Anda di halaman 1dari 31

PSN 8 maret

JUDUL :
Pemberantasan Sarang Nyamuk (Grebek) RT 5 , RW 11

LB :

Demam Berdarah Dengue banyak ditemukan di daerah tropis dan sub-tropis. Data dari
seluruh dunia menunjukkan Asia menempati urutan pertama dalam jumlah penderita
DBD setiap tahunnya. Sementara itu, terhitung sejak tahun 1968 hingga tahun 2009,
World Health Organization (WHO) mencatat negara Indonesia sebagai negara dengan
kasus DBD tertinggi di Asia Tenggara.

Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) masih merupakan salah satu masalah
kesehatan masyarakat yang utama di Indonesia. Jumlah penderita dan luas daerah
penyebarannya semakin bertambah seiring dengan meningkatnya mobilitas dan
kepadatan penduduk.

Banyak faktor yang dapat menyebabkan penularan virus dengue yaitu kepadatan
vektor, mobilitas penduduk, kepadatan penduduk, dan susceptibilitas dari penduduk.
Mobilitas penduduk memegang peranan penting pada penularan virus dengue, karena
jarak terbang nyamuk Ae. aegypti yang sangat terbatas, yaitu 100m. Selain itu
lingkungan juga merupakan tempat interaksi vektor penular penyakit DBD dengan
manusia yang dapat mengakibatkan terjadinya penyakit DBD.

PERMASALAHAN :

-Lingkungan padat penduduk

-Minimnya tingkat kesadaran masyarakat akan kebersihan lingkungan dan pencegahan


DBD dengan 4M plus

PERENCANAAN & INTERVENSI :

Kader dan petugas puskesmas mendatangi setiap rumah lalu mengevaluasi apakah
penghuni rumah tersebut sudah 4M plus lalu di edukasi
PELAKSANAAN :

Menanyakan serta memastikan secara langsung kepada penghuni rumah :

-menguras serta menyikat penampungan air dan berapa frekuensinya setiap minggu

-menutup rapat penampungan air

-mendaur ulang/ memisahkan sampah plastik

-frekuensi memantau jentik dalam penampungan air

-menanam tanaman yang dapat mengusir nyamuk

Jika ditemukan jentik maka penghuni rumah dihimbau untuk membuang air serta
menguras penampungannya, kader juga memberikan bubuk abate untuk ditaburi dalam
penampungan air setelah dikuras. Rumah tersebut juga ditempeli sticker sebagai
penanda ada jentik agar masyarakat lebih waspada.

MONITORING & EVALUASI

Beberapa rumah positif terdapat jentik

ABJ :
Kunjungan pasien BGM (27 februari)

JUDUL :
Kunjungan pasien BGM RW 15

LB :
Status gizi pada dasarnya adalah keadaan keseimbangan antara asupan dan
kebutuhan zat gizi yang diperlukan tubuh untuk tumbuh kembang terutama untuk anak
balita, aktifitas, pemeliharaan kesehatan, penyembuhan bagi mereka yang menderita
sakit dan proses biologis lainnya di dalam tubuh.

Kartu Menujuh Sehat (KMS) hanya difungsikan untuk pemantauan pertumbuhan-


perkembangan balita dan promosinya, bukan untuk penilaian status gizi, namun dapat
digunakan untuk screening berat Badan di Bawah Garis Merah (BGM)
sebagai “warning” untuk konfirmasi dan tindak lanjutnya tetapi perlu diingat tidak
berlaku pada anak dengan berat badan awalnya memang sudah dibawah garis merah

Berat Badan yang berada di Bawah Garis Merah (BGM) pada KMS merupakan
perkiraan untuk menilai seseorang menderita gizi buruk, tetapi bukan berarti seseorang
balita telah menderita gizi buruk, karena ada anak yang telah mempunyai pola
pertumbuhan yang memang selalu dibawah garis merah pada KMS.

Anak-anak yang tidak mendapatkan nutrisi yang cukup berpotensi mengalami


komplikasi serta gangguan kesehatan jangka panjang, seperti: Gangguan kesehatan
mental dan emosional, tingkat IQ yang rendah, penyakit infeksi, anak pendek dan tidak
tumbuh optimal. Karena itulah diperlukan pengawasan pemenuhan gizi untuk tumbuh
kembang anak.

