Anda di halaman 1dari 10

LAPORAN PLENO DIARE

BLOK MEKANISME DASAR PENYAKIT

NAMA : Sitti Nur Fadillah


STAMBUK : 18777048
KELOMPOK : 5 (Lima)
DOSEN : dr. Mohammad Fandy Rahmatu

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS ALKHAIRAAT PALU
2018
BAB I
PENDAHULUAN
Gastroenteritis adalah suatu keadaan dimana feses hasil dari buang air besar
(defekasi) yang berkonsistensi cair ataupun setengah cair, dan kandungan air lebih banyak
dari feses pada umumnya. Selain dari konsistensinya, bisa disertai dengan mual muntah dan
frekuensi dari buang air besar lebih dari 3 kali dalam sehari. Gastroentritis akut adalah diare
yang berlangsung dalam waktu kurang dari 14 hari yang mana ditandai dengan peningkatan
volume, frekuensi, dan kandungan air pada feses yang paling sering menjadi penyebabnya
adalah infeksi yaitu berupa virus, bakteri dan parasit.

Skenario
Seorang perempuan berusia 31 tahun, dibawa ke Puskesmas Mabelopura, jam 5 subuh
karena muntah-muntah dan berak encer lebih dari 10 kali. Mulai sakit perut kira-kira jam 2
siang kemarin, dan berak encer mulai pada jam 9 malam tadi.
Pada pemeriksaan fisik didapatkan tekanan darah 90/50 mmHg, nadi : 120 kali/menit,
pernapasan : 20 kali permenit dan Suhu : 37oC. Turgor kulit kurang.

Kata Sulit
1. Turgor Kulit : adalah tekanan yang mendorong membran sel terhadap dinding sel yang
menyebakan turgiditas sel dan disebakan oleh timbulnya osmossi air yang dapat
digunakan sebagai pengugkur derajat dehidrasi

Kata Kunci
1. Perempuan usia 31 tahun
2. Muntah-muntah dan berak encer lebih dari 10 kali
3. Sakit perut mulai jam 2 siang kemarin & berak encer mulai jam 9 malam tadi
4. Tekanan darah 90/50 mmHg
5. Nadi 120 kali permenit
6. Pernapasan 20 kali permenit
7. Suhu 37oC
8. Turgor kulit kurang

