Anda di halaman 1dari 2

Berjuang dari kaliurang

Kawasan cagar budaya peninggalan Belanda masih terjaga hingga saat ini seperti contohnya Gereja
Santo Antonius atau yang dikenal dengan Gereja Kota Baru.Seorang perempuan bernama Nyonya Iman
mengatakan pada sebelah utara gereja tersebut tempat tinggal Douwes Dekker. Padepokan Taman
siswa adalah tempat tujuan kedua Ernest Douwes Dekker. Pada bulan Desember 1946 Douwes Dekker
kembali ke Tanah air setelah diasingkan selama 4 tahun di Suriname. Di Yogyakarta, Douwes Dekker
tinggal sementara di Grand Hotel Yogya (sebelah Hotel Inna Garuda). Douwes Dekker diangkat menjadi
menteri Negara, Pejabat Sekretaris Politik dan Dewan Pertimbangan Agung oleh Ir. Soekarno.

Pada 21 juli 1947 terjadi Agresi Militer Pertama menggempur Jawa dan Sumatera. Pada 1 Desember
1947, Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bansa bersidang dan memerintahkan genjatan senjata,
wakil dari negara Indonesia adalah Sultan Sjahrir dan Haji Agus Salim. Saat itu PBB meminta Indonesia
untuk berunding sehingga terbentuklah KTN(Komisi Tiga Negara) yang diwakili oleh Frank Porter
graham(Amerika Serikat), Richard C. Kirby (Australia) dan Paul Van Zeeland (Belgia). Komisi
memprakarsai perundingan diatas kapal Renville milik Angkatan Laut Amerika Serikat.

Douwes Dekker dan Perdana Menteri Amir Sjarifoeddin Harahap adalah wakil delegasi Indonesia.
Sedangkan colonel KNIL Abdul Kadir Widjojoatmodjo adalah wakil delegasi kerajaan Belanda. Pada 17
Januari 1948 perjanjian Renville ditekan, namun genjatan senjata tidak terpenuhi. Akhirnya pada 18
Desember 1948 terjadi Agresi Militer kedua, dimana Ir. Soekarno, Hatta dan Agus Salim ditangkap. Pada
saat itu Douwes Dekker bersama Istri dan Putranya tinggal di Jalan Raya Kaliurang 45. Ia iut merasakan
guncangan saat Lapangan Maguwo di Bom. Keesokan Harinya Pasukan belanda sudah tiba di Kaliurang.
Tepat pada 21 Desember 1948 Douwes Dekker ditangkap militer Belanda sehingga harus meninggalkan
rumah di Jalan Kaliurang 45.

Masuk Islam dan Masyumi

Pada Desember 1949 dimana tepat hari terakhir muktamar Partai Masyumi di Yogyakarta berlangsung
panas. Diawali dengan terjadiny Silang pendapat puncaknya saat muncul wacana untuk mendesak
Nahdlatur Ulama keluar dari Partai. Salah satu undangan yang hadir adalah Douwes Dekker, namun
Yusril tidak mengetahui keberadaan dokumen daftar hadir saat itu. Meskipun Douwes Dekker hadir,
namun ia tidak angkat bicara saat muktamar. Douwes Dekker sempat menjadi anggota parlemen dari
fraksi masyumi di parlemen Sementara setelah kemerdekaan. Dalam bukunya The Lion and The Gadfly:
Dutch Colonialism and the Spirit of E.F.E. Douwes Dekker, Paul W. van der Veur menulis Douwes Dekker
bergabung dengan masyumi 2 tahun sebelum Muktamar. Pada 8 Maret 1954 ditemukan surat resmi
partai atas nama Douwes Dekker yang ditanda tangani pimpinan masyumi.

Dewan Dakwah Islam Indonesia( DDII) sebagai transfomasi gerakan social keagamaan masyumi tidak
memiliki dokumen itu. Namun Ramlan Marjoned mengatakan dokumen Douwes Dekker sebagai
anggota Masyumi itu pasti ada. Berbeda dengan penelitian Yusril nama Douwes Dekker tidak pernah
tercatat di Dewan Pimpinan Pusat Masyumi. Sejarawan Ridwan Saidi mengatakan masuknya Douwes
Dekker ke Masyumi tidak aneh karena banyaknya Indo Belanda yang masuk partai politik saat itu.
Kedekatan Douwes Dekker dan Natsir saat di Bandung Debating Club diyakini oleh Malam Sambat
Kaban. Ketertarikan Douwes Dekker dengan masyumi karena kebesaran partai itu. Sejarawan Anhar
Gonggong sependapat dengan Kaban, menurutnya Douwes Dekker sudah lama dekat dengan Natsir dan
Sjahrir sehingga memungkinkan Douwes Dekker masuk masyumi karena Natsir.

Selain mempunyai ide-ide besar, Douwes Dekker merasa orang masyumi berbudaya. Ridwan
menggambarkan dengan partai masyumi sering menggunakan Bahasa belanda ketika berbicara dengan
Douwes Dekker. seperti membicarakan musik sekelas Ludwig van Beethoven dan novel sekelass Boris
Lwonidovich Pasternak, novelis kenamaan Rusia kala itu. Natsir pandai bermain biola klasik sedangkan
Douwes Dekker mampu memainkan gitar. Ternyata tradisi ini membuat NU gerah. Douwes Dekker juga
aktif menulis di majalah Hikmah, majalah partai Masyumi saat itu. Kemenangan masyumi di Jakarta
dalam pemilu 1955 dinilai karena Douwes Dekker yakni lantaran sekolah yang didirikannya yaitu
Ksatrian Instituut cukup popular saat itu.

Sebelum masuk masyumi, pada 1947 Douwes Dekker sempat mengganti namanyamenjadi Danudirja
Setiabudi saat dirinya masuk islam. Nama itu diberi Ir. Soekarno serupa dengan nama belandanya yang
memakai dobel D. Ikrar kalimat syahadat dilakukan sederhana di Yogyakarta dan disaksikan oleh Ir.
Soekarno dan kerabat terdekat. Veur menerima informasi itu pada 14 Juni 1957 di Honolulu Hawaii
serta ia ikut hadir dalam acara tersebut. Setelah menjadi mualaf Douwes Dekker berpakaian seperti
muslim pribumi dengan kopiah hitam.