PERMASALAHAN :

-Ekonomi keluarga yang kurang memadai

-Rendahnya tingkat pengetahuan dan kesadaran orangtua akan pentingnya


pemantauan tumbuh kembang anak
PERENCANAAN & INTERVENSI :

Kunjungan ke rumah anak BGM yang tidak dibawa orangtuanya ke pos gizi secara rutin
untuk dilakukan pemantauan BB dan edukasi kepada orangtua dan keluarga yang ada
dirumahnya

PELAKSANAAN :

-menanyakan permasalahan mengapa orangtua/keluarga tidak membawa anak


tersebut rutin ke pos gizi serta mencari solusinya

-mengedukasi orangtua/keluarga akan pentingnya tumbuh kembang anak

-melakukan penimbangan dan pengukuran tinggi badan anak

-pemberian biskuit susu

MONITORING & EVALUASI

Dari hasil pengukuran saat itu, anak tersebut masih BGM (tidak terdapat peningkatan
berat badan dan tinggi badan dari catatan sebelumnya), orangtua tersebut akan
membawa anaknya ke pos gizi secara rutin untuk monitoring selanjutnya
PE DBD (28 feb)

JUDUL :
Penyelidikan epidemiologi kasus DBD RT: 6 ; RW: 5

LB :

Demam Berdarah Dengue banyak ditemukan di daerah tropis dan sub-tropis. Data dari
seluruh dunia menunjukkan Asia menempati urutan pertama dalam jumlah penderita
DBD setiap tahunnya. Sementara itu, terhitung sejak tahun 1968 hingga tahun 2009,
World Health Organization (WHO) mencatat negara Indonesia sebagai negara dengan
kasus DBD tertinggi di Asia Tenggara.

Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) masih merupakan salah satu masalah
kesehatan masyarakat yang utama di Indonesia. Jumlah penderita dan luas daerah
penyebarannya semakin bertambah seiring dengan meningkatnya mobilitas dan
kepadatan penduduk.

Banyak faktor yang dapat menyebabkan penularan virus dengue yaitu kepadatan
vektor, mobilitas penduduk, kepadatan penduduk, dan susceptibilitas dari penduduk.
Mobilitas penduduk memegang peranan penting pada penularan virus dengue, karena
jarak terbang nyamuk Ae. aegypti yang sangat terbatas, yaitu 100m. Selain itu
lingkungan juga merupakan tempat interaksi vektor penular penyakit DBD dengan
manusia yang dapat mengakibatkan terjadinya penyakit DBD.

Kelurahan Tegal Alur menduduki peringkat pertama kasus DBD terbanyak di DKI
Jakarta. Hingga saat ini, jumlah kasus DBD terus meningkat salah satunya di RT 6/ RW
5 terdapat kasus DBD baru sehingga perlu di telaah lebih lanjut.

PERMASALAHAN :

-Lingkungan padat penduduk

-Minimnya tingkat kesadaran masyarakat akan kebersihan lingkungan dan pencegahan


DBD dengan 4M plus
PERENCANAAN & INTERVENSI :

Kader dan petugas puskesmas mendatangi lingkungan rumah penderita kasus DBD
baru dan 20 rumah disekitarnya

PELAKSANAAN :

Kader dan petugas puskesmas mendatangi rumah penderita kasus DBD baru lalu
mengamati rumah dan lingkungan sekitar mencari perkiraan sumber penyakit tersebut
berasal. Kader dan petugas puskesmas mengevaluasi apakah penghuni rumah
tersebut sudah 4M plus lalu di edukasi, selanjutnya kader dan petugas puskesmas juga
melakukan hal yang sama kepada rumah sekitar, kurang lebih 20 rumah.

MONITORING & EVALUASI

Dari 20 rumah, terdapat 4 rumah yang positif jentik

ABJ :
PTM (4 maret-6 maret)

JUDUL :
PTM RT: 5 ; RW: 4

LB :
Penyakit Tidak Menular (PTM) adalah penyebab kematian terbanyak di Indonesia.
Keadaan dimana penyakit menular masih merupakan masalah kesehatan penting dan
dalam waktu bersamaan morbiditas dan mortalitas PTM makin meningkat merupakan
beban ganda dalam pelayanan kesehatan, tantangan yang harus dihadapi dalam
pembangunan bidang kesehatan di Indonesia.

Menteri Kesehatan Republik Indonesia mengatakan bahwa proporsi angka kematian


akibat PTM meningkat dari 41,7% pada tahun 1995 menjadi 49,9% pada tahun 2001
dan 59,5% pada tahun 2007. Penyebab kematian tertinggi dari seluruh penyebab
kematian adalah stroke (15,4%), disusul hipertensi, diabetes, kanker, dan penyakit paru
obstruktif kronis. Kematian akibat PTM terjadi di perkotaan dan perdesaan.

Data Riskesdas 2007 menunjukkan di perkotaan, kematian akibat stroke pada


kelompok usia 45-54 tahun sebesar 15,9%, sedangkan di perdesaan sebesar 11,5%.
Hal tersebut menunjukkan PTM (utamanya stroke) menyerang usia produktif.
Sementara itu prevalensi PTM lainnya cukup tinggi, yaitu: hipertensi (31,7%), arthritis
(30.3%), penyakit jantung (7.2%), dan cedera (7,5%).

PTM dipicu berbagai faktor risiko antara lain merokok, diet yang tidak sehat, kurang
aktivitas fisik, dan gaya hidup tidak sehat. Riskesdas 2007 melaporkan, 34,7%
penduduk usia 15 tahun ke atas merokok setiap hari, 93,6% kurang konsumsi buah dan
sayur serta 48,2% kurang aktivitas fisik.