Pertanyaan
1. Jelaskan Anatomi, Histologi, Biokimia, Fisiologi Sistem Pencernaan!
2. Apa saja penyebab Diare ?
3. Bagaimana patomekanisme Setiap Gejala ?
4. Bagaimana pencegahan Diare ?
BAB II
PEMBAHASAN
A. Anatomi dan Fisiologi
1. Cavum Oris
Makanan masuk ke sistem pencernaan melalui cavum oris tempat makanan di kunyah
dan di campur dengan liur untuk mempermudah penelanan. Enzim yang terdapat pada
cavum oris adalah amilase, mucus, dan lisosim.
2. Faring dan Oesophagus
Setelah proses mengunyah, ialah mendorong bolus makanan ke bagian belakang
tenggorokan, yaitu memicu reflex menelan. Pusat menelan di medulla mengordinasikan
sekelompok aktivitas kompleks yang menyebabkan penutupan saluran napas dan
terdorongnya makanan melalui faring dan oesophagus ke dalam lambung.
3. Lambung (Gaster)
Suatu struktur terbentuk kantung yang terletak antara oesophagus dan usus halus,
menyimpan makanan untuk beberapa waktu sampai usus halus siap memprosesnya
lebih lanjut untuk penyerapan final. Pengisian lambung di permudah olek laksasi
reseptif otot lambung yang di perantarai oleh saraf vagus. Penyimpanan lambung
berlangsung di korpus lambung, tempat kontraksi peristaltic dinding otot yang tipis
terlalu lemah mencapur isi lambung. Pencampuran lambung di antrum yang
berdinding tebal terjadi karna kontraksi peristaltic yang kuat. Pengosongan lambung
di pengaruhi factor lambung dan duodenum, yang menunda pengosongan lambung
dengan menghambat aktivitas peristaltic lambung oleh reflex enterogastrik dan
enterogastrone (sekretin dan kolestokinin) yang di sekresikn oleh mukosa duodenum.
4. Usus Halus
Usus halus adalah tempat utama untuk pencernaan dan penyerapan yang terdiri dari
duodenum, jejenum, ileum. Segmentasi merupakan motilitas utama usus halus selama
pencernaan makanan, secara merata mencampur makanan dengan getah pancreas,
empedu, dan usus halus untuk mempermudah pencernaan. Enxim-enxim yang di
sintesis bekerja di dalam membrane brush border sel epitel, enzim-enzim brush border
usus halus menuntaskan pencernaan karbohidrat dan protein. Lapisan dalam usus
halus beradaptasi baik untuk melaksanakan fungsi pencernaan dan penyerapan.
Lipatan-lipatannya mengandung banyak tonjolan berbentuk jari, vilus yang juga
memiliki tonjolan yang lebih halus. Mikrovilus bersama-sama, modifikasi permukaan
ini sangat meningkatkan luas permukaan yang tersedia untuk melakukan menyerapan
aktif dan pasif.
5. Usus Besar (Colon)
Colon terutama berfungsi untuk memekatkan dan menyimpan residu makanan yang
tidak tercerna danbilirubin sampai dapat di eliminasi dari tubuh sebagai feses.
Kontraksi haustra secara perlahan mengaduk isi colon maju-mundur untuk
mencampur dan mepermudah penyerapan sebagian besar cairan dan elektrolit yang
tersisa. Sekresi mucus basa colon terutama berfungsi sebagai pelindung.
B. Histologi
1. Cavum Oris
Rongga mulut (pipi) dibatasi oleh epitel gepeng berlapis tanpa tanduk. Atap mulut
tersusun atas palatum keras (durum) dan lunak (molle), keduanya diliputi oleh epitel
gepeng berlapis. Uvula palatina merupakan tonjolan konis yang menuju ke bawah dari
batas tengah palatum lunak.
2. Pharynx
Pharynx merupakan peralihan ruang antara rongga mulut dan sistem pernapasan dan
pencernaan. Ia membentuk hubungan antara daerah hidung dan larynx. Pharynx
dibatasi oleh epitel berlapis gepeng jenis mukosa, kecuali pada daerah-daerah bagian
pernapasan yang tidak mengalami abrasi. Pada daerah-daerah yang terakhir ini,
epitelnya toraks bertingkat bersilia dan bersel goblet. Pharynx mempunyai tonsila yang
merupakan sistem pertahanan tubuh. Mukosa pharynx Handout Mikroskopi Anatomi
Sistem Digesti 3 juga mempunyai banyak kelenjar-kelenjar mukosa kecil dalam lapisan
jaringan penyambung padatnya.
3. Oesophagus
Bagian saluran pencernaan ini merupakan tabung otot yang berfungsi menyalurkan
makanan dari mulut ke lambung. Oesofagus diselaputi oleh epitel berlapis gepeng tanpa
tanduk. Pada lapisan submukosa terdapat kelompokan kelenjar-kelenjar oesofagea
yang mensekresikan mukus. Pada bagian ujung distal oesofagus, lapisan otot hanya
