rubella, Cytomegalovirus, Herpes Simplex Virus )ini dikenal karena menyebabkan kelainan
dan berbagai keluhan yang bisa menyerang siapa saja, mulai anak-anak sampai orang dewasa,
baik pria maupun wanita. Bagi ibu yang terinfeksi saat hamil dapat menyebabkan kelainan
pertumbuhan pada bayinya, yaitu cacat fisik dan mental yang beraneka ragam. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa dari 100 sampel ibu hamil yang pernah mengalami infeksi
salah satu unsur TORCH didapatkan 12% ibu pernah melahirkan anak dengan kelainan
kongenital, 70% pernah mengalami abortus dan 18% pernah mengalami Intra Uterine Fetal
Death (IUFD). Infeksi TORCH pada ibu hamil dapat menyebabkan keguguran atau kelainan
kongenital (cacat fisik maupun mental). Kelainan kongenital ini dapat menyerang semua
jaringan organ tubuh, termasuk sistem saraf pusat dan perifer yang mengakibatkan gangguan
penglihatan, pendengaran, sistem kardiovaskuler serta metabolisme tubuh. Infeksi TORCH
dapat menyebabkan 5-10% keguguran dan kelainan kongenital pada janin meliputi gangguan
pendengaran, retardasi mental serta kebutaan.’
Daftar Pustaka

1. L, Gandahusada S, Ismail S, Hendarto SK, Soetomenggolo T. Toksoplasmosis


Kongenital. Majalah Kedokteran Indonesia. 1989;39:464-72.
2. American Academy of Ophthalmology Staff. Pediatric Ophthalmology and Strabismus.
Basic and Clinical Science Course. San Francisco: American Academy of
Ophthalmology; 2005. p. 203-5.
3. Rorman E, Zamir CS, Rilkis I, Ben-David H. Congenital Toxoplasmosis-prenatal aspects
of Toxoplasma gondii infection. Reproductive Toxicology. 2006;21:458-72.
4. Kahi S, J.N.Cozon G, Greenland T, Al M. Circulating Toxoplasma gondii-Specific
AntibodySecreting Cells in Patients with Congenital Toxoplasmosis. Clinical
Immunology And Immunopathology. 1998;89:23-7.
5. Boyer KM. Congenital Toxoplasmosis: Current Status of Diagnosis, Treatment, and
Prevention. Seminars in Pediatrics Infectious Diseases. 2000;11:165-71.
6. S. L, Gandahusada S, Ismail S, Hendarto SK, Soetomenggolo T. Toksoplasmosis
Kongenital. Majalah Kedokteran Indonesia. 1989;39:464-72.
7. Pataki M, Meszner Z, Todorova R. Congenital Toxoplasmosis. International Pediatrics.
2000;15:33-6.
8. Pinard JA, Leslie NS, Irvine PJ. Maternal Serologic Screening for Toxoplasmosis.
Journal of Midwifery & Women's Health. 2003;48:308-16.
9. Gagne SS. Toxoplasmosis. Prim Care Update Ob/Gyns. 2001;8:122-6.
10. Jabs DA, Nguyen QD. Ocular Toxoplasmosis. In: Ryan SJ, editor. Retina. 3 ed. St.
Louis: Mosby, Inc.; 2001. p. 1531-44.
11. Tabbara KF. Toxoplasmosis. In: Tasman W, editor. Clinical Ophthalmology.
Hagerstown: Lippincott Williams & Wilkins; 2003. p. 1-43.
12. Wright KW, Spiegel PH. Pediatric Ophthalmology and Strabismus. St. Louis: Mosby;
1999; 100-1.
13. Staff AAoO. Intraocular Inflammation and Uveitis. Basic and Clinical Science Course.
San Francisco: American Academy of Ophthalmology; 2005. p. 164-9.
14. 12. Chandra G. Toxoplasma gondii: Aspek biologi, epidemiologi, diagnosis, dan
penatalaksanaannya. Jurnal Kedokteran Medika. 2001;5(XXVII):297-304.
15. Liesenfeld O, Press C, Montoya JG. False positif in immunoglobulin M (IgM)
toxoplasma antibody tests and importance of confirmatory testing: the platelia toxo Ig M
test. J clin micobiol. 1997; 35:174-8.
16. Lefevre-Pettazzoni M, Bissery A, Wallon M, Cozon G, Peyron F, Rabilloud M. Impact of
spiramycin treatment and gestational age on maturation of toxoplasma gondii
imunoglobulin G avidity in pregnant women. Clin vaccine immunol. 2007;14(3):239-43.
17. Satyanagara; Cacat Otak Bawaan Dalam Ilmu Bedah Syaraf, ed III, Jakarta, 1998,
Gramedia Pustaka Utama, 253-270.
18. Wollnik, Bernd. 2010. A Common Mechanism for Microcephaly. Nature Genetics;
42(11): 923-4.
19. Haslam, R.A.H; Congenital Anomalies of Central Nervous System dalam Nelson, W.E;
Behrman, R.E; Kligman, R.M; Arvin, A.M (eds) : Nelson Textbook of Pediatric 15th
edition, Philadelphia, 1996, WB Saunders Company, 1680-1683.
20. Kaindl, AM, Passemard S, Kumar P, Kraemer N, Issa L, Zwirner A, et al. 2010. Many
Roads Lead to Primary Autosomal Recessive Microcephaly. Prog Neurobiol. 90(3): 363-
83.
21. Ashwal S, Michelson D, Plawner L, Dobyns WB. 2009. Practice Parameter: Evaluation
of the Child with Microcephaly (an evidence-based review): Report of the Quality
Standards Subcommittee of the American Academy of Neurology and the Practicw
Committee of the Chid Neurology Society. Neurology; 73: 887-97.