Peningkatan PTM berdampak negatif pada ekonomi dan produktivitas bangsa.


Pengobatan PTM seringkali memakan waktu lama dan memerlukan biaya besar.
Beberapa jenis PTM adalah penyakit kronik dan/atau katastropik yang dapat
mengganggu ekonomi penderita dan keluarganya. Selain itu, salah satu dampak PTM
adalah terjadinya kecacatan termasuk kecacatan permanen.

PERMASALAHAN :

-Ekonomi kurang memadai

-Kurangnya peranan anggota keluarga lain dalam mendampingi penderita PTM selama
proses pengobatan

-Rendahnya tingkat pengetahuan dan kesadaran akan pentingnya kesehatan


PERENCANAAN & INTERVENSI :

Mendatangi rumah-rumah warga untuk screening faktor resiko maupun penderita PTM

PELAKSANAAN :

Mendatangi rumah-rumah warga untuk screening penderita PTM maupun faktor


resikonya dengan mengukur tekanan darah, berat badan, tinggi badan, lingkar perut.
Untuk yang terdapat faktor resiko DM, juga dilakukan pengecekan kadar gula darah.

Dilakukan juga edukasi serta pemberian kartu kendali (untuk mengontrol pola diet
sehat) yang nantinya kartu ini akan di evaluasi secara berkala.

MONITORING & EVALUASI

Total pemeriksaan terhadap 19 orang ditemukan : Hipertensi 6 orang dan DM 1 orang


Penyuluhan etika batuk (11 maret)

JUDUL :
Penyuluhan Etika Batuk

LB :
Penyakit infeksi masih merupakan salah satu masalah kesehatan di dunia, termasuk di
negara-negara berkembang seperti Indonesia. Kondisi lingkungan dan budaya yang
ada di negara ini sangat mempengaruhi tingginya kejadian infeksi. Dalam kehidupan
sehari-hari tanpa sadar reflek batuk sering terjadi, hal ini sangatlah normal.

Batuk sendiri merupakan salah satu gejala atau tanda yang sering dialami setiap orang.
Baik karena adanya iritan seperti asap, debu, maupun benda asing di saluran napas,
atau gejala dari suatu penyakit seperti influenza, bronkitis, TBC dan beberapa penyakit
lain.

Menariknya dari sisi kesehatan, batuk memiliki etiket tanpa memandang apakah batuk
tersebut disebabkan oleh gejala dari suatu penyakit menular atau hanya merupakan
refleks pertahanan tubuh akibat adanya benda asing atau iritan.

Etika batuk hanya memiliki satu tujuan, yaitu untuk mengendalikan penyebaran infeksi
yang terjadi saat batuk. Tidak hanya di fasilitas kesehatan, tetapi juga dikantor, sekolah,
pusat keramaian maupun rumah.

PERMASALAHAN :

-Rendahnya tingkat pengetahuan dan kesadaran masyarakat akan bahaya penyakit


yang dapat ditularkan melalui batuk

PERENCANAAN & INTERVENSI :

Penyuluhan menggunakan media pamflet


PELAKSANAAN :

Penyampaian materi etika batuk :

 Saat ingin batuk, segeralah ambil tisu untuk menutupi tidak hanya mulut tetapi juga
hidung
 Langsung buang tisu setelah digunakan ke dalam tempat sampah
 Jika tidak membawa tisu, batuklah pada bagian lengan atas
 Cucilah tangan dengan sabun dan air mengalir
 Jika sabun dan air tidak tersedia, dapat menggunakan hand sanitizer berbahan dasar
alkohol dengan konsentrasi alkohol setidaknya 60%

Di akhir sesi, peserta diminta Bersama-sama mempraktikan etika batuk tersebut hingga
tepat.

MONITORING & EVALUASI

Di awal sesi, dari 14 peserta, yang mengetahui etika batuk hanya 2 orang namun tidak
menerapkannya.

Di akhir sesi, semua peserta sudah mengetahui dan mampu menerapkan etika batuk
dengan tepat.
Menjaga kesehatan ibu hamil (12 maret)

JUDUL :
Penyuluhan Menjaga kesehatan ibu hamil

LB :
Berdasarkan data Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) 1990 ada 390
perempuan meninggal dunia di setiap 100 ribu kelahiran di Indonesia. Angka tersebut
turun perlahan hingga 305 pada 2015. Target MDGs 2015 untuk angka kematian Ibu
adalah menurunkan rasio hingga tiga perempat dari angka 1990, sekitar 110 kematian
ibu di setiap 100 ribu kelahiran. Padahal sampai sekarang Indonesia masih berkutat di
atas angka 305. Dalam rentang waktu yang sama mayoritas kematian ibu yang
melahirkan di Indonesia disebabkan oleh preeklampsia.