terdiri sel-sel otot polos, pada bagian tengah, campuran sel-sel otot lurik dan polos, dan
pada ujung proksimal, hanya sel-sel otot lurik.
4. Lambung
Lambung merupakan segmen saluran pencernaan yang melebar, yang fungsi utamanya
adalah menampung makanan yang telah dimakan, mengubahnya menjadi bubur yang
liat yang dinamakan kimus (chyme). Permukaan lambung ditandai oleh adanya
peninggian atau lipatan yang dinamakan rugae. Invaginasi epitel pembatas lipatan-
lipatan tersebut menembus lamina propria, membentuk alur mikroskopik yang
dinamakan gastric pits atau foveolae gastricae. Sejumlah kelenjar-kelenjar kecil, yang
terletak di dalam lamina propria, bermuara ke dalam dasar gastric pits ini. Epitel
pembatas ketiga bagian ini terdiri dari sel-sel toraks yang mensekresi mukus. Lambung
secara struktur histologis dapat dibedakan menjadi: kardia, korpus, fundus, dan pylorus.
5. Usus Halus
Membran mukosa usus halus menunjukkan sederetan lipatan permanen yang disebut
plika sirkularis atau valvula Kerkringi. Pada membran mukosa terdapat lubang kecil
yang merupakan muara kelenjar tubulosa simpleks yang dinamakan kelenjar intestinal
(kriptus atau kelenjar Lieberkuhn). Kelenjarkelenjar intestinal mempunyai epitel
pembatas usus halus dan sel-sel goblet (bagian atas). Mukosa usus halus dibatasi oleh
beberapa jenis sel, yang paling banyak adalah sel epitel toraks (absorptif), sel paneth,
dan sel-sel yang mengsekresi polipeptida endokrin. 1. Sel toraks adalah sel-sel absorptif
yang ditandai oleh adanya permukaan apikal yang mengalami spesialisasi yang
dinamakan ”striated border” yang tersusun atas mikrovili. Mikrovili mempunyai fungsi
fisiologis yang penting karena sangat menambah permukaan kontak usus halus dengan
makanan. Striated border merupakan tempat aktivitas enzim disakaridase usus halus.
Enzim ini terikat pada mikrovili, menghidrolisis disakarida menjadi monosakarida,
sehingga mudah diabsorbsi. Di tempat yang sama diduga terdapat enzim dipeptidase
yang menghidrolisis dipeptida menjadi unsur-unsur asam aminonya. Fungsi sel toraks
usus halus lebih penting adalah mengabsorbsi zatzat sari-sari yang dihasilkan dari
proses pencernaan. 2. Sel-sel goblet terletak terselip diantara sel-sel absorpsi,
jumlahnya lebih sedikit dalam duodenum dan bertambah bila mencapai ileum. Sel
goblet menghasilkan glikoprotein asam yang fungsi utamanya melindungi dan
melumasi mukosa pembatas usus halus. 3. Sel-sel Paneth (makrofag) pada bagian basal
kelenjar intestinal merupakan sel eksokrin serosa yang mensintesis lisosim yang
memiliki aktivitas antibakteri dan memegang peranan dalam mengawasi flora usus
halus. 4. Sel-sel endokrin saluran pencernaan. Hormon-hormon saluran pencernaan
antara lain: sekretin, dan kolesistokinin (CCK). Sekretin berperan sekresi cairan
pankreas dan bikarbonat. Kolesistokinin berperan merangsang kontraksi kandung
empedu dan sekresi enzim pankreas. Dengan demikian, aktivitas sistem pencernaan
diregulasi oleh sistem saraf dan hormon-hormon peptida.
6. Usus Besar
Usus besar terdiri atas membran mukosa tanpa lipatan kecuali pada bagian distalnya
(rektum) dan tidak terdapat vili usus. Epitel yang membatasi adalah toraks dan
mempunyai daerah kutikula tipis. Fungsi utama usus besar adalah: 1. untuk absorpsi air
dan 2. pembentukan massa feses, 3. pemberian mukus dan pelumasan permukaan
mukosa, dengan demikian banyak sel goblet. Lamina propria kaya akan sel-sel limfoid
dan nodulus limfatikus. Nodulus sering menyebar ke dalam dan menginvasi
submukosa. Pada bagian bebas kolon, lapisan serosa ditandai oleh suatu tonjolan
pedunkulosa yang terdiri atas jaringan adiposa – appendices epiploidices (usus buntu).
Pada daerah anus, membran mukosa mempunyai sekelompok lipatan longitudinal,
collum rectails Morgagni. Sekitar 2 cm di atas lubang anus mukosa usus diganti oleh
epitel berlapis gepeng. Pada daerah ini, lamina propria mengandung pleksus vena-vena
besar yang bila melebar berlebihan dan mengalami varikosa mengakibtakan hemoroid.