Di dunia kebidanan, penyebab kematian ibu dirumuskan sebagai 4 Terlalu 3 Terlambat,


yaitu: terlalu muda (<20 tahun), terlalu tua (>35 tahun), terlalu sering atau banyak
anaknya (>3 anak), terlalu dekat jarak kelahirannya (< 2 tahun), terlambat mengambil
keputusan, terlambat sampai di fasilitas kesehatan, terlambat mendapatkan
pertolongan yang adekuat, karena sudah terlambat sampai sehingga dalam
penanganannya pun terlambat juga.

Tingginya angka kematian ibu, membuat semakin pentingnya pendidikan kesehatan


bagi ibu khususnya ibu hamil. Ketika para perempuan memiliki pendidikan dan
kesehatan yang lebih baik, para ibu akan lebih siap untuk mempersiapkan persalinan
dan memprioritaskan kesejahteraan anaknya.

PERMASALAHAN :

-Ekonomi kurang memadai

-Kurangnya peranan anggota keluarga lain dalam mendampingi ibu selama masa
kehamilan hingga persalinan

-Rendahnya tingkat pengetahuan dan kesadaran akan pentingnya menjaga kesehatan


selama kehamilan
PERENCANAAN & INTERVENSI :

Penyuluhan menggunakan flipchart

PELAKSANAAN :

Penyampaian materi dan sharing session antar peserta mengenai kesehatan ibu hamil

MONITORING & EVALUASI

Dari 6 peserta, semuanya melakukan ANC rutin serta menerapkan apa yang
disarankan oleh dokter/bidan, juga tidak ditemukan masalah kesehatan pada peserta
penyuluhan.
Pencegahan DBD (4M plus) (13 maret)

JUDUL :
Penyuluhan Pencegahan DBD (4M plus)

LB :

Demam Berdarah Dengue banyak ditemukan di daerah tropis dan sub-tropis. Data dari
seluruh dunia menunjukkan Asia menempati urutan pertama dalam jumlah penderita
DBD setiap tahunnya. Sementara itu, terhitung sejak tahun 1968 hingga tahun 2009,
World Health Organization (WHO) mencatat negara Indonesia sebagai negara dengan
kasus DBD tertinggi di Asia Tenggara.

Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) masih merupakan salah satu masalah
kesehatan masyarakat yang utama di Indonesia. Jumlah penderita dan luas daerah
penyebarannya semakin bertambah seiring dengan meningkatnya mobilitas dan
kepadatan penduduk.

Banyak faktor yang dapat menyebabkan penularan virus dengue yaitu kepadatan
vektor, mobilitas penduduk, kepadatan penduduk, dan susceptibilitas dari penduduk.
Mobilitas penduduk memegang peranan penting pada penularan virus dengue, karena
jarak terbang nyamuk Ae. aegypti yang sangat terbatas, yaitu 100m. Selain itu
lingkungan juga merupakan tempat interaksi vektor penular penyakit DBD dengan
manusia yang dapat mengakibatkan terjadinya penyakit DBD.

PERMASALAHAN :

-Lingkungan padat penduduk

-Minimnya tingkat pengetahuan dan kesadaran masyarakat akan kebersihan


lingkungan dan pencegahan DBD dengan 4M plus

PERENCANAAN & INTERVENSI :

Penyuluhan dengan media poster


PELAKSANAAN :

Penyampaian materi dan menanyakan kepada peserta tentang:

-menguras serta menyikat penampungan air dan berapa frekuensinya setiap minggu

-menutup rapat penampungan air

-mendaur ulang/ memisahkan sampah plastik

-cara dan frekuensi memantau jentik dalam penampungan air

-menanam tanaman yang dapat mengusir nyamuk

MONITORING & EVALUASI

Total peserta 11 orang.

Di awal sesi, hanya 2 orang yang mengetahui dan dapat menyebutkan arti 4M plus,
namun tidak ada yang menyatakan bahwa sudah melakukan 4M plus secara sempurna.

Di akhir sesi (setelah penyuluhan), 10 orang dapat menyebutkan arti 4M plus.


Penyuluhan Diare (14 maret)

JUDUL :
Diare

LB :
Menurut Depkes RI (2007), diare adalah buang air besar lembek atau cair, dapat
berupa air saja dengan frekuensi lebih sering, biasanya lebih dari 3 kali sehari. Diare
akut berlangsung sekitar 14 hari disertai dengan muntah dan demam. Sedangkan diare
persisten terjadi jika diare akut menjadi lebih parah atau diawali dengan disentri, yang
berakibat pada dehidrasi berat dan menyusutnya berat badan. Secara etiologi, diare
disebabkan oleh faktor non infeksi dan infeksi. Diare non infeksi disebabkan oleh faktor
psikologis, keracunan makanan, efek penggunaan obat, dan gangguan gizi. Diare
infeksi disebabkan oleh bakteri, parasit, dan virus.

Setiap tahun Incidence Rate diare di Indonesia cenderung meningkat. Kematian akibat
diare sering terjadi pada kelompok anak-anak dan golongan usia lanjut. Sekitar 70%
kematian balita diakibatkan oleh diare, pneumonia, malnutrisi, malaria, dan campak.
Dari sejumlah itu, 1 – 2% diantaranya disebabkan oleh efek paparan diare yang
berlanjut pada dehidrasi atau kekurangan cairan dan keterlambatan penanganan medis
(Depkes RI, 2009).

Berdasarkan hasil hasil Riskesdas 2007, prevalensi diare di Indonesia sekitar 9%,
dengan angka kejadian paling tinggi pada anak balita (16,7%). Diare menjadi penyebab
kematian tertinggi diantara penyakit yang sering menyerang anak usia kurang dari 5
tahun, sekitar 31,4% pada bayi dan 25,2% pada anak balita (Depkes RI, 2008).

PERMASALAHAN :

-Minimnya tingkat pengetahuan masyarakat tentang diare sehingga banyak masyarakat


masih menganggap diare adalah penyakit yang tidak berbahaya

-Minimnya tingkat kebersihan rumah dan lingkungan

-Kurangnya kesadaran akan pentingnya kesehatan sehingga masyarakat cenderung


membeli makanan yang tidak diketahui status kebersihannya
PERENCANAAN & INTERVENSI :

Penyuluhan menggunakan media brosur

PELAKSANAAN :

Penyampaian materi tentang definisi, tanda gejala, tatalaksana, serta pencegahan


diare.

Sesi tanya jawab.

MONITORING & EVALUASI

Dari 16 peserta, seluruhnya menyatakan bahwa pernah terkena diare, bahkan 1 orang
sampai mendapatkan perawatan di rumah sakit.

Di awal sesi, tidak ada yang dapat menyebutkan tatalaksana diare secara tepat.

Di akhir sesi, sebagian besar peserta sudah dapat menyebutkan tanda gejala, serta
tatalaksana diare dengan tepat.
Penyuluhan gizi seimbang (15 maret)

JUDUL :
Penyuluhan Tumpeng Gizi Seimbang

LB :

Indonesia menghadapi beban gizi ganda atau double burden malnutrition, yaitu kurang
gizi dan overnutrisi. Kurang nutrisi bisa menyebabkan penyakit seperti anemia,
kekurangan vitamin dan gondok. Di sisi lain, kelebihan nutrisi dapat menyebabkan
obesitas yang berisiko memicu diabetes, penyakit jantung dan pembuluh darah.

Secara epidemiologi, diperkirakan bahwa pada tahun 2030 prevalensi Diabetes Melitus
(DM) di Indonesia mencapai 21,3 juta orang (Diabetes Care, 2004). Sedangkan hasil
Riset kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2007, diperoleh bahwa proporsi penyebab
kematian akibat DM pada kelompok usia 45-54 tahun di daerah perkotaan menduduki
ranking ke-2 yaitu 14,7%. Dan daerah pedesaan, DM menduduki ranking ke-6 yaitu
5,8%.

Berdasarkan paparan diatas, sangat penting untuk menerapkan pola makan gizi
seimbang.
Gizi seimbang adalah susunan makanan sehari–hari yang mengandung zat-zat gizi
dalam jenis dan jumlah yang sesuai dengan kebutuhan tubuh, dengan memerhatikan
prinsip keanekaragaman atau variasi makanan, aktivitas fisik, kebersihan, dan berat
badan (BB) ideal.
Di Amerika Serikat dan beberapa negara lain, prinsip Gizi Seimbang divisualisasi
berupa “piramida” Gizi Seimbang. Tidak semua negara menggunakan piramida, tetapi
disesuaikan dengan budaya dan pola makan setempat. Para pakar gizi yang bergabung
dalam Yayasan Institut Danone Indonesia (DII), mengadaptasi piramida sesuai dengan
budaya Indonesia, dalam bentuk tumpeng dengan nampannya yang untuk selanjutnya
akan disebut sebagai “Tumpeng Gizi Seimbang” (TGS). TGS dirancang untuk
membantu setiap orang memilih makanan dengan jenis dan jumlah yang tepat, sesuai
dengan berbagai kebutuhan menurut usia (bayi, balita, remaja, dewasa dan usia lanjut),
dan sesuai keadaan kesehatan (hamil, menyusui, aktivitas fisik, sakit).
PERMASALAHAN :

-Minimnya tingkat pengetahuan dan kesadaran masyarakat akan pentingnya kesehatan


ditinjau dari segi makanan sehari-hari sehingga masyarakat cenderung membeli
makanan yang tidak diketahui status kebersihan dan kandungannya

-Tingkat ekonomi yang kurang memadai

PERENCANAAN & INTERVENSI :

Penyuluhan menggunakan media brosur

PELAKSANAAN :

Penyampaian materi tentang gizi seimbang.

Sharing session antar peserta.

MONITORING & EVALUASI

Dari kurang lebih 15 peserta, seluruhnya belum menerapkan gizi seimbang.

1 diantaranya sudah terdiagnosa menderita DM.


………

JUDUL :
Pos gizi

LB :
Status gizi pada dasarnya adalah keadaan keseimbangan antara asupan dan
kebutuhan zat gizi yang diperlukan tubuh untuk tumbuh kembang terutama untuk anak
balita, aktifitas, pemeliharaan kesehatan, penyembuhan bagi mereka yang menderita
sakit dan proses biologis lainnya di dalam tubuh.