C. Biokimia

Enzim Tempat Fungsi


Amilase Mulut dan korpus lambung, Menghidrolisis polisakarida
lumen usus halus menjadi disakarida
Disakarida Brush border usus halus Menghidrolisis disakarida
menjadi monosakarida
Pepsin Antrum lambung Menghidrolisis protein
menjadi peptida
Tripsin, kimotripsin, Lumen usus halus Menyerang fragmen peptide
karboksipeptidase yang berbeda
Aminopeptidase Brush border usus halus Menghidrolisis fragmen
peptide menjadi asam amino
Lipase Lumen usus halus Menghidrolisis trigliserida
menjadi asam lemak
Garam empedu Lumen usus halus Mengemulsi globulus besar
lemak untuk diserang oleh
lipase pankreas

Penyebab Diare
1. Faktor Infeksi
a. Infeksi enteral yaitu infeksi saluran pencernaan yang merupakan penyebab utama
diare pada anak. Infeksi parenteral ini meliputi:
- Bakteri : Shigella, Salmonella, E. Coli, Gol. Vibrio, Bacillus cereus,
Clostridium perfringens, Stafilokokus aureus, Campylobacter aeromonas
- Virus : Rotavirus, Adenovirus, Norwalk virus, Coronavirus, Astrovirus 11
- Parasit : Protozoa, Entamoeba histolytica, Giardia lamblia, Balantidium
coli, Trichuris trichiura, Cryptosporidium parvum, Strongyloides stercoralis
b. Infeksi parenteral yaitu infeksi dibagian tubuh lain diluar alat pencernaan, seperti
Otitis Media akut (OMA), Tonsilofaringitis, Bronkopneumonia, Ensefalitis dan
sebagainya. Keadaan ini terutama terdapat pada bayi dan anak berumur dibawah 2
tahun.
2. Faktor Non Infeksi
Malabsorpsi, keracunan makanan, alergi, gangguan motilitas, imunodefisiensi,
kesulitan makan, dll. (Nelson, 2000)

Patomekanisme Gejala
1. Patomekanisme Muntah
Muntah merupakan repon somatik refleks yang terkordini secara sempurna oleh karena
bermacam-macam rangsangan, melibatkan aktivitas otot pernapasan, otot abdomen dan
diafragma. Ada 2 regio yang mengontrol muntah, yaitu chemoreceptor trigger zone
(CTZ) dan central vomiting centre (CVT). Proses muntah terdiri dari 3 fase, yaitu
nausea, retching, dan ekspulsi
a. Nausea
Merupakan sensasi psikis akibat rangsangan pada organ visceral, labirint dan emosi,
tidak selalu berlanjut dengan retching dan ekspulsi. Keadaan ini ditandai dengan
keinginan untuk muntah yang dirasakan di tenggorokan atau perut, sering kali
disertai dengan gejala hipersalivasi, pucat, berkeringat, takhikardia dan anoreksia.
Selama periode nausea, terjadi penurunan tonus kurvatura mayor, korpus dan
fundus. Antrum dan duodenum berkontraksi berulang-ulang. Sedangkan bulbus
duodeni relaksasi sehingga terjadi refluks cairan duodenum kedalam lambung. Pada
fase nausea ini belum terjadi peristaltik aktif.
b. Retching
Retching dapat terjadi tanpa diikuti muntah. Pada fase retching terjadi kekejangan
dan terhentinya pernapasan yang berulang-ulang, sementara glottis tertutup. Otot
pernapasan dan diafragma berkontraksi menyebabkan tekanan intratorakal menjadi
negatif. Pada waktu yang bersamaan terjadi kontraksi otot abdomen dan lambung,
fundus dilatasi sedangkan antrum dan pilorus berkontraksi. Sfingter esophagus
bawah membuka, tetapi sfingter esophagus atas masih tertutup menyebabkan
chyme masuk ke dalam esophagus. Pada akhir fase retching, terjadi relaksasi otot
dinding perut dan lambung sehingga chyme yang tadinya sudah masuk kedalam
esophagus kembali ke lambung.
c. Fase ekspulsif (muntah)
Apabila retching mencapai puncaknya dan didukung oleh kontrkasi otot abdomen
dan diafragma, akan berlanjut menjadi muntah jika tekanan tersebut dapat
mengatasi mekanisme anti refluks dari lower esophagus sfingter (LES). Pada fase
ekspulsi ini pilorus dan antrum berkontrkasi sedangkan fundus dan esophagus
relaksasi serta mulut terbuka. Pada fase ini juga terjadi perubahan tekanan
intratorakal dan intra abdominal serta kontraksi dari diafragma. Jadi, pada episode
ekspulsi tunggal terjadi tekanan negatif intratorakal dan tekanan positif intra
abdominal, dan dalam waktu bersamaan terjadi kontraksi yang cepat dari diafragma
yang menekan fundus sehingga terjadi refluks isi lambung kedalam esophagus.bila
ekspulsi sudah terjadi, tekanan intratorakal kembali positif dan diafragma kembali
ke posisi normal.
2. Patomekanisme Diare
1. Patogenesis Diare Yang Disebabkan Oleh Virus
Penyakit diare pada anak biasanya sering disebabkan oleh rotavirus. Virus ini
menyebabkan 40-60% dari kasus diare pada bayi dan anak. Potogenesis diare yang
disebabkan oleh rotavirus dapat diuraikan sebagai berikut:
a. Virus masuk kedalam tubuh bersama makanan dan minuman
b. Virus sampai kedalam sel epitel usus halus dan menyebabkan infeksi serta
jonjot-jonjot (villi) usus halus.
c. Sel-sel epitel usus halus yang rusak diganti oleh enterosit yang baru yang
berbentuk kuboid atau sel epitel gepeng yang belum matang. Sehingga
fungsinya masih belum baik.
d. Villi-villi mengalami atrofi dan tidak dapat mengabsorpsi cairan dan makanan
dengan baik.
e. Cairan makanan yang tidak terserap dan tercerna akan meningkatkan tekanan
koloid osmotik usus.
f. Terjadi hiperperistaltik usus sehingga cairan beserta makanan yang tidak
terserap terdorong keluar usus melalui anus, sehingga terjadi diare
2. Patogenesis Penyakit Diare Yang Disebabkan Oleh Bakteri.
Penyakit diare selain disebabkan oleh virus juga disebabkan oleh agentnya berupa
bakteri seperti vibrio cholerea adalah sebagai berikut:
a. Bakteri masuk kedalam tubuh manusia melalui perantaraan makanan atau
minuman yang tercemar oleh bakteri tersebut.
b. Di dalam lumbung bakteri akan dibunuh oleh asam lambung, tetapi apabila
jumlah bakteri cukup banyak ada bakkteri yang dapat lolos sampai kedalam
usus duabelas jari (duodenum).
c. Didalam duodenum bakteri akan berkembang biak sehingga jumlahnya
mencapai 100.000.000 koloni atau lebih per mililiter cairan usus halus.
d. Dengan memproduksi enzim mucinase bakkteri berhasil mencairkan lapisan
lendir dengan menutupi permukaan sel epitel usus, sehingga bakteri dapat
masuk kedalam membran (dinding) sel epitel
e. Didalam membran bakteri mengeluarkan toksin (racun) yang disebut sub unit
A dan sub unit B
f. Sub unit B akan melekat di dalam membran dan sub unit A akan bersentuhan
dengan membran sel, serta mengeluarkan CAMP (Cyclic Adenosine
Monophosphate)
g. CAMP berkhasiat merangsang sekresi cairan usus dibagian kripta villi dan
menghambat cairan usus di bagian apikal villi, tanpa menimbulkan kerusakan
sel epitel usus.
h. Sebagai akibat adanya ransangan sekresi cairan yang berlebihan tersebut,
volume cairan di dalam lumen usus akan bertambah banyak. Cairan ini akan
menyebabkan dinding usus akan mengakan kontraksi sehingga terjadi
hipermotilitas atau hiperperistaltik untuk mengelirkan cairan kebawah atau ke
usus busar.