Kartu Menujuh Sehat (KMS) hanya difungsikan untuk pemantauan pertumbuhan-


perkembangan balita dan promosinya, bukan untuk penilaian status gizi, namun dapat
digunakan untuk screening berat Badan di Bawah Garis Merah (BGM) sebagai
“warning” untuk konfirmasi dan tindak lanjutnya tetapi perlu diingat tidak berlaku pada
anak dengan berat badan awalnya memang sudah dibawah garis merah

Berat Badan yang berada di Bawah Garis Merah (BGM) pada KMS merupakan
perkiraan untuk menilai seseorang menderita gizi buruk, tetapi bukan berarti seseorang
balita telah menderita gizi buruk, karena ada anak yang telah mempunyai pola
pertumbuhan yang memang selalu dibawah garis merah pada KMS.

Anak-anak yang tidak mendapatkan nutrisi yang cukup berpotensi mengalami


komplikasi serta gangguan kesehatan jangka panjang, seperti: Gangguan kesehatan
mental dan emosional, tingkat IQ yang rendah, penyakit infeksi, anak pendek dan tidak
tumbuh optimal. Karena itulah diperlukan pengawasan pemenuhan gizi untuk tumbuh
kembang anak.

PERMASALAHAN :

-Ekonomi keluarga yang kurang memadai

-Rendahnya tingkat pengetahuan dan kesadaran orangtua akan pentingnya


pemantauan tumbuh kembang anak

-Kesibukan orangtua/keluarga sehingga tidak dapat mengantar anak ke pos gizi

PERENCANAAN & INTERVENSI :

Penyuluhan dan pengukuran berat badan serta tinggi badan


PELAKSANAAN :

-mengedukasi orangtua/keluarga akan pentingnya tumbuh kembang anak

-melakukan penimbangan berat badan dan pengukuran tinggi badan anak

-pencatatan hasil pengukuran untuk evaluasi kedepan

-pemberian biskuit susu

-memasak makanan bersih dan bergizi oleh para ibu untuk dimakan bersama ibu dan
anak-anaknya

MONITORING & EVALUASI

Dari 11 peserta, kurang lebih 20% anak dengan BGM sudah mengalami peningkatan
berat badan.
Posyandu Anggrek RW 4 (21 feb)

JUDUL :
Posyandu Anggrek RW 4

LB :
Sumber daya manusia yang sehat dan berkualitas merupakan modal utama atau
investasi dalam pembangunan kesehatan. Kesehatan bersama-sama
dengan pendidikan dan ekonomi merupakan tiga pilar yang sangat mempengaruhi
kualitas hidup manusia.

Upaya pengembangan kualitas sumberdaya manusia yang mengoptimalkan potensi


tumbuh kembang anak dapat dilaksanakan secara merata apabila sistem pelayanan
kesehatan yang berbasis masyarakat seperti posyandu dapat dilakukan secara efektif
dan efisien, dan dapat menjangkau semua sasaran yang membutuhkan pelayanan,
salah satunya adalah layanan tumbuh kembang anak

Posyandu merupakan salah satu bentuk Upaya Kesehatan Bersumber Daya


Masayarakat (UKBM) yang dikelola dan diselenggarakan dari, oleh, untuk dan bersama
samsyarakat dalam penyelenggaraan pembangunan kesehatan, guna memberdayakan
masyarakat dan meberikan kemudahan kepada masyarakat dalam memperoleh
pelayanan kesehatan dasar, utamanya untuk mempercepat penurunan angka kematian
ibu dan bayi.

Pelaksanaan kegiatan posyandu memerlukan peran serta masyarakat, khususnya


kader posyandu. Kader posyandu berasal dari anggota masyarakat yang mau
bekerjasama secara ikhlas, mau dan sanggup melaksanakan kegiatan posyandu, serta
sanggup menggerakkan masyarakat untuk melaksanakan kegiatan posyandu, sehingga
keaktifan kader sangat diperlukan dalam kegiatan ini.

PERMASALAHAN :

-Ekonomi keluarga yang kurang memadai berdampak pada pemberian nutrisi anak

-Rendahnya tingkat pengetahuan dan kesadaran orangtua akan pentingnya


pemantauan tumbuh kembang anak

-Adanya faham yang berkembang di masyarakat yang menyebutkan vaksin haram


diberikan

-Beberapa anak tidak medapatkan vaksinasi tepat waktu karena sakit

-Adanya buku KIA yang hilang sehingga data imunisasi dan tumbuh kembang sulit di
evaluasi
-Jadwal posyandu pada hari kerja dan jam kerja sehingga orang tua yang bekerja tidak
dapat mengantar anaknya ke posyandu

PERENCANAAN & INTERVENSI :

Penyuluhan

Pegukuran berat badan dan tinggi badan

Pemberian imunisasi

Pemberian makanan tambahan

PELAKSANAAN :

-Memberikan penyuluhan tentang kejang demam pada orang tua dan anak

-Pegukuran berat badan dan tinggi badan anak serta mencatat hasilnya pada buku KIA

-Pemberian imunisasi sesuai jadwal masing-masing anak

-Pemberian makanan tambahan yang bergizi dan bersih untuk anak-anak yang datang
ke posyandu

-Koseling pada anak dan orang tua yang anaknya memiliki kelebihan berat badan

MONITORING & EVALUASI


-Tidak didapatkan anak dibawah garis merah

-Didapatkan 1 anak dengan gizi berlebih

-Terdapat 3 anak yang tidak dapat diberikan imunisasi sesuai jadwal karena suhu tubuh
di atas normal

Dokter Cilik (21 maret)

JUDUL :
Pelatihan Dokter Cilik SDN 08 TA pagi

LB :

Program "Dokter Kecil" merupakan salah satu program Usaha Kesehatan Sekolah. Usaha
Kesehatan Sekolah adalah upaya terpadu lintas program dan lintas sektoral dalam rangka
meningkatkan derajat kesehatan serta membentuk perilaku hidup sehat anak usia sekolah yang
berada di sekolah dan perguruan agama.

Menurut UU RI No.23 tahun 1992 tentang kesehatan sekolah disebutkan bahwa "Kesehatan
sekolah diselenggarakan untuk meningkatkan kemampuan hidup sehat peserta didik dalam
lingkungan hidup sehat sehingga peserta didik dapat belajar, tumbuh dan berkembang secara
harmonis dan optimal menjadi sumber daya yang berkualitas".

Ditinjau dari sudut pembangunan di bidang kesehatan, Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) adalah
salah satu usaha strategi untuk mencapai kemandirian masyarakat khususnya peserta didik dalam
mengatasi masalah kesehatan, dan menolong dirinya sendiri di bidang kesehatan, yang
selanjutnya akan mengahasilkan derajat kesehatan yang optimal.

Sehubungan dengan hal tersebut di atas maka Program Dokter Kecil merupakan suatu upaya
untuk meningkatkan partisipasi siswa dalam program UKS.
PERMASALAHAN :

-Pengetahuan siswa tentang kesehatan masih sangat minim sehingga diperlukan


edukasi dasar tentang kesehatan

-Materi yang diberikan cukup banyak dalam waktu singkat

-Karena usia yang masih terlalu muda, saat penyampaian materi ada beberapa anak
yang menyebabkan suasana kurang kondusif

PERENCANAAN & INTERVENSI :

-Pemaparan materi

-Praktik lapangan

PELAKSANAAN :

- Pre test

- Pemaparan materi tentang UKS, kesehatan gigi, gizi seimbang, jajan sehat, dan P3K

- Mempraktikan apa yang sudah disampaikan saat materi P3K (pasien penurunan
kesadaran, tersedak, tersengat arus listrik, tenggelam, keracunan, dan perdarahan)

- Post test

MONITORING & EVALUASI

-Peserta yang hadir 29 siswa

-Secara keseluruhan acara berjalan lancar, terlihat dari sesi praktik para siswa dapat
melakukannya dengan baik walaupun belum sempurna

-5 hari kedepan, akan di adakan sesi ujian praktik untuk menilai kemampuan siswa
Screening Kesehatan SD (11 april 2019)

JUDUL :
Screening Kesehatan SDN 04 Tegal Alur Pagi

LB :
Usia sekolah merupakan 30% dari populasi penduduk di Indonesia. Populasi ini
berkisar dari usia 6 sampai dengan 21 tahun dan sebagian besar (70%) berada di
bangku sekolah. Sehingga oleh karena jumlah yang besar dan mudah dijangkau serta
terorganisasi, maka anak usia sekolah merupakan sasaran yang strategis.Masalah
kesehatan yang dialami anak sekolah sangat kompleks dan bervariasi. Pada anak SD
biasanya berkaitan dengan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) sedangkan untuk
sekolah SLTP dan SLTA umumnya berkaitan dengan perilaku berisiko. Beberapa
penelitian menunjukkan bahwa sebagian anak SD mengalami masalah kesehatan
berupa Kurang Energi Protein (KEP), Gangguan Akibat Kekurangan Yodium (GAKY),
Anemia Defisiensi Zat Gizi, Obesitas, Kecacingan, penyakit periodontal dan kelainan
refraksi.

Program skrining kesehatan anak usia sekolah diutamakan sebagai upaya peningkatan
kesehatan (promotif) dan upaya pencegahan penyakit (preventif). Salah satu upaya
preventif tersebut adalah upaya penjaringan/skrining yang dilakukan terhadap anak
yang sekolah dasar (siswa kelas I-VI). Kegiatan skrining bertujuan untuk mengetahui
secara dini masalah kesehatan anak sekolah sehingga dapat diambil tindakan lebih
lanjut untuk mencegah memburuknya penyakit, mengumpulkan data dan informasi
masalah kesehatan anak sekolah untuk dijadikan bahan untuk penyusunan
perecanaan, pemantauan, dan evaluasi program UKS.