Pencegahan Diare
1. Pemberian ASI pada bayi
2. Makanan pendamping ASI pada bayi
3. Mencuci tangan
4. Menggunakan air bersih yang cukup
5. Menggunakan jamban
6. Pemberian vaksin rotavirus
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan

Berdasarkan gejala yang ditimbulkan oleh pasien, maka hasil diagnosa yang dapat
kami simpulkan yaitu gastroenteritis akut yang menyebabkan diare sekretorik dengan gejala
muntah, nyeri perut, dengan feses lembek atau cair. Derajat dehidrasi yang ditunjukkan
menurut World Health Organization menunjukkan bahwa pasien mengalami dehidrasi
sedang yang ditandai dengan tekanan turgor kulit kurang. Frekuensi BAB lebih dari 10 kali
menyebabkan tubuh kehilangan cairan sehingga terjadi hipovolemik dengan tanda-tanda
denyut nadi cepat (120 kali/menit) dan tekanan darah turun (90/50 mmHg)
DAFTAR PUSTAKA
1. Junqeira, L.C. & Jose Carneiro (1980). Basic Histology. Lange Medical Publications,
Clifornia.
2. Biokimia Harper Edisi 29
3. Fisiologi Sherwood Edisi 8
4. http://repository.unisba.ac.id/bitstream/handle/123456789/109/Dicky_2011_Muntah_
pada_anak_SV.pdf?sequence=1&isAllowed=y
5. Suharyono, 1991. Diare Akut Klinik dan Laboratorium, Rineka Cipta, Jakarta
6. Soeparman, 1996. Ilmu Penyakit Dalam, Balai penerbit FKUI, Jakarta.
7. http://www.depkes.go.id/pusdatin/buletin/buletin-diare.pdf