PERMASALAHAN :

-Pengetahuan siswa tentang kesehatan masih sangat minim sehingga diperlukan


edukasi dasar tentang kesehatan

-Karena usia yang masih terlalu muda, saat pemeriksaan kesehatan ada beberapa
anak yang menyebabkan suasana kurang kondusif

-Waktu yang minim untuk memeriksa jumlah siswa yang banyak sehingga
dikhawatirkan pemeriksaan kurang maksimal
PERENCANAAN & INTERVENSI :

Screening status gizi, telinga, mata, kesehatan gigi mulut.

PELAKSANAAN :

Screening status gizi : melakukan pengukuran berat badan dan tinggi badan kemudian
menghitung IMT nya, setelah itu dikategorikan ke dalam status gizi yang sesuai.

Telinga : memeriksa auricula dan CAE (benda asing, cairan, dan kelainan lain)

Mata : memeriksa buta warna (ischihara) dan kelainan refraksi

Kesehatan gigi mulut : memeriksa apakah ada kelainan pada gusi, gigi (karies dentis
atau kelainan lainnya)

MONITORING & EVALUASI

Dari 200 peserta didapatkan :


POS BINDU

JUDUL : Pos Bindu RW 4 (LPTRA)

LB :
Penyakit Tidak Menular (PTM) adalah penyebab kematian terbanyak di Indonesia.
Keadaan dimana penyakit menular masih merupakan masalah kesehatan penting dan
dalam waktu bersamaan morbiditas dan mortalitas PTM makin meningkat merupakan
beban ganda dalam pelayanan kesehatan, tantangan yang harus dihadapi dalam
pembangunan bidang kesehatan di Indonesia.

Menteri Kesehatan Republik Indonesia mengatakan bahwa proporsi angka kematian


akibat PTM meningkat dari 41,7% pada tahun 1995 menjadi 49,9% pada tahun 2001
dan 59,5% pada tahun 2007. Penyebab kematian tertinggi dari seluruh penyebab
kematian adalah stroke (15,4%), disusul hipertensi, diabetes, kanker, dan penyakit paru
obstruktif kronis. Kematian akibat PTM terjadi di perkotaan dan perdesaan.

Data Riskesdas 2007 menunjukkan di perkotaan, kematian akibat stroke pada


kelompok usia 45-54 tahun sebesar 15,9%, sedangkan di perdesaan sebesar 11,5%.
Hal tersebut menunjukkan PTM (utamanya stroke) menyerang usia produktif.
Sementara itu prevalensi PTM lainnya cukup tinggi, yaitu: hipertensi (31,7%), arthritis
(30.3%), penyakit jantung (7.2%), dan cedera (7,5%).

PTM dipicu berbagai faktor risiko antara lain merokok, diet yang tidak sehat, kurang
aktivitas fisik, dan gaya hidup tidak sehat. Riskesdas 2007 melaporkan, 34,7%
penduduk usia 15 tahun ke atas merokok setiap hari, 93,6% kurang konsumsi buah dan
sayur serta 48,2% kurang aktivitas fisik.

Peningkatan PTM berdampak negatif pada ekonomi dan produktivitas bangsa.


Pengobatan PTM seringkali memakan waktu lama dan memerlukan biaya besar.
Beberapa jenis PTM adalah penyakit kronik dan/atau katastropik yang dapat
mengganggu ekonomi penderita dan keluarganya. Selain itu, salah satu dampak PTM
adalah terjadinya kecacatan termasuk kecacatan permanen.

PERMASALAHAN :

-Ekonomi kurang memadai

-Kurangnya peranan anggota keluarga lain dalam mendampingi penderita PTM selama
proses pengobatan

-Rendahnya tingkat pengetahuan dan kesadaran akan pentingnya kesehatan


PERENCANAAN & INTERVENSI :

Penyuluhan dan screening faktor resiko maupun penderita PTM

PELAKSANAAN :

Melakukan penyuluhan berjudul hipertensi dan pemeriksaan untuk screening penderita


PTM maupun faktor resikonya dengan mengukur tekanan darah, berat badan, tinggi
badan, lingkar perut, gula darah, asam urat, kolesterol.

Dilakukan juga edukasi dan pencatatan yang nantinya data ini akan di evaluasi secara
berkala.

MONITORING & EVALUASI

Total pemeriksaan terhadap 10 orang ditemukan : Hipertensi 4 orang dan DM 1 orang


………

JUDUL :

LB :

PERMASALAHAN :

PERENCANAAN & INTERVENSI :

PELAKSANAAN :

MONITORING & EVALUASI


………

JUDUL :

LB :

PERMASALAHAN :

PERENCANAAN & INTERVENSI :

PELAKSANAAN :
MONITORING & EVALUASI

………

JUDUL :

LB :

PERMASALAHAN :

PERENCANAAN & INTERVENSI :

PELAKSANAAN :

MONITORING & EVALUASI